Imprint
Pair:
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Rate: M
Genre: Fantasy, Drama, Romance, Hurt.
Length: Parts
Summary:
Sebagai seorang Omega, Seokjin akan tahu siapa pasangannya ketika dia bertemu dengannya dan dia selalu menantikan hari itu tiba. Tapi ketika akhirnya Seokjin menemukan sosok yang ditakdirkan untuknya, dia justru mengerahkan segala cara untuk melarikan diri dari dia yang sudah ditakdirkan untuknya. / NamJin, BL, ABO!AU.
Warning:
Fiction, BL, ABO!AU.
.
.
.
.
.
.
.
Part 13: Pieces
"Ibu.."
Seokjin mengerjap dengan cepat saat dia mendengar itu keluar dengan lirih dari mulut Namjoon, dan saat dia sadar, mulutnya terbuka dengan bentuk bulat, dia meraih lengan Namjoon dan tersentak saat merasakan betapa tegang dan kakunya tubuh Alphanya.
"Namjoon.." bisik Seokjin, mencoba menyadarkan Alphanya. Dia melirik ke arah keempat teman-temannya yang lain yang terlihat sama terkejutnya dan sama bingungnya dengan Seokjin.
Seokjin menggerakkan lengan Alphanya, dia sadar saat ini mereka sudah benar-benar menarik perhatian banyak pejalan kaki karena berdiri di dekat pintu masuk sebuah restoran dan hanya terdiam dengan posisi saling memandang satu dengan yang lainnya. Dia kembali meraih lengan Namjoon namun kali ini dia merambat ke arah telapak tangannya dan meremasnya lembut.
"Namjoon, mungkin sebaiknya kita masuk ke dalam lagi?" bisik Seokjin seraya menggoyangkan tangan besar milik Alphanya yang berada dalam genggamannya.
Seokjin berhasil mendapatkan perhatian Alphanya karena pria itu menunduk untuk menatapnya. Seokjin tersenyum dan menggerakkan kepalanya ke arah restoran yang berada di sebelah mereka.
"Mungkin sebaiknya kita ke dalam jika kau ingin mengobrol dengan.." Seokjin menatap ke arah pria cantik di hadapannya dengan tatapan ragu, "Uhm.." Seokjin tidak tahu bagaimana dia sebaiknya memanggil sosok pria di hadapannya yang kemungkinan besar adalah ibu kandung dari Alphanya.
"Tidak."
Suara serak Namjoon memecah kecanggungan Seokjin, Seokjin mendongak dan dia melihat Alphanya tengah menatap tajam pada sosok pria cantik itu dan ketika Seokjin ingin menanyakan apa maksud Namjoon, Alphanya sudah kembali membuka suara.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." Namjoon berujar final dan menarik tangan Seokjin ke arah mobilnya yang terparkir di depan restoran.
"Eh? Eh?" ujar Seokjin bingung tapi dia tidak bisa berbuat apapun selain pasrah pada Alphanya yang menariknya ke dalam mobil dan langsung menutup pintu di sebelah Seokjin. Seokjin menatap ke arah keempat temannya yang masih berdiri canggung di atas trotoar dan Seokjin melihat adiknya jelas-jelas menatapnya dengan alis terangkat bingung, Seokjin membalasnya dengan gelengan dengan wajah yang sama bingungnya.
Seokjin memalingkan pandangannya ke arah pria cantik ibu kandung Namjoon dan dia melihat pria itu tengah menatap ke arah Namjoon yang sedang memasang safety belt di sebelah Seokjin.
"Sayang, safety beltmu." Namjoon berujar rendah dan Seokjin tergagap, dengan gerakan super canggung dia menarik safety beltnya dan memasangnya. Dia memandang ke depan dan melihat pria cantik itu menatapnya kemudian tersenyum kecil padanya.
Seokjin ingin membalas senyumnya, tapi mobil Namjoon sudah bergerak lebih dulu.
Namjoon memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan ini membuat Seokjin agak ngeri. Seokjin merapat di kursinya dengan wajah tegang, dan ketika dia melirik ke arah Alphanya, dia melihat raut kalut dari Alphanya dan mungkin baru kali ini Seokjin melihat Namjoon berekspresi seperti itu karena sesuatu yang bukan berasal darinya.
"Namjoon.." Seokjin mencoba memanggil Alphanya karena kecepatan mobil yang mereka tumpangi semakin naik.
"Namjoon!" seru Seokjin keras dan Namjoon mengerem mobilnya secara mendadak, membuat tubuh Seokjin agak terlempar menuju dashboard dan untungnya dia berhasil menjaga keseimbangannya sehingga dahinya tidak terbentur benda keras itu.
Seokjin menghela napas pelan dan menatap ke depan, ternyata mereka sedang berada di bawah lampu lalu lintas yang kebetulan menyala merah. Seokjin menoleh ke arah Alphanya dan menatapnya, "Ada apa denganmu?"
Namjoon diam, dia tidak menjawab bahkan menggerakkan sedikit saja anggota tubuhnya untuk merespon Seokjin pun tidak dia lakukan.
"Namjoon, turunkan aku di halte bus terdekat."
Dan kali ini Seokjin berhasil mendapatkan perhatian penuh dari Namjoon. "Kenapa?" ujarnya.
"Kau kalut, kau amat sangat kalut dan tertekan karena sesuatu tapi kau tidak mau repot-repot untuk memberitahuku." Seokjin mendengus kasar dan menatap ke depan, "Kalau kau lupa, maka aku bersedia mengingatkan kalau saat ini aku terikat denganmu, apapun yang kau rasakan, aku akan ikut merasakannya juga."
Namjoon menghela napas kasar, dia membuka mulutnya untuk berbicara pada Seokjin tapi karena lampu lalu lintas sudah kembali berubah menjadi hijau, maka Namjoon memutuskan untuk menjalankan mobilnya dan akhirnya menepikannya.
Seokjin menoleh ke arah Namjoon yang sedang terdiam seraya mencengkram roda kemudi erat-erat. "Kau mau menjelaskannya padaku?"
"Dia ibuku. Ibu kandungku. Seseorang yang membuatku menolakmu jauh-jauh."
Seokjin mengangguk, dia tahu Namjoon pasti akan mengatakan itu. "Kau masih membencinya?"
Namjoon mendesah lelah dan membenturkan belakang kepalanya ke headrest kursinya. "Entahlah,"
Seokjin tersenyum kecil, dia melepas safety beltnya dan menarik kepala Namjoon ke dalam pelukannya. Seokjin akui berpelukan dalam mobil sangat tidak enak, rusuknya tertusuk persneling dan itu sakit. Tapi Seokjin merasa hanya ini yang bisa dia lakukan, dia bisa mendengar degup jantung Alphanya yang perlahan kembali normal saat dia mulai mengusap-usap tengkuk Namjoon.
"Punya Omega memang menyenangkan ya." Namjoon terkekeh pelan dan Seokjin memukul tengkuknya.
"Rusukku sakit memelukmu seperti ini." keluh Seokjin akhirnya.
Namjoon tertawa dan melepaskan pelukan Seokjin. Dia kembali ke posisinya dan menjalakan mobilnya sementara Seokjn kembali memasang safety beltnya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Seokjin mengangguk, "Kau akan menginap?"
Namjoon menggeleng, "Ada yang harus aku urus. Aku akan menemuimu besok setelah kau pulang kerja."
Seokjin terdiam, dia tahu urusan yang Namjoon maksud mungkin soal ibunya. Tapi apa? Apa yang ingin dilakukan Namjoon?
"Baiklah," ujar Seokjin.
Namjoon menoleh ke arah Seokjin dan tersenyum, kemudian tangannya terulur dan memberikan usapan lembut di pipi Seokjin. Seolah mengatakan kalau tidak ada yang harus Seokjin khawatirkan atau pikirkan.
Tapi Seokjin tahu, semuanya tidak sesederhana itu.
Dia merasakannya.
Dia bisa merasakan itu.
.
.
.
.
Seokjin menghela napas pelan seraya melepas lab coatnya dan meraih jaketnya sendiri. Jam kerjanya berlalu dengan lambat dan dia tidak bisa berhenti memikirkan Alphanya. Suasana hatinya benar-benar tdiak terkontrol seharian ini dan Seokjin yakin, selain karena Alphanya, ini juga karena dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Namjoon.
Seokjin memang tidak tahu banyak soal masa lalu Namjoon, bahkan mereka juga baru menjalin hubungan dalam waktu yang sebentar. Seokjin dan Namjoon terlalu sibuk menghabiskan waktu untuk menyatukan hubungan mereka dan Seokjin sangat sadar untuk itu. dia dan Namjoon terlalu sibuk, sibuk mengurus apa yang dulunya menjadi luka di masa lalu masing-masing sehingga tidak memiliki waktu untuk memulai dan menatap apa yang terjadi saat ini.
Masa lalu kelam Seokjin memang belum pulih sepenuhnya, tapi setelah semua yang terjadi, luka di diri Seokjin mulai sembuh secara perlahan. Dan Namjoon terlalu sibuk menyembuhkan luka Seokjin, hingga Seokjin kadang merasa lupa bahwa yang memiliki luka bukan hanya dirinya. Bahkan bisa dibilang luka Namjoon lah yang membuat semua permasalahan diantara mereka terjadi.
Seokjin mendorong pintu kaca tebal gedung tempatnya bekerja dan menghela napas pelan saat menatap sekitar. Dia sudah mengatakan pada Namjoon untuk tidak menjemputnya karena Seokjin akan lembur, dan Namjoon tidak mengatakan banyak hal, dia hanya mengiyakan permintaan Seokjin untuk tidak menjemputnya dan berpesan untuk berhati-hati.
Kelihatannya Namjoon memang sudah tidak terlalu khawatir karena Seokjin sudah menjadi miliknya secara resmi. Seokjin tidak akan diganggu oleh Alpha atau Beta lain karena memang, aroma Namjoon tercium terlalu kuat bahkan hingga beberapa teman Seokjin selalu meledeknya karena Alphanya yang agak posesif.
Seokjin berjalan menuju trotoar dan menghentikan taksi yang lewat, dia bergerak masuk dan menutup pintu, kemudian menatap ke arah supir taksi yang tersenyum ramah padanya.
"Park Securities." Seokjin berujar dan supir taksi itu langsung mengangguk.
Seokjin duduk diam dan sesekali menghela napas pelan. Dia ingin membantu menyembuhkan luka Namjoon tapi itu sangat sulit, mengingat Namjoon yang benar-benar tertutup dan terlihat kalau dia bersikeras untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Padahal Seokjin Omeganya, biarpun mereka baru menjalin hubungan sebentar, tapi Namjoon jelas mengenal Seokjin, bahkan mungkin jauh lebih mengenalnya dibandingkan teman-teman Seokjin yang lainnya. Dan sejujurnya, Seokjin agak terluka Namjoon tidak menceritakan apapun padanya.
Taksi yang ditumpangi Seokjin berhenti di depan sebuah gedung bertingkat yang semua bagian depannya terbuat dari kaca. Seokjin melangkah keluar dari taksi dan melangkah masuk, ketika dia berjalan melintasi lobby, Seokjin langsung melihat sebuah meja resepsionis dan tanpa pikir panjang dia langsung berjalan ke sana.
"Aku ingin bertemu dengan Park Jimin," ujar Seokjin langsung.
Sosok wanita resepsionis itu terlihat agak ragu, "Saat ini waktu temu dengan Presiden Direktur sudah habis."
Seokjin menghela napas pelan, dia memang agak terlambat dari waktu janji temunya dengan Jimin. Tadinya dia ingin menemui Jimin sekitar jam enam sore, tapi ternyata pekerjaannya memakan waktu lebih lama hingga dia baru bisa tiba di kantor Jimin sekitar pukul delapan malam. Seokjin yakin wanita resepsionis ini juga sudah ingin pulang.
"Aku.." Seokjin memulai penjelasannya.
"Seokjin?"
Seokjin dan si gadis resepsionis menoleh dan saat Seokjin melihat Jimin, Seokjin langsung tersenyum padanya.
"Maaf, aku terlambat. Aku.." ujar Seokjin seraya berjalan menghampiri Jimin.
Jimin tersenyum lebar dan menyodorkan sebuah gelas kertas yang menguarkan aroma kopi yang kental. "Aku sudah menduga kau akan datang tidak lama lagi jadi aku pergi membelikanmu kopi."
Seokjin tersenyum kecil dan menerima kopi yang diberikan Jimin, "Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu."
Jimin terkekeh pelan, "Ini bukan masalah besar. Nah, sekarang ayo ke kantorku."
Seokjin mengangguk kecil dan berjalan mengikuti Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku tidak tahu banyak soal ibu kandung Namjoon." ujar Jimin memulai seraya duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Seokjin mengikuti dan duduk di sofa tunggal yang ada di sisi kanan sofa besar yang diduduki Jimin.
"Bahkan kau tidak tahu namanya?" tanya Seokjin seraya menyesap sedikit kopinya.
"Aku tahu namanya, Kim Ryeowook, dan ayahnya bernama Kim Jongwoon."
Seokjin terdiam, "Bukankah ayah tiri Namjoon adalah Kim Myungsoo?"
"Ya, dia saudara kandung ayah Namjoon. Aku juga tidak tahu banyak soal orangtua kandung Namjoon karena setelah sekian tahun aku mengenalnya, aku hanya mengenal ayah angkat Namjoon."
Seokjin menggigit bibirnya saat mendengar penjelasan Jimin, "Jadi, seseorang yang jelas tahu soal orangtua kandung Namjoon adalah orangtua angkatnya?"
Jimin mengangguk, "Tapi kurasa menemui Kim Myungsoo akan menjadi pekerjaan yang sulit untukmu."
Seokjin mendongak, "Kenapa?"
"Karena saat ini Namjoon bekerja di perusahaan milik Kim Myungsoo. Jika kau pergi ke sana, Namjoon pasti tahu." Jimin tersenyum kecil, "Dan kau bilang kalau kau ingin membantunya tanpa diketahui olehnya, kan?"
Seokjin mengangguk dengan wajah lesu, "Berarti ini tidak mungkin ya?"
Jimin terkekeh pelan, "Mungkin saja, tapi kau tidak perlu menemui Kim Myungsoo. Temui saja istrinya, Lady Sungjong."
Dahi Seokjin berkerut saat mendengar nama yang disebutkan Jimin, "Lady?"
Jimin terkekeh, "Aku dan Taehyung selalu memanggilnya seperti itu." Jimin tersenyum jenaka, "You wil know when you see her. She is a total 'Lady'."
"Apa dia tipe-tipe ibu tiri mengerikan?"
Jimin terbahak keras, "Tidak, tidak. Dia sangat baik, menyayangi Namjoon lebih daripada apapun di dunia ini. Dia benar-benar menganggap Namjoon anaknya, bahkan sejak pertama kali diangkat anak, Namjoon langsung memanggil dia dengan sebutan 'Mom', berbeda dengan ayah angkatnya yang butuh beberapa tahun sebelum Namjoon memanggilnya 'Dad'."
Seokjin mengangguk paham, "Dimana aku bisa menemuinya?"
Jimin berdiri dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya, "Di rumahnya," Jimin meraih sebuah notes dan pulpen kemudian menuliskan sesuatu di sana. Kemudian setelah selesai Jimin kembali ke sofa tempatnya duduk dan memberikan kertas yang dilipat dua itu pada Seokjin. "Itu alamat rumah dan nomor teleponnya."
Seokjin membuka lipatan kertas dan membaca sederetan huruf di sana. "Apa menurutmu dia akan menerimaku? Aku belum pernah bertemu dengannya."
"Aku yakin dia sudah tahu tentang dirimu, kau Omega Namjoon. Memang sangat disayangkan saat persidangan Namjoon dia tidak bisa datang karena sakit. Tapi aku yakin kau akan baik-baik saja. Dia adalah sosok yang sangat baik, dia tidak akan membencimu."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin bergerak turun dari taksi yang membawanya menuju rumah besar kediaman orangtua angkat Namjoon. Rumah ini terletak cukup jauh dari apartemen Seokjin yang berada di pusat kota, Seokjin agak meringis mengingat berapa argo yang harus dia bayar.
"Kelihatannya aku harus mulai mendengarkan usulan Namjoon dan Jungkook untuk memiliki mobil sendiri." ujar Seokjin pelan seraya berjalan menghampiri gerbang besar yang terpampang di hadapannya.
Seokjin sudah menghubungi ibu angkat Namjoon dan dia bilang dia bersedia ditemui pada saat jam makan siang. Suara ibu angkat Namjoon benar-benar terdengar berwibawa dan anggun, rasanya Seokjin mengerti kenapa Jimin menyebutnya 'Lady'.
Seorang pelayan mempersilahkan Seokjin untuk masuk dan ketika Seokjin akhirnya memasuki rumah besar itu, dia benar-benar tidak bisa tidak terpukau melihatnya. Rumahnya benar-benar besar dengan interior ala Eropa, Seokjin merasa dia sedang masuk ke dalam lokasi syuting adegan drama luar daripada ke rumah orangtua angkat Alphanya.
"Nyonya menunggu anda di taman belakang, Tuan."
Seokjin mengangguk dan mengikuti pelayan itu mengantarkannya hingga ke sebuah pintu kaca besar, pelayan itu mengisyaratkan agar Seokjin lewat dan saat Seokjin melewati pintu, dia bisa melihat sebuah gazebo di kejauhan dan seorang wanita sedang duduk di sana.
"Itu Nyonya."
Seokjin mengangguk lagi dan berjalan dengan agak ragu menghampiri gazebo, ketika dia sudah semakin dekat, dia baru menyadari bahwa wanita itu ternyata cantik sekali. Rambutnya hitam kelam dan wajahnya putih bersih dengan bibir berwarna kemerahan, dia benar-benar perwujudan nyata dari sosok Snow White. Pandangannya tertuju pada beberapa batang bunga yang sedang persiapkan untuk dirangkai di sebuah vas kaca besar yang ada di meja.
"Uhm.. hallo.." sapa Seokjin ragu.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap Seokjin yang berdiri canggung. "Kim Seokjin?" tanyanya dengan senyum ramah di wajahnya.
"Uuh.. ya."
Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya yang terlihat sangat halus pada Seokjin, "Aku Sungjong, ibu angkat Namjoon."
Seokjin menjabat uluran tangan itu dan tersenyum kecil, "Hai, senang bertemu denganmu."
Sungjong melepaskan tautan tangannya dan kembali duduk, "Begitu pun aku. Duduklah."
Seokjin menurut dan duduk di kursi yang ada di hadapan Sungjong.
"Ini pertama kalinya kita bertemu, benar?" ujar Sungjong memulai. "Aku bisa mencium aroma Namjoon dari tubuhmu, jadi aku menduga dia sudah mengklaimmu."
Seokjin mengangguk pelan, "Ya, belum lama ini."
Sungjong tersenyum, "Aku senang mendengarnya. Dan aku juga sangat senang akhirnya kau dan Namjoon bisa bersama."
Seokjin menggaruk tengkuknya, "Kelihatannya kami banyak merepotkan orang lain ya?"
Sungjong tertawa kecil, "Tidak juga, kurasa itu wajar."
Seokjin tersenyum, dia berdehem pelan sebelum kembali berbicara. "Apa anda mengenal ibu kandung Namjoon?"
Sungjong terdiam namun dia mengangguk, "Ya, Kim Ryeowook. Sebenarnya dia sosok yang baik, sangat baik. Aku tidak pernah bertemu Omega pria selembut dirinya, bahkan sejak Jongwoon memperkenalkan dia pada keluarga, aku sudah bisa menduga bahwa dia adalah sosok yang sangat baik. Aku menyukainya. Sangat. Dia adalah satu-satunya orang yang menyemangatiku saat aku kehilangan rahimku."
Seokjin tersentak, dia tidak tahu kalau ibu angkat Namjoon tidak bisa memiliki anak karena kehilangan rahimnya. "Maaf, aku tidak tahu."
Sungjong tersenyum, "Tidak apa, toh sekarang aku memiliki anak, kan? Namjoon adalah putraku."
"Ya, mengenai itu.."
"Kau ingin bertanya apa aku tahu soal Ryeowook yang kembali?" sela Sungjong.
"Anda tahu soal itu?" tanya Seokjin kaget.
Sungjong mengangguk, "Aku tahu. Karena Ryeowook menghubungiku bulan lalu, dia mengatakan dia kembali pindah ke Seoul karena mengkhawatirkan Namjoon. Aku bisa mengerti itu, ibu mana yang tidak khawatir soal anaknya yang mengalami banyak kesulitan, kan? Aku melarangnya menemui Namjoon karena aku takut Namjoon akan terguncang, tapi sepertinya dia tidak mendengarkan saranku."
"Kurasa dia tidak sengaja. Aku dan Namjoon berpapasan dengannya di depan restoran."
"Darimana kau tahu itu? Bisa saja dia mengawasi Namjoon dan berpura-pura tidak sengaja bertemu dengan kalian. Benar, kan?"
Dahi Seokjin berkerut, dia tidak mengerti kenapa wanita yang tadinya terlihat sangat menyukai Ryeowook berubah menjadi terlihat sangat membencinya. "Aku tidak mengerti dengan pemikiran anda. Anda sendiri yang mengatakan kalau anda sangat menyukai Ryeowook-ssi, jadi kenapa sekarang anda berubah pikiran?"
Sungjong tersenyum tipis, "Aku tidak suka karena dia menelantarkan anakku."
Seokjin menghela napas keras, "Dia tidak melakukan itu, Namjoon lah yang memilih untuk pergi. Anda tidak bisa berkata seperti itu, Nyonya. Kim Ryeowook adalah ibu Namjoon dan itu selamanya tidak akan berubah. Aku tidak peduli bagaimana kau membesarkannya, tapi fakta bahwa Namjoon adalah anak kandung dari Kim Ryeowook tidak akan bisa ditutupi. Dan seorang anak akan selalu terikat pada ibunya. Dan tentunya sebagai sesama Omega aku yakin anda mengerti itu."
Sungjong terdiam dan dua detik berikutnya tawanya meledak.
Seokjin terperangah dengan wajah bingung saat wanita itu tertawa dengan keras bahkan hingga dia menyeka sebutir airmata di ujung matanya.
"Kau sangat cocok menjadi Omega Namjoon." Sungjong berujar setelah tawanya mereda. "Kau bukan tipe penurut dan aku suka itu. Sangat cocok untuk mengimbangi Namjoon yang posesif dan menyebalkan."
Seokjin tergagap, "Apakah anda sedang mempermainkanku?"
Sungjong berdecak dan menggeleng, "Eey.. tentu saja tidak. Aku hanya mengujimu. Myungsoo bilang kau sangat berapi-api saat membela Namjoon di pengadilan dulu, aku jadi sangat penasaran tentangmu dan ternyata Myungsoo tidak salah." Sungjong berdiri dari kursinya, "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku akan menceritakan semua tentang ibu kandung Namjoon padamu."
.
.
.
.
.
Pembicaraan dengan Sungjong berlangsung baik. Dia banyak menceritakan soal masa kecil Namjoon termasuk ketika Sungjong pertama kali bertemu dengan Namjoon saat Namjoon sudah diangkat anak oleh suaminya. Dia bilang saat itu Namjoon terlihat begitu terluka, sorot matanya dingin dan kosong, terlampau kejam untuk sorot mata seorang bocah laki-laki. Terlebih lagi saat itu Namjoon jelas-jelas mengatakan dia membenci Omega pria, bahkan di depan Sungjong.
Seokjin tidak tahu apa yang bisa dia katakan selama mendengar Sungjong bercerita. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Namjoon kecil saat itu. Karena biar bagaimanapun juga, bisa dibilang mereka berbagi luka yang hampir sama. Namjoon terluka karena melihat ibunya menderita dan penolakan dari ayahnya, sedangkan Seokjin terluka karena penolakan yang diterima karena dia adalah Omega jantan satu-satunya dalam keluarganya.
Ya, mereka berbagi luka yang sama. Penolakan.
Hanya saja memang cara mereka menangani luka itu benar-benar bertolak belakang. Seokjin menangani lukanya dengan bersembunyi serapat mungkin, mencoba bersembunyi dari penolakan itu dengan berpura-pura memasang wajah baik-baik saja agar tidak membuat orang lain khawatir padanya. Sedangkan Namjoon menangani lukanya dengan mengeraskan hatinya, membuatnya menjadi begitu keras hingga dia tega melakukan tindakan berdarah dingin hanya untuk mencegah lukanya terbuka kembali.
Tapi ketika Seokjin dan Namjoon bertemu, semua luka yang ada itu terkuak begitu saja dan menyebabkan keduanya harus kembali merasakan trauma yang sama. Dan kali ini berbeda, karena mereka saling membantu satu sama lain untuk menyembuhkan traumanya.
Seokjin menatap ibu angkat Namjoon seraya tersenyum lebar padanya. Dia sudah berada di rumah besar itu seharian penuh dan ini sudah waktunya untuk pulang. Seokjin khawatir Namjoon akan datang ke apartemennya karena memang Alpha itu terbiasa menghabiskan malamnya di apartemen Seokjin.
Seokjin baru saja melangkah keluar dari pintu depan ketika dia menghirup aroma yang terlampau familiar untuknya.
"Jinseok?"
Dan lidah Seokjin mendadak kelu saat melihat Namjoon berdiri di dekat serambi depan. Lengkap dengan pakaian kerjanya.
Sungjong juga terlihat sama terkejutnya, bahkan tanpa sadar dia meremas tangan Seokjin yang berada dalam genggamannya. Dia menatap Seokjin yang terpaku dan Namjoon yang mengerutkan dahinya bingung.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Namjoon seraya berjalan mendekati Seokjin dan Sungjong perlahan melepaskan genggaman tangannya pada Seokjin.
"Namjoon, dia.." ujar Sungjong, mencoba menengahi karena kelihatannya Seokjin benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Mom, aku membawakan kue kesukaanmu." Namjoon mengulurkan kotak kue yang memang sejak tadi dipegangnya pada ibu angkatnya. "Aku akan menyusul ke dalam nanti, Mom."
Sungjong menerima kotak kue yang disodorkan Namjoon seraya menghela napas pelan. Dia tahu Namjoon sedang mengusirnya secara halus maka Sungjong pun melangkah mundur dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Namjoon.." bisik Seokjin.
"Ya? Sudah bisa menjelaskan kenapa kau berada di sini? Aku belum pernah mengajakmu ke sini, Jinseok. Jadi darimana kau tahu alamat tempat ini?"
Seokjin menggigit bibirnya, "Aku tahu dari Jimin dan —jangan marahi dia!" ujar Seokjin cepat saat Namjoon menggeram marah.
Namjoon mendelik tapi saat melihat bahu Seokjin yang bergetar samar, Namjoon pun menurunkan emosinya. Dia menghela napas keras dan meraih pergelangan tangan Seokjin. "Oke, maafkan aku. Aku agak emosi tadi."
Seokjin menunduk, dia memperhatikan tangannya yang berada dalam genggaman Namjoon. "Namjoon, apa kau membenci Ryeowook-ssi?"
"Darimana kau tahu nama itu?" desis Namjoon dingin.
Seokjin mengkerut takut saat mendengar nada marah dari Alphanya. Dia menarik napas dalam dan mengumpulkan keberaniannya sebelum kembali berbicara. "Aku tahu dari Jimin, dan apakah salah jika aku mencari tahu soal Alphaku karena Alphaku tidak pernah mau menceritakan apapun soal dirinya?" Seokjin mendongak menatap Namjoon, "Kau Alphaku, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Aku bahkan mulai ragu apa aku benar-benar Omegamu disaat aku merasa begitu asing di dekatmu."
Namjoon terdiam, terlebih saat dia melihat mata Seokjin yang berkaca. Ya, dia akui dia memang salah karena menutup dirinya dengan begitu rapat bahkan pada Omeganya sendiri. Tapi Namjoon merasa bahwa dia melakukan hal yang benar. Seokjin baru saja sembuh dari traumanya dan Namjoon tidak mau membuat Seokjin kembali terbebani dengan membagi lukanya bersama Omega cantiknya itu.
"Jinseok, aku.."
"Apa? Apa kau tidak percaya padaku?" sela Seokjin dengan nada kering. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh dada Namjoon, mengelusnya tepat di tempat jantung Alphanya berdetak. "Kita bahkan berbagi detakan jantung yang sama. Dan kau bahkan tidak mau repot-repot untuk menceritakan sesuatu tentang dirimu? Dan apa yang kau sembunyikan adalah sesuatu yang penting, Namjoon. Tidakkah kau sadar akan itu?"
Namjoon terdiam cukup lama dan akhirnya dia menghela napas pelan, "Jinseok, bukannya aku tidak ingin menceritakan padamu. Hanya saja ini rumit."
"Apa yang rumit, Namjoon? Apakah kau tetap tidak bisa menerima dia sebagai ibumu?"
"Ya, aku tidak.."
"Jika kau tidak menerima dia, maka itu berarti kau juga tidak bisa menerimaku, kan? Aku berbeda dengan ibu angkatmu, Namjoon. Aku Omega jantan, aku dan ibu kandungmu sama. Dan jika kau masih membenci 'kaum kami', maka seharusnya kau tidak perlu mengklaimku."
"Jinseok, aku menerimamu. Demi Tuhan, aku menerimamu. Aku begitu mencintaimu." Namjoon berujar putus asa. Dia bisa gila jika Seokjin menolaknya lagi.
"Kau mencintaiku? Itu berarti kau mencintai seorang Omega jantan yang kau benci, Namjoon. Aku laki-laki dan selamanya akan seperti itu. Dan hal yang sama berlaku untuk ibumu. Tidakkah kau sadar kalau masalah itu akan terus mengikutimu?" Seokjin melangkah mundur satu langkah dan melepaskan genggaman Namjoon di tangannya.
Namjoon mencoba meraih tangan Seokjin lagi tapi Seokjin menggeleng pelan.
"Namjoon, aku juga mencintaimu. Jika kau lupa, kau lah yang membuatku bisa sembuh dari penolakan dan trauma masa laluku. Dan aku, sebagai Omegamu, hanya mencoba untuk membantumu. Kau membantuku untuk sembuh dari masa laluku, dan saat ini aku sedang melakukan hal yang sama. Karena masalah yang tidak diselesaikan hanya akan membuat kita seperti berjalan di tempat yang sama, kita tidak akan bisa melangkah kemanapun dengan masalah di masa lalu yang masih membebani kita."
Seokjin tersenyum kecil pada Namjoon yang terlihat gamang luar biasa di depannya.
"Kau dan aku sama. Kita hanya dua serigala yang sama-sama terluka. Aku tidak bilang luka kita akan sembuh total, biar bagaimanapun hidup bersama luka seperti itu selama sekian tahun seperti kita pastinya akan menimbulkan bekas yang tidak akan hilang. Tapi dengan kita mencoba berdamai dengan penyebab luka itu, maka perlahan kita akan bisa menutup luka itu dan menjahitnya, dan nanti, di masa depan, kita hanya akan melihat bekas luka itu saja. Tidak lagi melihat darah dan merasakan sakit akibat luka itu."
Seokjin memperhatikan bagaimana Namjoon terdiam dan jelas terlihat dia sedang memikirkan ucapan Seokjin. Seokjin ingin mengucapkan lebih banyak namun getaran di ponselnya menghalangi niatan itu. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya, kemudian saat melihat siapa penyebab getaran di ponselnya, Seokjin kembali mendongak untuk menatap Namjoon.
"Kau harus menyelesaikan masalahmu, Namjoon. Karena ini tidak hanya menyangkut masa lalumu. Ini akan menyangkut pada kita di masa ini, dan.." Seokjin mengangkat ponselnya, menunjukkan layarnya pada Namjoon, "Kita di masa depan."
Namjoon terdiam, dia jelas-jelas melihat bahwa ayah Seokjin sedang menghubunginya saat ini. Dia tahu dia belum pernah bertemu ayah Seokjin dan kelihatannya ini tidak akan berakhir baik.
Seokjin menyingkirkan ponselnya dari hadapan wajah Namjoon dan mengangkat panggilan ayahnya.
"Ya, Appa?"
Dan Namjoon bahkan merasa merinding hanya dengan mendengar Seokjin berbicara dengan ayahnya.
"Tidak, aku sedang di jalan, makanya tidak bisa langsung menjawab panggilan." Seokjin melirik Namjoon, "Aku dan Namjoon baik-baik saja. Dia tidak bisa menjemputku karena dia sedang sibuk dengan urusan kantornya."
Seokjin terdiam kemudian dia menghela napas pelan, "Appa, aku tutup dulu, aku masih di jalan."
Dan setelah memutus panggilan itu, Seokjin memasukkan ponselnya kembali ke saku mantelnya. "Masalahmu akan menyangkut ke masa depan kita, Namjoon."
"Tadi itu ayahmu?"
"Ya, dia menanyakan kabarku dan soal dirimu. Kau tentu tahu jika aku terikat denganmu maka ayahku tidak akan merasakan kehadiranku lagi di dalam dirinya, kan?"
Namjoon mengangguk kaku.
"Ayahku masih belum bisa memaafkanmu. Bahkan hingga detik ini." Seokjin menggerakkan kakinya gugup, "Ayahku selalu beranggapan bahwa semua tindakanmu di masa lalu itu bukan sebuah tindakan dari seorang Alpha. Ayahku itu tegas, dan dia marah besar padamu. Bahkan dia sangat marah saat tahu kau sudah mengklaimku begitu saja tanpa bertemu dengannya dulu."
Namjoon terdiam dengan raut wajah kusut dan murung. Ada begitu banyak hal yang membuatnya stress belakangan ini.
"Aku tidak menyalahkanmu. Dan aku juga tidak menyalahkan ayahku, itu wajar. Ayahku juga tidak sebenci itu padamu. Tapi dia ingin kau datang menemuinya secepatnya." Seokjin tersenyum kecil pada Namjoon, dia melangkah maju dan mengecup singkat pipi Alphanya, "Dan aku tidak mau kau bertemu ayahku jika masalahmu dengan ibu kandungmu belum selesai."
Namjoon mengerang pelan, terdengar begitu putus asa dan depresi.
"Jinseok?"
"Ya?"
"Kau akan membantuku, kan?" tanya Namjoon dengan nada penuh harap.
Seokjin tersenyum, dia mengelus sepanjang garis lengan Alphanya berulang kali.
"Selalu,"
To Be Continued
.
.
.
.
Hah, akhirnya.
Part tersulit diantara 13 part.
Dikerjakan dalam waktu berhari-hari. Di tiap sela waktu. Dicicil dari beberapa words.
Sumpah, pengerjaan untuk yang satu ini luar biasa.
Capek T^T
Susahnya bukan karena writer block, susahnya karena tidak adanya waktu untuk membuat ini.
Astaga, akhirnya ini bisa ditulis juga dengan hasil akhir 4k+ :')
Part terpanjang :')
.
.
P.S:
Aku memilih YeWook sebagai orangtua Namjoon adalah karena marganya Kim. Dan kelihatannya jika memakai Jaejoong atau Heechul itu sudah terlalu mainstream, jadi aku mencoba memakai sesuatu yang berbeda. Hehe
Lagipula Ryeowook cocok juga kok sebagai ibu yang terbully /dihajar
Aku masih mencari pasangan Kim lainnya untuk kandidat orangtua Seokjin. Semoga saja cepat ketemu. Hahaha
.
.
Nah, aku tunggu tanggapannya saja lah.
Dan jangan harap update cepat. Aku bisa update agak cepat jika ceritanya ringan-ringan saja. Tapi untuk yang satu ini dan 'Fallen', jangan mengharapkan update cepat ya. hehe
Ini saja dikerjakan sampai berhari-hari T^T
.
.
.
So, see you when I see you~
Btw, untuk yang belum tahu akun Wattpadku atau Instagramku. Usernamenya sama 'blacklunalite'
And one more thing, follow akun Instagram 'dear_bangtan' juga ya. Ada aku juga di sana (?) hahaha
