Previous Chapter

"Kau tahu jika aku mencintaimu, karena itu … maaf. Aku terpaksa melakukannya."

"Dia … meneleponku."

"Harusnya aku langsung datang ke rumahnya untuk memastikan jika dia baik-baik saja."

"Dasar gadis cengeng!"

.

.

.

.

"Karena kalian, Sakura jadi melupakanku."

"Kau GILA!"

"SASORIIIII!"

.

.

.

"Hentikan! Kumohon hentikan semua ini!"

"Tahu apa kau tentangku?"

"Tuhan, selamatkan aku!"

.

.

.

"Siapa yang melakukan ini?"

"Diam dan nikmati saja."

"Kau cari mati, Uchiha."

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Obsession©Tsukiyomi. A Kumiko

Genre : Romance/Mysteri/Crime

Rate : T+

Warning : OOC, AU, GaJe, Typo's

.

.

Enjoy This Chapter

And

Give Me Review

.

.

.

.

Bibir keduanya masih tetap saling memagut mesra. Melumat dan manghisap. Wajah keduanya sudah memerah karena ciuman panas yang mereka lakukan. Sakura berniat mengakhirinya namun lagi-lagi Sasuke memasukan lidahnya. Hanya satu yang membuat tidak nyaman akan keadaan ini adalah karena keduanya berada di atas tempat tidur. Tubuh pemuda itu memeluk erat tubuh mungil seorang gadis di bawahnya.

"Ehm!" dehem Kushina yang tengah menyenderkan punggungnya di samping pintu masuk kamar Sakura. Di kedua tangannya memegang sebuah nampan berisi mangkuk bubur dan segelas teh manis.

Dengan cepat Sasuke langsung bangkit dari atas tubuh Sakura dan duduk di tepi tempat tidur. Kedua tangannya berusaha secepat mungkin merapikan atasan kemeja sekolahnya yang kesemua kancingnya sudah terbuka. Juga merapikan rambut emo-nya yang sudah di tarik-tarik Sakura.

Hal yang sama pun di lakukan oleh Sakura, ia langsung duduk dan mengkancingnya dua kancing paling atas kemeja sekolahnya lalu merapikan rambutnya. Dan Sakura langsung menutup bawah kaki sampai pinggangnya dengan selimut tebal.

Kepala Sakura bergerak kikuk dan takut menatap wajah ibunya. Namun sebuah senyuman di wajah Kushina membuat tanda tanya besar di dalam kepalanya. Bukankah ia sudah berbuat salah? Tapi kenapa senyuman itu seolah mendukung perbuatan hal tadi.

"Cobalah makan bubur ini supaya kau ada tenaga," ucap Kushina dan menaruh nampan itu di atas meja kecil di samping Sakura.

Sakura melirik mangkuk berisi bubur itu kemudian kembali menatap wajah ibunya. Kushina segera duduk di hadapan Sakura dan mengelus pelan rambut anaknya. Jari-jarinya menyapu halus merapikan rambut Sakura yang masih terlihat berantakan. Lalu menyentuh pipinya dengan penuh kasih sayang. "Ibu sangat menyayangimu, Nak. Ibu selalu berharap kau mendapatkan kebahagian."

"Ibu, kenapa bicara seperti itu? Apa terjadi—"

Kushina cepat-cepat menggeleng dan menyuruh Sakura agar berhenti bicara dari tatapan mata. "Cepat makan buburnya selagi masih hangat," ucapnya dan beranjak berdiri. Sebelum benar-benar keluar, Kushina menatap wajah Sasuke dan Sasuke langsung menganggukkan kepalanya.

"Nak Sasuke, tolong bahagiakan Sakura," batin Kushina dan berlalu pergi dari kamar Sakura dengan menitikan air mata haru.

"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sakura pelan dan mengambil mangkuk bubur itu di atas meja. Ia baru saja akan menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya ketika tangan Sasuke langsung menghentikannya.

Sasuke juga merebut mangkuk buburnya dan langsung memakan bubur itu. "Aku lapar," ucapnya singkat tanpa memperdulikan pertanyaan Sakura barusan. Dan juga mengindahkan tatapan marah dari kekasihnya.

"Tapi aku juga lapar, Sasuke," bantah Sakura.

Tangan kanan Sasuke yang memegang sendok berisi bubur terjulur ke depan mulut Sakura. Dengan enggan Sakura membuka mulutnya dan menelan langsung bubur itu. "Lagi," ucapnya.

"Hn." Setelah Sasuke memakan satu sendok bubur itu, bergantian dengan Sakura dan seterusnya.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura menenggak habis segelas air putih dan tak menyisakan sama sekali untuk Sasuke. Ia menaruh gelas itu dan kemudian akan mengambil gelas berisi teh manis ketika Sasuke angkat bicara dan berhasil mencuri perhatiannya.

"Sakura, ada yang ingin kukatakan padamu. Dan itu adalah hal yang sangat penting dalam hidupku," ucap Sasuke tiba-tiba dan langsung menatap wajah Sakura serius. Ia langsung menggenggam kedua tangan Sakura erat dan keringat dingin mulai menjalari permukaan kulitnya.

Wajah Sasuke berubah warna dari putih menjadi pucat, dan tubuhnya nampak tegang. Kedua mata onyx-nya bergerak gelisah ketika menatap Sakura. "Aku—"

"Ya?" tanya Sakura yang juga ikut gugup.

"—bertunangan … Sakura, kedua orangtuaku sudah merencanakannya sejak lama. Maafkan aku karena belum memberitahumu soal ini."

Kedua mata emerald Sakura langsung berkaca-kaca dan menggeleng lemah. Hatinya serasa di cabik-cabik tak manusiawi ketika mendengar pemuda yang di cintainya akan bertunangan dengan wanita lain atas pilihan kedua orangtuanya. Sakura merasa sangat tidak adil.

Sasuke yang melihatnya hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa kau menangis dan berwajah sedih seperti itu? Aku pikir saat kau mendengar hal ini kau akan langsung gembira karena—"

"Bagaimana bisa aku gembira saat kau bilang jika kau akan bertunangan dengan gadis lain. Kau akan meninggalkanku untuk selamanya, Sasuke," ucap Sakura mendahului Sasuke dan langsung menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.

"Hmmpphh!" Sekuat tenaga Sasuke menahan tawanya mendengar ucapan Sakura.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Sakura marah.

"…"

"…"

"Tidak ada yang lucu sama sekali, Sasuke."

"…"

"Hn. Yang akan bertunangan itu kau dan aku. Apa kau tidak merasa gembira mendengarnya?"

"Eh?" Sakura langsung berhenti menangis dan menatap Sasuke bingung.

"Tanpa sepengetahuan kita berdua, ayah dan ibumu mengajukan acara lamaran pada keluargaku."

"APAAA?" tanya Sakura berteriak.

"Hn. Kedua orangtuaku menyetujuinya dan mereka akan segera pulang dari Perancis tiga hari lagi. Bersiap-siaplah, Sakura," ucap Sasuke.

"U-untuk apa?" tanya Sakura gugup.

"Karena acara pertunangan kita akan diadakan satu minggu lagi dari sekarang."

"…"

"…"

"…"

"APAAAAA?" Dan sekali lagi sebuan teriakan tak percaya dari Sakura membuat Sasuke nyaris akan terpingkal geli.

Naruto yang mendengar semua percakapan keduanya dari balik pintu kamar hanya bisa menundukan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangan erat. "Sakura … " desahnya pelan.

.

.

.

.

.

.

.

Kedua tangan Sasuke dan Sakura saling bertaut, pancaran kebahagian terlihat jelas dari wajah keduanya. Sakura mengantarkan Sasuke ke depan rumahnya, karena kekasihnya itu mendapat telepon dari kakaknya untuk segera pulang.

"Sasuke, bisakah kau pergi mampir ke rumah Sai untuk memastikan keadaannya?" pinta Sakura sambil mengayun-ngayunkan tangan Sasuke dengan menja.

"Hn." Tanggap Sasuke singkat dan langsung mencium kening Sakura mesra. "Aku pergi."

"Hati-hati di jalan," ucap Sakura dan melambaikan tangannya antusias dengan wajah bersemu merah. Ia memandang kepergian Sasuke dengan hati yang sedang dipenuhi dengan bunga berwarna-warni. Sebuah senyuman yang manis mengembang di bibir mungilnya.

Sepasang mata tajam memperhatikan sosok Sakura dari sebrang jalan rumahnya. Tangan kanannya yang terbungkus oleh sarung tangan hitam itu menggenggam sebuah foto yang sudah tak berbentuk. Foto seorang pemuda tampan bermata onyx. Seringai kejam dan haus akan membunuh tercipta di bibir tipisnya.

Sakura membalikkan badannya dan menatap ke sekeliling rumahnya sebelum masuk. Ia merasa seperti tengah di awasi dan diperhatikan. Tapi hanya kekosongan dan kegelapan yang bisa ia lihat di ujung jalan rumahnya itu. Pada akhirnya Sakura beranjak masuk karena udara di luar sangat dingin, menusuk sampai ke tulang.

##Obsession##

Shikamaru menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang dan tengah memikirkan sesuatu. Kedua lengannya terlipat di belakang kepala. Sebuah helaan napas pendek mengawali meluncurnya kata pertama dari mulut pemuda itu. "Untuk apa Ino membuat pesan seperti itu?" tanyanya yang lebih ditunjukan untuk dirinya sendiri.

Ingatannya kembali melayang ke beberapa jam lalu saat ia berada di dalam kamar Ino. Salah satu rekan timnya menemukan ada sebuah pesan terakhir yang di tinggalkan oleh Ino di sebuah keyboard komputernya. Dan setelah ditelusuri lebih lanjut ada beberapa sidik jari Ino diantara tombol huruf di keyboard tersebut. Karena terlalu banyak darah yang menempel di keyboard tersebut membuat penyelidikan sedikit lamban.

Tapi, kini pesan terakhir yang telah ditinggalkan oleh Ino sudah diketahui. Ino menekan tiga tombol huruf di keyboard-nya. "S-A-I …" gumam Shikamaru.

"Apa hubungannya kekasih Ino dengan kematiannya? Apa Sai yang sudah membunuhnya? Ataukah ada maksud lain dari pesan nama itu?" batin Shikamaru dan berpikir keras.

Ia bangkit duduk di atas tempat tidurnya dan memegang sisi kanan kepalanya. Rasanya kepalanya akan segera meledak, sangat terasa menusuk-nusuk dan sakit.

Ctek!

Lampu kamar Shikamaru tiba-tiba saja mati dan ketika Shikamaru akan beranjak dari atas tempat tidur untuk menghidupkannya kembali, hembusan angin dingin menerpa tengkuknya. Refleks Shikamaru langsung menyentuh tengkuknya dan menengok ke belakang punggungnya yang tak terlihat apa-apa. Semua ruangan di dalam kamarnya tak terlihat, gelap gulita.

Rasa dingin itu kini menjalar ke punggung tangan kanannya. Dan sebuah suara halus dan nyaris terdengar sangat lemah juga pelan membuat Shikamaru langsung menengokan kepala ke samping kanannya. Tak ada siapapun, hanya ada kegelapan yang dilihat oleh kedua matanya.

'Tolonglah Sai.'

Wajah Shikamaru langsung pucat pasi dan berkeringat dingin. "Su-suara ini … I—Ino?"

'Kumohon selamatkanlah kekasihku.'

"Ino?"

'Kekasihku berada dalam bahaya. Selamatkan dia, Shikamaru.'

"Ino, kau ada di sini?"

"…"

"…"

"…"

"Ino, bicaralah padaku lagi!"

"…"

"…"

"…"

Ctek!

Lampu di kamar Shikamaru kembali menyala dan pemuda itu langsung mencari-cari keberadaan Ino. Tapi, tak ada seorang pun selain dirinya di dalam ruangan itu. Shikamaru jatuh terduduk sambil melipat kedua lengannya di atas lutut. Kepalanya tenggelam di antara lipatan lengannya.

Telinganya mendengar jelas suara Ino yang menyuruhnya untuk melindungi Sai.

"Berada dalam bahaya? Apa akan ada orang yang membunuh Sai? Untuk apa?" gumam Shikamaru. Dan sedetik kemudian kepalanya langsung terangkat dan Shikamaru membulatkan kedua matanya karena terlalu terkejut dengan kesimpulan apa yang berhasil didapatkannya.

Drtt! Drtt!

Getaran dari ponselnya di atas meja belajar membuat Shikamaru dengan sigap mengangkat telepon itu. "Itachi, kebetulan sekali kau menelepon. Ada yang ingin ku—gadis itu masih hidup? Benarkah?" tanya Shikamaru dengan sebuah senyuman tercipta di bibirnya. "Aku dalam perjalanan sekarang. Dan suruh bagian penyelidikan meneliti komputer juga ponsel milik Yamanaka.—aku mengerti. Aku rasa kita sudah mencapai titik terang dalam kasus ini."

Shikamaru langsung menyambar kunci mobilnya dan keluar kamar. Tak menyadari sesosok transparan seorang gadis berambut pirang tengah menyunggingkan senyuman. Dan setelahnya sosok gadis itu menghilang dalam sekejap seperti ditiup angin.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Itachi dengan mimic khawatir.

Seorang dokter berambut perak itu hanya mendesah pelan. "Keadaannya sangat lemah sekali, tapi kami berhasil menyelamatkannya. Gadis itu mampu bertahan dengan luka separah itu di tubuhnya," ucap Kabuto.

"Separah itukah lukanya?"

"Tusukan benda tajam di perutnya membuat ginjal kanannya rusak. Selain itu ada lima peluru yang bersarang di tubuhnya, dan salah satu peluru tersebut berhasil mengenai hatinya. Dua peluru yang lain bersarang di bahu dan lengan kanannya." Kabuto menjelaskannya dengan gelengan kepala. "Dia juga kehilangan banyak darah."

Itachi hanya bisa pasrah dengan keadaan Hinata saat ini. Dan ia memberikan semua keputusannya pada Dokter Kabuto. "Lalu tindakan apa yang dokter ambil untuk menyelamatkannya?"

"Satu-satunya cara adalah dengan mengganti organ yang rusak itu dengan yang baru lewat jalan operasi. Sungguh kejadian yang sangat langka gadis itu masih bertahan setelah operasi itu selesai."

"Syukurlah. Tapi, bagaimana dokter mendapatkan organ hati dan ginjal yang baru secepat ini?"

"Kami sudah mendapat izin dari dua keluarga korban yang lain untuk memberikan organ mereka yang masih berfungsi pada Hinata."

"Apa … maksud, Dokter?"

"Ginjal Hinata yang sudah rusak digantikan oleh ginjal milik Tenten, dan organ hatinya kami gantikan dengan organ hati milik Sasori."

Itachi tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya. "Bagaimana bisa ini terjadi?"

"Kau tidak perlu merasa bersalah, karena keluarga korban sendiri yang menginginkan hal ini. Mereka beranggapan bahwa anak mereka yang sudah tiada akan hidup kembali dalam diri Hinata jika operasi itu dilakukan," jawab Kabuto dan menepuk pelan bahu Itachi sebelum ia pergi dari hadapannya.

"Apa yang harus kukatakan pada Hinata nanti?" tanya Itachi dalam hati. Ia meraba dadanya sendiri yang masih terasa sesak setelah mendengar keadaan Hinata.

Akhirnya Itachi memilih masuk ke dalam ruangan tempat Hinata setelah operasi 10 jam lalu yang dilakukan oleh dokter. Ia langsung mendudukan diri di sofa tepat di samping kanan Hinata terbaring. Itachi menyenderkan kepalanya pelan dan memijit keningnya. Matanya melirik layar ponselnya yang sejak tadi berkelap-kelip menandakan ada sebuah panggilan.

"Iya, Sasuke?"

'Di mana?' tanya Sasuke singkat.

"Lantai 3, nomor 27 bagian kanan. Cepatlah!"

'Hn.'

Dengan berat hati Itachi bangkit dari duduk santainya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia memandang dua orang polisi yang menjaga di luar kamar rawat Hinata dengan wajah tegas. "Akan ada yang menggantikanku untuk menjaga gadis ini di dalam. Dan tambah orang lagi untuk menjaga di luar kamar ini. Kalian mengerti?" perintahnya.

"Kami mengerti!"

"Hn."

Itachi berjalan pelan sambil merapatkan kerah jaket yang ia kenakan dari tadi. Rasa dingin terasa sangat menusuk kulitnya sampai ke tulang. Dan dapat terlihat dari kaca jendela bahwa di luar sana langit tengah mendung dan hujan turun dengan derasnya.

Pemuda berbadan tegap itu hendak berbelok ke koridor kanan ketika tubuhnya secara tak sengaja bertabrakan dengan seorang perawat laki-laki. "Ah, maaf!"

Bukannya membalas ucapan Itachi, perawat itu malah langsung pergi dengan menundukan kepalanya. Dan Itachi hanya mengangkat bahu tak peduli dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun, sedetik kemudian Itachi membalikkan badannya dan memerhatikan punggung perawat itu. "Pirasatku buruk akan hal ini," batinnya.

Pluk!

Sebuah tepukan pelan di bahu kanannya membuat Itachi langsung mengalihkan pandangannya dari perawat itu. Dan sosok adiknya sudah berada di hadapannya. "Sasuke … "

"Hn. Bagaimana keadaan Hinata?"

"Belum ada kemajuan. Kau jagalah dia."

"Hn. Kau mau kemana?"

"Menyelidiki sesuatu."

"Bisakah kau juga menyelidiki keberadaan Sai saat ini?" pinta Sasuke dengan wajah serius dan khawatir.

"Sai? Kekasih Yamanaka itu?"

"Hn. Aku tak bisa menghubunginya, dan kurasa jika kau yang melakukannya akan lebih mudah."

"Baiklah. Tidak masalah. Satu pesanku saja, jangan lengah sedikit pun. Kau mengerti?"

"Hn."

Setelah mengatakan hal seperti itu Itachi langsung pergi meninggalkan Sasuke yang tengah mencerna baik-baik ucapan kakaknya barusan.

"Kenapa dengannya?" batin Sasuke dan beranjak pergi ke kamar rawat Hinata.

##Obsession##

Itachi menerobos keluar begitu saja dari rumah sakit dan rela tubuhnya di guyur hujan untuk menyebrang jalan. Ia berlari kecil menuju halte bus tepat di sebrang jalan rumah sakit tersebut. Pemuda itu sama sekali tidak membawa kendaraan apapun karena terlalu khawatir dengan keadaan Hinata. Ia pergi ke rumah sakit dengan cara menumpang pada rekan kerjanya yang kebetulan akan menjenguk anggota keluarganya yang di rawat di rumah sakit tersebut.

Pikirannya sudah dipenuhi oleh sosok Hinata. Ia tak bisa memikirkan hal lain selain keadaan gadis itu. Selama beberapa detik Itachi hanya berdiri kaku sambil menundukan kepalanya. Tetesan air hujan jatuh dari ujung-ujung rambutnya dan juga wajahnya.

Tin! Tin!

Dua kali klakson mobil membuat wajah Itachi langsung terangkat. Ia menatap wajah Shikamaru yang melihatnya keheranan dari dalam mobil.

"Apa yang kau lakukan? Cepat masuk!" ucap Shikamaru dengan volume suara yang keras karena berbalapan dengan suara hujan.

"Hn." Itachi masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa lagi dan menyenderkan kepalanya.

"Ada masalah?"

"Hn."

"Itu bukan jawaban," ucap Shikamaru dan mulai menjalankan kembali mobilnya perlahan.

"Jawaban apa yang kau inginkan?" tanya Itachi dan melirik wajah serius Shikamaru dengan ekor matanya.

"Lupakan saja!"

"…"

"…"

"Bagaimana keadaannya?" tanya Shikamaru setelah beberapa saat lalu terdiam tanpa sekali pun melirik Itachi.

"Masih kritis."

"Begitu. Kau mengenalnya?"

"Hn. Bisa dikatakan seperti itu."

"Ceritakan padaku tentangnya!" pinta Shikamaru.

"Aku mengenal gadis itu dari kekasihku. Konan, beberapa kali sering mengajak gadis itu ikut mengunjungiku di Suna. Gadis Hyuuga itu sudah dianggap adik sendiri oleh Konan. Mereka berdua selalu bersama-sama. Bahkan ketika Konan dan aku berkencan, gadis itu akan merengek ikut. Kau bisa bayangkan bagaimana pandangan orang-orang tentang kami bertiga?" Itachi tersenyum kecil ketika mengingat moment-moment bahagia sewaktu dulu. "Gadis Hyuuga itu dikira anakku dan Konan."

"Benarkah?"

"Hn. Usia Hinata waktu itu baru menginjak 10 tahun. Terlebih wajahnya dan Konan sangatlah mirip, warna rambut mereka hampirlah sama. Mereka berdua memang terlihat seperti ibu dan anak."

"Aku juga beranggapan seperti itu. Meskipun aku tak sedekat itu dengan Konan, tapi aku mengenalnya dengan baik. Kau merindukanya?"

"Hn. Sangat merindukannya."

Diam-diam Shikamaru mengulum senyum mendengar penuturan Itachi mengenai masa lalunya.

"Hn?" Itachi mengangkat sebelah alisnya bingung menatap Shikamaru.

"Manusia itu makhluk sosial. Dan kau membutuhkan seseorang sebagai tempat menyimpan cerita-ceritamu."

Itachi hanya berdecak sebal karena merasa digurui. "Kau banyak bicara, Shikamaru."

"Bukankah kau tadi yang banyak bicara?"

"Itu karena kau yang memintanya. Lagi pula—"

"Tapi aku sangat senang karena akhirnya kau mau terbuka padaku," potong Shikamaru cepat dan kembali mengulum senyum.

"Huh!" dengus Itachi.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang ingin kau katakan padaku sewaktu di telepon tadi?" tanya Itachi.

"Mengenai kematian Yamanaka. Aku berpikir jika kunci dalam kasus ini adalah Sai."

"Kenapa kau beranggapan seperti itu?"

"Pesan terakhir yang Ino tinggalkan adalah hanya sebuah nama," jawab Shikamaru.

"Bisa saja jika nama itu adalah menunjukan pelaku yang sebenarnya," kilah Itachi santai.

Shikamaru menggelengkan kepalanya pelan dan menatap wajah Itachi sekilas. "Aku sangat percaya jika Sai bukanlah orang seperti itu. Dia sangat menyayangi dan mencintai Ino. Jadi, tidak mungkin bagi dirinya untuk membunuh—"

"Sebuah obsesi," ucap Itachi.

"Apa maksudmu?"

"Kita tidak bisa membaca pikiran seseorang. Bisa saja Sai sangat terobsesi dengan gadis Yamanaka itu. Dan dia berpikiran untuk melenyapkannya agar tidak ada orang lain yang memilikinya selain dirinya sendiri."

"Aku sudah menyelidiki mengenai latar belakang Sai. Dia tidak mempunyai catatan penyakit seperti itu."

"Benarkah? Lalu apa yang kau dapat setelah menyelidiki latar belakang kehidupannya?"

"Tidak ada yang patut dicurigai. Dia hanya salah seorang anak yang dibesarkan di sebuah panti asuhan dan kemudian diadopsi oleh seorang Shimura Danzo. Aku punya biodata dirinya dan juga teman-temannya selama di pantu asuhan. Lihatlah ini!" ucap Shikamaru dan mengangsurkan map coklat pada Itachi setelah mengambilnya dekat tuas gigi.

Itachi mulai membaca dan melihat-lihat foto Sai sewaktu masih berada di panti asuhan. Dan kedua mata onyx-nya langsung membulat sempurna karena melihat sosok seorang gadis yang ia kenali. "D—dia … "

"Ada apa?"

"Gadis kecil yang berdiri di samping kanan Sai, aku mengenalnya. Dia adalah kekasih adikku. Namanya adalah Haruno Sakura."

Ckitttt!

Shikamaru langsung memberhentikan laju mobilnya tiba-tiba. "Maksudmu adalah model terkenal Kaguya-hime?"

"Kagura—apa yang kau bicarakan? Nama gadis ini adalah—"

"Aku tahu itu, Itachi. Tapi, banyak orang yang memanggilnya dengan julukan seperti itu. Sakura disebut-sebut sebagai titisan dari putri bulan, Kaguya."

"A-aku tidak tahu hal itu."

"Akan kuselidiki latar belakangnya juga. Ya, Tuhan, kenapa semakin bertambah rumit seperti ini," runtuk Shikamaru dan akan menghubungi pihak tim penyelidik lagi.

"Hah?" Itachi kembali membulatkan kedua matanya karena terlalu shock dengan apa yang dilihatnya.

"Apa? Ada yang kau curigai lagi?"

"K—kalung ini … Sakura memakai sebuah kalung di foto ini."

"Apa maksudmu? Kalung?"

"Tiga minggu yang lalu, aku menangani sebuah kasus pembunuhan. Korbannya adalah seorang siswi SMA Suna. Dan kami menemukan sebuah kalung rantai di tangan korban. Tapi bagaimana bisa kalung itu sama dengan yang dipakai oleh Sakura."

"K-kau serius?"

Itachi mengangguk pasti. "Tidak salah lagi. Ini adalah kalung yang sama," ucapnya dan mencengkram erat kepalanya sendiri.

"Sial! Sial! SIAAAAALLLLL!" Itachi langsung mencengkram erat map yang ada di tangannya.

"Hey, tenanglah, Itachi!"

"…"

"…"

"Sakura, tidak mungkin dia 'kan?" tanya Itachi pelan.

"Masih terlalu dini untuk memasang status tersangka pada gadis itu. Kita perlu bukti lain."

"Bagaimana caraku untuk menjelaskannya pada Sasuke?"

"Jangan memberitahunya dulu sebelum kita mendapatkan bukti yang lebih nyata dan akurat. Dan aku sangat yakin, jika bukan Kaguya-hime yang melakukannya."

Drttt! Drtt!

"Ada apa, Anko?" tanya Shikamaru setelah menerima teleponnya.

"Ada berita bagus untukmu. Kami mendapatkan sesuatu yang mungkin bisa membantumu untuk memecahkannya kasus yang sedang kau tangani."

"Cepat katakan!"

"Kami menemukan jika pada malam tepat saat kematian gadis Yamanaka itu, ia mengirim sebuah file. Sepertinya file itu sangat penting karena harus menggunakan kata sandi untuk mengetahui isinya."

"Mengirimnya pada siapa?"

"Sai."

"Kau yakin?" tanya Shikamaru namun setelahnya sebuah senyuman tercipta di bibirnya.

"Tentu saja. Kau tidak percaya dengan kemampuan para anak buahku?"

"Lalu?" tanya Itachi yang langsung merebut ponsel Shikamaru.

"Eh?" Anko terkejut karena bukan suara Shikamaru yang di dengarnya.

"Katakan saja!"

"B-baik. Meskipun ponsel milik gadis itu sudah hancur, tapi kami berhasil mengidentifikasi siapa saja yang melakukan kontak dengannya. Dan hanya satu nama yang berhasil dihubungi oleh Yamanaka pada saat malam itu. Dia adalah seorang gadis dari keluarga pengusaha terkaya di Jepang, Hyuuga Hinata."

"A—apa?" Itachi secara tak sengaja mematikan sambung teleponnya karena terlalu terkejut. "Tidak mungkin!"

"Apa? Apa yang dikatakan oleh Anko? Itachi, jawab aku!" ucap Shikamaru.

"Dia bilang, orang terakhir yang dihubungi oleh Yamanaka adalah, Hyuuga … Hinata."

"Eh?"

##Obsession##

Sasuke berjalan dengan santai menuju kamar rawat Hinata. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Ekspresi wajahnya tetap datar meskipun sepertinya pemuda itu kini tengah menahan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Sebuah hembusan napas yang ia keluarkan dari mulut membentuk gumpalan asap kecil.

Tinggal 2 meter lagi Sasuke tiba di depan pintu kamar rawat Hinata, kedua kakinya langsung terhenti. Kedua alisnya berkedut satu sama lain ketika melihat dua orang polisi terkapar begitu saja di lantai. Sasuke berlari dan menerobos masuk begitu saja pintu kamar rawat Hinata.

Dan kedua mata onyx pemuda itu membulat sempurna ketika melihat keadaan Hinata yang tengah kesulitan bernapas karena selang oksigennya sudah terlepas. Dan salah satu jendela di kamar itu sudah terbuka dengan lebar dan membuat udara dingin masuk begitu saja juga ikut menggoyangkan gorden jendela.

Segera saja Sasuke memasangkan kembali selang oksigen itu pada Hinata, dan kemudian mengecek jendela yang terbuka itu. Kepalanya melongok ke bawah dan melihat sosok seseorang yang berlari menjauhi kamar rawat Hinata. "Cih! Sial!" geramnya karena terlambat masuk.

Mungkin jika Sasuke tidak terlambat maka orang itu sudah tertangkap dan kasus ini akan segera selesai. Dan Hinata tak perlu merasa kesakitan juga terancam berbahaya.

Sasuke segera menutup jendela itu rapat-rapat dan berjalan menuju Hinata. Ia memandang wajah gadis itu yang sangat terlihat pucat dan juga kelelahan tiada-tara. Lelah karena terus mencoba untuk bertahan hidup demi mengungkapkan pembunuh yang sebenarnya.

Pemuda itu menggenggam tangan Hinata yang tidak tertancap selang infuse. Begitu dingin dan kaku, tak ada kehangatan seperti biasanya dan tak ada balasan dari gadis itu untuk menggenggam balik. Kedua pelupuk matanya terpejam rapat dan seakan butuh waktu lama untuk melihat sepasang mata cantik di baliknya.

"Hn. Bertahanlah," ucap Sasuke menyemangati. Meskipun Hinata tak sadarkan diri, tapi Sasuke yakin jika gadis itu bisa mendengar ucapannya dengan jelas.

"…"

"…"

Tanpa Sasuke sadari setetes air mata jatuh dari kedua mata Hinata yang terpejam.

.

.

.

.

.

.

Sakura melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Dan ketika ia sudah berada di ambang pintu, sosok tegap punggung Naruto sudah berada di dalam kamarnya. Pemuda yang memilik mata seindah lautan itu menatap kosong langit di atas sana dari kaca jendela. Ekspresi wajahnya begitu terlihat sedih dan sangat terluka. Pandangan matanya terlihat sayu.

"Kakak," panggil Sakura pelan dan menyentuh bahu kanan Naruto.

Naruto membalikkan badannya dan tersenyum pada Sakura. Mengelus rambut Sakura lembut dan kemudian menariknya ke dalam pelukannya.

Sakura dibuat bingung akan sikap Naruto. "Ada apa?" tanyanya sedikit khawatir.

Naruto menggeleng pelan. "Hanya ingin memelukmu sebentar saja."

"Kakak aneh sekali," komentar Sakura dan membalas memeluk Naruto erat.

"…"

"…"

Beberapa detik kemudian Naruto melepaskan pelukannya dan menuntun Sakura untuk mengikutinya duduk di tepi tempat tidur. Keduanya saling berhadapan satu sama lain.

"Aku akan menceritakan semuanya," ucap Naruto dengan wajah serius.

Sakura mengangguk dan menelan ludahnya gugup. Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Masa lalu seperti apa yang akan diceritakan oleh Naruto? Kejadian apa yang pernah dilupakan olehnya beberapa tahun silam? Dan apa yang pernah terjadi padanya sewaktu berumur lima tahun?

"Kedua orangtuaku mengadopsi seorang anak perempuan dari Panti Asuhan Abadi sekitar 12 tahun yang lalu. Dan anak itu adalah kau, Sakura. Tapi, sebelum kami mengadopsimu, kau mengalami kecelakaan sewaktu di panti asuhan itu."

"…"

"Akulah yang menemukanmu sedang tergeletak lemah di tepi danau. Kepalamu terbentur dan saat kau tersadar, kau tidak tahu siapa namamu dan kenapa kau bisa ada di panti asuhan itu. Akhirnya, aku yang memilihmu sebagai adikku."

"…"

"J—jadi begitu," gumam Sakura pelan.

"Tentu pada akhirnya kau mengingat jika kau besar di panti asuhan itu, dan kau pun sudah mengingat jika Sai adalah anak yang sama-sama tumbuh besar bersamamu."

"Ingatanmu belum sepenuhnya pulih," tambah Naruto.

Sakura menutup matanya sebentar dan berusaha mengingat sesuatu. "Syal merah itu apakah milikku? Dan apakah boneka beruang itu juga milikku?" tanya Sakura dan menatap Naruto dengan ekspresi campur aduk. Antara senang, sedih dan bingung. Mana yang seharusnya hati Sakura rasakan?

Naruto mengangguk. "Pada saat aku menemukanmu di tepi danau, kau memakai syal merahh itu. Dan mengenai boneka beruangnya, aku tak melihatnya lagi semenjak kau kecelakaan. Apa kau menyembunyikannya di suatu tempat?"

"Aku … tidak mengingat semua kejadian itu," ucap Sakura dan memegang erat kepalanya. Rasa sakit di kepalanya kembali datang, dan seperti akan meledak jika Sakura terus berusaha mengingat kejadiannya itu.

"Aarrgghh!" erang Sakura dan menutup kedua matanya erat.

"Tenanglah, Sakura! Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya."

Sakura berusaha untuk tenang kembali dengan cara menghembuskan napas berkali-kali. "Tinggalkan aku sendiri!" pintanya dan mengusir Naruto halus.

Naruto yang mengerti apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh Sakura saat ini segera pergi. Pemuda itu berdiri di ambang pintu kamar Sakura, dan tanpa membalikkan badannya ia berkata. "Lebih baik buatmu untuk tidak mengingatnya," ucapnya pelan dan langsung menutup pintunya.

"Anak laki-laki itu, siapa dia?" tanya Sakura dalam hati ketika sosok seorang anak kecil laki-laki yang seumuran dengannya tiba-tiba saja melintas di dalam kepalanya beberapa detik lalu.

.

.

.

.

.

.

.

Itachi dan Shikamaru akhirnya mendatangi sebuah gedung yang sering di datangi oleh Ino untuk pemotretan. Keduanya memperkenalkan diri pada pemilik gedung tersebut dan meminta izin untuk melakukan penyelidikan atau pun menanyakan pada setiap orang yang kenal dengan Ino untuk mendapatkan informasi lebih jelas.

Keduanya kini berada di dalam sebuah ruangan dan di depan mereka sudah ada tiga orang yang di berikan pertanyaan macam-macam. Di mulai dari seberapa dekat mereka dengan Ino bahkan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu sebelum kematian Ino.

Dan jawaban ketiganya membuat Shikamaru semakin gelisah dan rasanya ia mengalami kebuntuan mengenai kasusnya kali ini.

Itachi pun hanya mengurut dahi sambil menghela napas lelah. Terhitung sudah ada 20 orang lebih yang mereka intrograsi, tapi sama sekali belum menunjukan petunjuk apapun.

Hanya satu hal yang mereka dapat dari seorang manager yang mereka intrograsi, jika Sasori pernah berkerja di tempat ini sebagai seorang fotographer lepas.

"Hey, Shika!" panggil Itachi.

"Apa?"

"Aku berpikiran jika kematian Yamanaka dan Akasuna itu berkaitan satu sama lain."

"Alasannya?" tanya Shikamaru dan menundukan diri di samping kiri Itachi.

"Keduanya sama-sama kenal dan dekat dengan Sakura."

"Jadi, kau ingin bilang jika Sakuralah yang harus kita intrograsi?"

"Hn."

"Kalau begitu aku ingin bertanya padamu, apa hubungannya Sakura dengan siswi Suna itu? Kau tidak benar-benar menuduh gadis itu di balik ini semua 'kan?"

"Tentu saja bukan seperti itu. Aku hanya berpikir jika peran utama dalam kasus ini adalah Sakura bukanlah Sai."

"Tak kusangka kasus ini begitu pelik," ucap Shikamaru pelan.

"Hn. Jika saja Hinata sudah sadar, pasti akan menjadi lebih mudah," komentar Itachi dan bangkit berdiri diikuti oleh Shikamaru.

Keduanya keluar bersamaan dari ruangan intrograsi tersebut setelah semua orang pergi. Sosok seorang perempuan berambut merah hanya memandang punggung Itachi dengan tajam. Kedua kakinya melangkah dengan cepat dan bunyi pantulan sepatunya menggema di dalam lorong tersebut.

"Tunggu sebentar!" teriak Karin cukup keras.

Itachi dan Shikamaru berbalik bersamaan dan mengangkat sebelah alis mereka heran.

"Namaku Karin, aku juga kenal dengan Yamanaka," ucap Karin dan mengulurkan sebelah tangannya pada Itachi dengan senyuman ramah tapi tatapan matanya tetap tajam.

Itachi menerima uluran tangan itu dengan ragu. "Rasanya wajahmu familiar," ucapnya santai.

Karin melepaskan jabatan tangannya dan melipat kedua lengannya di depan dada. "Aku juga ada di foto yang kau bawa itu," ucapnya membuat Shikamaru juga Itachi bengong selama beberapa detik.

"Aku berdiri di samping Sakura," tambah Karin sedikit agak jengkel.

"Ah! Jadi gadis berkacamata merah di samping Sakura itu Anda," ucap Shikamaru yang baru sadar.

"Benar sekali. Aku, Sakura juga Sai besar di panti asuhan yang sama."

"Seberapa dekat kau dengan Yamanaka?" tanya Itachi langsung dan tak bertele-tele.

"Cukup dekat sampai dia pernah menginap di rumahku beberapa kali. Jadi, apa kabar itu benar? Jika Yamanaka sudah … meninggal?"

"Hn."

"Aku turut berduka cita. Selama yang kutahu dia sama sekali bukan orang yang suka mencari keributan atau pun mencari perkara dengan siapa pun. Dia gadis yang baik. Jadi, tidak mungkin dia mempunyai seorang musuh," ucap Karin.

"Kami tidak membutuhkan ceritamu, Nona," ucap Itachi sedikit sarkastik. "Yang kami butuhkan adalah informasi menge—"

"Ino pernah menyinggung soal masalah yang sedang di alami oleh Sakura dua hari sebelum ia di bunuh," potong Karin cepat. "Jika kalian ingin kasus ini segera terungkap, cobalah untuk menyelidiki masalah yang di alami oleh Sakura."

Itachi dan Shikamaru berusaha untuk mencerna baik-baik ucapan gadis berambut merah itu.

Karin seketika menjatuhkan tatapan matanya pada sosok Itachi, ia tersenyum tipis. "Kau punya seorang kekasih?" tanyanya.

"Hn?" Itachi mengerutkan dahinya karena bingung kenapa ucapan Karin melenceng jauh dari yang sebelumnya.

"Tragis sekali. Kematian kekasihmu itu," ucap Karin lagi yang semakin membuat Itachi tak mengerti sama sekali.

"Apa maksud dari kata-katamu?"

"Relakanlah kepergiannya, Uchiha. Karena dia tidak bisa pergi dari sisimu sebelum kau melepasnya."

"Apa maksudmu?" tanya Itachi yang mulai risih mendapatkan pertanyaan pribadi mengenai dirinya.

Karin memandang sedih sosok transparan di samping kanan Itachi. Terlebih ketika ia melihat wajah sosok itu yang sudah tidak mempunyai bola mata lagi. Dua lubang kosong di bawah alisnya membuat Karin segera mengalihkan pandangannya karena terlalu mengerikan. Dan sebuah bisikan halus yang Karin dengar dari sosok itu membuat Karin kembali mengalihkan pandangannya pada Itachi. "Dia merasa sangat sedih. Dia ingin kau hidup bahagia meskipun tanpanya," ucapnya.

Karin mendengar suara isak tangis halus dari sosok itu dan membuatnya langsung membalikkan badannya. Karin akan berlalu pergi ketika Itachi menangkap pergelangan tangannya.

"Dia ada di sini? Apakah dia sekarang ada di sampingku?" tanya Itachi yang mulai mengerti ucapan Karin.

Karin menganggukan kepalanya pelan. "Dia selalu mengikutimu kemana pun kau pergi. Karena hatimu belum merelakan kepergiannya. Dia … merasa sangat tersiksa."

"Tolong katakan padanya, jika aku tidak bisa sebelum aku menangkap orang yang sudah membunuhnya," ucap Itachi sambil menundukan kepalanya.

"Dia sudah mendengarmu," ucap Karin dan melepaskan pergelangan tangannya dari Itachi. "Dia bilang, hiduplah bahagia bersama gadis itu."

Itachi membulatkan kedua matanya. "Konan … " desahnya pelan.

Shikamaru langsung berwajah pucat-pasi dan berkeringat dingin mendengar ucapan Karin. "Jadi, selama ini kami bertiga?" gumannya pelan.

.

.

.

.

.

.

.

Shikamaru sudah menetapkan langkah apa selanjutnya yang akan dilakukannya. Begitu pun dengan Itachi. Keduanya baru tersadar setelah mendengar ucapan Karin. Jika kasus yang menimpa Ino, Tenten, Sasori dan juga Matsuri entah bagaimana caranya mempunyai hubungan dengan Sakura.

Mereka berdua tak habis pikir, apa alasan sang pelaku membunuh semua orang itu. Dan hal itulah yang harus mereka cari tahu jika tidak ingin ada korban lain yang berjatuhan.

Itachi merasakan pirasat buruk mengenai Sasuke. Jika sang pelaku itu memang menginginkan sesuatu dari Sakura, katakanlah seperti itu. Maka, tidak salah lagi jika adiknya berada dalam bahaya. Dan tidak menutup kemungkinan, keluarga Sakura juga terancam bahaya.

"Jadi, kata adikmu, Sai tidak berada di apartemennya?"

"Hn. Mungkinkah terjadi sesuatu padanya?"

"Kita akan memastikannya saat ini juga," ucap Shikamaru dan membelokan stirnya ke kanan.

Mobilnya berhenti di depan gerbang dan setelah berbicara mengenai penjaga gerbang rumah yang sekarang sedang ditujunya, Shikamaru kembali menjalankan mobilnya.

Itachi memperhatikan jalanan di samping kanan dan kirinya yang di tumbuhi oleh pohon lebat.

"Rumah seseorang yang berkelas memanglah menakjubkan," komentar Shikamaru.

Untuk sampai ke kediaman rumah Shimura Danzo membutuhkan setidaknya lima menit setelah dari gerbang masuk. Katakan saja saat ini Shikamaru sedang melewati sebuah halaman luas bagian depan rumah pengusaha kaya itu. Dan harus melewati gerbang ke dua untuk masuk dan mendekati rumahnya.

Keduanya di sambut oleh ketua pelayan di rumah besar tersebut dengan ramah ketika Shikamaru sudah sampai dan keluar dari mobilnya.

"Selamat datang!" sapa ketua pelayan tersebut dengan sedikit menundukan kepalanya rendah. "Tuan Danzo sudah menunggu Anda berdua."

Shikamaru menatap Itachi dan kemudian menganggukan kepalanya. Lalu, keduanya di bawa ke dalam sebuah ruangan khusus bagi tamu-tamu penting.

Seorang pria yang sudah berumur berdiri dengan tongkat di tangan kanannya. Sebuah wajah tegas dan terlihat dingin itu menatap wajah Itachi dan Shikamaru bergantian. Danzo mendahului untuk duduk di atas sofa merah marun dan kemudian diikuti oleh Shikamaru juga Itachi.

"Apa maksud dari kedatangan kalian?" tanya Danzo langsung.

"Kami mencari keberadaan anak angkat Anda," ucap Itachi.

"Ada keperluan apa kalian mencarinya?"

"Bisakah Anda mengatakan saja pada kami di mana pemuda itu?" tanya Shikamaru tegas dan sama sekali tidak takut akan tatapan tajam yang diberikan oleh Danzo.

"Dia tidak tinggal di sini. Dia hidup terpisah denganku."

"Kami sudah memeriksa apartemennya dan Sai tidak ada di sana atau di mana pun. Dengan kata lain, anak angkat Anda menghilang sejak kematian kekasihnya."

"Begitu. Tapi, sayang sekali. Kalian sudah salah datang ke rumah ini. Karena, anak itu tidak bersembunyi di rumah ini."

"Kami tidak bermaksud menuduh Anda menyembunyikan keberadaannya. Tapi, tolong izinkan kami untuk menggeledah rumah ini."

Danzo langsung bangkit berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan. "Lakukan sesuka kalian," ucapnya setelah sepuluh langkah menjauhi Itachi juga Shikamaru.

Itachi dan Shikamaru saling melempar pandang. Mereka secepatnya berdiri dan mengikuti ketua pelayan tadi yang mengantarkan mereka ke ruangan ini untuk menunjukan tempat-tempat di rumah ini.

"Tuan Sai sudah lama sekali tidak mengunjungi rumah ini," ucap ketua pelayan tersebut memulai pembicaraan.

"Jika tidak salah dengar, Sai memiliki hobi melukis. Benarkah itu?" tanya Shikamaru.

"Benar. Apakah Anda ingin melihat ruangan yang selalu di gunakan oleh Tuan Sai untuk melukis dan menyimpan semua lukisannya?"

"Kami ingin melihatnya."

"Baiklah. Ini ruangannya. Silahkan masuk!" ucap ketua pelayan tersebut setelah membuka pintu itu dengan salah satu kunci yang di bawanya.

Itachi mendorong kedua daun pintu berwarna putih gading itu dengan kedua tangan. Dan seketika ruangan luas dan penuh dengan lukisan di setiap dindingnya membuat Shikamaru sedikit terkejut. Alih-alih tempat melukis, ruangan ini sudah menjadi galeri pameran.

Shikamaru mulai melihat satu persatu lukisan yang di pasang di dinding putih itu. Dan matanya menangkap sebuah kanvas besar yang di tutupi oleh kain putih. Ia diliputi oleh rasa penasaran dan langung menarik kain itu.

Dan sesosok figure seorang gadis berambut kuning keemasan berada di dalam lukisan tersebut. Sosok gadis itu hanya terlihat bagian punggungnya karena sedang berdiri melihat sebuah matahari terbenam di pinggir tebing. Goresan kuas dan perpaduan cat yang digunakan sungguh membuat seakan lukisan itu nyata.

Shikamaru mengulum senyum melihatnya.

"Apakah ini pintu ke ruangan lain?" tanya Itachi dan mencoba membukanya namun terkunci.

Ketua pelayan itu mengangguk pelan. "Kunci pintu ini tidak ada padaku, karena Tuan Sai sendiri yang menyimpannya. Maafkan Saya," jawabnya dan menunduk rendah.

"Hn. Mencurigakan," ucap Itachi pelan.

Shikamaru yang mendengar ucapan Itachi beranjak mendekatinya. Namun lukisan yang berada tepat di belakangnya terjatuh dan sebuah kunci perak terlempar tepat pada saat Shikamaru melangkah.

"Eh! Kunci apa ini?" Shikamaru di buat terkejut dan bulu kuduknya serasa berdiri, terlebih lukisan yang terjatuh itu adalah lukisan yang melukiskan sosok Ino. Ia dengan ragu mengambil kunci perak itu dan menelitinya dari dekat.

"Hey! Itachi, bukankah kau sedang membutuhkan kunci untuk membuka ruangan itu?" tanya Shikamaru dan melemparkan kunci itu pada Itachi dan dengan mudah di tangkap oleh pemuda itu.

"Hn. Mungkin saja ini kuncinya," gumam Itachi pelan.

Itachi memasukan kunci perak itu pada lubang kunci dan memutarnya ke arah kanan dua kali dan—

Cklek!

—pintu itu terbuka dan tak ada penerangan di dalam ruangan tersebut. Gelap gulita.

Shikamaru berjalan mendekati Itachi dan segera menghidupkan tombol lampu untuk ruangan tersebut. Dan selanjutnya kedua mata onyx milik Itachi dan juga Shikamaru terbelalak sempurna ketika melihat isi ruangan itu.

Raut wajah tak percaya menghiasi wajah keduanya. Jantung mereka seakan dipaksa untuk keluar karena terlalu cepat berdetak.

"T-tidak mungkin!" ucap Itachi.

"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?" ucap Shikamaru.

Dihadapan keduanya kini tersuguhkan pemandangan dengan lautan lukisan di setiap dindingnya juga berbagai ukuran dan berbagai pose untuk model lukisan tersebut. Namun setiap model dalam lukisan tersebut selalu sama karena memang hanya satu model yang dipakai, yaitu sosok seorang gadis berparas cantik yang memiliki nama sama dengan bunga yang selalu mekar pada musim semi. Sakura.

Tsuzuku

Gomen:*

Update'y kelamaan… hehehhe*ojigi*

Kmrn2 Saya dalam kondisi yang tdk memungkinkan untuk menjadi seorang author, reader atau pun reviewer:/

Dengan kata lain, tiga bulan kemarin Saya Hiatus.

Dan stlh kondisi Saya lumayan baik untuk mengetik, maka Saya langsung update semua fic Saya.

Mohon maaf krn mengecewakan kalian semua

Ada kbr menggembirakan loh yg akan Saya sampaikan…

Jreng! Jreng!

Fic nie hanya tinggal 4 chapter lg untuk sampai endingnya.

Jadi, bagi yg nunggu2 siapa Si Pelaku itu, tenang z, akan terungkp sbntr lg.

Tapiiiiiiii, adakah yg mau menebak lagi siapa yang terobsesi ma Sakura?

Mungkin z stlh bc chapter kali ini pndpt kalian akan brbah lagi.

Hahahahahahha…

Saya sudah brusaha memberikan petunjuk di awal-awal chapter loh!

Oke. Saya minta kritik dan saran dr kalian semua.

Arigatou^^

Reviews