PRESIOUS SIN


Memasuki usia kandungan bulan ke 9, Baekhyun berubah menjadi lebih sensitif. Sifat pemarahnya sedikit berkurang dan Chanyeol benar bersyukur akan hal itu, namun hatinya menjadi rapuh 2 kali lipat dan Baekhyun menjadi lebih sering menangis pun dengan pikiran paranoid yang menderanya.

Ketika dokter telah menentukan tanggal persalinannya, Baekhyun lebih sering melamun bahkan mengabaikan seluruh ocehan Deokjun. Dia meninggalkan koleksi bukunya juga dan memilih berdiam diri di kamar dengan beribu pikiran randommemenuhi seisi kepala.

Namun apa yang mendominasi disana adalah apa yang harus dia lakukan saat bayinya lahir nanti. Baekhyun memikirkan beberapa nama, Ayahnya menjadi tempat yang sempurna namun pria itu sudah terlalu tua untuk merawat bayi. Sehun menjadi kandidat yang kuat tapi pria itu juga sangat sibuk dengan pekerjaannya.

Mungkin Sowon tidak buruk juga. Perempuan itu baik dan Baekhyun mempercayainya, tapi tetap saja dia adalah orang asing. Saat Baekhyun meninggal nanti otomatis perempuan itu tak lagi bekerja untuknya lantas bagaimana nasib bayinya nanti?

Lalu bagaimana dengan Chanyeol?

Baekhyun mempertimbangkan banyak hal terlebih hubungan semu yang mereka miliki, bagi Baekhyun, Chanyeol tetaplah orang asing. Namun diluar itu, pria tinggi itu tetaplah pemilik janinnya. Dia adalah Ayah dari bayinya.

Melihat bagaimana Chanyeol merawat Deokjun, sedikit banyak membuat ragu dalam diri Baekhyun terkikis dan tanpa dia sadari rasa percaya itu perlahan terpupuk dalam dirinya.

Mungkin saat dia meninggal nanti, Chanyeol takkan keberatan merawat bayi mereka juga.

Chanyeol mencoba mengingat ada berapa kata yang Baekhyun keluarkan hari ini. Lelaki itu bak boneka tak bernyawa, duduk diam pada pinggiran tempat tidur memperhatikan Chanyeol yang tengah memasukkan perlengkapan bersalinnya ke dalam tas.

Besok merupakan tanggal yang telah dokter tentukan Baekhyun di minta untuk datang sehari sebelumnya. Chanyeol telah mempersiapkan semua kebutuhan Baekhyun di rumah sakit nanti; beberapa lembar kain juga pakaian bayi yang luput Baekhyun pikirkan sebelumnya.

Baekhyun sedikit banyak terkejut bagaimana sigapnya Chanyeol mengatur semua itu, Woori mungkin telah memberinya banyak pengalaman dan hanya mengingat hal itu membuat perasaannya tercubit tanpa alasan.

"Woori…" gumanan itu menghentikan pekerjaan Chanyeol seketika. Mata pria itu melebar menatap Baekhyun tak percaya akhirnya berbicara lagi sejak kemarin.

"Kau mengatakan sesuatu?" Chanyeol meninggalkan lemari dan tergopoh menghampiri Baekhyun.

Baekhyun menatap Chanyeol datar dengan gigitan pelan di dalam mulutnya.

"Apakah dia melahirkan normal?" Baekhyun bertanya.

Alis Chanyeol mencekung oleh rasa bingung, "Maksudmu… Woori?" dia balik bertanya. "Tidak, Woori melahirkan Deokjun melalui operasi caesar."

Baekhyun terpekur diam lagi dengan berbagai hal merayapi pikirannya.

"Aku… tidak mau operasi." Bisik Baekhyun, "Aku ingin melahirkannya secara normal."

Melahirkan normal atau operasi caesar sebenarnya bukanlah hal yang Chanyeol pikirkan sebelumnya. Pria itu luput memikirkan tentang Baekhyun yang lagi harus melewati hal berat itu oleh dirinya sendiri.

"Aku ingin melihatnya… walau hanya sekali."

Chanyeol termangu, menyadari kemana arah pembicaraan itu pun alasan yang baru saja Baekhyun katakan. Otot Chanyeol berubah kaku, dalam gerakan terlampau pelan dia bawa tubuh itu dalam dekapan.

Baekhyun menangis lagi tanpa malu memperdengarkan isak tangisnya pada pundak Chanyeol. Tangannya terkepal, mencengkram pakaiannya sendiri dengan erat tanpa berani menyentuh perutnya sama sekali.

"Semua orang memiliki takdir mereka masing-masing Baekhyun…" Chanyeol berbisik lembut dengan tangan lebarnya mengusap lembut punggung Baekhyun. "Begitu juga denganmu." Sambungnya.

"Berjanjilah untuk merawatnya dengan baik dan bilang bahwa aku mencintainya—"

"Ssttt…" Chanyeol lekas memotong. Dekapan itu dia lepas dan terburu mengusap basah wajah Baekhyun. "Kita akan merawatnya bersama, kau akan tetap berada disini untuk merawatnya, melihatnya tumbuh kembang dan mengatakan betapa kau mencintainya. Kau akan melakukannya Baekhyun."

Baekhyun menggeleng kuat sedang pandangan jatuh di atas perutnya. Buliran air matanya menetes banyak di atas perutnya sedang pandangan buram oleh pelupuk yang penuh.

"Baekhyun…" Chanyeol memanggilnya. "Lihat aku," dagu carrier itu Chanyeol raih dan mengangkatnya pelan guna mempertemukan hazel mereka disana.

"Kau akan tetap hidup untuk melihatnya tumbuh, kau akan akan melakukannya bukan?"

Baekhyun tak menjawab, rahangnya bergetar menahan isak tangis yang kian meledak pun bibirnya yang terasa kebas terlampau lama dia gigiti.

"Mungkin carrier itu lemah, tapi aku tau kau kuat Baekhyun. Kau adalah yang terkuat, bisakah kau buktikan itu padaku, hm?"

Dokter menyarakankan agar Baekhyun lebih banyak bergerak dan berjalan-jalan guna mempermudah proses persalinan nanti. Baekhyun juga di minta untuk memberitau ketika kontraksi mulai terasa. Namun sejak menginjakkan kaki di rumah sakit, sampai lorong panjang rumah sakit itu Baekhyun lewati, dia nyatanya tidak merasakan apapun.

Baekhyun menjadi resah dan hendak menangis lagi namun Chanyeol dengan tanggap segera menenangkannya.

"Pokoknya aku tidak mau operasi!" Baekhyun berseru sembari memukuli dada Chanyeol kesal. Pria itu mengaduh karena pukulan Baekhyun memang tidak main-main kuatnya.

"TIDAK MAU! TIDAK MAU! TIDAK MAU!"

"Ya sudah jika mau tidak harus berteriak seperti itu juga 'kan." Chanyeol mengeluh.

Baekhyun menatap Chanyeol dalam delikan lantas tanpa aba-aba menarik telinga Chanyeol dengan kuat.

"ARRRGGHHH!" Chanyeol melolong kesakitan. Daun telinganya seolah hendak lepas dengan warna merah oleh jeweran itu. Namun taunya Baekhyun tertawa, benar bersenang hati berhasil menganiaya pria Park itu.

"Senang?!" Chanyeol bersungut.

"Hehe…" Baekhyun menyengir.

Mendengarnya, Chanyeol berdecak namun tak mampu menahan diri untuk tidak tersenyum pula. Rasa panas pada daun telinganya mendadak hilang hanya karena mata segaris yang Baekhyun perlihatkan.

Pintu kamar di ketuk dua kali, seorang perawat terlihat di balik sana dengan senampan makanan untuk makan siang Baekhyun. Perawat itu juga bertanya tentang kontraksi yang mungkin Baekhyun rasakan namun lelaki mungil itu memberikan gelengan.

"Adakah sesuatu yang bisa dilakukan agar memancing kontraksinya?" Chanyeol bertanya.

"Sebenarnya…" perawat muda itu menjeda ucapannya sesaat. "Berhubungan intim bisa merangsang persalinan."

Chanyeol dan Baekhyun kontan tersedak ludah dengan rahang terkatup rapat—terkejut bukan main oleh ujaran itu. Keduanya saling bertukar pandang dengan kikuk mendera tiba-tiba.

Menyadari suasana yang berubah canggung, perawat muda itu pamit undur diri dan meninggalkan keduanya pada situasi yang sama.

Baekhyun melirik Chanyeol malu—cepat-cepat menunduk menatap pada perutnya yang besar.

"Apa setelah melakukan itu aku tetap bisa melahirkan normal?" Baekhyun bertanya nyaris tak terdengar.

"Er…" Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kupikir tak ada salahnya juga mencoba 'kan?"

Hela nafas Baekhyun terdengar sekali. Jemarinya bergerak menuju kancing piyamanya dan membukanya dengan tenang, "Ya sudah, ayo kita lakukan."

Baekhyun menjadi lebih pasif sejak Chanyeol memasukinya. Dia lebih suka menggigit bibir—menahan desahan kala pria itu dengan akurat menumbuk bagian manis pusat tubuhnya. Kepalanya mendongak, bertumpu pada pundak Chanyeol dibelakang sana sedang tangan mencengkram erat lengan Chanyeol pada pinggangnya.

"Ouh Baek!" Chanyeol mengerang nikmat oleh pijatan itu. "Kapan terakhir kali kita melakukannya, kau masih senikmat ini."

"Di-diam!" Baekhyun memukul lengan Chanyeol malu. "Jangan terlalu cepat, kau membuat bayiku terkejut." Keluhnya.

"Bayi kita Baekhyun," koreksi Chanyeol.

"Tetap saja aku yang mengandungnya—"

"Kau mengandung benihku omong-omong." Chanyeol menyela.

"Diam!" Baekhyun lagi memukul lengan Chanyeol, lebih keras namun pria itu malah tertawa di sela gerakan pinggulnya. Bibirnya jatuh pada pundak Baekhyun dan melayangkan kecupan pada sekitaran kulit halus itu.

"Omong-omong sudah pikirkan sebuah nama?" Chanyeol bertanya. Tangannya menjalari bagian atas tubuh Baekhyun—menuju putingnya dan mengusap sensual bola cokelat kecil itu.

"Sudah ugh~" Baekhyun menjawab, sedetik kemudian menyesal karena malah meloloskan desahan dari belah bibirnya.

Chanyeol tertawa lagi, dengan jahil menyesap kuat pundak Baekhyun dengan bercak merah basah tercetak jelas disana.

"Jangan menahannya Baek, aku butuh desahanmu agar cepat sampai."

Baekhyun tak mampu menyahut ketika gelombang kenikmatan itu menyerangnya tanpa ampun. Perutnya dirasa kian penuh dan hanya butuh tiga detik ketika pelepasan carrier itu raih. Baekhyun bergetar oleh putih yang di raihnya, deru nafasnya berkejaran payah dengan dada kembang kempis berusaha meraih oksigen.

Chanyeol menghentikan gerakannya, membiarkan Baekhyun merasakan pelepasan sebelum mulai meraih miliknya pula. Tangannya masih bermain-main pada puncak dada itu, lantas turun meraih kejantanan Baekhyun di bawah sana.

Lengket dan panas milik carrier itu Chanyeol mainkan sesaat sebelum memulai gerakan pinggulnya kembali.

Ruangan itu kembali senyap tanpa satupun kata yang keduanya keluarkan. Hanya desah nafas bergulung dengan tepukan kulit beradu di udara.

Baekhyun melengkung sembari memeluk perut buncitnya, pantatnya menjadi lebih condong ke belakang membiarkan Chanyeol memasukinya kian jauh. Perutnya lagi terasa penuh dan Baekhyun tau dia akan segera sampai kembali.

Erangan Chanyeol terdengar semakin keras, beberapa tusukan pria itu butuhkan guna panas meledak memenuhi Baekhyun oleh pelepasan pria Park itu.

Chanyeol mendesah lega dengan pinggul yang bergerak perlahan tanpa memutus kontak mereka. Dia meraih wajah Baekhyun ke belakang dan menjemput bibir carrier itu dalam pangutan lembut.

"Jadi siapa namanya?" panas nafas Chanyeol menerpa bibir Baekhyun yang basah. Liur menjuntai—menjembatani kedua belah lunak itu kala terpisah kembali.

Baekhyun meraup oksigen lantas menghembuskannya dengan perlahan.

"Byun Hyunji untuk perempuan, Byun Jiwon untuk laki-laki."

Tanpa tau bagaimana kecewa menyerang Chanyeol tanpa ampun.

Ini telah memasuki hari kedua Baekhyun berada di rumah sakit namun taunya kontraksi itu tak juga dia rasakan. Baekhyun marah-marah, menyalahi Chanyeol yang mengambil kesempatan dalam kesempitan—tak lupa memukul dadanya pula.

"Baek lagipula kita sama-sama nikmat, mengapa kau jadi marah seperti ini?" Chanyeol menyahut tidak terima. Kedua tangan Baekhyun, Chanyeol tangkap dan mencengkramnya dengan kuat.

"Kau saja yang nikmat, bayiku sampai terkejut!" Baekhyun melotot.

"Dia terkejut dengan bahagia Baek," Chanyeol memutar bola mata jengah, "sudah jangan marah-marah seperti ini, nanti kau kelelahan."

"Ish!" Baekhyun mendengus namun tetap mendengarkan apa yang Chanyeol katakan. Dia beranjak turun dari tempat tidur, sedikit tertatih sembari memengangi perutnya keluar dari kamar.

"Eh kau mau kemana?" Chanyeol mengejar.

"Menemui dokter," Baekhyun menjawab tak acuh.

"Untuk apa?"

Baekhyun kembali mendengus dan berbalik menatap Chanyeol kembali. "Aku mau operasi saja."

Terakhir Baekhyun tetap melakukan operasi untuk melahirkan bayinya. Dia telah berbaring di atas bankar tanpa mengatakan apapun dengan pandangan sejurus pada langit-langit ruangan. Chanyeol menatapnya lama, meraih kedua tangannya dan menggengamnya dengan lembut.

Chanyeol tak ingin mengakui rasa takut dalam dirinya barulah mendera kini. Chanyeol tak ingin mengatakan apapun apa yang menganggu pikirannya pula, alih-alih mengulas senyum dan mengecup berulang punggung tangan itu.

Baekhyun menggulirkan pandangannya pada Chanyeol dengan satu alis naik pada kening.

"Apa?" dia bertanya, nadanya datar terdengar menularkan Chanyeol dalam senyum yang kian lebar terkembang.

"Aku hanya ingin berterima kasih padamu," Chanyeol berkata.

"Kau sudah sadar betapa baiknya aku padamu selama ini?" Baekhyun mengetus.

Chanyeol terkekeh, "Apa aku pernah mengataimu jahat?"

"Kau mengataiku seperti malaikat pencabut nyawa!" tuduh Baekhyun benci.

Tawa Chanyeol kian keras terdengar, "Maaf maaf aku keceplosan."

"Yak!" Baekhyun dengan kesal menjambak rambut Chanyeol. Ringisan kesakitan Chanyeol perdengarkan dan Baekhyun lagi menjambak rambutnya—lebih kuat seolah hendak menarik rambut itu sampai ke akar.

"Aku suka kita seperti ini Baek." Chanyeol berucap lagi di antara denyutan yang terasa pada kepalanya. Tatapan jenakanya menghilang, digantikan teduh menghujani Baekhyun dalam hangat. "Apa kau juga?" dia bertanya.

Rahang Baekhyun terkatup, diam-diam dalam hati mencari jawaban atas pertanyaan itu. Namun detik berlalu taunya tak ada satupun kata yang keluar dari celah bibir tipis itu.

Chanyeol sedikit kecewa namun tak ingin menuntut apapun. Dia mengembangkan senyum lagi sembari menjatuhkan pandangan pada jemari mereka yang tertaut dan lagi mengecup punggung tangan itu.

"Aku ingin berterima kasih padamu," Chanyeol berucap. "Terima kasih karena tak pernah menyerah, bahkan setelah semua hal berat yang harus kau jalani tapi kau pernah sekalipun berpikir untuk menyerah."

Baekhyun termangu, ada getaran yang menyentaknya akan hal yang tak benar dia sendiri sadari.

Chanyeol benar… tentang Baekhyun yang tak pernah menyerah dan tetap menjalani kehidupannya.

"Terima kasih sudah menjadi kuat,"

Bahkan sisi rapuh yang lebih mendominasi dirinya,

"Terima kasih sudah bertahan Baekhyun."

Baekhyun tetap disini dan hidup bertahan dengan dirinya.

Deokjun datang bersama Sowon dengan seragam sekolah yang masih bocah itu kenakan. Teriakannya menggema di lorong memanggil Chanyeol dan bertanya tentang adik bayi barunya. Chanyeol tak sempat menjawab ketika pintu ruang operasi di buka dengan dokter yang keluar dari sana.

"Operasinya berhasil," senyum teduh itu menjalari Chanyeol dalam kelegaan luar biasa. "Tuan Byun melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat sehat."

Chanyeol seperti déjà vu saat Woori melahirkan Deokjun dulu. Rasanya sangat luar biasa hanya dengan berita yang dokter itu katakan. Chanyeol bahagia sekali sampai dia hendak menangis namun kemudian teringat prioritasnya yang lain.

"Bagaimana dengan Baekhyun? Dia baik-baik saja bukan?"

"Tuan Byun—" dokter itu menjeda, matanya tertaut pada hazel Chanyeol dan nyatanya itu mampu menarik seluruh oksigen yang terkumpul dalam paru-paru pria itu.

"Tuan Byun baik-baik saja, beliau sedang di pindahkan ke ruang inap bersama dengan bayinya. Anda bisa menemuinya setelah itu."

Rasanya Chanyeol ingin pingsan saja—benar tak mampu menahan seluruh luapan kebahagian itu.

Sesuai dengan keinginan Baekhyun jika bayinya laki-laki maka dia akan memberinya nama Jiwon, tanpa Byun karena tanpa sepengetahuan lelaki itu Chanyeol mengisi data kelahiran Jiwon dengan tambahan nama Park. Nama miliknya.

Baekhyun tak sempat untuk marah alih-alih menangis ketika sadar dan mendekap bayinya erat-erat. Dia menangis dan Chanyeol tak ingin mengatainya cengeng atau apapun. Deokjun tak henti berdecak kagum dengan antusias menempatkan dirinya duduk di sebelah Baekhyun—turut memperhatikan bayi merah itu dengan suka cita.

Byun Seunghyun datang bersama Sehun satu jam kemudian membuat Chanyeol segera menarik diri keluar dari ruangan itu. Dia beralasan pulang bersama Deokjun walau kenyataan masih berkeinginan untuk tinggal lebih lama disana.

"Namanya Jiwonie," sayup Chanyeol dengar bertepatan pintu telah di tutup kembali. Raut wajah bahagia Baekhyun masih terekam jelas dalam otak Chanyeol dan menemaninya pulang ke kediaman milik lelaki itu.

Bagaimanapun Chanyeol tak ingin serakah, dia sudah cukup bahagia bagaimanapun.

"Deokjun kau rindu Seoul tidak?"

Sehun seperti patung tanpa mulut tak berbicara sepatah katapun sejak kedatangannya. Dia hanya mengatakan selamat tanpa minat lantas menempatkan dirinya duduk pada sofa di sudut ruangan. Sehun marah—lebih tepatnya kecewa dan Baekhyun tau hal itu.

Dia hanya melirik sesekali di antara pembicaraannya dengan Seunghyun lalu memutuskan untuk tak peduli.

Sehun mendengarkan tanpa minat. Matanya menjelajah bosan pada seluruh ruangan hingga akhirnya terhenti pada papan nama di pada keranjang tempat tidur Jiwon. Pria itu bergegas bangkit dan menarik papan itu dengan pelolotan mata.

"Park Jiwon!?"

Sehun terpekik. Baekhyun terkejut sedang Seunghyun tersenyum.

"Apa?!" Baekhyun balas berseru. Pelipisnya dengan cepat berkedut oleh kesal yang mendera, "Park-Chan-Yeol." Desisnya.

"Apa yang salah dengan nama itu?" Seunghyun menyeletuk, "Park Chanyeol adalah Ayahnya, merupakan hal yang wajar dia memberi nama anaknya sendiri," pria tua itu terkekeh di akhir.

Namun sayangnya dua orang yang lain dalam ruangan itu tidak berada dalam pemikiran yang sama. Terlebih Baekhyun dengan sejumput makian yang sudah menggantung pada tenggorokannya.

Baekhyun pikir orang ketika menginjak umur 50 tahun ke atas menjadi wajar jika berubah pikun, namun apa yang Baekhyun pikirkan pada orangtuanya adalah sinting dan Baekhyun benar menahan diri untuk tidak memaki lantas menjadi durhaka karena hal itu.

Kata Seunghyun dia tak bisa berlama-lama di Jeju untuk menemani Baekhyun. Sowon cukup di percaya bisa mengurus seluruh kebutuhan Baekhyun selama pemulihan—Baekhyun menyetujui hal itu namun tidak untuk nama Chanyeol yang Seunghyun katakan akan bertanggungjwab terhadapnya pula.

Baekhyun murka, dia nyaris berteriak jika Seunghyun tak memperingati tentang Jiwon yang tengah tidur lelap. Pria tua itu lantas melenggang pergi dan ikut menarik Sehun pula meninggalkan ruang inap itu.

Baekhyun ditinggal dengan kedutan yang kian parah pada pelipis dengan gusar meraih ponsel miliknya. Nama kontak Park Chanyeol di hubungi dan tak memberikan pria itu kesempatan itu menyapa terlebih dahulu.

"Yak! Kau sudah sinting atau mau mati hah!" Baekhyun mati-matian menahan suaranya untuk tidak meninggi. Dia melirik bayinya berulang memastikan anaknya itu tak terganggu oleh dirinya sebelum lanjut memaki, "Siapa yang mengijinkanmu mengubah nama anakku seenak penismu!"

Ada jeda sebelum akhirnya kekehan menjawabi Baekhyun, "Aku tidak lupa jika bayi kita berasal penisku Baek, kau tak harus mengingatkanku terus menerus."

"Kau keparat!" Baekhyun menghardik.

Chanyeol tidak marah, alih-alih tertawa. "Presdir Byun mempekerjakan aku lagi, aku sudah bersiap-siap untuk kembali ke Seoul tadi tapi tidak jadi."

"Mengapa tidak jadi? Aku sudah muak melihatmu jadi enyahlah dari pandanganku."

"Kupikir kau hanya malu-malu kucing saat hamil saja ternyata setelah melahirkan kau masih saja pemalu, hm?"

Baekhyun mendelik, "Apa?"

"Aku dalam perjalanan menuju rumah sakit, ingin kubelikan sesuatu?"

"Fuck you!"

"Love you too Mr. Park~"

Dan Baekhyun benar membanting ponselnya setelah itu.

Nyatanya seberapa besar Baekhyun berkeinginan menolak Chanyeol, kenyataan dia tetap membutuhkan peran pria itu untuk membesarkan Jiwon.

Baekhyun buta 100% tentang merawat bayi tapi Chanyeol berada disana untuk membantunya menenangkan Jiwon ketika bayi itu menangis, memandikan Jiwon, mengganti popoknya bahkan mengantar bayi itu untuk tenang dan akhirnya tidur kembali.

Baekhyun melihat semua itu dengan rasa syukur berlebih, namun dia enggan untuk mangakui alih-alih membuang muka lalu menarik telinga Chanyeol jika pria itu mulai menggodanya.

Ketika Jiwon berusia 4 bulan, Chanyeol juga tak lupa pula untuk mengingatkan Baekhyun jadwal imunisasi yang rutin harus bayi itu jalani. Mereka pergi ke rumah sakit bersama lalu setelahnya menjemput Deokjun di sekolah.

"Jiwonie~" Panggilan antusias yang selalu Deokjun tujukan pada Jiwon merupakan salah satu apa yang Baekhyun sukai. Carrier itu tak pernah menolak ketika Deokjun mendekatkan dirinya pada Jiwon dan menghabiskan waktu dengan adik tirinya itu.

Baekhyun memperhatikan, diam-diam mengambil potret kebersamaan itu melalui ponselnya.

Baekhyun tak ingin mengakui jika dia merasa bahagia, sangat-sangat bahagia. Ada rasa hangat menjalar, mengisi palung hatinya dan meringankan seluruh beban pikirannya.

Baekhyun hanya tak ingin mengakui jika nyatanya semua kebahagian itu dia dapatkan dari pria yang duduk di antara bocah-bocah itu.

Park Chanyeol yang dia benci.

Park Chanyeol yang diam-diam dia cintai.

"Jangan lupakan botol susu Jiwon," Baekhyun mengingatkan untuk kesekian kalinya. Dia jalan mondar-mandir di depan Chanyeol dengan Jiwon dalam gendongan.

"Botol susu sudah," Chanyeol menunjukkan botol dengan tutup biru itu kepada Baekhyun.

"Popok?"

"Popok juga sudah."

Baekhyun mangut-mangut, merasa puas karena Chanyeol benar dapat di andalkan dalam mengemas perlengkapan. Namun Baekhyun enggan untuk mengatakan apapun dan berjalan keluar kamar menuju kamar Deokjun.

"Kau itu dominant, mengapa dandan lama sekali?" pada kusen pintu Baekhyun berkata.

"Hyung bisa bantu aku pilihkan baju, mana yang lebih baik?" Deokjun menunjuk dua pasang baju yang telah Sowon letakkan di atas tempat tidur miliknya. Masing-masing berwarna biru sedang yang lain berwarna toska.

Baekhyun memperhatikan sesaat kemudian mendengus, "selera Sowon benar-benar payah." Lelaki itu berdecak kemudian. Dia masuk ke dalam kamar dan membuka lemari mencari deretan pakaian Deokjun lantas mengambil satu.

"Pakai ini."

"Kuning?" Deokjun menatap Baekhyun dengan colosan muka tak percaya. "Aku tidak mau pakai kuning." Bocah itu menolak.

"Kenapa? Kuning 'kan bagus!" Baekhyun bersungut tak suka. "Jiwonie saja pakai kuning, aku juga." Dia menunjuk Jiwon dan dirinya sendiri. "Appamu juga pakai kuning hari ini."

"Appa?" Deokjun kembali terkejut. "Aku tidak pernah melihat Appa pakai baju warna kuning sebelumnya."

"Tentu saja karena selera Appamu sangat payah." Baekhyun memutar bola sekali.

Deokjun mengangguk setuju, "Appa memang payah." Katanya. "Tapi Appa bilang tidak apa-apa karena Hyung Cantik tetap menyukainya."

Baekhyun melotot, "SIAPA YANG MENGATAKAN FITNAH KEJI ITU!?" teriakan itu menyentak Jiwon dan membuat bayi itu menangis tiba-tiba.

Baekhyun kelabakan, berusaha keras menenangkan anaknya itu dengan menepuk punggungnya dengan lembut.

"Ada apa?" mendengar riuh, Chanyeol datang tergopoh menghampiri.

"Jiwonie menangis," adu Baekhyun. Raut wajahnya kian panik dan merutuki dirinya sendiri menjadi penyebab hal itu.

"Tepuk pantatnya Baek, kau lupa Jiwonie lebih suka pantatnya ditepuk daripada punggung?"

Baekhyun tak menjawab dan segera melakukan apa yang Chanyeol lakukan. Dia menepuk-nepuk pantat halus itu dengan sayang dengan gumanan-gumanan menenangkan lelaki itu bisikkan pada telinga Jiwon.

"Benar bukan?" Chanyeol berucap bangga. "Jiwonie sangat mirip denganmu ya Baek," tangan besarnya mengusap halus puncak kepala Jiwon. Pria itu menunduk, menempatkan mulutnya pada telinga Baekhyun dan berbisik disana, "sepertimu yang suka sekali pantatnya di spank-spank."

"Yak!" Baekhyun berseru dalam delikan. Sipitnya melotot dan Chanyeol malah tertawa. Pria dungu itu bahkan dengan tidak tau diri merangkul Baekhyun dan mencuri kecupan kilat pada pipi.

"Yak—" Baekhyun kembali memekik namun terpotong ketika Deokjun menyela dalam ajakan.

"Aku sudah siap, ayo kita piknik!"

"Ya, ayo kita piknik go go go~" Chanyeol meraih Deokjun segera dan menggendong anaknya itu pada punggung. "Berangkat~"

...

Baekhyun tergelak sepanjang larian keluar dari air dengan sekujur badan basah dan kotor menuju tempat dimana Chanyeol duduk memangku Jiwon di atas tikar yang mereka gelar di atas pasir. Rambut Baekhyun menjadi cekang oleh air asin yang menetes melewati wajahnya.

"Jiwonie~" Baekhyun berbaring pada pasir berhadapan dengan bayi yang akan berusia satu tahun bulan depan nanti. Jiwon menyambut antusias dengan tangan kotor oleh pasir meraih wajah Baekhyun.

"Ah Jiwonie kau mengotori wajah Papa~" Baekhyun merengek pura-pura sedih, wajahnya dia dekatkan pada perut Jiwon dan mengecup terlampau banyak bagian itu sampai Jiwon tertawa karenanya.

"Kau senang?" Chanyeol bertanya. Wajahnya secerah matahari memperhatikan raut bahagia Baekhyun.

Lelaki mungil itu mendongak dan mengangguk, "Senang." Cengirnya.

Minggu lalu Baekhyun merengek meminta mandi di pantai namun tak bisa dilakukan ketika hujan tak henti-hentinya mengguyur di musim panas itu. Keinginannya baru terpenuhi hari ini, wajar saja matahari sampai kalah dengan senyum cerah terlampau lebar pada wajahnya itu.

Chanyeol tertegun sedang tubuh mengaku pada tempatnya. Wajahnya di rambati merah, sedang rongga dada berdebar tiba-tiba.

"Kenapa? Terpesona padaku, huh?" Baekhyun menyeringai.

"Aku sudah terpesona padamu sejak dulu Baek," Chanyeol menyahut ringan tanpa ingin menutupi apa yang tengah di rasakannya.

Carrier itu mendengus, lantas membuang muka. "Omong kosong." Decihnya.

Mendengar hal itu, Chanyeol memutar mata dan balik berdecih. "Kalau begitu kau yang terpesona padaku,"

"Apa-apaan!" Baekhyun melotot.

"Kalimatmu Baek." Chanyeol menegur sembari melirik Jiwon. Rahang carrier itu kontan mengatup dan mengerjab berulang.

Chanyeol menjawil hidung lelaki itu gemas, ketika Baekhyun hendak menyalak protes Chanyeol dengan segera membungkamnya dalam ciuman. "Ayo kita menikah." Ucap Chanyeol disana. "Kita harus segera mendaftarkan riwayat kelahiran Jiwon secara resmi pada hukum, mau sampai menunda memangnya?"

Baekhyun lekas melepaskan diri dan bergegas bangkit dari posisinya. Dia duduk bersila dan pura-pura memfokuskan dirinya pada Jiwon. "Lagi-lagi alasan itu lagi," keluhnya dalam gumanan. "Setidaknya carilah alasan yang berkelas sedikit Park Chanyeol."

"Hm," Chanyeol berguman, "Alasan berkelas yang lain ya karena aku mencintaimu."

"Yak! Alasan omong kos—"

"Itu bukan omong kosong Baekhyun," Chanyeol menyela. "Aku sungguh mencintaimu dan aku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu."

Bohong jika pernyataan itu tidak memperngaruhi Baekhyun sama sekali. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar, keras sekali seolah seluruh darahnya hendak meledak karena terlampau banyak berkumpul disana. Namun lagi, Baekhyun enggan menjawabi hal itu. Dia kembali membuang muka dengan kikuk ikut menyerangnya setelah itu.

Beruntung suasana canggung itu terselamatkan oleh teriakan Deokjun yang masih berenang di pantai. "Hyung ayo berenang lagi!" bocah itu berteriak keras.

Baekhyun tak membuang waktu, lekas bangkit dan berlari. Namun Chanyeol lebih cepat mencekal lengannya membuat lelaki itu nyaris jatuh tak mampu menahan keseimbangan.

"Tidakkah kau bosan mendengar Deokjun terus memanggilmu Hyung? Tidakkah panggilan Papa lebih manis terdengar?" Chanyeol bertanya.

Baekhyun meneguk ludahnya susah payah, lengannya di tarik membuat cengkraman Chanyeol terlepas, "Dasar gila!" Baekhyun mengutuk dan tanpa aba-aba segera berlari.

"Aku memang gila karenamu Byun Baekhyun!" Chanyeol berteriak keras tanpa peduli akan pengunjung yang lain. "Kubilang aku mencintaimu kau dengar!?"

Baekhyun memaki lagi dengan seluruh rasa malu yang menumpuk pada wajahnya.

"Dasar sinting! Sinting! Sinting!" hardiknya bertubi. Baekhyun hanya ingin mengubur tubuhnya di dalam laut berharap panas wajahnya bisa hilang, terlebih dada yang berdebar kian tak terkendali tanpa henti mendengungkan sebaris kata yang berusaha lelaki itu pendam sejak dulu.

"Aku juga mencintaimu Chanyeol…"


tamat


Makasih udah baca ff ini, nge fav. nge foll terlebih yang memberikan review terima kasih beribu banyak.

I hope it's good enough for the ending :)

Terakhir terima kasih lagi dan see you di ff-ff ku yang lain :D

Salam CHANBAEK IS REAL and Kokobye!