Licorice
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by DarkChoffa™
Warning : Alternative Universe, Out Of Character, Typo, Membosankan, Banyak Percakapan, Penuh Adegan Drama, etc.
Rating : M
Pairing : Neji-Ino
~Diwajibkan membaca Hang dulu, latar cerita ini berasal dari sana.~
~Terinspirasi dari drama favorit author : Full House, Flower Boy Boyband dan Nana~
~Anggap saja tampilan Neji mirip Takumi Ichinose 'NANA'~
~Kalau sifat mesumnya mirip Neji di Naruto Road to Ninja~
DON'T LIKE? DON'T READ!
Yang nggak suka nggak usah baca -_-
No Copy Paste
Ceritanya gaje, jadi nggak perlu di copy paste. Nanti nyesel doang!
Enjoy Reading
Tekan tombol back kalau kalian merasa bosan.
Part 13
Walaupun sudah dua bulan berlalu semenjak kedatangan ibunya dan peristiwa Gaara menghina Neji, pikiran Ino belum sepenuhnya menghapus memori itu. Neji memang selalu bersamanya, tapi di lubuk hati terkecilnya ia khawatir perkataan Gaara dan ibunya akan menjadi kenyataan. Mereka mengatakan Neji bukan pria yang bisa bertanggung jawab dan berkomitmen. Ino akui ia mulai lelah dengan hubungannya bersama Neji. Ia mengharapkan kisahnya akan sama seperti kisah sahabatnya Sakura. Sebagai wanita normal ia ingin Neji melamar atau menikahinya. Ia memang berstatus sebagai kekasih Neji, tapi status 'kekasih' tak menjamin apapun. Bisa saja Neji meninggalkannya secara tiba-tiba. Ia tak mau bernasib sama seperti Temari. Wanita itu terlalu lelah menunggu Neji demi keseriusan hubungan mereka.
Mengenai hubungannya bersama Neji, mereka tak mempuyai masalah apapun yang cukup serius. Mereka saling terbuka satu sama lain. Tapi Ino tak pernah menceritakan tentang kekhawatirannya mengenai hubungan mereka pada Neji. Ia sangat takut Neji akan marah padanya. Sebenarnya Ino tak akan mempermasalahkan keseriusan Neji, tapi hubungan mereka yang sudah memasuki area di luar batas membuatnya sulit untuk melepas Neji. Neji sudah menodainya dan mereka terus melakukan hubungan penuh dosa itu hingga sekarang. Ino menganggap dirinya adalah perempuan kotor yang menjijikan. Ia bahkan meyukai moment-moment saat Neji bercinta dengannya. Ia yakin isi otaknya sudah keluar dari peredarannya.
.
.
.
Awal musim gugur memang sudah dimulai. Daun-daun berjatuhan mengotori jalanan. Pohon-pohon terlihat mulai meranggas. Udarapun menunjukan temperature yang semakin menurun. Udara terasa dingin di musim ini. Angin berhembus membuat siapapun memakai jaket tebal berlapis-lapis dan memilih berdiam diri dirumah.
Tapi musim yang dingin ini tak berarti apapun untuk dua orang manusia yang sedang sibuk bergumul di atas ranjang. Udara dingin tak menyurutkan nafsu mereka untuk segera menyelesaikan aktivitas yang sedang mereka lakukan saat ini. Sprei putih tampak berantakan karena ulah mereka. Bunyi decitan ranjang terus terdengar di sela aktivitas mereka. Ino tak bisa menahannya. Desahan terus keluar dari mulut mungilnya. Oh Tuhan! Ino benar-benar merasa melayang sekarang. Neji tak jauh berbeda. Pemandangan tubuh polos Ino di depannya membuatnya hampir gila. Perempuan itu selalu saja membuatnya tergoda.
"Akh..aaakh…ouh…ah..ah..uh..Nejiii… lebih..cepaat….Arrghh!" Neji menggodanya. Pria itu memelankan tempo tusukannya, "Berhenti menggodaku Neji! uhh…Errgghh!, mmmmmppppphhhhh!"
Neji menciumnya secara brutal, Ino membalas ciuman itu. Tapi sia-sia, Ino tak bisa mengimbangi Neji. Kekasihnya itu terlalu bersemangat menciumnya. Di sela ciuman mereka, Neji tetap berada pada posisinya. Dia membiarkan miliknya tertanam di dalam milik Ino. Neji sangat menyukai sensasi saat milik Ino menjepit erat miliknya
"Akuuu…mohoon..berhentilah bermain-main." Ino berkata dengan napas terengah-engah. Neji hanya tertawa menyeringai kearahnya, "Aku selalu menyukai ekspresi marahmu saat kita sedang bercinta."
"Kita sudahi sa— ouhhh…Nejii…uhh" tanpa disangka Neji menusuknya lebih dalam dan mempercepat gerakan pinggulnya.
Ino mengalami orgasmenya lagi kali ini. Milik Neji serasa penuh di dalam dirinya. Bahkan ia dapat merasakan cairan milik pria itu menyembur memenuhi rahimnya. Rasa hangat mengalir di dalam sana, Ino memejamkan matanya menikmati sensasi yang sering ia rasakan ini. Benar ! Seorang Neji Hyuuga membuatnya semakin tak waras.
.
.
.
Ino semakin dekat dengan ibunya. Ibunya terus membangun komunikasi dengannya. Koha dan Jiraiya tampak menerimanya sebagai anggota keluarga mereka. Sedangkan Shion masih tetap sama. Mengenai Ibunya, sosok ibunya itu tak pernah terlepas dari sosok Sai. Ino sekarang tak ketakutan lagi pada pria itu. Pria itu berubah menjadi pria baik dan perhatian. Jika dia tidak jatuh cinta pada Neji, mungkin dia bisa menerima keberadaan Sai. Ino sering bertemu Sai di café tempatnya bekerja atau di kediaman Ibunya. Ibunya selalu tampak merencanakan pertemuannya dengan Sai. Ino cukup muak dengan ini semua. Bahkan Ibunya sering menyinggung tentang hubungannya dengan Neji. Tsunade selalu mengolok-oloknya.
"Apa Neji sudah melamarmu? Lihatlah….kau akan terus menjadi perawan tua jika terus bersamanya."
Kata-kata itu terus terniang dalam pikirannya. Apalagi Tsunade selalu berusaha menjodohkannya dengan Sai. Karena itu pula Ino mulai membenci ibunya. Jika waktu dapat diputar, ia tidak ingin bertemu dengan ibunya. Tsunade selalu berusaha mengatur hidupnya.
.
.
.
Setelah menikah, Sakura menetap sementara di Kanada bersama Sasuke dan keluarganya. Tapi ia sudah pulang ke Jepang beberapa minggu yang lalu. Kembali ke Jepang membuat pikirannya kembali berpusat pada sahabatnya Ino. Ia tak mendengar kabar Ino akhir-akhir ini. Ia merindukan sahabatnya itu. Berbagai macam perasaan berkecamuk di hatinya. Ingin sekali Sakura menyangkal jika sahabatnya itu menjalin hubungan dengan Neji.
Sakura mengunjungi kediaman Ino. Sebagai sahabat memang terasa aneh jika Sakura baru pertama kali mengunjungi rumah Ino. Kesibukannya sebagai dokter membuatnya tak bisa leluasa berpergian. Inolah yang berperan mengunjungi kediamannya. Sakura merasa sebagai sahabat yang jahat disini.
Sakura berada di depan rumah Ino. Ino menyambut kehadiran Sakura di rumahnya. Ia tampak senang mengetahui kehadiran sahabatnya ini. Gadis berambut blonde itu akhirnya mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Ino pergi ke dapur untuk membuat minuman dan mengeluarkan beberapa cemilan untuk Sakura. Sedangkan Sakura menunggu Ino dengan duduk di sofa depan televisi. Ia duduk tenang sambil membaca majalah.
"Inoo! Kau meletakkan kaos biru dongkerku dimana?"
Sakura menoleh mendengar suara seorang pria. Neji keluar kamar dengan keadaan bertelanjang dada. Pria itu melirik ke arah Sakura. Tumben sekali Wanita merah muda itu kesini? Sakura sendiri terkejut melihat Neji berdiri di hadapannya—Apalagi penampilan vulgar pria itu merusak pandangan Sakura.
"Aku meletakkannya di lemari bagian bawah. Cari saja disana!" Ino keluar dari dapur sambil membawa minuman dan cemilan.
.
.
Sakura butuh penjelasan Ino sekarang juga. Ia kira hubungan Neji dan Ino sudah berakhir. Ia tahu Neji tak akan pernah lama dalam menjalin hubungan dengan perempuan.
"Kau tinggal serumah dengannya?"
"Aku tinggal hampir dua tahun bersamanya."
"Apa-apaan kau ini? Kau mengajaknya tinggal di rumahmu ini?"
"Tidak, ini bukan rumahku. Aku yang menumpang di rumahnya."
Penuturan polos Ino membuat Sakura menepuk jidatnya kasar. Hampir dua tahun tinggal bersama Neji? Yang benar saja. Kenapa ia tak apapun selama ini.
"Kau sibuk dengan kehidupanmu Sakura. Pekerjaanmu dan Sasuke adalah prioritasmu. Kau tak pernah bertanya bagaimana kehidupanku, dimana aku tinggal dan bersama dengan siapa aku sekarang"
Sakura mengakui jika selama ini ia cukup egois. Ino selalu bertanya bagaimana keadaaannya sekarang, tapi Sakura tak pernah sekalipun bertanya bagaimana keadaan Ino sekarang.
"Kau tau sendirikan bagaimana sikap Neji. Dia adalah seburuk-buruknya laki-laki. Dia suka mabuk-mabukan, berkelahi, bermain wanita, egois….. bahkan dia pernah hampir membunuhmu Ino! Dia menabrakmu hingga kau koma selama 4 bulan." Sakura berkata sambil menahan amarah yang hampir mencapai ubun-ubunnya.
"Ya, aku tau itu semua. Tapi entahlah…aku mencintainya."
"Apa? Mencintainya? Hidupmu tak akan pernah bahagia hanya dengan cinta pig!."
Ino hanya terdiam. Ia tahu akan begini jadinya. Sahabatnya itu sangat tak menyukai sosok bernama Neji Hyuuga.
"Aku tak akan pernah merestui hubunganmu dengannya Ino! Aku tak mau menganggapmu sebagai sahabat sampai kau memutuskan hubunganmu dengannya. Aku pulang sekarang!"
Sakura meninggalkan Ino. Sahabatnya itu pergi meninggalkan rumahnya. Kenapa jadi seperti ini? Apa salahnya ia mencintai Neji? Dulu ia mendukung hubungan Sakura dengan Sasuke. Ino mempercayakan Sakura pada Sasuke. Ino yakin Sasuke dapat menjaga Sakura. Tapi kenapa saat ia bersama Neji, Sakura tak mendukungnya? Kenapa?
.
.
Ino melayani pembeli di café tempatnya bekerja. Ino sangat senang dengan pekerjaannya ini. Setelah lulus kuliah, ia tak punya pekerjaan apapun selain menulis cerita. Dengan bekerja disini, ia tetap bisa menghabiskan waktu dan tetap bisa berinteraksi dengan banyak orang. Apalagi Bossnya, Uchiha Hana sangat baik kepada semua karyawannya.
Ino membersihkan meja sambil menunggu pelanggan lain datang. Sedangkan karyawan lain sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sebenarnya Neji melarangnya untuk bekerja disini. Neji adalah orang kaya. Dia bisa memberikan apapun pada Ino saat ini. Tapi Ino menolaknya. Ia tak mau hanya berdiam diri di rumah tanpa kegiatan berarti.
Terdengar bunyi lonceng berdenting. Pintu café terbuka dengan kasar. Seorang gadis masuk ke dalam café dengan keadaan berantakan. Baju pasien rumah sakit dan bekas selang infus masih melekat di tubuhnya. Rambut coklat panjangnya terurai acak-acakan. Kantung mata hitam terlihat jelas di mata coklatnya. Dia bahkan datang ke café ini tanpa memakai alas kaki.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru café. Pengunjung yang lain menatapnya ketakutan.
"Dimana Ino Yamanaka! Dimana dia!" Gadis itu berteriak dengan nada membentak marah.
Pengunjung café mulai nampak ketakutan dengan perilaku gadis itu. Gadis itu bahkan mendekati petugas kasir dan mengancamnya. Hana terlihat syok dengan kehadiran tak terduga seorang gadis sinting di cafenya. Hana tau, gadis itu mencari Ino. Ia lalu membawa Ino masuk ke dalam ruangannya. Gadis sinting itu terus memanggil nama Ino berulang kali. Beruntung, ia bisa mengamankan Ino dari kejaran gadis itu. Ia menengok Ino di sebelahnya… Astaga!dimana dia?
Tenten mengobrak-abrik seluruh isi café. Gadis itu berteriak-teriak tidak jelas. Meja dan kursi ia lempar sembarangan. Pengunjung berlarian keluar. Karena semua karyawan disini adalah perempuan, mereka tampak ketakutan dan tak berani melawan Tenten. Ino bingung dengan keadaan ini, ia memberanikan diri menghampiri Tenten.
"Tenten? Kau kah itu?"
Tenten yang meringkuk di sudut café menengadahkan wajahnya, ditatapnya Ino yang berjalan mendekatinya. Secara tiba-tiba Tenten berlari kearahnya. Dia menyudutkan Ino ke tembok dan mencekik gadis itu, "KENAPA KAU MEREBUT NEJI DARIKU HAH? KAU JAHAT! KAU JAHAT SEKALI! DASAR JALANG! AKU SANGAT MENCINTAINYA. AKU SANGAT MENCINTAI HYUUGA NEJI!"
Napas Ino terasa sesak. Gadis itu masih tetap dengan posisinya mencekik Ino. Tenten tampak kesetanan. Karyawan yang lain tak berani menolongnya. Tapi salah satu dari mereka mulai menelpon polisi.
Kepala Ino mulai merasakan pening. Oksigen di tenggorokannya mulai terasa menipis. Pandangan matanya juga mulai mengabur. Tenten di depannya tampak kesetanan. Ia tertawa keras. Ino mulai putus asa dengan keadaannya, apakah ia akan mati di tangan gadis di depannya? Terdengar berlebihan memang. Tapi mungkin saja itu terjadi bukan?
Ino merasakan cekikan di lehernya terlepas. Ino membuka matanya. Ia lalu terbatuk-batuk karena napasnya yang tercekat. Petugas rumah sakit tampak membawa Tenten pergi. Gadis itu meronta-ronta saat dibawa masuk ke dalam mobil ambulans. Karyawan yang lain dan orang-orang mulai berdatangan mengelilinginya. Ino tampak sedikit syok dengan peristiwa ini. Hana berlari panik ke arah Ino. Ia membawa segelas air putih dan memberikannya pada Ino.
Ino duduk di salah satu meja café. Hana menanyakan keadaan Ino berulang kali. Ino hanya menjawab ia baik-baik saja. Ia tak mau membuat khawatir Bossnya itu. Saat Ino sedang terduduk, seorang pria tua mendekatinya. Pria itu tampak menyuruh semua orang menjauh darinya. Jadilah hanya ia dan pria itu duduk dalam satu meja.
"Maafkan kelakuan putriku. Dia melarikan diri dari rumah sakit. Kau pasti sudah paham penyebab dia menjadi depresi seperti itu." Danzou berujar. Raut kesedihan tampak di wajahnya.
"Karena Neji Hyuuga?" Ino balik bertanya. Raut bersalah nampak pada dirinya.
"Ya, dia menjadi depresi karena secara tiba-tiba Neji membatalkan perjodohan. Ditambah lagi Hiashi memberi tahuku jika penyebabnya karena kau menjalin hubungan dengannya" Danzou berhenti sejenak dari perkataannya, dia menghela napasnya,"Lalu Tenten tak sengaja mendengarnya."
"Maafkan aku tuan…"
"Sebenarnya aku tak terlalu berharap seorang Neji menjadi menantuku dan aku tak peduli dengan siapa dia berhubungan. Tapi melihat putriku seperti itu, mungkin hanya dengan seorang Neji ia bisa kembali sembuh."
Ino tampak bimbang. Ia memiliki firasat buruk setelah ini.
"Tolong jauhi Neji demi kesembuhan putriku. Aku akan membayar berapapun kau mau."
"Apa? Tidak! Aku tak mau!" Ino marah. Ia tak mau menuruti perintah Danzou.
"Aku memberikan pilihan termudah untukmu. Aku adalah orang berkuasa di kota ini. Membuatmu atau membuat Neji Hyuuga menderita adalah hal yang mudah untuk dilakukan." Danzou tampak terdiam. Dia menatap Ino, "Tolong pikirkan kembali keputusanmu! Aku yakin Neji tak akan lama bersamamu. Dia tampak seperti bukan pria baik-baik. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini."
.
.
.
Pikiran Ino mulai terasa pusing memikirkan banyak permasalahan yang dihadapinya. Semua orang tampak menyalahkan hubungannya bersama Neji. Ino mulai muak dengan hidupnya sendiri. Ia memutahkan seluruh isi perutnya. Kepalanya semakin pening saja. Ia ingin sekali memukul apapun di dekatnya. Ino memutuskan membasuh wajahnya dan kembali bergabung di ruang makan bersama Ibunya.
Tsunade melihat putrinya kembali dari kamar mandi. Wajah Ino terlihat pucat. Gadis itu bahkan tak menyentuh kembali makan siangnya.
"Ino-chan, habiskan makan siangmu…ini makanlah." Sai meletakkan aneka makanan ke dalam piring Ino. Pria yang duduk di sebelahnya itu nampak telaten menyuruh Ino makan.
"Benar apa yang dikatakan Sai, habiskan makananmu Ino" Tsunade menambahkan.
'BRAK'
Ino memukul meja, "Cepat jelaskan apa maksud kalian mengajakku makan siang disini!" Ia tampak tak senang berada disini.
Tsunade memandang Sai bergantian. Pria dengan senyuman palsunya itu segera mengeluarkan kotak kecil berisi dua buah cincin dari dalam saku celananya.
"Menikahlah denganku, Ino-chan. Aku berjanji akan membahagiakanmu."
Ino terdiam. Ia membenci situasi ini.
"Apa kalian tak tau jika saat ini aku sudah bersama Neji? Kaa-san! Aku yakin kau tak memberi tahu Sai jika aku sedang menjalin hubungan dengan Neji Hyuuga!"
Sai tampak terkejut mendengar nama Neji dimasukkan ke dalam topik pembicaraan. Hatinya terasa remuk mendengarnya. Selama ini Sai hanya fokus memperhatikan Ino tanpa melihat bagaimana kehidupan pribadi wanita itu. Dia bahkan tak menyangka jika Ino yang ia cintai sedang menjalin hubungan dengan seorang Neji Hyuuga.
"Kaa-san bilang lupakan Neji, Ino! Pria itu hanya memberi harapan palsu padamu. Lihatlah! Sampai sekarang dia tak punya niatan untuk melamarmu. Berhentilah berharap padanya!"
Ino mulai marah. Lagi-lagi seperti ini. Semua orang tak suka jika ia bersama Neji.
"Kalian tak tau apa-apa tentang Neji! Dan kau Sai! Jangan mendekatiku lagi! Aku muak melihat wajahmu!
.
.
Neji tak menyangka proyek Hyuuga corp. akan cepat selesai. Dia menyelesaikan proyek kali ini dengan baik dan sempurna. Saham perusahaan keluarganya mengalami kenaikan yang signifikan. Adiknya akan mulai menangani Hyuuga corp mulai besok. Sekarang Neji bisa bernapas lega. Dia bisa kembali berfokus pada Aranch. Mereka akan kembali sibuk akhir pekan mendatang. Sasuke sudah pulang dari Kanada dan anggota yang lain sudah siap kembali dengan rutinitas mereka di Aranch. Neji tak sabar untuk kembali ke dunia yang membesarkan namanya itu.
Neji lalu menatap lekat kotak kecil di tangannya. Ia tak sabar menemui Ino malam ini.
.
.
Sepulang dari makan siang di rumah Ibunya, Ino mengurung diri di kamar. Pikiran dan tubuhnya tampak lelah memikirkan kehidupannya. Ino tak tahu harus mengadu kepada siapa. Semua orang nampak membencinya. Ino memeluk erat guling diatas ranjangnya. Air mata mulai turun membasahi wajah cantiknya. Ia menangis sesegukan. Neji….Ino mulai meragukan keseriusan pria itu. Benar kata orang-orang di sekitarnya, ia akan menunggu Neji untuk waktu yang lama. Ino merasa menyesal. Hati dan tubuhnya sudah ia serahkan semua pada pria tampan itu. Neji seperti candu baginya. Otak dan pikiran Ino sudah teracuni dan terisi penuh oleh Neji. Ino seperti bukan menjadi Ino yang dulu. Bukan Ino yang bodoh, ceria, hiperaktif, penuh semangat dan mudah tersenyum. Ino sekarang hanya bisa menangis, bersedih dan meratapi nasib.
.
.
Neji mengetuk pelan pintu kamar Ino. Ino keluar kamar dengan tampilan acak-acakan. Neji sempat khawatir melihat penampilannya, tapi gadis itu tiba-tiba tersenyum sumringah saat melihatnya.
"Berdandanlah yang cantik, aku akan mengajakmu makan malam di luar."
Ino kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia mengobrak-abrik seluruh isi lemari. Ia bingung akan memakai baju apa untuk acara makan malam ini. Ino tiba-tiba terdiam, moodnya selalu berubah akhir-akhir ini, padahal ia baru saja menangis sedih. Saat Neji datang dan mengajaknya makan malam, ia berubah antusias dan keceriaan tampak di wajahnya. Ino benar-benar melupakan kesedihannya. Neji benar-benar pandai merubah moodnya.
.
.
Restoran bergaya klasik modern menjadi pilihan Neji untuk tempat makan malamnya kali ini. Neji sudah menyusun semua rencananya dengan rapi. Diliriknya Ino, gadis itu duduk di depannya. Ia tampak sibuk memilih menu makanan yang akan ia pilih. Akhirnya Ino memutuskan memilih salah satu menu makanan. Neji kemudian menyusul memesan menu makanan yang dia pilih.
Ino tak henti-hentinya menatap kagum restoran mewah ini. Gadis bermata aquamarine itu lagi-lagi bersikap seperti gadis kampung. Ino selalu memperhatikan arsitektur setiap tempat yang dianggapnya hebat. Neji hanya menggeleng, dia cukup malu dengan kebiasaan gadisnya ini.
"Neji-kun, sepertinya kau salah memilih tempat. Harga seporsi makanan disini sama seperti gajiku bekerja di cafe selama sebulan." Ino berbisik padanya.
Sudut mata Neji berdenyut mendengar penuturan polos Ino, "Nikmati saja makan malammu disini bodoh!"
"Orang kaya sepertimu selalu saja membuang uang…tapi ngomong-ngomong tumben kau mengajakku makan di restoran? Apa masakanku sudah tak enak lagi menurutmu?" Ino lagi-lagi melontarkan pertanyaan yang menurut Neji sangat bodoh.
.
.
Akhirnya pesanan datang. Mereka makan dalam keadaan diam. Neji makan dengan pelan dan santai. Berbeda dengan Ino. Ia tampak melahap semua makanan di depannya. Nafsu makannya naik berkali lipat saat berada di dekat Neji.
"Kau seperti belum makan selama tiga hari."
"Euntahlahh…apuuu lafaar seekalii" Ino berbicara dengan mulut penuh makanan. Neji menyeka ujung bibir Ino, sisa makanan ada di sana. Ino benar-benar jorok.
"Kau sekarang tampak lebih gemuk dari biasanya."
"Fenaarkaahh?"
"Lupakan! Cepat selesaikan makanmu dengan benar!"
Mereka menyelesaikan makan malam mereka. Neji menyuruh Ino tetap duduk di tempat. Ia menuruti perintah Neji. Neji naik ke atas panggung. Pria itu mengambil gitar dan tampak berbicara dengan salah satu orang di atas panggung. Ino hanya diam sambil melihat sekeliling. Ia memperhatikan setiap pengunjung di restoran ini. Pengunjung restoran ini tampak seperti orang kelas atas semua. Lagi-lagi Ino hanya bisa terkagum-kagum tak jelas.
Neji mengambil kursi dan duduk di depan panggung.
Tes..tes…tes..
Neji memecahkan keheningan. "Aku Hyuuga Neji. Malam ini akan membawakan sebuah lagu untuk kekasihku yang sedang duduk disana…"
Sorot lampu mengikuti kearah Ino berada. Ia tampak syok terkejut. Seluruh pengunjung memusatkan perhatiannya pada Ino. Gadis itu hanya merona merah menghadapi situasi seperti ini. Apa-apaan si Neji itu!
Neji tersenyum. Dia mulai memetik gitar di tangannya. Neji mulai bernyanyi…
It's a beautiful night ,
We're looking for something dumb to do
Hey baby
I think I want to marry you
Is it the look in your eyes?
Or is it these dancing shoes?
Who cares baby
I think I wanna marry you
Well I know this little chapel on the boulevard we can go
No one will know
Oh come on girl
Who cares if we're trashed gotta pocket full of cash we can blow
Shots of patron
And it's on girl
Don't say no, no, no, no-no
Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah
And we'll go, go, go, go-go
If you're ready, like I'm ready
Neji selesai menyanyikan lagunya, dia berjalan ke arah Ino. Ino membekap mulutnya. Ia tak menyangka Neji akan melakukan ini semua padanya. Neji berlutut tepat di depannya, Pria itu mengeluarkan kotak berisi cincin dari balik jasnya.
"Menikahlah denganku Yamanaka Ino! Aku ingin kita bisa hidup bersama dan membangun keluarga yang bahagia…. "
Ino tak bisa berkata-kata. Background bunga-bunga bertaburan mengisi hatinya. Ia bahagia sekali.
Neji menunggu jawaban Ino, "Jadi apakah kau mau menikah denganku?"
Ino mengangguk.
Neji memakaikan cincinnya ke jari manis Ino. Tanpa aba-aba Neji langsung menarik Ino ke dalam pelukannya. Selanjutnya terdengar riuh tepuk tangan pengunjung lain mengiringi kebahagian mereka saat ini.
.
.
.
Ino menatap lekat cincin yang menempel di jari manisnya. Ino tak bisa berhenti tersenyum. Neji melamarnya. Malam itu menjadi malam terindah dari beribu malam yang pernah dilaluinya. Ternyata perkataan orang-orang di sekitarnya tak sepenuhnya benar. Awal musim dingin nanti mereka berencana menikah. Ino tak sabar menantikan hari itu. Hari dimana ia akan bersanding bersama Neji di depan altar gereja. Tapi tiba-tiba wajah Ino menjadi murung seketika. Jika ia menikah dengan Neji, apa orang-orang terdekatnya mau menghadiri acara sakralnya itu? Ino menggeleng, ia tak bisa membayangkan menikah tanpa restu dari banyak orang penting disekitarnya.
Jalan yang ia lalui tampak sepi pagi ini. Ino berjalan menyusuri puluhan toko di jalanan pusat kota. Musim gugur membuat banyak orang malas keluar rumah. Ino baru saja menerima uang royalty hasil penjualan novelnya. Ia bersenandung sepanjang jalan. Oh! Ino punya banyak uang sekarang.
Ino terus melanjutkan perjalanannya. Namun tiba-tiba ia berhenti. Gadis itu menengok kebelakang, Ino merasa ada seseorang mengikutinya. Ia mempercepat langkahnya. Ino merasakan firasat buruk, ia semakin yakin jika ada seseorang mengikutinya dari belakang. Ino terus berjalan cepat untuk segera mencapai halte bus...
'GREP'
Sebelum mencapai halte bus, seseorang di belakangnya membekap mulutnya menggunakan sapu tangan. Mulutnya yang di sumpal sapu tangan membuatnya tak bisa berteriak. Ino meronta dan berusaha melarikan diri. Namun sia-sia, kumpulan orang-orang itu sulit untuk dilawan. Perlahan pandangan matanya mulai mengabur. Ino pingsan. Gadis itu lalu dimasukkan ke dalam mobil dan mobil itu pergi menjauh dari jalanan saat itu.
.
.
.
Ino perlahan membuka matanya. Ia bangkit dari tempatnya berbaring. Ino ingat ia diculik tadi pagi. Ia melihat keadaan dirinya. Tak ada tali yang mengikat tubuhnya. Pakaiannya-pun masih melekat sempurna di tubuhnya. Ino memandang tempatnya berada, Ia berada di sebuah kamar. Ornamen dan arsitektur bangunannya cukup familiar di matanya. Ino memincingkan matanya. Manshion Hyuuga?
Masami masuk ke dalam tempatnya berada. Ia membawa nampan berisi makanan.
"Ino-chan, makanlah! Kau pasti belum makan siang."
Ino memandang bingung. Ia diculik hanya untuk datang ke manshion Hyuuga? Berlebihan sekali. Ia kira ia akan dibunuh atau dimutilasi karena penculikan ini.
"Maafkan suamiku, dia memang selalu berlebihan. Dia ingin menemuimu"
"Menemuiku? Untuk apa?"
"Entahlah. Kaa-san tak tau. Tapi bersabarlah saat menghadapinya. Dia nampak tak senang dengan hubunganmu bersama Neji."
'Selalu saja seperti ini. Semua orang selalu melarangku bersama Neji' Ino berdumel dalam hati.
"Kaa-san cuma bisa menasehati, jika kau merasa terus tersakiti saat bersama Neji, pergi menjauhlah darinya. Kaa-san tak tega jika harus melihatmu terus menderita."
Ino hanya bisa berdecak kesal. Nasehat apa-apaan itu.
.
.
.
Ino duduk berhadapan dengan Hiashi Hyuuga. Pria tua itu tampak angkuh dengan tampilannya. Ino akui ia seperti melihat Neji versi tua di hadapannya. Tanpa sadar Ino terkikik melihat penampilan Hiashi.
"Kau menertawakanku?" Hiashi menatap tak suka kearahnya. Ino terdiam, ia lalu memperbaiki sikapnya yang keterlaluan itu.
"Yamato, ambilkan cek di dalam brangkasku!" Hiashi tampak menyuruh seorang pria yang menjadi kaki tangannya. Hiashi mengambil cek tersebut dan menuliskan nominal angka disana.
"Aku rasa nominal uang ini cukup untukmu bertahan hidup."
Hiashi menyerahkan cek kertas pada Ino. Bukannya menerima, Ino membuang kertas itu dan melemparkannya ke sembarang arah, "Kau kira aku ini apa?" Ino mulai marah. Ia tak suka direndahkan seperti ini.
Rahang Hiashi mengeras. Dia sangat tak menyukai sikap arogan wanita muda di depannya.
"Jauhi putraku! Kau tak pantas bersamanya!"
"Apa? Hanya karena itu kau menculikku kesini?"
"Aku tak sudi jika memiliki menantu yang tidak jelas sepertimu! Aku tak akan pernah merestui hubungan kalian, wanita murahan!"
Hiashi mengeluarkan buku kecil di dari dalam lacinya. Ino membaca buku itu. Ternyata buku itu itu adalah paspor berisi namanya. "Oh! Ya Tuhan!...apa-apaan lagi ini!" Ino semakin marah. Ia berusaha menahan emosinya.
"Membiarkanmu selama satu tahun setengah bersama putraku kurasa cukup. Aku tak ingin keturunan Hyuuga rusak karena wanita sepertimu."
Ino merasa kepalanya semakin pusing mendengar perkataan pria tua itu.
"Jika kau tak menjauhi putraku sesegera mungkin, aku akan mengirimmu ke China atau Amerika secara paksa. "
.
.
.
Ino merasa semakin gila. Isi kepalanya seperti akan meledak. Ino melihat pantulan dirinya di depan kaca wastafel. Mengenaskan sekali. Lingkaran hitam matanya terlihat jelas. Kepalanya terasa berputar dan pening. Wajahnya tampak pucat. Belum lagi isi perutnya ikut-ikutan merasakan mual. Lagi-lagi Ino memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia benci dengan ini semua. Ino benci keadaannya. Ia benci dengan kehidupannya sekarang. Penolakan orang-orang terdekatnya sama sakitnya dengan perlakuan orang-orang yang membullynya saat SMA dulu. Mereka semua jahat! Mereka tak berperasaan!
Neji jarang di rumah. Pria itu mulai sibuk dengan aktivitasnya bersama Aranch. Apalagi jadwal mereka sangat padat sekarang. Konser di China sangat dinantikan penggemar disana. Neji akan berada di China untuk waktu yang cukup lama. Belum lagi Aranch akan merampungkan tour album yang mereka luncurkan musim panas lalu. Tour itu sempat tertunda karena terganggu aktivitas mereka masing-masing.
Ino merasakan hidupnya semakin lama semakin tak berguna. Neji yang menjadi tumpuannya, sekarang tak bersamanya. Pria itu sibuk dengan pekerjaannya. Ino hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan menangis sendirian di rumah. Kondisinya nampak semakin terpuruk. Saat ia mendekati Ibunya, wanita itu akan terang-terangan mengoloknya. Apalagi ia pernah menolak lamaran Sai dengan sikap kasar yang keterlaluan. Sedangkan Sakura? sahabatnya itu benar-benar menepati janjinya. Ia menjauhi Ino. Tetangga sebelah rumahnya, Nenek chiyo? Wanita tua itu cukup kecewa karena Ino terlihat bersekongkol dengan Temari untuk menjauhi Gaara—Jangan lupakan fakta bahwa Temari tak dekat dengan wanita tua itu. Mengadu pada Masami atau Hanabi? Ino harus berpikir ulang, ada Hiashi di belakang mereka. Ingatlah, Hiashi sama dengan Danzou. Mereka tak henti-hentinya mengancam Ino hingga saat ini.
Oh Tuhan! Ia tak tau harus bagaimana. Ia selalu berbohong saat Neji menelponnya. Ia selalu tampak ceria dan bahagia. Ino tak mau terlihat sedih di hadapan pria itu. Ia terus membohongi hati dan perasaannya. Ternyata saat Neji melamarnya, situasi tetap tak berubah. Situasi malah tampak semakin rumit. Ia ingin sekali mengulang semuanya dari awal. Seharusnya dari dulu ia menolak tawaran Neji untuk tinggal bersamanya, Ino yakin ia tak akan pernah tergila-gila pada pria itu. Dan bisa dipastikan sekarang ia sedang hidup berbahagia tanpa tekanan.
Bersambung….
Yo..yo..
Author akan kembali lagi sehabis lebaran...
Yang berniat, silahkan REVIEW.
Author butuh saran dan kritik untuk kelancaran dan keberhasilan cerita ini
