Note : Hello saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air dan para reader sekalian.. berjumpa kembali dengan saya author paling gendeng (alias gelandangan tengik) *pasang tampang serem biar berwibawa dikit walau sedikit nyentrik.

Lightning Chrome! Tepuk tangan saudara-saudara! Did u miss me guys? *dilempar sandal. Banyak bacot sih. Oke-oke, dah lama saya tidak mengetik, ternyata begitu banyak yang menunggu 'DTN' berikutnya, hiks, terima kasih atas dukungannya, saya sangat terharu *mulai mewek gak jelas. Zzzzzzzzzzz,, -_-"

Atas dukungan yang besar dari para reader setia, berikut ini saya telah publish DTN chapter berikutnya. Untuk kali ini saya mohon maaf belum bisa membalas satu persatu review yang muncul, tapi Insya Alloh di chapter berikutnya kalau ada kesempatan akan saya balas satu persatu.

Selain chapter baru ini, saya juga telah mengupdate profil baru saya, berikut cerita lainnya yang akan saya publish selain cerita DTN ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan dicek sendiri. Bagi yang ingin menghubungi saya, bisa melalui email (sudah saya tulis di profile) mau di add juga boleh.

Terakhir mohon sekali lagi untuk review dan dukungannya ya teman-teman. Setidaknya untuk penyemangat saya dalam menyelesaikan Fanfic ini. Terima kasih and happy reading!

Summary : Setelah mendapatkan kekuatan dari Kuro, sedikit demi sedikit Hinata mulai jatuh ke dalam lubang kegelapan. Berawal dari mimpi buruk yang senantiasa menghantuinya, cakra miliknya mulai berubah menjadi lebih gelap. Teriakan dan jeritan mengerikan semakin menjadi-jadi manakala hari mulai menjadi malam. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada sang pewaris Hyuuga.

Kecuali sang iblis itu sendiri.

And from now the nightmare will begin…

(-)

.

.

Darker Than Night

By : Lightning Chrome

I do not own Naruto

.

.

(-)

Rate : T

Genre : Angs, Romance, Hurt Comfort, Drama, Tragedy

Warning : Multipairing Inside, Danger, Canon, Typo, Abal dll,

Pairing : Multipairing but basic still Sasuhina ^0^

.

.

(-)

Bagaimana keadaannya? tanya Yamato sedikit khawatir. Pria yang dulu merupakan mantan anggota Anbu dan junior Kakashi di Ne itu kini telah dipercaya untuk menjadi jounin sekaligus ketua dari kelompok 7. Menggantikan posisi dari Kakashi entah karena sebab apa. Ia baru saja kembali dari misi Tingkat S yang telah dituntaskannya dan berniat melapor, sebelum akhirnya ia terhenti karena merasakan pergolakan cakra aneh di desa. Khawatir sekaligus panik akan sesuatu yang terjadi, ia lantas mepercepat gerak kakinya dan sampai ke tempat dimana sumber kecemasannya itu berasal.

Kedai Ichiraku. Heran sekaligus penasaran, ia lantas masuk. Betapa terkejutnya ia melihat banyak orang yang tidak sadarkan diri. Yang lebih mengagetkannya lagi, salah seorang dari mereka adalah Naruto.

Apa yang sebenarnya terjadi disana? Batin Yamato tidak habis pikir sekaligus tidak percaya.

Sementara wanita yang ditanyanya itu, hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya menggeleng. "Denyut nadinya tidak beraturan. Disamping itu matanya terbuka lebar dan aliran cakranya berubah drastis. Ada kemungkinan ini karena pengaruh genjutsu." Wanita berambut pirang itu memperjelas.

"Aku sudah menduganya. Tapi aneh sekali. Aku sudah menggunakan jurus pelepas genjutsu, namun tidak bisa hilang. Godaime-sama! Bagaimana menurut anda?" tanya ketua itu.

Wanita yang dipanggil Godaime itu, Tsunade Senju hanya bisa menggeleng, menyerah pada situasi yang terjadi. Selama berpuluh-puluh tahun dirinya menjadi ninja, mulai dari ilmu ninjutsu, taijutsu, genjutsu maupun ilmu pengobatan dan obat-obatan telah lama dipelajarinya. Mulai dari dasar hingga ke titik tertinggi dimana ninja lain belum pernah menemukannya. Ia tergolong jenius, dalam jurus ninja maupun teknik pengobatan. Salah satu jurus yang paling dikuasainya adalah menghadapi lawan yang menggunakan genjutsu.

Genjutsu adalah jurus ilusi dimana pengguna dapat mempengaruhi panca indera lawannya hanya melalui tatapan ataupun bantuan alat lain. Seperti alat musik yang digunakan ninja Otogakure tempo dulu. Untuk pengguna genjutsu sendiri biasanya berasal dari klan yang murni memiliki darah keturunan khusus, salah satunya adalah klan Uchiha yang sangat terkenal.

Namun untuk kasus kali ini, wanita yang dijuluki 'Sannnin' itu sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. "Aneh sekali, kenapa mereka masih tidak mau terbangun?" Tsunade mulai menggertakkan giginya pertanda ia sedang dalam keadaan marah. Berbagai cara telah ia lakukan bahkan salah satunya dengan menghentikan cakra orang itu secara keseluruhan agar genjutsu tidak lagi menyebar, namun sama sekali tidak berhasil. Bukan hanya itu, ia sengaja melukai sedikit pasiennya agar tersadar akibat rasa sakit yang menimpanya. Namun sama, seolah mati suri. Hal itu hanya sia-sia saja.

"Orang ini masih belum juga sadar." Tsunade memperhatikan wajah orang itu dengan seksama, si pemilik kedai ramen –Paman Teuchi- dalam keadaan terbaring. Disampingnya, anak dan beberapa orang yang diduga pengunjung lainnya turut dalam kondisi yang sama. Begitu ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri, Yamato lantas membawa mereka semua menuju rumah sakit dan menemui sang Hokage kelima.

Begitu dicek, ternyata benar, mereka semua terkena ilusi genjutsu, namun entah kenapa tidak ada satupun ninja yang sanggup untuk melepaskan genjutsu tersebut. Bahkan godaime sendiri yang dijuluki spesialis pengobatan dan ninja legendaris. Hal itu membuat Tsunade semakin geram. Tiga jam telah terlewati semenjak mereka ditemukan, namun sampai sekarang belum ada satu cara pun yang ampuh untuk menolong mereka. Untuk sesaat Tsunade merasa frustasi dan dilanda inferior yang hebat. Apa gunanya julukan itu, kalau menolong mereka saja ia tidak bisa?

Satu hal yang melintas dalam pikirannya saat ini hanya pertanyaan tentang siapa sang pengguna genjutsu itu.

"Bukan hanya mereka, namun Naruto juga sama." Tsunade benar-benar tidak percaya kalau bocah calon Hokage itu juga adalah salah satu korban. Demi kebaikan, pemuda berambut pirang itu ditempatkan di ruangan terpisah kalau-kalau cakra kyuubi mendadak bangkit.

"Ya, saya sendiri juga tidak percaya."

Yamato, apa kau melihat siapa yang melakukannya?" Sementara orang yang disebut hanya menggeleng pelan. "Tidak godaime-sama. Saya tidak menemukan orang lain selain mereka yang menjadi korban. Yang tersisa hanya jejak cakra yang samar-samar, namun tiba-tiba hilang begitu saja. Saya sendiri juga tidak tahu siapa yang melakukannya. Yang jelas, cakra itu… saya belum pernah mengetahui ada orang pemilik cakra seperti itu di desa ini selain Naruto."

Tsunade melebarkan matanya seketika, ia lantas mengerti apa maksud dari jounin bawahannya. Pemilik cakra seperti Naruto. Itu berarti cakra yang sekelas dengan bijuu. Tak terbatas dan sangat mengerikan. Tiba-tiba saja Tsunade merasakan firasat buruk.

Selain dengan Tsunade, Yamato pun berpikiran hal yang sama. Begitu merasakan cakra itu walaupun hanya sebentar, namun sudah dapat dipastikan. Cakra itu setingkat dengan level cakra sang kyuubi. Atau bahkan melebihinya. Pria tersebut mau tidak mau, mengakui walaupun hanya samar-samar… dengan merasakannya saja, ia sudah dilanda perasaan was-was dan rasa takut berlebih.

Tsunade menggebrak meja disampingnya, entah karena takut atau tidak percaya. "Itu tidak mungkin. Tidak mungkin ada orang lain lagi yang memiliki cakra setingkat Kyuubi. Kalaupun ada mereka semua sudah mati karena ditangkap oleh Akatsuki. Yang ada pun Hachibi… masih lebih lemah daripada Kyuubi. Tidak mungkin ada orang lain lagi yang memiliki cakra semengerikan itu!" wanita itu berkomentar.

"Tapi godaime sama… hanya orang yang berkemampuan tinggi saja yang bisa menggunakan jurus ilusi semacam ini. Kalaupun orang 'itu' adalah ninja lain, apa mungkin ia bisa menggunakan jurus yang anda sendiri tidak bisa melepasnya? Sekarang Negara ini sedang beraliansi. Apa mungkin ninja Negara lain mencoba merusak aliansi… sementara kita sedang dalam perang melawan Madara?"

Satu pernyataan tegas dari Yamato, cukup membuat Tsunade terdiam beberapa lama. Benar, saat ini mereka dalam situasi perang. Perang melawan Akatsuki dan Madara. Mengalahkan mereka bukanlah hal yang mudah, bahkan Negara lain pun belum tentu sanggup mengalahkan mereka. Untuk itu mereka bekerja sama. Karena itu tidaklah mungkin, Negara lain mengirimkan mata-mata hanya untuk merusak kedamaian Konoha sementara ini mereka juga dalam situasi sulit yang sama. Namun disisi lain, Tsunade sangat penasaran dengan orang yang menggunakan jurus genjutsu level tinggi semacam ini. Karena belum pernah ia temukan seumur hidupnya, baru kali ini.

Benarkan ia bukan mata-mata? Tapi setahunya belum pernah ada ninja lain yang sanggup melakukan hal seperti ini. Kalau benar apa yang dikatakan Yamato kalau ia memiliki cakra setara Kyuubi, apakah ada bijuu lain selain kesembilan bijuu?

Apakah orang itu adalah jinchuriki?

Ataukah monster?

Tsunade menggeleng cepat. Terlalu banyak berpikir membuatnya mulai membayangkan hal yang aneh-aneh. Sangat jauh dari realita dan tak masuk diakal. Walau kadang-kadang Tsunade tidak tahu kalau hal yang tidak masuk diakal memang nyata dan bisa saja terjadi.

"Kau benar Yamato. Tidak mungkin Negara lain mengirimkan mata-mata sementara kita ini sedang dalam misi yang sama. Menghancurkan Akatsuki." Tsunade menambahkan." Tak ada jalan lain, selain menemukan orang yang menggunakan jurus ini pada mereka."

Wanita itu melirik Yamato dari sudut matanya. "Ini misi untukmu Yamato. Lekas temukan orang itu dan bawa kehadapanku. Itu satu-satunya cara untuk membangunkan mereka dari genjutsu."

Tsunade berpendapat kalau ia sendiri tidak bisa menyembuhkan dan mematahkan genjutsu itu, satu-satunya yang bisa hanya sang pengguna jurus itu sendiri. Tsunade tidak punya pilihan lain selain menemukan dan memaksa orang itu untuk bertanggung jawab.

"Kemungkinan ia masih berada didesa. Aku juga ingin tahu siapa dan bagaimana orang seperti itu bisa berada di desa kita!" Tsunade akhirnya memberikan perintah. Jounin itu mengangguk, mengiyakan tugas yang akan diterimanya, ia hendak pergi sebelum suara perintah berikutnya terdengar…

"Oh ya pastikan kau menemui Karin. Wanita itu akan sangat membantumu."

Yamato tersenyum tipis. "Baik, saya mengerti."

-0-0-0-

Kalau ada yang bertanya siapakah orang yang paling jahil seantero Konoha, maka tentulah semuanya akan menjawab, 'Naruto'. Kalau ada yang bertanya siapakah orang paling bodoh, tentu ia pun akan menjawa hal yang sama seperti orang kebanyakan. "Ya, Naruto-lah siapa lagi?". Kalau ada yang bertanya siapa yang kalian benci, kalian akan menemukan jawaban yang bervariasi. Namun banyak dari mereka menjawab orang yang sama. "Naruto". Itulah jawaban mereka.

Dulu sebelum mengenal dan bersahabat dengan Naruto seperti sekarang. Tanggapannya tentang Naruto sama seperti pendapat orang kebanyakan. Orang yang paling bodoh, jahil, nakal, paling dibenci.

Begitulah pendapat dari Haruno Sakura semenjak di akademi. Masih terngiang dalam ingatannya hari pertama ia bertemu dengan pemuda pirang itu. Hari yang menjadi sebab awal Haruno Sakura sangat membenci pemuda yang bernama Uzumaki Naruto.

Flash Back :

Hari itu adalah hari yang penting sekaligus mendebarkan bagi Sakura. Gadis berambut merah muda pendek itu akhirnya diterima menjadi murid di akademi ninja. Terlahir dari keluarga yang biasa saja cukup membuat gadis berusia tujuh tahun itu begitu pemalu dan merasa rendah diri. Itu dikarenakan kebanyakan dari siswa lainnya, berasal dari klan terhormat dan elit. Sementara keluarganya sendiri notabene tidak memiliki pengaruh apa-apa. Membuat rasa percaya dirinya kian merosot. .

"Kenapa aku harus menjadi ninja? Padahal aku ingin menjadi orang biasa saja." Keluh gadis itu.

"Tidak boleh!" tolak ibu dari Sakura dan lantas memaksa. "Kau harus menjadi ninja! Di desa ini keberadaan ninja sangat penting dan dibutuhkan! Terutama seorang kunoichi!"

"Benar kata kaa-sanmu. Kau tetap harus bersekolah di akademi ninja!" ayahnya ikut-ikutan.

Pasrah dan kecewa, perasaan itulah yang hinggap dihatinya kini, mendengar ultimatum terakhir dari kedua orangtuanya. Kecewa karena orang tuanya selalu memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkannya dan sedih karena tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

"Setidaknya meskipun sekali… aku ingin memilih jalanku sendiri." Batin Sakura sedih.

Masih terdiam di posisinya, ia mulai menengok ke sekeliling. Hari itu akademi yang menjadi sekolah baru Sakura mulai ramai dikunjungi oleh para calon ninja berikut wali murid. Mengedarkan pandangannya dari berbagai penjuru arah, ia tampak antusias memperhatikan calon teman-temannya nanti. Di arah timur ia melihat seorang anak laki-laki dengan seekor anjing diatas kepalanya, sedang ditemani oleh seorang wanita muda yang memiliki corak segitiga dikedua pipinya. Kemungkinan itu adalah kakaknya.

"Hihihi lucu juga. Mereka membawa anjing. Apa benar mereka itu adalah ninja?" ujar gadis itu menyembunyikan tawa dari balik punggung tangannya. Bukan Cuma itu ia juga melihat pasangan ayah dan anak yang mengenakan mantel tebal hingga menutupi sebagian wajahnya. Kacamata hitam melekat di sana. Merasa aneh, dan sedikit takut Sakura tidak berani berkomentar, ia kembali menoleh ke sebelahnya. Tampak beberapa meter dari sana ia melihat gerombolan anak perempuan. Salah satu diantara mereka tampak mencolok, seorang gadis manis berambut pirang.

"Cantik sekali." Untuk sesaat Sakura merasa kagum. Di samping mereka, ia juga melihat seorang anak yang dikuncir tinggi dan pasangan ayah dan anak yang lumayan gemuk, tengah menyantap camilan.

Tiba-tiba pandangannya teralihkan menuju arah utara. Tampak sekumpulan orang baru saja keluar dari gedung sekolah. Mereka mengitari seorang anak perempuan. Dilihat dari dekat mereka memiliki satu kesamaan yakni dari mata mereka. Berwarna putih.

Diantara siswa dan wali murid yang berkumpul, keberadaan mereka amat mencolok mata. Mereka menggunakan kimono berwarna hitam seolah menjadi penjaga gadis itu bukan sebagai wali murid. Pandangannya kemudian turun kearah gadis itu. Anak perempuan itu berambut hitam keunguan, dengan mata berwarna lavender berbeda dengan lainnya. Ia sendiri mengenakan kimono putih dengan simbol api sementara yang lainnya tidak. Heran sekaligus takjub, ia lantas menarik baju ayahnya. "Tou-san, siapa mereka?"

Pria itu melirik arah yang ditunjuk Sakura, ia lantas menjawab. "Mereka berasal dari klan Hyuuga. Klan paling terhormat di desa ini. Kau tengok itu!" Sakura melirik arah yang menjadi sudut pandang ayahnya. Tiba-tiba saja situasi yang berisik menjadi sunyi seketika, para wali murid, merendahkan kepala dan sedikit menundukkan badan melihat kedatangan dari para Hyuuga. "Mereka sangat disegani di desa ini. Mereka itu ninja paling kuat di desa ini selain klan Uchiha." Pria itu menambahkan. "Dan gadis yang dikelilinginya itu adalah Hyuuga Hinata. Pewaris baru dari klan Hyuuga menggantikan pewaris sebelumnya."

Sakura menengok sekali lagi. Gadis itu tampak begitu pemalu. Semburat pink seringkali muncul tatkala ada yang melihat ke arahnya, dan lantas menunduk sambil memainkan jemarinya.

Untuk sesaat Sakura merasa ragu dan heran. Sekali lagi ia tanya kepada ayahnya, "Ng, ayah apa benar dia itu kuat?" Sementara yang ditanya hanya menggaruk kepalanya, mungkin ia juga merasakan hal yang sama dengan dirasakan putrinya itu. Keraguan akan kemampuan sang pewaris Hyuuga. "Seharusnya sih begitu." Ungkapnya dengan jawaban paling baik yang bisa diutarakannya. Bagaimanapun Hyuuga adalah klan yang wajib dihormati tak peduli ia kuat atau lemah sekalipun.

Sementara putrinya itu hanya memiringkan alis, tidak senang pada jawaban ayahnya. Buru-buru sang ayah Haruno mengalihkan topik pembicaraan. "Ah, dan itu! Mereka itu yang disebut klan Uchiha. Klan terkuat kedua selain klan Hyuuga." Sakura kembali mengarahkan pandangannya ke objek yang disebut.

Wajahnya memerah seketika melihat sosok yang dimaksud. Anak laki-laki dari klan Uchiha yang disebut barusan, memiliki paras wajah yang sangat tampan. Menimbulkan rona merah dan perasaan berbunga-bunga yang muncul di sekitar hati dan sekelilingnya.

"Siapa anak itu? Dia begitu tampan dan mempesona. Tou-san bilang ia berasal dari klan Uchiha. Tapi nama kecilnya siapa? Aku harap bisa satu kelas dengannya." Tak henti-hentinya gadis Haruno itu memandangi pemuda Uchiha itu sambil setengah berkhayal. Melihat tingkah laku putrinya itu, sang ayah Haruno tersenyum jahil, ia lalu berbisik ke telinga putrinya. "Kalau kau tertarik pada anak itu, kau harus sadar kalau sainganmu akan sangat banyak."

Sakura bertanya dalam hati, ia kemudian melirik disebelahnya. Tampak segerombolan gadis termasuk gadis manis berambut pirang tadi diam-diam turut mencuri pandang kearah sang Uchiha. Gadis itupun menghela nafas panjang. "Hah, sepertinya memang tidak mungkin ya?" ujarnya pasrah. Semangat yang semula berkumpul kembali merosot seketika tatkala melihat banyaknya 'saingan' disekitarnya. Dengan perasaan gundah ia mengikuti kemana ayahnya berjalan. Sampai ia dikejutkan dengan teriakan kencang dari arah timur.

"Hei, Naruto tunggu! Berani sekali kau mencorat-coret wajah patung Hokage Pertama!" Seru seorang pria berjaket hijau berpelindung Konoha di dahinya. Sementara anak berambut pirang yang dikejar bukannya berhenti malah semakin kencang memacu larinya sembari tertawa mengejek. "Hei, bodoh! Coba kau tangkap aku! Kau pasti tidak akan bisa, kan?" anak itu malah menantang balik!

"Dasar bodoh! Awas saja kau !"

Sakura yang terpana melihat adegan kejar-kejaran itu, tanpa sadar berada terlalu dekat dengan arah lari anak itu. Tanpa bisa mengelak, anak berambut pirang dengan kumis di wajah itu, sukses menabrak sang gadis Haruno hingga terjerembab jatuh ke tanah. Sialnya dengan posisi yang tidak etis.

"Adu..hh. Apa yang kau lakukan?" keluh Sakura sambil memegangi bokongnya yang sakit.

"Wah… putih!" celetuk anak bernama Naruto itu tiba-tiba.

Seakan tersambar petir, Sakura menyadari apa maksud dari ''putih'' itu tatkala menyadari posisinya saat ini. Jatuh dengan posisi paha yang membuka ditambah dengan rok berwarna pink yang dikenakan tentu saja membuat seseorang yang ada didepannya dengan mudah bisa melihat apa yang disembunyikan didalamnya. Maksud author itu….

SYANNAROOO! Batin Sakura menjawab!

BERANINYA DIA MENGINTIP CELANA DALAMKU!

Kesal, malu bercampur marah memenuhi ubun-ubun Sakura. Belum lagi ditambah bunyi tawa dan cekikikan orang-orang disana. Kian menambah emosi dan rasa malu sang gadis berambut merah muda. Sumpah ini adalah hal paling memalukan yang pernah terjadi seumur hidupnya.

"Ups, maaf aku tidak sengaja." Cengiran bodoh dan permintaan maaf itu justru malah membuat gadis itu kian meradang. Dengan emosi berapi-api karena sudahdipermalukan, ia membentuk kuda-kuda. Sebuah bogem mentah melayang…. Dan sukses mengenai anak itu hingga terlempar jauh sekitar 5 meter.

Meskipun masih anak-anak, jangan coba main-main dengan seorang Haruno Sakura.

"Huh, rasakan! Siapa suruh kau mengintip celana dalamku." Batin Sakura puas.

Sementara yang memukul merasa puas melampiaskan amarahnya, hal yang berbeda terjadi pada orang-orang disekitarnya. Mereka tampak syok melihatnya. Tidak percaya pada peristiwa yang baru saja terjadi. Gadis itu memukul bocah Kyuubi?

Takut pada apa yang akan terjadi setelahnya, mereka lantas saling berpandangan dengan wajah pucat. Menyeret anak-anak mereka yang tidak tahu apa-apa untuk segera pergi dari tempat itu. Sementara sebagian hanya terpaku sambil sesekali berbisik. Ninja berpangkat chunin yang mengejar Naruto tadi seketika mendekati anak itu, berusaha mengamankan para warga dengan isyarat mata.

Di satu sisi, Naruto yang menjadi sasaran pemukulan, hanya bisa tercengang. Terkejut sekaligus syok. Namun juga merasa kagum dan takjub pada gadis asing tersebut yang berani memukulnya. Padahal selama ini belum pernah ada yang berani memukul atau melukainya, senakal apapun dirinya.

"Hah.. hah.. hah.. Rasakan itu!" Sakura tersenyum sinis sambil berusaha mengatur nafasnya. Sementara Naruto hanya bisa merintih sambil memegangi pipinya yang bengkak. Masih dalam keadaan sakit, ia masih bisa menyengir lebar. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia. Padahal seharusnya ia merasa kesal karena sudah dipukul, namun justru kebalikannya.

Mencoba berdiri, iapun menatap kearah Sakura. Gadis itu mengira pemuda itu akan marah dan berusaha membalas. Mencoba mengantisipasi ia lalu memasang kuda-kuda pertahanan. Namun yang terjadi malah berbeda dengan yang ada dipikirannya.

Bocah itu, Naruto malah nyengir dan berseru keras. "AKU SUKA PADAMU!"

.

.

.

.

.

.

SIING…..

Untuk waktu sesaat waktu seolah berhenti. Syok, marah, malu, semua bercampur menjadi satu. Tiba-tiba saja wajah Sakura berubah menjadi merah padam persis menyerupai kepiting rebus. Apa tadi yang dikatakannya? S-SUKA? Bisa-bisanya bocah itu menembaknya di saat seperti ini. Tepat di keramaian begini. Belum lagi ia masih 7 tahun. Yang benar saja? Kesal dan sedikit takut-takut ia melirik ke belakangnya. Semua tengah memandang mereka berdua. Termasuk gadis Hyuuga dan pemuda tampan Uchiha itu.

Berani sekali dia.

Marah karena semakin dipermalukan dan menjadi tontonan khalayak ramai. Gadis itu mulai mempersiapkan kuda-kuda, bermaksud menyerangnya lagi. Namun belum sempat ia melancarkan bogem mematikannya, ia sudah lebih dulu dihentikan oleh ayahnya.

"Lepaskan aku Tou-san! Aku akan menghajarnya!" seru Sakura berusaha melepaskan diri. "Berani sekali dia mempermalukanku!" Sakura tidak bisa terima.

"Sudah! Hentikan! Kalau kau memukulnya, kau malah akan semakin mempermalukan dirimu sendiri!" ayahnya memberikan nasehat. Sakura mau tidak mau berhenti memberontak. Dilihatnya, anak itu sudah pergi sambil diseret oleh chunin yang tadi. Sebelum pergi, Naruto memberikan kedipan menggoda kepada gadis itu. Membuat amarah Sakura kembali membludak dan berniat untuk menghajarnya lagi.

"Sudah-sudah, jangan hiraukan dia. Bagaimanapun juga kau tidak boleh dekat dengannya."

"Hei, yang benar saja. Tou-san pikir aku suka padanya?" protes gadis itu dengan nada tinggi.

"Tidak. Tapi yang jelas kau tidak boleh dekat dengannya." Pria itu membungkuk mensejajarkan tingginya, "Dengar Sakura, apapun yang terjadi berjanjilah kau tidak akan dekat-dekat dengan anak itu. Kau paham?"

Gadis itu mengangguk. "Tentu saja tidak. Mana mau aku dekat-dekat dengannya. Anak nakal seperti itu." Sakura mengalihkan pandangannya lagi masih memandang kepergian Naruto dengan alis berkerut menahan kesal. Sekilas ia mendengar cibiran halus dari mulut ayahnya. "Dasar…"

"Siluman…"

Namun Sakura tetap diam dan tak bergeming. Tidak mengerti sekaligus tidak peduli apa maksud ayahnya. Yang jelas ia membenci Naruto dan itu tidak akan berubah. Sampai kapanpun.

End of Flash Back

Begitulah awal pertemuan Naruto dan Sakura. Jauh dari kata kesan baik dan menyenangkan. Yang ada justru malah memalukan. Ia begitu kesal Naruto mempermalukan dirinya di depan umum. Sejak saat itu ia tidak berani lagi memakai rok pendek. Ia selalu mengenakan setelan celana pendek didalamnya. Setidaknya tidak akan ada lagi Naruto kedua yang iseng mengintip celana dalamnyai. Perlu waktu lama hingga Sakura melupakan kejadian itu dan benar-benar mau memaafkan Naruto.

Hari itu adalah hari dimana mereka menjadi satu kelompok. Disanalah ia mulai mengerti dan memahami sikap Naruto. Alasan kenapa ia menjadi nakal, alasan kenapa para penduduk begitu membencinya. Dan alasan mengapa pemuda itu begitu ingin menjadi seorang Hokage. Begitu mengetahui semua kenyataannya, tubuh Sakura bergetar. Selama ini ia begitu jahat dalam mengadili Naruto. Mungkin benar kata Sasuke saat itu, kalau kenakalannya itu bukan karena tidak ada orang tua. Tapi demi mencari perhatian dan pengakuan dari orang-orang disekitarnya yang seolah menganggap dirinya tidak ada.

Iba sekaligus haru melihat perjalanan hidup Naruto yang sebegitu kuatnya memancing sebuah tekad dari dalam hatinya. Naruto yang terus melindunginya, Naruto yang mati-matian bertarung demi memenuhi janji pada dirinya. Naruto yang terluka parah demi menyelamatkan semuanya.

Untuk kali ini ia tidak bisa membiarkannya bertarung seorang diri terus.

Menghapus air matanya, Sakura lantas bertekad. "Kali ini aku yang akan melindungimu Naruto."

Tekad baja yang kuat mengalir dalam darahnya. Sambil berpikir demikian, ia terus berlari menyusuri jalanan desa. Menemui pemuda itu yang tengah terbaring di rumah sakit. Bahwa kelak ia akan bisa sedikit berguna.

Darker Than Night

By : Lightning Chrome

I do not own Naruto

Chapter 12 : Yomi No Ouji

(-)

Kuro berdiri dengan tatapan angkuh. Senyum kejinya perlahan hilang berganti dengan raut wajah dingin dan datar. Dari banyak orang yang ditemuinya, baru kali ini ia mendapatkan kunjungan dari makhluk yang sebangsa dengan dirinya. Terlebih lagi makhluk itu merupakan makhluk yang kini menjadi incarannya atas perjanjian iblis itu dengan Madara.

Siluman rubah berekor Sembilan. Kurama Kyuubi.

Kuro menaikkan sudut bibirnya sedikit ke atas. Ingatannya beratus-ratus tahun yang lalu bangkit manakala mengingat wajah dari sang Kurama. Sudah lama sekali ia pergi dari Yomi dan masuk ke dunia manusia. Disaat itu banyak sekali siluman berekor yang pergi dari sana karena dipanggil oleh manusia. Sementara dirinya hanya bisa diam dan menonton dari belakang kursi singgasana.

Apa boleh buat hanya makhluk tingkat bawah yang bebas keluar masuk dunia Yomi. Sementara dirinya tidak diperkenankan untuk melakukan hal yang sama. Diam-diam Kuro merutukinya. Dalam hati ia ingin sekali menghancurkan peraturan itu dan bebas membantai manusia.

Namun sayang, segel kuat dari Izanagi menghalangi niatnya itu.

Dalam menghadapi kebosanannya, seringkali Kuro melihat dunia manusia. Bak televisi, dengan kekuatannya ia mampu menangkap berbagai tampilan visual. Mulai dari situasi desa, apa yang dilakukan para manusia, maupun apa yang terjadi. Dari situlah Kuro mulai mengenal makhluk bernama manusia.

Kebencian dan ketidaksukaannya pada manusia meningkat manakala ia berhasil masuk ke dunia manusia. Orang-orang yang disebut penguasa itu, dengan segala ketamakan dan kesombongannya berniat memanfaatkannya. Bodoh dan naïf. Tidak ada satupun yang bisa memerintah sang iblis Karasu.

Dan iblis itu lantas membantai semuanya. Meluapkan kebencian dan nafsu membunuhnya. Menghabisi satu persatu manusia hingga ia terpenjara di hutan terlarang. Karasu tersenyum mengingat masa lalunya.

"Sudah lama sekali semenjak kita tinggal di Yomi. Tak kusangka akhirnya kau mau datang untuk menemuiku, Kurama." Ujar Kuro memberikan senyum palsu. Ia lantas duduk di sebuah batang pohon yang telah jatuh karena habis dihancurkannya. Ia pun menyeringai angkuh.

"Kuro Karasu." Bunyi geraman tertahan disana. Ada maksud lain didalamnya.

"Melihat dari wujudmu saat ini. Sepertinya kau berhasil membujuk bocah itu untuk meminjamkan jasadnya padamu." Ujar Kuro enteng. Pria itu kembali menambahkan seraya tersenyum mengejek. "Bodoh sekali tindakannya itu. Memberikan kesempatan bagi makhluk berbahaya sepertimu untuk keluar."

Sosok yang saat ini mendiami tubuh Naruto itupun menjawab, "Meskipun berbahaya, tapi kami tidak seberbahaya dirimu, wahai KARASU!" ada nada penekanan didalamnya. Tampaknya sosok itu sudah tahu betul siapa yang ada didepannya saat ini. Siapa sebenarnya Kuro.

Kuro memicingkan matanya, setengah tidak suka namun sebagian merasa sombong dan bangga akan kekuatanya, "Kau memanggilku dengan wujud lainku, ada gerangan apa kau datang kemari menemuiku, wahai siluman rubah Kyuubi?"

Kurama kyuubi terdiam sebentar. Ada hal penting yang harus dipastikannya kini. Untuk alasan itulah ia memohon kepada pemuda pirang itu untuk meminjamkan tubuhnya. Ia perlu berbicara sendiri tanpa diketahui oleh siapapun. Sementara saat ini ia tengah berada di dalam tubuh Naruto dan keluar bebas tentulah bukan hal yang mungkin. Satu-satunya cara adalah dengan meminjam tubuh bocah itu dan memindahkan kesadarannya sebentar. Memang tidaklah mudah meminta hal itu kepada bocah yang membencinya, pemuda itu bersikeras menolak. Siapa juga yang mau meminjamkan tubuhnya untuk dipakai oleh monster setingkat kyuubi? Apa yang akan terjadi jika makhluk itu bebas? Kehancuran dan pembantaian bisa terjadi dimana-mana.

Namun setelah perdebatan panjang, akhirnya Naruto menyanggupinya. Tentu saja dengan satu syarat, siluman rubah itu berjanji tidak akan mengamuk serta akan membantunya kelak dalam perang shinobi nanti. "Kali ini aku menolongmu. Tapi ingat janjimu padaku, Kurama!" tegas Naruto saat itu.

Mata merah sang kyuubi muncul dari dalam diri Naruto, begitu mengambil alih. Kuku dan taringnya bertambah panjang serta kumis di pipinya semakin terlihat jelas. "Dasar bodoh! Kalau tidak ada hal penting semacam ini mana mau aku meminta tolong pada bocah sepertimu!" batin Kyuubi galak.

Namun sekarang itu bukan lagi masalah, karena ia sudah berhasil keluar. Meskipun hanya memiliki waktu terbatas. Memfokuskan cakra merah dan pikiran yang dimilikinya pada satu tempat, tanpa membuang waktu ia lekas pergi dari rumah sakit. Suara mengerikan keluar dari mulutnya.

Hingga iapun tiba dan berdiri di depan orang itu. Bagaimanapun sosok di depannya ini bukanlah makhluk biasa, ia tahu betul. Ia adalah salah satu dari golongan kecil makhluk tingkat atas yang dipuja sebagai "Yomi no ouji" di dunianya. Makhluk sekelas tengu.

Kuro Karasu.

-0-0-0-

"Tidak ada?" Sakura bertanya dengan nada tidak percaya. "Maaf Sakura-san, begitu saya mencek ruangan ternyata tuan Uzumaki Naruto sudah tidak ada di tempat." Jelas Sana, salah seorang dari perawat rumah sakit. Wanita itu baru saja hendak masuk untuk mengecek keadaan pasien hingga ia menyadari salah satu pintu kamar terbuka. Dan jelas, Uzumaki Naruto yang merupakan salah satu pasien telah hilang. Melihat kekhawatiran di wajah Sakura, buru-buru perawat itu menenangkan. "T-tapi jangan khawatir Sakura-san. Saya sudah meminta tolong pihak rumah sakit untuk melakukan pencarian. Selain itu juga, saya akan memberi kabar kepada Hokage, jadi anda tidak perlu khawatir."

Gadis itu terpaku sejenak. Pikirannya telah melayang entah kemana. Sampai suara panggilan dari seseorang membuyarkan pikirannya. "Sakura!" panggil Sai dari agak jauh. Pemuda berambut hitam itu lantas mendekati teman sekelompoknya sambil membawa bungkusan.

"Maaf, aku baru saja dari misi. Baru bisa datang sekarang. Bagaimana keadaan Naruto?" Sai melirik dari depan pintu. "Lho kemana Naruto?" tanyanya heran. Masih belum mendapatkan jawaban, Sakura gadis itu sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Sai. "Lho… lho ada apa?"

"Naruto menghilang!" serunya. "Sekarang kita harus mencarinya!" satu seruan dari Sakura langsung membuat Sai mengerti akan situasinya. Sambil menghela nafas, ia menaruh asal bungkusan berisi ramen yang telah dibelinya. Menurut buku, membawakan makanan yang disukai adalah hal yang dilakukan oleh teman ketika menengok. Dan Sai dengan sukarela menyisihkan uang untuk membeli mie ramen itu untuk Naruto. Namun sepertinya kali ini, Sai harus menambahkan satu hal penting yang harus ditulis di buku. Bahwa memastikan orang yang akan ditengok ada di tempat itu lebih penting daripada membawa makanan.

-0-0-0-

Sepasang mata berwarna lavender terbuka, seakan-akan menyadari akan situasi aneh yang tengah terjadi. Pemilik mata cantik itu bangkit dari tempat tidurnya. Perasaan gelisah dan gundah terus menerus menghantuinya. "Perasaan aneh apa ini? Seakan –akan ada sesuatu buruk akan terjadi.." gumam Hinata dengan nada yang menyiratkan kecemasan. Ia lantas berjalan kearah jendela. Memastikan situasi desa dari sana. Tak ada yang berubah…

Kecuali…

Mata Hinata melebar seketika. Dengan cepat ia mengganti baju tidurnya dengan pakaian ninja. Tidak lupa ia memasukkan kunai dan kotak medis. Dengan langkah terburu, ia meninggalkan kamar pribadinya.

"Hinata-sama. Kenapa nona begitu terburu-buru? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Neji yang berada di lantai dasar menyapa gadis itu dengan sopan. Raut wajah cemas dan bingung berada di sekeliling wajah dan pelipisnya. "A-ah tidak apa-apa, Neji nii-san. A-aku baru ingat aku ada janji dengan Kiba dan Akamaru. Sudah ya, aku pergi…"

"Hi-hinata-sama?" Namun gadis Souke itu sudah keburu pergi. Neji tidak henti-hentinya memandang kepergian sepupunya dengan perasaan cemas dan khawatir. Cakra aneh dan gelap mulai menyelimuti gadis yang kini disayanginya itu. Dengan mata Byakugan, Neji bisa melihatnya.

"Apa yang sebenarnya yang terjadi padamu, Hinata-sama?"

-0-0-0-

"Genjutsu? Benarkah itu?" mata Kakashi melebar seketika. Dari nadanya saja sudah tahu, kalau pria jounin itu merasa sangat terkejut. "Iya, senior. Tidak salah lagi." Yamato mengiyakan.

"Kalau begitu kenapa tidak kau gunakan jurus penghilang genjutsu?"

Ketua itupun menggeleng, "Kami sudah melakukannya. Tapi tetap tidak bisa. Jurus tersebut tidak bisa dihilangkan." Yamato memperjelas. Dari wajahnya saja, Kakashi bisa melihat kalau ketua itu sungguh-sungguh dalam omongannya. Kalau jurus genjutsu itu tidak bisa dihilangkan.

BUUK! Pria bermasker itu memukul tinjunya ke tembok.

"Aku tidak tahu kalau orang itu sedemikian kuatnya. Sepertinya aku salah karena terlalu meremehkannya."

Pikiran Kakashi kemudian kembali mengingat dimana ia bertemu pemuda misterius bernama Kuro itu. Dari auranya saja, Kakashi sudah mengira kalau orang itu bukanlah orang sembarangan. Hinata bilang orang itu adalah gurunya. Tapi jika benar apa alasan ia menyembunyikan kehadirannya? Dan kenapa ia malah menyerang penduduk desa? Kakashi terus menerus bertanya pada batinnya. Rasa penasarannya membuatnya sampai ke tempat penyimpanan dokumen. Berusaha mencari tahu identitas dari Kuro dan siapa dia sebenarnya.

"Aneh, aku bahkan tidak menemukan satu pun data tentangnya."

Melihat seniornya yang terus menerus diam, mau tidak mau memancing keingintahuan Yamato. "Ng, senior? Apa kau tahu sesuatu tentang kasus ini?"

Pria bermasker itupun menoleh, "Ya, karenanya aku ingin kau membantuku."

Darker Than Night ~

Chapter 12 : Yomi No Ouji~

~Pangeran dari Yomi~

(-)

Hening. Hanya ada keheningan yang mengitari kedua makhluk itu sampai salah satu dari mereka membuka mulutnya. "Jawaban! Aku ingin jawaban." Ungkapnya.

"Jawaban? Baiklah. Jawaban apa yang kau inginkan dariku, wahai Kurama?"

"Jawaban dari pertanyaan kenapa makhluk tingkat atas sepertimu bisa datang ke dunia manusia. Terlebih lagi kau menggunakan 'doujutsu milikmu' untuk memerangkap Naruto!" Kurama menggeram dengan kerasnya.

Sepertinya ia tidak terima pada apa yang dilakukan oleh iblis itu pada Naruto. Apakah karena rubah itu mulai menyukai si bocah pirang? Bukan, ia sama sekali tidak peduli. Tapi dengan memerangkap bocah itu sama saja dengan berusaha membunuh dirinya. Karena mau tidak mau jika Naruto mati, ia juga akan mati.

"Heh, kau mulai mengkhawatirkan si bocah?" Kuro menyeringai seraya mengejek. "Aku Cuma memberinya genjutsu kecil. Kau tidak perlu khawatir…" iblis itu baru menangkap sesuatu. "Ah ya, kau sekarang satu tubuh dengannya ya. Pantas saja kau begitu khawatir. Membunuhnya sama saja dengan membunuhmu."

Kurama balik bertanya seolah tidak mempedulikan. "Kuro Karasu, apa maksudmu melakukan itu semua?"

Bola mata Kuro berubah menjadi kuning keemasan. Ia sontak berdiri dari posisinya. Auranya semakin berubah gelap, "Bocah itu memuakkanku!" desisnya dengan nada berbisa.

Pikiran Kuro kembali ke saat dimana ia duduk di kedai Ichiraku. Memperhatikan dengan bosan, bocah kyuubi dan sang gadis Hyuuga. Sejak awal pertemuannya, Kuro sudah tidak menyukainya. Ditambah lagi dengan guru bermasker yang bernama Kakashi Hatake itu yang semakin mengesalkannya. Mereka seolah tengah bersaing untuk mendapatkan sang gadis Hyugga. Dan entah kenapa hal itu membuatnya semakin berang dan tidak suka.

Hingga ia lepas control dan menggunakan salah satu doujutsunya.

"Memuakkan?" dari kalimatnya saja Kurama tidak begitu mengerti. Ia mengulang pernyataan Kuro menuntut lebih banyak penjelasan. Namun yang ada iblis itu hanya memalingkan muka. Pertanda kalau ia tidak ingin berbicara lebih jauh. Hanya dia sendiri yang tahu apa alasannya, dan sungguh bukan dirinya jika ia menjelaskan masalah tersebut kepada makhluk setingkat dibawahnya.

"Aku datang kemari karena dipanggil, sama sepertimu." Kuro mengganti topik pembicaraan. "Manusia memanggilku dengan alasan yang sama kenapa ia memanggilmu ke dunia ini." Ujarnya memperjelas.

"Itu tidak mungkin!" sanggah Kurama. "Aku datang atas Kuchiyose No Jutsu yang dipanggil oleh Madara Uchiha. Itupun hanya bisa dilakukan dengan syarat khusus sebagai makhluk dari Yomi. Sementara kau! Kau yang makhluk tingkat atas tidak diperkenankan untuk datang kedunia ini, baik melalui kuchiyose ataupun syarat khusus! Kau tidak diperbolehkan untuk datang ke dunia manusia maupun seka-i'!"

Wajah datar Kuro lantas berubah menjadi dingin dan sangat menakutkan. Ia menatap siluman itu dengan tatapan jalang seakan ingin membunuh dan mencabiknya. "Lalu… Atas dasar apa kau melarangku?" Kurama langsung terdiam, Ia jelas sudah salah memancing amarah dari sang iblis.

"Kau yang makhluk tingkat bawah… berani memerintahku? KURO KARASU?" dalam sekejap iblis itu sudah berdiri membelakangi sang kyuubi. "Dengar baik-baik siluman rubah. Di dunia ini mungkin memang benar kau adalah makhluk ganas yang sangat ditakuti. Tapi didunia Yomi… kau tidak lebih dari monster kecil yang siap kapan saja untuk dibunuh." Kuro menyeringai menakutkan. "Kalau aku mau… aku bisa membunuhmu saat ini juga." Ancamnya sambil memamerkan kuku jarinya yang berubah panjang. Persis ancaman terhadap sang Hyuuga tempo dulu.

Menyadari hawa kematian yang mengelilinginya, Kurama hanya bisa menunduk kaku.

"Tidak, pangeran…"

Kuro melepaskan dekapannya, memamerkan wajah 'Shinigami' miliknya. "Bagus, kau harus tahu dengan siapa kau berurusan. Siapa korbanmu, siapa musuhmu, dan siapa…. Tuan-mu…!"

Tak ada yang bisa dilakukan oleh sang kyuubi kecuali diam dan tidak menyanggah. "Lantas mengapa anda bisa sampai kemari?" tanyanya kembali namun kali ini dengan nada lebih hormat.

"Perjanjian darah." Jawab Kuro sambil menutup mata.

"Perjanjian darah?" Kurama mengulang jawaban Kuro.

Sang iblis berwajah tampan itu lantas mengangguk. "Beratus-ratus tahun yang lalu ada sekelompok manusia yang berkumpul untuk mengadakan sebuah ritual. Saat itu adalah saat yang sama dimana manusia pertama kali mengadakan peperangan. Demi memuaskan nafsu dan ketamakan untuk meraih kemenangan. Mereka lalu mencari segala cara untuk menang sekaligus bersekutu dengan setan. Satu demi satu, mereka melakukan perjanjian untuk memanggil monster dari Yomi. Mereka yang menggunakan makhluk dari Yomi berhasil menang dengan gemilang. Hingga lawannya pun turut melakukan hal yang sama untuk membalas. Hingga dunia ini dipenuhi oleh monster. Niat awal mereka untuk memenangkan perang berganti dengan kekacauan akibat monster yang dipanggil malah membunuh dan membantai banyak orang." Kuro terdiam sebentar kemudian melanjutkan.

"Hingga sekelompok biksu mengorbankan diri mereka untuk melakukan penyegelan. Menutup gerbang Yomi agar tidak bisa dibuka kembali. Yah, tapi namanya juga manusia. Ada yang mendukung ada juga yang tidak. Mereka yang menentang lantas berkumpul mengadakan upacara ritual terlarang. Cara untuk memenangkan perang itu… adalah dengan memanggil salah satu monster terkuat. Monster Tingkat Atas. Namun pemanggilan itu tidak bisa dilakukan dengan gratis. "

"Tumbal…" bisik kyuubi.

"Ya, kau benar. Dengan mengorbankan seribu orang, mereka memanggilku. Sang Iblis gagak. Kuro Karasu. Yomi no Ouji. Salah satu dari 7 monster tingkat atas di Yomi. Kehadiranku lantas menimbulkan hiruk pikuk diantara mereka. Mereka pikir aku akan menjadi senjata andalan untuk meraih kemenangan mereka."

Ada waktu sejenak sebelum, Kuro melanjutkan dengan tatapan benci. "Namun, mereka terlalu naïf…"

Ingatan Kuro berpindah ke ratusan tahun yang lalu. Dimana ia dengan entengnya membantai satu persatu orang diantara mereka. Melampiaskan kebosanannya dan melampiaskan amarah serta nafsu membunuhnya.

Hari dimana dunia manusia dipenuhi dengan kegelapan.

Sampai seorang biksu menghentikan kesenangannya. Hal itu membuatnya murka. Tapi beruntung, ada manusia yang mau melepaskannya. Meskipun harus diganti dengan sebuah perjanjian.

Awalnya Kuro merasa jijik diperintah oleh manusia, tapi seiring waktu berlalu ternyata iblis itu cukup menikmatinya. Terutama ketika ia bertemu dengan gadis bernama Hyuuga Hinata itu. Ada sesuatu yang lebih menarik dibandingkan dengan membunuh orang-orang di desa.

Sesuatu seperti…

"K-kuro sensei?" suara lembut itu menyadarkan lamunan Kuro. Keduanya bak Kuro maupun Kurama menoleh seketika kearah sumber suara. Gadis bermarga Hyuugaitu, Hyuuga Hinata tengah terpaku dengan wajah tak percaya.

"Cih…." Kuro mendecih kesal akan kehadiran gadis itu yang diluar dugaan.

To be Continued

Note : Ini adalah akhir dari chapter keduabelas. Semoga para reader menyukainya. Untuk Sasuke Lover mohon maaf untuk chapter kali ini, Sasuke tidak dimunculkan. Oleh karena itu saya memutuskan untuk membuat OMAKE'nya. Semoga para reader terhibur. Tetap review dan follow fic-fic saya. Review anda menjadi semangat bagiku ^0^. And met reading…!

.

.

.

SASUKE OMAKE :

Sasuke Childhood Moment

Character : Sasuke, Hinata, Fugaku, Naruto, Sakura

Rate : T

Warning : sama

Chapter Special Omake : Sasuke's First Academy

(-)

Hari ini adalah hari yang penting bagi Sasuke. Anak laki-laki bungsu dari klan Uchiha itu kini telah siap memulai hari baru sebagai calon ninja. Menyelesaikan sarapannya dengan setengah terburu, ia lantas bergegas menyusul ayahnya –Fugaku yang lebih dulu berjalan duluan. Disepanjang perjalanan, mereka sama sekali tidak bertukar kata. Terkenal dengan wajah yang dingin dan pendiam menjadikan pasangan ayah dan anak ini pasangan yang susah sekali untuk diajak berbicara. Merasa risih dengan situasi yang dihadapinya, Sasuke kecil kemudian mencoba untuk mengalah dan memulai percakapan.

"T-tou-san…" entah sejak kapan tapi kalau berhadapan dengan ayahnya, Sasuke tidak bisa untuk tidak menjadi gugup. "Aku…"

"Kita sudah sampai." Belum sempat melanjutkan, kata-kata Sasuke sudah lebih dulu dipotong. Apa boleh buat. Melirik ayahnya sedikit, Sasuke pun meghela nafas. Mengikuti jejak ayahnya menuju lapangan akademi, tempat dimulainya rapat penerimaan calon ninja baru.

Lapangan itu luas, panjangnya kira-kira seratus metes dengan jarak lebar yang hampir setengah dari panjangnya. Dengan jarak seluas itu, sanggup menampung ratusan orangtua berikut murid akademi yang baru mendaftar. Menengok ke belakang, ia menyaksikan sejumlah anak-anak yang sebaya dengannya tengah sibuk bercanda dengan orang tuanya masing-masing.

Untuk sesaat, Sasuke merasa iri.

Ia tidak pernah bisa begitu dengan ayahnya. Ia selalu diajarkan untuk menjadi nomor satu seperti kakaknya. Ia tidak pernah memiliki waktu untuk bermain ataupun bercanda layaknya sebuah keluarga.

"Jangan pernah berpikir untuk menjadi seperti mereka!" Fugaku tiba-tiba bersuara. "Mereka itu bukanlah berasal dari klan ninja. Mereka tidak memiliki tanggung jawab atau harga diri sebagai ninja yang kuat. Kalau kau ingin menjadi ninja… buanglah semua itu! Perasaan, emosi, rasa kasihan, teman ataupun cinta dan persaudaraan. Hanya satu yang harus kau kejar. Kekuatan!" Pria bermarga Uchiha itu menekankan kalimatnya. "Jadilah lebih kuat." Pesannya lagi.

Ya, persahabatan, permainan atau candaan seperti yang mereka lakukan… sama sekali tidak ada artinya. Hanya membuang-buang waktu. Harga diri dan kekuatan adalah segalanya bagi Uchiha. Itulah yang diajarkan ayahnya selama ini. Namun Sasuke masih tidak mengerti kalimat terakhir dari ayahnya yang mengatakan untuk membuang perasaannya. Walaupun sedikit ragu, Sasuke memilih untuk mengiyakannya. "Baik Tou-san."

Upacara penerimaan murid baru telah selesai beberapa menit yang lalu. Namun masih belum ada orangtua maupun wali murid yang meninggalkan akademi. Mereka masih sibuk berkumpul untuk sekedar mengobrol dengan guru atau anaknya. Hal itu juga terjadi pada ayahya. Tou-sama-nya itu tengah sibuk berbicara dengan seorang pria bertubuh gempal yang dulu menjadi guru dari Itachi.

"Kau dengar itu, Sasuke? Jadilah ninja yang hebat seperti kakakmu!"

"…. Baik." Dengan segala kepatuhan, Sasuke mengangguk pelan. Meskipun dalam hati, ia merasa sakit karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Namun apa daya, Sasuke tidak berani mengatakannya. Bagaimanapun juga, ia ingin menjadi kebanggaan ayahnya. Satu-satunya cara untuk diakui adalah dengan menjadi lebih kuat dari kakaknya. Untuk itu akademi ini adalah jalan pertama Sasuke menuju cita-citanya.

Tiba-tiba pandangan Sasuke teralihkan menatap segerombolan orang bermata putih yang baru saja keluar dari ruang guru ninja. Tampak sekali kalau orang-orang itu tidak ikut acara penerimaan murid yang baru saja Ia dan ayahnya ikuti. Orang-orang itu tampak mengelilingi seorang gadis kecil yang mengenakan kimono putih dengan simbol api.

Senyum Sasuke merekah begitu menyadari kalau anak perempuan itu adalah Hyuuga Hinata. Sejak tadi ia menunggu kedatangan gadis itu, untuk menjadi teman pertamanya di akademi. Namun yang ada hanya sekelompok anak perempuan yang terus memandanginya dengan senyum centil di wajahnya. Hal yang bagi Sasuke sangatlah menyebalkan. Ia baru saja hendak menghampiri sang Hyuuga sebelum tangannya ditarik oleh Fugaku.

"Ada apa Tou-san?" tanya Sasuke heran.

"Kau lihat mereka Sasuke?" Sasuke mengangguk, bagaimanapun dari tadi ia melihat Hinata-nya tengah berada disana. Wajah Sasuke sedikit memerah begitu menyadari pemikirannya barusan. Namun dengan cepat ia menutupinya dengan wajah stoik.

"Mereka disebut sebagai Bunke Hyuuga. Mereka hidup sebagai bayang-bayang dari klan Souke Hyuuga. Mengorbankan nyawa mereka demi Souke adalah tugas mereka. Dan anak perempuan di tengah itu adalah pewaris dari Souke. Kalau kau macam-macam padanya…. Kau bisa dibunuh." Sasuke sedikit terkesiap mendengarnya, ragu sedikit bingung. Namun tidak ada yang salah untuknya kan? Bagaimanapun ia tidak mungkin mencelakai HInata. "Tapi Tou-san aku…"

Kata-kata Sasuke terputus begitu mendengar keributan dari arah timur. Tepat ketika itu sang pembuat onar telah tiba. Uzumaki Naruto. Ia terlihat sedang bertikai dengan seorang gadis berambut pink mencolok yang dari tadi mencuri pandang ke arahnya. Seketika itu juga seluruh mata tertuju pada kedua anak yang tengah bertengkar itu. Hingga tak ada satupun yang mendengar pembicaraan ayah-anak Uchiha disana.

"Dengar, Sasuke. Klan Hyuuga adalah saingan terbesar kita. Dari dulu hingga sekarang. Hal itu tidak akan pernah berubah." Fugaku membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pulang, "Lebih baik kau tidak usah dekat-dekat dengannya mulai sekarang. Ini demi kebaikanmu."

Sasuke menunduk lesu, ia menatap gadis itu dari kejauhan. Hinata yang merasa diperhatikan menengok seketika. Pandangan mata mereka berdua saling bertemu. Oniks dan lavender. Untuk sesaat waktu seakan berhenti, tak peduli akan kericuhan yang sedang terjadi. Seolah hanya mereka berdua yang ada disana. Hyuuga Hinata dan Sasuke Uchiha. Sebelum akhirnya Sasuke berbalik dan menyusul ayahnya pulang. Memendam begitu banyak tanya dan emosi didalamnya.

Sementara Hinata yang sempat terpana, hanya bisa menunduk. Ekspresi wajahnya berangsur sedih, hingga Ko menghampirinya. "Hinata-sama, mari kita pulang."

End of Sasuke omake

.

.

See you again in next chapter ^0^

Lightning Chrome

09082015