If Loving You is Wrong, I Don't Want To Be Right
Genre : Drama/Romance
Disclaimer : Persona dan yang lain itu adalah punya ATLUS!
Synopsis : Perlukah sebuah alasan untuk mencintai seseorang? Ken x Minako.
Rating : T
Author note : Don't Like, Don't Read! OK?
BAB 12
REAL PEOPLE KNOW
.
Sebab waktu telah memburu.
Jangan menunggu kayu menjadi abu.
Kalau tak ingin sesal penuhi kalbu.
.
Hari perlahan berlalu, berganti seiring perputaran bumi dalam rotasinya selama dua puluh empat jam sehari. Diawali oleh pagi dengan sinar kuning keemasan mentari perlambang mulainya hari, dilanjutkan siang dengan langit biru lengkap dengan bergulung-gulung awan putih berenang di antara lautan angkasa. Sebelum kembali berganti oleh sore, lalu malam untuk kemudian kembali pada pagi dalam sebuah siklus kehidupan. Waktu, begitu orang senantiasa menyebutnya. Dengan beragam sebutan, namun maknanya tetaplah sama. Beragam cara bisa dihabiskan dalam kekosongan waktu. Berbagai kejadian dapat terjadi sewaktu-waktu. Siapa kiranya bisa menduga waktu? Peramal terbaik, tentu bukan. Dukun, shaman, ahli nujum? Sejarah telah memberikan jawaban dengan fakta. Waktu adalah liar, tanpa prediksi juga tiada pertanda.
Layaknya kala itu. Saat hari telah berganti petang, ketika langit tengah bersemburat merah semerah-merahnya merah. Bak darah tertumpah warnai lembayung senja selaku latar belakang bagi hutan-hutan beton kota yang mulai bermandi cahaya seiring kian redupnya rona cahaya matahari di ufuk barat. Tandai bumi agar bersiap menyambut malam bertabur bintang dengan sinar perak rembulan penghias angkasa manakala sebuah televisi di suatu ruangan menyiarkan berita sore. Berikan paparan berbagai informasi perkembangan dunia terkini demi kepentingan khalayak. Mulai dari Timur Tengah yang masih bergejolak, perkembangan seputar Fukushima, dan gelombang demonstrasi anti kekaisaran demi sebuah republik yang masih berlanjut.
Tiada variasi berarti memang sebab semua itu hanyalah lanjutan dari berita-berita yang lalu. Namun, saat berita berikutnya beri informasi terkini perihal kejahatan remaja. Kelihatan jelas jika warta tersebut cukup mendapat momentum di mata para pemirsanya dalam lokasi berbeda-beda. Lebih-lebih saat pewarta berita pria dari balik layar kaca tersebut mulai menyiarkan sebuah cuplikan wawancara dengan salah seorang korban kenakalan remaja bernama Hidetoshi Odagiri. Yang tampil di muka publik dalam suatu konferensi pers (atau setidaknya hal serupa) dalam keadaan babak belur, berantakan hingga penonton mampu menggelengkan kepala seolah berkata, "Astaga, parah sekali," terlepas penonton setuju maupun tidak. Tak peduli pemirsa benci maupun tidak pada responden.
Porsi tayang yang besar ditambah jam muncul serta pemberitaan media cetak. Apalah kiranya ada hasil lain selain fenomena hebat? Berita hangat sarat perhatian? Ragam informasi penuh justifikasi. Masyarakat selaku korban dengan remaja, khususnya seorang Ken Amada sebagai banditnya. Mengundang opini serta pendapat bernada mengecam untuk tertuju pada sosok pacar Arisato junior selaku simbol remaja dewasa ini.
Seluruh Jepang tentu sudah tahu.
Dunia sebentar lagi.
Ketika Minato menatap secarik kertas pemberian Naoto, sesaat ponselnya berdering. Alihkan sedikit perhatian guna menjawab. Dengan Yukari sebagai pemanggilnya. Ia-pun lalu menjawab selagi di sebelahnya, sosok Ryoji Mochizuki telah memandang sebuah gedung seberang jalan dengan tulisan kanji berbunyi biro hukum terpampang pada kacanya yang bening.
"Ya, aku tahu itu, Yukari," ujar Minato, "Oleh sebab itu, sekarang kami berdua sedang berusaha." Ia lantas mengamati lampu merah persimpangan jalan di muka, "Oke, tenang saja. Nanti perkembangannya akan kuberitahu. Sampai nanti"
Sebelum memutuskan sambungan, sebelum lampu berubah. Indikasikan penyeberangan mungkin dilakukan. Beri giliran pejalan kaki 'tuk menyeberang selagi mobil menanti giliran.
Kuharap, bantuan Naoto ini memang berguna. Ujarnya dalam hati seraya menyimpan kembali kertas tersebut untuk kesekian kalinya sejak berpindah tangan. Juga, ia harap upaya ini tak sia-sia belaka. Karena waktu sendiri mulai berpacu memburu, jadwal harus diburu. Total hanya selang dua minggu sebelum Minato pergi keluar mengurus tender serta satu minggu persiapan untuk itu.
Profesionalisme dipertaruhkan.
Harapan masih diperjuangkan.
Dalam tenggat terbatas, masalah ini harus diselesaikan.
Tak lama berselang, mereka-pun akhirnya masuk dalam bangunan. Menuju sebuah gedung seberang jalan, lokasi tempat tulisan kanji biro hukum terpampang pada jendela maupun daftar perusahaan di dekat pintu masuknya. Pisahkan diri dari kerumunan guna masuk ke kebutuhan. Sayup-sayup hiruk pikuk keramaian stasiun kereta di luar memudar. Berganti oleh sepi dengan hanya beberapa orang bercakap, bercengkrama dan bekerja.
Adapun sesuai dengan petunjuk papan daftar perusahaan (atau penghuni), biro hukum Tani Jiro and Partners terletak di lantai dua gedung kecil tersebut, yang total ketinggiannya hanya mencapai lima lantai. Kecil akan tetapi seperti perkataan Naoto Shirogane saat mendeskripsikan tempat ini. Bangunan tempat mereka ada sekarang sangat strategis. Terletak di depan (bahkan persis) stasiun kereta Shibuya-eki yang notabene termasuk satu dari empat stasiun kereta tersibuk negeri matahari itu, bangunan persegi panjang vertikal tersebut sekilas nampak seolah cuma sebagai salah satu struktur arsitek tua kota tanpa daya tarik sendiri kecuali saksi bisu perubahan zaman. Namun saat kau keluar dari pintu stasiun, kau akan langsung menjumpainya di depan mata. Posisinya yang dekat dengan lampu merah jadikan akses ke dalam maupun keluar bukan perkara besar. Lebih-lebih kalau mengingat posisinya yang relatif di tengah kota.
Yah, sepertinya bukan tipikal biro hukum kacangan memang.
Tapi siapa tahu? Di dekat Orpheus Tower saja banyak penipu-penipu berkeliaran dengan kedok perkantoran daerah prestisius. Mulai dari agen properti gadungan, rentenir, bank gelap, asuransi palsu, hingga penjual obat palsu. Dengan janji manis di awal, nestapa jadi akhiran. Ibarat motto perusahaan asuransi: untuk premi kami ada, untuk klaim kami tiada.
Namun untuk saat ini, Minato serta Ryoji sadar akan kekurangan posisi mereka, lawan mereka serta waktu yang tersedia. Banyak pertimbangan dan ragu bertindak maka kerunyaman situasi 'kan dipetik selaku hasil.
.
"Bagaimana detail kejadian yang menimpa bapak hingga anda harus mengalami hal seperti ini?"
"Jujur, saya tidak tahu persis apa kesalahan saya waktu itu sampai harus mengalami pemukulan seperti ini. Padahal saya hanya berniat menyapa salah seorang bawahan saya waktu yang secara tidak sengaja saya dan teman saya jumpai sepulang kerja. Bercanda dan tahu-tahu saja pemuda itu menyerang saya hingga seperti ini."
.
Sesampainya di lantai dua dan seperti tamu(alias calon klien) pada umumnya. Mereka lalu membuka pintu untuk kemudian disambut oleh seorang resepsionis(atau setidak-tidaknya merangkap peran demikian) dengan pertanyaan formal sekadar basa-basi tetapi perlu 'tuk menegaskan maksud kedatangan.
"Selamat datang bapak, ada yang bisa kami bantu?"
"Kami ingin menemui Pak Seta," jawab Minato seraya menyerahkan kertas dari Naoto pada lawan bicara sesuai dengan petunjuk saudara perempuannya itu.
.
"Jadi, anda sama sekali tidak berbuat apapun tapi tahu-tahu langsung dipukul begitu saja oleh pelaku?"
"Tidak, tidak sama sekali. Saya bahkan bingung saat pemukulan itu terjadi pada saya. Apa salahnya seseorang bercengkrama? Saya tidak mengenal dia. Apakah ia merasa dirinya cukup dewasa karena memacari wanita yang jauh lebih tua darinya? Siapa yang tahu? Bisa saja dia itu pelaku gyaku enjo-kosai, tapi apalah kiranya kapasitas saya dalam menjawab? Saya hanya mengutarakan apa yang menimpa diri saya, bukan hal-hal di luar kewenangan saya. Lebih-lebih soal fakta hukum. Biarlah pengadilan nanti bekerja sebab fakta hukum itu-kan tidak bisa katanya-katanya."
.
Untuk sesaat, sang resepsionis mengamati kertas itu sebelum kembali berkata, "Tunggu sebentar," dan berjalan masuk ke sebuah ruangan usai mempersilahkan kedua tamu menunggu di tempat duduk yang telah disediakan. Tinggalkan Minato dan Ryoji dalam penantian sejenak. Ketika tak lama kemudian, sang resepsionis mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan bersangkutan, dimana orang yang dimaksud tengah menanti di dalam. Terduduk pada sebuah kursi kerja dengan tulisan "Souji Seta" terpampang di atas meja kerja.
.
"Kalau begitu apa yang anda harapkan dengan semua ini, pak?"
"Saya hanya berharap karena kasus ini telah saya limpahkan pada lembaga pengadilan agar kasus ini dapat berjalan dengan baik. Serta supaya majelis hakim nanti mampu memberi putusan yang seadil-adilnya. Kita sudah tidak bisa lagi membiarkan barbarisme macam ini berlangsung di masyarakat. Kita adalah pembayar pajak bukan? Oleh karena itu saya hanya meminta hak saya untuk dilindungi, cuma itu."
.
"Apa kalian kemari atas rekomendasi Shirogane?" tanya orang itu dalam nada bicara cukup akrab pada Minato serta Ryoji, yang dibalas oleh anggukan kepala sang pria berambut biru untuk kemudian dilanjutkan pada serangkaian pembicaraan ramah-tamah selaku pembuka dengan perkenalan sebagai awalannya. Memang benar, pria itu adalah Souji Seta. Pengacara muda dan memang benar apabila dilihat dari segi usia juga pin yang dikenakannya, tampak jelas kalau pria berambut abu-abu tersebut adalah benar seorang advokat.
Percakapan kemudian terus berlangsung dan mulai mengerucut pada topik masalah, dengan kalimat "Sebenarnya ada masalah apa?" sebagai gerbang pembuka. Berikan celah serta peluang bagi baik Minato maupun Ryoji untuk mulai menjelaskan apa yang terjadi sejauh pengetahuan mereka. Bahwa salah seorang dari mereka memiliki seorang adik angkat bernama Ken Amada yang masih berusia bangku SMA. Bahwa Ken tinggal bersama walinya dan kini tengah tersandung kasus pemukulan sehingga harus berakhir di rumah tahanan dengan status pesakitan menanti pada akhirnya.
.
"Untuk selanjutnya, biar pengacara saya saja yang memberi penjelasan."
"Tapi, pak so-"
"Maaf, tapi jujur keadaan saya sekarang masih belum cukup memungkinkan untuk berlama-lama dengan kalian, permisi."
.
Begitulah kiranya segala penjelasan terucap mulai mengungkap apa-apa saja yang perlu untuk diketahui. Bergulir, bergulir dan menggelinding sampai akhirnya sang pengacara sampai pada kalimat.
"Jadi begitu... Dan kini media massa melakukan blow up terhadap kejadian ini?"
"Ya, Seta-san. Padahal saya yakin adik saya itu sama sekali tidak akan melakukan hal itu. Kalaupun ia sampai melakukannya, saya yakin pasti ada alasan." ujar Ryoji, "Beberapa dari media massa itu bahkan terkesan sangat menyudutkan dia, saya takut masa depannya akan rusak. Padahal ia masih begitu muda!"
Souji lalu kembali terdiam sejenak.
.
"Mohon saudara-saudara wartawan sekalian tenang sejenak dan hargai kondisi klien saya yang masih terguncang. Jika ada pertanyaan, silahkan diutarakan pada saya dalam kapasitas saya sebagai pengacara."
.
"Saya mohon, Seta-san," Minato menambahkan, "Terlalu dini bagi seseorang seperti adik teman saya ini untuk dihadapkan pada kasus yang telah diekspos besar-besaran tanpa memperhitungkan masa depannya. Dia masih muda! Juga belum pernah tersandung kejahatan remaja apapun. Ia bahkan juga tidak pernah membuat keributan di sekolahnya."
Hening kembali.
Tetapi gerakan tangan sang pengacara masih bekerja mengguratkan huruf-huruf demi sebuah kata penyusun kalimat berisi kumpulan poin-poin penting untuk dijadikan pedoman awal. Dasar pengambilan keputusan berikutnya. Sebab layaknya kasus lain, fakta hukum haruslah dapat dipisahkan dari fakta non-hukum demi menjaga netralitas pembelaan agar diharap keadilan mampu untuk hadir seobjektif mungkin. Terutama jika pelaku dalam hal ini adalah seorang remaja dengan masa depan yang masih panjang. Kalau memang benar ia adalah pelaku-nya, tentu sudah jadi resiko perbuatan karena tiada hukuman tanpa kesalahan. Hanya saja bagaimana jika orang yang bersangkutan sungguh tiada melakukan? Tentunya siapapun juga tak akan sudi berurusan dengan pengadilan selaku terdakwa, karena meskipun buku-buku teori hukum menjelaskan rehabilitasi nama baik dapat dilakukan. Adakah kiranya jaminan masyarakat tidak akan menatapnya dengan tatapan dingin? Lebih-lebih kalau sampai hubungan pelaku dengan pacar yang jauh lebih tua terekspos media (baik Minato maupun Ryoji tidak mengatakan hal ini, begitu pula dengan Souji yang tidak tahu menahu), garansi macam apa mampu diberikan kalau masyarakat tidak akan memandangnya sebagai makhluk hina pelaku penyimpangan sosial dimana budaya patriarkhi(garis keturunan ayah) masih meraja walau kesetaraan gender konon telah berkumandang lama di negeri itu?
Asal tahu saja, kondisi sosial masyarakat demikian berkecenderungan untuk tidak memberikan pandangan setara terhadap kaum hawa. Pria boleh-boleh saja menikahi wanita dengan usia jauh dibawahnya, selingkuh, bersenang-senang di kawasan "lampu merah", bahkan sampai memandang rendah lawan jenis dalam bentuk acara-acara televisi yang tak ubahnya pertunjukkan kurang ajar seolah wanita adalah benda semata; sedangkan para wanitanya masih dianggap tabu untuk melakukan hal-hal tertentu seperti pacaran dengan pria berusia jauh lebih muda.
Naif? Memang! Juga munafik.
Namun inilah dunia, tempat dimana detail lebih mendapat tempat ketimbang inti kehidupan itu sendiri. Ibarat sebuah lukisan wajah yang fokus penggambaran pada hidung namun lupa akan muka secara keseluruhan. Laksana sebuah lukisan kepala dengan fokus di mulut namun lalai membuat kepala. Kemerosotan moral senantiasa didengung-dengungkan, tapi mereka lupa apa dan mengapa moral bisa berubah. Agama! Begitu mereka mempromosikan di sana-sini, padahal apalah beda agama dengan obat? Perzinahan dipergunjingkan; korupsi, narkoba serta perdagangan orang dilupakan. Sama halnya dengan perbedaan cara pandang, hidup dan prinsip. Kemana mata juga hati mereka semua! Oh! Alangkah ironisnya.
Tapi lagi-lagi, inilah dunia.
Tempat manusia lupa akan dirinya sebagai manusia.
Sang pengacara kembali mengingat-ngingat dan memahami segenap penjelasan dari dua orang di depan mata. Memastikan tidak ada poin yang terlewat, lantas memanggil resepsionis yang sebenarnya adalah asisten pengacara sebelum akhirnya berkata.
"Tolong kau buat surat kuasa khusus pelimpahan wewenang selaku kuasa hukum tersangka," pada sang asisten, lalu kalimat. "Besok, aku akan menemui pelaku untuk meminta keterangan lebih lanjut soal ini," kepada kedua Minato dan Ryoji. Tanda kesediaan seorang pengacara bernama Souji Seta untuk membantu dalam mengatasi kemelut deraan sarat problematika kasus pemukulan. Merangkap kata terakhir sebelum kalimat percakapan terakhir terkait kontak sudahi pertemuan guna mengirim kembali masing-masing orang ke kegiatannya sendiri-sendiri.
.
TBC
.
Sedikit Komentaar :
1. Terima kasih untuk para pembaca serta reviewer yang telah bersedia bercape-lelah dalam menikmati (atau setidaknya bersedia menikmati) cerita ini. Tanpa dukungan kalian bab ini nggak akan pernah ada.
2. Big thanks pula untuk buku hukum + filsafat di kamar, metro tv karena pemberitaan kasus Nazaruddin, tayangan Jakarta Lawyers Club, juga buku-buku ilmu sosial di laci. Jika tidak ada, susah cari referensinya.
3. Untuk dipahami bahwa pengacara di Jepang dapat dikenali dari pin yang digunakan selama menjalani profesi. Adapun warna pin tersebut menandakan lama praktik pengacara tersebut di bidang hukum (apakah 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun atau 10 tahun)
4. Perlu diingat, saya bukan seorang feminis. Tapi paragraf bak pendapat pada salah satu bagian cerita memang didasarkan pada argumen aktivis feminisme Jepang terhadap praktik enjo-kosai (perlu diingat pula, saya juga tidak menganjurkan praktik ini dilakukan, serius) yang saya coba kembangkan dengan memakai mind-set yang ada.
5. Maaf kalau komentaar-nya kepanjangan 'till the next chapt and GOOD LUCK!
.
.
.
.
V
