'Gagak Hitam'

.

Haikyuu! © Furudate Haruichi

.

Gagak Hitam © MiracleUsagi

.

Rate : T+

.

Genre : Mystery, Crime

.

Warning : Out of Character, missed TYPO(s), Alternate Universe, menggunakan kata dan kalimat yang melenceng dari KBBI, EYD kacau, etc.

.

Penulis tidak mengambil keuntungan materiil dari penulisan fanfiksi ini. Penulis hanya mengambil kebahagiaan semata karena telah menyiksa karakter favoritnya.

.

DLDR/Enjoy!

.

.

.

.

10 tahun yang lalu.

Lorong putih itu lengang. Pemuda tanggung yang berdiri di depan pintu kaca menangis sambil sesekali meninju tembok dan dadanya yang perih bergantian. Seorang wanita di sebelah si pemuda juga tak hentinya mendesahkan nama yang berada di dalam ruangan. Semua isakan pilu itu disaksikan seorang pemuda tanggung lainnya yang terus mengelusi punggung kawannya yang sedang berduka itu.

"Hei, Kageyama…"

Tangisan pemuda yang hampir reda kembali terdengar nyaring di sepanjang lorong ketika raga di dalam ruangan yang mereka perhatikan sedari tadi ditutup selembar kain putih. Untuk terakhir kalinya mereka menatap wajah pucat yang tampak damai, tertidur nyaman di dipan.

"Kumohon, berhentilah menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin melihatmu seperti sekarang ini…"

"Hei Kageya-!"

Wajah pemuda yang sembab itu menoleh, menampilkan wujudnya yang tak karuan. Sorot kekecewaan terpancar terang dari matanya."Hinata…" panggilnya.

"Maaf, aku akan tetap mengikuti impian masa kecilku. Aku akan menjadi seorang polisi."

"Tapi-!"

Pemuda oranye dalam balutan gakuran hitam itu mendecih. Geram melihat sahabat karibnya yang begitu gila menderita. Ayahmu baru saja meninggal, hei! Hinata ingin sekali menampar wajah Kageyama dan meneriakkan kalimat itu hingga bergema di lorong rumah sakit.

"Ayahmu yang polisi itu baru saja meninggal, Kageyama!"

"Ayahmu yang dulunya kau bangga-banggakan baru saja kehilangan nafas terakhirnya!"

"Dan kau masih ingin melanjutkan mimpimu bahkan setelah kau menangis mengetahui ayahmu terbunuh dalam menjalankan tugas?"

"Kau benar gila Kageyama…"

Kageyama dalam balutan pakaian yang sama dengan Hinata mendadak berbalik menatap Hinata yang geram padanya. Matanya tegas dan tajam, tetapi jauh di dalam penuh kekecewaan dan kesedihan. Hinata mengusap wajahnya begitu ditatap oleh Kageyama.

"Apa?" Ucap Hinata.

"Kalau kau berencana melarangku untuk masuk akademi polisi karena ayahku gagal pada tugasnya, lebih baik kau tidak perlu menemuiku lagi, Hinata. Karena aku tetap akan masuk ke sana. Bukan. Ini bukan soal bagaimana aku menyikapi kematiannya yang aku sendiri bahkan masih tidak percaya, tapi ini impianku sejak kecil, Hinata. Sedari dulu aku mengangguminya dan profesinya. Sedari dulu aku bertekad menjadi polisi keadilan sepertinya. Sedari dulu aku sudah berjanji akan menjadi sepertinya. Aku tidak bisa mengabaikan janjiku, Hinata…"

"Kageyama…" Hinata menatap nanar, "Bahkan kawan polisi ayahmu saja tidak bisa melindungi ayahmu. Tidak bisa menyelamatkan ayahmu. Bagaimana kau bisa yakin dengan kau menjadi polisi kau bisa menyelamatkan impian ayahmu yang tersisa?!" Hinata berteriak membuat seorang suster menegurnya.

"Kau… Bagaimana aku bisa tahu kalau aku tak mencobanya?!" Kageyama memukul tembok sekali lagi, kemudian beralih mengacak dan mencengkeram rambutnya.

Hinata melepaskan cengkeraman tangan Kageyama pada rambutnya, "Kumohon kali ini saja Kageyama. Jangan jadi anggota polisi…"

.

.

.

Setelah insiden penyerangan di gedung kepolisian.

Hinata meletakkan gelas cokelat panasnya di meja dapur. Keadaan begitu sunyi saat Hinata mengetuk pintu kamar Kageyama.

"Kageyama, aku minta maaf.."

Ketukan kedua pun tidak digubris pemilik apartemen.

"Maafkan aku yang seenaknya melarangmu.. ah, dari dulu aku sering melarangmu macam-macam, Kageyama.."

Ketukan ketiga Hinata mulai merasa cemas.

"Kageyama kau masih di sana..?"

Perlahan kenop pintu diputar Hinata. Bagai dalam film horror, Hinata membuka takut-takut pintu itu. Meilhat dalam isinya, Hinata merasakan kakinya lumpuh sejenak.

Kageyama tidak ada di sana.

Tirai balkon kamar terbuka. Hinata berusaha mengusir pikiran buruk yang sempat mampir di pikirannya dan berusaha tertawa karena apartemen Kageyama berada di belasan lantai dari tanah. Tidak mungkin ia terjun, kan?

"Ah, anu… teman anda tadi memaksa menaiki lift kecilku untuk turun ke bawah. Anu, apa dia sedang terburu-buru sampai tidak bisa menaiki lift yang ada di dalam?"

kan?

.

.

.

"Kageyama, kau bodoh. Kau bodoh sekali!"

"Maaf Kageyama, maafkan aku! Ini semua salahku!"

"Maaf Kageyama, seharusnya aku tidak terbawa emosi akan kematian ayahmu dan melakukan hal itu.."

"Kageyama, maaf… aku menyesal.."

"Maaf karena aku sudah menjadi Gagak Hitam…"

.

.

.

"Cih!"

Di hadapan Sawamura, Sugawara dan Asahi, Akaashi berjalan anggun diikuti belasan orang berjubah hitam-hitam. Miya bersaudara berjalan di sisi kanan-kiri Akaashi. Wajah Akaashi yang cantik seperti wanita itu tersenyum dingin kala topengnya ia sampirkan di bahu kanannya.

"Berhenti di sana!" Sugawara memasang pistolnya. Menghardik Akaashi.

Masih dengan senyum dingin menghiasi wajah, Akaashi melirik Miya Atsumu di kirinya. Seakan mengerti tatapan Akaashi, Atsumu berjalan ke arah Sugawara. M16 kebanggaannya perlahan teracung, bibirnya menunjuk ketiga polisi tepatnya ke arah Sugawara. Sejenak menjilat bibirnya, Atsumu menarik pelatuk M16-nya.

Anak peluru melesat, mengenai udara kosong. M16 milik Miya Atsumu terlempar satu meter. Atsumu sontak menoleh nyalang pada pemilik tangan yang berani-beraninya melempar M16 kesayangannya.

"Kurang ajar-!"

"Halo, Miya Atsumu-san. Maaf, kurasa bayi kecilmu salah sasaran."

"Oh?"

Akaashi menatap terkejut seseorang yang baru saja datang. Senyumnya semakin lebar. Ia menghentikan Osamu yang ingin membantu kembarannya.

"Jangan, Osamu. Biarkan mereka bernostalgia dulu." Akaashi menunjuk pemuda yang baru datang. "Halo, Kageyama-kun! Kau sudah baikan?"

Kageyama menyeringai, "Ya, tentu saja. Berkat kalian aku menjadi lebih cepat sembuh."

Atsumu melayangkan tinju kanannya pada Kageyama. Ditangkis dengan cepat oleh si objek, sementara tangan kiri Atsumu mengambil pistol cadangan. Dengan sigap tangan Kageyama yang menangkis serangannya tadi Atsumu ambil dan menguncinya di punggung sang empunya. Merasa tersudut, Kageyama hendak memukul perut Atsumu menggunakan sikunya tetapi segera dihentikannya karena pistol cadangan Atsumu kini sudah bertengger di kepalanya.

"Diam sebentar ya, Tobio-kun. Atau jika tidak, bayi keduaku tidak segan menyakitimu…"

"Dasar rubah licik!"

Dalam beberapa detik saat Atsumu dan Kageyama saling melayangkan tinju, Sugawara melesat cepat menembakkan peluru untuk mengalihkan perhatian Akaashi dan dengan tidak mengurangi kecepatan, Sugawara melumpuhkan Osamu dan membuang senjatanya. Kemampuannya melumpuhkan korban saat di Gagak Hitam tetap ia miliki, tidak pudar sama sekali. Malah terlihat sangat berkilauan. Sugawara sangat berterimakasih pada Sawamura yang selalu meneguhkan hatinya, mengatakan bahwa kemampuannya sangat berguna bagi kepolisian.

"Miya Atsumu, lepaskan Kageyama atau adikmu akan kupatahkan tulang-tulangnya."

Osamu yang terkunci tidak dapat bergerak. Entah teknik kuncian apa yang menjadi keahlian Sugawara, tapi teknik itu benar-benar menyebalkan dan sulit dibuka menurut Osamu. Akaashi yang melihat anak buahnya dilumpuhkan Sugawara hanya menatap datar, seolah hal itu bukan masalah besar.

Alih-alih melepaskan Kageyama, Atsumu malah tertawa lebar.

"Puh… Hahahaha! Apa kau bilang, Silver-san? Lepaskan Tobio? Kupatahkan tulang adikmu? Hahahaha!" Atsumu menyeringai, "Jangan bercanda."

Seketika tubuh Sugawara menggigil. Tengkuknya serasa ditimpa es. Namun ia mencoba tetap mengunci Osamu dengan lebih kuat.

"Silahkan kalau kau mau mematahkan dia. Terserah. Tapi, melepaskan Tobio? Hm, aku rasa aku harus menolaknya. Karena Tobio lumayan menarik, jadi boleh kan aku meminjamnya sebentar untuk bermain-main?" Atsumu melirik Kageyama yang menggeram marah.

"Saudaranya sendiri dalam bahaya tetapi ia tidak peduli? Astaga, Gagak Hitam mulai semakin menjadi-jadi gilanya…"

Sugawara tidak jadi mematahkan tulang tangan Osamu. Ia melepaskan Osamu, tetapi dengan cepat ia menotok Osamu tepat di empat titik. Zap, zap, zap, zap! Dan dalam sekejap, Osamu jatuh bagai jerapah kehilangan tulangnya. Tanaka yang masih bersiaga tadi segera meringkus Osamu.

"Apa kau sebegitu takutnya, Silver-san? Hingga tidak berani mematahkan tulang adikku tercinta?" Atsumu mengeratkan kunciannya pada Kageyama, "aku sangat kecewa, padahal kau panutanku untuk masuk Gagak Hitam."

"Ya, kau benar-benar panutanku… semua gerakanmu selalu kukagumi sedari dulu…"

"Oh ya? Baiklah, aku merasa senang karena mempunyai fans kecil.."

"Aku begitu hapal dengan semua gerakanmu, Silver-san… dan kau tahu apa keinginan terbesarku? Aku ingin suatu saat nanti bisa melakukan hal sepertimu."

Atsumu mengendurkan kunciannya pada Kageyama. Sontak Kageyama segera membebaskan diri dari Atsumu. Bukannya marah, Atsumu malah semakin menyeringai kesenangan.

"Dan faktanya Silver-san… ternyata aku pun bisa melakukan hal yang kau lakukan dulu! Hebat kan?"

Dengan lebih cepat daripada Sugawara, Atsumu menotok Kageyama tepat di empat titik seperti yang dilakukan Sugawara kepada Osamu. Bagai jerapah kehilangan tulangnya, Kageyama jatuh ke tanah setelah menerima totokan Atsumu.

Atsumu mengarahkan pitol cadangannya kepada jantung Kageyama yang tidak bisa bergerak. Bibirnya ia jilat sekali lagi, kemudian tersenyum, "Maaf Tobio-kun, lain kali kita akan bertemu lagi…"

DOR!

"Argh!"

Darah terciprat mengenai kaus Kageyama. Jantungnya serasa jatuh ke perutnya saat bahunya terkena peluru Atsumu. Tidak, tunggu. Walaupun jantung Kageyama serasa mau copot, jantungnya tetap bekerja seperti biasa. Lantas darah apa yang -?

"Argh!"

Atsumu meringis melihat darah mengucur dari nadi tangannya. Ia menatap geram pada acungan pistol di tangan Sawamura. Kepala polisi itu menatapnya dingin, aura intimidasinya begitu kuat sampai-sampai Atsumu bergetar dan jatuh terduduk melihatnya.

"Kau..!" Atsumu menggeram.

Asahi segera menyepak pistol cadangan Atsumu dan meringkusnya. Ia membawa Atsumu menjauh ke tempat Tanaka dan Osamu sudah lebih dulu pergi. Sempat ada perlawanan dari Atsumu, namun entah karena hal apa Asahi kembali menunjukkan aura intimidasi Sawamura dan membuat Atsumu diam tidak berkutik.

Sawamura mengisi ulang pistolnya. Dengan tatapan yang sama ia bertanya kepada Akaashi.

"Apa kau sudah selesai bermain-mainnya?"

.

.

.

Bus yang penuh sesak membuat Hinata geram. Ditambah pula jalanan yang entah apa sebabnya menjadi macet tak terkira. Oh ayolah, kalau seperti ini ia takkan bisa sampai tepat waktu sebelum Kageyama terpelatuk lagi emosinya. Ia tak ingin kawannya itu terluka lagi karena emosinya yang mudah meledak. Ia tidak ingin kejadian sepuluh tahun lalu itu kembali terulang.

Bayang-bayang Kageyama yang tidak terkontrol emosinya karena kematian ayahnya yang begitu menoreh luka di hati pemuda blueberry itu membuat Hinata kembali sedih. Bahkan kini kaca bus tampak memutarkan ulang kejadian saat Kageyama memukuli sejumlah anggota polisi yang diutus membawa kabar duka itu ke rumahnya.

.

"Kalian polisi tidak becus! Mentang-mentang ayahku hanya anggota biasa, kalian tidak mau menyelamatkannya!?"

"Bukan begitu Nak Tobio, ayahmu –"

"Berisik! Polisi macam apa kalian!?"

.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Ikut merasakan kesakitan yang sama saat sepuluh tahun yang lalu. Ia tahu, kehilangan orang yang kau sayang apalagi figur ayah sangatlah berat. Belum lagi sosok yang kita anggap pahlawan, yang kita kagumi, sosoknya, pekerjaannya yang begitu luar biasa di mata seorang anak harus pergi selama-lamanya meninggalkan luka menganga yang begitu dalam.

Ia tahu, ketika Kageyama dengan semangat membanggakan ayahnya sang polisi keadilan dan janjinya untuk menjadi kuat seperti polisi idamannya itu seketika hancur saat kabar duka itu sampai di depan rumah kecilnya.

Ia tahu betul, ibu Kageyama yang semakin hari semakin kurus melihat putranya kehilangan sosok di hatinya selalu mengatakan,

"Tobio, kau harusnya bangga karena ayah pergi karena menunaikan tugasnya sebagai polisi keadilan. Lihat, sampai napas terakhirnya ia tetap tersenyum karena berhasil menuntaskan pekerjaannya yang sangat keren itu, Tobio…"

Pun Hinata juga tahu, bagaimana anak-anak seperti mereka berdua dapat menerima fakta yang begitu menyakitkan itu?

Tetapi, setelah semua yang Hinata rasa mengerti tentang Kageyama, ternyata masih ada yang tidak ia mengerti. Setelah semua kesedihan dan luka yang di dapat Kageyama, yang juga ikut Hinata rasakan, ternyata Kageyama masih ingin melanjutkan impian kecilnya menjadi polisi keadilan.

Hinata serasa bingung. Pikiran-pikirannya saling berkecamuk. Bukannya ayah Kageyama meninggal karena pekerjaannya? Bukannya Kageyama begitu sedih dan menderita? Bukankah Kageyama membenci pekerjaan polisi? Kenapa Kageyama masih mau mengambil pekerjaan yang telah merenggut nyawa ayahnya?

Hinata benar-benar bingung.

Bahkan pertengkaran mereka tentang boleh tidaknya masuk akademi polisi terus berdengung kencang di kepala Hinata.

.

"Kenapa Kageyama? Kenapa kau masih mau menjadi polisi?"

"Memangnya kenapa? Kau tidak berhak memutuskan hidupku."

"Kau tidak ingat ayahmu meninggal karenanya?!"

"Hinata! Memangnya kau tahu apa tentangku? Terserah aku mau jadi polisi atau gelandangan, terserah aku!"

.

Kepala Hinata semakin berat untuk mengingat kejadian selanjutnya. Pada waktu itu Kageyama benar. Ia tidak tahu apa-apa tentang Kageyama. Ia seenaknya sendiri mengambil kesimpulan dan seenaknya memutuskan Kageyama tidak boleh menjadi polisi. Ia punya hal yang terlewat dari memahami Kageyama. Dan ia tidak menyadari hal itu sepuluh tahun lalu.

Rasa sabar. Menerima. Memaafkan.

Ketiganya yang luput dari perhatian Hinata. Hinata tidak sadar, Kageyama telah mempunyai ketiga hal baik tersebut. Ia hanya melihat kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan Kageyama saja. Dan tanpa sadar, malah ia termakan oleh emosi masa lalu itu. Jika Hinata bisa kembali ke waktu yang lalu, ia ingin menghentikan dirinya yang dulu berbuat sembrono.

Menjadi dalang Gagak Hitam.

Itulah hal yang paling ia sesalkan. Sampai sekarang, Hinata sebenarnya ingin menangis setiap kali Kageyama mendapat masalah karena organisasinya. Ia tidak tahu dampaknya akan sebesar ini. Membuat Kageyama pontang-panting terluka kembali karena mengurusi apa yang ia kerjakan selama ini. Hinata menyesal. Sangat.

Hinata dulu berpikir hanya ini satu-satunya cara untuk menyadarkan Kageyama bahwa polisi itu tidak berguna, tidak bisa menjadi pahlawan keadilan, semua itu hanya fiksi anak-anak. Namun setelah melihat keteguhan hati Kageyama mulai dari masuk akademi, menjadi lulusan terbaik, dan mengurusi kasus Gagak Hitam, Hinata mulai melihat bahwa kelakuannyalah yang masih seperti bocah. Kemudian dari situ ia belajar menerima kenyataan, belajar rasa sabar, dan memaafkan dari seorang Kageyama Tobio. Astaga, teman masa kecilnya yang sungguh polos dan tulus hatinya itu.

Maka Hinata bertekad menyudahi perbuatannya. Ia berniat membubarkan oraganisasinya itu.

Sayang disayang, ia malah dikira pengkhianat dan diancam dibunuh oleh kaki tangannya sendiri, Akaashi. Pria berwajah cantik itu membelotnya bersama si kembar Miya. Entah bagaimana caranya, Akaashi tahu masa lalu Hinata dan Kageyama, dan mengancam Hinata akan menyakiti Kageyama seperti sepuluh tahun yang lalu.

Tentu saja Hinata tidak mau hal itu terjadi. Ia bersedia menyerahkan apapun yang Akaashi minta namun ia mohon untuk tidak menyakiti Kageyama. Akaashi tersenyum samar sambil mengatakan ia ingin kekuasaan Gagak Hitam. Hinata tahu sudah lama Akaashi mengincar posisinya, dan Hinata akui pria ini sangat licik. Hinata tidak mau menyerahkan kekuasaannya pada orang seperti Akaashi. Namun bagaimanapun ancaman Akaashi tidak main-main. Bahkan Kageyama sempat hampir diracuni saat bertemu Akaashi di kafe. Maka, secara terpaksa Hinata memutuskan mundur dari kekuasaannya dan menyerahkannya pada Akaashi.

Jika kau pikir masalah sudah selesai dan tamat, maka salah besar. Kembali Hinata menyesali pilihannya yang kelewat naïf. Setelah diberi kekuasaan dengan berbagai kesepakatan, Akaashi dengan beraninya melanggar semuanya. Akaashi tetap menyakiti Kageyama. Oh, Hinata mengapa kau sebodoh ini?

Sekarang kaki tangannya sudah tidak ada lagi, lantas bagaimana ia dapat menghajar wajah cantik pria licik itu? Seenaknya melanggar kesepakatan. Hinata benar-benar muak padanya. Meminta tolong pada mantan anak buah kesayangannya, Sugawara? Tidak. Sama saja membeberkan rahasianya.

Kau berpikir dengan membeberkan semuanya maka masalah selesai? Tidak juga. Justru kau akan ditangkap, tidak ada yang mau membantumu, dan masalah dengan Akaashi tidak akan pernah selesai. Namun, bagaimana dengan Kageyama? Mungkinkah kawannya itu bisa membantunya? Atau malah membencinya? Sejujurnya Hinata rela dimusuhi Kageyama, asalkan pemuda itu baik-baik saja. Asalkan Kageyama tidak menderita lagi, ia puas dengan keputusan memberitahu Kageyama bahwa ialah dalang Gagak Hitam.

Ya. Hinata mengeratkan kepalan jemarinya. Ya! Keputusannya telah bulat. Ia akan segera memberitahukan rahasianya pada Kageyama.

.

.

.

"Tidak lagi…"

Hinata jatuh terduduk di tanah paving. Tiba-tiba saja lututnya bergemetar hebat saat alat visualnya menangkap wajah Kageyama dalam balutan pakaian penuh darah.

"Tidak.. Tidak.. jangan lagi.."

Dalam sisa kekuatannya, Hinata berusaha bangkit dan melangkah menghampiri kawannya itu. Kageyama yang sedang mencoba duduk setelah efek totokan Atsumu hilang mendadak terkejut dengan kehadiran Hinata. Ia pikir temannya ini masih di apartemennya, menonton acara lawak.

"Kageyama..!"

"Hinata? Kenapa kau di sini?"

Hinata yang sudah berdiri patah-patah di depan Kageyama berseru dengan suara bergetar. "Bodoh! Kenapa kau pergi tidak bilang-bilang? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu! Kenapa? Kenapa aku tidak pernah bisa memahamimu, Kageyama!?"

Kageyama bingung dengan kawannya yang menjerit-jerit kesal. Kalau Hinata marah karena ia kabur, oke, itu masuk akal. Tapi soal, 'membicarakan sesuatu' dan 'memahami' Kageyama tidak paham maksud Hinata.

"A-apa maksudmu..?"

"Wah! Suatu kejutan kau datang saat pesta baru saja dimulai!" Akaashi mendadak berseru lantang. Tangannya terulur keduanya. Matanya tajam menatap Hinata.

Hinata awalnya tidak memerdulikan kata-kata Akaashi, ia malah membantu Kageyama berdiri. Akaashi cukup sebal karena kata-katanya tidak digubris, lalu ia menambahkan kata yang membuat Hinata dan semua orang di sana mematung.

"Suatu kehormatan, Bos…"

.

.

.

Bersambung…

.

.

.

A/N

Selamat datang di chapter 13, selamat berbelan-eh..

Tidak banyak yang ingin saia ungkapkan di sini, tapi saia hanya ingin bilang maaf karena update yang selalu tidak tentu, saia sudah berusaha mati-matian menumbuhkan niat dan ide untuk setiap chapter. Maafkan saia…

Baidewei, apakah ada yang ingin menyleding Akaashi? Kok tampaknya dia semakin menyebalkan?

Ya sudah, pokoknya terima kasih sudah membaca chapter 13! Sampai bertemu chapter depan!

Salam, Usagi.