Luhan tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang. Ia lebih tidak mengerti untuk melakukan apa sekarang. Pandangannya tertuju pada helikopter yang melayang tinggi diatas sana. Kemudian kepalanya menoleh, menatap puluhan orang yang heboh dengan kedatang helikopter, terlebih lagi dengan kepergian Yifan yang membawa mantan kekasihnya.
Pemuda manis itu menunduk, melihati jari manisnya yang sudah terpasang cincin pertunangan dirinya dengan Yifan.
Ini yang aneh.
Sangat aneh.
Luhan tidak merasakan apapun. Ia tidak merasa kecewa, sakit ataupun pedih. Hatinya lebih mengarah pada arah ... lega? Luhan tidak mengerti ini semua. Apa maksudnya ini? Bukankah ia mencintai Yifan? Namun mengapa hatinya tidak mengatakan sesuatu tentang hal yang baru saja terjadi?
"Luhan! Lu! Kau baik-baik saja, sayang?" Ibu Luhan berlari, mendatangi putranya dan segera memeluknya. Dibelakangnya, ada Ayahnya juga kedua orang tua Yifan.
"Ya Tuhan ... aku tidak tahu apa yang harus kukatan, Ji Fei ... aku benar-benar meminta maaf atas segalanya. Sikap Yifan dan juga kejadian di pertunangan ini ... aku benar-benar meminta maaf, Ji Fei, Yan Yang," Ayah Yifan berseru, raut wajahnya menyirat antara murka maupun malu.
Ayah Luhan tersenyum, walupun juga merasa kecewa atas sikap Yifan, ia harus berpikir dingin kali ini. "Tidak perlu meminta maaf ... mungkin Yifan belum siap menerima pertunangan ini. Kita bisa menentukan kembali tanggal per-,"
"Papa!"
Teriakan Luhan membuat keempat orang tersebut menoleh padanya. Pemuda manis itu menelan ludahnya, menyiapkan kata-kata yang akan ia ucapkan. "Mama,"
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Kumohon ...
.. –Hentikan perjodohan ini .."
AUTOMNE
Chapter Thirteen
Rated : T
Cast : Huang Zitao, Wu Yifan, Oh Sehun, Xi Luhan, Qing Zhu, Suho, Chanyeol, Kai and others
Warning : YAOI! With the babies TYPO!
DON'T LIKE, DON'T READ!
NO SIDERS!
.
.
Just ENJOY it while reading this Fic!
Hope you like it~
.
Diam. Hanya keheningan yang dapat Zitao berikan. Ia tidak mengerti. Ia bingung. Pusing akan segalanya yang terlalu tiba-tiba. Tubuhnya seakan tidak bisa bergerak, dan rasanya pita suaranya putus, tidak tahu harus mengatakan apa.
Mantan kekasihnya, Yifan, tiba-tiba saja membawanya naik kedalam sebuah helikopter.
"Zitao,"—si cantik tahu benar suara siapa ini. Zitao menoleh pelan, tidak terkejut mendapati Suho yang berada didepannya bersama Chanyeol yang mengambil kendali untuk menerbangkan helikopter. "Kau baik-baik saja?"
Zitao tidak tahu harus menjawab apa. Ia juga tidak mengerti harus mengatakan apa. Ia bingung. Di satu sisi ia baik-baik saja, namun di sisi lain ia merasa kalut. Takut akan kekecewaan dari Sehun yang akan didapatkannya dan sedikit gembira saat tidak harus menyaksikan Luhan memasangkan cincin pertunangannya pada Yifan. Pemuda itu diam, larut dalam pikirannya.
"Zi,"—kali ini, Zitao tidak mendongak pada asal suara. Sebuah tangan hinggap di pipinya, mengusapnya dengan begitu lembut. Namun ia diam saja. Melirik pun tidak. "Zitao .. aku ..."
Tes!
Sebulir kristal bening turun dari manik mata Zitao. Ia menangis, dan itu membuat Yifan terdiam. Tangannya perlahan-lahan mundur, memilih untuk tidak mengganggu pujaan hatinya. Sejujurnya pun, Yifan tidak mengerti. Mengapa Zitao menangis? Dan mengapa dirinya harus melakukan hal serumit ini bahkan saat hari pertunangannya?
Helikopter itu terbang mundur perlahan, menuju tempat yang akan didaratinya sekarang. Chanyeol dengan ahli mendaratkan helikopter itu diatas atap bangunan sebuah rumah sakit. Yang dikelola sendiri oleh Ibu Yifan. Chanyeol dan Suho menoleh kebelakang.
"Selanjutnya, kuserahkan padamu, bung!" Chanyeol memukul pelan lengan Yifan, ia sedikit kebingungan saat melihat Zitao memandang lurus dengan tatapan kosong.
Suho tersenyum getir, "Kuatkan dirimu. Dan, jangan menangis, Zitao,"—pemuda itu mengusap air mata Zitao yang semakin turun. Kemudian, mereka berdua—Suho dan Chanyeol—turun dari sang mesin terbang, membiarkan Yifan mengendalikan helikopter dan Zitao duduk didepan.
Suho tersenyum tipis saat helikopter itu melayang tinggi, meninggalkan dirinya bersama Chanyeol. Sedangkan Chanyeol melambaikan tangannya, entah sebagai tanda perpisahan untuk siapa.
"Chanyeol,"
Pemuda yang dipanggil menoleh, "Ya?"
"Apakah Yifan ... akan berhasil?"
Chanyeol menghela napasnya, "... Zitao .. menangis tadi,"
"Aku takut ini tak akan berhasil, Chanyeol,"
Chanyeol tersenyum, "Jangan pesimis dulu,
.. –Yifan yang kukenal tidak mungkin kalah secepat itu,"
.
.
.
"Kurang ajar!"
Ini sudah sekian kalinya Sehun mengucapkan sumpah serapah. Tubuhnya memanas dan ia tidak berhenti menghancurkan barang-barang yang ada disekitarnya. Gelas, meja, cangkir dan bahkan ia mulai membanting kursi. Kai yang sedari tadi memandanginya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pikir Sehun mulai gila sekarang.
"Easy, dude, Yifan tidak akan pergi keluar China dengan hanya sebuah helikopter kecil," seru Kai, meneguk champagne miliknya.
Sehun menghembuskan nafas yang tak wajar, kemudian menendang sebuah meja hingga jatuh terbalik. "Dia menculik kekasihku!"
Alis Kai naik sebelah, matanya lalu menjalar, memperhatikan seisi ruangan gedung. Yap, sekarang hanya ada dirinya dengan Sehun disana. "Kau tidak mau pulang?"
"Kai!"
Dengan cepat tangan Kai mengadah keatas, "Wow, wow, tenang, aku hanya menanyakannya. Kalau kau tidak mau pulang, tidak apa-apa," ucapnya.
Sehun mendecih, ia mulai menghancurkan beberapa gelas yang berisi champagne disana dan mulai menghamburkan makanan yang tersedia. Dirinya mulai tidak terkendali saat menjatuhkan seluruh meja yang berisi hidangan kelas atas disana. Kai memutar bola matanya malas, pemuda albino itu mulai lagi dengan aksi 'pemberontak'-nya.
"Tenangkan dirimu," ucap Kai, menahan Sehun yang baru saja akan menendang sebuah kursi. "Kita tunggu saja Yifan, dan setelahnya kau boleh mengamuk padanya, bukan pada benda-benda tak bersalah ini," lanjutnya.
Sehun menyeringai, "Sejak kapan kau mulai religius, Kim Kai?"
Pemuda yang disebutkan marganya itu berdecak kesal, "Sudah selesai ngamuknya? Sekarang kau ingin membuatku kesal, huh?"
"Kita tidak akan pulang sebelum Zitao datang," seru Sehun, membuat Kai menganga mendengarnya.
"Hei! Kau gila? Aku harus bertemu dengan kekasihku!"
"Persetan! Kekasihmu baik-baik saja dengan orang tua dan adik mungilnya! Sedangkan kekasihku diculik!"
Ingin rasanya Kai menghantam Sehun, kalau tidak ingat bahwa Sehun itu sahabat dan juga bekas tunangannya. Dengan penuh kesabaran, ia menghembuskan napas perlahan. "Baiklah, aku mengikutimu,"
"Good boy ..." Sehun berujar dengan seringainya, mengusak rambut Kai yang membuat pemuda berkulit tan itu semakin muak.
.
.
Tidak ada percakapan. Tidak ada pembicaraan. Tidak ada pelepasan rindu diantara keduanya. Baik Yifan maupun Zitao berhasil menahan diri untuk memulai duluan. Yifan berpura-pura fokus mengendalikan helikopternya, sedangkan Zitao hanya diam saja, tangisannya sudah berhenti dan dirinya hanya memandang kosong.
Helikopter itu berhenti tepat disebuah lapangan atap sebuah gedung, Yifan melepaskan sabuk pengaman Zitao dan juga dirinya, lalu pemuda tampan itu berjalan pelan, menuntun Zitao untuk keluar dari helikopter. Dan kabar baiknya, Zitao menurut.
Dimana ada kabar baik, tentu pasti ada kabar buruk.
Zitao tidak ingin melangkah selangkah pun dari tempatnya berdiri.
"... Gege ... aku tidak bisa begini terus .." Zitao mulai berbicara.
Yifan tersenyum, ia tersenyum dan menatap dalam sang peri hati. Pemuda yang ditatapnya menunduk, "Gege .. jangan menatapku seperti itu ..."
"Lanjutkan saja ucapanmu,"
Zitao menghembuskan napas berat, mengerjapkan matanya lalu menatap balik mata Yifan. Berusaha berani dengan tatapan yang Yifan layangkan padanya. "Kau harusnya bertunangan hari ini, dan seharusnya ini tidak usah terjadi ... dan ini ... semua salah ... kau .. harus melupakanku dan menerima Luhan seutuhnya. Begitu pun dengan diriku. Aku harus melupakanmu, dan menyimpanmu sebagai memori yang indah, lalu memulai hidup baru bersama Sehun,"
Yifan masih tersenyum disana, menyamak perkataan yang keluar dari bibir peach Zitao. "Ini belum terlambat dan kita masih bisa memperbaikinya.. tenang saja, aku yang akan membicarakannya dengan Luhan dan Sehun, asalkan gege ingin kembali, itu sudah cukup-,"
Cup~
Kecupan lembut mendarat dibibir Zitao, pemuda itu terkejut bukan main. Namun seakan tubuhnya dikunci, ia tidak bisa bergerak. Semuanya mulai buram didalam pikirannya dan kelopak matanya mulai tertutup. Yang Zitao rasakan sekarang adalah .. –
—Kerinduannya pada Yifan.
Yifan melepaskan kecupan itu, membiarkan Zitao membuka kelopak matanya, walaupun pemuda tampan itu tidak memutuskan jarak antara dirinya dengan Zitao. Mereka terdiam. Sama-sama merasakan hembusan napas masing-masing. Tangan Yifan menangkup kedua pipi si cantik.
"... Kurasa ... aku ingin memulai hidupku denganmu, Huang,"
DEG!
Terkejut. Mata Zitao membelalak mendengar ucapan Yifan. Dengan cepat ia menoleh dan menatapi sekelilingnya.
... Tidak ... mungkin ...
"G-Gege ... i-ini .. g-gege," ucapan terbata-bata dari bibir Zitao kembali membuat Yifan tersenyum.
"Iya, Zitao ... ini tempat kita pertama kali bertemu,"
.
.
Chanyeol tidak henti-hentinya memotret keadaan disekelilingnya. Semuanya sangat indah dimatanya dan hobinya sebaga seorang fotografer mulai tak terkendali. Ia memotret kesana sini, menikmati keindahan malam dan lampu warna-warni disana.
Zitao dan Sehun yang tepat berada didepannya tersenyum saat perahu akan bergerak. Namun keduanya mulai terheran saat mata Chanyeol mulai membelalak. Entah apa yang dilihatnya, yang pasti pemuda itu sudah berteriak kencang, memanggil seseorang.
"Park! Kau ribut!" seru Sehun tak suka.
Zitao terkikik geli, "Mungkin Chanyeol hyung terlalu semangat, hun. Disini sangat indah,"
"Dan mungkin seharusnya kita tidak usah bertemu dengan si bodoh ini, Zitao. Mungkin lebih baik kita pergi ke bioskop daripada menghabiskan malam di 'Sungai Mutiara' bersama si bo-,"
"Hei, hei! Aku ingin mengenalkan seseorang pada kalian!" pekik Chanyeol.
"Eh? Siapa hyung?"
Sehun mendelik, "Paling-paling orang yang sama menyebalkannya dengan dirinya,"
Seseorang dengan tinggi yang hampir sama dengan Chanyeol, walaupun ia jauh lebih tinggi, datang menghampiri ketiga pemuda tersebut. Chanyeol menarik tangannya, hingga orang yang tak dikenal Zitao maupun Sehun itu duduk disampingnya.
"Kenalkan, kenalkan! Dia ini sahabatku!"
Pandangan keduanya bertemu.
"Wu Yifan,"—Pemuda itu mengucapkan namanya sembari menjulurkan tangannya. Sehun yang melihatnya hanya terdiam, menampilkan wajah datarnya, sedangkan Zitao tersenyum manis disana.
"Salam kenal, namaku Huang Zitao,"
Dan Yifan sudah takluk dengan senyuman itu.
.
"Huang Zitao?"
Pemuda cantik itu menoleh, tersenyum mendapati Yifan yang memanggil namanya. Zitao menoleh sebentar kearah Sehun dan Chanyeol yang mulai memanggilnya untuk segera pulang. "Sebentar!" teriaknya.
Zitao kembali tersenyum, "Ada apa?"
Yifan menggaruk tengkuknya, "Itu ... bolehkah aku meminta .. nomor ponselmu?"
Zitao tertawa pelan, "Tentu saja,"—pemuda cantik itu mengeluarkan handphone-nya dari dalam saku jaketnya. Namun sebelum ia sempat mengucapkan angka, sesuatu mulai membekap mulutnya.
Ciumannya dengan Yifan.
Zitao menutup matanya, merasakan rasa yang terus menggelitik pada sekujur tubuhnya. Disaat Yifan melepaskan ciuman mereka, Zitao menatapnya dengan tatapan kebingungan sekaligus malu. Rona merah mulai terlihat di pipi gembilnya dan ia bisa merasakan napas Yifan.
Yifan tersenyum tipis, menempelkan keningnya pada kening Zitao. "... Kurasa ... aku ingin memulai hidupku denganmu, Huang,"
Dan Zitao terhipnotis dengan ucapan tersebut.
.
.
"K-kenapa gege membawaku-,"
"Zi,"
Pemuda tampan itu berlutut, kepalanya mengadah pada Zitao yang terkejut dibuatnya. Yifan mengeluarkan sesuatu didalam saku jasnya.
Sebuah cincin.
"Gege .. apa ini?! Aku—tidak-,"
"Zitao .. –
.. –Maukah kau menikah denganku?"
"Ge—gege, apa yang kau katakan?" Zitao terkejut. Dilamar Yifan? Astaga, ini benar-benar membuatnya pusing setengah mati.
"Zi .. maukah kau hidup selamanya bersamaku?"
Zitao tidak tahu. Ia tidak mengerti walaupun paham apa yang dimaksudkan Yifan. Ia mencintai Yifan dan Yifan membalasnya dengan begitu tulus. Yang Zitao tahu sekarang adalah, dirinya dilamar oleh orang yang dicintainya dan dia menangis. "Hiks .. ukh, gege .. huhu .. ge .."
Yifan tersenyum. Ia tahu akan begini reaksi Zitao. Pemuda cantik itu sudah menangis tersedu-sedu dihadapannya. Tangan Zitao dengan pelan di genggam oleh Yifan. Dikecupnya tangan tersebut, membuat tangisan Zitao semakin keras. Pemuda itu mengadah, tersenyum pada Zitao, seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Yifan memasangkan cincin tersebut pada jari manis si cantik. Dan entah kenapa isakan Zitao semakin keras. Yifan bangkit, tersenyum menatapi Zitao yang menatapnya dengan uraian air mata. Dengan pelan, Yifan merengkuhnya, masuk kedalam pelukannya.
"Gege ... hiks ... gege .. huhuhu ..."—ia masih menangis. Dan hanya Yifan yang tahu apa penyebabnya.
Si tampan mengusap lembut surai hitam Zitao dalam pelukannya, sedangkan Zitao berusaha memberontak. Namun ia tak bisa. Seakan-akan tubuhnya sudah dilem oleh Yifan.
"G-gege .. hiks ..."
Yifan melepaskan pelukannya, kemudian menatap dalam paras sang pujaan hati. Dikecupnya kening Zitao dengan singkat, dan kembali menatap dalam kedua manik mata si cantik. Jari-jari Yifan sudah bergerak, mengusap pipi basah Zitao.
Pemuda tampan itu tersenyum, "Kukatakan sejujurnya, aku tidak bisa hidup tanpamu, Zi .. –Kita berdua ... dapat saling mencintai dengan manisnya.. tidak perlu tersakiti selamanya .. aku akan lebih mencintaimu, aku akan lebih menjagamu, Zi .. saat kau kesulitan dan menangis .. saat kau tersakiti .. kita akan merasakan sakit itu bersama .." sekali lagi, sekali lagi Yifan berhasil membuat Zitao mencintainya.
Pemuda tampan itu masih tersenyum, menghapus air mata Zitao dengan lembut, "Aku ingin .. hanya mencintaimu selamanya, Zi .. Kaulah orangnya. Kaulah orang yang kuharap akan berdiri disampingku saat pastur mengucapkan kalimatnya, dan kita akan menjawab 'Bersedia' ..." Yifan berhenti sejenak, menatap Zitao yang kini menggenggam tangannya. ".. Aku mencintaimu, selamanya, Zitao .. maka dari itu, menikahlah denganku ..."
Si cantik masih tersedu disana. Ia mencintai Yifan. Sungguh ia benar-benar mencintai Yifan. Harapannya dengan Yifan selalu sama. Hidup berdua hingga rambut mereka memutih, hingga kulit mereka keriput, hingga Zitao tak mampu lagi berjalan. Ia ingin hidup dengan cinta. Dan cintanya adalah Yifan. "Gege .. hiks .. a-aku-,"
"Kau tidak perlu menjawabnya .." gumam Yifan, mengusap pipi gembil yang basah itu, "Aku sudah tahu jawabanmu, Zitao ... dan mari kita jalani bersama,"
"G-gege ..." Zitao membenamkan wajahnya di bahu Yifan, hingga pemuda tampan itu mengecup puncak kepala sang pujaan hati.
"Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi ... aku mencintaimu, dan aku tidak akan pernah mengkhianatimu, Zitao .. percayalah padaku .. aku tidak ingin hubungan kita seperti ini terus-menerus. Aku merindukanmu, Zitao. Aku benar-benar merindukanmu," lagi, Yifan mengecup puncak kepala Zitao. "... Percayalah padaku, aku mencintaimu, Huang Zitao ..."
"Luhan, kita bisa membicarakan ini baik-baik tanpa menghentikan pertunanganmu dengan Yifan. Paman akan menghukumnya atas perilakunya, jadi perjodohanmu dengannya tak perlu batal," Ayah Yifan berusaha meyakinkan Luhan, dirinya shock saat mendengar sendiri Luhan ingin memutuskan perjodohannya dengan Yifan.
Pemuda manis itu menggeleng pelan, "Tak perlu, paman Bao Lei .. anda tidak perlu menghukum Yifan. Memang lebih baik perjodohan ini dibatalkan,"
"Luhan, pikirkanlah terlebih dahulu," Ibu Luhan menengahi perseturuan antara Luhan dan Ayah Yifan.
Gelengan kepala Luhan kembali terlihat, "Mama, aku sudah berapa kali memikirkannya dan kurasa ini memang benar, Ma. Aku ingin perjodohan ini dibatalkan,"
"Tapi-,"
"Aku sudah mencintai orang lain selain Yifan, Ma,"
Terkejutlah kedua orangtuanya dan juga orang tua Yifan. Terlebih Ibu Luhan, ia tidak menyangka anaknya akhirnya mengatakan hal seperti itu sejak ia mulai menyukai Yifan. "Luhan ..? kau yakin?"
Kali ini, Luhan mengangguk, "Iya, aku yakin Ma," Pemuda itu menoleh, menatap kedua orang tua Yifan, "Lagipula, Yifan juga tak mencintaiku,"
"Yifan menyukaimu, Luhan. Kau tidak perlu membatalkan perjodohan ini,"—Ayah Yifan masih saja bersikeras.
Luhan menghela napas, "Semua orang tahu jika ia tidak menyukaiku, paman Bao Lei ..."
Ayah Luhan berdiri, menggandeng putranya, "Baiklah, kurasa perjodohan ini batal, Bao Lei. Kita tidak bisa memaksakan kedua putra kita," serunya dengan tegas.
Ayah Yifan yang merasa tak terima, ikut berdiri, "Jangan seperti ini, Ji Fei. Bukankah Luhan dan Yifan sudah mengenal sejak lama?"
"Memang benar. Tapi kedua putra kita sama-sama tidak menginginkannya. Jadi, saya akan membatalkannya,"—ucapan final keluar sudah. Sementara Ayah Yifan terkejut, Luhan tersenyum penuh arti disana. Kini hatinya benar-benar merasa lebih lega dari apapun. Dan ternyata, ini yang sedari dulu menyiksanya.
.
Luhan keluar dari rumah Yifan, membawa kopernya serta barang-barangnya. Didepannya, berjalan kedua orang tuanya menuju mobil. Kakaknya yang sedari tadi memilih untuk diam, tersenyum cerah saat melihat kekasihnya datang menjemput.
"Kaaaii!"—Qing Zhu berlari sekencang mungkin dan segera memeluk kekasihnya.
Kai yang baru saja tiba, tersenyum dan membalas pelukan Qing Zhu. "Maaf lama," ucapnya.
Qing Zhu mengangguk, "Oiya, katanya tadi kau bersama Sehun. Dimana dia sekarang?"
Luhan terkejut begitu kakaknya mengucapkan nama Sehun. Dengan cepat ia berbalik, berjalan tergesa menuju dua manusia yang masih asyik bermesraan itu.
"Oh, dia sudah kuantar pulang dengan kekasihnya. Kena-,"
"Kai-ge! Kau mengenal Sehun?!"
Kai terkejut begitu melihat Luhan menerobos, melepaskan rangkulannya pada Qing Zhu. "Y-ya, memangnya kenapa? Kau kenal Sehun?"
Luhan mengangguk, "Iya! Bisakah gege mengirimkan alamatnya padaku? A-aku ingin bertemu dengannya!"
Qing Zhu menyeringai mendengar ucapan adiknya, "Aaah .. jangan-jangan orang yang kau maksud adalah Sehun! Benar kan?" bisiknya menggoda.
Wajah Luhan mulai memerah mendengarnya, "Uuuh, gege! Hentikan! Kau menyebalkan, tau!"
Kai terkekeh, "Nanti akan kukirim ke ponselmu. Tapi bukankah kita sudah akan pulang ke Canada?"
"Tidak secepat itu, ge!" Luhan mengedipkan matanya, kemudian ia berlari sekencang mungkin menuju orang tuanya. "Mama! Papa!"
Ibunya menoleh, "Ada apa, sayang?"
"Bisakah aku tinggal di China lebih lama lagi?"
"Eh? Kau mau tinggal dimana, sayang? Kita tidak punya tempat tinggal disini," seru Ibunya, sedikit terkejut mendengar pemintaan anaknya.
"Tenang saja,"—Kai datang menghampiri calon mertuanya juga adik iparnya, "Luhan bisa tinggal di apartemen lamaku. Aku punya apartemen di dekat sini,"
Luhan mengangguk setuju, "Itu benar, Ma! Kumohon, biarkan aku tinggal di China lebih lama lagi, Ma~!"
Ayah Luhan menghela napas, "Kau sudah dewasa, dan Papa yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri. Jadi, Papa akan mengizinkannya,"
Ibu Luhan nampak tak setuju, "Tapi bagaimana dengan kuliah Luhan?"
"Luhan bisa berkuliah disini, Ma! Kumohon Ma, izinkan Luhan tinggal lebih lama di Chinaa~!"
"Hhh, baiklah~ tapi berjanjilah pada Mama kau akan menjaga dirimu, okay?" ucap Ibunya, mengecup kening anak keduanya. "Mama menyayangimu. Dan Kai, tolong antar Luhan menuju apartemenmu, pastikan dia nyaman,"
"Aku juga menyayangi Mama, tapi tidak perlu seperti itu, Ma! Luhan sudah besar!" gerutu Luhan, sedikit malu karena terus dimanja oleh orang tuanya.
Ibunya tertawa, "Baiklah—baiklah, hati-hati, okay? Mama dan Papa pergi dulu,"—dan kemudian kedua orang tua itu masuk kedalam mobil mereka, meninggalkan Luhan dengan Kai dan Qing Zhu.
"Baiklah! Ayo kita berangkat!" pekik Luhan semangat.
Qing Zhu tertawa mengejek, "Ciee, yang semangat ketemu pujaan hati ..."
"Uuuh, GEGEEE!"—dan si manis kembali mengamuk dibuat sang kakak.
.
.
.
Kalut. Itu yang dirasakan oleh Zitao sekarang. Kedua tangannya mencengkram kuat surai kehitamannya sendiri, kepalanya menunduk menghadap lantai ubin berwarna cream tersebut. Sehun yang berada didepannya, menghela napas. Ia berhasil melayangkan sebuah tinjunya pada Yifan, dan dengan cepat membawa Zitao masuk kedalam mobil Kai.
Entah apa yang dilakukan Yifan pada Zitao, yang jelas perasaannya mulai tak enak saat ini. Daritadi ia berusaha bertanya pada Zitao, namun kekasihnya itu tidak menjawab pertanyaannya.
Sehun mengusap wajahnya kasar, ia pun berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol minuman dingin. "Zitao," ucapnya, menyodorkan minuman dingin tersebut. Zitao mendongak, menghela napas dan menerima minuman dingin itu, dengan cepat ia meneguknya.
"Matamu sembab. Kau habis menangis?" Sehun menempatkan diri, duduk disamping kekasihnya.
Zitao terdiam, menatap botol minuman dingin yang digenggamnya tersebut, " ... Aku baik-baik saja, Sehun ..."
"Kau tidak baik-baik saja! Apa yang Yifan lakukan padamu?! Dia benar-benar brengsek!"
"Dia tidak melakukan apa-apa padaku, Sehun ... aku baik-baik saja ..." Zitao menoleh, menghadap kearah yang berlawanan dengan Sehun, tidak menatap kekasihnya tersebut.
"Zitao, tatap aku! Apa yang Yifan lakukan padamu?!"
Zitao menoleh dan mendesah berat. Jari manis di tangan kirinya yang sedari tadi ia sembunyikan, ia perlihatkan pada Sehun. Dan terkejutlah pemuda bermarga Oh itu saat melihat jari manis kekasihnya. "Ia memasangkan sebuah cincin padaku," ucap Zitao lirih.
"A-apa?!" Sehun masih terkejut. "K-kau menerimanya?"
.
Mimpi buruk Sehun akan dimulai
.
"Iya ..."
.
Bersiaplah, Oh Sehun
.
.
.
Dan sekarang, biarkanlah kenyataan yang ber-acting untukmu
.
"... Kurasa .. lebih baik hubungan kita sampai disini ..."
.
.
.
TBC
Hai haiii :3 adakah yang masih ngingat ira :'3
Semuanya sehat2 gak nih? Semoga sehat selalu yaaa
Oke, ira gatau mau ngomong apa. Yang jelas, AUTOMNE akan segera berakhir kawan :'')~~ mungkin butuh beberapa chapt lagi, jadi pastikan kalian tetap membacanya yaa :") dan di chapter-chapter terakhir, ira pengen buat AUTOMNE jadi panjang XD
Oiya, ada reader yang nanya, qing zhu itu kyungsoo ya? Yaps, qing zhu itu nama cinanya kyungsoo :3
Balasan review chapt 12:
JungSooHee : "Hello~ wkwk no comment juga deh XD siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
Huang Zi Mei : "Hello~ kyaaa ira kangen atuh sama kamuu, my fancy readers :3 wkwk sehun emang gitu, tapi dia kapok di chapt ini :V Thanks yaa sudah review ;*"
celindazifan : "Hello~ hehehe kali ini tbc-nya keren gak? :3 semoga keren deh ya XD siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
annisakkamjong : "Hello~ ahahaha masih keren gak nih chapter kali ini? XD siip, ini sudah dilanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
huangzifanfan : "Hello~ wah makasih banyak atas pujianmu ya :3 wokeh, ini udah dilanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
Aiko Michishige : "Hello~ siip, ini udah dilanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
ndadinda : "Hello~ ahaha iyaa makasih banyak atas ucapan gws-nya :3 wkwk, masih greget gak sama chapt kali ini? XD Thanks yaa sudah review ;*"
LVenge : "Hello~ wkwk ga kebayang ya lanjutannya kyk gini XD ciee greget sendiri ya? Ahahaha btw chapt ini masih gregetin gak? XD Thanks yaa sudah review ;*"
Zillian Huang : "Hello~ wah beneran nih ceritanya menegangkan? XD ira kira malah bikin greget loh ehehe XD okeh, ini sudah dilanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
Ammi Gummy : "Hello~ aduh maafkan ira yang tak bisa update kilat sesuai permintaanmu .. ira benar-benar minta maaf .. btw, sebagai permintaan maaf ira buat chapt kali ini lebih panjang :3 Thanks yaa sudah review ;*"
delightbaek : "Hello~ ahaha iya omnaga nih nyulik perawan Qingdao :v duh duh duh :v ehehe, siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
buttao : "Hello~ siip, ini udah lanjut kok :3 Thanks yaa sudah review ;*"
Kirei Thelittlethieves : "Hello~ wokeh, ini udah lanjut kok^^ Thanks yaa sudah review ;*"
Orangecuppie : "Hello~ ahaha udah nunggu lama ya? Maaf ya .. siip, ini udah lanjut kok. Makasih juga buat ucapan gws-nya. Thanks yaa sudah review ;*"
owe : "Hello~ tepat sekali! Luhan udah mupon di sini, yeey :3 Thanks yaa sudah review ;*"
BabyWolf Jonginnie'Kim : "Hello~ wkwk lagi gaada hunhan di chapt kali ini XD maafin ira yaa~ tapi syukur deh klo suka hunhan-nya :3 Thanks yaa sudah review ;*"
Jisane Kotao : "Hello~ wkwk iyaa Luhan udah jatuh hati nih sama abang albino XD siip, ini udah lanjut kok, walau nggak secepet harapanmu, maafkan ira ya :3 sebagai gantinya, chapter kali ini ira buat lebih panjang dari sebelumnya :3 semoga suka. Thanks yaa sudah review ;*"
yuikitamura91 : "Hello~ aha! This is my adorable readers! Maafkan ira yang lambat update-nya ya :3 sebagai gantinya, chapter kali ini lebih panjang :3 semoga suka yaa. Oiya, bagaimana dengan chapt kali ini? Greget gak? :v Thanks yaa sudah review ;*"
ang always : "Hello~ iyaa omnaga kan suka ngambil resiko gitu XD soal luhan, dia kayaknya udah berhasil mupon nih :3 chukkae luhaan :v siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
HUANGYUE : "Hello~ aa I miss you my beauty readers~! Heheh, untung aja tao gadimakan gitu ya sama sehun :3 wkwk iya nih luhan udah berhasil mupon dari omnaga XD aah, maafin ira atas keterlambatan updatenya ... sebagai gantinya, chapt kali ini lebih panjang, semoga suka yaa :3 Thanks yaa sudah review ;*"
Safitri676 : "Hello~ siip, ini udah lanjut kok wkwk. Reaksi sehun udah ada dichapt ini kan? XD Thanks yaa sudah review ;*"
anis l mufidah : "Hello~ wkwk, udah kejawab kan pertanyaannya? Siip ini udah lanjut kok :3 Thanks yaa sudah review ;*"
ajib4ff : "Hello~ jiejie~ wkwk iya jie kita ikut aja sama omnaga :v sekalian cuci mata gitu liat yang cakep2 :v oiya, gimana chapt kali ini jie? :'v Thanks yaa sudah review jie ;*"
yjima : "Hello~ ah iyaa, qing zhu itu nama cinanya kyungsoo :3 dan yeps, luhan udah mupon dari omnaga kea bang albino XD Thanks yaa sudah review ;*"
huangtaotaozi : "Hello~ ahaha iya makasih banyak atas ucapan gws-nya. Wah makasih banyak atas pujiannya XD siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
nurcahya : "Hello~ ahaha iyaa, luhan udah berhasil mupon disini XD kalo si albino, entahlah, Tanya saja pada rumput yang bergoyang :v XD siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
Varka HuangWu : "Hello~ wkwk maafin ira ya atas keterlambatan updatenyaa :3 ooh, maksudnya 'you-know-what-i-mean' itu hal2 yang berbau dengan sex gitu ... jadinya yah :v siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
exoel12 : "Hello~ ahaha iyaa zitao awalnya kecewa, dan selanjutnya,, jeng jeng jengg,, dia berubah pikiraaan :v wah makasih banyak atas ucapan gwsnya,dan maaf atas keterlambatan updatenya T-T Thanks yaa sudah review ;*"
luphbebz : "Hello, Chanyeol girlfriend :3~ wkwk iyaa perawan Beijing mah udah mupon atuh :v chukkaee :V siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review ;*"
MRS KittyTemong: "Hello~ hehehe iya thor, makasih banyak atas dukunganmu, ira tunggu ceritamu update yaa :3 Thanks yaa sudah review ;*"
putri ana 7399 : "Hello~ waduh, ira juga kangen sama kamu XD moment KT udah ada kok di chapt ini :3 siip, ini udah lanjut kok :3 Thanks yaa sudah review ;*"
BIG BIG EXTRA BIG THANKS buat yang udah nge-review fic AUTOMNE ini :)
BIG THANKS too for followers and favoriters :D Laff u so much ;)
Last, MIND TO REVIEW? :))
Sign,
.
.
blankRa09
