Sebelumnya di Unexpected Marriage…
.
.
"Kau…kau bukan Halilintar."
"Memang tidak ada yang bisa ku tutupi darimu, Yaya."
"Taufan…jangan sekarang, Okay?"
"Kunci mobil, kamar hotel, handphone. Peranku selesai."
"Malam minggu nanti akan ada pesta barbeque di rumah, merayakan kesembuhan Atok sekaligus membahas persiapan final pernikahan Gempa dan Hanna."
"Sayang, persiapan untuk barbeque nanti malam sudah selesai?"
"Bayangkan, dia merusak empat kehidupan, Yaya dan bayinya… lalu Halilintar dan Ying. Dia tidak bisa dimaafkan."
"Kalau Halilintar dan Yaya jadi bercerai, apa Yaya akan menikah dengan Taufan?"
Adakah yang lebih mengenal Halilintar dari dirinya?
"Aku harus segera pergi."
"Aku ikut."
.
.
.
o
.
.
Atensinya masih terpaku pada deretan lingkaran mungil di dalam kotak kaca. Matanya menyisiri objek satu persatu. Semuanya cantik, dan tentu sangat berharga jika mendengar masing-masing deskripsi dari penjual. Ada yang bertahtakan ruby, safir, emerald, dan berbagai batu permata lainnya. Tapi entah kenapa, belum ada yang benar-benar berhasil memikat safirnya.
"Lihat, cincin ini bagus sekali kan?"
"Kau benar. Coba kau pakai." Sang gadis muda menuruti, "Oh… terlihat sangat cantik."
"Cincin ini sangat cocok dengan gaun pernikahanku. Aku akan membelinya."
Telinganya menangkap suara berisik khas perempuan. Pria itu mengamati. Melihat betapa antusiasnya dua gadis asing berambut pirang dengan sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian merah muda.
"Berlian merah muda?"
"Permisi Nona, boleh aku tahu di mana kau mendapat cincin itu?"
Kedua gadis itu menoleh. Mendapati seorang pemuda tampan dengan daya pikat yang luar biasa. Salah seorang di antara mereka sampai termangu dengan bibir sedikit terbuka.
"Eh…maaf. Di sana, aku menemukannya di sana." Gadis itu menunjuk pada kotak kaca yang lebih kecil.
"Terimakasih Nona."
Tanpa membuang banyak waktu pria tersebut langsung bergerak menuju kotak kaca yang dimaksud.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Saya mencari sebuah cincin yang sama persis dengan yang gadis itu peroleh." Melirik dua gadis asing tadi, pria itu melanjutkan. "Hm tidak! Jangan! Jangan yang sama persis. Aku mau yang gagang cincinnya sedikit berbeda. Kau ada rekomendasi bahan apa yang bagus?"
"Perak ku rasa pilihan yang bijak Tuan."
"Tidak…tidak, jangan perak. Aku mau sesuatu yang lebih berharga, seperti emas putih atau apapun yang menurutmu istimewa."
Memasang pose berpikir, sang pria tua menjentikkan jari. "Ah, aku tau Tuan. Mohon tunggu sebentar."
Pemuda itu bisa melihat sang pria tua beralih menuju ruangan di balik pintu. Mungkin itu ruang penyimpanan, ah terserahlah. Dia hanya ingin mendapat cincin yang terbaik.
"Ini dia." Sang penjual telah kembali, mengembangkan senyum sumringah yang tak mampu tertahan diwajah sang pria tampan, dengan cengiran lebarnya ia begitu semangat memilah cincin yang disediakan.
"Semuanya kualitas tinggi. Ini dari batu permata yang sama dengan yang digunakan ratu inggris sekarang. Yang ini diperoleh dari tambang…"
Sang pemuda tidak begitu memperhatikan sederet deskripsi membosankan dari penjual. Dia bukan sedang mencari cincin bersejarah atau apalah namanya. Lagipula memang wajahnya terlihat seperti seorang kolektor barang langka? Tidak kan.
"Tidak ada yang berliannya merah muda?"
Raut tua tampak menyesal, "Maaf Tuan, stok kami sedang kosong. Sangat sulit untuk mendapat yang warnanya seperti itu. Saya juga khawatir anda tidak akan mendapatkannya di tempat lain. Tapi safir ini tak kalah indah bukan, ruby ini juga tidak kalah. Atau kau bisa memilih mutiara dari samudra atlantik ini, atau."
Sebelah tangan terangkat, sang penjual mematuhi isyarat.
Memutar otak, matanya beralih menyisir beberapa pengunjung yang datang. Mencari lokasi keberadaan dua gadis muda yang sebelumnya.
"Itu mereka." Bersyukurlah dua gadis muda itu belum beranjak dari toko perhiasan.
"Permisi, maaf mengganggu sekali lagi. Apa kau sudah membeli cincin itu?" Tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Belum, aku akan segera membayarnya setelah memilih kalung." Wajahnya yang tampan rupanya bisa sedikit dimanfaatkan. Gadis itu samasekali tidak menolak ketika dia mengajaknya berbicara dan berkenalan.
"Ehm, maaf sebelumnya. Boleh aku melihat cincin itu?"
"Tentu."
Begitu cincin itu berada di tangannya. Matanya lekas mengamati, seolah terpaku, bagai berjumpa dengan belahan jiwa. Pemuda itu merasa inilah cincin yang dia cari-cari. Bentuk ukiran pada gagangnya sangat cantik. Simple tapi elegan. Terlebih ukurannya sangat pas. Mungil, tapi sangat cocok untuk jari-jari yang lentik.
"Maaf, apa ada yang salah?"
"Oh…tidak…tidak. Aku hanya memperhatikan cincin ini. Memastikan pemilik toko tidak melakukan penipuan seperti yang ingin dia lakukan padaku."
Mengernyit tak mengerti, gadis muda itu bertanya, "Penipuan? Apa yang kau bicarakan?"
Safir miliknya mengamati sekeliling, seraya berbisik dengan hati-hati di telinga sang gadis.
"Asal kau tahu Nona. Toko ini banyak menjual barang palsu." Menarik diri, pemuda itu dapat melihat jelas raut kaget di wajah gadis itu. "Aku memastikannya sendiri. Kau lihat semua perhiasan di atas kotak beludru?" safirnya melirik sekilas. Terlihat wajah si penjual mulai bingung. Buru-buru safirnya dialihkan. "Itu semua palsu."
Reflek gadis itu menutup mulut. "Benarkah? bagaimana kau tahu?" kini nada suaranya terdengar lebih kecil.
"Tentu saja aku tahu. Aku ini seorang polisi yang 'kebetulan' juga ahli dalam perhiasan Nona. Aku sedang menginvasi kawasan ini untuk menyisir pedagang-pedagang nakal."
Mata cokelat itu masih terkejut. "Lalu bagaimana dengan cincin milikku? Apa cincin ini juga … palsu? Oh ku harap tidak."
Kebohongan dilanjutkan dengan sangat meyakinkan. "Sayangnya harus ku katakan, cincinmu juga palsu. Saranku sebaiknya kau mencari cincin di tempat lain. Kau pasti ingin pesta pernikahan yang sempurna bukan?"
Gadis itu mulai ragu. Sejak awal dia sudah sangat tertarik dengan cincin itu. Tapi…
"Tapi temanku sendiri yang merekomendasikan toko ini. Katanya ini salah satu toko perhiasan terbaik."
Jengah, lidahnya kembali merapalkan kalimat provokatif. "Dengar, aku hanya memperingatkan agar kau tidak menyesal Nona. Kau turuti saranku dan semuanya akan baik-baik saja atau kau ambil cincin itu dan berakhir dengan penuh penyesalan."
Pemuda itu memperhatikan. Gadis itu mulai menimbang-nimbang, sedikit bernegosiasi dengan teman di sampingnya.
"Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi. Laporan tentang investigasi hari ini sudah menunggu. Semoga berhasil dengan cincinmu. Permisi Nona-Nona."
"Tunggu!"
Bibirnya tertarik mengulas senyum. Sudah dia duga ini akan mudah. Wanita asing ini bisa dia tipu dengan gampangnya.
"Iya?"
Kotak beludru berwarna merah dan sebuah kalung emas dihempaskan ke telapak tangan yang lebih besar.
"Tolong kembalikan pada penjual penipu itu. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi. Bahkan aku tidak akan pernah ke tempat ini lagi."
Kedua sudut bibirnya tertarik membuat senyum yang memesona, "Anda mengambil keputusan yang tepat Nona."
"Aku permisi, ayo Karen, kita cari toko lain."
Jika saja tidak banyak orang yang melihat, pemuda itu pasti sudah mengepalkan tangan ke udara, lalu meninju angin dengan siku, dan merayakan kemenangannya.
"Ohya, aku harus berterimakasih padamu, terimakasih karena telah memberitahuku, Mr ...?"
"Taufan, namaku Taufan."
"Ah, terimakasih Mr. Taufan. Semoga pekerjaanmu lancar. Aku permisi."
Setelah memastikan kedua entitas itu menghilang di ambang pintu kaca. Taufan dengan senyum lebarnya berjalan menghampiri penjual perhiasan. Meletakkan kalung dan menyimpan cincin dan kotaknya dalam genggaman.
"Aku beli cincin ini. Berapa harganya?"
Alih-alih menanggapi, penjual itu justru langsung melayani pelanggan barunya dengan mencatatkan sebuah nota.
Taufan membelalakkan mata ketika orang itu menuliskan angka. Dia sudah mencari-cari tahu harga cincin semacam ini sebelumnya, demi memastikan tabungannya cukup tanpa harus menyentuh uang milik keluarga.
"Maaf Pak, mungkin anda keliru, setahuku ini harganya-"
"Bayar lima kali lipat atau cincin ini takkan pernah kujual."
Menegak ludah. Taufan pun terpaksa menyelesaikan transaksinya. Rekening yang tadinya gendut kini harus kurus kerontang tinggal belulang. Terkuras kerakusan pemilik toko perhiasan.
Tapi tak apa. Cincin yang dia cari-cari sudah ditemukan.
.
.
Warning: HALIYAYA, slight TauYa, Halyi, OOC, rate T semi M for theme, miss typo, Romance, Drama, Hurt, and Angst.
Disclaimer: Boboiboy copyright monsta studio
Unexpected Marriage is mine.
.
.
Ying, 22 tahun, berdiri di halte dengan kedua tangan menggenggam paper bag berlogo restaurant bubur yang baru saja ia kunjungi. Rambut hitamnya tergerai melewati bahu. Sesekali mengusap poni, menyingkirkan cipratan hujan yang berpotensi membuat rambutnya lepek.
Sebuah taksi meluncur. Rodanya menggerus kubangan air di aspal. Beberapa orang yang berjalan reflek menyingkir. Tangan Ying terangkat ke udara.
"Tolong ke rumah sakitya Pak?"
Dari bangku kemudi, seorang pria paruh baya menoleh begitu pintu penumpang ditutup. Kemudian tersenyum begitu melihat pelanggan barunya.
"Anda Nona Ying kan? model baru yang sedang naik daun itu?"
Ying menanggapi sambil tersenyum. "Benar Pak."
Si sopir taksi melanjutkan, "Putri saya sangat mengagumi anda Nona. Dia selalu mengoleksi majalah yang memuat gambar anda. Suatu hari dia ingin bisa seperti anda, begitu katanya."
Ying tak menanggapi. Walau dalam hati gadis itu merasa tersanjung. Setidaknya kini ada sesuatu yang pantas dia banggakan. Dari spion atas, wajah Ying tergambar sedang tersenyum sambil memandangi ponsel yang barusaja menerima sebuah pesan.
[From : That Guy
Dalam tiga puluh menit kau harus sudah sampai, atau kau mau kencan malam minggu kita batal?]
Ying mendengus. Balasan segera dikirim cepat.
[To : That Guy
Coba saja kalau berani, dan aku pastikan tidak ada jatah ciuman hari ini]
Kendaraan itu berderum. Ying tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Hari ini ia akan bertemu lagi dengan Halilintar. Seseorang yang selalu membuat dirinya tidak bisa menahan rindu walau hanya satu menit.
.
[From : That Girl
Aku sudah naik lift, jadi sabar ya Hali]
"Kak, badanku sakit semua."
Senyumnya dipaksa luntur dalam sekejap. Halilintar menoleh. Adik bungsunya lagi-lagi terbangun, padahal sama sekali belum cukup tidur. Selimut tersibak tanpa sengaja. Gempa memijat lengannya sendiri yang terbalut seragam pasien.
"Terus?" Tanpa dosa, sang kakak bertanya.
"Tolong pijat aku." Kali ini Gempa memijat pundak. "Aku tidak bisa tidur kalau badanku sakit semua."
"Kau memerintahku?" Halilintar berdiri. Tangannya bersidekap.
"Ah, repot sekali punya kakak yang otoriter begini." Gempa menggerutu. "Hitung-hitung feedback, selama ini aku sudah sering memijitmu. Lagipula kan kau yang bertanggung jawab menjagaku. Kau sendiri yang berjanji pada mama."
Belum sempat Halilintar menjawab, pintu ruangan 504 terbuka. Dua bersaudara menoleh bersamaan. Kening Gempa berkerut begitu sang kakak langsung berjalan menghampiri pintu dan memeluk sosok gadis yang muncul.
"Hai Gempa!" Ying melepas pelukan Halilintar yang dibalas dengan decihan. "Bagaimana keadaanmu? Merasa baikan?"
Gempa tersenyum. Melayangkan tangan ke udara. "Halo Ying. Pagi sekali kau datang. DBD ternyata mengerikan ya, badanku sampai pegal—er... Ying, apa yang kau lakukan?"
Ludah terteguk. Gempa bisa melihat aura membunuh terpancar dari tubuh Halilintar ketika Ying menempelkan telapak tangan di dahinya.
"Ya Tuhan! Suhu badanmu masih tinggi!" Ying mengerjap. Wajah cantiknya terlihat khawatir. "Kau pasti belum minum obat, ya kan? Aku membawakanmu bubur dan jus jambu. Kau bisa minum obatmu setelah makan, mengerti?"
"Er ... iya, terima kasih. Sebenarnya kau tidak usah repot-repot Ying. -eh" Gempa tersentak. Ying dengan santainya memperbaiki posisi duduknya.
"Gempa. Gempa." Ying berkata. Menaikkan selimut hingga ke pinggang. Tidak ada yang bisa Gempa lakukan selain melongo. "Kau tenang saja. Selama aku disini, aku yang akan mengurusmu. Aku akan menyuapimu, setelah itu memijatmu hingga kau tidur. Pasti badanmu sakit sekali kan? Kau harus banyak minum air putih, Gempa."
"Eh, tapi Kak Hali—"
"Ya, bagaimana denganku sayang? Kau melupakan aku?" Halilintar memotong.
Gadis berwajah oriental menoleh. Halilintar bersidekap dengan tatapan mengintimidasi. Tapi bukannya ciut, Ying justru menghela napas. Tersenyum pada kekasihnya setulus-tulusnya. "Maaf ya, Hali. Tapi hari ini Gempa lebih membutuhkanku. Aku juga membawakanmu bubur, kau bisa makan sendiri. Atau kau mau menungguku? Eh tapi sebaiknya jangan. Karena aku harus mengurus Gempa terlebih dulu, tidak apa-apa kan?"
Hazel melirik takut-takut. Halilintar memutar mata, mengambil bungkusan bubur yang tersisa. Membawanya ke balkon sebelum menutup pintu balkon serapat-rapatnya.
Di sisi lain, Gempa hanya bisa melongo melihat tingkah dua sejoli tadi. Dalam hati dia sedikit penasaran, mengapa kekasih kakaknya ini begitu perhatian padanya.
"Em…Ying, boleh aku tahu kenapa kau begitu peduli padaku?" Perhatian Ying teralih, matanya menatap hazel Gempa beberapa saat hingga akhirnya dia tertawa setelah Gempa melanjutkan kalimatnya.
"Tentu saja tidak. Yang benar saja. Kau ini adiknya Halilintar. Tidak mungkin aku ingin bermain-main dengan adik kekasihku sendiri. Kau ada-ada saja Gempa."
Gempa tertawa canggung. Sedikit malu karena barusaja berpikir hal yang bukan-bukan. Mungkin ini efek dari penolakan yang beberapa waktu lalu dia peroleh dari sahabat Taufan.
"Lalu, apa alasanmu melakukan semua ini? Apa kau sedang berusaha mengantongi restuku atas hubunganmu dengan Kak Halilintar? Maaf kalau ini tidak sopan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah mempermasalahkan hubungan kalian seperti yang dilakukan keluargaku."
Ying tersenyum simpul. Meski berucap dengan hati-hati, namun Gempa mengatakannya cukup terang-terangan. Ada perasaan menyenangkan tersendiri ketika sedikit demi sedikit dia mulai mengenal segala hal tentang Halilintar.
"Bukan seperti itu Gempa." Memberi jeda, Ying menghembuskan karbondioksida secara perlahan. "Kau tahu, seumur hidup aku tak pernah memiliki sesuatu yang sangat berharga seperti aku memiliki Halilintar."
Gempa mendengarkan, "Di mataku dia sangat berharga Gempa. Sama seperti kau yang begitu berharga di matanya. Kau bisa menyebutku sok tahu atau apa. Tapi aku tahu benar, Halilintar sangat mencintai kedua adiknya. Dan aku akan mencintai segala hal yang dicintai oleh Halilintar." Ying terkekeh, "Mungkin dia tak pernah dan tak akan pernah mengatakan hal tersebut pada kalian. Tapi aku yakin kau setuju denganku. Dia kakak yang baik. Benar bukan?"
Ying mengakhiri dialog panjangnya dengan satu senyum manis yang terukir di bibir.
.
"Maaf, karena membuatmu menunggu. Aku harus memastikan Gempa benar-benar beristirahat."
Ying menutup pintu balkon dari luar. Halilintar berdiri dengan siku yang bersandar di pagar. Pandangannya mengarah lurus ke bawah. Hujan sudah berhenti, namun sepertinya angin masih ingin bermain-main dengan rambut pendek milik sang pemuda. Ying berjalan mendekat kemudian memeluk punggung tegap itu dari belakang.
"Kau marah?" Gadis oriental tersenyum di balik punggung sang kekasih.
Aktivitas jalan raya mulai meramai. Mobil-mobil yang terparkir keluar satu per satu. Ying melepas pelukannya. Berdiri sejajar di samping kekasihnya. Halilintar masih menatap ke bawah.
Mendengus, Ying sangat benci diabaikan terlebih oleh pacar sendiri. Tapi bukan Ying namanya, jika tidak bisa membuat hati Halilintar luluh. Angin semilir menyibak rambut panjangnya, Ying berjinjit. Halilintar tersentak begitu pipinya dikecup cepat. Ketika dia menoleh, Ying sudah membuang pandangan.
"Oh jadi sekarang kau sudah pintar merayu, huh?" Halilintar tersenyum, meyeringai.
"Aku kan belajar darimu." Rona merah sama sekali tidak bisa disembunyikan. Ying tersenyum meski malu-malu. "La-lagipula kenapa kau begitu kekanakan? Cemburu dengan adikmu sendiri. Dia kan sedang sakit. Jadi wajar kan, kalau aku lebih memperhatikan Gempa hari ini ketimbang dirimu."
Halilintar hanya bisa menyunggingkan senyum saat menatap wajah kekasihnya yang tak juga berani menatapnya. Ia bukannya marah. Atau ia bukannya tidak memiliki bahan obrolan. Tapi dia lebih senang memandangi wajah Ying yang salah tingkah karena dirinya.
"Kau sudah makan?"
"Hm…Kemarilah."Pandangan manik ruby kini lurus menembus safir sang gadis. Meraih lengannya kemudian mendekapnya dari belakang seerat mungkin. Ying sampai bisa merasakan nafas Halilintar di tengkuknya.
Menunduk. Ying sama sekali tidak bisa menahan senyum. "Aku minta maaf Hali. Kita jarang bertemu akhir-akhir ini."
Halilintar tak menjawab. Ia tercenung lama memandangi hamparan mobil yang melintas-lintas di bawah sana.
"Kau tahu kan? Showbiz itu dunia yang keras." Ying mendongak, berbalik menyejajarkan mata dengan Halilintar. "Kita tidak bisa lagi sering berkencan. Kau tidak bisa lagi sering menginap di apartemenku."
"Siapa bilang?" Halilintar menatap lurus sepasang safir di sampingnya. "Aku bisa menculikmu kapanpun aku mau. Tidak ada yang bisa merebutmu dariku, meski pekerjaan sekalipun."
"Hali…" Mendesah pelan, Ying berusaha bernegosiasi. "Ku harap kau mengerti. Ini kesempatanku untuk memperbaiki hidup. Aku tak ingin disebut tak tahu cara balas budi dengan menelantarkan nenek yang sudah merawatku."
"Jika ini tentang uang aku sudah katakan kau bisa minta padaku berapapun yang kau mau."
Kepalang tersinggung, Ying tak menyembunyikan nada sinis dalam bicaranya. "Hali ku rasa kita sudah sepakat tidak akan membicarakan ini. Kau mau orang tuamu semakin memandangku buruk? Membuat mereka berpikir bahwa aku memanfaatkanmu, begitu?"
Terdiam, Halilintar tahu kalimatnya barusan adalah kesalahan. Demikian juga dengan sang gadis. Di bawah langit kelabu, sepasang kekasih itu berpandangan. Sang lelaki menatap gadisnya dengan pandangan datar yang entah berarti apa. Entah, apakah alam ikut berpartisipasi mendramatisir perdebatan kecil mereka, hujan lagi-lagi turun tanpa permisi.
Tangan mungil digenggam. "Ying, berjanjilah. Kau akan terus bersamaku apapun yang terjadi."
Sang gadis tercenung.
"Jangan pernah mundur sekalipun keluargaku menantang keras hubungan kita. Ingatlah, aku selalu ada di sisimu. Aku tidak pernah meninggalkanmu."
"Hali, kita tidak akan tahu —"
"Tidak." Halilintar menggeleng. "Kau harus percaya bahwa tidak akan ada penyesalan dalam hubungan ini. Jika memang ada, buatlah bagaimana caranya agar kau tidak menyesal."
Tidak ada yang bisa Ying lakukan selain mencari letak keraguan di mata Halilintar. Sayangnya, keraguan itu tidak bisa ditemukan. Ying tahu Halilintar mencintainya sekalipun jarang mengumbar kata cinta. Tapi bagaimana pun juga—seyakin apapun—keraguan itu tetaplah muncul.
Halilintar mencintainya.
Tapi untuk berapa lama?
"Sekarang aku ingin kau tidak memikirkan pihak ketiga dari hubungan kita. Siapapun itu. Aku pastikan aku akan menikahimu. Dan Ying—" Dagu gadis bermata biru diraih. Ying merasa aman begitu mata Halilintar menatap lurus mata miliknya. "—kau harus berjanji akan selalu di sampingku. Dan jika aku sakit nanti, aku mau kau merawatku sebagaimana yang kau lakukan pada Gempa. Kau mengerti?"
Tercenung lama. Bagaimana mungkin Ying bisa menolak? Itu cita-citanya sejak dulu. Menjadi seorang istri, lalu menjadi Ibu. Selalu mendampingi sang suami dalam keadaan apapun. Sambil tersenyum Ying menjawab dengan mantap. "Aku janji."
Tidak butuh waktu lama untuk Halilintar mengulas senyum tipis. Perjanjian itu dibalas dengan perlakuan yang lebih manis. Halilintar memaksa dirinya untuk berdiri memunggungi balkon. Tubuhnya didorong hingga menekan pagar besi. Mata Ying terpejam begitu merasakan kelembutan menyapu bibirnya tiba-tiba. Rasa dingin yang disalurkan oleh hujan, sama sekali tidak berpengaruh. Ying tidak dapat merasakan apapun selain jantungnya yang terpompa cepat akibat kehangatan yang ditimbulkan oleh ciuman Halilintar.
Mereka sama-sama tersenyum setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Sepertinya, kalian sangat menikmatinya."
Kemudian senyum itu membeku bersamaan. Mereka menoleh. Nyonya besar Boboiboy sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum sinis yang tak lepas dari wajahnya.
.
"Kau baik-baik saja?"
"Hn?"
Gadis itu menoleh. Pikirannya yang melayang pada kejadian beberapa tahun silam terpaksa buyar berkat suara Halilintar.
"Jika ada yang mengganggumu katakan saja."
Tidak, Ying tidak perlu mengatakannya. Ini kesempatan bagus untuk Halilintar memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Bagaimana mungkin Ying tega mengacaukan.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Kau tak usah khawatir. Aku baik-baik saja."
Bibirnya memang berucap begitu. Namun, jemari lentiknya tak henti-henti memilin ujung dress berwarna merah dengan renda putih yang ia kenakan.
Jika diingat-ingat lagi momen saat dia menginjakkan kakinya di hadapan keluarga Halilintar, hampir semuanya tidak ada yang bagus. Nyaris penuh dengan perlakuan buruk. Setelah dirinya diundang dalam jamuan makan malam waktu itu, entah apa penyebabnya, semua berubah. Bahkan ibu Halilintar yang sebelumnya sangat lembut dan penyayang, tiba-tiba menjadi sosok dingin yang selalu enggan memandangnya.
.
.
Dia sudah memprediksi bahwa ini akan terjadi. Cafetaria rumah sakit adalah alternatif terbaik untuk negosiasi. Alternatif terbaik untuk sebuah peringataan. Alternatif terbaik menjauhkan dirinya dari Halilintar. Ying sudah menebak. Alur ini tidak ada bedanya dengan alur-alur yang sering ditunjukkan dalam telenovela.
Wanita –yang sepertinya berkepala empat- itu duduk di hadapannya. Tidak ada senyum ramah atau pandangan mata teduh seperti yang didapatinya ketika pertemuan pertama. Tanpa ekspresi. Dingin. Bahkan Ying bisa merasakan tatapan ibu Halilintar itu menusuk ulu hati.
Pertemuan mereka jumlahnya tak banyak, bisa dihitung dengan jari. Dan jika hitungan Ying tidak salah ini adalah kali keempat mereka bertatap muka. Hampir semua tidak ada yang baik, di pertemuan kedua mata paruh baya itu hanya menatapnya dingin tanpa ada balasan saat Ying menyapa. Di pertemuan ketiga wanita itu terang-terangan menunjukkan sikap tak suka. Dan di pertemuan keempat…
"Apa ini?" sepatah kata yang pertama.
Ying menggigit bibir. Berkata tanpa bertemu tatap. "Kalau Anda ingin memberi saya amplop, maka izinkan saya memberikan Anda amplop saya terlebih dulu."
Ying selalu berusaha mencintai segala hal yang dicintai Halilintar. Tapi bukan berarti dia akan tunduk pada setiap titah orang yang dicintai Halilintar tanpa berbuat apa-apa.
Ibu Halilintar tidak menjawab. Ada guratan kesal tercetak jelas di wajah yang sedikit keriput saat melirik secarik kertas putih di atas meja.
"Saya tidak tahu, tapi ini sering terjadi dalam drama. Dan saya yakin anda adalah pengagum drama yang hebat." Ying masih tak menatap. "Saya tidak tahu apa alasan di balik sikap tak suka Anda pada saya. Tapi jika Anda berpikir untuk memberikan saya segepok uang dengan syarat menjauh dari Halilintar, maka saya akan melakukan hal yang sama."
Sepasang safir mendongak. Mencoba berani menatap mata hitam yang menyorotnya tajam.
"Itu adalah gaji pertama yang saya dapatkan sebagai model." Kata Ying. "Mungkin jumlahnya memang tidak sebanding dengan harta yang keluarga Anda punya. Tapi saya akan mencicilnya. Berapapun. Saya akan berusaha melunasi berapapun yang Anda minta, asal Anda mengizinkan Halilintar dan saya bersama."
Kesal. Gelas yang berisi air mineral disentak ke wajahnya. Ying memejamkan mata. Air itu tidak mampu menyulut emosinya.
"Kau memang gadis kurang ajar. Tidak tahu malu." Ying menarik lembaran tisu yang tersedia. "Bukan cuma dari kalangan rendahan. Kelakuanmu juga tak kalah rendahan. Memang benar ya, asal usul itu memengaruhi segalanya. Aku tebak kau pasti mewarisinya dari ibumu itu. Kau pikir anakku itu apa? barang? Hina sekali berkata begitu padaku! Aku adalah ibunya. Kau siapa? Hanya gadis baru yang kebetulan bertemu dengannya. Dengar ya, jangankan uangmu, hidupmu sekalipun tidak seberharga itu untuk mampu membeli Halilintar."
"Lalu, apa yang akan Anda lakukan pada saya, bukankah sama?" Ying menandas. Telinganya panas mendengar setiap inchi hinaan yang dipaparkan padanya. "Anda ingin memberikan saya uang agar saya meninggalkan Halilintar, bukankah itu artinya Anda ingin membeli Halilintar dari saya?"
Ibu Halilintar sudah membuka mulut, namun lagi-lagi Ying tidak memberinya kesempatan bersuara.
"Meskipun Anda memberi uang atau mempermalukan saya. Seberapa keras Anda menentang hubungan kami, saya ..." Mata Ying menatap lurus. "...saya tidak akan meninggalkan Halilintar."
"Anda silahkan saja menentang kami, saya tetap tidak akan —atau mungkin tidak mampu — meninggalkan Halilintar. Apapun yang terjadi, saya tetap bersamanya." Ying mengerjap. "Itu adalah janji yang kami buat."
Ibu Halilintar tercenung.
"Itu adalah hal yang harus saya sampaikan." Kedua tangannya mengepal erat. "Maafkan saya."
Mendorong kursi dari meja, Ying memutuskan sepihak negosiasi yang menyakitkan. Dia berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia sibuk mengutuk dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa dia harus menangis sekarang?
.
Sepasang safir itu terpejam erat. Perjalanan menuju rumah Halilintar entah kenapa terasa begitu panjang. Hingga mau tak mau otaknya memutar kembali secuil memori yang takkan pernah dia lupakan.
Hari itu, hari di mana dia berjanji takkan pernah meninggalkan Halilintar. Hari di mana dia menunjukkan cintanya terhadap Halilintar di depan ibunya. Sekaligus hari di mana Ying merasa begitu dipermalukan.
Ying tidak pernah takut dengan siapapun, termasuk pada orang-orang yang membencinya tanpa alasan. Ying hanya sedikit nerveous karena harus bertemu lagi dengan keluarga Halilintar. Dia teringat akan perjanjian yang dia buat delapan bulan lalu. Perjanjian yang membuatnya menyesal seumur hidup. Perjanjian baru yang memaksanya mengingkari perjanjian lamanya dengan Halilintar.
Semakin dekat dengan tujuan semakin kuat pilinan yang gadis itu buat. Sinar rembulan yang perlahan mulai menyorot, menerangi wajahnya di tengah kegelapan mobil yang lampunya padam. Memancing pengemudi di sampingnya untuk menilik wajah tegang gadis itu sekilas.
Safir biru milik sang gadis beralih ke luar jendela. Jalanan menunjukkan suasana yang semakin sepi. Artinya, sebentar lagi mereka akan sampai di rumah keluarga besar Halilintar.
"Kau tegang."
Ying samasekali tak menggubris pernyataan Halilintar sekalipun ia mendengarnya.
"Kau masih bisa berubah pikiran. Kita bisa putar balik sekarang juga."
Gadis itu masih berpura-pura tak mendengar. Jika boleh jujur hatinya ingin dia turun dari mobil itu detik ini juga lalu lari sejauh mungkin menuju arah berlawanan. Tapi, dia tidak bisa. Tidak, dia tidak boleh melakukannya.
"Ying."
Dia harus menghadapi keluarga Halilintar. Tak peduli sebanyak apapun hinaan yang pernah diterimanya di masa lalu. Ia adalah seorang Ying Zee, sang aktris kelas internasional yang tidak bisa diinjak-injak lagi. Dia harus membuktikan pada keluarga Halilintar bahwa dia pantas mendampingi anaknya.
"Ying."
Dagunya diraih oleh Halilintar hingga mengubah arah pandangnya menuju sang pemuda.
"Are you okay?"
Ruby itu seolah memandangnya seolah dia manusia paling rapuh di muka bumi.
"No problem. I'm fine." Senyum simpul terlukis otomatis di tengah wajah cantiknya. Safirnya balas menatap ruby itu dengan penuh cinta.
Halilintar menghela nafas pelan. Melepaskan seat-belt kemudian membuka kunci pintu mobil. Ying memperhatikan sekeliling, menyadari bahwa mereka sudah sampai. Baiklah, welcome home.
Selamat datang di neraka.
.
.
o
.
.
Sepetak halaman luas yang ditumbuhi rumput dan berbagai tanaman hijau serta bunga-bunga. Air mancur yang terletak tepat di tengah-tengah halaman yang bahkan lebih indah dari taman kota. Serta rumah besar bercat putih yang berada di hadapannya.
Mengingatkan Ying tentang kali pertama menginjakkan kakinya di tempat ini.
Semuanya sama. Halaman yang sama, rumah yang sama, orang-orang yang sama hanya kali ini lebih ramai karena pesta walau kecil-kecilan. Air pancuran yang sama, bahkan atmosfer yang dia rasakan seolah tak ada bedanya dengan atmosfer waktu itu.
"Kau putus kuliah?"
Pertanyaan yang terlampau sering dia dengar. Ying sampai hafal dialog lanjutan yang akan keluar dari bibir si penanya.
"Lalu, apa kesibukanmu?"
Sang gadis menatap mata tua yang kini memandangnya dengan pandangan sehangat mungkin. Tapi gadis itu bersumpah, pandangan itu berbanding terbalik dengan atmosfer yang tercipta.
Ying pernah beberapa kali mengikuti wawancara kerja. Biasanya dia akan gugup, tapi tidak sampai gagap apalagi berkeringat dingin. Beginikah rasanya duduk berkenalan dalam undangan makan malam dengan calon mertua?
"S-ss…ssaya se-sehari-harinya bekerja Tuan."
"Jangan memanggilku Tuan. Panggil Atok saja." Ying menunduk malu dan tersenyum kaku. Dia tahu Halilintar memang berasal dari keluarga berada. Tapi dia tidak pernah mengira bahwa Halilintar ternyata adalah sulung dari keluarga besar Aba. Salah satu keluarga yang katanya paling tersohor di sejagat Malaya.
"Kerja di mana?" Suaranya berat dan berkesan dingin. Baru tiga puluh menit berada di rumah ini tapi dia tak perlu berpikir untuk mengenali orang ini sebagai ayah Halilintar.
"S-saya bekerja di Travel."
"Sudah berapa lama?"
"Satu tahun."
Sang calon mertua hanya memasang tampang 'oh' dan enggan berkomentar lebih jauh.
Keheningan mulai menjalari meja makan. Tak ada yang menanyai maupun menanggapi lagi. Ying benar-benar ingin mencekik Halilintar bila dia kembali nanti. Katanya mau ganti baju sebentar. Nyatanya hampir tiga puluh menit meninggalkan Ying sendirian. Entah kekasihnya sengaja atau tidak, tapi gadis itu bersumpah malam ini takkan ada jatah ciuman.
"Ayo, tambah lauknya."
Nada ramah menyapa telinganya dengan hangat.
Ying membalas lembut. "Iya Tante." Ibu Halilintar sangat cantik. Sekelas artis lokal kalau boleh menilai.
Sekalipun masih kikuk dengan suasana yang kaku, namun segalanya masih berjalan lancar. Hingga semua bermula dari detik ini.
Demi menghormati sang calon mertua perempuan yang telah menawarinya tambahan makanan berkali-kali maka Ying berinisiatif mengambil makanan itu sendiri. Namun ah entah karena tegang atau apa, bagaimana mungkin dia bisa seceroboh itu.
Air dalam teko kaca tertumpah hingga mengenai mangkuk sayur dan piring buah akibat tak sengaja tersenggol olehnya. Ying tetap berkali-kali meminta maaf sekalipun Nyonya rumah berkata tidak apa-apa. Perasaannya mulai tidak enak. Dalam pandangan menunduk dia bisa merasakan dua pasang mata yang menatapnya tak suka.
"S-saya akan membersihkannya. Maafkan saya sudah mengacaukan." Ying sigap dengan mengambil sapu tangan berukuran besar dari dalam tasnya. Mengelap sisa-sisa air di meja makan. Tanpa sadar ternyata dompet penguin miliknya terjatuh dengan posisi terbuka dari dalam tas.
"Sudah, biar pembantu saja yang membersihkan." Tangannya ditepis oleh ibunda Halilintar. Beberapa maid rumah pun mulai menggantikan pekerjaannya.
"Nona, dompet anda terjatuh." Salah seorang maid memungutkan dompet miliknya dan meletakannya di atas meja.
"Terimakasih."
Ying segera memasukkannya kembali ke dalam tas. Tanpa menyadari mata tua itu kini menampakkan kilatan tanda syok.
"Ranti, minum."
Sang menantu sigap menanggapi sang mertua. "Ayah kenapa?"
Pemimpin keluarga tersebut menggelengkan kepala setelah meminum airnya.
"Tidak apa-apa."
"Lalu, apa kau tinggal sendiri?" Kali ini giliran sang Ibu yang bertanya
"Tidak. Saya tinggal bersama nenek saya Tante."
Sang ibu mengernyitkan dahi, "Orang tuamu kemana?"
"Mereka sudah meninggal dalam kecelakaan dua puluh tahun yang lalu."
Seketika wajah cantik itu diliputi kekagetan dan sirat bersalah. "Maaf, Tante tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa Tante. Lagipula saya tidak pernah bertemu dengan mereka."
"Kenapa?"
"Mereka meninggal sewaktu saya berada dalam kandungan."
"Oh, dear."
Kursi berdecit, sang calon ibu mertua menghampiri Ying dan memeluknya.
Tok Aba semakin menampakkan raut syok, beruntung serangan jantungnya tidak segera menyerang.
Entah kenapa Ying merasa begitu damai. Mungkin keluarga Halilintar tak semenakutkan yang dia pikirkan. Buktinya dia merasa nyaman berada di pelukan wanita ini.
"Saya punya fotonya. Tante mau lihat?"
"Foto orang tuamu?" Ying mengangguk.
"Tentu sayang."
"Ranti , jangan." Tok Aba memperingatkan namun suaranya tak terdengar sampai telinga sang menantu.
"Saya selalu menyimpan foto mereka dalam dompet." Ying merogoh tas, "Ah ini dia."
"Ranti." Tok Aba kembali memperingatkan, namun terlambat. Foto itu sudah sampai di tangan Nyonya rumah.
Wanita cantik paruh baya itu reflek membulatkan mata, menutup mulut dengan sebelah tangan yang bebas. Tubuhnya mematung bersamaan dengan jatuhnya selembar foto dari tangan.
.
"Halilintar." tampak wanita paruh baya dari kalangan atas -yang Ying tahu betul siapa- berjalan mendekati mereka. Lalu menghamburkan pelukan pada kekasihnya.
"Ma…"
"Oh, Mama kira kau tidak akan datang, Nak."
"Apa aku terlambat?"
Melepaskan dekapan anaknya, sang Bunda menjawab, "Tidak … tidak pesta barusaja dimulai," seraya menoleh pada satu-satunya gadis yang dia anggap sebagai dalang kehancuran keluarganya. "Dan lihat … Kau membawa kejutan untuk kami semua."
"Ma…Tolong-"
Melambaikan sebelah tangan, Halilintar otomatis memotong kalimatnya. "Kau temuilah saudaramu. Gempa butuh wejangan bagaimana bersikap sebagai 'pengantin baru'." Sengaja suaranya ditekankan pada dua kata yang lebih tepat membentuk frase basi di telinga Ying. Gadis itu memutar mata bosan.
"Baiklah Ma, di mana Gempa?"
Tak ingin berdebat lebih lanjut dengan sang ibu, Halilintar lekas meninggalkan gelas sampanye miliknya. Seraya berbisik 'senua akan baik-baik saja.' pada sang aktris, meninggalkannya menuju lokasi adik bungsu dan calon istri.
Kini kedua wanita beda usia itu hanya tinggal berdua. Memegang dua gelas berisi minuman yang berbeda di tangan. Nyonya Ranti dengan wine tanpa alkoholnya dan Ying dengan blueberry cocktail favoritenya.
Jika 4 tahun, 11 bulan, dan 7 hari yang lalu Nyonya Boboiboy memeluk tubuh ringkihnya dengan penuh kasih sayang dan rasa iba, maka kini wanita paruh baya yang selalu terlihat elegan itu menatapnya sambil mendecih. Tak jauh beda dengan tatapannya ketika di rumah sakit dulu.
"Beraninya kau muncul di hadapan anakku lagi. Apa uang yang suamiku berikan masih belum cukup?" tanyanya dengan wajah datar.
Cocktail ditegak. Entah kemana larinya perasaan tegang saat dalam perjalanan. Ying berusaha menjawab serileks mungkin.
"Bukankah saya pernah mengatakan jawabannya pada suami Anda, Nyonya? Apa dia tidak memberitahu Anda?"
Wajah yang kini mulai dihinggapi garis-garis halus itu enggan menampik maupun mengiyakan.
Wine diteguk sekali lagi. Cukup baik untuk menyamarkan pembicaraan mereka dari orang-orang yang mungkin bisa mencuri dengar.
"Saya memang menyetujui permintaan Anda dan keluarga anda agar meninggalkan Halilintar saat itu. Tapi saya tidak pernah menyetujui bahwa saya harus berhenti mencintai Halilintar. Maaf, itu tidak ada di perjanjian."
Dinginnya angin malam yang menembus kulit hingga ke tulang, masih kalah jika dibandingkan dengan situasi yang kedua wanita itu ciptakan.
Tapi tawa kecil tiba-tiba yang menantu Tok Aba itu telurkan, berhasil membuat Ying mengernyit. Menoleh sekilas takut-takut kalau calon mertuanya tiba-tiba mabuk berat.
"Kau salah gadis muda. Aku tidak pernah melarangmu mencintai anakku. Itu hakmu."
Ying seolah tak terjebak dengan kalimat manis itu, refleknya seolah bisa menangkap kalimat selanjutnya lebih dulu.
"Kami hanya ingin kau lenyap dari kehidupan Halilintar. Itu saja. simple." Benar kan…sesuai dugaan.
Seperti hendak membalas, Ying pun tak mau kalah, tawa kecil ikut-ikut meluncur dari tenggorokannya.
"Maaf Nyonya. Tapi ku rasa Anda tidak akan bisa menyingkirkan saya dengan mudah." Dengan penuh percaya diri, Ying melanjutkan, "Jika dulu anda pikir bisa membeli perasaan saya dengan uang. Maka kali ini anda salah. Saya punya lebih banyak uang dari yang anda dan suami anda pikir bisa berikan pada saya."
"Oh jangan berpikir terlalu positif gadis manis. Ku harap kau benar, tapi dengan menyesal harus ku katakan…" Menjeda beberapa detik, Nyonya Ranti terlihat begitu menikmati ekspresi yang wajah gadis muda itu tampilkan. "Aku maupun suamiku tak perlu repot-repot menyingkirkanmu. Maaf jika semua tak berjalan seperti yang kau harapkan. Tapi aku masih baik padamu. Ku sarankan menyerahlah pada anakku sebelum kau dipermalukan oleh Halilintar sendiri." Nyonya Ranti berkata dengan lihainya.
Sungguh hati Ying sudah panas sedari tadi, "Anda salah Nyonya, Halilintar sangat mencintai saya. Dia tidak akan pernah melakukan hal buruk pada saya."
"Tidak." Membalas dengan suara lembut namun sangat menyebalkan di indra pendengaran sang gadis. "Kau yang salah. Apa kau seyakin itu Halilintar masih mencintaimu?"
Telak. Ying ingin menjawab. Tapi tidak bisa. Bagaimana mungkin dia meyakinkan orang lain saat dirinya sendiri pun dipenuhi keraguan.
"Ku rasa tidak kan?"
Sang gadis bungkam. Otaknya kehabisan kata-kata untuk membela diri. Mata birunya mulai sibuk mencari Halilintar di tengah kerumunan yang tak seberapa.
"Ku harap kau tidak pura-pura amnesia dan melupakan fakta bahwa Halilintar sekarang adalah pria beristri."
Tidak. Sedetikpun Ying tidak pernah melupakan hal itu.
"Mereka akan bercerai. Halilintar sudah janji." Putus asa, Ying mengatakan kalimat pertama yang terlintas di benaknya. Tapi kalimat tersebut sukses membungkam Nyonya besar dalam sekejap.
Anggur itu diteguk habis dengan rakus. Sekalipun sangat ingin, Nyonya Ranti tak mau mengotori tangannya dengan menampar seorang gadis di pesta barbeque menjelang pernikahan anaknya sendiri. Beraninya gadis itu berucap kurang ajar tentang anaknya. Sungguh tidak pantas.
Untuk kali pertama setelah bertahun-tahun, mata hitam itu menoleh, menyamping dan menusuk iris safir di hadapannya. "Nona Ying. Jika kau masih punya malu. Tinggalkan anakku sekarang juga. Sadari posisimu. Kau sama saja dengan wanita simpanan murahan seperti pelacur di luar sana. Dan kau pikir kau bisa merebut anakku dari istrinya?" Tawa remeh menghampiri, "Levelmu tak setinggi itu untuk dibandingkan apalagi disejajarkan dengan menantuku yang sempurna."
Nyonya Ranti berujar tegas, penuh nada cemooh, sambil melirik seorang wanita muda di akhir kalimatnya. Terakhir dia menambahkan salam penutup berupa "Permisi. Dan terimakasih." Sebelum meninggalkan Ying sendirian sambil mematung di tempatnya.
Ying merasakan keringat dingin mengucur di sela-sela tengkuk. Bohong jika dia tidak tertekan. Lututnya sampai terasa ngilu akibat ketegangan yang disembunyikan.
Ucapan-ucapan wanita tadi masih terngiang di telinga. Ying bahkan tidak mampu membalas sepatah pun. Dan entah bagaimana matanya mulai berkaca-kaca. Buru-buru dihapusnya sebelum ada yang melihat.
Mata birunya kembali menyisir orang-orang di pesta yang lebih mirip seperti neraka. Gadis itu yakin perempuan itu pasti ada di sekitar sini. Bukan Halilintar yang dia cari, melainkan…wanita itu. Ying menemukannya.
Wanita hamil itu sedang bersama seorang pria yang Ying kenali sebagai saudara kembar Halilintar. Ingin menghampiri, tapi kakinya seperti terekat dengan lem yang sangat kuat. Seolah gravitasi memaksanya tetap diam atau menyesal.
Tapi Ying tidak bisa tinggal diam. Dia ingin menemuinya. Dia harus bertemu dengannya.
Jika di samping meja minuman Ying masih bingung menimbang sebaiknya menemui istri Halilintar atau tidak. Di satu sisi, wanita yang ingin dia temui justru tengah bercengkrama seolah tanpa beban. Tanpa sedikitpun mengetahui baik dia maupun Halilintar berada di satu lokasi yang sama.
"Yaya. Bukan begitu cara memotong daging yang benar."
Taufan. 25 tahun. Sibuk merecoki pekerjaan Yaya yang belum kelar.
Menghela nafas, Yaya memilih mengalah. Talenan dan seonggok daging sapi digeser hingga berada di hadapan pria yang berlagak tahu segalanya. "Baiklah, kalau begitu contohkan padaku bagaimana cara memotong daging yang benar."
Menggulung lengan kaus dengan antusias, Taufan mengambil alih pekerjaan seraya berlagak 'serahkan padaku'.
Taufan memulai aksinya. Dengan cekatan tangannya memotong-motong daging hingga seukuran daging cincang.
Selanjutnya daging yang tersisa dipotong dengan ukuran yang tak normal. Kadang terlalu besar, kadang terlalu kecil.
"Sudah biar aku saja yang mengerjakan. Kau sebaiknya mengawasi bara apinya supaya tidak berasap banyak."
Yaya berusaha mengambil alih namun Taufan enggan menyerahkan.
"Ini namanya kreatif Ya, apa kau tidak bosan dengan ukuran dan potongan dadu melulu? Kita butuh inovasi baru. Begini cara masyarakat modern amerika bisa terus maju."
Enggan menanggapi celotehan sahabatnya, Yaya hanya tersenyum masam dan menanggapi dengan sirat masa bodo setelah Taufan selesai dengan berceramah.
"Aku lebih cinta negeriku sendiri daripada negeri orang-orang kesayanganmu itu."
Yaya membalas ketus. Mengambil potongan daging yang mungkin masih bisa diselamatkan dari tangan Taufan.
"Jadi Yaya lebih suka budaya Melayu ya daripada budaya modern Amerika?"
Yaya melirik, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Tentu saja."
"Kalau songket dan gaun, kau pilih yang mana?"
"Songket."
"Gamelan dan musik jazz?"
"Gamelan."
"Gedung besar atau halaman rumah?"
"Halaman rumah." Yaya masih menjawab sekenanya.
"Kalau safir dan ruby?"
CTAKK!
Suara pisau daging beradu dengan talenan.
"Kau bicara apa sih? Aku bukannya tidak suka pada hal-hal modern. Aku juga suka itu. Malah ku pikir jika bisa menggabungkannya akan lebih baik. Bukankah keren jika budaya lokal dan modernisasi ala orang barat bisa menyatu?"
Taufan mulai berpikir, setuju dengan ide yang dipikirkan Yaya.
"Baiklah kalau begitu pernikahan kita akan memadukan unsur tradisional dan modern."
"Aww"
Yaya meringis, Taufan langsung panik mencari pertolongan. Darah segar mengucur meski tidak deras. Yaya mengiris jari telunjuknya sendiri akibat keputusan sepihak dari Taufan.
"Pakai ini. Mau ku balutkan?" Entah darimana mendapatkannya, tangan Taufan kini penuh dengan peralatan p3k. Tapi hanya obat merah dan kain kasa yang Yaya ambil. "Tidak usah. Terimakasih."
"Kau sih tidak hati-hati. Makanya kalau sudah tidak sabar jadi istriku bilang dong. Aku bisa melamarmu dari jauh-jauh hari."
Tuhan, tolong… Yaya lelah dengan semua ini.
"Fan…"
"Hm?" Dengan wajah polos tanpa dosa Taufan bersikap seolah tak ada hal apapun yang pernah dikatakannya.
"Apa otakmu sudah bergeser? Perlu ku antar ke rumah sakit jiwa?"
Yaya berujar serius. Tapi Taufan justru tertawa dengan tidak elitnya. Mencuri perhatian tamu-tamu Gempa dan Hanna. Termasuk Halilintar.
Tak segan-segan, Yaya mencubit pinggang Taufan sekuat tenaga.
"Aww…Aww…Sakit Ya."
"Kau kesambet atau apa sih? Tertawa macam nenek lampir." Yaya melepaskan cubitannya, Taufan masih meringis menikmati cubitan maut seorang Yaya.
"Kau salah Yaya, yang benar Kakek Lampir." Sempat-sempatnya menjawab. Jika Yaya tidak sedang hamil mungkin Taufan sudah jadi daging cincang sekarang.
Astaga…Maafkan pikiran burukku Tuhan.
Yaya buru-buru istighfar, kata orang jika wanita tengah hamil dia tidak boleh mendengar hal buruk maupun berkata hal buruk. Nanti turun ke anaknya. Mitosnya sih begitu.
"Tapi Ya, aku serius. Aku ingin menikahimu. Sudah ku lamar kau berkali-kali. Kenapa kau selalu menolak?"
Jika boleh meminta satu hal. Dia ingin berganti partner menyiapkan pesta detik ini juga. Adakah yang sudi bertukar dengannya?
"Taufan…"
"Hm?" Taufan menanti, sementara Yaya menatapnya seolah berharap dia segera mati.
"Tak bisakah kau menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang tidak bisa dipermainkan?"
"Maksudmu?"
"Oke, aku jelaskan. Pernikahan adalah ikatan suci antara dua orang manusia berlainan jenis yang berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Suatu ikatan yang idealnya hanya terjadi antara dua orang yang saling mencintai."
"Lalu?"
"Taufan kau tahu aku pernah merasakan ikatan pernikahan yang tidak didasari oleh cinta. Kau tahu seberapa menderitanya diriku kan?"
Tentu saja Taufan tahu. Saraf kepekaannya masih tersambung dengan baik. Dia penyebab itu semua. Takkan mungkin bisa dia lupakan.
"Jadi jangan buat aku merasakan hal yang sama sekali lagi."
Yaya kembali fokus pada irisan dagingnya. Hampir rampung, tinggal beberapa potong dan semuanya selesai. Untungnya bahan yang lain sudah siap. Sedikit lagi pekerjaan mereka –atau lebih tepatnya pekerjaan Yaya- selesai.
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu. Tolong jangan memotong pembicaraanku Yaya. Aku belum selesai. Aku mencintaimu. Sungguh. Mungkin tak sebesar perasaanmu pada kak Hali. Tapi aku yakin bisa lebih membahagiakanmu ketimbang dia."
Nama itu. Lagi. Yaya berkali-kali mengatakan bahwa dia bisa melupakan Halilintar, tapi kenapa ketika nama itu mampir di telinganya walau hanya sekali, pertahanannya langsung runtuh begitu saja.
"Tau-"
"Aku hanya berharap kesempatan Yaya. Kesempatan membangun keluarga utuh bersamamu. Bersama anak kita. Kita akan jadi keluarga bahagia. Belajarlah mencintaiku seperti aku belajar mencintaimu."
Yaya terdiam, mengelus perutnya yang tinggal beberapa minggu menuju kelahiran. Membayangkan khayalan-khayalan Taufan yang jadi nyata. Kedengarannya sangat indah. Tapi…
"Taufan…Aku tidak bisa. Aku-"
"Kau pasti bisa Yaya. Kau bisa. Menikahlah denganku."
Tersenyum, terkadang Yaya heran, tidak pernah menduga pria pertama yang akan mengucapkan kalimat impian setiap wanita itu terujar dari bibir Taufan.
Tidak tahu harus bereaksi seperti apa, Yaya memilih pura-pura sibuk dengan menusuk daging dan sayur membentuk sate.
"Yaya…jangan pura-pura tidak mendengar. Jadi apa jawabanmu?"
Merecoki, Taufan mengambil daging dan sayur yang Yaya pegang.
"Baiklah, sebelum menjawab, aku punya pertanyaan."
"Katakan."
"Saat melamar Mimmy, apa yang kau lakukan?"
Tercenung. Taufan tidak pernah mengira Yaya masih membahas soal Mimmy.
"Itu…itu…" Yaya menunggu sambil bersidekap. "Ah itulah pokoknya, aku lupa."
"Bohong. Kau mana mungkin lupa. Mimmy kan sangat spesial."
Lagi-lagi Mimmy, kenapa sih ingatan Yaya soal Mimmy tidak hilang saja? Berbahaya bagi kelangsungan hidup Taufan. Ibarat kata akibat nama setitik, rusak move on sebelanga.
Yaya masih setia menunggu jawaban Taufan, pria yang ditunggu sudah gelagapan. "Yah, seingatku aku pernah menerbangkan balon di depan rumahnya, dan…" Taufan menjeda, Yaya kembali mendesak, "Dan?"
"Dan…dan… aku me-, ah sudahlah Yaya, aku lupa. Kau tahu ingatanku buruk kan."
Yaya menggeleng pertanda tidak setuju.
"Baiklah, begini. Bisakah kau berhenti mengucapkan itu? Kau berkata 'menikahlah denganku' seperti dosis minum obat, eh…lebih parah malah, empat kali sehari. Pagi, siang, sore, malam. Aku belum selesai Taufan. Kau pikir itu semua hanya main-main? Tidakkah kau berpikir untuk mengatakannya dengan lebih serius? Mungkin itu bisa jadi pertimbangan."
Entah Yaya bicara apa. Dia sendiri tidak mengerti. Tapi cukup senang karena akhirnya Taufan bisa diam.
Selanjutnya, pasangan partner itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Tersisa hanya beberapa tusukan. Tapi daging masih banyak sementara teman daging tinggal sedikit. Akhirnya Taufan berinisiatif mengambil paprika, wortel, tomat, dan sayur lainnya dari meja tetangga sebelah. Supaya lebih cepat selesai.
"Hai."
Suara lembut yang menyapanya memaksa Yaya mengalihkan pandang dari bahan-bahan barbeque di atas meja.
Terkejut. Hazelnya membulat saat mengenali sosok cantik yang berdiri di hadapannya.
"Aku Ying Zee." Tangan putih berjari lentik terjulur perlahan di hadapannya. Otomatis hazel milik Yaya mengikuti gerakan tangan tersebut.
"Yaya." Uluran tangan disambut. Sekalipun ini adalah pertemuan pertama mereka. Tapi Yaya merasa begitu dekat dengan perempuan ini. Mereka terikat pada satu garis bernama takdir. Takdir untuk jatuh cinta pada satu pria yang sama. Halilintar.
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N
Hai semua #dilempar bakiak karena kelamaan ngilang. Well aku gak perlu jelasin alasannya apa, aku yakin kalian semua tahu alasannya. Well, mumpung libur aku mau cicil dikit-dikit.
Dan yang pertama aku pilih UM karena banyak yang nagih #plakk
Semoga masih ada yang ingat ceritanya, kalo lupa baca aja chap-chap sebelumnya #digibeng.
Hal pertama yang mau aku ingetin dulu mohon jangan protes kalau ada hal yang berlawanan dengan fakta di dunia nyata. Aku gak riset. #lagi males #plakk
Hal kedua, aku mau say thanks buat Furene Anderson yang selalu nyuruh aku nulis fict lagi sekalipun aku udah gak minat sampe lupa cara nulis itu gimana. Aku lebih say thanks lagi karena dia mau bantu aku ngetikin dua bagian flashback pertama di chapter ini, walau ketikannya kebanyakan sampe terpaksa aku pangkas dan aku edit lagi biar sesuai sama fict ini secara keseluruhan #plakkk. Thanks berat udah mau support di saat aku lagi penat ya dek. Dan maaf belum bisa ngimbangin tulisanmu. Mungkin aku ketinggalan jauh, nanti deh aku kejar. Hahaha.
Ohya chapter ini emang kebanyakan flashback. Aku pengen kalian juga tahu masalalu Halilintar dan Ying seperti apa. Harusnya dari sini kalian udah bisa tebak endingnya gimana. Aku harap kalian bisa mengerti hubungan HaliYing sampai akhirnya kenapa aku pilih ending itu nanti untuk mereka. Dan maaf belum bisa munculin HaliYaya, actually di chap ini harusnya mereka ketemu dan *zzzzz*. Tapi ku skip sampe situ aja. Takutnya kalian muntah pas baca karena kepanjangan. Ini aja udah mau 7k.
Minggu depan update lagi #Tapi bukan fict ini #wkekekek
Akhir kata, semoga kalian bisa menikmati fict alakadarnya ini. I'm sorry I can't give the best. Padahal dulu pas baru bikin aku cuma kebayang jalan mendekati endingnya kayak gimana, eh giliran udah deket ending malah bingung mau nulis apa #authordodol #janganditiru.
Akhir kata#beneran#
If you don't mind
Review please….
Don't be silent reader yaaw.
