Bonjour~*plak* ( Sok bule )

Aku balik lagi nih setelah selama empat bulan gak update eh..., mungkin lebih kali ya?, hehehe. Gomen ne aku lama banget update-nya lagi sibuk di dunia nyata. hehehe#garuk-garuk kepala.

Oh iya, gimana kabar Minna semua, aku harap Minna baik-baik saja yah. ^^

Well, hari ini aku akan membawakan fic Guru Biolaku! I LOVE YOU. Masih ada yang inget gak yah?

Yah habis udah lama gak update sih, mungkin saja Minna semua lupa sama fic abal aku ini. Tapi aku harap sih Minna gak lupa, hehehe#Plak!

Oh iya, sebelum Minna membaca, biar aku beritahukan hal yang gak penting (?). Disini masih flashback, jadi maaf kalau ficnya gak berkenan, habisnya aku ingin membuat kisah cinta MinaKushi sedikit berbeda. .

Oke deh, gak usah banyak bacot lagi ah! Kita langsung ke bagian cerita, happy reading Minna!^^

Chapter 13

Anata o aishite, Kushina...?

Part 3

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Friendly, Family, Hurt/Comfort etc

Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki

Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !

Thanks already read my fic:

Aika Licht Youichi

U. Icha-chan

Rencaggie

Guest ( Entah siapa nama aslinya )

Uzumaki Kuchiki

Red-Hot Habanero

Namikaze immah-chan sapphire

Namikaze Mutiara Hana

Fran Fryn Kun

Puthry Azzahra

Rimadhani Hime

nararhezty. cliquers

And for all silent readers, of course... :)

Warning : Disini masih Flashback...

If you don't like this story, don't read !

Enjoy It !

Minato menghentikan ucapannya ketika suara pintu 'Boss Room' terbuka, Kushina keluar dari pintu tersebut. Dia tersenyum kearah Minato dan Mikoto sejenak lalu berjalan ketengah-tengah restoran. Minato dan Mikoto memfokuskan mata mereka kearah Kushina, 'Dia akan melakukannya lagi' batin Minato. Mikoto menganga ketika melihat Kushina sudah bersiaga memainkan biola-nya ditengah-tengah kerumunan para pengunjung restoran siap saji. 'Kushina?' batin Mikoto tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.

Kushina menarik nafasnya sedalam-dalamnya lalu dia mulai mengeratkan stick biola yang berada di tangan kanannya. Jemari-jemari kiri lentiknya dia gerakkan secara teratur diatas senar tipis biola bermaksud mencoba untuk melenturkan jemari-nya itu.

"*#* *#* *%^%$...heh?" suara bising para pengunjung di restoran tiba-tiba berhenti begitu saja ketika menyadari Kushina berada ditengah-tengah mereka. Minato dan Mikoto memandangi Kushina penuh ketegangan.

"Ha-ah" hela Kushina dan mulai memainkan biola dengan lembut dan santai

Chapter 13

Seluruh orang yang berada di restoran diam seribu bahasa setelah mendengar suara indah dari biola yang dimainkan Kushina. Tak sedikit dari mereka yang memandangi Kushina penuh keterkejutan dan tak sedikit pula dari mereka yang sudah terhisap dalam alunan lagu yang dimainkan Kushina beberapa saat yang lalu hingga menangis.

Di sudut meja makan dekat pintu 'Boss Room', dua orang anak muda berbeda genre memandangi Kushina dengan mata membelalak. Makanan yang awalnya ingin dimakan oleh mereka berdua jadi harus ditelantarkan setelah melihat dan mendengar permainan biola Kushina.

Minato dan Mikoto saling berpandangan tidak percaya dalam diam. Mulut mereka tenganga mencoba untuk saling berbicara namun hal yang bisa didengar oleh mereka berdua hanya suara gumaman tidak jelas yang tiba-tiba keluar dari mulut mereka. Karena mereka gagal untuk berbicara, mereka kembali menolehkan kepala mereka kearah Kushina kembali.

Kushina menjauhkan sudut biolanya dari dagunya, dia membuka matanya seraya tersenyum puas seakan-akan dia merasa telah mengeluarkan seluruh uneg-uneg didalam hatinya.

"Arigatou Gozaimashita. Terima kasih kalian sudah berkenan untuk mendengarkan permainan biolaku ini. Sebenarnya aku melakukan hal ini karena ingin menebus kesalahanku yang kemarin, menebus kesalahanku yang telah gagal memainkan biolaku disini. Yah meskipun aku tahu kalau para pengunjung disini tidaklah sama seperti kemarin, tetapi aku senang. Aku sangat senang-ttebane!. Aku sudah bisa menebus hutangku ini. Oh iya, ada yang ingin kuberitahukan kepada kalian, jika kalian berkenan, maukah kalian datang ke pertunjukkanku. Pertunjukkanku akan dimulai tiga hari lagi. Aku harap kalian bisa datang dan menonton pertunjukkanku. Er..., kalau masalah tiket. Kalian bisa membelinya secara online. Kalian bisa membelinya di website 'minamikoshina. com'. Atas perhatiannya, kuucapkan terima kasih" jelas Kushina seraya membungkukkan badannya.

Bersama dengan itu, suara gemuruh tepukkan tangan dan siulan kagum mulai memecahkan keheningan di restoran siap saji itu, bahkan sang manager restoran 'Chouza' sampai harus keluar dari ruangannya dan ikut bertepuk tangan bersama dengan yang lainnya. Dari sebagian banyaknya orang yang berada di restoran siap saji itu, ada yang berdiri dari mejanya dan berjalan mendekati Kushina sambil tersenyum kagum dan tertawa riang.

"Onee-chan, sugoi~"

"Kami pasti akan datang"

"Permainanmu bagus"

"Sugoi!"

"Jujur, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan nada-nada instrument, tetapi ketika aku mendengar dan melihat permainanmu. Aku jadi sangat suka lagu instrument. Permainanmu sungguh sangat bagus!"

Mereka saling bersalaman dengan Kushina, mencoba berbicara dengan gadis riang berambut merah yang memainkan biola itu. Kushina hanya bisa membalas senyuman dan jabat tangan mereka. Baru kali ini Kushina tertawa lepas dan sebahagia ini selama hidupnya. Terasa seperti mimpi, batin Kushina senang.

Minato dan Mikoto yang berada di sudut meja hanya bisa tersenyum kagum melihat Kushina dikerumuni oleh banyaknya para pengunjung restoran.

"Baru kali ini aku melihat Kushi-chan tertawa sebahagia itu" gumam Mikoto

"Yeah, aku juga." Balas Minato.

'Andai saja tertawa lepasmu itu berarah padaku, mungkin aku akan sangat senang. Tetapi, melihatmu yang tertawa lepas bersama orang lain seperti sekarang ini, itu membuatku malah lebih senang. Selamat Kushu-chan, kau sudah bisa mengendalikan seluruh rasa gugupmu.' Batin Minato seraya tersenyum kearah Kushina yang sedang sibuk berjabat tangan dengan para pengunjung.

-x-x-x-x-

..::Kushina POV::..

Tok...tok...tok

"Kushina!"

"Zotto matte kudasai Miko-chan!"

"Hayaku, pertunjukkannya tinggal sepuluh menit lagi!"

"Ha'i!, wakarimashita!"

Aku menghembuskan nafasku. Entah sudah yang keberapa kalinya, aku merasa sedikit gugup hari ini. Mengapa ini semua bisa terjadi, kemarin-kemarin aku merasa biasa-biasa saja dan sangat santai, aku merasa yakin kalau rasa gugupku sudah bisa kukendalikan, tetapi kenapa di hari yang spesial ini aku merasa gugup kembali. Apakah karena rasa gugupku yang memang sulit dijinakkan, atau apakah karena aku takut pertunjukkanku gagal?

Ah! Aku tidak mengerti-ttebane!. Padahal kemarin aku sudah tidak sabar menantikan hari ini. Hufft..., tenang dan relax Kushina. Kau pasti bisa.

Aku berdiri di depan cermin seraya memandangi wajahku yang sudah dimake-up. Aku menyentuh kedua pipiku sambil memandangi wajahku yang berbeda 360 derajat dari sebelum aku di make-up.

Aku tidak suka di make-up jadi aku merasa orang yang berada didepanku bukanlah diriku. Bedak tipis ini, warna merah tipis di pipi ini, kelopak mata yang dihias ini, bulu mata yang lentik ini, gaun ini, warna merah muda dibibir ini... ah! Ini bukan seperti diriku-ttebane!.

Tunggu, apa yang kukatakan? Jangan bertingkah seperti anak kecil Kushina, jangan kau hapus make-up yang sudah dibuat susah-susah oleh sahabatmu ini. Hari ini adalah hari yang spesial, jadi kau juga harus berpenampilan spesial.

"Yosh! Aku siap-ttebane!"

Aku mengikat rambutku menjadi pony tail. Yah, kurasa jika kuikat menjadi ponytail, aku akan lebih nyaman untuk memainkan biola, dan tentu saja agar tidak terlalu panas, pementasan kan akan menghabiskan waktu hampir dua jam. Oke, bersiap berpentas Kushina.

Aku memunggungi cermin yang sejak tadi kupandangi lalu berjalan beberapa langkah ke kanan dan mengambil alat musik yang akhir-akhir ini membuatku jatuh cinta. Apalagi kalau bukan biola!.

Aku membawa biola tersebut kearah pintu dan keluar dari ruangan pengganti dengan penampilan yang...er...berbeda dari sebelumnya.

..::Normal POV::..

Dibelakang panggung. Mikoto menyeret Minato kedalam gudang yang entah apa isinya. Minato yang tidak tahu apa-apa hanya bisa pasrah mengikuti gadis berambut raven itu.

Setelah pintu gudang itu terbuka, menyalalah sorotan cahaya lampu berwarna kuning di satu titik 'alat' berselimut putih. Minato bingung, sebenarnya apa yang mau ditunjukkan Mikoto padanya. Padahal saat ini dia sedang sibuk mengatur beberapa barang keperluan Kushina nanti dipanggung.

Mereka berdua berjalan mendekati 'alat' berselimut putih tersebut. Minato menoleh kearah Mikoto yang matanya masih terfokus pada 'alat' itu. Karena penasaran, Minato memberanikan diri untuk bertanya padanya.

"Ano...Miko-chan, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"

"Hem, sesuatu yang bisa kau mainkan"

"Hah?"

Mereka berdua berhenti tepat di depan 'alat' berselimut tersebut. Minato menoleh kearah Mikoto dan Mikoto hanya bisa membalas tatapannya dengan senyuman. Entah apa yang ingin dia tunjukkan tetapi pasti alat yang berada dibalik selimut ini mempunyai arti penting atas pertunjukkan Kushina nanti.

Mikoto menatap Minato penuh arti seolah-olah memberitahukan kata 'Cepat buka' padanya. Setelah mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Mikoto, Minato memalingkan wajahnya dan memandangi alat berselimut putih itu dengan seksama sekaligus sambil menelan ludahnya.

Dengan perlahan Minato membuka selimut putih yang menyelimuti 'alat' itu lalu matanya membelalak setelah mengetahui apa yang berada dibalik selimut putih tersebut.

"I-i-ini..."

"Hem, apa kau bisa memainkannya?"

"Sedikit"

"Jangan merendahkan dirimu sendiri, baka!. Kau pernah kupergok sedang bermain 'alat' itu kemarin, dan permainanmu bisa dibilang tidak biasa. Dengar, kita akan memberikan Kushina surprise dipertunjukkan kedua nanti dengan 'alat' ini. Yah, anggap saja sebagai hadiah ulang tahun untuknya"

"Apakah menurutmu dia akan senang?" balas Minato ragu-ragu.

Mikoto diam sejenak lalu tertawa terbahak-bahak

"Apa menurutmu Kushina akan marah dengan semua ini?"

"Ah...eto...er,,"

"Daijobu, dia tidak akan marah. Dia akan senang kalau ada yang memberikannya surprise di hari spesialnya ini."

"Hontou?"

"Hem, percaya padaku. Kau ikuti saja perintahku, semua pasti beres. Dan..."

Mikoto melangkahkan kakinya beberapa langkah kedepan mencoba mempersempit jaraknya dengan Minato. Mikoto mendekati mulutnya ke telinga Minato dan berbisik...

"Aku yakin dengan semua ini, Kushina pasti akan menyukaimu"

BLUSH...

Tanpa fikir panjang, wajah Minato memerah dan terasa memanas tidak karuan. Ucapan singkat Mikoto tersebut mampu membuat dirinya salah tingkah dalam sekejap. Mikoto tersenyum manis kearah Minato. Sekarang Mikoto tahu kalau Minato memang benar-benar menyukai Kushina.

"Sekarang dengarkan aku baik-baik..."

..::Meanwhile::..

"Miko-chan! Minato-kun! Dimana kalian?"

Kushina berteriak memanggil nama Minato dan Mikoto diseluruh ruangan belakang panggung. Sesekali dia melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya dengan gelisah. Kushina menghembuskan nafas mulai merasa jengkel dengan semua ini, hampir enam menit dia mengitari seluruh ruangan belakang panggung tetapi dia belum menemukan orang yang dia cari.

"Kushi nee-chan!"

Mendengar suara yang tidak asing itu, Kushina menolehkan kepalanya kesumber arah tersebut. Ternyata yang memanggilnya adalah Itachi, anak dari FugaMiko. Kushina yang tadinya cemberut kesal, sekarang jadi kembali tertawa setelah melihat lucu dan manisnya Itachi.

"Itachi-chan!"

Kushina memeluk Itachi dengan eratnya ketika Itachi tepat didepannya, dia merasa sangat nyaman kalau dia memeluk Itachi disaat seperti ini. Di lain pihak, Itachi mencoba melepaskan pelukan Kushina yang menurutnya terlalu berlebihan.

"Kushi nee-chan, jangan peluk aku. Aku malu tahu!" bentak Itachi sambil mengembungkan pipinya.

Kushina tersenyum melihat kawai dan manisnya anak ini. Tanpa fikir panjang lagi, Kushina mencubit pipi Itachi mencoba menghilangkan rasa gemas yang mulai menjalarinya. Itachi merintih kesakitan saat Kushina mulai mencubitnya sedangkan Fugaku yang sejak tadi hanya berdiri dibelakang Itachi mulai berjalan kedepan mendekati Kushina.

"Otanjoubi omedetou Kushina. Dan omedetou juga atas kesuksesanmu hari ini"

Wajah Kushina memerah merasa tersipu atas apa yang baru diucapkan Fugaku.

"Ie...ini kan pertunjukkan pertamaku, jangan terlalu berlebihan seperti itu Fugaku"

"Hn"

Kushina mengerutkan dahinya diikuti dengan tatapan cemberut ketika mendengar balasan singkat Fugaku.

"Fugaku, bisakah kau menghentikan trademark bodohmu itu?"

"Maaf, sudah keturunan. Tidak bisa dihilangkan"

Kushina mendecih kesal lalu memunggungi Fugaku dengan sinisnya.

"Kushina, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu?"

"Apa?" balas Kushina ketus.

"Apa yang sedang kau cari?"

Kushina terkesiap setelah mendengar penuturan Fugaku. Dia baru ingat, dia kan sedang mencari Minato dan Mikoto. Kushina memutar tubuhnya kembali kearah Fugaku, memandangi wajah dingin tanpa ekspresi itu lagi. Kushina menyengir nista seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya disaat dia ditatap oleh Fugaku.

"Aku sedang mencari Miko-chan dan Minato-kun. Kau melihatnya?"

Saat Fugaku ingin menjawab pertanyaannya Kushina, tiba-tiba suara yang dicari-carinya muncul disudut koridor ruangan belakang panggung tersebut. Kushina menolehkan kepalanya kearah sumber suara tersebut dan mendapati seorang gadis berambut raven sedang berlari kearahnya seraya melambaikan tangannya dan memanggil nama Kushina berkali-kali.

"Kau darimana saja, aku mencari-carimu tahu! Waktu pentasmu tinggal dua menit lagi" bentak Mikoto kesal.

Kushina mengerutkan dahinya merasa tidak terima dengan bentakkan Mikoto yang tertuju padanya. Kushina mengembungkan pipinya mencoba menahan kesal yang sedikit demi sedikit mulai menjalarinya. Mikoto yang menyadari kalau ekspresi Kushina sudah mulai tidak wajar, dia mulai sweatdrop seraya memandangi Kushina dengan ekspresi ketakutan.

"Seharusnya aku yang mengucapkan kata itu-ttebane! Miko-chan baka!"

"Ah! Gomen-gomen. Iya-iya aku salah, maaf Kushi-chan"

Mikoto menghembuskan nafasnya seraya menghusap-husapkan dadanya merasa lega disaat ekspresi wajah Kushina sudah kembali seperti semula.

"Minato-kun mana Miko-chan?" tanya Kushina seraya mendongahkan kepalanya mencari-cari Minato dibelakang bahu Mikoto.

"Oh, si Minato. Entahlah, mungkin dia sedang mempersiapkan barang-barang untukmu dipanggung nanti kali. Oh iya nanti di lagu kedua kau bisa tidak memainkan nada lagu 'Kokoro No Wakusei'?"

"Hah? Kenapa lagu itu?" balas tanya Kushina heran.

"Yah, s-so-soalnya aku suka lagu itu. Sudah-sudah. Lebih baik kau naik ke panggung dan beri mereka santapan hangat dari permainan biolamu Kushi-chan"

Mikoto mendorong Kushina menuju tangga panggung, Kushina hanya bisa menghembuskan nafas ketika dilakukan sebegininya oleh Mikoto. Mikoto menghembuskan nafasnya lalu tersenyum manis ketika Kushina sudah memasukki panggung dan disambut oleh tepuk tangan yang sangat meriah. 'Ganbatte, Kushi-chan' batin Mikoto sambil tersenyum.

Setelah Kushina menyelesaikan lagu pertama, suara gemuruh kagum para penonton membuat Kushina tersenyum ria. Kushina mendekati microphone ke mulutnya, dia menarik nafas dan menghembuskan nafasnya di mic, dia mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara. Ratusan mata para pengunjung memandangi Kushina yang saat ini memejamkan matanya.

Seluruh lampu panggung mati secara serempak sehingga memberikan kesan gelap di panggung tersebut, dua detik kemudian sorotan cahaya putih menyala di satu titik dimana saat itu Kushina sedang duduk tenang dan memegang batangan microphone. Kushina membuka matanya secara perlahan-lahan dan mulai berbicara

"Di lagu kedua-ku. Aku akan mempersembahkannya untuk sahabatku yang bernama Mikoto. Lagu ini berjudul 'Kokoro No Wakusei'. Katanya lagu ini adalah lagu kesukaannya. Tetapi bukan hanya itu saja yang membuatku memilih lagu ini, aku memilih lagu ini juga karena lagu inilah yang membuatku sampai sejauh ini. Lagu inilah yang mempertemukanku dengan seorang guru yang menurutku sangat hebat dan penyabar. Aku harap kalian akan menyukai lagu ini"

Kushina memejamkan matanya kembali lalu menarik nafas panjang dan mulai bersiaga memainkan biolanya.

-x-x-x-x-

..::Kushina POV::..

Ketika aku ingin memainkan biolaku tiba-tiba aku mendengar suara ketukkan nada piano yang sangat lembut di telingaku. Nada ini mengalunkan nada utama 'Kokoro No Wakusei' yang ingin kumainkan. Suara ketukkan lembut dan mellow ini membuatku terpesona sesaat. Sebenarnya siapa yang memainkan alunan nada ini? aku tidak bisa melihat siapa yang memainkannya?.

Selang dua detik, tiba-tiba cahaya lampu putih kedua tersorot ke sudut panggung, menyinari seorang pemuda berjas putih dan berdasi kupu-kupu sedang duduk tegak seraya memainkan piano dengan santainya.

Aku terhenyak ketika mengetahui siapa pemuda yang memainkan piano tersebut. dia adalah Minato, guru sekaligus sahabatku. Aku ternganga merasa terkejut melihat dirinya bisa memainkan piano yang warnanya setara dengan jas-nya itu dengan lihainya. Aku tidak tahu kalau dia bisa memainkan piano juga?. Aku memandangi seluruh pakaian yang dipakainya saat ini, pakaiannya terlihat sangat cocok sekali dengannya dan entah kenapa aku merasa terpesona dengan penampilannya sekarang. Dia sangat tampan sekali memakai jas itu, dan...terlihat sangat gagah. Tunggu! Apa tadi aku mengatakan gagah?! Oh tidak! Sebenarnya apa yang ada difikiranku saat ini? tetapi kalau boleh jujur dia memang gagah dan terlihat sedikit...gentleman, hehehe. Ah! oh tuhan! Lagi-lagi...! jauhkan fikiran nistamu ini dari otakmu Kushina!.

Minato menoleh kearahku dan dia tersenyum manis padaku. ah! Apa yang terjadi padaku?! kenapa pipiku terasa panas, sebenarnya ada apa ini?! bukannya dia sering tersenyum padaku, tersenyum layaknya orang mesum yang lapar pada wanita yang pastinya selalu kuabaikan. Tetapi kenapa saat ini aku tidak bisa mengabaikan senyumannya itu? kenapa aku merasa terpesona dengan senyumannya? Sebenarnya apa maksud dari senyumannya itu?.

Dia menganggukkan kepalanya secara perlahan-lahan kearahku seolah-olah memberiku isyarat untuk memainkan biolaku, tanpa fikir panjang aku langsung memainkan biolaku seperti yang diperintahkan olehnya.

..::Skip Time::..

Acara permainan biola Kushina telah berakhir 90 menit yang lalu. Para pengunjung sudah pergi dan seluruh crew sudah membereskan seperempat accessories yang berada dipanggung. Biasanya setelah pertunjukkan sukses, para pemain dan beberapa pendukung pembuat acara pasti akan merayakan keberhasilan pertunjukkan dengan berpesta-pesta dan bersenda gurau tidak jelas. Tetapi kenapa di gedung musik ini aura-nya terasa berbeda? Sebenarnya apa yang terjadi?

Hampir tiga puluh menit suasana di belakang panggung terasa sunyi. Hening sekali, tak ada suara apapun disini bagaikan suasana pemakaman di malam hari. Minato pundung sejak Kushina tidak pernah keluar dari ruang gantinya. Sebenarnya apa yang terjadi? Padahal acara tadi sukses mengundang para pengunjung berseri-seri dan terkagum-kagum tingkat akut (?) atas pertunjukkan yang diberikan oleh mereka berdua, namun kenapa Kushina malah tidak keluar dari ruang ganti untuk bergabung dengan yang lain? Apakah ada yang salah?.

"Mikoto, kau bilang Kushi-chan tidak akan marah, tetapi kenapa sampai saat ini dia tidak pernah keluar dari ruang ganti?" tanya Minato pundung. Di hatinya yang paling dalam dia merasa sangat menyesal telah mengikuti saran Mikoto.

Mikoto menggelengkan kepalanya merasa tidak tahu-menahu soal apa yang terjadi pada Kushina saat ini. Biasanya kalau dia memberikan surprise, Kushina pasti sangat senang apalagi di hari yang spesial ini a.k.a hari ulang tahunnya.

"A-a-ak-ak-aku tidak tahu Minato, sungguh. Yang kutahu Kushina itu suka kalau diberikan surprise. Karena menurutnya, surprise itu akan memberikan kesenangan tersendiri." Balas Mikoto ikut kalut.

"Mana ada surprise memberikan kesenangan diri? Yang ada kekagetan diri! Ya ampun, aku pasti akan semakin dibenci olehnya. Ya kami-sama apa salahku?!" lirih Minato semakin gaje.

Mikoto sweatdrop melihat logat Minato yang tidak seperti biasanya. Fugaku dan Itachi-pun yang biasanya selalu cuek pada hal apapun jadi harus ikut campur dengan semua hal konyol ini.

Fugaku dan Itachi berjalan mendekati Minato. Fugaku duduk disebelah Minato dan Itachi berada dipangkuannya seraya menghusap-husap lengan kirinya Minato.

"Minato-nii jelek kalau nangis, jangan nangis yah?" hibur Itachi seraya menghusapkan-husapkan lengan kiri Minato.

"Mungkin Kushina hanya merasa tidak biasa saja kali, sudahlah jangan menangis Minato. Kau seperti anak kecil tahu!"

Saat Minato ingin membalas ucapan Fugaku, tiba-tiba pintu ruang ganti terbuka lalu muncul seorang gadis yang sejak tadi sedang dibicarakan oleh mereka, yakni Kushina. Kushina muncul dengan pakaian sebelum pertunjukkan dan wajahnya sudah tidak dihiasi make-up.

"Hah~ Aku benci make-up. Sulit sekali membersihkannya! Gomen, apa aku kelamaan? Aku sedang membersihkan wajahku dari make-up tadi" tutur Kushina seraya tersenyum kearah ketiga sahabatnya dan Itachi.

Sorotan mata Fugaku, Itachi, Mikoto, dan Minato padanya sukses membuat dirinya sangat risih, Kushina memandangi semua temannya secara bergantian dengan kening berkerut dan mulut ternganga. 'Apa-apaan pandangan mereka?' batin Kushina risih.

"Ada apa dengan pandangan itu? Kalian kenapa sih? OOC banget. Tatapan kalian membuatku takut tahu!" kata Kushina polos sambil memandangi mereka bergantian.

"Kau sudah tidak marah sama Minato?" tanya Mikoto

"Marah? marah kenapa?" tanya Kushina bingung dengan pertanyaan Mikoto lalu menoleh kearah Minato yang mulai menyembunyikan wajahnya di lututnya.

"Bukannya kau marah kalau Minato ikut campur dalam pertunjukkanmu?" balas Mikoto seraya menunjuk ke Minato.

Kushina semakin tidak mengerti, dia semakin memperdalam kerutannya hingga sampai berbentuk huruf 'v' lalu menoleh ke Minato kemudian ke Mikoto kembali. Dan kemudian saat dia mengerti dengan ucapan Mikoto tadi, Kushina mengedipkan kedua matanya beberapa kali lalu mulai tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang mulai terasa sakit. Minato terperangah dan ikut memandangi Kushina yang sedang tertawa lepas didepannya.

"Hahaha! Ap-ap...hahaha...apa yang kk-kalian...haha...katakan?, Kenapa aku harus marah...hahaha!"

"Bukannya kamu marah padaku, kan aku sudah menghancurkan hari terbesarmu?" tanya Minato heran.

Kushina mencoba menahan tawanya, dan mulai berbicara kembali

"Untuk apa aku marah, malahan lebih bagus kalau kau ikut serta dalam pertunjukkanku. Aku senang kok. Lagipula banyak para pengunjung yang suka kalau kita berkolaborasi" sahut Kushina seraya menghusap air matanya yang keluar gara-gara tertawa lepasnya.

"Lalu kenapa tadi saat acara selesai, kau mencuekkiku yang saat itu sedang menyapamu?"

"Saat itu aku sedang terburu-buru ingin pergi ke toilet jadi aku tidak punya waktu untuk menyapamu-ttebane!"

"Lalu ketika aku mengetuk pintu ruang gantimu sambil memanggil namamu, kenapa kamu tidak menyahutiku?"

"Baka!, aku memakai earphone jadi aku tidak dengar ketukkan pintu dan suaramu-ttebane!"

"Lalu kenapa kamu lama sekali keluar dari ruang ganti?"

Kushina menghela nafas

"Kau terlalu banyak bicara! Apa kau tidak dengar? Kan tadi sudah kubilang kalau tadi aku sedang membersihkan wajahku dari make-up. Aku sulit membersihkannya jadi yah gitu deh, jadi lama. Hehehe"

"Jadi, kau tidak marah padaku?"

"Iie,," sahut Kushina sambil menggelengkan kepalanya.

Mendengar semua jawaban yang diberikan Kushina, Minato jadi merasa lega. Ternyata Kushina tidak marah padanya. Kushina hanya sibuk pada dirinya sendiri bukanlah marah padanya. Minato menghembuskan nafas lega lalu tersenyum malu karena telah salah mengambil kesimpulan soal Kushina. Kushina hanya menggelengkan kepala maklum setelah melihat senyuman malu Minato.

"Ya sudahlah, kalian mau makan ramen? Ayo kita rayakan kesuksesan pertunjukkanku disana. Biar aku yang traktir-ttebane!"

"Tumben mau neraktir?" goda Mikoto dengan tersenyum penuh arti.

"Yah, hitung-hitung hari ini juga aku ulang tahun. Gimana?"

Mikoto dan Minato tertawa ria setelah mendengarkan Kushina yang ingin mentraktir mereka sedangkan Fugaku dan Itachi hanya bisa ber'hn' ria seperti biasanya. Yah, buah apel memang tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya.

Disaat mereka semua membuka pintu gedung panggung, tiba-tiba ada yang mencegah mereka lewat. Dia adalah seorang pria paruh baya asing berkulit putih langsat, pemakai jas coklat, memakai celana bahan yang setara dengan jasnya, berambut perunggu klimis dan memakai kacamata. Pemuda itu berjalan santai mendekati mereka sambil mendorong kacamatanya yang terkadang merosot ke hidungnya.

"Konichiwa, permainan biola anda sungguh sangat menghibur sekali Uzumaki-san. Perkenalkan, nama saya David Froster. Dan ini adalah kartu nama saya" sapa pria paruh baya tersebut seraya memberikan kartu nama ke Kushina.

Kushina yang memang penasaran siapa pria asing ini, langsung menerima kartu namanya dan membacanya. Dia membacanya dengan santai hingga sampai pada akhirnya ada seseorang yang membuncah konsentrasi membacanya.

"Oh ya ampun! Jadi anda David Froster?! David Froster sang maestro yang saat ini sedang naik daun di Inggris. Oh My Jashin! Baru kali ini saya melihat wajah anda Mr. David. Saya sangat mengidola-idolakan seluruh permainan musik anda." Tutur Minato panjang lebar sambil menjabat tangan pria asing bernama David tersebut sangat antusias.

"Terima kasih, anda yang berkolaborasi dengan Uzumaki-san kan?"

"Yeah, tetapi itu hanya sekedar rencanaku dan temanku Mikoto untuk memberikan surprise pada Kushina di ulang tahunnya saja. tidak lebih" balas Minato sopan.

"Oh, Jadi hari ini anda berulang tahun Uzumaki-san. luar biasa, dihari spesial seperti hari ulang tahun, anda sudah memberikan kesan hebat dan menakjubkan. Selamat"

"Arigatou David-san. Oh iya, Ngomong-ngomong untuk maksud apa anda ingin menemui kami?"

Pria paruh baya bernama David itu mulai menyadari apa maksud kedatangannya saat ini. Dengan tersenyum malu-malu dia mulai menjelaskan semua maksud kedatangannya pada Kushina dan yang lainnya. Seluruh tubuh mereka menegang saat sang maestro tersebut menawarkan Kushina beserta Minato untuk menjadi bagian pemain musiknya. Kushina tercengang mendengarnya, begitupula Minato apalagi saat mendengar penjelasan soal gaji yang bisa dibilang tidak sedikit.

"Bagaimana? Apakah anda berdua berminat menjadi anggota Pianist dan Biolistku?"

Awalnya Kushina dan Minato diam saja, namun selang dua menit kemudian mereka mulai memunculkan senyuman bahagia mereka lalu tertawa bersama-sama begitupula Mikoto yang juga ikut-ikut senang mendengar tawaran sang maestro tersebut, sedangkan Fugaku dan Itachi hanya bisa mengangguk-ngangguk pelan namun dihatinya yang paling dalam ayah dan anak ini sangat bahagia melihat Kushina dan Minato sampai berkembang dengan pesat dalam waktu yang sesingkat ini.

"Tou-chan pasti akan senang" bisik Kushina senang pada Minato, Mikoto, Fugaku dan Itachi.

"Begitupula Otou-sanku." balas bisik Minato sambil menyengir bahagia.

"Bolehkan kalau aku menjadi assisten kalian berdua? Aku berjanji akan menjadi assisten yang terbaik" tanya Mikoto ikut-ikutan.

Minato dan Kushina saling berpandangan lalu mulai tertawa kembali.

-x-x-x-x-

Setelah melakukan perjanjian kontrak dengan David Froster. Minato dan Kushina sah menjadi anggotanya. Setelah masa kontraknya bersama David habis, nama Kushina dan Minato semakin melegenda di seluruh dunia. Banyak maestro yang mencari-cari mereka agar menjadi anggota kelompok musik mereka, oleh karena itu mereka berdua selalu disibukkan oleh beberapa kontrak dari assisten maestro diseluruh dunia. Tidak hanya berakhir sampai disitu, Kushina, Minato dan Mikoto ( yang berperan sebagai assisten ) selalu pergi keluar negri untuk mendatangi sebuah acara jumpa pers dan beberapa acara spesial setiap bulannya yang memang khusus diberikan oleh mereka berdua secara Cuma-Cuma. Dan bayangkan dalam waktu setengah tahun, jumlah fans mereka melonjak dan mereka mendadak menjadi artis musik papan atas melebihi David yang dulunya sang maestro. Tetapi walaupun mereka menjadi artis papan atas, mereka tetaplah rendah hati oleh siapapun terutama pada David yang telah membuat mereka menjadi terkenal seperti sekarang ini. oleh sebab itulah semua orang sangat menyukai mereka.

Hari ini mereka berada di kota Paris, tepatnya di sebuah hotel berbintang lima bernama Verlitiaze. Besok mereka akan pulang ke negara tercinta Yaitu Jepang. Gara-gara kesibukkan mereka yang menjadi sang pemain musik legenda, mereka harus rela tidak pulang selama hampir setahun tanpa bertemu dengan keluarga tercinta dan itu benar-benar membuat mereka sangat merindukkan kota kelahiran mereka terutama Mikoto yang begitu merindukkan pelukan dan senyuman angkuh suami dan anaknya Fugaku dan Itachi. Saat ini Kushina dan Minato ( Mikoto sedang mengurus pemberangkatan ke Jepang ) sedang berada di aula besar menuju lift, mereka saling mengobrol satu sama lain seraya membicarakan begitu rindunya mereka pada negara tercinta mereka hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di depan pintu lift hotel.

Minato terdiam memikirkan suatu hal yang sangat penting baginya. Akhir-akhir ini dia sangat sulit sekali mengobrol dengan Kushina dan baru kali inilah mereka saling mengobrol. Bagaimana tidak? Tiap Minato yang ingin memulai mengobrol, pasti ada saja yang mengganggunya. Jika semua ini terus berlanjut maka waktunya bersama Kushina pasti akan termakan dengan seluruh kesibukkan mereka. Minato menghela nafasnya pelan kemudian menoleh ke Kushina yang sedikit tidak sabar menunggu lift terbuka. Minato memandangi sendu Kushina, apa dia tidak merasa kalau jaraknya dengan jarak Minato semakin sempit dan terhalangi oleh kesibukan pekerjaan. Apakah dia tidak merasa kalau dirinya dan diri Minato semakin sulit mengobrol atau sekedar sapa-menyapa. Apakah dia sudah lupa semuanya? Batin Minato miris.

Tiing...

Lift hotel terbuka, Kushina menghembuskan nafas lega lalu masuk kedalam lift diikuti Minato dibelakangnya. Kamar Minato berada dilantai 160 sedangkan Kushina berada dilantai 163 jadi perjalanan mereka ke kamar mereka akan memakan waktu hampir setengah jam dan pastinya akan membuat bosan.

Saat ini di lift hanya ada mereka berdua, tidak ada siapapun. Di setiap perjalanan lift, Kushina menyenandungkan lagu Aittakute-aittakute karya Kana Nishino. Senandungan lagu itu membuat diri Minato semakin nekat untuk menyatakan suatu hal yang sampai saat ini belum pernah tersampai pada Kushina.

"Apakah kau tidak sadar Kushina?"

Kushina menghentikan senandungan lagunya dan menoleh kearah Minato dengan alis terangkat tidak mengerti.

"Apa kau tidak merasa kalau ada halangan antara kita?"

"Apa maksudmu Minato-kun?"

"Kau tahu jarak kita semakin jauh setelah semua pekerjaan ini, apa kau tidak merasa kalau kita jarang mengobrol seperti ini?"

"Yah, aku merasa kok. Tapi mau diapakan lagi? Kan kita sedang sibuk jadi kita sulit mengobr..."

"TETAPI AKU TIDAK BISA!"

"..."

"Aku tidak bisa jika tidak mengobrol denganmu, bagiku hanya dengan menatapmu itu kurang cukup"

Kushina mengerutkan keningnya dan berjalan dua langkah mendekati Minato yang berada di sudut lift, Kushina memegang kedua bahunya

"Ada apa denganmu Minato-kun? Kau berbeda hari ini? apa kau sakit?"

"..."

"Minato-kun?" ulang Kushina karena Minato tidak menjawab.

Kushina berkedut kesal karena kata-katanya dicuekki oleh Minato, dia ingin membentak Minato tetapi sebelum dia ingin membentak, tiba-tiba Minato berkata

"Watashi no kotoba wa daisuki desu" bisik pelan Minato di tundukkan kepalanya

Kushina terdiam setelah mendengar ucapan Minato

"Itulah kenapa aku tidak bisa jauh darimu ataupun tidak bisa mengobrol denganmu" Lanjut Minato antusias.

Kushina ternganga dengan kedua mata berkedip lalu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Kushina menepuk-nepukkan bahu kiri Minato masih tertawa sedangkan Minato merasa sedikit jengkel pada sifat Kushina saat ini.

"Aku serius Kushina, aku mencintaimu"

Kushina berhenti tertawa dan tubuh Kushina menegang sambil memandangi Minato tidak percaya, yah dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sedangkan Minato yang menyadari tidak ada balasan dari Kushina, kembali mengulangi ucapan sebelumnya lebih keras sambil menatap Kushina intens tapi lembut.

"Daisuki. Hontou daisuki!"

Kushina terpaku ditempat saat mendengar perkataan cinta Minato padanya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini, mulutnya terasa kelu untuk berbicara. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya bisa memandangi Minato dengan mata membulat yang disertai oleh rasa tidak percaya.

"Jika aku menciummu, apa kau akan menamparku?"

Deg...

Dengan refleks Kushina menjauhkan kedua tangannya dari kedua bahu kekar Minato setelah mendengar pertanyaan itu, pertanyaan singkat itu mampu membuat dirinya terhenyak. Sebenarnya apa yang ada difikiran orang ini? batin Kushina. Minato yang merasa tidak ada balasan darinya mulai menarik nafas lalu tersenyum lembut pada Kushina seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket yang dia pakai saat ini.

"Kurasa kau tidak akan menamparku"

Minato berjalan beberapa langkah mendekati Kushina yang saat ini sedikit menjauh darinya. Adegan pandang-memandang mereka berdua membuat suasana di lift ini semakin menegang. Minato tersenyum tipis dan alih-alih menyentuh pinggang Kushina dan menariknya kedepan agar lebih dekat darinya. Disaat Minato menarik pinggangnya, Kushina menarik nafasnya karena sedikit kaget. Pandangannya pada Minato masih terus terkunci seakan-akan matanya terasa dihipnotis oleh pemuda berambut jabrik didepannya ini. Lalu tanpa izin dari Kushina, Minato dengan berani melanjutkan pergerakkannya dengan menyentuh pipi putih Kushina yang lembut.

Minato memperdalam telapak tangan kanannya kebelakang kepala Kushina lalu memiringkan wajahnya ketika jarak wajah mereka berdua sangat dekat. Sesekali Minato memandangi bibir Kushina yang sedikit terbuka tersebut bermaksud menunggu reaksi dari bibir Kushina agar bersiap-siap untuk dicium tetapi yang dilihatnya saat ini hanya bibir kaku Kushina yang tidak ada gerakkan apapun sebelum dicium.

Minato mulai mencium bibir Kushina dengan lembut, memberikan semua cintanya pada Kushina, mengeluarkan seluruh sayangnya itu di bibir lembut Kushina. Minato melepaskan ciumannya ketikanya cukup, dia menjauhkan wajahnya dan mendapati Kushina yang membuka matanya. Minato tersenyum lembut karena Kushina juga menikmati ciumannya ini. Minato sangat senang karena orang yang mengambil ciuman pertama Kushina adalah dirinya. Ciuman pertama? Iya, hari ini adalah ciuman pertama Kushina dan Minato-lah yang mengambil ciuman pertamanya itu.

Minato mundur beberapa langkah darinya masih dengan tersenyum padanya namun senyumannya itu bukanlah hanya sekedar senyuman, senyumannya itu memberikan kesan senang dan bahagia yang luar biasa sekali karena

"Kau tidak menamparku...kau tidak menamparku Kushu-chan"

Tiing...

Suara lift berbunyi lalu pintu lift terbuka lebar, menunjukkan kedua insan yang saat itu masih dalam keadaan bahagia sekaligus tegang.

Minato mendongah kearah kiri dan mendapati angka lantai 160. Dia beralih kembali kepada Kushina, mencoba memandangi Kushina yang masih terkejut untuk sekali lagi. Setelah puas, dia pergi meninggalkan Kushina sambil mengucapkan kata 'Oyasumi'.

Bunyi bel lift berbunyi kembali, menyadarkan Kushina yang saat itu masih terpaku dan bingung, dia berjalan kecil ke tengah-tengah lift yang pintunya sedikit demi sedikit mulai tertutup perlahan-lahan. Kushina melihat Minato yang saat itu memunggunginya, meninggalkan dirinya dalam rasa kebingungan dan terkejut dengan apa yang dia lakukan bersama Minato di lift.

TBC

Huwaa! Selesai juga chapter 13 ini. Shisui harap fic yang satu ini bisa menebus kelamaan Shisui yang lama banget update. Bagaimana menurut Minna soal sari romantisme-nya, apa masih kurang? Kalau masih kurang bilang aja ke Shisui biar nanti Shisui tambahkan sarinya, hehehe.

Yosh! Mungkin gini dulu aja. Oh iya walau terlambat Shisui mau mengucapkan selamat idul fitri bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan bathin. Maafin Shisui yah kalau Shisui punya salah sama kalian semua ^^

Nah buat balasan review, look at this below^^

nararhezty. cliquers : Iya memang Shisui sengajain, biar berbeda gitu ceritanya, yah meski gak punya arti berbeda, hehehe^^a maaf yah kalau gak berkenan, Shisui memang author gak bermutu. m(_ _)m.

Crizky grean-terquoish : hihihi, habis Shisui BT sih sama nama yang lama, dikira cowok mulu sama semua orang karena namanya Shisui-Namikaze#pundung. Gomen Crizky-san Shisui lama update, semoga fic yang satu ini bisa menebus kesalahanku yah^^v

U. Icha-chan : hehehe, ya gitu deh. Makasih yah atas pujiannya. Aduh penasaran yah? hem,, gomen Icha-chan Shisui update-nya lama bangeeeet, habis sibuk banget sih di dunia nyata. Maaf sekali lagi yah. Shisui harap Icha-chan gak bosen-bosen ngebaca fic Shisui yah^^

Fran fryn kun : Makasih, iya ini udah lanjut kok. Maaf yah lama update m(_ _)m

Uzumaki. kuchiki : Yosh, ini udah update kok, gomen kalau lama update.

Aika Licht Youichi : Hehehe. Gomenasai. Aika-san belum Shisui cantumin namanya. Sekarang udah Shisui cantumin kok^^. Iya, udah Shisui benerin kok. Mohon kritik dan sarannya lagi yah, biar Shisui bisa lebih baik dari sebelumnya. Makasih udah review.

Yosh! Udah dibales semua kan,,

Oke,, Shisui pergi dulu. Matta ne!

Jaa~