[Chaptered]
Title : You Can't Hear
Chapter : 13/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke.
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Fish Leong - Can't Hear


Aku berjalan gontai menelusuri jalan setapak kampus.
"Sasuke sakit parah. Aku tidak tahu sakit apa, tapi dugaanku... Sasuke sakit Leukimia",

Aku tidak percaya dengan perkataan Neji tadi. Ini semua bohong! Meskipun Sasuke sering mimisan, demam atau sakit-sakitan, bukan berarti Sasuke sakit Leukimia! Neji terlalu banyak menonton sinetron!

"Dobe!", Sasuke tiba-tiba menerjangku dari belakang.
"Aku berteriak-teriak kesetanan memanggilmu, tapi kau tidak menoleh sedikitpun!", cibir Sasuke yang masih betah bergelantungan di leherku.
"Ini tidak mungkin terjadi kan?", gumanku.
"Apanya yang tidak mungkin?", tanya Sasuke heran.

Aku melepaskan pelukan Sasuke di leherku. Aku menariknya hingga pandangan kami saling bertemu.
"Kau baik-baik saja dan aku percaya itu", aku tersenyum yakin.

Sasuke mengernyitkan dahinya.
"Kau pasti lapar!", tebak Sasuke innocent.

Aku menarik Sasuke ke dalam pelukanku.
"Ya, kau akan baik-baik saja", lirihku.
"Cup cup cup!", Sasuke menepuk-nepuk pelan punggungku.

Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi tepukannya itu sedikit menenangkanku.


Malam harinya.
Aku mengajak Sasuke untuk makan ramen, dia menolak dengan alasan ramen itu berlemak dan tidak sehat. Tapi aku terus memaksanya, bagaimanapun juga, dia butuh lemak, tubuhnya tidak berisi dan kurus, hampir mendekati kerempeng, itu bukan standar tubuh lelaki seumurannya.
Karena paksaanku, akhirnya Sasuke menurut, dia juga bilang sudah lama dia tidak makan ramen.

"Makan yang banyak! Biar gemuk!", aku memberikan naruto milikku kepada Sasuke.

Dengan cepat Sasuke memenyumpit naruto tersebut dan melahapnya. Kemudian dia tersenyum padaku seolah hendak berkata, "Aku suka naruto!".
"Kau manis", godaku.
"Aku tidak manis! Aku imut dan menggemaskan, selain itu aku juga tampan dan sexy!", protes Sasuke mulai narsis.
"Ya, ya, ya! Sangat beruntung aku bisa memilikimu",
"Hn! Aku milikmu, jadi jangan menyakitiku lagi!", ancam Sasuke.

Aku tersenyum lembut padanya. Wajah Sasuke memerah.
"Wajahmu memerah", godaku.
"Panasnyaaaa~", Sasuke mengipas-ngipasi dirinya dengan telapak tangan. Aku tahu dia pasti malu, ketika mengatakan bahwa dia milikku.

"Sasuke... Sakit parah...",

Aku menggeleng kuat ketika mengingat kembali perkataan Neji.

Tidak! Sasuke baik-baik saja!


Setelah selesai makan, aku langsung mengantar Sasuke pulang ke asrama.
"Jya!", pamitku.
"Kau mau kemana?", tanya Sasuke menarik tanganku.
"Pulang", jawabku.
"Pulang kemana?",
"Ke rumah Shikamaru",
"Aku sudah mengambil semua barang-barangmu dari rumah si mata kuaci itu!", jelas Sasuke.
"Jangan seenaknya memberi julukan yang aneh-aneh pada temanku!", protesku tidak suka.

Bagaimana kalau Shikamaru mendengarnya? Bisa-bisa aku dituduh mengajarkan Sasuke yang aneh-aneh.
"Aku lupa namanya", cibir Sasuke.
"Namanya Nara Shikamaru! Catat itu di otakmu, teme!", aku meniru cara bicara Sasuke yang ketus dulu.

Sasuke dengan kesal meninju bahuku.
"Ayo, masuk! Di luar dingin!", Sasuke langsung berlari ke kamar.


"Haaaa~", Sasuke langsung menjatuhkan diri di atas ranjangnya.
"Semuanya sudah kubereskan!", Sasuke menunjuk semua barang-barangku yang telah tersusun di tempat semula.
"Kau melakukannya sendirian?", tanyaku tidak percaya.
"Kau meragukanku?", tanyanya tidak suka.
"Aku tidak menyangka tuan muda Uchiha ini bisa berbenah", ejekku.

Sasuke langsung melempar bantal ke wajahku. Entah mengapa aku tidak mengelak.

"Kau mandi duluan atau aku?", tanya Sasuke.
"Kau dulu. Ada beberapa yang ingin kubereskan", jawabku.
"Hn!", Sasuke langsung beranjak dari ranjang.

Dia mengambil piyama dari lemari sebelum menuju kamar mandi.

Sementara aku mengambil ponselku untuk mengubungi Shikamaru.
"Halo?",
"Maaf, Shika~ Aku...",
"Apa ada barangmu yang ketinggalan?", sela Shikamaru.
"Aku belum mengeceknya",
"Sepertinya tidak ada yang tertinggal, dia hapal betul semua barang-barangmu",
"Maaf kalau dia dengan tidak sopan memberantaki kamarmu",
"Dia memang memberantaki kamarku, tapi dia merapikannya kembali. Berkat dia, aku menemukan pena pemberian Chouji yang telah lama hilang. Aku tidak menyangka pena tersebut terselip di tumpukan buku semester 1", jelas Shikamaru.
"Kau harus mentraktirnya makan.. Hehehee..", cengirku.
"Niat awal sih begitu, tapi setelah dia memanggilku 'Mata Kuaci', aku langsung mengurungkan niatku",
"Hehehee... Maafkan dia, dia tidak ingat namamu", belaku.
"Huuuh!", cibir Shikamaru.
"Maafkan aku, Shika. Aku pindah mendadak seperti ini", sesalku, rasanya tidak enak tiba-tiba pindah tanpa memberitahu keluarga Shikamaru.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku bosan melihat tampang galaumu. Kalian yang rukun saja, jangan suka bertengkar. Kalian itu sama-sama keras, ada baiknya kau selalu mengalah. Cinta itu butuh pengorbanan, bro!", pesan Shikamaru.
"Ya, Shika-sensei!", anggukku.


Aku berbaring di atas ranjang sambil tersenyum memandangi gantungan ponsel rubah pemberian Sasuke.

"Sankyuu, Sasuke!", seruku.
"Hn!", guman Sasuke.

Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, dia sedang asyik dengan tabletnya.

"Sankyuu, Suke-chan!", seruku lagi.
"Jangan sampai tablet yang kupegang ini mendarat di wajah jelekmu itu!", ketus Sasuke.
"Gah!", cibirku.

Aku beranjak mendekatinya dan duduk di sebelah kanannya.

"Serius sekali!", aku meletakkan kepalaku ke bahunya.

Kulihat Sasuke sedang membaca sebuah situs dengan tulisan Mandarin.

"Apa kau mengerti dengan yang kau baca itu?", tanyaku.
"Tidak", jawabnya singkat.
"Lalu? Mengapa kau baca?", aku ingin menertawakannya, tapi aku takut dia akan melempariku dengan apa yang sedang dipegangnya itu.
"Aku ingin bisa berbahasa Mandarin, tapi aku tidak mengerti sama sekali. Huuf~ Sebaiknya aku belajar dengan Kakashi-san saja", Sasuke menutup tabletnya dengan pasrah.

Cepat sekali dia menyerah.

Sasuke menyandarkan kepalanya di pahaku. Aku memperlihatkan gantungan ponsel rubah pemberiannya.

"Sankyuu, Sasu-koi-chan", kataku.
"Hn! Kau suka?", tanyanya sambil memegang gantungan tersebut.

Tumben dia tidak mengamuk ketika kupanggil dia dengan embel-embel 'chan'.

"Suka!", seruku.
"Ternyata kau lebih suka yang murahan!", ejek Sasuke.

Aku menepuk keningnya.

"Aw! Mengapa kau memukulku?", Sasuke mengusap keningnya.
"Kau selalu berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu!", omelku.
"Itu kau!", bantahnya.
"Kalau aku suka yang murahan, berarti kau juga murahan!",

Sasuke hanya diam. Ya, perkataanku barusan sukses menembus hatinya.

Sasuke berpaling ke arah lain.
"O, jadi aku murahan ya?", Sasuke tersenyum kecut.
"Aku tidak beranggapan seperti itu!",
"Lalu?",
"Suka ya suka! Aku terima bukan berarti aku suka yang murahan. Pokoknya kalau suka ya tak akan kulepas!",
"Kau suka rubah ini?", tanya Sasuke menunjuk gantungan ponsel pemberiannya.
"Hn! Warna bulunya orange, warna favoriteku! Dan bola matanya hitam, seperti matamu",

Sasuke tersenyum. Dia selalu manis di mataku. Aku membelai pipinya yang mulus, dia menangkap tanganku yang mengelus pipinya.

"Kau juga suka padaku?", tanya Sasuke.
"Tentu saja!",
"Maka, jangan pernah melepaskanku",
"Dan kau jangan melepaskan diri dariku",
"Hn! Tidak akan!",

Aku mendekatkan wajahku, dan mengecup singkat bibirnya. Wajahnya mendadak memerah.

"Kau memerah", godaku.
"Ah! Aku mulai demam!", Sasuke menyentuh kedua sisi pipinya, menyembunyikan pipinya yang merah padam.
"Kau klepek-klepek padaku", godaku lagi.

Sasuke menjauhkan dirinya dari pangkuanku.
"Tidak! Aku demam!", protes Sasuke.
"Kau manis kalau memerah seperti itu",

PLaaaaK
Sasuke menampar pipiku dengan tabletnya.

"Kau memerah!", seringai Sasuke.


Beberapa hari kemudian.
Aku bertemu dengan Neji dan Gaara saat sedang makan siang di Ichiraku Ramen bersama Sasuke.

"Yo, Neji! Yo, Gaara!", sapaku.

Mereka sudah bersatu kembali. Senangnya~

"Sasuke, aku kan sudah melarangmu untuk tidak makan ramen!", tegas Neji.
"Aku terlalu kurus, kurasa aku butuh sedikit lemak", jelas Sasuke tersenyum.
"Kau harus menjauhi makanan yang...", sebelum Neji menceramahi Sasuke, aku langsung menariknya menjauh dari lokasi meninggalkan Sasuke dengan Gaara.


Di parkiran Ichiraku Ramen.

"Neji, berhentilah mengatur Sasuke!", ketusku.
"Sasuke tidak boleh makan yang berlemak dan pedas. Itu akan...",
"Berhenti mengkhawatirkan Sasuke! Dia baik-baik saja! Dia tidak sakit!", marahku.

Aku tidak suka dengan sikap Neji yang masih menganggap bahwa Sasuke sakit parah.

"Sasuke sakit. Kau harus percaya padaku", jelas Neji.
"Sasuke baik-baik saja! Dia tidak sakit! Berhenti berpikiran jelek seperti itu, Hyuuga Neji!", tegasku sekali lagi.
"Baiklah", Neji menarik nafas sejenak.

Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Apa pendapatmu tentang ini?", tanya Neji sambil menunjukkan selembar tanzaku berwarna biru langit.

Aku ingin bahagia bersama orang yang kucintai, sebelum kematian menjemputku.
-Uchiha Sasuke-

"Itu tulisan tangan Sasuke kan?", tanya Neji.
"Darimana kau menemukannya?", tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Neji. Ini sudah jelas tulisan tangan Sasuke.
"Pohon dekat kuil legendaris, yang waktu itu kita mencari Sasuke di Otto. Tanzaku ini jatuh dari pohonnya ketika aku mencari Sasuke. Merasa tidak asing dengan tulisan dan nama yang tertera, akupun membacanya. Aku tidak ingin percaya dengan apa yang kubaca ini, tapi bagaimana kalau ini kenyataan? Mengingat Sasuke yang kurus, selalu mimisan dan tampak kelelahan?", jelas Neji.
"Kau tidak boleh berpikiran seperti itu!", ketusku tidak terima.
"Bagaimana denganmu? Apa pendapatmu!", ketus Neji memaksaku untuk percaya.
"Sasuke baik-baik saja. Dia menulis ini karena dia sedang sedih ketika putus denganmu. Jika Sasuke sedang sedih, dia pasti akan bertindak seperti orang yang paling menyedihkan di dunia. Aku tahu itu! Semuanya dia lakukan hanya untuk mencari perhatian!", jelasku meyakinkan diriku dan juga Neji.

Ya, Sasuke memang selalu begitu! Dia tidak sakit seperti yang dibayangkan Neji! Dia memang suka berkata bahwa dia sakit, tapi aku yakin pasti bahwa sakitnya hanya sakit biasa, sakit yang tidak akan menyebabkan kematian.

"Dan terbukti, kau tidak jadi putus dengannya. Rencana yang dibuatnya telah berhasil, bukan?", seringaiku.
"Sasuke tidak seperti itu!", bantah Neji.
"Dia memang seperti itu! Aku tahu dia lebih banyak ketimbang kau!", tegasku.

Neji memejamkan kedua matanya, sekali lagi dia menghembuskan nafas jenuh. Dia gagal meyakinkanku atas pendapatnya. Ya, dia tidak perlu repot-repot meyakinkanku.

"Baiklah, aku salah. Aku terlalu banyak menonton sinetron. Kau kan calon dokter. Kurasa kau lebih tahu banyak, mana yang sakit dan mana yang berpura-pura sakit?", jelas Neji sebelum dia meninggalkanku.
"Sasuke baik-baik saja", gumanku sambil meremas tanzaku milik Sasuke.


Hari berganti hari, bulanpun ikut berganti. Rasa takutkupun perlahan muncul melihat Sasuke yang tidak gemuk-gemuk, nafsu makannya berkurang, wajahnyapun kian pucat. Aku tidak bisa meyakinkan diriku bahwa Sasuke baik-baik saja. Aku takut, sangat takut!

"Kita ke dokter!", paksaku.
"Tidak!", tolak Sasuke.

Sasuke masih betah berbaring di klinik kampus.

"Aku mencemaskanmu, Sasuke!",
"Kau tidak perlu mencemaskanku! Ini sudah biasa terjadi kan?", tegas Sasuke sambil menarik selimut sebatas lehernya.
"Aku takut, Sasuke!",
"Apa yang kau takutkan?",
"Kesehatanmu. Ayolah, kita ke dokter!", bujukku terus.
"Kau tidak perlu takut akan kesehatanku. Yang harus kau takutkan adalah kuliahmu. Kau selalu mengabaikan kuliahmu hanya untuk menjagaku. Please, deh! Aku bukan balita!", protes Sasuke tidak terima dengan sikap over protectiveku.
"Aku tidak akan tenang, sebelum kau ke dokter!", aku terus memaksa Sasuke, tapi Sasuke berkeras tidak ingin ke dokter.

Akhirnya terjadilah pertengkaran di antara kami. Aku capek harus berdebat lebih lama lagi. Tanpa peringatan, aku mengangkat tubuh Sasuke dan menggendongnya ala bridal. Sasuke berteriak dan memberontak. Dia berhasil melompat turun dari gendonganku.

PLaaaaK!
Sasuke menamparku.

"Aku tidak suka dipaksa!", marah Sasuke, kemudian dia berlari meninggalkan ruangan.

Aku hanya terdiam mematung. Pipi kiriku terasa perih, tapi hatiku jauh lebih perih. Ini pertama kalinya Sasuke menamparku dengan tangan kosong.

Hey, Sasuke! Aku sangat mencemaskanmu, tapi kau tidak mengerti. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja, apakah itu salah?


Aku pulang ke asrama untuk melihat kondisi Sasuke, tapi aku sama sekali tidak menemukannya. Aku menghubungi ponselnya, tapi tidak diangkat bahkan direject olehnya.

"Apa maumu?", lirihku menatap ponselku.

Aku mengirim pesan padanya, tapi dia tidak membalasnya. Aku berkeliling sekitar asrama dan kampus, tapi aku tidak menemukannya.

Kau membuatku pusing, Sasuke!

Bip Bip
Ada pesan masuk di ponselku.

Dengan cepat aku membuka dan membaca pesan tersebut.

From : Itachi-san
Jangan cemas, Sasuke ada di rumahku. Dia tampak menyeramkan. Dia nyaris membanting ponselnya. Nanti akan kuhubungi kembali, setelah dia tidak berada di sebelahku.

Aku bernafas lega sejenak sebelum membalas pesan dari Itachi-san.

To : Itachi-san
Kami bertengkar lagi. Heheheee...
Maaf telah membuat suasana rumahmu menjadi horror.

Kemudian tidak ada balasan lagi dari Itachi-san.

Semoga Itachi-san bisa membujuk Sasuke agar kembali secepatnya.

Haaah~ aku benar-benar cemas.


Malam harinya, sekitar jam 10, Itachi-san menghubungiku.

"Itachi-san!", seruku antusias, aku sangat cemas menunggu kabar dari Itachi-san.
"Ah, maaf telat menghubungimu. Sasuke baru saja tidur",
"Tidak apa-apa. Bagaimana keadaan Sasuke? Dia masih marah?",
"Sasuke baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena banyak pikiran. Dia butuh istirahat. Dia sudah tidak marah kok!", jelas Itachi-san.
"Benarkah hanya pusing karena banyak pikiran? Bukan sakit yang serius kan?",
"Maksudmu?",
"Ah, maaf Itachi-san kalau pertanyaanku ini ngawur. Aku merasa bahwa Sasuke tidak baik-baik saja", aku mengutarakan apa yang kurasa tentang Sasuke pada Itachi-san.
"Sasuke baik-baik saja. Jangan terlalu mencemaskannya, nanti dia bisa marah lho",
"Tapi aku merasa...",
"Kau sedang berbicara dengan Dobe?", aku mendengar suara Sasuke.
"Itu Sasuke kah?", tanyaku.
"Hn! Dia sudah bangun ternyata", bisik Itachi-san.
"Aku ingin bicara dengannya, please~",
"Sebentar, ya!",

Aku menunggu sejenak, kuharap Sasuke mau berbicara denganku.
"Mau apa kau!", ketus Sasuke.
"Aku cemas, Suke~",
"Besok aku mau ke Bali!",
"Hah!?",
"Jangan menghubungiku dulu!",
"Tu, tunggu! Mengapa begitu mendadak?",
"Kau membuatku kesal!",
"Maafkan aku, tapi aku sangat mencemaskanmu! Please, jangan seperti ini!", pintaku dengan nada mengemis.
"Jangan merindukanku! Jya!",

Tut tut tut..
Panggilan terputus.

Aku memijit keningku, kepalaku berdenyut memikirkannya.

"Haaa~ aku bisa mati kalau terus-terusan diperlakukan seperti ini~"

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang Sasuke.

Sebelum mengistirahatkan diri, aku mengirim pesan kepada Sasuke.

Apa maumu, Sasuke?
Tidakkah kau tahu bahwa aku sangat mencemaskanmu?
Aku takut kehilanganmu..
Sangat takut...


Keesokan harinya, aku mencoba untuk menghubungi Sasuke, tapi ponselnya tidak aktif. Aku hanya bisa mengirimnya pesan.

Morning, Sasuke!
Apa tidurmu nyenyak semalam?
Apa kepalamu masih pusing?

Hey, Sasuke!
Bolehkah aku mengantarmu sampai di bandara?
Please~

Hey, Sasu-koi!
Apa kau sudah sampai di Bali?
Jaga kesehatan ya di sana!

Yo, Suke-chan!
Kuharap kau tidak melirik wanita asing di sana!
Aku sangat cemburu huhuhuh~

Oyasumii, Bakasuke!
I miss you 3


Ini sudah hari ke 4 setelah kepergian Sasuke ke Bali. Sudah 4 hari juga Sasuke tidak mengabariku. Pesan yang kukirim semuanya pending.

Aku mencoba menghubungi Itachi-san, tapi ponselnya juga tidak aktif.

Aku sangat merindukanmu, Bakasuke~
Tolong kabari aku.

Itu pesan terakhir untuk hari ini yang kukirim padanya.


Hari ke 5, aku masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Motor yang kukendarai menabrak pembatas jalan. Beruntung ini hanya kecelakaan tunggal, jadi tidak ada korban luka selain aku. Ya, sedikit beruntung.

Pipi bagian kananku lecet-lecet, lengan kananku mendapat 20 jahitan, dokter bilang lenganku patah, jadi aku harus memakai gips penyangga di lenganku.

Selain luka, aku juga mendapat wejangan dari Shikamaru yang ikut merawatku. Setidaknya aku beruntung masih bisa mendengar wejangannya ini.


Hari ke 6, aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Aku hanya berbaring di asrama, aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena seluruh tubuhku sakit jika digerakkan.

Aku meraih ponselku berniat untuk mengabari Sasuke tentang keadaanku, tapi aku mengurungkan niatku. Sasuke sedang liburan, aku tidak ingin merusak liburannya itu.


Hari ke 7, aku merasakan sesuatu yang berat melekat di tubuhku, aku membuka kedua mataku, sebuah kepala dengan rambut hitam halus menggelitik leherku. Aku menajamkan penglihatan dan penciumanku. Mmm~ Aroma yang kusuka~

"Sasuke?", panggilku membelai kepala tersebut, kuharap ini bukan mimpi.
"Apa aku membangunkanmu?", tanya si pemilik kepala.

Ternyata yang sedang berbaring di sebelahku sambil memelukku adalah Sasuke, si pantat ayam dari Konoha.

Aku mengusap-ngusap kepalanya. Aku rindu memperlakukan dia seperti ini.
"Okaeri, Sasuke~ I miss you sooooo much!", aku memeluknya dengan tangan kiriku yang tidak terpasang gips.
"Hn! Tadaima, Dobe~ I miss you too~", Sasuke memeluk pinggangku, rasanya sedikit nyeri, tapi tidak masalah, aku rindu pelukannya, aku rindu suaranya.
"Kapan kau sampai?", tanyaku.
"Tadi malam",
"Tadi malam? Jam berapa? Mengapa aku tidak melihatmu?", tanyaku, karena tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak dengan seluruh badanku yang sakit.
"Jam 3", jawab Sasuke.
"Jam 3? Dini hari?", aku tidak percaya.
"Hn!",
"Tidurlah! Kau pasti mengantuk",
"Hn", Sasuke menyamankan kepalanya di dadaku.

Aku tersenyum melihat Sasuke bermanja-manja di pelukanku. Aku menggerakkan lengan kananku yang sedikit sakit.

Maafkan aku, Dobe~
I miss You~

Aku tersenyum lagi ketika membaca tulisan di gips tersebut.

Aku sangat, sangat senang bahwa kau merindukanku. Kikikiki...

"Kau tidak sedang menertawakanku kan?", tanya Sasuke merasa risih.
"Tidurlah! Aku akan menyanyikan lullaby untukmu",
"Hn!",
"Lullaby and good night~ In the sky stars are bright~ 'Round your head~ Flowers gay~ Set you slumbers till day~"


Terputus


Ahay! Ini chapter terpanjang dari episode2 sebelumnya.
Apa moment NaruSasunya kurang greget?

Oiye, sasUKE sakit apa juga belum dibahas, mungkin next chapter.

Review please ^^v