Lets read :

.

.

LOVE TO LOVE YOU

Chapter 12B

.

Genre : Romance/Hurt/Drama

Pair : ItaIno

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Love To Love You © Beyb Haraka

Cast : Uchiha Itachi (28), Yamanaka Ino (23), Uchiha Sasuke (23), Haruno Sakura (20)

Akasuna no Sasori (28)

And many other

.

.

.

.

Hiroo Garden Place, Itachi's House

.

Sudah setengah jam Ino menunggu diluar rumah dengan udara dingin yang semakin gencar menyiksa tubuhnya. Wanita Korea itu masih setia menunggu Itachi pulang sambil duduk dikursi panjang yang ada ditaman. Tubuhnya agak menggigil karena kedinginan, namun anehnya ia masih merasa baik-baik saja, tak ada niatan sama sekali untuk masuk kerumah meskipun udara diluar terasa semakin dingin. Ino masih merasa kuat karena dorongan dari bayi yang ada didalam perutnya.

"Hmmm Ibu sangat merindukan Korea sayang, merindukan Appa, merindukan Eomma, merindukan Dei Oppa dan semua keluarga yang ada disana" ungkap Ino sambil mengelus perut buncitnya dengan mata yang berkaca-kaca. "kau tahu, negara Ibu itu sangat indah sekali, disana banyak pohon Sakura juga sama seperti disini, disana juga banyak Boyband dan Girlband yang sangat terkenal, lagu-lagu dan tarian mereka benar-benar luar biasa, Ibu ingin suatu saat nanti kau bisa menjadi seperti mereka hehe.. seperti Jang Geun Suk Oppa, dia adalah aktris yang multitalented, wajahnya tampan dan menggemaskan, apalagi senyumannya, tapi dia masih kalah dengan Ayah Itachi, Ayah Itachi adalah pria yang paling sempurna sedunia, dia adalah pangeran dan malaikat penolong bagi Ibu, kalau begitu kau harus meniru Ayah Itachi saja ya nak.. jadilah seperti dia meskipun kau bukan darah dagingnya" imbuhnya pada sang buah hati sambil terus mengelus perut buncitnya, Ino merasa sedikit miris ketika mengucapkan kalimat terakhirnya, namun bagaimana lagi, itulah kenyataann.

"Sebaiknya aku telepon Ah Yun sekarang, sudah sebulan aku tidak menghubunginya, aku juga sangat merindukan anak-anak panti" Inopun mulai mencari nomer ponsel sepupunya didalam smartphonenya, dan setelah ketemu, ia langsung menyentuh ikon panggilan yang tertera dilayar 5 Inch. tersebut.

Tuuuut…

Teleponpun mulai tersambung.

"Yeobosoyo Ah Yun!" sapa Ino.

("Yeobosoyo Inooo… akhirnya kau menghubungiku lagi") jawab Ah Yun dengan nada antusias.

"Ne, jeongmal mianhe Ah Yun, baru kali ini aku bisa menghubungimu, aku tidak diperbolehkan terlalu sering berdekatan dengan ponsel karena radiasinya bisa membahayakan kandunganku, jadinya…aku tidak bisa sering-sering menghubungimu" jelas Ino memberi pengertian.

("Ne, gwenchana.. yang terpenting kau masih memberiku kabar, bagaimana keadaan kalian diJepang? Baik-baik saja kan?")

"Kami berdua baik-baik saja Ah Yun, kandunganku sehat begitupula denganku"

("Hm, syukurlah…aku lega mendengarnya, pasti pangeran Uchihamu itu menjagamu dengan sangat baik, kau benar-benar beruntung Ino")

"Ne, dia selalu perhatian terhadap kami berdua, Tuhan memang adil Ah Yun, Dia memberiku ujian yang begitu sangat berat namun dia juga mengirimkanku seorang pangeran pelindung yang sangat aku cintai dan mencintaiku apa adanya"

("Kau benar Ino, semoga saja Uchiha Itachi memang benar-benar jodohmu")

"Ne, itulah doaku setiap waktu, oh ya, bagaimana kabarmu, Appa dan Eomma? Dei Oppa juga, apakah dia sudah kembali dari Austria?"

("Aku tentu baik-baik saja, Ajusshi dan Ajumma juga baik-baik saja, mereka berdua sudah tidak pernah bertanya-tanya tentang dirimu lagi karena terlalu disibukkan dengan urusan bisnis mereka masing-masing, hari ini saja mereka baru pulang dari Mexico, kalau mengenai Dei Oppa, sepertinya dia belum pulang dari Austria, soalnya aku dengar bahwa dia tengah bekerjasama dengan perusahaan cokelat asal sana untuk membangun sebuah market Austrian Chocholate dikawasan Gang-nam")

"Jadi.. Dei Oppa benar-benar akan mewujudkan impianku?"

("Hmm kau benar Ino, dia akan mewujudkan impianmu, kau senangkan? Kakakmu nanti akan punya market cokelat sendiri, market cokelat Austria satu-satunya yang ada diKorea")

"Ye, aku senang sekali Ah Yun, kalau begini aku jadi semakin merindukannya, dia juga pasti sangat merindukanku, mereka semua tahunya aku masih ada diJepang karena pemotretankan?"

("Ne Ino-chan kau benar!")

"Syukurlah… semoga saja mereka semua tidak curiga, oh ya, bagaimana kabar anak-anak panti, apa mereka semua sehat-sehat saja? Jun Sang, apakah dia sudah sembuh? Dia sudah tidak mencari-cariku lagikan?"

("Mereka semua sehat, Jun Sang juga sudah sembuh dari seminggu yang lalu, aku sudah memberinya pengertian bahwa kau belum bisa pulang karena sangat sibuk diJepang, dan sepertinya anak itu mau mengerti meskipun sulit, dia benar-benar sangat merindukanmu, kaukan paling dekat dengannya, makanya dia merasa sangat kehilangan")

"Aku bisa mengerti perasaannya, akupun juga sangat merindukannya Ah Yun, tapi mau bagaimana lagi, nanti setelah melahirkan dan semua permasalahan disini selesai, baru aku bisa kembali lagi keKorea, entah itu kapan, aku juga belum tahu"

("Ya, semoga saja semua permasalahanmu disana cepat selesai, kau melahirkan dengan normal dan selamat, aku yakin jika Itachi-sii pasti akan selalu membantu dan menjagamu")

"Ne, gomawoyo… terimakasih untuk doanya"

("Hm, kalau begitu sudah dulu ya, kau cepatlah tidur, ini sudah semakin malam, dan udara malam tak baik bagi kesehatan bayimu")

"Yee… aku akan tidur, titip salam untuk Appa dan Eomma ya.. dan juga untuk Bu Shin Yoong, Bu Eun Suk, Bu Seo Yoong, Bu Hye Mi dan Bu Han Na, bilang pada mereka semua untuk terus bekerjasama dalam menjaga dan merawat anak-anak, mereka adalah orang-orang yang sangat hebat, tak ada orang setulus mereka dalam merawat anak-anak yang bukan anak kandungnya sendiri, tanpa mereka aku tak bisa apa-apa"

("Hmm arasseo.. aku pasti akan menyampaikan salammu pada mereka, mereka berlima selalu mengerti tentang keadaanmu dan selalu menyemangati anak-anak, mereka adalah pahlawankan?")

"Iya, mereka memang pahlawan"

("Oh ya aku sampai lupa, tadi pagi Ajumma datang kesini untuk menjenguk anak-anak, dan anak-anak sangat senang sekali karena sudah sebulan tak bertemu dengannya, apalagi Jin Rye, dia sangat gembira sekali, setelah sebulan lamanya dia hanya murung karena merindukan Ajumma")

"Syukurlah jika Eomma datang mengunjungi mereka, Eomma juga pasti sangat merindukan Jin Rye, mereka berdua sudah seperti Ibu dan anak kandung, dulu saat Jin Rye mengidap Pertussis dan harus dirawat dirumah sakit, Eomma yang selalu menjaga dan menemaninya, bahkan Eomma membatalkan semua janji dengan client-client pentingnya hanya untuk Jin Rye"

("Ajumma memang paling menyayangi Jin Rye, namun dia juga menyayangi anak-anak yang lain, dia tidak pernah pilih kasih terhadap anak-anak")

"Ne.. kau benar Ah Yun" Inopun tersenyum simpul mendengarnya.

("Ya sudah, cepat tidur sana, jaga kesehatan dan pola makanmu Nyonya Uchiha..")

"Ah Yuuun… iya-iya baiklah, aku tidur sekarang, selamat malam"

("Selamat malam juga Ino, dan selamat tidur")

Tuut. Tuut. Tuut.

Sambungan teleponpun terputus.

"Hmm… aku benar-benar sangat merindukan Korea dan kalian semua, namun aku harus bersabar sampai waktunya tepat untuk kembali kesana, lagipula disini ada Ita-kun, aku ingin terus bersamanya" gumam Ino sambil menunduk membelai perutnya.

Wushh…

Tiba-tiba Black Vanquish berjalan melewati Ino yang masih duduk diatas kursi panjang, mobil sport mewah buatan Eropa yang dikendarai oleh Itachi itupun segera masuk kedalam garasi besar yang ada disamping rumah.

"Lihatlah sayang, akhirnya Ayah Itachi sudah pulang" gumam wanita cantik itu dengan wajah berbinar-binar karena senang.

Dan selang beberapa detik, akhirnya pemuda yang ia tunggu-tunggupun telah keluar dari dalam mobil hitam dan kini tengah berjalan kearahnya. Namun wajah Itachi yang tampan itu malah menyiratkan raut kekhawatiran dan kemarahan saat melihat wanitanya yang sedang berada diluar rumah entah sudah berapa lama sampai wajahnya terlihat pucat.

"Ita-kun.." panggil Ino dengan rona bahagia, ia tak sadar sama sekali jika saat ini pemuda tercintanya itu tengah menatapnya dengan pandangan kesal.

"Apa yang kau lakukan disini Ino?" tanya pemuda Uchiha itu seraya menatap Ino tajam.

"I-Ita.. aku cuma menunggumu diluar karena aku bosan didalam, lagipula dia ingin keluar melihat bintang" ungkap Ino dengan sedikit takut-takut karena telah menyadari tatapan mata Itachi padanya.

"Hah alasan konyol, kau pikir kau akan baik-baik saja dengan udara yang seperti ini? ingatlah jika kau itu sedang mengandung, udara dingin diluar sangat berbahaya bagi kandunganmu, kau ingin sakit atau cari mati? Kenapa kau selalu ceroboh dan bertindak nekad? Kau suka sekali membuatku khawatir" ujar Itachi dengan wajah kesal. Kata-kata pemuda itupun sukses membuat kedua mata Ino berkaca-kaca, wanita cantik itu merasa bersalah sekaligus takut dengan kemarahan Itachi.

"Aku… hanya mengabulkan permintaannya itu saja.." Inopun menundukkan kepalanya takut, kesal, dan juga merasa bersalah.

"Lihat wajahmu, kau pasti pucat karena udara dingin ini" ungkap Itachi seraya lebih mendekat pada Ino lalu kemudian memeluk wanita Koreanya itu dengan hangat. "jika kau sakit lagi seperti kemarin bagaimana? Kau mau terjadi sesuatu padanya?" imbuhnya seraya melepaskan pelukan dan menangkup wajah Ino dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku.. tapi aku tidak apa-apa, hanya sedikit kedinginan" ujar Ino sambil menatap Itachi dengan tatapan merasa bersalah.

"Sekarang kau memang terlihat tidak apa-apa karena terbawa suasana mengidam, tapi nanti pasti ada efek sampingnya, kau tidak berpikir panjang"

"Iya-iya maafkan aku" gumam Ino dengan nada sebal.

"Hn, lain kali jangan ulangi lagi, entah itu karena alasan apapun, kau baru saja sembuh, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, pada kalian berdua" angguk dan ungkap Itachi seraya menghapus airmata Ino.

"Huumb, aku tidak akan mengulanginya lagi" janji Ino sambil mengangguk-anggukan kepala.

"Janji?"

"Janji.." Inopun mengambil jari kelingking Itachi dan menautkannya dengan jari kelingkingnya.

"Hn, kalau begitu sekarang kita masuk dan kau harus menghabiskan semua makanan pesananmu" Itachi lantas segera merangkul pundak Ino dan membawanya masuk kedalam rumah.

"Ita-kun sudah mendapatkan Dorayaki besarnya?" tanya Ino dengan wajah berbinar.

"Apapun untukmu, pasti akan selalu kudapatkan" jawab Itachi sambil menunjukkan bungkusan berisi Mochi dan Dorayaki yang ia tenteng ditangan kirinya.

"Jeongmal gomawoyooo Ita-kun" Ino langsung memeluk tubuh Itachi dari samping dengan semangat. "saranghae.." ungkapnya sambil mendongak menatap wajah tampan Itachi yang balik menatapnya.

"Nado!" balas Itachi, lalu mencium kening Ino sekilas.

.

Sasuke kini tengah berada diruang tengah rumah kakaknya, tadi ia sengaja lewat pintu garasi karena tidak mau mengganggu kebersamaan Ino dan juga Itachi. Saat ini pemuda berambut Chickenboot itu tengah duduk disamping kekasihnya yang masih terlelap diatas sofa ruang tengah.

"Sakura bangun.." ujar Sasuke sambil mengguncang-guncangkan pundak kekasihnya pelan.

"Enghhh…" dan Sakurapun hanya menggeliat pelan.

"Hey pinky.. bangun.." kini nada suara Sasuke sedikit ia tinggikan.

"Hhhhh" Sakurapun akhirnya mengerjap-ngerjapkan mata sayunya mencari kesadaran, dan setelah ia sadar, iapun langsung terkejut dengan kehadiran Sasuke didepannya. "Sasuke! Kau sudah pulang?" tanyanya dengan nada terkejut.

"Hn, tentu saja aku sudah pulang, jika belum, lalu untuk apa sekarang aku ada didepanmu?"

"Iya-iya, oh ya Eonni mana?" tanya Sakura sambil bangun dari rebahannya.

"Itu, bersama Itachi" Sasukepun menolehkan kepalanya kebelakang, dan pas sekali, Itachi dan Ino sudah berada dibelakangnya.

"E-Eonni, kenapa-"

"Hn! Ini semua salahmu, jika kau tidak tidur, kau pasti bisa mencegah Ino untuk tidak duduk sendirian diluar sampai wajahnya pucat seperti ini" ujar Itachi dengan nada datar, ia sedikit kesal dengan Sakura yang teledor dalam menjaga Ino, padahal gadis itu sudah berjanji padanya jika akan lebih protective lagi terhadap Ino setelah menerima mobil mewah darinya, tapi kenyataannya, ia malah tertidur saat diberi tugas untuk menjaga wanitanya.

"Ah itu…" Sakurapun menunduk merasa bersalah. "maafkan aku kak, aku tidak tahu jika Eonni akan nekad keluar seperti itu, aku-"

"Tidak Sakura, kau tidak salah, ini semua salahku, Ita-kun jangan menyalahkan Sakura, mungkin dia kelelahan karena seharian sudah menjagaku makanya dia sampai tertidur, aku yang bodoh, aku yang ceroboh karena sudah membahayakan diriku sendiri, jadi cukup salahkan aku saja" ujar Ino pada Itachi sembari menggenggam tangan pemuda yang amat dicintainya itu dengan erat.

"Eonni…" Sakurapun jadi semakin merasa bersalah karena pembelaan Ino.

"Ya, ini semua memang salahmu, puas?" Itachipun akhirnya mengalah. Ia tatap wajah wanitanya itu dengan lekat, mengagumi sosok tercintanya yang sungguh berhati malaikat.

"Hm, puas" Inopun hanya tersenyum manis menanggapinya, ia sangat suka dengan wajah Itachi ketika sedang pasrah dan mengalah padanya.

"Eonni…maafkan aku.." ungkap Sakura yang masih merasa bersalah.

"Akukan sudah bilang jika semua ini salahku, kau tidak salah jadi untuk apa minta maaf, sebaiknya sekarang kau lanjutkan tidurmu, kau pasti sangat lelah" ucap Ino dengan nada tulus.

"Sasuke!" panggil Itachi pada adiknya, Sasuke yang merasa dipanggilpun langsung menolehkan wajahnya kearah sang kakak. " Hn!" Itachipun memberikan sedikit isyarat pada adiknya yang langsung mengerti dengan apa maksudnya.

"Saku.. kita kekamar sekarang, kau mau pulang atau menginap disini?" tanya Sasuke pada sang kekasih.

"Emm aku.. menginap disini saja" jawab Sakura sambil menatap Sasuke.

"Kalau begitu ayo kita kekamar sekarang, sudah malam, besok kau ada kelas pagi kan?" ajak Sasuke.

"Hm baiklah, kak Itachi, sekali lagi maafkan aku, lain kali aku berjanji akan lebih hati-hati, selamat malam" pamit Sakura pada Itachi dan Ino.

"Selamat malam Sakura" balas Ino dengan senyuman manisnya.

"Hn!" dan hanya itu yang keluar dari mulut sisulung Uchiha.

Sasuke dan Sakurapun segera beranjak dari ruang tengah untuk menuju kamar mereka yang berada disebelah utara.

"Sudahlah Ita-kun, kau jangan terlalu jutek pada Sakura, dia tidak salah, tapi aku yang jelas-jelas salah" ungkap Ino sambil menangkup wajah Itachi dengan kedua tangan halusnya.

"Hn!" Itachi hanya mengangguk dan menggumamkan kata favoritnya.

"Itaa.." Inopun mengguncang-guncang kepala Itachi pelan.

"Iyaaa… Nyonya Uchiha" Itachi lantas mencubit pipi Ino gemas.

"Ah.. Ita sakit" Ino mendengus sebal seraya mengusap-usap pipi kanannya yang sedikit memerah karena cubitan Itachi.

"Hn, sekarang habiskan semua makananmu"

"Oh iya aku sampai lupa" Inopun mengambil bungkusannya dari tangan Itachi, lalu menyeret tangan pemuda itu untuk berjalan menuju ruang makan.

"Kau sudah minum susu?" tanya Itachi.

"Belum" geleng Ino.

"Kalau begitu aku buatkan, kau makan dulu sebentar, lalu aku akan segera kembali untuk menemanimu"

"Ne, baiklah" angguk Ino menurut, membuat Itachi jadi senang melihatnya, karena biasanya Ino selalu ngeyel dan tak mau sedikitpun jauh darinya jika sudah seperti ini.

Inopun lantas segera duduk dikursi makan sambil membongkar bungkusan berisi dua jenis kue idamannya, sedangkan Itachi sendiri berjalan menuju pantry untuk membuatkan kekasihnya susu formula.

"Waahh.. ini besar sekali Ita-kun" ungkap Ino dengan pandangan takjub ketika melihat Dorayaki besar yang ada dihadapannya, aromanya begitu harum, dan kuenya juga masih hangat, membuatnya sudah tidak sabar lagi untuk menghabiskan kue raksasa itu.

"Kau pasti tak sanggup untuk menghabiskannya, jadi sisanya nanti untuk-"

"Aku akan menghabiskannya" sahut Ino.

"Hn? Kau yakin?" delik Itachi tak percaya.

"Tak pernah seyakin ini Ita, melihat dan mencium aromanya saja sudah membuat perutku semakin keroncongan" jawab Ino sambil menatap Itachi dari kejauhan.

"Baiklah, jika kau semangat seperti itu, aku lebih suka melihat wanita Korea yang rakus dari pada susah makan karena mengalami morning sickness" ungkap Itachi dengan senyuman gelinya seraya mengaduk segelas susu.

"Ne eagy, kita makan sekarang sayang" ucap Ino pada sang buah hati sambil mengelus-elus perutnya. "ittadakimasu!" dan iapun mulai memakan Dorayakinya dengan lahap dan penuh semangat, Itachi yang melihatnyapun jadi tersenyum simpul karena usahanya tadi terbayarkan dengan senyum serta semangat Ino yang menggebu-gebu seperti ini. "enak, ini benar-benar enak Ita, cokelat dan kacang merahnya lembut sekali" gumamnya yang masih mengunyah Dorayaki.

"Hn, itu sudah pasti, pelan-pelan saja makannya, awas tersedak seperti tadi pagi, nanti dadamu sakit" ucap Itachi penuh perhatian saat berjalan menghampiri wanitanya sembari membawa segelas susu formula.

"Habis ini enak sekali Ita.. aku baru pertamakali memakan Dorayaki yang seperti ini, benar-benar sangat lezat"

"Aku mengerti, tapi kau tetap harus berhati-hati, hiperaktif bagimu itu wajar, tapi kau juga harus mengontrolnya supaya tidak membahayakan diri sendiri dan juga bayi yang ada didalam perutmu" nasehat Itachi seraya mengusap perut Ino pelan setelah duduk disamping wanita cantiknya.

"Ne-ne.. arayo Oppa" angguk Ino mengerti sambil menatap wajah Itachi dengan senyuman senang karena pemuda Jepang itu menyentuh perut buncitnya penuh perhatian. Terbayar sudah rasa lelahnya karena menunggu Itachi selama berjam-jam, pemuda Uchiha itu benar-benar membuatnya sangat senang malam ini.

"Ya sudah cepat habiskan, setelah itu kita segera tidur" titah Itachi.

"Hm, tapi suapi aku" pinta Ino dengan manja.

"Hn!" dan Itachi hanya mengangguk menuruti permintaan sang pujaan hati. Iapun mulai memotong Dorayaki besar yang ada dihadapannya menjadi beberapa bagian, lalu mengambilnya sepotong dan menuapkannya kemulut Ino. "buka mulutmu" perintahnya.

"Aa" Inopun membuka mulutnya, dan potongan Dorayaki besar yang disodorkan oleh Itachi segera masuk kemulutnya.

'Kakek itu memang benar-benar tahu selera Ino' gumam Itachi dalam hati dengan senyuman kecil yang menghiasi bibir tipisnya. Ia harus memanfaatkan momen bersama Ino yang hanya tersisa sampai besok sore dengan sebaik-baiknya, karena dua minggu kedepannya, ia tak akan bisa bertemu dan memanjakan kekasihnya lagi seperti saat ini.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Jumat pagi telah tiba, udara yang makin dinginpun mulai menusuk tulang dan membuat tubuh sebagian orang diJepang semakin menggigil. Tanggal 12 tinggal 5 hari lagi, dan banyak orang-orang yang telah mempersiapkan diri untuk menyambut musim dingin serta menunggu turunnya salju pertama.

Yamanaka Ino, wanita berbalut kemeja berwarna putih dan rok berwarna ungu muda bercorak polkadot putih itu tampak begitu sangat menawan pagi ini. Rambut pirang panjangnya sengaja ia sanggul keatas dan menyisakan sedikit helaian anak rambut didepannya. Sosok keIbuan Ino jadi semakin terlihat menonjol dengan dandanan yang ia ciptakan sendiri untuk dirinya itu.

"Ne, biasanya kalau sudah seperti ini, aku telah siap diatas catwalk dan berjalan untuk memperagakan busana, hmm… aku merindukan duniaku, dimana aku bisa berpose sesuka hatiku, tapi sekarang… bahkan untuk menginjakkan kaki dinegaraku sendiri saja rasanya sulit sekali" gumamnya sambil menatap tampilan dirinya dicermin. Kedua matanya mulai memanas ketika mengingat masa-masa dulu saat ia masih aktif didunia modeling, ia sangat merindukan masa itu, karena modeling bukan hanya sekedar profesi baginya, namun menjadi hobi dan juga dunianya.

"Pagi-pagi sudah ingin menangis lagi?" seru Itachi secara tiba-tiba dan mengagetkan Ino yang tengah melamun.

"I-ita?"

Blush

Kedua pipi Ino terlihat seperti kepiting rebus ketika memutar tubuhnya kekiri dan melihat Itachi yang sedang topless. Pemuda tampan itu baru selesai mandi dan hanya mengenakan celana panjang serta handuk putih yang digantungkan dilehernya ketika keluar dari kamar mandi. Mulut Inopun menganga, kedua matanya terbelalak tak percaya saat melihat pemandangan yang begitu mengagumkan tersaji secara cuma-cuma didepannya. Tubuh pemuda tercintanya benar-benar sangat menawan, kedua lengannya tampak kekar, bahunya tegap dan dadanya bidang, perutnyapun six pack serta punggungnya juga sangat berotot, sungguh baru pertama kali ini Ino melihat tubuh atas Itachi tanpa balutan sehelai benang satupun. Ternyata tubuh atas kekasihnya itu jauh lebih indah bila dibandingkan dengan tubuh aktor-aktor Korea yang bertubuh atletis lainnya.

"K-kenapa Ita-kun tak pakai baju atasan?" tanya Ino yang langsung menundukkan wajah merahnya setelah beberapa saat sempat blushing berat akibat ulah Itachi.

"Baju atasanku ketinggalan, jadi terpaksa aku keluar seperti ini, memangnya kenapa?" Itachi menahan tawa gelinya mati-matian setelah melihat wajah Ino yang memerah, dan sekarang ia ingin sedikit menggoda wanitanya yang begitu terlihat sangat cantik pagi ini.

"T-tidak, tidak apa-apa" geleng Ino cepat, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, ia benar-benar gugup sekali saat ini. Itachi benar-benar sukses memikat dan membuat tubuhnya lemas seketika.

"Kau aneh" ungkap Itachi seraya mendekat kearah Ino dan memakai kemeja merah marunnya.

"A-aneh bagaimana? Aku, aku baik-baik saja" ujar Ino gelagapan ketika melihat Itachi yang berjalan semakin dekat kearahnya, pemuda itu memang sudah memakai kemejanya, namun percuma saja jika kancing dari kemeja yang ia kenakan tetap terbuka, dada dan perutnya yang indah itu masih bisa dilihat oleh mata Ino.

"Kau tampak gugup dan juga sedikit berkeringat" Itachi kini berlutut didepan Ino yang masih duduk diatas kursi.

"A-aku-"

"Apa karena melihatku?" tanya Itachi dengan nada sedikit menggoda, ia sangat suka dengan kedua pipi Ino yang memerah seperti warnah buah kesukaan adiknya.

Deg

"…" Ino tak bersuara, jantungnya semakin berdebar lebih keras, entah kenapa tiba-tiba ia ingin menyandarkan kepalanya didada bidang Itachi yang topless. Aneh, keinginan macam apa ini? Namun mau bagaimana lagi, ia ingin sekali, sangat ingin, bahkan bukan ia saja yang menginginkannya, tapi juga bayinya.

"Ino?" Itachipun heran melihat kekasihnya yang terus menatap dada terbukanya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"…" Inopun masih diam, ia terlalu terpaku dengan apa yang ia inginkan saat ini, tubuh topless Itachi, ia benar-benar ingin sekali memeluknya.

"Ino-"

GREP

Tubuh Itachi sontak menegang ketika tiba-tiba Ino memeluknya dengan erat, bahkan wanita hamil itu sampai menghirup aroma tubuhnya dan menempelkan pipinya didada bidangnya yang terbuka.

"I-Ino.." panggil Itachi dengan nada terbata karena terlalu gugup dan kaget, sekarang malah jadi senjata makan tuan.

"Entah kenapa tiba-tiba aku ingin memeluk Ita-kun seperti ini, ternyata memeluk tubuh Ita-kun yang topless itu berkali-kali lebih nyaman daripada memeluk tubuhmu yang memakai baju atasan seperti biasanya" gumam Ino sambil menyamankan posisi dan menghirup aroma maskulin Itachi dalam-dalam. Membuat pemuda yang mendengarkan kata-katanya jadi sedikit memerah dan merasakan suatu hal yang sepertinya pernah ia alami.

'Tidak mungkin' ungkap Itachi dalam hati. Entah kenapa ia seperti pernah melakukan hal seperti ini, tapi kapan dan dimana? Ia tak ingat sama sekali. Lagipula itu dengan siapa? Setahunya dengan mantan-mantan kekasihnya dulu ia tak pernah sampai melakukan hal-hal yang diluar batas. Tapi sentuhan Ino, pelukan dan deru nafas Ino seakan pernah ia rasakan. Namun ia tak pernah menganggap serius perasaan-perasaan aneh itu, ia berpikir jika itu semua hanyalah halusinasi saja. Lagipula ia dengan Ino? Itu tidak mungkin sekali alias mustahil.

'Kenapa aku seperti pernah merasakan hal ini?' tanya Ino dalam hati, ia turut merasakan apa yang Itachi rasakan. Namun ia juga menepis segala pemikiran-pemikiran bodoh itu dari pikirannya. Mungkin itu hanya perasaannya saja yang kebetulan merasakan hal seperti itu.

"Benarkah?" tanya Itachi sekenanya, saat ini ia tengah berusaha mati-matian untuk meredam degub jantungnya yang berdebar semakin cepat.

"Huumb" angguk Ino mengiyakan, namun wanita itu merasa sedikit aneh dengan gerak-gerik Itachi yang sepertinya kurang nyaman dengan pelukannya, tak seperti biasanya. "Ita-kun sepertinya tidak suka aku memelukmu seperti ini, ma-maaf" gumamnya dengan nada sedikit kecewa, iapun lantas melepaskan pelukannya dari tubuh pria Uchiha itu, namun sayangnya Itachi malah balik memeluknya dengan sangat protektif.

"Hn, bila kau ingin memelukku seperti ini lagi, kau bisa bilang padaku kapan saja, saat itu juga aku akan topless sepenuhnya " ungkapan Itachi sontak membuat kedua mata Ino melebar tak percaya, ia kira Itachi akan marah, tapi malah sebaliknya.

"Ita-kun tidak marah?"

"Kenapa aku harus marah?"

"Aku kira Ita-kun berpikir jika aku ini me…" Ino tak melanjutkan kalimatnya karena malu, iapun melepaskan pelukannya dari tubuh Itachi dengan wajah yang memerah.

"Me?" Itachi sebenarnya tahu kalimat lanjutan Ino, namun melihat wajah Ino yang memerah ia jadi ingin menggoda wanita tercintanya itu.

"E' me…" sial, Ino makin gugup, tatapan menggoda Itachi itu benar-benar membuatnya mati gaya.

"Me apa?" tanya lagi Itachi dengan nada yang lebih menuntut.

"Me-mesum" dengan muka yang sangat merah, Inopun langsung mengatakannya dengan wajah yang ia palingkan kearah kanan. Sungguh lucu sekali, membuat Itachi langsung tertawa seketika saat mendengarnya.

"Hahahahaha"

"I-ita" dan saat itu juga Inopun langsung terpesona dengan wajah tampan bak malaikat yang tertawa didepannya. Mendengar Itachi tertawa, wanita itu langsung menolehkan wajahnya kearah pemuda tampan itu dengan pandangan tak percaya. Ino tersihir, inilah pertamakalinya ia melihat Itachi tertawa lepas seperti ini, sungguh sangat tampan dan berbeda. Itachi yang seperti ini sangat-sangat langka dan jarang sekali. Ino sungguh beruntung karena bisa melihatnya.

"Ah maaf, bukan maksudku untuk menertawakanmu" Itachipun segera menghentikan tawanya saat melihat Ino yang menatapnya.

"Tidak apa-apa Ita-kun" geleng Ino dengan senyuman manis, tentu saja ia tidak marah, malah ia senang sekali bisa membuat Itachi tertawa seperti ini.

"Saat mengatakan hal seperti itu kau terlihat sangat lucu sekali"

"Benarkah? Aku pasti terlihat konyol"

"Lagipula kau tidak mesum Ino, kau hanya sedikit lebih agresif"

"…" Inopun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kikuk.

"Tapi aku suka itu" ujar Itachi sambil menyentuh pipi Ino.

"Ita-kun suka..aku yang agresif begitu?" tanya Ino hati-hati.

"Ya!" angguk Itachi. "agresif hanya padaku tentunya"

"Hm..aku megerti" Inopun mengangguk dengan senyuman malunya.

"Hn, tak terasa sudah jam 08.00, kita harus cepat-cepat pergi kerumah sakit" ujar Itachi sambil melihat jam dinding.

"Ne, cepat kancingkan kemejamu dulu Ita" titah Ino.

"Hn!" Itachipun segera mengancingkan kemejanya. "gerai saja rambutmu, jika kau sanggul seperti itu maka akan menarik perhatian orang-orang" imbuhnya dengan nada tak suka.

"Kenapa bisa?" tanya Ino dengan muka polosnya, membuat Itachi jadi gemas melihatnya.

"Leher jenjangmu yang seputih susu, akan menjadi tontonan gratis bagi pria-pria yang ada diluar sana, dan aku tidak suka akan hal itu" jawab Itachi, lalu iapun segera melepaskan tusuk rambut Ino.

"Ah" Inopun segera merapikan rambutnya yang tergerai.

"Jangan digelung lagi ya" pinta Itachi.

"Iya, tidak akan pernah"

"Tapi boleh jika didepanku saja"

"Huumb" angguk Ino sambil menggigit bibirnya malu-malu, ia sangat suka dengan Itachi yang protektif terhadapnya seperti ini. Itachi yang melarangnya ini dan itu, bukan berarti Ino merasa jika pemuda itu selalu mengekangnya, malah ia merasa jika itu semua adalah wujud dari perhatian yang ditunjukkan oleh pria Uchiha itu terhadapnya.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Konoha Central Hospital, Shibuya-ku

.

dr. Tsunade kini telah memeriksa kandungan Ino menggunakan alat USG untuk mengetahui perkembangan bayi yang ada didalam rahim wanita Korea itu. Itachipun juga turut menemaninya, pemuda tampan itu tampak terlihat tenang meskipun saat ini jantungnya sedang berdebar-debar karena melihat janin yang sedang tumbuh dirahim Ino melalui layar Lcd yang ada didepan matanya. Tangan-tangan mungil janin itu sudah terbentuk dan bisa mengepal-ngepal secara sempurna, bahkan gerakan yang dihasilkan juga sudah mulai sering terjadi.

"Anda bisa melihatnyakan Tuan Uchiha?, bayi kalian benar-benar mempunyai fisik yang sangat kuat, meskipun Ibunya sering mengalami stress, namun itu semua seolah tak membuatnya terpengaruh sama sekali, ini benar-benar sangat ajaib" ungkap dr. Tsunade menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

"Saya bahagia sekali mendengarnya dokter, tadinya saya khawatir akan terjadi sesuatu padanya" ungkap Ino dengan mata berkaca-kaca karena terharu.

"Namun meskipun begitu, anda tidak boleh mengalami stress lagi, kasihan janin anda, karena lama-kelamaan stress anda juga dapat mempengaruhi perkembangannya"

"Iya dokter, saya janji tidak akan stress lagi, saya akan berusaha untuk selalu merasa bahagia"

"Dan itu semua tentunya harus dilakukan oleh Tuan Uchiha untuk selalu membuat anda bahagia, bukan begitu Tuan?" dr. Tsunadepun menoleh kearah Itachi yang sempat termangu dengan apa yang ia lihat.

"E' apa?" tanya Itachi agak kaget, shit! Ia merutuki kebodohannya yang sempat-sempatnya melamun didepan dr. Tsunade, sungguh memalukan. Mau ditaruh dimana harga diri seorang Uchiha.

"Wahh sepertinya anda terlalu tegang, hehehe pasti anda terlalu bahagia melihat janin yang ada didalam rahim istri anda secara langsung" ungkap dr. Tsunade dengan sedikit tertawa.

"Hn, ya anda benar" hanya itu yang bisa Itachi ucapkan karena ia tak tahu harus berkata apa.

"Kalau begitu anda harus semakin memperhatikan istri anda, buat dia agar selalu bahagia, jika anda membuatnya stress lagi, maka saya akan sangat marah, saya tidak perduli meskipun anda seorang Uchiha sekalipun, karena ini menyangkut istri dan juga anak anda sendiri, jadi anda harus lebih ekstra lagi dalam menjaga dan membahagiakan mereka berdua" jelas dr. Tsunade dengan nada serius.

"Ya dokter, saya mengerti" angguk Itachi dengan sungguh-sungguh. Mulai saat ini ia benar-benar akan menjaga Ino dengan sepenuh hati, ia janji tak akan egois dan mudah terpancing emosi sesaat lagi. Ino dan 'anaknya' adalah sumber kehidupannya, dan ia tak akan pernah membuat mereka tersakiti lagi oleh keegoisannya.

"Oh iya, tadi anda bilang bila Nyonya Uchiha mengalami Edema?"

"Iya, kedua kakinya agak bengkak, dan saya ingin tahu bagaimana cara untuk mengantisipasinya" jawab Itachi.

"Tentu saja dengan banyak-banyak mengajak istri anda jalan-jalan dan bergerak, anda harus sering-sering melakukan olah raga Nyonya supaya kaki anda tidak mengalami Edema, itu memang hal yang sudah lumrah terjadi dikalangan Ibu hamil, namun meskipun begitu sebaiknya anda tidak mengalaminya karena itu bisa membahayakan diri anda" jelas dr. Tsunade.

"Iya dokter saya mengerti" angguk Ino mengerti.

"Hn, mulai saat ini saya akan lebih sering mengajaknya jalan-jalan" ucap Itachi.

"Ya, itu bagus Tuan, luangkan banyak waktu lebih untuk mengajak istri anda jalan-jalan"

"Akan selalu saya usahakan" angguk Itachi sambil membelai rambut Ino yang tersenyum manis dan penuh harap kearahnya.

"Saranghae!" bisik Ino dengan wajah bahagianya.

"Nado!" bisik pula Itachi yang turut menatap wajah Ino dengan senyuman hangat. Kedua sejoli itu tampak terlihat sangat bahagia sekali, apalagi Itachi, entah kenapa ia merasa begitu sangat bahagia dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan itu muncul setelah melihat secara langsung perkembangan janin yang ada didalam rahim Ino, dan ia tak tahu kenapa ia bisa merasa sebahagia itu. Padahal janin itu jelas-jelas bukanlah darah dagingnya. Namun itulah yang memang Itachi rasakan, perasaan itu seolah tumbuh dan mengalir begitu saja. Benar-benar aneh.

.

Setelah memeriksakan kandungannya dan keluar dari rumah sakit, sebelum pulang Ino meminta Itachi untuk membelikannya es krim rasa cokelat yang ada dikedai es krim depan rumah sakit Konoha. Itachipun menuruti keinginan wanita tercintanya itu, ia segera bergegas menuju kedai es krim yang terdapat diseberang rumah sakit tanpa Ino karena ia harus menyeberang jalan raya yang padat akan orang-orang pejalan kaki, jadinya Ino hanya menunggu dimobil saja karena Itachi juga tak akan lama.

"Sabarlah sayang, Ayah Itachi sedang membelikan es krimnya untukmu" ujar Ino pada sang buah hati sambil mengelus-elus perut buncitnya.

Tok. tok. tok

Tiba-tiba ada yang mengetuk jendela mobil disamping Ino.

"Ita-kun cepat seka-"

Deg!

Ternyata yang mengetuk bukanlah Itachi, melainkan..

"Sa-sasori?" gumam Ino dengan suara terbata karena saking kagetnya. Kedua matanya langsung terbelalak karena terkejut melihat sosok yang ada dibalik jendela, sosok pemuda berambut merah yang selalu membuat hidupnya menderita itu muncul kembali.

"Cepat buka jendelanya bodoh" seru Sasori sambil menggedor-gedor jendela mobil yang ada disamping Ino.

"T-tidak" triak Ino ketakutan, rasanya ia ingin segera menelpon Itachi dan menyuruh pemuda itu untuk cepat kembali, namun sayangnya ia tak membawa ponselnya. "tidak mau" gelengnya ketakutan.

"Cepat buka jendelanya atau aku akan masuk kedalam dan membunuhmu" ancam Sasori sambil memperlihatkan pistol yang ada ditangannya.

"Jangan" geleng Ino cepat dengan tubuh yang makin bergetar ketakutan. Lalu tak lama kemudian iapun membuka jendela pintu mobil yang ada disampingnya dengan berat hati karena ia sangat takut dengan ancaman Sasori.

"Hmmm beginikan lebih baik" ujar Sasori dengan seringaian puasnya ketika melihat wajah Ino yang sudah tak terhalangi oleh kaca jendela mobil.

"Ma-mau apa kau?" tanya Ino memberanikan diri.

"Tentu saja bertemu denganmu sayang" ungkap Sasori dengan nada dibuat-buat, ia sangat senang melihat wajah polos Ino yang sedang ketakutan.

"Apa maksud-"

"Aku datang kesini untuk memberimu peringatan" potong Sasori sambil mencengkram pipi Ino dengan tangannya. Inopun tampak semakin ketakutan, ia ingin berontak tapi tak bisa, mulutnya juga tak bisa digerakkan karena cengkraman kuat Sasori. "kau tahu, aku akan terus hadir untuk mengganggu kehidupanmu, membuatmu menderita sampai aku merasa puas hahaha" ujarnya dengan nada sarkastik dan tawa yang mengerikan.

"akmhnlpsknaku" gumam Ino tak jelas dengan nada bergetar dan derai airmata yang membasahi kedua pipinya.

"Oke, aku tidak akan lama-lama kok" Sasoripun melepaskan cengkramannya. Dan saat itu juga tiba-tiba ia melihat Itachi yang masih jauh, sepertinya rival bisnisnya itu akan berjalan kearahnya, pemuda berambut merah itupun lantas segera memanfaatkan kesempatan untuk membuat Itachi salah paham. "Jaga dirimu baik-baik ya, dan jaga anak kita supaya dia selalu sehat dan lahir dengan selamat" ujarnya dengan senyuman manis yang sarat akan kepalsuan.

"Kenapa-"

Cup!

Tiba-tiba Sasori langsung mencium pipi Ino dengan lembut, lalu pria brengsek itupun segera meninggalkan Ino setelah mengucapkan selamat tinggal kepada wanita Korea yang tengah shock berat itu.

'Brengsek' ungkap Itachi dalam hati sambil mengepalkan tangan kananya saat ia melihat adegan itu dari kejauhan.

Itachipun melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti menuju kearah mobilnya, ditengah perjalanan itu ia terus berusaha untuk mengatur emosinya dan tetap bersikap tenang meskipun hatinya tidak dalam posisi yang demikian.

"Hhh aku harus tetap terlihat baik-baik saja ketika Ita-kun datang, jangan sampai dia curiga, bila aku menceritakan yang sejujurnya, dia pasti akan marah lagi, dan aku tidak mau bila itu sampai terjadi" gumam Ino dalam mobil seraya membersihkan wajahnya dari genangan airmata menggunakan tissue.

Cklek

Pintu mobil sebelah kananpun terbuka, dan Ino sudah menduga jika yang membukanya adalah Itachi.

'Tenangkan dirimu' gumam Ino dalam hati sambil mengatur nafasnya.

"Kau kenapa?" tanya Itachi pura-pura tidak tahu sambil menatap wajah Ino yang menegang.

"Aku, aku tidak apa-apa" geleng Ino mendusta sambil tersenyum hambar.

"Kau serius? Kau terlihat agak sedikit pucat, apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku tidak ada?" tanya lagi Itachi seolah tengah memancing Ino untuk mengatakan yang sejujurnya.

"Sungguh aku tidak apa-apa Ita-kun, selama kau pergi tidak ada sesuatu yang terjadi, aku masih sama seperti ini, jadi kau tidak perlu khawatir, mungkin aku hanya sedikit kelelahan, makanya wajahku pucat" jelas Ino kembali mendusta dengan wajah tegangnya, ia terpaksa berbohong, karena bila ia menceritakan yang sejujurnya pada Itachi, maka pemuda itu pasti akan marah dan mengacuhkannya seperti beberapa waktu yang lalu.

"Hn, syukurlah bila tidak terjadi apa-apa, ini es krimmu" Itachipun menyerahkan es krim yang ia bawa kepada Ino.

"Iya!" Inopun menerima es krimnya dengan tatapan yang sudah tidak berselera.

"Kita pulang sekarang" ujar Itachi sambil menstarter mobilnya.

"Um" angguk Ino pelan.

'Kenapa kau harus berbohong?' tanya Itachi dalam hati tak tahu pada siapa, entah kenapa rasanya saat ini dadanya terasa begitu sangat sesak dan ngilu, apakah tiba-tiba ia mempunyai penyakit jantung secara mendadak? Ia juga tidak tahu, mungkin hanya Inolah yang tahu apa penyebabnya.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Hiroo Garden Place, Itachi's House

.

Itachi dan Ino telah sampai dirumah sejak sejam yang lalu, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Wanita Korea itu tengah duduk dikursi makan dengan wajah gelisah. Ia masih kepikiran dengan kejadian satu jam yang lalu didepan rumah sakit. Apalagi sejak tiba dirumah tadi Itachi tak berbicara sepatah katapun padanya. Pemuda itu malah membiarkan Ino sendirian, padahal nanti sore ia akan terbang keSeoul. Inopun semakin gelisah serta berpikiran yang macam-macam.

Ting-tong

Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.

"Siapa yang datang? Kenapa belnya berbunyi, pasti itu bukan Sakura dan Sasuke" gumam Ino dengan nada heran.

Ting-tong

Belpun berbunyi kembali dan membuat Ino semakin penasaran.

"Hhh aku buka atau tidak?" tanya Ino pada dirinya sendiri dengan penuh keraguan. Iapun lantas berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk "aku buka saja" dan iapun segera beranjak menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.

.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kini Ino telah sampai didepan pintu rumah mewah itu. Iapun segera membukanya, dan langsung sedikit terkejut ketika melihat seorang pria berseragam formal tengah berdiri dihadapannya.

"Kau…siapa?" tanya Ino penasaran.

"Saya Gin, salah satu Bodyguard dari Uchiha-sama, dan saya datang kemari untuk menjemputnya" jawab pria bertubuh besar dan berkulit tan itu pada Ino.

"Menjemputnya untuk apa?" tanya Ino kembali, namun kali ini dengan nada terkejut.

"Tentu saja menjemputku untuk pergi kebandara" sahut Itachi yang tiba-tiba datang dengan pakaian formal dan menyeret koper besar.

Deg!

Jantung Ino langsung berdebar kencang ketika mendengar dan melihat pemilik suara itu.

"Ita-kun?"

"Hn!"

"Ke-kenapa? Bukannya nanti sore-"

"Jadwal penerbanganku keSeoul dicepatkan pagi ini, jadi tadi aku sengaja menelpon Gin dan menyuruhnya datang kesini untuk menjemputku" sahut Itachi dengan nada datarnya.

"Tapi kenapa kau tidak bilang apa-apa padaku?" tanya Ino dengan airmata yang sudah menggenang dipelupuk matanya.

"Aku tidak sempat, lagi pula untuk apa?"

"Maksud Ita-kun untuk apa bagaimana?"

"Tidak ada gunanya aku memberitahukannya padamu, karena cepat atau lambat aku juga akan pergi"

"Ita-kun.." Inopun semakin bingung dengan sikap Itachi yang tiba-tiba jadi berubah seperti ini, sebenarnya ada apa? Kenapa pemuda yang beberapa waktu yang lalu bersikap sangat manis terhadapnya itu tiba-tiba berubah lagi secepat ini.

"Ini" Itachipun menyerahkan ponsel Ino yang ia bawa kepada pemiliknya.

"Apa?" Inopun menerima ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar karena shock.

"Tadi Ayah kandung dari anakmu mengirim pesan dan aku tidak sengaja membacanya, sepertinya dia sangat mencemaskan keadaanmu"

Jleb

Ungkapan Itachi barusan seolah bagaikan sebilah pedang yang menusuk jantung Ino dengan begitu sadisnya. Iapun lantas segera membaca pesan yang ada diponselnya. Dan setelah membacanya, airmatanya semakin mengalir dengan deras, ia tak mengira jika Sasori bisa mengetahui nomer ponselnya yang baru dan mengiriminya pesan semesra ini.

"Dan tadi, bagaimana rasanya dicium olehnya? Pasti kau sangat senangkan?" tanya Itachi dengan tatapan tajam, tatapan yang membuat Ino ketakutan setengah mati.

"TIDAK" triak Ino dengan isakan tertahannya, ia bingung, ia takut, dan ia tak tahu harus berbuat apa. Masalah baru ini datang secara tiba-tiba dan Ino belum siap untuk menerimanya. "Hiks Ita-kun dengarkan aku-"

"Tidak perlu jelaskan apa-apa lagi, aku sudah melihat semuanya tadi, harusnya kau jujur padaku, tapi kau malah membohongiku, hhh… sulit dipercaya" Itachipun segera beranjak pergi tanpa memperdulikan isakan Ino yang semakin terdengar memilukan, namun sayangnya Ino segera menahan lengannya dan memaksanya untuk berhenti sejenak.

"Hiks aku mohon dengarkan aku dulu, hiks..hiks aku tidak punya maksud apapun untuk membohongimu, aku hanya…hiks… aku hanya-"

"Bohong tetaplah bohong, dan aku tidak suka akan hal itu" Itachipun segera menepis tangan Ino secara kasar tanpa menatap wajah wanita itu. "aku pergi" pamitnya dengan nada datar, lalu ia segera beranjak meninggalkan Ino menuju mobil BMW yang telah siap didepan rumahnya, Ginpun turut berjalan mengekor dibelakangnya.

"ITA-KUN…" panggil Ino dengan teriakan yang serak dan tangisan memilukan, namun Itachi tetap tenang tak bergeming, ia terus memandang kedepan tanpa menghiraukan panggilan Ino.

"Uchiha-sama!" Ginpun merasa sedikit tak tega ketika melihat Ino yang tengah hamil diperlakukan seperti itu oleh bossnya.

"Kau sudah melihatnya, jika kau sampai menceritakannya keorang lain, kau sudah tahu sendiri akibatnya" ancam Itachi saat sudah berada didalam mobil.

"Saya mengerti Uchiha-sama" angguk Gin paham, lalu iapun segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Itachi.

"Ita-kun..hiks hiks…" panggil Ino dengan suara lemah, mobil Itachi sudah tak terlihat lagi, dan kini ia tengah tersungkur diatas paving karena berusaha mengejar mobil Dirut Uchiha Corp. itu. "kenapa…kenapa masalah muncul kembali, padahal… baru sebentar Ita-kun bersikap baik padaku, tapi sekarang… dia marah lagi dan meninggalkanku…hiks hiks hiks" ungkapnya dengan terisak-isak. Baru sebentar ia merasakan kebahagiaan, namun dengan sekejab kebahagiaan itu telah hancur begitu saja. Kini Itachi telah pergi keSeoul, dan Ino harus menunggunya selama 2 minggu, 2 minggu bagaikan 2 tahun bagi Ino, apalagi dengan hubungannya bersama Itachi yang tengah memanas, lantas bagaimana ia akan menghadapi waktu 2 minggu itu jika masalah demi masalah berdatangan silih berganti, bagaimana nasib Ino selanjutnya…

.

.

.

To Be Continued…

.

.

Duhhh malang bingit nasib Ino, gimana ya hubungannya sama Ita-kun nanti?

Penasaran? nantikan chapter berikutnya yahhh

Gomen gomen gomen, apalagi untuk de-chan maaf yahh klo aq baru bs update, januari ini jadwalq padet bgt hehe *soksibuk* tp emng padet cz bnyk kegiatan dimasy dan dikampus, sooo sorry ya, ini kupersembahkan khusus untukmu de-chan, puanjang chapternya hehe

Untk Guest : klo aq jlaskan skrg crtanya, brrti slsai donk? Km psti pinter, jd gk sulit2 amatkan buat ngerti apa yg aq mksd dlm crta ini. sooo ttplah brsha untk mngrti, ato klo msih bingung g usah dibaca aja hehehe

Dan untuk smua yg uda review maaf yahhh blm bisa bls review kalian untk kali ini, tapi aq ttp mkasih bgt buat review kalian yg sllu setia.

Oke, inough! Beyb istirahat dulu ya, capek nih ngtik sbanyak ini, chpter dpn akn kuusahakan g lama-lama.

Jeongmal Arigatou

DntfrgttoREVIEW