Disclaimer,
Characters belongs to Kishimito-sensei
Story is mine, Hatake Aria
.
.
Oji-chan … Daisuki
.
.
.
Chapter 13
.
.
"Ada apa denganmu malam ini Anata?"
Minato menatap sang istri yang menatapnya dengan heran, tergambar jelas berbagai pertanyaan diraut wajah sang istri. Ia menghela nafasnya kasar, perlahan jas yang sedari tadi dikenakannya dilemparkannya pelan ke ujung ranjang kingsize milik mereka.
Kushina masih menatap sang suami yang kini tengah membuka kancing lengan kemeja nya.
"Anata" panggilnya kembali saat sang suami masih tak kunjung menjawab.
Lagi, Minato menghela nafasnya kasar.
"Kau menatap Sasuke seolah Kau ingin membunuh anak itu"
Minato menatap sang istri yang sedang mengambil jas nya.
"Mungkin yang lain tidak sadar, tapi Aku, dan mungkin Sasuke sendiri menyadari hal itu"
Kushina mengambil hanger yang menganggur dari dalam lemari pakaian mereka, kemudian menggantung jas sang suami.
"Sikapmu berubah saat Kau menanyakan mobil itu padanya, kenapa? Ada yang salah dengan mobilnya?"
Minato mendengus pelan, yang dipastikan hanya dirinya yang mendengarnya.
"Tidak ada yang salah dengan mobilnya" ujarnya seraya duduk perlahan diatas ranjang kingsize nya, sementara sang istri masih merapikan jasnya.
"Lalu ..?"
Minato menatap sang istri yang tengah menatap dirinya dengan serius.
"Aku hanya tidak suka karena mobilnya selalu membawa putriku pergi" ujarnya seraya membuka kancing kemejanya.
Kushina melebarkan kedua manik lavendernya.
"Maksudmu?" tanyanya lagi seraya memicingkan matanya menatap sang suami.
Minato melepaskan kemejanya, meletakkannya sembarang disamping tempat duduknya, perlahan Ia berjalan menuju lemari pakaian, mencari t-shirt yang nyaman untuk dipakai saat tidur.
"Natal pagi itu, dan beberapa malam belakangan ini" ujarnya seraya mengenakan t-shirt berwarna putih yang baru saja diambilnya.
"Naruto pernah mengatakan padamu kalau dia pergi keluar bersama siapa?"
Kushina hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan sang suami.
"Tapi mungkin saja kalau Sasuke kebetulan bertemu dengannya dijalan dan mengantarnya pulang kerumah"
Tch,
Minato mendecak pelan.
"Lalu, tidakkah Kau melihat cara Dia memperlakukan Naruto saat makan malam tadi?"
Kushina mencoba mengingat, memang, tampak Sasuke terlihat sangat akrab dengan putrinya. Tapi .., yang kita bicarakan saat ini adalah Sasuke dan Naruto, Pria itu telah mengenal putrinya sejak usia putrinya 5 tahun.
"Anata jangan berlebihan, Kau tahu kan yang kita bicarakan ini Naruto dan Sasuke, Ia telah mengenal Naruto Kita sejak usianya 5 tahun"
Kushina menggelengkan kepalanya pelan, Ia tak habis pikir, bagaimana bisa sang suami sampai berfikiran terlalu jauh seperti itu.
"Tidak bisakah Kau melihat cara Dia menatap putri Kita?"
Kedua sapphire itu menatap tajam manik lavender yang ada dihadapannya.
"Aku pernah muda, dan Aku juga seorang pria, Kushina"
Kushina menundukkan wajahnya sesaat, dan saat Ia mencoba menyangkal perkataan sang suami, Minato kembali memojokkan dirinya dengan perkataannya.
"Dia menyukai anak Kita"
Kushina terdiam sesaat, perlahan Ia merapatkan kedua bibirnya yang semula terbuka lebar tatkala mendengar penuturan sang suami.
"Anata, Kau berlebihan"
Kushina memutuskan kontak matanya dengan sang suami, Ia kemudian berjalan pelan menuju lemari pakaian, mencari sepasang piyama yang akan dikenakannya malam ini. Perlahan Ia berjongkok, memunggungi sang suami yang diyakini nya tengah menatap dirinya di balik punggungya.
"Lagipula apa salahnya kalau Sasuke menyukai anak Kita, dan belum tentu juga kan kalau Naruto menyu.."
"Naruto juga menyukainya, Kushina"
Kushina refleks membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.
"Oh, apakah Kau tidak bisa menurunkan sedikit saja level ketidakpekaanmu itu?"
Minato menatap sang istri frustasi, namun buru-buru Ia mengusap wajahnya.
"Ah, maaf"
Minato buru-buru meminta maaf atas kata-kata sarkasme nya pada sang istri. Sejak dulu sang istri memang paling dikenal sebagai gadis paling tidak peka, bahkan dirinya saja butuh bertahun-tahun untuk menyadarkan wanita yang kini menjadi istrinya, bahwa Ia mencintai perempuan bersurai merah itu.
Kushina berdiri menghampiri sang suami, perlahan Ia mendudukkan dirinya tepat disamping sang suami.
"Anata" ujarnya lembut seraya mengelus pelan punggung sang suami.
"Lalu apa masalahnya? Justru seharusnya Kita menjadi lebih tenang, Sasuke pria yang baik, dan Kita telah mengenalnya sejak lama"
Minato menatap sang istri, tangan Kushina masih setia berada di pundaknya. Perlahan Ia mengusap wajahnya kasar.
"Kau tahu kan perbedaan umur mereka, Kushina?"
Perlahan Kushina menarik tangannya dari pundak sang suami.
"Anak Kita lebih cocok menjadi keponakannya"
Kushina menelan ludahnya pelan, kedua sapphire sang suami masih betah menatap tajam dirinya. Perlahan Ia kembali mengusap punggung sang suami.
"Lebih baik Kita pastikan dahulu kalau semua asumsimu itu benar, Anata"
.
.
.
Sasuke menatap Naruto yang tampak sangat serius membaca omikuji yang baru saja dibelinya. Kedua tangannya Ia masukkan kedalam saku jas hangatnya, sementara oniksnya masih betah memandangi wanita bersurai pirang yang berdiri tak jauh darinya. Sore ini Naruto mengajaknya untuk pergi ke Kuil, seperti biasa, diawal tahun setiap orang akan mengujungi Kuil, memanjatkan doa agar mendapat berkah selama setahun kedepan. Ia meminta izin pada Shikamaru untuk pulang lebih cepat hari ini, saat musim dingin, malam akan semakin cepat datang, sehingga mau tidak mau Ia keluar kantor lebih cepat agar bisa menemani wanita ini ke Kuil, namun apa yang didapatnya sekarang, wanita itu malah tidak mengizinkannya berdiri tepat disampingnya, mungkin Ia tidak ingin Sasuke mencuri lihat apa isi kertas ramalan yang baru saja diambil sang wanita.
Tch,
Sasuke mendecak pelan.
'Dasar wanita' pikirnya kemudian.
Sasuke tidak percaya ramalan, baginya itu hanya trik marketing dari pengurus kuil, saat para pengunjungnya membeli omikuji (kertas ramalan), dan ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan alias tidak beruntung, maka mereka akan membeli omamori (jimat) untuk mencegah 'ketidakberuntungan' itu.
See, It's a business after all.
Ah, atau Sasuke saja yang memandangnya seperti itu, mungkin sudut pandang seorang businessman sedikit berbeda.
Sementara itu, tampak Naruto begitu serius membaca isi omikuji yang baru saja dibelinya, perlahan kerutan muncul didahinya.
Barely Good Fortune (Nyaris tak beruntung)
Seperti kapal yang akan menghadapi badai, jika ingin terus menjelajah mungkin tidak akan kembali, banyak kesusahan yang menanti saat ini, tetapi jika kamu tabah dan berdoa pada Yang Kuasa, badai akan berlalu, dan Kau akan segera bisa melihat garis pantai diujung sana.
Penyakit : JIka Kau menjaga dirimu dan berdoa, maka Kau akan cepat pulih
Love/ Marriage : Sekarang bukan saatnya, tunggulah!
….
Naruto tidak mempedulikan lagi kata-kata selanjutnya yang tertulis di omikuji tersebut, bahkan saat sapphire nya membaca kalimat 'Barely Good Fortune', mood nya mendadak berubah.
Sasuke terus mengamati wanita bersurai pirang itu, tampak sang wanita menghela nafasnya kasar. Oniksnya melihat sang wanita mulai melipat kembali omikuji yang tadi dibacanya. Perlahan Naruto berjalan menuju jajaran bambu/kayu yang disusun untuk mengikat kertas ramalan 'kurang beruntung'. Dan sudah bisa ditebak selanjutnya, sang wanita perlahan mengikatkan omikuji-nya di kayu tersebut.
Ah,
Sebuah garis kecil membentuk sudut bibir Sasuke.
Dan sekarang Ia akan tahu, kemana setelah ini sang wanita akan membawa dirinya. Dan beberapa saat kemudian, dirasakannya tangan sang wanita mengapit lengan kanannya.
"Kurang beruntung, huh?" ejeknya kemudian.
Sang wanita hanya mengerucutkan bibirnya yang membuatnya tidak bisa menahan tawa nya lebih lama lagi.
Seperti yang sudah diduga, Naruto membawanya ke tempat penjualan omamori. Tampak beberapa Miko yang menjaga kios tersebut. Seperti yang diduga, tempat itu lebih didominasi oleh kaum hawa. Perlahan Naruto melepaskan lengan Sasuke.
"Lebih baik Kau tunggu disini" ujar sang wanita kemudian, dan Sasuke hanya mengangguk singkat. Bagaimanapun Ia tidak ingin berdesakan dengan wanita-wanita itu disana.
Oniksnya kembali terpaku pada wanita bersurai pirang tersebut, wanita itu tampak serius melihat beberapa omamori yang tertata rapi.
Drrt .., Drrtt …,
Dirasakannya smartphone-nya bergetar dibalik saku jas nya. Perlahan Ia mengambil benda persegi panjang tersebut.
'Shikamaru' gumamnya sesaat setelah membaca caller ID yang tertera dilayar smartphone-nya.
"Ya, Shika .."
Perlahan Sasuke pun berjalan sedikit menjauh, mencari tempat yang lebih tenang untuk berbicara dengan Shikamaru.
Naruto melirik sekilas kearah belakangnya, saat dilihatnya 'Oji-chan' nya perlahan berjalan menjauh untuk menjawab telponnya. Tak lama sapphire nya kembali menatap kedepan, menatap jajaran omamori dihadapannya.
"Hmm .."
Ia bergumam kecil sembari menimbang 'jimat' apa yang ingin dibelinya.
Ah,
Kedua sapphire nya kini fokus pada sebuah kotak dengan tulisan ' Siawasemamori'. Ia kemudian membaca tulisan dibawahnya, Jimat ini membawa kesehatan, kebahagian, dan kemakmuran. Ah, paket lengkap. Dan tanpa pikir lebih panjang lagi Ia pun mengambil 2 buah. Saat jemarinya ingin mengambil beberapa lembar uang ribuan yen dari dompetnya, sapphire nya kemudian melihat sebuah 'safety charm', jimat untuk seseorang yang suka berkendara.
Ah, mungkin dirinya akan mengambil satu juga untuk jimat ini, kemudian Ia menggeleng pelan, tangannya mengambil satu lagi jimat yang sama. Ada 2 orang yang disayanginya yang selalu membawa kendaraan setiap harinya. Yang satu akan Ia berikan pada Sasuke, sedangkan yang satu lagi akan diberikannya pada sang Ayah. Semoga jimat ini melindungi kedua pria yang disayanginya selama mengendarai mobil mereka setiap harinya.
Naruto menyerahkan beberapa lembar uang dan seluruh jimat yang ingin dibelinya pada sang Miko. Sang gadis Kuil segera membungkus seluruh jimat yang diberikannya, dan memberi Naruto seluruh jimat yang telah terbungkus rapi beserta uang kembalian pada wanita bersurai pirang tersebut.
Ia membalikkan badannya, sapphire nya melihat sang paman yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang bernama 'Shika' di telpon. Ia pun berjalan kecil menghampiri pria bersurai raven tersebut.
Sasuke melirik Naruto yang berlari kecil menghampiri dirinya.
"Sudah selesai?"
Naruto mengangguk pelan.
"Sekarang traktir Aku makan, Aku lapar, ah iya, Aku mau makan ramen malam ini" lanjut sang wanita kemudian seraya mengalungkan tangannya di lengan Sasuke.
Naruto menatap Sasuke yang menaikkan sebelah alisnya menanggapi permintaannya.
"Kenapa?" cemberutnya kemudian saat melihat ekspresi Sasuke yang tampak ingin memportes permintaannya.
"Kau tidak memberiku angpao tahun baru, jadi sebagai gantinya Kau harus mentraktirku ramen hari ini"
Sasuke menyentil pelan dahi wanita yang berjalan disampingnya.
"Aku tidak mempermasalahkan uangnya, apa tidak ada makanan lain di kepala mu selain ramen?"
Naruto hanya memerkan deretan gigi putihnya menanggapi sarkasme Sasuke.
"Kau tahu, ramen paman Teuchi itu sulit untuk dilupakan"
Sasuke hanye memutar kedua bola matanya bosan.
Kedua nya kini berjalan menuju parkiran dimana Sasuke memarkirkan mobilnya, Ia pun tetap membiarkan Naruto mengapit lengannya disepanjang perjalanan. Perlahan dirasakannya tangan sang wanita terlepas dari lengannya. Ia melirik wanita itu yang tampak mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya.
"Ini" ujar sang wanita kemudian seraya memberinya 2 buah bungkusan kecil.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, tangannya masih belum terulur mengambil benda tersebut.
Naruto mengambil paksa tangan Sasuke, meletakkan bungkusan itu di telapak tangan sang pria.
"Apa ini?"
Tanpa menunggu lebih lama lagi Sasuke membuka bungkusan tersebut.
"Omamori" jawab Naruto singkat.
"Untukmu" lanjutnya lagi.
"Yang ini, safety charm, gantung di mobil yah, Aku ingin Kau selalu terlindungi selama berkendara" ujarnya seraya menunjuk sebuah jimat berwarna merah.
Sasuke tidak bisa untuk tidak tersenyum mendengar jawaban Naruto.
"Dan kalau yang ini, namanya Siawasemamori, jimat ini membawa kesehatan, kebahagian, dan kemakmuran, paket lengkap kan?" lanjut Naruto seraya menunjuk jimat berwarna kuning.
Sasuke hanya tersenyum kecil menatap Naruto yang antusias memberi penjelasan padanya.
"Kau tahu, Aku hanya butuh Kau agar bahagia dalam hidup ini"
Refleks rona merah menjalar diwajah Naruto.
"Berhenti menggombal" ujarnya seraya mencubit kecil lengan pria disampingnya.
Sasuke kembali terkikik geli melihat ekspresi Naruto. Keduanya kini telah berada di depan mobil nya.
"Ayo kita segera pergi, Aku tidak mau mengantri panjang di cuaca sedingin ini di depan kedai Paman Teuchi"
.
.
.
Minato mengadahkan cawan sake nya dihadapan Shimura Danzo, sang Direktur Perusahan tempat Ia bekerja. Perlahan Direktur Shimura menuangkan sake untuk salah satu Manager yang paling disukainya itu. Pekerja keras, teliti, dan ide-ide nya selalu berkontribusi banyak untuk kemanjuan perusahaan.
"Arigatou" ujar Minato singkat seraya menundukkan kepalanya singkat pada sang Direktur.
"Haha, Aku senang Kau mau bergabung malam ini Namikaze-san, karena biasanya Kau selalu menolak jika diajak minum bersama" lanjut sang Direktur seraya tertawa kecil.
Yah, biasanya Minato selalu punya cara yang halus untuk menolak ajakan minum sang atasan.
"Sampai teman-teman mu mengatakan kalau Istrimu sangat galak, makanya Kau sering menolak jika diajak minum"
Minato sedikit tersedak saat mendengar perkataan Atasannya tersebut, perlahan Ia menyeka ujung bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Sementara beberapa rekan kerja nya setingkat Manager yang juga berada disana tertawa kecil menanggapi perkataan sang Direktur.
"Ah, bukan begitu Direktur, hanya saja Aku selalu berusaha pulang cepat agar bisa menemani putriku mengerjakan tugas sekolah nya"
Shimura Danzo tersenyum kecil mendengar jawaban Minato.
"Ah, tipe Ayah idaman" komentar salah satu rekan kerja Minato yang disambut tawa kecil yang lainnya.
"Dan karena sekarang lagi liburan musim dingin, jadi Kau bisa ikut dengan Kami kali ini" lanjut Danzo.
"Ah, bukan seperti itu juga Direktur, dan maaf jika sering menolak ajakan Anda" jawab Minato seraya melambaikan tangannya dihadapan wajahnya.
Shimura Danzo hanya tersenyum kecil. Ia kembali memegang botol sake, memberi kode pada Minato agar mengangkat cawan nya. Perlahan cairan itu kembali mengisi cawan Minato.
"Aku baru ingat, usia putrimu sebaya dengan cucuku bukan?"
Minato mengangguk singkat, kemudian perlahan Ia meminum sake yang tadi dituangkan oleh sang Direktur.
"Dan Aku juga melihat putrimu sangat cantik, sangat mirip denganmu" puji sang Direktur kembali.
Minato hanya tersenyum tipis.
"Terimakasih Direktur, tapi Aku lihat kalau cucu Anda juga sangat tampan, bahkan sependengaranku Ia menjadi seorang model"
Danzo meminum sake nya kembali, perlahan Ia menggelengkan kepalanya.
"Anak itu, Dia benar-benar mirip dengan mendiang putra ku, sebenarnya Aku melarangnya, tapi Dia tetap bersikeras untuk diizinkan" Danzo tersenyum simpul saat mengingat bagaimana sang cucu Shimura Sai bersikeras meminta izinnya untuk terjun di dunia modeling.
"Anak seusia mereka, akan semakin memberontak jika dilarang Direktur, makanya Aku selalu cari cara lain agar putriku mau menuruti perkataanku"
Danzo terseyum mendengar jawaban pria bersurai pirang tersebut.
"Aku yakin Kau mendidik putrimu dengan sangat baik, Aku pasti akan tenang jika cucuku kelak bisa menikah dengan perempuan yang dibesarkan oleh orang sepertimu"
Danzo langsung mengalihkan pandangannya dari tatapan Minato saat seorang pelayan menghampiri meja mereka, membawa beberapa botol sake tambahan dan cemilan.
"Selamat Senpai, Kau bisa berbesan dengan Direktur"
Minato hanya menghadiahi Kakashi yang duduk disebelahnya dengan tatapan horror nya atas candaanya barusan. Sementara Kakashi sedikitpun tidak merasa terganggu, Ia tetap menikmati sake nya.
"Namikaze-san" panggil Danzo kembali, seraya menujukkan botol sake yang ada ditangannya.
Minato mengangguk singkat, kemudian Ia kembali menyodorkan cawan nya dihadapan sang Direktur.
"Senpai, jangan terlalu banyak minum, Kau tidak ingin dimarahi istrimu bukan" bisik Kakashi disampingnya, yang dipastikan hanya dirinya dan sang Senpai yang mendengarnya.
Sementara disampingnya Minato hanya tersenyum getir mendengar perkataan Kakashi.
.
Minato membungkuk singkat pada pria yang ada dihadapannya. Danzo Shimura yang kini berdiri disamping mobilnya mengangguk singkat. Driver-nya membukakan pintu penumpang, mempersilahkan sang Direktur untuk masuk kedalam.
"Terimakasih untuk waktunya Namikaze-san" ujar sang Direktur.
Minato kembali membungkukkan badannya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih pada Anda, Direktur" ujarnya.
Danzo mengangguk singkat.
"Kalian semua, hati-hati lah dijalan" ujar Danzo sesaat sebelum ia masuk kedalam mobil.
Semuanya membungkuk singkat, mengantar kepergian sang Direktur.
Satu persatu rekan kerjanya pamit, Minato pun berjalan pelan menuju tempat Ia memarkirkan mobilnya. Ia mengambil kunci mobil di saku jas nya, perlahan jemarinya membuka pintu mobilnya. Ia meletakkan pelan tas kerjanya di kursi samping kemudi, dan perlahan Ia masuk kedalam mobilnya.
Suaru deru mesin mobil terdengar beberapa saat kemudian, Minato membetulkan letak kaca spion dalam mobilnya. Baru saja Ia hendak menekan pedal gas, namun diurungkannya saat kedua sapphire nya melihat 2 orang yang begitu dikenalnya baru keluar dari sebuah kedai ramen yang tak jauh dari lokasinya saat ini. Sang putri semata wayang bersama putra bungsu tetangganya, Uchiha Sasuke.
Keduanya keluar dari kedai ramen tersebut seraya bergandengan tangan, tampak putrinya tertawa kecil menanggapi perkataan pria bersurai raven tersebut. Keduanya terus berjalan menuju mobil berwarna silver yang terparkir tak jauh dari tempat tersebut.
Minato mendengus pelan, refleks Ia memalingkan sebentar wajahnya. Ia kembali fokus pada Naruto dan Sasuke yang kini berdiri berhadapan di depan pintu mobil sport berwarna silver tersebut. Dan sapphire nya refleks membulat sempurna tatkala Ia melihat sang putri semata wayang nya tengah berciuman mesra dengan pria bersurai raven tersebut.
.
.
.
Minato menatap berkas yang baru saja diberikan Umino Iruka padanya. Perlahan jemarinya mengambil berkas tersebut.
"Terima kasih Umino-sensei" ucapnya kemudian seraya membungkuk singkat.
"Aku pasti akan merindukan putri Anda Namikaze-san, kelasku akan terasa sepi nantinya"
Minato menatap sang guru kelas putrinya yang tersenyum simpul padanya.
"Terimakasih banyak telah mendidik putriku selama ini Umino-sensei, maaf jika selama ini putriku banyak merepotkan Anda" ujarnya kembali.
Perlahan Minato bangkit dari kursinya, Ia mengapit map berisi beberapa berkas yang tadi diberikan sang guru padanya. Ia kembali membungkukkan badannya dihadapan sang guru yang juga ikut berdiri.
"Sekali lagi Aku ucapkan terimakasih banyak Umino-sensei"
Iruka membungkukkan badannya.
"Sampaikan salamku pada Naruto, Namikaze-san"
Minato mengangguk singkat, perlahan Ia membalikkan badannya, berjalan menuju pintu.
Ia berjalan pelan melewati koridor sekolah yang sangat sepi di hari libur seperti ini. Minato membuka pintu mobilnya, Ia pun mengambil sebuah tiket maskapai All Nippon Airways, Haneda – Naha, yang semula berada diatas kursi disampingnya, meletakkannya kedalam map berisi berkas yang tadi diberikan Iruka padanya, kemudian meletakkan berkas tersebut diatas dashboard mobilnya.
Perlahan Ia merogoh saku celananya, mengambil smartphone-nya. Ia mencari sebuah kontak, kemudian Ia men-diall kontak tersebut. Dengan sabar Ia menunggu panggilannya diangkat.
"Ah, Otou-san" sapanya pada seseorang disebrang sana.
"Ada yang ingin Aku bicarakan padamu"
.
.
.
TBC
.
.
.
Akhirnya …
Bersyukur kerjaan Aku lagi nggak banyak, dan lagi pula pengen cepat2 nyelesaiin ini fic.
Untuk isi omikuji yang didapat Naruto, sebenarnya itu adalah isi kertas ramalan yang Aku beli di Kiyomizu-dera November kemaren, nyebelin memang saat dapat ramalan yang kayak gitu, dan saat aku nunjukin ke teman aku, dengan kampretnya dia ketawa terbahak-bahak sambil bilang,
"Kok cocok banget sama nasibmu sekarang ini"
Well, tapi siapa sangka, berguna juga ternyata, dan kok jadi cocok utk alur fic ini.
After all, Sankyuu semuanya.
Keep reading, and mind to give me some review?
