Kim Taehyung.
Satu-satunya nama yang melekat dalam kepalanya ketika membuka sarung tangan sintesis ketat yang membungkus tangannya setelah menyelesaikan operasinya yang menahannya selama lebih dari empat jam adalah Kim Taehyung. Jeon Jungkook menanggalkan seragam operasinya yang penat akan aroma darah dan campuran etanol. Membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci tangannya. Ia menghapus percikan darah yang mengenai keningnya. Menyusuri rambutnya dengan jemarinya yang basah dan kental akan aroma amis besi yang memualkan.
"Buru-buru sekali, Dokter Jeon," tegur Mingyu sembari melepas kaitan masker di belakang telinganya. Menanggalkannya cepat-cepat lalu melepas sarung tangan penuh darahnya bersamaan dengan masker dan seragam operasinya yang kotor oleh bercak merah.
"Seseorang menungguku," jawabnya ringkas. Mengusir rasa gelisah yang tiba-tiba saja menyesap masuk begitu ia melihat refleksi wajahnya pada cermin di hadapannya. Usapan jarinya yang mengusir gumpalan darah di keningnya terhenti. Menatap pantulan dirinya di cermin dengan kening berkerut samar.
"Woaaaah," Mingyu terkekeh tekajub. "kencan?"
Kim Taehyung.
Yang ia lafalkan dalam otaknya hanyalah namanya. Bayangan di hadapannya pucat. Rambut hitamnya jatuh menyedihkan menutupi dahi. Jungkook tersenyum kaku. Menepuk pundak mingyu dan berucap 'kau bekerja dengan baik hari ini,' lalu berlalu setelah teriakan Mingyu akan 'semoga berhasil dengan kencanmu, dokter!' Ia melangkahkan kakinya menuju ruangannya untuk berganti baju dengan pakaian kasual dan menanggalkan seragam operasi berwarna hijau yang melekat di tubuhnya. Ia mengenakan mantel lalu mengambil kunci mobilnya. Mengecek smartphonenya yang menampilkan pesan dari Taehyung; memberitahukan Jungkook bahwa ia telah lebih dahulu sampai di COEX. Jungkook merapikan tatanan rambutnya yang menyedihkan lalu menyemprotkan sedikit parfum untuk menghilangkan aroma amis di tubuhnya.
Kim Taehyung.
Sosoknya duduk di halte bus dengan popcorn di pangkuan. Melambaikan tangan ceria dengan senyuman manis yang merenggut jantung Jungkook. Jungkook tersenyum, balas melambaikan tangan lalu mengaktifkan lampu sen mobilnya dengan mata tertuju pada Taehyung. Pada senyumannya, pada kerlingan matanya yang berpendar, pada deretan giginya ketika ia tertawa, pada gigitan di bibirnya yang begitu manis. Jungkook ingin cepat-cepat berada di samping Taehyung. Memeluknya erat dan menghalau tubuhnya dari deru angin. Mengecup puncak kepalanya lalu meremas tengkuknya lembut. Menggenggam tangannya kemudian menyimpannya di saku mantel. Meniupkan ciuman hangat ke bibirnya yang basah. Serta mendengar kekehannya yang nakal. Jungkook benar-benar ingin terus berada di samping Taehyung. Melakukan seluruh keinginan yang dulu hanya berani ia simpan dalam sudut otaknya. Ia ingin melewati malam bersama Taehyung. Menghitung bintang dengan sosoknya dalam pelukan. Menikmati hujan dengan segelas coklat hangat dalam genggaman. Menghirup aroma petrichor dalam keheningan yang halus. Ia ingin menghabiskan paginya dalam bayangan Taehyung yang terlelap di sampingnya. Di antara tumpukan bantal yang tinggi. Di antara selimut putih yang membungkus tubuhnya. Di antara cahaya matahari yang mengelus wajahnya. Kelopak matanya yang rapuh terbuka. Berkedip lemah lalu menemukan mata Jungkook. Melayangkan senyuman kemudian membisikkan ucapan selamat pagi ke telinganya.
Kim Taehyung.
Saat hantaman keras menerpa tubuhnya. Menyeret mobilnya begitu kejam dan meninggalkan bunyi goresan yang menyakitkan. Tubuhnya terlempar pada masa di mana semuanya mengabur; jalanan raya yang padat, bunyi klakson yang berisik, aroma bensin dan besi yang bercampur. Jungkook hanya mampu mengingat Taehyung. Di antara pelupuk matanya yang terpejam kala pecahan kaca meruntuh di hadapannya. Jungkook seakan mengingat setiap detik hembusan nafas Taehyung. Senyumannya yang lebar dan deru tawanya yang menular. Wajahnya yang berseri dan rona merah di pipinya. Umpatannya yang tak berujung dan gerit sedih dalam untaian ceritanya. Ciuman mereka. Bibir Taehyung yang menekan lembut miliknya. Pelukannya. Jemarinya yang mencengkram milik Jungkook penuh kehangatan. Degup jantungnya. Detaknya yang tenang dan beradu dengan miliknya. Tangisannya. Bulir air mata yang jatuh di pipinya, serta wajah merananya yang Jungkook ingin usap penuh kasih sayang.
Dalam detik itu, di mana nyawanya terasa terangkat dan tubuhnya sakit bukan main. Saat isi kepalanya kosong dan dengan sisa tenaga yang tersisa ia merangkak keluar dari mobilnya yang terbalik. Ia menatap langit Seoul yang cerah. Daun-daun yang tertumpuk salju. Cahaya matahari yang menyengat matanya. Nafasnya menyekat. Tenggorokannya menyempit. Suara yang keluar dari mulutnya hanyalah derit mencekik menyedihkan yang penuh putus asa. Paru-parunya melolong perih. Sementara gerit kukunya yang kaku mencoba mencengkram aspal keras di bawah telapak tangannya.
"Jungkook!"
Kini hembusan nafasnya melambat. Matanya bengkak. Tangisannya menyayat hati. Di bawah langit yang cerah, dirinya terbaring dalam keadaan sekarat. Takdir apalagi yang tengah menimpa dirinya. Kesalahan apa yang membuatnya selalu gagal menggenggam Taehyung dalam pelukannya. Ia terisak perih. Tetesan air matanya bercampur dengan darah. Aromanya yang amis menekan kesadaran Jungkook untuk menghilang.
Sadar.
Tetap sadar.
Ia selalu meminta pasien yang datang dalam keadaan darurat untuk tetap sadar. Membawanya ke ruang unit gawat darurat dengan perintah telak; Jangan tutup matamu. Tetap sadar. Bangun. Tatap aku. Lawan semuanya.
"Jung—J-Jungkook, jangan lakukan ini padaku."
Namun Jungkook menyerah. Kelopak matanya terlalu berat. Hembusan anginnya terlalu dingin. Rasa sakitnya terlalu kejam. Dan yang terakhir ia ingat ketika matanya tertutup letih adalah Kim Taehyung. Bayangannya yang menunggu seorang diri di halte dengan hembusan angin musim dingin yang menusuk. Wajahnya tertekuk sebal. Bibir terkatup rapat dan mengumpati Jungkook dalam deru nafasnya yang murka.
Kim Taehyung.
Tenang saja. Aku akan datang.
.
.
.
Tittle : Determinare
Ichizenkaze
Cast : Jeon Jungkook / Kim Taehyung
Min Seojin (OC) / Kim Seokjin / Park Jimin / Min Yoongi /
Park Jimin / Kim Namjoon / Kim Mingyu / Jeon Wonwoo
Other cast will appear soon!
Warning! BL! with Kook!Seme . Please notice me if i've made some mistake on my writing~
My warn! Once you step in into my Fanfiction beware yourself for a lot dramatic scenes because that's absolutely my style
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Ketika Seokjin menjelaskan rincian kondisi Jungkook beserta tambahan informasi dari seorang Dokter Saraf di sampingnya, Jeon Jungkook hanya diam. Pemuda itu patuh mendengarkan, bibir terkatup rapat dan mata tertuju pada satu titik. Hembusan nafasnya teratur dan sinar matanya ringan menembus kaca jendela yang bersinar terang. Taehyung duduk di sampingnya, menggenggam jemarinya hangat dan sesekali meremasnya. Ia memperhatikan ekspresi Jungkook, mencoba memilah dan mencari di mana Jungkook tengah menyimpan kebenciannya. Namun Jungkook tetap diam. Wajah datarnya tak tertebak, begitu menakutinya. Jungkook tidak bertanya lebih lanjut saat Seokjin tuntas menjelaskan kerusakan di jemarinya. Tidak juga bergeming saat Seokjin menunjukkan hasil rontgen jari-jarinya yang rusak. Jungkook tidak mengamuk marah seperti yang selalu dibayangkan Taehyung. Jungkook begitu tenang. Hingga Seokjin menegurnya, meminta Jungkook untuk angkat suara sedikit saja, pemuda itu hanya menggelengkan kepala samar.
"Aku mengerti," Ia berucap gamang. Mata kelu dan dingin menatap Seokjin yang kebingungan. Seokjin mengangguk pilu, memberikan senyuman penuh kekuatan pada Taehyung yang membalas senyumannya pasti kemudiam mengundurkan diri sopan lalu keluar dari ruang rawat inap Jungkook.
Taehyung ingin bertanya. Benar-benar ingin. Beribu pertanyaan bergantung di lidahnya sementara satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menunggu. Menunggu dalam diam kapan Jungkook meledak dan melempar ultimatum kebenciannya yang mendalam. Kapan Jungkook akan berteriak marah dan menyalahinya tanpa ampun. Tetapi Jungkook benar-benar kaku. Matanya terpejam dengan kepala bersandar pada tumpukan bantal. Untuk pertama kalinya, Jungkook melepas hati-hati untaian jari mereka yang terkait manis. Perlakuan kecil yang menusuk mati jantung Taehyung. Jungkook mengangkat tangannya lalu menutupi matanya dengan lengan.
"Aku butuh tidur," ujarnya singkat. Suara tenang dan terkontrol habis-habisan. Ia menarik nafas panjang yang gemetar dengan hembusan yang begitu menyiksa.
Kata-kata itu terasa pahit dan menyakitkan. Bagaimana lengan Jungkook menutupi wajahnya dan memberi batasan untuk Taehyung. Maka ia bangkit dengan enggan, mengusap lembut rambut Jungkook lalu memberikan kecupan manis di pipinya. Jungkook tidak merespon sedikitpun. Walau dengan bisikan Taehyung yang hangat menyapu gendang telinganya. Pemuda itu masih kukuh di posisinya tanpa membalas apapun.
Dan ketika ia membuka pintu rawat inap Jungkook lalu keluar dari ruangan itu. Taehyung paham kehancuran Jungkook yang semu. Ia paham kesendirian yang diinginkan Jungkook. Dan Taehyung tahu, Jungkook menangis setelah yakin Taehyung meninggalkannya seorang diri.
.
.
.
"Dia tidak marah,"
Ucapannya datar. Taehyung menggigiti bibirnya resah. Jemari gemetar saat mengepalkannya kaku. Kakinya tidak bisa diam, terus bergerak dan membuat Min Yoongi meliriknya sebal. Pemuda sepucat malam itu memutar stirnya lihai. Melirik kaca spion teliti lalu membelokkan mobilnya agar masuk dengan mulus ke dalam jalanan kecil berpalang IN yang elegan.
"Kau ingin dia marah?"
"Tidak begitu," geram Taehyung. Kini menggigit kukunya. "Dia menangis, Hyung." Taehyung memutar tubuhnya menghadap Yoongi yang masih patuh mengendarai mobilnya. Pemuda itu hanya meliriknya tipis. Menatap raut wajah Taehyung yang kalut dan matanya yang berkaca-kaca. Satu sentuhan. Dan Taehyung akan menangis meraung-raung. "Dia menangis hebat sekali. Matanya bengkak saat tidur. Bibirnya terlalu pucat. A-aku…" jemarinya kembali bergetar. Ia lagi-lagi menggigit bibirnya terlampau kuat. "sakit sekali melihatnya."
"Tidak ada skenario lebih baik dari itu." Ucap Yoongi pelan. Satu lengannya terlepas dari stir, mengulus lengan Taehyung lembut dan penuh pengertian yang membuat Taehyung tenang. "Memberitahunya sekarang ataupun nanti tidak akan merubah situasi yang sudah terjadi. Kau hanya perlu bertahan di sisinya lebih lama. Membuatnya menerima kenyataan. Bukan melawan kenyataan."
"Dia bahkan tidak mau menatapku." Desah Taehyung lelah. Benar-benar ingin menangis.
Yoongi menghentikkan mobilnya di depan pintu masuk gedung tinggi dengan bubuhan KingCrop di depan pintunya yang berputar. Mengulurkan tangan lalu mengelus helaian rambut Taehyung.
"Konsekuensi." Ucapnya lembut. "sebab-akibat." Jarinya turun untuk mengelus pergelangan tangan Taehyung yang kurus. Yoongi tersenyum. "Ada setumpuk konsekuensi yang aku tanggung saat memutuskan melepas Jimin pergi. Aku menyebabkannya pergi. Dan aku menanggung akibatnya seorang diri. Ada konsukuensi saat aku menarik Jimin kembali ke pelukanku. Aku penyebab utama ia bertahan di sisiku. Dan sekarang aku menanggung akibatnya bersama-sama dengannya." Yoongi meremas jemari kurus Taehyung yang rapuh. "Menanggungnya bersama-sama selalu lebih mudah dari pura-pura kuat dan menyimpannya seorang diri. Maka, diamlah untuk saat ini. Cukup bertahan di sisinya. Saat ia yakin semuanya terlalu berat, dan saat ia tidak bisa lagi berdiri sendiri. Dia pasti akan mencari tanganmu."
Taehyung menarik nafas panjang. Membalas senyuman Yoongi tulus lalu menarik Yoongi ke dalam pelukan.
"Terimakasih, Hyungnim." Bisiknya. Melepas pelukannya cepat lalu mengurai lepas seatbelt yang melingkari tubuhnya. "dan sekarang. Tolong doakan semoga aku bisa keluar dengan selamat dari gedung jahanam itu," Taehyung mengedikkan kepalanya ke gedung milik Ayahnya yang membumbung tinggi.
Yoongi terkekeh, "hubungi aku jika kau butuh melarikan diri."
"Standby dalam lima menit,"
Taehyung keluar dari mobil Yoongi setelah melambaikan tangan dan derai tawa Yoongi yang lucu. Shin sudah menunggunya di depan pintu. Membungkukkan tubuh sopan lalu menunggu Taehyung berdiri di hadapannya. Ia memimpin jalan. Berkata ayahnya sudah menunggu di ruangannya dan berjalan tegap di depannya. Taehyung menyandarkan tubuhnya pada sisi dinding lift. Merapikan mantel yang memeluk tubuhnya erat lalu membayangkan wajah Jungkook ketika ia berkata akan pergi siang ini. Masih diam. Masih menyimpan kemarahannya seorang diri. Jungkook masih patuh ketika Taehyung menyuapinya makanan, masih cerewet ketika mereka memilih film untuk ditonton, masih diam-diam memberikan kecupan di wajah Taehyung saat bosan dengan film yang ditontonnya. Jungkook masih menjadi dirinya. Tetapi, ada sisi kosong yang tidak bisa ia tunjukkan di hadapan Taehyung. Ada kemarahan yang ia simpan dan tolak untuk perlihatkan.
Denting lift membuat Taehyung tersadar dari lamunannya. Ia melangkah pasti ke ruangan Ayahnya. Shin mengetuk pintu ruangan Ayahnya untuk menginformasi kedatangannya dan seruan dari Ayahnya untuk masuk. Shin membuka pintunya, mempersilahkan Taehyung masuk lalu membungkukkan tubuh terlalu sopan. Ayahnya di sana. Berdiri menghadap kaca yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Seoul yang indah.
Kim TaeSik. Nama Ayahnya terpatri kokoh di hadapan mejanya. Dan membayangkan suatu hari namanya yang akan berada di sana membuat Taehyung seketika mual tak terkendali.
"Ada apa?" ia bertanya tanpa basa-basi. Menatap malas pada punggung Ayahnya yang membelakanginya. Seokjin yang memintanya untuk mendatangi Ayahnya. Berkata Ayahnya akan meninjau ulang pernikahannya dan mempercepat pengesahan dirinya sebagai direktur.
"Indah sekali, bukan?" Ayahnya bergumam pelan. Jemari menari di atas sandaran kursinya yang nyaman dengan mata menatap gedung tinggi dan gumpalan awan yang bersih. "butuh waktu lama bagiku dan ibumu mewujudkan ini semua. Banyak usaha. Banyak uang. Banyak tangan kotor yang dilibatkan."
"Ada apa?" tekan Taehyung lebih dalam, penuh penekanan, penuh kemarahan. "aku tidak punya waktu banyak." Geramnya pelan.
"Seokjin sudah memberitahumu?" tanya Ayahnya sambil membalikkan tubuhnya. Aura arogansinya masih mencekik. Penuh otoriternya masih membuat Taehyung benci setengah mati. Melihat wajah Ayahnya membuatnya mengulang seluruh rasa sakitnya. Kepergian Seojin. Kecelakaan Jungkook. Dan Taehyung benar-benar benci merasakan jemarinya yang bergetar marah.
"Melihat ekspresimu aku yakin Seokjin sudah memberitahumu." Ayahnya melanjutkan. "Kakakmu selalu membelamu. Berani melakukan apa saja demi dirimu. Membuat tangannya sendiri kotor sementara milikmu bersih tak tersentuh."
"Aku tidak memintanya." Jawab Taehyung berani. "Seokjin Hyung hanya terlalu pengecut. Dia terlalu dimanja olehmu. Oleh tangan penguasamu."
"Dan kau tidak?"
"Lakukan apa saja yang kau mau." Ucap Taehyung. Hampir menangis. "Apa saja. Apapun. Asalkan jangan Jungkook." kini suaranya bergetar. "saat Ayah mengatur hidupku dan membuatku menjadi seperti yang selama ini Ayah inginkan, aku marah. Saat Ayah merenggut mimpi Seojin karena ia bertahan di sisiku, aku marah. Saat Ayah merangkai kematian Seojin agar dia lepas dariku, aku ingin mati." Kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya yang terkepal. Ia menjilat bibirnya yang kering, menarik nafas pelan dan menatap ke dalam mata Ayahnya tanpa gentar. "Aku ingin mati. Satu-satunya yang ingin aku lakukan adalah mati. Aku memikirkan berbagai banyak cara untuk mati. Apakah aku harus bunuh diri? Apa aku harus terjun dari lantai tertinggi rumah sakit? Apakah aku harus menusuk nadiku dengan jarum infusan? Atau haruskah aku mati seperti cara Seojin?" Taehyung menggeritkan setiap ucapannya dengan nada perih penuh kebencian.
"Dan Jungkook di sana. Jeon Jungkook. Dokter muda yang telah kau renggut masa depannya ada di sana. Mencegahku. Mencegah putramu ini untuk mengakhiri hidupnya. Dia di sana. Bukan kau. Bukan Seokjin Hyung. Tapi Jeon Jungkook. Dia yang mengulurkan tangannya padaku dan merubah pikiranku. Dia yang membuatku bertahan. Dia yang memberiku alasan untuk kembali bernafas dan menghargai kehidupan. Dia yang menyelamatkanku dan memanggilku saat sekarat. Pemuda yang sekarang terbaring di rumah sakit dengan mimpinya yang hancur adalah pemuda yang sudah menyelamatkan putramu!"
Taehyung mengeluarkan tawa dengan deguk sedih dan air mata yang lolos. Menggantung di dagunya menyedihkan dengan wajahnya yang memohon dan penuh akan rasa sakit. Taehyung membersit. Tangisannya kuat. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar.
"Saat melihat mobilnya terseret di depan mataku, di depan mataku, dengan Jungkook yang terperangkap di dalamnya. Kau hampir memberiku satu alasan untuk kembali memikirkan kematian. Saat melihatnya masuk ruang operasi dan tidak kembali dalam sembilan jam. Aku berpikir untuk mencari pisau dan menusuknya ke nadiku. Saat aku melihatnya terbaring kaku karena koma. Melihat denyut jantungnya yang lemah dan bisa kapan saja berhenti, aku berjanji akan berlari ke jendela dan terjun saat itu juga." Ia menggertakkan giginya putus saja. "Ini mungkin terdengar bodoh di telingamu. Tetapi aku jatuh cinta. Aku hanya jatuh cinta. Aku hanya ingin jatuh cinta, Abeoji."
Wajah ayahnya masih sama. Datar dan menusuk. Taehyung merasa wajahnya memerah karena air mata yang terus mengalir. Ia selalu lemah di hadapan Ayahnya. Sedikit ucapan yang keluar dari bibirnya selalu dibayangi oleh air mata. Seluruh rasa sakit yang ia simpan dan pendam selalu meluap habis di depan Ayahnya. Mengingat pelukan hangatnya yang dulu selalu menenangkannya saat terjadi badai hebat. Suaranya yang mengomeli Taehyung dengan lembut. Semua itu terpatri di otaknya. Namun ia membencinya. Ia benci kenangan manis itu tidak bisa lagi terulang. Ia benci semuanya hanya kenangan.
"Mari buat perjanjian." Suaranya serak. Mata Taehyung memerah melihat kilatan sedih di mata Ayahnya yang balik menatapnya. "Kau boleh mengangkatku menjadi penerus di perusahaanmu ini. Kau boleh menjodohkanku pada wanita mana saja. Kau boleh mengatur hidupku sesuka hatimu." Ia menggigit bibirnya. "Jauhi Jungkook. Jika perkataan Seokjin Hyung memang benar. Jika kau masih sosok Ayah yang dulu aku hormati. Jika kau masih sosok pahlawan dalam keluarga kami. Ini permintaan putramu." Taehyung melangkah mundur. Membungkukkan tubuhnya penuh rasa hormat, "aku mohon."
Taehyung tidak pernah merasa sefrustrasi ini memohon pada seseorang.
.
.
.
"Selamat malam, sleepyhead."
Jungkook mengerjap. Menyipitkan mata sesaat dan menyesuaikan matanya dengan sinar lampu temaram di atasnya. Taehyung duduk di tepi tempat tidur. Menyangga sikunya pada pahanya dengan telapak tangan menempel di dagu. Ia memiringkan kepala. Tersenyum begitu manis lalu mengulurkan tangan. Mengusap dahi Jungkook dan mengurai rambutnya.
"Kau harus keramas," ujar Taehyung. Ibu jari mengelus pelipis Jungkook lalu turun ke pipinya. "lebih suka apel atau jeruk?"
"Hm?" dengan keasadaran yang kini menyergapnya Jungkook menaikkan sebelah alis. Meregangkan sedikit tubuhnya yang kaku dan tubuhnya yang pegal luar biasa. Sesi rehabilitas mediknya bersama Soonyoung mengirim efek lelah ke tubuhnya, sehingga satu-satunya yang Jungkook lakukan setelah sampai di ruang inapnya adalah tertidur seperti orang teler. Apalagi ditambah dengan campuran obat yang Seokjin suntikkan melalui selang infusannya.
"Untuk shampomu," jelas Taehyung. Jungkook mengerang sambil memejamkan mata.
"Tubuhku pegal sekali." Gerutu Jungkook. Kembali mengerang serak ketika jari-jari panjang Taehyung mengusap sisi pelipisnya dengan pijatan lembut. "pelipisku baik-baik saja. Pundakku yang pegal."
Taehyung berdecak, "Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kau bisa menjadi secerewet ini," mencubit pipi Jungkook yang tirus ia melanjutkan ucapannya. "Jadi jawab. Lebih suka apel atau jeruk?" ke sepuluh jarinya turun ke pundak Jungkook yang masih betah berbaring. Memijatnya lembut dengan mata Jungkook yang masih terpejam erat.
"Apel oke." Jawab Jungkook dengan gumaman. "tapi jeruk juga oke."
"Plin-plan." Tekan Taehyung gemas.
Jungkook membuka matanya, "Lalu shampo apa yang digunakan Taehyung-sii?"
Taehyung mengulum senyuman, merendahkan wajahnya lalu mengecup cepat hidung Jungkook. "Aku suka storberi."
"Hm, pantas." Jemarinya menangkap tengkuk Taehyung. Mengecupi puncak kepala Taehyung gemas hingga pemuda itu tertawa kecil sambil berteriak agar Jungkook berhenti. "Aromanya manis. Seperti Taehyung-sii."
Taehyung menegakkan tubuh, melepaskan diri dari cengkraman jari Jungkook di tengkuknya dan rentetan kecupan basah yang hinggap di wajahnya. Meniup poninya yang panjang dengan mata menghakimi. "Woah, apa sekarang Jeon Jungkook-sii yang sedang menggodaku?"
"Kaunya tergoda tidak?" tanggap Jungkook tepat seperti yang dilakukan Taehyung beberapa hari lagi. Tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Taehyung yang merona sambil menggigit bibirnya pelan.
Taehyung menyipitkan mata sebal, "tentu saja aku tergoda." Ia membaringkan tubuhnya di sisi Jungkook. Walau Jungkook sudah berulang kali mengomeli kebiasaan Taehyung yang menyita sisi kosong di sampingnya. Tubuh pemuda itu terlampau kurus. Hingga muat berbaring menyamping menghadapnya di atas tempat tidur rumah sakit. Lengannya berada di atas perut Jungkook, mengangkat lengan Jungkook yang tersambung infusan hati-hati agar beristirahat di atas sisi tubuhnya. "Hari ini aku menemui Ayah," ucap Taehyung begitu jelas. Setelah menghabisi sepuluh menit dengan protes akan letak tempat tidur Jungkook yang menurutnya terlalu tinggi. Lalu mencari remote control dan membuatnya datar hingga mereka leluasa menatap langit-langit.
"Lalu?" Taehyung bisa merasakan tubuh Jungkook yang menegang. Terlihat tidak nyaman dengan ucapan Taehyung. Berkali-kali ia mengedipkan matanya gusar. Bibirnya terkatup rapat dan pandangannya menusuk langit-langit. "Apa dia memaksamu—"
"Tidak," potong Taehyung cepat. "Sekarang aku yang mengancam. Bukan dia." Taehyung terkekeh pelan. "Dulu." Taehyung menyangga dagunya di pundak Jungkook. "skenario apa yang ada di otakmu dulu ketika kita belum bertemu?"
Jungkook menggerakkan tubuhnya mencari posisi yang lebih nyaman. Membiarkan ujung hidung Taehyung menyentuh sisi lehernya dengan jemari Taehyung mengusap perutnya lembut. Jungkook menimpa lengannya di atas lengan milik Taehyung dan mendekatkan rahangnya pada dahi Taehyung. Menghirup aroma shampoo stoberi yang Taehyung gunakan lalu bergumam kecil sebelum menjawab.
"Aku membayangkan kau bekerja di sebuah kafe mungil. Mengenakan seragam pelayan berwarna coklat sewarna rambutmu. Kau manis sekali berdiri di belakang kasir. Senyumanmu terlampau ceria. Kau menyapa setiap pelanggan yang datang dengan cengiran menggemaskan. Aromamu sehangat kopi. Dan aku. Aku datang sebagai Dokter Jeon. Mendorong pintu kafe sehabis menyelesaikan shift malam. Letih luar biasa. Lalu kau menyapaku. Tersenyum lebar dan menatapku." Jungkook mencari jari Taehyung lalu memainkannya. "melihat nametag di seragammu. Tertera Kim Taehyung. Lalu wajahmu. Foto-foto yang Hoseok Hyung tempel di tiap inchi dinding kamarnya. Aku akan tahu itu adalah kau. Dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dalam pandangan pertama." Ujar Jungkook dengan nada percaya diri. Taehyung mendengus diiringi tawa kecil. Mengeratkan lengannya memeluk Jungkook. "aku akan membuatmu benar-benar cinta mati padaku."
Taehyung tertawa, "bagaimana caranya?"
"Seperti yang saat ini aku lakukan."
Tersenyum. Taehyung merapatkan dirinya pada Jungkook. Menutup mata dan mengeratkan pelukan. "Maaf," bisiknya. "maaf skenarionya tidak berjalan seindah yang kau pikirkan."
Taehyung merasakan kecupan di dahinya. Cepat namun begitu menyentuh. "Maaf tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku dalam pandangan pertama."
Taehyung lagi-lagi tertawa. Suaranya berat dan mengantuk. "Kau menyebalkan sekali waktu itu. Dokter sok tahu."
Jemari Jungkook membelai rambutnya. "Kau cantik sekali waktu itu."
Bodohnya. Jantungnya berisik sekali mendengar ucapan Jungkook. Bodohnya lagi, ia begitu ingin Jungkook membisikkan kata-kata itu ke telinganya, atau terusap lambat di kulitnya diiringi ciumannya yang basah. Hembusan nafas Jungkook terasa dekat dan membuatnya tuli. Lirikan Jungkook mengaduk habis isi perutnya. Jari-jari kakinya mengkerut. Degupan jantungnya terlampau keras hingga ia takut Jungkook mampu mendengarnya. Taehyung perlahan mengangkat wajahnya. Melihat tatapan Jungkook yang lurus ke langit-langit. Suara Jungkook masih bergema tak mau hilang.
'kau cantik sekali waktu itu,'
"A-Apa?" Taehyung mencoba menarik Jungkook untuk kembali mengucapkannya.
Jungkook menurunkan pandangannya, memiringkan kepala sembari menarik pipi Taehyung dengan jarinya, "Kau cantik sekali. Saat terbaring koma dengan luka-luka mengerikan di wajahmu. Saat berdiri di atas gedung rumah sakit. Dan saat kau patuh diam ketika aku membersihkan infusanmu yang kacau. Kau cantik saat meminum coklat hangat buatanku lalu mengumpatiku untuk pergi. Saat kau tertawa. Kau jauh lebih cantik. Bahkan saat kau menangis, kau cantik."
"Woah," Taehyung bernafas pendek, "aku harusnya benci mendengar seseorang mengatakan diriku cantik." Gumamnya. "Kenapa aku tidak marah saat kau yang mengatakannya?"
"Karena aku sedang sakit," Jungkook memasang wajah sedih. "kau tega memukulku?"
Taehyung menyangga kepalanya dengan lengannya yang kini bertumpu dengan siku. "Kau harus cepat sembuh. Aku tidak sabar ingin memukulmu."
Jungkook mengulum senyuman manis, "mau tahu kapan kau terlihat jauh jauh jauh lebih cantik?"
"Berhenti memanggilku cantik."
"Mau tahu tidak?"
Taehyung berdeham gengsi. "Kapan memangnya?"
Mengeluarkan cengirannya yang teramat polos, Jungkook mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya ke telinga Taehyung dan berbisik.
"Saat aku menciummu."
.
.
.
Taehyung sering terbangun di tengah malam. Memandangi wajah tertidur Jungkook yang terganggu. Menghitung hembusan nafasnya teratur. Dan menatap tak henti pada kelopak mata Jungkook yang tertutup rapat. Di perempat malam. Pemuda itu selalu mengigau tidak jelas. Mimpinya buruk. Tubuhnya bergerak-gerak ketakutan dengan jemari mencengkram seprai di bawahnya kalut. Kadang, Taehyung harus menggenggam jemari Jungkook dan berbisik menenangkan agar Jungkook kembali tenang dalam tidurnya. Dan kadang pula, Jungkook berteriak cukup kencang, gerit wajahnya penuh ketakutan yang meremas hati Taehyung sehingga membuatnya harus menyalakan lampu ruangan dan membangunkan Jungkook.
Ia akan kembali tertidur saat Jungkook benar-benar tenang dan terlelap. Ia akan mengecup kening Jungkook lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian menangis. Benar-benar menangis. Hingga suaranya hilang dan degukannya begitu pilu. Ia selalu ingin menangis saat melihat Jungkook. Ia selalu ingin pergi saat menatap Jungkook.
"Menurutmu ini pilihan yang tepat?"
Seokjin bertanya setelah Taehyung menghubungi Shin. Pengawal kepercayaan ayahnya itu membawa banyak dokumen di genggamannya. Taehyung menanda tangani hampir lima dokumen pengesahan dirinya sebagai direktur utama pengganti ayahnya. Ini pertama kalinya ia menduduki kursi direktur utama di rumah sakit yang biasa ayahnya duduki. Seokjin berdiri di sampingnya, seorang pengacara; laki-laki berumur di awal empat puluh dengan kemeja licin dan tatanan rambut rapi berada di depannya, dengan gesit membalikkan dokumen sembari menjelaskan isi dokumen yang Taehyung tanda tangani lalu mengangguk puas saat Taehyung tidak bertanya apapun.
"Selama ini membuat Ayah menjauhi Jungkoook, maka iya. Ini pilihan yang tepat."
Shin membungkuk sopan saat mengambil salinan dokumen yang diulurkan pengacara. Berbicara dengan Taehyung terlampau sopan dengan tahta yang kini menggelantung di pundaknya. Dan Taehyung benci. Ia benci.
"Pengumuman dan perayaan pengesahan anda akan diadakan minggu depan. Waktu dan tempat akan saya beritahu lebih lanjut. Selebihnya, terimakasih atas kerjasama anda, Isajangnim."
Ketika Taehyung keluar dari ruangannya dan melihat deretan staff rumah sakit dan dokter-dokter yang membungkukkan tubuhnya ke arahnya membuat perut Taehyung tergelincir jatuh. Jimin berada di antaranya. Tak berani menatap Taehyung seperti yang biasa ia lakukan. Namjoon juga ada di sana. Menatap lantai rumah sakit dengan membungkuk dan berucap selamat dengan nada dingin yang datar.
Ini pilihan yang tepat. Taehyung menghapus air matanya. Mengingat kegugupannya ketika berdiri di hadapan dewan direksi dalam perayaan pengesahannya sebagai Isajangnim yang baru. Seokjin menyemangatinya dalam tatapannya yang lembut. Dan Jimin berkali-kali menggoda Taehyung dengan memanggilnya Isajangnim. Setelah Taehyung menjelaskan secara rinci keadaannya yang terpaksa. Jimin berbalik memeluknya dan membisikkan kata-kata penyemangat yang manis.
"Kim Taehyung." Ia bahkan hampir tidak bisa mengenali suaranya. Matanya menatap lurus. Menembus dinding ballroom dan mengabaikan bisik-bisik di sekelilingnya. "Direktur utama JMC dan KingCrop. Mohon kerjasamanya."
Namun pilihan itu yang kini membuat Taehyung tidak bisa membagi waktunya. Ia tidak lagi leluasa berada di ruangan Jungkook. Tidak lagi menyuapi pemuda itu makan. Bahkan jarang melihatnya. Sibuk terus-menerus hingga Jungkook menatapnya curiga. Jungkook belum tahu. Taehyung hampir menonjok Jimin ketika pemuda itu tidak sengaja memanggilnya Isajangnim saat ia mengganti infusan Jungkook yang hampir kosong. Pemuda itu marah tiap kali Taehyung meminta diri untuk pergi.
Ia hanya bisa mengunjungi Jungkook saat ia selesai dengan pekerjaannya. Masuk ke dalam ruangan Jungkook setelah pemuda itu terlelap dan tenang dalam tidurnya, tetapi masih saja mengalami mimpi buruk di perempat malam. Taehyung menatap langit-langit selagi membersit perih. Matanya bengkak setelah menangis. Hembusan nafas Jungkook menenangkannya untuk menutup mata.
Taehyung begitu lelah. Ia ingin semuanya cepat berakhir. Ia ingin bersama Jungkook. Hanya dia dan Jungkook, tanpa orang lain.
.
.
.
Jungkook mengucapkan terimakasih, membungkukkan tubuhnya yang kaku dan masih terduduk di kursi roda pada Soonyoung. Pemuda ceria yang menyemangatinya dalam ruang rehabilitas medik untuk mengecek keadaan otot-otot jarinya. Ia menawarkan diri untuk mendorong kursi rodanya ke ruangannya, namun Jungkook menolaknya halus dan berkata bisa sendiri. Walau dalam dua menit, ia menyerah dengan kursi roda yang tertambat di tengah lorong. Jungkook mengusap wajahnya letih, mengeluarkan smartphone dari saku baju rumah sakitnya untuk menghubungi ibunya. Dengan jarinya yang bergetar ia mencoba menyentuh layar smartphonenya dan bersiap menekan tanda panggil ketika Kim Namjoon melempar sebungkus sandwich ke pangkuannya.
"Tidak pakai pickles. Saus tomat. Dan daging medium." Namjoon tersenyum. Map putih berada di genggamannya. "kesukaanmu. Benar?"
Jungkook mendengus, memasukkan smartphonenya ke saku bajunya lalu mengambil gulungan sandwich hangat. "Aku terkejut kau masih ingat."
Namjoon melangkah, berdiri di belakang kursi rodanya lalu mendorongnya hati-hati. "tentu saja. Aku hapal snack setelah makan siang tiap dokter di lantai lima belas. Apalagi kau. Seleramu masih sama dengan tujuh tahun lalu."
"Aku bukan—" kata-kata itu terasa sakit, walau belum ia suarakan. "Aku bukan dokter, lagi."
Mereka sampai di depan vending mechine. Namjoon mengambil beberapa yang koin dari saku celananya lalu menekan tombol untuk kopi dan soda.
"Kau masih seorang dokter," ucap Namjoon pelan. membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kaleng kopi dan soda di bawah mesin vending mechine. "aku benci mendengarmu berkata seperti itu. Jangan katakan lagi," gusar Namjoon. Meletakkan kaleng kopi di pangkuan Jungkook lalu kembali mendorong kursi rodanya.
"Pasien pertamaku adalah seorang pengendara motor." Jungkook bersuara, mengatupkan bibirnya yang kering dan jemari mencengkram bungkus sandwich serta kaleng kopi sekaligus. Namjoon masih patuh mendorong kursi rodanya sambil mendengarkan dengan tekun. "TA di pertengahan bulan November. Motornya tergelincir di jalanan bersalju dan menabrak sebuah mobil van. Aku masih menjadi dokter magang di sini. Di tahun ke dua. Berjaga di ruang ER hampir dua puluh jam sehari. Hari itu Dokter Yoon sedang berada di OR. Dokter Choi tengah menangani pasien dalam kecelakaan yang sama; si pengendara mobil van. Kakinya terjepit di bawah kursi kemudi. Harus diamputasi. Pasien ini datang lima belas menit lebih lambat. Tidak ada dokter yang berjaga. Dan Dokter Yoon yang memintaku untuk menanganinya. Femurnya hancur, lengan dan tulang iga patah. Saat masuk ke dalam ruang ER aku tidak menemukan femoralis dan karotisnya. Lima menit berada di ER saat kami sedang menunggu untuk CT-Scan, tiba-tiba saja dia mengalami SCA. Jantungnya berhenti. Tidak ada denyut nadi. Aku melakukan kompresi dada selama hampir empat menit. Menyambungkan EKG, defibrilator, 150 joule, lalu 200 joule. Kemudian Suster Yoo menyentuh lenganku. Mencengkramnya kuat dan menggelengkan kepala."
Mereka tiba di ruang kafetaria yang ramai. Namjoon sudah duduk di hadapannya dengan kaleng soda dan bungkus sandwich miliknya yang belum tersentuh.
"Pukul 19:39. Aku mengumumkan waktu kematiannya. Untuk pertama kalinya namaku yang tertera pada Death Sertification. Pasien pertamaku. Meninggal dalam ruang ER," Jungkook menggertakkan giginya yang gemetar. "melihatnya terbujur kaku dengan jantung berhenti berdetak dengan keluarganya yang menangisi kepergiannya membuatku marah. Benar-benar marah. Bagaimana bisa. Bagaimana bisa satu organ vital seukuran genggaman tangangku dengan massa 300gram bisa menjadi penentu kehidupan. Licik sekali. Satu detaknya menghilang terasa ikut mengambil alih nafasku. Aku selalu ketakutan ketika melihat EKG pasienku. Tiap grafik kecilnya yang berjalan tidak pernah gagal membunuhku. Aku takut melihat garis lurus panjang serta dengingannya yang menyebalkan. Namun sebenci-bencinya aku pada garis lurus itu, aku lebih benci pada diriku sendiri. Aku benci melihat satu nyawa yang terlepas dari genggamanku. Aku benci melihat tanda merah di ruang OR. Aku benci menggenggam scalpel dalam jariku. Seratus lima puluh orang. Jari ini bertanggung jawab atas seratus lima puluh orang yang meninggal." Jungkook mengangkat jemarinya yang bergetar, "tetapi jari ini juga sudah menyelamatkan lima ratus dua puluh orang. Dan yang lebih membuatku benci adalah kenyataan jika jari ini tidak bisa lagi melakukannya."
Namjoon memandang Jungkook dalam. Letih dan rasa kasihan bercampur dalam tatapannya. Ia mengetukkan jari telunjuk ke permukaan meja. Menaruh map putih yang sedari tadi di genggamnya lalu meletakannnya di atas meja. Menepuk permukaan map lalu mendorongnya lembut ke arah Jungkook.
"Rekayasa Jaringan," mulai Namjoon tegas. Ia membuka kaitan kaleng soda hingga terbuka. Suara desisannya menarik perhatian Jungkook dari kepatuhannya menatap map putih di hadapannya. "penggunaan kombinasi teknik sel, rekayasa dan material dalam pemanfaatan biokimia dan fisiokimia untuk meningkatkan atau menggantikan fungsi biologis. Banyak digunakan dalam bidang kedokteran dalam bentuk benang jahit luka berupa kolagen atau alifatik. Hanya sebatas itu. Tetapi rekayasa jaringan bisa lebih dari itu. Mereka dapat menggunakan sel hidup sebagai bahan pembangun. Jarimu yang rusak. Ligamen dan tendormu yang hancur. Bahkan tulang selangkanganmu yang remuk. Bisa disembuhkan dengan ini." Namjoon menenggak sodanya. "Korea Selatan masih melarang pengguanaan nanoteknologi dalam rekayasa jaringan. Masih dianggap menyalahi aturan dan melanggar janji mulia dokter. Membutuhkan keberanian untuk mengekstrasi sel dengan alat sentrifugal. Teknologi ini bisa digunakan dalam hal buruk di tangan yang salah, itu sebabnya Korea Selatan belum mau menindaklanjuti penelitiannya. Tetapi tidak dengan Amerika."
Namjoon memberi perintah dalam tatapannya untuk Jungkook membuka lembaran map. Pemuda itu membukanya dengan perlahan. Mata berkaca-kaca dan raut tidak percaya yang sedih.
"Kau tidak sendiri, Jungkook-a." gumam Namjoon. "Kau tidak pernah sendiri." Lanjutnya penuh kasih sayang. "bukan hanya kau yang sakit melihat keadaan tanganmu. Bukan hanya kau yang berjuang. Aku dan Seokjin mati-matian mendapatkannya."
"Karena dia yang menyebabkan aku seperti ini?"
"Jeon Jungkook." gerit Namjoon tertahan amarah.
"Koreksi. Ayahnya yang membuatku menjadi seperti ini."
Namjoon mengetatkan dagu. Menatap Jungkook murka lalu menarik nafas lelah yag berisi simpatik tulus. "Jika ada yang menyesali kejadian yang menimpamu selain dirimu dan Taehyung. Maka itu adalah Seokjin."
Jungkook mendengus, "menyesalinya?" ia mendorong map putih itu hingga terjatuh ke pangkuan Namjoon. "Aku tidak butuh rasa kasihannya. Tidak perlu repot-repot. Aku bisa menanganinya sendiri."
"Berhenti jadi berengsek dan dengarkan aku!" Namjoon kini menggebrak meja di hadapan mereka. Wajahnya sarat sekali oleh kekecewaan. Ia mengambil map putih yang terjatuh di pangkuannya kembali ke atas permukaan meja. "Kau bersikap seolah duniamu hancur dan menyimpan kebencianmu seorang diri lalu diam-diam menyalahkan orang lain. Kau tahu apa tentang hidup? Kau tahu apa tentang penyesalan? Kau tahu apa? yang kau lakukan hanya menyerah dan diam seperti orang bodoh. Di mana gelarmu? Di mana?! Kau diam saja saat Seokjin terang-terangan mengatakan gelar yang tersandang di pundakmu harus dicabut? Kau diam saja! Tidak melakukan apa-apa! Dan sekarang kau bersikap seolah-seolah kau bisa menanganinya seorang diri?"
"Aku muak dengan ini semua!" Jungkook balas berucap dengan mata berkaca-kaca. Tangisannya menggantung. Siap meledak dalam lanjutan ucapannya. "Aku muak berhubungan dengan keluarga mereka lagi. Aku muak harus melihat wajah Taehyung setiap hari dan berpura-pura aku baik-baik saja. Aku muak dengan kondisiku. Aku muak pada diriku sendiri yang tidak bisa berhenti berpura-pura!"
"Kalau begitu berhentilah berpura-pura!" Namjoon menggeritkan ucapannya penuh kekecewaan. Namun suaranya kini melembut. "Kau kira kau menangis seorang diri? Kau kira Taehyung tidak diam-diam berlari ke rooftop lalu menangis sekencang-kencangnya? Kau kira Seokjin tidak menangis di ruangannya dengan kepala tertunduk dan membenci ayahnya yang selama ini menjadi sosok pahlwan baginya? Kau kira hanya kau seorang yang menderita?" Namjoon menatapnya. Diam beberapa saat lalu berucap. "Aku tidak bisa mengubah pendirianmu. Kau sudah dewasa. Kau tahu mana yang terbaik untuk dirimu sendiri." Namjoon mengehela nafas. "Aku hanya tidak mau kehilangan adik dari sahabat terbaikku, dan aku juga tidak mau kehilangan satu dokter terhebatku."
Jungkook terpaku, jemari kaku dan bergetar menatap kertas putih dalam map yang diulurkan Namjoon.
Transfer Patient Notice : Jungkook Jeon.
To : John Hopkins Medicine Baltimore Maryland, United States.
.
.
.
"Nyonya Jeon, selamat pagi!" Taehyung tengah sibuk menggasak rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil. Terburu mendatangi ruang inap Jungkook setelah membersihkan diri di ruangan Seokjin dan meminjam baju kakaknya. Sedikit kebesaran di tubuh Taehyung yang kurus. Lengannya melampaui jemarinya. Taehyung harus mengenakan belt sekencang mungkin agar celana milik Seokjin yang dikenakannya tidak melorot di pinggangnya.
"Selamat pagi, sunshine." Nyonya Jeon menepuk pipinya lembut.
"Tumben sudah ada di rumah sakit pagi-pagi sekali," handuknya tersangkut di lekukan lehernya. Membiarkan rambutnya yang setengah basah menutupi dahinya dan menerbangkan aroma shampo Seokjin yang sepahit kopi.
Nyonya Jeon mengambil lengan kanan Taehyung. Dengan perlahan melipat lengan kemeja Taehyung yang terlampau panjang. "Jungkook tidak memberitahumu?" tanyanya terlihat terkejut.
Taehyung menggigit bibirnya melihat perhatian Nyonya Jeon yang tulus. Hampir membuatnya menangis melihat betapa telatennya wanita itu melipat lengan kemejanya dengan lipatan yang rapi dan ringkas.
"Beritahu apa?" tanggapnya lambat. Nyonya Jeon mengambil lengan kirinya dan kembali melipat lengan kemejanya.
Wanita itu menatap Taehyung. Mengelus pergelangan Taehyung yang kurus. "Jungkook diperbolehkan pulang hari ini."
"H-Hari ini?" ia melebarkan bola matanya tak percaya. Senang namun merasa terkhianati. "Aku akan bantu beres-beres."
Nyonya Jeon tersenyum lembut, menepuk lengan Taehyung. "Tidak perlu. Kau terlihat lelah sekali."
"Ei, tidak apa." Taehyung membalas senyumannya. "aku akan bawa beberapa barang Jungkook. Kapan pulangnya? Aku hapal alamat rumah Jungkook."
"Taehyung," wanita itu menyimpan simpatik di suaranya. "Jungkook akan pulang bersama kami."
"Ke Busan?" Pasti Taehyung seolah ingin suara Nyonya Jeon membohongi telinganya.
Nyonya Jeon mengangguk, "aku tidak bisa membiarkannya tingga seorang diri di Seoul dengan kondisinya. Jungkook juga setuju. Ia butuh istirahat."
Taehyung menampilkan senyuman terpaksa. "Benar."
"Kau harus sering mampir," Nyonya Jeon mengusap lengan Taehyung. "Jungkook di dalam. Sedang menunggumu."
Ia berlalu sambil mengatakan bahwa harus memanggil suaminya ke ruang inap Jungkook untuk mengambil beberapa tas keperluan Jungkook. Meremas jemari Taehyung hangat sembari mengedikkan kepala agar Taehyung masuk ke dalam kamar inap Jungkook.
Taehyung menggeser pintu ruang inap Jungkook. Menatap sosoknya yang duduk di kursi roda dengan jemari mengelus bekas infusan di lengannya. Jungkook nampak tenang. Menikmati hembusan angin dari jendela yang terbuka. Helaian rambutnya tersibak. Dan aromanya semanis shampo stoberi yang Taehyung bubuhkan di rambutnya. Ia sudah tidak lagi mengenakan seragam pasien rumah sakit yang membosankan. Kaus putihya dimasukkan ke dalam celana jins. Dengan jaket bomber berwarna coklat dan Rolex di pergelangan tangan.
"Hei," panggilnya pelan. Berjalan mendekat dan menatap tumpukan tas di atas tempat tidur. Ia meluruhkan handuk kecil yang melingkar di lehernya lalu menaruhnya di atas tempat tidur Jungkook yang terlipat rapi."Kau tidak memberitahuku jika kau pulang hari ini."
Jungkook menarik nafas. Mengulum senyuman kecil yang begitu canggung. "Kau sibuk."
"Maaf," Taehyung menggigit bibirnya gugup. "tapi setidaknya beritahu aku. Kau bisa kirimi aku pesan atau telpon."
Kini tarikan nafas Jungkook terdengar jengah. "Kau mengharapkan jari rusak ini mengirimimu pesan?" Jungkook mengangkat tangannya. Memperlihatkan jemarinya yang begetar.
"Tidak begitu," gumam Taehyung kalah. "Aku hanya… terkejut. Kau tiba-tiba saja pulang. Kau sudah oke? Kakimu oke?"
"Terkejut," Jungkook menyuarakan dengusan pendek. "Seperti apa? seperti kau yang tidak memberitahuku tentang dirimu, Isajangnim?"
Taehyung melebarkan matanya. Beribu alasan masuk dan berebut untuk disuarakan tetapi yang ia lafalkan hanyalah serangkaian permintaan maaf yang basi. Jemarinya bergerak pasrah—setengah takut akan tatapan Jungkook yang menusuk. Otaknya memberi perintah telak. Beritahu Jungkook. Beritahu Jungkook. Beritahu Jungkook. Beritahu dia semuanya. Jangan lagi simpan rahasia. Tergagap di tempatnya mencoba menjelaskan. "Jungkook dengar—"
Ucapannya terhenti saat Jungkook memutar kursi rodanya lalu mengulurkan sebuah surat dilapisi amplop putih bersih. Taehyung mengerutkan kening. Langkah terhenti untuk mendekati Jungkook sembari mengambilnya dari tangan Jungkook dengan mata kebingungan.
"Surat pengunduran diri."
"Maaf?"
Taehyung berharap ia salah dengar. Ia berharap Jungkook tidak menatapnya dengan pandangan datar yang penuh ketenangan menyakitkan. Ia berharap surat di jemarinya yang mengkerut gelisah dapat menghilang dalam satu kedipan mata. Ia berharap dirinya datang dengan senyuman lebar lalu memeluk Jungkook yang membalas pelukannya. Ia berharap posisinya saat ini bisa dihapus dari kehidupannya. Ia berharap waktu berjalan sangat cepat hingga ia tidak bisa mengingat rentetan ucapan Jungkook yang mengalir mulus.
"Surat pengunduran diri." Jungkook mengulangnya lebih percaya diri. "aku sudah memikirkannya berulang kali. Dan ini adalah keputusan yang paling tepat."
"Tidak." Tolak Taehyung sambil menggeleng. "aku tidak akan mengijinkanmu. Tidak akan."
"Lalu apa?" Jungkook menatapnya tajam. "kau mau dokter cacat sepertiku berada di ruang operasi rumah sakitmu?"
"Jungkook."
"Aku berhenti."
"Tidak akan."
"Aku berhenti."
"Apa kau membenciku sekarang?"
Bibirnya kering. Suaranya sengau diantara hembusan angin yang menimpan tubuhnya dari jendela. Taehyung mencoba tegar. Menelan air liurnya tenang walau tenggorakannya terasa mencakar. Rasa sakitnya merayap dari hatinya menuju matanya yang panas.
"Dengan apa? Keadaanku? Atau kau yang terlalu sibuk?" Jungkook menaikkan alisnya gusar. "Kau masih butuh mendengar jawaban dariku?" Jungkook berbalik tanya. Mata melirik Taehyung tajam dengan bibir terkatup rapat, menyimpan cerita tersendiri yang tak bisa terkuak. Dinding itu kembali. Jungkook membuat sebuah dinding tebal yang tidak akan bisa Taehyung rubuhkan dengan segala cara kecuali Jungkook memberitahu cara ampuhnya padanya.
"Ya," Taehyung menjawab letih, menggigit bibir bawahnya merana lalu menarik nafas. "biarkan aku tidur dengan tenang." Bisiknya lemah. "aku ingin tidur dan memimpikanmu. Bukan mimpi tentang kau yang merangkak keluar dari puing mobilmu yang hancur. Bukan mimpi tentang jarimu yang rusak dan cita-citamu yang hangus terbakar karena ulah Ayahku. Bukan mimpi tentang tangisanmu setiap kali merasa yakin kau sendirian di ruanganmu. Aku ingin bermimpi tentang ciumanmu, pelukanmu, dirimu. Bukan tentang bagaimana aku menghancurkan hidupmu, tetapi tentang bagaimana aku dan kau hidup bahagia."
Taehyung menggeram di bawah kesadarannya, menyugar rambutnya hingga acak-acakkan. Ia ingin bersimpuh di hadapan Jungkook yang duduk tenang di roda kursinya, mengambil jemarinya lalu menggenggamnya erat. Taehyung tidak bisa hidup seperti ini.
"Aku tidak membencimu," Jungkook berujar tipis, seakan tidak ingin Taehyung mendengarnya. "aku tidak membencimu," Jungkook mengulangnya lebih keras.
"Katakan, dan tatap mataku." Pinta Taehyung, berdiri di depan Jungkook dan menarik dagu Jungkook.
Jungkook mengangkat wajahnya, menatap Taehyung dengan ketulusan yang selalu Taehyung rindukan. Senyuman terpatri di bibirnya. Lembut dan halus, sebelum menghilang seiring dengan ucapan yang keluar dari belah bibirnya.
"Aku tidak membencimu," ia mengulangnya dengan patuh, memaknai ucapannya hingga Taehyung percaya. "tetapi aku ingin kau hancur."
Taehyung merasakan bibirnya bergetar, tubuhnya goyah dan rubuh. Ia menatap nyalang ke mata Jungkook. Mendalami perkataan yang diucapkan Jungkook begitu mudah dan gamblang. Bola matanya melebar, melihat keseriusan di nada Jungkook yang penuh ketenangan. Tusukannya benar-benar nyata. Taehyung hampir merasa ia tidak lagi bernafas. Jantungnya tidak lagi berfungsi. Paru-parunya ambruk. Dunia Taehyung luluh lantah mendengar ucapan Jungkook.
"Aku ingin kau hancur sebagaimana diriku yang hancur saat ini. Aku ingin kau terus bermimpi buruk, melihatku dalam keadaan yang menderita hingga kau membenci dirimu sendiri." Gerit ucapan Jungkook penuh keperihan, mata terus menatap Taehyung tanpa cela. "aku ingin kau menangis saat mengingatku. Aku ingin kau terus mencintaiku dan tersiksa karenanya. Kau tidak bisa memelukku, tidak bisa menyentuhku, tidak bisa melakukan apa-apa dan kau akan menderita, tepat sepertiku."
Taehyung menahan deguk tangisannya, tangan mengepal di sisi tubuh dengan mata mereka yang saling bertatapan. Ia akhirnya benar-benar bersimpuh di hadapan Jungkook, membiarkan lututnya lebam akibat kejatuhannya yang mutlak. Ia menyuarakan tangisan tanpa suara, melihat mata Jungkook yang berair namun sedingin salju. Menonjok relung hati Taehyung yang berdarah.
"Jangan lakukan itu padaku," ia meminta dengan bisikan penuh sakit hati. Jemari menangkup milik Jungkook dan mencoba meremasnya. Jungkook tidak menolak, tidak juga membalas. Dingin. Jemari Jungkook terasa dingin.
"Lalu kenapa tidak biarkan saja aku mati?" Jungkook berkedip, menghilangkan genangan air mata yang mengumpul di sudut matanya. "Kenapa kau menarikku kembali? Kenapa kau membawaku kembali hanya untuk menerima kenyataan aku tidak bisa lagi menjadi diriku? Apa ini membuatmu senang? Mendapatkan seseorang yang mencintaimu sedalam ini membuatmu senang? Apa kau tidak paham akibat dari ini semua? Kau protes padaku karena aku menyimpan berita kepulanganku seorang diri. Lalu kau apa? Kau menyimpan banyak rahasia dan kau memintaku untuk mengerti? Apa melihatku menderita membuatmu senang?"
"Kau bilang kau tidak membenciku."
"Aku tidak membencimu!" Jungkook berteriak serak. "Kau pikir aku bisa membencimu? Setelah Ayahmu merenggut masa depanku, kau pikir aku akan membencimu? Setelah semua yang aku lalui seorang diri. Aku menganggap kau akan terus berada di sisiku. Aku menganggap aku akan bertarung bersamamu. Kita! Kita berdua! Itu yang kau katakan! Aku dan kau. Hanya kita. Tapi apa? Kau terlalu sibuk, Isajangnim. Kau tidak bisa menepati janjimu sendiri. Jangan bicarakan tentang penderitaan saat kau tidak bisa membayangkan sulitnya diriku berjalan seorang diri selama kau pergi."
"Aku melakukannya dengan alasan!"
"Bertahan di sisiku membutuhkan banyak alasan? Sesulit itu?"
"Kenapa kau jadi egois seperti ini?"
"Woah," Jungkook mendengus marah. "aku egois? Aku menyimpan semua kemarahanku karena aku mencintaimu. Aku menahan semuanya dan aku yang egois?"
"Jungkook—" Taehyung mencoba menggapai jemari Jungkook. Tetapi ia kini menolaknya. Jungkook menolaknya. Ia mengepalkan jemarinya yang bergetar hebat dan menjauhkannya dari sentuhan Taehyung. "Ini sulit untukku. Sulit sekali. Aku bertarung dengan banyak hal. Dan kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku melakukan ini semua. Kau bukan satu-satunya yang berjuang di sini. Aku menyesal tidak bisa berada di sisimu. Aku marah setiap hari mengingatnya, aku—"
"Dengar," Jungkook memotong ucapan Taehyung. Terdengar benar-benar jengah mendengar ucapan Taehyung, ia mengalihkan matanya gusar agar tidak bertemu dengan mata coklat Taehyung yang meluluhkannya dalam sekejap. "Mari hentikan."
Sekali lagi, dunianya runtuh tak bersisa.
"Tidak," balas Taehyung dengan renggutan sedih di wajahnya. Ia tidak bisa lagi mengontrol gerit sedih dan raungan tangisannya. Matanya panas. Panas sekali. Dan dadanya sakit. Sangat sakit. "Tidak mau." Taehyung menggeleng terus-menerus. "tidak mau. Aku tidak mau. Tidak mau!"
"Aku butuh waktu, Tae Hyung."
"Tidak mau!" kini ia menjerit. Terlihat sangat kanak-kanak namun ekspresi sedih dan gerit sakit hatinya menancap ke relung hati Jungkook. "Aku tidak akan melepasmu. Aku tidak—kau bilang kau akan lakukan apapun untukku! Dan begitupun aku padamu. Kau sedang mencoba membuatku membencimu, 'kan? Kau sengaja melakukan ini?"
Jungkook menghela nafas tenang. "kau boleh membenciku sekarang."
"Berengsek," Taehyung hampir saja mendorong Jungkook yang terduduk di kursi rodanya. Tetapi menyakiti Jungkook adalah hal terakhir yang akan ia lakukan jikapun ia sekarat. Ia mengusap pipinya yang basah. Matanya bengkak. Bayangan Jungkook mengabur di pelupuk matanya. "Jadi ini yang kau rencanakan? Membuatku cinta mati lalu membuangku? Kau lakukan hal yang tepat dilakukan Hoseok Hyung padaku. Kalian berdua puas? Menghancurkan hatiku membuat kalian puas?" Taehyung merapatkan gigi-giginya. Kembali mengusap air mata dengan lengan kemejanya. "Aku percaya kau Jungkook! Aku percaya kau sepenuh hatiku."
"Aku muak," ultimatum itu akhirnya terucap. Gerit sakit dan jengah serta kebencian di wajah Jungkook akhirnya keluar. Matanya yang tenang kini mengandung kemarahan yang melahap jantung Taehyung menuju kegelapan. "Aku muak terus-menerus berpura-pura aku baik-baik saja di hadapanmu. Aku muak memasang wajah tenang dan menahan seluruh kemarahanku. Aku muak, Kim Taehyung."
"Aku menawarkanmu diriku. Kau boleh marah padaku kapan saja. Aku tidak menahanmu. Aku akan terus di sisi—"
"Lalu di mana kau?" Jungkook kembali menyela. Jemari mencengkram helaian rambutnya begitu kalap. "Di mana kau dua minggu terakhir?! Aku harus makan sendiri dengan tangan sialanku yang tidak berhenti bergetar saat kau berkata dengan manisnya kau akan memegang sumpitnya untukku. Aku harus sendirian ketika Seokjin menyuntikkan obat-obat jahanamnya ke tubuhku dan kau tidak ada di sisiku! Aku menahannya seorang diri saat kau berkata dengan jelas dan kukuh bahwa aku tidak pernah sendiri! Semua orang berkata aku tidak sendirian namun itu adalah kenyataannya. Aku selalu sendirin. Lalu di mana kau?! Di mana janjimu, Taehyung-sii?"
Untuk beberapa saat Taehyung tidak mampu berkata apa-apa. Bibirnya kelu. Tubuhnya runtuh dalam tiap untaian kata yang Jungkook lemparkan padanya. Taehyung bangkit berdiri dengan lututnya yang goyah. Melangkah maju hingga menjulang tinggi di hadapan Jungkook. Hembusan nafasnya penuh amarah. Kini, api amarah tak lagi bisa ia tahan. Ia terpancing oleh ucapan Jungkook. Hatinya terbakar dan hangus tak berbekas mendengar untaian kata Jungkook yang menusuk.
"Benar! Aku tidak tahu apa-apa tentang penderitaanmu! Yang aku tahu hanya penderitaan diriku sendiri. Benar! aku melanggar janjiku sendiri! Aku tidak bisa menyeret diriku berada di sisimu dua puluh empat jam. Benar! Aku memang egois! Yang aku pikirkan hanya bagaimana caraku untuk membuatmu terus berada di pelukanku. Yang aku pikirkan hanyalah betapa aku mencintai dokter muda yang selalu membawakanku coklat hangat dan tidak marah sama sekali saat aku mengumpatinya untuk pergi! Lalu kenapa aku tidak biarkan saja kau mati? Benar! kenapa aku tidak biarkan saja kau mati! Kenapa juga aku harus mengemis pada Ayahku untuk keselamatanmu! Kenapa juga aku harus menyiapkan drama picisan di hadapan Ayahku! Mati saja sana, Jeon Jungkook!"
Taehyung membersit berisik. "Aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu semarah dan sebenci apapun kau padaku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan. Tetapi mendengar kata-katamu membuatku sadar; Perjuanganku sia-sia. Permohonanku pada Ayahku sia-sia. Namjoon Hyung benar; kau benar-benar diam seperti orang bodoh. Kau lebih memilih menyerah. Kau memilih untuk melepas semuanya dan meratapinya lalu menyimpan kebenciannya sendirian. Aku tidak memintamu untuk berpura-pura baik-baik saja di hadapanku! Aku ingin kau menangis dan ambruk di hadapanku! Aku juga ingin kau hancur, Jeon Jungkook. Aku ingin kau berteriak menyalahkanku, aku ingin kau menangis di pundakku, aku ingin kau menonjok dan memakiku! Hancurlah. Hancur. Aku bisa mengambil pecahannya satu-persatu hingga pecahannya mampu melukaiku, tetapi aku tidak akan menyerah membuatmu kembali utuh. Jangan pernah berpikir kau bisa utuh tanpaku. J-jangan pernah berpikir sedikitpun kau bisa berdiri sendiri tanpaku." Mengambil nafas panjang yang gemetar. Taehyung mengepalkan jari-jari tangannya dan mengetatkan dagunya. Keningnya berkerut penuh kepercayaan.
"Benar!" Ia menepuk dadanya yang sesak. "Mari akhiri! Hentikan ini semua! Pergi sesukamu! Benci aku! Menyerahlah pada duniamu, pada gelarmu, dan…, pada diriku."
Jungkook tidak menahannya. Saat Taehyung membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat menuju pintu, Jungkook tidak menahannya. Tidak memanggilnya. Tidak mencengkram pergelangan tangannya. Tidak melakukan apapun. Taehyung menghentikkan pikiran untuk berbalik dan meminta maaf. Memeluk Jungkook lalu menarik kata-katanya kembali. Namun ia lelah. Ia juga lelah. Ia letih dengan kondisinya dengan Jungkook. Ia juga butuh waktu.
"Kau benar-benar berengsek, Jeon Jungkook."
Kata-kata perpisahan mereka pahit. Bertahan di ujung lidah masing-masing saat mereka terlelap. Air mata mereka terasa panas. Jatuh di atas bantal diiringi pecahan hati mereka yang berserakan. Tetapi tidak satupun dari mereka berniat menarik kata-kata itu kembali.
.
.
.
Park Jimin sudah sering melihat Taehyung mabuk. Bahkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah, Taehyung mampu menenggak lima kaleng bir dalam kamarnya ditemani Jimin, atau ketika mereka di klub, atau saat mereka berhenti di supermarket setelah selesai dengan kelas di masa kuliah. Tak terhitung lagi sudah berapa kali Jimin melihat Taehyung mabuk. Namun ini pertama kalinya ia melihat Taehyung mabuk dengan air mata meleleh di pipinya. Taehyung terbiasa mabuk sambil berteriak marah, merenggut sedih begitu menggemaskan sambil mengeluarkan aegyonya yang lucu kemudian merayu Jimin agar membawanya menginap di apartemen Jimin alih-alih ke rumahnya sendiri. Jimin akan membawanya ke jalanan raya lengang yang tak lagi terpakai hingga mereka berdua bisa mabuk tanpa gangguan. Mendengar gerutuan dan jerit kemarahan Taehyung pada dunia dengan genggaman botol birnya yang melemah lalu teler di pundak Jimin.
Lelehan air mata di pipi Taehyung tidak berhenti, terus menetes membasahi permukaan meja dan punggung lengannya. Jemarinya menggenggam sumpit. Mata memerah dan penuh air mata sambil melahap galbi dengan tekun. Sesekali ia membersit. Mengusap air matanya hanya untuk kembali turun.
"Imo! Satu botol lagi!" teriaknya serak. Mengunyah potongan daging sapi yang menggembung di pipinya dengan perlahan. Menggumamkan terimakasih yang manis pada bibi penjual yang membawakannya satu botol soju. Ia menuangkan sojunya ke gelas mungil di hadapannya. Mengisinya penuh-penuh lalu menenggaknya cepat. Kembali mengunyah galbi dengan mata tekun menatap lurus ke permukaan meja.
"I-imo...hiks, satu g-gal—"
"Tidak usah Eommonim," sela Jimin cepat. Tersenyum pada bibi penjual sambil menggelengkan kepala. "Galbimu masih setumpuk." Peringat Jimin, mengetukkan jemarinya ke permukaan meja dengan mata menatap sebal.
Ada di masa Jimin tidak bisa menolak mata sedih Taehyung yang berpendar menggemaskan. Membuatnya berpikir untuk menarik Taehyung ke dalam selimut lalu menyembunyikannya di dalam kamar. Dan Taehyung tengah melakukannya, saat ini, tepat di depan Jimin. Merenggut sangat manis dengan potongan tulang iga besar dalam genggamannya. Ia membersit lalu mengusap pipinya hingga bercak kecap menggores pipinya yang basah.
"Siapa kau?" Taehyung mabuk. Benar-benar mabuk. "Sedang apa kau di sini?"
"Taehyung kau—"
"Dari mana kau tahu namaku?" Taehyung beringsut mundur dari kursi plastik yang tengah di dudukinya.
Jimin menghela nafas pasrah. Mengikuti permainan Taehyung lalu menuangkan cairan soju ke gelas mungil kemudian menenggaknya cepat. Mengerang merasakan pahit yang bertahan di ujung lidahnya.
"Ya!" Taehyung berteriak marah. "Kenapa kau minum dari botol sojuku?!" Taehyung kembali menangis perih. Meninggalkan potongan tulang besar yang tadi digenggamnya lalu menarik botol soju dari hadapan Jimin. "Pergi ambil milikmu. Ini milikku."
"Terakhir aku melihatmu semabuk ini adalah saat Seokjin Hyung membekukan kartu kreditmu. Di tahun kedua kuliah. Tetapi ini lebih parah. Kau bahkan menangis." gumam Jimin tak percaya.
Taehyung mengusap matanya, "darimana kau tahu namaku? dan—" Taehyung menyipitkan mata, "darimana kau tahu Seokjin Hyung?"
Jimin lagi-lagi hanya mampu menghela nafas. "Lupakan. Penjelasanku tidak akan berguna jika kau mabuk setengah mati seperti ini. Berhenti menangis. Aku akan antar kau ke rumahmu. Ah tidak, aku akan bawa kau ke apartemenku dan Yoongi. Sebentar, aku akan hubungi Yoongi Hyung." Jimin mengambil smartphone dari saku celananya sambil berkata jahat dan tersenyum sadis. "Kau mati di tangannya, Tae-a. Dia benci sekali mencium aroma alkohol. Jangan panggil aku jika dia—"
"Apa kau juga tahu Jeon Jungkook?" Taehyung kini tengah menumpu dagunya dengan ujung mulut botol. Mata setengah mengantuk dan pipi memerah karena mabuk. "Jeon Jungkook. Jeon Jungkook. Jeon Jungkook." lafal Taehyung sempurna. Ia cegukan. Mengernyitkan kening lalu kembali cegukan. "Kau kenal Jeon Jungkook?"
Kepatuhannya menatap layar smartphone terhenti dan mengangkat wajah. Menatap wajah kacau Taehyung yang kini membersit berisik. Menenggak cairan alkohol dari botolnya langsung lalu menggigiti bibirnya.
"Aku ingin melupakannya tetapi namanya menempel di otakku," ucap Taehyung diiringi senyuman malas. "Aku terbangun di pagi hari, dan yang pertama muncul di pikiranku hanya namanya. Aku bekerja seperti mesin, dan namanya tetap melekat di sana. Aku mencoba mabuk, tetapi kenapa namanya tidak juga menghilang?" Taehyung meletakkan botol sojunya keras-keras ke atas meja. "Siapa Jeon Jungkook itu? kenapa semua ucapannya menjadi kenyataan? Kenapa aku mulai membenci diriku sendiri? Kenapa—aku sangat ingin memeluknya?"
Taehyung kembali menangis. Lelehan air matanya panas dan perih. Bahkan mengiris hati Jimin yang melihatnya. Ini adalah saat di mana sahabatnya itu benar-benar rubuh tak berdaya. "Aku bisa gila. Aku sangat ingin memeluknya. Aku ingin menangis dipelukannya. Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya ingin memeluknya. Jimin-a. Aku tidak bermaksud mengatakannya. Aku tidak mau dia pergi, tetapi egoku menyuruhnya untuk pergi." Taehyung cegukan dan tubuhnya goyah di tempatnya. "aku ingin ingin ingin Jungkook. Jeon Jungkook. Hanya Jungkook."
Jimin memperhatikan bagaimana kepala Taehyung jatuh di atas meja dan menangis ribut diiringi cegukan dan bersitannya yang kanak-kanak. Ia memperhatikan Taehyung yang mulai tenang dan nama Jungkook terus-menerus keluar dari belahan bibir Taehyung. Jimin memperhatikan. Tubuh Taehyung yang semakin kurus. Tergerus alkohol yang terlalu sering ia konsumsi. Di awal Jungkook pergi ke Busan dengan suara pamitannya yang pahit dan meninggalkan Taehyung. Jimin tahu semua akan kacau. Dari Taehyung yang tidak berhenti bekerja. Dari Taehyung yang menekan bel apartemennya pukul dua pagi dalam keadaan mabuk dan meracau tidak jelas. Dari lamunan Taehyung yang tak wajar. Dari piring berisi masakan Yoongi yang diabaikan Taehyung begitu saja. Dari tonjokan yang Taehyung lemparkan ke pipinya ketika ia mencoba bertanya apa yang terjadi dengannya dan Jungkook. Jimin menutup mulutnya. Mencoba buta dengan perubahan Taehyung yang terlalu mencolok. Mencoba cuek ketika melihat Taehyung keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Mencoba tuli ketika mendengar suara muntahan Taehyung yang menyiksa di salah satu bilik kamar mandi. Jimin mencoba segalanya. Menjadi teman mabuk Taehyung setiap malam, walau Min Yoongi berulang kali memarahinya dan melarangnya untuk mendekati alkohol. Menjadi penyangga saat Taehyung pingsan di pundaknya akibat kelelahan. Menjadi perisai saat pemuda itu tumbang dalam keadaan mabuk luar biasa.
Jimin belajar untuk tidak bertanya. Jimin berdiri untuk mengerti. Ia ingin Taehyung yang pertama membuka lukanya. Ia ingin Taehyung yang menunjukkan goretan lukanya pada Jimin dan meminta bantuan untuk menyembuhkannya. Dan Jimin tahu. Ia tahu. Obat untuk Taehyung hanyalah satu; Jeon Jungkook.
"Ya Tuhan," desisan Yoongi meletupkan lamunannya. Ia menoleh dan melihat Yoongi berlari ke arahnya. Wajah penuh rasa khawatir dan membuat Jimin ingin terburu mendekapnya. "dia mabuk lagi?!" Yoongi menatap nanar tubuh Taehyung yang teler.
Tersenyum. Jimin menggapai jemari Yoongi lalu menariknya mendekat. "Aku yang mengajaknya."
Lirikan Yoongi tajam, namun teramat manis. "kau mau mati?"
Jimin terkekeh. "Yoongi Hyung, mau membantuku?"
"Apa?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Ayo cari Jungkook."
.
.
.
"Tidah usah dorong!" gerung marah Taehyung. Jimin menampilkan cengirannya yang ramah. lengan terkalung di leher Yoongi lalu mengibaskan tangannya ceria.
"Sana. Cepat." Suruh Jimin. "Jangan sampai bunganya layu."
"Aku tidak yakin dia suka bunga," gumam Taehyung protes.
"Lalu kau mau bawa apa? keranjang berisi buah-buahan?" ejek Jimin. "Kau akan dikira tukang kurir."
"Bawel. Mana ada tukang kurir setampan aku," desis Taehyung. Mendapat dengusan mual Jimin berserta wajah mengejaknya yang menyebalkan. Taehyung menghirup buket mawar merah digenggamannya lalu tersenyum. "tapi aku rasa Jungkook tidak suka mawar merah. Ini terlalu cewek."
"Kata siapa?" Yoongi angkat suara. "aku suka mawar merah."
"Yap. Yoongi Hyung suka sekali mawar merah." Tanggap Jimin cepat.
"Mawar merah itu romantis," Yoongi menganggukkan kepala. "aku akan meleleh jika seseorang memberikannya padaku."
"Tapi Jungkook—" Taehyung menggembungkan pipinya. "dia mungkin lebih menyukai bunga yang sedikit maskulin. Bukan mawar merah seperti ini."
Jimin tertawa mendengar bunga yang sedikit maskulin yang Taehyung ucapkan. Ia menahan derai tawanya ke pundak Yoongi yang menyikut perutnya sebal namun tidak menghilangkan kerutan tawa di wajahnya.
"Halah. Jungkook itu berjiwa romantis. Aku yakin dia akan meleleh—Jim, Diam!" Yoongi kembali menyikut perut Jimin.
"Bunga maskulin—pfft." Jimin kembali tertawa sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Yoongi.
Taehyung benar-benar ingin menghantam kepala Jimin dengan buket bunga di genggamannya jika tidak ingat tiap tangkai mawar yang dipetiknya memanjatkan permohonan agar Jungkook mau memaafkannya. Semalam ia berkali-kali menatap ke cermin. Mengulang ucapan maaf dan sikap kanak-kanaknya beberapa hari yang lalu. Ia ingin Jungkook kembali. Padanya. Menyembuhkannya. Dia tidak bisa lagi berdiri sendiri tanpa Jungkook di sisinya.
"Hiraukan si bangsat ini, Tae-a!" Yoongi memeluk kepala Jimin hingga tenggelam di dadanya. "Sana. Masuk. Semangat!"
Menampilkan senyuman kotaknya yang ceria. Taehyung berlari kecil menuju gerbang rumah Jungkook yang megah. Setelah berkali-kali diyakinkan oleh Yoongi dan Jimin, juga bujukan Seokjin yang lembut. Taehyung akhirnya berani mengambil langkah ke depan. Kali ini, dia yang akan menghampiri Jungkook terlebih dahulu. Tepat seperti Jungkook yang kukuh mengambil langkah mendekati Taehyung apapun resikonya. Langkahnya gugup ketika masuk ke dalam pekarangan rumah Jungkook yang sepi. Derap kakinya yang menaiki undakan tangga terdengar sengau dan penuh kegugupan. Taehyung menghirup sekali lagi mawar merah segar di genggamannya lalu menekan bel rumah dengan hembusan nafas panjang.
Degup jantungnya bertalu. Ia kembali menekan bel rumah dan memejamkan mata sesaat untuk menetralkan detak jantungnya.
Ia ingin Jungkook.
Ia ingin bertemu Jungkook.
Ia ingin menatap Jungkook.
Ia ingin memeluk Jungkook.
Langkah derap kaki yang mendekati pintu meleburkan degup jantungnya. Membuat genggamannya pada buket bunganya mengerat dan mendesis gugup. Sebentar lagi. Satu langkah lagi. Taehyung bisa kembali melihat Jungkook.
Taehyung membuka matanya tepat ketika pintu di hadapannya terbuka. Ia menampilkan senyuman cerah— namun seketika luntur melihat seorang wanita yang tak dikenalnya berdiri di hadapannya.
"A-annyeong Haseyo." Sapa Taehyung kebingungan. Membungkukkan tubuhnya kaku lalu melirik ukiran di pintu. Masih tertera Jeon's teramat cantik. Lalu kenapa…
"Mencari Keluarga Jeon?"
"Ne, Eommonim." Taehyung mengangguk kecil.
Wanita itu mengulum senyuman tipis. "Mereka pindah ke Amerika."
"Maaf?" tanggap Taehyung terlalu cepat. Tiba-tiba saja genggaman buket di tangannya melemah dan nafasnya melambat.
"Keluarga Jeon resmi pindah ke Amerika, tiga hari lalu." Ulangnya lebih tegas dan jelas.
.
Aku ingin kau menangis saat mengingatku.
Aku ingin kau terus mencintaiku dan tersiksa karenanya.
Kau tidak bisa memelukku.
Tidak bisa menyentuhku.
Tidak bisa melakukan apa-apa dan kau akan menderita, tepat sepertiku.
.
Dan pendertitaan Kim Taehyung baru saja dimulai.
.
.
.
TBC
.
Haaiiiii. Maafkan aku ini updatenya lama sekali TT. Karena entah kenapa tiap aku nulis Deter tuh akunya baper (?) /alay
BTW GIMANA KABAR KALIAN LIAT KAMBEK BANGTAN? Kalo aku jan tanya, tiap liat Jungkook fokus aku melukin laptop sambil nangis HUHU KENAPA DIA GANTENG BANGET HUHU /fliptable. Taehyung juga makin kayak bidadari dari khayangan, aku berasa pen kasih dia selendang bidadari /g. (gamau bahas tae pake headband karena udah gemeter duluan bayanginnya) dan semalem juga si Nochu-nim itu release cover We Don't Talk Anymore, aku dengernya sambil jenggutin mas-mas penjaga busway /rusuh/ Yaammpun ini curhatanku trash abis. WKWKWK.
Please support me, your review is give me totally a good mood! Thanks buat yang udah ngasih saran, koreksi, di chapter sebelumnya. Saranghae! /wink/
Rnr Juseyoooo~
