[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

DARKNESS'S LOVE

어둠의 사랑

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Santhy Agatha

.

.

제 11 화

"Shower In My Heart"

.

.

Jinwoo membawanya ke sebuah lapangan yang luas dan sepi. Entah darimana lelaki itu bisa menemukan tempat ini. Jinwoo tampak misterius, tetapi entah kenapa Sehun merasa bisa mempercayainya.

Lelaki ini sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk membantunya.

"Kenapa kau membawaku ke lapangan luas seperti ini?"

"Karena saya akan membantu anda membangkitkan kekuatan anda. Kekuatan otak yang saat ini ada di dalam tubuh anda, yang dilimpahkan oleh tuan Sooman kepada anda, belum terbangkitkan sepenuhnya, sifat alaminya memang akan membuat tubuh anda sembuh dan memperbaiki dirinya sendiri dengan cepat..." Dan kemudian, tanpa diduga, dengan gerakan secepat kilat, Jinwoo menghujamkan pisau yang entah diambilnya darimana ke dada kiri Sehun.

Sehun terbelalak, pucat menatap Jinwoo, merasakan nyeri yang menghujam ke jantungnya. Dia menunduk dan melihat ke arah pisau yang menancap di dadanya, membuat darah segar langsung merembes ke kemejanya. "Apa yang kau..."

Sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya, dengan dingin dan tanpa ekspresi, Jinwoo mencabut pisau itu dari dada Sehun, sebuah gerakan yang cepat dan menyakitkan. Sehun mengerang ketika darahnya menyembur dari jantungnya, keluar dari lubang menganga yang ditinggalkan oleh bekas tusukan pisau itu.

Kenapa Jinwoo menusuknya? dan kenapa sekarang lelaki itu hanya berdiam diri saja dan mengamatinya? dan kenapa... Sehun tidak merasa sakit?

Sehun menunduk, menyentuh dadanya, kemejanya basah dan lengket oleh darah yang bebau anyir, tetapi dadanya tidak sakit. Dengan penasaran Sehun membuka kemejanya, memeriksa lukanya... dan dia terpana.

Di balik darah yang membasahi dadanya, tidak ada apa-apa di sana. tidak ada bekas luka setitikpun. Padahal jelas-jelas dia merasakan pisau itu menembus dadanya dan darahnya menyembur keluar... tetapi di balik darah itu, tidak ada apapun di kulit dadanya, tidak ada luka apapun, seakan tubuhnya menyembuhkan diri dengan begitu cepatnya.

Sehun masih ternganga sambil menatap ke arah Jinwoo, sekarang dia mengerti kenapa Jinwoo menusuk dadanya tiba-tiba, lelaki ini ingin menunjukkan secara langsung betapa kuatnya tubuh Sehun sekarang.

"Inilah kekuatan anda tuan Sehun, karena itulah anda sembuh dari penyakit anda. Tuan Sooman tidak melanggar aturan semesta dengan membuat anda sembuh, karena kesembuhan anda bukan berasal dari kekuatan tuan Sooman, kesembuhan anda dikarenakan tubuh anda memperbaiki diri sendiri setelah kemapuan otak anda diaktifkan hingga maksimal 95%. Anda tidak bisa terluka, anda tidak bisa sakit... bahkan anda tidak bisa mati, umur anda akan berhenti di usia tigapuluh tahun.."

Berhenti di usia tiga puluh tahun...? Tunggu dulu! Jadi bagaimana dengan Baekhyun? Apakah beberapa tahun nanti, Baekhyun akan menua, sementara dia berhenti di usia tiga puluh tahun?

Jinwoo sepertinya tahu apa yang ada di benak Sehun, "Itu mungkin bisa disebut takdir sang pemegang kekuatan. Sebagai ganti kekuatan yang sangat besar, sang pemegang kekuatan harus rela menanggung hidup sendiri, tetap muda dan melihat orang-orang yang dikenalnya menua, lalu mati satu persatu." Mata Sehun menajam, "Aku tidak mau mengalami itu, Jinwoo."

Jinwoo membalas tatapan Sehun, sama sekali tidak mundur, "Anda harus menanggungnya tuan Sehun, karena anda sudah menerima kekuatan itu dari Tuan Sooman. Apakah anda tidak pernah berpikir? Kalau saja otak anda tidak diaktifkan hingga 95% oleh Tuan Sooman, mungkin anda sudah mati duluan dan meninggalkan orang-orang yang anda cintai?"

Dua pilihan. Sehun tertegun. Selalu ada dua pilihan ketika kita mencintai seseorang, dua pilihan yang muncul karena semua manusia pasti mati. Pilihan itu adalah meninggalkan atau ditinggalkan, Seorang kekasih yang mencinta, pasti akan lebih memilih meninggalkan lebih dulu jika menyangkut kematian, sehingga dia tidak akan menanggung kepedihan karena ditinggalkan oleh yang tercinta.

Tetapi meskipun begitu, tidak bisakah Sehun menjalani kehidupan normal bersama Baekhyun? Bersatu dalam pernikahan, lalu menua dan mati bersama?

"Anda bisa memikirkan tentang hal itu nanti." Sekali lagi, Jinwoo tampaknya bisa membaca pikiran Sehun, "Mari, saya akan ajarkan anda cara membuka kekuatan ini, pertama-tama akan terasa sedikit menyakitkan, tapi saya akan membimbing anda untuk menguasainya"

.

.

Angin itu berhembus kencang dari arah utara, menggoyangkan pepohonan di sekitamya...

Chanyeol yang sedang berada di lantai paling atas gedung tinggi itu membuka matanya, tersenyum setelah mendapatkan pengelihatannya.

"Dia sudah membuka kekuatannya." gumam Chanyeol pada Jongdae yang berdiri tenang di sebelahnya.

"Saatnya akan segera tiba."

"Anda belum bisa menantangnya sekarang Tuan Park, apakah anda lupa, Tuan Oh memiliki Baekhyun sebagai cinta sejatinya, itu berarti kemungkinan dia lebih kuat daripada anda." Chanyeol tersenyum dingin, "Kita lihat saja nanti.."

.

.

.

Baekhyun merasa badannya sedikit meriang, kepalanya pusing dan tenggorokannya sakit untuk menelan. Tetapi tadi dia sudah meminum vitamin c untuk daya tahan tubuhnya. Mungkin ini karena semalam dia terlambat tidur, dan terbangun di pagi buta.

Yang diinginkan Baekhyun adalah segera tidur, dan berharap ketika bangun nanti, kondisinya sudah lebih baik.

Sayangnya, ini masih jam kantor dan Baekhyun harus bertahan kira-kira empat jam lagi. Chanyeol saat ini sedang tidak ada di ruangannya, katanya sedang mengurus pekerjaannya di cabangnya yang lain, jadi Baekhyun bisa sedikit bersantai dan menenangkan tubuhnya yang bergolak karena sakit.

Dia menuju ke dispenser dan menuangkan air panas ke dalam cangkir, dan menyeduh teh ke dalamnya. Kemudian Baekhyun duduk dan menghela napas panjang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dari Sehun.

"Sayang?" Sehun berseru dari seberang, suaranya tampak ceria, "Mau kah kau makan malam denganku nanti malam untuk menggantikan malam kemarin?"

Baekhyun tersenyum lemah, dikondisinya yang tidak enak ini, mendengarkan suara Sehun bagaikan obat untuknya. Tentu saja dia mau. "Kapan?"

"Nanti aku akan menjemputmu di kantor sepulangmu dari kantor, kita langsung berangkat dari sana saja, tunggu aku ya."

Tanpa sadar Baekhyun mengangguk, meski kemudian dia sadar bahwa Sehun tidak bisa melihatnya, "Oke Sehun, aku tidak sabar menantinya. Terimakasih sayang."

Sehun terkekeh, "Aku akan menebus semuanya, kau akan sangat bahagia nanti."

Setelah itu pembicaraan terputus, dan Baekhyun memeluk ponselnya sambil tersenyum. Semua kekecewaan, semua kesedihannya semalam seolah pupus begitu saja dengan tebusan makan malam Sehun untuknya ini.

Bahkan senyum lebarnya itu tetap ada ketika Chanyeol memasuki ruangan dan mengangkat alisnya, "Sepertinya suasana hatimu sedang baik." sapa Chanyeol lembut.

Senyum Baekhyun melebar, tetapi dia hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan, tidak membantah perkataan Chanyeol. Tentu saja Chanyeol penasaran. Tetapi dia menahan diri. Diam-diam dia berusaha menggunakan kekuatannya kepada Baekhyun, mencoba membaca pikirannya.

Tetapi yang muncul dalam pengelihatannya hanya gelap dan kosong. Chanyeol mengernyitkan keningnya.

Kenapa kekuatannya tidak mempan kepada Baekhyun? Apakah benar itu disebabkan oleh karena Baekhyun adalah cinta sejati musuhnya? Cinta sejati Sehun?

"Pasti kau punya rencana bagus malam ini, kencan dengan calon suamimu?" Chanyeol menebak pada akhimya, menyerah karena dia tidak bisa membaca pikiran Baekhyun.

Pipi Baekhyun yang merona sudah cukup untuk menjawab penanyaan Chanyeol, "Dia akan menjemput saya nanti sepulang kerja, kami berencana menebus malam yang gagal kemarin."

Ekspresi Chanyeol tidak terbaca, "Bagus untukmu." gumamnya sambil lalu, dan kemudian melangkah meninggalkan Baekhyun kembali ke mejanya.

.

.

.

"Kau bilang aku bisa membaca pikiran orang, bahkan jika aku melakukannya dari jarak jauh, aku tinggal membayangkan orang tersebut dan tahu." Sehun menutup ponselnya, menatap Jinwoo sambil mengerutkan keningnya. "'Tetapi kenapa aku tidak bisa melakukannya pada Baekhyun?" Sehun tadi iseng mempraktekkan kekuatannya kepada Baekhyun, dan ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa, dia temyata tidak bisa membaca pikiran Baekhyun.

Mereka masih ada di tengah lapangan itu, dan kemeja Sehun yang penuh darah sudah disingkirkan, Jinwoo sepertinya sudah merencanakan semuanya karena dia sudah membawakan kemeja pengganti yang masih baru, yang sekarang dikenakan oleh Sehun.

Jinwoo telah membuka kekuatannya. Dunia sekarang tidak sama lagi bagi Sehun, dia bisa mendengar suara-suara dari jarak yang begitu jauh, bahkan bisa mengetahui suara-suara tergelap dari benak seseorang. Tangannya bisa mengeluarkan api dan es, menggerakkan benda-benda, berpindah secepat kilat, dia bisa melakukan segala yang dia mau. Luar biasa pengaktifan 95% kekuatan otak ini benar-benar membuatnya nya sangat kuat dan nyaris bisa melakukan segalanya.

Jinwoo mengatakan bahwa ada aturan semesta yang harus disepakati, bahwa sang pemegang kekuatan harus dibatasi, karena kalau tidak mereka akan berbuat semena-mena. Kekuatan dan kekuasaan yang besar biasanya membuat manusia lupa diri. Bagi sang pemegang kekuatan, hal itu sudah diantisipasi dengan adanya buku aturan semesta, yang memuat kutukan-kutukan mengerikan bagi yang melanggar aturan, dan tugas sang pendampinglah, seperti Jinwoo untuk menjaga tuannya agar selalu ada di jalan yang benar.

Jinwoo hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah datar mendengar pertanyaan Sehun, "Memang. Saya pernah mendampingi para pemegang kekuatan yang lain selama beberapa periode yang lalu."

Ya. Jinwoo adalah manusia abadi, mungkin bisa dikatakan dia bukan lah manusia, dia hanyalah mahluk Tuhan yang ditakdirkan untuk mendampingi sang pembawa kekuatan, sama seperti saudara kembarnya. "Sayangnya, dari mereka semua, hanya sedikit yang beruntung bisa menemukan cinta sejatinya."

Jinwoo berdehem, "Setahu saya, sang pemegang kekuatan tidak akan bisa menggunakan kekuatannya kepada cinta sejatinya. Sang cinta sejati adalah satu-satunya manusia yang kebal atas kekuatan anda, di alam semesta ini."

.

.

.

Sehun berjalan mengitari lorong rumah sakit, dia hendak menengok Luhan dan mencari cincinnya yang hilang, pelajarannya dengan Jinwoo tadi sedikit mengubah rencananya. Untunglah setelah latihan

yang melelahkan untuk mengendalikan kemampuannya mendengar dan mengatur seluruh inderanya yang menjadi amat sangat tajam, Jinwoo mengatakan bahwa latihan mereka cukup untuk hari ini dan akan dilanjutkan besok.

Hari itu Sehun mencoba kemampuannya berpindah tempat secepat kilat, dia memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada tempat yang ingin ditujunya. Dan... hanya dalam beberapa detik, dia muncul kembali, seperti sihir, di bekas kamarnya di rumah sakit yang masih kosong.

Setelah melihat sekeliling, Sehun menyadari bahwa tidak bijaksana dia memilih tempat ini sebagai tujuannya, untung saja kamar ini masih kosong, bayangkan kalau sudah ada pasien di sini, dia pasti akan terkejut setengah mati melihat Sehun yang muncul secara tiba-tiba. Besok-besok dia harus muncul di tempat yang benar-benar sepi untuk menghindari adanya saksi mata. Sehun menghela napas panjang berusaha bersikap biasa, lalu dengan hati-hati melangkah keluar dari bekas kamarnya itu. untunglah suasana sepi sehingga dia tidak perlu memberi penjelasan kepada orang lain kenapa dia bisa tiba-tiba saja keluar dari kamar itu.

Ya. Sehun hendak menengok Luhan dulu, memastikan kondisi perempuan itu baik-baik saja. Tadi pagi, dia meninggalkan Luhan tanpa pamit karena tidak tahan memikirkan Baekhyun, dan sekarang dia merasa tidak enak. Sehun sudah berjanji kepada Luhan, dan dia mengingkarinya.

Selain itu ada cincin yang perlu dia tanyakan pada Luhan, karena dia yakin cincin itu jatuh di kamar Luhan. Setelah semua urusan beres, Sehun akan menjemput Baekhyun, mengajaknya makan malam mewah untuk meneebus kesalahannya kemarin, dan kemudian menutup malam mereka dengan lamaran romantis.

Bibir Sehun masih tersenyum ketika memasuki kamar Luhan, tetapi dahinya langsung berkerut melihat Luhan sedang duduk dengan wajah muram, dengan tatapan mata menerawang dan wajah pucat pasi,

"Luhan?"

Luhan menoleh pelan, tetapi ekspresinya sedikit sedih ketika melihat Sehun. perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya, tampak lesu. Sehun duduk di sebelah ranjang, menatap Luhan dengan menyesal. "Maafkan aku meninggalkanmu tadi pagi tanpa pamit, tidurmu pulas sekali, jadi aku memutuskan pergi."

Mata Luhan tampak berkaca-kaca, "Kenapa kau pergi Sehun? Kau bilang kau tak akan pergi? aku terbangun sendirian dan mencarimu." air mata bergulir dari pipi Luhan, membuat Sehun sangat menyesal, disentuhnya jemari Luhan dan digenggamnya lembut. "Maafkan aku... tetapi aku harus menemui Baekhyun tadi pagi..."

"Baekhyun?" Luhan mengerutkan keningnya.

"Ya." Sehun tersenyum menyesal, "Kemarin itu sebenarnya adalah hari ulang tahun Baekhyun, dan aku membatalkannya karena menungguimu di rumah sakit. Jadi tadi pagi aku ke sana untuk meminta maaf kepadanya."

"Oh... Astaga..." jemari kurus Luhan menutup mulutnya dengan kaget, wajahnya tampak sangat terkejut, tatapannya benar-benar menyesal, "Ya Ampun, Sehun... maafkan aku.. aku benar-benar tidak tahu... astaga.. astaga.. maafkan aku, aku telah merusak ulang tahun Baekhyun." air mata mulai menetes di pipinya.

Sehun tersenyum, "Baekhyun tidak apa-apa kok, dia mengerti, dia wanita yang baik dan dia berharap kondisimu semakin baik... lagipula aku akan menebusnya malam ini."

"Malam ini?" mata Luhan melebar.

"Ya... aku akan melamar Baekhyun sebagai kejutan." Senyum Sehun tampak bercahaya, "Dan ngomong-ngomong tentang melamar, aku sepertinya kehilangan cincinku di sini, apakah kau tahu?"

"Cincin?" Luhan mengerutkan keningnya.

"Ya. Cincin, dalam kotak kecil berwama hitam sepertinya aku menjatuhkannya di sini."

"Tidak ada cincin."

Sekelebat ingatan muncul di benak Luhan, tentang Chanyeol yang menunduk mengambil sesuatu yang misterius di kamarnya. Apakah cincin itu yang diambil oleh Chanyeol, "Maafkan aku Sehun, tetapi aku seharian di sini dan tidak turun dari ranjang, tetapi setahuku kalaupun ada cincin jatuh di sini, pasti perawat menemukannya."

"Ah. Ya benar juga." Sehun menggosok rambutnya dengan kecewa.

Jadi besar kemungkinan cincin itu hilang, atau mungkin ditemukan

orang, dan tidak dikembalikan... kalau begitu Sehun harus ke toko perhiasan dulu untuk mencari cincin pengganti sebelum melamar Baekhyun nanti malam. "Kalau begitu aku harus mencari cincin untuk melamar Baekhyun nanti malam, tidak apa-apa kan aku meninggalkanmu dulu Luhan? Aku janji aku akan menengokmu lagi bersama Baekhyun besok."

Luhan tersenyum meskipun senyumnya tampak lemah, "Tidak apaapa... pergilah Sehun, semangat ya, semoga sukses... cepat sana pergi." Dengan lembut Luhan melambaikan tangannya tanda pengusiran karena Sehun masih tampak ragu meninggalkan Luhan.

Sehun tersenyum lebar, membayangkan betapa indahnya malamnya nanti bersama Baekhyun. Dengan impulsif, didorong oleh rasa bahagianya, dia membungkuk dan mengecup dahi Luhan dengan lembut.

Seketika itu juga, Luhan terbatuk-batuk parah. Sehun menundukkan kepalanya dan terkejut, ketika Luhan terbatuk makin parah, dan memuntahkan darah segar yang begitu banyak dari mulutnya, membasahi kemeja Sehun.

.

.

.

Baekhyun melirik jam tangannya, hujan turun dengan derasnya di luar, dan kondisi badannya makin menurun, dia memegang dahinya sendiri dan terasa panas, tenggorokannya juga terasa semakin sakit. Saat ini dia sedang duduk di tempat duduk bagian depan di lobby kantor.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, karyawan terakhir

tampak meninggalkan kantor, membuat suasana cukup sunyi, hanya ditemani oleh seorang satpam yang duduk di dekat pintu masuk.

"Menunggu seseorang?" Satpam itu menyapa, mungkin karena melihat bahwa Baekhyun sudah duduk menunggu sejak jam lima sore tadi dan tidak beranjak dari sana meski semua karyawan sudah pulang.

Baekhyun menganggukkan kepalanya, tersenyum malu, "Ya... saya menunggu jemputan."

"Hujan diluar sangat deras, mungkin yang menjemput terjebak macet," gumam si satpam sambil menatap keluar.

Baekhyun menganggukkan kepalanya, dan menatap cemas ke arah hujan yang cukup deras, satpam itupun kembali lagi ke mejanya di dekat pintu, meninggalkan Baekhyun termenung sendirian.

Dengan bingung, Baekhyun memencet kembali nomor Sehun, hal yang sudah dilakukannya berkali-kali selama dua jam terakhir ini, tetapi tetap sama, nomor itu tidak aktif. Kemanakah Sehun? Kenapa dia tak muncul juga? Tiba-tiba Baekhyun merasa pusingnya semakin menyakitkan.

Hujan turun semakin deras di luar, begitupun dengan hujan di hati Baekhyun.

.

.

.

"Anda tidak bisa ke rumah sakit sekarang."

Jongdae bergumam ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dan masih memakai jubah mandinya.

Chanyeol mengerutkan keningnya, "Ada apa? bukankah aku harus memberikan darahku untuk Luhan? Aku sengaja menghukumnya tadi dengan memberikan setengah dari yang seharusnya, malam ini dia pasti sudah cukup merasakan kesakitan dan kemudian sadar untuk tidak ikut campur lagi dengan urusanku."

"Luhan mengalami serangan, dan si pemegang kekuatan terang ada bersamanya." Jawab Jongdae datar.

Ekspresi Chanyeol mengeras seketika, dia memejamkan matanya sejenak, memastikan kata-kata Jongdae.

Dan setelah dia melihat visualisasi di rumah sakit, Chanyeol langsung memberikan instruksi kepada Jongdae, "Siapkan pakaianku, aku akan kembali ke kantor."

Rahang Chanyeol mengeras.

Sekali lagi, dengan bodohnya, Sehun membiarkan Baekhyun menunggunya sampai lama.

.

.

.

Author's Note :

Veraparkhyun : kamu buka fanfictnya pake web ya? kenapa gak pake aplikasi resmi fanfiction aja? bacanya lebih mudah dan notifikasi langsung masuk tanpa lewat email. kalau pengen download, kamu bisa cari aplikasi androidnya di google atau playstore nama aplikasinya :) :)

Ok, jangan lupa review ya! see you next chapter :D

-ByunYeol-