Disklaimer: Haikyuu! dimiliki seutuhnya oleh Furudate Haruichi. Saya tidak memiliki apa-apa kecuali ide-ide yang saya tuangkan dalam tulisan ini, dan saya tidak mengambil keuntungan atau profit apapun dari tulisan ini.

.

.

.

Tsukuba, 3 Desember 2075

Di suatu sore di awal bulan Desember, Kei tengah berbaring di atas karpet ruang tamu dan memandangi kerangka bohlam yang menggantung di langit-langit. Hari ini ia libur, karena baru saja melewati tahap terakhir dari sesi terapi—konyol—bersama Akiteru kemarin. Ia mengingat-ingat kenapa saat itu memilih kerangka bohlam yang menyerupai sangkar burung seperti ini untuk digantung di ruang tengah? Tidakkah itu menambah kesan muram?

Kei menyalakan televisi. "God Only Knows" sedang diputar. Duh, lagu itu berusia lebih tua ketimbang kakek dan neneknya yang sekarang ini pindah ke Awashima untuk menghabiskan sisa hidup mereka dengan menatap horizon di pinggir laut.

God only knows what I did without you …

Kei bahkan tak memiliki keinginan untuk melirik layar televisi. Ia sering merasa geli jika harus menyaksikan orang-orang zaman dulu berlagak di depan kamera. Kaku, membosankan, kolot.

Saluran televisi yang satu ini sangat menyebalkan. Sejujurnya ia ingin menggantinya tetapi terlalu malas untuk mencari tayangan lain, lagipula siapa tahu ada lagu favoritnya yang diputar di sana. "Hei, hei, heeiiii!" aduh. 'Tuh, benar dugaannya. Ini memang saluran sialan yang menayangkan acara sialan yang sialnya sangat populer dan digandrungi muda-mudi Jepang—bahkan dunia—di era ini. Host acara itu bernama Bokuto Kotarou, dunia mengenalnya sebagai pemain voli nasional yang menorehkan banyak prestasi, Kei mengenalnya sebagai idola Shouyou. Well, dia punya tampang yang bagus juga personaliti khas seorang bintang, jadi wajar saja dia punya pekerjaan sampingan sebagai host acara televisi. Itu cocok untuknya.

Garukan Venus di pintu membuat Kei menggerutu, ia membiarkannya sejenak tetapi cakaran-cakaran Venus kian menjadi. Dengan langkah gontai, Kei berjalan menuju pintu. Anjing itu berlari saat Kei hendak menangkapnya, tak lama setelah itu bel dibunyikan.

Dia sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menerima tamu. Energinya terkuras habis setelah menerbangkan sebuah pesawat jet di langit berawan kemarin. Sebenarnya Kei sudah bisa mengatasi kepanikannya dengan cukup baik, tapi gemetar masih saja bermuara di ujung-ujung jarinya ketika memegang kemudi pesawat dan ia pun belum bisa mengontrol detak jantungnya. Akan tetapi, hari Senin nanti ia harus mengikuti ujian kualifikasi astronot siap atau tidak siap. Jika ia menghindar, maka mimpinya untuk terbang ke luar angkasa hanya akan menjadi khayalan yang tak akan tergapai. Sebab, direktur JAXA telah memberinya sebuah tekanan baru dengan menyatakan bahwa ujian ini adalah kesempatan terakhirnya.

Yah, direktur berambut bob itu punya wajah kelewat serius sehingga Kei tidak bisa berbaik sangka dengan menyatakan bahwa ultimatum itu hanya sekadar candaan atau motivasi.

"Ya, cari siapa—" bola mata Kei membulat tatkala Shouyou, dengan senyum cerah berdiri di depan pintunya. Rambut oranyenya menggelap dan dititiki salju, pipinya sewarna angsa yang baru dibului.

Ketika Kei mulai berpikir bahwa dirinya tengah berhalusinasi, Shouyou memberinya sebuah pelukan. Serbuk es yang menempel di lipatan mantel Shouyou membuat Kei kedinginan. "Haaaaiiiiii!" seru Shouyou lantang.

Kei masih berdiri di daun pintu dengan wajah bingung. "Kau- kau sedang apa di sini?"

"Ibu memintaku untuk mengirimkan hadiah sebagai ucapan terima kasih," Shouyou mengacungkan dua buah tas plastik besar berisikan wadah plastik yang nampak penuh. "Aku tidak memberitahumu dulu, sori. Er … tapi kalau kau sedang sibuk, aku bisa menginap di rumah bibiku."

Kei menggenggam tangannya yang dingin, menautkannya secara perlahan. "Tidak. Kau tinggal di sini saja." Ia menarik Shouyou ke dalam pelukan sekali lagi sembari menutup pintu dengan sebelah kaki. "Aku cuma agak bingung karena kau mendadak muncul di depan pintuku seperti ini. Apa kau berniat untuk memberiku kejutan atau semacamnya?"

Shouyou mengendurkan pelukan, melentingkan tubuh pada tautan jemari Kei di belakang punggungnya. "Kenapa kau begitu yakin?"

"Ayolah, kau ini mudah sekali ditebak."

"Bisakah kau menebak di mana aku akan meletakkan hadiah-hadiah dari Ibuku ini?"

Kei mencium bibir Shouyou, memagutnya beberapa kali dan membisikkan kalimat dengan nada menggoda. "Lemari es."

Shouyou melepaskan diri dari kungkungan Kei dan membawa bingkisan-bingkisan itu ke dapur. Kei berjalan ke halaman belakang dan memanggil Venus dengan menepuk-nepukan tangannya. Si Pomeranian kecil berlari dengan dedaunan yang menempel di sekujur tubuhnya, ketika sampai teras, tubuh itu ia gulingkan di atas karpet. Ia menggonggong dengan penuh semangat.

"Aaaah, apa ini yang namanya Venus?" Shouyou muncul dari arah pintu, berjalan menghampiri Venus dan mencoba menggendongnya tetapi anjing itu kelewat agresif hingga langsung menubrukkan dirinya ke wajah Shouyou. Menghujaninya dengan jilatan basah. "Ah, iya iya, senang bertemu denganmu juga."

"Aku rasa dia menyukaimu."

"Seingatku kau belum memberitahuku soal jenis kelaminnya,"

"Dia jantan. Jujur saja, aku juga baru tahu kemarin setelah kakakku mengeceknya."

"Kau serius?"

"Well, aku tidak terlalu peduli soal jenis kelaminnya. Yang manapun, nanti dia akan dikastrasi juga 'kan."

"Kau benar," Shouyou berdiri, menurunkan Venus dari gendongannya. "Di mana aku bisa menaruh mantelku?"

"Langsung masukan saja ke dalam keranjang cucian kalau kotor, tapi kalau cuma basah atau lembap gantungkan saja di kamar. Besok aku keringkan." Kei kembali ke ruang tengah, mematikan televisi, dan berjalan ke dalam kamar. Di lihatnya Shouyou tengah menggantungkan mantel di paku dinding dengan susah payah. "Makanya, minum susu." Kei mengambil mantel itu dari tangan Shouyou dan menggantungkannya.

"Kenapa kau harus pasang paku tinggi begitu sih?"

"Karena aku tinggi?"

"Ya, maksudku … kenapa tidak dipasang di posisi yang lebih wajar?" Shouyou berkacak pinggang, kedua alisnya bertaut.

"Maksudmu di sini?" Kei menunjuk sebuah titik yang sejajar dengan hidung Shouyou. "Aku harus jongkok dong, repot amat."

"Kau tidak toleran,"

"Ini 'kan rumahku, ya aku sesuaikan dengan diriku lah."

"Kalau orang luar berkunjung? Mereka juga akan kesulitan sepertiku!"

"Sebagai informasi untukmu saja ya, jangan salah paham lho, aku cuma mau kasih tahu bahwa dari semua orang yang kukenal … kau yang paling pendek. Yah, begitu."

Shouyou mendorong lengannya keras-keras, membuat Kei sedikit kehilangan keseimbangan dan hampir menabrak sisi lemari. "Yachi-san lebih pendek dariku, tahu!"

"Tapi itu ukuran wajar buat perempuan,"

"Noya-san lebih pendek dariku!"

"Iya deh, aku berlebihan." Kei tertawa menyeringai. "Alasan yang sebenarnya sih, karena tidak ada yang pernah masuk ke rumah ini kecuali keluargaku dan kau. Selain itu, aku tidak pernah berpikir kalau kau akan datang ke sini juga. Nanti aku buatkan gantungan yang baru deh, yang tingginya segini." Kei menjepit batang hidung Shouyou dengan gemas, dan melarikan sebuah ciuman di antara alis Shouyou setelahnya.

"Aku mau ganti baju dulu, kausku lembap."

Tiba-tiba sebuah ide melintas di benak Kei. Sebenarnya tidak bisa dibilang ide dadakan yang baru muncul begitu saja, sebab hal ini sudah ada di dalam kepalanya sejak lama dan baru bisa ia ingat sekarang. "Shouyou, aku punya ide bagus."

Shouyou memicingkan mata, iris oranye itu memandangnya penuh curiga. "Aku tidak mau dengar,"

"Eh, aku serius ini ide bagus."

"Apa?"

Kei membuka lemari pakaian, mengambil sebuah kaus raglan biru berlengan pendek dengan sablonan logo JAXA yang menempel di dada kanannya. Shouyou menerima kaus itu dengan wajah bingung. "Ganti pakai itu saja." Kei tersenyum, memamerkan balok-balok putih yang berderet sempurna.

"…kenapa?"

"Ya … tidak kenapa-kenapa."

"Ya sudah, celananya mana?"

"Eh, untuk apa pakai celana? Kaus itu bisa menutup sampai atas lututmu kok. Pakai celana dalam saja cukup."

"Kei, jika yang kau inginkan adalah aku, melakukan pertunjukan kare-shirt dengan kaus berlogo salah satu agensi pemerintah di bidang antariksa, maka … kau memang punya fetish yang aneh."

"Lakukan saja, bawel."

"Ini musim dingin, demi Tuhan! Dan kau menyuruhku untuk tidak pakai celana, dasar sinting!"

Kei mengambil sebuah remote kecil di atas meja kerja, menaikkan suhu kamarnya beberapa derajat. "Problem solved." Cengiran itu kian melebar, Kei tahu bahwa sifat malu-malu tidak akan mengabulkan keinginan apapun.


Shouyou tidak bisa menyembunyikan rasa malunya ketika melangkah masuk ke dalam kamar Kei dengan kaus JAXA super besar yang membungkus tubuhnya. Terlebih lagi, Kei memandanginya dengan rahang yang menggantung seolah-olah waktu telah terhenti dalam dunianya. Mata itu menatapnya dari leher, dada, hingga turun ke kaki. Shouyou merasa ingin bersembunyi di balik lemari atau belakang gorden karena tatapan mata Kei seperti menelanjanginya di tempat.

"Berhenti melihatku dengan tatapan seperti itu."

"Seperti apa?"

"Ergh … ayolah," Shouyou berdecak.

"Seperti terangsang, begitu?"

"Kei! Mulutmu kotor sekali!"

"Itu namanya dirty talk, ah, kau ini seperti remaja ingusan saja."

Shouyou duduk di samping Kei, menarik ujung keliman kaus agar bisa menutup lututnya. Ia tak habis pikir kenapa kaus ini begitu besar. Sebelumnya Shouyou tidak pernah memerhatikan perbedaan ukuran tubuh antara dirinya dan Kei, ia kira hanya beda di tinggi badan saja.

"Sumpah ya, apa yang menarik dari melihat seorang laki-laki sepertiku memakai baju kebesaran begini? Aku bukan cewek,"

"Aku juga tidak menganggapmu sebagai perempuan. Mana ada perempuan barbar begini,"

Shouyou menepuk pinggangnya keras-keras, Kei meringis. "Pahaku keras, berotot pula. Mana enak dilihat."

"Yah, namanya juga paha laki-laki."

"Tinggimu berapa sih sekarang?"

"Terakhir aku cek, sekitar 198 sentimeter. Sudah kuusahakan supaya tidak nambah lagi."

"Memangnya astronot boleh tinggi begitu? Bukannya nanti akan sempit sekali kalau kau harus naik pesawat macam soyuz atau orion itu?"

Kei menjengitkan alis, kaget pada pemahaman Shouyou mengenai ukuran Soyuz. "Kau tahu soal soyuz?" tanyanya sambil terkekeh.

"Tahu, yaaaa … aku iseng cari-cari infonya di internet. Iseng saja sih,"

"Muat, meskipun kelihatannya kecil tapi pesawat itu bisa menampungku selama aku menekuk lutut. Lagipula, kita tidak selalu menggunakan pesawat kecil seperti itu kok. Oh iya, Senin depan, aku ikut ujian kualifikasi astronot."

"Tidak lama lagi dong?"

"Apanya?"

Shouyou menunjuk langit-langit, "Ke atas sana,"

"Itu lagi," sudut mata Kei berkerut saat ia tersenyum, menyamarkan garis-garis lelah di wajahnya yang kecokelatan. Sebuah senyum yang mengingatkan Shouyou pada salah satu alasan kenapa ia mencintai lelaki ini.

"Kalau begitu, kebetulan."

"Kebetulan apa?"

Shouyou beranjak dari tempat tidur, mengambil ranselnya dan mengeluarkan sebuah kantung kain kecil berwarna hijau yang telah diikat dengan tali hitam. "Aku bawakan ini untukmu."

"Gelang?" Kei mengacungkan sebuah gelang dengan manik-manik berwarna hitam. "Kenapa?"

Shouyou memakaikan gelang itu di tangan kiri Kei, dan serta-merta menggenggamnya. Warna hitam itu begitu kontras dengan kulit Kei, hanya saja ukurannya sedikit sempit kendati bertali karet. "Ini jimat untuk perlindungan, tadinya aku mau ambil batu turquoise tapi warnanya tidak akan cocok denganmu. Jadi, aku ambil yang ini. Kau menyukainya?" ia menggigit bibir bawah, mengantisipasi jawaban. Sejujurnya, Shouyou takut jika Kei sampai mengomentari bahwa gelang ini mirip dengan apa yang dipakai dukun-dukun.

"Aku terlihat seperti dukun."

"A-ah … kau benar…"

"Tapi aku menyukainya. Thanks."

Para kupu-kupu itu bersorak riuh di dalam perutnya, seolah Shouyou telah mencetak sebuah prestasi mengagumkan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih sebuah gelang dan merecoki penjaga toko mengenai makna batu mulia. Kei terlihat sangat senang, ia mengangkat tangannya ke udara, memandang kilap gelang-gelang itu di bawah cahaya lampu. Wajahnya jadi seperti remaja berusia enam belas tahun lagi.

"Terima kasih," Kei mengecup buku-buku jari Shouyou yang dingin, kemudian titik nadi di pergelangan tangan dan batang lehernya. Ia tahu bahwa ini adalah sebuah undangan, dan Shouyou tidak berniat untuk menolak sekalipun langit di luar masih terang.

Shouyou hanya balas menatapnya, terhanyut dalam api yang berkobar di mata Kei yang kecokelatan. Tautan tangan mereka terlepas, Kei menangkup bagian belakang leher Shouyou dan menariknya mendekat. Sudut-sudut bibir Shouyou dikecup Kei dengan pelan, mensyukuri tiap ciumannya, dan sejurus kemudian ia menarik diri untuk menatap Shouyou lekat-lekat. "Kau tidak akan mendorong wajahku lagi 'kan?"


Shouyou membuka matanya dengan sedikikt gerutuan. Tubuhnya terasa lemas sekali seperti lemak susu kental. Ia menguap dan meregangkan tubuhnya. Saat itulah kakinya menyapu kekosongan di sisi kiri tempat tidur.

"…Kei?"

"Ya?"

"Jam berapa sekarang?"

"Jam sebelas."

Dilihatnya Kei tengah duduk bersila di atas karpet, mengenakan kaus polos berwarna putih dan celana kolor, rambutnya yang pirang nampak kisut. Shouyou beringsut, mendekatkan tubuhnya dengan tepian ranjang dan menindih telungkupan tangan di sana. Kei sedang membersihkan lensa-lensa—entah dari kamera atau teleskop—yang berserakkan di lantai kamar. Ia membesut tepian lensa menggunakan lap seukuran sapu tangan, sesekali mengangkatnya ke udara, memastikan kejernihan dengan bantuan cahaya bohlam kamar.

"Kau sedang apa?" pertanyaan yang jawabannya bisa mudah ditemukan hanya dengan melihat, tapi siapa peduli.

"Membersihkan lensa kameraku."

"Kau punya kamera?"

"Duh, siapa sih yang tidak punya kamera di zaman sekarang?"

Shouyou mengangkat sebelah tangannya ke udara.

Kei tertawa mengejek, "Kau serius?"

"Dulu aku punya, tapi dicolong orang. Jadi malas untuk beli lagi."

"Ya ampun. Aku curiga para pelaku kriminal sering mengiramu sebagai anak SMP, karena itu mereka selalu mengincarmu."

"Sepertinya aku harus menumbuhkan janggut dan kumis, supaya tidak ada yang salah paham lagi."

"Itu hanya akan membuatmu terlihat seperti kurcaci di film putri salju."

"Sialan!" sembur Shouyou dengan tawa. Ia berdiri, membelitkan selimut di tubuhnya dan mencari baju ganti di lemari Kei. Lutut dan batang lehernya bak menjelma agar-agar. "Aku tidak tahu kalau kau suka fotografi," komentarnya lagi sembari mengambil sebuah kaus lengan panjang yang menggantung.

"Tuntutan pekerjaan saja kok. Aku pakai semua ini untuk astrofotografi kalau sedang ekspedisi ke luar ruangan, jarang kupakai makanya berdebu seperti ini."

Shouyou berdiri di hadapannya lalu duduk, dan memberikan ciuman kecil di puncak kepala Kei. Saat itu Kei baru selesai dengan lensa terakhirnya. "I like you in my clothes." Bisik Kei saat hidung mereka bertabrakan.

Shouyou tersenyum, hidung mereka masih saling menggisil, eskimo kisses yang kelampau cheesy. "Aku suka memakainya."

Ciuman-ciuman yang mereka bagi selalu bersifat domestik, singkat dan lembut dan manis dan terasa seperti suatu hal yang melayang di antara angan-angan dan tak mungkin menjadi kenyataan, tapi.

Di sinilah mereka sekarang.