-Sequel of ChikinChikin-
Happy reading yeoreobun...
.
.
.
GS, No Bash please ^^,
Don't read this story if you don't like my story
Sorry for typo
.
.
.
I hope you'll like my story
.
.
.
Still You
Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)
Chapter 13
Mad
Previous chapter
Jongin mulai kembali sibuk memberikan kecupan di tubuh Kyungsoo. Bibir, leher, lalu sekarang dada Kyungsoo yang menjadi sasaran Jongin. Desahan Kyungsoo semakin menjadi saat Jongin mulai meraba gundukan besar di dada Kyungsoo. Perlahan, tangan Jongin mulai meraba paha Kyungsoo.
"Kau tidak ingin menyuruhku untuk berhenti melakukan ini?".
"Kau bilang aku harus menurut padamu".
"Sesulit inikah membuatmu tidak berontak jika aku ingin begini?".
"Lalu kenapa kau menikahiku, Kim Jongin?".
"Karena kau untukku".
.
.
.
.
100 hari pernikahan Jongin dan Kyungsoo.
"Kau ingin apa?", tanya Kyungsoo.
"Melihatmu memakai pakaian seksi".
"Heh? Kau jangan bercanda, Kim Jongin".
"Aku serius".
"Tidak bisakah kau minta hal lain?".
"Kau yang berjanji akan melakukan apapun saat 100 hari pernikahan kita".
Ya, hari ini tepat 100 hari pernikahan Kyungsoo dan Jongin. Kyungsoo sempat tidak sengaja berjanji pada Jongin akan melakukan apapun yang diminta Jongin. Kyungsoo pikir Jongin hanya akan meminta makan malam romantis, melakukan 'itu' tanpa ada protes atau apapun. Tapi ternyata Kyungsoo salah. Jongin meminta Kyungsoo memakai pakaian seksi saat menemui Jongin nanti saat makan malam.
"Tapi aku tidak punya pakaian seperti itu".
"Aku akan mengantarmu membelinya sebelum kita makan malam".
"Tidak. Biar aku beli sendiri".
"Aku akan tetap mengantarmu. Memastikanmu benar-benar memakai pakai sesuai yang aku inginkan".
"Ahh... Kim Jongin, kau ini benar-benar".
"Kenapa? Aku menyebalkan?".
"IYA! SANGAT! KAU SANGAT MENYEBALKAN!", bentak Kyungsoo lalu masuk ke dalam kamarnya.
Halmeoni keluar dari kamarnya setelah mendengar suara Kyungsoo yang berteriak.
"Ada apa? Kenapa Kyungsoo berteriak seperti itu?".
"Tidak apa-apa, halmeoni".
"Apa lagi yang kau lakukan sampai dia begitu kesal dan membentakmu?".
"Aku hanya meminta dia memakai pakaian seksi", jawab Jongin.
Seketika itu pula halmeoni memukul lengan Jongin setelah mendengar jawaban Jongin.
"Aakk... sakit halmeoni".
"Kau ini. Aneh-aneh saja menyuruh istrimu yang seperti itu memakai pakaian seksi".
"Kenapa? Halmeoni ingin aku minta memakai pakaian seksi juga?", Jongin tersenyum jahil.
Halmeoni kembali memukul lengan Jongin.
"Kau ingin melihat tubuhku yang sudah tua ini? Aigu... cepatlah naik, buat Kyungsoo tidak lagi kesal padamu".
"Iya halmeoni... malam ini aku dan Kyungsoo akan makan malam hanya berdua, tidak apa- apa kan?".
"Tidak apa-apa, kalian pergi sajalah".
"Terima kasih, halmeoni... nanti aku akan kencan dengan halmeoni".
.
.
.
.
Kyungsoo sedang bersiap pergi dengan Jongin untuk membeli pakaian yang sesuai dengan keinginan Jongin. Lalu pergi ke salon. Kyungsoo masih kesal dengan keinginan Jongin. Berkali-kali Kyungsoo meminta Jongin memikirkan lagi keinginannya. Kyungsoo juga terus merutuk dirinya sendiri. Kenapa bibirnya selalu dengan mudah berjanji pada Jongin untuk mau melakukan apapun keinginan Jongin.
Bagaimana bisa Kyungsoo tidak protes. Memakai dress biasa saja itu langka bagi Kyungsoo. Tapi kali ini suaminya, pria paling menyebalkan bagi Kyungsoo. Meminta Kyungsoo memakai pakaian seksi. Apa masih kurang seksikah Kyungsoo? Padahal Jongin sudah melihat tubuhnya, lengkap. Begitu pikir Kyungsoo.
"Kau sudah siap?", tanya Jongin.
"Sudah", jawab Kyungsoo ketus.
"Ayo".
Jongin keluar dari kamar. Kyungsoo mengekor di belakang Jongin dengan lamgkah terpaksa. Kyungsoo harus memastikan kalau dia tidak akan lagi berjanji akan melakukan apapun keinginan Jongin dengan mudah. Sialnya, Jongin selalu punya bukti tentang Kyungsoo yang berjanji pada Jongin. Entah itu tulisan, rekaman suara, atau video yang jelas-jelas memperlihatkan kalau Kyungsoo benar-benar mengatakan itu dengan sadar. Setelah ini, Kyungsoo akan membuat Jongin yang berjanji pada Kyungsoo. Kyungsoo harus pastikan kalau ini yang terakhir dia berjanji pada Jongin.
Jongin mengajak Kyungsoo ke sebuah toko pakaian wanita. Kyungsoo berdiri di samping Jongin. Ada yang tidak beres disini, yang sibuk memilih dress adalah Jongin, bukanlah Kyungsoo. Kyungsoo berdiri sambil melipat kedua tangannya dengan wajah yang kesal.
"Kau tidak mau memilih?".
"Tidak. Kau saja".
"Baiklah kalau begitu, aku yang pilih".
Setelah mendapat dress yang sesuai keinginannya, Jongin meminta Kyungsoo untuk mencoba dress pilihannya. Tanpa dilihat lebih dulu, Kyungsoo langsung membawa dress dari Jongin ke ruang pas. Saat dress itu sudah dengan rapi menempel di tubuh Kyungsoo, Kyungsoo baru sadar kalau dress yang dia pakai bukanlah dress mini. Dress yang Jongin bilang seksi.
"Eoh... ini hanya dress biasa. Apa menurut Jongin ini seksi?".
Dress tanpa lengan berwarna biru langit begitu cocok di tubuh Kyungsoo. Dress yang dipilih Jongin dan sekarang sudah dipakai Kyungsoo tidaklah terlibat seksi bagi Kyungsoo. Dress ini tidak mengepas di tubuh Kyungsoo sampai lekuk tubuh Kyungsoo terlihat begitu jelas dan juga tidak terlalu mini. Panjang dressnya memang di atas lutut Kyungsoo tapi ini masih wajar. Kyungsoo keluar dari ruang pas. Sudut bibir Jongin tertarik begitu melihat wanitanya begitu cantik memakai dress pilihannya. Jongin melangkah mendekati Kyungsoo.
"Cantik". Komentar singkat Jongin. Tapi cukup membuat pipi Kyungsoo merona merah.
"Menurutmu ini seksi?".
"Apapun yang kau pakai, bagaimanapun kau. Menurutku kau seksi".
"Ishh... lalu kenapa menyuruhku memakai pakaian seksi".
"Suami macam apa aku ini membiarkan orang lain melihat dengan bebas lekuk tubuhmu itu. Jika aku tidak mengatakan itu, kau tidak akan mau untuk pergi ke tempat seperti. Aku tanya, memang berapa banyak dress yang ada di lemari pakaianmu?".
"Ada... tiga. Ada dua sepertinya. Atau mungkin satu", Kyungsoo menerka-nerka.
"Dressnya cocok untukmu. Kau suka?".
"Suka. Sangat suka".
"Untuk sekarang cukup ini saja dulu. Aku ingin malam ini kau terlihat sangat cantik dari biasanya".
Jongin memakaikan coat panjang berwarna merah marun. Jongin yang membawa coat itu dari rumah.
"Jadi isi tasmu itu adalah ini?".
"Karena kau tidak akan peduli untuk membawa ini, kan? Karena kau kesal padaku, benar kan?".
"Kau benar-benar suami terbaik. Kau tipeku", ucap Kyungsoo sambil mengacungkan ibu jarinya pada Jongin.
Setelah membeli dress Jongin mengantar Kyungsoo ke salon. Jongin benar-benar ingin membuat spesial hari ini. Hari ke 100 pernikahan mereka. Jongin sudah memesan sebuah tempat di restoran Itali. Kenapa restoran Itali? Kyungsoo pernah protes saat Jongin mengajaknya makan spageti. Kyungsoo protes karena rasa spageti yang aneh menurut Kyungsoo. Kyungsoo ingin mencoba spageti dengan rasa yang asli.
Kyungsoo sudah cantik. Sangat cantik. Jongin pun sudah berganti pakaian saat Kyungsoo di salon tadi. Dress tanpa lengan di atas lutut berwarna biru langit begitu pas melekat di tubuh Kyungsoo. Jongin tak kalah, kemeja berwarna putih dan jas berwarna hitam begitu pas dipakai oleh Jongin. Kyungsoo melingkarkan lengan kanannya ke lengan sebelah kiri Jongin.
"Kenapa makan di tempat seperti ini?", bisik Kyungsoo.
"Kau pasti suka".
Jongin dan Kyungsoo diantar oleh waiters restoran ke tempat yang sudah Jongin pesan sebelumnya. Mata Kyungsoo terus memperhatikan sekeliling. Musik khas negara Eropa mengalun lembut. Kyungsoo sedikit memajukan tubuhnya, lalu bicara pada Jongin dengan berbisik.
"Jongina, ini restoran Itali?", tanya Kyungsoo berbisik.
"Eoh... kau suka?", Jongin menjawab dengan berbisik sama seperti yang Kyungsoo lakukan.
Kyungsoo mengembalikan posisi duduknya lagi. Kembali melihat sekelilingnya. Restoran ini tak terlalu ramai. Mungkin hanya 5-6 meja yang terisi. Semua yang datang ke restoran ini berpakaian yang sama seperti Kyungsoo dan Jongin. Sebagian besar dari mereka pun bukanlah orang Korea. Kyungsoo kembali sedikit memajukan tubuhnya.
"Jongina, kita jangan makan disini. Kita makan di tempat lain saja", bisik Kyungsoo lagi.
"Heh? Pindah?".
"Aku tidak nyaman makan disini. Kita pindah saja, hmmm", bujuk Kyungsoo.
"Tapi kita sudah pesan makanan".
"Jongina...", Kyungsoo semakin merengek.
Tangan mungil Kyungsoo sibuk mengambil potongan kentang goreng yang sudah tinggal setengahnya.
"Hmmm, enak. Kau tidak makan?", tanya Kyungsoo.
"Kau sudah berdandan begitu cantik, aku sudah memesan tempat di restoran Itali agar kau bisa makan spageti yang sesuai keinginanmu. Tapi kita malah berujung makan di restoran fastfood", protes Jongin.
"Makanan disini lebih enak. Sayang jika anniversary kita hari ini jika tidak makan makanan yang enak".
"Terserah kau saja. Aku protes atau mengomel pun kau sudah begitu lahap makan semua itu. Aku senang jika kau senang".
"Benarkah? Tapi wajahmu bilang kalau kau sedang kesal padaku sekarang".
"Makanlah yang kenyang, sayang".
.
.
.
.
3 bulan kemudian
Sepasang sepatu sneakers yang menjadi alas sepasang kaki mungil begitu sibuk melangkah ke kanan dan ke kiri. Sang pemilik sedang sibuk membereskan meja-meja dan kursi-kursi di restorannya. Sesekali karyawan yang bekerja di gedung tempat restoran baru Kyungsoo, menyapa Kyungsoo. Tentu tak semua karyawan yang bergantian masuk ke dalam gedung, hanya mereka yang sudah menjadi pelanggan tetap restoran Kyungsoo yang menyapa.
"Kyungsooya, selamat pagi...".
"Pagi...", jawab Kyungsoo.
Hari ini Taeyong izin untuk tidak bekerja. Kyungsoo sudah meminta Junmyeon untuk membantunya disini. Junmyeon bilang dia akan membantu Kyungsoo setelah mengantar Yuri. Selesai. Meja dan kursi-kursi sudah beres. Kyungsoo bisa saja tidak datang sepagi ini, tapi lebih baik Kyungsoo datang lebih dulu agar tidak terburu-buru membereskan semuanya. Akhirnya Junmyeon datang. Membawa paper bag. Kyungsoo bisa langsung menebak apa yang ada di dalamnya hanya dengan mencium wanginya.
"Kau datang diwaktu yang tepat", komentar Kyungsoo duduk di salah satu kursi yang berada dekat pintu menuju dapur.
"Kenapa? Semuanya sudah beres".
"Aku lapar".
Kyungsoo langsung mengambil paper bag yang dibawa Junmyeon dan membawanya ke dapur untuk disiapkan agar bisa langsung ia santap.
"Apa ada pesanan? Ini baru pukul 9, kau sudah membereskan ini semua".
Kyungsoo kembali dengan membawa dua mangkuk sup seafood dengan dua mangkuk nasi.
"Tidak ada. Lebih cepat selesai lebih baik".
"Jongin sudah datang?".
"Mungkin sebentar lagi".
"Aigu, bahkan suamimu saja belum sampai dan kau sudah begitu rajin disini".
Kyungsoo hanya menyahut perkataan Junmyeon dengan senyum lebarnya sambil terus sibuk menyuapi mulutnya dengan sendok berisi nasi.
"Kau sakit?", tanya Junmyeon tiba-tiba.
"Tidak".
"Wajahmu pucat".
"Aku hanya sedikit pusing pagi tadi, tapi sekarang tidak apa-apa".
"Jangan terus bekerja mengikuti keinginanmu, istirahatlah".
"Isshh, berhentilah berkata itu. Sudah setiap hari aku dengar itu dari Jongin".
"Wajar jika dia seperti itu, itu berarti dia peduli dan sayang padamu".
"Habiskan makananmu Junmyeonssi".
Junmyeon tidak lagi menanggapi Kyungsoo. Karena jika Junmyeon terus protes atau mengomel jelas tidak akan Kyungsoo tanggapi. Karena begitulah Kyungsoo, dia terlalu cinta dengan pekerjaannya dan juga restorannya. Junmyeon dan Kyungsoo sedang sibuk di dapur. Sebentar lagi waktu makan siang, restoran pasti akan ramai. Tiba-tiba Kyungsoo merasa kepalanya berputar. Kyungsoo menghentikan pekerjaannya. Berusaha mengambil segelas air, tapi tiba-tiba tubuhnya terasa lemas hingga hampir terjatuh. Junmyeon yang melihat Kyungsoo jelas panik.
"Kau tidak apa-apa?".
"Eoh... aku tidak apa-apa. Tadi kepalaku sedikit pusing".
Junmyeon menuntun Kyungsoo untuk duduk. Memberikan Kyungsoo segelas air.
"Kau pulang saja. Biar aku yang menjaga disini".
"Tidak. Aku baik-baik saja".
"Wajahmu sudah pucat, jangan paksakan diri".
"Aku tidak apa-apa", Kyungsoo menekankan ucapannya, memperjelas pada Junmyeon kalau dia baik-baik saja.
Kyungsoo kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya. Junmyeon menghela nafas melihat Kyungsoo yang seperti ini. Karena jika Junmyeon terus berkomentar, mereka berdua hanya akan beradu mulut.
Restoran mulai ramai, Junmyeon dan Kyungsoo mulai sibuk dengan orang-orang yang perut mereka demo meminta pemiliknya mengisinya dengan makanan. Tak banyak orang-orang yang sering datang ke restoran Kyungsoo yang berada di kantor Jongin tahu kalau Kyungsoo, istri Jongin dan menantu pemilik salah satu perusahaan di gedung ini. Selain karena Kyungsoo tidak pernah terlihat sedang berdua dengan Jongin saat kantor sedang ramai, juga karena mereka dan Tn. Kim tidak membuat penguman tentang itu.
Junmyeon yang sibuk di dapur sesekali melihat ke arah Kyungsoo. Melihat apa temannya itu baik-baik saja. Akhirnya waktu makan siang sudah lewat. Restoran sudah tak seramai tadi.
"Kyungsooya, istirahatlah sebentar".
"Iya".
"Jangan hanya menjawab iya".
Junmyeon menyimpan piring yang sedang ia cuci. Junmyeon keringkan tangannya lalu menarik lengan Kyungsoo dan memaksa Kyungsoo untuk berhenti bekerja.
"Istirahat!".
"Ya, tapi pekerjaanku belum selesai".
"Aku tidak ingin disalahakan Jongin karena membiarkanmu bekerja. Wajahmu sudah begitu pucat".
"Aku baik-baik saja".
"Istirahatlah".
"Kau ini, sama cerewetnya dengan Jongin".
Junmyeon tak lagi mengomel. Kyungsoo menurut karena dia juga tidak mau mendengar Junmyeon terus mengomel padanya. Kyungsoo memang merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Kyungsoo melihat handphonenya. Memeriksa apa Jongin menghubunginya. Ada. Jongin mengirimnya pesan.
From : Jongin
Kau sudah makan siang? Aku rindu padamu... Saranghae 3
Senyum kecil Kyungsoo muncul membca pesan dari suaminya. Kyungsoo menyeruput coklat panas yang dibuat Junmyeon. Sebentar lagi waktu makan siang selesai. Kyungsoo bisa sedikit lebih santai meskipun sekarang dia sudah bersantai karena pekerjaannya sudah dikerjakan Junmyeon. Kyungsoo melihat layar handphonenya dan teringat sesuatu. Tak lama, Kyungsoo langsung tidak memikirkan itu lagi. Junmyeon dan Kyungsoo pergi bersama untuk minum kopi di cafe tak jauh dari restoran.
"Kau tidak menunggu Jongin?".
Segera Junmyeon melihat ke arah Kyungsoo yang tidak merespon pertanyannya karena Kyungsoo melamun.
"Hei, Do Kyungsoo...", panggil Junmyeon menyadarkan Kyungsoo dengan menjentikkan jarinya di depan wajah Kyungsoo.
"Eoh...", sahut Kyungsoo.
"Kau melamun?", tanya Junmyeon heran. Jelas heran. Junmyeon tidak pernah melihat Kyungsoo melamun seperti sekarang ini.
"Tidak".
"Kau sedang bertengkar dengan Jongin?".
"Tidak".
"Lalu? Kenapa kau melamun seperti ini? Kau benar-benar tidak seperti Do Kyungsoo".
"Aigu... apa Do Kyungsoo tidak boleh melamun? Do Kyungsoo pun sama sepertimu Junmyeonssi, seorang manusia".
"Ada yang sedang kau pikirkan?".
"Tidak".
"Bohong".
"Benar".
"Walaupun aku bukan suamimu atau kekasihku tapi aku tahu kalau kau sedang berbohong".
"Aku baik-baik saja. Aku harus pergi. Hari ini aku yang traktir, habiskan kopimu".
Kyungsoo pergi, membiarkan Junmyeon sendiri menikmati sore harinya, kopi moccacinonya dan sepotong kue pie bluberry.
"Hubungi aku jika kau butuh teman bercerita. Aku siap mendengarkan", kata Junmyeon sedikit berteriak saat Kyungsoo sudah berjalan keluar. Kyungsoo hanya mengangkat sebelah tangannya dan melambai pada Junmyeon tanpa membalikan tubuhnya.
Kyungsoo pulang sendiri. Kyungsoo menyuruh Jongin untuk pulang lebih dulu. Kyungsoo pulang tak langsung naik bus atau taxi. Kyungsoo ingin sedikit berjalan. Padahal jarak dari cafe tempat Kyungsoo dan Junmyeon minum tadi cukup jauh untuk bisa sampai ke rumah. Kyungsoo masih ingin menikmati waktu sendirinya untuk hari ini. Hanya hari ini. Suara lagu Let Out The Beast dari EXO terdengar saat Kyungsoo berjalan. Itu berarti ada panggilan masuk. Kyungsoo bisa menebak siapa yang meneleponnya. Pasti suaminya. Kim Jongin. Langit sudah mulai berubah warna menjadi gelap, tapi Kyungsoo belum sampai di rumah. Selain itu Kyungsoo tidak memberitahu Jongin akan pergi kemana.
"Kau dimana?", tanya Jongin begitu Kyungsoo mengangkat teleponnya.
"Di jalan", jawab Kyungsoo singkat.
"Di jalan? Dimana?".
"Aku sudah menuju rumah".
"Kau sedang berjalan?".
"Eoh..."
"Kau ini dari mana? Aku akan menjemputmu".
"Tidak perlu. Sebentar lagi aku sampai".
"Ini sudah malam".
"Ini masih jam 7, Kim Jongin".
"Benar tidak perlu aku jemput?".
"Benar. Tunggu saja di rumah, hmmm".
Kyungsoo tak melanjutkan lagi jalan kakinya setelah Jongin menelepon. Kyungsoo berhenti di halte dan menunggu bis menuju rumahnya. Tak perlu menunggu lama. Bis menuju rumahnya datang. Orang-orang lain yang menunggu bis yang sama dengan Kyungsoo. Melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam bis segera setelah bis dengan ads bergambar EXO sedang memakai seragam sekolah.
Setelah 20 menit Kyungsoo akhirnya sampai. Jongin sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya. Menunggu Kyungsoo di depan pagar.
"Kau ini dari mana? Menyuruhku pulang lebih dulu", khawatir Jongin.
"Aku habis minum kopi dengan Junmyeon setelah dari restoran".
"Hanya berdua?".
"Kenapa? Kau mau cemburu pada Junmyeon?".
"Tidak. Hanya...-"
"Aku ini bukan hanya sekali pergi berdua dengan Junmyeon. Aku ini milikmu. Kau tahu sendiri bagaimana aku setia padamu, hmmm".
"Oho... kau sekarang sudah pintar mengatakan hal yang membuat hatiku terbang".
"Hatimu itu bukan burung. Ayo masuk, dingin".
Jongin sambil merangkul Kyungsoo masuk ke dalam rumah. Kyungsoo melihat rumah yang sudah sepi. Padahal ini belum pukul 8, tapi halmeoni sudah tidak terlihat di ruang tengah.
"Halmeoni?".
"Sudah tidur. Halmeoni bilang ingin tidur cepat".
"Halmeoni sakit?".
"Tidak".
"Syukurlah".
"Ayo kita cepat ke kamar".
Jongin mengunci pintu lalu Jongin menarik lengan Kyungsoo mengajaknya untuk segera ke kamar. Dengan langkah cepat Jongin menarik Kyungsoo untuk mengikuti langkahnya menuju kamar.
"Ya, Kim Jongin pelan-pelan".
Jongin tidak merespon. Bahkan Jongin malah mempercepat langkahnya. Seperti tidak mendengar perkataan Kyungsoo. Sesampai di kamar Jongin dengan tangan gesitnya membantu Kyungsoo menyimpan tasnya, membuka coat yang Kyungsoo pakai, agar tak mengganggu 'kesibukan' Jongin nanti. Setelah semua yang Jongin rasa akan mengganggunya nanti sudah ia singkiran, Jongin menautkan bibirnya pada bibir Kyungsoo. Kyungsoo, tidak melawan, tidak menolak. Kyungsoo malah membalas perlakuan Jongin. Jongin semakin tidak ingin berhenti. Perlahan, tapi sangat penuh tujuan. Jongin mengarahkan Kyungsoo menuju ranjang. Setelah berhasil, Jongin melakukan tugasnya selanjutnya. Kyungsoo sudah terbaring. Jongin tepat berada diatas Kyungsoo hingga tak ada jarak antara tubuh mereka berdua. Jongin mulai berusaha mencari sesuatu yang berada di balik pakaian yang Kyungsoo pakai. Tapi tiba-tiba, dan lagi-lagi. Kyungsoo menghentikan Jongin yang mulai intens dengan tubuhnya.
"Ada apa sekarang?", tanya Jongin dengan nada kecewa.
"Aku baru saja pulang. Badanku lengket. Aku ingin mandi lalu istirahat, hmmm".
Jongin menghela nafas panjang. Berdiri dari posisinya sekarang yang berada di atas Kyungsoo. Lalu Jongin membaringan tubuhnya. Kyungsoo bangun bersiap untuk mandi. Sebelum pergi ke kamar mandi Kyungsoo mengecup bibir Jongin. Berharap itu bisa membuat Jongin mengurangi rasa kesalnya. Tapi itu tidak cukup buat Jongin. Selalu seperti ini. Tidak hanya sekali Kyungsoo seperti ini. Berkali-kali. Kyungsoo selalu mendapat waktu, alasan, momen, semuanya, untuk membuat Jongin berhenti melakukan 'kesibukannya' pada Kyungsoo dan itu selalu berhasil. Marah? Jongin ingin sekali marah, tapi lagi-lagi, rasa sayang dan cintanya pada Kyungsoo membuat marah Jongin hilang begitu saja. Seperti sebuah es yang disimpan di atas api.
Kyungsoo selesai mandi. Kyungsoo sudah merasa lebih segar. Kyungsoo melihat Jongin sudah terpejam di ranjang. Di posisinya yang biasa jadi tempat tidur Jongin. Sebelah kanan. Seperti biasanya juga Jongin merentangkan sebelah tangannya agar Kyungsoo tidur di atasnya. Membuat lengan Jongin menjadi bantal untuk kepala Kyungsoo. Ini bukan karena Jongin ingin romantis. Ini agar Jongin lebih mudah memeluk Kyungsoo saat tidur dan Kyungsoo pun tidak menolak itu karena Kyungsoo pun suka.
.
.
.
.
"Jongina, aku akan pergi sebentar".
"Kau tidak akan membuka restoranmu?".
"Tetap buka. Taeyong yang menjaganya".
"Kau mau kemana?".
"Aku akan bertemu Baekhyun sebentar".
"Baiklah. Hati-hati. Hubungi aku jika ada apa-apa".
"Hmmm... sampai bertemu nanti di rumah".
.
.
.
.
Kyungsoo pulang setelah hari kembali telah berubah gelap. Bahkan sekarang lebih malam dari beberapa hari sebelumnya. Jongin merasa ada yang aneh. Kemana Kyungsoo beberapa hari ini pergi hingga pulang saat hari sudah malam. Jongin tidak pernah bertanya lebih lanjut karena Kyungsoo selalu mengatakan kemana dia pergi. Hanya saja, Jongin merasa aneh karena Kyungsoo terlalu sering pergi sendiri tanpa meminta Jongin untuk mengantarnya atau menjemputnya.
"Kau sudah makan?", tanya Jongin.
"Hmmm, sudah".
"Benar? Tidak bohong?".
"Tidak, sayang. Aku sudah makan. Perutku sudah kenyang".
"Mandilah".
Kyungsoo lalu pergi ke lantai atas menuju kamarnya bersama Jongin. Kyungsoo ingin mandi. Ingin menyiram kepalanya dengan air. Ingin membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Pikiran Kyungsoo memang sedang sedikit kacau. Beberapa hari ini memang ada yang membuatnya seperti ini.
"Mandilah dengan air hangat, Kyungsooya", teriak Jongin dari luar.
"Hmmm...", sahut Kyungsoo dari dalam kamar mandi.
Kyungsoo keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya yag basah dengan handuk. Jongin sudah di atas ranjang. Duduk dengan selimut yang menutupi kakinya hingga lutut. Sedang sibuk memencet huruf-huruf di keyboard laptopnya. Kyungsoo duduk di samping Jongin melihat apa yang sedang suaminya kerjakan.
"Pekerjaan?", tanya Kyungsoo.
"Iya. Beberapa hari lagi akan ada audit bulanan".
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. Lanjutkan".
"Sebentar. Tapi jika kau sudah mengantuk kau tidur saja".
"Tidak. Kau lanjutkan saja. Aku akan ke bawah".
Jongin kembali melanjutkan pekerjaannya. Kyungsoo keluar dari kamar agar tidak mengganggu Jongin. Kyungsoo membuat coklat panas. Duduk di sofa melihat ke arah halaman depan yang terkena cahaya lampu taman berwarna orange redup. Kyungsoo memasang earphone di telinganya. Memutar lagu-lagu kesukaan Kyungsoo. Sesekali Kyungsoo bersenandung mengikuti lagu yang ia dengar sambil menikmati coklat panasnya.
Jongin sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia membereskan laptop dan kertas-kertas dokumen yang sebelumnya berantakan di atas ranjang. Jongin juga merapikan tas dan coat Kyungsoo yang berada di ujung rangjang. Saat Jongin mengambil tas milik Kyungsoo sebuah amplop terjatuh. Jongin mengambil amplop itu untuk kembali di masukkan ke dalam tas Kyungsoo. Tapi Jongin tidak sengaja melihat logo yang terdapat di depan amplop itu. Tertulis dengan jelas RS. HAN DUNG WON. Timbul pertanyaan dari Jongin. Ada apa Kyungsoo pergi ke rumah sakit? Apa Kyungsoo sakit? Tapi kenapa Kyungsoo tidak mengatakan apapun?
Jongin ingin tahu apa isi surat yang ada di dalam amplop itu. Jongin dibuat kaget. Benar-benar kaget saat melihat apa yang tertulis di surat itu. Kyungsoo hamil? Umur kehamilan Kyungsoo sudah 7 minggu. Jongin melihat tanggal yang tertera di surat. Itu satu minggu yang lalu. Kyungsoo tidak memberitahunya tentang hal ini. Jongin membutuhkan penjelasan dari Kyungsoo. Sangat butuh. Bagaimana bisa, Jongin, suaminya, tidak diberitahu tentang kehamilan istrinya. Dengan langkah cepat Jongin keluar kamar, memanggil Kyungsoo. Jongin ingin sekali berteriak untuk memanggil Kyungsoo. Tapi itu tidak mungkin. Ini sudah malam, halmeoni sudah tidur. Jongin tidak mau halmeoni terbangun karena mendengar suara teriakan Jongin dan mendengar Jongin yang sekarang ini sedang sangat marah pada Kyungsoo. Tanpa aba-aba, Jongin langsung menarik lengan Kyungsoo dan menariknya untuk segera kembali ke kamar.
"Kau sudah selesai? Pelan-pelan, tanganku sakit".
Tapi Jongin tidak menghiraukan perkataan Kyungsoo. Jongin sesaat dibuat lupa tentang Kyungsoo yang sedang hamil, dan mengeluh tangannya yang terasa sakit karena Jongin yang terlalu kencang menggenggam tangan Kyungsoo.
"Ahh... sakit. Ada apa?".
"Tidak ada yang ingin kau bicarakan denganku?", tanya Jongin berusaha menahan marahnya.
"Bicara? Tidak".
"Kau yakin? Tidak ada yang ingin kau bicaraka tentang dirimu?", Jongin kembali berusaha membuat Kyungsoo bicara.
"Tidak ada".
Jongin sudah terlanjur marah dan tidak menahan lagi apa yang dia rasakan sekarang. Jongin menunjukkan surat hasil pemeriksaan Kyungsoo di rumah sakit dan hasil tes itu mengatakan tentang Kyungsoo yang hamil.
"Kau tidak ingin menjelaskan tentang ini?".
"Iii...ii...itu kau dapat dari mana?".
"Ada di dalam tasmu".
"Bagaimana bisa it-".
"Kau lebih khawatir tentang itu? Kenapa kau tidak bicara tentang ini padaku? Kau hamil? Di hasil tes ini tertulis tanggal tepat satu minggu yang lalu. Kau berbohong padaku?", Jongin menghujani Kyungsoo dengan pertanyaan.
"Bukan begitu, Jongina".
"Lalu? Apa kau begitu tidak ingin memiliki anak? Kau tidak ingin memiliki anak dariku? Sampai kau tidak memberitahuku tentang kau yang hamil?".
"Bukan, seperti itu".
"Aku benar-benar tidak percaya kau seperti ini, Do Kyungsoo".
"Jongina, dengarkan aku dulu".
"Kita bicarakan lagi ini besok. Tidurlah. Ini sudah malam. Halmeoni sudah tidur. Aku akan tidur di kamar bawah", ucap Jongin masih dengan nada marah.
"Jongina..."
Jongin tidak menanggapi. Dia langsung menuju kamar di lantai bawah dengan diam-diam agar halmeoni tidak sadar kalau Jongin tidur di kamar, di lantai bawah. Kyungsoo ingin menyusul Jongin. Bicara pada Jongin, menjelaskan semuanya.
.
.
.
.
- Flash back -
"Jongina, aku akan pergi sebentar".
"Kau tidak akan membuka restoranmu?".
"Tetap buka. Taeyong yang menjaganya".
"Kau mau kemana?".
"Aku akan bertemu Baekhyun sebentar".
"Baiklah. Hati-hati. Hubungi aku jika ada apa-apa".
"Hmmm... sampai bertemu nanti di rumah".
Kyungsoo tidak benar-benar pergi dengan Baekhyun seperti yang ia katakan pada Jongin. Kyungsoo menghubungi Baekhyun meminta Baekhyun untuk mengatakan kalau dia sedang bersama Kyungsoo jika Jongin bertanya. Baekhyun hanya menjadi alasan untuk Kyungsoo. Kyungsoo tahu tidak seharusnya dia berbohong pada Jongin dengan Baekhyun yang menjadi alasan. Kyungsoo terpaksa, karena Jongin tidak akan mengintrogasinya jika tahu akan bersama Baekhyun. Kyungsoo langsung mendapat jawaban iya dari Baekhyun saat ia minta Baekhyun untuk menjawab pertanyaan Jongin, jika Jongin bertanya? Tentu tidak. Ada protes, sedikit omelan karena Kyungsoo meminta Baekhyun berbohong. Tapi pada akhirnya Baekhyun mengiyakan permintaan Kyungsoo. Kyungsoo bukan pergi untuk pergi bersama dengan Baekhyun ataupun bertemu dengan Baekhyun. Kyungsoo akan pergi ke rumah sakit. Kyungsoo tidak sakit. Kyungsoo baik-baik saja bahkan sangat baik. Kyungsoo mau memastika sesuatu.
Sebelumnya, saat Kyungsoo bekerja di restoran dengan wajah pucat bersama dengan Junmyeon. Saat itu Kyungsoo merasa tubuhnya begitu lemas. Kepalanya pun terasa berputar. Tapi rasa itu akan hilang jika Kyungsoo sudah sibuk di restoran. Saat Junmyeon menyuruh Kyungsoo untuk beristirahat setelah restoran mulai sepi, Kyungsoo teringat sesuatu. Hari itu adalah hari dimana Kyungsoo selesai dari masa datang bulan. Tapi Kyungsoo ingat. Dia sama sekali belum datang bulan. Kyungsoo awalnya biasa saja karena sebelumnya ini pernah terjadi. Tapi saat ingat lagi. Kalau sekarang Kyungsoo sudah memiliki Jongin. Suaminya. Jongin yang selalu senang 'bekerja' dengan tubuh Kyungsoo. Sekali? Dua kali? Tidak. Jadwal yang Kyungsoo buat sama sekali tidak berlaku. Tidak berpengaruh sama sekali. Karena teringat itu, sebelum pulang ke rumah dan pergi minum kopi bersama Junmyeon, Kyungsoo pergi untuk membeli alat tes kehamilan.
Benar dugaan Kyungsoo. Dua garis berwarna merah muda terlihat. Positif. Kyungsoo positif hamil. Tapi ada apa ini? Kyungsoo tidak sehisteris seperti wanita lain yang tahu bahwa dirinya hamil. Itu yang membuat Kyungsoo terus berpikir. Tidak ada yang tahu. Satu orang pun tentang Kyungsoo yang hamil. Kyungsoo masih harus memastikan ini dengan memeriksanya ke rumah sakit.
Kyungsoo pergi ke rumah sakit memeriksakan apakah benar dirinya hamil atau tidak. Kyungsoo menunggu namanya dipanggil oleh perawat. Rasanya seperti tahanan yang menunggu hukuman mati. Jantung Kyungsoo begitu berdebar. Kyungsoo tahu tidak seharusnya dia seperti ini. Kyungsoo bukan tidak suka atau tidak mau. Kyungsoo punya alasan sendiri kenapa dia seperti ini.
Akhirnya Kyungsoo dipanggil. Kyungsoo masuk ke dalam ruang periksa. Sekitar 15 menit Kyungsoo berada di dalam. Kyungsoo keluar dari ruangan dengan lemas. Kyungsoo keluar sambil memegang sebuah amplop dengan logo dan nama rumah sakit tempat Kyungsoo memeriksa kehamilannya. Kyungsoo duduk, melihat kembali isi amplop yang ia pegang.
"Aku benar-benar hamil".
Kyungsoo langsung mengambil handphonenya dari dalam tasnya. Kyungsoo bukan akan menghubungi Jongin. Membaritahu Jongin tentang ini.
"Ya, Byun Baekhyun..."
Kyungsoo pergi menemui Baekhyun. Setidaknya Kyungsoo bisa bercerita tentang ini pada teman baiknya. Kyungsoo datang ke rumah Baekhyun tinggal. Kyungsoo tidak tega meminta Baekhyun untuk pergi dengan perut yang sudah besar. Kyungsoo menceritakan semuanya. Sebenarnya Kyungsoo tidak ingin menceritakan ini pada Baekhyun, karena Kyungsoo tahu Baekhyun akan mengomel. Bukan, bukan mengomel, lebih tepatnya akan marah.
"Ya, Do Kyungsoo. Tidak bisakah kau sekali tidak berbuat aneh?".
"Ada alasan kenapa aku seperti ini, Baekhyuna".
"Berbohong pada Jongin, suamimu sendiri? Pertama masalah jadwal konyolmu, lalu sekarang kau tidak akan memberitahu Jongin tentang kehamilanmu?"
"Aku bukan berbohong aku hanya tidak akan memberitahunya sekarang".
"Sama saja".
"Kau tahu sekarang aku sangat senang dengan pekerjaanku. Jika aku beritahu Jongin, dia akan melarangku bekerja, Baekhyuna".
"Apapun alasanmu. Aku bukan suamimu. Tidak perlu jelaskan apapun padaku".
.
.
.
.
Kyungsoo pelan-pelan menuruni tangga. Kyungsoo menuju kamar Jongin tidur. Kyungsoo ingin bicara pada Jongin. Belum sampai Kyungsoo ke kamar Jogin, bahkan Kyungsoo masih perlu menuruni beberapa anak tangga, Jongin sudah keluar dari kamar. Menghampiri Kyungsoo, menarik tangan Kyungsoo dan mengajaknya kembali masuk ke dalam kamar.
"Aku bilang tidurlah. Jangan bangunkan halmeoni dengan suara bicara kita".
"Tapi Jongina, aku-"
"Bicarakan ini lagi besok. Tidurlah".
Jongin kembali keluar dan meninggalkan Kyungsoo tidur. Kyungsoo hanya melihat punggung Jongin yang hilang dari balik pintu. Kyungsoo akan tidur sesuai perintah Jongin. Tentu saja tidak. Terlebih lagi dalam keadaan seperti ini. Kyungsoo tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Jongin sengaja untuk tidur di kamar lain. Karena jika harua tidur dengan Kyungsoo, Jongin bisa pastikan Kyungsoo akan terus bicara tentang masalah mereka sambil menangis. Jongin tidak ingin halmeoni mendengar suara tangis Kyungsoo di malam hari. Pastinya, Jongin tidak ingin halmeoni tahu tentang masalahmya dengan Kyungsoo sekarang. Jadi Jongin memutuskan untuk tidur di kamar lain.
Sudah pagi. Sudah pukul 6 pagi. Kyungsoo tidak tidur malam ini. Begitu pun dengan Jongin. Pagi-pagi sekali Jongin kembali ke kamarnya, takut-takut halmeoni tahu dia tidur di kamar bawah. Kyungsoo sudah bangun untuk memasak sarapan dan menyiapkannya. Jongin turun dari lantai atas setelah bersiap untuk pergi bekerja. Sejak pagi tadi saat Jongin kembali ke kamarnya, dia sama sekali tidak bicara apapun pada Kyungsoo. Begitu pun dengan Kyungsoo. Sarapan hari ini lebih tenang, mungkin kata yang pas sepi. Tidak seperti biasanya. Halmeoni, yang merasa ada yang aneh dengan suasana sarapan kali ini mencoba bersuara.
"Semalam kau tidak tidur di kamarmu, Jongina?", tanya halmeoni.
"Iya", jawab Jongin singkat sambil sibuk menyendoki nasi.
"Kenapa?".
"Aku bekerja hingga pagi, aku takut mengganggu Kyungsoo".
Halmeoni tidak bersuara lagi. Kembali sepi. Kyungsoo tak berbicara apapun, Kyungsoo takut ia salah bicara dan nantinya malah akan membuat Jongin semakin kesal padanya. Jongin sudah selesai dengan sarapannya. Jongin langsung berdiri dan pamit untuk pergi bekerja. Padahal masih sangat pagi bagiu Jongin untuk pergi ke kantor. Jongin tidak mau terjebak dalam suasana diam dengan Kyungsoo saat ada halmeoni.
Kyungsoo pergi ke restoran setelah semua pekerjaannya di rumah selesai. Halmeoni bilang akan pergi menemui temannya. Jadi rumah akan kosong, Kyungsoo bisa bicara dengan Jongin di rumah. Kyungsoo mengirim pesan pada Jongin untuk bicara dengannya di rumah saat waktu makan siang dan Jongin mengiyakan. Akhirnya waktu makan siang, Kyungsoo sudah lebih dulu sampai rumah menyiapkan makan siang untuk Jongin. Jongin datang setelah makanan sudah siap di meja makan.
"Makanlah dulu", kata Kyungsoo.
"Bicara saja".
"Kau marah?".
"Heh? Kau tanya aku marah?".
"Maafkan aku", suara Kyungsoo lirih. Kyungsoo melanjutkan perkataannya.
"Aku bukan tidak mau memberitahumu. Aku bukan tidak menginginkan untuk hamil. Aku hanya... aku hanya... hanya...-"
"Apa?".
"Aku takut kau akan melarangku untuk bekerja jika tahu aku hamil". Kyungsoo masih belum berani melihat wajah Jongin.
"Heh? Kau bilang apa? Kau takut aku melarangmu untuk bekerja di restoran?".
Kyungsoo mengangguk. Masih dengan kepala yang tertunduk dan Kyungsoo mulai menangis.
"Kyungsooya, kita ini sudah menikah. Kau tahu apa artinya? Itu artinya kau sudah dewasa. Aku benar-benar masih tidak mengerti kenapa ini menjadi alasan untukmu untuk seperti ini padaku. Tidak memberitakukan kalau kau, istriku, hamil".
"Maafkan aku".
"Aku akan kembali ke kantor".
"Jongina..."
Jongin pergi meninggalkan Kyungsoo yang mulai terisak karena tak bisa lagi menahan tangisnya.
Kyungsoo tidak kembali ke restoran. Kyungsoo meminta Junmyeon untuk melihat Taeyong saat jam restoran tutup. Kyungsoo tidak ada semangat untuk melangkahkan kakinya. Kyungsoo diam di halaman belakang, duduk di ayunan sambil memegang segelas jus apel yang belum ia minum sedikit pun. Pandangannya kosong. Pikirannya melayang. Halmeoni pulang dan langsung menghampiri Kyungsoo begitu tahu ada orang di rumah.
"Kyungsooya, kau tidak ke restoran?".
Kyungsoo tidak merespon. Kyungsoo melamun.
"Do Kyungsoo...".
"Halmeoni", jawab Kyungsoo kaget.
"Kau tidak ke restoran?".
"Aku sudah pulang, Junmyeon yang ada disana".
"Kau sakit?".
"Tidak, halmeoni. Aku baik-baik saja".
"Baiklah. Jika kau merasa tidak enak badan jangan hanya diam, mengerti?".
"Iya, halmeoni".
"Aku akan ke kamarku dulu".
"Halmeoni mau aku buatkan teh?".
"Boleh. Kita minum teh bersama".
"Baiklah".
Kyungsoo pergi ke dapur, membuat teh untuk halmeoni. Kyungsoo harus berpura-pura baik-baik saja di depan halmeoni. Pagi tadi Jongin berbohong pada halmeoni kenapa dia tidur di kamar bawah. Itu tandanya Jongin tidak ingin halmeoni tahu tentang masalahnya. Halmeoni duduk di sofa ruang tengah, menunggu Kyungsoo datang membawa teh. Hari sudah semakin sore. Seharusnya Jongin sudah pulang. Tapi ini hampir pukul 6, belum ada tanda-tanda Jongin pulang. Mungkin Jongin sedang banyak pekerjaan, atau karena tidak mau bertemu dengan Kyungsoo. Kyungsoo yang sedang memotong wortel tidak sengaja pisau yang ia pakai melukai jarinya.
"Aww...".
Halmeoni yang mendengar suara Kyungsoo mengaduh langsung menghampiri Kyungsoo.
"Kenapa? Aigu... kau ini sedang memikirkan apa? Sampai jarimu terkena pisau seperti ini".
"Aku tidak apa-apa halmeoni. Ini hanya luka kecil".
"Sikapmu yang selalu menganggap semuanya baik-baik saja itu harus kau ubah. Jangan buat orang lain selalu khawatir padamu".
Kyungsoo terdiam. Perkataan halmeoni sama seperti perkataan Jongin jika sedang mengomel padanya. Kyungsoo rindu pada Jongin. Kyungsoo rindu dengan Jongin yang selalu membuatnya merasa seperti wanita. Kyungsoo rindu dengan omelan-omelan Jongin. Tanpa Kyungsoo sadari air matanya jatuh mengenai tangan halmeoni yang sedang mengoleskan salep luka di jari Kyungsoo.
"Kau menangis? Sesakit itukah?", tanya halmeoni.
Kyungsoo mengangguk, "iya, sangat".
"Aigu... kau sendiri yang bilang ini hanya luka kecil. Sudahlah... sudahlah...", halmeoni memeluk Kyungsoo berusaha menenangkan Kyungsoo.
"Maafkan aku halmeoni".
"Kenapa meminta maaf. Sudah, sudah, lukanya sudah diberi salep, akan segera sembuh".
"Terima kasih. Halmeoni duduk saja, aku akan melanjutkan memasak".
"Tidak... tidak... untuk malam ini kita makan diluar saja, kau tidak perlu memasak".
"Tidak apa-apa, halmeoni".
"Tidak. Menurut saja dan tidak perlu berdebat denganku. Hubungi Jongin, tanya dia pulang jam berapa".
Kyungsoo terdiam. Hubungi Jongin? Pesannya saja sejak pagi tadi tidak ada yang Jongin balas satu pun. Lalu kali ini halmeoni menyuruh Kyungsoo menghubungi Jongin. Sudah bisa dipastikan Jongin tidak akan menjawab teleponnya. Tapi mau tidak mau Kyungsoo harus menghubungi Jongin agar halmeoni tidak curiga. Dering pertama. Belum ada jawaban. Dering berikutnya, masih tidak ada jawaban. Sampai akhirnya suara wanita operator yang selalu setia menjawab panggilan siapapun terdengar. Kyungsoo kembali mencoba menelepon Jongin. Baru kali ini Kyungsoo menelepon Jongin rasanya seperti menelepon presiden. Begitu berharap dia akan menerima panggilan dari kita agar bisa menyampaikan semua keluhan kita.
"Halo...".
Diangkat. Jongin menjawab panggilan dari Kyungsoo. Dengan cepat Kyungsoo merespon Jongin.
"Kau sudah pulang?".
"Sebentar lagi. Kenapa?".
Kyungsoo terdiam. Jongin begitu dingin menjawab pertanyaan Kyungsoo. Begitu terdengar kalau Jongin sangat tidak ingin bicara terlalu lama dengan Kyungsoo.
"Kenapa?", tanya Jongin dengan nada yang tidak halus seperti biasanya.
"Halmeoni bilang malam ini kita makan diluar saja, Jongina".
"Kau makan saja dengan halmeoni".
"Tapi, Jongina-"
"Aku sibuk. Kau makan saja dengan halmeoni. Aku tutup teleponnya".
Raut wajah Kyungsoo berubah. Kyungsoo kembali ingin menangis mendengar Jongin yang seperti ini. Bahkan ditelepon.
"Seburuk itukah yang aku lakukan sampai kau seperti ini padaku?", gumam Kyungsoo sambil menahan tangis.
"Bagaimana Kyungsooya?", tanya halmeoni.
Kyungsoo dengan cepat memeriksa matanya takut-takut ada air mata yang terlihat.
"Jongin bilang kita makan berdua saja".
"Begitukah? Tumben sekali dia menolak seperti itu. Kalau begitu kita pesan saja".
"Iya, halmeoni".
.
.
.
.
Halmeoni sudah tidur. Tak lama setelah makan malam halmeoni pamit untuk masuk ke kamarnya. Kyungsoo duduk di sofa menunggu Jongin yang belum juga pulang. Kyungsoo sebenarnya sudah merasa ngantuk. Matanya sudah minta untuk di ganjal jika masih ingin terbuka. Kyungsoo melirik jam dinding. Sudah pukul 9, Jongin belum juga pulang. Kyungsoo mengambil handphonenya, kembali mencoba mengirim pesan pada Jongin.
"Andai saja abeonim masih ada disini. Setidaknya Jongin tidak akan pulang begitu malam seperti ini".
Tn. Kim, ayah Jongin, sudah kembali ke Amerika sejak 4 bulan lalu. Karena Tn. Kim merasa Jongin sudah bisa bekerja tanpa bimbingannya lagi, juga pekerjaannya di Seoul sudah selesai. Keadaan ini semakin mempermudah Jongin untuk menjauhi Kyungsoo. Kyungsoo terus menunggu Jongin. Jongin tidak membalas pesan yang Kyungsoo kirim. Tanpa terasa Kyungsoo tertidur di sofa. Kyungsoo sudah tidak kuat lagi untuk memaksakan matanya untuk tetap terjaga.
Alarm di handphone Kyungsoo berdering. Itu tandanya sudah pagi. Alarm di handphone Kyungsoo sudah Kyungsoo setel di pukul 5 pagi. Kyungsoo sadar kalau dia tertidur di sofa semalam. Jongin. Kyungsso teringat dengan Jongin. Kyungsoo lalu dengan cepat menuju kamarnya di lantai dua untuk melihat Jongin. Tidak ada. Jongin tidak tidur di kamar. Lalu Kyungsoo memeriksa kamar di lantai bawah. Tidak ada juga. Jongin tidak ada.
"Apa dia tidak pulang?".
Kyungsoo lalu keluar untuk melihat mobil Jongin. Tidak ada juga. Jongin benar-benar tidak pulang.
"Dia tidak pulang. Apa halmeoni tahu Jongin tidak pulang?", Kyungsoo mulai khawatir dengan halmeoni yang akan tahu bahwa Jongin sedang marah padanya. Kyungsoo kembali masuk untuk merapikan rumah dan menyiakan sarapan.
.
.
-TBC-
.
.
.
.
.
Huwaaa... akhirnya aku bisa update ^^,
Annyeong yeoreobun... *lambaitangan*
Ada yang kangen aku? #plak hihihi ^^,
Maafkan karena tiba-tiba hiatus dan telat memberi kabar, don't hate me yess...
Terima kasih buat yang masih tetap menunggu kelanjutan ff ini, seribu cinta buat kalian...
Peluk cium buat kalian semua, terutama buat teman baruku yang namanya Echi, yang jadi temen gilaku selama nulis chapter ini...
Tunggu kembali next chapternya ya...
Always waiting your review... ga pernah bosen minta review dari readers semua ^^,
*kisshug*
*XOXO*
