Hatiku begitu sakit...
Saat Kau selalu...menatapnya...
Pandanganmu yang menunjukkan kasih sayang kepadanya...
Pikiranmu selalu penuh tentang dirinya...
Padahal cintamu tak terbalas...
Tapi kenapa kau masih menatapnya...?
.
.
.
Kau adalah yang berharga
Disclaimer : Kuroko no Basuke Fujimaki tadoshi
Chapter 13 : Mayuzumi Chihiro x OC (Rin Miki)
.
.
.
.
.
Rin P.O.V
Aku Muak...Aku begitu muak melihat pemadangan itu, Kenapa di pagi hari ini aku harus menatap pemandangan yang begitu kubenci. Menyapa, mengobrol ringan dan sering mengantarkannya. Begitu memuakkan... kenapa dia begitu bodoh? Kenapa dia begitu dekat dengan samuzora yoreum? Sedangkan aku...
"hei lihat..lihat... ojou – sama tetap terlihat cantik sekali di pagi hari ini!" – hanya seorang gadis yang dikerubungi lebah. Cinta pertama ku di rebut oleh samuzora yoreum.
"ayo kita sapa dia!" ah...pagi seperti ini memang sudah menjadi rutinitasku, tapi walau sudah berkali – kali ku jalani. Tetap saja, ini memuakkan. Para lelaki itu mendekatiku dengan wajah menjijikkan.
"ojou – sama, ohayou gozaimasu!" sapa mereka dengan semangat. Tapi, di dunia ini, ada namanya ke munafikan. Walau aku merasa jijik pada dunia tetapi ada saatnya aku harus beradaptasi dan mempertahankan pijakanku yang di kenal sebagai puncak di universitas.
"Ohayou, minna." Ucapku tenang sambil tersenyum.
"Ohayou Rin – Senpai!"
"Ohayou gozaimasu Rin – san!"
"Ohayou Gozaimasu Rin – oneesan!" – kubalas sapaan mereka satu persatu. berapa banyak lagi yang harus aku sapa? Pria, Dosen, Senior, Junior, satu angkatan, murid jurusan lain dan yang lain – lain, bahkan ada yang wanita. Kadang ada yang memberiku surat cinta, maupun pria atau wanita.
Aku terkadang heran dengan wanita yang memberiku surat cinta, apa dia gila? Aku wanita dan dia juga wanita, kenapa dia jatuh cinta padaku padahal ada banyak pria di bumi ini yang bisa ia kencani. Kadang aku juga jijik dengan wanita di dunia ini.
Disaat aku berjalan menuju ruang praktek, segerombolan manusia datang mendekatiku. Ada wanita dan ada juga laki – laki. Aku mengenal salah satu dari mereka. Si pria rakus, Takehashi Kodou mendekatiku dengan tersenyum bangga. Dia adalah parasit di kampus ini yang selalu memanfaatkan junior.
"Rin – san, Ohayou!" sapanya dengan lantang, seolah akrab denganku. Dalam hati aku mendecih kesal, karena aku tak dekat dengannya. namun Aku tetap membalas sapanya.
"Ohayo..." balasku dengan senyum biasa. Aku melihat seorang gadis yang ia rangkul. Gadis itu begitu antusias melihatku. Gerombolan wanita itu terlihat senang.
"Onee – sama! Mau kemana?" tanyanya seolah dekat denganku. Aku hanya tersenyum kembali.
"ke ruang praktek." Balasku singkat. Tatapan mereka mencegatku untuk pergi, mereka tersenyum tak jelas penyebabnya. Aku menatap gadis itu kembali.
"dia anak baru ya?" tanyaku. Takehashi langsung menjawab.
"iya! Dia ini junior! Lihat manis kan?" ucapnya semangat. Ah aku tahu, gadis ini adalah adiknya. Terlihat saat dia begitu semangat mengenalkan adiknya sampai memujinya, karena jarang sekali ia memuji seseorang tanpa alasan.
"dia adikmu ya?" tanyaku. Dia langsung menepuk tangannya.
"ah hebat sekali! Seperti biasa matamu sangat jeli ya!" puji nya. Aku hanya tersenyum.
"ah tidak kok, wajah kalian berdua mirip kok." – tentu saja. muka kelaparan seperti babi itu mana mungkin ada lagi selain Takehashi. Gadis itu terlihat senang saat aku mengenalnya (baca:asal menebak) dirinya.
"a...ano! salam kenal! Namaku takehashi mary, siswa tahun pertama di jurusan ekonomi -..." – jurusan ekonomi? Jurusan yang sama denganku. Ah, biar kutebak lagi, pasti dia masuk ke jurusan ekonomi karena diriku.
"a..aku masuk jurusan ekonomi karena pertama kali me..melihat rin – senpai membuatku ingin masuk jurusan ekonomi!" jelasnya. Tebakanku benar.
"begitu ya, berarti kau adalah juniorku. Salam kenal Takehashi – san, namaku Rin Miki. Siswa tahun ketiga dalam jurusan ekonomi. Mohon kerja samanya." Jelasku sambil merendahkan kepala sejenak. Lihat? Dia begitu senang.
"pa..panggil saja aku mary, Miki – senpai!" ucapnya. Tunggu? Dia memanggil nama kecilku tanpa se izin ku?
"Miki?" ucapku spontan kebingungan yang jelas aku tak terima dengan perilakunya (Note: aku paling benci dengan orang yang sok kenal dan dekat.)
"sudahlah sudahlah! Tidak apa – apa kan Rin – san?" ucap kakaknya. Aku tersenyum tenang.
"menurutku agak tidak sopan jika memanggil nama orang yang baru di kenal dengan nama kecilnya." Jelasku tapi sang kakak tetap keras kepala. Dia hampir menyentuh pundakku. Oh tolonglah, jangan menyentuhku. Aku sedikit menyingkir.
"hei, jangan begitu! Dia kan juniormu, tidak apa – apa kan?" jelasnya seperti berkompromi. Ck, dia begitu memanjakan adiknya.
"biar sedikit kujelaskan. Takehashi – san, kau akan masuk dalam jurusan ekonomi kan?"
"i..iya."
"akan kuberi sedikit catatan untukmu. Dalam hal bidang ekonomi, yang paling terpenting adalah Communication. Jika kau salah dalam panggilan seperti tadi, kau akan gagal. Semua orang memiliki statusnya masing – masing, jika kau bisa melewati anak – anak lain dan bisa sejajar denganku, kau baru boleh memanggil namaku. Mengerti?" tanyaku. Dia mengangguk antusias dengan mata berbinar – binar yang membuatku muak.
"aku mengerti! Aku akan berjuang keras agar bisa bersama kakak." Ucapnya, aku hanya tersenyum kecil. Aku melihat jam tanganku.
"ah sudah waktunya. Maaf ya, aku harus pergi ke kelas. Dagh!" ucapku sambil meninggalkan mereka, sedikit melambaikan tangan. Mereka begitu kegirangan saat melambaikan tanganku ke atas.
"huft! Ya ampun..." -...aku begitu lelah dengan semua ini. berjalan malas melewati koridor menuju kelas praktek sendirian. Ya, hanya sendirian, tak ada yang menemani. Bukan berarti aku merasa kesepian, ini malah membuatku tenang dan merasa nyaman. aku membuka buku manga milikku, membaca di perjalanan dengan tenang walau ada beberapa yang menyapaku saat ku melewati mereka.
"lagi – lagi manga ya? Bukankah sudah kubilang, yang paling menarik itu adalah light novel." Aku menatap datar pada orang yang bergelar professor dalam bidang kimia yang sedang berhadapan denganku sambil membawa light novelnya.
"selamat pagi, Mayuzumi – sensei." Ucapku kesal. Maniknya menatap manga ku.
"kali ini manga apa?" tanyanya sambil mengambil mangaku tanpa izin dariku.
"Shingeki no kyojin. Anda bisa melihatnya kan?" jelasku sambil mengeryitkan alis. Dia mendecih kesal.
"Ck! Lagi – lagi thriller, bukankah kemarin kau sudah membaca tokyo ghoul? Ya ampun, sekali – kali kau harus baca novel romance. Kau inikan perempuan." – orang ini maunya apa sih? Menyebalkan sekali dan sejak kapan jenis kelamin seseorang menentukan bacaannya. Aku hanya tersenyum, menipu semua orang yang melihat kami berdua.
"Thriller ada kesan sendirinya, Mayuzumi – sensei." Ucapku. Mulailah perdebatan kami berdua tentang hal sepele. Semua orang menata kami.
"hei ...lihat..lihat! mayuzumi – sensei berbicara banyak lagi."
"keren!" merasa diperhatikan oleh banyak orang, mayuzumi – sensei mengajakku ke suatu tempat.
"Rin – san, ayo kita bicara di kantor." Ucapnya. Untuk apa membicarakan sesuatu hal yang sangat...sangat begitu sepele di kantor?
"maaf, aku ada kelas. Permisi." Tolakku sambil melenggang pergi meninggalkannya. Dia hanya memanggilku 'hoi' tapi aku tetap tidak menoleh. Setidaknya panggil namaku, bodoh! Apa dia tidak ingat namaku? Ah sudahlah. Aku meliriknya sejenak.
Mayuzumi Chihiro, umur 27 tahun, sudah bergelar Professor di bidang kimia selama 2 tahun. Tampan, tidak kaya namun juga tidak miskin (sederhana), karena sikapnya yang pendiam dan dingin, dia jadi disebut pangeran misterius oleh para fansnya dan mahasiswi. Seseorang yang berkilau namun juga suram.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hatiku bergejolak senang, bahagia dan tak karuan. Bahkan karena terlalu senang, mulutku tidak bisa untuk tidak tersenyum, membuat sebagian para pejalan kaki tersenyum. Dengan membawa tumpukan buku yang baru kubeli sepulang kerja magangku, aku pulang dengan mempercepat langkahku, agar aku bisa membacanya dengan segelas susu dan kripik kentang yang juga baru kubeli dari minimarket. Aku begitu tak sabar!
"aku pulang!" ucapku semangat sambil melepaskan sepatuku. Sebuah rumah yang besar namun sederhana dan modern memang terlalu besar untuk ditinggali 2 orang saja. Suara pijakan kaki mendekatiku.
"selamat datang. ada apa? sepertinya kau senang sekali -... beli manga lagi!?" tanya sambil melipat tangan di dadanya dengan light novelnya. Ya, kalian akan sangat mengenal pada orang yang tinggal bersama ku...
"aku kan membelinya sendiri menggunakan uangku. Lagipula aku juga membeli beberapa light novel kok, mayuzumi – sensei." Jelasku sambil menatap kesal. Dia menghampiriku dan membongkar tas belanjaku untuk mencari light novel yang kumaksud.
"jangan panggil aku dengan nama itu saat di rumah. Panggillah aku 'Onii – chan' dengan nada imut, Imouto yo." Jelasnya sambil membongkar belanjaanku. Twitch! Jidatku tumbuh sebuah perempatan alami. Ya, Mayuzumi – sensei adalah kakak tiriku. Mayuzumi – sensei adalah anak yang dibawa oleh pihak pria sedangkan aku dibawa dari pihak perempuan.
Namun 7 tahun yang lalu, saat ibuku meninggal ayah tiriku rujuk dengan istri lamanya lebih tepatnya ibu kandung mayuzumi – sensei dan meninggalkanku sendirian. Mayuzumi – sensei tak tega dan merasa bertanggung jawab, mulai mengurusku sendiri di rumah lama kami. Sebenarnya aku bisa tinggal sendiri karena diriku sudah terbiasa dengan ini semua. Karena aku adalah anak haram, ibuku juga sering berganti pria dan jarang pulang, sehingga banyak cemooh an yang di peruntukkan untuk ku. Tapi karena dia bersikeras ingin mengurusku, mau bagaimana lagi.
"maaf saja ya. Tapi bisakah kau tak menganggapku sebagai tokoh novelmu!?" dia hanya menulikan pendengarannya.
"berisik ah. Ah sudah ketemu." Dia menemukan light novelku dalam tumpukkan komik.
"Sekaiichi hatsukoi : Hatori Yoshiyuki no baai... BL Novel ya?" tanyanya sambil menatap jijik novel itu. Aku hanya menatapnya datar.
"melihat covernya saja sudah tahu kan?" tanyaku. Dia bangkit dan menuju ruang tamu meninggalkanku.
"otakmu bermasalah ya? Kenapa kau suka dengan cerita yang jelas – jelas melanggar hukum alam?" jelasnya dengan nada kesal.
"berisik." Balasku singkat. Selesai aku membuka sepatu, aku langsung ke dapur mengambil segelas air. Karena ruang tamu dan dapur bersatu ruang, aku bisa melihat kakakku sedang membaca novel. Manikku teralihkan pada sebuah album yang sepertinya baru terkirim tergeletak di meja. Aku meraihnya dan membuka album itu. Terdapat wanita cantik yang memakai kimono mewah dan duduk dengan anggun, beserta profilnya. Ini buku untuk perjodohan. Aku menatapnya..
"Mayuzu -..."
"jika kau ingin bertanya, panggil oniichan." Jelasnya tanpa mengubah pandangannya dan fokus pada novelnya. Twitch! Dia membuatku kesal!
"Oniichan, ini buku perjodohan kan?" tanyaku. Dia masih menatap lembaran novel itu.
"iya. Lihat saja sudah tahukan?" jelasnya singkat. Aku melihat pengirimnya dan tebakan yang ada dipikiranku benar. Alamat dan nama pengirim iu adalah ayah Mayuzumi – sensei. Ini sudah ke berapa kalinya ya? Ayah Mayuzumi – sensei selalu mengirimkan ini setiap bulan dengan harapan si penerima mau membalasnya. Tapi, mayuzumi – sensei hanya membacanya sebentar lalu dengan mudahnya membuangnya.
"Tidak dibalas? Paman Mayuzumi pasti sangat mengharapkan balasan darimu." Ucapku.
"kubalas kok."
"benarkah? Jadi ini wanita yang kau pilih?"
"bukan balasan seperti itu, tapi Negative." Aku hanya sweatdrop. Berarti menolak ya? Akupun mulai melenggang pergi dan menuju kamarku.
"kau tak menanyakan alasannya?" tanyanya saat aku tak merespon jawabannya. Aku menoleh kearahnya.
"tidak itu bukan urusanku." Jawabku. Terdengar jika Dia mendecih kesal.
"dingin sekali." Ucapnya. Aku hanya diam dan berjalan keatas menuju kamarku. Menaruh bukuku lalu ganti baju dengan pakaiannya yang nyaman. tapi moodku membaca jadi hilang karena dia. Akupun mematikan lampu kamarku, berbaring dikasur dan menatap langit lewat jendela yang kubuka. Hembusan angin malam begitu menyejukkan dan membuatku nyaman, apalagi ditambah kesunyian yang membuatku lebih nyaman lagi.
Seperti dia, dia begitu pendiam dan sejuk (tapi beda lagi jika masalahnya novel), membuatku nyaman. masih bisa kurasakan pelukannya saat ibu meninggal dan mencium keningku dengan lembut, walau sudah berlalu 5 tahun. Sebenarnya aku bisa memintanya, tapi hasrat rasa suka ku padanya akan bertambah dan pasti akan menyusahkannya. Aku merenungkan kesalahanku selama 5 tahun dalam cahaya bulan yang menerangi kamarku.
"seharusnya dia menerimanya saja!" – benar, seharusnya dia menerima perjodohannya lalu meninggalkanku, itu akan lebih mudah bagiku. Ah, aku lupa. Dia itu menyukai Samuzora Yoreum, makanya itu ia menolak perjodohan itu. Tetapi, kenapa dia tak melamar Samuzora yoreum? Melihatnya dia bersama wanita yang bukan apa – apa membuatku sakit. Aku akan lebih mengerti jika mereka berpacaran.
Ya, tebakan kalian benar. Orang yang membuatku jatuh cinta dan membuat kesalahan besar seperti ini adalah kakak tiriku sendiri, Mayuzumi Chihiro.
.
.
Malam ini begitu dingin, aku mengusapkan kedua tanganku agar lebih hangat. Sudah lewat beberapa hari aku tak berbicara dengan kakak tiriku. Sepertinya ada yang menganggu pikirannya, atau dia marah karena aku bersikap cuek pada perjodohannya? Memangnya dia mengharapkan jawaban seperti apa sih? Ya sudahlah biarkan saja seperti ini. seperti ini lebih baik.
Saat aku melewati taman, aku melihat samuzora yoreum bersama seorang pria. Dia ini, apa dia tidak peka dengan perasaan kakakku? Aku memperhatikan pria itu, berambut hitam dan maniknya juga. Tu...tunggu dulu? Bukankah itu ayahnya? Aku pun agak mendekat agar bisa melihatnya lebih jelas. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius, akupun menonton mereka berdua. Sang ayah tiba – tiba menjitak kepalanya, Samuzora Yoreum mengelus kepalanya yang habis terjitak lalu tersenyum. Samuzora yoreum, dia begitu pendiam namun saat tersenyum dia begitu cantik. Aku bersembunyi dibalik semak - semak meraih ponselku dan membuka aplikasi kamera, setidaknya aku bisa mengambil gambarnya lalu memberikannya.
Saat aku mulai mengarahkan kameraku, kameraku mendapatkan objek kilauan sejenak. Seperti dari benda yang memantulkan cahaya lampu lapangan. Akupun memperhatikan objek itu, aku bisa melihat jika yang sedang berdiri itu adalah seorang pria. Akupun mengabaikan pria itu, mungkin dia ada alasan tersendiri untuk menonton mereka.
Wajahku memerah! Ini benar – benar di luar dugaan, sang ayah mencium lengan putrinya seperti melamar putrinya sendiri. Wajah Samuzora yoreum memerah dan semakin memerah saat sang ayah tersenyum dan memperkecil jarak mereka.
"tu...tunggu sebentar! Aku pernah dengar ada kejanggalan tentang dia dan ayahnya, tapi aku tak percaya ini sungguhan!" – aku benar – benar tak bisa mengambil fotonya! Samuzora yoreum juga hanya diam dan sepertinya menerima perilaku seperti itu. i...ini... adegan yang kusuka! Bu..bukan berarti aku bersyukur karena kakak dicampakkan, tapi cerita ini mirip dengan cerita fanfiction yang aku baca tadi malam (Rin sangat menyukai FF Hurt). Ini benar – benar nyata! Tapi, bagaimana dengan Mayuzumi - sensei? Dia menyukainya bukan? Aku merasa sakit mengingat apa yang akan terjadi pada kakakku nanti.
Ah! Pandanganku kembali kepada mereka berdua. Mereka berdua semakin dekat, samuzora yoreum meremas pundak sang ayah dan sang ayah seperti mengucapkan sesuatu dan sepertinya aku tahu apa yang di ucapkannya 'aku mencintaimu'. Aku memblushing hebat dan begitu kegirangan! Mereka semakin dekat dan ayah membuka mulutnya. Ini dia -...
DOR! Suara tembakan melesat kala itu. Aku membulatkan mata dengan sempurna, seseorang ada yang menembak Samuzora Yoreum dari belakang. Darahnya keluar melalui dadanya, lalu jatuh dipelukan sang ayah. Begitu panik dan memanggil namanya berkali - kali namun samuzora yoreum tidak meresponnya. Aku menatap pria yang tadi sedang berdiri. Dia menodongkan sebuah senjata kearah mereka berdua. Sang ayah menggendong putrinya agar bisa dibawa ke rumah sakit. Aku membungkam mulutku.
Akupun menajamkan pandanganku kearah pria itu. Aku harus melaporkannya karena itu adalah tindakan pembunuhan! Aku akan menghafalkan wajahnya. Cahaya rembulan sepertinya sudah cukup memperlihatkan wujudnya walau ditutupi bayang – bayang pohon.
Cahaya rembulan menyinarinya dengan terang, aku begitu terkejut saat melihat pria itu. Rambut itu, mata itu, baju itu, tubuh itu. Ia tersenyum senang namun tenang. Dia...
"Mayuzumi – sensei...?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mayuzumi P.O.V
Dia begitu lucu saat memakan sarapan yang kubuat. Bibirnya yang sedang mengunyah begitu menggiurkan, bahkan saat ada nasi yang menempel di pipinya seperti ini membuatku ingin menghisapnya. Merasa diperhatikan iapun memandangku datar.
"ada apa? jangan memandangiku seperti itu. Dasar siscon!" omelnya sambil menatap datar diriku. Aku menaruh sumpitku lalu meraih nasi yang ada dipipinya dan memakannya.
"ada nasi. Jangan geer dulu." Jawabku singkat. Dia hanya diam dan melanjutkan makan. Rin Miki, hanya terpaut 5 tahun dariku, wajahnnya begitu cantik bahkan semua orang mengakuinya. Adik tiriku yang sangat aku cintai melebihi rasa sayang kepada adik. Karena terlalu sayang padanya, aku jadi berhenti dari dunia bawah.
"Terimakasih makanannya. Aku berangkat duluan ya." Aku mencegatnya.
"tidak naik mobil bersamaku? Aku akan menurunkan mu di mini market depan kampus." Ajakku. Dia menggeleng.
"tidak. Itu merepotkan. Dagh, sampai jumpa di kampus, Mayuzumi - sensei" blam! Dia sudah pergi. Sikap dinginnya seperti ini hanya padaku seorang, Sedangkan yang lain dia tesenyum dan menyapanya, aku kadang tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh adikku. Dia bahkan tak memanggilku kakak, itupun harus disuruh. Aku menghela nafas, mencuci piring lalu berangkat ke kampus.
Merenungkan perkataanku tadi. Apa boleh aku jatuh cinta dengan adikku sendiri? Walaupun dia adik tiri dan sama sekali tidak ada hubungan darah denganku tetap saja aku merasa tidak enak. Sejak kapan ya aku jatuh cinta dengan bocah munafik itu? Hmmm...sepertinya pertama kali aku bertemu dengannya. Saat masih kecil dia begitu banyak luka dan malu – malu dengaknu. Tetapi lambat laun dia menjadi akrab denganku, katanya aku adalah orang pertama yang berteman dengannya. Saat kutanya tentang luka itu, ada kenangan pahit di dalam itu. dia bercerita padaku jika dia pernah dipukuli oleh tetangganya dan menghujatnya dengan kata 'anak haram', di lempari batu dan di tendang keluar.
Namun dengan mudahnya dia mengatakan 'aku tidak apa – apa' sambil tersenyum tak berdosa. Mungkin sejak itulah rasa sayangku menjadi rasa sayang yang melebihi yang kuduga dan selalu ingin melindunginya. Karena berkat dia juga aku mempunyai alasan untuk keluar dari dunia bawah. Dulu aku adalah seorang pembunuh bayaran selama 3 tahun, kalau tidak salah semenjak aku SMA aku sudah di diagnosa memiliki penyakit kejiwaan yang disebut psikopat. Karena itu aku sering memanfaatkan kegilaan itu untuk melindunginya dan bekerja agar aku bisa hidup bersamanya nanti.
Tetapi saat ibunya meninggal, ia menangis begitu keras. Dia begitu terpukul atas kematian ibunya. Ini aneh, seharusnya dia senangkan? Ibunya selalu mengabaikkannya dan bersenang – senang dengan orang lain, sedangkan kau begitu tersiksa tak punya teman ataupun keluarga agar bisa bersandar. Ini rasanya, pembunuhan ku kali ini merasa sia – sia. Membunuhnya? Ia aku membunuhnya saat aku menduduki status sebagai mahasiswa. Aku memberikannya beberapa bakteri dan virus yang bisa menumbuhkan kanker di rahimnya dengan cara membuatkannya kopi espresso yang sangat ia sukai. Sudah ah, aku tak ingin mengingatnya lagi. Aku juga tak begitu menyesal telah membunuh ibunya.
Cinta bertepuk tangan selama 14 tahun ya? Ya sudahlah, tinggal bersamanya seperti ini juga sudah membuatku senang. Tetapi, ada sedikit yang mengangguku kali ini. dia sering memperhatikan seorang laki – laki berambut hitam yang sering mengantarkan samuzora. Nijimura shozou, dia beda setahun denganku dan lumayan tampan. Wajar saja jika Miki tertarik dengan pria itu. Apa aku harus membunh pria itu? Sepertinya jangan.
Untuk mendukungnya, aku selalu mengajak Samuzora untuk jalan bersama walau sebenarnya aku tak mau. Tetapi agar Miki bisa dekat dengan ayah samuzora, aku harus menjauhkan sang ayah dari anaknya agar miki punya kesempatan untuk mendekatinya. Kadang aku dan miki saling memandang satu sama lain saat aku berjalan dengan samuzora. Dia menatapku dingin lalu mengalihkan pandangan. Hmmm...punya adik seperti dia susah juga ya..hmmm wanita itu membingungkan...
Aku bertemu di koridor kampus. Dia sedang membaca sebuah manga sambil berjalan, Ya ampun itukan berbahaya sekali. Akupun menghampirinya.
"lagi – lagi manga ya? Bukankah sudah kubilang, yang paling menarik itu adalah light novel." Ucapku. Dia menatap mataku dengan datar.
"selamat pagi, Mayuzumi – sensei." Sapanya kesal. Aku menatap manga yang ia baca.
"kali ini manga apa?" tanyaku sambil mengambil manganya tanpa izin. Wah, sepertinya dia tampak kesal. Aku membaca judul cover buku itu.
"Shingeki no kyojin. Anda bisa melihatnya kan?" jelasnya sambil mengeryitkan alis. Dia ini tak ada manis – manisnya sama sekali ya.
"Ck! Lagi – lagi thriller, bukankah kemarin kau sudah membaca tokyo ghoul? Ya ampun, sekali – kali kau harus baca novel romance. Kau inikan perempuan." – saranku. Tapi sepertinya dia menolak pemikiranku. Diapun tersenyum paksa.
"Thriller ada kesan sendirinya, Mayuzumi – sensei." Ucapnya. Kadang aku suka menggodanya seperti kami dalam genre buku membuatku lebih dekat dengannya. Aku merasa senang.
"hei ...lihat..lihat! mayuzumi – sensei berbicara banyak lagi."
"keren!" banyak memperhatikan kami berdua. Cih! Mereka menganggu sekali, apa kalian tidak lihat jika aku sedang menikmati momen ini?
"Rin – san, ayo kita bicara di kantor." Ajakku, dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"maaf, aku ada kelas. Permisi." Tolaknya sambil melenggang pergi meninggalkanku sendiri.
"Hoi!" dia tetap tidak menoleh dan masih melenggang pergi. Huft aku menghela nafas. Adikku ini benar – benar dingin.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku pulang!" – dia sudah pulang dan sepertinya dia sangat senang. Akupun menghampirinya yang sedang terduduk melepaskan sepatunya. Aku melihat tumpukan buku dan beberapa makanan di sampingnya.
"selamat datang. ada apa? sepertinya kau senang sekali -... beli manga lagi!?" tanyaku sambil melipat tangan di dada. Dia hanya menatapku datar.
"aku kan membelinya sendiri menggunakan uangku. Lagipula aku juga membeli beberapa light novel kok, mayuzumi – sensei." Jelasnya sambil menatap kesal. aku menghampirinya dan membongkar tas belanjaannya untuk mencari light novel yang dia maksud. Kalian dengarkan? Ia sama sekali tak memanggilku 'oniichan' seperti dulu lagi semenjak ibunya meninggal dan ayahku meninggalkannya. Setidaknya aku ingin dia ada tempat sandaran untuk mengobrol. Yah, walaupun dia terbilang anak yang kuat sih.
"jangan panggil aku dengan nama itu saat di rumah. Panggillah aku 'Onii – chan' dengan nada imut, Imouto yo." Jelasku sambil mencari light novel yang ia beli. Twitch! Bisa kurasakan jika perempatan muncul di keningnya.
"maaf saja ya. Tapi bisakah kau tak menganggapku sebagai tokoh novelmu!?" – bla bla bla. Aku hanya diam. Kau ini kan memang adikku. Siapa dulu yang memanggilku dengan sebutan 'oniichan' dengan suara moe sampai membuatku ingin memelukmu terus? Ah lupakan. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Dia memang manis tapi sikapnya sudah berubah. Manikku menangkap sebuha novel.
"berisik ah. Ah sudah ketemu." Aku membaca judulnya, terdapat sepasang pria yang sedang berpelukan? Tunggu ini novel BL?
"Sekaiichi hatsukoi : Hatori Yoshiyuki no baai... BL Novel ya?" tanyaku. dia hanya menatapnku datar.
"melihat covernya saja sudah tahu kan?" tanyanya. Aku meninggalkan buku itu dan melenggang pergi ke ruang tamu.
"otakmu bermasalah ya? Kenapa kau suka dengan cerita yang jelas – jelas melanggar hukum alam?" jelasku dengan nada kesal.
"berisik." Balasnya singkat. Akupun terduduk dan mulai melanjutkan bacaanku. Diapun muncul mengarah ke dapur. Mengambil segelas minuman. Sepertinya dia tak sengaja melihat buku perjodohan di meja. Iapun mengambil dan membuka album itu.
"Mayuzu -..."
"jika kau ingin bertanya, panggil oniichan." Jelasku tanpa menatapnya. Bisa kudengar dia jika ia sedang mendecih kesal.
"Oniichan, ini buku perjodohan kan?" tanyanya.
"iya. Lihat saja sudah tahukan?" jelasku singkat. Ia melihat pengirimnya dan berwajah sendu.
"Tidak dibalas? Paman Mayuzumi pasti sangat mengharapkan balasan darimu." Ujarnya. Bagaimana aku membalasnya jika aku sudah terikat dengan pesona seseorang yang sampai saat ini belum peka akan perasaanku.
"kubalas kok." Jawabku singkat.
"benarkah? Jadi ini wanita yang kau pilih?" tanya sambil menatap wanita yang ada di foto itu. Hei adikku, apa kau sadar jika kau lebih cantik dari dirinya? Aku lebih memilih dirimu dibandingkan mereka.
"bukan balasan seperti itu, tapi Negative." Balasku. Dia hanya menghela nafas dan melenggang pergi begitu saja. Hanya itu saja? Kau tak menanyakan hal yang lain?
"kau tak menanyakan alasannya?" tanyaku. Ia menatapku.
"tidak. itu bukan urusanku." Jawabnya singkat, jelas, dan menyakitkan. Begitu menyakitkan jika seseorang yang kau suka bilang seperti itu padamu.
"dingin sekali." Ucapku. Dia hanya diam dan menghilang. Aku menutup novelku. Sudah tak seru lagi jika mood ku sedang kacau seperti ini. ternyata, hanya aku saja yang memiliki perasaan seperti ini. aku sangat iri dengan nijimura shouzo. Dia begitu beruntung mendapatkan adikku. Tapi apakah ini yang terbaik? Apa aku terlalu cepat untuk menyimpulkannya? Bruk! Aku berbaring di sofa dan menutup wajahku dengan novel. Aku begitu kesal, hatiku begitu sakit. Dia benar – benar tak peduli dengan perasaanku. Aku hanya ingin dia bergantung padaku saja, seakan dia tak akan bisa hidup tanpa diriku. Hanya satu – satunya yang dia miliki di dunia ini.
Huwaaa! Mengingatnya saja sudah membuatku kesal.
Nijimura Shouzo, jika kau mengkhianati adikku. Akan kubunuh kau.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhir – akhir ini aku jarang mengobrol dengan Miki. Karena ke egoisan ku, membuat kami tak bisa mengobrol seperti biasa. Ini lebih menyakitkan dibanding ia tak memanggilku 'oniichan'. Ingin aku menghubunginya, namun aku tak bisa. Entah mengapa aku merasa kesal, tapi aku tak tahu penyebabnya apa. rasanya aku ingin membunuh seseorang, aku kadang rindu dengan otak yang hancur atau badan yang dilumuri darah. Tapi mengingat wajah miki yang sedih membuatku tak bisa membunuh seseorang dengan mudah. Hmm, apa aku akan mencari pencopet lalu menyiksanya ya? Itu ide bagus.
Aku menggosokkan kedua tanganku karena malam ini lumayan dingin. Duk! Duk! Bunyi bola basket terpantul terdengar jelas di telingaku. Oh iya, kalau tidak salah disini ada lapangan basket kan? Hm aku menuju kearah sumber suara itu melewati semak – semak. Bisa kulihat jika ada sepaasang manusia sedang ada disana. Lebih tepatnya aku mengenal mereka berdua. Samuzora Yoreum lalu, Nijimura Shouzo, mereka sepertinya sedang asik akan hal sesuatu sampai bisa membuat samuzora tersenyum seperti itu. Akupun menontonnya di balik bayangan pohon sampai mereka berdua tidak merasakan keberadaan diriku.
Sang ayah mulai menjitak si anak, dan si anak hanya meringis kesakitan. Ini ada yang aneh, kenapa wajah mereka malu – malu seperti itu, juga perasaan ini. aku tak asing dengan perasaan ini. jangan bilang, Nijimura Shouzo menyukai anaknya sendiri? Tunggu! Tidak mungkin kan? Entah mengapa tanganku sudah siap dengan handgun yang aku rakit sendiri.
Nijimura shouzo mencium tangan Samuzora layaknya sedang melamar kekasih untuk menjunjung hubungan yang lebih tinggi lagi. Lalu bagaimana dengan Miki? Bagaimana dengan perasaan Miki? Ck! Orang ini tak bisa dimaafkan, siapapun yang melukai perasaan adikku, akan kubunuh! Handgun ku mengarah ke kepala Nijimura shouzo, siap untuk menghancurkan wajahnya kapan saja. Tapi apa yakkin ini yang terbaik? Apa lebih baik aku harus membunuh samuzora yoreum agar dia bisa bersama miki? Ada yang pernah mengatakannya padaku, jika kau ingin membuat orang yang kau benci itu tersiksa, kau harus meregut sesuatu yang berharga baginya.
Aku tersenyum puas, sekarang aku mengerti. Targetku berubah kearah samuzora yoreum dan siap menarik pelatuknya. Lagipula aku sama sekali tak peduli dia mati atau tidak. Lucu sekali. Aku menarik pelatukku dan DOR! Peluruku berhasil mengenai dada samuzora dengan tepat, membuatnya mengeluarkan darah begitu banyak sehingga membuat nijimura shouzo panik dan langsung membawa samuzora ke rumah sakit. Lagi – lagi aku tersenyum senang, sangat... sangat senang dan puas.
Nijimura Shouzo, itu adalah balasanmu karena sudah mencampakkan adikku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
Mind to reviews?
P.S :
HOLAHO! Wah kayaknya banyak yang kecewa dengan endingnya nijimura x samuzora nih :v #tertawajahat
Tetapi disini matsu akan menjelaskan kenapa matsu memilih sad ending! Karena...soalnya matsu bosen kalau ceritanya happy end mellu, akashi dkk dapet enaknya melulu, kan gak asik. (030) Lagipula matsu lagi kepikiran buat prequelnya atau ngk (author udah ditodongin piso ma Yoruna Aozora – san and Tetsuya 21 - san).
Yah lihat saja lah nanti...matsu ngk mau menjanjikan ssuatu yang gak pasti, soalnya matsu kalo lagi mager ya mager. (ni author pengen dibunuh kayaknya nih) :v
Sudh...sudah, thanks for following and favorite fanfic "kau adalah yang berharga" :v
Dan minta maaf sama semuanya (termasuk lightning shun – san, yang udah ngelempar kasurnya, maaf banget ya!) karena ceritanya agak mengecewakan. terimakasih
