Hari pertamanya dalam kebebasan dan Minseok luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya.
Pagi itu yang dilakukan oleh Minseok pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Minseok, menolak menyebut nama Luhan demi usahanya melupakannya. Tetapi Minseok tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.

Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Minseok harus bertahan hidup. Seperti semula.

Seingat Minseok , dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Kalau Minseok tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sedikit.

Selanjutnya yang kedua ia harus mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke bank. Minseok membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.

Lowongan kerja...lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya...mata Minseok bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut.

Minseok teringat bahwa dia harus ke bank, dengan bergegas Minseok mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.

Seketika Minseok waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya, tidak banyak yang tahu kalau Minseok tinggal di rumah mungil ini.

Apa itu musuh Luhan yang ingin mencelakainya? Minseok bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri.

Dengan hati-hati Minseok mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Minseok masih tidak bisa percaya bahwa Jongdae yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.

Minseok meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati-hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu,

"Siapa?" Lelaki itu tersenyum ramah. Minseok menatap pria tampan berlesung pipit dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.

"Selamat siang, Apa Anda Nona Minseok? Saya Yixing , pengacara yang dikirim kemari."

Pengacara?

"Pengacara untuk apa? Aku tidak pernah melanggar Hukum." Minseok masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Yixing dengan curiga.

"Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda." Yixing tampak berdehem memikirkan sesuatu. "Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Chanyeol dan Baekhyun."

Minseok tertarik, "Apa Baekhyun yang mengirimmu kemari?"

"Anda salah, tetapi Baekhyun menitip salam dan berharap bisa bertemu dengan anda di lain kesempatan." Yixing mengangkat bahu. "Saya dikirim oleh Tuan Luhan."

Minseok mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya.

"Boleh saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat." Yixing tersenyum, lagi-lagi membuat Minseok terpesona dengan ketampanan dan lesung pipitnya yang cekung sempurna.

Minseok mempersilakannya masuk.

"Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Tuan Luhan sudah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan Tuan Luhan atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya." Yixing meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi.

Oh Ya Tuhan, kenapa dia terus-terusan tersenyum tampan?

"Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan." Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Minseok yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget.

Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!

"Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!"

"Nona..." Yixing menyela sudah siap pergi dari rumah itu. "Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi Tuan Luhan langsung."

Dan Yixing pun pergi meninggalkan Minseok yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.

.

.

.

"Aku ingin bertemu Luhan." Minseok bergumam gugup kepada resepsionis di lobby kantor Luhan. Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Minseok merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Yixing kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionis yang menatapnya curiga.

"Luhan kata Anda? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini..."

"Aku tidak ingin melamar pekerjaan!" Minseok mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionis itu. "Tolong atur pertemuan dengan Luhan secepatnya."

"Nona, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Luhan tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu..."

"Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Aku ada janji temu dengan Luhan jam dua nanti." sebuah suara yang dalam di sebelah Minseok mengagetkannya.

Minseok menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Minseok menatap Chanyeol yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Seketika Minseok mengingat kemesraan Chanyeol dan Baekhyun di pesta malam itu, merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Chanyeol dan Baekhyun ketika mereka bertatapan.

Resepsionis itu menatap Chanyeol dan sudah pasti mengenalinya,

"Oh, Tuan Chanyeol, selamat datang." Sikapnya berubah ramah dan Minseok mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionis itu menatap Chanyeol dengan tatapan memuja. "Mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Luhan mendadak harus ke luar negeri."

Chanyeol dan Minseok sama-sama mengerutkan keningnya. Luhan ke luar negeri?

"Sepertinya aku yang terburu-buru kesini hingga membuatku belum sempat membaca pesan itu." Gumam Chanyeol. Tetapi kemudian Chanyeol mengangkat bahunya. "Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang sudah tersia-siakan untuk kemari." Chanyeol menoleh kepada Minseok. "Aku bisa saja pulang sejenak bertemu istriku dirumah sejak tadi kalau pesannya kubaca."

Minseok mau tak mau menahan senyum. Chanyeol tampak lebih kesal karena menyia-nyiakan waktu tidak bisa pulang daripada batal bertemu Luhan.

"Aku akan kembali ke kantor kalau begitu... oh ya, Baekhyun menitip salam untukmu." Dengan senyumnya yang mempesona, Minseok balas tersenyum dan mengangguk. Chanyeol mengedipkan sebelah matanya ramah lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby.

Minseok menatap punggung Chanyeol yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Baekhyun memiliki pasangan yang luar biasa seperti Chanyeol.

"Nona Minseok?" kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Minseok menoleh dan mendapati Gikwang yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift. "Apa yang Anda lakukan di sini?"

Minseok mengerjapkan matanya. "Aku mencari Luhan." ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Gikwang."Ini...aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini."

Gikwang menatap berkas-berkas itu dan mengerti."Tuan Luhan ingin Anda menerimanya."

"Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya."

"Itu uang anda." Sela Gikwang tenang."Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan Luhan."

Minseok tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.

"Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun." Gikwang menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman. "Mari saya akan jelaskan supaya anda tidak salah paham." Minseok menurut saja.

.

.

.

Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat yang elegan di lantai dua. Gikwang duduk di depannya dan mempersilahkan Minseok untuk duduk.

"Silakan duduk dulu, Anda ingin kopi?"

Minseok menggelengkan kepalanya.

"Tuan Luhan saat ini sedang ada di China ada beberapa urusan yang mendesak di sana." Gikwang mengubah posisi duduknya supaya nyaman. "Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Luhan menahan saya."

Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Masalah berkas saja Belum Minseok selesaikan. Jantung Minseok berdegup kencang. Jangan-jangan Luhan mempunyai rencana lain kepadanya.

"Tuan Luhan tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut." Gikwang mengangkat bahunya. "Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Luhan bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan Tuan Luhan."

Minseok mengerutkan keningnya membantah, "Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum membuat perjanjian dengan Luhan, kami sama sekali tidak bangkrut!" Minseok teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!

"Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarga, dia tidak ingin ibu anda dan Anda merasa cemas." Gikwang menghela nafas. "Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya."

Mata Gikwang menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.

"Ayah Anda datang kepada Tuan Luhan waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Luhan sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan Luhan."

"Penawaran?"

Gikwang menatap Minseok hati-hati. "Ya...penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan Luhan berubah pikiran."

"Penawaran apa?"

"Anda."

Minseok tertegun, pucat pasi, "Aku?"

"Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan Luhan, harap Anda memakluminya." Gikwang menghela nafas. "Mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkan kepada Tuan Luhan, mengingat waktu itu reputasi Tuan Luhan sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati Tuan Luhan."

Minseok hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya? Tidak mungkin! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!

"Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya." Gikwang berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Minseok. "Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Saya yakin Tuan Luhan, akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan Luhan langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda."

Dada Minseok terasa perih menyadari kenyataan itu.

"Yah Anda mengerti kan...Tuan Luhan menyukai anda Ketika pada Pandangan pertama, meski hanya melalui gambar." Gikwang menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Minseok yang pucat pasi. "Anda tidak apa-apa nona?"

Minseok menganggukkan kepalanya, "Tidak, aku tidak apa-apa." suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.

"Tuan Luhan langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Luhan, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Luhan tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda." Gikwang menatap Minseok miris.

"Tetapi ayah Anda bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda Semakin hancur. Ayah Anda datang kembali untuk meminta tolong kepada tuan Luhan."

Minseok hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Gikwang sebaik-baiknya. Bisa saja Gikwang bohong kan? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur...Minseok hanya masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Gikwang adalah benar, maka Minseok harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.

Minseok sudah dijual menjadi isteri Luhan di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Minseok mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.

"Tuan Luhan sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan Tuan Luhan tidak mau memberikan kesempatan lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Luhan membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya." Gikwang menatap Minseok dalam-dalam. "Itu semua karena Tuan Luhan mengkhawatirkan Anda."

Luhan mengkhawatirkannya? Tidak mungkin!

"Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan." Gikwang bekata-kata lagi. "Mengenai kedua orang tua Tuan Luhan." Minseok mendongak lagi, ini adalah kesempatan untuknya mendengarkan secara sepenuhnya rahasia Luhan yang satu ini. sebelumnya sudah ada Jongdae yang waktu itu memberikan sedikit Informasi tentang ini. Jadi apa lagi yang dapat ia dapatkan dari Gikwang? Minseok sangat penasaran, mengalahkan rasa keingintahuannya, mengapa Luhan sampai sebegitu baik kepadanya, bahkan dengan alasan 'Cinta pandangan pertamapun' tak dapat Minseok terima. Terlebih kesuciannya sudah terenggut oleh Iblis berhati malaikat bernama Luhan.

"Ibu Tuan Luhan bukanlah seseorang seperti apa yang Jongdae katakan waktu itu."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"CCTV." Jawab Gikwang singkat. "Sebenarnya saya menyarankan agar Tuan Luhan sendiri yang menceritakan semuanya kepada Anda agar nama Baik Ibunya tidak buruk dimata anda, tetapi beliau lagi-lagi menolak, dengan alasan anda tak akan mudah untuk diajak bicara. Dan berujung pada Tuan Luhan yang selalu anda abaikan." Minseok menunduk malu. Sejujurnya Luhan mau bersikap terbuka kepadanya tetapi dia selalu menyikapi dingin hal itu. Baiklah, mungkin akan lebih baik jika Luhan sendiri yang menceritakan masa lalunya, ketimbang mengerahuinya dari Gikwang.

"Soal Ibunya, kau tidak perlu menceritakannya. Aku tidak akan mengorek informasi apapun darimu, Aku akan mendengarkan Jika Luhan sendiri yang menceritakannya. Bagaimanapun juga dia sudah sekeras ini menutup rapat informasi mengenai kedua orang tuanya dari orang luar, termasuk aku. Jika ia menganggapku bukan orang asing, suatu saat pasti dia akan menceritakannya sendiri padaku."

Gikwang mengangguk.

"Jadi, ceritakan saja mengenai kedua Orang tuaku dari sisi kalian." Gikwang tersenyum lembut. Dan baru kali ini Minseok melihatnya tersenyum.

"Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik Tuan sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut."

Tiba-tiba Minseok menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah...

"Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda." Wajah Gikwang melembut melihat pipi Minseok merona merah, lalu menatap Minseok dengan menyesal. "Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami. Percayalah, Tuan Luhan juga sangat terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda – demi Anda." Gikwang menekankan kata-katanya. "Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Luhan."

Minseok merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Gikwang ini benar...-dan sepertinya memang semua adalah kebenaran-. maka Minseok harus merasa malu. Terlebih kepada Luhan. Bagaimana ia harus menghadapi Pria itu nanti? Apa Minseok masih punya muka? Minseok tidak tahu.

Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang salah. Dan Luhan bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya.

Kenapa selama ini Luhan tidak pernah membela diri dan justru membiarkannya semakin liar dengan emosi dan kemarahannya yang membabi buta?

"Sebentar lagi ulang tahun Anda...sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda...Tuan Luhan akan memperisteri Anda."

Minseok membelalakkan matanya. Apa Luhan masih menganggap perjanjian itu? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Luhan kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Minseok menolak Luhan, maka dia harus menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.

"Apa...apa Luhan yang menyuruhmu mengatakan ini semua kepadaku?"

Gikwang langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Minseok .

"Tidak. Bahkan Tuan Luhan ingin merahasiakan semua ini dari Anda." Gikwang tersenyum.

"Saya hanya mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksa untuk menikahi Anda, Tetapi saya hanya mengingatkan Anda jika saja itu benar-benar terjadi."

Minseok mengernyit, "Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya...jadi Hari Kebebaskanku ini hanya sementara?"

Gikwang mengangguk, minta permakluman. "Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti - saya bisa menjamin itu - Tuan Luhan benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan Luhan benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di China, mengunjungi makam nyonya Lu, Ibunya..."

Meminta izin kepada ibunya. Minseok memejamkan matanya, hatinya berdesir hebat. Apa Luhan benar-benar mengistimewakan dirinya?

Setelah dendam itu menghilang, Minseok merasakan getaran aneh dalam dirinya yang membuatnya cenderung tersanjung atas semua yang Luhan lakukan padanya, terutama dengan kepergian Luhan ke china yang semata-mata untuk meminta doa restu kepada Mendiang Ibunya. Itu berarti Luhan benar-benar serius menyukainya. Apa ini? Minseok harus bagaimana? Apa dia harus menolak?

.

.

.

TBC