Rabu, 25 April
Kurama High School
12.17 PM
[Normal PoV]
"Huaaahh aku benci pelajaran fisika!" Kiba berteriak dengan tidak tahu malunya di tengah koridor kelas 10, membuat remaja berambut coklat itu menjadi pusat perhatian murid-murid yang lain.
"Berisik, Kiba! Suara kerasmu sangat mengganggu," tegur Shino sambil menaikan frame kacamatanya.
"Wajarlah, Shino, dia kan Naruto kedua." Sahut Suigetsu sambil menyeringai, dan sukses membuat Kiba mendelik tersinggung.
"Ngomong-ngomong soal Naruto, Naruto kapan bisa kembali bersekolah ya?" Tanya Iruka penasaran. Mantan guru akademi di masa lampau itu terlihat mwrindukan Nwruto secara mereka berdua merupakan teman makan ramen.
"Kemarin katanya dia baru bisa pulang hari Jumat kan? Mungkin dia baru bisa pergi ke sekolah hari Senin," jawab Aki yang berjalan di sebelah Suigetsu.
"Huh, dia sih enak, setidaknya dia terbebas dari berbagai macam PR yang bisa bikin kepala pecah!" Kiba menyahut sambil manyun. "Oh ya, Sasuke, kau jago fisika kan? Nanti ajari aku dong!" Kiba menoleh ke belakang, menatap teman berambut raven dengan model bokong ayam seksi-ehm, maksudnya spike.
Sasuke tidak menyahut. Dia justru memandang ke arah lapangan bola, tidak terlalu memperhatikan percakapan teman-temannya. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Hei Sasuke, dengar tidak?"
Ketika Kiba kembali bersuara barulah Sasuke menoleh. Pemuda tampan itu memasang wajah datar sedatar triplek, memandang Kiba dan yang lainnya dengan datar juga.
"Hn," hanya dua konsonan sakral itu yang ia gumamkan, entah apa maksudnya. Kelakuannya tentu membuat para sahabatnya bingung. Ada apa dengan si Uchiha bungu ini? Tanya mereka dalam hati.
Sakura's Lover
present
Naruto: The New Born
(Chapter 13)
Rate T
Desclaimer Naruto Masashi Kishimoto
saya kan cuma pinjem charas Kishi-sama ^^
This Story is MINE
AU for present, and Canon for past memory
Gendre: Friendship, Drama, Humor
Warning: OOC, Gaje, Berantakan, EYD, TYPOs, NEWBIE
Dont Like? Dont Read! ^^
Enjoy!
"Hei, kau kenapa sih, sobat?" Tanya Kiba penasaran. Sasuke memang pendiam, tapi hari ini dia jauh lebih pendiam, bahkan belum terdengar sepatah kalimatpun dia ucapkan sampai jam istirahat ini. Tentu saja 'hn' itu tidak dihitung, karena itu bukan sebuah kata, apalagi kalimat.
"Hn, tidak apa-apa," jawab Sasuke tanpa emosi. Namun siapapun yang mendengarnya dapat langsung mengerti bahwa pemuda pemilik manik sehitam obsidian itu sedang tidak ingin diajak bicara, apalagi diganggu. Jadi kelima pemuda itu tidak lagi bertanya apapun padanya dan memilih diam. Mereka mengerti Sasuke butuh waktu sendiri dan sedang tidak ingin bergabung dengan mereka.
Padahal kalau ada Naruto, Sasuke bisa menjadi sedikit lebih terbuka dan mudah diajak bicara. Di antara mereka, memang hanya Naruto saja yang bisa benar-benar mengobrol akrab dengan Sasuke. Apa mungkin Sasuke sedang galau karena tidak bertemu Naruto? Pikir mereka. Tapi sepertinya tidak, kemarin meski tidak ada Naruto, Sasuke masih bersikap biasa saja, masih mengobrol wajar dengan mereka. Tapi hari ini mungkin Sasuke sedang ada masalah, makanya jadi seperti itu. Mereka juga tidak berani menanyakannya secara langsung. Oleh karena itu mereka membiarkan saja Sasuke yang asyik dengan pikirannya sendiri.
Mereka hanya tidak tahu, kalau sebenarnya Sasuke sedang galau karena baru saja patah hati. Biarlah ini hanya menjadi rahasia antara Sasuke dan author biar makin mesra. #author dichidori.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rumah Sakit Pusat Tokyo
12.31 PM
Itachi berjalan dengan langkah tegas memasuki lobby rumah sakit, menghampiri meja informasi yang berada di dekat lift. Petugas resepsionis langsung menyapanya ramah yang tidak terlalu dia pedulikan.
"Aku ingin bertanya, apakah dokter Sakura Haruno masih berada di ruangannya?" Tanya Itachi tanpa basa-basi.
"Maaf, Tuan, dokter Haruno tidak praktek di hari Rabu," jawab si resepsionis masih dengan keramahan yang sama.
"Aku tahu, tapi dia tidak ada di rumahnya. Apakah dia tidak ke sini pagi tadi?" Tanya sang prodigi Uchiha itu lagi.
"Tidak, dokter Haruno tidak pernah ke rumah sakit di hari Rabu. Katanya dia selalu pergi ke suatu tempat."
"Benarkah? Ke mana?"
"Saya kurang tahu, Tuan."
Itachi mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih kepada si resepsionis. Tanpa banyak bicara dia lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Dalam hati dia bertanya-tanya ke mana perginya Sakura. Dia baru mengetahui kalau setiap hari Rabu gadis berhelaian soft pink itu pergi ke suatu tempat tanpa memberitahukannya pada siapapun. Ponselnya pun sepertinya sengaja tidak diaktifkan. Padahal hari ini Itachi berniat mengajak calon tunangannya itu makan siang. Dia bahkan sengaja menyusul Sakura ke rumah sakit saat dia menemukan Sakura tidak berada di apartemennya. Tapi ternyata hasilnya nihil. Mungkin nanti malam dia akan kembali menelpon Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
.
Distrik Adachi,
Pemakaman umum
12.47 PM
Siang ini seperti biasanya pemakaman terlihat sepi. Suasananya begitu hening, hanya terdengar sesekali kicau burung-burung kecil yang bertengger rendah di pohon-pohon di sekitar kuil Shinto dekat pemakaman. Sakura tidak ambil pusing hal itu. Dia berjalan dengan tenang melewati jalan setapak yang membelah pemakaman ini menjadi dua. Setelah berjalan beberapa belas meter, dia berhenti di depan sebuah nisan batu yang terlihat terawat.
Sakura tersenyum sendu menatap nisan itu, nisan sahabatnya yang meninggal tiga tahun yang lalu. Perlahan dia berlutut, menyingkirkan sedikit daun-daun yang bertebaran di dekat nisan. Dia menaruh buket bunga bakung yang sedari tadi ia genggam, lalu kembali berdiri, menatap batu berbentuk kotak memanjang itu dengan tatapan penuh arti.
"Hai, Samui. Minggu ini pun, aku mengunjungimu lagi," ucap Sakura dengan sebuah senyum kecil di bibirnya. Setelahnya dia diam, terus begitu sampai ia lelah dan kembali pulang, seperti hari Rabu sebelum-sebelumnya dalam tiga tahun terakhir ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rumah sakit pusat Tokyo
Naruto's Room
04.02 PM
Naruto menatap bosan ke arah televisi yang sedang menayangkan acara musik. Tidak ada yang menarik sedikitpun dari acara musik yang menampilkan boyband dan penyanyi pendatang baru itu. Dengan malas dia mematikan televisi, lalu berbaring dengan kedua tangannya dilipat dan dijadikan bantal. Padahal dia baru tinggal selama 3 hari di rumah sakit, tapi rasanya seperti sudah bertahu-tahun saja. Dia bosan hanya berdiam diri dan berbaring di ranjang pasien, menunggu orang lain menjenguknya. Sayang, kakinya masih sakit jadi dia belum bisa banyak berjalan. Dia mengeluhkan makanan di rumah sakit yang tidak enak dan bau obat-obatan yang terlalu menyengat. Dia merindukan masakan ibunya, kamarnya yang berantakan dan juga ramen. Intinya dia ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit, bertemu dengan teman-temannya yang konyol dan pdkt sama Hinata. #plak
Rasanya dia ingin menghubungi teman-temannya di media sosial, mengobrol untuk membunuh waktu. Tapi ponselnya hilang saat di gudang waktu itu, sepertinya terjatuh saat para penculik Hinata menangkapnya di gudang tempo hari. Jadilah dia tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun, termasuk dengan sahabatnya, Uchiha Sasuke.
Ngomong-ngomong soal Sasuke, Naruto bingung karena sudah dua hari ini dia tidak melihat pemuda berhelaian raven itu. Kemarin kata Shino, Sasuke memiliki keperluan penting, jadi tidak bisa ikut bersama yang lain untuk menjenguknya. Dan Naruto tahu, hal penting itu pastilah berhubungan dengan Sakura.
Naruto merasa Sasuke menyembunyikan sesuatu darinya. Dia mulai curiga sejak hari Sabtu minggu lalu. Saat itu Sasuke ingin pulang sendirian, padahal biasanya mereka selalu pulang jalan kaki berdua. Naruto sempat melemparkan candaan padanya, tapi Sasuke sama sekali tidak berpengaruh dan tetap bersikeras untuk pulang sendiri. Saat ditanya alasannya, dia hanya menjawab ada urusan dengan kenalannya, membuat Naruto curiga. Naruto tahu Sasuke bukan seorang pembohong, pemuda itu selalu berkata jujur dalam segala keadaan, namun Sasuke sedikit tertutup soal masalah pribadinya. Dia tidak akan menceritakannya sebelum dia benar-benar siap. Tapi terkadang, menunggu Sasuke siap untuk bercerita sama seperti menunggu Leonardo DiCaprio memenangkan piala oscar, lama sekali. Jadi sebaiknya ia memaksa sahabatnya itu berbicara jika seandainya Sasuke datang menjenguknya. Dia berharap Sasuke akan sedikit terbuka padanya soal itu.
SREKKK
Naruto menoleh ketika pintu kamar rawatnya bergeser, menampilkan sosok Sasuke yang masih mengenakan seragamnya. Saat pemuda itu masuk, Naruto langsung bangkit dari tidurnya dan duduk dengan penuh semangat. Dia terlihat begitu gembira karena akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu selama dua hari ini akhirnya muncul juga.
"Woaaa akhirnya kau datang juga, Teme! Mana yang lain? Kenapa kau datang sendirian?" Tanya Naruto penuh semangat.
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto. Pemuda bermanik jelaga itu duduk menyandar di sofa dekat ranjang Naruto. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, membuat Naruto tiba-tiba merinding disko. Sasuke terlihat seperti orang galau karena gagal move on dari mantan, benar-benar melankolis. Ada apa dengan Sasuke? Apakah ini adalah sequel dari ada apa dengan cinta? #plak #ngawur aja lu thor. -,-
"Hei, Teme, kau kenapa? Tampakmu kusut sekali. Habis kesurupan ya?" Tanya Naruto keheranan.
Sasuke tidak menjawab, lagi. Kelakuan aneh Sasuke ini membuat pemuda berambut pirang jabrik itu kesal bin dongkol. Kenapa pemeran utama sepertinya harus dikacangin? Benar-benar merusak harga diri.
"Kau pasti akan menertawakanku, Dobe," tiba-tiba Sasuke bersuara, membuat Naruto terperanjat. Nih orang kenapa sih? Sedetik diem kayak orang bisu, detik berikutnya ngomong tiba-tiba kayak hantu.
"Tidak, aku ingin menempelengmu karena bersikap sangat menyebalkan dengan mengabaikan pertanyaanku. Kau pikir aku siaran broadcast apa, yang harus diabaikan begitu saja?" Naruto ngomel panjang lebar seperti nenek-nenek kemalingan sendal. #gak nyambung thor -,-
"Ternyata kau jauh lebih menyebalkan saat sakit, Dobe," kata Sasuke sinis.
"Kau jauh lebih menyebalkan kalau sedang galau begitu, Teme. Sudahlah, jangan sedih hanya gara-gara ditolak Sakura," canda Naruto dengan tampang jahil. Dia harap Sasuke akan kembali membalasnya dengan candaan seperti yang biasa mereka lakukan.
Tiba-tiba Sasuke terlihat shock seperti baru melihat hantu, ekspresi yang sangat jarang dia tunjukan. Naruto mengernyit, heran kenapa Sasuke bereaksi begitu. Dia kan tidak lagi menonton Conjuring, jadi tidak perlu kaget begitu dong."Kenapa kau kaget begitu?" Tanya Naruto bingung. Namun sedetik kemudian dia terbelalak, menyadari keganjilan Sasuke. Jangan-jangan candaannya tadi adalah kenyataan? "Sasuke, jangan bilang kalau kau benar-benar ditolak Sakura-chan..." Naruto kali ini serius. Sapphirenya menatap Sasuke lekat, yang malah dibalas dengan tatapan datar Sasuke.
"Sayangnya, itu adalah kenyataan," jawab Sasuke sambil mendengus frustasi. Dia terlihat kacau, sama seperti perasaannya saat ini.
Naruto membulatkan matanya, terkejut dengan jawaban Sasuke. Rasanya dia ingin menarik kerah baju bocah sombong ini dan langsung menyuruh Sasuke menjelaskan apa maksudnya. Sayangnya dia tidak bisa karena kakinya sedang sakit, dan dia terlalu kaget bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Ruangan itu pun berubah menjadi hening, hanya helaan napas kedua pemuda itulah yang terdengar, menandakan keduanya masih hidup.
"Uchiha Sasuke, kau ini sebenarnya menganggapku apa?" Tiba-tiba Naruto bersuara dengan nada marah, memecahkan keheningan yang melanda sejak beberapa menit yang lalu, dan membuat Sasuke mengangkat wajahnya, menatap Naruto. "Aku selalu bilang padamu, kita ini sahabat. Kita berjanji untuk terbuka satu sama lain, menceritakan setiap masalah yang kita punya dan mencari solusinya bersama-sama, termasuk soal reinkarnasian shinobi yang kita temui setiap hari. Tapi selama ini hanya aku yang terbuka, sementara kau selalu menyimpan rapat-rapat masalahmu," Naruto menghela napas berat, menatap kecewa pada Sasuke yang masih bungkam. "Sasuke, aku memang orang bodoh, tidak pintar sepertimu. Tapi aku akan berusaha membantumu sekuat tenagaku jika kau kesusahan. Jadi jangan simpan masalahmu sendiri, Sasuke. Aku bukan peramal, aku tidak akan tahu masalahmu jika kau tidak menceritakannya padaku." Lanjut Naruto tegas, menatap lurus manik Sasuke serius. Jelas Naruto kecewa pada Sasuke yang selalu menyimpan rapat-rapat segala masalahnya. Rasanya Naruto seperti melihat Sasuke ketika usianya masih 12 tajun di masa lampau mereka, Sasuke yang tertutup, menyimpan rapat-rapat tentang klan Uchiha yang dahulu dimusnahkan kakaknya sendiri, tidak ingin seorang pun tahu.
Waktu itu Naruto mengerti perasaan Sasuke, karena dirinya pun berpikiran sama, lebih baik menyimpan masalah mereka sendiri dari pada menceritakan kepada orang lain karena orang lain mungkin tidak akan mengerti permasalahan mereka, tidak akan pernah membantu meringankan beban mereka. Tapi setelah dewasa Naruto sadar, tidak semua orang berpikir begitu. Mungkin masih ada seseorang di dunia ini yang mau membantu, jadi tidak ada salahnya berbagi cerita. Namun sepertinya Sasuke tidak berpikiran seperti itu. Karena itu tugas Naruto sekarang adalah menyadarkannya, bahwa dia akan melakukan apapun sebisanya untuk membantu Sasuke. Sasuke perlu percaya padanya karena dia adalah sahabatnya.
Sasuke masih diam walau telah berlalu beberapa menit. Naruto sendiri masih sabar menunggu Sasuke bicara. Tapi lama-kelamaan Naruto jengah juga. Dia paling benci suasana sepi seperti ini. Mungkin memang sebaiknya tidak memaksa Sasuke jika memang pemuda itu belum mau bercerita.
"Teme, kalau kau tidak mau cerita juga tidak a-"
"Aku telah dibohongi, Naruto," tanpa disangka Sasuke langsung memotong ucapan Naruto. Meski terdengar tenang, namun Naruto yakin Sasuke sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Jadi dia diam, mencoba menjadi pendengar yang baik. "Itachi dan Sakura... ternyata selama ini mereka berbohong," lanjut Sasuke, nada suaranya gamang.
Naruto mengernyit, bingung sekaligus kaget. Berbohong? Apa maksudnya? "Apa? Kenapa bisa begitu?" Tanya Naruto, minta penjelasan lebih.
Sasuke menghela napas, kemudian dia mulai bercerita. Dia menceritakan seluruhnya, mulai dari soal kakeknya yang pernah menyinggung tentang Samui di makan malam Uchiha, tentang dia yang menemukan foto Samui di nakas Itachi, pertemuannya dengan Ino, perdebatan dengan Itachi, hingga penolakan Sakura. Dia menceritakan segalanya dengan nada suara yang naik turun terbawa emosi. Jelas sekali Sasuke sangat kacau karena hal rumit ini.
Dan setiap cerita yang Sasuke suguhkan membuat pemuda berkepala kuning itu kaget. Kenapa masalah Sasuke bisa begitu rumit dan berlarut-larut begini? Persoalannya dengan Hinata saja tidak sekompleks itu. Naruto hanya bisa mendengarkan dalam diam sampai Sasuke selesai bercerita. Rasanya setiap kata yang ingin dia hasilkan tertelan kembali hanya dengan melihat raut wajah penuh luka Sasuke yang tersirat melalui topeng baja yang selalu dikenakan pemuda itu. Naruto tidak ingin asal bicara dan menambah luka Sasuke. Jadi dia hanya diam, membiarkan pikirannya dan Sasuke mencerna segalanya perlahan-lahan.
Setengah jam berlalu seusai Sasuke beres bercerita dan masih belum ada seorang pun yang berbicara di ruangan ini. Akhirnya Naruto menghela napas keras, mengalihkan atensi Sasuke padanya.
"Rumit sekali ya nasib kita, Teme?" Naruto tertawa hambar, seolah dia sedang menyindir sang takdir. "Kadang aku bertanya-tanya apa tujuan Kami-sama sebenarnya dengan membiarkan kita mengingat masa lalu. Kenapa kita harus ingat? Kenapa ingatan kita tidak dihapus saja seperti shinobi-shinobi yang lain?" Naruto kembali mendesah gusar setelah berbicara panjang lebar. Dia menatap Sasuke yang memperhatikannya dalam diam.
"Aku ingat saat pertama kali kita berdua bertemu dan saling bercerita trntang Konoha. Bagaimana denganmu? Apa kau masih ingat?" Tanya Naruto antusias, yang tanpa disadari telah sedikit mencairkan suasana tegang di antara mereka.
"Hn, tentu aku masih ingat," jawab Sasuke sambil tersenyum miring.
Mereka pun hanyut mengingat masa lalu...
.
.
.
.
[Flash back on]
.
.
.
.
.
.
13 years ago...
[Naruto's POV]
Aku menatap bosan ibuku yang sedari tadi mengomel tiada henti bak kereta api. Wajahnya terlihat marah dan menahan malu, katanya aku bersikap nakal hari ini. Aku hanya memutar bola mataku mendengar omelannya. Dengan malas aku beranjak pergi dari ruang keluarga, meninggalkan ibuku yang masih belum berhenti menasehatiku ini-itu.
"Hei, Naruto-kun! Kau mau ke mana? Ibu belum selesai berbicara!" Ibuku berteriak, tapi aku tidak peduli. Aku berjalan ke halaman belakang rumah, menghampiri sebuah pohon berukuran sedang yang di atasnya ada rumah pohon buatan ayahku. Dengan sigap aku memanjat tangga-tangga kayu kecil, memudahkan tubuhku yang berukuran mini ini naik ke atas pohon. Setelah sampai di atasnya, aku hanya diam, mengamati ibuku dan ayahku yang sedang berbicara di ruang tv yang dapat kulihat dari atas sini.
"Minato-kun, Naruto nakal tuh! Dia mendorong anak orang dan membuatnya menangis. Aku dimarahi ibunya," adu ibuku pada ayahku, cukup jelas terdengar dari sini.
"Haha, biarlah, anata. Lagipula kan anak itu duluan yang melumuri baju Naruto-kun dengan ingusnya, jadi wajar saja dia marah. Anak itu juga tidak terluka sedikitpun," ayahku mencoba menenangkan.
"Tapi tetap saja, Minato-kun, itu tidak baik," ibuku belum lelah berargumen.
"Anata, tidakkah kau sadari kalau Naruto-kun sedikit berbeda dengan anak seusianya?" Kata ayahku. "Coba kau perhatikan, anak tadi didorong sedikit saja menangis, sementara Naruto meski sudah dimarahi olehmu, dia diam saja, tidak terlihat akan menangis atau apa. Dia seperti mengerti bahwa dia salah dan menghindari omelanmu," lanjut ayahku. "Dia seperti sudah dewasa meski dia masih berusia 3 tahun."
Aku mendengus mendengar perkataan terakhir ayahku. Tentu saja, aku ini sebenarnya sudah dewasa! Aku sudah menjadi Hokage di Konohagakure! Aku sebenarnya sudah punya istri dan dua anak! Tapi kenapa sekarang justru aku sekarang terperangkap dalam tubuh seorang bocah berusia tiga tahun?! Apa-apaan ini? Dunia ini juga bukan dunia para ninja. Aku tidak punya cakra, keahlianku hilang semuanya! Aku sekarang hanya bocah ingusan lemah! Ya, aku ternyata sudah terlahir kembali, dan masih mengingat masa laluku saat menjadi ninja. Kau pusing? Tidak perlu dipikirkan, karena aku sendiri juga pusing memikirkan takdirku yang sungguh semerawut.
Ting tong!
Bel rumahku berbunyi, memotong percakapan antara kedua orang tuaku. Ibuku bergegas ke depan untuk membukakan pintu bersama ayahku. Aku tidak peduli. Aku lebih memilih tetap berada di atas sini sambil menggambar lambang Konoha dan menggambar petanya, hal yang terkadang kulakukan dulu saat masih menjadi hokage Konoha. Aku tahu mungkin hal ini sangat tidak bermanfaat mengingat tidak akan pernah ada yang tahu tentang Konoha atau desa-desa ninja lain yang kuingat ini. Bahkan di peta negara Jepang saja tidak ada Konoha. Sejarah pun seolah tidak pernah mencatat adanya desa ninja itu. Tapi aku tidak ingin melupakan desa kelahiranku di masa lampau itu, meski di dunia ini mungkin hanya aku saja yang tahu tentang keberadaannya, di ingatan masa lampauku.
"Aku senang kalian bisa berkunjung ke mari!"
Aku menoleh ketika mendengar suara pekikan ibuku. Dari sini aku melihat sebuah keluarga beranggotakan 4 orang berkepala hitam-hitam. Aku awalnya biasa saja, tapi seketika aku melotot ketika melihat bocah berusia 3 tahun dari keluarga itu yang berwajah sombong dan minta ditakol #plak. Itu kan... Sasuke?! Apa itu keluarga Uchiha?
Aku buru-buru turun dari rumah pohonku. Aku ingin memastikannya sendiri. Yah walaupun mereka tidak lagi mengenaliku, setidaknya aku ingin berteman dengan mereka. Aku berlari dengan tergesa menuju ruang keluarga, di mana mereka semua berkumpul bersama orang tuaku.
"Ah Naruto-kun, ayo kemari!" Ibuku memanggilku ketika aku baru memasuki ruang keluarga. Aku menurut, berdiri di depan ibuku. "Mereka adalah keluarga Uchiha, temannya ayah dan ibu. Mereka baru saja pindah dari Kyoto ke Saitama. Ayo beri salam ke paman dan bibi," bujuk ibuku.
"Konnichiwa, ji-san, ba-san!" Kataku sambil beojigi. Aku menatap berbinar mereka satu-satu. Pandanganku berhenti pada bocah seusiaku yang kuduga adalah Sasuke, yang dibalas dengan tatapan datar olehnya. Tidak ada tampang kaget atau terkejut ketika melihatku. Seperti dugaanku, sepertinya dia tidak mengingat apa-apa. Aku sedikit kecewa sebenarnya, tapi apa yang bisa kuharapkan? Setidaknya aku ingin berteman dengannya.
"Wah, Naruto-kun pintar ya. Ayo Sasuke-kun, mainlah dengan anak bibi Kushina," ibu Sasuke-yang akhirnya sekarang kutahu namanya Mikoto, mendorong lembut pundak Sasuke ke arahku. Sasuke mengangguk, dengan wajahnya yang datar itu, dia menghampiriku, membuatku tersenyum. Aku mengajak Sasuke ke halaman belakang rumah, yang langsung diikuti olehnya tanpa banyak tanya. Dalam hati aku sedikit heran, Sasuke waktu masih kecil saja sudah pendiam begini, pantas saja pas gedenya anti-sosial. Kasihan sekali.
"Bagaimana kalau kita belmain di lumah pohon? Di sana banyak mainan dan hal menyenangkan!" Ajakku tercadel-cadel sambil menunjuk ke rumah pohonku-jangan tertawakan aku, aku masih tiga tahun jadi wajar saja kalau cadel-ttebayou! Sasuke lagi-lagi hanya mengangguk, kemudian mengekoriku menaiki tangga menuju ke atas pohon.
Di atas pohon aku menunjukinya seluruh mainanku-kebanyakan tidak menarik, hanya mobil-mobilan, robot-robotan, beberapa pistol mainan, dan alat-alat menggambar. Habisnya aku tidak tahu bagaimana cara bermain yang normal sebagai anak kecil biasa.
Sasuke terlihat tidak tertarik dengan semua mainanku, jadi aku mengajaknya ngobrol saja. Aku menceritakan kalau aku habis dimarahi ibuku, tentang teman-teman di playgroupku yang menyebalkan, dan kehidupanku sehari-hari. Sasuke hanya mengangguk-angguk, entah apa yang dipikiran anak ini.
"Hei, Naluto," akhirnya setelah aku berbicara sampai berbusa, Sasuke buka mulut juga, membuatku agak kaget. "Kau suka menggambal?" Tanyanya sambil memperhatikan gambar peta konoha di buku gambarku. Dia terlihat begitu tertarik.
"Ya, aku suka," jawabku sambil cengengesan, sebenarnya agak bingung mau bereaksi apa.
"Ini gambal apa?" Tanyanya penasaran, masih melihat gambarku itu.
"Itu peta," jawabku singkat. Aku jelaskan pun dia tidak mengerti.
"Peta apa?"
Aku menghela napas kecil. Ternyata sejak masih kecil rasa ingin tahu Sasuke sangat besar.
"Itu peta suatu desa," jawabku asal. Aku tidak mau menceritakan soal Konoha pada bocah ini.
"Desa apa?"
Aku mulai menggeram. Kenapa anak ini banyak tanya sekali sih?!
Sasuke terlihat terkejut ketika dia melihat lembar selanjutnya, membuatku sedikit bingung. Di situ aku menggambar lambang Konoha, juga lambang beberapa klan besar seperti Hyuuga, Uchiha, Nara, Yamanaka, Akimichi juga Uzumaki tentu saja. Bagi orang tuaku gambarku hanya gambar anak-anak tidak penting, tapi bagiku itu merupakan simbol yang berarti.
"Dali mana kau tahu lambang-lambang ini?" Kali ini Sasuke bertanya dengan ekspresi serius, walau dengan logat cadelnya. Reaksinya ini sedikit membuatku bingung.
"Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong! Yang gambal kan aku!" Kataku berkilah. Lama-lama aku kesal karena si pantat ayam ini bertanya terus.
"Dali mana kau tahu soal Konoha?" Tanyanya lagi, yang kali ini membuatku benar-benar kaget. Kenapa dia tahu itu gambar Konoha? Mungkinkah...
"Jadi kau tahu soal Konoha?" Tanyaku masih dalam rasa terkejutku.
Sasuke diam, membuatku was-was.
Sasuke tersenyum miring, menatapku. "Menulut pendapatku, sepeltinya kau sama sepeltiku," katanya, terdengar seperti orang dewasa walau cadel.
"Apakah kau bisa.. mengingat masa lalu?" Tanyaku hati-hati. Debaran jantungku semakin keras selama menunggu dia menjawab.
Sasuke tersenyum miring, membuatku langsung kaget. "Akhilnya, aku bertemu denganmu, Uzumaki Naluto," ujarnya sombong persis mengingatkanku dengan si Uchiha terakhir di masa laluku.
Aku terbelalak, rasa bahagia seketika membuncah di dada kecilku. Tanpa pikir panjang aku langsung menerjang Sasuke, memeluknya kuat-kuat sambil menangis. "Sasukeeee!" Teriakku sengan penuh kebahagiaan.
"Jangan dolong, bodoh! Nanti kita jatuh-huaaahhh"
Tubuh Sasuke oleng di ujung tangga rumah pohon, dan tanpa aba-aba, kami jatuh menggelinding di tangga kayu. Aku bisa merasakan punggung dan tanganku sakit, membuatku menangis keras. Sasuke juga menangis, membuat keluarga kami langsung terburu-buru menghampiri kami dengan sangat panik. Kami berdua menangis, di satu sisi karena terlalu bahagia karena akhirnya bertemu teman senasib, dan di sisi lain kesakitan karena jatuh dari pohon. Meski begitu kami tahu, kebahagian kami lebih besar dari rasa sakit itu, kebahagiaan ketika menemukan teman seperjuangan di kehidupan baru kami ini.
Dan sejak hari itu, hubunganku dan Sasuke semakin erat. Setiap minggu aku akan merengek pada ibuku agar bisa menginap di rumah Sasuke, Sasuke juga terkadang menginap di rumahku. Kami akan selalu bertukar cerita dan saling curhat tentang perasaan kami setelah terlahir kembali. Rasanya aku amat sangat bersyukur karena sahabatku di masa lalu kembali menjadi sahabatku di masa ini. Aku tidak akan mau lagi berpisah dengannya-jangan berpikiran macam-macam ya! Ingat ini bulan puasa!
Kami sepakat untuk masuk SD, SMP, dan SMA yang sama. Tujuannya tidak lain agar kami tetap selalu terhubung dan supaya kami bisa menemukan Sakura juga Hinata serta teman-teman shinobi kami di masa lampau yang terlahir kembali di masa ini. Kalau kalian berpikir kami bodoh karena terlalu terikat pada masa lampau kami, kau salah besar. Justru menurut kami masa lampau kami adalah harta kami yang paling berharga, dan kami tidak akan mencoba untuk melupakannya barang sekejap pun. Karena kami sadar, kami tidak akan menjadi seperti sekarang ini tanpa adanya masa lalu kami. Kami hanya perlu menghadapi takdir yang sudah tergaris di masa ini meskipun terasa pahit dan menyakitkan sekalipun. Kami tidak akan menyerah, karena kami tahu, kami bisa melaluinya, sama seperti dulu di masa lampau. Kami percaya Kami-sama pasti memiliki rencana menakjubkan di setiap langkah yang kami ambil.
.
.
.
.
.
.
.
[Flash back off]
.
.
.
.
.
.
.
.
[Normal POV]
"Ahahahaha!" Naruto tiba-tiba tertawa setelah selesai mengingat awal pertemuannya dengan Sasuke, membuat Sasuke terperanjat dan merinding karena sahabatnya itu tiba-tiba berubah jadi sinting.
"Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya, Teme, bagaimana cara kita pertama kali bertemu di kehidupan lampau sampai kita bisa hidup sekarang di masa ini," kata Naruto setelah berhenti tertawa. Pemuda tampan berambut pirang itu menampakan cengiran lima jarinya yang khas, membuat Sasuke tersenyum miring.
"Hn, entah takdir macam apa lagi yang akan kita temui," Sasuke menyahut. Dia menatap lurus ke depan, seolah memandang jauh. "Tapi aku sedikit kepikiran tentang pertanyaanmu sekitar seminggu yang lau, Dobe," lanjut Sasuke tiba-tiba sambil menatap Naruto.
Naruto mengernyit, jelas sekali dia sendiri tidak ingat apa yang pernah dia katakan pada Sasuke sampai terinspirasi begitu. "Pertanyaan yang mana, Teme?" Tanya Naruto bingung.
"Kau pernah bertanya padaku, 'bagaimana kalau seandainya Sakura memang tidak ditakdirkan bersamamu, Teme? Bagaimana kalau sebenarnya Sakura memang ditakdirkan untuk Itachi? Apa kau tega merebutnya dari tangan saudaramu sendiri?'" Sasuke menirukan gaya bicara Naruto saat mengatakannya.
"Oh yang itu... tapi kan kenyataannya Itachi tidak benar-benar mencintai Sakura-chan, jadi kau tak perlu memikirkannya lagi, Teme." Kata Naruto menghibur. Dia tidak menyangka kata-kata seperti itu saja bisa membuat Sasuke kepikiran begitu. "Kau harus ingat janjimu padaku Sasuke, kau akan membahagiakan Sakura apapun yang terjadi. Karena itu kan kita mencarinya selama ini? Hanya karena kau ditolak olehnya satu kali, kau jangan sampai jadi patah semangat begitu. Aku saja dari dulu ditolak terus sama Sakura-chan biasa saja," canda Naruto sambil tertawa. Dia harap dia bisa sedikit mengurangi rasa galau sahabatnya itu.
Sasuke tersenyum kecil, menghargai usaha Naruto untuk menghiburnya. Naruto benar, tidak ada alasan baginya untuk menyerah untuk meraih kebahagiaannya. Yang dia perlu lakukan hanyalah berusaha sedikit lebih keras dan bersabar lebih banyak.
"Walau bodoh, ternyata kadang-kadang kau bijak juga, Dobe," puji Sasuke implisit, yang malah membuat sebuah perempatan siku mampir di kepala Naruto.
"Kau ini sebenarnya mau memuji atau menghina sih? Dasar Teme tidak jelas!" Kata Naruto tersungut-sungut.
"Kapan kau keluar dari rumah sakit, Dobe?" Tanya Sasuke.
"Seharusnya sih hari Jumat, tapi aku minta pulang lebih cepat. Besok mungkin aku sudah pulang, jadi Jumat bisa kembali ke sekolah," jelas Naruto penuh semangat. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk keluar dari rumah sakit.
"Dasar bodoh, kau pikir kau masih punya cakra kyuubi sampai kau bisa mempercepat kesembuhanmu?" Cibir Sasuke pedas.
"Biar saja, habis aku bosan di sini terus! Dokter juga bilang jahitan di kakiku sudah mengering. Aku bisa kok berjalan pakai kruk," kata Naruto sambil manyun.
Sasuke hanya mendengus. Dia bangkit dari sofa yang dia duduki lalu memakai tasnya.
"Mau ke mana kau Teme?" Tanya Naruto heran.
"Pulang. Sudah malam," jawab Sasuke singkat sambil melirik arlojinya.
"Kenapa buru-buru? Ibuku sebentar lagi datang, dia pasti membawa banyak makanan. Kau bisa pulang setelah makan malam," kata Naruto mencoba menahan Sasuke.
"Hn, aku masih dalam masa hukuman, kalau kau lupa. Aku tidak mau ponselku disita gara-gara melanggar jam malamku," jelas Sasuke. "Aku pulang."
"Hati-hati, Teme! Awas diserang banci taman!" Teriak Naruto sambil tertawa nista, membuat Sasuke bernafsu melempar tasnya ke wajah bodoh sahabatnya itu. Perlahan Sasuke tersenyum tipis. Berbicara dengan Naruto telah sedikit meringankan beban yang terasa berat di pundaknya. Mungkin Naruto benar, tidak ada salahnya berbagi cerita kepada orang lain. Setidaknya rasa sesak di dadanya bisa sedikit berkurang dan membuat rasa optimisnya mulai terpompa kembali.
Tapi Sasuke dan Naruto tidak tahu, sebuah peristiwa besar sedang mendekat perlahan ke arah mereka. Mari kita lihat, apakah mereka sanggup melewatinya atau tidak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
A/N:
Halloha minna-saaann! Author kece akhirnya update cepat nih! #dikeroyok
Hehehehe author kira minggu ini bakalan sibuk, eh ternyata rada senggang, jadi author bisa cepet update deh.. :3 ga tau deh kalo minggu depan..
Chapter ini ga ada romance ya.. ini lebih mengupas masa lalu naru sama sasu.. ini masih belum ada konflik, konflik mulai menanjak di chapter depan.. jadi calm aja yah readers tersayang.. maaf kalo kebanyakan drama, emang plotnya begitu.. maaf juga kalo ga ada kelucuan dan keseruan di chapter ini, soalnya mood author lagi sedikit memburuk karena suatu hal.. jadi aja kebawa ke fict.. maafkan author yg nista ini ya minna-saann #bersimpuh
Author mencoba menyeimbangkan dua pairing, jadi mohon dimaklumi ya kalau masih ada kekurangan dalam pembagian dua pairing.. eheheh soalnya menurut author susah juga mengatur kehadiran dua pairing dalam satu fict, tapi author akan berusaha semaksimal mungkin.. semoga para readers suka.. :)
Nah, waktunya balesin reviewwss.. :3
Rei Hanna : Soal ItaSaku akan terjawab di chapter2 selanjutnya.. ditungguin aja yah.. eheheh Dan soal Andhika kangen band, Ino kan ngefans banget sama poni lemparnya, makanya diikutin sampai sekarang.. wkwkwk #author digampar Ino btw semoga suka sama chapter ini ya.. :D
Antoni Yamada : Ahahahah ini udah diusahain cepet-cepet update kok! :D makasih udah nungguin updatean fict aneh ini yaa.. author seneng dengernya.. semoga suka sama chapter ini.. :3
Diah cherry : Ahahahaha, iya nih author lagi senggang kemaren jadi bisa update cepet.. minggu ini juga.. pokoknya author akan usahan update secepat mungkin.. :D
Soal ItaSaku akan ada penjelasannya kok di chapter2 mendatang.. tubgguin aja yaa..
Chapter ini udah lumayan panjang kan? Eheheh kalo panjang2 takutnya pada capek bacanya.. eheheh
Dan soal kapan SasuSaku bersatu itu mah bagian ending, NaruHina juga.. author rencananya sih pengennya ff ini gak lebih dari 20 chapters..
Dan soal endingnya bakal gimana, itu masih jadi rahasia author.. eheheh kan ga seru kalo dikasih tau sekarang.. ikutin terus aja ya.. semoga ga bosen.. eheheh
Boleh dong.. fb author: Vidya Evenangelia (nama asli) tapi author ga terlalu aktif di fb.. paling cuma buat like2 aja.. paling di line activenya.. eheheh
Makasih yah untuk dukungannya selama ini.. lope lope lah buat kamu mah.. eheheh
Seneal : wkwkwk author emang suka yang greget2 #digantung Doakan saja yah semoga Sasu dan Naru bisa bahagia.. eheheh ini lanjutannya, semoga sukaa.. ^^
Mustika447 : ahahah kasian yah Sasuke nya ngenes.. author pengen sih sekali2 bikin Sasu menderita.. wkwkwk #author dibakar amaterasu btw ini lanjutannya yaa semoga suka.. :D
Salsabilla12 : iya kasian Sasu-kun dinistain author terus.. semoga selalu diberi kesabaran yah sasu.. wkwkwk #author dichidori Soal penolakan Sakura itu nanti ada penjelasannya di chapter2 mendatang.. tunggu aja yah.. btw ini lanjutannya.. semoga sukaa :3
sndp : hehe makasih udah suka sama fanfic aneh bin abal ini.. author seneng banget dengernya.., ini udah dipercepat yah updatenya.. eheh dan kebetulan di chapter ini diceritain soal pertemuan pertama sasu dan Naru.. kalo soal dari kapan mulai inget masa lalunya, mereka mulai menyadari dari mereka lahir.. mereka familiar dengan sekeliling mereka, cuma mereka baru menyadari punya ingatan masa lalu saat mereka berusia tiga tahun.. semoga ga pusing sama penjelasannya.. eheheh makasih yah untuk penyemangatnyaa ^^
hari : ini udah lanjut yaa.. makasih udah nungguin.. ^^ semoga suka sama chapter ini :D
Muhammad2611 : NaruHina baru ada di chapter depan.. semoga kamu masih suka sama chapter ini ya.. eheheh :3
Resetsu Hyuga : ahahah jangan kupa minum panadol biar pusingnya ilang yah.. eheheh author juga kadang suka pusing pas pengen ngelanjutin fict ini.. wkwkwk san soal alesan mereka.. nanti akan terjawab kok di chapter2 depan.. ditunggu aja yah.. ini lanjutan fictnyaa, udah lumayan cepet lho.. hehehe semoga suka yaa..
Yup, segitu dulu ya dari author.. author ucapkan banyak-banyak terima kasih buat yang udah baca, follow, favorite, dan review fict ini.. :3 selamat menjalankan ibadah puasa juga buat yang muslim yaa! Semoga kehadiran fict ini bisa jadi teman ngabuburit, jangan malah bikin batal.. wkwkwk
Oke, see you in the next chapter minna-sannn! :*
