DESTROYER

Genre : Fantasy, Adventur

Rating : T/M

Pair : Naruto X Akame X Lyfa (mungkin akan bertambahlagi karena target saya 3)

Karakter utama : Naruto Uzumaki

Warning! : strong naruto!, white hair!, jurus karangan sendiri!, super ngarang!, author newbie!

Chapter 13

Istana…. Apa yang bisa dibayangkan dari sebuah istana? Bangunan yang besar, luas, megah, dan mewah yang dihuni oleh raja dan ratu yang meminpin suatu daerah atau negeri. Dan pasti sebuah istana dikelilingi kota besar yang bisa disebut ibu kota dari negri atau negara tersebut, juga jangan lupakan penjaga-penjaga yang menjaga keamanan istana tersebut.

Terdengar suara orang-orang yang saling mengobrol maupun bersenda gurau dari aula utama sebuah istana kerajaan yang bernama Saint Heaven.

Hampir semua dewa dan dewi bersama familianya masing-masing berkumpul di sini. Berbagai aktivitas mereka lakukan untuk mengisi waktu dimulainya acara utama yaitu pemberian gelar kepada petualang-petualang muda yang diberikan langsung oleh sang raja Saint Heaven, Geraint.

Semua orang menunggu acara utama tersebut dengan mengobrol, melihat-lihat kemegahan istana ini, mencicipi hidangan-hidangan yang sengaja disediakan untuk para tamu, dan ada juga yang hanya bersandar pada tembok sambil menonton orang-orang di sekitar mereka seperti 2 pemuda berbeda surai yang memiliki hubungan kakak dan adik ini.

2 pemuda itu memiliki perawakan tinggi badan 180 cm untuk pemuda bersurai hitam dan 179 cm untuk pemuda bersurai putih. Ya! 2 pemuda itu adalah Menma dan Naruto. Tidak sedikit kaum hawa yang merona saat melihat Menma dan Naruto itu karena wajah yang tampan dan tubuh mereka yang atletis dengan otot-otot di bagian tertentu yang sudah terbentuk. Untuk Naruto, tubuhnya bisa dikatakan kekar dibandingkan Menma.

Tapi mereka sama sekali tidak tertarik dengan permpuan-perempuan yang menatap mereka berdua dengan tatapan seakan ingin menyeret mereka ke atas ranjang karena Naruto sudah bersetatus sebagai seorang suami dari Uzumaki Lyfa dan Uzumaki Akame. Sedangkan Menma, ia sebenranya sudah mempunyai seorang istri dari tradisi klan Uzumaki tanpa di ketahui siapapun.

Kasusnya sama dengan Naruto. dulu Menma pernah memberikan sebuah gelang perak kepada seorang gadis yang menjadi teman dekatnya sebagai tanda pertemanan, saat itu ia belum tau tentang tradisi ini, tanpa diduga gadis tersebut memendam perasaan kepada Menma dan saat itu juga gadis itu mencium Menma tepat di bibir. 5 hari setelahnya, gadis itu datang kembali menemui Menma dan dengan malu-malu ia meminta Menma untuk menhamilinya. Sontak Menma terkejut bukan kepalang mendengar permintaan gadis itu, kenapa bisa gadis itu meminta hal itu kepada Menma?

Akhirnya gadis itu menjelaskan soal tradisi klan Uzumaki kepada Menma dan sudah jelas di sini Menmalah yang memulai duluan karena telah memberikan gelang kepada gadis itu, ternyata gadis itu sudah mempelajari tradisi klan Uzumaki sejak pertama kali ia mencintai Menma walaupun dulu Menma masih menggunakan marga Namikaze tapi ia tetaplah keturunan dari Uzumaki. Dan akhirnya Menma menyanggupi permintaan gadis itu karena ia juga memedam perasaan sejak gadis itu menciumnya. Itu sudah terjadi sekitar 3 tahun yang lalu.

"hei Naruto! kemana istri-istrimu?" ujar menma memulai percakapan untuk mengenyahkan keheningan diantara mereka.

"mereka sedang mencicipi hidangan yang disediakan" jawab Naruto yang bersandar di sampingnya dan bersedekap dada memperhatikan keramaian di depannya.

"oh… kenapa kau tidak ikut?"

"aku hanya tidak ingin saja, karena tatapan orang-orang yang menatap kami" jawab Naruto jujur, sedari tadi Menma juga menyadari tatapan dari orang-orang kepada Lyfa saat bersama Naruto. kakak yang pengertian…. "lalu bagai mana denganmu Menma-nii, apa kau tidak mencari seorang kekasih yang akan merawatmu nantinya?" Naruto balik bertanya dengan nada sedikit menyindir.

"hah…" Menma menggeleng dan menghela nafasnya "aku tidak butuh kekasih" jawab Menma dengan nada santai 'karena aku sudah punya istri selama ini' sambungnya dalam hati.

"Hee! Mengapa kau tidak mau mencari pseorang pacar? Menma-nii"

Menma terlihat berbipir sebelum menjawab pertanyaan Naruto "mungkin ini saat yang tepat. Sebenarnya aku….."

"Tou-chan"

.

.

.

"Akame kau mau pilih yang mana dulu?" tanya Lyfa yang berdiri di samping Akame dengan sebuah piring dan garpu yang dibawanya, begitupun Akame yang juga membawa piring dan garpu.

Mereka berdua sedang berdiri di depan meja yang berukuran cukup besar dengan berbagai makanan yang tersaji di atasnya. mereka bingung mau pilih yang mana terlebih dahulu karena melihat begitu banyaknya makanan yang tersaji di depan mereka.

"entahlah... aku juga bingnung" jawab Akame bingung, tak biasanya Akame kebingungan masalah makanan, biasanya ia akan langsung memakan makanan apapun di depannya seperti saat sedang kencan dengan Naruto dulu.

"bagaimana dengan sosis panggang itu?" ujar Lyfa sambil menunjuk salah satu makanan berupa sosis panggang yang memiliki ukuran hampir sebesar genggaman tangan dan panjang kurang lebih 18 cm.

"bukan ide yang buruk" balas Akame yang kemudian mengambil sosis panggang tersebut dan meletakanya di atas piring yang dibawanya begitupun Lyfa yang juga mengambil sosis pangang tersebut.

Akame dan Lyfa terdiam memandangi makanan di piring mereka masing-masing, pikiran mereka kembali mengingat hal yang terjadi semalam dimana mereka berdua yang ditiduri atau tepatnya dihamili oleh Naruto malam itu, sosis itu mengingatkan mereka pada junior milik Naruto yang begitu tegap, kuat, gagah, dan perkasa. Mereka juga ingat dengan jelas bagaimana rasanya yang begitu luar biasa saat junior Naruto yang tegap dan perkasa menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan mereka yang sempit malam itu (maaf adegannya bisa kalian bayangkan sendiri karena saya belum cukup umur).

Wajah Lyfa dan Akame mulai memerah padam mengingat kejadian semalam yang akan menyebabkan mereka mengandung beberapa hari lagi.

"Lyfa apa kau berpikiran sama denganku?" tanya Akame kepada Lyfa.

"uhm..." Lyfa mengangguk sebagai jawaban iya.

""ini seperti milik Naruto-kun"" gumam mereka bersamaan dengan suara pelan agar tidak didengar oleh orang-orang di sekitar mereka. Mereka berdua saling bertukar pandang dan kemudian tertawa bersama sebelum memakan sosis panggang mereka.

Puk!

Sedang nikmatnya menyantap sosis panggang di piringnya, terlihat sebuah tangan yang menepuk bahu kiri Lyfa dari belakang, Lyfapun menoleh kearah orang yang telah menepuk bahunya dan segera menelan makanan yang masih di dalam mulutnya.

"Glek! Nii-chan! sedang apa kau di sini?" tanya Lyfa yang begitu terkejut melihat kakaknya berdiri di belakangnya.

Di hadapan Lyfa berdiri seorang pemuda elf berambut hitam dengan iris mata sewarna dengan rambutnya, pemuda elf itu berpenampilan serba hitam dengan 2 buah pedang yang menyilang di punggungnya "kenapa aku di sini tidaklah penting, yang terpenting... apa hubunganmu dengan seorang manusia rendahan bernama Naruto?" tanya pemuda elf yang diketahui bernama Kirito itu dengan nada dingin yang menusuk hati dan mata yang berkilat tajam.

Deg!

Lyfa melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut kakaknya tersebut, bahunya terlihat bergetar, ia tak mengira kakaknya akan mengetahui rahasianya. Diam-diam Akame melirikan matanya untuk melihat interaksi antara Lyfa dan pemuda elf yang ia ketahui sebagai kakak dari Lyfa.

Lyfa hanya bisa tertunduk diam dengan bahu bergetar dan pikiran yang berkecamuk "percuma kau menutupinya CEPAT KAU KATAKAN YANG SEBENARNYA!" kembali terdengar suara bernada dingin dari Kirito tapi kali ini penuh dengan penekanan.

Akame mulai merasakan firasat buruk tentang ini, kemudian Akame menepuk bahu Lyfa yang bergetar untuk menenangkannya "kau tidak apa-apa Lyfa-chan?" tanya Akame, perlahan bahu Lyfa mulai berhenti bergetar dan yang empu menoleh kearah Akame "aku baik-baik saja Akame-chan" jawab Lyfa dengan senyuman yang dipaksakan.

'kau bohong' batin Akame dangan wajah prihatin.

Dengan sedikit rasa takut Lyfa menatap kearah kakaknya "sebenarnya Naruto-kun itu..."

.

.

.

Waktu serasa berhenti bagi Menma saat mendengar panggilan 'Tou-chan' dari seorang anak laki-laki berumur kurang lebih 2 tahunan yang berdiri di depannya. Anak laki-laki tersebut memiliki ciri-ciri rambut lurus berwarna merah dengan poni yang menutupi pandangannya, dan kulit yang berwarna putih berbeda dengan kulit tan milik Menma. Begitupun Naruto, otaknya bekerja dengan keras seperti processor komputer yang telah dioverclocking memahami kejadian di depannya.

Tak kunjung mendapat respon dari 2 pemuda di depannya, anak tersebut memberanikan diri untuk bertanya "nama Tou-chan... Menma bukan?"

Menma kembali terdiam seribu bahasa mendengar anak yang hari ini baru ia temui mengetahui namanya dan juga memanggilnya 'Tou-chan', ia mencoba berpikir keras apakah benar anak ini adalah anak dari hasil cintanya dengan gadis yang ia cintai dulu?

Naruto yang lebih dulu sadar dari lamunannya berlutut seperti seorang kesatria untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu dan mencoba bertanya kepada anak tersebut.

"adik kecil siapa namamu?" tanya Naruto dengan nada bersahabat.

"namaku Namikaze Nagato, paman" jawab anak laki-laki itu yang diketahui bernama Nagato dan memanggil Naruto dengan sebutan paman. Naruto semakin penasaran dengan anak bernama Nagato itu, 'siapa sebenarnya anak ini?' pikir Naruto yang penasaran.

"kenapa kau memanggilku paman? Nagato" ucap Naruto kembali bertanya.

"karena paman Naruto adalah adik dari tou-chan, jadi aku harus memanggilmu paman" jawab Nagato. Naruto terkejut namanya diketahui Nagato, padahal ia belum memperkenalkan dirinya. Ia semakin penasaran dengan Nagato yang mngetahui namanya tapi sekarang yang terpenting mengapa Nagato memanggil kakaknya 'Tou-chan'.

"dari mana kau tau Menma-nii adalah Tou-chanmu?" tanya Naruto. Nagato tersenyum sebelum menjawabv pertanyaan Naruto "Kaa-chan bilang padaku, Tou-chan adalah orang yang memberi gelang ini pada Kaa-chan dulu dan orang itu bernama Menma" jawab Nagato panjang lebar yang tidak biasa untuk anak seusianya dan menunjukan sebuah gelang yang terbuat dari perak dengan tulisan M&E yang diukir di gelang tersebut.

Grep!

Tanpa diduga, tiba-tiba Menma berlutut dan membawa Nagato ke dalam pelukannya saat melihat gelang tersebut "maaf aku tidak bersamamu selama 3 tahun ini, anaku" ucap Menma yang mempererat pelukannya. Naruto hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan kakaknya, beribu pertanyaan berputar di dalam kepalanya tentang siapa ibu dari Nagato.

"hiks... Tou-chan hiks... hiks..." Nagato langsung menangis di dalam pelukan Menma "ssshhh... laki-laki tidak boleh menangis" ucap Menma menenangkan Nagato layaknya seorang ayah, dia memang seorang ayah.

"sepertinya kau punya rahasia, Nii-san" ujar Naruto yang sedari tadi hannya diam menonton. Menma tersenyum menanggapi ucapan Naruto sambil mengelus punggung mungil Nagato "maaf aku tidak menceritakannya padamu" ucap Menma yang masih memeluk tubuh mungil Nagato. Naruto hanya tersenyum menanggapi ucapan Menma.

Menma melepaskan pelukannya begitu si kecil Nagato sudah mulai tenang walaupun masih sedikit sesenggukan "nii-san, siapa ibu dari anakmu ini?" tanya Naruto saat melihat Nagato sudah mulai tenang.

"dia-"

"Nagato! Nagato! Dimana kamu nak!"

Menma tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar suara seorang perempuan yang memanggil-manggil nama si kecil Nagato dari arah kerumunan orang, mereka bertiga mengalihkan perhatian ke asal suara, "Kaa-chan!" Nagato langsung berlari menghampiri prempuan yang telah memanggil namanya dan kemudian memeluk dengan erat kaki perempuan tersebut.

Perempuan yang terlihat seumuran dengan Menma itu memiliki ciri-ciri rambut merah lurus panjang sepinggang, iris mata berwarna kecoklatan, kulit putih yang mulus tanpa cacat, serta memiliki tubuh yang indah dengan balutan armor besi ringan dan rok pendek berwarna biru sebagai bawahannya, juga sepatu boot setinggi betis sebagai alas kakinya.

Menma terdiam memandangi perempuan tersebut sedangkan Naruto menjatuhkan rahangnya melongo melihat ibu dari Nagato 'bu-bukankah itu Ti-titania!? Erza Scarlet!?' batin Naruto yang syok mengetahui ibu dari Nagato adalah Erza Scarlet sang Titania yang levelnya jauh di atas Putri Pedang ataupun Night Raid.

"dari mana saja kau Nagato? Kaa-chan khawatir dan mencarimu kemana-mana" ucap perempuan yang diketahui bernama Erza itu dengan nada penuh khawatir seorang ibu dan menarik Nagato ke dalam pelukannya.

"maaf Kaa-chan tadi aku mencari Tou-chan..." jawab Nagato dengan nada menyesal seorang bocah. Erza tersentak mendengar ucapan dari Nagato yang mencari ayahnya "jangan berbohong, Tou-chanmu tidak mungkin di sini" ucap Erza dengan lembut.

"aku tidak bohong! Tou-chan ada di sana!" ucap Nagato mencoba meyakinkan ibunya dan menunjuk kearah Menma yang masih diam memandangi ibu dan anak tersebut, Erza melihat kearah yang ditunjuk Nagato dan seketika itu juga ia melebarkan kedua matanya.

Sosok yang telah meluluhkan hatinya yang dulu keras, sosok yang mengajarkan arti dari cinta kepadanya, sosok yang merupakan ayah dari anaknya, sosok yang ia rindukan selama 3 tahun ini. Tak terasa cairan bening dan hangat mengalir dari pelupuk mata indahnya, dengan kedua tangan menutupi mulutnya dan bahu yang mulai bergetar, Erza melangkah mendekati orang yang ia cintai yang tengah berdiri diam di hadapannya sekarang ini, Menma.

"Anata... kaukah itu?" Erza berucap dengan nada yang bergetar.

Menma tersnyum dan membentangkan kedua tangannya "ini aku Erza-chan, kemarilah" jawab Menma meyakinkan Erza. Langkah kaki Erza semakin cepat dan semakin cepat dan akhirnya...

Grep!

Tidak ada lagi jarak diantara mereka, Erza merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan, yaitu sebuah dekapan penuh kasih sayang dari Menma yang besetatus sebagai suaminya. Mereka terus berpelukan saling menyalurkan kasih sayang masing-masing tidak peduli dengan tatapan dari orang-orang yang tertuju pada mereka. Naruto tersenyum tipis melihat kebahagiaan kakaknya, Naruto menoleh ke kanan dimana Nagato yang berdiri di sampingnya dengan cengiran lebar khas bocah melihat orang tuanya bertemu kembali.

Tangan Naruto tergerak untuk mengelus puncuk kepala Nagato "kau senang?" tanya Naruto "tentu saja Paman! Aku senang Kaa-chan bisa bertemu dengan Touchan kembali" jawab Nagato dengan cengiran yang tidak luntur dari wajahnya.

"paman! Apa kau sudah punya istri seperti tou-chan?" tanya Nagato dengan mata berbinar-binar, Naruto agak kaget Nagato akan bertanya tentang istrinya 'kampret anak ini mewarisi sifat Nii-san' umpat Naruto dalam hati, ternyata Nagato mewarisi sifat menjengkelkan dari Menma.

"y-ya aku punya 2 orang istri" jawab Naruto dengan tersenyum kikuk.

"wahh! Hebat! Apakah mereka cantik?" Nagato kembali bertanya dengan antusias, Naruto mulai jengkel dengan pertanyaan keponakannya ini tapi ia mencoba untuk tetap sabar "ya... begitulah" jawab Naruto dengan malas.

Plak!

Tepat setelah Naruto menjawab pertanyaan Nagato, terdengar suara tamparan yang cukup keras yang menyebabkan semua orang di sana mengalihkan perhatian mereka ke asal suara tersebut, karena penasaran orang-orang mulai berkumpul ke asal suara, penasaran dengan apa yang menghasilkan suara tamparan tersebut. Naruto langsung bergegas kearah kerumunan meninggalkan Nagato tanpa berkata apapun, hatinya merasakan firassat buruk tetang suara tadi.

.

"KAU SUDAH MENJADI ISTRINYA!? DAN KAU SUDAH DIHAMILI OLEH MANUSIA RENDAHAN SEPERTINYA! SUNGGUH MENJIJIKAN" bentak Kirito dengan nada sangat marah dan mata berkilat tajam tidak peduli dengan orang-orang yang menonton mereka. Kirito sangat marah setelah mendengar cerita dari Lyfa yang sudah menjadi istri Naruto dan yang membuatnya lebih marah yaitu saat mengetahui Lyfa telah dihamili oleh Naruto.

Lyfa yang tersungkur di lantai karena tamparan keras dari kakaknya hanya menunduk diam di dalam dekapan Akame sambil memegangi pipi kanannya yang terasa panas "Apa masalahmu!?" bentak Akame tidak terima akan perlakuan Kirito kepada Lyfa.

"diam kau! Manusia rendahan sepertimu tidak usah ikut campur!" Jawab Kirito dengan nada sinis. Akame mendecih tak suka dengan sikap Kirito yang memandang rendah manusia. Akame ingin menarik katananya dari sarung tapi dicegah Lyfa yang menggelengkan kepalanya, Akame pun menurut dan kemudian kembali mendekap Lyfa untuk menenangkannya.

"Hei! Apa yang kau lakukan pada istriku!?"

Semua perhatian langsung tertuju ke sumber suara dimana terlihat seorang pemuda bersurai putih yang berjalan mendekati Lyfa dan Akame ""Naruto-kun..."" ujar Akame dan Lyfa tersenyum lega melihat pemuda tersebut adalah suami mereka, Naruto.

Naruto menatap kearah Lyfa dan Akame yang menyebut namanya, dan alangkah terkejut dirinya melihat pipi kanan Lyfa yang memerah, dengan cepat Naruto menatap Kirito dengan wajah yang terlihat murka syarat akan kemarahan dan mendekati pemuda elf tersebut dengan langkah beratnya. Ini pertama kalinya untuk Akame dan Lyfa, baru pertama kali mereka melihat Naruto yang semarah ini. Sebesar itu kah rasa cinta Naruto kepada dua istrinya sampai semarah ini?

Naruto terus melangkahkan kakinya mendekati Kirito yang terlihat tidak takut sedikitpun dengan Naruto, tiba-tiba Kirito menyeringai melihat seorang gadis elf bersurai biru langit yang diketahui bernama Asuna muncul di belakang Naruto dan menebaskan pedangnya secepat kilat tanpa disadari oleh Naruto.

"Akh...!"

Semua orang terbelalak melihat Asuna yang kini lehernya tengah dicekik oleh Naruto dengan satu tangan dan mengangkatnya ke atas hingga kaki gadis elf itu tidak menapak lantai, Asuna mereonta melepaskan cekikan di lehernya tapi seikit demi sedikit kesadarannya mulai mengabur. Mata mereka tidak dapat mengikuti gerakan Naruto yang bigitu cepat. Kirito yang melihat Asuna terdesak dengan cepat melesat kearah Naruto dengan pedang yang sudah ia tarik dari sarungnya dan siap ia tebaskan ke leher Naruto. Melihat itu, Naruto melemparkan tubuh Asuna yang mulai lemas kearah Kirito yang tengah melesat menuju dirinya.

Grep! Srett!

Kirito berhasil menangkap Asuna walaupun dirinya ikut terseret ke belakang dan merelakan punggungnya yang membentur dinding dengan cukup keras karena kuatnya lemparan Naruto walau hanya dengan satu tangan. Naruto kembali melangkah dengan ekspresi datar mendekati Kirito yang sedang mendekap Asuna yang tak sadarkan diri, Kirito ingin bangkit berdiri dan melawan Naruto tapi punggungnya tiba-tiba terasa sakit mungkin efek dari benturan tadi. Semua orang menyngkir dari jalan Naruto tidak berani menghentikan aksi dari pemuda bertubuh sangar tersebut.

"Berhenti!"

Naruto menghentikan langkahnya mendengar suara dari seorang perempuan elf lainnya. Semua orang memberi jalan pada perempuan elf pemilik suara tersebut. Terlihat seorang perempuan elf berambut panjang dan memiliki iris mata berwarna hijau juga memakai gaun putih yang indah menandakan ia adalah seorang bangsawan. perempuan elf itu adalah Freyja, sang putri yang memimpin kerajaan elf.

Naruto hanya diam memperhatikan Freyja sebelum kembali melangkah mendekati Kirito yang mulai tak sadarkan diri "Berhenti atau 2 gadis ini akan mati!" ucapan Freyja kali ini berhasil menghentikan Naruto, pemuda tersebut membalik badannya dan garis pandangnya melihat Lyfa dan Akame yang masing-masing tengah dibekap oleh 2 prajurit elf berbadan kekar.

Bisa ia lihat mata Akame dan Lyfa yang berkaca-kaca mengharap pertolongannya, Naruto hanya diam tidak mau mengambil resiko terlukanya 2 gadis tersebut tapi berbanding terbalik dengan batinnya yang sedih.

Dak!

Dak!

2 prajurit elf itu jatuh pingsan ketika tengkuk mereka dipukul oleh Menma dan seorang pria berambut pirang panjang yang merupakan raja dari kerajaan Saint Heaven ini, Geraint. Terlepas dari sekapan 2 prajurit elf tadi, Lyfa dan Akame berhambur memeluk Naruto dari samping kanan dan kiri. Naruto tersenyum lega kedua istrinya baik-baik saja.

"apa yang kau lakukan yang mulia?" tanya Freyja dengan nada tidak suka "aku hanya membebaskan 2 gadis cantik itu dan menghentikan semua kekacauan ini" jawab Geraint dengan santai. Freyja ingin kembali bicara tapi ia urungkan saat merasakan sebuah benda keras dan dingin menyentuh lehernya.

"sebaiknya kau diam saja atau kubat satu mulut lagi di lehermu" ujar Menma santai dan diakhiri dengan seringaian. Tiba-tiba muncul aura suci yang menguar kuat dari tubuh Freyja yang memaksa Menma mengambil langkah mundur "beraninya kau bilang seperti itu padaku!" ucap Freyja penuh penekanan, semua orang mengambil langkah mundur untuk menghindari kemungkinan yang akan terjadi, tetapi masih terdapat beberapa orang yang masih diam di tempat mereka.

Menma ingin menguarkan aura kegelapan Abyss Walker yang sesungguhnya untuk membuat nyali elf sombong itu ciut tapi sebuah tepukan di bahunya oleh Geraint menghentikan niatnya "hentikan semua ini atau kau ingin menyulut peperangan dengan ku" ucap Geraint dengan nada wibawa seorang raja.

Freyja mendecih tak suka dan kemudian menghilangkan aura suci miliknya "baik dengan satu syarat..." ucap Freyja menggantung dan menunjuk kearah Naruto "kau sendiri bawakan aku pedang Excaliber yang ada di daratan utara padaku dan aku tidak akan menyatakan perang dengan Saint Heaven" sambungnya sebelum pergi bersama beberapa prajurit elf yang membawa Kirito, Asuna, dan 2 prajurit elf yang tak sadarkan diri. Suasana mulai tenang seperginya Freyja dari ruangan itu.

Geraint mengalihkan perhatiannya kepada Naruto yang masih dipeluk oleh Lyfa dan Akame, iapun mendekati Naruto. Melihat sang raja Saint Heaven mendekati mereka, Akame dan Lyfa melepaskan pelukan mereka pada Naruto "terimakasih anda telah menolong saya dan istri-istri saya yang mulia" ucap Naruto membungkuk hormat.

"tidak masalah. Namamu Naruto bukan?" tanya Geraint yang dijawab Naruto dengan anggukan "aku sudah dengar tetangmu dari dewi Hestia, dan dengan ini... kuberi kau gelar Destroyer" sambung Geraint, semua orang terdiam mendengar penuturan Geraint yang memberi gelar Destroyer kepada Naruto karena Destroyer bukanlah gelar yang diberikan pada sembarang orang, Destroyer adalah gelar yang hebat seperti Abyss Wwalker, Raven, Ripper, Light Fury, Lunar Knight, Gladiator, Barbarian, Silver hunter, Dark Avenger, dan lain-lain.

Tapi ada satu gelar yaitu Black Mara, gelar ini hanya diberikan kepada seorang perempuan yang memiliki kekuatan kegelapan yang sangat kelam dan mengerikan yang mampu menyaingi Hades sang dewa Under World, tapi tidak diketahui siapa pemegang gelar ini. Cukup penjelasannya sekarang kembali kecerita.

Mendengar itu, Naruto menjatuhkan dirinya bersujud di depan Geraint "TERIMAKASIH BANYAK YANG MULIA GERAINT-SAMA!" seru Naruto berterimakish dengan suara lantang. Geraint tersenyum melihat tingkah Naruto, Geraint berlutut dan menepuk bahu Naruto "bangunlah. Persiapkan dirimu ke daratan utara, takdir Saint Heaven ada di tanganmu" ucap Geraint.

Naruto bangun dari sujudnya dan kembali berdiri tegak "baik yang mulia. Saya Uzumaki Naruto dengan gelar Destroyer akan pergi ke daratan utara untuk mengambil pedang Excaliber!" ujar Naruto mantab, Geraint tersenyum mendengar jawaban Naruto.

"Naruto-kun kau yakin akan pergi ke daratan utara seorang diri?" tanya Akame dengan nada khawatir, ia tidak rela suaminya pergi ke daratan utara yang di kenal sebagai daerah kekuasaan raksasa salju, Thyrm.

"tenanglah... sang Destroyer ini akan baik-baik saja" jawab Naruto bangga dengan gelarnya yang diberikan Geraint. Akame tidak memberikan jawaban apa-apa selain diam.

"maafkan aku Naruto-kun, ini semua salahku" giliran Lyfa yang berkata dengan nada menyesal "ini bukan salahmu, jadi kau tenang saja" ucap Naruto lembut mencoba menenangkan Lyfa "tapi tetap saja aku khawatir kau akan menghadapi bahaya di daratan utara" ucap Lyfa sendu, ternyata Lyfa juga sama seperti Akame yang mengkhawatirkan suami mereka.

Naruto bingung harus berbuat apa untuk menenangkan kedua istrinya, tanpa pikir panjang Naruto menarik Lyfa dan Akame ke dalam pelukannya dan kemudian mengecup bibir kedua istrinya satu-persatu tanpa peduli orang-orang di sekitarnya. Akame dan Lyfa yang tidak siap hanya pasrah akan perlakuan Naruto. Semua orang melongo melihat aksi Naruto yang mencium kedua istrinya.

Blush!

Wajah Lyfa dan Akame langsung memerah padam karena perlakuan Naruto, mereka menunduk diam dengan wajah memerah padam karena malu ditonton banyak orang "percayalah pada suami kalian ini" ucap Naruto lembut, Akame dan Lyfa diam dan mengangguk sebagai jawaban 'iya'. Orang-orang terharu menonton interaksi yang dilakukan keluarga kecil itu.

Tak jauh dari mereka, terlihat seorang gadis bersurai ungu terang panjang sebatas pinggang yang berdiri di dekat salah satu pilar ruangan tersebut, sedari tadi perhatianya terus tertuju kepada Naruto. Bibirnya membentuk sebuah garis lengkung, dia tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

"Naruto..."

Bersambung

Bagaimana dengan cerita ini? Maaf bila tidak memuaskan karena saya masih belajar, maklumlah. Dan juga maukah pembaca sekalian memberikan rekomendasi Anime yang bisa saya tonton, lumayanlah untuk mengusir rasa bosan.

Sekian yang saya sampaiakn dan jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun di kolom review. Salam damai Jangkryx.