Halfaway To The Grave
Pair: VKOOK
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Warn: GS! (Gender switch) for Jungkook and typo everywhere
Genre: Romance, Fantasy, Drama.
Rated: T-M
ENJOY!
.
"Don't tell me in my sleep
Don't tell me in my dreams
Don't tell me what you see
Show me with a touch
Show me with some love
Show me you'll stay with me"
.
All Jungkook's POV
Jarum jam menunjuk angka sebelas dan Jungkook sang pemburu vampir siap bertempur, hanya saja senjataku kini adalah push up bra, rambut dikeriting, dan gaun supermini. Ya, ini memang pekerjaan kotor, tapi aku harus melakukannya. Datanglah, semua penghisap darah! Bar sudah dibuka!
Jongin masih berusaha mengumpulkan stok. Setelah sepuluh hari menjadi mata-mata, hanya itu informasi yang diberikan oleh Francesca. Itu informasi yang sama dengan yang kami dengar dari Yebin dan Jihoo, jadi tidak ada kejutan baru, tapi apa yang dikatakan Francesca saat ia menelepon terakhir kali cukup berharga.
Francesca mencuri dengar salah seorang anak buah Jongin menyebut partner manusia Jongin sebagai 'Yang Mulia'. Itu bisa jadi sekadar julukan menyindir tapi mengingat catatan polisi yang lenyap secara tiba-tiba dan metode baru Jongin untuk mencegah hilangnya para gadis dilaporkan ke polisi, Taehyung berpikiran lagi. Ia menduga orang tersebut mungkin seorang hakim, mungkin dari Columbus, tempat di mana sebagian besar catatan polisi lenyap. Kami mempertimbangkan kemungkinan itu, tapi masih ada kemungkinan lain.
Jika kau berniat untuk menangkap seseorang yang tidak ingin ditangkap, maka kau membutuhkan umpan. Umpan untuk memancing keluar Switch yang masih belum diketahui identitasnya atau Jongin. Di sanalah aku berperan. Pada siang hari aku pergi kuliah, tapi malamnya aku berkeliling ke semua bar dan klub yang kami curigai. Apakah aku sudah mengatakan bahwa ini pekerjaan kotor?
"Jungkook? Oh Tuhan, Jungkook apa itu benar kau?"
Suara itu tidak terdengar asing di telingaku.
Aku berputar di kursiku, dan gelas yang sejak tadi selalu kulindungi dari penambahan zat kimia apa pun jatuh ke lantai. Enam tahun berlalu, aku masih bisa mengenalinya hanya dengan sekali melihat.
Oh Sehun berdiri di depanku, melongo melihat penampilanku dalam balutan gaun ketat berwarna perak dan sepatu bot sebatas lutut. Sarung tangan kulit hitam serasi dengan suasana hatiku saat ini, saat aku melihat tatapannya beralih dari wajah ke belahan dadaku, sebelum kembali ke wajahku lagi.
"Wow, Jungkook, kau terlihat… wow!"
Entah Sehun memang sangat terpesona melihat penampilanku sehingga tidak bisa berkata-kata, atau ia memang tidak lulus kelas bahasa. Mataku menyipit saat aku mempertimbangkan pilihan yang kupunya.
Satu: menikamkan belatiku tepat ke jantungnya. Menggoda, tapi secara moral tidak baik.
Dua: Mengabaikannya dan berharap ia akan pergi. Mungkin, tapi terlalu murah hati.
Tiga: Memesan minuman lagi dan menyiramkannya ke wajah sambil berterima kasih atas kenangan terburuk yang diberikannya padaku. Pantas, tapi terlalu mencolok. Aku tidak mau menarik perhatian yang tidak diinginkan atau diusir keluar dari tempat ini. Berarti hanya tersisa pilihan kedua. Sial, itu adalah pilihan yang paling menyebalkan di antara yang lain.
Aku memelototi Sehun dengan sorot tajam, kemudian berbalik memunggunginya. Aku berharap ia bisa memahami maksudku.
Ternyata tidak. "Hei, kau pasti masih mengingatku. Kita bertemu di jalan dan kau membantuku mengganti banku yang kempes. Dan kau tidak mungkin lupa bahwa aku adalah pria pertama yang…"
"Tutup mulutmu, dasar bodoh!"
Setelah sekian lama, Sehun masih berani untuk menyatakan dengan cukup lantang hingga bisa didengar orang tuli sekalipun bahwa ia adalah pria pertama yang tidur denganku.
"Nah, kau ingat padaku," lanjut Sehun, tampaknya tidak mendengar kata 'bodoh' yang tadi kulontarkan. "Ya ampun, sudah… berapa lama, enam tahun? Mungkin lebih? Aku hampir tidak mengenalimu. Aku tahu kau tidak terlihat seperti ini sebelumnya. Bukan berarti dulu kau tidak menarik, tapi saat itu kau terlihat seperti anak kecil. Sekarang kau sudah seperti wanita dewasa."
Jelas sekali Sehun tidak banyak berubah, tapi mungkin kegetiran yang memegaruhi pandangan mataku. Bagiku, sekarang Sehun terlihat sama seperti yang lain. Hanya seorang pria yang berusaha mencari keuntungan. Sayang sekali aku tidak bisa membunuhnya hanya karena alasan itu.
"Sehun, demi kebaikanmu sendiri, berbaliklah dan pergi dari sini."
Taehyung ada di suatu tempat di sekitar sini, meskipun aku tidak bisa melihatnya, tapi jika Taehyung sedang mengawasiku dan mengetahui siapa Sehun sebenarnya, aku tahu ia tidak akan ragu menghabisi nyawa Sehun.
"Tapi kenapa? Kita harus berbincang-bincang lebih lama. Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu." Tanpa diundang, Sehun duduk di kursi kosong di sebelahku.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Kau datang, kau lihat, kau dapat apa yang kau inginkan, dan kau pergi. Akhir cerita." Aku berbalik lagi, terkejut dengan sakit hati yang ternyata masih terasa. Beberapa luka tidak pernah bisa disembuhkan, sekalipun waktu telah lama berlalu.
"Oh, ayolah, Jungkook, jangan seperti itu…" rajuk Sehun.
"Wah, halo, Kawan."
Taehyung mucul di belakang Sehun, senyuman dingin tampak di wajahnya. Oh, sial.
"Orang ini baru saja akan pergi," tegasku, berdoa semoga Sehun masih memiliki sedikit sel di otaknya dan pergi sebelum Taehyung menyadari siapa ia sebenarnya. Itu jika Taehyung belum menyadarinya sampai sekarang. Ekspresi wajah Taehyung benar-benar seperti predator.
"Nanti dulu, Jungkook, kami belum diperkenalkan." Oh, bukan ide yang baik, bukan ide yang baik. "Namaku Taehyung, dan namamu adalah…"
Tanpa curiga, Sehun mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Taehyung yang sudah terlebih dulu terulur. Taehyung meremasnya dan tidak melepaskannya, bahkan saat Sehun berusaha menariknya lepas.
"Hei, Bung, aku tidak mau mencari masalah, aku hanya sedang menyapa Jungkook dan… uuuggghhhh."
"Jangan ucapkan sepatah kata pun." Taehyung bicara dengan suara yang sangat pelan sehingga nyaris tak terdengar. Di bawah bulu matanya, mata Taehyung berkilat dengan api kehijauan dan kekuatan yang mengancam. Cengkeraman Taehyung semakin kuat, dan aku benar-benar mendengar suara tulang tangan Sehun yang patah.
"Hentikan," bisikku, berdiri untuk menyentuh Taehyung.
Taehyung sama sekali tidak bergerak di bawah jari-jariku hanya tangannya yang terus menegang. Air mata mulai mengalir di wajah Sehun, meskipun ia tetap membisu dan tidak berdaya di bawah tatapan tajam Taehyung.
"Dia masa lalu. Kau tidak bisa mengubah apa pun yang sudah terjadi."
"Dia menyakitimu, Jungkook," tukas Taehyung, sama sekali tidak merasa kasihan saat melihat air mata mengalir semakin deras dari mata Sehun. "Aku akan membunuhnya karena itu."
"Jangan." Aku tahu Taehyung serius dengan ancamannya. "Sudah berakhir. Jika bukan karena dia memanfaatkan aku, sejak awal aku tidak akan terdorong untuk membunuh vampir. Itu berarti aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Semua ada hikmahnya, tidakkah kau percaya akan hal itu."
Meskipun Taehyung tidak mengendurkan cengkeramannya, tapi ia menoleh ke arahku.
Aku membelai wajahnya. "Kumohon. Lepaskan dia."
Taehyung melepaskan Sehun. Sehun jatuh berlutut dan langsung muntah. Darah mengalir keluar dari tangannya, di bagian tulangnya yang patah dan menonjol keluar dari kulitnya. Saat menunduk untuk menatap Sehun, aku hanya merasa sedikit simpati. Ada banyak sekali hal yang telah terjadi selama bertahun-tahun setelah aku bertemu dengannya.
"Bartender, sepertinya dia butuh taksi," ujar Taehyung dengan ketus dengan pria yang ada di belakang konter, yang sama sekali tidak memperhatikan kejadian tadi. "Pria malang ini tidak bisa memegang gelas minumannya."
Taehyung membungkuk seolah hendak membantu Sehun berdiri, dan aku mendengarnya bicara dengan suara yang mengerikan. "Jika kau mengucapkan sepatah kata lagi, maka bagian tubuhmu yang akan kuhancurkan berikutnya adalah alat kelaminmu. Sebaiknya kau berterima kasih pada bintang keberuntunganmu, lain kali aku akan mengadakan pesta dan aku tidak akan hidup cukup lama untuk melupakannya."
Saat Sehun terisak, merengek dan memegangi tangannya di dada, Taehyung membawaku keluar setelah melemparkan uang lima puluh dolar ke meja bartender, jauh lebih besar daripada harga minumanku.
"Sebaiknya kita pergi. Kita bisa mencobanya lain kali. Kejadian ini telah menarik terlalu banyak perhatian."
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak mempermasalahkannya." Aku mengikuti Taehyung ke truk, dan begitu kami berada di dalamnya, truk kulajukan secepat mungkin. "Sial, Taehyung, seharusnya kejadian tadi bisa dihindari."
"Aku melihat wajahmu saat kau bicara dengannya. Kau jadi sepucat hantu. Aku tahu siapa dia dan aku tahu betapa besar sakit yang ditimbulkan oleh kehadirannya." Suara Taehyung yang lembut entah kenapa terdengar seperti teriakan.
"Tapi apa yang bisa kau dapatkan dengan menghancurkan tangannya? Kita tidak tahu apakah Jongin atau Swicth akan muncul malam ini. Bagaimana jika salah satu dari mereka benar-benar muncul dan membunuh seseorang? Sehun tidak berharga untuk ditukar dengan nyawa semua korban Jongin, hanya karena dia pernah meniduriku dan mencampakkanku setelahnya!"
"Aku mencintaimu. Kau tidak tahu betapa berharganya dirimu bagiku." Sekali lagi, suara Taehyung terdengar lembut, tapi kali ini bergetar dengan emosi. Karena terlalu terusik untuk menyetir dan bicara di saat yang bersamaan, aku menepi di pinggir jalan dan menghadap Taehyung.
"Taehyung, aku… aku tidak bisa mengatakan hal yang sama, tapi kau berarti bagiku, lebih daripada orang lain. Selamanya. Bukankah itu berarti sesuatu?"
Taehyung menunduk dan menangkupkan wajahku dengan tangannya. Tangan yang sama dengan yang menghancurkan tangan Sehun, tapi saat ini tangan itu membelai rahangku dengan sangat lembut, seolah aku terbuat dari kristal terbaik.
"Itu berarti sesuatu, tapi aku masih menunggu untuk mendengar yang lain."
"Tae… aku tahu kau tidak mau pergi begitu saja dari bar tadi, dan aku mengenalmu, kau pasti sedang menghitung hari kematian Sehun. Tapi aku tidak mau kematiannya mengusik hati nurainiku. Berjanjilah kau tidak akan pernah membunuhnya."
Taehyung menatapku dengan sorot mata terkejut. "Kau sudah tidak punya perasaan terhadap bajingan itu, kan?"
Tampaknya, masih ada permasalahan yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan. "Oh, aku ingin menghabisinya dengan tanganku sendiri, percayalah padaku. Tapi, itu tindakan yang salah. Berjanjilah padaku."
"Baiklah. Aku berjanji aku tidak akan membunuhnya." Taehyung mengatakannya dengan terlalu santai.
Mataku menyipit. "Berjanjilah di sini dan sekarang juga bahwa kau juga tidak boleh meremukkan, membuntungkan, melumpuhkan, membutakan, menyiksa, melukai, atau apa pun yang bisa menimbulkan luka pada diri Oh Sehun. Atau berdiri sambil menonton orang lain melakukannya untukmu."
"Astaga, itu tidak adil!" protes Taehyung.
Untung saja aku tidak langsung menerima janji awalnya. "Janji!"
Taehyung mengeluarkan suara jengkel. "Baiklah. Sial. Tampaknya aku sudah mengajarimu terlalu baik dalam mencurigai segala hal."
"Iya, memang. Sekarang, kita tidak bisa kembali lagi ke bar tadi. Apa yang ingin kau lakukan?"
Jari Taehyung menyusuri bibirku. "Kau yang putuskan."
Sebuah ide nakal terlintas dalam benakku. Dengan semua penyelidikan kami, menelusuri laporan orang hilang, autopsi, dan semua tugas menyebalkan yang haru kami lakukan demi menemukan sekelompok pembunuh massal, kami tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Setelah menyalakan mesin mobil lagi, aku kembali ke jalan raya dan menuju ke selatan. Setelah satu jam, aku berhenti di jalanan berbatu.
Taehyung menyunggingkan senyum senang ke arahku. "Kita akan menyusuri lagi jalan kenangan, ya?"
"Jadi, kau masih ingat tempat ini?"
"Sulit untuk melupakannya," dengus Taehyung. "Di sinilah kau pernah mencoba membunuhku. Kau sangat gugup, dan terus menerus merona. Belum pernah ada orang yang mencoba menikamku merona semerah wajahmu saat itu."
Aku parkir di dekat sungai dan melepaskan sabuk pengamanku. "Kau membuatku sangat ketakutan malam itu. Mau mencobanya lagi?"
Taehyung tertawa terbahak-bahak. "Kau mau aku memukulmu lagi? Astaga, kau suka bermain kasar, ya?"
"Bukan. Kita coba yang lain. Mungkin kau akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Mau tidur denganku?" Aku berhasil menjaga wajahku agar tetap datar, tapi bibirku melengkung.
Kilat tampak di mata Taehyung yang mulai berubah menjadi hijau. "Masih membawa pasakmu? Kau mau membuatku beristirahat dengan tenang selamanya?" Taehyung melepaskan jaketnya saat bicara, sama sekali tidak merasa gentar.
"Cium aku dan cari tahu sendiri."
Taehyung bergerak secepat kilat, sesuatu yang sudah kulihat ratusan kali, tapi masih tetap bisa membuatku terkejut. Taehyung menarikku ke dalam dekapannya, memiringkan kepalaku ke belakang dan melumat bibirku sebelum aku bisa berkedip.
"Tidak ada cukup ruang di sini," bisik Taehyung setelah beberapa saat. "Ingin keluar agar kau bisa meluruskan tubuh?"
"Oh, tidak. Di sini saja. Aku suka melakukannya di dalam truk."
Kata-kata yang diucapkan Taehyung dulu terlontar dari mulutku dan Taehyung tertawa. Matanya terlihat sehijau zamrud, dan saat ia tersenyum, taring tampak keluar dari bibirnya.
.
Setelah dua minggu lagi berlalu tanpa mendapatkan hasil apa-apa, kami tidak menemukan sedikit pun petunjuk mengenai Jongin atau Swich. Aku mendatangi semua klub terpencil dalam jarak delapan puluh kilometer di sekitar Columbus, tapi tanpa hasil. Taehyung mengingatkan aku bahwa ia sudah mengejar Jongin selama sebelas tahun. Usia telah mengajarkannya kesabaran. Masa muda mengajariku untuk menjadi frustrasi dengan sedikitnya perkembangan yang kami dapatkan.
Kami sedang berada di apartemenku, menunggu pizza yang kupesan. Sekarang Minggu malam, jadi kami tidak keluar malam ini. Aku berniat untuk bersenang-senang sekarang dan baru belajar nanti. Bahkan aku tidak sempat belanja bahan makanan, itu sebabnya aku lebih memilih menelepon layanan pesan-antar. Apa pun yang aku wariskan dari ibuku, yang pasti bukan kesukaan memasak.
Ketukan di pintu membuatku menoleh dengan bingung ke arah jam dinding. Baru lima belas menit sejak aku memesan. Wow, cepat sekali.
Taehyung baru saja hendak bangun, tapi aku mengambil jubahku dan menghentikannya. "Kau di sini saja. Toh, kau juga tidak akan memakannya."
Seringaian tampak di bibir Taehyung. Taehyung bisa menyantap makanan padat, aku pernah melihatnya melakukan itu, tapi ia tampak tidak menyukainya. Taehyung pernah berkata bahwa ia melakukannya hanya untuk berbaur dengan manusia.
Aku membuka pintu depan –kemudian membantingnya hingga tertutup lagi sambil berteriak. "Oh, Tuhan!"
Taehyung langsung bangun secepat kilat, masih telanjang tapi sekarang ada belati di tangannya. Melihat itu membuatku berteriak lebih keras lagi, saat suara ketukan di pintu terdengar semakin memaksa.
"Jungkook, ada apa denganmu? Bukan pintunya!"
Aku berada dalam kondisi panik dan kalut. "Itu ibuku!" bisikku dengan tegas, seolah Taehyung belum bisa menebaknya. "Sial, kau harus sembunyi!"
Aku benar-benar mendorong Taehyung ke kamar mandi, sambil berteriak, "Iya sebentar! Aku… aku akan segera keluar, aku tidak berpakaian."
Taehyung menurut tapi bukan karena paksaanku. "Jungkook, kau masih belum mengatakannya pada ibumu? Astaga, apa lagi yang kau tunggu?"
"Kebangkitan kedua Yesus Kristus!" cetusku. "Dan tidak sedetik pun lebih awal! Ayo, masuk ke kamar mandi!"
Ketukan ibuku terdengar semakin keras. "Kenapa lama sekali?"
"Aku segera datang!" teriakku pada ibuku. Kemudian pada Taehyung, yang menatapku dengan jengkel, "Kita akan membicarakan hal ini nanti. Tetaplah di sana dan jangan bersuara, aku akan menyingkirkan ibuku secepat yang aku bisa."
Tanpa menunggu jawaban Taehyung, aku menutup pintu kamar mandi dengan bantingan keras dan berbalik, menendang pakaian dan sepatu Taehyung ke kolong tempat tidur. Oh Tuhan, apakah Taehyung meninggalkan kuncinya di konter? Apa lagi yang mungkin bisa ditemukan ibuku?
"Jungkook!" Kali ini ibuku menyebut namaku dengan sangat jengkel.
"Sebentar!"
Aku menghambur ke pintu dan membukanya dengan senyuman lebar. "Mom, benar-benar kejutan!"
Ibuku masuk melewatiku dengan sangat kesal. "Aku mampir untuk menyapamu, dan kau membanting pintu di depan wajahku? Ada apa denganmu?"
Dengan pikiran kalut, aku berusaha mencari alasan. "Migrain!" kataku dengan nada terlalu riang, lalu aku memelankan suaraku dan menampakkan ekspresi kesakitan. "Oh, Mom, aku senang bertemu denganmu, tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat."
Ibuku menatap apartemenku dengan ekspresi takjub.
Ya, ampun. Bagaimana menjelaskannya?
"Lihat tempat ini." Tangan ibuku melambai dengan gaya berlebihan. "Jungkook, dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli semua ini?"
Saat pertama kali melihat apartemenku, Taehyung dengan jengkel mengatakan bahwa ia akan menghajar pemilik apartemenku karena berani meminta bayaran untuk apartemen bobrok ini. Tapi Taehyung tidak melakukannya, meskipun saat mendengar nada suaranya, aku sangat yakin ia tidak sekadar bergurau, tapi yang dilakukannya adalah melengkapi apartemenku dengan perabotan dari atas hingga ke bawah. 'Semua ini' yang dimaksudkan ibuku adalah sofa yang dibelikan Taehyung dengan alasan ia membutuhkan sesuatu untuk duduk, TV agar aku bisa menyaksikan berita tentang perkembangan terbaru gadis-gadis yang hilang, komputer untuk alasan yang hampir sama, dan meja kopi, meja tulis, beserta semua perlengkapannya –yah… aku menyerah.
"Kartu kredit," jawabku dengan cepat. "Mereka memberikannya pada siapa pun."
Ibuku menatapku dengan sorot tidak setuju. "Benda itu akan membuatmu mendapatkan masalah."
Aku hampir tertawa miris. Andai saja ibuku tahu bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk membeli barang-barang ini…
"Mom, aku senang bertemu denganmu, sungguh, tapi…"
Cara ibuku memandang tempat tidurku dengan ekspresi syok membuat punggungku merinding. Aku terlalu takut untuk berbalik. Apakah Taehyung mengabaikan peringatanku dan keluar dari kamar mandi?
"Jungkook… apa tempat tidurmu juga baru?"
Aku hampir berteriak lega. "Aku beli dengan harga diskon."
Ibuku menghampiriku dan meletakkan tangan di keningku. "Badanmu tidak panas."
"Percayalah padaku," ujarku, dengan ekspresi seserius mungkin. "Sebentar lagi aku mungkin akan muntah."
"Yah." Ibuku melihat sekeliling apartemenku sekali lagi, sambil mengerutkan kening, kemudian mengangkat bahu. "Aku akan meneleponmu lain kali. Aku pikir kita bisa keluar untuk makan malam, tapi… oh, apa kau mau kubawakan sesuatu?"
"Tidak!" Aku menjawabnya terlalu cepat. Aku melembutkan suaraku. "Maksudku, terima kasih, tapi aku tidak berselera makan. Aku akan meneleponmu besok."
Dengan paksaan yang lebih lembut daripada yang kuberikan pada Taehyung, aku mendorong ibuku ke pintu. Ibuku hanya menatapku dan menghela napas. "Sakit kepala membuatmu bertingkah sangat aneh, Jungkook."
Aku benar-benar menekankan telingaku di pintu setelah aku menutupnya, sekadar untuk memastikan ibuku telah benar-benar pergi. Sebagian diriku yang paranoid berpikir ibuku hanya berpura-pura pergi dan menunggu sampai aku lengah dan memergokiku sedang bersama dengan kekasih vampirku.
Suara berisik membuatku berbalik. Taehyung berdiri di ambang pintu kamar mandi, sudah berpakaian lengkap. Aku berhasil untuk menenangkan diri, dan tertawa miris. "Wah, nyaris saja."
Taehyung menatapku. Tidak ada kemarahan dalam ekspresi wajahnya, dan mungkin itu yang membuatku merasa lebih gugup. Aku lebih suka menghadapi kemarahan Taehyung.
"Aku tidak tahan melihatmu melakukan semua ini, pada dirimu sendiri."
Aku menatap Taehyung dengan gelisah. "Melakukan apa?"
"Terus menghukum dirimu sendiri atas dosa ayahmu," jawab Taehyung dengan tegas. "Berapa lama kau harus membayarnya? Berapa banyak vampir yang harus kau bunuh sebelum kau dan ibumu merasa puas? Kau adalah salah satu orang paling berani yang pernah kutemui, tapi kau ketakutan setengah mati pada ibumu. Tidakkah kau menyadarinya? Bukan aku yang kau sembunyikan di kamar mandi… tapi dirimu sendiri."
"Mudah bagimu untuk berkata begitu, karena ibumu sudah mati!" Aku duduk di sofa sambil mendengus kesal. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan apakah dia akan membencimu karena siapa yang tidur denganmu, atau apakah kau bisa bertemu dengannya lagi jika kau mengatakan yang sebenarnya! Apa yang harus kulakukan? Membahayakan hubunganku dengan satu-satunya orang dalam hidupku yang selalu ada untukku? Ibuku hanya perlu sekali melihatmu, dan yang dia lihat hanyalah taringmu. Dia tidak akan pernah memaafkan aku, kenapa kau tidak bisa mengerti hal itu?" Suaraku pecah saat mengatakan kalimat terakhir itu dan aku mengubur wajahku di tangan. Bagus. Sekarang aku tidak berpura-pura. Aku memang mengalami migrain.
"Kau benar, ibuku sudah mati. Aku tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkannya tentang diriku sekarang. Apakah dia akan bangga… atau membenciku atas pilihan yang kuambil, aku tidak tahu. Tapi aku akan mengatakan ini padamu. Jika ibuku masih hidup, aku akan menunjukkan padanya siapa aku sebenarnya. Semua aspek diriku. Ibuku pantas mendapatkan tidak kurang dari itu, dan sejujurnya, begitu pula denganku. Tapi ini bukan tentang aku. Dengar, aku tidak berkeras ingin bertemu dengan ibumu. Yang ingin kukatakan adalah, cepat atau lambat, kau harus menghadapi masalah ini. Kau tidak bisa menyingkirkan sisi vampir dalam dirimu, dan aku tidak perlu menebusnya. Kau harus menemukan siapa dirimu sebenarnya dan apa yang kau butuhkan, setelah itu kau tidak perlu meminta maaf karenanya. Tidak padaku, tidak pada ibumu, tidak pada siapa pun juga."
Taehyung sudah berada di pintu sebelum aku menyadarinya.
"Kau pergi? Apa kau… apa kau memutuskan aku?"
Taehyung berbalik. "Tidak, Jungkook. Aku hanya memberimu kesempatan untuk memikirkan tanpa adanya diriku yang mengalihkan pikiranmu."
"Tapi, bagaimana dengan Jongin?" Sekarang aku menggunakan Jongin sebagai alasan.
"Francesca masih belum mendapatkan informasi konkret, dan kita terpaksa mencarinya sendiri. Tidak ada salahnya menunda masalah itu sejenak. Jika ada perkembangan baru, aku akan meneleponmu. Aku janji." Taehyung menatapku selama beberapa saat, lalu membuka pintu. "Selamat tinggal."
Aku mendengar pintu ditutup, tapi aku tidak mengejar Taehyung. Aku duduk selama lebih dari dua puluh menit, hanya menatap kosong ke arah pintu, kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan.
Aku melompat dengan perasaan lega. "Taehyung?"
Ternyata yang datang adalah seorang pria muda yang mengenakan seragam. "Pesanan pizza," ujarnya sambil tersenyum ceria. "Totalnya tujuh belas dolar lima puluh sen."
Dengan pikiran kosong, aku memberinya uang dua puluh dolar, mengatakan padanya untuk menyimpan kembaliannya, dan menutup pintu sebelum mulai menangis.
.
Jinwoo menatapku dengan ekspresi takjub seolah baru saja menemukan virus tak terduga di bawah kaca mikroskop. "Kau makan es krim lagi?"
Aku berhenti saat sendokku berada di mangkuk es krim, sambil menaikkan sebelah alis dengan gaya menantang. "Kenapa?"
Jinwoo menoleh ke arah dua mangkuk besar yang sudah kosong di dekat kakiku. Atau mungkin saja ia melihat botol gin yang ada di samping sofa. Terserahlah.
"Tidak ada alasan!"
Sudah empat hari berlalu sejak terakhir kali aku bertemu atau berbicara dengan Taehyung. Tidak terdengar lama, iya kan? Yah, bagiku rasanya sudah berminggu-minggu. Jinwoo tahu ada sesuatu yang terjadi. Entah karena kesopanan atau rasa takut, Jinwoo tidak bertanya kenapa belakangan tidak pernah ada motor besar yang diparkir di depan gedung apartemen kami.
Aku menjalankan kehidupanku sehari-hari. Pergi kuliah. Belajar dengan keras. Melahap makanan manis dan makanan cepat saji sampai kadar insulinku meningkat hingga ke level membahayakan. Tapi aku tidak bisa tidur. Aku bahkan tidak tahan berbaring di atas tempat tidur, karena aku terus saja menggapai-gapai seseorang yang tidak ada di sana. Aku meraih telepon ratusan kali setiap hari hanya untuk menjatuhkannya lagi tanpa menekan nomor, karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Jinwoo membantuku untuk tetap sibuk. Ia sering datang ke apartemenku, menonton film sampai berjam-jam, mengobrol atau diam saja tergantung suasana hatiku, tapi ia selalu menemaniku. Aku merasa bersyukur karenanya, tapi tetap saja aku merasa sendirian. Bukan salahnya bahwa aku harus berpura-pura, memilah-milah perkataanku, dan memakai topeng untuk menutupi diriku yang sebenarnya. Tidak, semua itu bukan salahnya. Semua salahku, karena menjauhkan satu-satunya orang yang bisa menemaniku tanpa syarat, sekalipun dengan semua kekurangan dan keanehan digabungkan menjadi satu dalam diriku.
"Kau tahu, itu memang benar," komentar Jinwoo sambil mendongak ke arah TV. "Mereka benar-benar ada."
"Siapa?" Aku tidak benar-benar menonton, terlalu larut dalam kemurunganku.
"Men ini Black. Agen rahasia pemerintah yang bertugas untuk mengendalikan dan mengatur fenomena paranormal dan makhluk luar angkasa. Mereka benar-benar ada."
"Hmm," ujarku tidak tertarik. Begitu pula dengan vampir, Kawan. Bahkan, kau duduk di samping salah satunya. Yah, semacam itulah.
"Kau tahu, aku dengar film ini dibuat berdasarkan kisah nyata."
Aku menoleh sekilas ke TV dan melihat Will Smith bertarung dengan monster alien. Oh, Men in Black.
"Bisa jadi." Monster kecoak raksasa yang memburu manusia? Memangnya siapa aku berani berteriak semua ini mustahil?
"Apa kau akan menceritakan padaku kenapa kalian berdua putus?" tanya Jinwoo.
Pertanyaan itu langsung menarik perhatianku. "Kami tidak putus," aku langsung menyangkalnya, lebih pada diriku sendiri bukannya pada Jinwoo. "Kami, emm… rehat sejenak untuk mengintrospeksi diri, dan, emm… memikirkan kelanjutan hubungan kami, karena… aku mengurungnya di kamar mandi!"
Mata Jinwoo membelalak lebar. "Apa dia masih di sana?"
Ekspresi wajah Jinwoo sangat lucu, tapi selera humorku sedang dalam masa kritis. "Tanpa terduga, ibuku datang pada hari Minggu yang lalu dan aku ketakutan sehingga aku mengurung Taehyung di kamar mandi, sampai ibuku pergi. Setelah itu, muncullah ide untuk memikirkan kembali segalanya. Aku pikir dia sudah muak dengan masalahku. Aku tidak menyalahkannya."
Jinwoo sudah pulih dari ketakutan sebelumnya. "Kenapa ibumu tidak menyukainya?"
Bagaimana aku menjelaskannya?
Aku menghela napas. "Kau tidak akan mengerti."
"Dengar, pacarmu membuatku takut," lanjut Jinwoo dengan jujur. "Tapi, jika dia memperlakukanmu dengan baik, maka aku tetap berpegang pada respons pertamaku bahwa semua itu konyol. Ibumu tidak bisa membenci seseorang karena hal sepele itu! Semua orang memiliki sesuatu yang mungkin tidak disukai oleh orang lain, tapi seharusnya ibumu lebih melihat apakah dia membuatmu bahagia daripada dari mana dia berasal."
Apa yang dikatakan Jinwoo terdengar sangat sederhana! Begitu mendasar, sehingga Jinwoo bisa mengakhiri kalimatnya dengan, Uuuh. Contoh yang kuberikan tentang prasangka buruk ibuku telah membuat situasi ini terdengar lebih sederhana, dan aku menyadari bahwa kenyataannya memanglah sesederhana itu. Apakah aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan menghukum diriku sendiri karena darah campuranku –penebusan dosa, begitu istilah yang dipakai Taehyung– atau tidak. Sederhana. Luar biasanya sederhana, tapi aku tidak pernah berpikir ke sana sebelumnya.
.
TBC
.
Akhirnya! Aku bisa mempulish fict ini.
Mian~ kalau kalian udah nunggu lama. Maklumlah laptop-ku waktu itu rusak, dan baru bener sekarang.
Adakah yang masih menantikan fict ini?
Mian, kalau chap kali ini mengecewakan.
At least, thank you so much for those who always keep waiting this story.
And, Don't forget to give me so review~
