A/N : Capshuzzz balas review~

Yue. Lawliet :

Neh? Harus udahan dong, tanganku kan pegel ngetiknya -3-~

Earl Louisia vi Duivel :

Bukan sedikit lagi, tapi emang tersadar nee san. :D

Yah, pokoknya begitu deh. Minato sih urusan belakangan #plakkk!

kkhukhukhukhudattebayo :

Dari hasil searchingan di google sih, iya.. kepribadian ganda itu bisa muncul seenaknya dan tak terduga. Tapi tentu saja ada kepribadian yang terkuat serta terlemah.

Karena itu, akan terjadi kesenjangan memori yang menjadi masalah bagi Naruto.

Kebanyakan pertanyaanmu kejawab di sini meski untuk Sasuke dan Suigetsu juga Shikamaru masih simpang siur :B #plakk!

devilojoshi :

Shukaku dan Gaara itu orang yang sama, Gaara itu dipanggil Shukaku atau Ichibi karena itu mananya jika dalam Jinchuuriki.
Jadi bukan kepribadian ganda kok.

Untuk Kyuubi, dia digerakan oleh nafsu. Dan nafsu itu banyak jenisnya, Nafsu dalam seksual, nafsu dalam emosi, nafsu jasmani dLL.

SN disini merajalela,,, so silahkan nikmati~

Kushina, ada alasan aku nggak mau kasih tau siapa dia dulu. Yang pasti dia itu bekerja dibidang penegak hukum.

Icha Clalu Bhgia :

Assasinnya ya... err.. nggak tau #dibantai

Kitsune? Apa benar itu Kitsune?

nah, itu kamu tahu kalau tujuannya kearah mental Naruto. XD

MyLullaby's :

Ouwkeh!

Kar Chan 56 :

Aku aja pasti cengo kalau tiba-tiba ada disuatu tempat yang padahal kita taunya kalau kita lagi berada disini dan tiba-tiba ada di sana #ngomongapasih?!

Yamaguchi Akane :

Kujawab dikit deh, yang masalah Kyuubi, dia digerakan oleh nafsu.. jawabannya liat di atas dibalasan buat devilojoshi.. aku males ngetik ulang. #ditonjok rame-rame.

Yang petik itu, iya bisa dibilang begitu *nggakjelasbangetniejawaban!*

tetchan :

Aku juga suka gaya rambutnya Kimimaro~ #tosh!

begitulah, Kyuubi itu memang penuh kesadisan. Dia itu licik.

nashya :

Lebih suka Naruto jadian sama Gaara?

Tapi ini kan SasuNaru -3-~

Dan dichapter ini juga Gaara nggak nongol sama sekali,, kasian.. dia lagi istirahat. Cape digebukin sama Naruto mulu *lo kan yang biki cerita dodol?!*

Nitya-chan :

Owhkeh!

Kinana :

Kyuubi?

No comment. -_-

#balesan review apa ini?!

Pokoknya untuk Kyuubi aku cuma bisa bilang no comment sekarang.

Yu :

Chapter ini SasuNaru merajalela kok ^^

TheBrownEyes'129 :

Iya~ nih dilanjut! :X

hnn :

Apa benar itu Kitsune?

Untuk Kushina, aku no comment dulu :X

Icah he :

Ok juga deh :d

seiya aya :

Iya nih dilanjut~ ^^/

Untuk seluruh periviewers,, arigatogozaimasu sudah meriview fic gaje ini XD

Langsung aja ya, eh tapi ada yang kelupaan... chapter kemarin kan udah kubilang kalau yang muncul hanya Kyuubi dan di akhir nyelip Naruto.

So, mengerti kan maksudku O,-~

Lets Enjoyed ttebayo!

Naruto : 17 tahun

Sasuke : 23 tahun ======== Kushina : 44 tahun(tua amat)

Sasori : 31 tahun ========Minato : 45 tahun

Deidara : 22 tahun ======== Pain : 22 tahun

Itachi : 24 tahun ======== Iruka : 22 tahun

Gaara : 17 tahun ======== Suigetsu : 21 tahun

Kiba : 17 tahun ======== Karin : 22 tahun

Shikamaru : 24 tahun ======== Neji : 24 tahun

.

Disclaimer : Naruto punyanya Kishimoto sama, juga milik baka teme

Genre: Romance, Family,Crime.

Rated: semi-M for this chapter

Pairing: SasuNaru

slight : NaruGaara(?), SasoDei dan lain-lain.

Warning: yaoi, BoyXBoy, sho-ai, BL, Alur kadang cepat kadang lambat, Alur maju mundur, Typo(?), bored, aneh, gaje etc.

Don't like don't read this ok?

Chapter 13 #angka kramat nih!

Sreeg!

Hampir saja Suigetsu berjengkit, menjerit dengan tidak elitnya saat pintu belakang mobil tempatnya sekarang dibuka dengan tiba-tiba oleh pemuda bersurai hitam dengan masker ketat yang menutupi wajahnya. Seenaknya nyelonong masuk dalam van yang jelas-jelas sudah sempit untuk dirinya saja.

"Bilang-bilang kalau mau kembali Sasuke!" Ucapnya kesal. Semakin kesal saat pemuda bersurai hitam di depannya mengacuhkan ucapannya barusan.

"Dimana ponselku." Alis suigetsu terangkat, sikap pemuda di depannya sedikit aneh.

"Ditasmu." Jawab Suigetsu seperlunya. Mata keunguannya melihat Sasuke yang langsung menyambar tas ransel hitam di atas laci kecil dekat komputer. Tangannya meraba-raba ke dalam tas hingga menemukan apa yang dicarinya.

Ponsel hitam yang kini tengah bergetar dan berkedip berkali-kali. Dilayar ponsel itu tertulis jelas nama kontak seseorang yang membuatnya tidak tenang.

'Dobe.'

Klik!

"Ha –halo! Seseorang –Paman Iruka... tolong aku!" Alis Sasuke menaut, yang didengarnya memang suara Naruto tapi, kenapa anak itu terdengar seperti ketakutan?

"Kumohon... a –aku... takut!"

"Naruto?" Hampir saja Sasuke bertanya dengan nada bingungnya.

"Sa –Sasuke? Sasuke tolong aku!"

"Kau kenapa dobe? Ada apa?" Tanya Sasuke, berusaha tetap tenang.

"Aku –aku tidak tahu! Aku tidak tahu ini dimana... Sa –Sasuke... tolong aku... semuanya tidak kukenal di sini!" Panik, suara Naruto begitu terdengar ketakutan ditelinga Sasuke.

Apa yang harus ia lakukan? Apa benar yang didengarnya ini? Naruto ketakutan? Tapi bagaimana dengan waktu itu, seringaian yang seperti mengejeknya. Wajah yang nampak begitu menyiratkan kepuasan karena telah berhasil menipunya? Wajah seorang Kitsune –

"Aku t –takut... semua orang di sini selalu menyebutku K –Kitsune... Sa –Sasuke hiks... aku mohon... tolong aku..."

Sasuke diam, ia berpikir apa yang seharusnya ia lakukan. Apa ini lagi-lagi sebuah tipuan? Tapi sirat ketakutan dalam suara itu sangatlah nyata, tapi bukankah ini juga sama dengan pertama kali ia mengenal Naruto. Sosok periang, seorang bocah labil yang berisik dan selalu membuatnya kesal, lalu ia mengenalnya lagi dengan sosok lain... Kitsune.

"S –Sasuke?"

"Jangan tutup teleponnya Naruto, aku akan ke sana." Semoga keputusannya kali ini benar. Menemui sang ketua Jinchuuriki, yang entah... permainan apa lagi yang akan dilakukan sang ketua kepadanya.

"B –baik!"

Apa ini sebuah lelucon? Sasuke berharap ini benar sebuah lelucon, karena sekarang ia bingung. Sangat bingung dan otaknya kini bisa dikatakan tak mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan ia masih tak percaya dengan pendengarannya, dari sambungan telepon yang masih menyala. Samar, Sasuke dapat mendengar beberapa orang yang berteriak dan menggedor sesuatu yang terbuat dari kayu juga suara napas memburu Naruto.

"Suigetsu."

"Ha'i!" Suigetsu bergidik melihat tatapan dingin Sasuke.

"Dimana mobilku?" tanya Sasuke.

"Aku memarkirkannya di gedung seb –"

Sreeg!

" –rang..." Mata keunguan itu mengerjap sebelum tersadar akan pemuda di sampingnya yang sudah tidak ada di dalam mobil. "Shit!" Dengan segera ia keluar dari mobil dan melihat pemuda bersurai hitam yang saat ini tengah menyeberangi jalanan yang cukup sepi.

"Sasuke! Hei! Pakai softlensmu, kau mau membuat semua orang ketakutan dengan mata merahmu itu! Chikuso! Apa sih yang dipikirkannya!" Suigetsu meninju pelan pintu van putih di sampingnya, matanya berkilat kesal karena sang Uchiha bungsu yang tak mendengarkan ucapannya.

"Cih! Aku tidak tanggung jawab kalau Uchiha bangkotan itu memarahimu." Dengan wajah kesal ia kembali masuk ke dalam mobil. Tidak mau tahu lagi apa yang akan terjadi pada bos sekaligus temannya itu.

.

.

.

Disisi lain, Sasuke tengah mengarahkan pandangannya keseluruh penjuru tempat parkir. Ia menyalakan alarm mobilnya dan menemukan sebuah mobil hitam yang berbunyi tak jauh darinya. Dengan segera ia melangkahkan kakinya mendekati mobil itu, menonaktifkan alarm mobil dan membuka pintu depan mobilnya. Tangannya meremas kencang setir di depan tempat duduknya. Ini tidak bagus, entah mengapa tubuh dan pikirannya seolah bergerak sendiri hanya karena mendengar suara ketakutan pemuda bersurai pirang itu.

'Naruto.'

Secepat kilat mobil itu melaju meninggalkan tempat parkir, membanting setir dibelokan pertama dan terus melaju menyusuri jalanan sepi dikegelapan malam. Instingnyalah yang yang membawa ia kemana sekarang. Tujuannya, dimana Naruto berada.

.

.

.

.

Napasnya memburu, ia lelah karena terus saja berlari sejak tadi hingga ia menemukan satu pintu yang tak terkunci. Tak ragu lagi, ia membuka pintu itu dan langsung memasuki ruangan yang entah ia tidak tahu ruangan apa. Yang penting ia bisa sembunyi, menghindar dari seseorang yang terus saja mengejarnya.

Ia jatuh terduduk dilantai dingin berkeramik merah ruangan itu, tubuhnya gemetar. Bingung, takut. Semuanya bercampur menjadi satu, ia sungguh tak tahu sekarang dirinya ini berada dimana, orang-orang yang dilihatnya tadi siapa dan kenapa ia bisa berada di sini.

Dengan tangan gemetaran, Naruto meraba kantung celana. Tempat dimana ia biasa menyimpan benda yang selalu dibawanya, berharap benda itu ada bersamanya saat ini dan ketika ia menyentuh gundukan sedang dicelananya, ia segera mengambil benda itu.

Ponsel orangenya.

Tok tok tok!

"Kitsune, kau ada di dalam? Biarkan aku masuk!"

Jantung Naruto berdetak lebih keras, laki-laki itu menemukannya. Dengan sembarang ia memencet tombol panggilan keluar diponselnya, menghubungi siapa pun yang bisa ia hubungi. Beberapa saat ia hanya menengar nada panggilan masuk yang semakin lama semakin membuat keringat dingin ditubuhnya semakin banyak keluar.

'Kumohon, siapa pun...'

Sesaat setelahnya, panggilan itu menyambung. Namun hanya kesunyian yang dididengarnya.

"Ha –halo! Seseorang –Paman Iruka... tolong aku!" Ia berucap dengan tergesa, penuh kepanikan saat ketukan pintu di belakang punggungnya semakin kencang "Kumohon... a –aku... takut!"

"Naruto?" Dan suara baritone yang familiar ditelinganya sedikit membuat Naruto berharap.

"Sa –Sasuke? Sasuke tolong aku!"

"Kau kenapa dobe? Ada apa?"

"Aku –aku tidak tahu! Aku tidak tahu ini dimana... Sa –Sasuke... tolong aku... semuanya tidak kukenal di sini!" Panik, suaranya bahkan terbata hanya untuk menjawab pertanyaan dari pemuda onyx yang dikenalnya itu.

Ketakutannya kembali saat tak ada suara di seberang sana, hanya keheningan yang membuat matanya memanas. "Aku t –takut... semua orang di sini selalu menyebutku K –Kitsune... Sa –Sasuke hiks... aku mohon... tolong aku..." Dan satu isakan lolos dari bibirnya, bersamaan dengan setetes cairan bening yang mengalir dipipinya.

"S –Sasuke?"

"Jangan tutup teleponnya Naruto, aku akan ke sana."

"B –baik!"

Setelahnya Naruto hanya mendengar suara teriakan yang tidak begitu jelas di seberang sana, juga derap langkah kaki –yang ia yakini itu Sasuke- terdengar tergesa-gesa.

'Kumohon, cepatlah Sasuke...'

.

.

.

.

.

CKIIIIIT!

Sebuah mobil hitam terlihat mengerem tajam, hampir menabrak gerbang besar vila –atau katakan saja mansion besar di tengah rimbunan pohon lebat yang mengelilinginya. Kaca samping mobil itu terbuka, menjulurkan kepala bersurai hitam yang menatap tajam CCTV di samping gerbang. Tanpa mengucap apapun, siapa pun orang yang melihat tatapannya kini pasti segera membuka gerbang besar yang menghalangi mobilnya. Meski tak ada yang membuka, maka dengan sangat ikhlas Sasuke akan mendobrak, menabrak gerbang besi itu dengan mobilnya.

Brrmm!

Ia kembali memacu mobilnya saat gerbang di hadapannya sudah terbuka. Tak mau membuang waktu, Sasuke memarkir sembarang mobilnya. Tak mempedulikan beberapa orang yang langsung bergegas menghampirinya yang 'bertamu' tanpa permisi dikediaman mereka.

"Uchiha sama, ada keperluan apa anda kemari?" Seorang diantara mereka berdiri dihadapan Sasuke, terlihat ramah namun tentu saja Sasuke melihat 'teman-teman'nya yang bersiap dengan senjata di belakang punggung mereka.

"Minggir." Sasuke berucap dingin, matanya yang kini terbingkai kacamata hitam menatap nanar laki-laki yang menghalangi jalannya.

Bergidik ngeri, itulah yang dirasakan orang-orang itu saat mendapatkan tatapan begitu mengancam dari salah satu penerus Uchiha itu. Mereka tahu jika, tidak akan pernah menang melawan sang Uchiha mengingat jabatan mereka yang hanya seorang bawahan rendah Jinchuuriki. Yang ada, mereka hanya akan mati konyol jika menentang Uchiha.

"Maafkan kami, tapi kami tidak bisa –"

DUAGH!

Orang itu terpental lebih dari tiga meter sebelum punggungnya menghantam telak pintu depan mansion, membuat pintu itu di belakangnya terbuka dengan paksa.

"AKH!"

Pandangan mereka berubah horror seketika saat melihat kuatnya hantaman tinju sang Uchiha. Kaki-kaki mereka tanpa sadar melangkah mundur, takut dan tidak ingin bernasib serupa dengan teman mereka yang kini terlihat tak sadarkan diri.

Tak ada lagi yang berani mendekati Sasuke, semuanya menjaga jarak dari pemuda itu. Mereka hanya bisa mengikuti langkah kaki Uchiha itu dari kejauhan, walau bagaimana pun mereka tak bisa membiarkan orang Akatsuki seenaknya masuk dalam markas mereka.

Beberapa orang itu nampak berbisik-bisik yang Sasuke tahu pasti mengenai dirinya, tapi ia tidak peduli. Sekarang ini ada yang lebih penting, pemuda pirang yang semakin ia dengar napas ketakutannya dari headset yang terpasang disebelah telinganya.

"Sasuke..."

"Bertahanlah, sedikit lagi aku menemukanmu Naruto."

"O –orang-orang itu bilang akan mendobrak p –pintu." Shit! Sebenarnya dimana pemuda pirang ini berada! Ia benar-benar lupa jika ruangan di dalam mansion ini terlihat sama, hanya depannya saja yang dibuat berbeda.

'Dimana dia!'

"Kitsune! Buka pintunya! Berhenti main kucing-kucingan denganku Kitsune!"

Mata Sasuke memicing, ia mendengar suara teriakan tak jauh dari tempatnya sekarang. "Bawa aku ketempat Kitsune." Nada dingin itu mampu membuat beberapa bawahan Jinchuuriki yang sejak tadi mengikutinya menahan napas takut. "Sekarang."

Bodoh? Konyol? Apa lagi yang bisa Sasuke katakan untuk tindakannya yang semberono ini. Menerobos masuk markas Jinchuuriki? Membuat keributan? Dan Kini, saat melihat laki-laki dengan rambut merahnya tengah menggedor pintu di depannya. Sasuke malah mendorong pria itu menjauh –dengan sekuat tenaganya. Ia sempat melihat keterkejutan diwajah yang biasanya tanpa ekspresi itu sebelum teralih pada pintu coklat yang ada dihadapannya kini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sasori terkejut, matanya menatap sosok Uchiha bungsu yang baru saja dengan gampangnya mendorong ia hingga terjeblag ke belakang. Terkejut dengan kekuatan sang Uchiha, terlebih –apa yang dilakukan Uchiha Sasuke ditempat ini?

"Naruto." Sasuke tak mempedulikan orang-orang disekitarnya yang menatap ia dengan pandangan bingung dan sekaligus terkejut. "Naruto, ini aku! Buka pintunya!"

Sasori terdiam, iris coklatnya terus memperhatikan apa yang dilakukan Uchiha Sasuke. Matanya sedikit menyipit saat mendengar nama asing namun begitu familiar ditelinganya. 'Naruto?' Batin Sasori, menyebutkan nama yang dipanggil Sasuke.

"Sa –Sasuke? Sasuke!"

Iris coklat itu mendelik saat mendengar suara ketuanya dari dalam ruangan yang sejak tadi terkunci. Suara yang terdengar penuh kelegaan? Apa benar itu Kitsune? Ketuanya?

"Keluarlah Naruto."

Cklek...

"Sasuke..." Terhenyak, entah kenapa perasaannya terasa begitu tak menentu saat mata dibalik kacamata hitamnya melihat sapphire –yang entah sejak kapan ia kagumi- itu dihiasi warna merah, ditambah dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetarnya.

Sasuke menggeretakan giginya, ia dengan cepat menarik pemuda bersurai pirang di depannya dalam dekapannya. Shit! Sasuke benar-benar ingin mengumpat, menyumpah serapahi apapun yang bisa ia salahkan sekarang. Bocah ini pasti tengah menyeringai mengejek melihat kelembekannya ini.

"Kitsune?"

Tangan tan yang berada didadanya meremas kencang jaket hitam yang ia kenakan saat laki-laki bersurai merah –yang Sasuke ketahui adalah tangan kanan Kitsune- Sasori memanggil 'nama' pemuda dalam dekapannya.

"Aku akan membawanya pergi." Itu sebuah pernyataan dari Sasuke, yang artinya suka atau tidak, ia tetap akan membawa pemuda pirang ini pergi dari tempat ini.

Diamnya Sasori bukan berarti dia mengizinkan seorang Uchiha Sasuke membawa pergi ketuanya, terbukti dari sebuah pistol yang kini teracung lurus pada pemuda bersurai hitam itu. "Siapa bilang kau boleh pergi Uchiha san? Atau... boleh kubilang, siapa yang mengizinkanmu pergi membawa Kitsune, Uchiha san?"

Sasuke menatap datar laki-laki berwajah bayi itu, datar dibalas dengan tak kalah datar. Membawa Naruto pergi bukan sebuah permintaan, dan karena itulah sebuah pistol terarah pada Sasori.

"Hentikan kalian berdua!" Wanita dengan surai pirangnya yang pucat terlihat menghentak-hentakan langkahnya, berjalan cepat pada dua laki-laki yang tengah mengadu moncong pistol mereka masing-masing. "Turunkan senjata kalian sebelum aku yang akan membuat kepala kalian berdua dipenuhi lubang!" Teriak wanita itu lantang, tak ada ancaman namun kata-katanya itu akan menjadi nyata jika kedua pria di depannya ini tak juga menurunkan senjata mereka.

Sasuke dan Sasori saling pandang sebelum menurunkan senjata mereka bersamaan.

Setelah yakin kedua pria di depannya tak lagi mengokang senjata, wanita itu –Shion menatap Sasori. "Sekarang, apa yang terjadi di sini?" Tanya menuntut penjelasan.

"Kau bisa melihatnya sendiri. Dan... kau yang seharusnya menjelaskan ini padaku Shion." Mengernyit, Shion menatap arah pandangan Sasori. Pandangan yang terarah pada dua orang pemuda –Uchiha Sasuke yang tengah mendekap ketua mereka dalam pelukannya.

"Apa yang kau lakukan di sini Akatsuki?" Tanya Shion dengan nada mencibir, ia memang tak pernah menyetujui kerjasama Jinchuuriki dengan organisasi itu. Namun, pandangannya seketika menajam saat melihat binar mata sapphire yang sedikit terlihat dari dada Sasuke. 'Tidak mungkin.' Seketika itu Shion berjalan mendekati pemilik sapphire itu, mendekati sang ketua yang semakin mengeratkan cengkramannya pada jaket Sasuke.

Mengetahui pemuda pirang dalam dekapannya kembali gemetar, Sasuke dengan refleks mengacungkan kembali pistolnya, membuat Shion yang berjarak dua meter darinya menghentikan langkahnya.

Shion menatap dingin pistol yang teracung padanya dan beralih menatap si pemilik senjata itu. Mata yang terbingkai kaca hitam.

Lalu senyuman hangat dengan segera menghampiri wajahnya, "Naruto kun! Kemarilah! Kau lebih aman jika bersama kami!" Ucapnya dengan nada penuh kecerian, semua orang di sana terlihat menatap bingung perubahan sikap wanita berumur 24 tahun itu.

"Kemarilah, tidak apa-apa!" Ucapnya lagi, kali ini dengan tangan terjulur. Menunggu sang pemuda pirang untuk menyambutnya.

"... 'Suke..." Ucapan itu lirih dengan gelengan pelan yang menyertainya.

"Aku pergi bersamanya." Sasuke melangkah menjauhi koridor yang kini ramai oleh beberapa bawahan Jinchuuriki yang berdatangan karena keributan kecil yang dibuatnya –bukan dia saja sebenarnya-. Melangkah dengan seorang pemuda yang ia dekap begitu protektif.

"Cih!" Shion berdecil penuh kekesalan, apa yang sebenarnya terjadi sampai bisa jadi rumit seperti ini. "Kau." Ia menunjuk Sasori, "Ceritakan semuanya. Dari awal dan jangan banyak bertanya karena aku juga tidak. tau. apa. yang. terjadi." Dan ia melangkah dengan wajah penuh kekesalan, tak mempedulikan orang yang ditunjuknya tadi tengah mengeluarkan hawa membunuh kearahnya.

"S –Sasori sama, apa ya –yang harus kami lakukan pada Uchiha sama yang membawa Kitsune?" Seorang bawahan Jinchuuriki bertanya dengan raut wajah ketakutan, seorang tangan kanan ketua mereka yang mengamuk? Mereka lebih rela mati bunuh diri.

Sasori memejamkan kedua matanya, "Biarkan mereka." Ucapnya sebelum melangkah pergi, mengikuti arah dimana Shion pergi. Jika wanita itu saja tidak tahu apa yang terjadi, maka sama saja artinya –ia tidak perlu atau katakan saja jangan melakukan apa pun untuk sementara. Termasuk pada sikap aneh sang ketua dan mengenai Uchiha Sasuke. Lepaskan untuk sementara.

.

.

.

.

.

.

Sasuke mengarahkan Naruto untuk masuk dikursi samping kemudi miliknya, ia mengacuhkan tatapan bingung juga marah yang tersembunyi pada wajah orang-orang disekelilingnya. Bingung dan marah, mungkin karena dirinya yang begitu seenaknya masuk dalam kediaman Jinchuuriki dan keluar dengan ketua mereka yang berada dalam dekapannya.

Masa bodoh dengan itu. Pemuda pirang yang kini duduk di sampingnya jauh lebih penting. Pemuda yang sekali pun tak mau melepaskan cengkramannya pada jaket yang ia kenakan. "Kita pergi dari sini Naruto." Tangan Sasuke membelai lembut rambut pirang didadanya dan membawa mobilnya melaju kencang meninggalkan teritorial utama Jinchuuriki. Mata dibalik kacamata hitamnya sempat melihat beberapa orang memakai topeng berdiri, dengan tubuh yang menghadap kepergiannya.

Para Jubi...

"Mataku ini~ masih~ berfungsikan! Tidak salahkan apa yang ku-lihat! Yeah!"

"Kau sudah buta dengan kacamata hitam yang selalu kau pakai itu dan jangan gunakan nada bodoh seperti itu. Menggelikan."

"Jaga sikapmu terhadap orang yang lebih tua, Sanbi."

"Bisakah kalian ini tidak terlalu tenang? Kitsune baru saja 'diculik'!"

"Kalian masih pemula~ this is modern rap! Pantat ayam itu mencu-ri-gakan!"

"Berhenti memakai nada menjijikan itu! Hachi-Ouji!"

"Lebih bersemangat~ San-Gaki!"

"Tombak terkuat Jinchuuriki seakan tak ada harganya jika kelakuan kalian seperti ini."

Laki-laki berkulit coklat gelap yang dipanggil Hachi-Ouji menoleh keasal suara, melihat seorang gadis berambut hijau pendek tengah menggigiti permen lolipop hijau besar ditangannya. "Ou~ Hai~! Fuu chan~!"

"Kau tidak sadar diri dengan kelakuanmu." Cibir seorang pemuda dengan iris mata ungunya yang menyala, luka seperti tersayat melintang vertical dimata kirinya hingga bawah rahang.

"Kau mengatakan sesuatu?" Gadis itu menolehkan kepalanya dengan tiada minat pada pemuda itu.

"Shichi. bi!"

"Hentikan pertengkaran so akrab kalian dan ikuti aku. Semua Biju dipanggil dewi sialan itu." Semua pandangan teralih pada suara barusan, dengan hampir serempak mereka menoleh ke belakang. Melihat seorang laki-laki berambur merah dengan pelindung kepala abu-abu yang menutupi batang hidungnya melangkah mendekati mereka.

"Ojii chan!" Fuu, gadis bersurai hijau tadi melambaikan tangannya pada laki-laki itu.

"Semua biju? Termasuk Ichibi dan Gobi yang tidak ada di sini." Utakata membenarkan sedikit hakama birunya saat Hachibi –laki-laki berkulit coklat gelap yang berdiri di sampingnya terus mencuri kesempatan membuka bagian atas hakamanya.

"Sudah kubilang aku laki-laki, berhentilah menarik pakaianku Bee." Ucapnya dengan –nada tidak peduli seperti biasanya.

"Boho~~~ng –"

Duagh!

"Berhenti bersenandung bodoh seperti itu Hachi-Ouji!"

"Itte...San-Gaki!"

"Sanbi! Bukan San-Gaki! Begini-begini aku sudah tujuh belas tahun tahu dan Saiken!" Pemuda beriris ungu itu menunjuk Utakata, "Jangan mentang-mentang Kitsune sama menyukaimu, kau bisa seenaknya!"

"... aku akan memanggil Shukaku." Ucap Utakata, kakinya melangkah menjauhi keempat orang yang nampak sebentar lagi akan saling menunjukan acara 'ribut-ributan'.

'Dan mencari tahu apa yang terjadi dengan Kitsune.' Batinnya, ia terus berjalan. Melangkahkan kaki berbalut hakama –bukan yukata seperti biasanya menyusuri halaman depan markas. Langkah kakinya terhenti saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Matanya menyipit saat lagi, untuk kedua kalinya hari ini seseorang bermarga Uchiha mendatangi tempat ini dan tidak sendiri, melainkan dengan seseorang bersurai pirang panjang yang ia kenal.

"Utakata?"

"Apa yang terjadi?" Tanya Utakata, matanya melirik laki-laki yang kini tengah menggendong pemuda pirang –Deidara.

"Kecolongan lagi. Aku harus melaporkannya pada Kitsune." Jawab Deidara, ia memberikan tatapan tajamnya saat Itachi membenarkan gendongannya tanpa peringatan. Alhasil luka dikakinya kembali mengucurkan darah segar. Sang Uchiha sulung hanya terlihat cuek bebek tanpa meliriknya sekali pun.

"Aku rasa untuk sementara Kitsune takkan bisa ditemui." Deidara mengerutkan dahinya.

"Dia... baru saja diculik? Oleh Uchiha Sasuke yang menerobos masuk ketempat ini." Ucap Utakata, terlihat kurang yakin dengan definisi 'culik' yang ia ucapkan.

Deidara langsung menatap satu lagi Uchiha yang tengah menggendongnya, "Kau tahu tentang ini un?" Pertanyaan bodoh, bukankah Itachi sejak tadi terus bersamanya? Itu sudah bisa dipastikan bahwa Itachi tidak tahu menahu tentang ini bukan?

"Apa yang diinginkannya dari Kitsune?" Tanya Itachi.

Utakata menggeleng pelan, "Tanyakan itu pada Shion, kurasa dia yang paling tahu mengenai hal ini." Jawab pemuda bersurai raven itu. "Aku harus pergi."

Itachi mengangguk dan mengembalikan pandangannya ke depan saat pemuda dengan hakama biru itu sedikit sudah jauh darinya.

"Sepertinya kau butuh penjelasan atas tindakan adikmu un."

Ya, Itachi memang membutuhkan penjelasan. Sasuke menerobos masuk markas Jinchuuriki, menculik –membawa Kitsune, sementara ia memerintahkan adiknya itu untuk mendatangi pesta salah satu pemegang saham di Uchiha Corp.

"Sama halnya dengan aku yang juga membutuhkan penjelasan un."

"..." Itachi diam, ia kembali melangkahkan kakinya memasuki pintu depan mansion –yang terlihat sudah lepas dari engsel atasnya-, ia mencoba mengacuhkan hal itu dan terus masuk.

Apa yang dilakukan baka otoutonya kali ini?

.

.

.

.

.

Mobil hitam yang membawa dua orang pemuda berbeda usia itu kini telah berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen mewah, terlihat dari banyaknya jejeran mobil yang memenuhi tempat parkir dilantai bawahnya. Dari BMW, sport, ferarri juga berbagai mobil modif yang sangat berbeda dari bentuk awalnya.

Kedua pemuda itu masih terdiam dengan posisi yang sama, pemuda bersurai hitam yang terus mengelus rambut pirang pemuda yang tak mau sekalipun melepaskan cengkraman pada jaketnya. Tak ada satupun dari mereka yang sekedar bertindak untuk mengakhiri posisi itu.

Tidak untuk pemuda bersurai pirang, tidak juga untuk Sasuke. Pemuda onyx itu kini tengah menatap arah depannya dengan pandangan seperti orang berpikir. Ia memang berpikir, berusaha menjernihkan pikirannya dari apa yang baru saja terjadi.

Mengulang menit demi menit rentetan kejadian hingga ia sampai di depan gedung apartemen ini, dengan seorang pemuda pirang yang sudah membuatnya mengalami galau tanpa ia sadari.

Menjalankan misinya.

Mendengar suara Naruto.

Pergi begitu saja.

Menerobos masuk markas utama Jinchuuriki.

Menemukan sang pemuda pirang yang ketakutan.

Membawanya pergi dari tempat itu.

Konyol.

Berapa kalipun ia memikirkan perbuatannya, itu terdengar sangat tidak masuk diakal. Terlebih, pemuda pirang itu –bocah dalam dekatannya ini adalah KITSUNE- apa ia sudah bisa dikategorikan gila sekarang.

"... 'Suke?" Sasuke melirik pemuda pirang itu saat namanya dipanggil, "Kita dimana?"

Lumayan lama Sasuke hanya diam dan menatap sapphire Naruto, ini memang sapphire bocah berisik itu. Sapphire yang sama saat Sasuke melihatnya beberapa hari –atau lebih tepatnya empat hari yang lalu.

"Apartemenku." Jawab Sasuke pada akhirnya.

"Apa... apa orang-orang itu..." Naruto menggigit bibir bawahnya, "Masih –"

"Hn, kita sudah jauh dari tempat itu." Binar kelegaan diwajah Naruto membuat Sasuke tersenyum tipis, ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa melengkungkan senyuman yang jarang bahkan hampir tidak pernah ia tunjukan itu.

"Bisa pindah tempat, kau membuat pahaku kesemutan." Alasan yang tidak bermutu, ia tahu. Tidak mungkin seorang Uchiha mengucapkan alasan bodoh macam kesemutan. Tapi, ini lebih baik dari pada harus mempertahankan posisinya lebih lama dari ini. Naruto mencengkram jaket bagian dadanya dengan... dengan siku yang bertumpu tepat diantara selangkangan Sasuke. Sekarang sudah tahu kan penderitaan sang Uchiha bungsu yang dipendamnya selama lebih dari satu jam ini. Siku yang tepat berada di atas selangkangannya. Sakit, rasanya. Tapi tentu saja tidak mungkin bagi seorang Uchiha mengucapkan hal itu. Haram. Bisa-bisa ia dikuliti leluhurnya jika mengucap kata 'sakit' hanya karena tekanan 'kuat' diselangkangannya.

Yah... yang 'kesemutan' bukan hanya pahanya.

Mata sapphire itu mengerjap, sedikit lama untuk memahami ucapan laki-laki di –di dekatnya?

Naruto terkesiap, ia dengan cepat melepaskan cengkramannya pada jaket Sasuke. Wajahnya terlihat menunduk, menyembunyikan semburat merah yang menjalar dipipinya.

Cklek...

Ia kembali menegakan wajahnya saat mendengar bunyi pintu yang dibuka, matanya melihat Sasuke yang sudah berada di luar mobil dan tengah memutari depan mobilnya untuk berganti membuka pintu mobil di sampingnya.

Cklek...

"Turun."

Kaki Naruto memijak dengan sedikit ringisan yang keluar dari bibirnya, ia hampir lupa jika dirinya sempat terjatuh karena menginjak jubah merah yang dipakainya ditempat –apapun tempat mengerikan itu.

"E –eh? Teme, a –apa yang kau lakukan?!" Ia terkejut saat Sasuke mengangkat satu kakinya dan menyibakan sedikit celana jeansnya hingga sebatas betis.

"Kau terkilir." Ucap laki-laki bersurai hitam di depannya –tunggu dulu, hitam?

"Naik kepunggungku." Sedikit bingung, Naruto mengikuti ucapan laki-laki itu. Ia naik kepunggung Sasuke dan melingkarkan tangannya dengan ragu dileher putihnya.

Kaki berbalut celana hitam Sasuke mulai melangkah menuju lift yang tersedia dibangunan apartemen di depannya. Ia memencet tombol lift itu dan menunggu hingga lift itu sampai di lantai bawah. Kakinya kembali melangkah saat lift di depannya terbuka, tidak ada orang. Hanya mereka berdua yang menaiki lift itu.

Suasananya terasa sunyi, kedua pemuda itu kembali diam dengan sesekali Sasuke membenarkan posisi gendongannya.

Ada yang mengganggu pikiran Naruto, pemuda bersurai pirang itu terlihat berkali-kali mencuri pandang pada laki-laki yang tengah menggendongnya kini. Bingung antara tanyakan atau tidak pada laki-laki itu. Sesuatu yang tak ia sadari sebelumnya karena langit malam yang menyamarkannya.

"Sasuke..." Tanyakan saja.

"Hn."

"Warna rambutmu, sejak kapan jadi hitam?" Hanya sepersekian detik Naruto merasakan tubuh tegap yang menggendongnya sedikit menegang sebelum kembali rileks.

"..." Bukankah ia ceroboh? Shit! Bagaimana bisa ia lupa tentang rambutnya. Sebegitu panik kah dirinya mendengar suara ketakutan Naruto sampai ia lupa untuk mencuci rambutnya?

Naruto menenggelamkan kepalanya dipunggung Sasuke saat ia yakin laki-laki itu tidak akan menjawab pertanyaannya. Ia juga terlalu lelah untuk berteriak dan menggerutu seperti biasanya. Hari ini terlalu melelahkan, ia hanya ingin... tidur.

.

.

.

.

Hanya tinggal belok kiri dan berjalan beberapa meter, maka sampailah ia di depan pintu apartemennya. Membuka pintu itu dan segera mengintograsi bocah yang tengah ia gendong dipunggungnya. Itulah yang Sasuke pikirkan sebelum ia mendengar hembusan napas teratur dan dengkuran halus dari bocah yang seharusnya ia tanya-tanya itu.

Dengan sedikit kesulitan Sasuke membuka pintu apartemennya yang mengharuskan ia menggunakan electric card dan kode angka. Sasuke mengumpat dalam hati, siapapun yang membuat 'kunci' pintu macam ini, ia pasti akan membunuhnya. Sayang ia tidak tahu penciptanya.

Tubuh Sasuke sedikit condong ke depan, menjaga pemuda pirang yang tertidur dipunggungnya agar tidak terjatuh sementara sebelah tangannya menggesek kartu di tangannya pada sisian pintu dan menekan beberapa angka. Pintu terbuka tepat setelah Sasuke menekan angka terakhir yang ia masukan.

Ia melangkah ke dalam apartemennya, rapi tanpa debu sedikitpun meski sejak ia membelinya dua tahun lalu. Terhitung Sasuke hanya tiga kali mampir ditempat ini. Tidak perlu tanya siapa yang membuat apartemennya terlihat kinclong bin bersih dari serba-serbi debu.

Mata Sasuke mengedar kepenjuru ruangan, rumah yang asing. Ia bahkan tidak ingat memilih warna merah mencolok sebagai tirai penutup jendela apartemennya, atau memang bukan ia yang memilih tirai itu. Kakaknya kah?

"Mmmhh..." Sasuke menolehkan kepalanya sedikit ke belakang saat ia mendengar erangan kecil dari pemuda pirang dalam gendongannya. Lebih baik tidurkan bocah ini dulu sebelum berpikir lebih jauh lagi.

Ia berjalan melewati ruangan depan apartemennya hingga matanya menangkap sebuah pintu putih disebelah kanannya. Satu tangannya membuka kenop pintu itu dan mulai melangkahkan kakinya masuk.

Trek

Seketika ruangan gelap yang dimasuki Sasuke berubah terang saat ia menapaki ruangan itu. Biru gelap mendominasi warna barang-barang di kamar itu. Mulai dari tempat tidur, lampu juga sebuah lemari berukuran besar yang juga berwarna biru gelap.

Sasuke berjalan mendekati tempat tidur besar di tengah ruangan, mendudukan dirinya perlahan-lahan di atas tempat tidur itu agar seseorang yang kini tertidur dipunggungnya tidak terganggu. Dengan perlahan, tangan Sasuke melepaskan tangan yang melingkar erat dilehernya. Membaringkan sang empunya yang sudah jauh terlelap di alam mimpinya, terlihat dari sedikit liur yang menetes di ujung bibir pemuda pirang itu. Anak-anak, benarkan?

Tangan Sasuke melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi membingkai matanya, membuat mata semerah darahnya terlihat kembali. Bukan tanpa alasan ia memakai kacamata hitam sepanjang ia pergi untuk 'menjemput' Naruto. Ia tak sempat –terlalu terburu-buru karena suara ketakutan yang menyergap telinganya membuat respon otaknya terasa begitu lambat dibandingkan refleks tubuhnya sendiri.

Tubuhnya yang bergerak tanpa sadar setelah mendengar suara ketakutan pemuda –bocah pirang yang kini tengah memejamkan matanya rileks di atas tempat tidur miliknya.

Entah kenapa ia begitu lega saat menemukannya baik-baik saja, menarik tubuh gemetar si pemuda pirang seakan ia begitu kesal melihatnya yang ketakutan.

Dan satu kenyataan membuat hal ini terasa janggal. Naruto adalah Kitsune, itu suatu kepastian yang ia dapat setelah melihat seringaian mengejek yang ditunjukan pemuda pirang itu padanya. Tapi sekarang, Naruto yang dilihatnya adalah Naruto yang ia kenal sebagai Uzumaki Naruto. Bocah berisik dan pengganggu yang dengan tiba-tiba masuk dalam kehidupannya.

Bocah ini seperti punya kepribadian ganda saja.

Seandainya saja Sasuke tahu itu memang kebenarannya. Bocah pirang di depannya memang memiliki banyak kepribadian.

Sasuke mendesah lelah, ini memang sudah terlalu larut. Bisa dikatakan hampir menjelang pagi saat matanya menangkap detikan jarum pendek yang sudah menunjuk angka dua. Pantas saja si dobe ini dengan mudahnya tertidur.

Ting tong

Suara bel listrik itu terdengar jelas ditelinga Sasuke, menandakan seseorang yang sudah ditunggunya sejak tadi telah sampai di sini. Ia kembali menatap pemuda pirang di atas tempat tidurnya sebelum beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki berbalut celana hitamnya keluar dari kamar biru tua itu.

.

.

"Jangan tanya. Aku lelah dan ingin tidur." Setelah mengucapkan satu kalimat pendek dan menyerahkan tas hitam sebesar buku, pemuda bersurai putih keunguan langsung melangkahkan kaki berbalut celana tidurnya memasuki dalam apartemennya. Wajahnya yang terlihat kantuk-kantuk dengan mata keunguannya yang semakin menyipit disetiap langkahnya, Sasuke hanya diam dan tak sekalipun berkomentar mengenai keadaan pemuda yang baru saja ia temui tiga jam lalu itu.

Brugh!

Sasuke melangkah acuh saat pemuda itu menambrak meja diruang tamunya, tak ada niatan ia untuk menolong atau sekedar memindahkan tubuh yang tergeletak miris di atas karpet biru tua yang menjadi alas ruang tamunya. Toh, dari penglihatan Sasuke. Pemuda itu sudah terdengar pulas dengan dengkuran –keras– yang ia dengar.

Sebegitu sulitkah bawahan sekaligus temannya itu untuk berjalan sampai kesofa hingga harus tertidur layaknya orang mati dibunuh begitu. Iiih, sebodoh amatlah ia tidak peduli juga.

Pintu kamar kembali Sasuke tutup dengan bunyi yang sekecil mungkin ia timbulkan. Tidak ingin menggangganggu atau pun sampai membangunkan seseorang yang... –seketika itu Sasuke merasakan bulir keringat dingin mengalir di belakang kepalanya, ia melihat pemuda pirang yang baru beberapa saat lalu ia tidurkan dengan posisi manis dan rapi kini sebelah kakinya sudah berada diujung satu tempat tidurnya dan sebelahnya lagi berada di kepala tempat tidur dengan tidak lupa kedua tangannya yang terbuka lebar disisi kiri dan kanannya.

Posisi tidur yang mengerikan... itulah pikiran Sasuke sekarang. Ia tidak menyangka jika seseorang 'seperti' Naruto mempunyai gaya tidur bak atlet dikejar anjing begitu.

Tidak perlu melihatnya jika kau tidak ingin kan? Tapi sayangnya, bagi Sasuke. Entah mengapa posisi dan tidur gaya bebas Naruto terlihat lucu baginya. Agak risih, namun tetap saja lucu karena yang melakukannya itu Naruto.

Kenapa jadi lucu jika Naruto yang melakukannya?

Pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul dibenaknya itu membuat alis Sasuke berkerut. Ia membenarkan pertanyaan itu, kenapa juga ia berpikiran itu lucu? Dan yang terpenting, apa yang ia pikirkan hingga ia berpikir posisi tidur Naruto lucu?

Bagus sekali. Ia sudah menjadi laki-laki aneh karena bicara pada dirinya sendiri.

Sasuke melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, mengusir tindakan bodohnya barusan dengan kembali pada tujuan awalnya memasuki kamar ini lagi. Tangan Sasuke menggeser pelan pintu kamar mandi di depannya, melangkahkan kakinya masuk dan kembali menutup pintunya.

Sasuke menatap cermin besar berukuran satu kali dua meter di depannya dengan pandangan datar. Mata merahnya yang berkilat tajam nampak memandang bosan pantulan dirinya dicermin itu. Melelahkan, apa setiap kali ia melihat wajahnya yang tampak selalu sama? Wajah mengerikan –tidak! Bukan karena dia jelek atau apa! Dia ini tampan, sangat. Tanyakan saja pada jutaan fansnya diseluruh dunia ini jika tidak percaya- yang selalu menyiratkan ancaman.

Jemari Sasuke menyisir asal rambutnya ke belakang, membuat jari-jarinya menyelip diantara helaian rambut hitamnya yang sebagian terlihat seperti luntur diantara sentuhan tangannya.

Langkah kakinya berjalan mendekati shower, menyalakan shower itu hingga tetesan-tetesan air dingin mulai membasahi tubuhnya. Tubuhnya yang dalam keadaan memanas saat itu juga mulai terlihat kembali rileks, tangan kanannya meraih tas hitam yang ia bawa tadi dan mengambil sebuah tabung bening dengan beberapa butir pil berwarna merah di dalamnya. Ia membuka penutup atas tabung itu dan mulai menelan semua pil merah itu tanpa air sekali pun.

Air yang jatuh dilantai putih kamar mandi berubah gelap, menjadi kehitaman dengan air yang terus mengucur menuruni kaki jenjangnya. Tangannya kembali menyisir rambut hitamnya, meremas pelan rambut yang terlihat mulai kembali pada warna aslinya sedang, warna hitam yang menyamarkan donkernya itu luntur menuruni kulit putihnya. Membuatnya amat kontras dengan air hitam yang mengalir disepanjang lekuk tubuhnya.

Tinggalkan Sasuke dengan kegiatan mandinya.

Karena sekarang,

–ada seorang laki-laki dengan rambut hitamnya yang dikuncir tengah memandang penuh kemurkaan dibalik topeng wajah lumba-lumbanya.

Menatap dengan penuh kengerian, ditambah dengan aura yang –sangat- tidak bersahabat yang membuat atmosfer ruangan besar bercat putih tempatnya sekarang berubah drastis menjadi tempat –layaknya film-film horror.

Siapa pun yang menerima tatapan itu, bisa dipastikan jika kematiannya akan datang didetik berikutnya ia bernapas. Dan, yang mendapatkan tatapan itu kini adalah seorang wanita bersurai pirang pucat dengan mata keunguannya yang berkilat indah menatap balik tatapan itu tanpa rasa takut.

"Jika kau berniat membunuhku, lakukan saja. Tapi kau tidak akan tahu dimana dia sekarang." Ujar wanita itu tenang, berucap dengan penuh tantangan pada laki-laki bertopeng lumba-lumba di depannya.

"Kau hanya akan melibatkan Kitsune, bukan yang lain. Itu janjimu." Ucap berat laki-laki itu, tak sekalipun dalam benaknya untuk menurunkan tekanan dingin diruangan itu.

Wanita berambut pirang –yang diketahui sebagai Shion menegakan duduknya, "Mana kutahu kalau bocah Uchiha itu datang dan membawanya pergi."

Buangan napas berat begitu terasa diantara geraman laki-laki di depannya, terlihat sekali jika laki-laki itu tengah berusaha –keras- menahan emosinya. "Tidak ada lain kali. Kitsune, sudah tidak ada lagi." Ucapnya tegas.

BRAAK!

"Aku bukan seseorang yang bisa bersabar Queen! Kau bukan babysitter'nya' yang bisa begitu saja memutuskan kemana dia merangkak, berjalan atau pun arah mana saat ia berlari!"

Sang laki-laki bertopeng lumba-lumba itu diam, mengacuhkan meja di depan tempat duduknya yang sudah terbelah menjadi dua. Ia tetap berusaha untuk lebih tenang. Bersikap tenang disaat seseorang yang seharusnya ia jaga kini malah ia tidak tahu keberadaanya, keadaan dari orang itu bagaimana. Apa ia ketakutan, panik dan memanggil namanya diantara isakan tangisnya.

Ia tidak mau membayangkan hal itu, karena jika bayangan itu menyentuh sedikit saja pikirannya. Maka ia akan sungguh-sungguh menghancurkan tempat orang itu.

"Kalian melupakan seseorang, atau memang tidak berniat untuk mengikut sertakan aku?" Laki-laki bersurai merah yang sejak tadi diam mendengarkan berbagai macam debat celotehan kedua orang di depannya, tidak tahan lagi untuk tidak menyuarahan isi pikirannya.

Sejauh ini, tidak ada penjelasan. Tidak ada sekedar berucap singkat untuk menjawab suatu keganjilan dipikirannya. Sesuatu mengenai ketua mereka, Kitsune. Dan Sasori tidak bisa menahan batas sabarnya lagi.

Ia sudah cukup banyak bungkam. Tidak mencari tahu, menutup semua informasi, menghentikan semua kegiatan tebak-tebakannya mengenai –siapa sebenarnya Kitsune. Karena wanita bersurai pirang pucat itu melarangnya, memastikan jika semua itu cukup dirinya saja yang tahu selama semuanya berjalan dengan lancar.

Ia sudah diam di'selama semuanya berjalan dengan lancar' hingga kini ia merasa ini tidak lagi dalam konteks lancar.

Ia tidak bodoh saat sekarang ia merasa telah ditipu oleh Shion. Dan otaknya masih bisa merespon, mengumpulkan serpihan-serpihan bukti yang membuatnya mengambil simpulan sementara.

Kitsune yang dikenalnya, bukan Kitsune yang sebenarnya.

"Kau dan aku membuat organisasi ini dengan sebuah kepercayaan yang tak terbantahkan Shion. Dan saat kau bilang menemukan sosok seorang yang pantas menyandang ketua, aku berharap banyak mengenai hal itu." Mata coklatnya melirik laki-laki bertopeng di samping depan kanannya. "Tanpa rahasia yang bisa memecah organisasi ini."

Wanita bersurai pirang pucat itu menggeram penuh kekesalan. Berapa orang lagi yang membutuhkan penjelasan darinya saat ini. Laki-laki bertopeng lumba-lumba di hadapannya, Sasori yang menatapnya dengan pandangan seakan menelanjangi isi otaknya. Atau dua laki-laki yang dengan seenak jidat mereka memasuki ruangan ini.

Dan, bagaimana ia harus memutar otak dan berkilah dari semua ini.

.

.

.

.

.

Sasuke menyibak tirai biru di ruangan yang juga serba birunya, membuat cahaya matahari yang sempat terhalang gelapnya tirai mulai menapak masuk dalam ruangan itu. Ia melirik tempat tidurnya yang tengah menjadi wilayah teritorial 'seekor' rubah yang nampak mengerang karena terganggu dengan silauan cahaya yang membuat tidurnya tidak nyaman lagi.

Tubuhnya menggeliat dengan tangan yang meraba-raba selimut yang berada disekitar kakinya dan menarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuhnya. Lalu, dengkuran halus kembali terdengar darinya.

Mata onyx Sasuke melirik jam dinding besar berbentuk bulat yang tertanam pada dinding dibagian kepala tempat tidur. Jarum pendeknya sudah menunjuk pada angka delapan, sudah pagi. Namun pemuda pirang yang ada di atas tempat tidurnya masih bergerumul di alam mimpi. Atau, ia biarkan saja pemuda itu tidur beberapa jam lagi. Mengingat Naruto yang tertidur jam dua pagi tadi.

"Oy, aku pinjam kamar mandi." Sasuke melihat seseorang yang baru saja memasuki kamarnya dengan pandangan datar. Pemuda bersurai putih keunguan yang nampak begitu terburu-buru memasuki kamar mandi diruangan itu. "Ah!" Kepala bersurai putih itu menyembul keluar dari pintu geser. "Aku tidak akan tanya kenapa Naru chan sampai ada di sini." Lalu menutup rapat pintu itu.

"Nggh... berisik sekali~..."

Onyxnya kembali beralih pada sosok di atas tempat tidurnya, memperhatikan bagaimana sosok itu mengucek matanya dan merenggangkan otot-otot ditubuhnya sebelum duduk bersila dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Pemandangan indah jika saja tidak ditambahi liur yang menggenang di atas kasurnya.

Sepertinya Sasuke harus memanggil cleaning service untuk membersihkan tempat tidurnya setelah ini.

"Jika nyawamu itu sudah terkumpul, pergi ke kamar mandi dan bersihkan liur diwajahmu itu dobe."

Mata kantuk Naruto mengerjap, baru saja ia seperti mendengar suara – "Gyaaaa! Teme, apa yang kau lakukan di kamarku!" Sasuke yang saat ini tengah melipat kedua tangannya di depan dada dengan tubuh yang menyandar pada jendela di belakangnya plus, cahaya matahari yang bersinar seperti menyelimuti tubuhnya.

'Malaikat...'

Tunggu, APA YANG DIPIKIRKANNYA BARUSAN!

Tidak. Tidak. Ia tidak berpikir pose Sasuke sekarang sempurna sekali dengan sinar matahari pagi. Kalau kemeja panjang berwarna putih yang dipakainya pas sekali dengan celana hitam longgar yang menutupi kakinya dan membuat ia seperti malaikat yang baru saja turun –NGGAK! Sumpah Naruto tidak berpikir begitu!

"Mengagumi apa yang kau lihat dobe?" Sasuke tidak bisa menahan senyum tipis diwajahnya saat melihat wajah Naruto yang terlihat begitu imut dikala ia berpikir, apalagi dengan bibirnya yang mengap-mengap seperti ingin mengatakan sesuatu itu.

Sekali lagi mata beriris sapphire itu mengerjap seakan baru saja menyambungkan kabel kehidupan diotaknya. Ia langsung menatap penuh ketajaman dengan matanya yang disipit-sipitkan kearah seekor ayam yang berdiri tak jauh darinya.

"Seakan ada saja yang bisa dikagumi dari dirimu!" Ucapnya senga, khas remaja labil yang tidak mau ketahuan menyimpan esek-esek berbau rating M di kamarnya.

"Wajah dobemu itu sudah menjelaskan semuanya."

Twich!

Kedutan besar bersarang didahi Naruto, lah siapa nih orang dari tadi mengatai dia dobe! Bukan dari tadi lagi, tapi sejak bertemu terus saja memanggil dia dobe. Benar-benar laki-laki pantat ayam yang begitu inginnya menerima kemplangan darinya.

Tidak tahu apa, jika seorang Uzumaki Naruto marah. Satu kota bisa gempar karenanya.

Gempar sih, tapi gemparnya karena suara cempreng bin pakai toa sepuluh biji yang dimiliknya.

Bosan menunggu otak kecil Naruto untuk menyadari dimana sekarang dirinya berada, Sasuke beranjak dari jendela dan berjalan mendekati tempat tidur miliknya. Ah... sedikit mempermainkan bocah berisik yang sedang amnesia sesaat ini tidak buruk juga kan?

Brugh...

"Ma –mau apa kau teme?" Naruto menarik selimut yang menutupi dadanya agar menempel lebih erat pada tubuhnya. Ia menatap penuh waspada pada laki-laki yang kini mendudukan diri dipinggiran tempat tidur dengan tubuh yang menghadapnya.

"Masih tidak sadar kau berada dimana dobe?" Tanya Sasuke, tubuhnya sedikit demi sedikit menggeser kearah Naruto.

"Tentu saja kamar...ku?" Naruto menoleh kearah kiri lalu kanannya, menyadari interior yang amat sangat berbeda dari kamarnya yang serba orange. Sejak kapan kamarnya jadi biru gelap begini?

"Ini bukan kamarmu, tapi kamarku. Apartemenku." Ucap pemilik onyx itu seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Naruto. Jelas si pirang juga ngotot mempertahankan selimut yang menutupi tubuhnya dengan kedua tangan yang menggenggam kencang ujung selimut itu.

"Mau apa kau heh! Lepaskan teme! Untuk apa kau menarik selimutku!" Teriaknya keras.

"Ini selimutku, dasar dobe."

"Selimutmu kek. selimutku kek! Yang pasti lepaskan tanganmu itu!"

"Kau saja yang lepas."

"Kau menyebalkan! Dasar mesum!"

"Apanya yang mesum? Aku hanya mau mengambil selimutku."

"Tapi jangan tarik-tarik!"

"Kau yang menariknya, bukan aku."

"Ya sudah lepas! Tidak perlu tarik segala –UWAA!"

Bruk!

"TEME!" Teriak Naruto penuh kekesalan, ia memandang tajam laki-laki di depannya. Kesal karena tiba-tiba saja selimut yang menjadi ajang tarik-tarikan antara dirinya dan Sasuke tiba-tiba saja laki-laki itu melepaskan tangannya hingga ia terjungkal ke belakang karena tarikannya sendiri.

"Kau bilang lepas kan?" Tanya Sasuke so cuek, padahal ia ingin sekali tertawa melihat Naruto yang berwajah merah padam melebihi tomat merah yang disimpan dikulkasnya.

"Awas kauuu!"

"He –hei! Dobe tunggu!"

Brugh!

Sreeg...

Pertamanya sih, ia hanya penasaran dengan keributan yang ia dengar di luar kamar mandi saat ia tengah tenang-tenangnya membuang air sisa dan mencuci mukanya yang kucel. Tapi, saat ia membuka pintu geser kamar mandi dan melihat dua orang yang –bagaimana ya... ia melihat pemuda pirang manis yang tengah duduk atau bilang saja menduduki bagian dada pemuda lain yang ia ketahui sebagai Sasuke dengan posisi kaki berada di atas tempat tidur dan tubuh bagian atasnya berada dilantai.

Kalau ia tidak dalam keadaan sweatdrop, mungkin ia akan mengambil kesempatan super langka ini dengan kamera ponselnya.

"Errr... sepertinya..." Suigetsu menggaruk pipi kirinya, "...aku mengganggu. Permisi!"

Tap tap tap! Cklek! Blam!

Tidak salah surfix itu disatukan dalam satu kalimat karena pada kenyataannya, dari Suigetsu melangkah kearah pintu, membuka pintu dan menutupnya lagi. Semuanya hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga detik.

Untuk kedua pemuda yang masih dalam posisi 'tidak benar'. Mereka hanya bisa menaikan sebelah alisnya dengan tatapan aneh yang terarah pada pintu yang sudah tertutup rapat.

"Suigetsu san? Kenapa?" Tanya Naruto dengan masih menatap arah yang sama.

Sasuke sih tidak peduli dengan pemuda bergigi runcing itu, ia sudah tidak melihat kearah pintu dan kini tengah menatap kearah depannya. Tepat di depannya, wajah Naruto dan juga tubuh bocah itu yang menduduki dadanya. Jadi ia hanya diam, diam saat perasaan aneh tiba-tiba menyerang bawah perutnya. Bukan sakit yang ia rasakan, tapi seperti ada sesuatu yang menggelitik di sana.

"Oi? Teme, kau tidak sedang menghayalkan hal-hal mesum dengan tatapan yang terarah padaku kan?"

Untuk beberapa saat Sasuke terkesiap, sejak kapan sapphire itu terarah padanya? Juga, senyum itu?

"So, can we continue?"

Ia juga tidak mungkin salah lihat, Naruto yang menjilat bibir bawahnya dengan... menggoda? Semakin mendekatkan wajahnya dengan sapphire yang tak sekali pun melepaskan tatapannya dari onyx miliknya.

Juga saat bibirnya merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyapu permukaan bibirnya. Tidak salah bukan jika saat ini ia diam dengan alis berkerut. Bukannya ia tidak tahu apa yang sedang menyentuh bibirnya saat ini. Tapi, ia tak sekali pun berpikir jika...

Naruto menciumnya.

.

.

.

.

To be continue~

A/N : Yang nunggu lama~ gomennasai minna san~

Biasalah, lagi terserang penyakit pindah fandom XD #plakkk!

Apa lagi saat ini ternyata ada banyak fandom baru yang bermunculan, kayak Singeki no Kyojin, Free!~ hyaaaaa! Free! w~
Aku baru aja buat satu fanfik difandom Free! Kapan-kapan mampir ya ! ^^/ #malah promosi!

fiksiku jadi rating M pertama difandom Free! Indonesia.. bwahahaha –ukukh! #keselek duren

Nih udah romance belum? Chapter ini hampir full SasuNaru sih... meski kuselap-selip chara n scene baru untuk cerita ini :")

Mind, to review?