Don't Like, Don't Read
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cross Over. Alur nge-slow~. Penggunaan bahasa Gue-Elo pada beberapa scene.
Pairing: AkaKuro, MuraHimu, MidoTaka, AoKise. Random pair. Slight! NijiHimu, Bro!TakaHimu, Bro!KaruAka (maybe). Request dipertimbangkan.
Note: Teikou di sini adalah nama SMA. Akashi di cerita ini adalah Ore-shi, switch ke boku-shi disesuaikan jalan cerita. Slight character dari fandom lain (beberapa berperan penting tapi tidak semua). Tokoh utama tetap para karakter KnB dan jalan cerita fokus pada karakter mereka.
Summary: Hanyalah hidup yang kujalani di bawah langit ini. Inilah kisah yang kupilih bersama warna-warninya. Tawa dan tangis. Bukankah tak ada artinya bila sendirian?—/Terhantam realita. Terhantam emosi. Dan dia tidak bisa memilih—hingga akhirnya pura-pura tidak tahu./—/Kuroko pasang muka jelek—moodnya langsung drop kalau Akashi dibawa-bawa, "Jawabannya karena Akashi-kun itu menyebalkan."/—/RnR/CrossOver/Gintama/Ass. Classroom/Yaoi/AkaKuro(main pair)
.
Gelap—Gelap—Hitam—Seringai, seringai, seringai. Dekat—dekat.
Dia berdiri. Dia ke arah sini. Dia mendekat.
Aku harus apa? Harus apa? Harus apa? Kabur. Lari. Jalan keluar. Pintu. Pintu. Pintu!
Berbaliklah kakiku!
BRUKH—"Ukh!"
Tangan diapit. Tubuh ditekan erat. Himuro bisa merasakan nafas itu mendera wajahnya. Tahu bahwa jarak itu begitu tipis. Mengerti bahwa sulit baginya untuk lari dan lepas dari cengkram yang memaksa dirinya tak bergeming.
Spektrum yang begitu remang menjadikan siluet itu begitu mengerikan—dengan seringai dan mata berkilat. Pandangan mendapat mangsa. Pandangan siap menerkam. Logika seolah absen, keharusan terabai—dia harus melawan—nyatanya tak satupun motorik mengirim perintah untuk berontak. Sel otak serasa mati. Beku di bawah hembusan dingin dan bau nikotin.
"Jangan seenaknya kabur, padahal aku sudah menunggumu sejak kau pergi ke tempat Kurokono dengan bocah besar itu."
Bola mata membelak dalam kengerian, mendengar ada jumput ciri khas tentang sang anak kesayangan dari mulut berbisanya membuat Himuro kalap untuk berpikir dingin—lalu berubah jadi picingan, merengsek maju untuk melawan himpitan.
"Mau apa kau sebenarnya!?" geram setengah seriosa—tak habis pikir, tak bisa menerka, kenapa orang ini tidak bisa membiarkannya bebas? Kenapa dia datang kembali ke hadapannya?
—selalu. Di saat dia menyiapkan mental dan batin. Selalu orang ini menghardiknya dengan tepisan dingin dan tekanan berlapis. Menyinggungkan seringai tipis tapi bermakna sinis.
Takasugi tersenyum miring. Gertak tak menghapus hasrat keji. Diri ini justru ingin tertawa melihat sang 'adik' terlampau menatapnya dengan benci dan benci.
"Kau mau mengatakannya, kan? Pada anak itu?"
Deg
Selaput abu yang berkaca gemetar.
"Pada anak dari orang yang harusnya mati di tanganmu?"
DEG!
Kenapa dia tertawa mengatakan hal itu?
Baginya ini lelucon? Apa serendah itu nyawa orang lain bagimu? Semudah itukah kau menertawai kalbu yang membuatku frustasi?
Sial. Sial. SIALAN!
"DIAM! JANGAN BICARA SEOLAH KAU TAHU AKU!"
Gema memekak lalu hening. Abaikan presenter televisi berbicara di balik kaca. Isi ruang tak lebih dari deru nafas saling bersahutan.
"Aku mengetahuimu. Setidaknya, sampai kau memutuskan pergi dariku..." ada desisan yang terasa janggal. Takasugi sudah tak memasang seringai untuk menekannya dalam pusaran emosi. Tapi, justru pandang tak berekspresi itu lebih menohok dari caci maki.
Tatapan seolah mata itu tak menganggapnya. Hanya sampah.
"Kalau kau mengatakannya konsekuensinya pasti sudah kau mengerti. Yang paling buruk dia akan melaporkanmu dan membuatmu mendekam di sel tahanan."
Apa maksudnya itu?
Dia mengkhawatirkanku? Tidak—tidak mungkin.
"Tapi, aku tidak akan membiarkanmu."
Itu hanya fatamorgana.
"Kau—kenapa...?" pergelangan tangan yang serasa mati perlahan kembali ke warna sebenarnya. Lepas dari himpitan, karena pelakunya sudah melepasnya dan mengambil jarak.
Tapi, ada gejolak yang membuatnya tak ingin lari.
Paras beku menyungging tipis. "Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu." belai pelan pada pipi yang mendingin.
Himuro terhenyak. Ada apa dengan etiket baik ini?
Apa kau sudah berubah?
Benarkah—"Shin...suke?"
Ulas tipis itu menyeringai kembali. "Karena itu pun akan menyulitkanku."
Sebelah tangan membekap mulut.
"UMHH! Umm—!" Himuro terhenyak mundur, menabrak pintu hingga berdebam keras. Tangan mencoba melepas, ronta tak terelakkan. Tapi, perlahan energinya seolah tersedot oleh sesuatu yang tak kasat. Menjadikan visual kabur secara bertahap.
"Mhh..."
Lalu, jatuh dalam kubang hitam.
Brukh
"Selamat tidur, adik kecilku."
.
.
12 Seasons In My Life
(...karena itulah kami di sini. Bersamamu. Bersama kalian semua. Di tempat yang akan menjadi kenangan...)
.
Original Story by Rin
Disclaimer Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Gintama © Hideaki Sorachi
Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui
Drama, Humor, Romance, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rated T
.
10th. Season: [Spring] Real Fact.
.
Klik. Klik.
Jemari mengutak-atik tombol. Layar LSR berpendar di balik keremangan. Satu. Dua. Layar terus berganti menampilkan rekam gambar. Pemiliknya bergumam pelan dalam keheningan, komentar kecil untuk mahakaryanya.
Klik
Gambar klub basket saat sesi latihan.
Klik
Gambar gedung Gymnasium utama.
Klik
Gambar seorang Nijimura Shuuzou memberi pengarahan.
Klik
Gambar latihan anak-anak kelas satu di bawah bimbingan Riko dengan fokus pada kepala merah dan biru.
Berhenti sejenak, memperhatikan lekat untuk menemukan sesuatu yang janggal.
Klik
Gambar sebuah Cafe di seberang jalan, dimana ada trio Mibu-Haya-Nebu sedang bercengkrama dari balik etalase.
'Tidak ada yang bagus.'
Pikirnya sinis. Cih. Hasil jepretannya kali ini sama sekali tak bisa diandalkan.
Klik—Pet
Mata keabuan mengerjap pelan, tak kuat beradaptasi tiba-tiba dengan hampar cahaya yang menyakitkan mata.
"Ngapain sih lo gelap-gelapan?"
Sosok remaja bersurai hitam dengan poni menyamping, tangan kiri memegang jus kalengan dan tangan kanan masih pada posisi menyalakan lampu. Pandangnya terarah pada pemuda jangkung yang bersender di tepi kasur. Mata keabuannya datar menatap—mungkin kesal ritualnya diganggu—tadi dia nampak buru-buru menyembunyikan sesuatu di kantongnya, mungkin barang haram buat ehemehem. Heh, ternyata si cupu bisa dewasa juga.
"Ngapain di sini?" jenggit si abu dengan kesinisan tidak dikurangi. Nijimura jedingjeding.
"Ini kamarku, bego." harusnya dia yang protes kamarnya digunakan sebagai ritual sesat seenak jidat, "Kau yang ngapain malam-malam gedor kaca balkon orang terus gelap-gelapan kayak cewek galau?"
Tampang hopeless pada dunia.
"Oh, kata orang yang galau habis dikacangin juniornya."
An—Nijimura tengok secepat cahaya—jir! Dia tahu!
"Brengsek, kau lihat ya!" tendang dengan maksiat. Mayuzumi langsung menggelepar karena tak sempat menghindar. Dia pun langsung balas dendam—lempar weker ke bibir maju tanpa belas kasih. Sayang meleset, yang kena malah hidungnya. Cih. Hilang sudah kesempatannya memajukan bibir seseorang.
Nijimura—yang menderita pendarahan di hidung balas menerjang. Dua-duanya langsung tindih-tindih sambil cakar-cakaran penuh nafsu.
Bukan nafsu yang itu.
"Hhh... Serius, ngapain kau malam-malam ke sini."
Setelah sesi gulat yang fabulous dan melibatkan lempar-lempar bantal Nijimura balik bergulingan di lantai sambil mainin ponsel sementara Mayuzumi kembali ke ritualnya yang biasa—duduk lalu balik kencan sama 'pacarnya'—yang berdada fantasi dan warnanya pinky, bukan yang otomatic tukang stalking.
"Oh, aku hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu. Menurutmu ini siapa?" Nijimura menyerngit, tumben, melihat kerajinan senior—yang berdasar dari beda umur setahun dan bukan mental—sampai bertandang ke rumahnya di jam-jam mau bobo. Keganggu, sih. Tapi, mahluk setengah halus macam Mayuzumi mana kenal sama toleransi. Untung dia tetangga. Untung sudah kenal lama. Kalau bukan sudah Nijimura tendang sampai ke angkasa.
Memang bukan tipikal Mayuzumi yang sok rajin kalau bukan karena kesenangannya sendiri. Tapi, karena plot mengharuskan dia melakukan hal ini—("Woi! Ini bukan tempat curhat karakter!", "Cih.")—lagipula dia cukup senggang sampai bakal mati penasaran. Dan 'pacarnya' juga sudah selesai di baca semua. Dan orang tolol yang bisa diganggu jam segini coman adik kelas sok tahu yang balkon kamarnya sebrang-sebrangan dengannya itu.
Yah, sebenarnya dia hanya jalan-jalan sambil cari 'pacar' baru—kebetulan lewat apartemen Himuro. Sampai dia tak sengaja lewat dan melihat orang di foto itu, karena merasa aura yang berbeda dari orang biasa. Dan curiga—soalnya dari jauh mirip sama si banci buta dengan tampang kriminal. Dia pun memfotonya.
Tadinya hanya main-main.
Sampai dia menyadari sesuatu yang menarik kalau dia menunjukkan hal ini pada si monyong itu.
Nijimura langsung ambil posisi duduk, Mayuzumi menunjukkan foto pada ponsel—yang sudah dipindahkan dari kameranya. Bukan apa-apa. Nijimura tampang boleh sangar tapi, kepo maksimal. Bisa gawat kalau dia mensabotase kameranya. Bayangkan saja, dia pernah merecoki ini itu untuk cari-cari info gak guna perihal seorang banci (karena cantik sampai yang berdada saja kalah pamor) buta sebelah (salah sendiri pakai style poni sebelah, untung tidak dikatai buta terang-terangan sama sekitar). Cih, kalau mau pasang tampang sama gebetan, ngapain juga dia dibawa-bawa?
Yah, tapi gara-gara itu dia jadi cukup tahu banyak hal.
Dalam hati warna kelabu bergemericik picik menangkap wajah tolol itu berubah keruh sampai menukik seram dengan nafsu membantai orang.
Ternyata melebihi perkiraannya—heh, dia bahkan membangunkan singa tidur.
"Kau dapat dari mana?" desis Nijimura menggelap. Mayuzumi masih lempeng-lempeng saja.
"Di Apartemen gebetanmu."
Ohok—! Nijimura tersedak ludah. Tampang seriusnya langsung hilang ditelan serabut merah. Mayuzumi pasang muka kosong melihat orang jijik melihat reaksinya.
"Plis, Chihiro. Dia bukan gebetanku." Bibir mencibir tiga senti. Menyangkal—tapi, mukanya merah-merah najis. Jih, mau muna ada batasnya kali, nyong. "Dan aku serius di sini. Kau ketemu dia dimana?"
Oke—Mayuzumi bukan tipe orang yang mau capek berdebat. Jujur jauh lebih baik daripada kena ceramah berkelanjutan. Mending kalau ngomong bibirnya normal.
"Tidak bertemu langsung. Hanya melihatnya menunggu seseorang dan memasuki apartemen itu."
"Terus? Himuro ada di sana?"
"Tebak saja sendiri."
"Mau kuamplas mulutmu supaya tidak ngomong selamanya?"
"Kayak kau berani saja."
"Chihiro!"
Cibir remeh. Mayuzumi akan membuat Nijimura membayarnya karena reaksi sesudahnya tidak sesuai perkiraan dan memaksa menggerakkan bibir melebihi standar maksimalitas porsi bicara—bukan berarti dia menginginkan suatu aksi yang lebih heboh sih.
"Satu, aku tidak lihat si poni itu di sana—dan kurasa bukan urusanku. Ngomong-ngomong apa hubungannya dengan anak itu?"
Pertanyaan goblok. Seakan dia ingin sekali tahu masalahnya—lagipula dia juga sudah menebak hasilnya.
"Bukan apa-apa. Kalau begitu kenapa dia di sana?"
Cih, tuh kan, dia bungkam. "Mana kutahu, nyong. Mungkin saja dia tinggal di sana—." lirik wajah jelek jadi buruk rupa. Untuk apa kujawab kalau dia sendiri diam. Simbiosis mutualisme, dong.
"Itu tidak mungkin."
Kenapa juga tidak mungkin? Apa otak si Kapten Klub yang katanya jenius tidak memikirkan banyak opsi lain selain tidak mungkin?
"Itu kemungkinan pertama—tapi, karena kamu ngotot gitu, gak aja, deh—kecuali dia semi hantu dan keberadaannya susah disadari ("Kayak kamu, dong.", "Jangan bawa-bawa aku, nyong.") Poin dua... Mungkin, saja—."
Sengaja membuat jeda yang menjadikan Nijimura merasa perutnya dihantam dan giginya bergemelutuk getir.
"—dia bermaksud bertemu seseorang."
.
.
Kaki itu melompat dari balkon ke balkon kembali pada habitat. Memandangi seberang pijakan yang meredup sekilas setelah diusir pergi oleh pemilik kamar.
Kelereng abu berputar saat mendengar sayup suara pintu tertutup tidak ramah dan tapak kaki menjauh bersama semilir angin malam. Menangkap tubuh pemuda bersurai pekat malam melaju menjauh dari sana.
Memandang sampai tubuh itu jauh.
—dan raut itu memulas puas.
.
.xOx.
.
Kurokono geleng-geleng melihat tingkah remaja zaman sekarang yang minta dibunuh. Kurokono mungkin toleran yang bijak dan anak budiman, tapi bolehkan dia marah dengan satu tindakan yang menurutnya tidak sopan—seperti menggedor pintu rumah orang dini hari pas lagi asik bobo cantik?
"Ada apa malam-malam begini Nijimura-kun? Kau tahu ini jam berapa, kan?" Kurokono saat ini berdiri di ambang pintu akses rumah, berbekal sweater tipis tersampir di bahu dia bersidekap dengan aura iblis menguar, memandang bengis remaja yang berdiri di depannya.
Iya. Nijimura Shuuzou. Yang jam dua pagi main gedor pintu rumah orang. Ganggu orang tidur dengan teror bel bikin pengang. Belum ada enam jam setelah banting tulang mengurus Cafenya yang amburadul bocah ini punya nyali juga ganggu waktu tidurnya. Padahal dia harus simpan energi karena besok ada panggilan ke kepolisian. Belum dipusingkan dengan dana yang akan keluar untuk perbaikan. Belum masalah pegawainya mau diliburkan sampai kapan. Belum ini. Belum itu. Sekarang ditambah masalah remaja-tak-tahu-waktu-gedor-pintu-malam-malam-pas-dia-tidur—dan ujungnya dia sakit kepala.
Jangan salahkan Kurokono kalau emosinya setara dosen tua PMS sekarang.
"Ma-maaf... Kurokono-san.. Anoo..."
Ah, kalau Nijimura terlihat seperti kebelet kencing tolong diabaikan—padahal tadi gedor-gedor sudah pakai gaya sekeren rentenir nagih hutang.
"Kau tahu ini jam berapa, kan?"
"Iya, maksudnya itu—..."
"Ngomong yang jelas, sialan."
Nijimura menegup ludah. Jelas banget Kurokono sensi tingkat dewa. Iya, tahu kok dia salah sudah ganggu jam tidur orang.
Tapi, mau bagaimana lagi. Dia keburu panik, dan orang yang bisa ditanyai jam segini perihal krusial kegalauan batin hanya Kurokono—pinginnya telepon Gintoki, tapi katanya dia lagi ada urusan sama polisi (Nijimura berpikir, akhirnya guru troll itu melanggar batas asusila dan salah jalan juga). Bagaimanapun, Nijimura bukan orang terkenal yang punya akses bebas macam protagonis komik yang selalu dapat berkah dari tiap sudut—bahkan cacing pun memberi berkah, sayangnya dia tidak tahu cacing ngomong pakai bahasa negara mana.
"Aku minta maaf. Tapi, aku harus menanyakan ini padamu! Ini soal Takasugi Shinsuke!"
Kurokono menghenyak mendengar nama yang terucap. Bola mata menyipit, toleh kanan kiri melihat sekeliling sebelum akhirnya melihat kembali Nijimura.
Menghela. "Masuklah. Ini bukan sesuatu yang bisa dibicarakan di depan pintu."
Ya, Nijimura harus melakukan ini.
Ini keputusannya.
.
Kurokono mau tidak mau harus membuang nafas dengan berat sekali lagi. Jelas sekali bahwa dari foto yang terpampang pada layar ponsel Nijimura adalah Takasugi. Dia tidak mau berpraduga, namun setelah menilik kembali lokasi dimana foto itu diambil Kurokono punya alasan kuat untuk menenggak aspirin.
Tuhan. Orang itu benar-benar keras kepala.
"Kau dapat ini dari siapa?" tanya Kurokono. Tidak, Kurokono tidak akan menanyakan perihal konyol kapan atau bagaimana foto ini diambil, dia tahu bahwa Nijimura tidak akan sempat mengambil foto karena dia akan—pasti sudah menggelegak emosi dan melayangkan tinju pada objek di foto tersebut.
"Temanku."
Tidak mau menjawab secara objektif? Bagaimanapun pasti bukan orang biasa yang bisa mengambil foto mahluk macam Takasugi.
"Dan aku tahu dia sempat kemari."
Ah, wajar saja kalau anak ini nekad menggedor pintu meski ada kemungkinan kepalanya akan bocor karena gaduh ganggu orang tidur.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku kalau orang itu ke sini?"
Kurokono mengangkat alis—tahu darimana kalau Takasugi sempat ke sini? Himuro, kah? Ah—kurasa dia adalah opsi terakhir orang yang menjadi informan seorang Nijimura Shuuzou.
"...kurasa aku tidak punya andil apapun untuk memberitahukannya padamu. Kenapa kau bersikeras ingin mencarinya?"
"Jangan berkata seolah kau tak tahu."
Patung.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau dan Gintoki-sensei dulu adalah teman orang itu?"
"..."
Kurokono sangat ingin menanyakan darimana anak ini tahu tentang hal itu. Well, tidak masalah sebenarnya. Toh, reputasi mereka sebagai pengacau dulu cukup terkenal di kalangan remaja. Apalagi kalau sudah melibatkan mahluk gesrek macam Gintoki.
Kurokono bukan tidak tahu kalau Takasugi pembunuh. Gintoki tahu kenapa dia membunuh.
Mereka saling tahu perihal masing-masing—walau, lebih memilih untuk tidak ikut campur.
Sekalipun mereka bertemu di jalan yang sama, pastinya akan ada cabang di jalan itu—dan hal itu sudah sangat mereka pahami hingga berakar dalam serabutnya.
"Dulu—kami memang akrab. Tapi, seperti yang kau tahu. Aku dan mereka sudah mengambil jalan yang berbeda."
Wajah Nijimura sungguh tak enak untuk dilihat. Kurokono tahu kata-katanya itu seperti menyiram bensin pada api. Seolah seperti menyembunyikan diri. Tak mau mengaku. Pembohong. Sekalipun itu kenyataan—dan sekalipun nyatanya dia memang tahu.
Kurokono punya alasan kenapa dia tak mengatakan apapun.
Karena, satu, dia menghormati Himuro—dan karena, dia tahu anak di depannya ini akan berbuat nekad. Karena, dia tahu bentuk loyalitas remaja ini terbentuk tinggi akan kebanggaan dan harga diri, di samping itu dipenuhi kasih. Karena, dia mengerti bahwa dia pasti akan berlari untuk menyalur dendam yang menjalar hati.
Dan seperti yang Kurokono duga, sekalipun di luar bertingkah seperti remaja rata-rata di luar sana—dia menyimpan dendam di hatinya.
"Foto ini diambil di apartemen Himuro-kun. Akan kucoba telepon dia." Kuharap belum terjadi apa-apa. Harap Kurokono sangsi. Tak yakin. Bagaimanapun dia mengerti tabiat Takasugi yang bergerak terkoordinir dan cepat.
"Aku sudah melakukannya." tentu Nijimura langsung mengambil opsi cepat menelepon Himuro saat melihat foto itu—pastinya setelah memastikan Mayuzumi pulang dulu.
"Lalu—...?"
"Rasanya aku ingin menonjok seseorang. Orang itu... Benar-benar..." gerut amarah sampai mengepal tangan, "Yang mengangkatnya adalah dia—Takasugi Shinsuke—..."
Pasti bukan hal bagus.
"—dia bilang sambil tertawa. Menantangku untuk menemukannya kalau mau Himuro kembali."
Deru khawatir tak pelak menjalar ke sudut sensorik Kurokono—hanya saja dia terlalu ahli untuk menutupinya, waktu berjalan memberikan pengalaman. Dia bukan lagi bocah yang mengumbar emosi kemana-mana lagi. Sekalipun berusaha ditutupi—sebagai yang dewasa pasti tahu.
Takasugi benar-benar sudah bertindak sesuai dugaannya—jujur dia merasa salah karena tak ambil tindakan untuk langsung pasang badan sendiri dan hanya menceritakan pada Gintoki.
Hanya saja dia tak mengerti.
"Andai kau ke sana apa yang akan kau lakukan Nijimura-kun? Membalas dendam? Pada siapa?"
Kenapa Takasugi memberitahu muslihatnya pada Nijimura?
"Pada Takasugi?"
Anak ini pasti sudah mengetahuinya.
'Atau pada Himuro-kun?'
Aah—...
Kilas senyum yang selalu berpendar kepalsuan.
"Aku—kau sudah tahu bukan Kurokono-san kalau aku mendendam padanya? Pada Takasugi Shinsuke, yang membuat ayahku terseret bertaruh nyawa."
Ya... Nijimura sudah tahu semuanya. Tentang apa yang terjadi pada ayahnya—juga siapa pelaku penusukan yang sebenarnya.
"—juga pada Himuro."
Himuro.
Himuro Tatsuya.
"...—tapi, itu semua tergantung nanti. Aku hanya ingin dia mengembalikan Himuro saat ini. Orang itu tidak seharusnya berbuat seenaknya padanya."
Anak lemah yang dia temukan di bawah selimut malam berbintang. Dengan wajah memerah karena demam sambil menggigil akan suhu yang membekukan.
Juga, airmata yang menetes begitu deras bahkan saat dia tertidur.
"Kalau begitu kenapa kau diam saja?"
Kejut menjalar motorik keduanya, toleh cepat pada arah suara desis, mata sejenak mencari—sebelum menangkap empunya yang berdiri di bawah bayang lampu koridor di depan pintu.
"Tetsuya-kun—?" Kurokono sontak berdiri. Dia benar-benar terkejut. Tidak dipalsukan sama sekali. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan anak ini yang mengupingi mereka. Sejak kapan? Dari bagian mana dia dengar?
Binar biru yang begitu jernih, kelopaknya terenggut dalam tukik dalam. Tertera emosi yang begitu dalam. Marah, kecewa—dia tidak habis pikir kenapa mereka sangat suka saling membohongi?
"Kalau begitu kenapa—..." tangan mengepal, gigi menggeram, kepala tertunduk sambil menyentak.
"Lalu kenapa selama ini kau diam? Kenapa tidak memberitahu Himuro-san?" Raut miris karena kesal. Entah pada Kurokono atau Nijimura atau mungkin keduanya. Nijimura menatap Kuroko dengan pias, tersenyum tipis seolah mengerti apa maksud dari diam setelah hardiknya itu.
—apa kau tahu dia menderita karena kebohongannya sendiri. Selalu merasa bersalah. Selalu terpuruk dosa. Mengutuki dirinya sendiri dalam mimpi sambil menyengguk tangis.
Apa kau tahu dia selalu menunggu waktu untuk menyiapkan hati yang mungkin diiris-iris olehmu?
Mau tidak mau senyum itu tersungging semakin pilu, "Aku tahu."
Kuroko membola.
"Aku tahu dia selalu merasa bersalah. Aku tahu dia selalu merenung akan hal yang pernah diperbuatnya. Tentu, akan lebih mudah baginya jika aku menghardik lalu menghantamnya akan semua yang sudah dia perbuat pada , aku punya alasan sendiri—atau, mungkin lebih tepatnya—"
Senyum. Satir. Dingin. Miris. Skeptis. Penuh kontradiksi ketidakstabilan emosi. Kuroko tidak pernah tahu bahwa orang yang menjadi Kapten di klubnya bisa menjadi serapuh ini.
"Aku ingin dia jujur padaku. Jujur, lalu aku bisa memukulnya tanpa penyesalan." karena itu aku selalu bertanya. Menaruh perhatian. Memberi kesempatan untuk membiarkannya bicara tanpa kepalsuan dan menahan diri untuk membongkarnya sendiri.
Karena, jika sejak awal Nijimura melakukan hal itu—menghardik, menghajar, menyalahkan—Himuro akan lebih lega—sekaligus hancur.
Dia ingin membalas—sekaligus menjadi kekuatan bagi Himuro.
Dia benci—sekaligus peduli pada anak itu.
Nijimura tidak tahu lagi bagaimana menata ulang isi kepalanya yang terlanjur kacau balau dengan kebenaran dan kebenaran yang mengisi jengkal memori tiap dia mencari. Karena, realitas adalah sesuatu yang kejam, dingin—dan kadang tak memikirkan hati. Keping kenangan yang menghangat terditraksi kepalsuan yang dingin akan menimbulkan pertentangan. Hingga pada tahap dia tak bisa membendung luapan emosi, dan berlari menuju arah di mana dia bisa menyalurkan dendamnya.
Pada Himuro Tatsuya.
—dan di saat itulah dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi tentang apa yang harus dilakukan.
Karena, melihat tubuh yang menjadi objek hujatannya sudah terkapar dalam lautan darah yang dibuatnya sendiri.
Dan, di saat itu pulalah dia menyadari dia tidak mau—tidak bisa, tidak boleh—kehilangan orang ini.
Kontradiksi. Logika dan hati.
Terhantam realita. Terhantam emosi. Dan dia tidak bisa memilih—hingga akhirnya pura-pura tidak tahu. Menikmati momen dimana dia bisa tertawa bersamanya—sekaligus, menangisi apa yang dia renungkan. Seperti teman. Seperti sahabat.
Walau, tidak memaafkan.
.
"Jika, dia pergi dari hadapanku sekarang aku tidak bisa menyalahkan siapapun lagi."
"Juga, tidak bisa melindunginya lagi."
Diam, adalah pilihan Kuroko saat mendengar kata-kata Nijimura.
Dia hanya terbangun—ya, siapa yang tidak bisa terbangun dengan teror bel dan gedor yang bikin rusuh itu (oh, mungkin Ogiwara yang sekarang masih tidur gaya kung-fu sambil ngiler)—dan bermaksud menjadi salah satu hakim untuk mengajarkan tata krama pada orang yang tak sopan itu.
Karena, itu bukan niatnya untuk melihat sang Kapten—Nijimura—berbicara empat mata penuh kesuraman dengan sepupunya mengenai seseorang.
Tentang Himuro.
Dan tentang kenyataan bahwa dia diculik oleh—Takasugi—kakak angkat Himuro—tersangka pembunuhan—mantan teman Tasuke-nii nya.
Kini terjawab sudah kenapa Akashi menyangkutpautkan masalah Himuro dengan Nijimura saat dia berkunjung.
Nijimura tidak salah. Dia tidak salah menaruh dendam. Keduanya berkaitan. Keduanya berikatan. Punya andil. Punya alasan. Punya aspek dan probabilitas.
Kuroko sudah tidak bisa melihat seberapa hancur diri itu—dan seberapa teguh pendiriannya.
Dalam retina jernih itu, sosok Nijimura bagaikan terbelah dua. Penuh kebimbangan antara hitam dan putih. Sosok yang begitu tangguh juga teguh akan wibawa dan pembawaan dirinya yang luar biasa bahkan di hadapan orang-orang yang mengerjainya—kini begitu rumit—seolah jika salah kata dia akan jatuh dalam kegelapan sepenuhnya.
Tangan dikepal.
Apa yang salah dengan itu?
Bukankah ada satu pemecahannya?
"Kalau Himuro-san jujur padamu semuanya akan baik-baik saja, kan?"
Jauh di dalam hati, diri itu tak bisa membenci. Dia bukan tipe yang bisa jatuh terlalu jauh dalam kesesatan. Dan lebih daripada itu
—salahkah dia memandang sakit itu dengan berharga?
"Kau akan menghajarnya lalu memaafkannya, kan?"
Jeda yang terisi hembus nafas dan saling memandang. Binar cerulean mencari seperti apa raut yang akan terlepas, apa dengus pasrah atau justru renggut dingin menganggap konyol tanyanya.
"Ya."
—atau mungkin binar yang tegas terlukis pada wajah. Pada bola mata. Bahkan, pada satu kata singkat yang terlepas tanpa sedikitpun keraguan.
Tanpa sadar Kuroko tersenyum tipis.
"Aku akan membantumu, Kapten." ucapnya mantap.
Wajah ganteng Nijimura langsung jadi jelek. "Hah?"
"Aku akan membantu mencari Himuro-san. Aku ingin masalahmu dan Himuro-san terselesaikan."
"Hei, tunggu! Aku ke sini bukan untuk minta hal yang begitu!" dia ke sini tujuannya adalah mencoba mengorek informasi dari Kurokono tentang keberadaannya—meski, percuma karena Kurokono sama sekali tidak tahu (atau mungkin bungkam).
"Tidak apa-apa kan Tasuke-nii?"
"Ya." tanggap Kurokono tegas tanpa sedetik pun terlewat.
"Apa!?" Nijimura melongo. Hei, tunggu. Bagaimana bisa izin turun dengan mudah begitu?
Pandang tidak percaya Nijimura mendapat respon sebuah tepuk di pundak dari Kurokono, "Tapi, Nijimura. Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melakukan apapun selain menolong Himuro-kun."
"Apa—? Hei! Aku punya urusan sendi—...!"
"Janji, kan?" senyum penuh makna, Nijimura langsung merinding dari ujung ke ujung, "Anggap saja Tetsuya-kun kau bawa untuk mengawasimu." walau aku yakin dia akan berbuat yang tidak-tidak. Anak ini punya pengendalian diri yang payah.
"Kalau begitu aku ganti baju dulu."
"O-oi! Kuroko, kau punya sekolah besok!"
"Tenang saja, aku akan telepon wali kelasnya dan bilang dia tidak masuk dengan alasan kerusuhan di Cafe."
W—hut? Wali macam apa yang justru mencenungkan ide putra asuhnya membolos? Nijiimura gagal paham sama Kurokono.
"Ah, Tetsuya-kun. Jangan lupa bawa ponsel, saputangan, dompet dan pakai syal. Cuaca pagi ini akan dingin." Kurokono langsung mengobrak-abrik tubuh adik asuhnya dan membekalinya dengan macam-macam peralatan.
"Tetsuya-kun perlu bekal, gak?"
Ini bukan mau piknik, hoi! Raung Nijimura. Dalam hati. Kalau kelepasan takut kena lempar beling.
"Hati-hati, ya."
"Ya, Tasuke-nii aku pergi."
Gyut—feromon pemicu diabetes dikeluarkan. Satu gula-gula terpental jatuh, Nijimura mau mati.
"AKU SAJA MASIH BELUM TAHU HIMURO DI MANA!"
.
.
Kurokono mendesah pelan saat tak ada lagi siluet dua tubuh remaja karena tertelan oleh kegelapan. Dia memijat keningnya pelan, sempat merasa bodoh karena membiarkan adik sepupu yang harusnya dia jaga pergi begitu saja.
'Tapi, matanya terlihat seperti orang itu.'
Mau tidak mau dia menjadi lebih terobsesi dan tanpa sadar tertegun hingga mengucap setuju tanpa berpikir dulu.
Dengus. Tawa kecil. Tutup pintu dan kunci. 'Padahal dari luar dia mirip aku.'
'Takasugi-kun...'
Terpaku dalam lamun, mengawang jauh pada eksitensi yang tak tampak.
Lalu, meraut sedih dalam senyumnya.
"Semuanya sesuai rencanamu, kan?"
Bayang punggung yang mengabur akan egonya.
Kurokono mengambil gagang telepon, menekan nomor tanpa ragu.
"Dengan kepolisian? Aku ingin melaporkan sesuatu."
.
.xOx.
.
Dini hari itu begitu dingin. Sepoi angin tidak membantu. Seolah belum cukup, getar akan gumpalan hasrat yang siap meledak membuat jantung bertalu. Membuat pusaran aneh di perutnya dan menyelimuti dirinya dengan hitam yang begitu menyesakkan.
Kedua kaki melangkah semakin jauh dari titik awal. Jalan jalan mereka lalui setapaknya. Terkadang berhenti saat mendapati lampu merah. Tapi, itu sekitar setengah jam lalu—mungkin—saat mereka masih berada dekat pada keramaian kota—sungguh hebat kota besar, bahkan dini hari seperti ini masih ada saja hilir mudik manusia (kebanyakan mabuk) di jalanan.
Dan sungguh perjuangan bagi Nijimura, untuk berkali-kali menarik Kuroko supaya dia tidak terpancing saat ada banyak hal hitam (yang benar-benar hitam) yang sempat terlihat—bukan khawatir pada Kuroko, dia justru khawatir pada orang yang dihampiri takut jantungan (Nijimura merasa anak ini makin malam makin menipis hawanya, jangan-jangan benar kata Hayama kalau Kuroko adalah hantu penasaran).
Sinyal membawa mereka melalui jalan tak berjalur dan tertutupi rerumputan tinggi. Hawa dingin. Pepohonan tinggi menjulang menutup sumber cahaya malam. Setapak hancur setengah batu setengah tanah. Ditemani suara binatang malam yang tak bersahabat dengan nyali.
Kuk... Kuk...
Krikkrik
Ssh...
"..."
"Kapten, apa kau yakin ada di sini?" Kuroko kriptik, mereka benar masih di Tokyo, kan?
"Ya—..." mengusap hidung lalu kembali fokus pada titik merah terpampang pada layar bersinar. "Ponsel Himuro tidak dimatikan, aku tidak tahu apa dia sengaja atau tidak tapi ini satu-satunya petunjuk. Kau—." Menggulir bola mata pada sosok mungil terbungkus lapisan syal. "—kalau ingin pulang, kembali saja. Sudah kukatakan ini urusan pribadiku."
"Tidak mau. Aku janji akan bantu."
"Aku tidak bisa menjagamu terus-terusan kalau seandainya kita kepepet." Nijimura mengeluarkan senjata andalannya, bibir maju tiga senti tanda kesal di ujung tanduk. Heran, bocah ini kepalanya terbuat dari apa, sih? (dalam hati dia merasa Akashi begitu hebat, kuat adu urat lawan kepala plastisin dalamnya baja gempur 10 mili dan bibir sadis penghancur harga diri).
Nijimura benar-benar tidak habis pikir kenapa Kurokono dengan mudahnya membiarkan adik(sepupu)nya sendiri untuk ikut dalam sesi krusialnya. Bukankah harusnya dia lebih tahu kalau hal ini mungkin saja bisa menjadi sangat berbahaya. Nyatanya dia tahu potensi fisikal Kuroko bukan sesuatu yang bisa dibilang membanggakan—menyayat kokoro kemaskulinan para pria malah. Hanya saja dia memiliki bekal teknik hebat dengan aura tipis yang menyamai mahluk halus—tapi, apa itu akan berguna? Jangan bilang Kurokono bermaksud menggunakan Kuroko untuk menakuti pria itu. Hell! Jangan bercanda—reputasi korban-korbannya saja sudah membuktikan kalau pria itu tidak bisa dilawan dengan rencana ecek-ecek macam dikageti jejadian.
Yah, Nijimura sendiri dalam posisi yang sama—hanya saja tidak ada yang lebih buruk dari ego manusia. Hasrat dan pembalasan bagaikan ranah hitam yang mengkerak. Diberi pelarut bernama pukulan batin, dan kerak itu akan melebur dengan hati menjadi wadahnya. Terlanjur pekat sampai bingung rasanya kalau tak dilampiaskan—walau memang kali ini bukan itu tujuannya.
Tapi, kalau melihat orang itu kalah pada rencananya sendiri justru memberi kepuasan tersendiri.
"Aku juga laki-laki Kapten. Aku pasti bisa melindungi diri sendiri." Sambil menunjuk otot lengan yang membuat Nijimura menitik karena sangat menyedihkan. ("Andai Akashi di sini." Bisiknya menerawang bintang.)
"Kalau Tasuke-nii mengatakan aku boleh pergi berarti ada hal yang bisa kulakukan, kan? Kurasa Kapten tidak perlu terlalu khawatir."
"Tentu saja aku khawatir. Hhh... kalau kau sampai kenapa-kenapa aku bisa memaki diriku seumur—hidup..."
Tep
Geming yang membuatnya diam. Kuroko yang menyadari hanya memandang heran. "Kapten?"
"..."
Kuroko pasang raut jijik penuh hina, "Kapten, kau konstipasi?"
Etdah—bocah sialan ini mulutnya perlu amplas. Dia tidak habis pikir kenapa orang yang mukanya unyu-lempeng macam Mayuzumi dan bocah biru ini kalau ngomong gak pakai filter sensor? (eh, dia gak nganggap Mayuzumi unyu, kok. Gak. Itu hanya supaya mudah mencari persamaannya. Sip. Kasus ditutup).
"Ngomong seenaknya—bukh! jitak—bicara sopan pada senior!" Nijimura mengibas pelan tangan sambil lanjut jalan. Kuroko meringis pedih di belakang—kayaknya ada yang perlu makan ignite pass—tapi, dibatalkan. Bisa-bisa belum selesai misi petualangan heronya sudah koit duluan (walau gak ada hero yang monyongnya fabulous. Tapi, seenggaknya masih masuk tahap ganteng).
"Kalau tidak mau kutinggal jalannya cepat."
Entah kenapa sesaat tadi Nijimura bisa merasakan—hal yang mungkin Himuro rasakan saat itu.
Perasaan cemas akan kegagalan melindungi apa yang harus dilindungi.
'...jangan-jangan ini alasan dia menyuruhku membawa Kuroko.'
Agar dirinya bisa menyecap sekelumit pahit yang sama dengannya.
Sekejap kaki itu melangkah makin mantap.
.
Dia benar-benar HARUS menolong Himuro.
.
.
Ujung dari jalur pematang liar itu adalah bebangunan tak terpakai yang terlupakan.
Nijimura memastikan lagi sinyal yang mengedip pada ponselnya untuk mengetahui posisi.
"Sinyalnya dari gedung yang itu." tunjuknya pada bangunan yang cukup mewah—dalam ukuran bangunan lapuk tak terpakai—berdiri di salah satu sudut tak cukup jauh dari mereka berdiri. Mungkin dulu tempat itu adalah hotel—atau penginapan? Yah, sama saja. Mungkin ditutup karena kerusuhan—yang pasti bukan bangkrut.
Karena—intip pelan-pelan dari jendela tak berbingkai—tempat ini masih menyimpan berbagai perabot di dalamnya—tidak bisa dibilang bagus, hanya saja kelasnya tentu tak rendah. Andai dijual di tukang loak pun pasti menghasilkan uang.
"Dia mungkin di atas." bisik Nijimura.
"Langsung masuk? Kelihatannya tidak ada siapa-siapa."
"Yang kayak begini biasanya sering dipakai buat markas berandalan. Tapi, gak tahu juga." di dalam sini kan sedang ada pelaku pembunuhan berantai. Preman ecek-ecek mana berani masuk.
Keduanya berpandangan-pandangan.
Srek—tep
Nijimura mengangkat Kuroko masuk melalui jendela—karena pijakannya cukup tinggi dan Kuroko di bawah rata-rata jendela, dia pundung sambil ngorek tanah.
"Hei, jangan bengong."
Mata onyxnya melihat sekeliling yang cukup penerangan. Membuat mengangkat alis heran untuk tempat yang harusnya kosong tak terawat.
"Hei, siapa kau bisa masuk kemari?"
'Cih, jackpot." desis dingin.
Sudah bisa ditebak.
Bagi para kelompok preman atau gangster tempat seperti ini justru bagai berlian di tumpukan pakan babi. Tidak akan ada yang melewatkannya.
Nijimura langsung menarik Kuroko untuk berlindung di belakangnya. Nampak siaga meski sudah berkeringat dingin. Tidak menyangka ketahuan secepat ini.
"Aku ada urusan dengan orang yang ada di sini. Jangan menghalangiku." Kuroko takjub. Nijimura hebat juga bisa berakting seperti preman penyendiri.
Itu bukan akting Tetsuya...
"Heh." mendapat ancaman dari Nijimura, orang yang menangkap basah mereka malah terkekeh—lalu, menggerakkan jemari seolah memberi sinyal—dan benar saja, sedetik jemari itu bergerak banyak tubuh muncul dari persembunyian mengelilingi mereka.
'Sial...—orang itu... Jangan bilang dia bermaksud menjebakku!'
"Bos bilang jangan ada satu orang pun yang mengganggu. Itu artinya termasuk kau, tengik."
Nampaknya Takasugi membayar orang untuk menjadi anak buahnya. Decih Nijimura sebal.
"Arogan sekali bosmu itu. Aku ingin lihat tampangnya, mungkin terlalu jelek sampai tidak menampakkan diri di publik."
"Kau akan menyesal mengatakan itu."
"Heh." Nijimura memasang seringai ganteng. Kuroko colek-colek dari belakang.
("Kapten... Kayaknya tadi harusnya sebelum masuk kita buat rencana dulu, deh.")
("Aku tahu! Sudah telat kali!")
("Mereka banyak sekali, kita akan melakukan apa Kapten?")
("Tentu saja akan kuhabisi. Bukan waktunya menahan diri saat ini.")
("Kapten—kau bisa mati konyol. Serius.")
("Berisik! Yang gak bisa berantem diem aja!")
"OI! NGAPAIN KAU NGOCEH SENDIRI? SUDAH GILA, YA?"
Hah?
HAH?
Tu—tunggu sebentar... Jadi, mereka sama sekali tidak menotis Kuroko, padahal anaknya jelas-jelas di belakangnya?
Nijimura semakin takut bocah biru ini beneran astral. Kuroko bingung harus bersyukur atau terhina.
Tapi, ini kesempatan untuk Nijimura.
("Lari. Berlindunglah Kuroko.") bisik Nijimura. Kuroko mendelik, ("Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian Kapten!")
("Selagi, mereka belum menyadarimu! Kau sembunyi dan buat rencana, lalu bantu aku diam-diam!")
("Tapi, kapten—...!")
("Cepat! Aku harus melindungimu! Kau tanggung jawabku sekarang!")
Kuroko menggigit bibir. Mengepal seolah menahan sesuatu namun tak terutarakan. Perlahan dia mundur tanpa suara, bersembunyi dibalik bayang-bayang di sudut tak terlihat. Nijimura menghela lega, setidaknya saat ini dia bisa bertarung lebih leluasa. Terima kasih sekali untuk hawamu yang seperti hantu, Kuroko.
"Maaf ayah..." bisiknya pelan. 'Kurasa aku harus merusak janji denganmu.' Nijimura menyingsingkan lengan baju dan memasang kuda-kuda.
"Maju. Kuhabisi kalian."
.
Mustahil memang melawan seorang diri. Tapi, Nijimura masih bergerak untuk menumbangkan orang-orang yang menyerangnya.
'Gila—berapa banyak mereka!?'
Rasanya dia sudah menendang dan meninju banyak orang tapi rasanya tidak ada yang berkurang.
'Level mereka bukan preman kampung.' Nijimura mulai terengah. Lelah mulai menguasainya. Lebih buruk lagi.
Srr...
Kepalanya sudah berat sekali.
'Sial... Darahnya menutupi mata!' decaknya sesaat merasa pedih menjalar indra penglihatan.
BUKKH!
Nijimura tak sempat mengelak saat perutnya diguncang oleh hantaman pemukul. "Orkh! Hak—...!"
Gusrak—tubuh terlempar sekian meter—langsung ditahan oleh salah satu anggota mereka dan langsung menghajar Nijimura lagi.
BUK!
"Ohok! Hok!" Nijimura mengejang pelan saat bagian perutnya ditendang lagi. Melihat bahwa mereka siap menendang lagi Nijimura langsung menangkisnya, memanfaatkan celah itu untuk memukul roboh salah satunya dengan sikutan di leher.
"Hhh! Hhh!" Nijimura menatap sekelilingnya. Nampak beberapa dari mereka sudah terbangun lagi—dia terlalu lama memberi waktu sampai mereka bisa mengumpulkan tenaga lagi. Sial.
Dia terdesak.
'Aku tidak melihat Kuroko—baguslah... Mungkin dia sudah pergi lari...'
Setidaknya anak itu selamat sekarang.
Sejanak melankolis.
Dulu—bukankah Himuro juga seperti ini?
'Heh... sial... Ini seperti karma...' Nijimura menyungging, tiris dengan kebanggaan.
"Sudah capek?"
Tawa ejek berkumandang di telinga. Nijimura mencibir—setidaknya diaharus melawan sampai dia benar-benar jatuh.
"Hyaaaat!"
Dari belakang sebuah pemukul dilayangkan.
BUAGH!
Batu besar melayang seperti ayunan menghantam orang yang mau memukul Nijimura.
Nijimura tak pelak melebarkan mata.
"Siapa di sana!"
Tidak ada reaksi.
"Hei, seseorang lihat ke sana!"
Duak! Duak!
Dua orang yang mengecek balkon di lantai dua menggelepar saat dua buah kursi menghantam mereka hingga guling-guling di tangga.
"Brengsek! Dia mau main-main dengan kita!" beberapa yang geram langsung ambil langkah menyusul dua anggotanya, sisa beberapa yang lebih fokus mengurus anggota yang jatuh sambil berdebat.
Nijimura sudah lebam sana-sini dan hantaman di kepala tentu membuatnya pusing, tapi dia tentu tidak salah melihat sosok yang tersenyum tipis menghampirinya.
Kuroko... Berjalan melangkahi orang-orang yang dia buat jatuh. Ternyata dia tidak lari—melainkan membuat beberapa jebakan yang bisa dia gunakan untuk melawan.
"Heh... Dasar... Aku sudah menyuruhmu lari, kan?"
"Perintah Kapten adalah sembunyi dan susun rencana. Sama sekali tidak ada perintah untuk lari."
"Heh, orang normal akan berinsiatif lari harusnya..." benar-benar—anehnya aku merasa lega, meski sangat khawatir anak ini ada di sini.
"Sial!" beberapa orang yang sempat jatuh kembali berdiri. Bersiap menyerang kembali.
"Berhenti."
Ooh, finally, He come...
"Biarkan mereka. Yang mereka inginkan hanyalah tuan putri yang saat ini sedang tertidur, bukan hal yang lain."
The last boss.
Seperti tokoh-tokoh pimpinan yang berwibawa akan kharisma dan intimidasi—Takasugi salah satunya—dan dia membuat mereka terdiam karenanya.
Nijimura tidak pernah tahu seperti apa seorang Takasugi Shinsuke sebelumnya. Dia hanya mendengar dari info, dari berita juga rumor. Menyebutkan dia adalah orang berbahaya. Orang yang bisa menggerakkan puluhan orang di bawah satu komandonya. Penguasa malam berwajah dua.
Nijimura tidak benar-benar tahu sampai saat ini.
Sampai orang itu berada di hadapannya sekarang.
Orang ini—dia benar-benar berbahaya.
"Lari Kuroko..." kaki-kaki gemetar untuk berdiri, namun dipaksa tanpa peduli sambaran sakit.
Dia harus lari—membawa Kuroko pergi.
"Jangan harap." Krak—! Suara mengerikan saat Takasugi menekan cepat tepat pada jalur nafas di leher Nijimura
"Haaargh—ohok!"
Nijimura jatuh berlutut memegangi lehernya yang terasa terbakar, terbatuk hebat dengan nafas tersenggal sampai akhirnya pingsan.
"Kapten!" Kuroko menggeram saat jalurnya pada Nijimura dihalangi oleh Takasugi.
"Kenapa aku tidak kaget kau berada di sini, ya?"
"Lepaskan aku. Kau mau apa pada Kapten?" tanya Kuroko dengan berat. Wajahnya benar-benar marah—tidak ada yang namanya emotionless, toleransi sudah hilang. Haruskah Takasugi memuji diri sendiri karena, berhasil membuat bocah hantu semarah ini?
"Kau melakukan banyak hal menarik di belakangnya, kan? Aku memperhatikan, lho." Takasugi melirik beberapa alat yang Kuroko gunakan untuk membuat orang bayarannya kewalahan. Benar-benar cerdik.
"Tapi, sayangnya..."
Dugh
Kujur listrik menyetrum, otak serasa mati.
Di ujung kesadarannya dia bisa melihat wajah tersenyum sendu milik Takasugi.
Apa dia salah lihat?
Brukh
"Sudah waktunya untuk tidur."
.
.xOx.
.
Gelitik.
Sesaat tadi dia merasa masih di alam mimpi sampai hidungnya terasa dipoles amplas dari dalam, dengan gerak pelan yang begitu menggoda syarafnya untuk berjenggit berkali-kali akan rasa tak nyaman yang membuat perutnya tergelak. Selaput hidung semakin disiksa oleh gumpalan debu yang terhirup. Yang punya ruangan pasti jorok. Tak tanggung-tanggung jumlahnya sampai membuatnya ingin—
"Hatsyii!"
Bersin.
Mata mengerjap. Hidung meler.
"Hng?"
Bola mata biru merasa berat, geli-geli-pedih. Ingin melakukan rutinitas macam mengucek mata habis bangun tidur—namun hal itu batal saat sadar kedua tangannya tak dalam kendali—tepatnya disangga oleh suatu belenggu yang membuatnya terhambat.
Kuroko menyentak. Dia diikat.
"Kau sudah bangun, Kuroko?"
Kuroko langsung menoleh pada suara yang dia kenal—meski, lebih serak dari biasanya. Warna safir mendapatkan siluet seorang pemuda yang tengah duduk menyandar tembok dalam keadaan terikat sama dengannya. Jaket yang dikenakan nampak tak seputih awalnya, penuh noda coklat tanah dan darah yang mengerak hitam. Lebam biru menghiasi sisi pelipis kanan, walau tak terlihat Kuroko yakin kalau ada banyak lebam di balik pakaiannya.
"Kapten!"
Ulas ingatan beberapa saat lalu langsung berbayang. Dia ingat kalau Nijimura babak belur dikepung banyak preman—dan dia menolongnya—lalu—... Orang itu datang.
"Ssh... jangan berisik, aku tidak apa-apa. Lukanya tidak separah kelihatannya." tandas Nijimura menangkap sirat khawatir yang ketara di balik bongkah safir.
Kuroko mengangguk pelan, lalu mencoba duduk seperti yang Nijimura lakukan, setidaknya agar dia dalam posisi siap—walau keadaannya terikat.
Hening menjalar beberapa menit.
"Kita ditangkap, ya?" konfirmasi Kuroko yang sebenarnya tidak perlu dijawab karena sudah jelas.
"Ya." Nijimura merasa pundung, ditanyakan kegagalan dengan emotionless lebih-lebih sakitnya. Sialnya, orang yang diajak bicara punya muka kelewat lempeng dan kalau ngomong gak pakai filter.
"Kurasa sebaiknya tidak lagi-lagi maju tanpa persiapan rencana, Kapten. Kau juga babak belur begini, payah sekali, padahal karateka."
Tuh, kan. Tuh, kan! Cih, tapi memang apa boleh buat—mau tidak mau—Nijimura mengakui kebodohannya yang main terjang tanpa rencana matang.
"Oke, oke! Kau benar. Sekarang diem aja—aduududuh...!" Nijimura berjenggit pelan saat pedih menjalar di area bibirnya. Cih, kelihatannya bibirnya sobek.
Kuroko memandang Nijimura, Nijimura diam. Bola mata safir bergulir pada sekeliling. Ruang persegi yang cukup sempit, cahaya minim dan hanya dari jendela kecil di salah satu sudut—mendapati berkas sinar yang benderang di luar sana Kuroko yakin matahari sudah meninggi.
"Kau sudah bangun dari tadi Kapten?"
"Belum lama—setidaknya aku punya cukup waktu untuk melamun sampai kau bangun tadi."
'Melamun?' Kuroko ingin bertanya tapi, wajah Niijimura nampak begitu keruh. Akhirnya, dia urung.
Tentu saja apa yang dilamunkan Nijimura adalah kondisi mereka saat ini—dan dia merasa bodoh karena bisa-bisanya membiarkan Kuroko terjebak di dalamnya. Harusnya dia bisa menolak dengan lebih tegas saat Kuroko menawarkan diri ikut.
Harusnya dia bisa menjaganya.
Harusnya dia tidak ceroboh dan membuatnya ikut tertangkap.
Harusnya.
Harusnya...
Harusnya—ya, jika sejak awal semua ini tidak terjadi.
"Saat itu aku tidak tahu lagi aku harus bagaimana."
Kuroko menoleh. Pias onyx mengawang lalu menerawang, kemudian getir senyumnya.
"...—aku selalu ingin tahu apa yang terjadi pada ayahku. Kejadian sesungguhnya. Aku selalu curiga—kenapa saat itu Himuro ada di sana."
Nijimura entah kenapa mulai bercerita—atau mungkin mulai meracau saking kacaunya. Kuroko diam saja, tapi pasang telinga. Nijimura membutuhkan seseorang untuk menumpahkan apa yang dipendamnya.
"Aku mencari tahu tentang ayahku—pekerjaannya—kurasa itulah faktor umum yang bisa menyebabkan seseorang dibunuh. Sampai—aku mendapatkan petunjuk kuat ketika membereskan ruangan ayahku.
.
Di sana, di antara berkas-berkas tertumpuk tak terurus, aku menemukan sebuah data yang terselip tidak pada tempatnya.
Salah satunya adalah sebuah foto.
Ada dua objek di foto itu, seorang laki-laki dan remaja—mungkin—SMP.
Aku mengenal remaja itu sebagai Himuro.
Dan aku mengenali laki-laki di sampingnya—karena wajahnya sudah terpampang di koran beberapa bulan lalu.
Takasugi Shinsuke.
.
Ayahku wartawan.
Kurasa, dia sedang mencari berita tentang pembunuhan dan hilangnya orang-orang yang menjadi petinggi negara saat itu.
Pada akhirnya dia mengetahui terlalu banyak—hingga menjadi salah satu orang yang harus dihabisi.
Aku tidak mau tahu lagi tentang Himuro saat itu—dan seolah tidak memikirkan apapun lagi aku langsung berlari untuk meminta penjelasan.
Saat itu aku bermaksud melabrak apartemennya. Menarik kerah bajunya dan menghajarnya. Lalu, memakinya kenapa dia tidak mau berkata apa-apa.
Tapi, itu tidak terjadi. Saat itu yang kutemukan bukanlah sosok Himuro yang membukakan pintu—karena sejak awal pintu itu tidak terkunci.
.
Saat itu... Aku tidak bisa berpikir lagi.
Himuro Tatsuya, tergeletak di lantai dengan tangan tersayat dan berkubang darah.
Dan melirih.
"Maaf... Nijimura-san..."
.
Aku sama sekali tidak menyadari penderitaannya. Itulah yang kupikirkan.
.
Aku tidak boleh sampai kehilangannya—dan aku berlari membawanya untuk minta pertolongan. Dan tidak ada yang membuatku lebih lega saat dia berhasil selamat.
Aku sama sekali tidak menyadari—kenyataan dia yang tergeletak sambil membopong ayahku di tengah hujan. Atau, kenyataan bahwa dia melindunginya dari serangan preman saat itu.
Andai aku berpikir seperti itu lebih awal—aku tidak perlu menyimpan rasa konyol ini padanya."
.
Kuroko diam. Nijimura diam. Sampai kekeh miris lepas dari bibir Nijimura, menertawai dirinya sendiri, "Menurutmu aku ini bodoh, ya?"
"Iya."
Krak—Nijimura langsung sebal. Bocah ini gak ada sentimentilnya sama sekali.
"Tapi, menurutku Himuro-san juga bodoh. Andai kalian berdua mau memaksa diri untuk maju kurasa kalian akan saling mengerti—meski tidak saat itu juga..."
Menutup mata, meresapinya. "Kau benar. Kami berdua benar-benar bodoh sampai mendramatisir keadaan."
Padahal semua akan lebih mudah jika kau gamblang apa adanya.
"Benar-benar cerita yang menyentuh. Aku tidak menyangka kau akan begitu perhatian pada adikku."
Derit pintu menyayat bisu. Berkas sinar dari luar menyusup masuk saat celah itu melebar. Kuroko menajamkan penglihatannya, melihat Takasugi di sana. Menyungging dengan sebilah rokok di bibirnya.
Takasugi.
"Hm, apa Kurokono yang menyuruh kalian ke sini?"
Nijimura bisa merasakan bahu-bahunya menegang—menegang karena ingin menghajar orang di depannya.
"Sayang sekali kami ke sini atas keinginan sendiri." Jawab Kuroko—walau dengan persetujuannya, sih. Tambahnya.
Takasugi mendekat. Berdiri angkuh di hadapan kedua remaja yang fisiknya terbelenggu ikatan. Dia bisa melihat sikap mawas keduanya—terutama Nijimura yang seolah ingin mengulitinya, heh, dendam pribadi memang susah dilunturkan.
Toh, dia juga sama.
"Di mana Himuro?" Nijimura menggeram, matanya masih tajam menusuk. Intimidasi anjing. Pikir Takasugi melihat raut tegas berusaha tenang padahal baranya sudah melalap habis nurani.
"Menurutmu?"
"...! Jangan bilang ... Kau sudah..."
Bibir itu menyeringai.
Ranah hitam menjalar menyelimut nalar.
"KAU! A—hkh!"
Nijimura menerjang penuh kemarahan, tanpa peduli kondisi yang terikat dan tubuh yang menjerit karena lebam. Mudah saja bagi Takasugi untuk menghindar—sayang, dia bukan orang sebaik itu.
Buk!
Hantaman tepat di perut dengan lutut. Nijimura langsung jatuh mengerang pedih. Area itu titik mati karena lukanya paling parah.
"Kukuku, diamlah." Kaki menginjak tubuh yang mengerang. "Dia masih hidup. Tapi, anggap saja kau sudah kehilangan kesempatan bertemu dengannya lagi."
Nijimura mendelik dari sudut matanya, seolah memberitahu bahwa sakit yang dideranya bukan apa-apa dan masih sanggup membalas.
Takasugi miris.
Anak ini ingin sekali mati konyol.
Dia jadi ingin tertawa kalau mengingat apa yang akan Himuro perbuat kalau dia sampai tahu Nijimura datang ke sini untuk menolongnya—yah, walau gagal.
Atau, tepatnya—belum.
"Kau tahu—anak itu berniat memberitahumu apa yang terjadi di hari itu, walau itu perbuatan sia-sia." karena—Nijimura sudah mengetahuinya.
Membola. Nijimura menatap Takasugi untuk mendapatkan pernyataan ulang.
"Haha, sejak dulu dia memang naif."
Untuk apa dia berusaha menyembunyikan. Mati-matian menjaga rahasia. Padahal pandora itu sudah lama dibuka oleh orang yang ingin dia jauhkan dari kotak itu.
"Dia merahasiakan sesuatu yang sudah diketahui dan akhirnya menderita sendiri."
Dia mengorbankan perasaan untuk hal yang sia-sia...
"Kau setuju, kan?"
Nijimura tidak bisa merasa lebih bersalah daripada ini.
Dia mempertahankan egonya untuk tetap bungkam—benar kata Kuroko, dia memang bodoh. Andai dia mengatakan pada Himuro bahwa dia sudah mengetahuinya—mungkin dia akan menyakitinya, tapi di samping itu dia akan terselamatkan pula.
"Kau aneh."
Suara datar dan bening. Alunnya menusuk masuk melalui telinga dan menancap pada hati.
Takasugi menoleh pada Kuroko, melihat pulas langit yang balas menatapnya dengan cermin dirinya di sana. Manik itu saling bersitenggang dalam diam. Memancarkan kilat, berseteru hanya dengan tatapan.
Takasugi mencibir. Anak ini lebih menarik dari dugaannya.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan perbuatanmu. Kau menculik Himuro-san tapi memberitahu Kapten soal perlakuanmu."
"Dan, apa yang salah dari itu? Kurasa aku cukup baik hati memberi kesempatan untuk menolongnya."
"Kupikir... Yang kau lakukan lebih untuk Himuro-san."
Pandangan Takasugi pada Kuroko sangat berbeda dengan tadi. Bukan seringai percaya diri. Melainkan hujam dingin memandang Kuroko sebagai—musuh.
Ya, musuh. Bukan mangsa atau sandera apalagi teman.
Heh, mata itu mengingatkannya pada seseorang.
"Berpikirlah sesukamu."
.
"Kau mengerti apa maksudnya tadi. Kesempatan terakhir bertemu Himuro? Memangnya dia mau apa—si brengsek itu."
Sreksrek
"Mungkin dia mau membawa Himuro-san pergi. Maksudku—benar-benar pergi, jauh ke luar Jepang."
"Hah? Bagaimana kau—?"
"Di dekat sini ada bandara."
Nijimura kaget. Tahu darimana?
"Aku sempat melihat saat kau menyuruhku memegang ponsel, daerah ini memang terpencil, tapi kalau melewati jalan yang kita lalui tadi sangat mudah mencapai akses tol bandara. Aku asumsikan dia mau membawa Himuro-san ke luar negeri."
Sreksreksrek
"Bisa jadi, mungkin karena situasi di sini tidak menguntungkan untuknya, dan Himuro—kalau dipikir lagi—adalah saksi hidup. Karena, itu mungkin dia bermaksud membawanya untuk jauh dari luar jepang."
Kuroko mengangguk, "Masuk akal..."
Yah, tapi...—Nijimura mendecak, masih berpikir—tetap ada yang mengganjal. Rasanya ada yang terlewat.
"Sebisa mungkin kita harus keluar dulu, dan cari info di mana kamar Himuro-san disekap—dan kalau bisa hindari perkelahian tidak perlu."
Mereka bukan hero di game yang kalau sekarat bisa disembuhkan oleh potion. Realita tidak sebaik itu. Sekarat sedikit mereka bisa mati sungguhan. Nijimura sungguh beruntung tidak jadi mati padahal nafas saja tadi tersenggal. Siap dicabut nyawa.
Puts
"Aku tahu... ck, seandainya ada benda tajam. Kita pasti bisa lepas."
"Kapten."
"Sebentar, aku sedang mikir."
"Kapten, talinya sudah kulepas." Kuroko menunjukkan utas tali di genggaman. Tali yang mengikat Nijimura pun mengendur seketika.
Krik
"EEH? Sejak kapan?"
"Dari tadi Kapten."
"Nggak—tunggu! Bagaimana kau bisa lepas dari ikatan dengan mulus begitu."
"Ckck, tentu saja karena misdirection."
"Apa hubungannya."
"Dasar dari misdirection itu sulap[1] Kapten."
Oh...
OOH!
"Jadi menurutmu ini semacam sulap begitu."
"Begitulah, sekarang kita harus pikirkan dulu cara supaya kita bisa keluar. Pasti ada beberapa yang menjaga kita." Kuroko mengintip ke luar jendela—syuuh—angin berhembus keras dengan pemandangan tinggi empat lantai. Wow, indah—kalau lompat pasti mati. Opsi kabur dari jendela dicoret.
Lain Kuroko yang menghela, Nijimura nampak berpikir, memandangi Kuroko atas bawah sambil nyengir.
Oh, dia merasa jenius.
"Heh, kurasa kita punya ahli untuk kabur di sini."
.
Mudah saja. Kuroko cukup jalan melenggang—karena hawanya yang tipis dan koridor ini remang-remang, Kuroko pasti hanya dianggap angin oleh yang jaga. Noh, lihat. Dengan mudah Kuroko mendekati anggota yang menjaga mereka. Memastikan aman lalu memanggil Nijimura.
Bukh! Buk!
"Daerah sini aman?" tanya Nijimura yang sibuk mengikat orang yang berhasil dia lumpuhkan dan menyembunyikannya di sebuah kamar.
"Aman, Kapten." sahut Kuroko. Sebal karena dijadikan navigator dadakan. Tapi, apa boleh buat daripada tidak selamat terima saja dengan lapang dada.
Nijimura memperhatikan Kuroko yang nampak mengintip lalu mencoba jalan dan kembali lagi untuk memastikan arah jalan mereka aman. Dia melakukannya dengan cakap walau disertai aura kelam—yang membuatnya semakin tipis, miris sekali.
Lama-lama Nijimura jadi kepikiran.
"Kenapa kau mau membantuku?"
Selang beberapa menit meniti koridor Nijimura mengambil cakap yang sejak awal sudah menggaung di kepalanya. Kenapa Kuroko—yang jelas tidak ada hubungan spesial atau semacamnya mau begitu saja menolong untuk hal pribadinya—mereka hanya sekedar senior dan junior, ditambah pertemuan mereka tak lebih dari urusan basket. Dan seolah—meski kadang sungkan—melakukan apa saja untuk itu.
"Ngh? Kenapa kapten baru tanya itu sekarang?" Kuroko malah tanya balik.
"Jawab saja. Kau itu benar-benar gampang bikin sakit hati orang. Heran, kenapa Akashi bisa tahan padamu." tanpa sadar Nijimura menjadikan Akashi sebagai bandingan—secara tidak langsung dia mengakui 'keakraban' mereka yang terkadang aneh. Tonjok-tonjokkan tapi, tak jarang terlihat mesra sampai disalahartikan—eh, kayaknya mirip dia sama seseorang (atau banyak orang?).
Kuroko pasang muka jelek—moodnya langsung drop kalau Akashi dibawa-bawa, entah kenapa. Mungkin Akashi punya aura suram sampai namanya saja bikin kelam, "Jawabannya karena Akashi-kun itu menyebalkan."
Benar-benar jawab tak bermutu. Lagian, inti yang dia tanya kan bukan itu.
"Jawab yang pertama dulu." Nijimura mulai monyong. Tangan mulai pasang kepal terus pukul kepala. Pelan, kok. Dia tidak mau anak orang sampai gegar otak.
Kuroko ingin balas menendang, tapi sungkan karena dia senpai. Kenapa, ya? Kuroko jadi berpikir lagi apa alasannya dia ikut. Sebenarnya—kalau mau jujur—itu seperti refleks. "Karena—aku mau bantu?"
Malah tanda tanya. Bocah ini titisan mahluk troll bernama Sakata Gintoki ya?
Tapi, mungkin sebenarnya—
"—dan—karena ini bukan tidak ada hubungannya denganku."
Nijimura menaikkan alis mendengar jawaban yang diucapkan dengan lirih.
"Ibarat magnet, saat kau bertemu kutub yang sesuai kau akan dengan senantiasa menarik—atau bahkan ditarik olehnya. Saat ini aku berada di opsi kedua, dan yang kulakukan adalah menarik kembali apa yang bisa kutarik."
Nijimura mendengarkan, meski tidak percaya dengan penuturan Kuroko yang begitu logis meski berfantasi.
Kuroko sendiri tidak percaya dia bisa memikirkan itu—mungkin efek adu bacot dengan Akashi, kali, kosakatanya berkembang luas.
Tapi, rasanya ada yang salah.
Ah, ya. Sebenarnya, apa yang dia rasakan lebih simpel daripada itu.
Dia juga pernah mengatakannya pada Akashi.
"Karena, kehilangan sesuatu yang baru kita temui adalah sesuatu yang menyedihkan."
Cenung.
Ingin bertanya tapi urung. Kata-kata itu—seolah dia sudah mengalami sesuatu yang berat dalam hidupnya. Nijimura mungkin baru menyadarinya—pandangan yang biasanya sejernih lautan lepas dan langit cerah mencakrawala sekarang, atau mungkin sejak tadi...
—terlihat bagai bekuan es di laut dalam selatan bumi.
"Kau... —..."
—pandangan apa itu?
"Shh—..." Kuroko mendadak memberi isyarat untuk diam. Nijimura terhenyak pelan akan lamunnya, mencoba kembali fokus dan bersembunyi.
Nijimura mengambil posisi untuk mengintip, perlahan kepala disembulkan untuk mendengar cakap—siapa tahu ada informasi ruangan tempat Himuro disekap—beruntung saat Nijimura melongok tiga orang itu tengah dalam posisi memunggungi. Mengelilingi satu sudut sambil merokok dan nampak membahas sesuatu.
"Kau yakin?"
"Yah, kau bisa lihat di sini." Yang berbandana nampak menunjukkan sesuatu—ada berkas sinarnya. Mungkin, ponsel.
"Benar... kekeke... kalau kita bisa main dengan bagus, kerjaan kita berhasil atau tidak sama-sama menguntungkan?"
Di balik tembok Nijimura menyerngit. Kerjaan? Apa maksudnya?
"Tapi—kau tahu mereka, terutama bos—yah, kau tahu... dia bukan orang sembarangan."
"Bodoh, dia juga manusia biasa. Sekalipun hanya kepalanya kalau kita serahkan pada polisi pasti tetap menguntungkan—dan lagi, kita banyak orang dan dia satu. Kesempatan kita lebih banyak."
Di titik ini Nijimura merasa mual mendadak. Pembicaraan yang sangat busuk sampai bau-baunya begitu kuat tercium. Nijimura di luar dugaan mendapat informasi yang cukup menarik—dan bukan seleranya sesungguhnya—intinya, orang-orang yang dia lawan tadi bukan bawahan loyal Takasugi. Mungkin, hanya preman yang dibayar untuk menjaga tempat ini sampai waktunya tiba—atau mungkin jaga-jaga untuk melawan Himuro kalau mengamuk. Nijimura bukan tidak tahu ketangguhan si poni itu.
Dan dari pembicaraan mereka nampaknya, mereka bermaksud berkhianat jika kondisi tidak menguntungkan sampai ke tahap mengambil nyawa orang.
'Sebenarnya ini menguntungkanku—walau rasanya benar-benar memuakkan kalau orang itu mati di tangan sampah seperti mereka.' Batin Nijimura. Dia mengerjap mata sebentar untuk mendiskusikan jalan lain—mereka nampaknya seperti petinggi, akan rumit kalau ketiganya habis di sini. Bisa-bisa ketahuan kalau mereka kabur.
"Oi, Kuro—."
Blank. Zonk. You are failed, try again? Intinya, Kuroko tidak ada di tempatnya berada.
"!" Nijimura ingin pingsan saat mencari dan menemukan bocah hantu itu sudah berada di hadapan ketiga orang itu dan dikerubuti. Tadi siapa yang bilang hindari perkelahian, oiiii!
"Bagaimana kau bisa kabur, hah? Jawab, atau kuhancurkan mukamu."
"Aku tidak mau jawab. Aku tidak suka cara kalian berpikir. Kalian bermaksud mengkhianati orang yang membayar kalian—walau untuk hal yang tidak baik—aku tidak bisa memaafkan orang-orang rendah seperti itu."
"OI, boncel! Jangan bicara macam-macam kau, hah!" seorang dari mereka menarik kerha baju Kuroko. Kuroko masih memasang wajah tak suka—lebih dari itu nampak marah.
"Kalian, sebaiknya perbaiki sikap kalian."
Dan kata-kata itu diucapkan dengan nada monoton, emotienless, lempeng face, wajar sungguhnya kalau mereka geram dengan reaksi setara hinaan melihat cacing.
"Ck! Tutup mulutmu, sampah!"
Nijimura langsung berlari keluar saat satu dari mereka sudah melayangkan tinju pada Kuroko.
BUUKH!
—tubuh itu terlempar.
.
.
Cair dalam cangkir—sewarna pekat tanah yang tersapu air—bendanya sudah tak beriak, selaput menghilang menjadi warna cokelat tak menggairahkan dengan ketiadaan awan-awan tipis saat benda itu masih panas—waktu yang paling tepat untuk diteguk, menghangatkan, melegakan, membuat nyaman. Entah sudah berapa menit—atau mungkin jam berlalu sejak cangkir itu diletakkan di sana. Disuguhkan namun tak disentuh sama sekali oleh orang yang harusnya meminum—karena dia tengah terpekur dalam seribu kata bisu tak mau.
"Cokelatnya sudah tidak panas lagi, sayang sekali kau tidak mau meminumnya."
Alasannya mudah saja.
"Bukannya kau dulu selalu meminum itu dengan senang hati?"
Karena, itu dibuatkan olehnya.
"Aku tidak mau." Desis Himuro dingin. Tubuhnya tak bergeming, dia bahkan tidak mau menaruh tatap pada orang yang mengajaknya bicara—Takasugi Shinsuke, yang duduk di salah satu kursi sambil menopang kaki. Di sampingnya sebuah meja bundar yang digunakan tangannya untuk bersangga sambil memanggul pipi. Sebelah mata itu menatapnya, senyum picik tak lepas dari bibirnya.
Mungkin, dia menikmati kondisi Himuro yang terduduk dan terbelenggu di atas kasur.
Himuro berusaha acuh—meski sulit—karena di sudut hatinya dia bergeming hancur dengan pertanyaan yang beruntun dan prosa kelam masa lalu yang menghantuinya. Membuat getir di hatinya semakin getir. Emosi berkecamuk dan bercampur. Takut. Ya. Marah. Ya. Sedih. Ya. Benci.
...itu juga.
"Kau memang naif, ya. Tapi, aku kagum—..."
Dia mulai berbicara, Himuro berusaha tuli.
Dia benar-benar membenci ini...
"...—kau bisa diam selama ini tentangku. Apa kau masih berharap aku menjadi kakakmu, Tatsuya?"
—karena orang ini paling tahu cara merobek sayap hanya dengan sebaris kalimat.
Takasugi terkekeh. Derak kayu yang menggeser membuat Himuro bergeming pelan, menahan nafasnya agar tidak memburu meski dia tidak bisa membohongi talu jantungnya yang melaju.
"Tapi, aku senang Tatsuya. Kau punya teman yang baik. Lihat ini."
Sebuah gambar ditunjukkan di depannya. Bola mata abu membelalak dalam sekejap.
Itu, Nijimura. Dalam kondisi babak belur. Terikat. Pingsan. Tidak bergerak.
"SHUUZOU!" Himuro berteriak seolah dengan begitu gambar itu akan berubah bayang—sayangnya itu tidak mungkin.
"Sial! Sial! Kau apakan dia!? Lepaskan aku Shinsuke!"
Himuro menggeram marah. Tubuh maju berusaha menyeruduk. Suara rantai borgol beradu berkali-kali dengan tiang besi—bukti bahwa Himuro saat ini mencoba lepas walau dengan paksa sekalipun.
"Hanya melakukan yang seharusnya saat ada orang asing masuk ke sarangmu, Tatsuya. Tapi, dia sama naifnya denganmu."
Takasugi terkekeh, menikmati reaksi yang sesuai harapannya.
"Saat dia mencoba meneleponmu—kukatakan saja padanya tentang situasi yang ada, dan dia kemari, dan berakhir seperti ini."
Seperti ini. Ya. Yang dia maksud adalah kondisi menyedihkan dengan tubuh berbalur luka bahkan, ditangkap—dan andai itu belum lebih buruk, mungkin dipermainkan.
Andai—
Andai Himuro sejak awal memberitahu kenyataannya—dan membuat Nijimura membencinya.
Mungkin...
"Khh..."
Mungkin...—tidak akan jadi begini. Tidak ada yang perlu bertaruh nyawa menolongnya.
"Kau bisa mengubahnya, kok. Aku bermaksud melepaskannya... dengan syarat."
"Ikutlah denganku, Tatsuya."
"Kau mau bilang apa..? Apa kau kehabisan orang untuk kau korbankan sampai kau memilihku!? Kau—kau hanya akan membuatku merasakan hal itu lagi!"
Dia benci ini. Benci seolah dia hanyalah barang yang bisa dipermainkan. Himuro tidak peduli dengan Takasugi yang menghinanya naif berkali-kali. Hanya orang bodoh yang mau jatuh berkali-kali ke lubang yang sama.
Dia tidak akan—jatuh lagi.
"Terserah kau mau berceloteh seperti apa. Kau tahu, aku bisa menggunakan cara lembut—" Dagu diapit jemari, didengakan untuk menatap lebih eksitensi yang meraut benci. "—maupun kasar."
—brakh—
Debum kecil membuat jeda di antara mereka. Tidak sampai terasa getar. Hanya saja cukup gaduh hingga terdengar suara bebatuan jatuh menggaung hingga ruang mereka.
Himuro mengerjap. Suara-suara itu—dia yakin terjadi perkelahian di bawah sana. Tapi, siapa? Nijimura-kah? Apa dia berhasil melarikan diri?
"Kelihatannya ada kerusuhan di bawah. Anak itu benar-benar melebihi ekspetasiku."
"Tunggu—apa maksudmu! Kau mau bilang Shuuzou yang melakukan ini?"
Takasugi tertawa.
"Bahkan, dalam kondisi biasa dia tidak bisa lepas dari orang-orangku."
Himuro terhenyak. Lalu, siapa yang dia maksud?
"Tatsuya, kuharap kemampuan menelaahmu belum terkubur. Apa kau sama sekali tidak menyadari...—tentang anak biru itu?"
Anak biru?
Kuroko, kah?
—dia juga di sini?
.
.
BRAKH—dinding melapuk terkena hantam tubuh yang melambung. Bisa dipastikan seberapa sakit cedera yang diterimanya.
Nijimura menghentikan langkahnya, manik hitam membola lebar. Warnanya terperangkap dalam ketidakpercayaan akan hal yang dia lihat.
Tubuh yang terlempar adalah milik preman yang ingin menghajar Kuroko.
.
.
TBC
.
.
A/N: Tadinya saya bingung Kuroko manggil Nijimura kaek gimana, apa tetep Kapten kayak di lapangan atau Nijimura-san aja. Saya akhirnya pakai Kapten, biar lebih kerasa actionnya #terbang.
Btw, chapter ini 99,69 persennya ngetik di hp. Saya sama sekali gak bisa pegang ne-bi saya saking seringnya jalan melulu ke lapangan #sedih.
Buat Akashi sama Mukkun mereka akan eksis di chapter depan! tenang saja wahai kawan! #kasihspoiler
Karena rumah mati lampu baru bisa apdet malem. Mohon maaf.
Glossarium:
[1]: tahu sulap melepaskan diri? Biasanya pesulap meminta penonton untuk mengikat dirinya seerat mungkin. Sebenarnya, ada teknik tersendiri untuk itu—yang kalau dijelaskan bakal panjang—intinya mereka melakukan suatu teknik seperti mengencangkan otot saat diikat. Dalam kondisi Kuroko, karena dia dalam kondisi tidak sadar, Kuroko menggunakan teknik untuk membuka ikat paksa. Kenapa Kuroko? Karena, teknik ini butuh kecepatan tangan seperti misdirection.
Reply for Anonymous Reviewers:
ABC: semangat dong, kan ceritanya buat penambah semangat (atau kegalauan mungkin, teheee). Chapter ini little bit action!Kuro ama Niji wohoho #dan sedikit (palalu) penderitaan Himu. Wehehehe. Main pair eksis akhir arc! #bukaspoiler jadi tunggu aja. Iya, aku juga baru ngeh ternyata chapter lalu banyak typo. -_-... Efek ngantuk kayanya. Niat ngebenerin, tapi belum sempet, nih. Cibuuuk. Tapi, pasti aku benerin. Thanks for review~
Ao: lebih greget lagi kalau entar kamu review lagi. #plak. Hehe, saya sudah senang dengan kamu baca fic ini. Saya jadi terharu... Apdet gak bisa dicepetin. #ini udah paling cepet. Kepepet kerjaan. Maaf, ya tak bisa terkabul. Thanks for review~
Aoi: Mura nyatain kok! Tapi, bukan yang iniii...gehehehe... #mukamesyum. Sudah apdet, sayang. Thanks for review~
Dera190100: Kurokono pasti aku bikin keren. #udah niat. Kalau gin-chan biarin aja, sudah nasibnya jadi orang konyol. Debat Akakuro ngilang niih...maaf ya, masuk alur dulu. Review membuatku lebih semangat. Thanks for review~
l4e: haduuh...akakuro ditiadakan lagi Nih. Iya, bentar lagi final kok. Sabar, ya. Thanks for review~
Gimmemore: uhuk! Saya dilamar. #blush. Genrenya gado-gado karena emak saya jual gado-gado #hubungannya? Kalau bisa 100 chapter O.O mungkin kali ya... Ngeliat satu arc aja berchapter-chapter. Hehe, thanks for review. Saya menantikanmu~
Thanks a Lot for You
I Want Review~ I Want It~ I Want It~
Update: 13rd December 2015
