Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Aku rela chapter 13

Sai masih mengusap dadanya yang terasa nyeri akibat ditendang oleh Sasuke sore tadi. Dia hanya berharap tidak mengalami patah tulang rusuk. Namun dia tersenyum sendiri mengakui kebodohannya. Mungkin yang dia harus khawatirkan hanyalah tulang dadanya.

Dia lebih memilih berbaring terlentang. Dadanya benar-benar terasa sakit ketika digunakan bernapas. Bahkan untuk berubah posisi dari terlentang menjadi miring sangatlah menyakitkan. Dia memang hanya mengatakan pada Mikoto kalau hanya wajahnya saja yang memar. Yah, cuma luka di pelipis kanan plus memar di sudut bibirnya.

Tiba-tiba handphone-nya berdering.

Sai menghela napas. Dilihatnya nomor yang tertera di layar.

Ah! Nomor tak dikenal.

Namun dia tetap menekan tombol dial.

" Moshi-mosh..."

" Sai! Kau tidak apa-apa?! Ya Tuhan! aku khawatir sekali!"

Sai sweatdrop untuk beberapa saat.

" Sai! Halo? Ya Tuhan! Apa kau pingsan?! Halo?!"

Ctakkk! Muncul empat siku-siku merah di dahi Sai.

" Kalau aku pingsan mana mungkin aku bisa mengangkat telepon! Ini Sakura kan?"

" Ah, yokatta... iya ini aku Sakura. Sungguh, aku benar-benar khawatir mengenaii keadaanmu. Kau yakin tidak apa-apa kan? Hiks hiks."

" Hey, aku yang dipukuli kau yang nangis! Sudahlah, tidak apa-apa. Bagaimana tadi? Apa Sasuke sudah kembali padamu? hm?"

" I-iya."

" Yokatta."

" Hiks hiks."

" Woy, sudahlah. Jangan menangis lagi. Kau ini! Yang penting sekarang Sasuke sudah mau jadi pacarmu lagi kan?"

" Tap-tappi..."

" Sudahlah...ini sudah malam. Aku mau tidur. Besok di tempatku mau ulangan. Jaa ne," kata Sai seraya memutuskan sambungan secara sepihak. Dia segera menaruh handphone-nya di meja belajarnya dan berbaring lagi. Dia segera merapatkan selimut sambil terus mengusap-usap dadanya. Rasa nyeri tak kunjung reda.

Sai melihat kalender yang tergantung di dinding. Dia segera menepuk dahinya mengingat besok adalah hari minggu alias libur. Dia merutuki dirinya sendiri yang mengatakan pada Sakura kalau di kelasnya besok ada ulangan.

'Sai, kau ini benar-benar baka!"

Setidaknya kata-kata itu yang memenuhi pikirannya.

Akhirnya dia mendengar suara panggilan (lagi) dari handphone-nya. Pasti Sakura,pikir Sai. Dia segera meraih handphone itu dan menekan tombol dial.

" Halo, Sai? Ini beneran nomornya Sai kan?"

Oh. Ternyata Kiba.

" Ada apa? Ya aku Sai. Ini Kiba ya?"

" Iya. Eh, kok kamu tahu."

" Suaramu."

" He? Jangan-jangan kau..."

Ctakkk (lagi).

" Tentu saja bukan itu maksudku!"

" Hehehe gomen. Ano... apa kau yakin mau keluar dari ekskul karate? Para Senpai sepertinya tidak rela kau keluar begitu saja."

" Kenapa? Aku juga sudah membuat surat pengunduran diri. Apa lagi yang kurang? Jangan bilang kalau aku harus ikut perlombaan itu. Aku tidak fit buat besok Kiba."

" Masalahnya para Senpai terlanjur memasukkan namamu di formulir pendaftaran Sai."

" Kiba tolong bilang kepada para Senpai. Aku tidak enak badan buat besok sungguh."

" Baiklah. Akan kuusahakan agar mereka mengerti. Itung-itung kau sudah bantuin aku waktu aku dipukuli dulu."

" Yah, itu kan kebetulan saja aku lewat di daerah itu. Sudah ya, aku mau tidur."

" Dasar kebo! Ini masih jam setengah delapan dan kau mau hibernasi? ck ck ck."

" Sudah kubilang aku tidak enak badan Kiba."

" Oh ya, gomenasai. Semoga cepat sembuh ne?"

" Hai."

Sambungan terputus. Sai kembali ke tempat tidur. Berusaha mencari posisi yang nyaman. Namun rasa sakit selalu datang ketika dia menghembuskan napas. Dan untuk pertama kalinya Sai mengeluh.

" Hhhhh...Kami-sama..."

Sementara itu...

Sasuke masih sibuk dengan berbagai macam tugas yang harus dia selesaikan dan dikumpulkan saat masuk sekolah. Namun tiba-tiba dia teringat dengan flashdisk-nya yang dipinjam Sai untuk mengkonsultasikan karya tulisnya. Sasuke menghela napas. Kenapa harus bertemu dengannya lagi? Dia benar-benar muak.

Namun untuk malam ini dia ingin refreshing ke warnet. Mau tidak mau dia harus menagih flashdisk-nya. Dia menghela napas dan bergerak menuju kamar Sai. Ketika sampai dia segera mengetuk pintu. Itachi yang sedang membaca majalah di ruang keluarga terkejut melihat Sasuke yang berjalan menuju ke kamar sai. Matanya awas terhadap Sasuke. Bukannya berprasangka buruk, namun Itachi curiga kalau yang memukuli Sai adalah Sasuke sendiri.

Sasuke mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Dia mengetuk lagi.

Kali ini lebih keras dan tetap tidak ada jawaban.

Sasuke memaksa masuk. Didapatinya Sai yang sedang tertidur di ranjang. Tangan kanannya memegangi dadanya. Wajahnya terlihat agak pucat. Napasnya berat.

Sasuke segera mengambil flashdisk-nya yang berada di atas meja belajar Sai. Dia melihat Sai yang bergerak sedikit lalu terbatuk-batuk. Napasnya makin berat. Dan Sasuke bisa melihat Sai membuka matanya perlahan. Kedua pasang mata saling bertemu. Hanya saja yang satu sayu dan yang satu penuh sorot kebencian.

" Sas-"

" Aku kemari mau ambil ini," kata Sasuke seraya menunjukkan flashdisk yang digenggamnya. Dia menoleh ke arah tempat obat Sai yang lumayan banyak 'terpajang'. "Cepatlah minum obat. Nanti kau sakit. Atau apa kau berniat bermanja-manja pada Tou-san dan Kaa-san beserta Itachi-niisan? Cih! Jangan pikir kalau aku bisa tertipu!"

Sai terkejut. Hatinya benar-benar sakit ketika Sasuke berkata seperti itu. Siapa pula yang ingin sakit-sakitan seperti ini? Sai masih ingin menikmati hidupnya. Dia juga tidak pernah merasa kurang akan kasih sayang.

" Aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal itu Sasuke. Ak.."

" Hah, sudahlah! Mana ada maling yang mau mengaku! Kalau ada pasti penjara penuh!" kata Sasuke seraya meninggalkan Sai lalu berjalan keluar kamar. Dia menutup pintu dengan kasar. Membuat Itachi yang sejak tadi was-was terkejut dan segera menuju ke kamar Sai.

Mereka berdua berpapasan. Itachi memberikan pandangan intimidasi pada Sasuke. Pandangan yang berarti awas-kalau-kau-macam-macam!

Itachi memhampiri sai yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dibukanya dengan paksa selimut itu. Dan dia mendapati Sai yang sedang menangis. Itachi mengusap kepalanya. Lalu dia memeluk Sai.

Itachi terkejut. Tubuh Sai benar-benar kurus. Lebih kurus dari biasanya. Dia bisa melihat tulang selangka Sai yang terdapat di bahunya menyembul dan dapat terlihat dengan jelas. Itachi mengeratkan pelukannya. Adiknya yang satu ini benar-benar rapuh.

" Sshhh... sudah sudah... semua akan baik-baik saja..."

" Hiks hiks Nii-san."

" Ssshhhh... iya iya. Nii-san disini."

" Ak ku tidak pernah ingin sakit begini."

" Iya Sai iya.."

" Aku ingin seperti dulu."

" Iya. Nii-san tahu."

" Aku juga tidak ingin mendapat kasih sayang lebih melalui penyakit ini."

" Iya, sudah sudah. Nii-san tahu."

Itachi mengelus kepala Sai. Pandangannya teralih pada obat yang berada di meja Sai. Dia kembali mengusap kepala Sai.

" Sudah minum obat? " tanyanya. Sai menggeleng. " Kalau begitu minum obat ne?"

Sai mengangguk. Itachi segera membaringkan Sai dan mengambil pil-pil yang terdapat di kotak obat. Dia lalu mengambil segelas air putih dari dapur dan kembali ke kamar Sai. Diberikannya pil-pil itu beserta segelas air putih pada Sai. Sai bangkit dan menerimanya.

Itachi miris melihat satu persatu pil itu masuk ke dalam tubuh Sai. Dia mulai khawatir apa tubuh Sai yang seperti itu mampu bertahan dari gempuran efek samping dari obat itu sendiri. Sai berbaring lagi setelah menghabiskan air minumnya dan tentu saja pil-pil tadi. Sai sudah lebih tenang sekarang. Itachi berniat untuk menghampiri Sasuke dan memberinya pelajaran namun suara Sai yang terbatuk-batuk membuatnya menyadari ada sebuah kesalahan disini.

Napas Sai yang sesak ditambah batuk yang tak berhenti membuat Itachi berinisiatif untuk membimbingnya ke kamar mandi. Salah satu kebiasaan buruk Sai adalah ketika batuknya parah, Sai bisa langsung muntah. Dan hal itu terbukti.

" Nii-san, obatnya..."

Itachi yang sibuk memijat tengkuknya tersadar dari lamunannya mengenai pelajaran apa yang harus dia berikan pada Sasuke. Dia membimbing Sai untuk kembali ke tempat tidur.

" Sudah tidak apa-apa kok. Sai tidur saja ne?"

" Nii-san."

" Hm?"

" Jangan bilang siapa-siapa. Onegai... lalu jangan marahi...jangan pukul Sasuke."

" Ya. "

" Janji?"

" Tentu saja. Sekarang istirahat ne?"

...

Dok! Dok! Dok!

Brakkk!

" Sasuke, apa yang sudah kau perbuat pada Sai?"

" Kau bisa lihat sendiri bukan? Pasti dia sudah cerita panjang lebar padamu. Dasar pengadu."

" Tidak, dia tidak bilang apa-apa. Kau lah yang pengadu. Kau mengadukan sakit hatimu dan menjadikan sai sebagai pelampiasan. Sekarang, apa kau sudah puas? Keadaan Sai sekarang sudah lebih baik. Tadi dia benar-benar mengkhawatirkan. Aku mulai was-was untuk meninggalkan rumah jika ada kau di sekitar Sai."

" Terus saja kau bela dia Nii-san."

" Kau ini. Aku tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh Sai hingga kau sangat membencinya. Tapi kurasa kau keterlaluan Sasuke. Kau sudah membuatnya menderita sejak kecil. Kau tanamkan bibit kesengsaraan padanya sejak dulu. Apa kau tidak merasa? Lalu setelah bibit itu tumbuh dan menggerogotinya, masih kau tambah dengan ini? Setelah ini kau apakan lagi dia? HA?! Apa masih kurang?!"

" Ya! Tentu saja kurang!"

" Kisama!"

Itachi yang kalap mencengkram kerah baju Sasuke. Tangan kanannya mengepal di hadapan Sasuke. Dia akan melayangkan pukulannya ketika janjinya pada Sai terngiang-ngiang di kepalanya.

'jangan marahi. Jangan pukul Sasuke'

Itachi menghentikan tangannya. Sasuke terkejut.

" Kenapa berhenti? Bukankah kau ingin memukulku?"

Itachi menurunkan tangannya dan melepaskan tangan satunya lagi dari kerah Sasuke. Dia menatap Sasuke dengan aura kemarahan. Namun ada beberapa hal yang ingin dijelaskannya agar Sasuke mengerti. Sasuke sendiri masih bingung dengan 'bibit yang ditanam sejak dulu.'

" Aku memang berlaku jahat padanya. Tapi aku tidak merasa menanamkan bibit kesengsaraan padanya," kata Sasuke. Itachi tiba-tiba tersenyum mencibir.

" Tidak? Oh ternyata kau tidak merasa ya? Dasar lempar batu sembunyi tangan."

Sasuke semakin tidak mengerti.

" Aku tahu sebenarnya Sai kecelakaan karena melindungimu. Andaikata dia tidak melindungimu hal ini tidak akan terjadi."

" Maksudmu?"

" Karena kecelakaan itu, Sai membutuhkan donor darah dan darah yang didonorkan padanya adalah darah yang terinfeksi virus HIV. Dan andaikata kau tidak main-main di jalanan itu, Sai tidak akan seperti ini sekarang. Jadi, sekali lagi kau macam-macam, aku tidak akan memaafkanmu. Bilang saja aku ini berat sebelah. Tapi aku tidak perduli," kata Itachi seraya menuju ke pintu.

" Dan satu hal lagi. Kau cukup beruntung karena aku tidak memukulmu. Itu karena aku sudah berjanji pada Sai," katanya lagi seraya keluar dari kamar Sasuke. Sasuke masing termenung.

Dia berusaha untuk tidur namun kata-kata dari Itachi tetap mengganggunya.

Esok harinya...

Sasuke membuka matanya dan menyadari bahwa dia sudah tertidur sangat lama. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi namun matanya masih terasa berat. Dia memejamkan matanya lagi dan mendapati kalau dia tidak bisa kembali ke alam mimpi. Dia bangkit dan menuju ke kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan diri, dia menuju ke ruang makan. Penasaran akan apa yang telah dimasakkan oleh Mikoto sebelum berangkat kerja. Ketika sampai di dapur yang berada di dekat meja makan, dia bisa melihat Sai yang keluar dari kamar sambil menyisir rambutnya dengan tangan. Cukup rapi memang, karena rambut Sai jauh dari yang namanya gel rambut seperti Sasuke. Sehingga rambutnya bisa jatuh lurus. Tidak seperti Sasuke.

" Ohayo," kata Sai seraya tersenyum. Sasuke membuang muka. Dia segera mengambil piring yang berwarna agak coklat namun pinggirannya berwarna karamel. Dia juga mengambil sendok yang sudah diberi tanda.

" Ini piringku dan ini sendokku. Jangan pernah makan pakai ini. Aku tidak mau tertular."

Sai tercekat. Namun dia segera menguasai diri.

" Tenang saja. Aku selalu makan pakai mangkuk. Lagian aku selalu memakai sendok yang ini. Masalah cuci piring, aku pakai sabut yang warnanya hijau."

Kali ini giliran Sasuke yang merasa miris. Namun perasaan itu segera ditepisnya. Dia mengambil semangkuk sayur dan membawanya ke meja makan dan dimakan sendiri. Menyadari Sasuke yang tidak mau berbagi dengannya, Sai membuka kulkas dan mencari bahan masakan untuk dimasak.

" Hmmm... kali ini masak apa ya?" kata sai seraya melihat-lihat sayuran dan beberapa filled ikan di dalam kulkas. Ada selada, tomat, sawi, telur,potongan paha ayam,bayam, dan sayuran hijau yang lain. Dia melihat beberapa buah jeruk sunkist. Melihat warna jeruk yang orange itu mengingatkannya pada Naruto. dan Naruto mengingatkannya pada ramen. Dia segera mencari mie instan yang terdapat di lemari diatas kompor. Sebenarnya dia ingin sekali makan ramen tapi tak ada waktu untuk membeli ramen kering untuk dimasak sendiri.

Sai memasak air hingga mendidih. Setelah mendidih Sai mengambil airnya sedikit dan dituang ke mangkuk. Lalu Sai membuka bungkus mie instan dan merebusnya. Mencampurnya dengan sedikit sawi dan bayam. Lalu dia memotong-motong cabai kecil-kecil dan menaruhnya di mangkuk bersama dengan bumbu mie tadi. Setelah mie matang, dia segera menyaringnya dan menaruhnya ke dalam mangkuk.

Sai segera membawa mangkuk yang mengepul itu ke meja makan. Dia duduk di depan Sasuke yang juga sibuk dengan makanannya.

" yosh! Itadakimasu!"

Sasuke melihat Sai yang meniup-niup mie-nya agar tidak terlalu panas dimulut. Hatinya mencelos menyadari Sai yang memilih mengalah dan memakan mie instan. Sasuke melihat semangkuk sayuran yang 'dimilikinya' sendiri. Dia teringat saat itu.

Flashback on

Seorang anak berambut hitam kebiruan sedang asyik menunggu Kaa-sannya yang sedang memasak di dapur bersama ketiga saudaranya. Yang tertua bernama Itachi akhirnya berlari ke dapur karena tidak sabar. Lalu dia kembali ke meja makan bersama sepiring nasi goreng yang banyak ditaburi tomat.

" Lho? Itachi-Niisan curang! Masak tomatnya banyak banget!" sungut bocah itu.

" Ini punya Sasuke. Kalau yang ini buat Sai," ucap Kaa-sannya, Mikoto. Bocah bernama Sasuke itu cemberut melihat tomatnya kurang banyak dibandingkan milik Oniisan-nya. Namun pikirannya teralihkan melihat sesendok penuh potongan tomat ditaruh di piringnya.

" Sasuke pake ini aja. Tomatnya udah aku sisihkan dan buat Sasuke saja ne?"

" Sai, seharusnya jangan dibantuin si Sasuke itu. Biar dia merengut seharian. Ah,,,... Sai menggagalkan rencanaku!" ucap Itachi.

Tukkk!

" Itai o... Kaa-san!"

" Kau ini. tidak boleh mengerjai adikmu seperti itu Itachi," ucap Mikoto seraya mengacungkan sutil yang baru saja mendarat di kepala Itachi.

Sasuke tidak memperdulikan apapun selain taburan tomatnya yang semakin banyak melebihi milik Itachi.

" Arigatou Sai."

" E hem!"

Esok harinya...

" Wa... Kaa-san pulang..." ucap bocah 'paling tua' yang berlari menuju Fugaku dan Mikoto yang baru pulang dari rumah sakit.

" Tou-san tidak disambut? " ucap Fugaku dengan menunjukkan wajah kecewa meskipun dibuat-buat.

" Eh iya... hehehe."

" Ini coklat ada tiga batang. Bagi dengan adik-adikmu ne?"

" Hai!"

Bocah bernama Itachi itu belari menuju ke adik-adiknya yang sibuk dengan buku gambar. Bedanya, yang satu sibuk dengan buku cerita bergambar sedangkan yang satunya sibuk menggambar di buku gambar.

Itachi membagi coklat batangan itu pada adik-adiknya. Sasuke segera melahapnya namun Sai menyimpannya lalu melanjutkan gambarannya lagi. Itachi menyerigai.

" Ne Sai! Coklatnya tidak mau ya? Kalu tidak mau kasih ke Oniisan saja ne?"

Sai yang menyadari ada 'bahaya' di sekitarnya segera menyembunyikan coklatnya di tempat yang aman sambil memasang tampang was-was. Namun karena masih kecil tampangnya menjadi menggemaskan ditambah bibirnya yang merengut di tengah pipinya yang tembam.

" Lho? Kok tidak dimakan?" kali ini Sasuke yang berkomentar. Coklatnya sudah tersisa setengahnya. Sai masih sibuk dengan gambarannya dan akhirnya selesai juga. Coklat Itachi dan Sasuke telah habis. Sai memakan coklatnya disela-sela tatapan 'iri' dari kedua saudaranya. Itachi yang menyadari sikap Sasuke hanya tergelak.

" Sai! Liatin Sasuke! Dia mau lagi coklatnya. Hati-hati dengan coklatmu Sai!"

Sasuke yang merasa 'tersindir' segera mempout-kan bibirnya. " Enggak! Siapa yang mau lagi?"

Namun pandangannya teralihkan oleh sepotong kecil coklat yang disodorkan ke arahnya. Sasuke menerimanya dengan senang hati. Itachi frustasi.

" Yah... Sai... kau menghancurkan rencanaku lagi..." ucap Itachi. Yang diomongi hanya tertawa geli.

Flashback off

'uhuk-uhuk'

Sasuke terbangun dari lamunannya ketika mendengar suara orang batuk di sekitarnya. Sai membungkukkan badannya ke samping dengan masih terbatuk-batuk. Batuknya pun tidak main-main. Sasuke bisa merasakan napas Sai yang tidak karu-karuan ketika terbatuk.

" Menjauhlah."

Sai menoleh ke arah Sasuke.

" Tenang, aku menghadap ke arah uhuk lain."

Sai masih terbatuk-batuk. Sasuke baru teringat sesuatu. Jika batuk terlalu lama Sai akan..

" Hey, awas jangan muntah disini Sai."

Namun Sai sudah berlari menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Dan beberapa detik kemudian terdengar suara orang yang sedang muntah. Sasuke menghampiri Sai dan memijat tengkuknya. Dia berjengit kaget ketika tangannya yang agak dingin menyentuh kulit Sai yang terasa sangat panas seperti terbakar. Setelah memuntahkan mie yang baru saja masuk ke perutnya, Sai jatuh terduduk.

Sasuke membimbingnya menuju ke tempat tidur. Sai meringkuk dan Sasuke mengambil termometer yang terdapat di kotak obat di dekat ruang keluarga. Dia memasukkan ujungnya ke dalam mulut Sai. Setelah beberapa lama Sasuke mencabutnya dan melihat angkanya. Tiga puluh delapan.

Sai masih meringkuk dan rasa sakit di dadanya muncul lagi. Ditambah dengan rasa mual dan tubuh yang 'terbakar' menjadikan sebuah kombinasi yang menyakitkan. Sasuke masih bingung kenapa dia mau melakukan ini semua. Dia seharusnya membiarkan Sai, tidak menungguinya dan mengecek keadaan Sai dengan seksama seperti ini.

" It-te... Ittai..."

Sasuke terhenyak, sebegitu parahkah penderitaan Sai? Dan Sai menyimpannya sendiri. Dia yang sebagai kakak hanya menambahkan penyiksaan pada Sai. Dan Sai tidak pernah berniat membalas. Dia bahkan masih menganggapnya sebagai saudara. Seperti dulu.

Sasuke mendengus geli.

Sasuke, kau bodoh sekali.

Ketika Sai sudah semenderita ini baru kau mau sadar?

Coba perhatikan dirinya yang sekarang.

Ringkih, mudah terluka.

Dan kau dengan senang hati menambahkan penderitaan untuknya.

Dan dia tidak pernah berniat untuk mengadu maupun membalas perlakuanmu.

Sasuke,

Kau adalah kakak terberengsek sedunia.

Yang tertawa diatas penderitaan orang lain. Adikmu sendiri.

Dengan alasan percintaan kau siksa dia hingga tidak bisa tersenyum padamu lagi. Yang dia bisa hanya tersenyum palsu padamu.

Sekarang, dia tidak bisa melawan maupun membalasmu. Bertahan saja susah apalagi membalas eh?

Kalimat demi kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya. Sasuke tidak menyangka apa yang merupakan hal ringan baginya ternyata terasa sangat berat bagi Sai. Dan dia tidak menyangka bahwa dia berencana untuk menambahkannya lagi pada Sai yang telah mencapai batasannya.

Tanpa sadar Sasuke mengusap kepala Sai. Hal yang jarang dilakukannya pada Sai semenjak dia membenci Sai. Sai memandang Sasuke dengan mata yang sayu. Sasuke merasa Sai setengah sadar saat ini.

" Sasuke... it-tai o..."

Sasuke terkejut. Kalimat itu mengingatkannya pada saat itu. Saat Sai yang sekarat setelah mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang menyebabkannya menjadi seperti sekarang ini. Dan siapa salah coba? Tentu saja dirinya.

" Mana yang sakit?"

Sai memukul dadanya. Sasuke membukakan kancing kemejanya dan mendapati luka yang sepertinya adalah memar tepat di dadanya. Sekali lagi dia terkejut. Apakah luka itu dari...

Tidak salah lagi. Dia menendang Sai tepat di dadanya saat itu. Dirinya yang kalap saat itu.

Sasuke mencelos.

Terlalu banyak rasa sakit yang dia berikan pada Sai.

Dia mendekatkan tubuhnya pada Sai. Memeluknya dengan protektif.

" Sai... gomen ne..."

Sasuke bisa merasakan tubuh Sai yang sangat kurus. Sai tidak pernah sekurus ini, katanya dalam hati. Tanpa sadar dia mengeratkan pelukannya dan menitikkan air mata.

" Gomenasai, hontouni."

.

.

.

.

to be continued

.

.

.

Author's note:

Yah, gimana para reader? Apa kurang panjang? trus feel-nya apa masih datar? Kalau masih datar gomen ne...

Review... ne...

Onegai...