Disclaimer: Masih belum berubah dari yang terakhir kali.


XIII

AN ALMOST FORGOTTEN LETTER

Sabo menatap Luffy yang tertidur disampingnya. Luffy memutuskan untuk tidur di halaman berumput di dek kapalnya dan berkeras untuk tidur sambil menatap bintang, seperti yang selalu dilakukannya bersama Ace dan Sabo saat mereka masih kecil dahulu.

Tentu saja krunya menolak. Dokter Chopper yang paling tidak setuju, karena menurutnya luka-luka Luffy masih cukup parah dan ia butuh istirahat. Tapi Luffy adalah Luffy. Sekali ia memutuskan sesuatu, ia tak akan mengubah keputusannya.

"Aku akan menemani Luffy." Sabo berusaha menengahi adu mulut antara Luffy dan kru nya. Sabo bisa melihat kalau mereka semua mengkhawatirkan Luffy.

"Ah, kalau begitu apa boleh buat." Mereka semua mengalah masuk kedalam kabin. Beberapa saat kemudian, mereka keluar kembali membawa berbagai barang, mulai dari obat, perban, selimut, bantal, dan biskuit.

Sekarang Sabo duduk disamping Luffy yang bergelung di dekatnya. Sabo menyelimuti Luffy, terkenang bagaimana ia dan Ace bergantian menyelimuti Luffy saat mereka tinggal di rumah pohon mereka. Sabo tersenyum. Ia awalnya tak menyangka akan bertemu dengan Luffy di Dressrosa, tapi ia bersyukur ia ada disana. Sabo bahkan cukup bangga dan puas saat ia berhasil mengalahkan (atau mungkin menghancurkan?)Burgess. Ia tak menyesal. Burgess adalah kru dari Kurohige. Orang yang secara tidak langsung bertanggung jawab atas kematian Ace, dan dengan terang-terangan memproklamirkan dirinya mengincar Luffy.

Sabo tak mungkin membiarkan ia bebas begitu saja bukan? Tidak saat keamanan Luffy terancam.

Sabo tahu, dengan pilihan karir mereka saat ini, hidup mereka akan selalu terancam, tapi ia tak akan membiarkan hal itu menghentikannya untuk menolong Luffy. Ia tak ingin lagi kehilangan. Ia tak ingin lagi menyesal.

'Hubungan kita memang aneh, tapi ikatan kita adalah harta karunku yang paling berharga.'

'Luffy masih bocah yang lemah dan cengeng, tapi dia adalah adik kita.'

'Tolong jaga dia!'

Sabo teringat kembali dengan surat pertama dan terakhir yang dikirimnya kepada Ace. Sabo mengacak rambut Luffy dengan lembut. Luffy bukan lagi bocah lemah dan cengeng seperti saat ia masih kecil dahulu, tapi ia masih dan akan selalu menjadi adik kecil mereka.

"Kurasa, sekarang giliranku untuk menjaganya, bukankah begitu Ace?" Sabo bergumam pelan. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik selama ini. Jangan khawatir Ace, ini memang sudah waktunya kau berbagi tugas ini denganku. Kau bisa beristirahat dengan tenang."

Seakan bisa mendengar janji Sabo, Luffy tersenyum dalam tidurnya.

"Ace . . . . Sabo . . . ."


Thanks sgiariza, iib. junior, dan aku untuk reviewnya~