Sasuke menatap seorang wanita berusia empat puluhan dihadapannya tanpa berniat mengucapkan apapun. Ia mengenali wanita itu sebagai psikiater langganannya yang sudah ditemuinya sejak bertahun-tahun lalu.
"Bagaimana perasaanmu, Sasuke?"
Bibir Sasuke tetap terkatup rapat meski ia mendengar ucapan wanita itu. Beberapa hari telah berlalu dan kini ia telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, namun ia belum mengucapkan sepatah kata pun.
Sasuke tak berniat mengatakan kaau ia baik-baik saja ketika ia jelas sedang tidak baik-baik saja. Namun ia juga tak berniat bercerita panjang lebar meski ia bersama sang psikiater saat ini. Dalam hati ia masih menyesali kegagalannya melakukan bunuh diri.
Sebagai seorang manusia, Sasuke menganggap dirinya sudah tak bernilai lagi. Secara fisik, tubuhnya sudah hancur karena ia pernah menjadi korban sodomi. Ia merasa tubuhnya menjijikan dan ia yakin wanita yang kelak akan menjadi istrinya juga berpikir begitu. Secara mental ia juga sudah hancur karena ia membutuhkan obat anti depresan dan hampir tak mungkin kembali menjadi normal.
"Atau ada sesuatu yang ingin kau katakan? Luapkanlah perasaanmu. Aku akan mendengarkanmu."
Psikiater itu tampaknya mengerti kalau Sasuke sedang tak mau berbicara. Ia berkoordinasi dengan dokter yang merawatnya dan dokter itu mengatakan kalau Sasuke belum mengucapkan apapun sejak sadar meski ia bisa saja melakukannya.
Masih tak ada kata yang terucap dari bibir Sasuke. Sebagai gantinya, air mata yang mendadak mengalir mewakili kata-kata yang tak bisa diucapkan oleh Sasuke.
Psikiater itu mengenal Sasuke sejak kecil dan ia sudah sangat mengenal kepribadian kliennya itu. Dalam hati ia bersimpati karena seorang lelaki muda sepertinya malah hidup seperti ini. Namun ia juga tak bisa melakukan apapun karena ayah Sasuke sama sekali tak kooperatif. Ketika ia meminta kedua orang tua Sasuke untuk datang demi keberlangsungan pengobatan, hanya sang ibu yang datang.
Dan psikiater itu juga memaklumi kalau kliennya tidak selalu bercerita setiap kali berkunjung. Ketika pertama kali bertemu, Sasuke bahkan menghindar dan ketakutan sehingga ia terpaksa merayu Sasuke. Dan terkadang Sasuke hanya datang untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan tanpa bercerita dan berakhir dengan menangis.
Dari informasi yang didapat psikiater itu, keluarga Sasuke adalah orang yang perfeksionis. Sang ibu bahkan tak pernah mau menunjukkan wajahnya dan Sasuke juga diminta menggunakan masker dan baru melepasnya ketika berada di ruangan psikiater. Sang ibu bahkan berkali-kali menekankan kalau suaminya berharap agar sang anak bisa menjadi 'normal' dan tampaknya Sasuke berada dibawah tekanan untuk selalu sempurna dihadapan orang-orang. Itu jelas merupakan hal yang sulit bagi orang yang tidak stabil secara mental.
Psikiater itu hanya menepuk punggung Sasuke dengan lembut. Ia benar-benar ingin tahu apa yang membuat Sasuke kembali mencoba bunuh diri, namun ia mengerti kalau Sasuke tak siap untuk bicara saat ini.
Dalam hati psikiater itu merasa bersyukur karena gelar sarjana psikologi serta gelar spesialis psikiatri yang dimilikinya membantunya untuk menyelami perasaan pasiennya secara lebih dalam, khusus pasien seperti Sasuke. Dan karena itu pula ia masih dipercaya untuk menangani Sasuke.
Sasuke mengusap air matanya sendiri. Namun lebih banyak air mata mengalir dan pada akhirnya tangisannya meledak. Ia merasa semakin tak bernilai karena ia menangis dan memperlihatkan kelemahan pada orang lain sehingga ia tak lagi sempurna seperti yang diharapkan keluarganya.
Psikiater itu terus menerus menepuk punggung Sasuke. Dalam hati ia berpikir, apakah ia harus memberikan obat pada Sasuke lagi? Namun kecenderungan lelaki itu untuk bunuh diri tampaknya merupakan efek samping obat sehingga ia mulai ragu untuk memberikannya.
"Kalau kau sudah siap bercerita, aku akan mendengarkanmu. Kau tahu kalau kau boleh bercerita apa saja termasuk perasaanmu, kan?"
Sasuke hanya diam dan ia segera mengalihkan pandangan dari wanita paruh baya itu. Setelah ia mulai agak tenang, ia segera mengusap air matanya dan menatap psikiater itu lekat-lekat.
Meski sudah mengenal bertahun-tahun, Sasuke tetap merasa tidak nyaman menceritakan perasaannya pada psikiater itu. Sebagian dari dirinya ingin menceritakan apa yang ia rasakan dan mengeluarkan beban yang mengganjal hatinya, namun di sisi lain ia takut menunjukkan kelemahannya pada orang lain.
Bibir Sasuke terbuka tanpa ada satu katapun yang terucap. Jantungnya berdebar keras dan ia memaksakan dirinya untuk mengucapkan apa yang ingin ia katakan.
"A-"
Psikiater itu menatap Sasuke lekat-lekat dan tersenyum tipis, "Kau ingin mengatakan sesuatu, Sasuke?"
Sasuke hanya diam. Jantungnya berdebar keras dan psikiater itu memintanya untuk menarik nafas dan menghembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Pada akhirnya ia memutuskan melakukan apa yang disarankan psikiater itu.
"Aku ingin hidup normal. Tapi itu tidak mungkin, hn?"
Psikiater itu terkejut. Untuk pertama kalinya ia mendengar Sasuke meminta untuk menjadi normal. Apakah akhirnya lelaki itu akan berusaha lebih keras untuk meraih apa yang ia inginkan?
"Seperti apa 'normal' yang kau maksud?"
"Aku ingin hidup seperti orang lain tanpa harus mengkonsumsi obat setiap hari. Aku tak ingin menjadi aib bagi orang di sekelilingku. Tapi aku sudah hancur dan tak bisa diperbaiki lagi."
Wanita paruh baya itu diam sesaat. Ia menatap Sasuke lekat-lekat. Kalau saja lelaki itu masih anak-anak, ia pasti akan memeluknya. Namun kalau sekarang ia melakukannya, pasti ia akan dianggap menganggu kenyamanan klien dan itu melanggar kode etik profesinya.
"Pasti bisa," ucap psikiater itu dengan tenang. "Ketika kau pikir kau bisa melakukannya, maka kau pasti bisa. Ketika kau pikir kau tidak bisa, maka kau tidak bisa melakukannya."
"Aku sudah menjadi pasienmu selama dua puluh tahun dan sekarang aku bahkan harus mengkonsumsi obat lebih banyak dari biasanya," ucap Sasuke dengan lirih.
Psikiater itu mengerti kalau Sasuke berniat hidup normal, entah apa yang mendorongnya untuk berpikir begitu. Padahal sebelumnya lelaki itu sudah cukup puas dengan obat yang dikonsumsi seitap hari selama ia bisa terlihat 'normal' dan tak membuat siapapun mencurigainya.
"Bukankah sekarang kau sudah memiliki tekad? Kalau begitu aku akan mencoba mengurangi dosismu dan kita lihat bagaimana kau bisa bertahan dengan dosis yang dikuransi."
Psikiater itu menepuk bahu Sasuke dan kembali berkata, "Aku yakin kau pasti bisa bertahan. Dulu aku memiliki pasien wanita dengan kondisi yang lebih buruk darimu. Dan sekarang dia bisa hidup normal tanpa mengkonsumsi obat atau kontrol berkala. Jadi aku percaya kau juga bisa kembali normal."
Sasuke hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia hanya mendengar kata-kata motivasi dari psikiater itu dan berharap dalam hati agar ia bisa menjadi normal.
.
.
Sakura memasuki ruangan Sasuke dengan membawakan pasta tomat yang menurut Naruto adalah makanan kesukaan Sasuke.
Sebetulnya Sakura merasa heran dengan dirinya sendiri. Padahal Sasuke bukan siapapun dan selama lebih dari satu minggu sejak lelaki itu berada di rumah sakit mereka tidak berbincang sama sekali. Bahkan Sasuke juga tetap tidak berbicara meski lelaki itu bisa melakukannya sekarang, membuat Sakura khawatir kalau lelaki itu tak bisa bicara karena keracunan.
Sore ini Sakura memutuskan untuk berkunjung setelah kunjungan terakhirnya pada dua hari yang lalu. Kali ini ia tak berkunjung bersama Naruto. Ia berkunjung sendirian karena Naruto akan makan malam bersama Hinata.
"Konbawa, Sasuke-san. Aku membawakan pasta tomat untuk makan malammu."
Sasuke menatap kantung bertuiskan restoran Italia favoritnya. Namun ia sedang tak berniat makan dan ia juga tak begitu nyaman karena Sakura sering berkunjung. Ia tidak nyaman karena wanita itu menemukannnya dalam kondisi sekarat dan kini wanita itu mengetahui kelemahannya.
"Kau bisa makan sendiri, kan? Ingin makan sekarang? Atau nanti saja?"
"Pergilah, Sakura."
Sakura terkejut saat mendengar ucapan Sasuke. Ia tak mengerti kenapa lelaki itu mengusirnya dan ia berpikir kalau ia salah dengar sehingga ia hanya diam di tempat.
Sasuke tak mengerti kenapa Sakura mau meluangkan waktu untuk orang sepertinya hingga sering datang dan membawakan makanan. Meski kata psikiater ia bisa kembali normal, namun itu bukanlah sebuah kepastian. Bagaimana jika psikiater itu hanya berusaha menenangkannya dan fakta yang sebenarnya berlawanan dengan apa yang dikatakan psikiater itu?
Sasuke menyadari kalau Sakura bermaksud memberikan perhatian. Namun ia takut kalau ia mulai terbiasa dan akhirnya merasa nyaman pada wanita itu hingga berniat memilikinya. Ia merasa kasihan pada Sakura jika ia sampai membebani wanita itu dengan perasaannya.
Selama berada di rumah sakit Sasuke tahu kalau keluarganya mengirimkan body guard untuk menjaganya, sementara keluarganya sendiri tidak pernah datang. Namun ia merasa lebih nyaman begitu karena ia tak perlu semakin terbebani dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi menambah aib bagi mereka dan tak bisa memenuhi ekspektasi untuk menjadi sempurna.
"Kubilang pergi!" ucap Sasuke dengan suara meninggi. Ia bahkan mengeraskan suaranya sehingga bekas jahitan di perutnya terasa seperti tertarik.
Sakura terkejut dan ia merasa heran. Kenapa lelaki itu mengusirnya? Padahal ia tidak melakukan apapun.
Sakura merasa sangat emosi dan ia ingin balas berteriak. Dasar lelaki tidak tahu diuntung. Sudah bagus ia meluangkan waktu dan uang untuk berkunjung dan membelikan makanan. Namun reaksi lelaki itu malah seperti ini.
"Oke. Tidak perlu mengatakannya untuk kali ketiga. Aku pasti akan pergi," ucap Sakura sambil meletakkan makanan yang ia bawa diatas nakas.
Sakura segera berbalik. Ia merasa dirinya benar-benar tolol. Ia menyesal sempat bersimpati pada lelaki keterlaluan begini.
"Sakura."
Sakura baru berjalan satu langkah dan ia segera menoleh, "Apa lagi?"
Sasuke terdiam. Perasaannya benar-benar kacau saat ini. Ia bahkan refleks memanggil wanita itu dan sesudahnya kebingungan mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
"Kenapa kau tak membiarkanku mati saja?"
Sakura merasa benar-benar jengkel. Apa yang dipikirkan lelaki itu hingga bertanya seperti ini, sih?
"Apa menurutmu aku akan membiarkan orang yang sekarat mati begitu saja tanpa melakukan apapun? Kalau aku sampai tak menolongmu dan kau menjadi arwah penasaran karena menyesal, aku pasti akan sangat terbebani. Lagipula nanti Shion-chan akan kehiangan teman main."
"Bukan urusanmu."
"Kau!" Sakura mendengus jengkel. "Benar-benar, deh. Aku memperhatikanmu sebagai sesama manusia, bukan bermaksud aneh. Lagipula Naruto juga sangat mengkhawatirkanmu hingga sering membahasmu ketika bersamaku. Aku juga khawatir padamu."
Sasuke tak mengira kalau Sakura bisa memperhatikannya sampai seperti itu. Padahal tindakannya pada Sakura juga kasar. Bahkan kata pertama yang ia ucapkan setelah sadar adalah pengusiran pada wanita itu.
"Arigatou," ucap Sasuke dengan suara pelan.
Sakura terdiam sesaat sebelum ia mengangguk dan tersenyum.
"Kalau kau punya masalah, sebaiknya cerita saja pada seseorang. Berpikirlah dulu bgaimana dampaknya sebelum kau ingin bunuh diri. Aku khawatir melihat bossku begini."
Sasuke menyadari kalau Sakura sebetulnya adalah orang yang baik, hanya saja wanita itu agak temperamental. Ia takut Sakura menjadi terlalu dekat dengan nya dan hal-hal akan menyulitkan perasaan mereka berdua sehingga ia memutuskan untuk memperingati wanita itu.
"Jangan pedulikan aku. Menjauhlah dariku, Sakura. Aku-" Sasuke memutus ucapannya. Ia merasa ragu melanjutkannya, "-tidak stabil."
Sakura sudah tahu kalau Sasuke tidak stabil secara emosional. Namun ia malah ingin menjadi penopang bagi lelaki itu. Terlebih lagi ia merasa kalau lelaki itu kurang dukungan dari keluarga, padahal ia yakin sebetulnya lelaki itu sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya. Sakura mulai yakin dengan pemikirannya karena selama ia berkunjung ia tak pernah melihat keluarga Sasuke sekalipun setelah pertemuannya dengan Mikoto.
Sakura tak peduli kalau Sasuke akan merasa risih. Ia mendekati Sasuke dan berkata, "Memangnya kenapa kalau kau tidak stabil? Sebagai sesama manusia, aku akan tetap menolongmu kalau kau butuh bantuan."
"Aku sudah hancur, Sakura," ucap Sasuke dengan lirih. Ia mengucapkan apa yang ia ingin ia katakan tanpa peduli imejnya dan tak ingin menjelaskan apa maksudnya.
Sakura tak begitu mengerti apa maksud Sasuke dan ia tidak enak bertanya. Namun ia berpikir kalau 'hancur' yang dimaksud lelaki itu adalah reputasinya karena percobaan bunuh diri yang ia lakukan.
Tanpa berpikir panjang Sakura memeluk Sasuke dengan erat. Ia hanya berpikir kalau pelukannya bisa membuat Sasuke merasa nyaman karena ada seseorang yang mau merengkuhnya.
Sasuke benar-benar kaget dengan reaksi Sakura yang mendadak langsung memeluknya. Biasanya ia akan merasa risih dengan tindakan seperti ini, namun ia malah merasa nyaman kali ini.
Sasuke mengulurkan tangan dengan ragu dan membalas pelukan wanita itu. Ia masih mengingat semua ucapan Sakura yang didengarnya ketika ia masih belum sadar. Kata-kata itu terdengar seperti mimpi pada awalnya, namun kini ia yakin kalau ia tak sedang bermimpi.
Mungkinkah Sakura bisa menjadi penopang yang ia butuhkan?
-TBC-
Author's Note :
Selamat hari raya idul fitri bagi yg merayakan.
Buat yg mudik, semoga perjalanan mudik kalian lancar.
Oh ya, untuk chapter selanjutnya kemungkinan bakal di update beberapa hari lagi. Aku lagi pengen nyelesaiin fanfict request orang untuk sementara.
