Keputusan Naruto

Ya ternyata saya menyelesaikan bab ini lebih cepat dari yang saya duga! Ini dipersembahkan kepada semua pembaca setia yang telah menunggu lama-lama. Semoga kalian tidak perlu menunggu lama-lama lagi!

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.

Spoiler: Setting bab ini mulai dari bab 333 sampai bab 352 di manga Naruto


Karin telah menampar Suigetsu untuk yang ketiga kalinya hari ini. Mereka sedang menuju kamar penginapan mereka, saat Suigetsu mengguman kalau Karin akhir-akhir ini sama sekali tidak ada gunanya. Tentu saja Karin tidak bisa membiarkannya begitu saja. Juugo tentunya tidak berkomentar sedikitpun.

Sasuke sudah menunggu mereka di dalam. Karin langsung duduk di samping Sasuke dengan suara girang. Suigetsu dan Juugo duduk di sisi lain.

"Ada perubahan rencana" ujar Sasuke.

Ketiga teman tim-nya saling bertukar pandang.

"Kita akan mencari Akatsuki."

"Tapi Sasuke, kakakmu 'kan anggota Akatsuki, kenapa tidak langsung mencarinya?" tanya Karin heran.

"Karena Itachi paling ahli dalam bersembunyi. Ia bisa menghilangkan jejak secara professional. Jadi sampai ia menginginkan dirinya untuk ditemukan, kita tidak akan menemukannya. Yang tahu dimana ia berada adalah para anggota Akatsuki yang lainnya dan berdasarkan informasi terakhir yang Juugo kumpulkan, kita tahu bahwa Sakura juga disekap mereka. Misi ini akan lebih cepat diselesaikan kalau kita menemukan salah seorang anggota. Kalian semua, temukanlah anggota yang paling dekat, tidak peduli siapa dia."

"Ok gak masalah," ujar Suigetsu dengan santai, Juugo mengangguk dan Karin menggerutu jengkel karena mendengar nama Sakura disebut.

Suigetsu dan Juugo bangkit.

"Hari ini giliranku pergi belanja, Juugo, kau bisa mulai mencari. Kami akan kembali sebelum matahari tenggelam," kata Suigetsu, yang langsung pergi diikuti Juugo.

Sekarang yang tertinggal sendiri hanyalah Sasuke dan Karin. Sasuke mengkemas beberapa kunai saat ia merasakan seseorang bersandar lembut ke punggungnya.

"Aku tadi berikan kamu sebuah tugas Karin," ujar Sasuke.

Karin sekarang memeluknya. "Sasuke," bisik Karin lembut, "kamu sepertinya benar-benar serius mencari kunoichi itu. Bukankah kita sudah tahu kalau dia masih hidup? Kenapa masih ingin mencarinya?"

"Bukan urusanmu," Sasuke memandangi pantulan wajahnya di atas permukaan pedang kusanagi-nya.

"Tentu saja ini urusanku, aku bisa cemburu nih," melas Karin sambil melepaskan kacamatanya.

Sasuke menutup kedua matanya, "Lepaskan aku Karin."

Karin sekarang memutar tubuh Sasuke dan memeluknya erat-erat. "Aku suka sekali padamu Sasuke."

Sasuke baru saja ingin mendorong Karin, saat bayangan Sakura muncul di kepalanya.

"Aku suka sekali padamu! Suka sekali!"

"Aku tahu tujuanmu bukan cuma membunuh kakakmu untuk balas dendam, tapi kamu mau membangkitkan klanmu ‚kan? Aku bisa membantumu soal itu. Kau dan aku, kalau kita bergabung, semua keinginanmu akan terkabul…" Karin mendekatkan bibirnya ke wajah Sasuke.

Beberapa kelopak bunga Sakura yang diterbangkan angin, jatuh di depan mereka, dan Sasuke teringat senyum Sakura saat menjatuhkan dirinya bersama Orochimaru ke jurang. Ia mencengkram bahu Karin dan menjauhkannya.

"Aku tidak butuh bantuanmu untuk mencapai semua tujuanku," Sasuke memperlihatkan kedua mata sharingannya.

Karin mengkepalkan kedua tangannya, lalu mendorong tangannya Sasuke.

"Kamu bilang kamu tidak butuh bantuanku? Aku rasa tidak! Untuk menemukan seorang anggota Akatsuki saja kamu memerlukan bantuanku! Jadi - " tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkram sekuat tenaga oleh Sasuke. Karin mencoba sekuat tenaga menarik tangganya, tetapi Sasuke memegangnya terlalu erat. Air mata Karin mulai mengalir saking sakitnya.

Sasuke mendekat ke arahnya lalu berhenti tepat di depan wajahnya. Karin bahkan bisa melihat pantulan wajahnya yang ketakutan dan kesakitan di permukaan mata sharingannya Sasuke.

"Aku tidak suka nada bicaramu tadi Karin. Jadi kalau kamu masih mau berada di dalam tim ini lebih lama lagi, kusarankan kamu sebaiknya jaga omonganmu. Apa kita sepakat?"

Karin yang masih mencoba menarik tangannya, mengangguk karena tidak mampu bicara. Sasuke melepaskan pergelangan tangannya dan beranjak pergi. Karin terjatuh sambil menangis terisak-isak, berusaha meraih kacamatanya yang terjatuh.

"Aku akan pergi latihan sekarang, beritahu Juugo dan Suigetsu untuk menyiapkan makan malam. Besok kita akan berangkat, menemui sang nenek kucing."

Tanpa mempedulikan keadaanya Karin, Sasuke langsung pergi meninggalkannya. Karin menghapus air matanya. Ia tahu arti dari perkataan Sasuke tadi. Bahwa Karin hanyalah sebuah alat bagi Sasuke. Dan Sasuke yang berhati dingin, yang penuh dendam dan kebencian, masih peduli terhadap kunoichi yang bernama Sakura itu. Cukup peduli untuk melawan seorang anggota Akatsuki agar bisa menemukannya.

Karin mengepalkan tangannya saat air matanya kembali berjatuhan, membasahi punggung tangannya. Dengan tangan gemetaran, ia memakai kembali kacamatanya. Tidak akan ia biarkan Sasuke menemukan kunoichi itu. Biarlah hanya dia satu-satunya gadis yang ada di sisinya Sasuke, sebagai sebuah alat sekalipun!

xxxx

Sakura tidak mengerti dirinya sendiri. Mungkin keadaan dan situasi luar biasa dimana ia berada sekarang membuatnya melakukan ini. Harus ia akui, setahun terakhir ini, ia sudah banyak melakukan hal-hal yang patut diingat seumur hidupnya. Tapi yang ia lakukan sekarang rasanya begitu… terlarang bahkan untuk diingat dan disimpan dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Ia diam-diam menonton Itachi berlatih di kebun.

'Yah, dibilang diam-diam juga gak benar. Menurutku seseorang seperti Itachi sudah pasti merasakan kehadiranmu,' ujar dirinya yang lain sinis.

Biarkan aku sendiri. Tak bisakah kamu lihat aku cukup dibebani rasa bersalah.

Dirinya yang lain mengangkat bahu. ‚Kenapa merasa bersalah kalau ingin melihat sesuatu yang indah.'

Sakura ingin protes tetapi Itachi sedang melancarkan jurus melempar seratus kunai yang begitu menakjubkan. Sakura jadi langsung lupa akan dirinya yang lain. Sambil duduk di tikungan koridor, tetap waspada agar ia tidak terlihat, ia tidak mampu memalingkan wajahnya.

Sakura sebenarnya tidak suka pria yang berambut panjang. Menurutnya pria yang berambut panjang kelihatan sedikit… banci, Deidara adalah contohnya, kecuali Jiraiya-sensei karena ia tidak bisa membayangkannya dengan rambut pendek. Tapi justru Itachi terlihat begitu tampan, dan Sakura yakin kalau bahkan dengan rambut pendek, Itachi akan terlihat tampan juga.

Apa yang kulakukan…? Dia musuhku, musuh desaku. Seorang kriminal kelas berat. Seorang pembunuh sadis. Musuhnya Sasuke…

Dan walaupun Itachi jelas-jelas sangat dingin dan tidak berperasaan, Sakura tidak bisa melepaskan firasatnya yang mengatakan kalau Itachi itu sebenarnya ada sisi baiknya. Ada hal-hal kecil yang ia perhatikan dari Itachi. Seperti taman yang indah ini. Begitu cantik dan terawat. Dan ikan-ikan di kolam itu, sehat semua. Tidak mungkin mereka begitu kalau Itachi menelantarkan mereka. Itachi juga telah menyembuhkannya. Jika ia benar-benar sadis, ia biarkan Sakura menyembuhkan dirinya sendiri. Mungkin ia akan cukup membantu agar Sakura tidak mati kehabisan darah. Tapi luka di bahunya bahkan tidak meninggalkan bekas. Kamar yang diberikan Itachi juga nyaman. Dan tadi siang Sakura mendapati makanan enak tersedia disana. Walaupun Itachi tidak makan bersamanya, Sakura sangat berterima kasih bahwa ia tidak harus hidup dari nasi dan tahu. Makanan yang biasa diberikan kepada tawanan.

Semua hal kecil itu membuatnya penasaran tentang Itachi. Ia ingin tahu lebih tentang Itachi.

Itachi berhenti berlatih. Baju hitamnya basah penuh keringat jadi ia melepaskannya, dan membasuh keningnya. Sakura jadi sedikit malu dan pipinya bersemu merah sehingga ia menjauh dari Itachi untuk bersembunyi lebih dalam. Suara batuknya Itachi yang mebuatnya keluar dari persembunyiannya. Ia batuk lebih keras, Sakura dengan terkejutnya melihat darah di tangannya.

"Itachi..!" Sakura bergegas ke arahnya.

Itachi melihat ke arahnya, rambutnya yang hitam sedikit menutupi mata hitamnya. Mata hitamnya yang begitu dalam, yang begitu menghipnotis. Sakura menelan ludah.

"Kau berdarah…" Sakura menyentuh tangan Itachi.

„Sebuah rutinitas yang biasa aku hadapi sehabis latihan. Kuharap dalam jangka waktu yang dekat kamu bisa mengecek keadaanku. Seperti yang kau lihat, tubuhku tidak bisa bertahan lebih lama," Itachi berbalik, beranjak pergi. „Kusarankan agar kau lakukan tugasmu dengan benar. Kalau tidak, kau tidak pantas disebut sebagai murid sang Hokage. Dan satu hal lagi, aku ada misi jadi akan pergi untuk dua hari. Sampai aku kembali kau jangan coba-coba untuk kabur. Kau tidak ingin merasakan hukumannya."

Tanpa menunggu reaksi Sakura, Itachi pergi meninggalkannya. Tapi bahkan Sakura sendiri tidak tahu harus berkata apa. Itachi tadi berbicara dengan suara monoton seolah-olah berbicara dengan sebuah suruhan. Seseorang yang hanya ada untuk melaksanakan perintahnya. Padahal ia tadi benar-benar merasa sedikit cemas memikirkan keadaanya Itachi.

Sakura benci sekali keadaan seperti ini. Kedua Uchiha yang ia kenal sangat ahli dalam membuatnya merasa hampa seperti ini. Selalu memaksakan dirinya untuk membuang emosi yang ia rasakan terhadap mereka, seperti sebuah penyakit menular yang akan membuatnya berakhir seperti Sasuke dan Itachi. Seorang shinobi tanda emosi.

Sakura kembali ke kamarnya. Ia cukup pintar untuk tidak mencoba-coba kabur dari tempat ini. Untuk sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain sembuh.

xxxx

"Haha… beraninya kau melakukan ini padaku."

Raut wajah Shikamaru tidak berubah, membuat Hidan berhenti tertawa, merasa seolah-olah ia dihina.

Hidan lalu berteriak sekuat tenaga, "kau akan menerima pengadilan dari dewa Jashin! Kau akan menerima hukaman darinya, camkan kata-kataku!"

Shikamaru mengambil lebih banyak bom kertas yang terikat dengan sebuah kunai. "Itu sama sekali tidak menakukanku. Antara kau dan aku, apa yang kita percayai adalah berbeda. Apa yang aku percaya adalah warisan semangat api."

Hidan memandang Shikamaru dengan tidak percaya. Ia tidak mau percaya bahwa bocah dengan kepercayaan lemah itu bisa mengalahkannya, ia, seorang penganut kepercayaan Jashin yang paling kuat.

"…tapi dewamu bukan Jashin atau apapun. Sekarang akulah dewamu," ujar Shimakaru dan untuk pertama kalinya Hidan melihat setitik ketidakampunan yang seharusnya menjadi miliknya.

"Aku akan memberikanmu pengadilan," Shikamaru mengangkat kunainya dan melemparkannya ke dinding lubang tanah itu.

Sebuah ledakan yang besar, dan tanah serta bebatuan jatuh ke arah Hidan. Sebelum terkubur, Hidan berteriak penuh rasa percaya diri.

"Aku sudah memberitahumu tadi ‚kan? Bahwa kau akan menerima pengadilan dari dewa Jashin!"

Shikamaru tidak berkutik.

"Hahahahahaha! Seseorang yang memberimu pengadilan itu bisa jadi aku! Yang kuperlukan cukup gigiku! Aku akan mengunyahmu dan mencabik-cabikmu sedikit demi sedikit!"

Dan sesaat sebelum batu terakhir membawakan kegelapan abadi untuk Hidan, ia teringat kata-kata seorang kunoichi yang ia benci dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Kau! Lihat saja! Jangan meremehkan teman-temanku! Tim sepuluh akan membalasmu suatu hari! Aku berharap Shikamaru membalasmu seratus kali lipat!"

Hidan amat sangat jengkel karena perkataan gadis itu ternyata telah terjadi.

xxxx

"Wah asyiknya, aku disuapi Hinata nih. Kalau begitu aku lebih sering harus jatuh sakit!" canda Naruto.

"Naruto-kun jangan begitu, nanti aku jadi sedih…" Hinata menatap Naruto dengan memohon.

"Oke oke baiklah, demi Hinata, apapun akan kulakukan," Naruto mengangkat lenganya yang terbalut untuk menunjukkan bahwa ia masih merasa segar bugar.

"Oh Naruto, sudah kuduga kamu ada disini," kata Kakashi yang baru saja memasuki kedai ramen.

"Kakashi-sensei, bagaimana keadaanmu?" Naruto dengan lahap memakan semua ramen yang Hinata suapi. "Mau ikut makan bersama kami?"

Kakashi melambaikan tangannya, "aku kesini bukan untuk makan. Naruto, cepatlah ke kantor Tsunade, Jiraiya juga ada disana. Ada berita penting yang harus ia sampaikan padamu."

Naruto, Hinata dan Sai saling bertukar pandang. Tidak lama kemudian Naruto dan Sai masuk kantor sang Hokage kelima.

"Kalian telat, kemana saja kalian?" tanya Tsunade.

"Tenang Tsunade," Jiraiya meminta.

"Maafkan kami Tsunade-sama, kami tadi makan siang, maksudku sarapan di kedai ramen," Sai menjelaskan.

"Yo pertapa mesum," Naruto angkat tangan.

"Yoo Naruto, apa kabar?"

"Jadi apa yang ingin Anda bicarakan dengan kami?" tanya Sai.

Tsunade menjelaskan, "ada laporan dari jaringan rahasia di beberapa negara bahwa ada yang melihat Sasuke di dekat perbatasan utara negara api. Di sebuah desa kecil."

Naruto langsung bersemangat. "Biarkan aku kesana nenek Tsunade!"

"Tidak bisa semudah itu Naruto. Sasuke berencana untuk mengejar Akatsuki," Kakashi berdiri di ambang pintu.

"Kenapa?" Naruto tidak mengerti.

Kakashi menggaruk bagian belakang kepalanya. "Kita belum tahu. Kemungkinan besar untuk menemukan kakaknya."

"Dan kami juga mendapatkan informasi bahwa Sakura sekarang disekap oleh Itachi sendiri," tambah Tsunade.

"Kalau begitu," Sai berpikir. "Jika kita menemukan Itachi Uchiha…"

"Maka kita akan menemukan baik Sakura maupun Sasuke," Naruto mengepalkan tangannya, ia telah mendapatkan harapan baru. "Kita harus bergegas sekarang juga! Misi pencarian Akatsuki masih berlangsung 'kan?"

Tsunade mengangguk.

"Untuk menemukan Sasuke dan Sakura kita hanya perlu mencari satu orang anggota Akatsuki! Yaitu… Itachi Uchiha!"

xxxx

Itachi memandang langit yang semakin mendung. Suara guntur terdengar dari kejauhan. Kisame yang berdiri di sampingnya, tersenyum.

"Ohh, hujan, sepertinya akan menjadi badai yang dashyat."

Itachi tidak menjawab, hanya membiarkan tetesan air hujan membasahi wajahnya.

xxxx

Jauh dari kedua anggota Akatsuki itu, jauh dari desa Konoha dan dari tim Hebi, tertidur lelap seorang kunoichi berambut pink. Suara hujan dan guntur yang terdengar dari kejauhan membuatnya merasa nyaman dalam tidurnya. Begitu nyaman sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di kamarnya. Seseorang yang memakai jubah hitam dengan awan merah wajahnya ditutupi sebuah topeng hitam dan hanya satu mata sharingannya yang terlihat. Mata merah itu memandang Sakura dengan dengan saksama. Memandang balutan di sekeliling dadanya dan makanan yang tersedia di sampingnya.

"Oho… menarik sekali," bisiknya.


Wah, bab ini sedikit pendek, tapi setidaknya updatenya kilat. Buat para penggemar Deidara, maaf, saya tidak berpikir kalau Deidara itu banci. Sebenarnya beberapa tokoh cowok dengan rambut panjang cukup saya sukai. Dan yang menggantikan Sakura untuk ikut mengalahkan Hidan dan Kakuzu bersama Naruto adalah Hinata. Biar ceritanya sedikit mirip dengan alur manga yang sebenarnya. Bab selanjutnya akan saya usahakan diselesaikan secepatnya. Tentunya banyak review akan menjadi motivasi terbesar saya. Terima kasih sudah membaca bab ini.