A/N: Ada scene AceLu~ Tapi di next chapter bukan di chapter ini. Hahahaha! :P #Plaak

Sebagian besar, isinya konfrontasi. Dan warning-nya mungkin... tempramental dan OOC Law? Enjoy~


One Piece © Eiichiro Oda

Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse

Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)

Genre: Romance/Humor/Drama

Rated: T

Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)

Don't like? Don't read!


-Chapter 12-

Unpredictable Rival

.

Dalam memperoleh sesuatu, sungguh nihil peluangnya jika kau tak menemui serpihan kerikil halangan.

.


"Jika kau ingin mengamen, jangan lakukan di tempat ini!"

WTF?

.

.

Tak pernah sedikitpun terpatri dalam benak seorang Trafalgar Law bahwa ia akan dituduh seperti itu. Di saat kedua matanya memandang sesosok pemuda bersuara cempreng yang kini berdiri di hadapannya, ia akan mengira bahwa anak itu datang untuk meminta tanda tangan. Atau mungkin, anak itu mendatanginya untuk sekedar melontarkan pujian tentang betapa hebatnya gerakan breakdance miliknya itu. Sungguh sangat biasa ia memiliki persepsi seperti itu. Karena ia adalah seorang idola dunia berentitas Breakdancer profesional. Siapa yang tidak mengagumi dan mengenal Law? Sudah pasti ia digilai para fans, iya kan?

Namun, yang terjadi saat ini sungguh kontradiksi.

"Jika kau ingin mengamen, jangan lakukan di tempat ini!"

Mengamen...

Mengamen katanya?

Hahaha.

Dengan keadaannya yang baru saja melakukan gerakan breakdance level sulit. Dengan penampilannya yang serba macho dan elit. Dengan satu set sound system yang mendendangkan musik RnB Rapp yang cukup berkelas. Bahkan kerumunan fans-nya sudah menjadi saksi atas tahta popularitasnya!

Dan ia... Pun. Telah. Dituduh. Sebagai. Pengamen?

What the heck, man?

WHAT.

THE.

HECK!

Dan Monkey D. Luffy masih tetap tak bergeming dengan keyakinannya. Ia yakin bahwa pria yang ada di hadapannya itu hanyalah seorang pengamen tak punya kerjaan yang hanya bisa mengemis kepingan logam uang dengan cara menari tak jelas di apartemennya itu.

Sungguh sebuah persepsi yang cukup... sadis.

"Maaf, apa kau tak salah bicara? Kau mengira bahwa aku sedang... mengamen?"

"Ne, bukankah hal itu sudah jelas? Tadi aku melihat banyak orang yang mengerumunimu. Kau melakukan tarian aneh dan aku yakin, yang kau lakukan itu adalah mengamen. Pertama kali aku melihat atraksimu, kupikir kau sedang melakukan atraksi topeng monyet, ne. Tapi ternyata dugaanku salah saat aku tak melihatmu memiliki seekor monyet."

JEDAAARRR!

Seakan ada sebuah bom nuklir yang menghantam eksistensi Law di saat ia disangka akan melakukan sebuah atraksi topeng monyet. Ia sudah cukup syok saat dianggap sebagai pengamen dan kini...

... Topeng monyet?

Salahkah jika kini Law menatap Luffy layaknya orang gila?

'Lazimnya jika orang melihatku, ia pasti akan histeris dan menunjukkan sisi kekagumannya terhadapku. Tapi anak ini... anak ini sudah menuduhku yang bukan-bukan. Apa anak ini tidak mengenal identitasku sama sekali?' Law mulai berspekulasi. Kembali ditatapnya Luffy dengan pandangan skeptis. "Hei, Bocah! Apa kau sungguh-sungguh tak mengenal siapa aku?"

"Bocah? Aku bukan bocah, ne! Aku sudah menjadi seorang mahasiswa!" Luffy tampak sewot. Sebelah alis Law terangkat, tanda rasa kurositas. Pemuda berwajah lugu ini sudah...

"Mahasiswa?"

"Benar! Kalau tidak percaya, kau lihat saja ini!"

BRUUKK!

"OUFHH!"

Sebuah buku tebal telah dihantamkan Luffy tepat di wajah Law. Buku itu tak lain adalah buku tugas yang harus diselesaikannya. Law tampak meraba buku itu dan mengusap wajahnya. Luffy sudah kembali menikamnya dengan raut serius. "Gara-gara kau, aku tak bisa berkonsentrasi, ne! Besok, tugas itu harus segera kukumpulkan! Dosenku bisa marah jika begini caranya..."

"Gara-gara aku? Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa denganmu, Bocah!"

"Itu karena musik kerasmu itu, ne! Suara musikmu itu terdengar dari dalam kamarku! Aku tak bisa berkonsentrasi! Dan aku bukan bocah! Namaku Monkey D. Luffy!" Begitu persisten. Luffy tetap tak melunturkan rasa ngototnya. Law hanya terdiam melihat itu. Anak ini... sudah tak tahu siapa identitasnya dan ia juga sudah berani melawannya seperti ini?

Sungguh menarik.

"Aku minta maaf jika suara musikku ternyata mengusikmu, Bocah-ah, maksudku... Monkey D Luffy," senyum sinis terlukis di paras Law. Ia memutuskan untuk bermain-main sebentar dengan interuptornya itu. "Jadi, kembali ke pertanyaanku sebelumnya. Apa kau sungguh-sungguh tak tahu siapa aku sebenarnya?"

"Ne?" dahi Luffy berkerut sesaat sebelum pada akhirnya ia menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu siapa kau."

"Ah, begitu..." Law terdiam sejenak. Mungkin sebuah nama bisa memberikan Luffy sedikit pencerahan? "Aku adalah Trafalgar Law."

'Ia pasti akan terkejut mendengar namaku. Nama dari seorang Breakdancer top di era ini.' Benak Law seakan tertawa. Ya. Ia yakin, sekali orang mendengar namanya, mereka pasti akan terkejut dengen segenap rasa kesadaran yang ada.

Tapi ternyata...

"Flagaltar Lwa-apa? Maaf, bisakah kau ulangi lagi, siapa namamu tadi?"

Gubraakkss!

Jangan salahkan Law jika sang Breakdancer itu mendadak ambruk ke bawah. Sepertinya pemuda itu sungguh-sungguh tak mengetahui identitasnya sama sekali.

"Trafalgar Law! Namaku Trafalgar Law!"

"Fafelgar Lew?"

"Trafalgar!"

"Rlafagra?

"TRAFALGAR!"

"AGAR-AGAR?"

Plak!

Law menepuk dahinya. Ia menggelengkan kepala. Sungguh nasib. Kenapa ia harus mengalami semua kejadian ini? "Terserahlah. Kau ingin memanggilku apa. Panggil saja Law. Aku tak keberatan."

"Ah, o-oke. Lwa! Heeheehee!" Luffy tampak menggaruk belakang kepalanya. Law hanya menghela napas pasrah. Dan mahasiswa Mugiwara itu kembali melanjutkan penjelasannya. "Jadi, Lew! Kenapa kau bisa mengamen di tempat ini, ne?"

DEG!

Hening.

Luffy menunggu jawaban.

Dan Law pun... melotot.

"AKU BUKAN PENGAMEEEEEN!"


~AxL~


DOK! DOK! DOK!

"Tunggu sebentar!" Pintu kamar terketuk keras dan Ace pada akhirnya terbangun dari tidurnya. Musisi Black Spade itu mengusap matanya. Mencoba menyadarkan diri sepenuhnya untuk keluar dari kungkuman alam mimpi. Dahinya berkerut saat menyadari satu hal.

Ruangan tengah telah kosong.

"Di mana Luffy?"

DOK! DOK! DOK!

"IYA, TUNGGU SEBENTAR! Tak sabaran sekali..." Ace hanya merutuk pelan. Segera ia hampiri pintu dan membukanya secepat mungkin. "Ada apa?"

"Ah, maaf? Ini kamar apartemen Monkey D. Luffy? Aku kemari untuk mengantarkan ini." Aokoji, seorang postman pengantar paket dan surat, terlihat berdiri di hadapan Ace dan menyerahkan sebuah amplop besar berwarna cokelat. Ace menautkan alisnya melihat itu.

"Untuk Luffy? Dari siapa?"

"Itu dari Garp-san. Mungkin isinya uang untuk pembayaran apartemen. Ia selalu mengirimkan paket itu pada cucunya setiap bulan. Baiklah, aku permisi dulu."

"Oh, begitu. Terima kasih." Dan sang postman itu segera berlalu pergi meninggalkan Ace. Yang ditinggalkan tampak mengerutkan dahi dan menggaruk belakang kepalanya untuk sesaat.

"Sekarang aku harus mencari di mana Luffy..."

Ace lekas melangkah keluar kamar. Benaknya masih menerka-nerka di mana lokasi keberadaan roommate-nya. Belum sempat nalarnya memutuskan untuk pergi ke arah mana, sumber suara ribut dari dua orang pemuda sudah menghantam pendengarannya secara tiba-tiba.

"Aku ini Breakdancer top dari Amerika! Masa kau tidak mengenaliku, hah!"

"Gaaahh! Aku tidak tahu siapa kau! Dan aku tak peduli, ne!"

"Tidak bisa begitu! Kau pasti berpura-pura tidak tahu 'kan! Tak ada satupun orang di dunia ini yang tidak mengenal reputasiku! Aku ini Trafalgar Law! TRAFALGAR LAW! THE DEATH BREAKDANCER!"

"DAN AKU TAK PEDULI, NEE! SEKARANG, LEPASKAN LENGANKU DAN BIARKAN AKU PERGIIII!"

"Lu-Luffy?" dahi Ace lekas berkerut serius. Sudah jelas suara yang ia dengar itu adalah suara Luffy. Dan kenapa roommate-nya itu kedengarannya seperti sedang didesak? Apa dia dalam bahaya? "Luffy! Kau di mana!"

"Aku tak akan melepaskanmu sebelum kau mengakui bahwa kau memang mengenal identitasku!"

"Gaaahhhh! Lepaskan akuuuu!"

'Ah, tepat di sebelah!' Ace mulai siaga. Dengan cepat ia langkahkan kedua kakinya untuk menuju ke sumber suara itu. Dan dugaannya tepat. Suara ribut yang ia dengar semakin bertambah nyaring dan siluet dua orang pemuda kini sudah terlihat dari kejauhan. Mereka berdua tampak berkonfrontasi dengan sengitnya. Meski jarak Ace masih beberapa meter dari tempat kejadian perkara, kedua obsidiannya sudah dapat melihat dengan jelas bahwa ada seorang pria yang sedang menjerat lengan Luffy. Deretan gigi Ace tergertak bersamaan dengan kedua tangannya yang terkepal erat. Amarah menguasai benaknya.

Jika sampai pria itu menyakiti Luffy, Musisi Black Spade itu tak akan segan-segan menghajarnya hingga hancur.

.

.

"Baiklah! Aku akan melepaskanmu, tapi itu jika kau sudah mengaku bahwa kau mengenalku!"

Sungguh, tak pernah seorang Trafalgar Law bersikeras sampai seperti ini. Setelah hampir lima belas menit ia berdebat dengan seorang Monkey D. Luffy, sebuah keinginan mulai terpatri dalam dirinya. Ia sungguh ingin Luffy mengakui eksistensinya sebagai seorang Breakdancer top di era ini. Ia hanya ingin pemuda lugu itu tahu bahwa ia adalah The Death Breakdancer! Seorang idola dunia yang dipuja-puja jutaan fans! Dan rasa tak terima mulai bangkit di saat Luffy tak memiliki pengetahuan sedikitpun tentangnya. Ini tak bisa dibiarkan.

Tak boleh ada satu orang pun yang tidak mengenal seorang Law!

Bahkan termasuk pemuda lugu macam Luffy sekalipun.

Dan Luffy masih tetap pada pendiriannya. Ia tak tahu apa-apa tentang Law dan ia hanya ingin segera kembali ke kamarnya. Sekarang.

"Gaahhh! Lepaskan akuu! Aku ingin kembali ke kamarku!"

"Akui dulu bahwa aku adalah Trafalgar Law!"

"Aku tidak tahu siapa kau!"

"Sebutkan saja namaku dengan benar kalau begitu!"

"Rafaljar Lew!"

"Salah! Namaku Trafalgar Law!"

"Ca-Clagafar Law?"

"Lawnya sudah benar! Tapi Trafalgarnya masih salah! Sebutkan lagi!"

"Tra-Trafalgar Low?"

"Aaarrgghh! Kenapa sekarang Lawnya yang salah, hah!"

"Gaaahhh! Aku tak bisa menyebutkannya!"

Batas kesabaran Law mulai habis. Ini benar-benar menyusahkan. Ia sudah ikhlas jika memang Luffy tak mengenalinya sebagai The Death Breakdancer. Tapi jika menyebutkan namanya saja tidak benar...

Law sungguh tak bisa terima.

Apa susahnya menyebutkan nama? Toh, nama yang ia emban tidak terlalu sulit untuk dilafalkan.

Jika begitu, mengapa anak ini... bocah keras kepala yang masih ia jerat lengannya itu tetap saja tak bisa mengucapkan namanya dengan benar?

Namanya saja. Apa sulitnya?

Ia tak akan melepaskan Luffy. Tak ada satu orang pun yang bisa membuat Law sedeterminan ini. Kecuali bocah itu, Monkey D. Luffy, seorang mahasiswa polos yang tak tahu apa-apa tentang Law.

Dan Law akan membuat Luffy 'tahu' tentangnya. Bagaimanapun caranya.

Karena sang Breakdancer itu telah merasakan hasrat yang tak biasa. Di saat ia menatap Luffy, ia hanya ingin pemuda itu tahu mengenai eksistensinya. Ia hanya ingin Monkey D. Luffy mengakuinya. Hanya Luffy. Bukan orang lain.

Kembali ia layangkan tatapan tajam ke arah Luffy. Lekas ia cengkram kedua lengan mahasiswa itu dan ia pun mempertipis jarak mereka. Mengancamnya. "Kau tak akan bisa lepas dariku sebelum kau mengakuiku, Luffy..."

"Gaahhh! Sudah kubilang, aku tak tahu tentangmu! Lepaskan aku, Pengamen!"

"AKU BUKAN PENGAMEN! AKU BREAKDANCER-"

GRAAUUKK!

"AAKKKHHH!" Dan suara jeritan yang begitu melengking termuntahkan instan dari mulut Law di saat Luffy telah menggigit lengan kanannya. Sebuah tindakan ekstrim yang tak terduga sama sekali. Breakdancer itu lekas menikam Luffy dengan tatapan tajam. "Kau!"

"Khhk!" Luffy mengernyit. Law mencengkram dagunya dan memperhatikannya lekat-lekat. Breakdancer itu masih tak mengikis aura intimidasi yang ada di dalam dirinya.

"Kenapa kau menggigitku, hah!"

"Itu karena kau tak mau melepaskanku!"

"Salah sendiri kau tak bisa menyebutkan namaku!"

"Aku memang tak bisa menyebutkannya! Kenapa kau aneh sekali, hah! Cepat lepaskan akuuuu!" Luffy bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Pemuda itu masih berusaha keras mengelak Law. Sang Breakdancer terdiam sejenak. Entah kenapa, semakin ia memperhatikan Luffy sedekat ini, mahasiswa Mugiwara itu terlihat semakin...

Manis?

"EHEM!"

Intervensi dari suara baritone itu cukup mengagetkan Law dan juga Luffy. Secara refleks, keduanya mengarahkan pandangan pada pemilik suara berat itu. Tepat di hadapan mereka, telah berdiri seorang Gol D. Ace dengan raut serius. Sungguh, ada beberapa hal yang tak disukai Ace saat ini.

Pertama, saat ia bangun dari tidurnya, ia tak melihat Luffy, dan ia membenci itu.

Kedua, ia sudah terbangun dari tidurnya, tidak melihat Luffy dan malah melihat seorang postman tak jelas yang mengantarkan paket dengan tak sabaran. Ace sungguh membenci itu.

Ketiga, di saat ia menemukan Luffy, ia melihat roommate kesayangannya itu berduaan dengan seorang pria selain dirinya. Ace benar-benar benci melihat itu. Hanya ia yang boleh sedekat itu dengan Luffy. Tak boleh ada orang lain.

Dan terakhir. Apa-apaan pria itu? Kenapa ia menjerat dagu Luffy segala? Jaraknya juga terlalu sempit pula? Kurang ajar. Hanya Ace yang boleh menyentuh dagu pemuda manis itu dan menjeratnya sedekat mungkin. Tak boleh ada yang menyentuh Luffy dengan kontak sedekat itu selain dirinya. Titik.

Dan pada akhirnya, seluruh ketetapan Ace telah dilanggar. Luapan amarah vokalis band gothic rock itu semakin memuncak.

Sesungguhnya, siapa gerangan pria kampret yang menyentuh Luffy-nya seperti ini?

Benar-benar tak ada ampun.

"Ace?" Luffy tampak terbelalak. Air mukanya yang tercengang kini mendadak bertransisi menjadi girang. "ACEEEEE! AKHIRNYA KAU SUDAH BANGUN, NEEE!"

"Ah, iya, Luffy. Aku sudah terbangun-Hei! Ja-Jangan menerjangku-OUFHH!"

"ACEEEEE! Shishishishi!" Ace berusaha mempertahankan diri agar tidak terjatuh ke bawah. Roommate-nya yang satu itu mendadak menerjang tubuhnya dan menjeratnya lagi seperti koala. Luffy memeluk tubuh vokalis Black Spade itu lekat-lekat dan menyusupkan parasnya di sela leher Ace. Serpihan rona merah menjalar di paras Ace, implikasi dari kontak mereka yang sedekat itu.

"Lu-Luffy, kau..."

"Ace bakaaa! Kenapa kau tadi tertidur, hah! Aku 'kan membutuhkan bantuan untuk mengerjakan tugasku, neee!" Luffy semakin mempererat cengkramannya dan menyandarkan parasnya di bahu Ace. Yang dijeratnya hanya dapat menghela napas, mencoba melingkarkan kedua lengannya untuk menopang tubuh Luffy.

"Narkolepsiku sepertinya kambuh. Gomen, Luffy."

"Gaaahhh! Aku benci dengan nakroplesimu, Ace!"

"Narkolepsi. Bukan nakroplesi."

"Ah, terserahlah! Pokoknya, aku membenci itu!" Gemuruh tawa lekas termuntahkan dari mulut Ace saat melihat tingkah Luffy yang seperti itu. Ia pun lekas mengusap helai rambut raven pemuda itu dengan lembut. Luffy hanya tersenyum dengan perlakuan yang diberikan Ace padanya. Dan di tengah masa itu, ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka.

'Orang ini...' Law hanya dapat menyimpan persepsi dalam diam. Di saat ia menyangka bahwa kontaknya dengan Luffy adalah kontak terdekat yang pernah ia lakukan, ternyata ada orang lain yang menerima kontak lebih dekat lagi dari Luffy. Bahkan, orang itu tak perlu bersusah payah menjerat Luffy karena Luffylah yang menjeratnya. Siapa gerangan pria misterius ini? Mereka tampak begitu dekat dan mesra. Apa jangan-jangan, pria yang dipeluk Luffy itu adalah kekasihnya?

Dan lagi... Ace...

Nama itu terdengar familiar di telinga Law. Lekas ia perhatikan kembali sosok pria tegap yang kini sudah terlihat mendekap tubuh Luffy. Pria tegap berambut raven yang mengenakan kemeja hitam tak terkancing dan lengan kirinya sudah terpahat sebuah tatto bertuliskan ASCE dengan huruf S yang di-cross. Berlanjut ke paras. Law pun terbelalak seketika saat melihat ketampanan bak seorang Dewa dan tanda-tanda significant seperti bintik-bintik hitam di hamparan pipi pria itu. Ia benar-benar syok.

Tak salah lagi.

Pria tampan bak Dewa yang mendekap Luffy itu adalah...

"Gol D. Ace?"

"Huh? Apa?" Ace dan Luffy tampak terbelalak. Keduanya lekas menatap sosok Law yang tampak tercengang. Ace mengerutkan dahinya. Ternyata pria yang menyebutkan nama aslinya itu juga tak jauh familiar dari jangkauan pengetahuannya.

"Trafalgar Law... The Death Breakdancer."

Hening.

Keduanya saling bertatapan dalam diam. Law masih tampak terkejut karena tak menyangka bahwa vokalis dari band besar macam Black Spade bisa terdampar di apartemen umum seperti ini. Dan yang lebih terlihat bingung adalah Luffy. Pemuda itu menatapnya sebelum pada akhirnya, ia melayangkan tatapan serius pada pria yang ia jerat. "Ne, Ace? Ja-Jadi kau sudah mengenal cagar alam ini?"

"APAAA? CAGAR ALAM? NAMAKU BUKAN CAGAR ALAM, BOCAH! NAMAKU TRAFALGAR LAW!" Law kembali emosi. Serpihan rona merah menjalar di parasnya berkat tindakan Luffy yang lagi-lagi salah menyebutkan namanya. Ia benar-benar malu. Dan Ace hanya dapat ber-sweatdrop.

"Ah, bisa dibilang seperti itu, Luffy. Aku tahu siapa orang ini." Ace hanya dapat bertampang aneh. Pasti Luffy tak mengenali siapa identitas Law yang sebenarnya.

"Ah, sungguh tak kusangka bahwa seorang vokalis dari band besar Black Spade, bisa singgah di apartemen ini. Gol D. Ace..."

"Gol D. Ace?" Luffy terbelalak mendengar itu. Kenapa ia memanggil Ace dengan sebutan Gol D. Ace? Roommate-nya itu bukan vokalis Black Spade 'kan? "Ne, kau salah paham, Luw! Ace ini bukan Gol D. Ace! Tapi ia adalah Portgas D. Ace!"

"Portgas?"

"Ah, Luffy? Kenapa kau tidak segera membayar tagihan apartemen pada Dadan-san? Aku mendapat kiriman uang dari kakekmu." Ace lekas memberikan amplop yang ia terima dari Aokoji tadi kepada Luffy. Meski rasa skeptis masih hinggap di benak Luffy, namun pemuda itu mengangguk dan lalu membawa amplop itu untuk ia berikan kepada Dadan.

Tak membutuhkan waktu lama untuk mendapati sebuah siluet dimana Ace dan Law tampak berdua tanpa Luffy.

"Portgas?" Law benar-benar mengernyutkan dahinya. Ia benar-benar bingung. Sudah jelas-jelas pria yang dijerat Luffy ini adalah Gol D. Ace dan kenapa anak itu malah menyebutnya sebagai Portgas D. Ace? Sungguh ada yang tak beres di sini. Dinding kecurigaan semakin terbangun dalam diri Law.

Dan Ace hanya terdiam melihat itu. Ia yakin bahwa Law pasti curiga dengannya. Dan ia pun berusaha mencoba tenang saat Law menyebutkan nama aslinya tadi. Jika ia gelagapan, justru malah Luffylah yang curiga padanya. Luffy tak akan semudah itu percaya bahwa ia adalah vokalis Black Spade. "Kenapa seorang Breakdancer top sepertimu bisa ada di sini, Law?"

"Ah, kau sendiri? kenapa Rockstar legendaris sepertimu bisa ada di tempat umum seperti ini?" begitu sengit. Kecurigaan semakin terpatri pada benak keduanya. Sejenak jeda keheningan kembali terjadi. Dan pada akhirnya, Ace memutuskan untuk memecahnya terlebih dahulu.

"Aku singgah di sini karena Black Spade akan mengadakan konser di kota ini beberapa minggu lagi."

"Ah, iya juga. aku juga mendengar bahwa band-mu akan mengadakan konser di East Blue. Kenapa aku bisa lupa ya?" Law menepuk keningnya dan menggeleng miris. Ia pun kembali menatap Ace. "Aku kemari hanya untuk berlibur. Dan lagi, ada seorang event organizer yang akan menyewaku untuk show di tempat ini juga."

"Oh, kebetulan sekali. Kita mengadakan pertunjukan di tempat yang sama." Nada skeptis masih saja tak luntur dari perkataan Ace. Law tampak menggaruk belakang kepalanya dengan malas. Sebuah topik pembicaraan yang baru kembali terlontar dari mulutnya.

"Ah, iya. Aku sungguh penasaran. Siapa bocah tadi? Apa bocah tadi adalah kekasihmu? Sungguh tak kusangka bahwa kau diam-diam telah menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa."

"Na-Nani?" Ace benar-benar tak menduga sama sekali dengan justifikasi Law barusan. Parasnya kembali merona merah dan ia pun memalingkan pandangan ke samping. "Ia bukan kekasihku. Luffy hanyalah roommate-ku."

"Roommate?" sebelah alis Law terangkat. Hubungan sedekat dan semesra itu pasti ada apa-apanya. Ia sungguh tak percaya jika keduanya hanya menjalin hubungan sebatas roommate. Semua ini benar-benar semakin mencurigakan. Dalam diam, ia memutuskan untuk menyelidiki ini nantinya. Untuk sekarang... "Ah, kukira ia kekasihmu, Ace. Kalian benar-benar tampak mesra sekali."

"Tidak ada apa-apa di antara kami. Perangai dan tabiat Luffy memang seperti itu." Ace mencoba untuk tenang. Ia tak ingin Law semakin bertambah curiga. Breakdancer itu lekas menaikkan pundaknya dan berbalik membelakangi Ace.

"Baiklah jika begitu. Aku sungguh lega karena ada seorang publik figur yang juga singgah di apartemen ini selain diriku. Setidaknya, apartemen ini tidak terlalu parah. Kamarku ada di nomor 127. Sepertinya kau singgah tepat di sebelahku ya? Lagi-lagi sebuah kebetulan. Hehehe..." Ace sungguh tak menyukai seringai yang tergambar di paras Law. Seringai itu benar-benar terlihat begitu ambigu. Breakdancer itupun tampak bergegas membuka pintu kamarnya. Sebelum ia masuk, mulutnya kembali menggemakan satu hal.

"Sungguh sebuah kebanggaan untukku karena bisa bertemu dengan vokalis legendaris sepertimu, Ace. Dan perlu kau tahu. Kau benar-benar sangat beruntung karena bisa mendapatkan roommate... semanis dia."

"Apa?"

Selesai.

Law hanya tersenyum dan lekas masuk ke dalam kamarnya. Sesaat setelah pintunya tertutup, Ace pun terbelalak dan terdiam sejenak. Sedikit syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa maksud dari perkataan Law tadi? Kenapa ia mengatakan bahwa Luffy... manis?

Tangan musisi Black Spade itupun terkepal dengan eratnya. Rasa tak terima mulai lahir tatkala satu konklusi muncul di benaknya.

'Apakah Law... menyukai Luffy?'

...

Ini sungguh tak bisa dibiarkan.


"YA-YA TUHAN! ADA DIVA HANCOCK DI APARTEMEN INI! KYAAAA! NONA HANCOCK! AKU FANSMUUUUU!"

"HANCOOOOOOCK! GYAAAAAA!"

"BOA HANCOCK! YOU'RE THE BEST DIVA IN THE WORLD!"

"KYAAAAAAAAAA!"

"Tolong, segera menyingkir dari jalan kami! Nona Hancock tidak ingin melayani permintaan fans saat ini. HARAP MENYINGKIR!" Kerumunan orang-orang kini sudah tampak menyerbu pintu lift di lantai sepuluh. Beberapa bodyguard bertubuh kekar sudah tampak menjaga ketat figur seorang wanita. Seorang wanita dengan kecantikan bak dewi kayangan yang tidak lain adalah seorang diva dunia, Boa Hancock. Wanita itu dikenal dengan suara merdunya. Untaian suara semerdu santuari dengan kombinasi perwujudan cantik yang tak tertandingi. Ia mendapatkan peringkat kedua sebagai seorang idola dunia dengan fans terbanyak setelah Black Spade. Popularitasnya sungguh tak dapat dianggap remeh.

"HANCOOOOCK-SAAAAN! AISHITERUUUU!"

"HANCOCK-SAMA MANIIIIS SEKALIII!"

"SEKSEEEHHH!"

"GRAAAAHHHH! SUDAH DIAAAM! MENYINGKIIIRR SEMUANYAAAA!" Kini, giliran Dadan yang memberi peringatan. Wanita pemilik apartemen yang satu itu sudah tampak membawa sebuah gergaji di tangan kanannya. Semua penghuni apartemen lekas membisu dengan tampang horor. Dadan menghela napasnya dan lalu melirik ke arah sang idola. "Maafkan atas ketidaknyamanan ini, Nona Hancock."

"Ah, tidak apa-apa, Dadan-san. Ini sudah menjadi konsekuensiku." Hancock melayangkan senyum tipis. Segenap fans yang melihat itu hanya dapat menjerit dan terbutakan oleh kemanisan sang Diva. Beberapa bodyguard bertampang aneh melihat fenomena lebay itu.

"Baiklah, sebaiknya kau segera kuantarkan ke kamarmu, Nona Hancock. Ikuti aku. Kamarmu ada di nomor 130."

"130? I-ITU 'KAN DI DEKAT KAMARKU? KYAAAAAA! KAMARKU DI DEKAT KAMAR HANCOCK-SAAAN!"

"AKU JUGA! KAMARKU JUGA DEKAT DENGAN HANCOCK!"

"TEDAAAAAKKKSSS! KAMARKU TERLAMPAU JAUH DENGAN BELIAU! HUWAAAAA! MAMAAAAA!"

"KENAPA KAU TIDAK SINGGAH DI LANTAI LIMA SAJA, HANCOCK-SAN!"

"MENGINAPLAH DI KAMARKU SAJA, HANCOCK-HIMEEEEEEEE!"

Suara ricuh sudah kembali terdengar membahana di penjuru lorong apartemen. Lipatan sewot semakin terbentuk di kening Dadan. "AKU BILANG, DIAAAAM SEMUAAANYAAA! KALAU KALIAN RIBUT, NONA HANCOCK TAK AKAN MAU SINGGAH DI SINI!"

Dan peringatan mutlak itu sungguh sukses untuk menuai keheningan.

Tak akan ada yang rela jika diva dunia berlalu pergi begitu saja dari apartemen Beauty Dadan, bukan? Mereka pun pada akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke kamar 130. Perona, salah seorang manajer Hancock, mulai berbisik di telinga artis yang ia tangani itu.

"Apa ini merupakan keputusan yang bijak, Hancock? Kenapa kau memilih apartemen umum seperti ini untuk disinggahi? Kenapa kau tidak singgah saja di hotel bintang lima atau tempat dengan pengamanan yang lebih terjaga lainnya?" Perona benar-benar tak mengerti dengan pemikiran Hancock. Sang diva hanya tersenyum dan menatap lurus ke depan dengan determinasi tinggi.

"Aku memiliki firasat, Perona. Bahwa aku akan menemui seorang 'pangeran' yang akan membuatku sadar akan arti kebebasan di tempat ini."

"Pangeran?" dahi Perona berkerut heran. Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.

"Benar. Di mimpiku, meski aku tak bisa melihat parasnya dengan jelas, namun aku bisa merasakan bahwa ia tersenyum lembut padaku. Ada aura kepolosan dan kesucian yang menyelubungi dirinya. Ia benar-benar suci. Bagai entitas putih serapuh kapas yang tak memiliki setitikpun dosa." Hancock tampak tenggelam dalam fantasinya. Sebulir keringat mengalir di samping kening Perona.

"Aku benar-benar ragu dengan hal ini, Hancock-"

"DADAAAAN-SAAAAN! AKU INGIN MEMBAYAR TAGIHAN APARTEMEEEEEN!"

"Huh?" sebuah suara cempreng yang begitu khas sungguh sukses mengagetkan segenap orang yang mendengarnya. Seluruh pandangan mata kini tertuju pada sesosok figur pemuda yang tengah berlari dengan gesit dan begitu energetik dari ujung lorong apartemen. Pemuda itu berlari ke arah Dadan dan ia tak menyadari bahwa tepat di hadapan Dadan, masih berdiri seorang diva dunia yang tampak terperangah menatapnya. Dadan terbelalak dengan tampang horor..

"LUFFY! HATI-HATI! DI DEPANMU ADA NONA HANCO-"

"APAAAA? OUUFFHHH-"

"KYAAA-"

BRUUUUKKKK!

"Ya ampun!" Segenap saksi mata terperanjat. Insiden itu terjadi begitu cepat. Hanya dalam hitungan detik, Monkey D. Luffy sudah tampak menabrak sosok Boa Hancock hingga terjatuh ke bawah. Semua orang menganga. Dan Luffy tak sadar jika ia sudah mendarat tepat di atas tubuh sang diva.

"Ouufhh... Go-Gomen, kau tidak apa-apa, ne?"

"Uhh... A-Aku tidak apa-apa-" Hancock tampak terperangah di saat ia menerima uluran tangan dari Luffy. Pemuda itu menyengir padanya dengan begitu riangnya. Hancock terpaku. Matanya terus memperhatikan gerak gerik Luffy yang tengah memberikan sebuah amplop cokelat kepada Dadan.

"Ini uang dari Jii-chan. Tagihanku bulan ini lunas 'kan, ne?"

"Ah, i-iya." Dadan benar-benar terlihat bingung. Masih syok dengan insiden tabrakan yang ia lihat. Luffy menggaruk belakang kepalanya dengan cengiran yang tak jua luntur dari paras lugunya.

"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku. Jaa, nee~" dan mahasiswa Mugiwara itu kembali berlari ke arah yang berlawanan. Hancock terlihat mematung dengan pandangan matanya yang tak sanggup berpaling dari sosok Luffy. Perona mulai menautkan kedua alisnya.

"Hancock? Apa kau tidak apa-apa?"

"Anak itu..."

"Hah?"

"Siapa dia? Siapa nama anak itu?" Hancock melontarkan tanya dengan tegas tanpa sedikitpun memalingkan pandangan dari arah Luffy berlari. Dadan mulai menjawab pertanyaan itu dengan ragu-ragu.

"Dia Monkey D. Luffy. Penghuni kamar nomor 126."

"Monkey D. Luffy?" air muka Hancock mengalami transisi yang cukup drastis. Sebuah senyum terlukis perlahan bersamaan dengan serpihan kekaguman yang mulai tergambar jelas di paras cantiknya. Ia sungguh yakin.

"Anak itu... adalah pangeran mimpi yang selama ini kucari-cari!"

"NANIIIII!"

TBC


A/N: Yup~ Dalam satu chapter, kau sudah dapat dua rival, Ace! Selamat ya! xD #Keprok2 #DiBogem

Ace: ==; #Sigh

Sengoku: DAN CHAPTER KEMARIN ITU APA-APAAN, HAH! MASA GUE DIJADIIN SATPAM! WTF!

Aokoji: GUE DIJADIIN SEORANG PAK POS DI CHAPTER INI! WADEPAKLAH! TAT #OOC

Author: #Grins #Kaboer!

Ace: Udahlah. Langsung aja masuk di balasan review.

Aokoji: Kali ini review datang dari KayTo Crystal! Lama tak jumpa Kay! Panggil aja Vie-chan. Asal jangan Ero-chan =="

Law: Iya, nih. Kenapa gue dijadiin tempramen begini? =="

Bakura: Terima aja. Loe reinkarnasi gue di fic ini.

Law: Lha? o_o"

Ace: Arigato ya reviewnya! Berikutnya dari domi! Sumpah tuh, kemajuan ZoSan bikin gue iri! Gue gak bisa cipok2 ria ama Luffy kalau begini caranya!

ZoSan + Luffy : #Sweatdrop

Law + Hancock: Saatnya kami mengusik D-cest~ Muahahahaha!

AceLu: #Horor! Thanks ya reviewnya!

Sengoku: Berikutnya dari Micon! Hahaha! Kayaknya sebuah kenyataan bahwa Viero dan Messiah adalah orang yang sama sepertinya bisa mengguncang dunia #Lebeh

Aokoji: Jelas bedalah. Waktu pennamenya masih Messiah. Nih author umurnya masih 17 tahunan jadi bahasanya rada gaul dan bebas. Sekarang udah dua tahun berlalu, banyak peningkatan dalam diksi dan sebagainya. Umur juga hampir kepala dua tuh.

Author: #Nyengir!

Ace: Dan fic YGOnya... entahlah. Klo dia dapet wangsit, mungkin dia bakal balik ke sana. Arigato reviewnya~

Sengoku: Lalu ada Vii no Kitsune! coba cari di google, ketik aja Trafalgar Law. Pasti muncul deh gambar-gambar dia.

Ace: Sabar ya. Kissing sceneku dengan Luffy beneran masih lama deh. Ada dua penganggu muncul #NangisOOC

Law + Hancock: #Grins!

Aokoji: Dan untuk Demon D. Dino! Law muncul buat jadi parasit(?)

Law: Diksi loe kejem amat, Aokoji =="

Sengoku: Dan ada review yang sifatnya T-E-R-L-A-L-U #AlaRomaIrama yakni Felix D. Bender! Woi! Biasa aja kalee! Gue jadi satpam! Gak ada yang lucu tahu, gak! Roaaarrrr! #Esmosi

All: #Horor ngeliat Sengoku

ZoSan: Sumpah, nih anak kayak kebakaran jenggot banget. Inget chapter, woi! Chapter masih sedikit begini udah minta konflik tajem! Sabar donk! Nikmatin dulu alur santai ini~

Hancock: Itu apa deh, pegang-pegang saya! Luuuuffy! DX

Ivankov: Felix-boy NAKAL YA! UDAH BERANI SELINGKUHIN GUEEEE! TAT #Ngejar Felix

Ace: Berikutnya dari Hatakari Hitaraku! Wah, makasih banget udah review di beberapa chapter! Saya emang keren! Wuahahahaha!

Luffy: ==" Aceeee...

Aokoji: Author akan berusaha untuk updet secepat mungkin. Lalu berikutnya dari Arale L Ryuuzaki! Kissing scenenya AceLu masih lama! Muahahaha!

AceLu: Nasib jadi pair utama pasti banyak cobaan orz

Sengoku: Thanks ya reviewnya! Berikutnya dari N.h! Sabar ya! Kelak AceLu pasti jadian kok! Nasib jadi pair utama, cobaannya pasti bejibun!

Ace: Lalu ada Pearl Victory! Yup! Law bakalan jadi saingan gue tuh. Damn...

Law: Loe kok sewot banget sih Ace?

Ace: Lha, elo muncul di saat gue belum jadiin ama Luffy!

Law: Salahkan author =="

Aokoji: Lalu ada Uchiha 'Haruhi' Gaje! buset nih anak ngebet banget ama lemon? Ratednya T mbak! =_="

Ace: #Berdoa dalem hati semoga ratenya naik

Luffy: ACEEEEEE!

Yami: #NangisOOC gue SEME SEJATIII!

Pegasus: Kenapa gue masih dicap banci sih? #NangisDarah

Sengoku: Lalu ada lunaryu yang ngetawain turunnya pangkat gue sebagai satpam #NangisOOC. WOI! THOR! LOE ADA DENDAM APA SIH AMA GUE? KENAPA GUE DIJADIIN SATPAM, HAH!

Aokoji: GUE JUGA DIJADIIN SEBAGAI PENGANTAR SURAT! TAT

Author: #Nyengir Watados #Kaboer

Law: Aku yang keren ini disangka pengamen! #Pundung

Ace: Masih mendinglah. Gue malah dikira gigolo ama Garp =="

Luffy: Arigato reviewnya, lunaryu-san! ^^

Aokoji: Berikutnya dari Yuna Claire Vessalius Kusanagi! Suka ama scene fanservis? Tenang, kayaknya chapter depan ada fanservisnya AceLu. Meski bukan kissu di mulut.

Ace: GUE PENGEN NGEKISSU LUFFY DI MULUUUUTTT! KAPAN SCENE ITU ADA, THOR!

Luffy: ==" Nii-chan gila...

Sengoku: Namikazecestnya bakal dilanjutin bulan Juli. Sabar ya~ Hehehehe... Berikutnya dari sabishii no kitsune!

Aokoji: Konfliknya belum muncul. Karena nih fic panjang, jadi alurnya masih nyenengin dulu. Untuk saat ini.

ZoSan: Klo pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya~

Ace: Black Spade akan konser 3 minggu lagi. Dan di saat aku konser, di saat itulah fic ini mendekati kata 'the end'. Arigato reviewnya~

Aokoji: Berikutnya ada Kim D. Meiko! Gila! Habis Sengoku dijadiin satpam, giliran gua yang jadi postman pengantar surat! #NangisDarah

Marco: Sumpah, nickname gue parah semua #NasibNgenes

Ace: Ayo, jayakan KISS ROUGH! KISS ROUGH! KISS- #Dibekep

Author: Dikau jangan nyebarin spoiler, Ace =="

Luffy: #Blush! Kenapa mulai banyak yang minta scene lemon ya, ne? O/ / /o

Sengoku: Arigato reviewnya! Berikutnya dari Fi suki suki!

AceLu: Nasib jadi pair utama. Pasti lama deh berkembangnya #Nangis

ZoSan: Sabar ya... #Elus2AceLu Arigato reviewnya!

Aokoji: Lalu ada VhiELiks S.N! Kissu scene untuk AceLu masih lama! Sabar yaaa!

Sengoku: Yup! Nih author adalah mantan author YGO dua tahun yang lalu. Arigato reviewnya~

Ace: Next! Sanjiro Key! Jika ada orang yang berani ngehajar Luffy, udah kuhiken ampe gosong tuh kumpulan massa!

All: Posesif Ace ==" sereeemm...

Law: Iya. Gue kayaknya jadi reinkarnasi Bakura deh =="

Bakura: Law tralala? Ahahahaa!

Law: KAGAK USAH PAKE TRALALA KNPA SIH? #OOC

Author: Saya kocak? Arigato~ #Grins

Sengoku: Terakhir dari Muthiamomogi! Sabar, nak. Satu chapter jatahnya 5 ribu word. Klo isinya ZoSan semua bakalan makin lambat aja nih fic alurnya =="

Author: #Mendadak kabur saat ngelihat tulisan 'sequel Mute'

Aokoji: Arigato reviewnya!

Ace: See you all in the next chapter. Don't forget to REVIEW! #Grins