Disclaimer : bLEach TITE KUBO
Ichigo : Hello everyone ! (Teriak pake Toa)
Grimmjow : Sok inggris lo, tau nya cuma itu doank.
Ichigo : Rese banget sich lo, suke-suka gue donk. Iri yee,
Grimmjow : Busyet, amit-amit dah kalo gue ingiri sama lo. Orang ganteng kayak gue ngiri ma Lo, ihh ga' banget deh. (Gaya-gaya aLay)
Dhiya : Aduh berisik banget sich lo berdua kayak tom n jerry aje. Akur-akur donk sesama pemeran di Fic ini, kan kita Family (Ceramah kayak pak ustad)
Byakuya : Tumben Lo update kilat tor.
Rukia : Ho'o, biasanya lo ngilang dulu selama sebulan entah ke negri mana.
Dhiya : Maksud Lo berdua (Deathglare ByaRuki)
Aizen : Tor, napa sich Lo update lagu banyak banget di Ch sebelumnya.
Grimmjow : Iya tuh, banyak banget. Males ngetik Lo ya, apa jangan-jangan ga ada inspirasi sampe-sampe Lo update lagu biar bikin Fic Lo tambah panjang gitu.
Dhiya : Yee, bukan lagi. Gue update lagu, karna tuh lagu bener-bener pas sama moment di Fic ini, coba deh Lo denger lagu nya bukan nya baca. Pasti kerasa dalemnya tuh lagu di Fic ini. Nambah efek dramatis gitu.
Grimmjow : Apa yang dramatis, biasa aja tuh.
Dhiya : Lo mana suka sich lagu barat ama jepang, kan Lo suka nya lagu Iwak peyek. Mana nyambung tuh lagu di telinga Lo yang super-duper Dangdut maniak abis.
Grimmjow : Maksud Lo ( Ngacungin Zanpakuto ke arah Dhiya)
Dhiya : Kyaa, tolong gue Hitsu-kun (Ngumpet di punggung Hitsugaya)
Ulquiorra : Bales Review donk, ga sabar ini.
Rukia : Iya, berentem mulu, gue aja yang bales ya. Ini dari Ray Kousen7, Wah iya nich makin panas aja nich Fic, abis Nyokap bokap gue ikut nimbrung sich. Tapi nambah seru kan ? Hehehe
Retsu : Kok aku jahat banget sih di Fic ini, kayak bukan aku aja.
Dhiya : Hehehe, namanya juga manusia biasa. Pasti lah ada sisi kemarahannya melihat anaknya menderita. Orang tua mana sich yang ga tega liat anaknya sedih hanya karna seorang cowo.
Hitsugaya : Kalau gue suka sama Rukia, trus Momo ama siapa donk ?
Momo ngedeathglare Hitsugaya.
Hitsugaya : Tenang Momo My sweaty, My Honey, gue ga bakalan suka ma Rukia kok, Suer dah ! (Gagap Mode on)
Dhiya : Siapa bilang Lo ga bakal suka ma Ruki, kan gue yang disini jadi Authornya. Suka-suka gue donk, mau bikin Lo suka ma Ruki apa ga. (Author dimasukin Hitsu ke sumur)
Gin : Woii Tor kok makin berat aja sich saingan gue. Lo mau nyiksa gue ya (Teriak di dalam sumur)
Byakuya : Ckck, Selanjutnya dari Goldy 222. Tor dia seneng tuh, lo udah update Ch 12. Girang banget tuh kayaknya, Loh mana si Author ?
Dhiya : Gue disini Bya-kun, Hiks-hiks tega banget si Hitsu ma gue. Kan cuma bercanda doank. Waah, Interesting ? Hahaha, Thanks..Thanks. Ora opo-opo, no problem Goldy. Okay, so do not be sorry, i understand. By the way, you're not tired of all this translate Fic use a dictionary?, If I, standing dead translate as much as it. Hehehehe
Byakuya : Jangan sama'in sama Lo donk, dasar !
Grimmjow : Ngomong apa sich Lo berdua, kayak orang orang dari planet lain aja.
Dhiya : Husst, anak kecil ga boleh tau. Urusan orang dewasa !
Grimjjow masukin Dhiya kesumur lagi.
Grimmjow : Ya udah mari kita tinggalkan Author gila itu dan nikmati Ch 13 nya. Mohon Reviewnya ya.
ALL : Sampai ketemu di Ch 14 ya ^^
Chapter 13
.
"Gin... " lirih Rukia berlari kencang menembus butiran salju yang menerpa wajah cantiknya. Dengan cekatan Rukia berlari kekiri dan kekanan melewati kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Rukia pun menghentikan langkah kakinya pada sebuah bangunan yang cukup mewah. Dengan nafas yang terengah-engah, Rukia masih sanggup melebarkan kakinya menuju sebuah lift di dalam bangunan itu.
"Akhh, sial !" maki Rukia pada lift yang tak kunjung terbuka setelah beberapa kali ditekan tombol disisi kanan pintu lift. Tak kehabisan akal, Rukia segera beralih ketangga darurat yang berada tak jauh dari pintu lift. Secepat angin berhembus itu lah gambaran kecepatan langkah kaki Rukia menapaki anak tangga satu demi satu yang tidak henti-hentinya menyambut kaki mungilnya. Dibukanya pintu darurat dengan ganasnya, diendarkanya pandangan pada sebuah pintu yang bertuliskan nomor 301.
"Gin !" teriak Rukia sambil mengedor-ngedor pintu itu. Tak ada bunyi suara yang menyambut panggilannya, Rukia kembali mengedor pintu itu lebih kuat dari sebelumnya sehingga pintu disebelah kiri Rukia terbuka.
"Ada apa nona ?, Anda sedang mencari siapa ?" tanya seorang wanita paruh baya pada Rukia.
"Gin... Maksud saya penghuni kamar ini. Kemana dia ?" tanya Rukia dengan nafas yang tak beraturan.
"Ohh, Ichimaru-san. Dia sudah pergi tadi pagi. Tapi tidak tahu dia pergi kemana. Nona ada perlu dengannya ya. Nanti bisa sampaikan kalau dia sudah pulang" saran wanita itu.
"Kemana kau Gin" gumam Rukia pada diri sendiri. "Kemana lagi aku harus mencarinya. Akhh, ia dia pasti disana. Maaf saya buru-buru Oba-san, saya pamit dulu, terima kasih atas informasinya. Konichiwa" pamit Rukia sambil membungkukkan badannya pada wanita itu.
"Nona apa mau saya sampaikan padanya kalau dia sudah pulang nantinya" teriak wanita itu lagi.
"Tidak perlu Oba-san" teriak Rukia di ujung koridor.
"Ada apa Okaa-san ?" tanya seorang anak laki-laki pada wanita paruh baya itu.
"Ada yang mencari Ichimaru-san, tadi pagi Okaa-san lihat Ichimaru-san sudah pergi. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan gadis itu pada Ichimaru-san, jadi Okaa-san menyarankannya untuk meninggalkan pesan kalau Ichimaru-san pulang nanti. Tapi sepertinya gadis itu tidak mau, jadi ya sudah. Mau gimana lagi" jawab wanita itu.
"Loh, bukannya hari ini Ichimaru-san akan balik ke paris Okaa-san. Okaa-san lupa ya" kata anak laki-laki itu lagi.
"Ohh, iya. Bagaimana ini ya, Okaa-san benar-benar lupa kalau hari ini Ichimaru-san akan pergi ke paris. Ya sudah lah, kalau gadis itu kembali lagi kesini, Okaa-san akan memberitahukannya. Ayo, cepat kau pergi kesekolah nanti terlambat" kata wanita itu.
"Iya, aku pergi dulu" ucap anak laki-laki itu.
.
.
.
"Rukia selamat ulang tahun" teriak Momo cs girang saat Rukia memasuki kelas dengan peluh yang bercucuran dari pelipisnya.
"Waahh, Rukia hari ini ulang tahun ya" seru salah satu siswa di kelas itu.
"Heii, benarkah. Rukia hari ini ulang tahun. Selamat Rukia, ulang tahun yang keberapa nich ?" tanya salah satu murid.
"Hahh-hahh, Momo apa...apa kau tahu dimana Ichimaru sensei" tanya Rukia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Hahh, kau lupa ya Rukia-chan. Hari ini kan Ichimaru-sensei akan pergi keparis" jawab Momo dengan alis berkerut.
"Iya, Rukia-chan lupa ya" sambung Inoue.
Degg, seketika aliran darah Rukia membeku mendengar kata-kata dari Momo dan Inoue. Matanya yang semula tampak kelelahan sehabis berlari, kini membulat sempurna.
"Sudahlah Rukia, untuk apa kau mencari Ichimaru-sensei. Ada yang lebih penting nich, nahh sekarang kau buka hadiah dari ku. Aku tidak tahu sich benda apa saja yang kau sukai tapi aku harap kau senang dengan hadiah yangku berikan. Ini terimalah. Sekali lagi selamat ulang tahun ya" ucap Renji sambil menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang terbungkus rapi dengan kertas berwarna cream bermotif bola-bola.
"Selamat ulang tahun Rukia, semoga kau senang dengan hadiah dariku juga" kata Hitsugaya ikut menyodorkan sebuah kotak kecil.
"Maaf teman-teman aku harus pergi, ada hal penting yang harus kulakukan" kata Rukia hendak berlari keluar dari kelasnya.
"Heii, itu Ichimaru-sensei" seru salah satu siswa dengan telunjuk menunjuk kearah jendela kelas. Tampak Gin sedang berjabat tangan dengan Yamamoto-sama dan Urahara-sama di depan pintu masuk sekolah.
"Benar, ehh siapa itu ?" tanya seorang siswa perempuan dengan nada tak suka.
"Waaw, cantik sekali ya. Seperti artis saja. Jangan-jangan itu tunangannya Ichimaru-sensei lagi" celetuk salah satu siswa laki-laki.
"BENARKAH !" pekik seluruh murid perempuan kaget.
"Mana aku juga ingin lihat" kata Momo menuju kearah jendela yang telah dikerumuni para siswa 1-3.
"Cantik ya Momo" kata Inoue pada Momo.
"Iya, apa semua wanita di paris itu cantik-cantik ya" balas Momo dengan tatapan kagum.
"Apa sich, masih cantikan orang jepang tahu dari pada mereka" kata Ichigo kesal.
"Kenapa kau yang kesal, seharusnya kan kami para perempuanlah yang kesal melihat wanita secantik itu. Benar kan teman-teman" kata Tatsuki pada Momo dan Inoue. Yang disebut pun hanya menggangguk pasti.
"Hemm, Rukia bukannya kau tadi kau ingin menemui Ichimaru-sensei. Mumpung dia masih ada disini, ayo temuilah. Nanti keburu sensei pergi ke bandara loh" kata Momo pada Rukia yang diam mematung dipintu kelas.
"Tidak" kata Rukia berjalan kearah tempat duduknya. "Akan melelahkan ku saja kalau harus bolak-balik naik tangga hanya untuk bertemu dengan Ichimaru-sensei. Lagipula tidak ada hal penting yang ingin ku sampaikan padanya" kata Rukia sambil membuka kado yang ia dapatkan dari teman-temannya.
"Wahh, notebook ya. Terima kasih ya Tatsuki hadiahnya. Aku sangat senang sekali" kata Rukia dengan nada ceria yang sedikit dipaksakan.
"Kau kenapa Rukia, apa ada hal yang mengganggu pikiranmu ?" tanya Ichigo mendekat kearah Rukia.
"Kau ini ngomong apa sich jeruk. Aku tidak apa-apa, tidak ada yang mengganggu pikiranku kok" ucapnya tersenyum tipis.
"Rukia.." panggil Ichigo lirih.
"Ada apa lagi"
"Mungkin kau akan marah jika ku katakan ini, memang aku tidak tahu menahu masalah yang menderamu saat ini. Tapi, jika itu sangat menyiksa batinmu, maka turutilah kemana arah hatimu berlabuh, tempat yang bisa membuat hatimu nyaman, tenang, dan bahagia. Tujulah tempat itu Rukia, tujulah tempat yang benar-benar bisa membuat mu tersenyum bahagia. Kau tahu, dimana ada penderitaan disitu lah muncul kebahagian. Jadi larilah dari penderitaan itu dan tujulah kebahagian Rukia. Jangan pernah takut kau akan terus menderita, orang yang pernah membuatmu menderita pasti pernah membuatmu bahagia. Benar tidak ?" kata Ichigo tersenyum lembut.
"Ichigo..." gumam Rukia pelan sambil menatap Ichigo dalam.
"Ternyata kalian masih suka membuat acara sendiri ya" kata Aizen dari arah pintu masuk.
Secepat kilat semua murid kembali ketempat duduknya masing-masing saat melihat wali kelas mereka yang baru (Baru diangkat lagi sich) berjalan kearah depan kelas.
"Konichiwa anak-anak" seru Aizen lantang.
"Konichiwa sensei" balas seluruh murid.
"Tak ku sangka kalian semangat sekali, ku kira kalian bakal sedih karna harus berpisah dari Ichimaru-sensei" kata Aizen dengan tersenyum menawannya.
"Kalaupun sedih percuma. Toh Ichimaru-sensei tidak akan kembali lagi kesini" celetuk salah satu siswa.
"Hehehe, Oke-oke. Baiklah kita lanjutkan pelajaran kita, sampai dimana pelajaran kita kemarin" tanya Aizen pada seluruh muridnya.
"Halaman 46 sensei, tentang Logaritma" jawab Ishida sambil membuka bukunya.
"Hemm, logaritma ya. Baiklah kita bahas dulu pengertian Logaritma dan rumus-rumusnya. Yak kau, silahkan baca terlebih dahulu" tunjuk Aizen pada salah seorang siswa.
"Baik sensei" seru siswa itu. Selama pelajaran berlangsung pikiran Rukia kembali menerawang pada kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.
"Nii-sama, apa yang harus kulakukan. Kenapa aku sangat binggung seperti ini, disatu sisi aku merasa tak rela bila Gin harus pergi selamanya keparis, tapi disisi lain aku sangat marah padanya yang telah berani-beraninya menduakanku dan membohongiku. Terlebih sekarang dia malah pergi dengan wanita itu. Aarrgh, kenapa denganku. Kenapa aku seperti ini, sudahlah Rukia. Jika dia benar-benar mencintaimu, kenapa dia tidak mencoba bertahan dan menyakinkanku lebih giat lagi. Kenapa harus pergi dengan mudahnya bersama wanita itu. Memang benar dia itu tunangan aslimu, memang benar dia sangat istimewa dibandingkan dengan ku yang tidak ada apa-apanya. Tapi setidaknya buktikalah sekali lagi dan yakinkan hatiku" kata Rukia histeris dalam hatinya.
"Ukitake-san, apakah kau dengar apa yang kukatakan" tanya suara berat didepan Rukia. Rukia pun mendongkakkan wajahnya kearah asal suara itu.
"Iya sensei" tanya Rukia linglung.
"Hehh, aku tanya sekali lagi. Bisakah anda menjawab soal yang sudah kutuliskan ini. Jika kau benar-benar memperhatikan penjelasanku tadi pasti kau bisa menjawabnya" kata Aizen.
"Jangan biarkan egoisme mu mengalahkan nuranimu yang telah mencintainya. Ikutiah kata hatimu.." kata-kata Byakuya kembali terngiang di pikiran Rukia.
"A...Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menyerah, aku menyerah..." gumam Rukia pelan dengan wajah tertunduk. Rukia mengepal kedua tangannya dengan kuat, secara tak terduga Rukia bangkit dari kursi yang didudukinya. Melihat Rukia yang tidak merespon pertanyannya, membuat Aizen sedikit emosi.
"Ukitake-san. Bisakah kau menjawab soal yang kutuliskan ini !" kata Aizen setengah berteriak.
"Maaf Aizen-sensei, aku harus pergi" kata Rukia singkat sambil berlari ke luar kelas. Kontan seluruh seisi kelas terlonjak kaget melihat aksi Rukia yang kabur seenaknya plus agak menentang Aizen sich. Wahh-wahh, patut dikasih piala tuh.
"Ada apa dengan Rukia-chan ya" tanya Momo binggung pada teman-temanya. Teman-temannya hanya mengendikkan bahu, ikut heran sama seperti hal nya dengan Momo yang tak mengerti sikap Rukia saat ini.
"Dia sedang menuju kebahagiaannya" kata Ichigo dengan senyum lebarnya.
"Hahh ?" pekik Renji lebih heran dengan ekspresi yang ditunjukkan Ichigo.
"Ichigo, kau gegar otak ya. Biasanya kalau Rukia bersikap seperti itu, kau pasti yang paling sibuk diantara yang lain. Kenapa sekarang malah jadi seperti alien nyasar seperti ini" kata Hitsugaya dengan alis mengerut dalam.
"Tenanglah anak-anak. Oke kita lanjutkan pelajaran kita" teriak Aizen menenangkan para muridnya yang sedang berkicau.
.
.
.
"Rukia kau mau kemana. Kenapa terburu-buru seperti itu" tanya seorang pemuda saat melihat Rukia berlari mengebu-gebu menuruni tangga menuju lantai satu.
"Ahh, Shuhei-san a-aku harus pergi secepatnya. Ada hal penting yang harus kulakukan" kata Rukia terburu-buru.
"Kau mau kemana. Apa mau ku antar" saran Shuhei sambil menarik tangan Rukia yang hendak berlari meninggalkannya.
"Shuhei-san aku harus kebandara secepatnya" sanggah Rukia. Shuhei terdiam, sadar akan apa yang baru saja ia katakan membuat Rukia sedikit kaget dan menutup mulutnya.
"Pergi lah kalau begitu" kata Shuhei melepaskan tangannya dan berjalan perlahan meninggalkan Rukia.
"Shuhei-san.." panggil Rukia.
"Pergi lah Rukia, kalau aku mengantarmu ke bandara dia pasti akan merasa aneh. Aku tidak ingin memperkeruh suasana. Ayo cepat pergi lah, sebelum pesawatnya berangkat. Masih ada waktu Rukia untuk menahannya" kata Shuhei tersenyum lembut. (Wahh, langka banget ini moment bisa lihat Shuhei senyum kayak gitu, hemm).
"Arigato Shuhei-san" kata Rukia tersenyum lebar dan membungkukkan badannya. Rukiapun segera berlari melesat meninggalkan Shuhei yang terdiam diantara keheningan.
"Kau sudah memutuskan pilihan hatimu ya Rukia" gumam Shuhei pelan dengan mata menerawang kearah langit mendung yang menurunkan butiran-butiran kecil berwarna putih.
.
.
"Hahh-hahh-hahh-hahh, kenapa harus turun salju sich !" maki Rukia yang terus berlari sekuat tenaga menyusuri gang-gang kecil yang dilewatinya.
"Aku benar-benar bodoh ! Bisa-bisanya aku bersikap seperti itu padanya. Dia benar-benar telah membukitkan perasaannya padaku, semuanya telah jelas. Aku lah yang terlalu ceroboh, egois, keras kepala tanpa memikirkan perasaannya yang benar-benar mencintaiku. Gin telah cukup membuktikan perasaannya padaku sampai-sampai rela menghadapi kedua orang tuaku, apa lagi yang harus ku minta darinya untuk menyakinkan perasaannya kalau dia sangat mencintaiku, semuanya sangat jelas lebih jelas dari seharusnya. Harusnya akulah yang membuktikan perasaanku padanya, bukan dia. Kau bodoh sekali Rukia !" hardik Rukia pada diri sendiri sambil terus berlari.
"Kumohon...Jangan tinggalkan aku.." lirih Rukia dengan suara bergetar. Pikirannya kembali menerawang pada kejadian dimana Byakuya meninggalkan dirinya untuk terakhir kali nya saat ia berusia 3 tahun tepat hujan salju seperti yang terjadi sekarang ini.
"Cukup Nii-sama saja yang meninggalkan ku disaat ulang tahunku seperti waktu itu" lanjutnya lagi, perlahan air mata Rukia turun membasahi pipinya.
Saking seriusnya berlari, Rukia tak menyadari ada batu kecil didepannya hingga ia terjatuh dengan posisi telungkup. "Huhuhuhu, Kumohon...Kumohon Gin jangan tinggalkan aku" teriak Rukia mencoba menahan rasa sakit di kakinya dan terus berlari keluar gang menuju jalan raya.
"Apa yang harus ku lakuakan. Seseorang tolong aku !" pekik Rukia dalam hati sambil melihat kekiri dan kekanan. Air matanya yang terus mengalir seperti tak di pedulikannya, begitu juga tatapan-tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya. Rukia tidak perduli, bagi Rukia yang terpenting saat ini bertemu dengan Gin, hanya Gin seorang.
"Hei, apa yang kau lakukan ! Minggir, aku mau lewat" ucap seorang pria dari arah mobil berwarna kuning dengan klakson yang ikut membahana.
"Taksi !" teriak Rukia saat melihat mobil yang terus mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga.
.
.
.
"Gin kenapa kau melamun ?" tanya seorang wanita muda cantik menyodorkan kopi kearah wajah pria itu.
"Thanks" ucap Gin singkat, tangan kanannya terulur menggapai kopi yang disodorkan wanita itu padanya. Wanita itu pun duduk disebelah Gin.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, kenapa kau melamun ?" tanya wanita itu lagi sambil menyeruput kopinya.
"Tidak, siapa yang melamun. Aku hanya menghangatkan diri saja, sepertinya diluar saljunya semakin lebat saja ya" elak Gin mengalihkan pembicaraan. "Apa kau lapar, Rangiku ?" tanya Gin lagi.
"Tidak, aku tidak lapar" jawabnya sambil tersenyum. Rangiku tahu saat ini Gin sedang berbohong pada nya, ia tahu Gin pasti memikirkan sosok gadis bermata ungu yang pernah dijumpainya beberapa bulan yang lalu. Sosok gadis yang mampu meruntuhkan rasa cinta Gin untuk dirinya. Tak masalah bagi Rangiku bila Gin memikirkan gadis itu saat ini, tapi yang terpenting. Gin harus pergi dari jepang secepatnya dan lambat laun ia pasti akan melupakan gadis itu seiring berjalannya waktu. Memang menakutkan bila cinta mulai berbicara di luar semua nalar dan logika yang terus berkembang dipikiran manusia jaman modern seperti sekarang. Tapi apa boleh buat, cinta memang terkadang sulit dimengerti dan dijelaskan pada orang yang merasakannya. Sama seperti halnya Rangiku, ia hanya wanita biasa yang yang juga menginginkan cinta dari seseorang yang amat dicintainya, sekalipun itu harus mengorbankan segalanya, dan banyak yang akan tersakiti. Egolah yang paling berkuasa saat cinta itu berhasil menutup mata dan telinga si penderitanya. Ya itu lah cinta, ada yang manis dan juga ada yang pahit.
Gin tersenyum tipis mendengar jawaban Rangiku. Pandangan matanya yang semula mengarah pada wanita yang duduk disamping kini beralih pada gelas kertas di tangan kanannya, seolah memandang gelas itu adalah kenikmatan sendiri bagi Gin.
"Gin.." panggil Rangiku pelan sambil menyusupkan tangan kirinya ke tangan kanan Gin.
"Ehh, apa ?" kata Gin singkat.
"Semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Kepergian kita keparis adalah keputusan yang tepat. Seiring berjalannya waktu, semuanya yang kita alami disini akan sirna dengan sendirinya. Jadi jangan terlalu dirisaukan ya" kata Rangiku menggengam erat tangan Gin.
"Iya..Aku berharap juga demikian" kata Gin pelan.
.
*Didepan bandara. Tampak sebuah mobil taksi melesat dengan gesit di depan bandara Norita-Jepang. Sosok gadis mungil dengan langkah menggebu-gebu memasuki bandara tanpa memperdulikan kakinya yang terus mengeluarkan darah.
"Dimana kau Gin" ucap Rukia frustasi dengan mata yang intens melihat kekanan dan kekiri, berharap sosok yang ia cari ada ditempat itu. Tak kunjung menemukan sosok yang ia cari, Rukia pun berlari dengan cepat menyusuri semua tempat yang terjangkau matanya.
"Kemana lagi aku harus mencarimu Gin ditempat seluas ini" teriak Rukia sedikit keras setelah berlari menyusuri beberapa tempat di bandara itu.
"Kau dimana" lirih Rukia putus asa. Matanya sedikit berkaca-kaca menahan gejolak kesedihan yang hampir meruntuhkan semangatnya. "Kemana lagi aku harus mencarimu" katanya sedikit terisak.
"Perhatian-perhatian. Pesawat Paris Airline dengan nomor boieng 546 tujuan Paris, Perancis. Akan segera berangkat dalam waktu 3 menit, harap semua penumpang memasuki pesawat. Terima kasih"
"Itu..." katanya pelan sambil berlari menuju rute penerbangan ke paris yang akan berangkat sebentar lagi.
.
"Gin ayo kita masuk. Sebentar lagi kita akan berangkat" ajak Rangiku menarik tangan Gin yang masih duduk di kursi tunggu. Dengan enggan Gin beranjak dan berjalan mengikuti Rangiku.
"Iya" katanya singkat.
Rangiku tersenyum, kemudian mengeluarkan tiket pesawat dari tas tangan yang ia genggam dan memberikannya kepada petugas pemeriksa tiket.
"Silahkan masuk, semoga perjalanan anda menyenangkan" ucap petugas itu. Rangiku dan Gin hanya mengangguk pelan dan berjalan beriringan memasuki sebuah ruangan.
.
Rukia berlari menuju barisan orang-orang yang sedang mengantri pemeriksaan tiket dengan langkah brutal.
"Maaf nona, anda harus mengantri dulu seperti yang lainnya kalau ingin masuk kedalam" tolak petugas itu saat Rukia menyrobot masuk kedalam.
"Maaf pak, saya tidak bisa menunggu. Ini sangat penting, saya mohon biarkan saya masuk" pinta Rukia berusaha masuk ke dalam ruangan itu.
"Bisa saya lihat, paspor dan tiket penerbangan anda" tanya petugas itu lagi.
"Saya tidak punya, maaf pak saya sangat buru-buru. Saya hanya ingin menemui seseorang sebentar saja. Setelah itu saya pergi" kata Rukia yang masih berjuang untuk masuk keruangan itu.
"Nona peraturan disini hanya memperbolehkan calon penumpang yang memiliki paspor dan tiket penerbangan saja bisa masuk. Maaf, sebaikknya nona pergi, sebelum saya memanggil security untuk menyeret anda keluar karna telah melanggar ketertiban dan ketenangan di sini" kata petugas itu sedikit menaikkan anda suaranya.
"Heii, minggirlah. Kami juga buru-buru, jangan menghambat waktu kami saja" dengus salah satu calon penumpang di belakang Rukia.
"Iya. Kami bisa ketinggalan pesawat jika kau terus berada disitu !" lanjut seorang laki-laki di belakang orang itu.
"Tidak, saya tidak akan pergi sebelum anda mengizinkan saya masuk" kata Rukia tegas tanpa menghiraukan amarah dari para calon penumpang yang ada dibelakangnya.
"Nona sebaiknya nona pergi sebelum saya bertindak kasar pada anda" ancam petugas itu lagi.
"Aku tidak takut" tantang Rukia yang masih berusaha masuk walaupun sudah dihadang oleh petugas itu.
"Security !" teriak patugas itu pada 2 orang pria yang sedang berjalan di tempat yang tak jauh dari mereka.
"Ada apa" tanya laki-laki itu saat menghampiri petugas itu.
"Bawa nona ini keluar. Nona ini sudah menggangu ketertiban dan kenyamanan calon penumpang kita !" kata petugas itu.
"Baik. Ayo nona sebaiknya anda pergi dari sini" kata salah satu Security sambil mencengkram lengan Rukia agar menjauh dari petugas.
"Tidak mau, saya mohon izinkan saya sebentar saja untuk masuk kedalam. Ada seseorang yang harus saya temui" tolak Rukia yang terus berontak dari Security yang mencengkram lengannya dengan kuat. "Gin ! Gin ! Ini aku. Ku mohon keluar lah" teriak Rukia lantang.
"Tidak bisa nona, selain calon penumpang tidak ada yang boleh masuk. Peraturannya memang seperti itu nona, maaf" kata security yang satunya.
"Saya mohon izinkan saya masuk, ini sangat penting, kumohon" kata Rukia setengah memelas.
"Maaf nona, sudah saya bilang tidak bisa" kata security itu lagi.
"Saya mohon izinkan saya bertemu dengan orang yang saya cintai disana !" teriak Rukia melengking dengan air mata yang telah tumpah di pipinya.
Semua orang terdiam mendengar perkataan Rukia, termaksud para security yang semula menggengam tangannya perlahan melepaskan cengkramannya.
"Saya mohon, biarkan saya masuk. Kalau saya tidak bisa menahannya saat ini, dia akan pergi selama-lamanya meninggalkan saya" kata Rukia disela-sela tangisnya yang semakin menjadi.
"Saya mohon..." isak Rukia sambil mengelap air matanya yang tidak henti-hentinya turun dengan punggung tangannya.
Para calon penumpang menatapnya sendu, ada yang mengasihaninya, ada juga yang menatap penuh benci pada petugas yang tega-teganya menahannya untuk masuk.
"Saya sangat mencintainya, saya tidak ingin dia pergi. Saya tidak bisa hidup tanpanya kalau dia tidak ada didekat saya. Bi-biarkan saya masuk, kumohon" kata Rukia lagi.
"Masuklah" kata petugas itu setelah diam beberapa saat.
"Ehh !" Rukia menghentikan aktivitas mengelap air matanya dan mendongkkan wajahnya secepat kilat kearah petugas itu.
"Ayo cepat masuk nona, cepat. Nanti pesawatnya berangkat" seru petugas itu pada Rukia.
Air mata Rukia kembali merebak, bibir mungilnya mengatup dengan kuat menahan isak tangisnya yang akan pecah.
"Nona apa lagi yang kau tunggu, ayo cepat susul dia" kata salah satu penumpang di belakang. Rukia pun menoleh kearah suara itu.
"Terima kasih..." ucapnya dengan suara bergetar.
"Nona jika anda masih diam seperti ini, nanti saya akan berubah pikiran. Ayo cepat masuk nona" kata petugas itu tersenyum lembut padanya.
"Terima kasih, terima kasih semuanya" kata Rukia tak henti-hentinya sambil berlari kecil masuk kedalam ruangan itu.
.
"Kau kenapa Gin. Ada apa ?" tanya Rangiku heran melihat Gin yang tiba-tiba berhenti.
"Ahh, tidak. Aku merasa tadi ada yang memanggilku. Seperti nya aku salah dengar" jawab Gin singkat meneruskan langkah kakinya yang sempat berhenti. "Aku pasti salah dengar, atau mungkin saja aku berhalusinasi. Tidak mungkin, itu pasti tidak mungkin. Dia..pasti tidak akan datang kesini hanya untuk menghentikan ku. Sudahlah Gin, jangan terlalu berharap pada hal yang tidak mungkin terjadi" kata Gin dalam hati.
"Ohh begitu" lanjut Rangiku ikut berjalan mengikuti Gin yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Gin dan Rangiku memasuki sebuah lorong panjang bersama dengan penumpang yang lainnya, Kemudian setelah melewati lorong mereka pun berjalan kesebuah pintu menuju kearah tangga pesawat yang telah disiapkan untuk para penumpang.
"Ahh capek juga ya walaupun kita hanya menunggu pesawat saja" kata Rangiku menghempaskan tubuhnya dengan keras diatas kursi yang didudukinya. "Oh ya Gin setelah sampai diparis nanti, kau mau kemana. Kerumah orang tuamu, atau jalan-jalan ?" tanya Rangiku ceria pada Gin.
"Gin.." panggil Rangiku pelan saat sadar Gin tidak merespon ucapannya. "Gin...Gin kau kenapa ?" Rangiku mengoyang-goyangkan tangan Gin sedikit kuat sehingga Gin sadar dari lamunan panjangnya.
"Ahh iya. Ada apa Rangiku" tanya Gin terbata-bata.
"Apa kau baik-baik saja Gin" tanya Rangiku sedikit khawatir.
"Ehh, aku baik-baik saja kok. Kau tenang saja kau tidak akan mabuk kok kalau hanya naik pesawat saja, hehehe" kata Gin tertawa kecil.
"Apa kau yakin, kau mau pergi dari sini. Apa tidak apa-apa" kata Rangiku lagi.
"Ak-aku yakin Rangiku. Ak-aku sudah membulatkan tekat ku untuk pergi dari sini" kata Gin gagap.
"Hemm, begitu ya" kata Rangiku tersenyum kecut.
..
.
..
"Dimana kau Gin" gumam Rukia berlari melewati kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. "Kau dimana ?" lirihnya menghentikan langkah kakinya setelah pencarian yang tiada hasil.
"Kau dimana Gin !" teriak Rukia kencang tanpa memperdulikan pandangan orang-orang yang menatapnya aneh.
"Jangan pergi Gin, kumohon. Aku tidak ingin sendiri, aku tidak sanggup hidup tanpa mu. Aku sangat mencintaimu, keluarlah !, kumohon jangan pergi. Jangan pergi Gin !" teriak Rukia histeris.
"Gin...Gin !, Ayo keluar Gin !" teriak Rukia lagi membalikkan tubuhnya kekiri dan kekanan seirama dengan arah matanya yang menyapu semua tempat yang ia lihat.
Tak lama bunyi gemuruh terdengar dari balik kaca besar disisi kanan Rukia disertai bayangan besar melintas menjauh dari pandangan matanya. Rukia diam membeku melihat sebuah pesawat, terbang dengan bebasnya. Seketika pandangan Rukia tampak kabur karna genangan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Dengan tangan gemetar Rukia mencoba menutup mulutnya.
"Jangan...Jangan... Jangan pergi" lirih Rukia berjalan gontai mendekat kearah kaca itu.
Bruuk ! Rukia terduduk tak kuat menahan tubuhnya yang gemetar hebat. Pandangan matanya tetap tak beralih melihat pesawat yang telah menghilang dibalik hujan salju yang diselimuti kabut tipis.
"Dia pergi..." katanya serak. "Dia pergi..pergi meninggalkanku" lanjutnya lagi.
"Akhhhhh ! Kenapa kau pergi Gin ! Kalau kau marah padaku, kumohon maafkan lah aku tapi jangan tinggalkan aku. Gin..Huhuhu...Gin... !" teriak Rukia histeris dengan air mata yang telah membanjiri wajah cantiknya.
Pepatah bilang, hukum karma masih berlaku. Ya mungkin ini lah karma yang harus diterima Rukia karna telah menyakiti hati Gin. Hukum alam memang tidak bisa ditebak, ya. Disaat Gin menangis dalam hati karna harus memperjuangkan rasa cintanya untuk Rukia yang telah ditolak Rukia mentah-mentah. Sekarang malah Rukia yang harus menangis karna dilepaskan oleh Gin. Mungkin bagi Rukia takdir yang ia jalani benar-benar tidak berpihak kepadanya. Betapa tidak adil saat ia ingin mengenal cinta, harus merasakan pahit yang teramat luar biasa akibat kebohongan dan pengkhianatan. Ditinggal oleh orang yang mencintainya selama 12 tahun, dan berbagai kenyataan yang tidak pernah ia kira sebelumnya. Bahkan sekarang ia harus merelakan orang yang ia cintai pergi selama-lamanya. Sungguh ironis cinta yang Tuhan kenalkan pada gadis malang ini.
.
...
.
.
...
.
Rukia berjalan dengan gontai menyusuri jalan yang dilalui oleh orang-orang yang berlalu lalang dengan sibuknya. Pandangan matanya kosong, tak ada cahaya sedikitpun. Matanya sembab, tangannya merah karna udara dingin yang menusuk kulit putihnya yang tak terselimuti sarung tangan hangat terbuat dari benang wol. Luka dikakinya telah kering oleh darah yang semula terus keluar. Tak ada lagi rasa sakit yang timbul dari luka itu. Yang ada hanya rasa sakit di hatinya karna telah ditinggal oleh orang yang sangat ia cintainya selama-lamanya. Bibir mungilnya terus mengucapkan satu kalimat yang tiada henti-hentinya di lontarkanya seperti sebuah mantra ajaib yang bisa mengabulkan permintaannya.
Bukk ! Rukia terjatuh karna di tabrak seseorang dengan kasarnya.
"Akhh, sial. Sakit tau, kalau jalan itu pakai mata donk. Nabrak orang sembarangan aja !" hardik pria itu dengan kasarnya pada Rukia yang terduduk di tanah. "Ayo cepat minta maaf !" lanjut orang itu lagi.
Rukia diam, pandangan matanya menatap lurus salju yang ia duduki. "Maafkan aku Gin, aku mohon jangan pergi dariku" kata Rukia pelan.
"Apa !" teriak pria itu. "Hei, kau ini tuli ya. Ku bilang minta maaf padaku, bukannya minta maaf pada orang yang kau sebutkan itu ! Ayo cepat sebelum kesabaranku habis !" semburnya lagi.
Rukia tetap tak mengubris, malah semakin kuat menyebutkan kalimat yang ia lafalkan sendari tadi.
"Kau ini mau cari mati ya !" katanya berang sambil menarik kerah baju Rukia sehingga Rukia terangkat dari tanah yang didudukinya. "Kuperingatkan sekali lagi. Cepat minta maaf padaku atau aku akan-..."
"Akan apa !" ucap suara horor dari arah sampingnya dengan tangan yang mencengkram kuat lengan pria yang menarik kerah baju Rukia.
"Ekh ! Siapa kau !" kata pria itu tak terima menerima perlakuan orang yang mencengkram kuat lengannya hingga ia meringis kesakitan.
Rukia yang semula menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong sedikit terbelalak melihat sosok yang tak ia duga ada dihadapannya.
"Kutanya kau sekali, apa yang mau kau lakukan pada gadis ini hah !" teriak sosok itu murka.
"Memangnya apa hubungannya denganmu. Kalau aku mau memberikan pelajaran atas ketidak sopanan anak kecil ini, kau mau apa !" kata pria itu lantang.
"Berani kau menyentuhnya, akanku patahkan kedua tanganmu hingga kau tidak bisa mengunakannya lagi. Cepat lepaskan dia !" teriak sosok itu lagi menghentakan tangan laki-laki itu dengan ganasnya hingga gelang dan jam tangan yang dipakai pria itu terlepas dengan mudahnya.
"Pergi kau dari sini, sebelum kesabaranku benar-benar habis. Cepat !" katanya melengking sambil mencekik pria itu dengan satu tangan. (Waaww, ganasnya !, swit-swit *Author ditimpuk Readers pake pot bunga).
Dengan wajah ketakutan, pria itu pun lari terbirit-birit meninggalkan Rukia ditempat.
"Kau..." lirih Rukia dengan ekpresi yang tak percaya akan yang apa dilihatnya kini.
.
.
.
TO-BE-CONTINUE
