Sasuke mendengus pasrah di pojok ruangan sembari melipat kedua tangannya di dada. Hinata kembali berulah padahal pernikahan mereka tinggal menghitung menit, setengah jam lebih tepatnya.

Wanita itu mematahkan sepatu yang sudah dirancang khusus oleh perancang sepatu paling terkenal seantero Jepang hanya karena melompat-lompat untuk mengambil ponsel yang diletakkan Sasuke di atas almari!

Bagaimana bisa?! Ia bertanya-tanya keheranan. Siapa wanita yang akan melompat-lompat dengan sepatu hak tinggi yang bertengger manis di kaki mereka?!

Ia tahu kalau Hinata adalah wanita super aneh dan ceroboh akut. Tapi ia tidak tahu sampai separah ini. Memang tidak bisa ya wanita itu menarik kursi atau apalah untuk memudahkannya mengambilnya? Lagipula ia meletakkan ponsel wanita itu di atas almari bukan tanpa alasan. Wanita itu tidak henti-hentinya memainkan ponselnya dari mereka berangkat sampai mereka tiba di gereja. Ia membencinya. Wanita itu harus tahu bagaimana bersikap seperti yang ia inginkan, karena sebentar lagi dirinya adalah suaminya.

Semua yang bertanggung jawab atas gaya busana mereka pun dibuat panik dan pusing tujuh keliling. Mereka harus rela pontang-panting membawa semua koleksi sepatu mereka yang dirasa cocok dengan Hinata dari toko yang letaknya cukup jauh dari gereja. Beradu dengan terbatasnya waktu, mereka berani menginjak pedal melebihi kecepatan biasa. Demi tuan putri baru mereka yang bahkan belum resmi berita besarnya!

Sebenarnya ruangan Sasuke dan Hinata dipisah. Kalian tentu tahu kalau pasangan yang akan menikah tidak boleh bertemu terlebih dahulu sebelum pernikahan dimulai kan? Namun mau bagaimana lagi? Kekacauan yang dibuat oleh Hinata menggemparkan mereka tentunya walaupun penata rias sudah berusaha keras untuk menyembunyikannya.

Akhirnya setelah seperempat jam menunggu, mereka kembali dengan satu tas besar yang penuh dengan sepatu hak tinggi khusus untuk gaun pernikahan. Hinata bertepuk tangan penuh haru, menghargai usaha mereka untuk kembali dengan tenggang waktu yang begitu tipis. Dan Sasuke tentu hanya bisa kembali mendesah tidak habis pikir. Jadi setelah dirasa Sasuke keadaan sudah bisa ditangani, ia lantas keluar dari ruangan Hinata tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Kembali bersiap, memposisikan dirinya di dalam gereja—menunggu kedatangan Hinata tentunya, si mempelai wanitanya.

Sembari menunggu, Sasuke berbicara dengan pendeta mengenai bagaimana jalannya pernikahan, apa saja yang perlu dikatakan dan dilakukan, karena ia tidak ingin melakukan kesalahan di momen penting seperti ini. Ia memang tidak menikah berasaskan cinta, tapi setidaknya semua harus berjalan sebagaimana mestinya dan tentu harus sempurna. Karena keluarga Uchiha menyukai kesempurnaan, termasuk dirinya.

Tamu-tamu mulai berdatangan. Tentu bukan tamu sembarangan. Hanya orang-orang penting yang diundang dalam pernikahannya. Pejabat pemerintahan, relasi bisnis, pejabat-pejabat perusahaan, dan selebihnya adalah keluarga Uchiha dari berbagai negara beserta kawan-kawan dekatnya.

Tidak ada awak media, yang ada hanyalah tim perekaman profesional yang sudah disewa oleh keluarga Uchiha. Awak media memang tidak diperbolehkan untuk meliput. Mereka hanya diundang saat pesta pernikahan nanti malam yang akan diselenggarakan di salah satu hotel ternama di Jepang yang tentunya milik perusahaan Uchiha sendiri. Acara sakral seperti ini tidak boleh untuk konsumsi umum. Cukup untuk keluarga, teman dan relasi-relasi yang mempunyai dampak penting bagi perusahaanlah yang diperbolehkan.

Ketika ruangan itu mendadak berubah menjadi sunyi. Sasuke tahu, Hinata akan segera datang. Jadi mengabaikan perasaan aneh yang menganggu dirinya, Sasuke berdiri tegap menantinya.

Ini akan berjalan sangat mudah jika sesuai praduganya.

.

.

.

Hinata merasa begitu mual menatap pintu besar gereja. Perutnya terasa melilit aneh, atau mungkin terasa menggelitik? Ia tidak bisa menjabarkan dengan benar apa yang ia rasakan sekarang. Ia tidak bisa berpikir jernih. Sarung tangan pengantin yang melekat manis di tangannya terasa basah karena peluh yang keluar begitu saja di titik-titik tertentu tubuhnya, termasuk telapak tangannya. Tenggorokannya terasa semakin kering padahal sebelum berjalan kemari ia sudah menenggak habis sebotol air yang kakaknya berikan. Rasanya kakinya ingin berlari kencang menjauhi gereja tanpa alasan yang benar.

Hiashi tahu betul putrinya begitu gelisah, jemari yang melingkar di lengannya terasa mengerat dan kadang bergerak kecil, tidak nyaman akan rasa diam. "Tak perlu takut. Ayah disini, Hinata."

Hinata membuang nafas panjang yang lucu, kemudian menatap ayahnya layaknya orang linglung. "Sepertinya aku butuh minum lagi, ayah."

Hiashi tersenyum mengerti. "Ayah takut lipstikmu akan memudar nak. Tahan saja ya."

Hinata mengembungkan pipinya frustasi. Merasa sudah buntu akan dirinya sendiri, terutama pada perasaan gugup yang menyerangnya tanpa ampun seperti ini.

Wah! Sialan! Aku akan berpikir ulang lagi kalau akan menikah lagi setelah ini! Pikirnya konyol.

"Kau siap, nak?"

Pertanyaan yang menyapa indera pendengarannya membuatnya meringis horor. Siap tidak siap dia dipaksa untuk siap. Jadi ia hanya kembali meneguk ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang semakin kering.

Dengan langkah yang terasa begitu berat. Ia berjalan beriringan dengan ayahnya, menggandeng lengan ayahnya yang kini tidak sekekar dahulu tapi masih terasa begitu nyaman dan hangat baginya. Tapi itu masih tidak cukup.

Ia memaksakan senyum, masih mencoba berusaha menetralisir perasaan gugupnya yang semakin menggila dalam dirinya. Apalagi melihat banyaknya tamu yang datang. Ia merasa pandangan mereka menelanjangi tubuhnya tanpa ampun walau bibir mereka mengulum senyum terpesona. Jadi wajar saja kalau ia tidak bisa tersenyum lepas. Kegugupan ini terasa akan membunuhnya!

Dalam keadaan krisis begini, akhirnya Hinata bisa merasakan kelegaan. Ia melihat Kiba dan Ino berada dalam barisan tamu. Melambai tangan di dada dengan heboh walau tidak bisa sebebas seperti biasanya sembari memegang kamera untuk merekamnya. Mereka juga tahu tempat tentunya.

Astaga! Itu membantu sekali! Ia benar-benar berterima kasih pada kedua temannya itu yang mau datang ke acara pernikahannya, mengabaikan rasa tidak enak karena beda kasta yang begitu mencolok.

Ia membalas lambaian kecil mereka, menggumamkan nama mereka dengan gemas penuh haru sembari menahan senyumnya yang akan merekah lebar walau sebenarnya tidak banyak berarti karena ia gagal menahannya.

Untung saja mereka datang, jadi rasa gugupnya bisa sedikit menghilang. Mungkin setelah acara ini berakhir, ia harus menraktir mereka makan daging karena ia tidak perlu khawatir lagi akan dompetnya yang akan terkuras habis jika melakukannya.

Langkah mereka berhenti. Ayahnya menyerahkannya pada Sasuke. Pria itu mengulurkan tangannya, dan sialnya entah kenapa mendadak terlihat semakin tampan dari setengah jam yang lalu, waktu terakhir ia melihat pria itu. Lucu sekali bukan?

Setelah mengenyahkan pikiran konyolnya, ia menyambut uluran tangannya. Lantas mereka berdua berdiri di depan pendeta yang akan menikahkan mereka. Sebenarnya, ia masih gugup. Tapi entahlah setelah berada di altar, perasaan gugupnya menghilang sedikit demi sedikit, walau tidak sepenuhnya. Patut disyukuri kan?

Ia melirik Sasuke sebentar, memastikan pria itu baik-baik saja. Bukan seperti itu alasan sebenarnya, tapi lebih tepatnya ia ingin tahu apakah pria itu sama gugupnya dengannya atau tidak. Karena kalau dia menemukan pria itu juga sama gugupnya dengannya, ia akan menertawainya habis-habisan. Ia akan menjadikan itu sebagai bahan cemoohan serta cibiran nanti setelah acara ini berakhir.

Tapi sayang, ia harus menelan kekecewaan karena pria itu tampak tidak terpengaruh sama sekali. Hatinya berdecak kesal.

Pria ini tidak punya perasaan ya? Datar begitu mana punya perasaan seperti manusia lainnya?

Pemberkatan pernikahanpun dimulai. Pendeta mengatakan beberapa pengantar perkawinan sebelum mengarahkan mereka untuk saling menyatakan niat perkawinan, kesepakatan perkawinan hingga pemberkatan perkawinan.

"Saudara Sasuke Uchiha dan saudari Hinata Hyuuga, sungguhkah kalian dengan hati yang tulus dan bebas hendak meresmikan perkawinan ini?"

"Ya, kami bersungguh-sungguh." Dengan mengangkat tangan, mereka menjawabnya secara bersamaan. Hinata lagi-lagi melirik pria itu. Sasuke tampak serius sekali ketika mengatakannya, membuatnya menahan mati-matian keinginannya yang besar untuk mencemooh pria itu keras-keras.

"Selama menjalani perkawinan nanti, bersediakah kalian untuk saling mengasihi dan saling menghormati sepanjang hidup?"

"Ya, kami bersedia." –Tidak janji! Itu suara hati Hinata tentunya. Kalau itu sih dia tidak bisa menepatinya, sialan begitu mau dihormati dan dikasihi bagian mananya?

"Baik. Untuk mengikrarkan perkawinan yang suci ini. Silahkan kalian saling berjabat tangan dan menyatakan kesepakatan kalian di hadapan Tuhan dan jamaat."

Mereka saling berhadapan. Berjabat tangan dan bergantian mengucapkan janji.

"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, saya Sasuke Uchiha dengan niat yang suci dan murni memilihmu Hinata Hyuuga menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."

Demi Tuhan, Hinata tak bisa menghentikan perasaan ingin muntah di dalam dirinya. Terasa seperti kebohongan yang nyata di telinganya perkataan lelaki ini baginya.

"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, saya Hinata Hyuuga dengan niat yang suci dan murni memilihmu Sasuke Uchiha menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."

Oh lihat itu?! Sasuke barusan mengangkat alisnya! Ia tahu betul pria itu barusan mencemoohnya juga!

Dia juga merasakan hal yang sama dengannya rupanya.

"Atas nama Tuhan, di hadapan para saksi dan umat yang hadir di sini, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan sah. Yang dipersatukan Tuhan, janganlah diceraikan manusia."

Tapi cerai terdengar bagus di telinga Hinata untuk beberapa alasan.

"Amin."

Suara semua orang menyadarkannya kalau tahap pernikahan yang ia nanti-nantikan sudah di depan mata. Bukan karena keinginan, lebih tepatnya Hinata penasaran.

"Semoga Tuhan memberkati kedua cincin ini, yang akan kalian kenakan satu sama lain sebagai tanda cinta dan kesetiaan."

Sasuke menarik jemarinya dengan lembut. Pencitraan pastinya. Jadi dengan menahan keinginan untuk mencemooh, Hinata merapatkan bibirnya lucu.

Setelah cincin terpasang di jari manisnya, kini giliran Hinata untuk mengenakan cincin pada Sasuke. Ketika ia menarik tangan Sasuke, Sasuke menatapnya dengan pandangan 'lakukan dengan baik, setan'. Ia hanya menanggapinya dengan pandangan tidak mengerti, pura-pura tidak mengerti tentunya.

Ide jahil terbesit di pikirannya. Cincin yang akan sampai di penghujung jari manis ditariknya kembali sampai ke puncak jemari membuat Sasuke menatapnya geram.

"Aku gugup sekali!" Ia bahkan sampai menahan udara di paru-parunya terlebih dahulu saat mengatakannya, ketika menunjukkan kegugupannya yang tentu saja sengaja ia buat. Pasalnya setelah berhadapan dengan Sasuke, ia lupa akan kegugupan yang menderanya sedari tadi.

Tentu semua orang tertawa akan tingkahnya yang terlihat begitu menggemaskan. Tapi tidak pada seorang Sasuke Uchiha. Dia geram sekali. Bisa-bisanya wanita ini bercanda di acara seperti ini?

Ia membuang nafas pelan, berakting bahwa dirinya tengah menyiapkan diri sebelum kembali memasangkan cincin di jari manis Sasuke.

Hinata tersenyum menyebalkan ketika cincin itu sudah sepenuhnya terpasang, melekat di jari manisnya. Terlihat begitu bersinar diterpa sinar lampu yang cerah. Entah kenapa Hinata malah jadi bangga.

"Sekarang Anda bisa mencium pasangan Anda."

Mereka berdua terdiam sesaat. Saling berpikir. Dan ketika Sasuke mulai bergerak mendekat padanya, ia tahu pasti laki-laki itu akan mencium keningnya terlebih dahulu. Jadi sebelum itu terjadi, kakinya berjinjit setinggi-tingginya. Mendahului tugas Sasuke.

Tepuk tangan semua orang bergemuruh dalam ruangan itu, terdengar begitu meriah, bahkan sampai ada yang bersiul, bersorak gemas pada mereka.

Sasuke terdiam. Bibir Hinata memang tidak lama berada di bibirnya. Wanita itu hanya mengecupnya sebentar. Tapi itu cukup membuat otaknya berhenti bekerja sementara. Bukan karena ciumannya, tapi lebih ke keterkejutan kenapa wanita itu bisa terpikirkan untuk melakukannya.

Sasuke mengangkat alisnya. Wanita itu tengah menggerakkan kedua alisnya, menatapnya dengan mata yang penuh cemoohan dan diiringi dengan senyuman miring.

Oh. Jadi kali ini dia memutuskan untuk ikut ambil peran dalam permainan? Kalau begitu Sasuke tentu tidak akan ragu untuk menunjukkan bagaimana sulitnya permainan ini.

Mari kita mulai, Hinata Uchiha.

.

.

.

Hinata merasa akan mati!

Pesta pernikahannya bahkan belum dimulai, tapi ia sudah begitu lelah. Kakinya pegal bukan main. Luar biasa lelah hingga untuk berjalan saja ia harus menyeret kuat-kuat keyakinannya.

"Yang benar saja kak? Nanti bahkan lebih melelahkan." Cemooh Hanabi sembari memainkan ponselnya, acuh tak acuh dengan kondisi kakaknya.

"Diam saja kau setan!" Hinata hampir akan melemparkan botol air yang ada didekatnya jika kakaknya tidak segera mengambil botol itu dari tangannya.

"Kakak tahu ini melelahkan. Tapi kontrol dirimu, oke."

Hinata merengut sebal. Sejak kapan sih orang-orang mau memihaknya? Mungkin benar praduganya kalau ia adalah anak pungut di keluarga ini.

Kak Neji memijat kakinya yang berselonjor di kursi. "Ah kakak. Bisa tidak aku pulang saja? Aku bahkan sampai tidak bisa merasakan kakiku lagi." Adunya sembari menutup matanya, terlalu lelah bahkan untuk duduk dengan benar.

"Para tamu sudah datang. Sebaiknya kau menyiapkan diri sekarang. Keluar dan sapa mereka."

Hinata mendesah lelah. "Katanya jam tujuh baru dimulai?"

Hanabi mengerutkan dahinya heran, kemudian tertawa tidak habis pikir. "Dan berita besarnya beberapa detik lagi pukul tujuh tepat. Empat, tiga, dua, satu. Pukul tujuh!"

"Hanabiiiiiii!" Kenapa pula adiknya itu harus mengatakan fakta menyebalkan itu?! Dia hanya butuh istirahat. Kasur, bantal dan guling. Itu saja. Bukankah itu keinginan yang tidak muluk-muluk?

"Oh ayolah Hinata. Lebih bersemangat lagi. Hanya satu malam ini saja." Neji menarik adiknya untuk bangun. Tapi wanita itu tetap saja tidak mau bangun. Layaknya makhluk hidup yang tak punya tulang, ketika ia sudah berhasil membuat adiknya duduk, Hinata kembali jatuh berbaring. Dan bukan hanya sekali saja adiknya itu berulah, berulang kali ia lakukan itu hingga Hanabi kesal karena gemas.

"Astaga kak! Demi Tuhan! Kau sudah tua. Bertingkahlah sewajarnya. Jangan kekanakan!"

Sialan! Apa-apan dengan kata tua itu?!

Dan Hinata dengan sigap berdiri, ingin menjambak rambut adiknya. Lupa dengan rasa lelahnya begitu saja.

Ketika tangannya akan berhasil menyentuh rambut adiknya. Paman Sakumo masuk ke ruangan bersama pelayan yang lain. Neji mendesah lega, merasa bersyukur karena ia tidak perlu repot-repot melerai kedua adiknya yang selalu bertengkar setiap harinya.

Hanabi mengangkat kedua bahu, pura-pura tidak tahu menahu. Dan Hinata tentu dengan secepat kilat segera menghentikan aksinya dan mendadak tersenyum lebar hingga matanya menyipit sempurna.

"Anda harus ke aula sekarang, nona Hinata. Para tamu menunggu Anda."

"Oh, tentu paman Sakumo. Aku akan kesana."

Setelah melirik sebal pada adiknya, Hinata ikut rombongan paman Sakumo. Sebenarnya malah semua orang yang kini mengikutinya. Hanya paman Sakumo yang berjalan berdampingan dengan Hinata karena harus menunjukkan jalan menuju aula, walaupun pria tua itu memberikan jarak untuk memperjelas kasta yang berbeda. Diikuti Hanabi dan Neji yang berjalan di belakang mereka, tahu betul kalau mereka juga harus memberi batasan dalam bersikap pada Hinata jika berada dalam lingkungan keluarga Uchiha. Kemudian disusul beberapa pelayan yang lain.

Sasuke sudah berada di sana, menyambut para tamu yang datang. Ketika mata mereka tak sengaja bertemu, Sasuke meliriknya tajam. Kesal atas keterlambatan yang dibuat oleh Hinata walaupun tidak mencapai seperempat jam. Tapi wanita itu dengan berani malah menjulurkan lidah padanya. Dimana kiranya perginya otak waras milik wanita itu? Sasuke bertanya-tanya keheranan.

"Selamat datang." Hinata membungkuk pada tamu yang tengah bersama Sasuke. Lantas berdiri berdampingan dengan Sasuke dan menggandeng lengan kekar pria itu.

"Maaf baru bisa muncul. Ada sedikit perbaikan tata rias tadi." Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Memang tadi para penata rias kembali merombak tata riasnya, karena menyesuaikan tema acara pesta kali ini. Jika tadi pagi ia mengenakan gaun putih yang begitu panjang, khas pernikahan di waktu jaman dulu yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan tren masa kini. Lalu siangnya ia berganti mengenakan gaun putih selutut yang manis di pesta kebun keluarga, kini ia tampil lebih berani dengan menggunakan gaun putih panjang yang menunjukkan bahu mulusnya, bahkan belahan dadanya begitu rendah hingga membuat buah dadanya mengintip sedikit. Bukan karena keinginannya, itu semua pilihan ibu mertuanya. Mana berani dia mengajukan keberatan? Walau ia berani bersumpah kalau gaunnya malam ini tidak nyaman sama sekali! Ia bisa saja menarik pakaian ini ke atas berulang kali kalau tidak ingat sekarang tengah berada di depan umum.

"Anda begitu cantik, nona Hinata."

"Anda kelihatan cantik."

"Anda yang paling bercahaya malam ini, nona Hinata."

"Ah terima kasih."

Sebenarnya ia benci dipuji seperti itu. Kentara sekali kalau tengah menjilat. Tapi ia tidak mungkin tidak menanggapinya. Jadi ia hanya bisa menampakkan senyumnya pada semua orang yang memujinya. Lagipula masih banyak tamu yang perlu disambut dan disapa oleh mereka berdua.

Tapi daripada itu. Ada hal yang lebih serius.

Ia benar-benar tidak nyaman dengan gaunnya. Ia serius. Saat bersama keluarganya, Hinata sih biasa-biasa saja. Mereka bahkan pernah melihat lebih dari ini, jadi ia tidak begitu memikirkan. Tapi ketika ia masuk ke dalam aula ini, ia sadar kalau atensi tamu laki-laki bukan pada gaunnya, tetapi—kalian tahu betul kan apa yang ia maksud? Jadi ia terus saja mencuri waktu untuk membenahkan gaunnya agar lebih ke atas.

Hinata merengut sebal. Mau ditarik berulang kali, pada akhirnya gaun itu terus turun ke tempat semula. Dan sialnya bukan bertambah sedikit tamu yang datang dengan waktu yang semakin larut tapi malah semakin banyak saja tamu yang datang. Ia bahkan tidak sempat untuk sekedar pergi ke belakang untuk membenahi gaunnya.

Saat dirasa dirinya sudah tidak tahan lagi dengan gaunnya dan berniat kabur dari Sasuke. Laki-laki itu mendadak melepas jasnya, memberikan sampai memasangkannya pada tubuhnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

"Oh—terima kasih." Hinata mengatakannya dengan canggung. Terkejut kalau Sasuke peka akan situasinya.

Naruto datang dengan cengiran khasnya bersama dengan Shikamaru dan Sai.

"Wah! Wah! Wah!" Naruto heboh sendiri ketika mendatangi mereka berdua. "Kau luar biasa, sobat!"

Orang ini bicara apa sih? Hinata mengerut tidak mengerti. Begitu datang bukan ucapan selamat seperti manusia normal yang lain mereka dapatkan, tapi malah kata-kata selamat yang berambigu seperti ini.

Shikamaru menahan senyum di belakangnya, sedangkan Sai hanya tersenyum simpul melihatnya.

"Aku tahu kalau Hinata officially jadi milikmu sekarang. Tapi rasanya tidak perlu kau tegaskan lagi, teme."

Tentu kerutan di dahi Hinata semakin dalam. Pusing tujuh keliling dengan perkataan Naruto. Di sampingnya, Sasuke hanya membuang muka. Jengah dengan perkataan Naruto yang terasa seperti omong kosong baginya.

"Kau ini bicara apa sih?" tanya Hinata tanpa ragu, sejak pertemuan yang tak disengaja di kafe seminggu yang lalu dengan pemuda itu, mereka memang jadi dekat satu sama lain. Jadi tidak saling canggung seperti dahulu.

"Aku bicara tentang—"

"Aku ingin minum vodka. Ayo cari tempat duduk." Sasuke dengan acuh meninggalkan mereka setelah mengatakan itu.

Naruto mengerut heran, pusing dengan Sasuke yang suka seenaknya. "Sudah menikah tapi moodnya masih tidak membaik." Komentar Naruto, Shikamaru hanya mengedikkan bahu menanggapinya. Seharusnya Naruto bisa melihat jelas alasannya, tapi seperti biasa, pemuda itu memang paling payah tentang kepekaan diantara mereka bertiga.

Alhasil mereka semua mengikuti Sasuke ke sebuah meja yang kosong. Setelah menempati kursi masing-masing, para pelayan dengan sigap melayani mereka, menawarkan apa saja makanan dan minuman yang disediakan. Hinata meminta jus, terasa lebih menyegarkan ketimbang wine atau vodka yang ditawarkan.

Dengan berjalannya waktu, teman-teman Sasuke mulai berdatangan memenuhi meja. Tapi semakin kesepian yang ia rasakan. Sasuke memang mengenalkan semua temannya. Dan beberapa dari mereka tertarik mengajaknya bicara, menanyakan bagaimana hubungan mereka bisa terjadi dan hal-hal umum lainnya. Tapi masalahnya adalah ia tidak mengerti dan tidak tertarik dengan topik teman-teman Sasuke setelah itu. Mobil keluaran terbaru, teman mereka yang bangkrut, orang tua mereka yang baru membeli perusahaan, peralihan nama, dan hal-hal mewah lainnya. Daripada menjawab asal dan terkesan kampungan, lebih baik dia diam saja kan?

Ngomong-ngomong tentang Sai, pria itu tadi ditarik oleh ibunya. Kata Naruto sih pria itu sedang dipromosikan. Hinata awalnya tidak mengerti. Tapi Naruto dengan baik hati menjelaskan kalau acara seperti ini akan jadi ajang para orang tua untuk mempromosikan anak-anak mereka, terutama untuk menggaet calon pasangan untuk anak mereka.

Dan lagi-lagi perkataan Naruto benar adanya. Karena setelah itu giliran Shikamaru yang ditarik ibunya untuk diperkenalkan dengan anak dari salah satu relasinya. Naruto tertawa terbahak-bahak, puas akan pemandangan itu. Tapi memang karma bisa datang begitu cepat. Ibu Naruto datang dari arah yang tidak terduga, menyeret anaknya untuk ikut dengannya walaupun Naruto sudah bilang kalau ia sudah punya kekasih.

Hinata meringis, kehidupan anak-anak kalangan atas ternyata begitu menyedihkan. Ia bersimpati pada mereka semua.

Kembali ke masa sekarang, jus jeruknya sudah habis, menyisakan gelas kaca yang kosong di dalam percakapan yang tak ia mengerti. Sai, lelaki itu masih belum kembali juga. Padahal ia berharap ketua timnya itu segera kembali dan mengajaknya bicara atau kabur dari lingkaran ini. Ketua timnya kan penyelamatnya dari rasa kebosanan dan kesepian.

"Hinata!"

Mata Hinata mendadak bersinar cerah.

"Kalian datang?!" Ia berdiri tergesa-gesa hingga membuat meja mereka sedikit berguncang, mengejutkan semua orang yang ada dalam lingkaran tersebut. Hinata meminta maaf beberapa kali, kemudian pergi menghampiri mereka berdua, lupa meminta ijin kepada Sasuke terlebih dahulu.

"Ya Ampun! Kalian datang!" Hinata memeluk mereka berdua, kelewat bahagia akan kedatangan mereka. Dia hampir putus asa karena waktu semakin larut dan ia tidak menemukan batang hidung kedua temannya. Sebenarnya ia harusnya bersyukur karena Ino dan Kiba sudah mau datang ke acara pemebrkatan pernikahannya pagi ini. Tapi tetap saja ia mengharapkan kedua temannya juga datang ke acara pesta walau hanya mereka sendiri yang datang dari kalangan bawah.

"Mana mungkin kami tidak datang ke acara pesta pernikahanmu?!" Kiba berseru heran. "Berkat ketua tim. Seluruh devisi kita bisa masuk kesini dan makan enak bersama pejabat perusahaan!"

Ino menyikut Kiba gemas. Bisa tidak mulut Kiba dibekap?! Ia malu sekali. Bagaimana kalau orang-orang mendengarnya? Bisa jatuh reputasinya yang ia sudah bangun susah payah. Dia kan disini untuk menghampiri masa depannya. Di lautan penuh laki-laki tampan ini, pasti setidaknya ada satu untuknya kalau ia gigih berusaha untuk mendapatkan mereka.

"Wah?! Benarkah?!" Hinata terkejut bukan main. Ia bahkan tidak berani mengundang mereka karena khawatir dan tidak enak dengan keluarga Uchiha. Tapi ketua timnya dengan murah hati mengundang mereka semua, bahkan tidak tanggung-tanggung, seluruh anggota devisi pemasaran diundangnya.

"Mereka disana. Kau ikut kami?" Ino menunjuk meja yang ada di pojok. Hinata hampir berkaca-kaca, begitu senang karena akhirnya ia punya teman yang satu kasta, satu pandangan dan satu rasa dalam bercanda. Dia kan jadi tidak kesepian sekarang.

Jadi tanpa berpikir panjang, Hinata menghampiri mereka. Tertawa terbahak-bahak karena pak Guy dengan jelasnya bercanda kalau Hinata sudah tidak diterima lagi di devisi mereka dengan bahasa formal padanya. Menggodanya tanpa henti karena sekarang sudah menjadi nyonya Uchiha baru. Bahkan bukan hanya pak Guy, ketika Sai tiba dan bergabung bersama mereka, mereka tak henti-hentinya bercanda dan saling menggoda satu sama lain. Menertawai pihak yang sudah menikah dan mencemooh pihak yang belum menikah. Dan Hinata yang kini sudah berganti status menjadi seorang istri tentu bergabung dengan para orang tua yang sudah menikah, menjadi anggota baru dan anggota paling muda.

Yang semakin membuat seru adalah ternyata jumlah mereka sama imbangnya. Enam orang yang sudah menikah, dan enam orang yang belum menikah. Karena ia baru beberapa jam berganti status, jadi ia tidak begitu paham benar bagaimana kehidupan pernikahan. Pak Guy yang memimpin mereka, mengorek habis perasaan seseorang yang belum menikah. Sedangkan untuk pihak yang belum menikah, Ino memimpin. Kata-katanya yang tajam berhasil menohok para orang tua. Tapi mereka masa bodoh. Masih terus melanjutkan hingga menjadi atensi semua orang tanpa sadar.

Bosan dengan topik pernikahan. Pak Guy mendadak ingat kalau dia membawa sebotol sake untuk Hinata.

"Darimana Anda mendapatkannya pak Guy?" tanya Kiba terkejut.

"Ini hadiah pernikahanmu Hinata."

Mulut Hinata membuka lebar. Begitu terkejut dan terkesan akan hadiah yang diberikan oleh pak Guy. Sake itu dihiasi pita besar di leher botol, membuatnya terlihat lucu.

"Ah terima kasih pak Guy. Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot seperti ini." Hinata menerima sake itu dengan perasaan bahagia yang tak bisa disembunyikan.

"Karena aku sudah membawanya susah-susah begini—kau harus menghabiskan sake ini disini."

"Tunggu—Apa?!"

Hinata tidak salah dengar kan? Bagaimana bisa ia menghabiskan sebotol sake itu?!

"Aku sendiri?" tanyanya lagi, memastikan kembali.

Pak Guy mengangguk sebagai jawaban. Dan kemudian semua orang disana mulai berseru agar Hinata melakukannya. Ino dan Kiba yang paling berisik. Membuat kepalanya terasa pening.

"Kalau tidak sanggup bilang saja."

Wah! Kalian benar-benar salah mencari kata-kata. Kenapa pula dia tidak sanggup minum sebotol sake ini sendiri?! Kalau sedang bosan dia bahkan bisa menghabiskan berbotol-botol sake. Jadi tentu ini adalah hal yang kecil baginya, ia rasa.

Mengabaikan gelas kosong yang disodorkan, Hinata memilih meminumnya langsung dari botol sake. Membuat meja itu semakin gaduh karena takjub akan keputusan Hinata itu. Semua orang menyemangatinya untuk menandaskannya sampai akhir. Tapi hanya Sai yang memilih diam, begitu khawatir karena tentu pilihan Hinata sangat beresiko. Bukan ia tidak percaya dengan Hinata, tapi tetap saja ia merasa perlu khawatir mengenai ini. Ia tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi pada wanita itu.

Hinata tersenyum menang. Ia bisa menyelesaikan sampai tetesan terakhir, membuat decak kagum teman-temannya. Beberapa pujian melayang untuknya, membuatnya semakin menarik sudut bibirnya lebar-lebar. Dia harus menyombongkan diri tentunya!

Tapi Sai masih tidak bisa untuk menghilangkan rasa khawatirnya. Jadi ketika semua anggota devisinya satu per satu mulai hilang, kembali pulang dengan alasan karena terlalu larut. Sai masih disana menemani Hinata bersama Kiba dan Ino yang kini tengah berpamitan.

"Ini hadiah dari kami berdua untukmu. Buka ini ketika kau bulan madu."

"Kenapa?" Tentu Hinata heran. Kenapa pula harus dibuka saat bulan madu? Tidak bisa sekarang?

Ino berdecak. "Kami membelikanmu ini sampai menguras dompet kami ya!" Cerocos Ino jengkel bukan main.

"Kami memilihkanmu kualitas terbaik Hinata! Jadi turuti saja ya." Kiba menimpali.

"Baiklah. Aku akan membukanya ketika aku bulan madu. Kalian puas?" Hinata berujar malas, kepalanya terasa berat, ia perlu tidur.

"Tentunya." Mereka berdua berujar kompak. "Kalau begitu kami pamit pulang ya. Si idiot ini meminjam mobil kawannya soalnya."

Hinata jadi bisa memaklumi, waktu juga sudah terlalu larut dan ia juga butuh istirahat. Kepalanya juga terasa pening seharian ini karena tidak tidur siang dan terus berjalan kesana kemari menghampiri tamu-tamu undangan. Bahkan untuk sekian kali matanya hampir terpejam menahan rasa kantuknya yang berat.

Ketika mereka berdua sudah hilang dari pandangan, Hinata melirik Sai heran, mengesampingkan matanya yang layu akibat kelelahan. "Kau tidak pulang?" tanyanya.

"Nanti." Dan Hinata hanya bisa mendengus lucu melihat pria itu tersenyum lebar padanya. Entah kenapa pria itu terlihat menggemaskan di matanya. Dan ketika keduanya terdiam dengan pandangan yang saling mengunci. Hinata tanpa sadar mendekatkan wajahnya pada Sai.

"Ketua tim..."

Suara itu lagi! Suara pelan manis yang selalu berhasil membuat darahnya mengalir cepat. Apa dia mabuk?! Sai bertanya-tanya. Sedari tadi wanita itu tampak normal-normal saja. Tapi apalagi ini?

"Boleh aku mencicipi—"

Sai tak mampu berpikir jernih. Kalimat itu terasa salah di otaknya tapi terasa begitu manis di telinganya.

Hinata masih setia menatapnya, tidak mematahkan barang sekalipun pandangan darinya. Dan ketika bibir wanita itu semakin dekat. Wanita itu ambruk dalam pelukannya.

Sai tersenyum mengerti.

Wanita ini mabuk mengatakannya.

Dan ia juga mulai mengerti—kalau dia telah tertarik akan wanita ini—

—yang kabar besarnya adalah istri sepupunya sendiri.

.

.

.

Aku harap gak ada typo. Aku ngebut banget nyelesein ini :")

Makasih banyak buat semua yang udah ninggalin komentar. Khususnya buat Guest. Aku juga berpikiran yang sama. Dari awal aku udah kepikiran kalo kebanyakan chapter takutnya bakal bosenin. Dan kalau aku gak bisa update sering kalian juga pasti bakalan lupa ama alur ceritanya. Tapi tiap nulis aku kayak gak bisa ngontrol tangan aku buat nulis, ngalir gituk ajah. Kayak gak bisa ninggalin apa yang ada dalam pikiranku.

Tapi target aku dari awal chapter ini jumlahnya bakalan 20-23 chapter. Dan kayaknya mau gak mau emang sekitaran segitu. Aku akan muter otak buat nyepetin cerita ini tanpa kelihatan maksa alur. Makasih banyak udah diingetin mengenai ini. Warning banget emang :3

Have a good day everyone!