Ravi memakai kembali pakaiannya dan ia pergi ke dapur. Ia menyisir rambutnya dengan frustasi dengan jari tangannya.

"Shit shit shit shit shit SHIIITTT!"

Ravi berjalan mondar-mandir. Ia bingung.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"sshhhiiitttt AAARGGGHH" Ravi berteriak.

BAAAMMM

Ia meninju dinding di sebelahnya.

'Apa yang aku lakukan?! Shiiiitttt! Hho Hongbin... no no no no no no no no'

Ravi menggeleng kepalanya dengan frustasi.

Wajah Hongbin yang sedih masih terbayang oleh Ravi. Hongbin yang terlihat sangat takut.

'Shiiit'

'Dia tidak menatapku saat aku... FUCKING SHIT!'

Ravi menendang kursi hingga terpelanting.

Ravi menutup wajahnya lagi. Ia benar-benar tidak tau harus apa. Ia sudah menghancurkan hati Hongbin. Ia sudah membuat Hongbin takut padanya.

'Fuck'

Ia telah melukai Hongbin secara mental dan fisik.

Ravi terduduk di lantai. Ia mencoba menenangkan hati dan pikirannya sebelum ia melihat Hongbin. Sebelum ia meminta maaf kepada Hongbin, lalu memeluknya, menciumnya dengan lembut, dan tidur dengan Hongbin di pelukannya. Ia sangat takut Hongbin pergi meninggalkannya.

"Semua akan baik-baik saja... yaaa... Hongbin... dia mencintaiku..."

Ia teringat Hongbin terus menatap ke atas saat ia melakukan sex tadi.

"No..."

Ravi lalu bangkit dan mengambil kunci mobilnya. Ia melihat keluar dan hujan mulai rintik-rintik. Ia lalu pergi dari rumah. Pergi meninggalkan Hongbin. Dia pergi ke tempat yang telah ia jauhi selama 5 tahun ini. Dia perlu menenangkan dirinya. Dia ingin melupakan hal buruk yang dilakukannya kepada Hongbin. Ketika akhirnya Ravi sampai di club langganannya dulu. Ia menarik nafas dan tersenyum lalu masuk ke club untuk menenangkan pikirannya.

Paginya...

Hongbin terbangun kedinginan, lalu ia mencoba menarik selimut.

"Ooouuw... ssssss..."

Hongbin mendesis kesakitan, dan ia mencoba duduk. Ia melihat ke sekelilingnya. Rumah Ravi sangat sepi. Ia juga tidak menemukan Ravi di sekelilingnya. Hongbin merasa sedih lagi. Lalu ia mengipasi wajahnya.

"Hongbin ssstopp crying!"

Hongbin lalu memakai pakaiannya kembali dan setiap ia bergerak, ia harus menahan sakit yang hebat. Sehingga setelah 30 menit kemudian, ia baru selesai berpakaian.

Ia berjalan keluar menuju dapur.

"Rraavii? Ccc chagiiyya?"

Tidak ada jawaban. Hongbin menghela nafas.

Seorang pelayan menyapa Hongbin.

"Oh selamat pagi Mr Lee Hongbin. Apa anda ingin sarapan anda?"

"Mr apakah anda melihat... tuan Ravi?"

"Uh.. maaf tuan, beliau sedang ada urusan kantor." Ia tersenyum kecil pada Hongbin.

Hongbin mengangguk.

"Oh umm kalau gitu... uh.. saya harus pulang"

"Oh tuan Lee.. saya akan mengantar anda..."

Hongbin mengangguk setuju.

Di rumah Hakyeon...

Hakyeon menutup teleponnya. Ia baru saja menelepon pelayan Ravi di rumah untuk melayani Hongbin dan mengantar Hongbin pulang.

Hakyeon menghela nafas dan melihat Ravi yang tertidur pulas di sofanya.

Ravi yang menggedor kuat rumah Hakyeon di jam 4 pagi tadi, Hakyeon yakin ia pasti ada masalah.

Hakyeon juga menelepon kantor, mengatakan kepada mereka kalau ia tidak bisa datang dan memberi tugas kepada bawahannya.

"Mmmm" Ravi terbangun dan meluruskan badannya.

Ravi duduk dan kepalanya sangat pusing.

"Ah hangover huh? Ini ... "

Hakyeon memberinya obat dan air minum.

1 jam kemudian,

Hakyeon menatap Ravi yang merenung. Bahkan ia tidak menyentuh makanan yang disiapkan oleh Hakyeon.

Hakyeon menghampiri Ravi.

"Ravi-yah? Kau ingin cerita?"

Ravi lalu menatap Hakyeon. Dan ia mulai menangis. Hakyeon memeluk Ravi.

Ravi menceritakan semuanya kepada Hakyeon.

Hakyeon menatap Ravi penuh perhatian.

"Ravi-yah... aku yakin. Hongbin dan Taekwoon hanya berteman. Mereka tidak lebih dari itu. Hongbin... Hongbin mencintaimu Ravi. Dia tidak akan meninggalkanmu, aku yakin itu!"

'Aku harus meyakinkan Hongbin untuk tidak meninggalkan temanku ini'

"Tt ... tapii... aku... menyakitinya... apa dia..."

"Sshh... aku yakin dia memaafkanmu Ravi..."

Ravi menunduk dan ia sangat gelisah.

"Kenapa kau tidak menemuinya hari ini, hmm?"

"Aku... aku takut... aku telah menyakitinya..."

Hakyeon menatap Ravi dengan lembut dan memegang pelan bahunya.

"Pergilah... Hongbin akan senang melihatmu..."

Ravi mengangguk pelan.

Sementara itu...

Hongbin menelepon bosnya kalau dia tidak bisa kerja. Dan tentu saja bosnya tidak marah. Dia terlalu perhatian pada Hongbin.

Hongbin menghabiskan waktunya berbaring di kamarnya. Ibunya datang melihat Hongbin yang sejak pulang hanya berdiam diri di kamar.

"Bin-ah? Kau ada masalah? Kau sakit?

Ibunya langsung mengecek temperatur di kening Hongbin.

"Aah mom... aku hanya lelah"

"Aaaah... iya ya ibu mengerti.. anak muda jaman sekarang... jangan terlalu banyak melakukan itu dengan Ravi." Lalu ibunya pergi meninggalkan Hongbin sambil cekikikan.

Hongbin menghela nafas dan menahan air matanya.

Jam 3 pm di rumah Hongbin...

Tok tok tok

Hongbin tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke dinding.

Pintu kamar Hongbin terbuka, dan orang itu masuk.

Hongbin tetap diam dan membelakangi pintu.

Tiba-tiba ia merasa seseorang memeluknya.

Ia sontak kaget dan membuat ia merintih kesakitan.

Refleks orang tersebut melepas pelukannya.

"Oh umm Binnie mm... mmaafkan aku.."

Hongbin terdiam dan perlahan ia berbalik menghadap Ravi.

"Rravi-yah..." Hongbin mulai merengek dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Ravi.

Ravi mencium kedua tangan Hongbin dan dengan pelan ia mendudukan Hongbin lalu memeluknya dengan lembut.

"Ravi-yah..."

"Sssshhh... aku disini baby... ssshhh... maafkan aku hmm? Don't leave me... okay?"

Hongbin mengangguk pelan

"I love you Ravi..."

Dan Hongbin merasakan hatinya hancur.

Sementara itu di rumah Taekwoon...

Hakyeon duduk di ruang tamu Taekwoon dengan secangkir kopi hangat di tangannya. Taekwoon yang duduk di depannya sedang berkonsentrasi menatap kopinya. Keduanya hanya duduk diam sejak Hakyeon datang.

Hakyeo menarik nafas dalam-dalam.

"Taekwoon? Apa kabarmu?"

"Aku baik" pandangan Taekwoon tetap di cangkirnya.

"Umm.. maksudku... perasaanmu.."

Taekwoon hanya diam. Wajah Taekwoon sudah mulai membaik tapi Hakyeon khawatir dengan perasaan Taekwoon. Ia tau seharusnya dia tidak kemari, tapi... Hakyeon dan hati keibuannya.

"Bagaimana kabar Hongbin?"

Kini Hakyeon yang membisu.

"Hongbin baik-baik saja, aku percaya pada Ravi."

Dia harus berbohong demi kebaikan mereka bertiga. Dia tidak ingin Taekwoon cemas dan dengan melakukan hal bodoh yaitu menjumpai Hongbin. Hakyeon harus membuat Taekwoon dan Hongbin jauh. Karena Ravi akan marah besar, dan ia tau apa yang Ravi lakukan jika ia sedang marah. Dia juga berpikir, setelah menjumpai Taekwoon dia harus menjumpai Hongbin.

"Ouh... umm... Hakyeon?"

"Ya?"

"... kau yakin?"

Hakyeon tersenyum manis

"Tentu saja Taekwoon. Ravi dan Hongbin sudah berhubungan 4 tahun lebih. Dan Ravi tidak pernah melukainya."

Taekwoon menunduk

"Hhakyeon? Aku... entahlah... sejak semalam, perasaanku tidak enak. Aku sangat cemas pada Hongbin. Aku... aku..."

"Taekwoon? Lupakan Hongbin!" Kata Hakyeon tegas dan membuat Taekwoon menatap tak percaya padanya.

"Kalau kau terus seperti ini, kau hanya membuat dirimu semakin sakit. Hongbin tunangan Ravi dan dalam bulan ini mereka akan menikah! Aku tau aku terdengar kasar sekarang tapi... tapi kau hanya... akan melukai dirimu sendiri... stop... okey?"

Taekwoon terlihat terluka mendengar kata-kata Hakyeon.

"Aku... aku..."

"Taekwoon stop mencintai Hongbin!"

Hakyeon mengusap wajahnya dengan frustasi.

"Okey, aku tau kau mencintai Hongbin. Tapi, kau lihat Hongbin sudah bertunangan dengan Ravi. Mereka berdua bahagia Taekwoon. Tidak bisakah kau melihat itu, huh? Kau tidak bisa datang seenakmu saja lalu mendekati Hongbin dan mengambil Hongbin dari Ravi. Apa kau tidak memikirkan perasaan Ravi? Bagaiman kalau dirimu di posisi Ravi? Kau pasti juga tidak ingin ada orang ketiga kan?"

Taekwoon menggenggam erat cangkirnya. Ia tidak suka mendengar kata-kata Hakyeon sat ini.

Hakyeon menghela nafas.

"Aku minta maaf Taekwoon. Tapi aku berbicara yang sebenarnya... tapi... Hubunganmu dengan Hongbin... sudah lama hilang kan? Taekwoon... Hongbin akan tetap menunggumu jika ia memang mencintaimu."

Taekwoon sangat kesal. Ia tidak ingin mendengar Hakyeon lagi.

Hakyeon mengangguk pelan lalu ia pamit pulang.