.
.
.
Title: Tredici
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Tiga belas tahun. Tiga belas tanggal penting. Tiga belas pengalaman pertama Byakuran dan Mukuro Rokudou. 10069.
Prompt(s): Figura.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, kemungkinan typo.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
.
.
.
.: 6 Juni, usia 23 tahun :.
~ First Completion ~
.
.
.
Sebuah Rolls Royce berhenti berhenti di lapangan parkir kediaman Gesso. Dari dalamnya, keluar keluarga kecil yang terdiri-dari orang-orang berwajah datar—maksudnya, keluarga Hibari. Dan keluarga Hibari di sini maksudnya adalah Hibari Kyouya beserta istri dan putrinya, Nagi dan Nagisa. Mereka berjalan bersama ke arah pintu masuk, namun sang kepala keluarga berhenti saat jarak di antara dirinya dan pintu masuk tinggal 1 meter dan hal itu membuat Nagi, yang menggedong putri mereka, berhenti juga.
"Hibari-san?"
Hibari tidak langsung menjawab. Ia diam menatap cahaya yang berasal dari dalam rumah selama beberapa saat sebelum berkata, "Kau dan Nagisa saja yang masuk."
Nagi mengerjap beberapa kali. "Dan kau?"
"Tidur di mobil."
"... Onii-sama pasti ingin kau menyapanya."
"Dan aku tidak ingin menyapanya. Atau teman-temannya."
Nagi baru akan membujuknya lagi ketika seseorang bersuara.
"Kalian sedang apa? Cepatlah masuk."
Hibari dan Nagi mendongak, melihat siapa yang berbicara. Ternyata Chikusa. Pria berkacamata itu berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Chikusa," Nagi tersenyum lebar, senang karena bisa bertemu dengan salah satu teman sejak kecilnya. Ia bergerak mendekati pria itu dengan berhati-hati agar Nagisa tidak merasa terusik. "Apa kabar?"
"Baik." Chikusa menjawab singkat. Ia melirik bayi perempuan di pelukan Nagi selama beberapa detik, sebelum kembali fokus pada sang ibu muda. "Cepat masuk. Pestanya sudah dimulai dan Mukuro-sama mencari kalian."
"Muku?" Nagisa bersuara, tampak sedikit antusias setelah mendengar nama Mukuro.
"Iya. Mukuro-ojisan ada di dalam." Nagi tersenyum tipis, senang karena tampaknya putrinya itu tidak sabaran ingin bertemu abangnya. "Tapi," ia menoleh ke arah Hibari, yang masih diam di tempatnya berdiri, "Otou-chan sepertinya tidak mau masuk karena di dalam ramai."
Hibari melihat Nagisa ikut menoleh ke arahnya. Bayi mungil itu menatap ayahnya seolah memohon agar sang ayah juga ikut ke dalam ruang pesta. Dan, di luar dugaan, tatapan itu cukup untuk membuat Hibari menyerah. Ia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa-apa, berusaha untuk tidak memedulikan tawa tertahan istrinya di belakang.
Entranceway kediaman Gesso malam itu disulap menjadi ruang pesta untuk merayakan ulang tahun Rokudou Mukuro yang ke-25. Ada banyak orang penting yang pastinya adalah rekan bisnis sang tuan rumah. Mereka berbicara satu sama lain, baik itu soal bisnis atau bercanda dan tertawa bersama. Pakaian mereka sama mewahnya dengan dekorasi ruangan tersebut. Mata Hibari terasa sakit melihat mereka yang terlalu memamerkan harta lewat cara mereka berpakaian.
Di antara orang-orang yang membuat mata sakit itu ada juga mereka yang berpakaian sederhana dan tidak merasa gengsi untuk bersikap sesuai jati diri. Sebut saja Ken, yang mengenakan jas hitam di atas kemeja putih dan celana hitam, terlihat sangat santai sementara ia melahap beberapa hidangan pesta. Gaya berpakaian si rambut pirang itu ditiru Zakuro yang tengah mengobrol bersama Bluebell dan Daisy di salah satu sofa yang tersedia.
Hibari mendengus. Setidaknya ada herbivora-herbivora yang tidak akan membuatnya bosan dengan obrolan tentang bisnis.
"Hibari-san? Kemari."
Saking sibuknya memeriksa siapa-siapa saja yang menghadiri pesta itu, Hibari tidak sadar bahwa Chikusa telah berjalan duluan untuk mengantar mereka melewati kumpulan anggota kelompok konglomerat itu. Si kacamata itu membimbing mereka ke tempat Mukuro, pastinya. Karena tidak mau diam berada di tengah-tengah keramaian, Hibari inggih-inggih[1] saja, manut mengikuti Chikusa dan Nagi dari belakang.
Menyibak kerumunan, mereka akhirnya tiba di hadapan Mukuro. Pria itu tidak sendiri. Ada Byakuran di sisinya, seperti sudah sewajarnya. Keduanya sedang duduk di sofa di salah satu sudut ruangan dan berbicara kepada seorang kolega mereka sebelum Chikusa, Nagi, dan Hibari tiba di hadapan mereka.
"Woah," Byakuran seperti biasa nyengir lebar saat melihat Hibari dan Nagi. "Ini dia yang ditunggu-tunggu. Kenapa terlambat, eh?"
"Maaf. Butuh waktu untuk mendandani Nagisa," Nagi tersenyum tipis. Ia melangkah maju lalu sedikit membungkuk, membiarkan Nagisa melihat lebih dekat pamannya. "Nagisa, ini Mukuro-ojisan. Kau ingin bertemu dengannya, 'kan?"
Nagisa, yang berada di pelukan ibunya, mengerjap beberapa kali saat bertemu mata dengan Mukuro. Sebagai seorang bayi, ia tidak terlalu ingat dengan wajah sang paman, namun ia mengerti kalau yang di depannya itu benar pamannya karena, hei, sang paman memiliki wajah yang nyaris sama dengan ibunya!
"Oya, oya," Mukuro tersenyum gemas melihat ekspresi keponakannya itu. "Kau ingin bertemu denganku, Nagisa-chan? Lucu sekali."
"Muku!" Sang bayi bersorak senang. Tangan mungilnya bergerak-gerak, seperti ingin menggapai wajah Mukuro yang begitu dekat dengannya.
Mukuro terkekeh pelan, lalu dengan hati-hati mengambil Nagisa dari pelukan adiknya. Bayi perempuan itu tertawa geli saat diangkat oleh pamannya, membuat Hibari sedikit merengut tak senang.
"Ngomong-ngomong," Byakuran menyela, "bagaimana kalau kita berfoto bersama? Kalian tidak punya foto keluarga secara lengkap begini, 'kan?"
"Ide bagus." Mukuro berhenti mencubit pelan pipi Nagisa dan menoleh ke arah ayah si bayi, yang ekspresi wajahnya semakin masam karena ia akan berfoto bersama—sekali lagi, bersama. "Kau tidak boleh kabur, Tou-chan!"
Hibari mendecak pelan, tapi tidak pergi meninggalkan area tersebut. Bukan karena mematuhi perintah Mukuro, tapi lebih karena ia lagi-lagi ditatap oleh putrinya dan istrinya juga menggandeng lengannya, secara efektif menahannya di sana. Byakuran dan Mukuro tertawa melihat kekalahan Hibari Kyouya, pria yang terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan, sementara Kikyou mendekat ke arah mereka sambil membawa kamera digital.
"Berposelah," titah pria dengan surai hijau pucat itu.
Dengan segera mereka mengambil posisi untuk berpose. Mukuro, yang sedang berulang tahun, tentunya berada di tengah. Ia dibiarkan terus menggendong Nagisa di dalam pelukannya karena Nagisa sendiri tidak ingin melepaskan diri dari sang paman. Byakuran, selaku kekasihnya, berdiri di sampingnya. Di sisinya yang lain adalah Nagi, yang tidak melepaskan gandengannya pada lengan Hibari, yang terus berwajah masam meskipun disuruh tersenyum oleh Kikyou.
"Baiklah... tahan posisi kalian, 1... 2... 3!"
Flash kamera menyala dan gambar tersimpan pada memori. Kikyou mengecek hasilnya, lalu mengacungkan ibu jari untuk menandakan bahwa gambar yang diambil barusan sudah oke. Barulah setelah itu mereka berhenti berpose.
"Jadi," Mukuro, yang telah kembali duduk di sofanya dan kini memangku Nagisa, mendongak menatap adik dan adik iparnya. "Kalian tidak membawa hadiah untukku? Kejam sekali."
"Oh, ya." Nagi menutup mulutnya, sedikit kaget. "Hadiah untukmu tertinggal di jok belakang, Onii-sama. Maaf, akan segera kuambilkan."
Nagi keburu berbalik dan berlari keluar rumah sebelum Mukuro sempat mencegahnya. Hibari juga ikut perg, karena ia yang membawa kunci mobil. Karenanya, kini tinggal Byakuran, Mukuro, dan Nagisa yang berada di sana. Bukan masalah, 'sih.
"Ngomong-ngomong soal hadiah," Byakuran bersandar pada sofa, namun jarinya nakal menusuk-nusuk pipi Nagisa yang kenyal. "Aku baru sadar kemarin kalau kau tidak punya sesuatu yang lain."
Mukuro mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti maksud ucapan Byakuran. Pria yang lebih muda darinya itu nyengir lebar lalu beranjak dari sofa, mengambil sesuatu yang ia letakkan di dekat lampu berdiri. Sesuatu itu sebuah benda berbentuk persegi yang ukurannya lumayan besar, dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna biru dan pita putih-perak.
"Nih. Coba saja buka."
Penasaran, Mukuro mendudukan Nagisa disampingnya agar ia bisa menerima kado dari Byakuran itu. Setelah disentuh, rupanya benda tersebut tidak dimasukkan ke dalam kotak seperti kado-kado lain yang ia terima malam itu. Kertas kadonya juga dengan mudah ia sobek dan dengan segera Mukuro mengetahui apa yang ada di baliknya.
"... Figura?"
"Yep!" Byakuran sudah kembali duduk di sofa dan kini gantian memangku Nagisa. "Sejak pertama aku datang ke apartemenmu sampai kau pindah, lalu beberapa kali aku mendatangi rumahmu, aku tidak pernah melihatmu menyimpan foto dalam figura. Kecuali foto mendiang ibu kandungmu, 'sih."
Mukuro diam saja. Memang benar, ia tidak pernah memberi figura pada foto-foto yang dimilikinya, baik itu foto dirinya sendiri ataupun foto Nagi. Tidak, alasannya bukan karena ia tidak sempat membeli figura atau menganggap memajang figura itu membuang-buang uang dan menghabiskan tempat di dinding, tapi lebih karena foto dalam figura memiliki arti bahwa objek di dalam foto tersebut memiliki arti penting baginya—sesuatu yang ingin ia jaga dan hargai selamanya. Bukan mengatakan Nagi tidak penting juga, 'sih.
Mukuro tidak kunjung memberikan respon apa-apa, maka Byakuran kembali berujar, "Gunakan figura itu untuk memajang foto yang diambil Kikyou tadi. Lalu, aku akan membelikanmu figura lain lagi."
"Untuk apa?"
"Untuk dipasangi fotomu waktu kecil, supaya kau bisa membandingkan dirimu yang masih muda dengan yang sekarang."
Pria dengan surai indigo itu tertawa seraya mengambil alih Nagisa dari pangkuan Byakuran. Tentunya setelah meletakkan figura itu di sisi sofa. "Sebegitu banyaknya aku berubah?"
"Tentu!" Byakuran mengangguk antusias. "Waktu pertama bertemu dulu kau dingin sekali dan mulutmu ketus! Sekarang masih ketus juga, 'sih, tapi tidak sesering dulu. Sekarang kau lebih banyak melempar sarkas. Dulu juga..."
Byakuran terus membeberkan perbedaan Mukuro ketika masih kecil dengan dirinya yang sekarang. Mukuro diam saja, mendengarkan meskipun tidak terlihat serius mendengarkan karena ia bermain dengan Nagisa, yang tampaknya senang menggigiti jari orang—untungnya ia masih seorang bayi yang belum mempunyai gigi, sehingga tidak terasa sakit sama sekali. Selagi seperti itu, ia juga mulai berpikir tentang masa-masa yang telah lalu.
13 tahun telah terlewati semenjak ia pertama kali bertemu Byakuran. Banyak hal yang sudah terjadi, dari yang menyenangkan hingga yang menjengkelkan. Semua hal itu membuatnya sedikit banyak berubah, seperti yang dikatakan Byakuran.
Apakah ia berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk, ia sendiri tidak mengerti.
Yang jelas, semua itu telah membentuknya menjadi orang yang seperti sekarang ini, dan Mukuro tersenyum, menikmati mengingat-ingat apa-apa saja yang sudah terjadi selama 13 tahun bersama Byakuran.
.
.
.
Tamat
.
.
.
Omake!
"Tapi, foto masa kecilku itu..." Mukuro melirik curiga ke arah Byakuran. "... Palingan kau hanya ingin melihat foto diriku sewaktu kecil, sebelum bertemu denganmu, iya, 'kan?"
Byakuran menjawab dengan cengiran lebar. Mukuro memutar bola matanya secara imajinatif.
"Sudah kuduga."
.
.
.
Glosarium:
[1] Inggih: bahasa Jawa yang berarti ia atau setuju. Jadi, 'inggih-inggih saja' berarti 'iya-iya saja'.
.
.
.
Nah! Akhirnya selesai juga fanfic panjang dan berbahasa aneh ini. Maaf bagi yang bosan melihat Tredici di halaman pertama terus.
Terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu untuk mereview: Authorjelek, Zoealya, Yukinaga Ezakiya, Lala Chastela, dan alwayztora! :D Saya cinta kaliaaaann *cium satu-satu* reviewnya penyemangat banget. Makasih banyak ya~
Oh, dan sedikit pemberitahuan. Mungkin mulai Minggu sejumlah besar fanfic saya akan saya pindahkan lalu saya hapus. Tempat pindahnya di akun Livejournal dan Dreamwidth saya. Linknya ada di bio profil saya. Silahkan mampir kalau berkenan.
Terkahir, Buon Compleanno, Mukucoon!
Oke, saya cabut! Dah~!
