Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR

.

'The fear of missing something, is the fear to see future'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

Peristiwa besar yang bergerak menuju legenda perang seribu tahun telah berulang. Korban yang jatuh masih belum seberapa tapi jika ini terus dilakukan semua akan kembali seperti sedia kala saat perjanjian ketiga dunia belum dilaksanakan. Bencana, belum, tapi pasti. Entah sejak kapan kata itu menjadi sebuah tragedi. Ini hanya tentang perang, segalanya. Tapi bukan kepada orang atau organisasi lain. Sebagai kelompok yang menaungi dua dunia, musuh sebenarnya dari mereka adalah diri mereka sendiri.

"Biarkan saja di situ, Ganju. Aku bisa sendiri."

Pria berbadan tinggi besar dengan rambut hitam panjang itu menurut, meletakkan perban kembali ke tempatnya sementara dirinya masih tampak khawatir. Di telapak tangan kakak laki-lakinya ada luka yang lumayan dalam. Saat pertama kali menemukannya, kuku-kuku panjang itu juga terdapat noda darah.

Bukannya Ganju ingin berlagak tak tahu apa-apa, tapi melihat sikap kakaknya sekarang, siapapun tahu suasana hatinya sedang sangat buruk. Para pelayan mereka bilang ada suara bedebum aneh dari dalam kamar saat kakak laki-lakinya baru beberapa menit masuk. Begitu pintu terbuka, mereka melihat Kurosaki Ichigo keluar, meninggalkan kakaknya dengan luka dimana-mana.

Dia pasti habis mengamuk.

Waktu itu, Ganju hanya bisa menahan kekesalannya saja. Mereka memang tak akur, tapi Ichigo tak pernah melakukannya sampai sejauh ini. Bahkan setelah mengetahuinya, dia masih tidak habis pikir, kenapa Shinigami Kelas A itu sampai menginjakkan kaki ke kediaman Shiba setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.

"Jangan memasang wajah seperti itu. Ini di luar hakmu untuk merasa kesal."

"Tapi, jelas-jelas dia melakukan hal ini. Kenapa kau masih saja membelanya?" tanya Ganju, dahinya berlipat menuntut saat kakak laki-lakinya malah memalingkan wajah.

"Itu bukan urusanmu."

Ganju tak bisa mengatakan apapun lagi, dia hanya duduk diam di tempat, berhadapan dengan futon kakaknya. Dari dulu, dia paling tidak mengerti dengan pikiran pria itu.

"Kurasa, semua ini karena gadis yang akhir-akhir ini sering kautemui itu, kan? Percuma saja, kalau memang gadis itu yang kau khawatirkan, menyelamatkannya sekarang sudah pasti mustahil," Ganju mendesah, "melawan Central 46 yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi setelah Komandan itu benar-benar tindakan yang ceroboh. Aku heran padamu, dulu kau paling tidak suka dengan yang namanya ikut campur, apalagi pada masalah yang terkait dengan peraturan."

Ya, dulu dia memang benci ikut campur. Dia tak pernah mau tahu urusan orang lain, tidak tertarik dengan hal itu dan terus berusaha untuk tetap berada di belakang garis. Seperti yang dia duga, hal yang merepotkan begini memang bukan tipenya.

"Mengenal Rukia membuatmu ingin berubah, kan?"

Matanya menatap datar ke luar jendela, kemudian turun ke perban yang melilit di tangannya.

"Ah, sungguh. Sungguh menyebalkan sekali."

"Huh?" Ganju terbengong, tak bisa menangkap kalimat kakaknya yang terlalu samar. "Kaien-nii, barusan kau bilang apa?"

Mengangkat wajahnya, bulu kuduk Ganju meremang. Saat ini untuk pertama kalinya, dia melihat ekspresi kakaknya mengeras dan begitu tampak seperti seorang pembunuh bayaran.

"Kurasa ini saatnya balas dendam."

―Yuuka desu―

"B-Bagaimana ini? Apa ada seseorang di dalam?"

Hanatarou mengendap-endap di belakang sebuah ruangan bercat putih. Bagian dari I.P.P.S yang terhubung pada pintu darurat dan merupakan tempat penyimpanan yang jarang dikunjungi. Matanya bergerak-gerak gelisah, tapi saat dia tiba di sebuah pintu yang lain, telinganya bisa menangkap suara ribut dari dalam. Dengan penuh ragu-ragu, Hanatarou membukanya.

"P-Permisi... maaf mengganggu―eh?"

Tak ada yang mendengar suaranya, atau menyadari kehadiran lelaki bertubuh kurus itu. Begitu masuk ke dalam, yang ada hanya teriakan kesibukan para anggota I.P.P.S yang sedang berlarian kesana-kemari. Ini tampak lebih seperti suasana kantor I.P.P.S seperti biasa. Hanatarou menggaruk kepalanya. Dia bahkan tak bisa menemukan Profesor berpenampilan nyentrik juga wakilnya yang memiliki tanduk di antara para peneliti lain di ruangan itu. Untuk beberapa saat dia celingukan, lalu menyelinap di balik tabung penyimpanan kosong yang berisi suatu cairan.

Menarik napas sebentar Hanatarou bergumam, "Hati di selatan, mata di utara, ujung jari di barat, tumit di timur, berkumpul bersama angin, berpencar bersama hujan," dia mengangkat satu tangan ke depan. "Bakudou #58 : Kakushitsuijaku."

Sebenarnya, dia tahu kemampuannya belum terlalu bagus, tapi gurunya bilang para Shinigami bagian medis harus memiliki setidaknya pertahanan yang memadai. Karena sebagian dari mereka tak didasari oleh kemampuan berpedang serta hakuda, mereka memilih untuk mendalami kidou. Salah satu cara meningkatkan efektivitas kidou adalah dengan membaca mantra. Sekarang, dia tahu harus pergi ke arah mana. Hanatarou mengambil langkah keluar cepat-cepat.

"B-Bukannya aku ingin sembarangan masuk ke dalam tanpa izin, ta-tapi... ini darurat dan aku tidak melakukan hal yang buruk. Umm... aku akan lewat jalan ini jika kalian mencariku," gumamnya pelan pada udara, seakan-akan merasa bersalah karena telah memasuki daerah terlarang itu.

Berbelok, dia menemukan sebuah tombol di belakang kotak persegi yang menempel di tembok. Kotak itu tersamar oleh warna cat ruangan, tapi dia cukup jeli untuk melihat ada sesuatu di baliknya. Hanatarou merayap kesana, menekan tombol itu dan sebuah jalan terbuka di bawahnya. Tangga. Tapi gelap sekali. Dengan cemas dia menengok lagi ke belakang―memastikan keadaan―sebelum kakinya melangkah ke bawah dan lantai kembali menutup seperti sedia kala.

Tangga itu menuntunnya menuju ke sebuah lorong. Cahaya hanya berasal dari obor api dan jaraknya begitu jauh satu sama lain. Ada begitu banyak kekkai di sini, tak tampak namun bisa dirasakan, membentuk lapisan yang semakin lama semakin menebal. Lelaki itu menelan ludah, berjalan menyusuri lantai yang kasar dan berdebu sambil membuka satu per satu kekkai sebelum tiba di ujung lorong. Ada pintu lagi di sana, pintu yang sama seperti yang ada di samping-samping lorong. Tapi dia yakin itulah yang dia cari. Hanatarou membukanya, dan di dalam ruangan gelap yang luas itu terdapat satu pintu lagi.

"...Di sini, ya, tempatnya?" dia mendekat ragu-ragu. Tapi ketika sampai di depan pintu yang terbuat dari kayu itu, Hanatarou kembali cemas.

"Ah, apa tidak usah saja, ya? Sudah kuduga akan jadi seperti ini. Harusnya kupikirkan matang-matang dulu sebelum datang kemari... tapi tinggal sedikit lagi. Uh... kalau aku sampai terkena masalah bisa-bisa aku menyusahkan Kurosaki-san dan yang lainnya. Apa kembali saja... tapi..."

Lelaki itu meremas kepalanya, mondar-mandir dengan gelisah. Sejak tadi dia sudah berkeringat dingin, otaknya seperti dihantui oleh pikiran-pikiran buruk akibat sifatnya yang memang penakut. Saat Hanatarou sedang jongkok dan hampir menangis di sana, dia mendengar suara samar.

"Hanatarou, kaukah itu?"

Tersentak dan hampir berteriak, Hanatarou segera memutar badan ke belakang. Matanya melebar mendengar suara seseorang yang sangat familiar. Keragu-raguannya yang merepotkan itu tiba-tiba saja menghilang seperti tertiup angin.

"T-Tenang saja, aku akan membuka pintunya!"

Dengan cepat Hanatarou melepas kekkai terakhir di depan pintu kayu itu. Tak butuh waktu lama, dia menelan ludah, memutar gagang pintu dan menemukan tubuh seseorang yang tampak tak berdaya, duduk di sebuah kursi di ujung ruangan yang gelap dan tak memiliki banyak barang. Orang itu menatapnya, tampak terkejut, tapi dia tidak bisa bergerak.

"Kuchiki-san...!"

Hanatarou langsung berlari mendekat, cemas berkali-kali lipat saat melihat Rukia yang tampak lebih seperti seorang tahanan dibanding putri dari klan bermartabat, dengan kimono sederhana berwarna putih yang mencapai tumit meskipun tanpa borgol di kedua tangannya. Rukia mengerjap, matanya yang sayu menunjukkan kalau dia telah melewati begitu banyak rasa sakit dan lelah, begitu juga dengan wajahnya yang hampir sepucat kertas putih.

"Bagaimana kau bisa kemari?" tanya Rukia.

"Aku menyelinap lewat titik buta kekkai I.P.P.S, karena seluruh lembaga ini sudah dilindungi oleh Central 46," jelasnya. "Aku janji akan memperbaiki semua kekkai di sini saat aku keluar tapi... tapi di luar sedang ada pertarungan, dan para Sternritter sudah memasuki gerbang. A-Aku sudah mendengar semuanya tentang Kuchiki-san, dan... dan... aku sungguh sangat menyesal. M-Maafkan aku...!"

Melihat Hanatarou mulai menangis, Rukia hampir tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia mengerjap bingung, tapi tak lama kemudian bibirnya tersenyum tipis, menenangkan Hanatarou yang langsung tersengguk. Jika dia bisa melepas semua segel di tempat ini itu artinya dia hebat. Tapi Rukia ragu jika Hanatarou sampai menyadarinya. Lelaki itu terlalu rendah hati.

"Kau baik sekali, Hanatarou," ujarnya tulus. "Tapi tidak ada yang harus disalahkan di sini, jadi angkat kepalamu dan berhentilah menangis."

"Kuchiki-san..."

Rukia menghargai itu, walaubagaimanapun keputusan untuk pergi ke daerah terlarang ini sama artinya dengan mengambil banyak resiko―dan melanggar perintah. Padahal gadis itu tak pernah melakukan apapun tapi Hanatarou bersikap begitu baik padanya.

"Tolong, panggil saja aku Rukia."

"Rukia-san..."

"Bagus," gadis itu tersenyum. "Sekarang tenanglah dan ceritakan semuanya. Kita tak punya banyak waktu, dan kau juga tidak seharusnya berada di sini, ingat? Tak akan butuh waktu lama bagi I.P.P.S untuk segera tahu bahwa kau menyelinap kemari."

"M-Maafkan aku. Ini memang tindakan yang ceroboh dan sebenarnya aku juga tidak mendapatkan izin dari Unohana-san. Saat mendengar semua itu aku hanya berpikir untuk pergi kemari."

Hanatarou menghapus air matanya, duduk dengan rapi di depan Rukia yang terus memperhatikan.

"Sekarang ini, pemimpin organisasi Sternritter sedang bertarung dengan Komandan. Kami para pasukan medis menangani orang-orang yang terluka di belakang gerbang, tapi kudengar Kurosaki-san sedang menuju kesini untuk menjemputmu."

Mendengar nama itu, mata Rukia melebar. Benar, Rukia tak sempat mengatakan apapun pada Ichigo dan langsung pergi ke I.P.P.S begitu saja. Dilihat dari manapun pria itu pasti marah besar. Tapi seharusnya Ichigo tahu meski dia benar-benar ada di hadapan Rukia sekarang, gadis itu tidak akan bisa meraih tangannya dan menurut. Tidak setelah semua yang telah dia lalui, dia tidak bisa mundur sekarang.

"Apakah ada yang menghentikannya?" tanya Rukia pelan dan Hanatarou mengangguk.

"Hitsugaya-san melakukannya, dan kurasa sekarang mereka sedang terlibat pertarungan dengan dua pendatang Sternritter yang memasuki gerbang, karena sebelum ini aku sempat melihat mereka di luar..."

Dasar si idiot itu…

Helaan napas keluar dari bibir Rukia tanpa sadar, tapi seakan bisa membaca pikirannya, Hanatarou menambahkan, "A-Aku tidak bermaksud untuk membuat Rukia-san marah, sungguh! Tapi… melihat Kurosaki-san yang sedang berjuang sekeras itu membuatku benar-benar ingin membantu."

"Aku tahu, aku tidak marah. Dia memang bodoh dan semua orang tahu itu," Rukia memijit pelipisnya dengan sebelah tangan, wajahnya berubah muram. "Tapi, ini adalah jalan yang kupilih dan meski Ichigo tak menyukainya, aku tidak bisa mundur begitu saja. Seperti kata Urahara-san, semua ini bukan tentangku, tapi tentang keselamatan ketiga dunia."

Dia menunduk, "Aku sudah memberinya banyak beban dan luka, tapi aku tak bisa mengambil semua seperti bagaimana dia melakukannya. Ini adalah caraku bertarung, aku ingin agar Ichigo mengerti itu. Setidaknya, biarkan aku memperjuangkan hidup dengan caraku sendiri," lanjutnya.

Hanatarou tersenyum miris, "Kalau dipikir-pikir, Rukia-san memang wanita yang kuat. Aku… tidak bisa sekuat dan seyakin Rukia-san, dan kurasa Kurosaki-san juga memikirkan hal yang sama tentang itu."

"…Kuat, ya," Rukia bergumam pelan.

"Sepertinya kau akan membawa dampak yang besar untuk Ichigo."

Bukankah Kaien juga pernah mengatakan hal itu padanya?

"Setiap pria punya alasan kenapa dia menyukai seorang gadis, bahkan jika itu orang yang pikirannya sangat sederhana seperti Ichigo."

Jadi begitu, sekarang rasanya Rukia bisa memahami satu hal.

"Umm… Rukia-san, sebenarnya, aku datang kesini untuk memberikan sesuatu padamu," Hanatarou berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari bajunya. Saat melihat itu, Rukia terkejut.

"Ini…"

"Kumohon, gunakan benda ini saat diperlukan, ini mungkin tak seberapa tapi aku yakin akan berguna. Aku juga akan berusaha keras dan percaya pada Rukia-san, karena Rukia-san adalah wanita yang kuat!" Lanjut lelaki itu.

Rukia mendongakkan wajah, menerima pemberian Hanatarou yang tersenyum tulus padanya.

"Sejujurnya, aku cukup menyesal karena tidak sempat berkunjung ke Divisi Penyembuhan untuk bicara lebih banyak denganmu tapi... terima kasih."

―Yuuka desu―

"Aww, ini baru beberapa menit, bersenang-senanglah sedikit. Aku jadi bosan kalau acaranya selesai begitu saja, kan?"

"Tch."

"Ya, dia menyebalkan. Dia berkata seolah-olah kita yang mengacau di sini," Toushirou menggerutu atas keluhan Bambietta, matanya melirik Ichigo. Sepertinya si bodoh ini juga hampir mencapai limit.

Tusukan Bambietta merobek pakaian Ichigo saat pria itu mencoba menghindar, tepat di lengan kanan tapi tak sampai berdarah. Selanjutnya yang terjadi adalah serangan brutal dari keduanya. Tak ada satupun yang berhenti bergerak, karena jika pria itu mengacaukan ritmenya sekali saja Bambietta akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari itu.

"Kurosaki, jangan terprovokasi olehnya!" seru Toushirou.

ZRASSHH!

Ichigo menebas secara horizontal tepat di mana penghalang sihir Bambietta berada dan saat dia akan melakukan tebasan kedua, sesuatu datang menghalanginya.

TRANGG!

"Mundur!"

Mendengar teriakan Toushirou, Ichigo melompat ke belakang. Itu... Gillian?! Sejak kapan dia ada di situ? Makhluk itu tingginya dua meter dan memiliki dua tangan yang runcing, keras seperti batu. Menebasnya dengan pedang saja tidak akan berguna.

"Kupikir kau tidak akan ikut campur?" gumam Bambietta pada Meninas.

"Aku tidak suka jika ada yang menyakiti temanku."

"Itu bagus, tapi jangan sampai merusak kesenanganku, ya?"

Meninas menampakkan ekspresi khawatir sekali lagi, "Baiklah, kalau kau bilang begitu..."

Di tempatnya berdiri, Toushirou mengambil sikap waspada. Ternyata wanita itu Summoner, tapi jika bisa memanggil Hollow dalam waktu secepat itu sudah pasti ada yang tidak beres dengan kekuatannya. Dia bisa mengendalikan Hollow seperti yang dia inginkan. Teleportasi, dengan kata lain sonido. Berbeda dengan shunpo yang merupakan langkah kilat, sonido―yang hanya bisa digunakan oleh Hollow―merupakan perpindahan ruang dan waktu oleh penggunanya dengan kecepatan tinggi.

"Aku sudah mendengarnya, kalau kau pernah bertarung dengan wanita itu sewaktu di Dunia Manusia. Teknik itu sulit. Dilihat dari manapun kalau bisa gunakan sonido pada Hollow sudah berarti dia Summoner tingkat tinggi."

"Siapa yang peduli dengan itu?" Ichigo bergumam, mengusap keringat di dagunya dengan punggung tangan.

Begitu mereka melihat ke depan, Bambietta telah bersiap dan kembali maju. Gerakan tubuhnya yang lincah membawanya ke hadapan Ichigo kurang dari lima detik. Meninggalkan Ichigo yang terkejut, pedang dan sihir kembali bertubrukan. Ichigo mengeratkan gigi, menebas ke depan dengan lebar sebelum Bambietta menghilang dari hadapannya.

"Huh?" Ichigo mengerjap.

"Di atas!"

Sial.

Melalui seruan Toushirou, Ichigo bisa melihat Bambietta terjun bebas ke arahnya. Mata Ichigo membelalak, tak sempat menghindar, lalu yang terdengar selanjutnya adalah bunyi benturan yang begitu keras.

"Kurosaki!" Toushirou berteriak, namun saat dia berlari Gillian yang sejak tadi diam berbalik menyerangnya.

"Tak akan kubiarkan kau mengganggu Bambietta," ujar Meninas.

"Tch!"

Lantai tempat Ichigo tadi berdiri retak besar, asap membumbung beserta kepulan partikel hitam yang bercampur dengan debu―aura Bambietta. Itu tadi serangan kekuatan penuh jadi jika berniat menggunakan shunpo dengan kecepatan seperti itu pasti tidak akan sempat. Masih tak ada pergerakan di sana hingga Toushirou yang sedang melakukan pertarungannya sendiri merasa cemas. Apa yang terjadi?

Tak lama setelah itu, Bambietta melompat keluar.

"Ugh!"

Kakinya tergores cukup dalam. Gerakan apa itu tadi? Dia hampir tak bisa melihat pedangnya. Di dalam kepulan asap yang mulai pudar, terlihat bayangan seseorang berdiri di tengahnya. Bambietta menarik napas.

"Belum, ya? Butuh berapa lama lagi sampai kau mengeluarkan Bankai?"

Jadi itu yang diincarnya.

Toushirou berkata dalam hati sebelum hampir terkena tusukan Gillian di depannya karena melamun. Tapi di detik berikutnya dia menebas, setelah mendapatkan fokusnya kembali dan melompat ke belakang. Matanya kembali lagi ke pertarungan Ichigo. Ada beberapa luka di tubuhnya akibat serangan yang tak bisa dihindari meski tidak sampai fatal. Saat matanya terfokus ke depan, Toushirou terkejut. Tatapan itu... dia mulai serius.

Apa dia berencana menggunakan Bankai?

Menghapus noda di bibirnya, Ichigo melangkah maju. Toushirou tahu pria itu tak bisa menaruh lebih banyak kesabaran lagi dari matanya yang menggelap. Jantungnya berdentum cepat, menyetir darah agar berkumpul di kepala dalam bentuk rasa frustasi. Ichigo benar-benar ingin mengakhiri permainan ini, secepat dan semudah mungkin. Baru beberapa langkah diambilnya tiba-tiba dia menghilang. Bambietta yang melihat itu mulai memasang kuda-kuda saat Ichigo muncul di belakangnya dengan kecepatan luar biasa. Pedangnya menebas ke bawah, mencakar lantai dengan goresan dalam yang beruntung tak mengiris daging wanita itu. Tapi tak berhenti sampai di sana, saat kedua tangannya menumpu pada pedang, kaki Ichigo menendang ke samping.

BUGHH!

"Bambietta!"

Teriakan Meninas terasa sia-sia saat Bambietta meluncur dengan bebas, menghancurkan setiap pohon dengan punggungnya sepanjang dua puluh meter sebelum terjatuh ke tanah. Tubuhnya gemetar dari rasa sakit itu, memegangi perutnya yang menjadi sasaran tendangan Ichigo. Mulutnya terbatuk dan mengeluarkan darah tapi wanita itu bangkit setelah mendapat sedikit kekuatannya kembali. Bibirnya menyeringai.

"Ya! Aku tidak keberatan sama sekali!"

Sihir hitam melingkupi tubuh Bambietta saat dirinya melompat, entah dari mana dia mendapatkan semua tenaga itu tapi tanpa ragu tubuhnya melayang di udara menuju satu titik. Ichigo mencabut pedangnya dan menangkis serangan itu tepat waktu. Giginya bergemelatuk keras, merasakan kekuatan sihir Bambietta yang melebihi milik Candice, juga tingkat keagresifannya. Waktu itu dia dalam mode Bankai, tapi saat berhadapan langsung seperti ini rasanya jadi berbeda. Dia tahu Bambietta kuat.

Mata Ichigo melebar saat aura Bambietta menampiknya ke dinding, di saat punggungnya kesakitan, serangan selanjutnya datang secara tiba-tiba. Membuat Ichigo terpaksa menghindar agar tak mendapatkan luka fatal. Bambietta yang malah memukul tembok sekali lagi mencari mangsanya di antara retakan yang sudah ada. Matanya bergerak-gerak lincah, membagi auranya menjadi empat yang masing-masing bentuknya seperti tentakel. Sambil terus menyeringai, sihir hitam itu menusuk-nusuk lantai yang sudah retak, tak membiarkan Ichigo menginjak tanah.

Gawat, jika ini dilanjutkan maka...

Toushirou hendak berlari maju, tapi kakinya tertahan begitu melihat Meninas.

Benar juga, dia akan menyerangku kalau aku ikut campur. Tapi Ichigo sudah mencapai batasnya untuk hanya menggunakan pedang, ditambah lagi wanita itu sengaja memancingnya.

"Hahhahahhahaha! Nah, begitu baru benar. Teruslah marah padaku! Lebih... lebih lagi!"

"Kusso!"

Ichigo yang kesabarannya hampir membunuhnya tetap mengerahkan kedua kaki untuk melompat lebih tinggi. Matanya berkilat penuh amarah. Mengeratkan genggaman di Zangetsu, dirinya mengambil ancang-ancang.

"GETSUGA..."

Seringai Bambietta melebar.

"Sudah kuduga. Jangan, Kurosaki!"

"...TENSHOOUUUU!"

Gemuruh yang datang itu begitu kuat, kering menghancurkan lantai serta benda-benda di sekitarnya. Tanah tempat Bambietta berpijak hancur berantakan, debu yang terbawa angin membuatnya harus menyipitkan mata, melihat tubuhnya sendiri sudah tergores di sana-sini, luka bakar dan darah yang mengucur di mulutnya sama sekali tidak dihiraukan. Dia tak bisa berhenti merasa senang. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan reiatsu Ichigo langsung di kulitnya. Meski sempat terjatuh, Bambietta kembali berdiri, menopang tubuhnya yang babak belur. Serangan itu seperti meluapkan seluruh emosi Ichigo, menghancurkan, merusak segala yang dilewatinya.

"Lagi...," gumamnya. "Lagi―uhuk, uhukk! Khh... gunakan itu lagi. Rasanya luar biasa."

"Apa dia sudah gila?" kata Toushirou, jijik pada Bambietta yang tampak seperti seorang masokis.

Ichigo menancapkan pedangnya ke tanah, mengusap bibirnya. Sembari terengah, dia memperhatikan tubuh lawannya yang seperti dipaksa bergerak. Si sadis Bambietta. Rasanya itu benar-benar julukan yang tepat. Kesal sekali, dengan kondisi seperti itu kenapa dia tidak menyerah?!

"Tch, sial... sial... sial...," Ichigo menunduk.

Tujuannya bukan ini, sama sekali bukan. Kenapa orang-orang selalu menghalangi jalannya? Dia hanya ingin melakukan sesuatu yang dianggapnya benar dan memperjuangkannya. Kenapa semua orang mencoba untuk menghentikannya? Apa yang salah dari itu?

"...Eh? Kenapa kau berhenti? Kenapa kau berhenti, Kurosaki Ichigo? Kita belum selesai, kau bahkan belum mengeluarkan Ban―"

"Bambietta."

Wanita itu menoleh, menemukan tatapan tajam Meninas padanya.

"Sudah cukup."

Baru Bambietta sadar, padatan reishi di tempat itu sedikit lebih berat. Dia mendongak ke atas saat langit menjadi lebih mendung dan matahari sepenuhnya tertutup awan. Sebentar lagi... dia bisa merasakannya. Seperti mendapat kesadarannya kembali, mata Bambietta melebar.

Gemuruh yang besar datang lagi.

"Apa itu?!" gumam Toushirou, matanya mencari-cari di seluruh tempat hingga tertuju pada atap istana Seireitei. Tempat itu tadinya menggelegar luar biasa, tapi sekarang bahkan tak tampak apapun di sana.

Jantung Ichigo berdetak lebih cepat, saat instingnya berkata akan datang kekuatan yang jauh lebih besar, dia mendongak ke atas. Tepat saat lantai terkoyak untuk kesekian kalinya. Menghancurkan pepohonan hingga meremukkan apa yang tersisa. Ketika Ichigo tak sempat untuk menghindar, tiba-tiba muncul seseorang yang membawanya begitu saja ke sebuah dahan pohon.

"...Ukitake-san?" gumam Ichigo terpatah setelah melihat pria berambut putih itu. Jantungnya tak bisa tenang. "Kenapa..."

"Tenangkan dirimu," Ukitake menatapnya serius. "Kau tidak bisa bertindak sendirian tanpa menyakiti orang lain."

Ichigo melirik Toushirou yang duduk di dahan tak jauh darinya dengan Hinamori. Bambietta dan Meninas menghilang. Menyadari itu, kepalan tangan Ichigo menguat.

Lalu untuk apa dia melakukan semua ini?

"Huh?!"

Baru beberapa saat gemuruh itu berhenti, muncul sesuatu yang tak kalah mengejutkan di langit. Mata Ichigo melebar, keringat dingin meluncur di tengkuknya seperti membawa berita buruk. Sesuatu berwarna hitam. Sesuatu yang mengintimidasi keluar dari kegelapan yang sesungguhnya. Bahkan sekarang, seorang Kurosaki Ichigo hampir gemetar.

"Tidak..."

―Yuuka desu―

"Yamamoto-sama."

Tes... tes... tes...

"Pengorbanan yang luar biasa, tak kusangka Anda akan mengambil keputusan ini hanya untuk meyakinkannya bahwa kita sedang serius."

Sebuah genangan tercipta di bawah lengan Sang Komandan tertinggi Pasukan Militer Soul Society―lengan kirinya. Genangan berwarna merah tua, kental dan semakin melebar―satu-satunya yang tersisa di arena itu selain bekas pertarungan yang masih menyala-nyala, serta luka yang baru. Genryuusai mendesah. Itu tadi pertarungan yang sengit, sudah lama dia tidak melihat mata itu. Mata milik Ywach yang gelap, dingin dan tak terjangkau.

Dia bertambah kuat.

"Tak ada yang tak setimpal dengan semua pengorbanan untuk Soul Society."

Mendengar jawaban Genryuusai, Sasakibe melirik sebuah lengan yang teronggok agak jauh dari mereka dan mengangguk pelan. Senyum kesedihan perlahan hadir di bibirnya.

"...Sou desu ne."

.

To be Continued

.


Author's note :

Hey, hey, heyy! Yuuka is back! Holiday is back! Exams are over yeaahhhh! Akhirnya udah Mei aja nih, itung-itung nyicil beberapa chapter yang tertinggal. Sebelumnya Yuuka salah kasi info di profil kalau update nya akan dilanjut mulai Maret, sebenernya maksud Yuuka bulan Mei, Yuuka minta maaf sebesar-besarnya *ojigi. Terima kasih untuk para pembaca yang udah nunggu dengan sabar fic ini meskipun Yuuka orangnya nggak konsisten tapi dengan tulus Yuuka ucapkan terima kasih banyak. Perjalanan masih panjang dan ini baru sampe chapter 13 mana wordnya dikit lagi hiks. Semoga pembaca sekalian bisa menikmati ya, kalo kepanjangan Yuuka takut adegan pertarungannya jadi garing hehe. Oiya, di chapter ini Yuuka buat agak mirip dengan komiknya di bagian Genryuusai yang tangan kirinya putus akibat pertarungannya dengan Yhwach *kalau di komiknya, tangan Genryuusai putus karena melawan Aizen. Jadi untuk seterusnya dia akan bertarung menggunakan satu tangan. Untuk Hanatarou, karena dia masih berpikir dengan tenang diam-diam dia cari info tentang titik buta kekkai sebelum memutuskan pergi ke sana, beda sama Ichigo yang nyelonong gitu aja lewat pintu depan. Ehh jadinya malah repot kan hehee mana Bambietta jadi mode hiper gitu.

Sebelumnya Yuuka cek ulang kayaknya ada beberapa yang Yuuka salah tulis jadi bisa jadi salah paham, nah Yuuka klarifikasi di sini ya

Pertama perbaikan di chapter 3 : Darah Kutukan. Ini kutipannya :

"Aku kenal Kuchiki Ginrei, dia kepala keluarga ke-28 yang salah satu anaknya merupakan ayah dari kakak iparmu, Kuchiki Byakuya..."―ini Yuuka perbaiki jadi kepala keluarga ke-27, karena pemimpin klan Kuchiki masih dipegang sama kakeknya Byakuya.

Kedua, perbaikan chapter 5 : Hati. Kutipannya :

"Dia hanya diangkat menjadi seorang Kuchiki karena kakak perempuannya menikah dengan kepala keluarga Kuchiki ."―karena pemimpin klan Kuchiki adalah kakeknya Byakuya otomatis Byakuya masih menjabat sebagai seseorang dari keluarga Kuchiki, bukan kepala keluarga Kuchiki.

Yup sudah semua nih. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in:

Kurosaki2241 : Ini sudah lanjut, makasih reviewnya *-* wah kayaknya kelamaan ya update nya hehe semoga kamu suka yaa

kon : Holaaa pertarungannya udah lanjut nih haha penasarannya lama banget ya karna Yuuka hiatus lama, gomen ne TAT Yoruichi belum keliatan nih dia masih berada di Dunia Manusia sama Urahara tapi nanti ada saatnya kok hehe makasih udah review ^^

matsumoto : makasih udah revieww nah sekarang malah Yuuka yang telat update ya hehe gomen gomen, ini sudah update. Kaien jadi kesel sama Ichigo tapi kira-kira maksud pembalasan dendam itu apa yaa hehe ikutin terus ceritanya yaa ^^

kazukiito : Kazukiito-san, terima kasih sudah mampir ke kotak review u,u ini Rukia baru keliatan sebentar, soalnya dia dikurung gitu sih sama I.P.P.S dan semua tempat di sana udah dipasang penghalang yang nggak memungkinkan sembarang orang masuk, kecuali Hanatarou yang udah punya bocoran informasi hehe maaf yaa semua penghuni Hueco Mundo kecuali Hollow sudah Yuuka tiadakan dari cerita ini jadi Nel nggak akan keluar soalnya kalo Espada dimasukin pasti tambah panjang tuh btw udah update nih semoga kamu suka ^^

BLEACHvers : Holaaaaa wah iya ya jadi keinget Bleach The Movie : The DiamondDust Rebellion, tapi di sini Ichigo vs Bambietta, bukan sama Toushirou hehe Ichigo sebenernya nggak mau terlibat lebih jauh sama Bambietta, tapi kalo udah seneng tu orang jadi nyebelin jadi Ichigo kepancing dan malah ngeladenin pertarungannya. Iya nih semangat Yuuka agak menurun akhir-akhir ini tapi sekarang udah mendingan soalnya Yuuka sering nonton anime action. Wah ada typo kah? Maaf ya kadang ada aja yang kelewat hehe makasih reviewnya yaa sudah update nih *-*