Summary: "Eh? Are? Apa yang kulakukan?" jawab Slaine sembari bertanya kepada Inaho. dia menatap kosong jarinya yang masih terus mengeluarkan darah.

Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama

Genre: Romance, YAOI ALLERT

Rate: T

Pairing: Inaho x Slaine

Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan

DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~

CAUSE ITS YOU

(chap 13)

'Trust Me'

Kaca-kaca jendela bergemeretak tertiup hembusan angin kencang di luar sana. Ranting-ranting panjang dari pohon oak sesekali mengetuk kaca, batangnya yang kecil nyaris terlihat seperti jari jemari kurus kering dari seorang penyihir yang siap mengutuk siapapun di malam badai bersalju. Slaine berdiri tepat di salah satu kata jendela berbingkai kayu yang terbuat dari kayu pohon pinus. Pohon yang hampir bisa ditemukan di setiap jengkal area pegunungan itu. Menyibak horden yang menutup untuk melihat keadaan di luar sana. Hanya cahaya redup yang sesekali terlihat hampir padam dari cerobong-cerobong asap dari cottage-cottage kecil di dekat sana yang bisa ditangkap oleh mata hijau kebiruan milik Slaine. Badai salju membuat listrik padam, menjadikan satu-satunya sumber cahaya dan penghangat adalah cerobong asap yang memang ada di setiap unit cottage khas resort wisata ski.

Suara patahan dari kayu-kayu bakar yang hampir menyelesaikan tugasnya dan siap menjadi abu sesekali memenuhi ruangan itu. Di depan cerobong itu, memegang besi pengorek arang, Inaho duduk memeluk lututnya. Hampir seluruh tubuhnya –kecuali wajah dan tangan terjulurnya– terbungkus selimut tebal berwarna putih. Di sampingnya segelas coklat susu panas terlihat mengepulkan asapnya. Manik merah miliknya tidak berkedip memandang Slaine yang masih berdiri di depan jendela yang hanya memakai sweater rajutan berwarna merah.

"Bat" ucapnya lirih, membuat orang yang tadi disebutnya Bat itu berlari kecil kepadanya. Meninggalkan pemandangan apapun yang tadi dilihatnya di luar sana. Dengan cepat Inaho merentangkan tangannya saat Slaine sudah berada di dekatnya. Membuat selimut yang sejak tadi menutupinya terjatuh sedikit. Inaho menarik Slaine duduk tepat di depannya, memeluk Slaine dan kembali membungkus tubuh meraka dengan selimut putih itu. Duduk menghadap tepat ke perapian yang apinya masih menyala. Beberapa bunga api terlihat terbang, menjauh dari potongan kayu tempatnya berasal tadi.

"Nee Orenji. Apa kau tau?"

"Hmm?"

"Cerita tentang wanita salju yang terkenal di penginapan ini?"

"Memangnya ada?"

"HAAAAAAH? Jadi kau tidak tau?"

Inaho menggeleng, dagunya menempel di bahu Slaine. Kedua tangannya memegang tangan Slaine yang terasa sedikit lebih dingin darinya, efek terlalu lama berdiri di dekat jendela. Wajah Slaine memerah setiap kali merasakan nafas Inaho berhembus tepat di tengkuknya. Aroma mint menguar dari tubuh Inaho, memasuki indra pembau Slaine.

"Aku.. pernah bertemu dengannya orenji" Slaine menelan ludahnya, wajahnya berubah serius menatap bara dari kayu-kayu di perapian. "Waktu itu, aku pernah ke tempat ini. waktu ayah dan ibuku masih hidup. Kalau tidak salah saat itu aku baru kelas 3 SD. Kakiku terkilir, aku hanya bisa bersandar hampir seperempat hari di sebuah pohon pinus. Hari semakin sore, waktu itu aku bertemu dengannya. Tubuhnya lebih kecil dariku. Rambutnya berwarna coklat dan di kepang dua. Dia sangat manis, mungkin dialah cinta pertamaku" Slaine berhenti sejenak. Memandang Inaho yang masih menempelkan dagunya tepat di bahu kanannya. Wajah itu terlihat berubah sedikit serius. "Dengan tubuhnya yang lebih kecil dariku, anak perempuan itu menggendongku sampai ke bangunan utama resort."

"Hanya karna itu kau blang anak itu wanita salju? Sungguh bodoh Bat"

"Aku belum selesai bercerita Orenji! Huuuh. Kebiasaanmu tidak mendengarkan perkataan orang lain itu buruk sekali!" Slaine memajukan bibirnya tidak senang. Beberapa kali mengambil nafas, pria bersurai pirang pucat itu memutuskan melanjutkan ceritanya yang tadi sempat terhenti karna Inaho. "Dia mengantarku sampai lobby. Aku duduk di sofa ruang tunggu, menunggu kedua orang tuaku di zona publik itu. Tidak beberapa lama mereka berdua akhirnya datang dan membawaku ke kamar. Dan tidak beberapa lama setelah aku beristirahat, badai saljupun datang. Sama seperti malam ini, listrik juga mati. Besoknya aku bertanya kepada receptionist tentang keluarga yang membawa anak perempuan dengan ciri-ciri seperti itu. Namun, tidak ada keluarga yang membawa anak dengan ciri-ciri seperti itu." Slaine berhenti bercerita. "Ba-bagaimana? Seram bukan? Untung saja wanita salju itu baik. Jika dia tidak ada, aku pasti sekarang tidak ada di sini karna sudah mati beku waktu itu." Slaine sekali lagi menoleh ke arah Inaho.

"DIA BUKAN WANITA SALJU" jawab Inaho sedikit berteriak, dengan cepat melepaskan pelukannya dari Slaine dan berdiri sedikit mundur beberapa langkah dari perapian.

"Haaaah? Kalau bukan wanita salju terus apa? Rambutnya memang tidak berwarna putih seperti yang ada di legenda-legenda."

"Entah dia mungkin anak yang sedang berlibur saja" Inaho kembali menenangkan diri. Kembali duduk di tempatnya tadi, dan kembali menarik Slaine untuk duduk bersamanya.

"A-atau ja-jangan-jangan dia hantu gentanyangan yah Orenji?" Bulu kuduk Slaine sedikit berdiri. Membayangankan dirinya yang pernah digendong hantu membuatnya sedikit takut.

"HANTU ITU TIDAK ADA! MEREKA TIDAK NYATA!" Sekali lagi suara Inaho meninggi

"KENAPA KAU BETERIAK SEPERTI ITU? KAU TAKUT HANTU YAH ORENJI?"

"AKU TIDAK TAKUT! Aku tidak berteriak, hanya meninggikan sedikit suaraku supaya kau sadar kalau hantu itu tidak ada"

"KAU INI MEMANG SOK TAU SEPERTI BIASA ORENJI! AKU YANG MELIHATNYA! ATAU JANGAN-JANGAN KAU TIDAK PERCAYA PADAKU?" Slaine berbalik. Menatap Inaho dalam, selimut masih membungkus tubuh mereka.

"Aku percaya. Aku sangat percaya padamu, makanya kubilang dia bukan wanita salju dan bukan hantu"

"HAAAAH?"

"Itu aku Bat" jawab Inaho nyaris dengan suara hampir tidak terdengar

"HAAAH?"

"Itu aku Bat! Anak perempuan waktu itu aku Bat" aku Inaho.

Slaine menutup mulutnya tidak percaya. "buughhh" wajah pria itu memerah menahan tawanya, matanya menutup menciptakan dua buah garis setengah lingkaran di wajah itu. "jadi.. haha.. anak perempuan cantik itu.. haha itu.. itu kau orenji? Hahaha" satu tangannya menempel di dahinya tidak percaya. Satu tangannya memegang perutnya yang terasa sedikit sakit menahan tawa. "Siapa sangka kau bisa jadi secantik itu Orenji hahaha"

Cottage itu dipenuhi suara tawa Slaine. Tepat di hadapannya, Inaho menatap Slaine datar. Di balik wajah datarnya pria bersurai coklat itu bahagia, akhirnya bisa menikmati lagi tawa menenangkan milik Slaine. Inaho menelungkupkan tangannya tepat di kedua pipi Slaine, membuat si pirang berhenti tertawa. Manik merah bertemu dengan manik hijau kebiruan, suara di sekitar mereka –patahan dari kayu bakar, ketukan dari ranting-ranting di luar jendela dan suara angin yang datang bersama badai salju– tidak lagi terdengar oleh mereka berdua yang sudah tenggelam dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri.

~O~O~O~O~O~O~O~

"Wake in Loneliness! Loneliness!

Falling inside your story walking after you! after you!

I will share my time"

Samar-samar suara senandung itu masuk ke telinga Inaho yang baru saja terbangun. Dia melirik ke sampingnya, membuatnya sedikit panik saat tidak menemukan sosok Slaine di balik selimut yang sama dengannya yang baru saja disibaknya. Wajahnya yang biasa datar itu terlihat sedikit tersenyum saat dia menajamkan pendengarannya dan kembali menangkap suara cempreng Slaine meskipun terdengar samar-samar. Inaho memakai pakaiannya, menyusuri perlahan lantai yang terbuat dari kayu itu. Pelan, sangat pelan agar setiap langkahnya tidak terdengar oleh Slaine yang sekarang sedang berada di dapur.

" I don't know why

But you saved me.

Wherever you came from feel you inside me.

maybe it's too late

I've decided to live only for you

I will follow you! follow you!

If I die for you

I will lead you! lead you!

For the brighter future

Never fade away! fade away!

keep you close to me! close to me!"

Layaknya seorang penyanyi yang tengah mengadakan konser besar, Slaine terlihat begitu menikmati dan menghayati kata demi kata lirik yang keluar dari mulutnya. Sebuah wortel berukuran seperti mikrofom menempel tepat di bibir bawahnya. Matanya terpejam tanda dia sangat menghayati lagu yang dia lantunkan dengan suaranya yang sedikit sumbang dan salah nada. Sedangkan satu tangannya bergerak ke sana ke sini, terkadang ke depan terkadang ke sampingnya dan terkadang memegang dadanya sendiri. Inaho yang tidak bisa lagi menahan dirinya, akhirnya ke tempat Slaine. Memeluk pria bersurai kuning itu dari belakang, membuat wortel yang tadi dipegangnya jatuh terguling ke lantai karna kaget.

"O-orenji? Apa yang kau lakukan?" Slaine berusaha menahan malunya mati-matian. Wajahnya seketika memerah. Malu karna Inaho mendapatinya sedang bernyanyi seperti orang bodoh. Dan malu saat kepalanya dipenuhi bayangan-bayangan yang mereka lakukan semalam. Suara Inaho yang terdengar jauh lebih dalam dan misterius saat menyebut namanya. Suhu tubuh Inaho yang terasa jauh lebih hangat daripada biasa. Sentuhan-sentuhan lembut Inaho di setiap mili kulit Slaine. Dan aroma mint yang menguar dari tubuh Inaho. "Bi-bisa kau lepaskan? A-aku se-sedang membuat sarapan" Wajah Slaine sempurna memerah, lebih merah dari tumpukan tomat yang ada di meja dapur.

"Ku kira kau meninggalkanku lagi Bat" jawab Inaho asal, menempelkan hidungnya di tengkuk Slaine. Sepersekian detik kesadarannya seperti hilang saat aroma tubuh Slaine masuk ke indra penciumannya.

"Haaaaaaaah? Aku hanya meninggalkamu ke dapur untuk membuat sarapan untuk kita!"

"Tetap saja, seharusnya kau memberitahuku dulu"

"Kau ini posesif sekali Orenji"

"Hanya kepadamu Bat"

"Ba..baka!" Slaine melanjutkan aktivitasnya memotong-motong bahan makanan.

"Bat…"

"Hmmmm"

"Kau melupakan sesuatu"

"Haaaaah?"

"Ucapan selamat pagi untukku" Inaho dengan cepat menyambar bibir Slaine. Hanya kecupan singkat kurang dari tiga detik. Inaho kembali ke kamar untuk membersihkan diri, sementara itu Slaine kembali melanjutkan kegiatan masak-memasaknya.

Jejak-jejak dari dua pasang sepatu boots salju terlihat berjalan menjauh dari bangunan cottage paling ujung yang ada di penginapan itu. Jejak-jejak itu menuju ke arah timur, tempat untuk menaiki kereta gantung yang akan membawa para wisatawan naik ke puncak tertinggi tempat wisata itu. Hari masih terlalu pagi, sebagian besar para pelancong masih terlelap di balik selimut tebal mereka. Mungkin kelelahan setelah melewati badai salju semalam sehingga tidak ada antrian untuk menaiki fasilitas itu. Mata hijau kebiruan Slaine terlihat berbinar saat petugas kereta gantung membukakan pintu agar mereka –Inaho dan Slaine– bisa memasuki fasilitas itu. Bagaimanapun ini adalah kali pertama baginya menaiki wahana itu. Dulu saat dia dan kedua orang tuanya mengunjungi tempat itu, dia masih terlalu kecil untuk bisa memakai fasilitas itu. Dan siapa sangka saat pertama dia akan menaikinya, dia akan bersama Inaho, tepat di sampingnya memegang tangannya lembut.

Butuh waktu tempu sekitar lima belas menit agar mereka bisa sampai ke puncak tertinggi tempat wisata itu, setidaknya begitulah yang dikatakan oleh petugas tadi. Slaine mengayun-ayunkan kakinya di udara bergantian kiri dan kanan. Menatap pucuk tertinggi dari pohon-pohon pinus yang mendominasi tempat itu. Atap-atap dari bangunan tempat penginapan terlihat berwarna putih, salju tebal sisa badai semalam masih terlihat menutupinya. Membuatnya nyaris seperti tumpukan busa lembut. Beberapa warna hijau dari dedaunan pinus terlihat tidak mau mengalah menyumbangkan warnanya. Membuatnya nyaris terlihat seperti cake bertingkat, hijau-putih dan putih-hijau yang sama-sama tidak mau mengalah. Beberapa puluh meter di bawah mereka anak-anak kecil terlihat asik membuat boneka salju, ada juga yang saling melepar bola salju. Slaine menoleh ke belakang, dengan cepat menundukkan wajahnya yang tiba-tiba memerah melihat pemandangan dua kereta di belakang mereka. Inaho yang sedikit penasaran, akhirnya berbalik ke arah belakang. Terlihat sepasang kekasih tengah asik berciuman jauh di atas tanah.

"Bat"

"YA!" Slaine menegakkan punggungnya kaget. Wajahnya masih meninggalkan semburat-semburat merah, namun sudah tidak semerah beberapa detik yang lalu.

Inaho menarik tubuh yang berada di sampingnya itu agar lebih mendekat ke arahnya. Menangkupkan kedua tangannya tepat di pipi Slaine. Manik mereka yang berbeda warna kembali bertemu. Nyaris di detik yang sama keduanya menutup mata, melepaskan semua pada insting mereka untuk apa yang terjadi selanjutnya. Kebutuhan akan oksigen jugalah yang membuat mereka berdua saling melepas ciuman yang tidak terlalu menuntut itu. Mereka berdua sama-sama tertawa masih dengan posisi saling menatap.

~O~O~O~O~O~O~O~

Tatapan kosong Slaine dan bulir-bulir bening dari manik hijau kebiruannya jatuh begitu saja, membasahi jari jemarinya yang tengah memotong-motong sayuran. Rumah bernuansa orange itu terlihat lebih sepi, sejak tadi tidak ada percakapan yang terjadi di antara Inaho dan Slaine padahal mereka berada di dalam ruang yang sama. Inaho melipat kedua lengannya di dada, bersandar di mulut pintu dapur memmperhatikan setiap gerak gerik kecil. Slaine sendiri bukannya tidak tau atau tidak menyadari keberadaan Inaho. Hanya saja, si pirang itu tidak tau harus berbicara apa kepada Inaho. Fikirannya masih dipenuhi berbagai macam hal. Dia bahkan tidak sadar tengah mengiris tangannya sendiri sampai Inaho melempar jauh-jauh pisau yang tengah digunakannya itu. Darahnya mengalir, beberapa tetes jatuh tepat di atas papan pemotong yang sejak tadi dia gunakan.

"Bat, kau. Apa yag kau lakukan?" tanya Inaho panik setelah mengambil dan melempar pisau yang dipegang Slaine tadi

"Eh? Are? Apa yang kulakukan?" jawab Slaine sembari bertanya kepada Inaho. dia menatap kosong jarinya yang masih terus mengeluarkan darah. "Orenji, apa yang kau lakukan?" tanya Slaine saat menyadari Inaho telah menghisap jarinya untuk menghentikan pendarahannya.

"Bukan aku yang melakukannya Bat. Kumohon percayalah padaku. Aku tidak pernah menyentuhnya."

Manik merah itu melihat dengan seksama jawaban dari lembaran yang tengah di pegangnya. Di sampingnya, Slaine tengah tertidur lelap. Menggunakan paha Inaho sebagai bantalan, kacamata baca berframe merah masih terpasang di wajahnya. Sementara itu buku novel bergenre fiksi fantasi menutup hampir sebagian wajahnya, tepat di hidungnya. Selimut yang tadi digunakannya untuk menghangatkan kaki sedikit melorot hingga menyentuh lantai. Wajah orang itu terlihat sangat damai, membuat Inaho merasa jauh lebih damai hanya dengan menatap wajah terlelap Slaine.

Pandangan si surai coklat berubah tidak senang saat melihat sosok kakaknya tengah berdiri di ambang pintu. Wajah wanita yang beberapa tahun lebih tua dari Inaho itu tampak sedikit pucat. Tangan kanannya memegang amplop berukuran A3 berwarna putih yang terbuat dari bahan karton dengan tebal sekitar dua milimeter. Wanita itu tidak jadi bersuara saat melihat Inaho menempelkan jari telunjukknya tepat di bibir. Memberi tanda kepada kakaknya sendiri agar tidak bersuara yang bisa mengganggu tidur Slaine. Yuki mengangguk mengerti, mendekati adiknya sepelan mungkin agar tidak menyebabkan bunyi dan memberikan amplop yang dipegangnya kepada Inaho.

Dua lembar gambar yang di dominasi warna hitam dipegang Inaho dengan sedikit gemetar. Gambar yang hampir sama dengan yang ditunjukkan Inko kepadanya satu jam sebelum kecelakaan yang mereka alami. Gambar yang menunjukkan cikal bakal sebuah kehidupan baru. Dengan perasaan takut dan gemetar Inaho membalik amplop itu, mulutnya sedikit menganga membaca nama yang tertera di sana 'Asseylum V. Alussia' .Inaho melirik Slaine yang masih tertidur pulas di pangkuannya.

~TBC~

OWARI

Huuuaaaaaa gomenasai karna keterlambatan updatenya.. dan terima kasih selalu memberi review, dukungan dan lain-lain. Sekali lagi terima kasih banyak. Maaf kalau chapter ini kesannya maksa /guling-guling/ see yaaaaaaaaa jaaaaa