14 September 2012

Happy 100 Reviews! Terima kasih untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca dan mereview fanfic ini. Dengan sangat menyesal penulis belum sempat membalas semua review kalian dikarenakan kepadatan jadwal studi dan sebagainya. Penulis akan membalasnya begitu ada waktu kosong. ^^

Untuk yang penasaran kapan BO akan muncul; Sabar dulu, ya. Penulis masih ingin bermain-main dengan perasaan Kudo Shinichi dan Kuroba Kaito dulu, nih~ ^^

Sebenarnya untuk chapter kali ini, penulis sedikit kebingungan dengan pemotongan chapternya karena chapter aslinya sangatlah panjang. Jadi, jika kalian merasa sedikit bingung, harap dimaklumi. Chapter selanjutnya diharapkan bisa memperjelas semuanya, ya. ^^;

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Case 13: Woman's Dresses Case

Part I

"I think dress, hairstyle and make-up are the crucial factors in projecting an attractive persona and give one the chance to enhance one's best physical features."
~Vivienne Westwoo

.

.

"Hei, Kaito,"sapa Aoko yang kemudian menduduki kursi di depan meja Kaito. Gadis itu memiringkan kepalanya menatap lembaran koran yang tengah dibaca oleh pesulap di hadapannya dan satu alisnya terangkat saat ia mengenali koran tersebut.

Mencondongkan tubuhnya, gadis itu lalu menggunakan tangannya untuk menjatuhkan koran yang tengah dibaca sang pesulap ke atas meja.

"Ahouko! Apa yang kau lakukan!" umpat Kaito ketika dilihatnya tangan Aoko tanpa sengaja merobek halaman yang sedang dibacanya.

"Ini koran dua hari lalu, kenapa kau masih membacanya?" tanya Aoko mengabaikan umpatan sang pesulap. "Kau bahkan tidak menyentuh koran hari ini."

Pesulap itu mendengus. "Aku penasaran dengan salah satu berita yang ada di koran ini. Lagipula koran hari ini sudah ku — HEI!"

"Benarkah 'berita' yang menjadi alasannya? Bukan karena wanita yang tengah diburu media karena tertangkap basah berkencan dengan seorang detektif?" ujar Hakuba dengan satu tangan memegang koran yang ia rebut dari tangan sang pesulap. Detektif pirang itu tersenyum penuh arti pada sang pesulap yang menatapnya dengan tatapan sebal. "Akuilah, Kuroba-kun. Wanita ini menarik perhatianmu, benar? Seluruh pria di kelas ini mengakui hal itu."

"Termasuk dirimu?" tanya Kaito dengan sebuah seringai di wajahnya dan alis yang dengan sengaja pesulap itu naik-turunkan. Seringai pesulap itu semakin melebar ketika dilihatnya sang detektif berdeham dan sedikit salah tingkah karena pertanyaannya.

"Tetapi wanita itu kasihan sekali," ujar Aoko pelan. Mata gadis itu menatap lembar koran yang kini kembali di ambil alih oleh Kaito.

"Kasihan?" tanya Hakuba dan Kaito bersamaan. Keduanya saling pandang ketika menyadari mereka baru saja berseru bersamaan lalu kembali mengarahkan pandangan mereka pada sosok Aoko.

"Ya. Kemarin wanita itu mendatangi ayahku sambil menangis, dia bilang Kudo Shinichi mencampakannya dan tidak mau menerima telpon darinya. Karena kasihan ayah meminjamkan ponselnya untuk menelpon detektif itu," jelas Aoko lugu. Gadis itu tidak tahu bahwa saat ia bercerita, pesulap di depannya tengah menertawakan keluguannya dan tentu saja kebodohan Nakamori-keibu karena tidak bisa membedakan Kaito KID dan dummy — yang ia gunakan setelah detektif dari timur yang ditelponnya memberitahu bahwa Natsumi Ema adalah Kaito KID pada sang inspektur.

Tunggu… Sepertinya kemarin aku tidak bilang kalau Natsumi Ema dicampakan. Aku hanya bilang kalau Shinichi tidak mau menerima telponku. Apa mungkin itu gossip yang dibesar-besarkan opsir wanita di meja resepsionis?

"Aku jadi penasaran, sehebat apa detektif dari timur itu. Tousan sering menceritakan kehebatannya saat mencoba menangkap KID dan teman-teman Tousan sering memuji-muji kehebatannya. Bahkan beberapa anak buah Tousan sepertinya sudah membuat fanclub untuk detektif itu," papar Aoko dengan nada bingung. Gadis itu lalu menatap Hakuba, "Kau pernah bekerjasama dengannya, benar? Apa pendapatmu tentang detektif itu, Hakuba-kun?"

Hakuba melirik ke arah Aoko sekilas lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Kudo-kun, ya…"

"Sebagai sesama detektif, aku menghormatinya. Beliau orang yang berdedikasi dan mungkin partner kerja yang dapat diandalkan," komentar Hakuba singkat. Kedua mata detektif itu menatap lurus langit-langit ruang kelas saat ia mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan oleh putri Nakamori Ginzo itu. "Kudengar beliau adalah harapan kepolisian Jepang, banyak kasus bisa ia selesaikan saat dimintai tolong oleh kepolisian, walaupun hingga saat ini aku belum tahu berapa banyak kasus yang sudah ia pecahkan. Padahal ia baru saja kembali setelah hampir 2 tahun menghilang."

"Menghilang?" Aoko mengangkat satu alisnya.

Hakuba mengangguk pelan, "Ya. Selama 2 tahun tidak ada orang yang tahu dimana keberadaannya dan secara tiba-tiba 6 bulan yang lalu ia kembali. Tidakkah kau pikir beliau sedikit misterius?"

"Setidaknya dia bukan tipe orang yang suka mencari perhatian seperti si pencuri bodoh itu," komentar Aoko setengah tertawa. Kaito, yang duduk di hadapannya, hanya bisa menatap datar gadis di hadapannya. Pesulap itu tampak tidak setuju dengan komentar putri Nakamori Ginzo di depannya.

"Pemuda itu adalah sebuah batu permata," sebuah suara menimpali dari sudut ruangan. Kaito, Hakuba, dan Aoko menoleh bersamaan menuju sumber suara yang ternyata berasal dari seorang gadis berambut merah, salah satu teman sekelas mereka, Koizumi Akako.

Gadis itu melirik ke arah Kaito lalu tersenyum penuh arti pada pesulap itu.

Perempuan ini selalu memberikan aura menyeramkan… batin Kaito yang tanpa sadar mengusap lengannya lengannya karena merasa bulu kuduknya berdiri.

"Permata?" tanya Aoko lugu.

Akako menganggukan kepalanya. "Beliau adalah permata bernilai tinggi yang memaksakan agar kilaunya selalu tertutup oleh bayangan rembulan, karena saat kilaunya berpendar di tengah gekapnya malam, banyak pemburu yang rela mati untuk menghancurkannya hingga berkeping-keping."

"Apa itu artinya pencuri bodoh itu juga akan mengejarnya? Untuk mendapatkan permata itu?" tanya Aoko sekali lagi.

Gadis berambut merah itu meletakan dagunya di atas telapak tangannya. Dengan seulas senyum ia melirik ke arah Kaito yang kini memalingkan wajahnya untuk menghindari tatap muka dengan gadis itu. "Kaito KID, ya? Hmm, menurutku pencuri itu adalah permata lainnya."

"Permata lainnya?" kali ini Hakuba yang bertanya. Kedua alis detektif itu bertautan satu sama lain. Topik 'Kaito KID' selalu bisa membuatnya penasaran.

Akako mengangguk pelan sebelum berdiri dari tempatnya. Ia berjalan mendekati ketiga remaja tersebut dan memusatkan perhatiannya pada sosok Kaito yang terlihat tidak berminat dengan segala kata-kata mistis yang gadis itu ucapkan. Sekali lagi gadis itu tersenyum.

"Untuk memecahkan sebuah permata, kau akan membutuhkan permata lainnya," ujar gadis itu dengan satu tangan terulur untuk memegangi dagu Kaito. "Satu lebih baik daripada dua, namun dua tidak selamanya baik. Satu di antara dua akan menelan kemilau bintang sementara dua akan terus tidur beralaskan arang. Katakan pada satu untuk tidak memecah dua dan pastikan dua tidak melepas satu dari genggaman tangannya."

Kaito menelan ludahnya menatap ekspresi dingin dan mencekam yang diberikan oleh gadis di hadapannya. Apa yang perempuan ini bicarakan?

"Jadi, kapan kau akan meluangkan waktu soremu untuk mengajakku berkencan, Kaito-kun?" tanya gadis bernama Akako itu dengan nada bicara yang berbeda 180 derajat dengan sebelumnya. Suaranya kali ini terdengar lebih ceria seperti gadis seumurannya pada umumnya dan tentu saja pertanyaan yang diajukannya hanya ditanggapi dengan ekspresi bingung dan sebuah komentar 'hah?' dari sang pesulap.

.

.

.

.

"Ini!"

"Hah?"

"Bukan 'Hah?'! Ini untukmu!"

Aoko memiringkan kepalanya. Kedua bola matanya menatap lurus eskrim yang dipegang oleh Kaito dan terlihat jelas kebingungan di wajah gadis itu.

Kaito memalingkan wajahnya. "Ucapan terima kasih," ujar pesulap itu pelan. "Untuk earphone yang kau belikan."

Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menoleh ke arah Kaito sesaat sebelum ditatapnya kembali eskrim yang dipegang Kaito. Kedua tangannya perlahan bergerak menerima eskrim itu dan dingin mulai menjalar di telapak tangannya, bertolak belakang dengan rasa panas yang menyelimuti pipinya.

Mengangguk pelan, gadis itu lalu menjilat permukaan eskrim vanilla yang dipegangnya. Kedua matanya tidak berpaling dari eskrim yang dipegangnya, tampak meneliti setiap topping yang memenuhi cone eskrim yang sedang dipegangnya. Chocolate chips, rice crispy, saus caramel, gummy bear, dan 3 batang Almond Pocky.

Dengan hati-hati gadis itu melirik ke arah pemuda di sampingnya. Pemuda itu memiliki eskrim serupa, hanya berbeda rasa eskrim dan jumlah topping yang menghiasi eskrimnya. Samar, gadis itu bisa melihat rona merah di wajah pemuda di sampingnya dan tampaknya, pemuda itu berusaha menutupinya dengan memalingkan wajahnya.

Jadi ini alasan mengapa Kaito tiba-tiba mengajak pergi sepulang sekolah…

"Jangan sampai kau tidak menghabiskan eskrimnya, Ahouko! Aku memakai uang jajanku minggu ini untuk membelinya!" canda Kaito yang kemudian menyeringai ke arah gadis itu.

Aoko mendengus.

"Salahmu jika ini tidak kuhabiskan! Kau membeli porsi sebesar ini, bagaimana caranya bisa kuhabiskan?"

Kaito mencibir. Dengan satu tangannya yang senggang ia mengambil salah satu Almond Pocky yang menancap pada eskrim vanilla Aoko dan memakannya. Melihat hal ini, Aoko terkesiap dan menjerit tertahan. "BaKaito! Kenapa kau ambil Almond Pocky-nya!"

"Karena kupikir kau tidak akan menghabiskan eskrimmu?" jawab Kaito dengan nada ragu.

"Tapi kau tidak boleh mengambil Almond Pocky milik Aoko!"

Kaito terdiam sesaat menatap Almond Pocky yang sudah digigitnya setengah lalu meliirik ke arah Aoko yang kini memalingkan wajahnya karena kesal terhadap ulahnya. Dengan satu helaan napas Kaito melahap setengah Pocky yang tersisa dan mengambil dua Almond Pocky yang menancap di atas eskrim coklat miliknya.

"Kau boleh memakan punyaku," gumam Kaito terdengar menyesal dan sekali lagi ia harus memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ada apa dengan dirinya? Akhir-akhir ini ia wajahnya sering terasa panas setiap berbicara dengan gadis di sampingnya…

"...seperti berlari, sekali kau berbohong kau tidak akan pernah bisa berhenti."

Kaito menggelengkan kepalanya pelan saat ingatannya kembali mengulang percakapannya — sebagai Kaito KID — dengan sang detektif favoritnya, Kudo Shinichi. Percakapan satu arah itu, sejak ia mendengarnya, terus terulang dalam kepalanya seperti rekaman sebuah kaset. Terus berulang hingga ia bisa mengingatnya dengan jelas setiap kata yang dikatakan oleh detektif itu. Namun mengingatnya, membuat dadanya terasa nyeri dan ada perasaan aneh di perutnya yang memaksanya untuk mencoba melupakan kalimat itu.

Pemuda itu melirik ke arah gadis di sampingnya sesaat lalu kembali menatap eskrim coklat di tangannya.

Kenapa? Mengapa semua perasaan aneh itu kembali menghantuinya? Padahal sudah sejak lama ia mencoba melupakannya, tetapi kenapa setiap mengingat ucapan detektif itu, perasaan aneh itu muncul lagi?

Apakah ini pertanda? Pertanda apa? Apa yang akan terjadi, sehingga semua perasaan aneh ini kembali menghantuinya?

"Kaito?"

"Ng?"

Kaito mendongak. Mengganti arah pandangannya dan kini menatap lurus gadis di hadapannya. Gadis itu memiringkan kepalanya, menatap bingung pemuda di hadapannya yang mengabaikan panggilannya. Dengan satu tangan terulur, gadis itu memegang kening pemuda di hadapannya lalu berganti menjadi memegang keningnya.

"Kau tidak sakit," ujar gadis itu pelan.

"Siapa yang bilang aku sakit?" tanya Kaito dengan nada meledek.

"Tapi sejak tadi kau melamun, bahkan seharian ini di kelas pun kau melamun, Kaito!"

Melamun? Aku melamun?

"Sudahlah, lupakan hal itu. Kemana kita sekarang? Kau tadi bilang ingin mencari sesuatu, benar?" ujar gadis itu mencoba mengganti topik pembicaraan dan dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh yang bersangkutan.

Pesulap itu kembali menjilat eskrimnya. "Aku ingin mencari saputangan, milik temanku tidak sengaja kubakar," jelas pemuda itu dengan memberi sedikit penekanan pada kata 'teman'.

Kenapa lidahku sedikit gatal mengucap kata 'teman'...

Gadis itu menarik satu alisnya ke atas. "Membakarnya?"

"Ceritanya cukup panjang," ujar Kaito dengan satu tangan terkibas di depan wajahnya, menandakan bahwa ia tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Jika dibahas, mungkin ia mau tidak mau harus menjelaskan mengapa sebuah saputangan harus berakhir di tempat perapian. Itu sama saja membuka kedoknya.

Keduanya tidak melanjutkan percakapan mereka. Selama perjalanan mereka hanya diam dan sibuk dengan eskrim masing-masing.

Sesampainya di stasiun kereta, Kaito menghentikan langkahnya tepat di depan pintu toilet wanita. Pemuda itu lalu memberikan sebuah paperbag kepada Aoko dan menyuruh gadis itu untuk mengganti seragamnya.

"Jalan-jalan dengan memakai seragam terlihat aneh," ujar Kaito pada Aoko saat Aoko bertanya apa isi dari paperbag tersebut.

Aoko tidak menolak. Sebaliknya ia sangat kooperatif dan tanpa banyak bertanya ia memasuki toilet wanita untuk mengganti pakaiannya, sementara Kaito menunggu di luar.

Memanfaatkan waktu yang ada, Kaito lalu mengeluarkan ponsel hitam miliknya. Tangannya dengan cepat mengetik deretan angka yang telah dihapalnya di luar kepala dan begitu selesai ia menempelkan ponselnya pada telinganya. "Kaasan?" tanyanya ketika telpon di seberang sana diangkat seseorang.

Suara di seberang sana tertawa pelan. "Kau menelpon untuk memberitahu bahwa kau akan pulang terlambat, 'kan?"

"Itu benar, tapi kenapa Kaasan terdengar sangat... Ceria? Sesuatu terjadi?" tanya Kaito dengan nada curiga. Nada ceria ibunya selalu menandakan bahwa sesuatu yang menyenangkan telah terjadi. Apapun itu, akhirnya tidak selalu menarik bagi Kaito.

"Tidak ada~ Kalau begitu nikmati acara kencanmu bersama Aoko-chan. Bye-bee!" Dan telpon terputus sebelah pihak. Kaito dengan satu alis terangkat menatap bingung layar ponselnya, kenapa firasatnya mengatakan bahwa apapun yang ibunya lakukan saat ini, hal itu ada hubungannya dengan 'nama baik'?

"Kau tidak mengganti bajumu, Kaito?" Aoko yang baru saja keluar dari toilet bertanya pada Kaito yang masih terlihat bingung.

Kaito menoleh ke arah Aoko dan mengangkat kedua alisnya saat melihat gadis di hadapannya memakai pakaian yang ia bawa. Sebuah mini dress dengan motif bunga-bunga dan bolero dari bahan jeans yang dipermanis dengan sepatu boots coklat. Gadis itu mengerjapkan matanya menatap wajah Kaito yang — dari penglihatannya — terlihat memerah.

"Kaito?"

"K, kau cocok memakai itu," ujar Kaito berusaha memuji. "Walaupun di bagian dadanya terlihat sedikit longgar."

Aoko dengan wajah memerah berusaha menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya. Gadis itu lalu mengayunkan paperbag yang kini berisi seragamnya ke arah kepala Kaito dan tepat mengenai kepala pesulap itu. "BaKaito! Cepat ganti bajumu!"

Kaito tertawa puas. Pemuda itu lalu menjentikan jarinya dan dalam sekejap asap merah muda mengerubunginya. Berhitung sampai tiga, bayangan Kaito mulai bisa terlihat dari balik asap merah muda itu dan tampak ia sudah tidak mengenakan gakuran hitamnya, melainkan sebuah jaket varsity hijau dan turtle neck hitam di dalamnya. Dengan senyum sejuta wattnya, pemuda itu lalu menarik tangan gadis di hadapannya untuk menaiki kereta yang baru saja tiba di stasiun Ekoda.

.

.

.

.

Dengan langkah santai Aoko berjalan di antara counter pakaian di sebuah tempat perbelanjaan di Shibuya. Arah pandangannya tertuju pada poster-poster dan display pakaian yang ada, semuanya terlihat berkilauan dan bisa dibilang sangat menarik.

Gadis itu lalu memusatkan perhatiannya pada deretan pakaian wanita yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Di sana, kedua matanya menangkap bayangan sesosok wanita yang terlihat mengenakan pakaian yang hampir serupa dengannya; mini dress bermotif bunga. Dengan satu alis terangkat Aoko menatap wanita yang mengenakan pakaian serupa dengannya itu.

Wanita itu memiliki rambut berwarna gelap panjang yang dibiarkan tergerai menutupi punggungnya. Tubuhnya cukup tinggi dan terlihat terbentuk dengan sempurna. Jaket berlengan pendek dengan bahan semi jeans tidak dapat menutupi bagaimana sempurnanya bentuk tubuh wanita itu.

Dari tempatnya berdiri, Aoko masih memperhatikan wanita itu hingga tidak sadar bahwa yang bersangkutan sadar sedang diperhatikan. Wanita itu lalu terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri, seorang wanita lainnya dengan rambut pirang pendek terlihat membisikan sesuatu. Wanita berambut panjang itu tersenyum tipis ke arah Aoko yang kemudian membuat Aoko tanpa sadar membalas senyuman wanita itu dengan wajah memerah.

Wanita itu lalu berjalan mendekati Aoko. Wanita lain, yang disangka-sangka sebagai teman wanita itu, terlihat mengikuti di belakangnya dengan beberapa tas belanjaan yang memenuhi tangannya.

"Halo," sapa wanita itu dengan senyuman ramah.

"H, halo," Aoko membalas sapaan dengan sedikit terbata-bata. Wajahnya seketika memerah ketika melihat penampakan wanita itu dari dekat.

Wanita ini cantik sekali...

"Ada apa? Sonoko bilang kau terus memperhatikanku sejak tadi," ujar wanita itu dengan arah pandangan tertuju pada wanita berambut pirang. Jadi nama wanita itu Sonoko.

Aoko mengibaskan tangannya. "M, maaf. Aoko hanya sedikit kaget melihat ada orang lain yang memakai baju yang sama dan baju itu terlihat sangat bagus di badanmu."

Wanita itu menunduk untuk melihat bajunya lalu menatap baju yang dipakai gadis di depannya. Seulas senyum ramah kini menghiasi bibir merah muda wanita itu. "Ah, benar! Kita memakai baju yang sama!"

"Sama persis, kecuali di bagian itu, Ran!" Wanita bernama Sonoko mengucap datar dengan satu telunjuk menunjuk ke arah dada wanita berambut panjang. Ran? Nama wanita itu Ran? "Sepertinya kalian sama-sama memiliki masalah dengan dada kalian, eh?"

"Mou, Sonoko!" Rengek wanita bernama Ran dengan wajah memerah. "Aku tidak punya pilihan lain. Ibu membelikannya untukku dan dia bilang tas belanjaannya tertukar dengan seseorang. Karena itu ukurannya sedikit lebih kecil."

"Tertukar?" Aoko bertanya dengan penuh rasa penasaran. Wanita bernama Ran itu mengangguk pelan.

"Ibu bilang saat membelinya ada seorang pemuda yang membeli baju yang sama, tetapi dengan ukuran lebih kecil. Sepertinya petugas kasirnya salah membedakannya," jelas wanita bernama Ran itu setengah tertawa. "Apa seseorang memberikannya untukmu?"

Aoko mengangguk pelan. "Temanku memberikannya sebelum kami pergi tadi. Dia bilang baju ini cocok untukku... W, walaupun dia bilang bagian dadanya sedikit longgar."

Ran dan Sonoko saling bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya keduanya tertawa bersamaan.

"Ada apa?" tanya Aoko bingung.

Wanita bernama Ran menggelengkan kepalanya. "Apa dia kekasihmu?"

"B, bukan! Si bodoh itu bukan kekasih Aoko!" Sangkal Aoko dengan wajah memerah dan kedua tangan yang membentuk tanda silang di dadanya. "Mana mungkin dia mau dengan gadis jelek..." Lanjutnya dengan suara pelan.

"Hei! Aku ada ide bagus!" Wanita berambut pendek itu berkata dengan nada ceria dan sebuah seringai lebar di wajahnya. Tanpa membuang waktu, gadis bernama Sonoko itu menyeret kedua gadis yang ada di hadapannya menuju ruang ganti dan menyuruh kedua gadis itu untuk membuka pakaian mereka.

Ran yang semula bingung hanya mengikuti perintah dari Sonoko dan mengajak Aoko untuk bersama-sama melepas pakaian mereka tanpa tahu apa yang direncanakan oleh sahabatnya.

.

.

.

.

"Satou-san!" Wataru Takagi berteriak keras dari kejauhan dengan satu tangan bergerak melambai di udara. Pria itu berlarian kecil, mendekati seorang wanita berambut pendek yang tengah bersandar pada badan Mazda RX-17 Merah yang terparkir di pinggir jalan kota Shibuya. Wanita itu menoleh, namun bukan seulas senyum yang diperlihatkannya melainkan ekspresi merajuk.

"Kenapa kau lama sekali, Takagi-kun!" Umpat wanita berambut pendek itu dengan kedua tangan bertolak pada pinggangnya.

Takagi menghela napasnya, mencoba mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah. "Maafkan aku. Toilet di sebelah sana sangat ramai jadi aku —"

"Baiklah, cukup! Ayo! Ada beberapa pengrajin besi yang harus kita temui!"

.

.

.

.

"Sepertinya ada yang berubah," Kaito, dengan satu tangan memegangi dagunya, berujar dengan penuh keseriusan. Kedua bola matanya menatap lurus tubuh gadis bernama Aoko yang duduk di hadapannya dan tampak meneliti gadis itu hanya dengan menatapnya.

Aoko menyeringai. Tanpa menggubris apa yang diucapkan oleh teman sekelasnya itu, ia menyesap es kopi yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan. Gadis itu menegakan tubuhnya, merubah posisi duduknya menjadi senyaman mungkin.

"Apa yang kau bicarakan, BaKaito?" tanya Aoko dengan sebuah senyuman penuh arti di wajahnya dan tentu saja, melihat senyuman gadis itu membuat Kaito semakin mengerutkan keningnya.

Pemuda itu menggeleng pelan. Samar, ia membisikan kalimat 'mungkin hanya firasatku' dan kembali menenggak Chocolate Milkshake miliknya.

Aoko kembali tersenyum lebar. Gadis itu terlihat penuh percaya diri setelah berbincang dengan dua gadis yang ditemuinya di salah satu toko pakaian wanita. Kedua gadis itu memperkenalkan diri mereka sebagai Mouri Ran dan Suzuki Sonoko (Aoko berkali-kali memikirkan betapa familiarnya dua nama itu di telinganya namun ia memilih untuk melupakannya). Mouri Ran, gadis yang memiliki perawakan hampir menyerupai diri Aoko — tentu saja minus bentuk tubuh yang, secara jujur dikatakan, sangat jauh berbeda — adalah gadis yang mengenakan mini dress yang sama dengannya. Kemudian setelah bertukar cerita, akhirnya Aoko mengetahui bahwa Kaito — pemuda yang memberikannya baju itu — tanpa sengaja membawa pulang baju dengan ukuran yang berbeda dari seharusnya. Hal itulah yang kemudian membawa Suzuki Sonoko pada sebuah kesimpulan — ide brilian. Menurutnya. — untuk menukar baju itu.

Dan di sanalah Aoko berada. Dengan memakai mini dress bercorak bunga-bunga yang memiliki ukuran yang pas dengan tubuhnya, sehingga bisa menunjukan sedikit lekukan pada tubuhnya. Tentu saja lekuk tubuhnya tidak sebagus milik Mouri Ran, tetapi ia bangga dengan apa yang dimilikinya!

"Kau sudah membeli saputangannya?" tanya Aoko ketika ia teringat dengan apa tujuan awal ia dan Kaito pergi ke Shibuya. Pemuda di hadapannya mengangguk pelan lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas belanjaannya.

Aoko meraih kotak itu lalu memperhatikan isi kotak yang diperlihatkan oleh Kaito. Sebuah saputangan putih polos yang terlipat rapih dengan sebuah kartu putih polos di atasnya. Gadis itu mengembalikan kotak itu pada Kaito. "Temanmu itu... Wanita?"

"Pria," jawab Kaito ringan lalu memasukan kembali kotak itu ke dalam tas belanjaannya. Pemuda itu lalu melirik ke arah Aoko dan melihat dengan mata kepalanya bagaimana cara gadis itu menatapnya; Bergidik dan penuh kecurigaan.

"Hei! Aku hanya membeli saputangan, lalu penjualnya memaksaku untuk memilih kotak dengan warna merah muda, okay? Aku sudah bilang kalau saputangan itu untuk seorang pria, tetapi sepertinya penjualnya salah mengartikan kalimatku," jelas Kaito sambil mendengus. "Penjualnya bahkan sempat memaksaku untuk membeli sebuah saputangan dengan bordir bunga mawar merah dan tulisan 'Love You'."

Aoko tertawa mendengarnya. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi temanmu jika menerima itu!"

Kaito menghela napasnya pelan. "Dia akan semakin mengejekku memiliki disorientasi seksual!" Pemuda itu kembali menenggak milkshakenya. "Mungkin saat pulang nanti akan kuminta Kaasan untuk membordir bebek kuning di atas saputangan yang kubeli."

"Bebek kuning?"

Kaito menyeringai lebar. "Ya. Temanku ini sangat menyukai bebek kuning. Saaangat menyukainya."

Aoko memiringkan kepalanya. Dari raut wajahnya bisa ditebak bahwa ia sedang menahan tawanya. Ia tahu bahwa setiap orang memiliki kesukaan masing-masing dan tidak baik memaksakan seseorang untuk suka pada satu hal, tetapi untuk seorang laki-laki menyukai bebek kuning? Bukankah ini terdengar lucu?

Lelaki di belahan dunia mana yang mengidolakan bebek kuning?

"Apa kau tidak penasaran siapa nama temanku, Aoko?" Goda Kaito dengan sebuah seringai lebar di wajahnya. Aoko tahu bahwa ekspresi Kaito saat ini adalah ekspresi yang biasa ia tunjukan saat kepala pemuda itu dipenuhi ide nakal dan jahil. Terakhir kali ia melihat ekspresi itu — yang dilihatnya pagi ini — adalah sesaat sebelum pesulap muda dihadapannya mengubah dekor ruang kelas menjadi seperti hutan rimba. Seisi kelas baik pria maupun wanita secara ajaib telah berganti pakaian, dari seragam sekolah menjadi sehelai kain bermotif macan tutul.

Seringai lebar dan ekspresi khas pesulap muda itu selalu membawa firasat buruk bagi Nakamori Aoko.

Dengan perasaan was-was Aoko kemudian bertanya, "Siapa nama temanmu itu?"

"Shinichi. Kudo Shinichi. The Great Detective of the East."

.

.

.

.

"Sudah merasa lebih nyaman?" Sonoko dengan kedua tangan dipenuhi tas belanjaan dari 10 butik berbeda bertanya kepada sahabatnya yang baru saja keluar dari dalam toilet wanita. Gadis berambut pendek itu menaik-turunkan satu alisnya yang kemudian membuat sahabatnya tertawa pelan.

"Ya, setidaknya aku tidak harus mengkhawatirkan kancing bajuku sobek secara tiba-tiba," jawab Ran pelan. Gadis itu berjalan mendekati Sonoko dan keduanya melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari makan malam.

Kedua gadis itu, selama perjalanan, tertawa dan saling bercerita. Banyak hal mereka bicarakan. Mulai dari ujian akhir, universitas, fashion, hingga berita keuangan Negara. Bahkan pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitar mereka pun mampu menjadi sebuah topik pembicaraan yang menyenangkan bagi dua gadis yang dalam beberapa bulan akan meninggalkan bangku SMA itu.

Melangkahkan kakinya memasuki sebuah resto keluarga, Sonoko dengan cepat memilih sebuah meja yang terletak di dekat jendela dan mendudukan dirinya di sana. Semua barang-barangnya dengan asal ia letakan di sampingnya hingga memenuhi sofa panjang yang didudukinya. Ran memilih untuk duduk di seberang Sonoko dan meletakan tasnya di atas sofa sampingnya.

"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan datang dan meletakan dua buah buku menu di atas meja di mana dua gadis tersebut duduk. Sonoko dengan cepat mengembalikan buku menu tersebut pada sang pelayan dan tersenyum pada pelayan tersebut. "Aku ingin Kung Pao Chicken dan nasi putih, untuk minumannya mungkin Mixed-berry juice. Ran, kau mau makan apa?"

"Caramel milk tea," jawab Ran seraya mengembalikan buku menu kepada pelayan yang bertugas. Pelayan itu tersenyum tipis, menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan dua gadis tersebut di mejanya.

"Kau tidak makan?" Sonoko bertanya ketika pelayan yang bertanggungjawab atas pesanan mereka kembali ke meja kasir untuk melaporkan pesanan mereka. Ran, yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, menggeleng lemah. "Aku masih kenyang."

Sonoko kemudian menghela napasnya dan kedua tangannya kini menopang kepalanya di atas meja. "Begitulah, Ran. Sepertinya aku dan Makoto akan berpisah saat kuliah nanti. Kau tahu? Dia sempat menawariku apakah aku mau berkuliah di tempat yang sama dengannya, tapi kutolak."

"Kau menolaknya terang-terangan?"

Sonoko menggeleng pelan. "Aku tidak menjawab 'Aku tidak mau!' seperti itu. Aku hanya menjawab mungkin aku akan mencoba di universitas lain karena sampai sekarang pun aku masih belum yakin harus melanjutkan ke mana."

"Kau harus menentukannya secepat mungkin, Sonoko. Tapi jangan sampai kau salah memilih," Ran berujar dengan nada khawatir pada sahabatnya tersebut. Sonoko menganggukan kepalanya sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya pada tangan Ran yang masih memegangi sebuah ponsel tanpa ada niat untuk menggunakan ponsel itu.

Dengan satu alis terangkat, Sonoko bertanya, "Kau masih belum menjawab pesan Shinichi?"

Ran terkesiap.

Gadis berambut panjang itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat menatap Sonoko lalu bergantian menatap ponselnya. Dengan satu alis terangkat gadis itu menatap bingung Sonoko yang kemudian membalas tatapannya dengan sebuah tatapan 'Aku tahu segalanya~'.

Ran dengan seulas senyuman pahit di wajahnya menggeleng pelan. Mungkin ia memang tidak bisa menyembunyikan segala sesuatunya di depan sahabatnya, Suzuki Sonoko. Berapa pun kerasnya usaha ia menutupi apa yang ia rasakan, gadis keturunan Suzuki itu pasti akan tahu seolah baru saja membaca pikirannya.

"Aku tidak tahu harus menjawab apa," Ran menjawab pelan. "Lagipula aku takut jika kujawab pesan Shinichi, aku malah tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Mungkin … suatu saat nanti?"

"Tepatnya? Bisa kau pastikan kapan kau akan mulai bisa memaafkannya? Jujur saja melihat kalian bertengkar seperti ini sedikit membuatku … katakanlah lelah," Sonoko berkata dengan memberi penekanan pada kalimat 'mulai bisa memaafkan'. Gadis keturunan Suzuki itu menegakan tubuhnya, lalu dengan sedikit condong ia berbisik pada Ran. "Kalau kau terus bersikap dingin padanya, ia akan menganggapmu 'menyebalkan', Ran! Ia bisa saja lari dan berpaling pada wanita lain jika kau terus melakukan hal ini!"

Ran tidak menjawab. Dengan kepala tertunduk, gadis berambut panjang itu hanya meremas ponselnya yang ia genggam dengan kedua tangannya. Tanpa sepengetahuan Sonoko, gadis itu menekan tombol pada ponselnya dan membuka kembali pesan singkat yang diterimanya kemarin malam dari Shinichi.

Hanya sebuah pesan simple yang berisi sebuah pertanyaan; Kau sibuk?

Namun siapa sangka, dua kata yang dikirim oleh sebuah ponsel—ponsel milik Shinichi—dan akhirnya sampai pada inbox ponselnya, mampu membuat gadis bernama lengkap Mouri Ran itu terhenyak dan menitikan kembali airmatanya semalaman.

Malam itu ia merasa bingung.

Malam itu juga ia merasa senang dan benar-benar tidak bisa menggambarkan keseluruhan perasaannya ketika ia berhasil membaca sebuah pesan singkat dari laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Semuanya tercampur aduk tidak menentu, melebur bagai es pada tungku perapian.

"Aku … tidak pernah marah padanya," gadis itu berujar pelan setelah cukup lama terdiam menatap ponselnya. "Aku hanya tidak mampu mengatakan apa yang ingin kukatakan … Semuanya."

Sonoko menghelakan napasnya pelan. "Kau tahu, Ran? Kau hanya tidak jujur pada dirimu sendiri. Ran yang kukenal—dalam kondisi apapun—pasti mampu menyuarakan apa yang ia pikirkan dan rasakan. Kalau memang kau merasa marah, marahlah! Kalau kau senang, tertawalah! Dan jika kau bersedih, aku di sini untuk meminjamkan bahuku!"

Dengan seulas senyum Ran menatap Sonoko lembut lalu menggumamkan rasa terima kasihnya. Gadis itu lalu menggunakan kedua tangannya untuk menepuk pipinya, sebuah usaha untuk menyadarkan dirinya dari tidur panjang yang membutakannya pada dirinya sendiri.

"Aku benar-benar bodoh, eh?" gumam Ran pelan. Gadis itu kembali menunduk untuk menatap sekali lagi pesan dari Shinichi sehari sebelumnya. "Sejak lama aku ingin dia pulang, tetapi begitu ia pulang yang kulakukan adalah menjauhinya. Seharusnya aku bersyukur ia bisa kembali dengan selamat dan—dan merasa lega karena selama ini … ia berada di dekatku. Seharusnya aku tahu itu … aku benar-benar bodoh."

Sonoko mendengus.

"Daripada kau terus menyalahkan dirimu seperti itu, bagaimana jika kau balas pesan itu? Aku mungkin tidak tahu jalan pikiran seorang Kudo Shinichi, si pecinta misteri itu, tapi menunggu jawaban dari seseorang yang ditunggu-tunggu itu menyebalkan."

Ran menatap Sonoko sesaat sebelum kembali menatap layar ponselnya.

Jemarinya telah siaga pada tombol-tombol ponselnya, telah siap untuk mengetik balasan dan menekan menu 'Send' pada ponselnya. Namun, kenapa ada sesuatu yang terus meneriakan penolakan dalam dirinya? Sesuatu yang berusaha menahan setiap pergerakan tubuhnya untuk membalas pesan singkat Shinichi.

Besar dan berat.

Seperti bebatuan yang runtuh saat tanah longsor.

Menutupi dan tidak memberi jalan untuk setiap langkahnya.

Ia hanya ingin membalas pesan. Mungkin satu atau dua kalimat saja cukup. Ya, itu saja cukup untuk meluapkan seluruh rasa rindunya pada Kudo Shinichi, teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya.

Tapi mengapa semuanya terasa sulit?

"Ah, Ran! Lihat! Kau dan Shinichi muncul di berita sore!"

.

.

.

.

Kaito dengan kedua tangan bersilangan di depan dadanya menatap lurus layar tv besar yang terpasang di salah satu gedung pencakar langit di Shibuya. Di sana, seorang reporter tengah melaporkan sebuah kasus perampokan sebuah toko perhiasan di Kyoto.

"Kejahatan terjadi dimana-mana, ya." Aoko bergumam dengan kedua bola mata terarah ke arah yang sama dengan Kaito, yakni layar tv besar di atas sana.

"Tuntutan hidup," ujar Kaito pelan. "Kurasa mereka merampok karena suatu alasan. Mungkin bisa jadi faktor ekonomi atau mungkin faktor lainnya yang tidak bisa dijelaskan."

"Kau membela mereka?"

"Tidak. Hanya mengutip kalimat seorang pengamat hukum di koran yang kubaca pagi ini."

Aoko menganggukan kepalanya. Ia ingat sebuah rubrik di koran pagi yang berisi pendapat-pendapat para pengamat hukum, keuangan, dan budaya serta politik tentang negara. Bukan sebuah rubrik menarik, hanya sebuah rubrik yang dipenuhi tulisan dan sebuah foto sang pengamat yang mungkin bagi sebagian orang hanya sebuah bualan, kata-kata manis formalitas yang bahkan tidak mereka — para pengamat itu — terapkan. Aoko selalu melewatkan bagian itu karena pada akhirnya ia akan mendengar isi rubrik itu entah dari Kaito atau pun Hakuba. Kedua pemuda itu sering kali berkomentar tentang rubrik itu dan berakhir dalam perdebatan bertopik 'Kaito KID'.

"Ah, itu temanmu," Aoko menunjuk ke arah tv saat dilihatnya wajah reporter tergantikan oleh seorang pemuda yang tengah mengenakan seragam sekolah dan terlihat berjalan keluar gedung sekolah dengan sebuah tas dan bola sepak di tangannya.

"Kudo Shinichi, bisa kau jelaskan tentang penemuan bom di sebuah rumah kosong? Bagaimana kau menemukannya? Siapa pemiliknya?" Cecar salah seorang reporter yang terlihat berusaha mengarahkan microphone ke mulut detektif itu.

Aoko menggelengkan kepalanya tanpa sadar dan menatap layar tv besar itu dengan tatapan takjub. Ia sesekali melirik ke arah Kaito yang juga tengah menatap layar tv di atas sana dengan sangat serius. Entah apa yang pemuda itu pikirkan hingga bisa membuatnya benar-benar serius menatap berita itu.

"Kasus itu sudah kuserahkan sepenuhnya pada kepolisian, mungkin kalian bisa menanyakan informasi lebih lanjut pada mereka." Detektif itu tersenyum tipis dan terlihat berusaha melarikan diri dari para reporter dan wartawan. Namun usaha detektif itu sia-sia, kumpulan wartawan itu bergerak lebih cepat dan kembali menyudutkan detektif itu ke pojokan. "Lalu bagaimana dengan gadis misterius itu? Apa benar ia tunanganmu? Apakah kedua orang tuamu mengetahui hal ini?"

Kaito mendengus pelan setelah mendengar pertanyaan salah seorang wartawan. Kenapa mereka mengarang cerita seenaknya sendiri…

"Ada kabar mengatakan selama dua tahun kau terkait sebuah kasus rumit, apakah ini yang menyebabkan kedekatanmu dengan wanita itu?"

Detektif yang tengah di wawancara hanya tertawa datar, namun jawaban tidak keluar dari mulutnya. Sebaliknya, ia masih berusaha untuk menghindari segala bentuk pertanyaan yang diajukan wartawan padanya.

"SHINICHIIII!" Sebuah suara keras terdengar dari speaker tv besar itu, sangat keras, hingga para wartawan yang berdiri melingkari Kudo Shinichi terlihat menutup telinga mereka. Para pejalan kaki di jalan Shibuya pun terpaksa meringis dan menatap bingung layar tv di atas sana. "Kau mau membolos piket lagi? Ini sudah kesekian kalinya kau membolos!?"

"Ran…"

"Bukan 'Ran…'! Ayo! Sekarang kerjakan tugasmu sebelum Sensei berceramah lagi besok pagi!"

Kaito bersiul pelan menatap adegan seorang gadis yang disapa Ran menyeret Kudo Shinichi kembali ke area sekolah dan membiarkan para wartawan menatap kepergian Kudo Shinichi dengan penuh rasa kecewa.

Pemuda itu menarik sudut bibirnya.

Ia mungkin tidak tahu apa yang tengah terjadi di antara dua individu itu — selain fakta bahwa mereka bertengkar dan penyebabnya adalah salah satu di antara mereka sepertinya berbohong, mengakui kebohongannya, dan korban kebohongan marah pada si pembohong — namun dilihat dari gelagat kedua muda-mudi itu di balik layar tv itu dapat membuktikan bahwa hubungan keduanya sudah sedikit mencair. Tidak lagi seperti gunungan es di kutub utara.

"Jadi, Ran-san juga kenal Kudo Shinichi," gumam Aoko pelan ketika dilihatnya tayangan berita Kudo Shinichi tergantikan oleh berita ekonomi pasar. Gadis itu mengangguk pelan, seolah ia baru saja memahami apa yang baru dilihatnya, sebuah informasi baru. Kaito melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya namun kemudian ia berbalik arah dan berseru pada Aoko agar mempercepat langkahnya menuju tempat berikutnya.

Tempat berikutnya yang mereka kunjungi . Keduanya berhenti tepat di depan pintu masuk bioskop dan berdiri di depan deretan poster film yang dijadwalkan tayang hari itu. Aoko yang kini berada selangkah di depan Kaito mengerutkan keningnya ketika melihat deretan poster film yang ada.

"Semuanya thriller," ujarnya pada Kaito yang menatap datar semua poster film yang ada. "Apakah film bergenre thriller sedang in?"

"Sepertinya. Mereka bahkan membuat dongeng anak menjadi sebuah film thriller. Ini seperti mengajarkan anak kecil untuk menjadi pembunuh," Kaito berkomentar dengan satu alis terangkat.

Benar-benar penuh dengan film bergenre thriller-mystery…

Pesulap muda itu menghela napas pelan dan kembali menatap poster film lainnya, namun sepertinya tidak ada film yang membuatnya penasaran dan ingin menonton. Entah mengapa genre thriller, mystery, suspense, dan sejenisnya membuatnya teringat akan seorang detektif yang — di setiap langkahnya, atau bahkan di setiap hembusan napasnya? — selalu diikuti oleh jatuhnya korban pembunuhan.

Pertumpahan darah akibat benda tajam? Ya.

Penuh misteri? Ya.

Tidakkah semua itu tidak berbeda jauh dengan menonton film bergenre thriller? Ia bahkan tidak perlu mengeluarkan satu sen pun untuk menikmati adegan pembunuhan itu. Yang ia perlukan hanyalah sekotak popcorn dan cola dingin, serta keberadaan Kudo Shinichi.

Hanya seorang Kudo Shinichi; Sebuah panggung kehidupan mampu berubah menjadi labirin penuh misteri yang tidak berujung.

Dengan satu tangan yang memijat lehernya, Kaito menoleh ke sekelilingnya.

Suasana di bioskop saat itu tidak terlalu ramai.

Walaupun bisa terlihat dari matanya beberapa pemuda tengah berjalan keluar dari toilet dan terlihat tengah tertawa karena salah seorang dari mereka baru saja melucu, dua orang remaja wanita yang terlihat mengantri di ticket box dan tertawa terbahak-bahak entah karena hal apa, namun tawa dua gadis itu terdengar lebih berisik daripada tawa sekumpulan pria dari toilet. Dan masih ada beberapa orang lainnya yang berlalu-lalang, mengantri makanan, dan duduk-duduk di sekitar area bioskop.

Bahkan ia juga melihat beberapa petugas bioskop baru saja menutup pintu studio yang, sepertinya, baru saja memulai acaranya.

Semuanya tampak normal di mata Kaito hingga akhirnya seorang pria bertopi biru dan mengenakan masker hidung menyeret Aoko menjauh dari Kaito dan menodongkan senjatanya pada gadis itu.

.

.

.

.


Penulis ingin mengucapkan selamat untuk Nakamura-san yang berhasil men-submit review ke-100.

Kabar gembira untuk kalian; Setelah mencoba mencari jalan keluar dari kanan-kiri, akhirnya penulis memutuskan untuk meng-update cerita ini setiap weekend (Can be both Friday, Saturday, and Sunday). Penulis merasa bersalah jika tidak menginformasikan hal ini dan penulis juga semakin gregetan untuk update, nih~ ^^;

Review dari pembaca yang bersifat membangun sangat ditunggu-tunggu oleh penulis.

Penulis ingin bertanya, nih~ "Apa pendapat kalian tentang KaiFem!Shin?" Dijawab, ya~XD

Sampai jumpa minggu depan~