Disclaimer:Naruto's belongs toMasashi Kishimoto,but the story line and the OC(Haruto)is truly mine.

Pairing: Dark! Naruto (Haruto) x Naruto

Warnings:Yaoi, OC,Twincest / Selfcest,tsundere-Naruto, Alur Lambat (tuntutan cerita),missing word / typos, kata-kata kasar!, dll

Rate: M (saya mengkategorikan cerita saya denganrateM karena hubungan sesama jenis dantwincestmenurut saya adalah tabu dan berat)

Please don't read this fanfic if you hate the pairing or the story line!

Happy reading xx

-x-

My Bastard Twin

Chapter 10 part C

-x-

"HUAAAAA!"

Naruto berteriak sejadi-jadinya saat matanya yang terlindungi oleh googles terbelalak lebar melihat pemandangan di bawahnya menjadi lebih besar dan lebih dekat. Dadanya terasa sesak. Kedua telinganya berdengung karena angin kuat yang menghantam seluruh anggota tubuhnya tanpa ampun. Baru pertama kali dia merasakan gaya gravitasi yang membuat tubuhnya seperti kehilangan berat badan. Terbang di langit memberikan euforia tertentu yang memicu adrenalinnya—mengerikan namun sekaligus membuatnya merasakan kebebasan dalam arti lain.

"Aku akan membuka parasutnya, Naruto!" seru Haruto.

Kecepatan terjun mereka akhirnya berkurang drastis saat Haruto menarik tali hingga parasut akhirnya terbuka bebas.

"Bagaimana skydiving pertamamu?"

Naruto tersenyum lebar. "Seru! Sangat seru! Rasanya benar-benar seperti sedang terbang!" jawabnya tak mampu membendung perasaan senangnya.

Haruto terkekeh geli mendengar jawaban antusias kembarannya. "Syukurlah kau menyukainya. Ah! Lihat itu, Naruto!"

Naruto melihat ke arah yang ditunjuk Haruto. "Woah..." seketika itu mata birunya terbelalak melihat lukisan alam yang sangat menakjubkan dan mempesona di depannya. Matahari sore berwarna keoranyean membiaskan cahaya di sepanjang cakrawala. Langit yang semula berwarna violet kini bercambur dengan corak kemerahan dengan sekumpulan awan berwarna keemasan akibat pantulan cahaya matahari yang menghiasi berbagai titik pada langit kala itu.

"Indah sekali..." hanya itu kalimat yang terlontar dari mulutnya—terlalu terpesona hingga tidak mampu memikirkan kalimat lainnya.

"Yeah," timpal Haruto sebelum kembali memulai perbincangan. "Hei, Naruto."

"Hm?"

"Apa kau tahu alasan kenapa dulu aku menjadi pemandu skydiving?"

"Bukannya karena kau menyukai skydiving dan waktu itu kau juga belum memiliki tujuan apapun 'kan?" jawab Naruto mengutip perkataan yang pernah dilontarkan kembarannya di pesawat beberapa menit lalu.

Haruto tertawa kecil. "Sebenarnya bukan itu alasan utamaku melakukannya."

Naruto mengerutkan kening. "Lantas?" sepertinya masih ada hal lain yang disembunyikan kembarannya darinya. Beberapa fakta kehidupan Haruto di Tokyo benar-benar sukses membuatnya terkejut.

"... Apa kau masih ingat saat pertama kali ke Sendai dengan pesawat, kau ingin terbang seperti burung karena ingin melihat langit lebih dekat?"

"Eh? Memangnya aku pernah berkata seperti itu?" Naruto balik bertanya.

"Tch! Pernah! Kau pernah mengatakan hal itu padaku!" Haruto menjawab dengan nada kesal. Momen romantis nan teduhnya hancur sudah karena ingatan kekasihnya yang payah. "Waktu itu aku bilang hal itu mustahil dan kau malah menangis kencang di dalam pesawat."

"Aah! Aku ingat sekarang!" seru Naruto. "Ibu sampai memarahi aku karena mengganggu ketenangan penumpang lain," mendengar suara tertawa Haruto membuatnya kesal. "Oi! Jangan ketawa! Itu juga karena salahmu 'kan!"

"Ma-Maaf, maaf, ehem—" Haruto segera menghentikan tawanya.

"Lalu, apa hubungannya kejadian itu dengan alasan utamamu dulu menjadi pemandu skydiving?"

"Aku ingin mewujudkan keingananmu dulu, Naruto."

"Keinginan...?" ulang Naruto yang belum mengerti maksud pernyataan Haruto.

"Hu'um, keinganan untuk bisa terbang seperti burung dan melihat langit lebih dekat."

Mendengar jawaban itu, sontak membuat matanya terbelalak. "Kau gila, Haruto! Benar-benar gila! Itu hanya perkataan yang dilontarkan secara asal. Hanya ungkapan tak masuk akal dari seorang anak kecil. Kenapa kau menganggapnya serius?!"

Haruto memanyunkan bibirnya—merajuk. "Habisnya, waktu itu kau benar-benar terlihat sedih dan kecewa. Aku tidak pernah melihatmu menangis sambil memukuliku berkali-kali seperti itu."

"A-Ahh... benar juga. Kalau diingat-ingat lagi hal itu benar-benar memalukan," Naruto tertawa geli saat mencoba mengingat kembali kenangan beberapa tahun silam. Seingatnya, dia mencoba menjauhi Haruto selama di Sendai tapi hal itu hanya bertahan setengah hari saja karena dirinya tidak mampu menahan godaan es krim dan kue coklat yang dibelikan kembarannya sebagai permintaan maaf. "Tapi berkat hal itu, aku bisa bersamamu sekarang. Menikmati langit seakan langit hanya milik kita berdua... terimakasih, Haruto, telah membawaku kemari."

Mendengar perkataan yang tak terduga dari mulut kekasihnya, membuat Haruto meraung kesal, "ARGH!"

"O-Oi! Ka-Kau kenapa, Haruto!?" tanya Naruto mulai panik. Dia mencoba mendongak dan memiringkan kepalanya beberapa kali, berusaha mencari sudut yang pas agar dapat mengetahui keadaan Haruto lebih jelas—mengingat posisinya yang membelakangi kembarannya sehingga mustahil untuk melihat ke arah Haruto tanpa bersusah payah.

"Sial! Benar-benar sial! Aku ingin menciummu, Naruto! Aku benar-benar ingin menciummu sekarang!" teriak Haruto yang terkesan sangat frustasi.

Semburat kemerahan muncul di wajah Naruto, "Bo-Bodoh! Apa yang kau bicarakan, hah!?" kali ini giliran dirinya yang berseru kesal—berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Aku kira terjadi sesuatu padamu! Asal kau tahu aku benar-benar panik!"

"Ini serius, Naaruto! Aku benar-benar ingin menciummu! Kau harus janji setelah kita mendarat nanti kau harus membiarkanku menciummu!"

"H-Ha?! A-Aku tidak mau!"

Haruto mengerutkan dahi—tidak menyukai penolakan Naruto yang terkesan tanpa berpikir terlebih dahulu itu. "Kalau begitu lebih baik kita tidak usah turun saja."

"Ka-Kau jangan bercanda, Haruto!" kali ini Naruto benar-benar panik. Entah kenapa dia merasa tubuhnya bergoncang, mungkin Haruto sengaja menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk menakut-nakutinya. "Ini sama sekali tidak lucu, Bodoh! Masih ada tugas kuliah yang belum aku selesaikan! Aku tidak mau perjuangan kuliahku terbuang sia-sia, Harutooo!"

Tidak tega melihat kembarannya yang telah panik maksimal, Haruto mencoba menahan diri untuk tidak tertawa. "Kalau begitu setelah ini aku boleh menciummu, ya? Ya?"

Naruto menganggukan kepalanya berkali-kali. "Aku akan melakukan apapun yang kau mau asal kita mendarat dengan selamat!"

"Apapun, ya?" Haruto menyeringai penuh kemenangan. Sepertinya ancamannya berhasil membuat kembarannya bertekuk lutut. Terlebih lagi, diliputi rasa panik Naruto mengatakan akan melakukan apapun yang dirinya minta, tentu saja kesempatan langka seperti ini tidak akan dia sia-siakan begitu saja. "Baiklah! Karena kau sudah berjanji, kekasihmu yang tampan ini akan mengabulkan permintaanmu. Siap-siap untuk mendarat, okay!?"

Tangan Haruto kembali memegang toggles untuk mengendalikan parasut menuju medan pendaratan. Jantung Naruto kembali berdetak kencang saat menyaksikan sendiri daratan yang semula terlihat jauh sekarang terlihat jelas dan semakin jelas dengan begitu cepat. Dengan ketepatan dan kontrol yang ahli, mereka berdua menukik di atas padang rumput hingga kedua kaki mereka kembali menginjak tanah sekali sekali lagi.

"Wo-Woah..."

Di atas mereka parasut jatuh secara perlahan, baik Naruto dan Haruto mengabaikannya. Saat ini keduanya sedang sibuk untuk membebaskan diri dari tali yang mengikat tubuh mereka. Meskipun tagan Naruto bergetar hebat namun pada akhirnya dia dapat membuka ikatannya. Dengan segera dia berbalik dan menghadap Haruto.

"Holy shit! Holy fucking shit!" Naruto mengumpat senang. Dia tahu wajahnya menunjukan kegembiraan—hal itu dapat tercermin di mata yang sedang menatapnya dengan emosi yang sama persis dengan dirinya. "Aku benar-benar melakukan skydiving 'kan, Haruto? Iya, 'kan?!" tanyanya masih tidak percaya dengan apa yang dia lakukan.

Haruto mengangguk antusias. "Aku tahu kau pasti bisa melakukannya, Naruto!" senyum lebar terukir diwajah tampannya. Tentu saja jika Naruto merasa senang maka dirinya pun juga merasakan hal yang sama.

Mungkin karena Naruto masih merasakan endorfin pada tubuhnya atau sekedar ingin melampiaskan rasa senangnya, Naruto melemparkan tubuhnya ke Haruto dan mencoba menyampaikan semua perasaannya dengan bibirnya yang kini mencoba menerobos masuk ke dalam bibir kekasihnya.

"?!"

Haruto yang sebelumnya terkejut dengan sikap agresif kembarannya, kini mulai membiarkan Naruto mengambil alih. Meskipun ciuman yang Naruto berikan terasa canggung dan malu-malu namun Haruto jamin akan membuat Naruto melakukannya lagi. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik karena pada detik berikutnya Haruto merasakan kekasihnya mulai melepaskan ciumannya. Masih belum merasa puas, Haruto pun kembali memperpendek jarak di antara mereka. Diapun memperdalam ciuman mereka dengan menekan bagian kepala Naruto, sedangkan tangannya yang lain mulai merambat dari belakang leher, punggung, turun hingga menuju pantat dan meremasnya penuh mesra.

"Mpph—!" Naruto menepuk-nepuk dada bidang Haruto. Tepukan yang semula pelan berubah kasar dan cepat saat kembaran brengseknya itu tak kunjung melepaskan ciuman mereka—sedangkan dirinya sendiri sangat membutuhkan asupan oksigen saat ini.

Dengan perasaan tak rela, Haruto melepaskan ciuman mereka.

"Kau mau membunuhku, hah!?" teriak Naruto mencoba mengambil oksigen yang sempat direnggut paksa darinya.

Raut cemberut yang terlihat jelas di wajahnya langsung berubah penuh napsu saat melihat sehelai saliva masih menempel di sudut bibir kekasihnya. Tanpa pikir panjang, dia pun mencondongkan tubuhnya dan menjilat bibir Naruto. "Hmm, so delicious."

"Kau ini..." Naruto yang telah sadar dari terkejutannya karena sikap liar Haruto mengepalkan tangannya erat-erat—mencoba menumpahkan segala amarahnya melalui kepalan tangan yang siap melayang kapan saja. "... DASAR MESUM!" tanpa ampun akhirnya kepalan tangannya mendarat ke rahang kekasihnya.

"OOOW! Sa-Sakit, Narutoooo!"

"Hmph!" Mengiharaukan rintihan kesakitan Haruto, Naruto berjalan dengan menghentakan kaki penuh kekesalan—meninggalkan kembarannya yang sibuk mengemasi peralatan skydiving yang barusan mereka kenakan sembari memegangi rahangnya yang nyeri.

-x-

Mobil SUV yang kembali dikemudikan Haruto kini melaju di jalanan raya yang bersebrangan dengan pinggir pantai. Semilir angin laut yang berhembus melalui jendela mobil—yang memang sengaja dibiarkan terbuka oleh keduanya—menerpa lembut wajah mereka dan membuat rambut pirang Haruto dan Naruto bergoyang malas. Sejak meninggalkan halaman parkir SKYDIVE beberapa puluh menit lalu, dengan alasan untuk latihan vokal Haruto tak henti-hentinya bernyanyi. Dengan flashdisk yang tertancap pada salah satu lubang mobil, lagu-lagu barat kesukan kembarannya mengalun.

"Come to me in the night hours, I will wait for you. And I can't sleep cause thoughts devour. Thoughts of you consume—"

Ruelle – War of Heart—adalah salah satu lagu yang Haruto sukai. Salah satu lagu yang menggambarkan perasaannya pada Naruto, kembarannya sendiri. Dulu, Haruto telah mencoba berbagai cara untuk mengabaikan dan melupakan rasa cintanya dengan sangat susah payah. Tak ingin jauh dari Naruto tapi memilih menghindar, dia akhirnya memutuskan pergi ke Tokyo dengan alasan ingin melanjutkan kuliah di sana. Setelah membentuk band, Haruto mencoba mengalihkan pikirannya dengan cara bekerja lebih keras tanpa istirahat—sampai-sampai dirinya dijuluki workaholic oleh rekan-rekannya. Setiap ingin tidur Haruto harus minum minuman keras hingga mabuk atau meneguk obat tidur agar otaknya dapat beristirahat tanpa harus memikirkan Naruto terus menerus. Mencintai seseorang namun mencoba untuk membuh rasa cintanya benar-benar membuat hati Haruto tersiksa.

"I can't help but love you. Even though I try not to. I can't help but want you. I know that I'd die without you—"

Pada akhirnya Haruto yang tak tahan lagi memutuskan untuk pulang ke Kyoto. Dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk—ditolak, dijauhi, dibenci, bahkan dianggap tidak ada—jika dia menyatakan perasaannya pada Naruto nanti. Namun tak disangka semuanya berjalan seusai dengan apa yang diharapkannya. Haruto sangat bersyukur karena telah mengambil keputusan yang benar.

"I can't help but be wrong in the dark cause I'm overcome in this war of hearts. I can't help but want oceans to part cause I'm overcome in this war of hearts."

Naruto melirik curiga pada Haruto yang kini sedang menyanyi penuh dengan penghayatan. Bukan karena suara Haruto yang merdu atau pengucapan bahasa inggrisnya yang bagus, bukan, tapi pantas kah dia merasa jika lagu yang sedang dinyanyikan itu tentang dirinya? Karena jika menilik peristiwa beberapa minggu lalu—ketika Haruto membawanya ke konsernya—Haruto menyanyi sebuah lagu yang—secara mengejutkan—ditujukan padanya.

"Haruto," panggil Naruto menginterupsi nyanyian kembarannya.

"Ya?"

Meskipun ragu untuk melontarkan pertanyaan yang menurutnya sedikit memalukan, namun karena rasa penasarannya melebihi keraguannya akhirnya Naruto bertanya, "Aku tidak ingin merasa kegeeran tapi aku penasaran..." dia terdiam sejenak. "... lagu yang barusan kau nyanyikan itu... bukan tentangku, 'kan?"

"Tentu saja itu tentangmu, Naruto!" dan Haruto pun menyengir lebar.

Naruto yang terkejut dengan jawaban jujur kekasihnya segera memalingkan wajah. "Ugh, setidaknya mengelaklah sedikit, dasar brengsek," gumannya berusaha menyembunyikan semburat kemerahan di wajahnya.

Dengan tangan kirinya, Haruto meraih tangan kanan Naruto dan mencium mesra punggung tangan kekasihnya itu. Lagi-lagi Naruto dibuat terkejut dengan sikap yang Haruto tunjukan. Kali ini mukanya benar-benar memerah sempurna. Meskipun merasa bingung apa yang harus dia perbuat, Naruto tidak menarik tangannya yang kini sedang digenggam erat oleh Haruto.

Melihat sikap malu Naruto membuat Haruto tersenyum lembut. Sepertinya kekasihnya ini belum terbiasa dengan kasih sayang yang dia tunjukan. Tidak ada pilihan lain—mulai sekarang, mau tidak mau—Naruto harus beradaptasi dengan segala bentuk kasih sayang dan cinta yang Haruto berikan maupun tunjukan karena—tentu saja—tidak ada lagi dinding pemisah di antara mereka.

"U-Um, Ha-Haruto," celetuk Naruto tiba-tiba—tidak tahan berlama-lama terdiam dalam suasana canggung seperti ini. "Aku lapar."

"Ah, benar juga, kita belum makan. Bagaimana kalau MacDunald's saja?" saran Haruto yang melihat tiang MacDunald's berdiri tidak jauh dari lokasi laju mobil mereka saat ini. "Take out saja, ya? Sepertinya lebih seru jika makan di pinggir pantai."

Naruto mengguman mengiyakan.

-x-

Pemandangan sore itu benar-benar indah dan menentramkan hati. Suara deburan ombak dan sekumpulan burung camar yang terlihat terbang bebas di langit yang kini telah berubah warna menjadi keoranyean membuat junk food yang sedang disantap oleh Haruto dan Naruto terasa terbuat dari restoran mewah.

"Besok," Naruto memulai pembicaraan. "Kau akan naik kereta ke Tokyo jam berapa?"

"Sekitar jam enam pagi," jawab Haruto sembari menyeduh kopi hitam panasnya.

Naruto mengigit pelan bagian bawah bibirnya. "Sepagi itu kah?"

"Mm! Ada rapat dengan klien sehingga aku diharuskan datang pagi," tidak mendapat jawaban apapun, Haruto mendapati Naruto sedang melihat jauh ke arah matahari yang perlahan tenggelam di depan mereka. "Wah, sudah lama aku tidak melihat matahari terbenam di pantai seperti ini," serunya dengan nada ceria yang sengaja dia buat. "Kapan-kapan kita ke pantai lagi, ya, Naruto?"

Mendengar ajakan Haruto membuat Naruto mengepalkan tangannya. "Kapan Haruto? Sebulan? Setahun?" suaranya bergetar parau. Dia pun berdiri—makanan yang sebelumnya berada di pangkuannya ini terjatuh ke atas tanah. "Aku tidak tahu kapan kita dapat bertemu kembali Haruto! Walaupun sudah berusaha untuk tidak memikirkannya namun perasaan cemas ini tidak bisa aku hilangkan! Ini benar-benar memuakkan, Haruto!"

Tidak tahan melihat air mata mulai mengalir membasahi pipi kekasihnya, Haruto bediri dan langsung mendekap Naruto erat sembari mencium serta menghirup aroma bunga matahari dari rambut pirang yang kini sedang dia belai lembut. "Hush, kau jangan kawatir. Meskipun kita jauh tapi aku akan selalu menghubungimu."

Naruto menggeleng lemah sementara kedua tangannya mencengkram baju kekasihnya. "Tidak, kau pasti akan ingkar janji! Kau pasti akan melupakanku karena kesibukanmu dengan bandmu itu... dan... dan..." ucapnya dengan terisak. "Kau pasti akan selingkuh dariku..."

Haruto menerjapkan matanya beberapa kali—terlalu terkejut dengan perkataan yang barusan di lontarkan kembarannya. "Oi, oi, oi, tunggu dulu Naruto! Dari mana kau mendapatkan ide gila seperti itu?!" dia sedikit mendorong tubuh Naruto agar dapat melihat wajah pria itu lebih jelas.

"U-Um.. da-dari sinetron yang ditonton ibu," guman Naruto dengan nada malu.

"HAA?!" seru Haruto keheranan. "Sejak kapan kau jadi suka menonton sinetron, Naruto!?"

"Ha-Habisnya... ibu sering menarikku untuk menemaninya menonton sinetron..." Naruto mencoba membela diri. "Aku tidak bisa menolaknya karena ibu mengancamku tidak akan diberikan uang jajan!"

Haruto mencoba menahan tawa saat membayangkan ekspresi kekasihnya sedang diancam oleh ibu mereka tercinta. "Lalu, apakah aku mirip dengan pemeran yang ada di sinetron itu sehingga kau mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti tadi?"

Naruto menggeleng perlahan. "Tidak, kau punya wajah yang jauh lebih baik daripada orang itu."

"Jadi kau mengakui kalau kekasihmu ini berwajah tampan, 'kan?" Haruto tersenyum penuh arti sembari menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat—berusaha menggoda.

"Po-Pokoknya! Sifat orang itu benar-benar menjengkelkan!" dengan semburat kemerahan di wajahnya, Naruto mencoba mengabaikan perkataaan Haruto yang—well—memang benar. Dia terlalu tsundere untuk mengakuinya. "Dia meninggalkan kekasihnya untuk pergi ke ibu kota. Setelah berhasil debut dan menjadi artis terkenal, dia malah melupakan kekasihnya yang masih menunggunya di desa dan malah berkencan dengan wanita lain..." jelasnya mengutip garis besar cerita sinetron yang membuat hatinya gundah gulana.

Haruto kembali memeluknya setelah melihat kekasihnya kembali memperlihatkan ekspresi sedihnya. "Aku tidak akan menjadi seperti itu, Naruto. Rasa cintaku padamu terlalu besar hingga aku tidak sudi untuk melirik yang lainnya."

"Benarkah?" tanya Naruto masih tidak percaya.

"Benar!" Haruto tersenyum lebar mencoba meyakinkan. "Kau harus percaya padaku."

"Kalau begitu, kau harus berjanji untuk berkomunikasi denganku walaupun kau sedang sibuk sekalipun! Kalau kau ketahuan berselingkuh akan kupatahkan milikmu yang sedang bertengger di bawah itu," Naruto melipat kedua tangannya di depan dada.

Haruto menelan ludah dengan susah payah. "O-Oke," jawabnya dengan suara sedikit bergetar—sedikit ngeri dengan ancaman yang diberikan kekasihnya sendiri itu. "Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang," sebelum dirinya melangkah jauh dari sisi Naruto, pria itu meraih ujung bajunya dan menariknya kuat—hingga dirinya sedikit terjungkal ke belakang. "Ada apa, Naruto?"

"—tidak mau," ucap Naruto tiba-tiba.

"Eh? Apa, Naruto?" tanya Haruto yang tidak mendengar jelas perkataan Naruto barusan.

"Aku bilang, aku tidak mau pulang," ulangnya sekali lagi. "Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu... kau... tidak mau?"

Mata Haruto terbelalak sempurna melihat wajah imut yang—sepertinya tidak sengaja—dibuat oleh Naruto.

Mata merah Haruto terbelalak sempurna melihat wajah imut yang—kemungkinan tidak sengaja—dibuat oleh Naruto. Kekasihnya ini benar-benar imut tanpa ada usaha yang berarti. "Tolong lah, Naruto, jangan membuatku bergairah seperti ini. Aku tidak ingin menyerangmu saat ini juga..." gumannya dengan suara sepelan mungkin.

Naruto menautkan kedua alisnya. "Kau bilang apa Haruto? Kenapa berbisik seperti itu?" tanyanya khawatir melihat wajah pria itu berubah frustasi akan sesuatu.

Haruto menarik napas dalam-dalam—mencoba menenangkan diri—kemudian tersenyum lebar. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan nada ceria. "Oke, kalau begitu kita mau kemana? Aku akan menemanimu kemana pun kau mau."

Naruto berpikir sejenak sebelum berkata, "Aku ingin ke diskotik yang kita lewati barusan."

"Kau serius, Naruto?" tanya Haruto memastikan. "Kalau ketahuan ibu, ibu pasti akan marah besar."

Naruto menginjak kaki kembarannya gemas. "Kalau begitu jangan bilang pada ibu, dasar bodoh!" dia meliipat kedua tangannya di depan dada. "Lagipula, sesekali aku ingin menikmati kehidupan malam yang belum pernah aku alami sebelumnya."

"Tapi..." sahut Haruto tidak yakin dengan ide yang diutarakan Naruto. Sebenarnya tidak masalah baginya untuk mengajak Naruto pergi ke diskotik—toh, dia juga sering pergi ke tempat hiburan seperti itu saat di Tokyo—namun Haruto yakin ada sesuatu yang aneh pada diskotik itu yang membuatnya harus berpikir ulang untuk menyetujui ajakan kekasihnya.

Naruto yang tidak sabar lagi segera berjalan menuju mobil, "Ayo, cepat, Haruto!" serunya sembari melambaikan tangan—menyuruhnya segera masuk ke dalam mobil.

Haruto hanya menghela napas pendek sembari mengangkat bahunya sebagai tanda menyerah. Well, jika terjadi sesuatu, dia pasti akan melindungi Naruto. Haruto tersenyum lebar dan segera mengikuti Naruto masuk ke dalam mobil SUV milik ayah mereka.

-x-

To Be Continued

-x-

First of all, aku mau ngucapin buanyak terimakasih pada kalian semua yang bersedia nunggu chapter ini di update. Terimakasih yang sudi untuk review setelah sekian lama di php sama author yang suka ngilang ini. :') sumpah terharu buanget buanget buanget ternyata masih ada jiwa-jiwa yang sabar nungguin cerita ini update :')

Sekali lagi aku minta maaf karena kemarin sekitar 1-2 tahun sempet ngilang ngga ada kabar.. itu semua demi ngejar target kuliah lulus lebih gasik kawan-kawan... maafkan hambamu yang hina ini :'D

DAN! Untuk chapter kali ini lagi-lagi aku benar-benar mintaa maaf karena ternyata aku nggak sanggup bikin chapter ini lebih panjang dan harus berhenti di sini—padahal di storyline yang udah aku susun masih ada 2 scene lagi yang harusnya ada di chapter ini :') aku takutnya kalau nunggu mood dan nggak sibuk fanfic ini nggak bakalan update-update.. jadi yah... yah... begitulah. Mwehehehe.

Semoga, doakan saja, chapter besok adalah ending dari arc ini dan chapter depannya lagi sudah masuk ke arc selanjutnya yang tentunya lebih hawt dan menggoda *apa sih*

Bagi yang puasa, selamat berpuasa kawan! Semoga lancar dan full ya puasanya yaa! Amiiin.

Terimakasih karena sudah membaca chapter ini. Jika berkenan monggo tinggalkan review untuk memberi semangat agar—mau—update chapter lebih cepat. Pecut aku dengan review kalian *halah*. Sampai jumpa di chapter selanjutnya :D byeeee~