-LOVE MATERIAL Chapter 13-
Pairing: SoonHoon/HoZi
Caster: Kwon Soonyoung/Lee Jihoon/ Seventeen member's
Lenght: Multi-chapter
Genre: Drama, Hurt Comfort, Sad, Romance.
Rating: T (PG-15)
^Happy Reading^
.
.
...
Hiruk pikuk suasana festival bunga malam itu meriah—arak-arakan akbar sangat menarik untuk dilirik.
Padat pengunjung yang berdatangan membuat beberapa jalan terpenuhi dengan jajaran mobil yang melaju lambat layaknya siput. Macet. Benda-benda metalik itu memanjang ke belakang. Mungkin jika bukan acara besar, si pengemudi akan berlomba menekan klakson supaya diberi jalan leluasa.
Kwon Soonyoung dengan santai memutar kemudinya, tak seperti pengguna jalan lain yang dibuat mendidih dan mengumpati siapa saja yang melintas di depan kendaraan mereka. Soonyoung justru tenang—mengangguk-anggukkan kepala kala lantunan peserta parade di depan sana terdengar.
Festival ya? Oh, festival rupanya—ajang mewah yang sering digelar di waktu-waktu tertentu; musim libur, menjelang musim gugur, yang paling megah yakni festival di penghujung tahun.
Yang paling Soonyoung ingat adalah festival terakhir, tentu saja. Dimana hal itu menjadi garis awal ia menjatuhkan diri dalam lautan penuh duri, tenggelam dalam sebuah permainan yang disebut kebohongan!
Oke lupakan! Itu sudah berlalu lama dan setidaknya kini Soonyoung sudah berkeinginan untuk menguburnya dalam-dalam.
Soonyoung memicing kala seseorang yang ia kenali nampak melenggang di bahu jalan, tangan kiri tertelan kantung celana sementara tangan lainnya menggenggam sebotol sari buah. Tak salah lagi, Soonyoung mengenal sosok tampan berkulit kuning itu. "Yo! Junhui!"
Si pemilik nama dengan cepat merespon, Jun mendekat kala Soonyoung melambai. Masuk ke dalam mobil begitu saja kemudian duduk di sebelah Soonyoung. "Senang sekali bertemu kau disini. Aku tak perlu berjalan jauh demi sebuah taksi."
"Ck, puitis! Darimana? Mengunjungi festival?"
"Mengantarkan rangkaian bunga milik saudaraku yang tertinggal setelahnya pulang, kau mau?" Junhui menunjukkan botol bersegel itu pada sang teman. "Kau kemana? Ingin ke festival? Lebih baik jangan, disana gerah—dan tak menarik."
"Begitukah? Tidak. Aku kebetulan saja melintasi jalan ini, barusaja mengantarkan adikku pulang."
"Adik? Kau mempunyai seorang adik?"
"Saudara," ralat Soonyoung.
"Ah, kukira. Ambil jalur kiri saja, di ujung sana semakin padat. Aku tahu jalan pintas di sekitar sini."
Mendengar ucapan Jun, Soonyoung segera menyalakan lampu sen kemudian berbelok ke kiri. Benar saja, setelah beberapa kali bertemu kelokan, ia sampai di sebuah pintasan jalan raya lengang.
Keduanya terbelenggu dalam sebuah obrolan sederhana, seputar tugas dan kegiatan—sebelum Junhui mengernyit dan dibuat keheranan ketika Soonyoung membawa laju mobil ke arah tak seharusnya. "Ini bukan jalan menuju rumahmu, Soonyoung. Kau ingin kemana? Membawaku jalan-jalan? Ah, terima kasih sekali." Tinjuan kecil Jun layangkan di pundak sang teman.
"Tentu saja, kau ingin kemana?"
"Aigoo... aku berjanji tidak akan membuatmu kerepotan dan tidak akan nakal—oke, paman?" Junhui meletakkan kelima jarinya di dahi, seakan-akan sedang memberi penghormatan pada Soonyoung.
Keduanya tergelak, saling mentertawakan kekonyolan masing-masing.
"Coba kau terka, kiranya aku membawamu kemana?"
"Uh?" Junhui menelengkan kepalanya, menebak jalur tunggal yang kini mereka lalui—dua detik berikutnya kedua mata Junhui melebar begitu mengenal bangunan menjulang di ujung jalan. "Kafé Gureum? Kau membawaku kesana? Bukankah Jihoon pekerja disana?"
Soonyoung menepi, mematikan mesin mobil setelahnya. "Kau benar. Aku ingin menemuinya, aku ingin mengakhiri semuanya malam ini. Seperti saranmu tempo hari." Soonyoung membuang napas pendek.
Junhui syok. Benarkah yang sedang menggenggam lingkar kemudi di sebelahnya ini Kwon Soonyoung? Si pemuda keras kepala? Si pengacau yang selalu ingin menang semaunya? Menyadari mimik wajahnya terlalu kaku, terlebih kini Soonyoung tengah menatapnya bingung—Jun meringis canggung.
Seolah tak ada hal aneh yang ia dengar, si tampan itu menerbitkan sebuah senyuman. "Aku paham."
"Ya aku tahu, ucapanku terdengar lucu di telingamu bukan? Tapi percayalah... aku bisa, Junhui."
Jun mengangguk, "Bukankah aku sudah mempercayaimu sedari dulu? Kau saja yang terlalu senang mengulur waktu."
Itu benar, dan Soonyoung mengiyakan. Jika dipikir-pikir memang Junhui acap kali meminta dia untuk memperbaiki segalanya, hanya saja dia tak berani bergerak dan memilih diam di tempat!
Obrolan itu terpangkas kala keduanya melihat beberapa meter di depan sana seseorang muncul dengan tangan bekerja memainkan ponsel. Jihoon terlihat sibuk dengan panggilan, langkah kakinya boleh dikatakan tergesa untuk aturan orang pulang kerja biasa.
Soonyoung mengantongi ponselnya sembarangan, kemudian melirik ke samping. "Kau bisa mengemudikan mobil 'kan? Bawa mobilku kemanapun. Aku harus menemuinya."
"Bisa, sedikit. Aku tak yakin mobilmu akan baik-baik saja nanti," tutur Junhui ragu. Serius, memang dia tak piawai memainkan kemudi.
"Terserah saja, tak apa."
Soonyoung sudah terburu-buru keluar, tak ingin kehilangan jejak Jihoon yang semakin jauh dari jarak pandang.
Baru beberapa langkah ia berlari, lengkingan Junhui kembali menyapa gendang telinganya. "Aku percaya padamu, Soonyoung-ah! Aku percaya!"
Tak ada hal membahagiakan lagi selain mendapati temannya berlaku dewasa seperti ini. rasanya tak sia-sia Junhui menberondong banyak ucapan ketus dan kasar selama Soonyoung merengek meminta pendapatnya, merecoki banyak pertanyaan sampah. Tak percuma ia memberi hantaman kuat tempo hari. Kwon Soonyoung kini sudah dapat mengendalikan diri; bongkahan es beku itu perlahan dapat mencair juga ternyata.
Kebahagiaan itu datang, Jihoon. Kau akan segera menggenggamnya. Apa kau senang?
Jun engemudi dengan hati-hati mengingat ia tak benar-benar pandai dalam hal ini. Membawa kendaraan beroda empat itu mengikuti jejak sang empu. Jun memantau kedua orang yang ia kenal itu dari seberang jalan—berkali-kali mengumpat ketika Soonyoung tak berani mendekat, temannya itu terlihat bimbang. Dia sudah berpikir yang bukan-bukan; Jun sudah sangat yakin Soonyoung akan berubah pikiran, namun spekulasi ini sirna ketika si pemuda berkemeja gelap itu turut masuk ke dalam bangunan, mengekori Jihoon-nya.
Dalam rentang waktu lima belas menit, dua sosok itu keluar dan tampak mendebatkan sesuatu di depan pintu masuk. Bersitegang, menjadi bahan tontonan beberapa pejalan kaki, sebelum kemudian Soonyoung berinisiatif membawa Jihoon pergi.
Junhui pasrah—terlepas dari status berhasil atau tidak? Itu urusan mereka. Ya, bukan urusannya! Yang menjadi urusannya adalah ketika ada sebuah taksi berhenti tepat di sebelah mobil yang ia huni—sosok bertubuh semampai keluar dari taksi tersebut, seseorang yang terlihat bersemangat.
Bukan karena parasnya yang menggemaskan, bukan karena topi manis yang terkesan kekanakan, tapi panggilan nama yang pemuda itu serukanlah penyebab kedua mata Junhui membulat lebar.
"Jihoon hyung... Jihoon hyung? Kau sedang bertengkar dengan siapa? Hei, berhenti... jangan melukai temanku."
Junhui melompat begitu saja, ia merangsek keluar dan mencegah langkah orang asing itu dengan segera. "T—tunggu dulu, jangan kesana."
"YA! Kau siapa?"
"Jangan mendekat, mereka tidak sedang bertengkar."
Jun mendapat tepisan lalu disusul cecaran kalimat pedas, "Tak sopan sekali. Jangan menyentuhku sembarangan! Kau gila, huh? Temanku sedang bertengkar dan aku dilarang melerai?"
Buku tangan Junhui yang beberapa detik lalu mendapat sapuan keras kini mengepal. "Begini, begini... pertama, aku Junhui—dan, kedua orang yang kau maksud sedang bertengkar itu temanku. Mereka berdua temanku, mereka sedang berusaha memperbaiki keadaan. Tolong jangan ganggu mereka, biarkan mereka leluasa mengutarakan pikiran masing-masing agar semuanya lekas berakhir."
"Aku tidak tanya siapa namamu, dasar sinting! Jika memang Jihoon hyung temanmu, kau harus melerainya!"
"Oh, ya Tuhan, kau yang bertanya siapa aku 'kan? Aku Junhui."
"Bukan begitu maksudku. Sial," Si manis menggerutu. Dua detik berikutnya memekik histeris ketika melihat hyungnya menangis. "Jihoon hyung. Kau lihat? Dia menangis. Teman macam apa kau ini, aish! Jihoon hyung... ya, ya, ya lepas, hei!"
Tidak ada pilihan lain.
Junhui menggiring sosok asing itu dengan paksa lalu kembali berteduh di dalam mobil temannya.
"Mereka memang temanku, aku berani bersumpah. Mereka berdua sudah terlalu lama memendam emosi, untuk malam ini biarkan mereka menyelesaikan masalah, kumohon jangan mendekat dulu. Jika memang kau teman Jihoon, dengarkan ucapanku."
"Mereka memiliki masalah apa sebenarnya?"
"Masalah pribadi, kau mengerti maksudku 'kan?"
"Tidak. Itu kenapa aku ingin sekali menamparmu sekarang!" ketus si pemuda bermata almond itu seraya menunjukkan kepalan tangan. "Kau sudah berlaku lancang membawaku ke dalam mobilmu, buka!"
Jun menghela kalah, sosok di sebelahnya ini sepertinya tidak tahu menahu dengan selentingan kata 'masalah' yang ia serukan. "Mereka berdua sepasang kekasih dan beberapa waktu lalu hubungan mereka sedang memburuk. Kini, apa kau sudah mengerti?"
"A—ah begitu," Minghao mengangguk pelan.
Jadi itu alasannya sosok tak dikenal ini menyanderanya dan tidak mingijinkan dia mendekati Jihoon? Tak memperpanjang lisan, Minghao meminta Junhui untuk membuka autolock kemudian angkat kaki.
Jun serta merta turut keluar dari mobil Soonyoung. "Hei, sudah kubilang bukan, jangan dekati—"
"Stop! Stop! Stop! Kau ini cerewet sekali. Aku tidak akan mengganggu mereka. Aku hanya ingin ke toko ibuku, itu saja!"
"Apa ucapanmu bisa kupercaya?"
"Pria ini..." barisan gigi Minghao bergemeletuk, ia bersumpah serapah menggunakan lain bahasa yang mana sebenarnya sudah sangat dikuasai oleh Junhui.
"Kau orang China?" perihal tak berbobot itulah yang pada akhirnya Junhui tanyakan.
"Kau mengerti ucapanku? Kau tahu apa artinya?"
"Kau menyumpahiku. Kau bilang, aku seperti wanita. Kau bilang, aku memiliki bibir dua."
Minghao mendelik, dia salah tingkah. "Wow, daebak! Kau mengerti? Pandai sekali."
"Terkadang aku menggunakannya di rumah, aku juga orang China," Lanjut Junhui bangga. Sejatinya memang dia orang yang supel dan jago dalam urusan berteman, dengan kepercayaan tinggi Jun mengulurkan tangan, "Siapa namamu?"
Minghao melirik uluran lengan kokoh itu ragu. Ia memastikan ke belakang, mengamati Jihoon yang entah dengan siapa masih belum berhenti berselisih paham, hyungnya ambruk di tanah—terlihat payah. Niatan untuk menghambur ke sana urung Minghao lakukan kala sosok di hadapan Jihoon turut luruh ke bawah, membawa tubuh Jihoon tenggelam dalam dekapannya.
Memutuskan tak ikut campur, Minghao balik menghadap Junhui lalu balas berjabat tangan. "Xu Minghao. Kau benar, aku memang ingin mendekati mereka tapi kuputuskan tidak jadi. Jika kesana, kesannya aku seperti orang yang tak tahu diri."
"Akhirnya kau mengerti juga," Jun menerbitkan sebuah senyum lega.
Kedepannya, kedua orang yang baru saling kenal ini kembali ke dalam mobil Soonyoung. Sekedar berteduh dan bertukar obrolan; tentang tanah kelahiran mereka, apa gerangan yang membuat masing-masing memilih menetap di Korea.
Pun, Minghao tanpa sungkan menerima botol minuman yang ditawarkan Junhui padanya.
-LOVE MATERIAL Chapter 13-
Tak ada yang berani untuk sekedar menggerakkan jemari tangan—hanya tundukan kepala, seakan sedang berlomba menghembuskan desah napas pasrah. Sepasang anak manusia itu masih diselimuti kebekuan. Tegukan ludah beberapa kali terdengar, menandakan salah satu dari mereka ingin memulai perbincangan namun cenderung tak tahu bagaimana memulainya. Baik Jihoon maupun Soonyoung, keduanya bungkam.
Terduduk bersisihan di atas bongkahan batu besar yang diatur mengelilingi sebuah pondok kecil dengan kubangan luas sebuah kolam. Riak di tengah kolam itu lambat laun membesar, bukti sebuah kehidupan lain ada disana. Kilauan sisik berwarna emas itu sukses menarik perhatian keduanya.
Mereka saling pandang, tatapan keduanya terkunci—betapa mereka dapat melihat rongga penuh nanah, luka mengering tetapi penuh rembesan darah. Layaknya bercermin pada sebuah kaca bening, mereka dapat menilik betapa dalam koyakan luka di dasar sana melalui pantulan kornea masing-masing.
"Jihoon."
"Soonyoung."
Suara beriringan itu sukses mengundang senyum. Jihoon memberanikan diri memutar badan dan benar-benar menghadap Soonyoung. Sudah mempersiapkan diri untuk mendengar apapun yang ingin Soonyoung ucapkan, namun kalimat dari bibir tipis itu sudah terlebih dulu berkumandang, "Kau saja dulu, ingin mengatakan apa?"
Jihoon menggeleng. "Aku tidak tahu. Banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan padamu malam ini, terlalu banyak hingga aku tak tahu harus memulainya dari mana dulu," Ulasnya sendu.
Setelahnya pemuda Lee ini menengadah ke atas, memandangi hamparan bintang seraya bergumam, "Terima kasih sudah berkenan datang dan menemuiku. Kupikir malam seperti ini tak kan pernah terjadi. Kau menemuiku dan bersedia memberiku maaf. Apa kau ingin tahu sebesar apa penyesalan yang kutanggung setelah membuatmu sengsara? Tak terkira Soonyoung-ah, bahkan aku kesulitan untuk sekedar menghirup napas. Aku tak bebas. Bagaimana aku dapat leluasa bahagia, jika beban di kedua pundakku berteriak bahwa aku tak pantas mendapatkannya?"
Aku juga merasakannya. Kepuasan yang kuharap setelah memperlakukanmu sama seperti kau memperlakukan aku dulu, aku tak mendapati itu. Justru dampak buruk yang kuterima, luka yang kuderita semakin parah.
"Kembali mendapat tatapan ramah, perlakuan baik yang kudamba, aku putus asa Soonyoung. Dan aku memutuskan menghukum diriku sendiri. Menikmati setiap perlakuan buruk yang kau lampiaskan padaku, dimana akulah yang pertama kali membuatmu jatuh—yang pertama kali membuatmu mengenal apa itu dikhianati. Kurasa, balasan setimpal yang kudapat kurang sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan padamu. Mungkin lebih pedih dari itu. Ketika kau tahu aku membohongimu, ketika kau tahu aku hanya mempermainkanmu. Sesakit itukah? Aku tak bisa membayangkannya."
Jika dengan diperlakukan buruk saja terkadang Jihoon tak sanggup bertahan, berakhir dengan tangisan—bagaimana dengan Soonyoung yang tulus mencintainya? Tak memikirkan apapun selain membuat dia bahagia tapi mendapat balasan tak terduga?
Hei, jika kalian tak berdiri diposisinya, jangan sembarangan berani menghakimi. Dikhianati oleh sosok yang dikasihi itu rasanya sangat menyakitkan. Lama ia terapung di atas genangan yang disebut kebohongan, tak tahu menahu dengan rangkaian plot kejam yang sudah dirancang apik oleh kekasihnya; orang yang ia percaya, orang yang ia harapkan dapat menjadi bahu ketika ia kehilangan arah. Percayalah, jika kalian berdiri di posisi Soonyoung... mungkin akan melakukan hal yang sama—menjauh.
Sakit, ya sakit. Tetapi lebih sakit lagi ketika aku mati-matian berperang batin saat keinginan mendekat lebih kuat ketimbang harus menghindarimu. Aku kesusahan memilih sikap, aku kesulitan menentukan tindakan, lebih lagi aku tak sadar ada seseorang lain yang memanfaatkan keadaan.
"Apa masih kau rasa sakitnya? Kau boleh memukulku Soonyoung, kau boleh menghakimiku disini—jangan di hadapan orang lain."
Jihoon membawa pandangan pada Soonyoung. Menunjukkan kedua matanya yang kembali memerah. "Aku berjanji tak akan membalas pukulanmu. Aku tak menginginkan apa-apa lagi selain rasa sakit yang kau derita itu pergi. Hanya itu, Soonyoung-ah. Aku pernah terlunta sendirian, kemudian kuminta pada Tuhan—jika memang aku memiliki takdir buruk, berikan aku satu teman yang setidaknya dapat menerimaku apa adanya. Tapi apa yang sudah kuperbuat? Setelah Tuhan mengabulkan doaku, aku justru menyia-nyiakannya. Aku tega mencurangi orang yang tak bersalah. Lee Jihoon memang seorang pendosa."
Jihoon memejamkan mata. Dia sudah menyiapkan diri jika memang beberapa menit ke depan akan lengser di atas rerumputan dengan tubuh penuh lebam.
Soonyoung bergeming. Dalam kebisuan, ia menelisik sosok bertubuh kurus itu dengan seksama—kulit sewarna kapas, kelopak mata tertutup rapat, bibir mengetat, jejak kristal bening di kedua pipi menegaskan sebuah kesan sedih. Sedari tadi memang Soonyoung tak bicara apa-apa, namun bertolak dengan hatinya yang meronta—memaksa lidahnya untuk berseru, betapa ia tak suka melihat Jihoon kembali mengiba seperti ini. Apa pemuda Lee itu tuli? Apa dia tak mendengar ucapan Soonyoung beberapa waktu lalu? Jihoon sudah cukup sakit.
Tak ada yang perlu mendapat hantaman atau semacamnya disini, lagi pula fisik dan batin itu komponen berbeda—tidak bisa dipukul rata!
Sejujurnya, Soonyoung tak ingin membahasnya lagi. Mereka sama-sama menderita, sama-sama saling melukai, sama-sama salah lebih tepatnya! Akan sangat lucu jika sepasang anak manusia berkelahi hanya karena masalah pribadi yang barusaja menjumpai titik temu.
Jangan menghakimi di hadapan orang lain, Jihoon bilang? Ya, Soonyoung sadar. Dia kerap mencacat Jihoon di sembarang tempat. Di kafé tempat Jihoon bekerja, di hadapan Vernon dan Seungkwan, di perpustakaan, juga di pusat perbelanjaan. Soonyoung biadab, memang!
Alih-alih melabuhkan sapuan panas, jemari Soonyoung menari di pangkal hidung sang lawan lalu kemudian berakhir menutupi kedua mata yang masih betah memejam.
"Lupakan. Aku tak ingin membahas hal itu. Aku datang, aku menghampirimu hanya dengan satu tujuan... memperbaiki keadaan. Jangan menangis lagi, berhenti menjatuhkan air mata di hadapanku, aku tak menyukainya. Apa kau mengerti?" Ungkap Soonyoung lirih.
Jihoon nyaris terperanjat dari tempat duduknya. Ini nyata Lee, bukan delusi! Jihoon tak sanggup berkata-kata lagi sudah. Pun Soonyoung dapat merasakan telapak tangannya semakin basah.
"Lee Jihoon, jangan menangis, kumohon."
Telapak besar yang bertengger menyilang di antara kedua matanya itu Jihoon remas kuat-kuat.
"Jangan pergi. Jika memang kau tak berkenan lagi bersamaku, setidaknya perlakukan aku sama seperti kau memperlakukan teman-temanmu. Aku iri, kenapa orang-orang di luar sana bisa menyelesaikan masalah secara baik-baik sementara aku tidak? Mereka pernah melakukan kesalahan 'kan? Tapi kenapa hanya aku yang merasa kesulitan? Kau berlari terlalu jauh dan aku kesusahan untuk sekedar menyentuh ujung bahumu."
Dia tahu sekarang, perasaan peduli itu masih ada—Jihoon bisa merasakannya.
"Ketika aku berada di titik dasar, keinginan untuk menyerah acap kali kurasakan. Tapi kakiku tak mau bekerja sama, aku masih mengejarmu—aku masih mengharap telingaku ini dapat mendengar penerimaan maaf dari bibirmu. Aku menikmatinya Soonyoung, ya... itu hukuman untukku, aku menerimanya."
"Cukup!" Kali ini Soonyoung sudah keteteran mempertahankan beban di antara kedua kelopak matanya sendiri.
Jihoon tersedak. Genggaman tangannya turun ke lengan Soonyoung. "Jangan dilepas. Biarkan seperti ini. Kau bilang tak suka melihatku menangis, maka biarkan tanganmu yang menyembunyikannya, aku tak akan bersuara." Kurva manis itu membentuk lengkungan segaris.
Soonyoung diam di tempatnya, membiarkan tetesan berharga itu tumpah ruah membasahi jemari tangannya.
Suasana mengharu itu berlangsung tak cukup lama.
Tenggat waktu berikutnya, Soonyoung memaksa Jihoon untuk berdiri dan mengantarkan sosok pucat itu pulang dengan berjalan kaki. Entah bagaimana nasib bongkahan tepung yang tergeletak di dekat toko? Bagaimana nasib mobil yang dipercayakan pada orang lain? Keduanya tak memiliki pikiran ke arah sana. Masing-masing relung hati didominasi letupan rasa lega. Jadilah, kedua insan ini tak mau bersusah memikirkan hal tak berguna.
"Istirahatlah. Masih banyak yang ingin kau katakan padaku 'kan? Kita bisa bertemu lagi dan membicarakan semuanya."
"Soonyoung."
"Ya?"
"Besok, apakah aku benar-benar boleh menemuimu?"
"Esok aku pergi ke Gyeonggi-do, ada keperluan dengan nenek. Lusa, aku yang akan menemuimu."
"Sungguh?"
"Aku janji dan sapu tangan ini kubawa. Selamat malam Jihoon." Gumpalan kain tipis itu Soonyoung sembunyikan dalam kantung celana. Perlahan, ia mundur teratur. Jihoon tak ingin masuk ke dalam rumah sebelum siluet badan tinggi itu benar-benar menghilang.
Seakan tak pernah melakukan dosa, betapa baik Tuhan yang melimpahkan rasa bahagia hanya dengan melihat sebuah senyum sederhana. Jihoon bukan orang serakah, sesuai harapannya—dengan Soonyoung mau memberinya maaf saja sudah lebih dari cukup, sebab berharap dapat merajut hubungan seperti terdahulu itu terlalu muluk.
Jihoon gemetaran memutar kunci rumah. Ia masuk begitu saja lantas melangkah tergesa ke belakang, meneguk air minum dengan rakus. Ia mengesah panjang ketika isi dari gelas di tangannya tandas. Dalam ruangan sempit itu Jihoon terduduk di lantai, memeluk tas kerjanya, pandangannya berotasi ke awan-awan.
"Hari ini datang, hari ini datang." Entah kalimat itu ia serukan untuk siapa. Jihoon baru ke kamar beberapa menit berikutnya, tanpa mencuci wajah, tanpa melepaskan sepasang sepatu di kedua kakinya, langsung menghempaskan diri ke ranjang.
Dia tertidur pulas.
Hari paling melelahkan sekaligus paling menyenangkan. Malam dimana ia dapat terlelap tenang tanpa beban pikiran.
-LOVE MATERIAL Chapter 13-
Kim Mingyu dibuat tunggang langgeng membawa susunan barang-barang dapur yang diperlukan ibunya. Beberapa kardus lain digotong oleh pegawai laki-laki, sebagian lagi dibawa oleh ibunya sendiri. Senja sore itu restoran terlihat cukup ramai pengunjung. Mingyu mengitari etalase panjang, dimana ujung dari kubus kayu itu terhubung hingga pintu belakang. Disana Mingyu meletakkan barang-barang yang dia bawa.
Bisa kalian tebak apa yang terjadi ketika Mingyu hendak kembali ke mobil dan mengambil barang lain? Beberapa pengunjung perempuan berebut tempat di depan etalase sembari menggenggam gumpalan tisu yang sudah terukir nomor ponsel.
Dengan senyum canggung Mingyu berjalan begitu saja, memilih abai dan meraih semua barang yang tersisa di jok mobilnya. Sebuah gulungan berisi ayakan tepung jatuh menggelinding di dekat ban, mau tak mau Mingyu harus merunduk untuk menjangkaunya, tapi barang dalam pelukannya tak dapat berkompromi, hampir berhamburan andai lengan halus seseorang tak tangkas menadahi.
"O—oh, Wonwoo hyung?" Dia terkejut, tentu saja. Apa gerangan yang membuat Wonwoo datang kemari? Mencarinya? Menemuinya? Atau bolehkah Mingyu melambungkan asa tinggi? Wonwoo sedang merindukannya, misal.
"Ibumu memintaku datang."
"Ibu?"
"Hng, entah beliau mendapat nomor ponselku dari siapa. Mencari dari ponselmu, mungkin. Yang jelas, ibumu menghubungiku semalam," Penjelasan singkat itu sukses membuat Mingyu terbengong. Sejak kapan ibunya berani menggeledah ponselnya? Lantas apa tujuan beliau meminta Wonwoo datang?
"Ibuku di dalam, hyung. Kurasa hyung terlihat lebih baik dari kemarin hari, syukurlah."
"Eum, bisakah aku masuk ke dalam?"
"Ya, silakan."
Mingyu terhuyung mundur ketika Wonwoo meletakkan gulungan stenlis di atas tumpukan barang dalam gendongannya. Ironi sekali, Kim! Tak mendapat tanggapan baik, pemuda manis berwajah datar itu meninggalkan dia sendirian. Dia pikir, segala perhatian yang ia berikan ketika Wonwoo sakit dapat membuat pintu hati sosok dingin itu terbuka barang sedikit. Nyatanya tidak!
Baiklah, Mingyu tulus menyayanginya, Mingyu mencintai dia secara sukarela, munafik jika tak mengharap balasan—tapi dia sadar, perasaan itu masih milik seseorang. Lari dari satu hati ke hati yang lain itu bukan perkara gampang.
Begitu selesai dengan kegiatannya, Mingyu menetap di ruang belakang—sengaja dia tak kembali ke depan. Membiarkan ibunya berdua bersama Wonwoo, duduk berhadapan di sebuah meja dan entah tengah membicarakan apa? Picingan mata tajam itu memperhatikan sudut bibir ibunya yang tertarik dan terbuka. Mereka terlihat akrab.
Bolehkah Mingyu menaruh rasa iri pada ibunya? Beliau dapat dengan mudah bercanda dengan Wonwoo, sementara dia susah. Dari dapur sesekali Mingyu melongokkan kepala. Tangan terlatih itu bekerja membolak-balikkan dua daging berukuran sedang di tempat pemanggang.
Ketika dua kudapan menggugah selera itu selesai ia buat, Mingyu baru menghampiri mereka. Mendaratkan diri di sebuah kursi kemudian mendorong satu piring berisi steak saus tiram ke hadapan Wonwoo.
"Untukmu, hyung."
"Ya, terima kasih."
"Eomma menghubungi Wonwoo hyung tanpa sepengetahuanku?"
Nyonya Kim berdeham, "Jadi, bertemu dengannya harus meminta ijin padamu dulu?"
"Bukan begitu. Maksudku, eomma mendapatkan nomor ponselnya darimana? Dari ponselku? Memangnya ada keperluan apa?"
Tak berminat untuk berterusterang, perempuan paruhbaya itu beranjak dari kursinya. "Kau selalu banyak tanya, nak. Anak muda jaman sekarang, selalu ingin tahu urusan orang lain. Wonwoo, makan yang banyak, ya? Orang yang baru sembuh dari sakit harus banyak mengonsumsi buah. Nana, tolong buatkan jus tomat, meja nomor lima."
Tepukan lengan halus itu jatuh di atas bahu Wonwoo, sebelum kemudian sang empu pergi.
"Kau bercerita pada ibumu, bahwa aku sakit? Kemudian kau memakai alasan menemaniku ketika beliau bertanya kenapa kau pulang larut malam?" Wonwoo berujar santai seraya memotong daging di hadapannya, melahap irisan nikmat itu satu persatu.
Mingyu menelah ludah. "A—apa eomma marah? Apakah eomma mencecarmu, hyung? Astaga, jadi ini sebabnya eomma menghubungimu? Aku minta maaf hyung, sungguh aku tak tahu jika tujuan eomma begini." Pemuda semampai itu bergerak gelisah di atas kursinya, sudah berjaga-jaga untuk menahan lengan Wonwoo jika sampai si manis itu bergegas dari tempatnya.
"Santai saja Kim, ibumu tak marah. Ibumu baik, beliau hanya takut kau berbohong. Itu kenapa beliau memintaku datang kemari."
Mingyu menghembuskan napas lega, "Kukira, ash syukurlah... eomma memang selalu begitu, padahal aku tak pernah berbohong, aku selalu jujur padanya."
"Wajar saja, beliau orang tua. Mungkin ibuku akan melakukan hal sama jika aku pulang larut petang. Omong-omong Mingyu, meski aku tak meminta kau datang, aku tak memintamu menemaniku, kau yang memiliki inisiatif itu sendiri, aku berterima kasih."
Walaupun Wonwoo mengucapkan hal itu dengan nada datar, raut wajah tak menggambarkan garis kekaguman, Mingyu sudah cukup tersentuh. Dia tidak lupa sama sekali ketika Wonwoo menganggap ia tak lebih dari onggokan furniture rumah, tak ternilai, pun tak diajak bicara. Tapi hari ini, bolehkan Mingyu berbesar kepala? Dia rasa, Wonwoo mulai bersedia membuka diri.
Tolong ingatkan Mingyu untuk memeluk ibunya dan mengucapkan terima kasih, nanti.
Diam-diam, dari seberang meja, Wonwoo mencuri pandang, memperhatikan Mingyu yang perlahan menyentuh garpu dan pisau. Setelah mendengar ungkapan ibu pemuda itu kini Wonwoo jadi tahu, betapa banyak dosa yang sudah ia perbuat; mengabaikan seseorang yang tulus memberinya naungan, mencampakkan seseorang yang jelas-jelas siap pasang bahu kala dia merasa kelelahan.
Wonwoo jadi ingat akan ucapan Jihoon di depan halte waktu itu.
'Dia pulang larut sekali, aku menemukannya tergeletak tertidur di ruang tengah. Sempat memiliki pikiran bahwa putraku bertindak kurang ajar di luar sana. Aku ibunya, tentu saja aku khawatir Wonwoo-ie. Tapi ketika aku mengendus pakaiannya dan tak tercium aroma minuman, justru yang kudapat sebuah pengakuan menenangkan. Mingyu bilang, dia menemanimu yang sedang sakit selama seharian sementara di rumahmu tak ada siapa-siapa. Ibumu sedang bekerja. Benar begitu, sayang? Oh, betapa aku bangga mempunyai putra baik sepertinya.'
'Maafkan saya ahjumma, memang di rumah saya tak ada siapa-siapa. Dan ya, saya yang meminta Mingyu datang karena saya takut sendirian.'
'Tidak apa-apa, ahjumma senang mendengarnya.'
'Syukurlah.'
'Kau tahu? Putraku itu sosok tertutup, ia selalu bercerita memiliki banyak teman tapi nyatanya yang sering datang bertamu hanya beberapa dan selalu teman-teman yang lama. Kau satu-satunya teman yang ia bawa kemari selain bertamu ke rumah, kau satu-satunya teman yang Mingyu bawa ke dapur dan memperlihatkan kemahiran yang ia miliki. Sepertinya, putraku tertarik padamu.'
'Mingyu memiliki banyak teman memang dan ketertarikan itu... mungkin, ya.'
Setelahnya kedua orang ini tertawa. Anggap saja itu pemerah bibir, Wonwoo harus pandai merangkai kalimat baik di hadapan ibu Mingyu. Dia mana tega mengatakan hal yang sesungguhnya. Membiarkan Mingyu terlihat bodoh di mata ibunya sendiri? Tidak, Wonwoo masih punya hati.
Berikutnya sebuah ulasan sayu terdengar lagi, 'Ahjumma mencari nomor ponselmu tanpa sepengetahuan Mingyu, selain menanyakan hal ini, ajhumma memiliki satu permintaan—jika kau tak bisa, aku tak memaksa. Besok merupakan hari bersejarah, hari ulang tahun Mingyu. Apa kau memiliki waktu luang? Datanglah ke rumah, kami sekeluarga membuat pesta sederhana.'
Wonwoo memaksakan sebuah senyum. 'Besok malam? Saya harus bekerja, sayang sekali tak dapat andil dalam pesta,' dia menimpali jujur.
'Baiklah, tidak apa-apa. Kau pemuda baik, bekerja yang giat nde? Mingyu pasti bangga memiliki teman sepertimu.'
Wonwoo baru terseret kembali pada kesadaran saat Mingyu melambaikan tangan di depan wajahnya. "Kau melamun, hyung?"
"Tidak."
"Kau merasa sakit lagi? Kuantar pulang saja, atau—"
"—jangan berlebihan, aku hanya sedang memikirkan proposal."
"Setelah ini aku pergi ke perpustakaan kota, mau ikut? Maksudku, begini... jika hyung tak keberatan, ayo kita kerjakan tugas bersama. Tapi—tunggu hyung—" Mingyu tergagap begitu Wonwoo meletakkan garpu kembali ke tempatnya.
Pemuda salju itu melirik jam dinding, kemudian memalingkan wajah. "Masih pukul enam, berangkat sekarang? Cuti sakitku hanya tersisa satu, yakni hari ini." Lantas Wonwoo menunjuk tas digendongan punggungnya. "Kebetulan aku menyimpan lembar tugasku di dalam sana."
Seakan mendapat undian cuma-cuma, Mingyu sontak mengangguk dan beranjak. Keduanya pamit pada nyonya Kim. Wonwoo berjalan lebih dulu di depan, meninggalkan Mingyu di belakang. Mungkin pemuda berwajah tembok itu akan terus menderap andai Mingyu tak berteriak, "Hyung, mobilku disini."
Jadilah, dengan wajah malu dan memerah Wonwoo balik mundur ke tempat seharusnya.
-LOVE MATERIAL Chapter 13-
Sepasang kekasih yang terkenal manis seantero kampus itu melangkah beriringan; si pemuda berdarah campuran dengan kekasihnya si pipi gempal. Salah satu di antara keduanya perperan sebagai pembantu, yakni Vernon.
Dengan tega Seungkwan membiarkan kekasihnya kerepotan memeluk tas super besar di depan dada, beberapa klip tugas menggantung di tangan kiri, belum ditambah tas milik Vernon sendiri. Kekasihnya kesulitan berjalan, terhuyung-huyung dan hampir terpeleset ubin, yang Seungkwan lakukan justru di luar dugaan. Si pipi bulat itu terus berjalan sambil sesekali menjejali bibirnya dengan pancake hangat.
Jika saja tak berlandaskan sayang, tak bermodal cinta—mungkin tas milik Seungkwan sudah terlempar ke tempat sampah.
Sekitar delapan kali tapakan langkah kaki, Seungkwan baru meminta kekasihnya untuk berhenti. Menarik tubuh Vernon, mendaratkan diri di sebuah kursi umum. "Kau lelah? Sini, letakkan tasku disini, kita istirahat sebentar."
Ingin sekali Vernon meneriaki kekasihnya, betapa kakinya serasa hampir patah, juga tangannya yang pegal. "Aku haus."
Tangkas, Seungkwan mengeluarkan botol minuman dari dalam tasnya. "Minumlah, habiskan. Maaf aku sudah merepotkan. Terima kasih, Vonon."
Pipi menggembung penuh pasokan air itu nyaris menyembur. Seungkwan berterima kasih? Hah, berterima kasih? Cepat-cepat Vernon menelan minuman yang tertahan di rongga mulut, setelahnya menangkup wajah Seungkwan yang terlihat menyesal. "Kau tak apa? Kau berterima kasih padaku?"
Pukulan telak yang Vernon terima. "Apa kau pikir aku tak bisa membawa tasku sendiri? Apa aku pernah memintamu membawakan barang-barangku selain hari ini?"
"Eh, bukan begitu maksudku."
Seungkwan tersungut, ia letakkan makanan miliknya di sebelah kursi tersisa. "Aku tahu kau lelah, aku tahu kau keberatan membawakan tasku kemana-mana. Bila lenganku tak terluka, aku pasti membawanya sendiri."
"Kau terluka? Bagaimana bisa? Mana, mana yang terluka? Astaga, bagaimana bisa aku tidak tahu."
Delikan terkejut dari Vernon sama sekali tak mengubah raut datar Seungkwan. Pelan-pelan ia menjinjing lengan panjang pakaiannya sebatas siku, memperlihatkan sebuah perban melintang di lengan kanannya. "Tentu saja kau tidak tahu, kemarin 'kan aku pulang ke rumah ibu. Aku terjatuh dari tangga dan ini terbentur railing."
"Masih sakit? Apakah parah?"
"Hanya luka robek, lumayan."
Jemari panjang Vernon menelusuri lilitan kasa itu perlahan.
"Lain kali hati-hati. Aku tidak suka melihat orang yang kusayangi terluka, lekas sembuh." Kecupan-kecupan kecil di atas kain tipis itu sukses membuat kubang berisi ribuan kupu-kupu di hati Seungkwan meledak. Dia sangat suka diperlakukan seperti ini—merasa jadi orang yang teramat berharga, paling segala-galanya.
"Sudahlah, jangan bicara seolah-olah aku barusaja tergilas truk. Aku akan membawa tasku sendiri."
"Apa mengkhawatirkan kekasihku sendiri itu salah? Aku yang akan membawa tasmu."
"Tidak salah, kau tidak salah. Aaak... makan saja, ini enak," Tak ingin rona merah jambu semakin kentara tercetak di pipinya, Seungkwan mengulurkan sisa pancake dari wadah. Keduanya benar-benar sedang melepas penat; Seungkwan tetap dengan makanan, sementara Vernon sibuk dengan ponselnya.
Dari ujung lorong simpang, tampak Jihoon yang berjalan cepat dengan bola mata berpendar, sosok itu terlihat sedang mencari-cari seseorang. Seungkwan sudah tersiap-siap untuk berteriak, tapi interupsi suara berat dari arah berlawanan lebih dulu terdengar nyaring.
"Jihoon. Lee Jihoon."
"Ji—"
Seungkwan kaget setengah mati. Apa dia tak salah lihat? Apa dampak terjatuh dari tangga berakibat buruk pada penglihatannya? Kwon Soonyoung? Pemuda itu memanggil nama temannya? Tak hanya itu saja, bahkan Soonyoung berani mendekat dan menarik lengan Jihoon. Berjalan berdampingan? Ya Tuhan.
"Ini apa?!"
Seungkwan berdiri, uring-uringan sambil menjambaki bagian rambutnya. "Ini apa? Argh, mataku masih sehat 'kan? Aku tidak salah lihat, bukan? Jihoon, Soonyoung? Argh astaga, astaga. Aku kemana saja, kenapa aku tertinggal banyak berita?"
Vernon mengurut dada. Lengkingan mengejutkan yang berasal dari kekasihnya itu hampir menyebabkan dia terjungkal dari bangku. "Kau kenapa lagi, Boo?"
Seungkwan balik menghadap Vernon, lantas mengguncang bahu kekasihnya brutal. "Kau lihat mataku, masih baik-baik saja, bukan? Apa terjatuh dari tangga dampaknya bisa menjalar ke mata? Aku melihat Soonyoung dan Jihoon berbaikan, mereka bergenggaman tangan. Vonon, lakukan sesuatu untuk mataku."
Vernon mengusap bahu tegang itu halus. "Ayolah, matamu masih baik-baik saja. Harusnya kau senang melihat hal itu. Artinya Jihoon sudah berhasil mendapat apa yang ia mau. Ingat dengan ucapanmu ketika dia menangis di hadapan kita waktu itu? Kau bilang Jihoon harus membatasi diri, kemudian lihat reaksi Soonyoung, siapa tahu itu benar terjadi. Beberapa hari lalu kau juga bilang perlahan Jihoon mulai menyerah, bukan? Nah, jadi sayang... berhenti ingin tahu urusan orang, itu tak baik."
"Tapi kenapa aku tak tahu apa-apa? Mengapa Jihoon tak cerita apapun padaku? Argh, aku bisa gila!"
"Sudahlah, nanti tanyakan langsung padanya. Ayo kita pergi, aku memiliki satu kelas lagi sore ini."
"Vonon!"
"Ayo pergi, Boo."
Geram yang Seungkwan rasakan lebih cenderung ke arah penasaran. Tapi nasihat kekasihnya itu benar, dia tak berhak tahu urusan orang lain sekalipun itu teman dekatnya. Si gempal itu menurut, sedikit menghentak lantai ia melangkah mengikuti Vernon.
-LOVE MATERIAL Chapter 13-
Jihoon masih mengekor lamban di balik punggung Soonyoung, entah pemuda berhoodie merah itu hendak membawanya kemana.
Lengkungan senyum lebar di bibir Jihoon tak hentinya mengembang. Kepalan jemari di telapak tangannya itu terasa hangat, Jihoon dibuat lupa dengan apa yang beberapa waktu ia lalui, peliknya keadaan yang ia hadapi. Jihoon tetap diam saja selama Soonyoung terus menambah langkah, ia mendongak ke atas—memandang punggung lebar dengan sepasang bahu tegap itu penuh kekaguman.
"Kita kemana?" Cicit Jihoon rendah. Ia kebingungan di depan sebuah ruang club musik. "Kau tunggu disini, aku yang akan masuk ke dalam."
Sekitar lima menit Soonyoung masuk ke dalam ruang club musik, lalu kembali dengan sebuah tas panjang yang tersampir di bahu kanan—setahu Jihoon, tas tebal seperti itu biasanya berisi gitar. Tak berkata apa-apa Soonyoung menggenggam tangan kurus itu lagi dan pergi.
"Kemana, Soonyoung?"
"Atap, kemana lagi?"
"Atap? Kita kesana?"
"Kenapa? Kau tak suka?" Soonyoung menghentikan langkah
"Kau ingin ke tempat lain?"
Jihoon gelagapan, "Bukan begitu. Baiklah, ayo."
Dulu, pertama kali Soonyoung menuntun dia menapaki anak tangga kotor itu, Jihoon mengumpat dalam hati, menyumpahi kencan klasik yang Soonyoung sukai. Tak menghiraukan apa pun yang Soonyoung berikan; surat, susu, makanan. Ya meskipun beberapa ia terima, tetap saja itu didasari kata terpaksa. Sebelum keadaan menjadi jungkir balik, jangankan membawa Soonyoung kembali datang kesana, mengajak si tampan itu bertukar sepatah kata saja bagi Jihoon sangatlah susah.
Sesampainya di pelataran luas itu Jihoon merangsek maju terlebih dulu, rutinitas yang ia suka—menelisik pemandangan di bawah sana. Lain hal dengan Soonyoung yang berjalan ke sudut lain, membentangkan sebuah kain dari dalam tasnya. Pemuda Kwon itu duduk sembari memangku sebuah gitar berpelitur cerah.
"Soonyoung, maaf aku sudah lancang mencarimu."
"Seharusnya aku yang mengucapkan hal itu, bukankah aku yang berjanji akan menemuimu? Maaf, aku harus bertemu dosen Park beberapa jam lalu dan ketika aku memiliki waktu bebas, kau sudah terlebih dulu mencariku. Kemarilah, bajumu kotor nanti." Soonyoung menepuk ruang kosong di sisi bentangan lain, meminta Jihoon mendaratkan tubuhnya disana.
Di samping lipatan kaki Soonyoung, terdapat lembaran amplop yang sangat Jihoon kenal. Suratnya.
Takut-takut Jihoon mendekat. Jari-jari tangannya saling terkait menandakan sosok pendek itu tengah dirundung panik. Jihoon berjanji tidak akan angkat suara jika bukan Soonyoung dulu yang memulai.
"Sapu tanganmu, aku benar-benar berterima kasih, Jihoon. Ya, kau benar. Mungkin jika kau berterusterang hari itu, tak menutup kemungkinan aku hanya menganggap kau sedang berbohong."
Jihoon menunduk.
"Tapi—membiarkan aku tak tahu apa-apa itu juga salah. Apa kau tak memiliki pikiran, siapa tahu dengan begitu aku bisa melunak? Dan kau tak harus berjalan dalam kebohongan yang berekor panjang."
Kali ini Jihoon membuang wajah ke samping, memandangi tas kain pelindung gitar. "Aku tak mempunyai pikiran ke arah sana. Sore itu yang ada di otakku hanya berlari dan membantumu. Lagi pula, aku sudah melakukan banyak cara tapi kau tetap tak menganggapku ada. Lantas, apakah dengan insiden sesederhana itu dapat membuatmu luluh dalam sekejap? Kurasa berat."
Tamparan telak untuk Soonyoung, dia membisu seketika.
"Kopi, sudah tahu kau tak bisa mengonsumsi minuman berkafein tinggi kenapa masih memaksanya? Mempunyai pikiran, memaksakan sesuatu dengan harapan dapat mengikis aral yang jelas-jelas sudah kau idap sedari bayi? Berhenti menyiksa dirimu sendiri."
"Ya, aku melakukannya. Bukan hal tabu lagi, bukan? Jika sudah terbiasa, lambat laun akan menjadi kebal juga. Sama seperti mereka yang menatapku rendah, onggokan sampah—aku jadi terbiasa dengan itu."
"Jangan dipukul sama seperti itu, keduanya berbe—"
"—tapi memiliki satu makna sama," potong Jihoon.
Tamparan kedua. Soonyoung tak melanjutkan bicara, ia tergugu di atas lipatan kakinya. Memperhatikan si pendek berkaus kebesaran yang betah menunduk sambil menelisik tas gitar. Soonyoung menghembuskan napas panjang kemudian memilih memetik senar, menimbulkan sebuah nada track.
"Surat-surat ini, aku hanya membawa beberapa. Karena kumpulan surat pertama yang kau berikan padaku di malam itu tak lebih dari salinan surat yang pernah aku tulis untukmu..."
"...kau yang sudah menolongku hari itu 'kan?" Jihoon memberanikan diri meraba ujung hoodie yang Soonyoung pakai. "Aku mengenalnya, kau yang menolongku. Kau memindahkan tubuhku ke tempat yang aman. Katakan 'ya' kumohon."
Kegiatan Soonyoung berhenti. "Bukan."
"Bohong! Aku tahu kau yang sudah menolongku, aku mengetahuinya dari beberapa hari lalu. Di halte bus kota, kau memakai pakaian sama. Kau sosok misterius yang berpura-pura menjadi pengunjung, kau canggung ketika aku menatapmu penuh curiga. Itu kau Soonyoung. Aku mengenalinya."
Nanar, Soonyoung mengulurkan tangan untuk merapikan juntaian anak rambut yang menutupi sebagian mata Jihoon. "Pernah kubilang, jangan ceroboh." Sepasang iris kelam milik Jihoon dipenuhi kabut.
Masih sama-sama peduli, saling menjaga dan memahami, lalu kenapa kalian tak menyadari hal itu? Lihat hasil yang kalian peroleh dari menjujung ego? Bukan kejelasan melainkan sebuah keterpurukan!
"Kau menulis, bahwa kau kesepian dan ingin bernyanyi di hadapan seseorang? Keberatan menyanyi untukku?"
Bukannya menanggapi ucapan Soonyoung, Jihoon justru memperkuat genggaman tangannya di ujung hoodie merah. "Bisakah aku memanen rasa sejuk? Bersediakah dia membentangkan dahan dan memayungiku dengan helai daunnya yang indah?"
Soonyoung tersenyum, sepersekon detik setelahnya dia mengangguk. Meletakkan gitar dan membentangkan tangannya lebar-lebar. "Lakukan. Lakukan sesukamu, apapun yang kau mau."
Jihoon menghambur begitu saja dalam dekapan Soonyoung. Menikmati kukungan lengan hangat yang ia rindukan.
Jika pada akhirnya nanti mereka tak dapat lagi bersama, cukup menjadi teman Soonyoung saja bagi Jihoon sudah lebih dari segalanya.
=TBC=
Author's note:
Haiii~ ini kurang satu lagi :)))
Udah pada dengerin lagu barunya Seventeen? Dalem semua maknanya, sedalem perasaan Uji ke nuna~ *eh*
Boleh berharap 'kan di era Don't wanna cry ini eranya SoonHoon *ehe* dimana-mana moment mereka bertebaran :')) ya meskipun cuma sepotong-potong dan seupil doang, tapi sini udah cukup senang. Bodoamat SoonHoon hard dikatain maksa wkwkwk yang penting hepi dude~
Terima kasih buat yang udah luangin waktu baca. Joreksi aja kalau misal ada salah atau typo^^ Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, semoga berkah sampai akhir dan gak puasa gendang :'v just depan belakang.
-Sincerely, Veyyeon21-
