Remake Story by Phoebe
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Others
[Chanbaek]
.
.
.
.
.
.
Angin berhembus kencang di haluan kapal pesiar yang mewah. Sudah dua hari Baekhyun meninggalkan rumah setelah perdebatan sengit dengan ayahnya tempo hari. Ayahnya pada akhirnya tetap mengetahui segalanya meskipun semua masalah itu terus berusaha di sembunyikan darinya. Ibu tirinya menjadi korban amukan ayahnya yang lebih besar lagi karena itu dan saat itu Baekhyun sama sekali tidak tau harus berbuat apa-apa. Semua tentang Chanyeol sedikit banyak membuat ayah merasa lega karena laki-laki itu tidak lepas tangan begitu saja.. Tapi ayahnya sangat marah saat mengetahui kalau mereka sempat berencana menyingkirkan dan menyembunyikan kandungan Baekhyun. Meskipun melalui perdebatan yang parah, Baekhyun merasa lebih lega. Ayah tidak terserang penyakitnya, hanya sedikit shock yang membuatnya demam seharian dan tadi ibunya menelpon kalau ayahnya sudah sembuh.
Baekhyun memeluk Li Jin semakin erat. Anak itu belakangan ini semakin dekat dengannya. Tadi Li Jin mengeluh kepanasan di dalam kamarnya dan sekarang Baekhyun harus memastikan kalau Li Jin tidak kedinginan karena tertidur di haluan dengan angin yang cukup kencang. Baekhyun menggendong Li Jin dan ingin membawanya masuk ke dalam kamar. Sepanjang koridor menuju kamarnya, Baekhyun terus berdendang agar Li Jin bisa tenang. Tapi Li Jin menggeliat dan menangis begitu menyadari kalau hawa di sekelilingnya berubah menjadi lebih Hangat. Luhan dari kejauhan menyongsong dengan gerakan cepat dan segera mengambil alih anaknya lalu berusaha menenangkannya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Li Jin yang sangat kecil.
"Dia hanya rewel saja, seharian ini Li Jinsusah tidur!" Kata Luhan. Ia berusaha menenangkan Baekhyun yang memperlihatkan wajah penuh rasa bersalah. "Nanti malam aku butuh bantuanmu. Ada pesta besar disini, jadi aku meminta kau menjaga Li Jin!"
Baekhyun mengangguk. "Saya akan menjaganya di kamar."
"Di kamar? Tidak, tidak. Ayahnya ingin Li Jin ikut ke pesta. Dia sangat bangga kepada anak laki-lakinya dan berharap bisa memperkenalkan Li Jin kepada teman-temannya. Jadi ku harap kau bisa ikut kepesta."
Pesta? Baekhyun tidak membawa satu pakaianpun yang pantas untuk di bawa ke pesta. Yang ada di dalam kopernya hanya jeans dan jeans. Pantaskah bila ia menggunakan itu di pesta nanti?
Baekhyun sama sekali tidak keberatan untuk melakukannya tapi itu sama seja dengan tidak menghormati orang-orang yang mungkin memberikan penampilan terbaiknya nanti malam. Baekhyun mendesah. "Boleh saya menggunakan Jeans, nyonya? Saya hanya punya Jeans…"
"Sudah berapa kali ku bilang, jangan panggil aku nyonya. Soal itu, Kau ikut denganku saja!"
Luhan menggelengkan kepalanya memberikan kode kepada Baekhyun untuk mengikutinya. Baekhyun tau kalau Luhan sedang membawanya ke kamarnya di sudut lain kapal. Selama ini Luhan selalu tidur bersama suaminya dan Baekhyun bersama Li Jin di kamar yang lokasinya berjarak cukup jauh. Untungnya selama ini Li Jin tidak pernah berteriak-teriak sehingga harus membuat penumpang kapal yang lain kewalahan. Kamar Luhan sama sekali tidak berbeda degan kamar yang di tinggali Baekhyun selama di kapal ini, semuanya sama persis seperti duplikat. Luhan bahkan memindahkan pakaiannya kelemari sebagai tanda kalau dia akan tinggal lama di kapal ini. Ia membuka lemari pakaian lebar-lebar dan mempersembahkan kepada Baekhyun beberapa pakaian pestanya. Baekhyun benar-benar terperangah. Bukan sebuah pakaian yang mewah, tapi cukup untuk membuatnya terkagum-kagum. Luhan memilih warna-warna yang tak lazim untuk gaunnya, tidak ada warna hitam
seperti yang di harapkan Baekhyun.
"Kau bisa mengenakan ini" Kata Luhan. "Ukuran tubuh kita tidak berbeda jauh, aku hanya sedikit lebih tinggi darimu. Jadi kau pakai yang rok pendek saja. Itu juga untuk memudahkan pekerjaanmu kalau nanti harus mengejar-ngejar Li Jin yang nakal. Kau punya sepatu?"
Baekhyun mengangguk. "Kalau sepatu, aku punya!"
.
.
.
.
.
Sebuah gaun Shippo berintonasi lembut membalut tubuh Baekhyun. Selera Sehun atas karya istrinya membuat laki-laki itu memuji Baekhyun semalaman dan mendapat cubitan cemburu dari istrinya. Jika Luhan yang menggunakan, mungkin gaun itu akan lebih pendek karena Luhan adalah sosok yang tinggi besar bagaikan dewi. Tapi di tubuh Baekhyun, gaun itu menutupi sebagian betisnya dengan chiffon yang selalu bergoyang ringan setiap kali dia bergerak. Baekhyun menggunakan sepatu coklat yang biasa di gunakannya ke Coffee shop. Untungnya tidak ber-hak terlalu tinggi sehingga ia masih bisa mengikuti gerak Li Jin yang entah mengapa malam ini tidak mau diam.
Selebihnya Baekhyun benar-benar polos, ia hanya mengenakan sebuah anting perak untuk menghiasi telinganya karena gaun yang bergantung di lehernya sama sekali tidak memungkinkannya untuk mengenakan kalung meskipun lehernya berpotongan rendah.
Berkali-kali pandangan mata orang-orang tertuju padanya. Baekhyun adalah satu-satunya yang berbinar-binar karena ia satu satunya wanita yang menggunakan gaun berwarna terang dan sangat lembut. Selebihnya, semua orang mengenakan gaun berwarna sama, hitam, merah, silver dan beberapa orang memakai warna ungu dan hijau. Luhan memilih warna hijau zaitun sehingga membuat kulitnya terlihat sangat cerah. Dan gaun Shippo yang Baekhyun kenakan juga memiliki efek yang sama. Semuanya karena Luhan, ia memilihkan gaun yang akan Baekhyun kenakan, bahkan sampai menginspeksi seperti apa sepatu yang Baekhyun kenakan dan menyamakannya dengan warna cat kuku Baekhyun saat ini. Dia memaksa Baekhyun berdandan semaksimal mungkin.
Meskipun begitu, adanya Li Jin di pangkuannya membuat tidak seorang laki-lakipun yang berani mengajak Baekhyun berdansa dan ia patut bersyukur karena itu. Baekhyun hanya memandangi pasangan paling serasi di dunia, Luhan dan Sehun yang sedang asik bertengkar di lantai dansa. Luhan sangat superior dan Sehun selalu punya cara untuk membantah. Mereka mungkin bertemu karena pertengkaran sebelum akhirnya jatuh cinta. Itu terlihat dari semua interaksi mereka selama ini. Dan setiap kali mereka bersikap seperti itu, keduanya berhasil menghibur Baekhyun dan membuatnya berusaha menahan tawa seperti kali ini. Tiba-tiba Li Jin menggeliat turun dan berlari mendekati ibunya. Dalam sekejap anak itu sudah berada di atas leher ayahnya dan bersenang-senang dengan keluarganya. Baekhyun menjadi sangat iri, seandainya ia dan Chanyeol bisa seperti itu…
Astaga kenapa tiba-tiba memikirkan Chanyeol lagi? Baekhyun membatin..
ia tidak seharusnya memikirkan Chanyeol. Yang harus di lakukannya adalah menolak semua permintaan dansa yang di tujukan kepadanya. Baekhyun benar-benar merasa risih setiap kali ada tangan-tangan terjulur untuknya. Ia berharap Li Jin segera kembali meskipun sepertinya mulai mustahil. Keluarga itu bahkan sudah meghilang entah kemana.
"Maaf, aku tidak bisa!" Baekhyun menolak lagi. Ia sempat memandang laki-laki yang membungkukkan badan di depannya sekilas.
"Tapi Nona, Permohonan ini tidak bisa di tolak."
"Aku tidak bisa menari. Aku sedang sakit…" Baekhyun menghentikan ucapannya. Ia memandang seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya sambil terperangah. Chanyeol. Sekali lagi Baekhyun memandang laki-laki yang tadi menjulurkan tangannya kepada Baekhyun. Jungsoo , orang itu…
"Aku mengutus Jungsoo untuk memintamu berdansa denganku dan kau menolak? Dengan susah payah aku menyusul kemari, kau fikir mudah mencapai sebuah kapal yang ada di tengah lautan? Degan yacth?"
Baekhyun segera menundukkan wajahnya. Walau bagaimanapun dia tidak mungkin berdansa dengan Chanyeol. "aku sedang menunggu Li Jin!"
"Dan jadi orang bodoh disini? Mereka sudah kembali ke kamarnya." Chanyeol meraih tangan Baekhyun yang berada di pangkuan gadis itu dan berusaha menariknya. "Ikut aku, kita bicara…"
"Bicara disini saja!" Baekhyun menggeliat untuk melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol dan berhasil. Chanyeol berpindah ke lengannya sehingga Baekhyun meringis.
"Berhentilah bersikap seperti ini. Aku tidak suka di paksa. Kau membuatku takut!" Chanyeol tidak perduli. Dia benar-benar menyeret Baekhyun keluar dari ruangan itu menyusuri koridor menuju tempat yang Baekhyun kenal. Kamarnya dan Li Jin. Ia harus terkejut saat Chanyeol memiliki kuncinya dan mendapatkannya dari Jungsoo. Sesaat kemudian Chanyeol memerintahkan Jungsoo menunggu di luar sebelum menutup pintu.
Pada akhirnya mereka berakhir seperti ini, Baekhyun terpaku saat Chanyeol menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak Baekhyun sukai.
"Aku tidak menyangka kalau malam ini kau berubah menjadi wanita idaman Sehun." Chanyeol berdesis.
"Ini bukan mauku, Luhan memaksaku…"Baekhyun terdiam sejenak lalu menantang wajah Chanyeol yang semakin mendekat kepadanya. "Kalian merencanakannya?" Chanyeol tersenyum. Meskipun berbeda warna, Baekhyun harusnya sadar kalau gaun yang di kenakannya sama persis dengan gaun merah yang Baekhyun kenakan saat mereka menikah.
Sengaja? Iya.
Chanyeol merencanakannya semenjak Baekhyun tidak memperdulikannya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku sudah mengurus semuanya." Jawab Chanyeol. "Aku bahkan siap membunuh orang-orang yang pernah menatapmu dengan pandangan binatang mereka. Aku membuat para Netter yang menjadikan tubuhmu sebagai objek hobi aneh mereka delapan tahun yang lalu melupakan semuanya, Aku membuat mereka semua menjauh dari dunia ini."
"Kau sedang mengatakan apa?"
"Aku tidak suka saat istriku di gunakan sebagai bahan untuk memanjakan pandangan laki-laki lain. Sekarang aku sudah menghapusnya dari dunia ini, aku tinggal menghapusnya dari ingatanmu."
Baekhyun memijat dahinya sejenak. "Apa yang sudah kau lakukan?"
"Apa kau akan percaya bila aku katakan kalau mereka semua sudah mati? Mereka semua sudah musnah dari pandanganmu dan sekarang biarkan aku membantumu melupakan semuanya!"
"Kau ingin memaksaku lagi?"
"Aku tidak akan memaksa.."
"Kalau begitu aku tidak mau!" Potong Baekhyun tegas, ia kemudian berusaha mendekati pintu. Tapi Chanyeol berhasil membuka simpul di lehernya sehingga membuat gaun Baekhyun nyaris melorot kebawah. Untungnya Baekhyun berhasil menahannya secara spontan dan berusaha mengikatnya kembali dengan ikatan yang lebih solid. Baekhyun masih berusaha tidak memandang wajah Chanyeol, tubuhnya mulai gemetar karena dirinya tau sekarang dia sedang tidak bisa lari. Ada Jungsoo di depan pintu yang siap menghalanginya saat ia keluar nanti.
"Sampai kapan kau akan begini?" Desis Chanyeol.
"Aku tidak bisa melakukannya. Malam itu kau benar-benar membuatku takut dan itu cukup untuk jadi alasan mengapa aku tidak akan melakukannya lagi. Kau tidak lihat tubuhku sudah
mulai gemetaran…" Baekhyun mengulurkan tangannya untuk meyakinkan Chanyeol betapa takutnya dia membayangkan apa yang akan Chanyeol lakukan padanya.
"Itu karena saat itu kau berfikir Suho yang menyentuhmu. Sekarang berbaringlah. Kita coba sekali lagi dan aku tidak akan memaksa. Bila kau ketakutan aku akan berhenti." Baekhyun menggigit bibirnya. Ia sangat merindukan Chanyeol, Ternyata. Tapi Baekhyun ragu kalau dirinya akan baik-baik saja. Ia ingin mencoba, hatinya tengah membujuknya untuk mencoba. Tapi otaknya menolak dan dengan keras Baekhyun mengatakan tidak.
"Aku tidak bisa!"
Kali ini Chanyeol mendekat. Ia memandangi Baekhyun yang masih menolak untuk memandang wajahnya. "Baekhyun, lihat aku. Kau akan baik-baik saja, ruangan ini sangat terang dan kau bisa melihat wajahku dengan jelas."
Baekhyun menghela nafas berat, rasa rindu pada Chanyeol sudah tidak bisa di toleransi. Perasaan itu bahkan mencampuri rasa takutnya sehingga semuanya menjadi meragukan. Ia akan melakukannya? Baekhyun tau kalau dirinya sangat merindukannya. Tapi setiap kali di sentuh laki-laki, yang terbayang hanya Suho, hanya pemaksaan dan hanya kesakitan. Tubuhnya merasa nyilu mengenang bagaimana sayatan demi sayatan mendarat di tubuhnya, bagaimana daerah sensitifnya di permainkan dengan berbagai cara, di masuki macam-macam benda. Sekali lagi Baekhyun menatap wajah Chanyeol dan semua bayangan itu tercampur dengan semua kebahagiaan yang sudah Chanyeol berikan. Janinnya yang berdetak di monitor, Chanyeol yang berlutut di hadapan ibunya, Topi woll berwarna hijau, Jimat merah dan airmata Chanyeol saat do'anya tidak di kabulkan, sepertinya Baekhyun mulai terbujuk. Ia membiarkan Chanyeol membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa kata-kata. Membiarkan Chanyeol merangkak di atas tubuhnya dan harus merasa gelisah saat laki-laki itu menghujani wajahnya dengan ciuman berkali-kali. Kedua tangan Baekhyun menggenggam seprai sutra berwarna merah dengan erat, dia yakin sebentar lagi dirinya akan segera berteriak, Baekhyun tidak sanggup menahannya lagi.
"Buka matamu! Lihat aku!" Suara Chanyeol berbisik.
Baekhyun membuka matanya dan memandang wajah Chanyeol dalam jarak yang dekat. Terbersit rona malu saat ia dan Chanyeol bertatapan. Bahkan delapan tahun lalu, setiap kali dirinya dan Chanyeol bercinta Baekhyun tidak pernah memandang wajah Chanyeol
sekalipun.
"Jangan pernah biarkan matamu terpejam lama. Lihat aku, aku yang menyentuhmu. Mengerti?"
Baekhyun mengangguk pelan. Selang beberapa detik ia mengerang saat ada bagian dari tubuhnya dan tubuh Chanyeol yang menyatu, dirinya mulai di jalari perasaan takut, Baekhyun nyaris memejamkan matanya lagi jika Chanyeol tidak menyebut namanya.
"Pegang tanganku kalau kau merasa takut! Aku ada disini, seandainya kau membayangkan wajah Suho, aku ada disini untuk menolongmu." Chanyeol menjulurkan tangannya dan Baekhyun menggenggamnya. Ia mendekap sebelah tangan Chanyeol dengan kedua tangannya di atas dada. Selang beberapa waktu kemudian Chanyeol mulai bergerak, membuat nafas Baekhyun hampir saja berhenti. Baekhyun harus menahan diri untuk tidak terpejam dan melihat kedalam mata Chanyeol yang tidak berhenti menatapnya. Sesekali bayangan Suho muncul, tapi Baekhyun berhasil menepisnya. Chanyeol ada disini bersamanya, Suho? Laki-laki itu sudah mati.
Perlahan-lahan Baekhyun mulai mendesah dalam suara yang sangat halus, genggamannya pada tangan Chanyeol mengendor memberikan kesempatan kepada Chanyeol untuk menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Dan mereka terus berpacu meskipun gaun Baekhyun sama sekali tidak di tanggalkan, meskipun Chanyeol juga masih mengenakan kemejanya lengkap dengan dasi yang masih rapi yang berjuntai menyentuh dada Baekhyun. Semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya Baekhyun sampai lebih dulu dan Chanyeol segera menyusulnya. Ia benar benar terengah-engah dan merasa sangat lega. Chanyeol masih menatapnya, masih disini bersamanya.
"You did it! Aku berhasil membuatmu tidak berteriak kali ini!" Chanyeol masih berbisik. "Kau membutuhkanku, bukan Jongin!"
Baekhyun menelan ludah berusaha menenangkan nafasnya. Ia memejamka matanya lama, beberapa bulir keringat mulai mengalir di sela-sela rambutnya. Ia bisa merasakan kalau Chanyeol belum ingin berpisah, setiap kali ada sesuatu yang membasahi daerah sensitifnya yang terdalam benar-benar membuat Baekhyun tidak bisa jika tidak berdesah halus. Ia sudah sangat lama tidak merasakan ini, sudah sangat lama tidak menikmatinya.
"Kau baik-baik saja?"
"I'm okay!" Jawab Baekhyun, ia membuka matanya dan menatap
Chanyeol yang masih memandanginya. "Sampai kapan kau akan bertahan dalam posisi seperti ini?"
Chanyeol tersenyum malu-malu, tapi dirinya sama sekali tidak bergerak. "Aku hampir kehilanganmu untuk selamanya. Sekarang mana mungkin aku melepasmu begitu saja!" Baekhyun tidak menjawab, ia masih berusaha mengatur nafasnya.
"Berapa usiamu sekarang?" Tanya Chanyeol.
Dahi Baekhyun berkerut. Untuk apa Chanyeol menanyakan usianya sekarang? Chanyeol tau berapa rentang usia mereka dan seharusnya laki-laki itu bisa menghitungnya sendiri. Dengan ragu-ragu Baekhyun menjawab. "dua puluh tiga…" Dan ia merasakan kalau Chanyeol mencumbunya. Sebuat ciuman panjang yang sangat manis. Baekhyun sangat merindukannya. Kedua lengan Chanyeol melingkarkan sesuatu yang menghadirkan rasa dingin di lehernya. Baekhyun menyentuh benda itu dan berusaha melihatnya, sebuah kalung dengan bandul mutiara putih yang cantik siap menggantung di lehernya. Chanyeol sudah mengenakannya dengan baik.
"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang kesembilan." Bisik Chanyeol lirih. "Kau ingat hari ini kan?"
Kali ini Baekhyun tidak memandang Chanyeol dengan rona malu, ada sesuatu yang lebih luar biasa lagi tergurat disana. Baekhyun menjulurkan tangannya melingkari leher Chanyeol dan memeluknya erat sehingga Chanyeol benar-benar jatuh di atas tubuhnya, Baekhyun sedikit mengerang saat merasa bagian tubuh Chanyeol yang tadi masih berada di dalam dirinya menekan semakin kedalam. Gadis itu bersyukur ia masih bisa bernafas di sela-sela air matanya yang mendesak.
"Aku fikir aku tidak akan merasakan kebahagiaan seperti ini lagi." Desis Baekhyun.
Mereka berpelukan lama, karena Chanyeol juga tidak mengerti harus mengatakan apa. Ia membiarkan Baekhyun menangis dalam pelukannya, berusaha menopang tubuhnya dengan tangan agar Baekhyun tidak merasa terbebani dengan tubuhnya. Tiba-tiba bunyi pintu di ketuk. Baekhyun perlahan-lahan melepaskan rangkulannya dan menyeka air matanya. Chanyeol kali ini melepaskan diri dari tubuhnya dan merapikan pakaiannya lalu membuka pintu. Baekhyun juga berusaha duduk dalam keadaan yang lebih rapi, ia bersyukur masih mengenakan gaunnya saat Li Jin menghambur kedalam pelukannya. Setidaknya Li Jin tidak melihat-hal-hal aneh yang tidak pantas untuk mata anak seusianya.
"Dia merengek ingin tidur bersama nany-nya. Aku sudah berusaha membujuknya!" Sehun berdiri di depan pintu bersama istrinya. Keduanya sudah mengenakan pakaian tidur dan Li Jin juga sudah mengenakan piama berwarna kuning gading dengan gambar tokoh kartun idolanya.
Chanyeol memandangi Baekhyun sejenak lalu tersenyum kepada Sehun. "Kalau begitu biarkan Li Jintidur bersama kami malam ini."
"Tapi kalian berdua…"
"Kami sudah selesai. " Chanyeol memotong ucapan Luhan.
"Sekarang kembalilah kekamar kalian. Aku juga lelah dan ingin tidur!"
Luhan dan Sehun masuk ke kamar itu sebentar dan pergi setelah mencium kening putranya. Beberapa saat kemudian Chanyeol hanya bisa memandangi Baekhyun yang sibuk menidurkan Li Jin dengan penuh kasih. Ia mengeluarkan sebuah foto hasil UsG yang di ambilnya dari Baekhyun tempo hari dan memandanginya lekat-lekat.
Seandainya anak itu lahir, mungkin sudah berlarian bersama Li Jin sekarang, mungkin sudah menggendong Li Jin atau malah menidurkannya seperti yang sedang Baekhyun lakukan saat
ini. Li Jin sudah terlelap dan Baekhyun sepertinya juga sudah mulai mengantuk. Ia menguap beberapa kali sambil memandangi Chanyeol yang mendekat kepadanya.
"Mama, tidurlah." Ujar Chanyeol. Ia nyaris membuat Baekhyun tidak bisa menahan tawanya. Mama? Sudah sangat lama Baekhyun tidak memberi respon sebaik ini saat ia mengucapkannya. "Sampai anak kedua kita lahir, Li Jinadalah anak kita. Kau sangat menyayanginya kan? Luhan noona bilang dia sangat dekat denganmu."
"Maksudmu?"
"Selama di kapal ini dia akan jadi anakmu. Apakah Sehun sudah mengatakan kalau dia dan istrinya sedang bulan madu yang kedua? Mereka beruntung ada dirimu disini, seharusnya mereka melakukan hal yang lebih kejam lagi dengan meninggalkan Li Jinbersama neneknya di Seoul. Bisa kau bayangkan bagaimana Li Jinmenangis memanggil ibunya?"
Baekhyun mengangguk mengerti. Ia berbisik agar Chanyeol segera mengganti pakaiannya dan Setelah itu giliran Baekhyun, karena tidak mungkin dirinya akan mengenakan gaun semalaman. Semua berjalan dengan bahagia. Setelah ini, dirinya hanya perlu, menikmati kebahagiaan yang tertunda yang seharusnya sudah menghampiri hidup mereka sejak lama.
.
.
.
.
.
"Kau memuat nama semua orang di laporanmu, Sehun dan Luhan noona juga, Tapi kenapa hanya aku yang tidak? Kenapa kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku?" Chanyeol mengerang untuk yang kesekian kalinya minggu ini. Ia masih kesal karena tidak ada Nama Park Chanyeol dalam laporan Baekhyun. Chanyeol bertindak seolah-olah hal itu adalah hal yang paling menyakitinya di dunia. Bahkan hari ini dia sama sekali tidak berhenti melakukannya meskipun mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat di Manhattan.
Sadar atau tidak kelakuan kekanak-kanakannya berhasil membuat Baekhyun tertawa. Bukan hanya Baekhyun, Ayah dan ibunya bahkan juga Byun Taehyung melakukan hal yang sama. Chanyeol kelihatannya sangat kesal sekali karena merasa tidak di anggap ada.
"Namamu sudah ada di hatiku, tidak cukup?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menggeleng. "Tidak. Aku ingin semua orang tau, aku ingin kau menuliskan terimakasih untuk suamiku tercinta Park Chanyeol …"
"Kenapa kau tiba-tiba jadi kekanak-kanakan begini? Kau ingin siapa lagi yang tau? Dengan kelakuanmu belakangan ini, sudah berhasil membuat semua orang tau kalau aku bukan wanita lajang. Bahkan teman-teman di coffee shop juga. Kau tau, bagaimana mereka mengejekku setiap hari?"
"Marahi saja! Sekarang Kau Bosnya. Aku mengambil alih Coffee shop itu untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu dua bulan yang lalu. Jadi kau berhak memarahi mereka tentunya." Gumam Chanyeol.
Taksi yang membawa mereka berdua berhenti di sebuah tempat yang sangat Baekhyun kenal. Meskipun dirinya hanya pernah sekali datang kemari, tapi semua ingatannya tentang tempat ini masih sangat jelas. Sungai itu, masih tersembunyi dari keramaian.
Tempat dimana mereka melepas calon bayi mereka dengan ikhlas, tempat dimana Baekhyun dan Chanyeol berjanji untuk bersama selamanya. Keduanya keluar dari Taksi dan membiarkannya pergi, dalam hitungan menit, Chanyeol sudah menggenggam tangan istrinya dan duduk di pinggir sungai dengan tenang. Pohon yang rindang membuat tempat ini menjadi sangat teduh.
"Sekarang lakukanlah!" Bisik Chanyeol.
Baekhyun menganguk lalu menghanyutkan bunga-bunga yang di bawanya dengan tenang. Ia lebih banyak diam dan terhenyak mengenang kehilangan yang sudah di lewati dalam kurun waktu yang lama. Untuk beberapa menit suasana menjadi sangat hening hingga akhirnya Chanyeol kembali berbisik. "Sudah selesai? Kita kesana saja!" Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah pohon rindang yang meneduhi sekelompok rumput-rumput tebal di bawahnya.
Tanpa persetujuan selanjutnya Chanyeol kembali meraih tangan istrinya sampai keduanya berakhir dengan berbaring di bawah pohon itu denga nyaman. Chanyeol melepas rasa lelahnya dengan menghela nafas beberapa kali. Perjalalan seharian ini benar-benar sudah berhasil membuat pinggangnya sakit. Ia memandangi Baekhyun yang berada dalam pelukannya sejenak lalu beralih kepada cahaya yang menelisip dari balik dedaunan.
"Kau merindukan anak kita tidak?" Katanya.
Baekhyun menyandarkan kepalanya ke lengan Chanyeol lalu mengangguk. "Setiap hari, setiap jam, setiap detik selama sembilan tahun aku selalu merasakan hal itu."
"Aku juga sama! Tapi dia akan terlahir kembali, Kan?"
"Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau aku benar-benar tidak akan pernah bisa memberimu anak?"
Chanyeol mendesah. "Baekhyun, Berarti benar firasatku kalau sebenarnya anak kita sudah terlahir dalam bentuk Li Jin. Kau tau, kan? Luhan noona juga sama sepertimu. Hanya saja wanita itu lebih kuat untuk membuat pertahanan terhadap dirinya sendiri dan pasti bisa hidup tanpa Sehun bila saat itu dia benar-benar membawa rahasia kehamilannya pergi dari kami. Aku merasakannya, saat mengetahui kalau Luhan sedang mengandung aku merasa kalau yang berada dalam kandungannya adalah anakku."
"Seandainya aku lebih kuat, mungkin aku tidak akan kehilangan janinku. Tidak akan kehilanganmu, dan…"
"Berhentilah berbicara seperti itu. Kau memang harus tercipta sebagai sosok yang lemah agar aku bisa selalu melindungimu. Jika kau sama kuatnya seperti Luhan noona, aku yakin kalau sekarang kita tidak akan bersama lagi. Kau akan benar-benar menjauh dan tidak akan kembali demi ayahmu. Kau tau tidak? Saat itu Luhan noona sudah siap meninggalkan semua keluarganya. Jadi aku tidak akan rela kalau kau seperti dia!"
Baekhyun tertawa halus. Benar, jika Baekhyun sama seperti Luhan, maka Baekhyun tidak akan pernah kembali ke Seoul, tidak akan melarikan diri ke Jepang, Baekhyun pasti akan lebih memilih untuk pergi ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang akan menduga kalau dirinya berada disana. Dia beruntung menjadi orang yang lemah, beruntung karena masih di beri kesempatan untuk bersama Chanyeol pada akhirnya dalam damai seperti sekarang.
Baekhyun mengangguk mengerti. "Kau belum memberi jawaban yang ku inginkan. Jika aku benar-benar tidak bisa memberimu anak bagaimana?"
"Kita jemput saja anak kita yang ada di Jepang. Selagi Li Jin masih bisa di iming-imingi dengan mainan, dia pasti akan ikut dengan kita!"
Baekhyun memukul dada suaminya dengan kesal. "Aku serius!"
Chanyeol tertawa senang. Lalu memejamkan matanya perlahan. "berhentilah berkata sedih seperti itu. Masih banyak cara untuk bahagia di dunia ini. Jika kau mengatakan tidak pernah memberiku anak, itu anggapan bodoh. Kau sudah pernah hampir memberikannya meskipun bocah itu gagal lahir kedunia seperti rencana kita. Itu sudah cukup. Aku masih bisa melakukan hal lain bersamamu untuk bahagia, kan?"
Sejenak Hening. Nafas Chanyeol mulai teratur karena dirinya mulai mengantuk. Tapi meskipun ia sudah memejamkan matanya, Chanyeol masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Ia ingin membuka matanya dan melihat apa yang Baekhyun lakukan saat ini. Apakah Baekhyun sedang tersenyum, atau sedang menangis…
Akhirnya Chanyeol membuka matanya saat sebuah kecupan hangat hadir hanya untuknya. Ia memandangi Baekhyun yang tersenyum untuknya. Baekhyun mendesis mengucapkan terimakasih dengan bisikan yang sangat halus di telinga Chanyeol. Chanyeol menghela nafas dalam berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang mendesak. Ia sangat bahagia.
"Kenapa kau berterima kasih?" Tanya Chanyeol gugup. "Untuk semua kebaikanku, ya? Kau tidak perlu melakukan itu. Sudah sifatku…"
"Untuk bersedia menerimaku kembali setelah semua yang
terjadi. Aku beruntung karena mencintaimu Park Chanyeol!"
"Aku juga." Suara Chanyeol terdengar lebih pelan dari yang tadi.
"Jarang sekali ada pria yang seberuntung aku. Saat usiaku hampir empat puluh tahun, aku masih bisa memandangi wanita seksi berusia dua puluh tahunan yang menjadi istriku sekarang." Chanyeol lalu tertawa bangga. Kebahagiaannya bukana hanya karena itu. Tapi lidahnya teramat sulit untuk menjelaskan semuanya.
.
.
.
.
.
.
THE END
PS : AKHIRNYA END T.T . Entah kenapa remake an ini lebih sepi daripada yang lain.
Pokoknya Terimakasih buat kalian yang setia nyemangatin aku , menunggu ff remake ini update , membaca , mereview , memfollow dan memfavouritkan cerita ini.
Yang mau kenalan silahkan lewat twitter beefelous atau servalight /kalo ada sih/ Okey pokoknya makasih atas dukungan ff ini. Aku pamit keep supporting EXO and Chanbaek byeeee!:)
OKE SAMPAI JUMPA DI LAIN KESEMPATAN BYE KKAEBSONG!^^
READ , REVIEW , FAV PLEASE?
CHANBAEK IS REAL
I BELIEVE IN CHANBAEK
CHANBAEK JJANG
