Previous Chap :
Yoochun memajukan tubuhnya dan mendekat ke Jae Joong. Ia meletakkan jari telunjukknya tepat di leher Jae Joong yang terlihat ada tanda merah kebiruan disana. Bukan di tanda lahir yang memang sudah diketahui oleh semua orang.
Yunho yang melihat gerakan tangan Yoochun segera menjauhkan tangannya dari leher Jae Joong. Membuat Changmin tertawa dan menampilkan senyum sumringahnya.
"Umma.. Jangan biarkan mereka tinggal berdua sebelum menikah. Bisa habis Jae Joong hyung nanti" ucapan Changmin membuat Umma Kim semakin bingung dan tentu saja Kim Jae Joong yang masih belum menyadari tanda itu, ikutan bingung.
"Aku masih bisa menahannya. Semalam kami hanya.."
"Hanya making out, eoh?" ucapan Changmin menghentikan ucapan Yunho dan membuat umma Kim menggelengkan kepalanya.
"Umma tinggalkan kalian saja. Umma serahkan pada Jae Joongie.. Umma yakin, dia tahu yang seharusnya dilakukan".
Setelah berbicara seperti itu, umma Kim beranjak pergi meninggalkan mereka berempat diruang tamu.
….
….
Enno KimLee Presents
"i'll protect you chap 12″
Main Cast : YunJae
Slight : JaeSica
Rate : T+
Warn : BoyxBoy, romance, fluff, alur lambat, gaje
Don't Like..? Don't Read..!
If you've read, please leave a comment
It's easy, Right.
No CoPas.. Okeh..
YunJae saling memiliki..
YunJae saling melengkapi..
YunJae punya orang tua, saudara-saudara mereka, cassie, serta shipper.
Dan cerita ini, murni milik saya!
Jae Joong menatap lay-out master pada monitor komputernya dengan wajah cemberut. Kesal pada Yunho yang lagi-lagi seenaknya menyerahkan daftar renovasi rumahnya, terutama kamar tidur dan dapurnya. Yunho memang keterlaluan! Tak bisakah ia segera menyelesaikan pekerjaannya ini? Waktunya kini hanya terpaku pada pekerjaan disini.
Tak usah heran, karna Yunho dengan mudah meminta agar Jae Joong hanya fokus pada desain rumahnya. Heechul sahabatnya sekaligus pemilik tempat Jae Joong bekerjakan?
Jae Joong memang tak menggunakan wallpaper yang Yunho minta tapi hanya di cat dengan cat yang berkualitas (walau pada awalnya ingin mengikuti arahan Yunho tapi setelah di pasang untuk percobaan, Jae Joong segera menggantinya itu pun dengan persetujuan Yunho). Tapi mengapa saat ini Yunho ingin merubahnya kembali seperti dekorasi awal?.
Yunho saat ini meminta desain kamarnya sesuai dengan kamar impian mereka dulu, lebih tepatnya kamar impian Jae Joong. Padahal kamar Yunho sudah hampir selesai, hanya desain kamar mandi yang baru 80% dikerjakan. Itu pun kendalanya karna Mr. Jung itu dengan wajah tanpa dosa meminta para pekerja dihentikan sementara. Haruskah ia mendesain kembali? Ya walaupun hanya memasang wallpaper dan memesan meja rias.
Yunho juga meminta ditambahkan sebuah ruang untuk bar kecil dekat dengan dapurnya. Sebenarnya ruang yang diinginkan sudah ada tapi Jae Joong malah mengisinya dengan sebuah rak kaca dengan pajangan buah-buahan dan beberapa pajangan berbentuk gelas dan mangkuk. Itu pun dengan persetujuan Yunho.
Untung saja saat ini Yunho sedang ada rapat penting, jika tidak sudah dipastikan bahwa Jae Joong akan mengomelinya. Yunho benar-benar akan mengganti dekorasi untuk kamar tidurnya. Untuk beberapa saat Jae Joong hanya diam seraya mengetuk-ngetuk jemarinya pada meja kerjanya.
Ringtone ponsel membuyarkan lamunan Jae Joong. Ia meraih ponsel yang tergeletak tak jauh darinya, dan membaca nama penelepon pada ponsel. Jae Joong mengeluh dalam hati saat mendapati nama Jessica tertera disana. Seharusnya kemarin dia tak mau bertukar kartu nama saat wanita itu memintanya. Dengan malas, Jae Joong menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Bisakah kita bertemu?" tanya Jessica setelah sambungan terangkat.
"Saat ini aku sibuk. Ak-"
"Sebentar saja, aku janji, Jae" ujar Jessica memotong ucapan Jae Joong.
"Oke. Dimana?" tanya Jae Joong akhirnya.
"Cafe Purple Line, tak jauh dari kantor Yunho oppa. Kau tahu kan?"
Jae Joong mengalihkan ponsel ke tangan kiri, lalu menumpukkan siku tangan kanannya di atas meja "Jess.. Kau memanggil Yunho dengan oppa, tapi memanggilku dengan nama. Manis sekali kau" ujar Jae Joong.
"Aku tunggu jam 2 siang disana. Jangan terlambat, oke?" ucap Jessica dan langsung mematikan telpon tanpa menunggu jawaban dari Jae Joong.
Jae Joong menghela nafas dan melirik jam tangannya, pukul 11 berarti ia masih punya waktu dua jam untuk membujuk Yunho agar tetap memakai dekorasi awal.
Alis Yunho terangkat saat mendengar ringtone khusus untuk seseorang. Ia menajamkan pendengarannya dan beralih menatap layar ponsel yang menampilkan "My Lovely Boo". Ternyata benar, itu ringtone untuk sang pujaan hatinya. Segera ia menjulurkan tangan ke meja kerjanya dan menekan tombol hijau.
"Ada apa, Boo?" Tanya Yunho khawatir, karna tak biasanya Jae Joong menghubunginya duluan.
"Aku tak mau mengganti dekorasi untuk kamarmu, itu akan memakan waktu lagi. Soal dapur, aku setuju, secepatnya akan kukerjakan" ujar Jae Joong langsung saat Yunho bertanya.
"Kamar kita, bukan kamarku. Kita akan menikah dalam waktu dekat, dan aku ingin mewujudkan kamar impianmu."
"Tak perlu, Yun. Sungguh.. Sudah cukup bagiku seperti itu. Jangan membuang waktu untuk hal yang tak penting itu" ujar Jae Joong akhirnya. Ia tak mau berdebat dengan Yunho hanya karna masalah seperti ini.
"Tapi aku ingin mewujudkan kamar impianmu. Aku ingin mewujudkan semua yang dulu sempat tertunda"
Jae Joong mendesah mendengar ucapan Yunho barusan. "Lain kali jika aku menginginkannya, aku akan menggantinya tapi sekarang sudah cukup seperti ini"
Yunho yang sedang duduk sambil memeriksa dokumen, kini berdiri dan duduk dipinggir meja kerjanya. Ia melonggarkan dasinya dan mengambil gelas berisi air meneral di mejanya dan meneguknya perlahan sebelum melanjutkan perbincangan dengan Jae Joong.
"Kau sudah makan?" tanya Yunho kemudian.
"…"
"Hey Boo~"
"Belum, aku belum makan. Aku masih sibuk. Mungkin nanti satu jam lagi" jawab Jae Joong.
Sebenarnya Jae Joong paham maksud Yunho menanyakannya tentang makan, Yunho sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Tapi Jae Joong memang sedang tak ingin berdebat, jadi ia mengikuti apa yang Yunho mau.
"Kau sendiri? Ini sudah hampir jam makan siang, Yun"
"Kau mau kita makan bersama? Aku bisa menjemputmu sekarang"
"Tidak. Aku tidak bisa" jawab Jae Joong cepat. Jika ia makan siang dengan Yunho, bagaimana rencana pertemuannya dengan Jessica?
Sebenarnya Jae Joong tak mengerti kenapa Jessica ingin bertemu dengannya tapi dari nada suara Jessica yang terdengar serak, Jae Joong mengiyakan ajakan bertemu Jessica. Sesungguhnya Jae Joong takut jika terjadi sesuatu pada wanita itu, bukankah lelaki seharusnya membantu wanita? Itulah yang dipikirkan Jae Joong.
..Flashback..
Seorang wanita bertubuh ramping sedang memperhatikan seorang lelaki yang sedang mengantri di meja kasir. Pasalnya ini adalah kedai ice cream, mengapa lelaki itu berada disini? Ini tak lazim mengingat ia lelaki dewasa dan tak membawa anak kecil. Pikir wanita itu.
Wajar jika wanita itu berada disini, dia kan sedang hamil. Tersadar akan pikiran-pikirannya, wanita itu mengelus perutnya yang kini terlihat berisi. Kandungannya sekarang sudah berusia empat bulan, jadi wajarkan jika sudah tercetak bentuk perutnya.
"Jae Joong.." Sapa wanita itu pada lelaki yang kini membawa secup eskrim dengan toping pisang dan cookies yang sedang berdiri, memandang sekeliling -mencari tempat duduk-.
Jae Joong reflek menoleh dan terkesiap. "Jess.." Gumamnya.
"Hu'um.. Ini aku. Lama tak bertemu, kau semakin.." ujar Jessica sambil menatap Jae Joong dari atas sampai bawah.
'Rambut dark brown, kemeja hitam berlengan panjang yang di lipat hingga sesiku dan dua kancing atas yang dibuka -pas ditubuhnya-, jeans dark blue. Bagaimana bisa ia terlihat begitu mempesona. Damn you, Kim Jae Joong! Kau memang indah' Iner Jessica.
"Hey~ Kau kenapa Jess?" tanya Jae Joong ketika dilihatnya wanita itu hanya menatapnya tanpa berkedip.
Jae Joong hanyalah seorang lelaki biasa. Ia berpikir Jessica terlalu kaget saat bertemu dengannya. Ia tak akan membiarkan seorang wanita hamil dalam keadaan shock, itu tak baik untuk kandungannya. Kim Jae Joong memang memiliki hati selembut sutera anniya? Padahal Jessica adalah orang yang membuat hidupnya berantakan beberapa tahun belakangan.
"Aku tak apa, hanya tak menyangka bisa bertemu denganmu disini" ujar Jessica setelah sadar dari keterkejutannya.
…
…
"Apa kabarmu, Jae?" Tanya Jessica setelah mereka mendapat tempat duduk di dekat kasir.
"Baik."
"Maafkan aku, Jae"
"…"
"Kau masih marah padaku ya? Wajar sih tapi bukankah sekarang kau sudah bersama lagi dengan Yunho?"
Jae Joong yang sedang menyuapkan sesendok ice cream rasa vanila segera menelannya. Ia meletakkan sendok itu dan berdehem, kemudian berkata "Aku tak perlu terkejut anniya? Kau dengan mudah bisa tahu jika aku dan Yunho bersama." Jawab Jae Joong dengan tersenyum kikuk seraya memastikan bahwa apakah tadi ia mendengar Jessica meminta maaf?.
"Aku hanya memastikan. Apakah Yunho oppa kembali mencarimu atau memilih yang lain" jawab Jessica yang kini menatap Jae Joong yang kembali menyendokkan ice cream ke mulutnya.
"Eung.. Jae Joong, aku ingin ice cream itu" ujar Jessica tiba-tiba dengan mata memohon (?).
"Kau bisa pesan sendiri, bukan? Lagi pula untuk apa kau disini jika bukan untuk membeli ice cream?Atau uang bulananmu tak cukup hanya untuk membeli ice cream makanya kau mendekatiku?" ujar Jae Joong dengan kata-kata yang sedikit menyindir.
"Bukan, bukan begitu. Aku ingin ice cream punyamu"
"What?" ujar Jae Joong kaget.
"Sepertinya ice cream dimangkukmu enak, Jae. Aku jadi ingin" ujar Jessica yang kini telah mencondongkan tubuhnya ke arah Jae Joong. Ehh, mangkuk ice cream Jae Joong lebih tepatnya.
Jae hanya bisa terpaku melihat tingkah Jessica yang menurutnya sangat jauh dari tingkahnya yang biasa. Tapi kemudian ia tersenyum simpul ketika tersadar bahwa Jessica sedang hamil dan kemungkinannya sekarang adalah ia dalam masa "mengidam".
Cup!
"Ya!" Pekikan Jae Joong terdengar saat ia menyodorkan ice creamnya kearah Jessica dan wanita itu langsung mengecup pipinya.
"Terima kasih, Jae. Kau memang baik" ujar Jessica dengan senyum sumringahnya dan langsung memakan ice creamnya.
..Flashback end..
Yunho bersiap untuk tidur. Sudah diperiksanya jendela, memastikannya telah terkunci. Kini ia berdiri canggung, ia sudah mengunci pintu kamar tapi tak juga beranjak dari tempatnya berdiri. Ia menatap lurus ranjang king sizenya dan kemudian kedua sudut bibirnya tertarik keatas -tersenyum-.
Dalam diam dan perlahan, ia melangkahkan kakinya ke ranjang. Yunho sedikit tercenung, aliran darahnya terasa mengalir cepat dan detak jantungnya menghentak keras. Ia tak menyangka bahwa ini semua benar nyata, bukan hanya ilusi semata.
"Kau sungguh datang, Jae~" ucap Yunho sambil berlutut dan menyingkirkan helaian rambut di kening Jae -Jae Joong-.
Yunho terdiam saat tadi sore tiba-tiba Jae Joong meneleponnya dan mengatakan bahwa malam ini ia akan menginap di rumahnya. Yunho kira itu hanya sebuah ucapan untuk menyenangkannya karna siang tadi ia menolak makan siang bersama. Tapi ternyata itu bukan hanya sekedar ucapan, sekarang Jae Joong bahkan sudah terlelap di ranjangnya.
Jae Joong menggeliat tapi tak terbangun, ia hanya terusik oleh sentuhan yang di dapat. Membuat Yunho menggelengkan kepalanya. 'Kau memang menggemaskan, Boo~' pikir Yunho dan mengecup sayang pipi lembut Jae Joong lalu kemudian beranjak.
Yunho membaringkan tubuhnya menghadap Jae Joong. Ia tersenyum ketika melihat Jae Joong mengubah posisi tidurnya jadi menyamping. Jae Joong menumpu kepalanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memeluk perutnya.
Perlahan Yunho mendekat ke Jae Joong. Ia dengan hati-hati mengganti tangan Jae Joong yang jadi bantalan dengan tangan kanannya dan mendekap erat tubuh Jae Joong. Membuat Jae Joong kembali menggeliat dan balas memeluk pinggang Yunho -tak lagi memeluk perutnya sendiri-.
Cup!
Yunho mengecup lembut bibir Jae Joong. "Jaljayoo, Boo~ Saranghae. Jeongmal saranghaeyo" ujarnya dan kemudian memejamkan mata.
"Eungh~ Yun~" gumam Jae Joong ketika Yunho baru saja ingin memejamkan mata dan membuat Yunho tersenyum bahagia dan kemudian terlelap.
Rasanya baru sebentar aku tertidur, cahaya pagi sudah menerpa wajahku. Aku menggeliat tapi sesuatu menahan pergerakanku. Mataku perlahan terbuka dan dada bidang yang terbalut singlet hitamlah yang pertama kali kulihat.
Menghembuskan napas dan tersenyum kulakukan saat mengingat berada dimana aku saat ini. "Yun~ ireona~" ujarku pada lelaki yang masih memejamkan mata itu.
"Hhng~ "
Ia hanya bergumam saat aku membangunkannya. Perlahan aku melepas pelukannya pada tubuhku, hampir saja aku menggeser tubuhku tapi ia kembali memelukku.
"Kau sudah bangun? Lepaskan tanganmu, aku ingin bangun" ujarku ketika merasa ia malah mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah lagi, Boo~ ini hari libur kan" gumamnya dan malah menggesekkan hidungnya pada ceruk leherku.
'Sial! Mengapa ia merubah posisinya begini?
Ini akan makin sulit' teriakku dalam hati.
"Kau tidurlah lagi tapi aku ingin bangun. Akan kubangunkan kau jika sarapan sudah siap."
"…"
"Bear~ ayolah, jangan seperti ini." ucapku padanya seraya mengusap lembut surai brunettenya.
"Akh! Ya! Apa yang kau lakukan, Jung Yunho?" Teriakku saat kurasakan leherku terhisap dengan kuat.
"Aku sedang sarapan. Jadi kau tidurlah lagi"
"Hhh~ ssh~" Sial! Ia kini menghisap di tempat lain. Lelaki ini sungguh menyebalkan. Rutukku dalam hati.
"Ya!" teriaknya saat aku mencubit pinggangnya dengan cukup keras. Dan membuatnya melepas pelukannya pada tubuhku dan memegang pinggangnya.
"Bangun dan bereskan ranjang lalu mandi. Aku akan siapkan sarapan setelah membersihkan diri" ujarku padanya dan beranjak turun dari ranjang tanpa mendengar satu katapun.
Aku tak peduli jika ia mengikuti ucapanku atau tidak. Yang terpenting, aku sudah lepas darinya dan langsung masuk ke kamar mandi.
…
…
Aku tersenyum saat melihatnya berjalan ke meja makan. "Selamat pagi~" sapaku riang saat ia mendekat.
"Selamat pagi" jawabnya setelah duduk di hadapanku.
"Kau marah padaku?" tanyaku langsung. Aku sangat tahu jika ia seperti ini. Duduk berhadapan denganku, bukan disampingku.
"Tidak" jawabnya singkat.
"Lalu? Kenapa duduk disana? Bukan disini?" ujarku sambil menepuk kursi disampingku.
"Apa saja yang kau lakukan dengan wanita itu?"
"Hanya menemaninya berbelanja."
"Aku tak suka kau dekat-dekat dengannya. Kau lupa bagaimana ia memisahkan kita huh?"
Aku hanya diam mencoba mendengar ucapannya. Dan aku hanya bisa menghela napas berat saat ia mengusap wajahnya. Wajahnya kini terlihat memerah dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, khawatir, kesal, kecewa? Semua jadi satu sepertinya.
Aku tak heran mengapa lelakiku ini tahu tentang kegiatanku kemarin. Jika bukan Jessica yang mengatakannya, pasti ada seseorang yang melihat kami dan melaporkan padanya.
He's sounds possesive right? But i like it.
"Kenapa sangat sulit membuatmu mengerti bahwa aku tak ingin terjadi sesuatu padamu, Jae? Kau selalu melakukan sesuatu tanpa pertimbangan. Kau membuatku takut." ucap Yunho lirih dikalimat terakhir.
Aku beranjak dari kursi saat melihatnya menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia terlihat begitu kacau. "Maafkan aku. Sungguh, aku tak bermaksud membuatmu takut, cemas, khawatir atau apapun itu. Jessica, ia terlihat begitu tulus saat mengucap maaf. Ia menyesal, Yun" ucapku seraya menggenggam kedua tangannya.
"Aku tak akan tahu jika ia tak mengirimiku foto kalian saat berdua. Ia.. Wanita itu tak macam-macam denganmu kan? Aku takut ia mencoba melukaimu lagi" ujarnya menatapku khawatir.
"Sepertinya ia mengidam Yun"
"Ia yang mengidam, kenapa kau yang repot? Kau bukan suaminya" ucapnya dengan nada kesal.
Aku menghela napas lelah. Jika seperti ini, kepossesivan Jung Yunho akan merepotkan. Aku melepas genggaman tangan kami dan menopangkan tanganku di meja makan kemudian beralih menatapnya. "Jessica mengidam berdekatan denganku" ucapku pada akhirnya.
"Mwo?" Pekikan nyaringlah yang terdengar setelah aku mengatakan alasan Jessica selalu menggangguku beberapa hari ini.
…To be continued…
Thanks to :
EMPEROR-NUNEO :: Himawari Ezuki :: Bambaya :: meirah.1111 :: abilhikmah :: UKnowBooJae :: ariesta87 :: irengiovanny :: NaraYuuki :: aoi ao :: Taeripark :: Dennis Park :: yjnokokoro :: KJhwang :: Jenny :: nesi :: PhantoMiRotiC :: insun taeby :: Shim Hyunseo
Thanks for Followers and Favourite
And Welcome to new reader #hug
haaii.. haaii…
Aku datang membawa lanjutan i'll protect you.
Adakah yang menunggu?
Tidak ada yang menunggu? It's Ok, No problemooo~
...
Btw, kalian pasti udah liat MV Teasernya si JJ kan? Apa yang kalian pikirkan?
Kalo saya, pada Teaser pertama itu ngerasa sedih. Kenapa sedih? Karna ada scene JJ yang penampilannya terlihat ga banget. Itu loh.. yang pake kaos putih dibalut sweater. Kenapa terlihat seperti tua sekali? #pelukJJ
Pada teaser kedua, saya bahagiaaaa~ JJ terlihat keren dengan balutan Jas hitam dan merahnya. Apalagi yang scene di piano! Aduuhh.. itu muka bening banget!
Tapi ada yang bikin kesel! Knapa ada muncul foto JJ di Bathup ama Cewe juga?
Ahhh~ cuap-cuap saya udah banyak. Gimana kalo sekarang giliran kalian yang cuap-cuap?
Ps : Jika kalian mau, kalian bisa ke Blogku terlebih dahulu untuk melihat ff yang di publish disana sebelum aku publish disini.
wwwdotzheyrasky73dotwordpressdotcom (ganti tulisan dot dengan tanda titik)
So.. Gimme your review…?
