Bedeviled


Cast:

Chanyeol, Kai, Sehun, Kris, Chen, Jinyoung, Gongchan, dll

Rating: T

Summary: Dengan kekuatan merepotkan yang dia miliki, tanpa sengaja Chanyeol merubah dirinya menjadi LUAR-BIASA-AMAZING hingga semua orang di mall tergila-gila padanya. Kai dan Sehun yang marah besar memberi Chanyeol hukuman—dan itu termasuk tidak ada acara kencan dengan Kris selama Tiga bulan penuh. Chanyeol jelas saja tidak terima. Lagi-lagi sim-sala-bim! Nasi telah menjadi bubur. Hanya butuh satu kalimat keliru, kedua orangtuanya kembali ke usia remaja lalu kabur bersama-sama karena mereka amat sangat saling mencintai satu sama lain.

Nah, sekarang Chanyeol mendapat beban dunia di pundaknya.

Kai akhirnya bisa meninggalkan jalan hidup iblisnya. Tapi karena dia kembali ke remaja, siapa yang tahu bencana apa yang bisa ditimbulkan oleh Raja-Iblis-Versi-Tujuh-Belas-Tahun? Dan bagaimana Chanyeol bisa memperbaiki keadaan ketika dia punya satu ton penggemar yang mengikutinya kemana-mana? Dengan dibantu Kris dan Chen, dimulailah misi pencarian yang sangat merepotkan itu.


Chapter 8 – Teen Parents in Action (Part II)

"Mau tahu apa yang lebih buruk dari punya orangtua ajaib? Punya orangtua ajaib berusia 17 tahun!"


#HAPPY READING#


Sunday, 08/11/2015

Chanyeol's P.O.V

"CHAANYE—"

"Shh!" kubekap mulut Chen lalu kutarik dia keluar dari mobil. "Dengar, kita harus kembali ke Mall itu, ada yang harus kulakukan." Aku mendekatkan mulutku ke telinga Chen, bisa kulihat dari ekor mataku Kris hendak membenturkan dirinya sendiri ke kap mobil. "Kita naik sepeda. Aku tidak mau kau semobil dengan Kris hyung."

Chen mengangguk terlalu bersemangat, kemudian mencibir ekstra jelek ke cowokku. "Memang, aku juga tidak sudi semobil dengan dia. Kau telah membuat pilihan yang tepat, Chanyeol." dia tersenyum. "Akhirnya kau menyadari perasaanku. Ini akan jadi momen yang amazing bagiku, bersepeda dua-duaan keliling kota denganmu. Kita akan jadi pasangan amazing yang hebat," katanya sengaja keras-keras. Jelas sekali ingin membuat Kris murka.

"Chen! Kita tidak akan bersepeda keliling kota!" tegurku. Aku tidak mau mendengar dia mengeluarkan rayuan-rayuan norak untuk memancing emosi Kris. Walau bagaimanapun aku harus membatalkan sihir cinta itu khusus untuk Chen. Coba-coba dulu. Lebih cepat dia sadar lebih baik. Hanya dia satu-satunya yang tahu betul latar belakangku dan bisa membantuku. Selain itu, aku tidak mau melihat sahabatku sendiri adu cakar dengan pacarku gara-gara sihir cinta konyol. "Chen, tahu tidak sih, kau itu sebenarnya berada di bawah pengaruh kekuatanku. Inilah yang membuatmu berpikir aku semacam superstar yang pantas dipuja."

"Kau memang superstar," balasnya dengan tatapan tergila-gila.

Kutepuk jidatku.

"Chanyeol—"

"Tunggu dulu," tahanku buru-buru sebelum Kris sempat mendekat dan mengacaukan usahaku mengobati kerusakan di otak Chen. "Biar kuluruskan ini semua. Chen," kutatap kembali cowok itu. "Dengar baik-baik, kau perlu berpikir jernih. Coba pikir ulang, bukankah kelakukanmu ini agak aneh? Tidakkah kau merasa berbeda dari biasanya?" ucapku lamat-lamat, kupengaruhi dia agar kembali normal. "Lihatlah, aku masih bocah biasa yang sama yang baru-baru kau ajak bicara pagi tadi. Bocah yang selalu membuatmu geram karena berusaha mengacaukan hari-harimu yang damai dengan kelakuan dan kekuatanku yang ajaib. Ayolah, jauh di dalam hatimu kau pasti tahu aku bukan idola baru atau bintang remaja terkenal."

Aku bisa melihat dia memproses kalimat panjang lebarku tadi.

"Tidak," dia akhirnya menjawab, setelah menatapku sekian lama. "Kau adalah Park Chanyeol. Bocah paling menakjubkan, luar biasa, dan makhluk paling indah yang pernah tercipta di planet ini. Asal kau tahu, berusaha meyakinkan cewek-cewek itu untuk berkencan dengan Tao adalah kebaikan paling manis dan mulia dari orang sehebat dirimu." Puji Chen menggebu-gebu. "Kau tahu betapa aku sangat menyukai sisi pedulimu yang itu, dan kau benar-benar menyayangi Kris hingga rela berbuat apa saja demi mencapai tujuanmu. Itu baru namanya kesungguhan hati. Maaf aku meragukan niat baikmu. Aku tahu sikapku itu salah. Lain kali aku harusnya lebih menghargai usahamu." Mudah-mudahan dia masih akan ingat pernyataan super drama ini ketika aku membalik mantranya. "Kau sahabat terbaik yang pernah, Chanyeol." dia menatapku dalam-dalam. "Betapa beruntungnya aku."

Beruntung? Itu menurut Chen versi mabuk. Mabuk sihir cinta.

"Nah, sekarang santai saja," kataku. "Aku akan menggunakan kekuatanku untuk membuatmu sadar. Mari kita saling menautkan jari-jemari agar kekuatannya lebih bekerja."

"Kereeen!" Dia kelihatan girang luar biasa. Buru-buru mengulurkan tangan secara sukarela, siap untuk menerima berkah dariku. "Bawa kekuatanmu kemari. Tunjukkan!"

Jelas sekali, dia tidak berpikir lurus. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan menyebalkan, tidak ada kuliah panjang lebar soal pengendalian kekuatan, tidak ada peringatan jika seandainya kekuatanku berbelok ke jalan yang salah, tidak ada usaha untuk membuat pikiranku menerima solusi-solusi sehat. Dia cuma Chen yang sangat senang bisa menolong temannya, Park-Chanyeol-Amazing.

Kembalikan Chen ke normal. Kembalikan Chen ke normal, batinku komat-kamit, aku mencoba fokus sekeras dan sekuat mungkin.

"Nah," aku berkedip, membuka mata. "Sekarang, apa kau masih mencintaiku?"

"Tentu saja! Kau adalah teman terbaikku! Cinta sejati yang tak tergantikan."

Sial.

"Tutup mulutmu, rumput liar!" bentak Kris dari belakang.

Baik aku maupun Chen tidak ada yang mau repot-repot menoleh. Lagipula julukan Kris untuk Chen kedengaran payah sekali.

"Yeah, tapi kadang-kadang kau merasa terganggu karena tindakanku, benar kan?" tanyaku masih berusaha meyakinkan.

Chen geleng-geleng. "Aku tidak mengerti mengapa aku harus merasa terganggu oleh tindakanmu? Kau terlalu hebat, Chan. Aku berjanji akan meningkatkan level diriku. Aku janji. Kau akan melihat betapa layaknya aku bisa terus berada di sisimu. Aku akan jadi teman terbaik sepanjang masa. Bahkan, teman hidup terbaik jika kau mengizinkanku. Orang yang paling pantas menjadi pendampingmu," cerocosnya mantab.

Aku merinding. Chen makin parah ngawurnya. Kenapa tidak ada yang berhasil? Kemana perginya kekuatanku?

"TUTUP MULUT BAUMU!" teriak Kris. "Hanya aku yang pantas jadi pendamping hidupnya!"

Oh, Tuhan. Tolong keluarkan aku dari dunia ini.

"Chanyeol, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupku tanpa kehadiranmu," ungkap Chen yang membuat isi perutku terombang-ambing dasyat. Bukan karena terharu, tapi karena geli.

Celaka besar. Aku tidak bisa hidup bersama teman yang setiap hari kerjanya memuntahkan halaman-halaman puisi ke depan wajahku. Omongan Chen semakin diluar kendali. Ini harus segera dihentikan. Secepatnya!

"Chen, dengar," kataku sembari menggenggam tangannya lebih erat sampai Kris sesak napas. Masa bodoh. Kris urusan belakangan. Dia bisa menunggu, aku harus membereskan yang satu ini dulu. Kukerahkan seluruh tenagaku untuk melempar getaran ke mata Chen. "Aku tidak sesempurna seperti yang kau bayangkan. Oke? Aku bahkan bukan jenis teman yang selalu baik sepanjang waktu. Aku seringkali bersikap seenaknya. Kau ingat? Aku pernah melakukan kesalahan, sering, aku juga pernah mengabaikanmu dan lebih memilih Jinyoung sehingga kau merasa kecewa dan membenciku."

Chen terdiam, berkedip beberapa kali, lalu cepat-cepat menepis tanganku. "Yang benar saja," katanya angkuh sambil melipat tangan di dada. "Kau memang bukan teman yang baik. Ugh. Lagipula ngapain aku berdiri di halaman rumahmu?"

"Hah?" aku melongo kaget.

Chen mendesis seolah aku baru saja menjilati muntahan seseorang. "Kau tidak dengar ya?" tandasnya lebih sinis dari para anggota pemandu sorak milik Jinyoung. "Ngapain aku berdiri di halaman rumah orang menyebalkan sepertimu?"

Ya ampun. Tidak. Jangan lagi! Aku tidak menarik sihirnya, aku malah membaliknya! Chen bukannya sadar, dia malah bersikap memusuhi. Dia benci padaku. Mungkin melebihi siapapun yang pernah dia kenal.

"Chen, kau tidak benar-benar berpikir aku menyebalkan, iya kan?" ucapku kelabakan panik. "Kita sudah bersahabat sejak kecil. Kau tidak boleh begini. Kau tidak boleh berubah jadi orang asing lagi," bujukku. "Kita berteman. Aku bisa memperbaikinya. Aku bisa mengubahmu. Tolong diam dulu." Kupegangi kedua pundaknya. Berusaha mengirim mantra penyembuh dalam jenis apapun lewat tatapan mata. "Chen, kau temanku, kau tidak membenciku. Kau—"

"Pergi sana!" Chen mendorongku. Dia lari terbirit-birit keluar dari pekarangan. "Tolong!"

Kris menahan punggungku sebelum bokong nistaku sempat mencium tanah. "Chanyeol, baby, kau baik-baik saja, honey?" dia mengusap lembut ujung daguku. "Biarkan si pengganggu itu pergi. Kau masih punya aku, sayang. Aku seratus kali lebih baik darinya."

Chen berlari menyebrangi jalan utama perumahan, melambai-lambaikan tangan menyetop taksi yang lewat. "Pak," katanya super keras. "Tolong bawa saya jauh-jauh dari orang itu."

Si sopir menatap ke arahku dengan alis terangkat, lalu menelusuri wajah penuh pemujaan Kris yang menatapku terlalu berlebihan. "Memangnya kalian kenapa? Terlibat cinta segitiga, heh?" ledeknya sambil tertawa terbahak-bahak, merasa leluconnya lucu bukan main.

Chen membuka pintu penumpang. Pelototannya lebih mirip orang gila paranoid yang trauma. "Bawa jauh-jauh dari orang paling menjijikkan di sana itu. Entah kenapa saya tadi mau repot-repot menginjak rumput di halamannya. Pak, ayo jalan!"

Usai pintu terbanting menutup, taksi kuning melaju dengan kecepatan ugal-ugalan.

"Kris," Kutarik kerah bajunya. Bukan waktunya untuk merasa berbunga-bunga. "Naik ke mobilmu. Cepat. Jangan biarkan Chen lolos."

"Tapi kenapa?" Kris tampak siap menangis.

Aku melompat ke dalam mobil tanpa bertele-tele. "Pokoknya jalan saja."

"Kenapaaaa?"

Aku menyipitkan mata hingga tinggal segaris, memang sih kelihatan agak kejam. "Masih belum jelas? Chen itu temanku. Jalankan mobil sialan ini sebelum kubuang cincin lamaranmu."

Kris menganga shock. Hah. Puas sekali rasanya. Cowok yang pernah membuat perasaanku kacau balau berminggu-minggu sekarang berlutut tak berdaya, menggigil karena sangat takut kehilanganku. Anggap saja ini balas dendam kecil-kecilan. Kendali berada di tanganku sepenuhnya.

"Ayolah, Kris!" desakku melotot semena-mena. "Kuhitung sampai tiga! Satu, dua, dua setengah..."

"Oke." Kris buru-buru sadar kemudian melompat duduk di belakang kemudi. "Ingat, aku bersedia melakukan ini demi kau. Bukan demi dia."

Ya, ya terserahlah.

.

.

.

.

Aku terkejut saat taksi kuning yang ditumpangi Chen ternyata berbelok ke parkiran mall dan perlahan-lahan berhenti. Mall ini tidak asing. Bukankah ini mall yang tadi kami datangi? Mau apa dia?

"Kris, berhenti," perintahku spontan menarik-narik sejumput kain di lengan bajunya. "Berhenti, kita parkir di sini. Aku harus mengejar Chen."

Kris menampakkan raut wajah teramat sangat terluka. "Jadi begitu ya, kau lebih memilih mengejar cowok yang jelas-jelas lebih pendek darimu dan berencana membuang cincinku."

Astaga. Aku memutar mata. Benar-benar tidak punya waktu untuk meladeni episode sinetron ini. "Kris, bukan saatnya bertengkar, nanti saja kita bicara lagi." Kubuka pintu di sampingku tanpa menunggu cowok itu buka mulut.

"Chen!" panggilku sambil berlari melintasi parkiran. "Chen! Tunggu! Heei!"

"Lihat saja!" balas Chen tidak mau berhenti. "Akan kubuat anak-anak di sekolah sadar betapa jahat dan menjijikkannya kamu!"

Bilang apa tadi? Dia tidak sedang bercanda, ya kan?

"Chen," kedua kakiku mendadak terpaku di lantai, telapak tanganku mendadak berkeringat dingin. "Chen, berhenti! Mau apa kau?"

Tapi dia tidak mau mendengar, dia terus berlari kesetanan ke arah pintu masuk. Gawat. Chen bakal mengacau. Pasti. Bagaimana jika dia berlari ke ruang informasi dan mengumumkan ke seluruh pengunjung mall bahwa aku keturunan iblis?

"Tolongg!" Chen berteriak dan berlari ke arah satpam.

"Hei, bocah." Security itu mendekati Chen dengan tampang tidak berselera. "Kenapa teriak-teriak? Apa ada masalah?"

"Dia!" telunjuk Chen menudingku. "Dia-lah masalahnya! Anda harus segera memanggil polisi sebelum terlambat. Tangkap dan penjarakan dia! Dia berbahaya!"

Si satpam menatap Chen kebingungan, lalu menatapku, menatap Chen lagi, kemudian menatapku. "Berbahaya? Dia tampak aman-aman saja menurutku. Apa dia mencuri ponselmu? Dia itu rekanmu, kan? Kalian para bocah berniat mengerjaiku. Jujur?" tuduh bapak itu. Sepertinya dia tipe-tipe orang dewasa paruh baya yang sangat anti-pengunjung remaja. Terlebih yang suka berteriak-teriak, mengutil barang, menipu, buang kertas pembungkus keripik sembarangan sambil cekikikan. Kalau aku tidak salah, satpam itu mengira Chen salah satunya.

Chen tercekat sakit hati karena dikira bercanda. "Aku berusaha memperingatkanmu, ini bukan main-main."

Si satpam merokok acuh tak acuh. "Yah, di mataku kalian adalah para penipu kecil yang sedang main-main." Lalu dia menudingkan rokoknya ke depan hidung Chen. "Ini pasti semacam permainan adu keberanian. Semacam lelucon konyol? Aku tahu kalian kadang-kadang bisa brengsek sekali."

"Dia berbahaya!" tanda Chen ngotot.

Satpam itu menghela napas, "Temanmu kelihatan tidak bermasalah. Sekarang bisakah kau pulang dan kerja PR-mu? Biarkan aku merokok dengan tenang. Ya ampun, ini minggu pemotongan gaji. Ditambah kau datang berteriak-teriak mengganggu jam istirahatku."

"Jangan tertipu oleh penampilan!" pekiknya. "Dia itu iblis!"

Tuh kan...

Kubilang juga apa.

"Ha-ha," komentarku bersikap tenang layaknya orang paling waras, hanya untuk menunjukkan betapa tidak masuk akalnya Chen. Diam-diam kubalas dia dengan pelototan: tega-sekali-kau-berbuat-begini-padaku. "Dia memang hobi bercanda, Pak. Aku bukan iblis."

"Oke sori, dia bukan iblis, tapi putranya." Ralat Chen super menyebalkan. "Waspadalah, anak itu mungkin akan menyulap Anda menjadi salah satu pelayan istana di neraka."

"Aku bukan iblis ataupun putranya," kubantah omongan Chen disertai gelengan kepala kuat-kuat.

Si satpam menggaruk jidat dengan gemas. "Sudah kubilang cukup main-mainnya. Kalian punya telinga apa tidak sih? Apa kalian tidak punya kerjaan? Kalau kalian berniat mengacau di dalam sana, sebaiknya angkat kaki dari mall ini sekarang juga, atau biar aku bicara dengan orangtua kalian. Ini sudah keterlaluan namanya!"

"Baiklah," jawab Chen kesal. "Jangan salahkan saya jika Anda kena kutuk." Chen misah-misuh sambil berderap menjauh.

Chen berjalan melewatiku, berhenti sebentar untuk memberiku satu tatapan tajam selama tiga detik. Tiga detik paling mendebarkan. Yang segera dia potong dengan kembali berjalan menjauhi pelataran parkir. Menjauhiku.

Aku tidak punya pilihan selain mengejarnya. Chen tidak boleh lolos tanpa disadarkan. Aku sudah melakukan dua contoh kegagalan dengan Ayah dan Ibuku yang kini berkeliaran sesuka hati di dalam mall, melakukan apapun yang hanya para pengunjung dan Tuhan yang tahu. Aku tidak bisa membiarkan kegagalan yang sama bersarang dalam diri sahabatku.

"Tunggu," tahanku. "Chen!"

Untung dia pelari yang super duper buruk, jadi mudah saja menyamai langkah kakinya.

"Aku bakal teriak," dia mengancam. "Jika kau berani mendekat satu langkah. Aku tidak akan segan-segan berteriak."

'Hei," Tatapanku melembut. "Aku tidak mau menyakitimu. Aku cuma ingin segalanya kembali ke normal."

"Ini normal," katanya dingin.

"Tidak," sanggahku. "Ini tidak normal. Kita biasanya berteman. Kita biasanya nongkrong bareng. Kita sebelumnya baik-baik saja. Kau ingat? Apa kau sadar kenapa kau membenciku?" Aku sebenarnya ingin mendekati dia, merangkulnya atau apa, tapi aku masih takut diteriaki. "Kau tidak bisa keluyuran sambil membenciku tanpa alasan. Aku tidak akan membiarkanmu."

"Kenapa tidak?" Chen mendengus. "Aku bukan membencimu tanpa alasan." Dia mulai menghitung kesalahanku dengan jari-jarinya. "Pertama, kau sering menyalahgunakan kekuatanmu, kau pernah melakukannya untuk mempermalukanku saat pentas drama, kedua kau berbahaya, ketiga kau pernah membuangku demi popularitas dan pertemanan palsumu dengan Jinyoung, keempat kau egois, dan kelima kau sering membuatku kelihatan tolol di muka umum dan menularkan sisi tololmu sehingga aku tampak sama-sama tidak bergunanya. Selesai." Dia tersenyum kalem.

Benar-benar sulit dipercaya!

Oke. Chen mungkin benar. Aku sungguh teman yang buruk. Aku berhutang banyak padanya. Jika masalah ini selesai, aku berjanji akan lebih patuh dan tunduk pada semua petuahnya. "Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu," ungkapku jujur. "Tidak secara sengaja. Tidak pernah."

"Omong kosong."

"Chen, aku minta maaf, itu tidak akan terjadi lagi," ucapku. Dan memang benar. Aku bersumpah akan memperbaiki segalanya. Dimulai dari sahabatku.

Dia menyipitkan mata. "Kenapa aku harus mempercayaimu?"

"Karena kita berteman!" pekikku putus asa.

Chen mendengus.

"Karena kau tahu rahasiaku. Aku tidak bisa membiarkanmu berkeliling dan memberitahu semua orang. Berjanjilah untuk tidak melakukannya, setelah itu aku akan pergi jauh-jauh."

Chen gigit bibir, agak gusar.

"Kumohon," pintaku memelas.

"Oke." Dia memutuskan. "Tapi aku bersedia melakukan ini supaya tidak perlu berurusan lagi denganmu."

Oh, tidaktidaktidaktidaktidak. Kenapa dia jadi seenaknya begini?! "Chen..." tanpa sadar aku menggerakkan kakiku melangkah. "Aku tidak sungguh-sungguh pergi jauh. Yang tadi itu—"

"Park Chanyeol." Nada suaranya bagai tusukan jarum di kulitku. "Kau baru saja melanggar janjimu sendiri."

"Bukan begitu! Aku tidak sengaja," buru-buru aku melompat mundur satu jengkal. " Lihat, sekarang aku mundur. Puas?"

Terlambat. Chen keburu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seorang cowok yang kuyakini Minseok hyung. "Dia ada di parkiran bersamaku, kalian perlu tahu siapa Park Chanyeol sebenarnya."

Lautan malapetaka sedang menghampiriku. Sekumpulan orang yang kuyakini para penggemarku lari-lari antusias menuju ke arah kami.

"Hei itu dia Park Chanyeol!" seorang cewek yang tidak kukenal meneriakiku.

"Astaga!" sahut cewek remaja lain histeris. "Aku mencintai dia!"

"Minggir!" teriak Jinyoung menerobos kerumunan paling depan. "Kalian tidak bisa minggir? Aku ini teman sekelasnya!"

"Sebaiknya kau yang minggir sebelum menyesal." Chen mewanti-wanti dengan raut muka seram.

"Apa sih masalahmu?" jawab Jinyoung lebih nyolot. "Oke, selain fakta bahwa kau pecundang nomor satu di parkiran ini. Harusnya pecundang sepertimu berjingkrak naik-turun karena dapat kesempatan emas berdiri di sebelah Chanyeol," seloroh Jinyoung. Ini pasti momen terbalik paling lucu sepanjang masa. Dimana sahabatku berbalik menghinaku dan musuhku berbalik melindungiku. Jinyoung mungkin diliputi perasaan baru begitu melihat wajahku, tapi begitu melihat Chen, sikapnya sama. Murni penghinaan.

"Tidak sudi," balas Chen. "Dia mirip kau."

"Menurutmu aku mirip Chanyeol?" Jinyoung tampak benar-benar terkejut. Berdiri lebih tegap dari biasanya. "Bahkan pecundang fenomenal bisa melihat kemiripan kami yang merupakan suatu anugrah terindah," ucapnya bangga setengah mati dengan dagu terangkat.

"Ya ampun," Chen menggeleng-geleng, hampir merasa kasihan, entah padaku atau pikiran buta Jinyoung yang berada di bawah pengaruh kekuatanku. "Dia tidak hebat. Dia makhluk mengerikan." Chen berpaling menatap Kris yang entah sejak kapan telah berdiri dalam kerumunan. "Hei, sobat, keputusanmu benar untuk mencampakkan dia sebelumnya. Kuharap kau bersedia melakukan itu lagi."

Sejengkel apapun aku pada tindak-tanduk Chen saat ini, aku lebih membenci kekuatanku sendiri yang lebih sering mendatangkan kesialan daripada keuntungan.

"Chanyeol bukan makhluk mengerikan," Kris maju membelaku, dia bersusah-payah menerobos kerumunan yang melingkar di sekelilingku. "Dia itu ya... Chanyeol. Dia itu uhm..." Kris kelihatan agak bingung selama sedetik, kukira dia akan mundur dan menyerah, tapi dia malah merunduk dalam-dalam untuk memberi ciuman tepat di bibir. Di depan semua mata!

"Tidak adil!" pekik Luhan ge. "Aku juga ingin mencium dia!" Ini Xi Luhan. Cowok cina yang sama yang saat ini sedang mengencani Baekhyun. Dan bahkan pacarnya tidak merasa tersinggung saat Luhan berteriak menggebu-gebu ingin menciumku.

Gila, huh?

Aku buru-buru menarik diri dari tubuh Kris, bergeser sedikit. Jangan salah paham. Aku suka Kris menciumku. Aku juga suka dia karena berani tampil demi aku. Hanya saja... aku tidak merasa seperti mencium Kris. Lebih seperti mencium pemeran pengganti Kris. Pemeran pengganti seperti di film-film action. Dan sutradara sengaja menggunakannya demi keselamatan si aktor asli yang bibirnya tidak ingin terkontaminasi air liur. Ya, dia mungkin mirip Kris dan bersuara seperti Kris, tapi bukan benar-benar Kris asli.

Pasti bingung kan? Silahkan hina aku dan logika kacau-ku.

Chen menggeliat keluar dari tengah-tengah kelompok, ekspresi kesal kentara di wajahnya. "Hyung," dia menoleh ke pacarku. "Semoga kedua matamu segera terbuka."

Kris hanya mengangkat sebelah alis sebagai respon tidak setuju.

Ruang kosong yang ditinggalkan Chen langsung terisi oleh tubuh-tubuh lain yang ingin berdiri lebih dekat denganku. Dan mereka mulai menyerocos tentang banyak hal. Mulai dari Kris, Jinyoung, Minseok, Yixing, dan anak-anak yang kukenali dari sekolah, termasuk orang asing, pokoknya semua. Mereka punya banyak pemikiran dan rayuan hebat untuk dikatakan. Tapi pujian mereka tidak membuatku merasa berarti. Aku malah semakin canggung dan merasa buruk rupa. Terlebih setelah memandangi punggung Chen berbalik meninggalkanku. Aku hanya ingin semua kekonyolan ini segera berakhir. Jadi orang paling dipuja-puja itu tidak enak. Serius. Aku bingung bagaimana para seleb papan atas tahan melakukannya bertahun-tahun, seumur hidup mereka.

Hanya saja, aku tidak sanggup membereskan semua masalahku sendirian. Terdengar sangat pengecut sekali ya? Siapa yang berbuat siapa yang ingin bunuh diri. Kalau kalian tanya siapa, sudah pasti jawabannya: AKU.

Pokoknya aku butuh bantuan, seseorang yang lebih jago, lebih orisinil, yang bisa mengendalikan kekuatan tanpa menimbulkan bencana lain kepada seluruh umat manusia. Aku butuh Gongchan. Secara tidak langsung dia yang menyebabkan semua ini. Kalau saja dia tidak bersikap gegabah dan melompat ke tengah-tengah bak superhero kesiangan, aku tidak bakalan punya fans club—yang lebih pantas disebut kumpulan orang-orang berhati robot.

Gongchan bisa menyelesaikan segalanya. Aku yakin. Masalah mantra cinta, sahabatku yang berbalik membenciku setengah hidup, orangtuaku yang berubah jadi remaja. Kalau ada iblis terkuat di dunia setelah ayahku, pasti semua jari akan menunjuk ke arahnya. He-lo. Demi apa ayahku mengutus dia jadi mata-mata kepercayaan kalau dia sama cerobohnya seperti aku?

Aku harus menemukan Gongchan. Dimana dia bersembunyi? Dasar iblis tak bertanggung jawab! Seenaknya membuatku terlilit arus masalah, seenaknya menguntitku kemana-mana, sekarang malah sok pura-pura tidak kenal. Harusnya dia yang membereskan ini semua. Bisa dibilang, sembilan puluh persen kekacauan ini adalah ulahnya. Niatku tulus. Aku cuma mau menjodohkan Tao dengan salah satu adiknya yang bawel itu. Tidak ada salahnya menggunakan bakat alami untuk membantu sesama. Iya kan?

"Apa diantara kalian ada yang lihat Gongchan?" Aku bertanya pada Luhan ge dan kawan-kawannya.

"Siapa yang peduli?" jawab Ken. "Kaulah satu-satunya yang pantas dilihat."

Satu Chen saja sudah pusing, ini ada puluhan Chen yang mengelilingiku. Setelah aku sukses bikin Chen asli muak, aku masih harus menghadapi Chen-Chen lain yang kemampuan gombalnya sederajat, alias sama-sama bikin perut mulas. Lama-lama aku bisa mendekam di rumah sakit jiwa kalau begini. Hanya saja, para petugasnya mungkin akan berlomba-lomba menggodaku dan membangun kamar khusus dengan taburan bunga mawar di seprainya dan lilin-lilin mengelilingi kasur, alih-alih mengurungku di bangsal pasien.

"Guys, ayolah," desakku pada kumpulan orang bermata sayu itu. "Aku kepingin tahu. Gongchan masih berkeliaran di sini, tidak? Jawab saja."

"Ya, kayaknya sih begitu," jawab Baro. "Kami semua agak frustasi waktu kau kabur, Gongchan membawa perempuan-perempuan entah siapa itu ke toilet perempuan di lantai basement. Tapi kami semua tidak peduli pada Gongchan," Baro menggenggam tanganku. "Kami hanya peduli padamu, Chanyeol. Aku benar-benar peduli padamu."

Kris mendorong punggung Baro, lalu menggantikan posisinya. "Kenapa kau ingin tau dimana keberadaan bedebah itu? Kau lebih memilih dia ketimbang pacarmu sendiri?"

"Tidak kok." Memang benar! Aku mencari Gongchan bukan karena tiba-tiba muncul perasaan suka. Aku mencari dia saat ini karena dia lebih berguna ketimbang Kris. Jangan salah paham, memang itulah fakta.

"Kita datang kemari untuk mencari dia, jadi sebaiknya kita mulai dari sekarang."

Kris menggeram marah. "Tadi katanya mau cari Chen, sekarang mau cari Gongchan! Apa gunanya aku di sisimu?"

Ya ampun.

Astaga.

Tolong.

Aku mau muntah.

"Kris..." Aku menghela napas. Capek, letih, lesu, loyo, pusing, mual, lelah. "Sudah kubilang jangan sekarang."

"Chanyeol," Kris menatap mataku. Oh perfect. Sekarang apalagi? "Tatap aku, aku bisa menuliskan lagu-lagu yang indah untukmu. Ada milyaran lagu yang bisa kukarang untukmu. Jadi apa yang kau harapkan dari Gongchan?"

"Aku juga bisa menulis lagu untukmu, hyung!" teriak Taehyung, entah dia berdiri di sudut mana, terlalu banyak kepala orang disini. Tapi aku yakin yang barusan itu suaranya.

"Aku juga bisa menulis lagu-lagu pendek! Tidak terlalu bagus sih, tapi aku bisa..." kata seorang pria yang bahkan tidak kukenali.

"Apalagi aku," Luhan ge maju dengan percaya diri, kemudian menginjak keras-keras sepatu Kris sampai cowok itu refleks geser badan karena sibuk mengipasi kakinya yang sakit. "Aku bisa menulis lagu lebih bagus dari siapapun."

Bagus. Sekarang mereka malah bersaing ingin membuatkan lagu. Untuk apa tumpukan lagu pemujaan kalau orangtuaku tidak mengakui aku sebagai anak kandung mereka?!

"Baru begitu saja sombong," Jinyoung sengaja menabrakkan pundaknya ke pundak Luhan ge, "Aku ini jenius musik, kalian tahu? Chanyeol mau lagu jenis apa saja bisa kuberikan. Bahkan lebih dari lagu. Dia boleh mendapatkan hatiku."

Idih. Siapa yang mau?

Selanjutnya yang kutahu, mulut semua orang mulai berlomba-lomba ngomong ngawur tentang "mengarang lagu", bahkan kasir swalayan juga berjanji padaku akan ikut les musik sepulangnya dari sini supaya bisa menciptakan sebuah lagu.

Sialan! Aku jadi tidak bisa berbicara empat mata saja dengan Kris kalau semua orang ikut berpartisipasi nimbrung.

Tidak ada informasi yang bisa kutarik dari percakapan tidak bermutu di sekelilingku kecuali dari Baro tadi. Benarkah Gongchan dan adik-adiknya bersembunyi di toilet basement? Kira-kira mereka masih ada disana tidak ya? Aku penasaran.

Rencana berikutnya yang harus kulakukan adalah menyingkirkan jauh-jauh pasukan pecinta diriku.

"Oke guys, aku senang sekali kalian mau meluangkan waktu ngobrol bersamaku," Aku memberi pengumuman ke mereka, "Tapi sekarang aku butuh waktu untuk sendiri. Me-time. Kalian paham? Jadi kenapa kalian tidak duduk-duduk dulu di food court selama sejam, nanti aku nyusul."

"Tidak boleh," Jinyoung berkacak pinggang, memelototiku. "Nanti kau kabur lagi! Terlalu beresiko!"

"Aku janji aku tidak bakal kabur," Diam-diam aku menyilangkan dua jari di belakang punggung.

"Lihat! Dia menyilangkan jari di belakang punggung!" teriak seorang cowok pengadu.

SIAPA PULAK ITU?!

"Maaf, hyung... jangan benci kami, tapi kami tidak mau melihatmu pergi, kami tidak tega kehilanganmu. Kami semua mencintaimu." kata Jungkook, kekasih Taehyung, yang juga tidak kuketahui keberadaannya, aku tahu dia berdiri di antara kerumunan dan itu suaranya. Tapi dimana sosoknya?

"Ya, ya, aku juga mencintai kalian," jawabku seadanya.

"Barusan dia memutar mata!"

"Kau tidak iklas!?" serang suara lain.

Ya Dewi Kwam Im…

"Okay, guys, aku senang sekali kalian semua ada disini untuk menyatakan kasih sayang kalian dari lubuk hati yang paling dalam," Dalam hati aku muntah saat mengatakannya. "Tapi aku benar-benar sangat butuh waktu sendirian sementara ini. Jadi kenapa kita tidak masuk saja dan ketemuan di food court sejam lagi?"

"No way!" kata Jinyoung. "Gimana kalau kau kabur? Kita tidak mau ambil resiko."

"Janji deh aku tidak bakal kabur," Alih-alih menyilangkan jari, kuberi dia dua jari. Aku berbisik ke Kris, tak lupa menatap pakai ekspresi 'Kasihanilah Aku' paling terbaik. "Hyung, aku harus menyingkir dari orang-orang ini. Bantu aku ya?"

"Apa katanya?" tanya Baekhyun kepo.

Kris menggandeng tanganku. "Apa yang dia katakan," ujarnya ke penonton. "Adalah dia butuh perlakuan spesial dari kita. Royal Treatment."

Yixing mulai membungkuk rendah-rendah.

"Bukan, bukan begitu," kata Kris. "Yang kumaksud adalah dia butuh penyambutan spesial di pintu masuk mall."

"Itu benar sekali," Sandeul mengangguk setuju. "Mereka memainkan lagu selamat datang khusus saat Ratu Inggris tiba di ruangan. Kayaknya aku punya lagu penyambutan di ponselku."

"Ide bagus," sahut Kris. "Ada radio pengumuman di ruang penjaga, letakkan musiknya di stereo dan suruh semua orang tunggu di dalam. Biar Chanyeol bisa berjalan masuk sembari musiknya diputar. Aku janji dia tak bakal kabur," Aku melirik dia menyimpan satu tangan di belakang punggung, kedua jarinya terjalin. "Aku yang akan menjaga dia supaya tidak hilang."

Tao dan beberapa kepala lainnya mengangguk super bersemangat, seolah-olah mereka dapat misi besar untuk sekali seumur hidup.

"Jangan khawatir, Yang Mulia," Yixing membungkuk hormat lagi. "Aku akan memastikan semua orang memberimu respek yang sepadan. Ayo, guys. Jangan buat Yang Mulia menunggu, kita harus menyiapkan pintu masuk spesial untuknya." Dia menggerakkan orang-orang itu menjauhi parkiran.

"Masuk lewat pintu belakang," Kris berbisik padaku sambil mengerling. "Aku akan memberitahu orang-orang kau sudah duluan ke food court. Mereka akan mencarimu ke sana. Lalu kita bisa mencari kedua orangtuamu di bagian lainnya."

"Perfect," Kukecup bibirnya sekilas. Kris mesam-mesem kegirangan. Keren sekali punya pacar sepintar dia, walaupun sedang dibawah pengaruh mantra. Berkat dia aku lolos dari kepungan massa anarkis.

Aku dan Kris menyelinap lewat pintu lainnya di area belakang, pintu terpisah untuk karyawan mall, para penghuninya tak tampak di sudut manapun, barangkali mereka sedang direpotkan oleh para pengunjung gila yang berani membakar seluruh mall bila keinginannya tidak dituruti.

Mengapa sih orang-orang ini tidak kembali ke keadaan semula? Kembali ke keadaan dimana mereka berpikir aku bukan siapa-siapa. Lebih baik mereka membenciku sekalian.

Tidak. Ide barusan terlalu bodoh. Bisa semakin ruwet misi pencarian ini jika dikelilingi ratusan orang-orang sirik seperti Jinyoung. Sebelum dia dikuasai mantra.

"Sampai disini kau harus beraksi sendiri," katanya tampak menyesal. "Aku harus menjauhkan orang-orang itu dari jangkauanmu. Minimal, bikin perhatian mereka teralih."

"Oh ya? Dan gimana caramu melakukannya?" tanyaku penasaran.

Dia tersenyum. "Aku bisa pinjam gitar dari toko musik. Kubuat mereka sibuk mendengarku bernyanyi."

"Oke." Aku masih kurang yakin. "Dengan alasan?"

"Kubilang saja itu perintah darimu. Hibur 'PCY-Friends', dengan begitu mereka makin simpati terhadapmu."

PCY-Friends? Hah! Boleh juga nama fans clubnya.

Aku memberinya senyum bangga dan penuh rasa terima kasih. "Aku mencintaimu, hyung. Sungguh."

Kris menunduk untuk memberi ciuman balasan di bibir. "Aku juga." Setelah berkata begitu, dia buru-buru pergi dari ruang staff. "I LOVE YOU, BABY!"

Aku terkekeh kecil. Dasar.

"Menikmati jadi bintang ternama?"

Aku menoleh kaget. Gongchan duduk di counter, ongkang-ongkang kaki, kelihatan luar biasa keren dan menyebalkan sekaligus.

"Kau!"

"Apa?" balasnya dengan tampang tak berdosa. "Kau kangen padaku?"

Bukan waktunya untuk mengomel dan menyumpahi bocah jejadian itu. Aku butuh dia sebagai kaki tanganku sekarang juga. Semoga saja dia sudi jadi kaki tangan anak teman baiknya. Aku ini anak teman baiknya kan? Partner merangkap atasannya di Neraka. Dia harus mau. "Darimana saja kau?! Aku butuh bantuanmu."

Gongchan merengut, berlagak sakit hati. "Lucu ya. Dari kemarin kau kelihatan jijik kalau aku dekat-dekat, sekarang kau baru membutuhkanku? Wow. Baik hati sekali."

"Pleaseeee. Aku butuh bantuanmu. Aku butuh orang yang lebih jago untuk memulihkan keadaan." Hancurlah harga diriku, memohon kepada antek-antek iblis.

"Setelah percobaan yang kau lakukan terhadap adik-adikku? Tanpa izin sama sekali?" Nadanya meninggi, kemudian dia melambai cuek. "Itu bukan urusanku. Aku tidak ingin terlibat."

Kenapa semua iblis harus menyebalkan sih?

"Tapi aku menyesal, aku minta maaf, mana kutahu kalau mereka adik-adikmu? Habis tidak ada lambang anggota, tato setan, atau tanduk."

"Kami ini iblis, Chanyeol. Bukan geng pemuda ugal-ugalan yang hobi balapan liar. Jelas saja tidak ada tato atau lambang anggota! Dasar bodoh! Plus, kami sedang dalam penyamaran. Apa yang kau harapkan dari iblis yang sedang menyamar?" katanya ketus.

"Oke, aku minta maaf," potongku, tanpa sadar berlutut di lantai. Bukan hanya hancur, harga diriku berubah jadi kepingan sampah tak berarti. "Sungguh sangat menyesal. Sori..."

"Itu masalahmu, Chanyeol. Kau yang memulai semua kekacauan, kau yang harus menyelesaikan masalahmu sendiri."

KEJAM SEKALI DIA!

"Serius?!" pekikku histeris. "Kau tidak mau membantu anak temanmu?!"

"Aku hanya dapat perintah mengawasi diam-diam dari ayahmu—Raja Kai, bukan membereskan seluruh ampas yang kau ciptakan. Lagipula cuma dia yang berhak menyuruh-nyuruhku." jawabnya datar. Keras kepala dan susah diganggu gugat. Terlalu kaku. Cih.

"Kukira kau iblis yang menyenangkan," sindirku. "Rupanya kau sama saja dengan babu-babu lainnya. Membosankan."

Dia menyipitkan mata, kelihatan tersinggung. "Apa maksudmu?"

"Ya, kau membosankan!" tudingku. "Berpura-pura menggangguku, kukira kau teman yang asik, rupanya itu semua cuma akting."

"Inilah keahlian kami," katanya malah bangga. "Sama seperti kau."

"Aku punya hati. Aku tidak kaku atau tunduk terhadap sistem tirani. Neraka kayaknya sama saja dengan jaman purbakala. Kaku. Ketinggalan jaman. Antek-anteknya mirip robot yang cuma bergerak kalau disuruh," sindirku.

Yang bikin kaget, Gongchan malah tertawa terbahak-bahak. "Wah, wah, wah, lihat anak kecil ini. Mengkritisi Neraka seenaknya seolah-olah kau yang berkuasa. Aku penasaran gimana tanggapan Raja Kai mendengar komentar putra jeniusnya barusan. Fine, aku akan membantu memulihkan ingatan para penggemar gilamu."

Aku bersiap-siap loncat memeluknya. "Termasuk Chen?"

"Termasuk anak kecil itu."

Aku susah payah menerjang angin untuk memeluknya, Gongchan malah menghilang, sehingga aku cuma memeluk ruang hampa di atas meja counter. "Hei!" protesku.

"Pelukannya nanti saja," Sekarang dia duduk bersila diatas meja panjang di belakang sana. Namja itu tersenyum. Senyum khas jahilnya yang biasa. "Kalau kau sudah berhasil mengembalikan Raja Kai."

"Tapi—" aku hendak protes lagi. "Kau tidak mengerti! Aku tidak tahu cara mengembalikannya. Dia belum mengajariku ilmu penambah umur."

Dia angkat satu tangan. "Aku tak mau dengar alasanmu yang bertele-tele. Sudah cukup berbaik hati aku mau disuruh-suruh bocah merepotkan."

"Yes, sir. Terima kasih banyak," ucapku agak tidak rela.

"Sana pergilah! Selamatkan dunia atau apa. Awas kalau kau coba-coba ganggu adik-adikku lagi!" ancamnya. Kukira bola matanya akan berubah jadi api menyala-nyala, ternyata dia hanya melayang lalu pecah seperti gelembung udara. Well, cara lenyap yang klise. Dasar membosankan.

Keluar dari ruangan, keadaan mall kembali ke sediakala, tidak ada rombongan sasaeng fans. Aku terlalu senang hingga tidak peduli kondisi semua korban yang kusihir. Mereka mungkin sedang kebingungan di dekat pintu masuk utama. Celingukan tolol. Bertanya-tanya mengapa ada karpet merah membentang di pintu masuk dan lagu penyambutan Ratu Inggris diputar dari pengeras suara.

Huaaaaaaaaaaaa… aku menghirup oksigen segar serakus mungkin.

Ini baru namanya udara kebebasan.

"Chanyeol!" Chen melambai dari jauh. Berjalan cepat menghampiriku. "Daritadi kucari kau kemana-mana. Jadi tidak berburu cewek?"

Berburu cewek?

Oh, barangkali yang dimaksud Gongchan pemulihan ingatan tadi adalah mengembalikan keadaan mereka seperti sebelum aku melempar mantra cinta ke langit-langit.

Dia merogoh saku celananya, kaget menemukan kotak cincin warna hitam. "Apa ini?"

"Itu barusan kau beli untuk Xiumin hyung, ingat?"

Dia kelihatan skeptis. Sudah jelas. Temannya keturunan iblis. Bagaimana dia bisa percaya semudah itu? Belajar dari pengalaman. "Chanyeol, kekacauan apalagi yang kau lakukan kali ini? Kau memantraiku supaya cepat-cepat melamar Xiumin hyung? Gila! Lulus SMA saja belum!"

Sayangnya Chen versi romantis tidak berpikir sampai lulus SMA. Tawaku meledak, kutepuk-tepuk pundaknya. "Tidak usah dipikirkan. Cerita lengkapnya menyusul, kekacauan kali ini lebih parah dari bayanganmu. Pertama-tama, kau harus membantuku mencari orangtuaku."

"Kenapa mereka? Apa yang terjadi? Kenapa ada kotak cincin di kantong celanaku?" Dia membuka penutupnya, sekilas tadi kukira bola mata itu akan pecah saking lebarnya dia melotot. Tampangnya horror. "Apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau menyuruhku beli cincin?! Tidak masuk akal! Mana Xiumin hyung? Dimana Kris hyung?"

Gigiku gemeretak nahan emosi. "Bukan aku yang menyuruhmu, oke? Kau sendiri yang tergerak membelinya. Saingan dengan Kris hyung. Kau menelponku tiba-tiba bilang—" Niatku untuk memberitahunya sekarang jadi batal.

"HAH?!" Dia makin terguncang. "Saingan dengan Kris…? Kenapa aku saingan beli cincin dengan Kris hyung? Sebenarnya siapa yang akan kulamar? Beneran Xiumin hyung, kan?"

Kasihan sekali Chen. Dia mungkin akan mengiris urat nadinya kalau aku cerita dia hendak melamarku kira-kira sejam yang lalu.

Menghadapi orang amnesia jauh lebih menguras tenaga ketimbang mengajak antek-antek iblis ngobrol.

Sebuah ledakan keras meledak di sisi lain mal, diikuti oleh jeritan. Puluhan suara jeritan!

Aku mengikuti suara teriakan, dan, untuk kesekian kalinya hari itu, aku berlari melintasi mal. Aku membayangkan Kai melakukan hal-hal buruk, menyuruh orang-orang menyembahnya sementara punggung mereka terbakar, merantai mereka ke tembok, menyuruh mereka membersihkan lantai dengan lidah. Tapi bukan itu yang kutemukan. Justru sebaliknya. Orang-orang menjerit karena gembira. Ratusan uang kertas melayang turun dari lubang di langit-langit.

Hujan duit?!

Semua pembelanja berjuang untuk meraih lembar demi lembar uang sebanyak mungkin. Berjibaku. Tarik-tarikan. Berdiri tepat di tengah-tengah lantai yang diselimuti uang tunai ada Kai dan ibu punk-ku. Saling berpelukan.

Memang dia bergaya punk. Mulai dari baju sampai celana pensil ketat. Poni rambut jadulnya itu mendukung.

Kudatangi mereka. "Apa-apaan ini?"

Kai memalingkan wajah, sementara ibuku terkikik. "Seperti yang kau lihat," dia memainkan kancing atas ayahku dengan gaya manja yang bikin mulas. "Dia bikin orang-orang serakah ini sibuk sehingga tidak sempat menggangguku. Bukan begitu, honey?"

Hueek. Honey.

"Tidak kok," jawab Kai. Tapi ada rona merah di pipinya yang mendukung ucapan ibuku. "Habis mereka terlalu berisik. Sampai bikin pintu penyambutan, jadi aku beri mereka sesuatu yang lebih. Uang."

"Aku masih mau nonton pemuda tinggi itu bernyanyi," rengek ibuku. "Kau payah!"

Pemuda tinggi?

Mataku terpaku ke satu sosok yang sedang memunguti duit dengan penuh ambisi. Ada gitar di punggungnya. Dia menendang bokong kakek tua yang berjongkok tak jauh dari jangkauannya.

"Minggir, Pak! Bagian sini jatahku!"

KRIS?!

Sial! Kai menyulap Kris jadi cowok berotak kosong mata duitan! Tidak akan kumaafkan!

"Kau tidak butuh manusia rendahan." tukas Kai, jelas cemburu. "Lihat." Dia melambaikan tangan seperti biasa, dan semua pengunjung yang sibuk berkelahi membeku bagai patung. "Bukankah ini jauh lebih baik? Tenang dan damai. Seluruh mall ini adalah milikmu, sayang. Kau bisa beli apapun yang kau inginkan. Kau bebas minta apapun dariku. Apa pemuda pirang sombong tadi bisa mengabulkan impianmu? Kurasa tidak."

"Segalanya?" Mama menyeringai lebar. "Aku boleh minta segalanya?"

"Segalanya," Ayahku meng-amini.

"Termasuk menyingkirkan para pengganggu?"

"Yap."

"Gimana dengan dia?" Mama menunjukku. "Kenapa anak mencurigakan ini disini? Bukankah sudah kau suruh jaga rumah?"

"Akan kukirim dia kembali ke rumah," jawabnya angkuh.

"JANGAN!" pekikku langsung menyambar tangannya supaya berhenti melambai. "Plis, jangan! Aku ini—" Aku hampir lupa mereka tidak ingat siapa aku. "Aku ini saudaramu. Aku cuma mau nongkrong sebentar bareng kalian," pintaku memelas.

Kai melirik ibuku.

"Baiklah," ucap Mama. "Selama dia tidak menghalangi jalan. Semua yang ada di mall ini milikku."

Kai mengangguk yakin. "Aku janji dia tidak akan mengganggu."

Dia menjentikkan tangan ke udara. Lagi-lagi mereka menghilang! Aku tidak boleh menyerah. Ini harus segera diakhiri.

"Hei, anak kecil. Ayah dan ibumu ke arah sana." Gongchan muncul secara ajaib di belakangku, melayang beberapa senti dari tanah. Telunjuknya terarah ke gerai baju dan produk kosmetik paling megah di mall itu.

"Oke, sip. Makasih sudah membantu," Kuberi dia dua jempol.

Gongchan hanya mengangguk singkat. Setelah itu dia ikut-ikutan menyatu dengan udara luas.

Aku melewati patung-patung manusia sambil menatap miris Kris hyung. Gara-gara aku dia mengalami satu hari paling buruk sepanjang sejarah. Masalah cowok itu belakangan, sekarang ada yang lebih penting. Masa depanku dipertaruhkan. Jika aku gagal 'menjinakkan' mereka, bisa-bisa aku terlahir kembali jadi keturunan iblis jahat dari orangtua yang otaknya kurang beres.

Aku berlari memasuki bagian sepatu dan dompet, mengikuti lorong rak-rak baju dan sepatu yang berliku-liku, akhirnya bertemu mereka di konter parfum. Langkah kakiku terhenti, mengendap pelan-pelan, menunduk untuk curi-curi dengar percakapan mereka.

'Gimana menurutmu?" Namja kulit pucat itu menyemprotkan parfum ke atas. "Suka baunya?"

"Lumayan," sahut Kai.

"Lumayan?" Dia tampak kurang puas. "Aku mau dengar komentar yang lebih dari lumayan! Kalau itu yang ini gimana?" Mama memilih parfum yang berbeda. Yang satu ini dia semprot ke pergelangan tangannya lalu didekatkan ke hidung Kai.

"Mmm," Kai mengangguk.

"Itu dia," Sehun menampakkan senyum puas. "Aku penasaran, apa si ganteng akan menyukainya juga." Cowok manis itu melirik Kai sekilas, berusaha memanas-manasinya lagi.

"Kenapa kau peduli sekali padanya?" Kai mencampakkan semua belanjaan pujaan hatinya ke meja konter. "Aku punya kekuatan! Apa bagusnya bocah kelebihan tinggi badan itu? Dia biasa-biasa saja."

"Biasa-biasa saja?" Sehun mendengus. "Semua orang di mall ini terhanyut melihat permainan gitarnya. Kau tidak dengar? Dia punya suara yang jantan sekali. Menurutku dia luar biasa tampan, charming, dan punya 'kekuatan'. Pesonanya sungguh luar biasa. Berapa orang di mall ini yang terpesona melihatmu?" omongannya betul-betul bikin kuping sakit. Aku tidak heran ayahku tersulut api.

"Kau ingin tahu berapa orang?" katanya angkuh. "Lihat saja! Aku akan mengabulkan keinginan semua orang di mall ini, membuat mereka tunduk dan memohon kepadaku. Lalu setiap jiwa mereka akan jadi milikku. Kau akan lihat siapa yang lebih kuat dan mempesona!"

Aku tercekat. Oh Tuhan, perasaanku tidak enak.

Kuikuti dia keluar dari gerai. Kai melambaikan tangannya ke angkasa. Menciptakan papan bertuliskan MAKE A WISH yang terbuat dari api. Mengembalikan semua patung yang beku jadi manusia. "Kemari dan mendekatlah, manusia!" panggilnya lantang. "Ini kesempatan kalian. Aku akan mengabulkan semua keinginan. Apa saja!"

Secara pribadi, kalau ada pemuda aneh yang membuat papan tanda dari api lalu berteriak di muka umum akan mengabulkan keinginan, aku pasti lari terbirit-birit.

Rupanya aku termasuk dalam kaum minoritas, bahkan Baro dan Sandeul yang rangkingnya sepuluh besar berturut-turut cukup lugu untuk mempercayai tipu daya ayahku. Antrian panjang manusia mulai terbentuk, dari ujung ke ujung. Semua orang ingin impiannya jadi kenyataan. Tanpa tahu jiwa mereka jadi taruhan.

Aku terlalu shock untuk mencerna pemandangan di depan sana. Otak bodohku malah membeku. Pria pertama dari barisan maju, tampak antusias bernegosiasi dengan ayahku.

"Aku kepingin menang lotre berhadiah keliling dunia. Bisa tidak kau kabulkan itu?"

"Tidak masalah," jawabnya enteng. Kai pasang lagak sok jago. Menurut dia sih kecil saja. Jangankan keliling dunia, tur keliling Neraka sekalian pasti dia kabulkan. "Tanda tangani kertas ini."

Pria itu mengambil pulpen di genggaman Kai, dia bahkan tidak membaca apa isi perjanjian di kertas. Aku yakin di bagian paling bawah, tercetak dalam font 8, ada kalimat: Serahkan jiwamu.

"Besok, saat bangun tidur kau langsung jadi mega-jutawan."

"Waw, gampang sekali ternyata." Pria itu tersenyum lebar. "Aku tidak perlu keluar uang sepeser pun."

Orang itu keliru! Dia justru sedang rugi besar! RUGI BESAR!

"Next," kata Kai, mempersilahkan korban berikutnya maju.

Yixing berdiri di depan ayahku. Senyum sumringah mengembang di bibirnya.

Jangan dia juga! Ada apa sih dengan orang-orang ini?

"Sebutkan keinginan terpendammu," tanya Kai. "Apa ada orang yang kau sukai? Aha! Pasti ada. Apa dia keinginan terbesarmu? Cukup sebutkan dan tanda tangani, dia akan langsung jatuh ke pelukanmu."

TIDAAAAAAAAAAK! APA-APAAN?!

"Ya, aku harap Chanyeol mencintaiku."

"TIDAAAK!" jeritan itu akhirnya terwujud juga di bibirku, bukan hanya dalam hati. "Tunggu! Jangan dikabulkan! Yixing, kumohon," kudekati dia. "Yixing! Tarik kembali harapanmu, kau bercanda ya? Aku sudah punya Kris hyung."

"Tanda tangani kertas ini, keinginanmu jadi nyata." Kai menampilkan smirk licik.

Hebat. Ini baru namanya ayah yang suportif.

"Kai, Kai, bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin kukatakan. Penting. Sekarang juga." Tadinya ingin kupengang pundaknya, tapi aku takut tubuhku tercincang-cincang dalam sekali lambaian tangan.

"Apa?" bentaknya.

"Jangan lakukan itu, aku ini adikmu, kau tidak mau adikmu berada di bawah pengaruh sihir kan?"

"Sekali terucap ya pasti kukabulkan," jawabnya tanpa ampun.

"Aku punya kekuatan juga! Kalau aku sampai tergila-gila pada Yixing, siapa yang tahu tindakan nekat apa yang bakal kulakukan ke… anak tak berdosa ini? Aku bisa melatih dia supaya merebut posisimu di Neraka. Apa itu yang kau mau? Kekuasaanmu direbut manusia macam Yixing?" hasutku.

"Kau dan cinta monyetmu ini bukan ancaman. Lagipula, pakai kekuatan pun, dia tidak bakalan menang melawanku."

Kami berdua melirik ke Yixing. Kedua tangannya menutupi muka. Tampangnya pucat. Kakinya gemetaran. Sebentar lagi dia nyaris terompol-ompol di celana. Tuduhan Kai tepat 100%.

"Mungkin dia tidak akan menang, tapi ngapain kau pusing-pusing menambah masalah dan musuh? Bukankah kau iblis yang sibuk? Daripada menghadapiku dan Yixing, calon musuhmu kelak, mending kau abaikan saja permintaannya, ya? ya? Ayolaaah… lakukan ini demi saudaramu," pintaku berusaha membujuknya.

"Oke," jawab Kai menggerung muak. "Aku melakukan ini supaya tidak perlu berurusan lagi denganmu. Kau sungguh merepotkan dan bawel."

Wah….

Kata-katanya tadi…

Agak… menyakitkan…

Kai ayahku yang kemarin tidak pernah keberatan berada di dekatku, memberiku wejangan panjang lebar, dia malah memohon agar aku kembali ke kehidupannya.

"Baiklah, Nak." Fokus Kai kembali ke Yixing. "Buat keinginan lain. Yang tidak ada hubungannya dengan dia."

"Umm…" Yixing menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan mataku. "Gimana kalau… aku tidak perlu pergi ke sekolah selama-lamanya? Dan aku mau dibayar jutaan won hanya dengan bermain game."

"No problem," Kai menjentikkan jari dan kertas lain muncul di tangannya. "Tanda tangan tepat di dalam kotak."

Kuhalangi langkahnya. "Yixing. Jangan. Plis."

Kai melotot seram, aku tidak menggubris pelototannya. Ini Yixing. Walaupun dia konyol, dan aku tidak sudi mengencani dia demi suatu alasan, bukan berarti aku tidak peduli. Dia tetap seorang teman.

"Tapi aku lebih senang tinggal di rumah daripada ke sekolah," Yixing bersungut-sungut. "Aku suka main game."

"Yah," kataku. "Kau juga bilang kau suka padaku. Iya kan? Kalau kau benar-benar suka, dengarkan aku, jangan tanda tangan di kertas itu. Kalau kau benar-benar peduli, pergi sana dan tinggal saja di rumah. Just… go home!"

Wajah Yixing semakin memerah, dia melirik ayahku dan reaksi khawatirku bergantian. Ada perasaan malu dan kecewa yang terlihat jelas.

"Jangan dengarkan dia, Yixing." bujuk ayahku tak mau kalah. "Dia bahkan tidak suka kau. Dia suka Kris. Dia tidak peduli denganmu. Untuk apa kau turuti omongannya? Apa untungnya bagimu?"

"Itu tidak benar, Yixing. Kita ini teman baik. Aku peduli padamu, kumohon, pulanglah sekarang juga." Kupegang kedua pundaknya. Kutatap dia lekat-lekat. "Pulanglah. Oke?"

Mulutnya sudah terbuka, hendak membantah.

"Plis," aku memohon. "Plisss…"

Dia mengangguk senang. "Oke…" lalu menyerahkan kertas dan pulpen, balik badan, melangkah pergi.

Thank God.

Satu jiwa terselamatkan. Masih ada ribuan lagi yang menunggu.

.

.

.

TBC—

.

.

~Coming Soon Chapter—"Teens Parents in Action (Part III)"—Coming Soon Chapter~

A/N: Hai haiiii :*

It's me back agaaainn! Cuma sampai segini yaaa (T_T). Maaaaf. Inipun juga lanjut ngetik dalam rangka lagi seneng, soalnya tadi pas buka pengumuman, nama saya lolos! Setelah 2 bulan nunggu. Yang berarti saya bakal lanjut kuliah lagi bulan September. Ya, semoga selama nganggur nunggu semester baru dimulai saya punya waktu dan mood buat ngetik. Maaf ya teman-teman, habis sempet ilang mood dan bingung gimana mau ngelanjutinnya. Ini aja saya sengaja bagi jadi tiga part lagi. Part berikutnya nyusul. ASAP.

But at least, I hope you guys like it. And don't forget to leave a comment. Seperti biasa :D.

See you next chapter.