Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : SasuFemNaru, one sided SasuSaku, dimensional travel, semi canon
Rating : Mature
Genre : Romance, Drama, Adventure, Family
Selamat Membaca!
ooOoo
Keesokan harinya, Sasuke terbangun dengan sesuatu yang menghantam dagunya dengan cukup keras. Di detik selanjutnya, sebelum ia sempat membuka mata, suara erangan sakit yang diikuti umpatan rendah terdengar. Sosok yang berada dalam rengkuhannya itu bergerak menjauh. Sasuke menyimpulkan demikian ketika merasakan hilangnya sumber kehangatan yang sejak tadi malam meliputinya.
Menyipitkan mata karena sinar matahari yang terasa menusuk retina, Sasuke mendapati seorang wanita berambut merah muda yang sedang duduk dengan salah satu tangan sibuk mengusap mata yang masih setengah terbuka. Rambut pendeknya terlihat berantakan, ia menguap pelan dan segera melayangkan telapak tangannya untuk menutup kuap tersebut.
Sasuke mengerjap, baru menyadari bahwa sosok itu adalah Sakura dan Sakura kelihatan masih mengantuk. Selama enam tahun menikah, Sasuke tidak pernah melihat Sakura dalam kondisi seperti ini. Mereka mungkin memang tidur seranjang dan lain-lain, tapi ia tidak pernah melihat Sakura begitu... begitu tidak terjaga. Sejak dulu, Sakura akan selalu bangun lebih awal darinya. Sasuke tidak akan mendapati keberadaannya begitu membuka mata.
Tapi, sekarang--selama beberapa hari terakhir--Sasuke hampir selalu melihat Sakura bangun di waktu yang sama sepertinya. Kenyataan itu sedikit membuatnya bertanya-tanya, namun ia tidak memikirkannya lebih jauh. Hidup dengan penuh kedisiplinan mungkin sedikit melelahkan. Sakura mungkin ingin mencoba membiasakan... gaya hidup baru?
Ikut membangunkan diri dan duduk, Sasuke melihat Sakura menoleh padanya dengan mata yang masih setengah terbuka.
"OhayĆ, Hokage-sama," gumam Sakura dengan suara parau. Ia menyebut gelar itu dengan tidak serius. Matanya mengerling ke arah jam dinding, mendapati waktu yang menunjukan pukul tujuh pagi. "Kau kelihatan tidak terburu-buru seperti kemarin."
"Begitu pula denganmu," balas Sasuke dengan suara yang sama paraunya.
Sakura tersenyum ringan. "Aku masuk siang. Antidot yang kau pesan sudah selesai. Lagi pula, sekarang adalah hari libur?"
Pernyataan Sakura sedikit menarik perhatian Sasuke. Ia menyipitkan mata.
"Sudah selesai?"
Sakura mengangguk dan mengerjap. Pandangan matanya tampak lebih fokus sekarang ini.
"Mm-hm," gumamnya mengiakan. Selanjutnya, ia tersenyum--senyuman bangga. "Tim spesialku di rumah sakit begitu dapat diandalkan."
"Bukankah tim itu hanya berisi kau dan Shizune?"
"Sekali-kali lakukanlah inspeksi sendiri ke rumah sakit, nantinya kau bakal tahu siapa tim spesialku," gerutu Sakura, ia mengalihkan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya dan bergegas turun dari tempat tidur. "Haruskah aku mengirimnya langsung ke kantormu?"
Sasuke menggeleng, ia mengatakan sesuatu mengenai beberapa skuad tim pemburu Sora yang akan mengambilnya sendiri di rumah sakit. Konfirmasi yang Sakura dapatkan dari Sasuke dijawab dengan anggukan oleh perempuan tersebut. Ia kemudian keluar dari kamar tidur, meninggalkan Sasuke seorang diri. Sasuke sendiri memilih untuk sedikit merenggangkan badan sebelum bangkit dari sana. Matanya melihat selimut yang masih belum terlipat sehingga membuatnya menyempatkan waktu untuk melipatnya lebih dahulu sebelum keluar kamar.
Berbicara tentang selimut... Sasuke jadi ingat bahwa tiga hari yang lalu, Sakura tidur dengan cukup berantakan--dengan selimut yang hampir terjatuh ke lantai dan lengan yang hampir menimpa wajah Sasuke. Namun, kali ini, Sasuke tidak melihat hasil yang demikian. Pemikiran ini membuatnya sedikit terhibur. Ia bertanya-tanya apakah keadaan tersebut dikarenakan oleh ia yang berusaha menjaga Sakura untuk tetap diam dalam rengkuhannya. Jika memang begitu, sepertinya Sasuke akan mendapatkan kebiasaan baru setelah ini karena ternyata, tidur dengan sosok itu di rengkuhannya terasa tidak begitu buruk... Kenapa juga ia sangat sulit melakukannya di hari-hari lalu?
Apakah karena ia yang sama sekali tidak mempedulikan hal-hal remeh semacam itu? Ataukah karena ia yang memang tidak menginginkannya?
Jawaban yang paling mendekati benar tampaknya berada di pertanyaan kedua. Sasuke tersenyum getir, baru menyadari seberapa rusaknya mereka--atau mungkin hanya dirinya. Ia baru mengenyahkan pikiran tersebut setelah memikirkan keluarganya yang terasa membaik selama seminggu ini. Dengan berbagai kesalahan yang telah ia lakukan, Sasuke berjanji pada dirinya untuk segera membayar semua itu seperti halnya ia yang membayar kesalahannya di masa lalu dengan melakukan perjalanan pembayaran dosa.
Melakukan kesalahan tampaknya telah menjadi salah satu kegemarannya, pikir Sasuke suram.
Ia menghembuskan napas pelan sebelum keluar dari kamar untuk memulai rutinitas paginya. Waktu yang ia perlukan tidak sampai lima belas menit. Sasuke sudah memakai kemeja abu-abunya dan celana kain hitam yang biasa sebelum beranjak ke dapur. Matanya segera mendapati Sakura yang sedang menanak nasi dan memasak sesuatu yang terlihat seperti... daging sapi yang ditumis dengan bawang bombay dan sebagainya. Harum masakan tersebut membuat Sasuke mendekat, ia berdiri di samping Sakura, seketika membuat perempuan itu menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kau juga masuk siang?" tanyanya selagi mengaduk tumisan daging tersebut.
Sasuke mengangangguk. Ia mengambil tomat segar yang berada di atas counter dan meraih beberapa untuk dicuci di wastafel. Ketika kembali ke sisi counter yang berada di belakang Sakura, Sasuke menyadari mata zamrud itu yang mengikutinya. Mata tersebut memperlihatkan sorot heran yang membuat Sasuke menaikkan sebelah alis, menanyakannya secara non-verbal.
Memasukan beberapa bumbu dan shoyu, Sakura bertanya, "Kau hendak memakannya langsung?"
Alih-alih menjawab, Sasuke malah menyodorkan satu dari tiga buah tomat itu pada Sakura. "Ingin?"
Sakura langsung berjengit. Ia menggelengkan kepala. Keras.
"Terima kasih," ujarnya penuh dengan sarkasme. "Aku bukan maniak sepertimu."
Sasuke mengedikkan bahu. Ia menyenderkan diri pada counter dapur selagi menikmati sayur favoritnya dan juga mengamati Sakura yang masih sibuk dengan masakannya. Ia mengamati bagaimana lengan piyama lengan panjangnya dilipat sampai siku, bagaimana rambut pendeknya diikat di belakang kepala dengan cukup tinggi, dan bagaimana sebelah tangannya berkacak pinggang selagi tangan yang lain sibuk mengaduk tumisan daging sapi yang sedang di masaknya.
Terlalu hanyut dalam pemandangan baru itu, Sasuke sampai tidak menyadari ia yang ternyata sudah memandang tengkuk dan lekuk leher Sakura terlalu lama--teringat bagaimana aroma memabukkan yang seolah bersumber dari sana, bagaimana Sakura yang gemetar ketika ia menyatukan bibirnya di kulit pucat itu, bagaimana deru napasnya yang tersekat ketika Sasuke menemukan denyut nadinya dan menyesapnya pelan--seperti apa yang terjadi di pagi itu, pagi ketika Sasuke merasakan ketertarikan yang begitu besar pada Sakura, ketertarikan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, ketertarikan yang membuatnya ingin--
Menelan gigitan terakhirnya pada sayur merah tersebut, Sasuke segera berbalik menghadap counter dapur dan menuangkan air putih ke dalam gelas sebelum meminumnya cepat, seolah ingin menghilangkan rasa haus yang tiba-tiba menyerang--rasa haus yang jelas-jelas bukan disebabkan oleh ia yang ingin minum air putih.
Apa yang ia rasakan pada Sakura begitu berbeda dengan apa yang biasanya. Sasuke memang sedang ingin memperbaiki hubungannya dengan wanita ini. Namun, ketertarikan besar ini, keinginan besar ini, Sasuke sama sekali tidak mengantisipasinya. Ia tidak yakin bahwa niatnya yang ingin memperbaiki rumah tangga mereka berhubungan dengan keinginan besarnya untuk kembali merasakan Sakura, kembali melihat reaksinya yang begitu reaktif ketika Sasuke menyentuhnya, kembali mendengar deru napasnya yang memberat akibat apa yang dilakukan Sasuke, kembali melihatnya yang seolah lumpuh--berada di dalam kontrol Sasuke sepenuhnya.
Semakin Sasuke memikirkannya, semakin yakin pula ia pada ketiadaan hubungan antara memperbaiki rumah tangga mereka dengan semua keinginan liar tersebut. Sasuke merasakan ada yang berbeda dengan Sakura--jelas, teramat jelas. Sebab, sebelumnya, Sakura tidak mempengaruhinya sampai seperti ini, sampai membuatnya berandai-andai dan tidak bisa berhenti memikirkan--
Mengumpat dalam hati, Sasuke kembali menenggak segelas air putih. Kepalanya menoleh dengan spontan ketika merasakan tarikan di lengan bajunya. Sasuke mendapati Sakura yang menarik lengan baju tersebut selagi mengisyaratkan Sasuke untuk mendekat. Sasuke sendiri hanya menatapnya kosong, hingga kemudian Sakura berdecak pelan dan memutuskan untuk menarik lengan lelaki itu secara paksa, membuat Sasuke dengan reflek melangkahkan kakinya mendekat. Ia mengetukkan sudip ke pinggir wajan ketika membuka mulut.
"Cicipi," ungkapnya pendek. Ia menatap Sasuke penuh ekspektasi. "Coba cicipi sedikit, aku kurang yakin dengan rasanya," tambahnya.
"Apa?"
Sakura mengerang. Ia mengecilkan api kompor tersebut sebelum mengambil setitik kuah dari masakannya menggunakan sudip dan meneteskannya ke telapak tangan. Ia menatap Sasuke jengkel.
"Seperti ini," ujarnya sebelum merasakan kuah tersebut dengan lidah, menjilatnya.
Sasuke melihatnya dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang pada sesuatu yang lain, sesuatu yang bisa dilakukan oleh lidah itu selain untuk merasakan kuah daging sapi, selain untuk menyapukannya di telapak tangannya sendiri--
Mencengkram pergelangan tangan Sakura, Sasuke pun menarik tangan itu menjauh, memaksa Sakura menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Perempuan tersebut mengerjap, ia mendongak pada Sasuke dengan heran. Matanya memancarkan rasa heran yang murni, seolah ia sama sekali tidak punya ide mengapa Sasuke tiba-tiba menarik tangannya menjauh.
"Hentikan," ujar Sasuke kering. Ia melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Sakura, menangkap mata yang masih memancarkan sorot tidak mengerti. Sasuke membasahi tenggorokannya. "Jangan... mencicipinya dengan tangan. Gunakan sendok."
Sakura mengernyit, ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.
"Tanganku bersih," balasnya jujur, sama sekali tidak melihat maksud lain dari perkataan Sasuke ataupun sorot matanya yang tampak sedikit berbeda dari yang biasa. Ia mendongak, kembali menatap Sasuke, "Lagi pula tempat sendoknya cukup jauh? Aku lebih ingin sesuatu yang efektif."
Sasuke mengerling pada wadah sendok yang berada di ujung counter dapur--tempat yang memang cukup jauh untuk dijangkau tanpa berjalan beberapa langkah. Namun, ia benar-benar tidak punya alasan lain, bukan? Ia juga jelas-jelas tidak bisa mengatakan alasan aslinya tanpa membuat Sakura menatapnya aneh, sebab seorang Sasuke tidak akan pernah merasa begitu terganggu hanya dengan melihat pemandangan itu.
Memilih untuk menghentikan obrolan tersebut, Sasuke pun melangkah mendekati wadah sendok dan mengambilnya. Ia kembali di samping Sakura dan melakukan apa yang diinginkannya. Dicicipilah masakan tersebut.
Sakura menatapnya ragu, tampak was-was dengan komentar Sasuke--tatapan yang sama seperti kemarin ketika mereka hendak sarapan. Keraguan di mata tersebut membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang diragukan Sakura? Masakan buatannya sama sekali tidak terasa aneh. Daripada aneh, masakannya justru terasa lezat, seperti biasa.
Menyendok kuah itu sekali lagi, Sasuke kini mengambil potongan daging, mengunyahnya pelan.
"Sarada akan menyukainya," gumamnya setelah menelan makanan tersebut.
Senyuman hangat terbit di bibir Sakura, ia mematikan kompor dan menghampiri rice cooker-- menuangkan nasi ke dalam mangkuk berukuran sedang. "Aku sengaja memasak untuknya. Dia sangat senang daging," ujar Sakura sambil tertawa pelan pada kalimat terakhirnya. "Ikut terpengaruh putri Choji, kurasa. Yeah, setidaknya nanti dia jadi tidak repot-repot untuk diet dan semacamnya. Seorang shinobi tidak perlu diet. Tenaga yang kita keluarkan cenderung jauh lebih banyak dari makanan yang kita dapat."
Kala itu, Sasuke sangat ingat bagaimana Sakura mati-matian menjaga pola makannya ketika mereka masih menjadi genin. Selama ini, Sasuke mengira bahwa Sakura masih melakukannya mengingat ia yang selalu menghindari makan di malam hari. Namun, mendengar apa yang dikatakannya hari ini, Sasuke akhirnya mengerti bahwa tampaknya ia memang tidak begitu mengenal istrinya--sebuah keadaan yang begitu ironis.
Mengenyahkan pikiran tersebut, Sasuke pun membantu Sakura menyiapkan sarapan. Ia mengambil wajan dan sudip yang tadi digunakan istrinya untuk memasak sebelum menuangkan masakan itu secara merata di tiga mangkuk yang telah diisi dengan nasi putih. Sakura menatapnya ketika ia mengembalikan dua alat masak tersebut ke atas kompor, namun ketika berbalik Sakura tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengisyaratkan Sasuke untuk kembali ke ruang makan selagi membawa mangkuk tersebut.
Meletakannya di atas meja, Sakura membuka lemari pendingin--mengeluarkan sekotak susu dan menuangkannya pada sebuah gelas. Sasuka sendiri duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan, matanya mengerling ke arah di mana tangga lantai dua berada ketika mendengar langkah kaki seseorang.
Sarada baru saja bangun dengan tangan yang sibuk mengusap salah satu mata, sementara tangan yang lain menaikkan sebelah kaca matanya. Ia masih memakai piyama tidur dan langkah kakinya sedikit limbung. Namun, semua tanda-tanda mengantuk itu segera hilang begitu melihat kedua orangtuanya yang sudah berada di meja makan.
Ketika Sarada tengah membenarkan letak kacamatanya, Sasuke melihat mata oniks putrinya yang tampak berbinar senang. Ia berlari dan berseru, "Mama! Aku sudah bisa melakukannya!" dengan antusias.
Kemudian, sebelum Sakura sempat membalas, Sarada sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya berdiri dan berlari menghampiri Sasuke. Ia mendongak, menatap ayahnya dengan binar mata yang masih sama.
"Papa, kau tahu? Aku sudah menguasai sebuah dasar taijutsu yang bahkan belum dikuasai teman-temanku," ungkapnya senang. Ia menatap Sasuke penuh ekspetasi. "Kau ingin melihatnya? Aku bisa tunjukan!"
Sasuke mengerjap, ia mengerling pada Sakura yang hanya mengedikkan bahu sambil menahan senyum. Sebelum Sasuke menjawab, Sakura sudah menghampiri Sarada dan meletakan tangannya pada pundak gadis kecil itu. Ia membungkukkan badan.
"Bukankah tadi malam kau mengeluh kelelahan? Tidakkah akan lebih baik kalau nanti saja?" tanyanya dengan nada menawarkan alih-alih menyuruh.
Sarada merengut. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku tidak kelelahan, tapi hanya sedikit lelah."
"Oh, sedikit lelah sampai ingin makan malam untuk kedua kalinya?"
"Hmph, tidak," ungkapnya sambil membenarkan ganggang kacamatanya. "Kata Chocho, kita perlu mengisi energi setelah menggunakannya."
"Kalau begitu, Chocho memang benar," sahut Sakura. Ia meletakan beberapa gelas kosong dan tempat minuman ke atas meja sementara tangan yang lain masih memegang gelas berisi susu. "Aku ingin kau mengisi energimu dulu sebelum beraktivitas. Bagaimana kalau kau mencuci muka lebih dahulu sebelum melakukannya?"
Sarada mengerjap, ia mengerling pada ayahnya yang hanya mengamati interaksi ibu dan anak itu, kemudian Sasuke tampak memutuskan untuk membantu Sakura, "Lakukanlah, aku akan melihatnya nanti."
Senyum bahagia itu merekah. Sarada mengangguk. Ia kemudian melesat di balik kamar mandi, meninggalkan dua orang dewasa di ruang makan itu. Sakura tertawa rendah, ia mengomentari bagaimana Sarada yang setidaknya mewarisi kecekatan ayahnya. Ia memberi tahu Sasuke mengenai latihan singkat mereka berdua tadi malam dan bagaimana Sarada cepat mencerna penjelasan yang diberikan oleh Sakura meskipun dasar taijustu yang demikian seharusnya baru dipelajari oleh siswa Akademi di tahun kedua mereka alih-alih pertama.
Sasuke bertanya alasan kenapa Sakura mengajarkan latihan dasar itu pada Sarada meskipun ia juga menyimpan pertanyaan lain, yakni pertanyaan tentang sejak kapan Sakura memutuskan untuk mengajarkan sesuatu mengingat ia yang dulu begitu jarang berkontribusi di Akademi, berbeda dengan Naruto yang sangat mudah akrab dengan anak-anak--meskipun anak tersebut sangat sulit untuk ditangani.
Sakura mendaratkan diri di kursi depan Sasuke. Ia menopang sebelah pipinya sambil menatap kosong air putih pada gelas yang ia pegang, suaranya terdengar muram ketika ia menjawab pertanyaan Sasuke.
"Tadi malam, kami menonton televisi yang kebetulan sedang menayangkan berita malam. Berita itu meliput kejadian pembunuhan daimyo dan berbagai kerusakan yang ada di sana. Ia merasa bahwa... sesuatu salah karena orang-orang berada di dalam bahaya ketika di sini, Konoha, kita begitu aman meski kemarin juga terjadi keributan."
Matanya balik menatap Sasuke yang masih mendengarkan dengan seksama seraya memperhatikan perubahan air muka Sakura. Perempuan itu tampak terbebani oleh sesuatu. "Sarada ingin menolong mereka. Aku memberitahunya bahwa kita, orang-orang dewasa, akan mengurus masalah pelik itu. Tapi, dia bersikeras dan tetap ingin mulai berlatih, membuatku mengabulkan permintaannya. Lagi pula, mengajarkan dasar taijutsu tidak begitu sulit, kan?"
Sasuke tertegun. Selama ini, ia memang sering mengajak Sarada ke perpustakaan ketika ia memiliki waktu luang. Namun, sejak dulu hingga sekarang ia belum terlalu melihat ataupun mengerti sudut pandang Sarada mengenai sesuatu. Baginya, Sarada hanyalah seorang anak yang masih perlu diarahkan. Ia tidak terlalu memikirkan apa yang mungkin dipikirkan oleh gadis kecil itu.
Di sisi lain, Sakura juga sebelumnya tidak pernah memberi tahu Sasuke tentang obrolannya dengan Sarada. Mereka mungkin beberapa kali mengobrol tentang masalah anaknya, namun obrolan tersebut hanya menyangkut kepentingan umum. Seperti ketika Sarada sakit atau menginginkan sesuatu. Selebihnya, tidak. Sakura tampak terlalu segan dan menarik diri untuk membahas masalah personal dengan Sasuke meskipun mereka sudah menikah selama hampir enam tahun. Keadaan inilah yang mungkin juga memperparah kehidupan rumah tangga mereka.
Melihat Sakura yang juga tidak lagi menahan diri untuk berbicara terus terang dengannya, Sasuke merasa berterima kasih. Mungkin, pernikahan mereka memang masih bisa diselamatkan.
"Aku akan memastikan bahwa Sora tidak akan menjadi ancaman besar," ungkap Sasuke. Ia menatap Sakura, melihatnya dengan seksama supaya perempuan itu mampu melihat keseriusannya. "Tidak akan ada yang akan mendaratkan jarinya pada Sarada dan juga anak-anak lain."
Sakura meminum air putihnya. Ia mengangguk kaku.
"Yeah," gumamnya pelan. Ia menghembuskan napas selagi menatap dinding di belakang Sasuke. "Aku percaya."
Kalimat yang diucapkan Sakura terdengar begitu yakin, sama seperti saat seorang sahabat mempercayai seseorang yang amat ia andalkan, seseorang yang selalu berada di pihaknya, seseorang yang selalu mendukung dan berjalan di sisinya. Kalimat tersebut--dan nada suara itu begitu familiar di telinga Sasuke. Rasanya amat familiar hingga membuatnya bungkam, tidak tahu harus membalas apa.
Kala itu, Sasuke merasakan dadanya yang menghangat--sama seperti saat di Lembah Akhir, saat ketika ia dan sahabat terbaiknya terbaring dengan sebelah lengan yang telah tiada, saat ketika sahabatnya melarangnya keras untuk mati dan lebih baik hidup untuk membantunya membangun dunia shinobi yang baru, dunia yang kini telah mereka raih di mana pertumpahan darah tidak lagi menjadi makanan sehari-hari.
Perasaan itu terasa mengalir ketika Sasuke menatap mata zamrud itu. Mata yang secara tiba-tiba mampu memberinya ketenangan setelah sekian lama...
Sisi logis Sasuke segera mengambil alih begitu ia memikirkannya. Sisi logis Sasuke kembali mengutarakan pertanyaan itu, pertanyaan yang akhir-akhir ini tengah memenuhi kepalanya, pertanyaan yang berisi banyak kata mengapa.
Mengapa baru sekarang?
Mengapa begitu tiba-tiba?
Mengapa harus seperti dia dan bukan orang lain?
Mengapa harus... dia dan hanya dia yang selalu menelusup ke dalam pikirannya hampir di setiap saat? Bahkan setelah sekian lama?
Sesuatu di dalam diri Sasuke menyerukan ketidakberesan. Namun, semakin ia memikirkannya, semakin ia tidak mendapatkan jawaban.
Mengapa pikirannya selalu kembali pada Naruto?
Mendengar langkah kaki yang berasal dari arah kamar mandi, Sasuke segera mendapati gadis kecilnya yang sudah kelihatan lebih segar. Ia menarik kursi yang berada di dekat Sakura dan merangkak ke atas untuk duduk di sana, kedua kakinya menggantung dari lantai karena tinggi tubuh yang belum menyokongnya untuk mencapai lantai.
Sakura menoleh, ia mengulurkan gelas susu tersebut untuk Sarada.
"Spesial untuk Tuan Putri," ujarnya main-main. Sorot matanya terlihat geli ketika menatap rengutan di wajah anak dari Hokage Ketujuh itu.
"Minuman ini tidak spesial. Kau mengambilnya dari lemari pendingin."
Sakura tersenyum jahil, senyum yang hampir tidak pernah disangka oleh Sasuke bisa tersemat di bibir itu.
"Spesial karena siapa pun yang meminumnya ia akan bertambah sehat dan tinggimu--" Sakura meletakan telapak tangannya beberapa senti di atas kepala Sarada. "--akan bertambah. Kau tidak akan diledek oleh anak lelaki."
Sarada mengerjap. Ia melebarkan matanya. "Kau tahu kalau aku sering diledek oleh Takuma-kun?"
"Kakak kembar Tama-kun, bukan? Anak dari Tenten dan Neji?" ungkap Sakura ringan. Ia mengangguk mantap, mengiakan pertanyaan Sarada. "Kudengar dia terlalu sering bersama Kiba. Aku sama sekali tidak heran," gumamnya rendah, namun mampu didengar jelas oleh Sasuke. Sakura menatap Sarada dengan serius--setidaknya, mencoba untuk serius. Ia berkata, "Buktikan padanya kalau kau tidak seperti yang ia katakan padamu. Sarada akan tinggi suatu hari nanti. Itulah kenapa kau harus menerima minuman spesial itu."
"Kau yakin, Mama?"
Sakura tersenyum. Senyuman miring yang penuh rasa bangga.
"Sangat."
Sarada tersenyum lebar. Ia segera menghabiskan segelas susu tersebut tanpa tersisa, padahal sebelumnya Sarada cukup anti dengan susu vanila.
Setelahnya, keluarga Uchiha pun sarapan bersama. Mereka sarapan dengan Sakura yang menimpali setiap pertanyaan Sarada sementara Sasuke yang hanya mendengarkan dan sesekali menimpali jawaban Sakura ketika wanita berambut merah muda itu melontarkan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban berupa gumaman.
Sakura menjawab pertanyaan Sarada dengan cara yang akan menumbuhkan pertanyaan baru dari mulut gadis kecil itu. Ia bertindak demikian seolah untuk menjaga percakapan, meskipun kelihatannya Sakura sendiri tidak terlalu sadar dengan apa yang ia lakukan. Seolah mencairkan suasana sudah menjadi sesuatu yang alami baginya, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya.
Di sisi lain, Sasuke memperhatikan dan menangkap semua itu. Ia menangkap semua senyum yang tersemat di bibir sosok wanita tersebut. Ia menangkap dan mampu merasakan kefamiliarannya--kefamiliaran akan senyum murni yang selalu dilemparkan oleh seseorang yang sangat ia kenal. Ia menangkap gelak tawa ringan dan aura hidupnya, sesuatu yang hanya terpancar oleh satu orang saja--orang yang kini telah tiada.
Kembali fokus pada makanannya, Sasuke telah memantapkan hatinya. Ia harus segera mendapatkan jawaban dari kejanggalan ini. Jawaban yang ia cari akan dimulai dengan bukti asing yang ia temukan tadi malam. Saat ini, mungkin belum ada yang bisa ia simpulkan mengenai hubungan antara helaian rambut itu dengan alasan mengapa Sasuke selalu terbayang Naruto di diri Sakura. Namun, jauh di dalam hatinya, Sasuke punya firasat bahwa benda tersebut akan menuntunnya pada jawaban yang ia cari. ]
TBC
