Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

Peringatan..!

Fic ini mengandung unsur dewasa meskipun 'mungkin' adegan kekerasan 'mungkin' kehidupan yang tidak patut tiru 'hanya yang unsur negatif saja tidak boleh' bijaklah menjadi seorang reader, author sudah peringatkan sejak awal, jika ada hal yang mengganjal dari fic ini, maka baca kembali peringatannya. XD

.

.

Don't Like Don't Read !

.

.

~ Mafia ~

[chapter 13]

.

.

.

Sakura pov.

1 tahun kemudian.

Akhirnya ayahku bangun dari komanya, dia segera di bawa ke rumah tahanan, posisinya sebagai ketua mafia di ambil alih olehku, terlalu banyak hal yang harus aku ubah, itu sungguh di luar kemampuanku, beberapa perusahaan, aku meminta pada Zabusa dan Kimimaro untuk mengurusnya, Haku, dia tidak ingin bekerja, dia jauh lebih memilih bersama ibuku di kediaman dan menjaganya, untuk Kimimaro, aku hanya perlu membayar denda untuk membebaskannya, sebenarnya dia pantas mendapat hukuman, tapi dia hanya suruhan oleh ayahku, aku jauh lebih membutuhkannya sebagai orang kepercayaan dari pada harus mengambil orang lain. Tenten? Aku senang dia sudah mampu menjadi kepala direktur yang bijak di sana dan bisa mengatasi masalah apapun, aku tidak keberatan dia mengurusnya, lagi pula anggap saja aku memberi pekerjaan untuk Tenten.

Ketua mafia, haa..~ memikirkannya saja membuatku tidak ingin mendapat gelar konyol itu, aku sungguh tidak ingin menjadi ketua kelompotan mafia, tapi aku akan mengambil sisi positif dari ini, aku benar-benar mengubah pandangan tentang geng mafia, cukup sulit, banyak dari mereka yang takut, aku yakin, perlahan-lahan semuanya akan baik-baik saja, para anak buah ku perintahkan untuk menolong orang, jangan ada lagi adu tembak dan saling membunuh, aku sangat melarang akan hal itu, menyerahkan seluruh senjata ilegal pada kepolisian, aku dan Yamato menjadi rekan yang baik untuk sekedar membagi informasi, dia memintaku untuk mengandalkannya meskipun dia bukan lagi kaki tanganku.

1 tahun berlalu, aku pikir akan dengan mudah melupakan semua yang sudah terjadi, tapi satu hal yang masih membuatku tidak bisa lupa, Sasuke, entah dimana dia berada, sedikit melakukan hal konyol, tapi ini tidak konyol, aku sengaja mendaftar di kampus Kumogakure dan mengambil jurusan kedokteran, hal aneh terjadi, aku bahkan tidak menemukannya di sana, aku masih mengingat jelas ucapannya saat malam hari dimana kita bersama, dia akan ke Kumo untuk melanjutkan pendidikan dan mengambil jurusan kedokteran, aku sudah melihat semua nama mahasiswa yang ada di fakultas ini dan nama Uchiha Sasuke sama sekali tidak ada, aku mendaftar sedikit lama, mencoba untuk menyelesaikan posisiku di Konoha sebelum pergi, seharusnya Sasuke sudah menjadi seniorku di tahun ini.

Menghela napas, sedikit kecewa, aku rasa ini jalan yang sudah benar, bukankah bibi Mikoto mengatakan jika Sasuke sedang menjalani apa yang menjadi impiannya? Dia ingin menjadi seorang dokter, itulah yang ku pikirkan.

Tahun berikutnya.

Tahun berikutnya.

Tahun berikutnya.

Setiap liburan semester, aku akan ke Kirigakure, melihat kondisi Tenten dan perusahaan di sana, semua baik-baik saja, orang tua Tenten tidak hentinya berterima kasih padaku, kehidupan mereka sekarang jauh lebih layak. Di Kumogakure hanya ada Kimimaro, aku masih bertemu dengannya, kembali ke Konoha untuk liburan, aku pikir Sasuke akan mendaftar di kampus Konoha, namun sekali lagi aku tidak menemukannya di sana.

Hari ini, rencana ingin menjenguk ayahku, namun dia di jaga sangat ketat, aku sama sekali tidak bisa menjenguknya, mencari kegiatan lain, membuat janji dengan Ino dan Lee, mereka membuatku sangat rindu akan masa-mas SMA dulu.

"Wah sudah lama sekali kita tidak bertemu." Ucap Ino, lihatlah, dia sudah seperti seorang wanita karier, cantik dan begitu tegas sebagai wakil direktur di perusahaan Yamanaka.

"Aku pikir kau tidak akan kembali ke Konoha." Lee jadi terlihat seperti seorang kutu buku, aku pikir dia tengah belajar keras.

"Lee, jika kau menyelesaikan kuliahmu, aku bisa memberikanmu lapangan kerja." Ucapku, menurutku sebaiknya merekrut orang terpercaya.

"Terima kasih, Sakura, mungkin perusahaanmu akan jadi daftar salah satu tempatku melamar kerja, tapi ingat, jangan pikir aku adalah temanmu dan membuatnya mudah, aku tidak masalah dengan kau menyamakanku dengan para pelamar lainnya." Ucap Lee, dia sungguh bijak.

"Dasar, seharusnya kau mengambil kesempatan itu." Ucap Ino.

"Hehehe, aku ingin keadilan, bisa saja aku kerja dan malah terbayang-bayang akan orang lain yang tidak lolos karena pengaruh orang dalam." Jelas Lee, aku semakin ingin menjadikannya pegawai perusahaan Haruno.

"Baiklah, aku tidak akan memberi perlakuan khusus padamu." Ucapku. "Oh iya, dimana Sai?" Tanyaku.

"Dia tengah menjalankan misi terakhir, setelahnya dia memilih di pindah tugaskan sebagai anggota biasa." Ucap Ino.

"Aku rasa dia ingin menjadi suami yang baik untuk selalu menjaga istrinya." Ucapku. Mereka sudah menikah beberapa tahun lalu setelah lamaran itu, Ino tidak keberatan menikah di usia muda, lagi pula Sai sudah mapan, mereka bahkan tinggal di kediaman mereka sendiri.

"Lalu, apa kau akan terus menjadi gadis seperti ini? Bagaimana kabar pacarmu itu." Singgung Ino.

"Kalian masih berpacaran?" Ucap Lee.

"Aku tidak tahu dia berada dimana, tapi status kami, entahlah, dia meninggalkanku begitu saja." Ucapku, aku agak sedih jika mengingat pembicaraan terakhir kami.

"Yaa, siapa tahu saja kau tertarik padaku." Ucap Lee.

"Hentikan itu Lee, aku rasa Sakura masih berharap." Ucap Ino.

"Ino, aku tidak memikirkan hal itu, tapi Lee maaf, aku hanya bisa menganggapmu teman." Ucapku.

"Hahahaha, kau memang tidak berubah." Ucap Lee, dia tertawa, aku rasa dia sedang bercanda dan sedikit menghiburku.

Menghabiskan waktu dengan berbicara santai, aku sangat merindukan mereka, pembicaraan berakhir saat Lee pamit untuk pulang, dia harus mengerjakan tugasnya, Ino pun harus kembali ke kantornya. Berjalan menyusuri trotoar, sedikit merindukan bibi Mikoto, menghubungi salah satu supir pribadiku untuk mengantarku ke kediaman Uchiha.

Tiba di sana, sudah sangat lama aku tidak pernah ke sini, bertemu penjaga di depan pintu gerbang, mereka mengajakku masuk, pintu di buka oleh seorang pelayan, suara seseorang dari arah ruang tamu memintaku masuk, itu suara bibi Mikoto, berjalan masuk, segera saja wanita paruh baya itu berjalan cepat dan memelukku erat, aku rasa dia pun merindukanku.

"Lama tak jumpa Sakura, kau tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa." Pujinya, melepaskan pelukan kami dan menatapnya, bibi Mikoto sudah semakin tua, tidak jauh beda dengan ibuku.

"Aku sedikit merindukan bibi Mikoto, saat ini sedang liburan semester, apa aku tidak mengganggu bibi Mikoto?" Ucapku.

"Tidak sama sekali, aku sangat senang kau datang ke sini." Ucapnya.

Mengajakku masuk ke ruang keluarga, seorang pelayan datang dan di minta untuk membawakan teh dan cemilan, rumah ini selalu tampak sepi, menatap sekeliling ruangan, tidak ada yang berbeda kecuali gorden yang kadang di ganti.

"Rumah ini akan selalu sepi di siang hari." Ucap bibi MiKoto.

"Semua para lelaki sibuk bekerja." Ucapku dan tersenyum.

"Begitulah."

"Tapi, bibi Mikoto tidak bekerja?" Ucapku.

"Hari ini aku tidak ada jadwal di rumah sakit, maka dari itu sekarang aku cukup kesepian." Ucapnya.

"Mungkin aku bisa menemani bibi." Ucapku.

"Ibumu? Bagaimana?" Tanyanya.

"Kami sudah bertemu, sebenarnya aku sudah tiba di Konoha sejak dua hari yang lalu, ibu pun tidak akan keberatan jika sebentar saja bersama bibi." Ucapku.

"Terima kasih, jauh lebih menyenangkan jika kau ada, Sakura." Ucapnya, membelai pelan kepalaku, bibi Mikoto, ibu yang sangat penyayang. Seorang pelayan datang membawakan dua cangkir teh hangat dan dua piring potongan cake coklat.

"Uhm, ada yang ingin aku tanyakan." Ucapku, aku masih mencari Sasuke.

"Tanyakan saja." Ucapnya, senyum ramah selalu menghiasi wajah wanita ini.

"Sasuke, apa dia berada di rumah?" Ucapku.

"Sayang sekali dia tidak ada, bibi tidak tahu apa yang sedang di lakukan anak itu, dia hanya menghubungiku beberapa kali, dia bahkan tidak mengatakan keberadaannya, setiap bertanya pada Itachi, bibi pikir dia akan jauh lebih memahami adiknya, Itachi hanya memintaku untuk bersabar, katanya Sasuke akan pulang, dia seperti sedang mengerjakan sesuatu." Jelas bibi Mikoto.

Di Konoha pun dia tidak ada, kemana perginya? Dia sungguh kejam, ibunya pun tidak di beri tahu, jadi selama ini dia tidak mendaftar di Kumo, merasa sangat bodoh, ingin mengejar Sasuke di Kumo dan dia pun tidak ada.

"Sakura."

"Eh? I-iya." Aku jadi melamun.

"Aku tahu, kau pun sangat ingin bertemu dengan Sasuke, bibi hanya bisa minta maaf, kau pun harus menunggunya, entah itu akan berapa lama, bibi sangat menyukaimu, tapi bibi tidak pernah menuntut apa-apa darimu, anggap saja pembicaraan ibumu dan bibi saat itu hanya bercanda saja, menunggu tanpa kepastian akan membuat seseorang lelah." Ucap bibi Mikoto, itu seperti ungkapan dimana aku bebas memilih, menunggu atau melepaskan Sasuke, bibi Mikoto memberiku lampu hijau untuk menyerah jika tidak sanggup menunggu sebuah kepastian dari Sasuke, ini membuatku semakin sedih.

"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu selama apapun." Ucapku, berusaha untuk tetap tegar.

"Kau gadis yang baik, jika bertemu Sasuke, bibi akan langsung menghukumnya, seenaknya saja meninggalkan gadis baik sepertimu." Ucap bibi Mikoto dan membuatku terkekeh.

Aku sudah menghubungi ibuku, mungkin agak pulang terlambat, malam pun tiba, aku bertemu kak Izuna dan kak Itachi, mereka tidak berubah, tetap menjadi dua kakak yang baik dan penyayang, sesekali mereka akan menghiburku dan lagi kebiasaan menceritakan aib Sasuke saat masih kecil tidak mereka hentikan, tak lama kemudian paman Fugaku juga pulang, sedikit takut untuk bertemu dengannya, kembali mengingat setelah apa yang sudah terjadi, aku rasa kata 'maaf' tidak bisa menghilangkan semua rasa bersalah keluarga Haruno pada keluarga Uchiha.

"Sering-seringlah berkunjung jika ada waktu luang, sepanjang hari Mikoto akan terus menceritakanmu dan merasa sangat rindu padamu." Ucap paman Fugaku, aku cukup terkejut dia berbicara seperti padaku.

"Uhm, akan aku usahakan, terima kasih." Ucapku dan tersenyum.

"Sakura bisa kami yang akan mengantarmu pulang." Ucap Kak Izuna dan kakak Itachi, aku hanya bisa menerima tawaran mereka, lagi pula sudah sangat malam dan aku tidak ingin kembali memanggil supir pribadiku, aku menyuruhnya pulang tadi.

Liburan semester kali ini cukup menyenangkan, meskipun aku tidak juga bertemu dengan Sasuke, rasa penasaran tentang dirinya, dia sedang ada dimana dan sedang melakukan apa? Sangat aneh jika bahkan informan terbaikku tidak menemukan Sasuke, dia seperti menghilang di telan bumi, Sasuke baik-baik saja kan? Dia tidak sedang dalam masalah'kan? aku harap suatu hari nanti, aku bisa bertemu dengannya.

.

.

.

.

.

.

Menyelesaikan kegiatan kampus, pulang ke apartemen, bertemu Kimimaro dan membahas beberapa bisnis dengan orang-orang yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Haruno di Kiri, para orang tua itu, mereka yang dulunya berada di bawah kepimpinan ayahku, sama sekali tidak berkutit, mereka pada akhir pasrah dan membiarkanku memegang kendali, itu jauh lebih baik, rutinitas yang berjalan bagaikan roda berputar pada porosnya, sejujurnya aku ingin berhenti dan kembali ke Konoha, tapi sebaiknya aku menyelesaikan masa kuliah ini, aku ingin bersama ibu saja.

Kegiatan hari ini berakhir, melepaskan kontak softlensku, menaruh pada tempatnya dan memakai kacamata, aku rasa mataku tidak akan kembali normal lagi, apartemen yang sederhana tapi tidak jauh dari interior yang mewah, ibuku akan marah jika aku tinggal di apartemen yang biasa-biasa tanpa fasilitas lebih, apartemen di lantai 7, ini terlalu di atas, tapi mau bagaimana lagi, di lantai bawa sudah di penuh dengan penghuni, menatap keluar jendela, malam hari yang ramai hanya cahaya lampu di luar.

Tingg..tongg...

Seseorang memencet bel di depan pintu, berjalan perlahan, ini sudah malam dan siapa yang berkunjung? Melihat dari layar cctv yang di pasang pada depan pintu, dia masih selalu mengkhawatirkanku, membuka kunci pintu dan mempersilahkannya masuk, memintanya untuk duduk bersantai, aku akan menyiapkan secangkir kopi untuknya.

"Apa kau sedang tidak sibuk?" Ucapku.

"Kita bahkan tidak bertemu saat kau sedang liburan di Konoha." Ucap Zabusa. Dia terlalu sibuk, hanya Haku yang menjemputku, Zabusa pergi rapat penting di beberapa perusahaan, dia tidak pulang ke kediaman selama aku liburan.

"Tidak masalah bukan? Kau selalu saja tiba-tiba datang ke sini." Ucapku, sepertinya hampir setiap semester dia akan ke sini, serasa dia pun anak kuliah yang tengah liburan semester, dia terlalu berlebihan untuk sekedar mengawasiku.

"Hanya ingin memastikan keadaanmu." Ucapnya, dia selalu terlihat menjadi seorang kakak yang peduli akan nasib adiknya di luar kota.

"Tenanglah, kau pikir aku akan kesulitan, lagi pula di sini ada Kimimaro." Ucapku.

"Mantan pembunuh bisa apa? Dia selalu di beri pengaruh buruk oleh tuan besar, uhm... bagaimana keadaan pria itu ?" Ucap Zabusa.

"Siapa yang kau bicarakan? Memangnya kau tidak pernah membunuh?" Ucap Kimimaro, aku rasa dia terbangun oleh kedatangan Zabusa, kami tinggal satu apartemen, Kimimaro menjadi wali sekaligus penjaga untukku selama di Kirigakure, aku pikir setelah masalah yang terlewatkan, semua akan baik-baik saja, tapi Kimimaro memintaku untuk tetap waspada, mengingat posisiku cukup penting pada perusahaan Haruno dan sebagai ketua mafia.

"Aku pikir kau memilih tinggal berpindah-pindah tempat." Ucap Zabusa.

"Ini perintah nyonya besar, aku harus menjaga nona, lagi pula, aku tidak perlu bersembunyi lagi dan berpindah-pindah tempat." Ucap Kimimaro, dia berjalan dan duduk di sofa.

Setelah membuatkan kopi, menaruhnya di meja dan ikut duduk bersama mereka, terasa seperti bersama kak Izuna dan kak Itachi, mereka cukup baik berperan sebagai kakak untukku.

"Bagaimana kabar pacarmu di Konoha?" Ucap Kimimaro.

Wah, aku pikir Kimimaro tidak tahu akan hubungan Zabusa dan Haku.

"Diamlah, kau tidak perlu mengetahuinya." Ucap Zabusa, meminum sedikit kopi hangatnya.

"Apa? Kau jadi begitu sensitif jika aku menanyakan Haku, apa bagusnya bersama seorang pria? Aneh." Ucap Kimimaro.

"Kau bisa ku bunuh sekarang juga." Ucap Zabusa, aku rasa dia mulai kesal mendengar ucapan Kimimaro.

"Sudahlah, kalian ini seperti anak kecil saja." Ucapku dan terkekeh, mereka jauh lebih tua dariku, tapi masih tetap saja bercanda, mereka pun kalau bercanda kadang sampai main adu otot, aku harus menghentikannya, mereka pria yang cukup kuat, selama ini menjadi kaki tangan ayahku dan mereka tidak pernah berpikiran untuk pergi, ayahku sudah di tahan, mereka bisa menjalani kehidupan yang bisa mereka tentukan sendiri.

"Kalian, uhm... kenapa tidak menentukan jalan kehidupan kalian sendiri?" Ucapku. Suasana ruangan ini menjadi hening, mereka terdiam dan saling berpandangan.

"Ini adalah kehidupan kami, tidak ada yang perlu di tentukan lagi, sejak awal kami sudah menyerah akan kehidupan kami sendiri." Ucap Kimimaro.

"Lagi pula, kami tidak memiliki tujuan hidup lagi, ini sudah jauh lebih baik, kurang beruntung apa lagi jika hidupmu di buat layak." Ucap Zabusa.

"Nona tidak perlu khawatir, kami tidak ada rencana untuk meninggalkan keluarga Haruno, kami pikir nona sudah menganggap kami sebagai keluarga." Ucap Kimimaro.

"Bukannya keluarga harus saling mendukung satu sama lain dan tidak perlu meninggalkan mereka." Ucap Zabusa.

"Atau, nona berpikir lain tentang kami." Ucap Kimimaro.

Sebuah senyum menghiasi wajahku, aku tidak menyangka mereka akan sekompak ini menjawab pertanyaan dariku. Segera menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak pernah berpikir yang lain terhadap kalian, kalian sudah seperti kakak bagiku sejak ayah membawa kalian ke rumah, mengurus dan memberikan kasih sayang selama ayah dan ibu selalu berada di luar kediaman, aku hanya senang jika kalian terlihat akur seperti ini." Ucapku.

"Aku tidak merasa seperti itu." Ucap Kimimaro, membuang muka.

"Cih, untuk apa akur dengan pria topeng tanpa ekspresi ini, aku benci dengan wajah seperti itu." Ucap Zabusa. Ucapannya membuatku ingat kembali akan Sasuke, Zabusa masih tidak menyukai Sasuke.

Aku harus pamit duluan untuk beristirahat, besok aku harus kuliah pagi, meminta Zabusa untuk menginap saja dari pada dia harus tinggal di hotel, Mereka mungkin akan lama untuk tidur, mendengar sejenak, mereka mulai berbicara serius untuk menjalankan perusahaan milik ayah, di saat terpuruk pun mereka tidak meninggalkanku.

.

.

.

.

.

.

Tahun-tahun berikutnya berlalu, menyelesaikan kuliah dengan cepat, mendapat gelar sebagai mahasiswa kedokteran terbaik, berterima kasih pada Kimimaro yang sudah menjagaku di Kirigakure, aku tidak bisa tinggal di sana lagi, memilih kembali ke Konoha dan mencoba magang di rumah sakit besar Konoha, sedikit lucu, merasa aku yang tengah menjalani impian Sasuke, sampai kapan aku harus menunggunya? Dia bahkan tidak menghubungiku.

"Dokter Sakura, ada pasien yang harus anda tangani." Ucap seorang perawat.

"Baik, aku akan segera ke sana." Ucapku.

Berjalan lebih cepat ke ruangan IGD, kadang aku akan bertemu dengan bibi Mikoto, dia seperti guru bagiku, beberapa hal sering dia ajarkan padaku selama magang di rumah sakit ini, masuk ke dalam ruang IGD dan melihat pasien yang tengah mengalami kecelakaan, meminta beberapa perawat untuk mengambil peralatan, lukanya harus segera di tutup, cukup lebar pada bagian betisnya, pria ini ku bius sebelum melakukan penanganan yang tepat, lukanya harus di jahit. Beberapa jam berlalu, penutupan luka berhasil, sisanya luka lecet yang bisa di beri obat dan di tutup dengan perban.

Tugas berakhir, pulang ke rumah dan segera istirahat, berbaring di kamar yang gelap, lampu ku biarkan tidak menyala, aku ingin istirahat sejenak, sedikit lelah menjadi seorang dokter, tidak mudah juga jika kau harus menangani banyak pasien setiap harinya, melihat luka, darah, dan penyakit-penyakit yang sedang melanda setiap pasien yang datang, menghela napas berat, hidup seperti ini terasa begitu hampa, merasa aku belum mencapai apapun, sejujurnya aku tidak tahu untuk menyusun masa depanku sendiri, menutup mata rapat-rapat, kembali mengingat wajahnya.

Kau berada dimana, Sasuke?

.

.

.

.

.

.

Normal Pov.

Pulau Nagi.

Pulau yang cukup jauh dari kota Konoha, di sana hanya ada hutan belantara dan bangunan-bangunan tempat latihan untuk setiap kesatuan polisi dari segala penjuru, mereka semuanya akan di seleksi di masing-masing kota besar, di bawa ke pulau nagi dan mulai latihan setiap harinya selama beberapa tahun, cukup lama, selain latihan, mereka akan di kirim sebagai pasukan pertahanan, setelahnya mereka kembali ke pulau nagi lagi, tahun ini adalah masa terakhir mereka mendapat latihan, besok adalah hari penobatan untuk lulusan polisi baru, mereka di tempatkan kembali ke masing-masing kota di mana mereka di seleksi.

"Aku tidak menyangka jika kau akan memilih hal ini." Ucap Sai.

"Berisik, aku tidak ingin berbicara padamu." Ucap Sasuke, cuek.

"Apa-apaan kau? Selama di sini aku adalah seniormu, kau harus patuh dan jangan bersikap sombong seperti itu, dasar." Ucap Sai.

Sebagai tugas akhir, Sai akan menjadi salah satu pelatih di pulau nagi, dia termasuk angkatan yang cukup berbakat, para pimpinan setuju menjadikan Sai sebagai pelatih, dia pun cukup keras dan tegas terhadap junior, hanya sedikit mengejutkan, dia bertemu Sasuke saat seleksi selesai, Sasuke termasuk ke dalam orang-orang terpilih.

"Kau tidak pernah berubah." Tambah Sai.

"Apa kau tidak bosan menjadi anak sekolahan lagi?" Singgung Sasuke.

"Sangat bosaaaan..., aku sampai harus meminta pindah tugas dan ketua Yamato malah memarahiku, seperti sedang menjaga bayi besar." Ucap Sai, sebuah senyuman menghiasi wajahnya.

Tatapan tajam di layang ke arah Sai, Sasuke tahu jika dialah yang sedang di singgung, dia pun tidak tahu jika Sai ternyata adalah seorang anggota polisi di satuan khusus anbu, menyamar sebagai anak sekolahan biasa, bertugas mengawasi dan menjaganya.

"Besok hari terakhir?" Ucap Sasuke.

"Uhm, besok kalian akan di lantik menjadi anggota baru dan di pulangkan, kenapa? Apa kau sudah tidak sabar untuk kembali ke Konoha? atau kau sangat ingin bertemu seseorang di sana?" Ucap Sai.

Sasuke memilih diam, ini sudah sangat lama sekali dia tidak bertemu dengan Sakura, entah apa yang sudah terjadi pada gadis berambut softpink itu, memikirkannya kembali Sasuke ingat jika terakhir mereka berpisah dalam keadaan yang cukup buruk, Sasuke menyalahkan Sakura, tapi setelah melihat sudut pandang lainnya dan Yamato sempat datang menjenguknya bersama ayahnya, Sasuke sudah di beri penjelasan tentang posisi Sakura, gadis itu sama sekali tidak mengetahui apapun, menutup segala hal hanya untuk membuat Sasuke tidak menjauhinya, dia hanya takut akan perasaan kehilangan.

Sai menatap juniornya itu, dia tidak menanggapi ucapannya, kembali tersenyum, dia bisa sedikit membaca pikiran Sasuke, mungkin saja Sasuke pun ingin segera pulang dan menemui gadis itu.

"Haa..~ rasanya aku ingin segera pindah tugas dan tinggal lebih lama bersama istri tersayang." Ucap Sai.

"Tidak perlu kau pamer padaku." Ucap Sasuke dan bergegas pergi. Ucapan Sai cukup menyebalkan, pria itu selalu saja mengganggu Sasuke dengan kehidupannya sekarang, saat setelah menikah dengan Ino, dia sengaja memamerkan cincin pernikahannya, memamerkan foto istrinya yang cantik pada semua pelatih lainnya, itu membuat Sasuke muak, orang itu terlalu berlebihan.

"Ino menghubungiku beberapa waktu lalu, aku lupa mengatakannya padamu, aku hanya tidak ingin konsentrasimu terganggu, Sakura sepertinya mencarimu, dia bahkan ke Kumo untuk mengejarmu di sana, tapi dia salah paham, dia pikir kau ke Kumo, kata Ino, wajahnya terlihat sedih, setelah ini kau harus segera menemuinya, aku pun sudah menganggapnya sebagai seorang teman, kalian harus menyelesaikan masalah kalian." Ucap Sai, langkah Sasuke sempat terakhir, setelah ucapan Sai berakhir, dia kembali berjalan meninggalkan pria berwajah putih pucat itu.

"Aku tidak butuh saran darimu." Ucap Sasuke dan berlalu begitu saja.

"Ah, dasar." Ucap Sai. Menghadapi Sasuke butuh kesabaran lebih.

.

.

Esok harinya, hari pelantikan, di lapangan yang cukup luas, anggota baru, ketua kepala kepolisian dari masing-masing kota besar, dan para pelatih, semuanya ada di sana untuk melepaskan anggota yang sudah resmi. Fugaku, Itachi, Yamato, Kakashi dan Sai juga berada di sana. Setelah Fugaku kembali, pria itu tidak ingin mengambil kedudukannya, Fugaku tetap membiarkan jabatan itu di pegang oleh Hashirama Senju, posisi sebagai wakil sudah cukup bagi Fugaku.

Seluruhnya akan mengucapkan sumpah, Sasuke di notabatkan sebagai anggota berbakat untuk tahun ini, Sai merasa tersaingi oleh juniornya sendiri. Itachi cukup bangga akan pilihan adiknya. Dia csempat terkejut saat Sasuke mengatakan ingin menjadi anggota polisi, sejujurnya pria ini sedikit kasihan pada Sakura, Sasuke meninggalkannya begitu saja, dia bahkan melarangnya untuk mengatakan hal ini pada Sakura, seperti yang sudah dia katakan pada Sakura, Sasuke butuh waktu, tanpa terasa waktu itu berlalu begitu saja dan ini bukan terhitung beberapa hari saja, tapi bertahun-tahun lamanya, waktu Itachi bertemu Sakura, dia merasa cukup senang dengan gadis itu yang masih menunggu, saat Sakura datang berkunjung, Itachi ingin langsung mengatakannya, Izuna menahan Itachi untuk tidak membicarakannya, itu adalah permintaan Sasuke, Izuna merasa mereka perlu menyelesaikan sendiri masalah mereka tanpa ikut campur orang lain.

"Ada apa Itachi?" Tegur Fugaku saat melihat anak tertuanya itu, dia terlihat melamun, hubungan mereka cukup baik, Fugaku tidak ingin kembali memaksakaan kehendaknya pada Itachi, dia memilih jalannya sendiri, Fugaku pun tersanjung akan sikap anaknya, dia jauh lebih bersikap dewasa.

"Hn, tidak, hanya merasa Sasuke jauh lebih di depanku saja." Ucap Itachi.

"Kalianlah yang terbaik." Ucap Fugaku.

"Dengan ini para anggota kepolisian baru di nyatakan resmi setelah melewati masa pelatihan..."

Beberapa jam berlalu dan kegiatan itu berakhir, Fugaku dan Itachi akan menunggu Sasuke yang sedang membereskan barang pribadinya. Menatap seluruh ruangan kamarnya yang di tempati 4 orang dalam satu kamar.

"Nah, Sasuke semoga kau tetap sukses seperti saat di sini." Ucap Salah satu pemuda yang satu penghuni kamar dengan Sasuke, dia sendiri berasal dari Suna.

"Aku tidak menyangka akhirnya kita akan berpisah." Ucap yang lainnya, pemuda ini berasal dari Iwagakure.

"Yaaah, tidak ada lagi kegilaan yang kita lewati setelah latihan berat dan jangan lupa kita berempat hampir mati kena bom. Hahaha." Ucap pemuda yang lainnya lagi, dia berasal dari Kumo.

"Hn, aku tidak pernah melupakan kalian." Ucap Sasuke, dia mendapat banyak pelajaran di tempat pelatihan ini, teman-teman yang tidak pernah gentar dan pengalaman yang tidak bisa terlupakan.

Seluruhnya mulai berpamitan, masing-masing dari kepala kepolisian di kota besar sudah menyiapkan pesawat untuk para anggota baru yang akan pulang, satu persatu pesawat sudah lepas landas, berikutnya pesawat dengan arah tujuan Konoha.

"Kau akhirnya pulang." Ucap Itachi, memilih satu pesawat dengan Sasuke, masih ada beberapa kursi yang kosong.

"Aku lelah, jangan menggangguku." Ucap Sasuke, memilih untuk tidur, perjalanan cukup jauh dari pulau ini.

"Kau ini, sama sekali tidak berubah yaa." Ucap Itachi.

"Perubahan apa yang kau harapkan dari latihan keras di pulau itu?" Ucap Sasuke.

"Setidaknya kau bisa lebih menjadi adik yang sedikit bersikap manis." Ucap Itachi.

"Aku pikir kau sudah memiliki adik seperti itu." Ucap Sasuke.

"Hn?" Itachi terdiam, sebuah senyum di wajahnya. "Ah, dia memang manis yaa, tapi sekarang dia sudah jadi lebih dewasa." Ucap Itachi, memahami ucapan adiknya ini. "Dia mencarimu." Tambah Itachi.

Tidak ada jawaban dari Sasuke, dia tertidur, rasa lelahnya sudah terbayar dengan kepulangannya ke Konaha. Menatap sejenak adik bungsunya itu, menggelengkan kepala pelan dan ikut beristirahat.

.

.

.

.

.

"Hei jangan lari!"

Beberapa orang tengah terlihat saling kejar-kejaran di sebuah gang sempit, pelaku penembakkan yang kabur saat menyergapan di tempat persembunyiannya. Pria yang berumur sekitar 30an tahun itu berlari terus menerus tidak peduli dengan teriakan polisi berpakaian biasa yang terus mengejarnya, dia bahkan sengaja menjatuhkan barang-barang yang di lewatinya untuk memperlambat kejaran pada polisi itu.

Tiba di jalan yang luas, dia masih terus berlari, melewati jalur yang cukup ramai, beberapa pejalan kaki menjauh saat melihat seseorang yang tengah berlari ke arah mereka, teriakan kecil dan para wanita saat di tabrak pria itu, hingga dia berhenti dan bingung harus kemana, berlari ke sana-kemari, para polisi sudah mengepungnya, wajahnya terlihat panik, napasnya memburu, dia cukup lelah untuk berlari lagi, melihat seorang gadis tidak jauh darinya, dia terlihat melamun sambil berjalan, pria itu menjadikan gadis itu targetnya agar bisa kabur, dia butuh sandra.

Tanpa aba-aba lagi, berlari ke arah gadis yang di lihatnya, gadis itu terkejut, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan menahannya di depan tubuh pria ini, menodongkan sebilah pisau pada lehernya.

"Mundur! Jika kalian membiarkanku bebas, aku akan melepaskan gadis ini." Ancam pria itu.

Gadis ini sempat terkejut, dia terlihat malas dengan keadaan ini, dia pun cukup sibuk, jika tertahan cukup lama, dia akan terlambat mengontrol pasiennya, dengan sigap menendang keras tulang kering pria ini, satu tangannya yang bebas segera menahan tangan yang memegang pisau, pria itu merintih kesakitan lengannya seperti di putar paksa, pisaunya terjatuh, gadis ini sedikit merundukkan tubuhnya tepat membelakangi pria itu, menyikut keras pada bagian ulu hatinya, menarik tangan pria itu ke depan, dengan posisi seperti sebuah tumpuan, gadis ini memanfaatkan kesempatan itu membanting pria ini ke depan.

Brughht.!

Seketika pria itu tumbang dan hanya ada suara rintihan di sana, dia sudah kesakitan pada kaki, lengannya dan bagian ulu hatinya yang seakan di tusuk. Beberapa orang sampai tak bisa berkedip untuk sekedar melihat aksi gadis itu, para polisi segera membekuk pria yang sudah terbaring di aspal itu, memborgol tangannya, mereka ingin berterima kasih, tapi gadis itu sudah kabur lebih dulu, dia menatap jam tangannya dan akan terlambat ke rumah sakit, dia sedang keluar sebentar sebelum kembali bekerja.

"Aku pikir ini akan mudah, kenapa harus sampai memanggil banyak bala bantuan?" Ucap Sai.

"Pria ini kabur dan sangat susah untuk di tangkap." Ucap anggota lainnya.

"Bawa dia." Ucap Sai, memerintahkan beberapa orang yang memiliki pangkat di bawahnya.

"Apa masih ada adegan lari-lari lagi?" Ucap Sasuke, dia jauh lebih terlambat datang ke TKP.

"Seharusnya kau jauh lebih cepat Sasuke, mereka sampai kewalahan hanya gara-gara satu tikus." Ucap Sai.

"Kau sungguh ketua yang berisik." Ucap Sasuke.

"Aku bisa memberimu hukuman kapan saja." Ucap Sai.

"Tapi, mereka tidak perlu membuat kita turun tangan bukan?" Ucap Sasuke.

"Seorang gadis yang sudah melumpuhkan tersangkah itu." Ucap anggota lainnya.

"Seorang gadis? Wah, dia gadis yang cukup kuat juga, bisa sampai membuat pria itu tidak bisa berjalan. hahahah, gadis itu jauh lebih baik dari pada kita." Ucap Sai.

"Ciri-ciri gadis itu bagaimana?" Ucap Sasuke, merasa sedikit dejavu dengan kejadian hari ini.

"Rambut softpink sepinggangnya, dia cukup cantik dengan postur tubuhnya ideal, dia terburu-buru dan pergi sebelum kami berterima kasih." Ucap anggota itu.

"Ya sudah, kalian kembalilah." Ucap Sai.

Sasuke pergi begitu saja setelah mendengar ucapan anggota polisi itu, mencoba mencari dimana gadis itu pergi, dia tidak menemukannya dimana pun, cukup ramai dan banyak orang yang sedang berjalan kaki.

"Jangan tiba-tiba pergi begitu saja, kau ini sedang tugas." Tegur Sai, dia ikut mengejar Sasuke saat melihat pemuda ini berlari.

"Hanya memastikan sesuatu." Ucap Sasuke.

"Apa kau pikir gadis itu adalah Sakura? jaman sekarang banyak gadis yang mewarnai rambutnya, bisa saja dia gadis preman." Ucap Sai.

"Tidak, hanya Sakura yang akan segera melumpuhkan seseorang dengan membantingnya, dia pandai untuk menggunakan teknik judo, apalagi dia sering memukul bagian paling sensitif, kau bisa lihat pria tadi sampai kesulitan bernapas." Ucap Sasuke.

"Kau sungguh memahami gadismu itu yaa. Kenapa kau tidak bertemu langsung di rumahnya saja, ini sudah beberapa bulan semenjak kau kembali ke Konoha?" Ucap Sai.

"Sebaiknya kita kembali ke kantor." Ucap Sasuke.

"Hey, kau mengabaikan ucapanku." Protes Sai.

Berjalan kembali ke kendaraan mereka, Sasuke hanya belum berani untuk datang kembali pada Sakura, dia masih memikirkan banyak hal, bagaimana seharusnya mereka bertemu, jika ke kediaman Haruno langsung, Sasuke seperti mencap buruk kediaman itu, meskipun ayahnya sudah menjelaskan semuanya, Sasuke sedikit menaruh dendam, apalagi kasus yang menyangkut kedua orang tua Izuna, dia sudah tahu jika dalang dari semua kasus itu sudah di tahan, tapi tetap saja Sasuke merasa itu tidak adil bagi keluarganya, Izuna menjadi yatim piatu akibat ayah Sakura, gadis itu memang tidak salah, hanya Sasuke yang masih belum bisa menerima semuanya begitu saja.

"Sampai kapan kau akan berdiam diri seperti ini? Lama kelamaan kau hanya akan menatapnya dengan pria lain." Tegur Sai.

Sasuke tetap diam dan tidak berkomentar, mereka akan kembali ke kantor, Sai tidak tahu harus berbuat apa? Ingin membantu Sasuke, tapi Ino memarahinya, sahabat gadis berambut softpink itu ingin mereka yang bertindak lebih dulu.

Ending normal Pov.

.

.

.

.

.

.

Musim dingin telat tiba, tidak terasa tahun ini pun akan segera berakhir, menatap buku laporanku, aah..~ aku harus menyelesaikan buku laporan ini, seorang dokter wajib melaporkan tugasnya, beberapa map sudah di selesaikan, meminum sedikit teh hangatku, berada di kamar jauh lebih santai, kembali menatap kertas-kertas laporan itu, kepalaku jadi sedikit sakit, menutup semua map dan menghabiskan tehku, melirik jam, masih jam 8 malam, mungkin berjalan keluar sebentar akan membuatku jauh lebih rileks.

"Mau kemana?" Ucap Haku, mendapatiku tengah menuruni tangga.

"Keluar, hanya sebentar." Ucapku.

"Mau di temani?" Ucapnya.

"Tidak perlu, aku tidak akan lama." Ucapku.

"Baiklah, pakai-pakaian yang tebal, di luar udaranya cukup dingin." Ucapnya.

"Uhm, oh iya, ibu di mana?" Ucapku.

"Nyonya besar sedang beristirahat di kamar." Ucapnya.

"Zabusa?" Tanyaku.

"Dia akan lembur dan pulang cukup larut." Ucapnya.

"Lain kali, kalian harus sering-sering keluar bersama, aku rasa kalian jarang untuk kencan." Ucapku.

"I-itu tidak mungkin." Ucap Haku, lihatlah wajahnya merona.

"Kenapa? Lagi pula tidak ada yang akan tahu jika kau seorang pria." Ucapku.

"Tidak apa-apa, aku jauh lebih nyaman jika kami hanya bersama di rumah saja." Ucap Haku, dia sangat mudah mengendalikan dirinya.

"Apa ibu tahu hubungan kalian?" Ucapku, aku masih penasaran, apa ibu akan menyetujui hubungan terlarang mereka.

"Kata nyonya, kau berhak bersama orang yang kau sukai, bagaimana pun dia, kau harus menerimanya." Ucap Haku, dia tersenyum.

"Ibu terlalu bijak untuk mengucapkan hal itu, tapi syukurlah, ibu tidak menentang kalian." Ucapku, berjalan meninggalkan tangga.

"Hati-hati di jalan nona Sakura." Ucap Haku.

"Ah."

Mereka sudah bersama sejak lama, sejak aku masih kecil, aku hanya tidak menyangka pria dengan tatapan yang begitu tajam dan tegas, memilih untuk bersama seorang pria, mereka tidak bisa membuatku berkata-kata, Ha, aku harap mereka bahagia selamanya.

Berjalan keluar gerbang, beberapa para pengawal bergerak mengikutiku dari belakang, segera berbalik dan melarang mereka semua untuk mengikutiku.

"Nona, ini sudah malam, kau harus di kawal." Ucap mereka.

"Ah, diamlah, aku hanya akan berada di sekitar sini, dan jangan mengikutiku." Ucapku dan menatapkan tatapanku ke arah mereka.

Mereka merinding takut, memintaku untuk hati-hati dan segera hubungi mereka jika terjadi sesuatu, mereka terlalu mengawasiku, lagi pula aku akan baik-baik saja, sejujurnya aku ingin ke cafe Amai, sudah lama sekali aku tidak ke sana.

griiingg...~

Bunyi lonceng yang berada di atas pintu. "Ah, maaf, kami sudah tutup-Sakura? Aku tidak menyangka jika kau masih mengingat tempat ini." Ucap Amai, menghentikan kegiatannya, berjalan ke arahku dan memintaku untuk duduk di meja yang tidak terlalu jauh dari meja pajangan kue. Dia sudah seperti seorang pria yang tua. Melirik ke arah belakang Amai ada seorang wanita yang berdiri dan tengah merapikan cangkir-cangkir yang sudah bersih, Amai menambah pegawai sekarang?

"Aku terlambat untuk datang yaa." Ucapku, padahal masih jam 8 malam dan Amai sudah mau tutup cafe.

"Perubahan jam buka, hanya sampai jam 8 saja, aku harus mengurus banyak hal lain makanya tutup lebih awal." Jelas Amai. "Oh iya." Dia memanggil wanita yang masih sibuk di belakang, wanita itu berjalan ke arah kami, dia terlihat cukup cantik dan ramah. "Perkenalkan, dia istriku." Ucap Amai dengan wajah malu-malunya.

"Salam kenal, apa kau yang bernama Sakura?" Ucap wanita itu.

Aku cukup terkejut akan hal ini, ku pikir dia adalah pegawai baru Amai, ternyata mereka sudah menikah, sepasang cincing perak melingkar manis pada jari mereka. "Ah benar, aku Sakura, Haruno Sakura, salam kenal." Ucapku.

"Kau baru datang lagi setelah bertahun-tahun lamanya, apa ada hal yang membuatmu sangat sibuk hingga melupakan cafe ini?" Ucap Amai, menarik kursi dan duduk. Istrinya berjalan kembali kebelakang sekedar membuatkan kami berdua minuman.

"Melanjutkan pendidikan ke kota Kumo, aku jadi jarang untuk berjalan-jalan di Konoha jika sedang berlibur, sedikit penasaran apa cafe Amai masih ada dan ternyata masih, hehehehe, kau tetap membuka cafe ini." Ucapku

"Pantas saja, jadi selama ini kau berada di Kumo, cafe ini sudah menjadi satu-satunya mata pencaharianku, meskipun sewa gedung milikku juga termasuk, aku jadi tidak bisa jauh-jauh dengan keluarga baruku sekarang." Ucap Amai.

"Ayah...!" Teriak seorang anak kecil, dia turun dari tangga yang menuju perpustakaan, aku masih sangat ingat jika di atas perpustakaan pribadi milik Amai. Anak kecil itu berlari ke arah Amai, meminta untuk mendudukkan dirinya di pangkuan Amai, dia sudah menjadi seorang ayah sekarang.

"Ada apa?" Ucap Amai.

"Adik sudah bangun, tapi dia tidak menangis, apa mungkin dia lapar?" Ucap anak kecil yang cukup menggemaskan itu, mungkin umurnya sekitar 2 atau 3 tahun, anak laki-laki yang hyperaktif.

"Baiklah, biar ibu yang mengurusnya." Ucap istri Amai, dia sudah menaruh dua cangkir teh hangat, meminta untuk pamit ke lantai dua, aku mengangguk perlahan dan berterima kasih atas jamuannya.

"Di lantai dua masih ada perpustakaan, kan?" Ucapku

"Masih, tapi sekarang sudah menjadi 3 lantai, perpustakaan berada paling atas dan lantai dua adalah tempat tinggalku, akan jauh lebih mudah jika tinggal di sini." Jelas Amai.

"Aku tidak menyangka jika kau bahkan sudah punya anak." Ucapku.

"Hehehe, begitulah, dia putra pertamaku dan seorang putri, dia baru lahir beberapa bulan yang lalu, ayo beri salam pada kakak Sakura." Ucap Amai pada anaknya.

"Salam kenal kakak uhmm... kakak cantik." Ucapnya polos, aku semakin gemes ingin mencubitnya.

"Hahaha, apa dia cantik?" Amai malah menggodaku.

"Iya." Ucap tegas anak kecil itu dan tersenyum manis, dia meminta turun dan berlari ke tangga.

"Hati-hati jika naik ke tangga." Tegur Amai.

"Iya!" Balas anak kecil itu, dia menaiki tangga perlahan.

"Dasar, ingatlah, kau bahkan sudah tidak muda lagi paman." Ucapku.

"Apa? paman? Aku tidak merasa setua itu." Ucapnya.

Dia membuatku tertawa, aku jadi merasa rindu akan cafe ini dan perpustakaan pribadi milik Amai.

"Oh iya, bagaimana kabarmu dengan Sasuke? Kalian jadi tidak pernah bersama lagi, Sasuke sering datang sendirian, dia bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang mu, apa kalian bertengkar lagi?" Ucap Amai.

Terdiam sejenak, memegang cangkir teh ku yang mulai menghangat, aku tidak tahu jika Sasuke akan sering datang ke cafe ini, mengingat Amai dan dia cukup berteman dekat.

"Ah, maaf jika aku salah bicara." Lanjut Amai, aku tidak merespon ucapannya.

"Tidak, aku hanya sedikit bingung, jika Sasuke sering ke sini, kenapa kami tidak pernah bertemu? Ini sudah bertahun-tahun lamanya kami tidak pernah bertemu, sejak lulus SMA." Ucapku, menundukkan wajahku.

"Apa? Kalian sampai selama itu tidak pernah ketemu, apa sudah coba ke rumah Sasuke?" Ucapnya.

"Sudah, aku sudah pernah ke sana dan ibu Sasuke hanya mengatakan dia pergi dan tidak mengatakan apapun." Ucapku.

"Uhm, tapi dia sudah kembali, Sasuke tidak akan pergi lagi, kau tahu, dia sudah menjadi seorang anggota polisi sekarang, anak itu, tiba-tiba saja ingin menjadi polisi." Ucapan Amai membuatku sedikit terkejut, jadi selama ini Sasuke menjalani latihan militer untuk menjadi seorang polisi, dia mengubah impiannnya? Menyebalkan, aku merasa seperti sedang di tipu olehnya, lalu ucapannya untuk menjadi seorang dokter bagaimana? Ini membuatku kesal sendiri.

"Ada apa?" Tanya Amai, lagi-lagi aku hanyut dalam pikiranku sendiri.

"Dia bahkan tidak mengatakannya padaku." Ucapku, aku ingin memukulnya jika bertemu.

"Ja-jadi? Hahahaha, kalian ini benar-benar unik, jangan sering-sering bertengkar, dari dulu sampai sekarang kalian tidak berubah." Ucap Amai.

"Kami tidak bertengkar, dia lah yang memutuskan hubungan ini secara sepihak, aku pun tidak tahu jika dia ingin menjadi seorang dokter. Aku malah mengikutinya ke Kumo." Ucapku.

"Dan ternyata Sasuke tidak berada di sana, hahahahhaha." Dia menertawaiku.

"Hentikan itu paman." Ucapku, aku akan memukul Amai juga.

"Hahahaha, maaf, tolonglah jangan membuatku semakin merasa tua saja. Sasuke cukup beruntung jika mendapatkan gadis sepertimu, uhm, jadi apa sekarang aku sudah harus memanggilmu dokter Sakura? ya aku rasa." Ucapnya.

"Tidak di panggil 'dokter' pun aku tidak masalah. Dia membuatku sedikit kesal, berbohong tentang impiannya, aku jadi merasa bodoh sendiri mengikutinya." Ucapku, kenapa ku malah menyalahkan diri sendiri, tapi itu benar, aku belum bisa melepaskan Sasuke.

"Kau tidak ingin bertemu dengannya?" Ucapnya.

"Mungkin, nanti, atau ah, aku tidak tahu, dia sungguh keterlaluan." Ucapku.

Amai kembali tertawa, dia pikir kisahku ini hanya sebuah lelucon? Tapi jika aku berada pada posisi Amai, aku pun akan tertawa sekeras mungkin, rela untuk tinggal di kota lain demi mengejar seseorang yang entah bagaimana perasaannya saat ini, apa dia masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu? Atau dia sudah melupakannya dan berpikir jika perasaan itu tidak nyata, hanya kisah asmara di jaman sekolahan, terkesan seperti drama-drama di film, konyol.

Tidak buruk juga berbicara pada Amai hari ini, perasaanku sedikit lega, satu hal yang ku tahu Sasuke sudah berada di Konoha, aku bisa kapan saja mendatangi rumahnya dan bertemu dengannya, tapi lain kali saja, tanganku gatal untuk memukul wajahnya. Pamit sopan pada Amai, istrinya dan kedua anak mereka, mereka terlihat manis dan menggemaskan.

Melirik jam tanganku, tanpa terasa sudah jam 10 malam, udara di luar semakin dingin, memilih melawati jalan yang ramai untuk menghindari hal yang tidak-tidak, tapi jika ada yang mencari masalah denganku, aku bisa dengan mudah melampiaskan rasa kesalku saat ini.

"Ini sudah sangat malam, kau tidak boleh berkeliaran sembarangan nona." Ucap seseorang dari arah belakangku, siapa? Apa dia pikir aku masih anak sekolahan dan berkeliaran di jam malam, gara-gara postur tubuh yang cukup pendek dan siapapun tidak akan sadar jika aku ini seorang gadis yang sudah mendapat gelar seorang dokter. Berbalik ke arah orang itu, aku ingin menepis ucapannya jika dia pikir aku anak sekolahan. Terkejut, seorang pemuda di hadapanku ini membuatku tidak bisa berkata apa-apa, dia semakin tinggi saja dan terlihat lebih dewasa, tatapan dingin dan mata kelam itu tidak bisa lepas darinya.

"A-apa maksudmu? Aku bukan anak sekolahan dan bebas untuk keluar malam." Ucapku, gugup, aku benar-benar gugup menatapnya saat ini, dia masih terdiam dan tidak mengucapkan apapun, menatap ke arahku dengan cukup lama, apa yang sedang dia pikirkan? melihatku seperti itu tidak akan mendapatkan apa=apa, aku rindu padanya.

"Kau masih tetap saja kecil." Ejeknya, apa-apaan itu? dia bukan anak-anak lagi dan malah mengejek. "Aku sudah mendengar semua dari ibuku." Ucapnya. Tersentak kaget, aku bahkan tidak ingin mendengarnya, segera membuang mukaku, malu, kenapa aku harus menceritakannya pada bibi Mikoto, berbalik, aku ingin segera pulang saja, bukan saatnya untuk kami bertemu.

Langkahku terhenti, lenganku di tahan olehnya, aku tidak cukup berani untuk menatapnya saat ini, aku rasa mataku mulai berair, menangis? tidak mungkin, aku hanya terbawa suasana, Sasuke menarikku pelan, mengajakku pergi, entah kemana, di sini cukup ramai dan membuatku malu jika kami harus berjalan sambil bergandengan tangan, ralat, dialah yang menggenggam tanganku erat, perjalanan kami terhenti di taman bermain yang sudah sepi, genggamannya terlepas, dia berdiri tepat di hadapanku dan aku hanya menundukkan wajahku.

"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Ucapnya. Untuk apa? Aku sedang tidak ingin berbicara apapun padanya, seharusnya dialah yang mengatakan sesuatu, mengatakan semuanya, kenapa dia meninggalkanku begitu saja? Memberiku harapan palsu dan perasaan yang tidak menentu.

"Aku ingin pulang saja." Ucapku perlahan.

"Kau marah padaku?" Ucapnya.

"Aku pikir kau yang marah padaku." Ucapku.

Tangannya menarik pelan tubuhku dan memelukku erat, aku sungguh merindukan bau pemuda ini.

"Maaf, aku tiba-tiba meninggalkanmu," Ucapnya.

"Kau berbohong." Ucapku.

"Tidak, aku hanya sedikit berubah pikiran." Ucapnya, pelukan itu mengerat. "Aku merindukanmu." Bisiknya perlahan, pada akhirnya aku membalas pelukan Sasuke, aku pun merindukannya.

"Apa kau sedang menghukumku?" Ucapku, aku rasa ini semua gara-gara masalah keluarga kami.

"Mungkin saja." Pelukannya melonggar, tapi tidak melepaskan, kami bisa saling bertatapan begitu dekat.

"Aku minta maaf saat kejadian yang menimpah keluargamu." Ucapku.

"Kau tidak perlu meminta maaf, aku hanya sedikit dendam pada ayahmu, tapi tidak padamu." Ucapnya, kembali memelukku.

"Maaf." Ucapku lagi.

"Sudahlah."

"Aku juga merindukanmu." Ucapku.

"Hn, Sakura."

"Uhm?"

"Menikahlah denganku, aku akan menepati janjiku sekarang." Ucapnya.

Melepaskan segera pelukan kami dan mengambil jarak darinya. "Me-menikah?" Kami baru saja bertemu kembali dan dia sudah mengucapkan menikah.

"Ada apa?"

"Apa ini tidak terlalu terburu-buru?"

"Bukannya ini saat yang tepat."

"Tapi-"

"Apalagi?"

Tidak ada jawaban, aku bingung harus beralasan apa? Cukup senang mendengar ucapannya, kami akan bersama selamanya, bukan kah itu bagus? Aku hanya terkejut dengan ucapannya yang tiba-tiba.

"Sakura." panggilnya. Mempersempit jarak kami, memegang lembut rahangku, aku bisa menatap mata kelamnya yang begitu dekat. "Aku sudah siap untuk hidup bersamamu." Ucapnya. Mengalihkan tatapanku, ini terlalu dekat, wajahku mungkin sudah merona, wajahnya mendekat dan sebuah ciuman singkat yang pelan mendarat pada bibirku, dia kembali membuatku harus menatapnya, "Kau keberatan?" Lanjutnya.

"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan." Ucapku, aku sudah lupa untuk memukulnya.

Kembali merasakan bibirnya, sedikit dingin, tapi lama-lama bibirnya mulai terasa hangat, apa karena bibir kami terus menyatuh, mengecup perlahan, sesekali memperdalam ciuman dan sedikit menuntut dari Sasuke, aku harap tidak ada yang lewat dan melihat tingkah kami, kehabisan napas dan menjauh sejenak dari Sasuke, aku butuh pasokan udara, sudah sangat lama sekali kami tidak melakukan hal ini, dia hanya memberiku waktu untuk bernapas sebentar, kembali ciuman menuntut dan memperat pelukkan kami.

"Sa-hmpp-Sasuke!" Ucapku, kita harus menghentikannya sekarang, rasanya begitu panas jika kami terus-terusan berciuman seperti ini. Akhir Sasuke berhenti dan aku bisa kembali bernapas. "Aku rasa cukup." Ucapnya. Wajahku sudah semakin merona, mengangkat wajahku, dia tersenyum, jarang sekali untuk melihat pemuda ini tersenyum, kembali memeluknya erat dan menyamankan diri pada dada bidangnya, untuk sejenak saja, aku ingin seperti ini, bersamanya, dia membalas pelukanku, merasakan sebuah kecupan ringan pada pucuk kepalaku.

.

.

TAMAT

.

.


terima kasih untuk para reader yang masih rajin nunggu fic ini, makasiiiiiih banyak, sorry ficnya cuma sampai di sini, nggak ada alasan khusus hanya saja idenya emang sampai di sini, untuk 'sequel' sekali lagi mohon maaf, nggak akan ada sequel untuk fic ini, author lagi pengen buat oneshoot aja dan menyelesaikan fic lain, hemm...~ sorry... sorry... sekali-kali angka ganjil lah, tak ada apa kan, hehehehe..

author harap dalam fic ini sudah jelas semua, fic sebelumnya juga sudah menjelaskan banyak hal, fic ini hanya kembali menceritakan kisah si saku, seperti pada chapter pertama, jadi setelah kelepasan di beberapa chapter pada akhirnya fic ini harus sejalan dengan chapter alur tentang tujuan Sakura, tidak ada yang mengganjal kan? pada akhirnya konflik sudah meredah dan terselesaikan, author mau kembali cantumin Kiba tapi perannya sudah tidak ada lagi, hahaha.

apa lagi yaa. uhm... tidak ada 'LEMON' untuk Sasu-saku di sini, fiuuuhh..~ awalnya pengen buat, tapi mengingat mereka masih sekolah, keadaan yang tidak sesuai daaaaan... sasu tiba-tiba menghilang, 'omake' nggak usah juga ah, dengan akhir seperti iini udah bagus, udah ketahuanlah, 'happy end' Hahahaha.

uhm.. sudah ya, itu saja, pokoknya makasih banyak lagi, saran, tandai typo dan semangat, uhk, senang banget di semangatin buat fic, hehehehe.

untuk terakhir akhir kalinya, author balas semua review yooo.

.

.

Amamiya Rizumu : sorry, kelamaan updatenya, sedang sibuk kemarin-kemarin dan malah update oneshoot, hahahah (ini auhtor maunya apa!) oh silahkan saja di share, makasih banyak. oh iya, see you fic baru lagi, semoga tetap nggak bosan-bosan baca fic author dan tandai typo, hehehehe.

Bluesky Lavender : udah di jawab di chapter ini, makasih udah nunggu dan makasih udah sempatkan diri untuk baca fic ini.

Guest : nggak bisa update kilat dan baru hari ini bisa update. XD

ddafmipa97 : update, lama banget update, hehehehe, makasih...~

alif yusanto : update telat, makasih udah mau baca fic ini, jadi terharu ada sampai terbawa suasana dalam ficnya ehehehe.

Yume shin : update yoo.

Khoerun904 : udah next nih.

Nica-Kun : udah update... :)

dark blue and pink cherry : upss. sorry, author udah jelaskan di atas tentang permintaannya, hanya bisa katakan maaaaafff bangeeeettt...~

Laifa : tentu, author pengen sampaikan pesan moral sedikit di dalam fic ini, mau sejahat apapun orang tua, anaknya selalu menjadi utama, ehehehe.

Kenma Plisetsky : Yoi dong, sudah menjadi alurnya jika saku anak satu-satunya yang akan menjadi pemegang kendali mafia selanjutnya.

sitieneng4 : update update.., kelamaan, :D

.

.

udah semuanya? udah semua? oh udah, sekali lagi terima kasih banyak *membungkuk dalam-dalam*

oh iya, untuk reader yang umat muslim selamat menjalankan ibadah puasa yooo...~ ^_^ semangat puasanya...!

.

.

See you next story.

.

Sasuke fans