LOVE IN PROBLEM

Pairing = [TAEIL X DOYOUNG] [HANSOL X YUTA] [JOHNNY X TEN] [JAEHYUN X TAEYONG] [MARK X DONGHYUCK] [JENO X JAEMIN] + JISUNG

Support Cast = Koeun, yumin(oc), etc.

Genre = Romance, Hurt/Comfort

Warning = YAOI, TYPO, AU, TIDAK SESUAI EYD, MPREG! TRANSGENDER!

.

BY Johntenny


Hansol memandang puas pada tampilan dirinya di depan cermin ruang tengah. Rambut pirangnya di tata dengan poni ke atas, setelan jas berwarna putih dengan kemeja dalam hitam dan di padu dengan celana bahan berwarna hitam, dan juga sepatu Derby yang berwarna hitam mengkilat. Sangat resmi dan terlihat menawan untuknya.

Ia melihat jam berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, dan itu artinya upacara pernikahan Taeil dan Doyoung akan dimulai dalam waktu satu jam ke depan. Kaki jenjangnya melangkah menuju kamarnya dan Yuta, ia sudah harus memanggil kekasihnya itu untuk segera menuju pantai.

Pemuda tampan dengan tuxedo resmi itu tersenyum lebar melihat kekasihnya yang sedang memoles liptint pink di bibir ranumnya yang memang sudah berwarna merah cherry alami. Ia mendekat dan berdiri di belakang kekasihnya yang terlihat lebih cantik dari biasanya.

Rambut coklat madunya tertata rapi berponi hingga menutupi kening mulusnya. Wajah manisnya di beri beberapa make up ringan seperti bedak tipis, eyeliner di mata bulatnya, dan liptint berwarna pink di bibir ranumnya.

Empire line dress berwarna putih yang dipakainya terlihat sangat elegan di tubuhnya dan perut besarnya juga tidak tertekan dengan dress itu. Namja manis itu sengaja memakai dress karena ia tidak mungkin memakai setelan resmi seperti Hansol dengan perut yang membesar, dan itu pasti akan terlihat aneh.

Kaki rampingnya di balut dengan sepatu Loafers berwarna putih, hingga ia tidak terlihat sederhana dan sangat manis di mata sang namja tampan. Sang namja tampan mengambil sebuah kalung emas putih di laci meja rias yang mereka pakai.

Ia memakaikan kalung emas cantik itu di leher jenjang sang kekasih manisnya. Namja manis itu tersenyum manis sambil memandangi bandul kalung yang berbentuk lingkaran berlapis berlian. Mewah dan terlihat sederhana.

"Kamu selalu saja cantik..." ujar Hansol dan mengecup pelipis kanan namja manis itu. Sedang yang di puji hanya bisa merona tipis. "Siapa yang mengajarimu memakai make-up, hm?" tanyanya lagi, ia terlihat penasaran sekali.

Yuta menggeleng kecil, "Tidak ada, tapi kurasa ini berjalan dengan sendirinya atau bawaan baby juga mungkin..." jawab Yuta santai. Hansol menunduk dan memeluk Yuta dari belakang. "Apa baby kita ini seorang jagoan, eoh?" Hansol mengusap perut membesar itu. Yuta menatap Hansol dengan pandangan bingungnya, dan Hansol terkekeh lantaran gemas dengan keimutan sang kekasih.

"Banyak orang yang bilang, jika sikap ibu yang tengah hamil itu lebih suka berbenah atau lebih suka dengan kerapian, dan juga sang ibu terlihat bersinar dan sangat cantik..." wajah manis itu semakin merona saat namja tampan itu menatap lekat dirinya. "Berarti calon bayinya adalah seorang laki-laki." Lanjut Hansol dengan senyum merekahnya.

Yuta tersenyum tulus dan mengelus pipi Hansol di samping wajahnya. "Apa hyung menginginkan seorang putra?" tanya Yuta lembut. Hansol menggeleng kecil, "Bukannya tidak mau...aku tidak mementingkan gender untuk anak pertama kita, di beri seorang jagoan aku akan bersyukur dan di beri putri pun aku juga akan bersyukur, asal dia sehat dan tak memiliki kekurangan apapun." Jawab Hansol dengan lugas.

Yuta tersenyum memandang pantulan mereka berdua di cermin dengan Hansol yang memeluknya dari belakang. "Aku juga sama...siapapun bayi kita aku akan menerimanya." Jawab Yuta. Hansol melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Yuta. "Jja, kita harus segera menuju pantai, pasti sudah banyak orang yang datang."

Yuta mengangguk dan mereka pun keluar dari kamar hotel menuju pantai yang sudah di dekor sedemikian rupa. Gongmyoung benar-benar hebat mendekorasi pantai yang sudah ditetapkan Taeil dan Doyoung sebagai lokasi dimana mereka akan melangsungkan pernikahan.

Banyak rangkaian bunga di sekeliling pantai dan warna yang dipakai dekorasi benar-benar identik dengan laut. Perpaduan warna putih, biru Aqua, dan beberapa warna pastel benar-benar membuat kesan lembut di dalamnya. Di tambah dengan suasana pantai yang begitu alami di hadapan mereka, membuat semua tamu undangan yang mulai berdatangan tersenyum dengan dekorasi indah yang dibuat oleh Gongmyoung. Di depan mereka ada sebuah rangkaian bunga melingkar yang dijadikan sebagai latar belakang altar.

Sepasang kekasih itu menghampiri pasangan lainnya yang juga sudah siap di bangku masing-masing. Ada Johnny, Jaehyun dan minirookies yang berpakaian formal resmi seprti Hansol dan juga ada Ten dan Taeyong memakai pakaian semi formal yang membuat mereka terlihat manis berada di samping kekasih mereka.

"Yuta hyung, Hansol hyung!" sambut Jaemin dan diikuti lambaian tangan dari yang lainnya. Hansol dan Yuta tersenyum membalas lambaian mereka. Mereka berjalan menghampiri Johnny, Ten, Jaehyun dan Taeyong yang duduk di barisan depan sebelah kanan sedangkan minirookies bersama manager mereka berada di sebelah kirinya. Yuta mendudukkan dirinya disamping Ten, dan diikuti Hansol yang duduk disebelahnya. Jaehyun dan Taeyong tersenyum pada keduanya

Johnny menyapa Hansol dengan melakukan highfive. "Yuta hyung memakai dress?" tanya Ten dengan wajah berbinar. Yuta mengangguk sedikit canggung. "Wae? Apa jelek?" tanya Yuta sedikit meringis. Ten menggeleng cepat mendengar keraguan Yuta. "Aniyo. Yeppeuda!" seru Ten pada Yuta.

Yuta tersenyum lega dan mencubit pipi Ten. "Tennie do." Celetuk Johnny dan memberikan wink-nya pada Ten, sedang yang diberi wink sekarang sudah merona parah. Membuat Yuta, Taeyong, Jaehyun, dan Hansol yang memperhatikan terbahak melihatnya. Ten yang salah tingkah pun memeluk pinggang Johnny dan menyembunyikan wajah blushing-nya di perut sang namja tampan itu.

"Apa acaranya sudah dimulai?" tanya Hansol sambil celingukan. Ia melihat jam lagi yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. "Sepertinya lima belas menit lagi." Jawab Taeyong sambil melihat semua tamu undangan yang sudah bersiap di bangku masing-masing untuk menyambut kedatangan mempelai pria.

Tak lama, Yumin mendekati mereka. Ia menepuk pundak Johnny hingga sang namja Amerika itu berpaling padanya. Yeoja cantik itu mebisikkan sesutu di telinga Johnny. Johnny mengangguk dan tersenyum. Ia bangkit berdiri membuat sang kekasih mengernyit. "Mau kemana?" tanya Ten menahan tangan Johnny dengan pandangan sulit di artikan.

Johnny melepaskan tangan Ten dengan senyum misteriusnya. Ten mengernyit saat Johnny meninggalkannya, dan saat ia ingin menyusul, Ten terpaku. Johnny duduk di kursi grand piano berwarna putih yang memang disediakan untuk meramaikan suasana pernikahan Taeil dan Doyoung dengan lagu-lagu yang akan dimainkan. Tapi ia tidak tahu kalau Johnny adalah pianistnya.

Terlihat seorang pendeta yang sudah berdiri di altar dengan sebuah kitab suci di tangannya. Ia berdiri dengan tubuh tegapnya yang seolah mengatakan kalau ia sudah siap untuk menyatukan kedua orang yang saling mencintai di hadapan Tuhan.

Dentingan piano mengalun romantis bersamaan dengan kedatangan Taeil dari belakang para Tamu dan juga semilir angin pantai yang sejuk menerpa mereka semua. Serentak para tamu berdiri menyambut ke datangan si mempelai pria itu. "Pernikahannya akan segera dimulai." Gumam Jaehyun dan meremas tangan Taeyong pelan. Sementara Taeyong tersenyum memperhatikan Taeil yang tengah berjalan dengan gagah menuju altar itu.

Taeil berjalan dengan gugup dalam hatinya. Ia tersenyum pada semua tamu yang hadir dengan penampilan sempurnanya. Tuxedo putih dan dasi pita yang membuatnya terlihat sangat tampan. Rambut hitamnya yang di model serapi mungkin, membuat nilai plus pada dirinya.

Taeil yang melihat semua sahabatnya dan keluarganya ada disana... membuatnya melangkah semakin yakin. Tak dipungkiri, jantungnya berdebar seiring langkahnya menuju altar dimana ia akan mengucapkan janji sehidup sematinya bersama seseorang yang dicintainya. Taeil mendesah lega saat ia sudah berada di atas altar dan menghadap para tamu. Ia melihat ke arah depan yang menjadi pintu masuk untuk kedatangan sang mempelai wanita. Taeil akan bersabar menunggu walau selama apapun.

.

.

Sementara di suatu ruangan...

Doyoung menatap gugup pada tampilan dirinya di cermin. Dilihat dari bawah, ia memakai wedges putih bergliter yang begitu cocok di kakinya. Gaun berwarna putih yang hanya menutupi bagian dada dengan bawah mengembang mekar dan bergelombang. Kain sutera yang menutupi lengan dan punggungnya di selipkan di bawah dada, hingga memamerkan bahu mulusnya. Mahkota kecil di atas rambut yang sudah disanggul rapi dan poninya yang memiring ke samping. Kalung dan anting yang menghiasi leher jenjang dan telinganya. Hingga wajahnya yang di poles make up, alisnya di bentuk menjadi lebih tebal, matanya yang diberi eyeshadow, eyeliner yang mempertajamnya dan bulu mata palsu yang membuatnya terlihat sangat manis. Bedak, blus on tipis di pipi chubbynya dan lipstick merah cherry membuatnya semakin seperti seorang cinderella.

Perlahan ia menatap yakin pada pantulan dirinya di cermin dan ia mengambil sebucket bunga mawar putih di atas mejanya. Dia melihat jam di atas meja riasnya, dan jantungnya semakin berdebar. Saat itu, pintu ruangannya terbuka dan seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangannya.

Doyoung menatap gugup pada namja yang merupakan ayah kandungnya tersebut, yang kini berjalan menuju dirinya. Tuan Kim menatap anaknya degan pandangan sedikit getir. Dengan senyum lirih dan penuh penyesalan ia berkata pada Doyoung. "Sebelum Appa mengantarmu menuju calon suamimu, Appa ingin meminta maaf atas waktu yang terbuang sia-sia diantara kita, Doyoung-ah. Dan Appa berharap kau mau mengampuni Appa-mu ini."

Doyoung tersenyum tipis pada mata yang menyembunyikan kerapuhan itu. "Aku sudah memafkan kalian, Appa." Jawabnya. "Gashamnida." Jawab Tuan Kim dengan senyum lega. Ia menggandeng tangan sang anak dan membawanya pada calon suami yang sudah menunggu di Altar.

"Kajja, calon suamimu sudah menunggu di Altar." Doyoung tersenyum malu saat sang ayah mengatakan 'calon suami-mu' padanya. Dan ia membiarkan hatinya kembali bergetar karenanya. Tanpa sadar Doyoung menggenggam tangan sang ayah dengan erat sebagai pelampiasan rasa gugupnya saat ia sudah sampai di pantai.

Saat di palang masuk, ia dapat melihat Taeil yang begitu tampan dengan tuxedo putih berdiri di atas altar dengan tatapan memuja yang dilayangkan namja tampan itu untuknya.

Semua tamu menyambut kedatangan Doyoung dengan penuh suka cita. Dan mereka dibuat terpesona oleh penampilan Doyoung hari itu. dia seperti putri kerajaan yang akan menikah dengan pangerannya. Tak hanya tamu, Taeil pun merasa jatuh cinta beruang kali dengan pesona namja manis itu.

Doyoung berjalan perlahan menuju Taeil diiringi alunan piano dari Johnny. Ia membalas senyuman Taeil dengan senyuman manisnya. Dengan tatapan kekaguman yang ditunjukkan keduanya, membuat keduanya semakin jatuh cinta.

"Waw! Doyoung hyung sangat cantik." Celetuk Jaehyun dengan wajah berbinar. Taeyong yang tengah memperhatikan Doyoung kini mengalihkan pandangannya pada Jaehyun dengan deathglarenya. Tapi yag di pandang seperti itu hanya acuh, membuat namja manis itu mengerang kesal dalam hati. Ia tahu Doyoung sangat cantik, tapi jangan di katakan secara langsung bisa tidak? Ia kan jadi cemburu, kira-kira itu isi hati Taeyong.

Saat jarak keduanya hanya tinggal satu langkah, Tuan Kim berhenti di hadapan Taeil. Taeil mengulurkan tangannya dengan lembut, bersiap untuk menggenggam erat tangan mungil itu. Tuan Kim menyerahkan genggaman tangan Doyoung hingga kini tangan mungil itu berada dalam genggaman Taeil.

"Aku percayakan anakku padamu, Moon Taeil." Ujar Tuan Kim menatap Taeil dan di angguki oleh Taeil. Tuan Kim mundur, dan membiarkan Doyoung kini di tuntun oleh Taeil. Taeil menatap Doyoung dengan pandangan memuja, dan begitu pun sebaliknya.

Pendeta berdehem sebentar sebelum membaca lantunan ayat kitab suci untuk memulai pembukaan acara pegikatan kedua mempelai. Setelah semua tamu undangan atau saksi meng-Amin-i dan telah duduk kembali, pendeta menatap kedua mempelai dengan tatapan seriusnya.

Johnny memainkan instrument 'A Thousand Years' bersamaan dengan perkataan yang keluar dari bibir sang pendeta. "Pada pernikahan yang suci ini, yaitu di Jeju, pada hari Sabtu, tanggal 14 Juni 2014 akan dipersatukan. Moon Taeil dengan Kim Doyoung. Dan untuk mempelai pria dipersilahkan untuk mengucapkan janji suci anda dengan sungguh-sungguh, dengan kebebasan dan tanpa paksaan."

Taeil menatap Doyoung dengan segenap jiwanya. Kedua tangannya menggenggam tangan Doyoung di depan dada mereka. Ia pun mengambil nafas, dan sekarang saatnya ia mengucapkan janji sucinya dihadapan keluarga, sahabat, dan para tamunya.

"Aku, Moon Taeil menerimamu, Kim Doyoung menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk di kasihi dan diperhatikan, seperti Tuhan mengasihi hamba-Nya, sampai kematian memisahkan kita, menurut titah Tuhan dan iman kepercayaanku pada-Nya, kuucapkan janji setiaku padamu."

Keseriusan terpancar jelas dari matanya saat ia melantunkan janji sucinya membuat hati Doyoung menghangat.

"Kim Doyoung-ssi, sekarang giliran anda untuk mengucapkan janji suci anda dengan sungguh-sungguh dengan kebebasan dan tanpa paksaan." Lanjut pendeta menatap Doyoung.

Doyoung menatap Taeil dengan binar indahnya, dan dengan senyum terpancar ia berkata...

"Aku, Kim Doyoung menerimamu, Moon Taeil menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan, seperti Tuhan mengasihi hamba-Nya, sampai kematian memisahkan kita, menurut titah Tuhan dan iman kepercayaanku pada-Nya, kuucapkan janji setiaku padamu."

Segala beban dalam benaknya menghilang dalam sekejap dalam jiwanya. Janji yang telah terucap itu kini menjadi sumpah sehidup semati mereka.

"Kedua mempelai bisa saling memasangkan cincin dan mempelai pria di perbolehkan mencium mempelai wanita." Ujar sang pendeta. Gongmyoung berjalan menuju altar dengan membawa sekotak cincin di atas nampan. Taeil membuka kotak cincin itu dan memasangkan cincin emas putih dengan berlian berbentuk persegi di sana. Ia memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanan Doyoung. Cincinnya sangat cocok dan terlihat sangat cantik bersama namja manis itu.

Giliran Doyoung yang memsangkan cincin yang berukuran lebih besar pada jari manis tangan kanan Taeil. Ia bernafas lega ketika cincin itu terlihat pas dengan Taeil yang sudah menjadi suami sahnya. Gongmyoung mundur kembali ke tempat duduknya sesudah kedua mempelai itu memakai cincin.

Taeil menatap Doyoung dan ia mempersempit jarak tubuh keduanya. Dengan segenap hati ia mencium kening Doyoung, menyampaikan rasa cintanya yang begitu dalam. Dia sungguh-sungguh mencintai Doyoung dengan nama Tuhan-nya dan segenap jiwa dan raganya.

Doyoung meneteskan air mata bahagianya saat Taeil menciumnya penuh cinta. Ini sungguh hari paling indah dalam hidupnya. Dia berjanji dalam hatinya akan menyerahkan seluruh hidupnya pada pemuda yang kini telah meminangnya, Moon Taeil.

"Dengan demikian, dalam nama Tuhan, saya Jo Jongbin sebagai hamba Tuhan dan hamba-Nya bahwa Moon Taeil dan Kim Doyoung resmi dan sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan." Ujar pendeta mengakhiri acara pengikatan kedua mempelai dan di sambut panuh haru oleh seluruh tamu.

Doyoung dan Taeil saling tersenyum penuh haru. Kini mereka telah resmi terikat dengan sakral dihadapan Tuhan. Keluarga, sahabat, tamu sebagai saksi hidup mereka dan pantai yang begitu indah sebagai saksi bisu mereka.

Nyonya Kim menangis haru di dalam dekapan suaminya. Ia tidak menyangka anaknya kini telah berada di dalam lindungan orang lain yang sudah sah sebagai suaminya. Gongmyoung sebagai kakak tersenyum lirih dan sangat bahagia melihat kebahagian yang terpancar jelas di mata kedua mempelai itu. dalam hati ia selalu berdoa agar kedua orang itu diliputi oleh rahmat Tuhan.

Setelah acara pengikatan semua tamu saling mengantri untuk memberi salam pada kedua calon mempelai. Di mulai dari Tuan dan Nyonya Moon yang sudah resmi menyandang status mertua dari Doyoung.

Nyonya Moon memeluk putranya dengan erat. "Ya Tuhan Taeilie... Eomma benar-benar tak percaya hari ini datang juga. Eomma sangat bahagia dengan pernikahan kalian. Hei, berjanjilah pada Eomma juga kau akan sering bermain ke rumah." Ujar Nyonya Moon pada Taeil. Taeil tersenyum dan membalas pelukan sang Eomma. "Tentu saja Eomma." Ujarnya yakin.

Nyonya Moon memeluk Doyoung setelah mencium kening putranya. "Selamat Nak, sekarang kau sudah resmi menyandang marga Moon di depan namamu. Ne, Moon Doyoung...whoa cocok sekali." Ujar Nyonya Moon menatap Doyoung dengan pandangn berseri. Doyoung tersenyum malu, "Ne Eomma, aku senang sekali. Terima kasih sudah merestui kami." Ujar Doyoung lembut. Nyonya Moon mengangguk dan mencium kedua pipi Doyoung.

Tuan Moon memeluk kedua calon pengantin itu secara bergantian. "Selamat nak, kalian sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Mudah-mudahan kalian dapat mengatasi segala masalah yang akan datang didalam rumah tangga kalian. Moon Taeil, jadilah pemimpin yang tegas untuk istrimu, dan Moon Doyoung jadilah istri yang berbakti pada suamimu. Aku tidak menyesal telah merestui kalian." Ujar Tuan Moon dengan senyum bangga pada keduanya.

"Aku akan menjadi Suami yang tegas untuk Doyoungie, Appa."

"Aku akan menjadi istri yang berbakti untuk Taeil hyung, Appa."

Jawab keduanya dengan saling melirik dan tersenyum pada Tuan Moon. Tuan Moon dan Nyonya Moon turun dari altar. Kini giliran Tuan Kim, Nyonya Kim, dan Gongmyoung yang menghampiri mereka.

"Taeil-ah, Doyoung-ah, ku harap kalian dapat menepati janji suci kalian. Jangan pernah putuskan silaturahmi yang sudah terjalin ini, dan ingatlah hanya takdir kematian yang dapat memisahkan kalian." Ujar Tuan Kim dan Nyonya Kim menatap Taeil dan Doyoung bergantian.

"Kami akan menepati janji kami, karena kami saling mencintai Appa, Eomma." Ujar keduanya saling mengeratkan genggaman di kedua tangan mereka. Tuan Kim dan Nyonya Kim tersenyum, mereka memeluk anak mereka. "Semoga berbahagia, nak. Kami mendoakan untuk kebahagiaan kalian. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang tak dapat kami berikan lewat suamimu, Doyoung-ah." Ujar Tuan Kim dan Nyonya Kim tulus dengan menahan airmata.

Doyoung tersenyum lirih dan menatap kedua orangtuanya yang masih sedih. "Aku akan mendapatkan kebahagiaanku, Appa, Eomma. Aku mohon jangan bersedih, karena aku masih menyayangi kalian." Jawab Doyoung dengan senyum manisnya yang berhasil menjadi obat untuk kesedihan hati kedua orangtuanya.

Gongmyoung memandang Taeil dan Doyoung dengan senyum tipisnya. "Aku tidak menyangka akan di langkahkan oleh adikku sendiri. Kalian jahat sekali..." ujar Gongmyoung memasang wajah sedih. Taeil dan Doyoung terkekeh melihat tingkah anak sulung keluarga Kim itu. "Cepatlah cari gadis untuk kau kencani, setelah itu nikahi dia secepatnya." Ujar Doyoung sambil menepuk bahu kakaknya.

Gongmyoung mencebik setelah itu tersenyum lembut pada kedunya. "Ya ya nanti akan ku lakukan. Dan aku sangat bahagia dalam pernikahan kalian. Aku harap kalian berbagia selalu. Chukkae nae dongsaeng." Ujar Gongmyoung tersenyum pada keduanya sebelum meninggalkan altar.

Hansol dan Yuta maju setelah Gongmyoung. "Doyoungie... selamat atas pernikahan kalian." Ujar Yuta sambil memeluk Doyoung sedikit susah karena bawahan Doyoung yang sangat mengembang dan perutnya yang membesar. "Gomawo Yuta hyung. Ngomong-ngomong kau cantik sekali mamakai dresss." Jawab Doyoung sambil tersenyum.

"Chukkae Taei-ah, Doyoung-ah. Kami mendoakan kalian, semoga kehidupan pernikahan kalian berjalan dengan lancar." Doa Hansol untuk keduanya. "Ne, gomawo Hansol-ah. Semoga kalian juga cepat menyusul dan selamat menikmati pesta kami." Jawab Taeil dengan senyum lembutnya. Hansol dan Yuta tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.

Johnny berdiri, ia digantikan oleh Gongmyoung yang kini bermain piano. Johnny menggandeng Ten dan membawa kekasihnya menghampiri Taeil dan Doyoung. Ten yang sangat exited pun berjalan hingga hampir menarik Johnny. Johnny tertawa kecil melihatnya dan hanya menggelengkan kepalanya.

"Doyoungie!" seru Ten sambil memeluk Doyoung. "Ya ya ya! Kau hanya mengingat Doyoung, eoh?" tegur Taeil pada Ten. Ten nyengir lucu pada Taeil. "Aku tidak melupakanmu kok hyung. Chukkae ne..." ujar Ten pada keduanya dengan senyum manisnya.

"Bagaimana rasanya menikah hyung?" tanya Johnny pada Taeil. Ketiganya menatap Johnny yang baru saja bertanya. "Bahagia, lega, gugup, haru dan banyak lagi perasaan posotif lainnya. Kenapa kau ingin segera menikahi Ten?" tanya Taeil balik seraya menggoda Johnny dan Ten.

Ten memerah hingga ia memeluk lengan Doyoung karena malu. Johnny sendiri mengusap tengkuknya canggung. "Ah tentu saja suatu saat aku akan menikahinya." Jawab Johnny dan menarik Ten hingga kini dalam rangkulan tubuh jakungnya.

"Ne, gomawo sudah mendukung kami Johnny-ya, Tennie. Selamat menikmati pestanya." Ujar Doyoung pada keduanya. Johnny dan Ten mengangguk dan mereka pun pergi menghampiri yang lain. Kali ini Taeil dan Doyoung tersenyum.

Doyoung menyambut pelukan dari Taeyong, dan Taeil menyambut pelukan dari Jaehyun. "Chukkae hyungie... semoga kalian berbahagia selamanya." Ujar Jaehyun dengan semangat. "Chukkae Doyoung-ah, semoga Tuhan memberkati kalian." Ujar Taeyong dengan senyum tulusnya.

"Ne, Gomawo Jaehyun-ah, Taeyong-ah." Jawab keduanya dengan senyum di masing-masing bibir. Taeyong dan Jaehyun tersenyum dan berlalu. Kini Mark dan Donghyuck menghampiri mereka. Donghyuck dan Mark memelukkan kedua pengantin itu dengan senyum yang juga tak pernah luntur. "Kami sangat senang kalian sudah resmi menikah." Ujar keduanya. "Selamat hyungdeul." Lanjut keduanya.

"Gomawo Markeu, Donghyuckie... kami menyayangi kalian." Jawab keduanya. "Semoga kalian menikmati pestanya." Lanjut Taeil dan Doyoung sambil mengacak rambut kedua adiknya itu. "Hyungdeul, Chukkaeyo!" baru pergi Markhyuck ini datang Jeno dan Jaemin yang kembali memeluk mereka.

"Gomawo Dongsaengdeul..." jawab keduanya sambil memeluk Jeno dan Jaemin. "Semoga kalian selalu berbahagia hyung." Ujar Jeno dan Jaemin berbinar. "Sekali lagi terimakasih atas doanya." Jawab Taeil dan menepuk lembut kepala keduanya. Jeno dan Jaemin tersenyum sebelum melambaikan tangannya pada Taeil dan Doyoung.

"Hyungie.." sapa Jisung sambil memeluk kedua hyungnya itu. Taeil dan Doyoung tersenyum dan membalas pelukan adik bungsu mereka itu. "Chukkaeyo, aku sangat senang hyungdeul bahagia hari ini." Ujar Jisung polos. Taeil dan Doyoung menatap Jisung polos. "Gomawo Jisungie..." jawab mereka.

"Chukkae, Dongsangdeul..." ujar Yumin sambil menepuk pundak kedua anak didinya. "Aku turut bahagia..." ujar yeoja manis itu. Taeil dan Doyoung mengangguk dan memeluk Yumin, "Gomawo Noona..." jawab Taeil sambil tersenyum manis. Jisung dan Yumin pergi sebelum memeluk pasangan pengantin itu dengan senyum bahagia.

Taeil dan Doyoung tersenyum ramah saat CEO Lee menghampiri mereka. Pria paruh baya itu tersenyum pada pasangan pengantin itu. "Chukkae Taeil-ah, Doyoung-ah. Aku ikut bahagia atas pernikahan kalian yang berjalan lancar. Mungkin ini akan tercatat dalam sejarah SM nanti, karena sudah ada trainee yang diperbolehkan untuk menikah sebelum debut." Ujar CEO Lee dengan nada jenakanya.

Taeil dan Doyoung tertawa kecil. "Gashamnida, Appa-nim. Tapi ini semua dapat terjadi dengan lancar juga karena bantuanmu...kami sangat berterimakasih." Ucap Taeil dan Doyoung sambil membungkukkan badannya. CEO Lee tersenyum dan mengangguk. "Aku harap kerja kalian nanti juga tidak akan mengecewakanku.." ujarnya sebelum berlalu pergi di hadapan Taeil dan Doyoung.

Taeil dan Doyoung tersenyum, mereka juga terus menyambut para tamu yang memberi ucapan secara langsung pada mereka dengan senyum yang tak pernah luntur. Mulai dari saudara, kerabat, dan para teman lama mereka yang sebagian mereka undang.

Semua tamu juga banyak yang sudah menikmati hidangan yang disediakan oleh kedua pihak keluarga yang tentu saja lebih mengarah ke Seafood karena mereka berada di pantai. Acara penyambutan terasa begitu hangat dan bergairah di pantai Jeju itu.

Setelah 2 jam berlalu, kini kedua mempelai itu berpindah tempat menuju singgasana yang sudah di siapkan untuk mereka. Doyoung yang tidak boleh terlalu kama berdiri menggunakan hing heels pun memilih duduk agar tidak lelah dan tida berpengaruh pada bayinya.

Tiba-tiba semua tamu di kejutkan oleh sebuah ledakan dan banyak gliter-gliter silver yang berjatuhan ke pasir pantai itu. "Saengil chukkae hamnida! Saengil chukkae hamnida! Saranghaneun Moon Taeil! Saengil chukkae Moon Taeil!" member rookies bernyanyi dan membawa kue di tangan Hansol.

Taeil yang sempat terkejut kini tersenyum sambil membungkukkan badannya dan mengucapkan terimakasih. Nyatanya, ia hampir lupa dengan ulangtahunnya yang ke 21. Member rookies menuju Taeil dan Doyoung sambil terus bernyanyi dan kini diikuti oleh semua tamu.

Taeil mengatupkan tangannya dan berdoa pada Tuhan sebelum meniup lilinnya. ' Ya Tuhan, aku hanya ingin seluruh kebahagiaan ini selalu melekat pada kami semua.' Doa Taeil dalam hati. Taeil meniup lilinnya dan di susul oleh tepuk tangan meriah dari para tamu.

"Gashamnida yeorobeun... aku benar-benar bahagia saat ini hingga tidak tahu apa yang harus aku katakan selain bersyukur dan berterimakasih pada kalian semua..." jawab Taeil sambil tersenyum. Doyoung ikut tersenyum dan berbisik pada Taeil. "Saengil chukkae nae nampyeon, saranghae." Taeil mencium bibir Doyoung sekilas sebagai tanda rasa bahagianya.

Pemotongan kue pun di lakukan dan Taeil memberikan potongan pertamanya untuk Doyoung. Ia juga memberikan kuenya yang ternyata cukup besar itu pada sebagian tamu yang beruntung. "Ini adalah hari pernikahanku dengan Doyoung dan juga hari ulang tahunku yang ke 21. Dan aku akan membawakan satu lagu pada hari yang istimewa ini, dan lagu ini spesial untuk, Moon Doyoung, istriku." Ujar Taeil mendapat siulan heboh dari benyak orang.

Doyoung tersenyum menatap Taeil yang tersenyum penuh arti. Gongmyoung memainkan piano mengiringi lagu yang akan Taeil bawakan.

Perlahan Taeil menggenggam tangan Doyoung dan menatap istrinya dengan pandangan teduh.

I swear by the moon and the stars in the skies

And i swear like the shadow that's by your side

I see the question in your eyes

I know what's weighing on your mind

You can be sure i know my part

Doyoung tenggelam dalam manik hitam di hadapannya, dan Taeil menatap Doyoung dengan penuh ketulusan. Lagu ini tidak hanya di nikmati oleh mereka, tapi semua tamu undangan pun terlarut dalam dalam suara merdu Taeil yang membawakan lagu ini.

Cause I'll stand beside you through the years

You'll only cry thise happy tears

And i though i make mistakes

I'll never break your heart

Hansol dan Yuta saling menatap saat Taeil menyanyikan part itu. Hansol membelai pipi chubby Yuta dengan sayang dan mata jernih itu menatapnya penu kekaguman. Hansol berusaha menyampaikan isi hatinya yang selalu mencintai namja cantik itu disisinya dan hatinya.

And i swear by the moon and the stars i the skies

I'ii be there

I swear like a shadow that's by your side

I'll be there

Johnny menatap Ten dengan teduh dan ia meyakinkan Ten dengan ikut bernyanyi bersama Taeill sambil menatap sang namja agar ia tidak lagi merasa ragu. Karena Johnny memang akan selalu bersama Ten sampai takdir memisahkan mereka.

Ten mengembangkan senyumnya, ia merasakan hatinya melega dan ia merasa beban hidupnya menghilang saat Johnny menatapnya. Dan ia tidak akan lagi meragukan cinta Johnny padanya.

For the better or worse

Till death do us part

I'ii love you with every beat of my heart

And i swear

Ooo...

Mark menggenggam tangan Donghyuck dengan mata yang lurus ke depan. Tapi senyuman tidak luntur dari senyuman tidak luntur dari wajahnya. Donghyuck melirik tangan mereka yang bergenggaman dengan senyum simpul dan ia meletakkan kepalanya untuk bersandar pada bahu kekasihnya itu.

I'll give you everything i can

I'll build your dreams with these two hands

We'll hang some memories on the walls

Jaehyun memandang Taeyong dan ia ikut menyanyikan part itu. "Aku akan berusaha membangun segala mimpimu menjadi kenyataan dengan usaha kita..." bisik Jaehyun dan Taeyong memeluk Jaehyun penuh haru. "Saranghae..." lirih Taeyong.

And when (and when) just the two of us are there

You won't have to ask if i still care

Cause as the time turns the page

My love won't age at all

Jeno membawa tangan Jaemin yang berada dalam genggamannya menuju bibirnya. Ia mencium lembut punggung tangan itu. ia benar- benar mencintai kekasihnya dan ia tak peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang mereka nantinya.

Taeil mengakhiri lagunya dengan senyuman di bibirnya. Doyoung menatap Taeil penuh haru. Sungguh ia tidak pernah berpikir Taeil akan se-romantis ini padanya. Tepuk tangan meriah terdengar jelas setelah Taeil menyelesaikan lagunya.

Pesta pernikahan mereka pun di gelar meriah penuh suka cita. Member rookies pun ikut ambil bagian untuk tampil sebagai pengisi acara. Acara pun akan di gelar hingga jam tujuh malam nanti. Dan kini pasanga pengantin itu saling tersenyum melihat silahturahmi yang tanpa sadar terjalin di antara mereka semua. Biarlah untuk hari ini Taeil dan Doyoung menjadi Raja dan Ratu di acara mereka.

.

.

Hansol menatap gemas pada kekasihnya yang tengah menikmati puding coklatnya yang ke lima. Sungguh, Yuta tidak pernah bosan dengan jeli kenyal dengan vla vanila di atasnya. Bahkan ia memakannya seperti anak kecil yang takut makanannya di ambil.

"Makannya pelan-pelan sayang..nanti kau bisa tersedak." Hansol tertawa kecil sambil mengelap sudut bibir Yuta yang tercecer Vla itu. Yuta menghentikan suapannya, ia menatap Hansol dengan wajah memerah malu. Apa saat ini wajahnya benar-benar jelek karena ia makan dengan sangat lahap tadi?

"Kenapa kamu menjadi sangat menggemaskan, eoh?" dengan gemas Hansol mencubit pipi Yuta yang menggembung lucu itu. Yuta menatap Hansol dengan binar cerahnya. "Mungkin karena baby..." jawab Yuta sedikit ragu. Hansol mengacak lembut rambut Yuta kerena lagi-lagi tak bisa menahan rasa gemasnya pada sang kekasih.

Yuta mengerucutkan bibirnya menatap Hansol. "Hyung...rambutku berantakan lagi, kan..." rengek Yuta sambil memebenahi rambutnya. "Tidak apa-apa, kau terlihat sangat sexy dengan rambut acak-acakan seperti itu..." goda Hansol sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yuta.

Telinga Yuta memerah, dan dengan gemas ia memukul lengan Hansol. "Isssh. Byuntae!" geramnya. Hansol terbahak melihat Yuta yang begitu menggemaskan saat malu-malu. "Apa baby ikut senang hari ini?" tanya Hansol sambil mendekat pada Yuta dan mengelus perut yang sudah tidak rata itu.

"Baby sangat senang hari ini, Appa.." jawab Yuta dengan aksen anak kecilnya.

"Eung, geurae...terbukti dia sangat banyak makan hari ini." Jawab Hansol sambil mengecup perut itu. Yuta teringat dengan sesuatu dan ia kembali menanyakannya pada Hansol. "Hyung, boleh aku bertanya?"

Hansol mengangguk dan tersenyum manis pada Yuta. Yuta menghembuskan nafasnya sebelum melontarkan pertanyaannya. "Apa masalah kita ini benar-benar sudah selesai?"

Hansol mengernyit mendengar pertanyaan sang kekasih. "Tentu saja, memang ada apa? Kau punya masalah lain?" Jawab Hansol yakin. Yuta menggeleng, "Aniyo, hanya bagaimana dengan Koeun? Apa dia di penjara? Tapi kan dia sedang hamil, hyung."

"Aigoo chagiya...kenapa kau membahas yeoja gila itu lagi? Biarkan saja dia...aku sudah tak peduli lagi." jawab Hansol. "Hyung, tidak bisa di diamkan seperti ini dong. Kalau Koeun nyatanya tiak berhasil di penjara dan ia akan membalas dendam lagi pada kita bagaimana?" tanya Yuta dengan pandangan takut.

Hansol mendesah dan menatap Yuta dengan teduh. "Percaya padaku...aku tidak akan pernah membiarkan Koeun hidup lagi jika dia kembali menyakitimu. Aku rasa kini dia sedang bersama keluarganya sampai dia melahirkan, dan kemungkinan dia akan di penjara setelah tiga bulan melahirkan. Kau tahu kan, Yumin noona juga sudah menyerahkan bukti kejahatan Koeun pada pihak polisi, dan pasti polisi akan terus mengawasi Koeun agar yeoja itu tidak kabur. Dan aku akan bertemu keluarganya untuk memutuskan pernikahaku dengannya." Ujar Hansol panjang lebar.

"Lalu bagaimana dengan Jungwoo?" Yuta menunduk gelisah. Hansool mengerti dengan apa yang Yuta rasakan, pasti kekasihnya ini kembali merasa bersalah, tapi Hansol tahu ini bukan salah Yuta-nya. "Jangan khawatir, aku yakin namja itu tidak akan berani menghampirimu, aku tidak akan membiarkan namja itu merebutmu dariku. Aku akan meminta polisi untuk mencari Jungwoo juga agar kau bisa tenang." jawab Hansol sambil memeluk Yuta dari samping.

"Lalu, Koeun sebenarnya mengandung anak siapa? Aku tahu dia tidak mungkin mengandung anakmu." Kata Yuta menatap mata bulat Hansol. "Kalau aku bilang anak Yukhei, percaya tidak?" tanya Hansol balik. "Eung?" Yuta mengernyit sedikit ragu dengan pendengarannya, apa tadi Hansol mengatakan Yukhei?

"Yukhei? Yukhei Wong? Tanya Yuta memastikan apa yang dia dengar. Hansol mengangguk, "Tapi bukannya mereka itu rival?" tanya Yuta lagi. "Tidak semua rival saling membenci, bisa jadi mereka saling mencintai." Jelas Hansol. "Sulit dipercaya..." ujar Yuta dengan raut wajah shok. "Lalu Yukhei bagaimana? Apa dia sudah tahu?" Hansol mengangguk. "Dia sudah mengakuinya." Jawab Hansol sambil mengangguk santai.

Yuta meringis tiba-tiba ketika ia merasakan pergerakan sedikit kasar dari dalam perutnya, reflek ia pun memegang perut bawahnya. "Kenapa? Apa yang sakit?" Hansol menatap Yuta panik saat ia mendengar ringisan dari sang kekasih. Yuta menggeleng kecil dan menunjukkan healing smilenya pada Hansol dan berhasil membuat sang namja tampan itu sedikit tenang.

Yuta membawa satu tangan Hansol menuju perut bawahnya dan Hansol semakin menampakkan wajah bingungnya. Saat tendangan keras kembali dilayangkan oleh bayi mereka, Hansol tertegun dengan hati yang menghangat. Dia dapat merasakan lagi pergerakan sang bayi di dalam perut Yuta. Dan kali ini lebih keras juga jelas. "Apa sakit?" tanya Hansl lirih dengan senyum hangatnya pada Yuta. Yuta menggeleng kecil menatap sang kekasih, "Aniyo, aku hanya kaget karena pergerakannya kali ini terlalu keras." Ujar Yuta memandang Hansol dengan senyum manisnya.

Hansol mengangguk mengerti, dan ia menunduk untuk menempelkan telinganya di perut Yuta. Lagi, perutnya seperti tergelitik saat ia mendengar suara detak jantung calon bayinya yang begitu jelas. "Annyeong baby... apa kau sedang ingin bermain dengan Appa dan Eomma, eoh?" tanya Hansol mencoba berkomunikasi dengan calon bayinya.

"Appa dan Eomma mencintaimu... lahirlah dengan selamat, baby." Ujar Yuta dengan kedua tangan yang mengelus surai pirang Hansol dan perutnya. Hansol tersenyum dan mengecup perut membesar itu dengan lembut sebelum kembali menatap seseorang yang sudah memberikannya begitu banyak kebahagiaan.

.

.

Pesta pernikahan yang di gelar dengan meriah itu sudah selesai sekitar satu jam yang lalu, yaitu jam 7 malam. Satu-persatu tamu pergi meninggalkan lokasi pantai itu. seperti halnya pasangan pengantin itu yang sudah meninggalkan lokasi menuju ruang ganti pakaian. Karena jujur saja, dress mengembang yang di pakai Doyoung tidak lah ringan seperti yang di bayangkan.

Dan salah satu pasangan ini pun sudah masuk ke dalam kamar hotel mereka dengan raut wajah lelah mereka. Yang lebih kecil langsung saja meebahkan dirinya di atas kasur kingsize tesebut. Yang lebih tinggi hanya menggeleng melihat kelakukan si mungil, ia pun memilih membuka tuxedo hitamnya hingga menyisakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang terbuka. Ia menghembuskan nafas panjang.

"Hari ini melelahkan sekali ya, hyung." Ujar Ten sambil melirik pantulan sang namja tampan itu di cermin lemari besar. Namja tampan itu tersenyum kecil dan mendudukkan bokongnya di pinggir kasur. "Ya, tapi juga menyenangkan." Jawabnya.

"Besok kita akan pulang?" tanya Ten lagi. Johnny pun merebahkan tubuhnya dan menjadikan perut ramping Ten bantalnya. Ten sedikit mengerang ketika beban kepala Johnny berada di atas perutnya. Tapi ia tidak menyingkirkan kepala itu, ia malah mengusap rambut coklat kayu Johnny. Membuat sang empu memejamkan matanya karena merasa nyaman.

"Ya, kita akan pulang besok. Kenapa? Kau masih mau berada disini?" tanya Johnny dengan mata terpejam. Ten menggeleng, "Ani, tentu saja, aku akan ikut pulang. lagi pula kita juga akan langsung tinggal di mansion yang sudah di janjikan CEO Lee kan? Aku jadi tidak sabar seperti apa mansionnya." Jawab Ten. Kini telunjuk rampingnya membelai hidung bangir Johnny, mengelur permukaan batang hidung itu dengan lembut.

Johnny yang mulai terbuai oleh sentuhan lembut sang kekasihpun merasakan matanya memberat. "Ya, aku sudah memegang kunci mansion itu." jawab Johnny lirih. Mata Ten berbinar, ia ingin melihat kunci mansion itu tapi saat ia merasa Johnny sudah nyaman dengan posisinya, ia jadi mengurungkan niatnya itu. ia tidak mau mengganggu istirahat kekasihnya itu walau sebenarnya posisi kepala Johnny yang berada di perutnya sedikit mengganggunya. Ten menatap Johnny yang kini tertidur lelap dalam posisinya dengan sebuah senyuman. "Jaljayo, Johnny hyung." Bisiknya pelan.

.

.

"Akhirnya tubuhku terasa lebih ringan lagi." desah Doyoung menatap pantulan dirinya di sebuah cermin besar di ruang rias. Dress putihnya sudah berganti dengan legging longgar dan sweater ke besaran yang menutupi tubuhnya. Rambutnya yang di sambung sudah kembali seperti semula, dan wedgesnya juga sudah berganti dengan sandal biasa. Dan wajahnya yang sudah bersih dari semua make up. Perhiasan yang melengkapinya juga sudah di lepas, kecuali cincin nikahnya yang masih melingkar di jari manisnya. Ia mengusap cincin itu dengan senyuman manis di bibirnya. Cincin yang melambangkan ikatannya dengan Taeil, bahwa ia sudah resmi menjadi istri satu-satunya dari pemuda Moon itu.

"Ekhem ekhem." Sebuah deheman sengaja terdengar dari arah pintu masuk. Reflek ia melihat ke sana, dan mendapati Taeyong yang tersenyum jahil padanya. "Ciee...ciee...yang udah resmi jadi Nyonya Moon kayaknya bahagia banget ya..." ujarnya sambil melangkah mendekati sahabat yang jarang akur dengannya itu.

"Apaan sih Yong..." Doyoung memerah malu karenanya. Taeyong terbahak melihat wajah merah Doyoung. "Ya! Aku benar kan, Kim. Oops, salah maksudnya Moon Doyoung." Ujar Taeyong dengan senyum miringnya. "Ya! Ya! Ya!, berhentilah menggodaku calon Nyonya Jung!" jawab Doyoung kesal.

Kini giliran Taeyong yang bersemu, tapi pemuda manis itu menyembunyikannya lewat wajah datarnya. "Ngomong-ngomong dimana Jaehyun?" tanya Doyoung. "Tadi dia sedang mengobrol bersama suamimu itu." Jawab Taeyong sedikit acuh.

Doyoung mengangguk mengerti. "Dan...apa yang membuat hyung ke sini? Memangnya tidak lelah?" tanya Doyoung sambil bejalan keluar ruang ganti bersama Taeyong. "Lumayan sih...tapi memangnya aku tidak boleh mengunjungi sahabatku yang bau saja habis menikah ini?" jawab Taeyong. Doyoung hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban Taeyong.

"Taeyong hyung!" keduanya mendongak saat seseorang menyerukan nama Taeyong. Ternyata itu Jaehyun, ia sedang bersama Taeil dan berjarak sepuluh langkah dari hadapan mereka. Taeyong tersenyum dan melambai. Keempatnya berjalan saling mendekat.

"Hai, Doyoung hyung." Sapa Jaehyun pada Doyoung. Doyoung tersenyum dan mengangguk pada Jaehyun. Jaehyun menarik tangan Taeyong hingga kini Taeyong berada di sebelahnya. "Hyung, ini sudah malam. Ayo ke kamar, kita harus istirahat kau pasti lelah setelah seharian ini." Ujar Jaehyun pada Taeyong. Taeyong mengangguki ucapan Jaehyun karena memang ia sudah mulai kelelahan.

Taeil tersenyum pada Doyoung dan ia menggenggam tangan istrinya itu. "Jja, kalian beristirahatlah. Jangan sampai kelelahan dan ke tinggalan pesawat, karena kita akan berangkat jam 5 subuh." Ujar Taeil pada kedua adiknya itu. Jaehyun dan Taeyong mengangguk mendeengar ucapan Jaehyun.

"Ne, hyung. Dan sepertinya kalian juga sama. Jangan sampai ketinggalan pesawat karena malam pertama kalian nanti ya." Jaehyun sengaja menekan kata malam pertama pada pasangan yang baru menjadi sepasang suami istri itu tadi pagi. Setelahnya mereka terbahak karena melihat wajah keduanya yang sudah seperti kepiting rebus dan segera pergi dari hadapan kakaknya itu.

Taeil memerah mengetahui maksud dari ucapan Jaehyun. "Ini sudah malam, ayo ke kamar." Ujar Taeil dengan sedikit canggung. Aduh, mereka sudah menikah, kenapa jadi awkward gini? Batin Taeil meringis. Doyoung mengangguk malu-malu. "Eum ne.." jawab Doyoung.

Jaehyun menggandeng tangan Taeyong dengan wajah berseri. "Kau kenapa sih, Jae? Senyum-senyum sendiri, kayak orang gila tahu gak?" Taeyong mengernyitkan alisnya menatap Jaehyun. Seketika Jaehyun sweetdrop mendengar ucapan pedas sang kekasih. "Aku kan hanya menmbayangkan kalau kita menikah di pantai seperti Taeil hyung dan Doyoung hyung, Ah... itu romantis ya hyung..." ujar Jaehyun sambil menatap Taeyong dengan wajah berseri.

"Apaan sih! gak suka ah. Plagiat!"

Lalu Taeyong meninggalkan Jaehyun yang berjalan lebih lambat darinya, berusahan untuk menghindari Jaehyun agar namja tampan itu tidak melihat rona merah samar di pipinya. Jaehyun memelas melihat Taeyong yang berjalan lebih cepat darinya. "Ya! Hyung, chakkaman!" seru Jaehyun seraya mengejar Taeyong yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mereka.

.

.

"Jisung, kamu kenapa?" Jaemin bertanya dengan mata terpejam karena ia sempat tertidur tadi, tapi pergerakan gelisah dari Jisung membuat tidurnya terganggu. Merasa tak ada jawaban, Jaemin mengerutkan dahinya. Ia meraba-raba tubuh Jisung, dan matanya seketika terbuka saat punggung tangannya bertemu dengan kening Jisung yang terasa sangat panas.

Ia segera terduduk dan menyalakan lampu nakas. "Jisungie...Jisungie...ireona!" Jaemin menepuk-nepuk pelan pipi Jisung, tapi yang di dapat hanyalah desisan dari Jisung. Ia melirik ke tiga orang lainnya di kasur kingsize seberang, dia menggigit bibir karena mereka sudah tertidur pulas. Jaemin juga tidak mungkin membangunkan mereka.

Ia berlari menuju koper Mark dan menemukan tas berukuran sedang yang berisi obat-obatan. Jaemin menghela nafas dan merasa beruntung karena mereka sudah menyiapkan obat-obatan ini sebelumnya. Ia menempelkan termometer ke telinga Jisung, dan matanya kembali membulat. "Ya Tuhan... 38,5 derajat. Bagaimana ini?" Jaemin jadi panik sendiri melihat suhu tubuh adiknya yang begitu tinggi.

"Jisung, sebentar yaa...hyung pesan cream soup dulu untukmu. Kau harus makan sebelum meminum obat." Ujar Jaemin dan memesan makanan pada pelayan melalui telepon khusus yang sudah disiapkan pihak hotel.

Jeno yang mendengar suara berisik dari ranjang seberang pun merasa terganggu. Ia membuka mata sipitnya. Ia melihat Jaemin yang sedang menelpon seseroang di telepon hotel. Jeno pun berjalan menghampiri kekasihnya itu. Baru saja ingin menepuk pundak Jaemin, namja manis itu sudah berbalik lebih dulu.

"Astaga! Kau mengagetkanku!" ujar Jaemin kaget. Jeno mengusap tengkuknya dengan raut wajah sedikit bersalah. "Mianhae...aku tidak bermaksud. Kau tadi menelpon siapa?" tanya Jeno. "Aku baru saja memesan cream soup untuk Jisung. Dia sedang sakit." Jawab Jaemin sambil berjalan menuju ranjangnya lagi.

"Jisung sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami?" tanya Jeno panik sambil menempelkan telapak tangannya di kening jisung. "Panas sekali, berapa derajat suhunya?" tanya Jeno dengan rautwajah horor.

"38,5 derajat, sudah ku ukur tadi. Dan kenapa kau terbangun? Apa aku terlalu berisik?" tanya Jaemin sambil membuka selimut yang membungkus tubuh Jisung. "Ya, tapi tidak apa-apa. Seharusnya kau mengatakannya padaku agar bisa bergantian merawat Jisung. Kau juga bisa sakit kalau tidak tidur setelah melakukan banyak aktifitas tadi." Nasehat Jeno sambil menaikkan suhu AC.

"Aku akan membuat kompres dan kau pakaikan dia kaus kaki basah." Suruh Jeno sambil berlalu menuju dapur. Jaemin mengambil sepasang kaus kaki di koper Jisung dan membasahinya dengan air dingin di kamar mandi. Setelah di peras, Jaemin langsung memakaikannya di kedua kaki Jisung agar panasnya terserap.

Jeno datang dengan handuk yang terisi oleh es batu di tangannya. Namja tampan itu meletakkan handuk basahnya di atas kening Jisung. Tak lama terdengar suara bel dari arah depan. Jaemin berlari keluar dan ia mengambil cream soup yang sudah di pesannya.

Jaemin mengguncangkan lengan Jisung pelan. "Jisungie, ireonayo...kau harus makan dulu." Ujar Jaemin pelan. Jeno meletakkan gelas berisi air mineral di atas meja nakas. Ia ikut mengguncangkan bahu Jisung agar aduiknya itu terbangun dari tidurnya.

Tak lama Jisung membuka matanya lirih dan sesekali mengerjap. "Jisungie makan dulu, ya..." pinta Jaemin sambil menyodorkan sesendok cram soup di depan bibir pucat Jisung. Jisung menggeleng tanda menolak. "Mual..." lirihnya.

"Tapi Jisung harus minum obat, jadi makan setidaknya tiga sendok saja..." tawar Jaemin dengan wajah memelas pada Jisung. Jisung yang tadi ingin menolak, jadi tidak bisa karena ia merasa tak enak dengan Jaemin yang sudah merawatnya kini.

Akhirnya Jisung menganggukkan kepalanya. Dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Jaemin. Jeno memperhatikan keduanya dengan mata sayu dan ia tersenyum melihat perhatian kekasihnya pada maknae mereka, Jisung.

Jisung benar-benar makan hanya sampai tiga suapan, setelahnya ia meminum air mineral dan menelan obat penurun demam. Jeno melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ini sudah sangat larut ternyata.

"Nah, karena Jisung sudah minum obat, sekarang tidurlah. Kami akan menjagamu, katakan saja jika kau butuh sesuatu." Ujar Jeno pada Jisung. Maknae itu mengangguk lemah dan menutup kembali matanya.

"Jaemin-ah, kau tidur saja. Biar aku yang menjaga Jisung semalaman ini." Suruh Jeno pada Jaemin. Jaemin menggeleng dan menatap Jeno tidak setuju. "Aku juga akan menjaga Jisung." Jawab Jaemin. "Tapi Jaemin-"

"Kita bisa berganti-gantian, Jeno. Kalau terjadi sesuatu yang darurat kau juga tidak bisa sendirian." Keukeuh Jaemin. Jeno menghela nafas lelah, ia tidak mau berdebat dengan Jaemin sekarang, jadi ia biarkan saja. "Baiklah, tapi kalau kau mengantuk, tidur saja ok." Ujar Jeno dan dianggui Jaemin.

Jeno merebahkan dirinya di sebelah kiri Jisung dan Jaemin di sebelah kanan Jisung. Mereka terjaga semalaman untuk merawat Jisung. Terkadang mereka juga saling mengobrol membicarakan apa saja sambil menjaga Jisung dan terus berjaga-jaga suhu tubuhnya agar bisa kembali stabil.

.

.

"Hei, kenapa belum tidur? Ini sudah jam sembilan." Ujar Taeil dari arah kamar mandi saat melihat Doyoung yang malah terduduk di pinggir kasur. Doyoung terlihat gelagapan saat Taeil datang. Taeil hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya itu.

"Aku hanya menunggu Taeil hyung." Ujar Doyoung sambil menunduk dengan wajah memerah. Taeil yang sudah memakai piyama tidurnya pun mendudukkan dirinya di samping Doyoung. Ia menatap wajah manis Doyoung dari samping. Malam ini adalah malam pertama bagi mereka setelah menjadi pasangan suami istri.

"Ini sudah malam, ayo tidur." Ajak Taeil pada Doyoung. Doyoung menahan Taeil, ia menatap Taeil dengan wajah yang masih memerah. Dengan ragu ia mengucapkan apa yang ia pikirkan dari tadi. "Hyung...tidak ingin melakukan...eemm...me-melakukan hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri di malam pertama?" tanya Doyoung dengan malu.

Taeil yang tadi sempat mengira Doyoung demam karena wajah memerah, kini terbahak kecil stelah mendengar perkataan Doyoung. "Kalau kau tanya ingin atau tidak, tentu saja aku mau." Jawab Taeil sambil memeluk pinggang Doyoung. Doyoung mengangguk lucu dan ia menganggap jawaban Taeil adalah 'iya'.

Tapi nyatanya salah, saat ia dan Taeil sudah membaringkan tubuh mereka, Taeil tidak menciumnya atau melakukan hal lainnya. Ia hanya menatap Doyoung dengan senyum manisnya. "Tapi aku tidak mau membuatmu kelelahan, Doyoung. Terlepas sesudah acara pernikahan kita tadi, nanti subuh kita sudah harus kembali ke Seoul. Jadi, sekarang tidur saja. Lagi pula memang kau sudah siap?"

"Aku sudah siap kok hyung. Tapi kalau hyung berkata seperti itu juga tidak apa-apa. Aku justru senang hyung sangat perhatian padaku." Jawab Doyoung dengan senyum manisnya. "Hyung, saengil chukkae." Ujar Doyoung sambil menampilkan senyum manisnya.

Taeil tersenyum, "Gomawoyo...kau tahu...aku sangat bahagia karena ulang tahunku yang ke 21 tahun ini mendapatkan kado yang sangat istimewa. Yaitu, menjadikanmu milikku seutuhnya di hadapan Tuhan. Hari ini adalah hari yang paling istimewa dari hidupku. Gomao Moon Doyoung, aku sangat mencintaimu." ujar Taeil sambil menatap Doyoung penuh cinta.

Doyoung tersenyum haru dan memeluk suaminya dengan erat. "Aku juga sangat mencintaimu, Moon Taeil." Ujarnya dan mereka saling tersenyum manis.

"Hmm... oh ya, hari ini apa baby terganggu?" tanya Taeil dengan raut khawatir.

Doyoung menggeleng, "Ani. Dia kuat dan baik-baik saja di dalam." Jawab Doyoung. "Baiklah, kalau begitu Jaljayo, Doyoung-ah." Ujar Taeil sambil mencium kening Doyoung. "Jaljayo, Nae nampyeon..." balas Doyoung lalu memejamkan matanya menghidari tatapan Taeil. Taeil tersenyum lebar dan mengacak rambut coklat Doyoung.

Mereka pun jatuh tertidur dengan senyum masing-masing di wajah mereka. Sepertinya malam pertama mereka cukup indah walau tanpa adanya hubungan panas di antara keduanya.

.

.

Mark terbangun dari tidur lelapnya. Matanya mengerjap untuk memperjelas pernglihatannya, ia menguap kecil dan berbaring nenyamping ke kiri. Bibirnya mengukir senyum kecil ketika melihat wajah Donghyuck di sebelahnya. Dengan usil ia menusuk-nusuk pipi Donghyuck dengan jari telunjuknya.

Donghyuck melenguh dalam tidurnya karena merasa terganggu. Mark justru terkekeh melihat sang kekasih yang terganggu tidurnya karenanya. Ia mencium kening Donghyuck lembut dan berhasil membuat mata bulat itu terbuka. "Hyung..." Donghyuck berbisik lirih.

"Hm?" jawab Mark sambil mengusap surai hitam Donghyuck. Ia menatap mata bulat yang terbuka sayu itu dengan tatapan lembutnya. "Kau sudah bangun?" tanya Donghyuck sambil mengerjapkan matanya. Mark mengangguk, "Baru saja."

"Jam berapa ini?" tanya Donghyuck. Mark melihat jam di atas nakas. "Jam 3 pagi." Jawab Mark. "Eoh? Bukankah kita harus membereskan barang-barang? Pesawat akan berangkat jam 5." Ujar Donghyuck sambil mendudukkan dirinya di ranjang.

Mark mengikuti Donghyuck dan melihat sekitar. "Memang iya. Jadi kau ingin mandi lebih dulu?" tawar Mark. "Jeno dan Jaemin kenapa tidur seperti itu?" Donghyuck malah bertanya sambil menunjuk Jeno dan Jaemin yang tertidur dengan menyandar ke kepala ranjang. "Iya, apa tubu mereka tidak pegal-pegal?" jawab Mark sambil meringis.

Donghyuck dan Mark bangkit dari tempat tidur, mereka membangunkan Jeno dan Jaemin yang tengah tertidur. "Jeno, Jaemin ireona." Ujar keduanya sambil mengguncang bahu kedua anak itu. Jeno dan Jaemin melenguh karena merasa terganggu tidurnya. Mereka pun membuka matanya dan menemukan Mark dan Donghyuck yang menatap mereka khawatir.

"Kenapa kalian tidur seperti itu? kalian bisa pegal-pegal." Ujar Mark. "Ah, itu...tadi malam Jisung demam tinggi...jadi kami merawatnya semalaman." Ujar Jaemin dengan suara serak khas bangun tidur. Mark dan Donghyuck kini beralih menatap Jisung khawatir.

"Kenapa kalian tidak bilang, kan bisa bergantian dengan kami." Ujar Mark sambil menempelkan tangannya pada kening Jisung. Dia mendesah lega ketika mendapati suhu tubuh adiknya tidak begitu panas lagi. "Sepertinya sudah normal." Ujar Donghyuck.

"Ya sudah kalian pindah tidur ke kasur seberang saja. Biar Jisung dan persiapan lainnya kami yang urus. Kalian pasti kelelahan merawat Jisung semalam." Terang Mark dan dituruti Jeno dan Jaemin. Mark membagi tugas dengan Donghyuck. Ia membangunkan Jisung dan Donghyuck menyiapkan air hangat untuk mandi Jisung.

"Jisungie...ireona. kau harus mandi dulu." Ujar Mark sambil mengguncang bahu Jisung. Jisung membuka matanya dan mengangguk menurut pada Mark. Ia di bantu Mark untuk berjalan karena masih lemas menuju kamar mandi. "Air hangatnya sudah siap hyung." Ujar Donghyuck sambil mengambil alih Jisung.

"Kau bantu Jisung mandi, dan aku akan mengurus barang-barang. Atau kalian mandi bersama juga boleh biar cepat." Jawab Mark lalu membereskan barang bawaan mereka semua. Ia merapikan barang adik-adiknya hingga koper mereka sudah siap semua.

Tak lama Donghyuck dan Jisung keluar dari kamar mandi dengan kimono yang menutupi tubuh mereka. "Baju kalian sudah aku siapkan." Mark menunjuk dua pasang pakaian di atas ranjang Jisung. Donghyuck mengangguk dan membantu Jisung untuk duduk di atas ranjang. "Ne, gomawo hyung."

Kini giliran Mark untuk mandi dan membiarkan Donghyuck mengurus Jisung. Donghyuck mengoleskan minyak aromatherapy di leher dan perut Jisung agar adiknya itu tidak masuk angin lalu memakaikan sweater rajut di tubuh adiknya itu dan ia membiarkan Jisung untuk memakai bawahannya sendiri.

Donghyuck juga memakai pakaiannya sendiri yang sudah di pilih oleh Mark. Ia mengambil termometer dan kembali mengecek suhu tubuh Jisung. "36,4 derajat. Huuh... syukurlah suhumu sudah normal lagi." ujar Donghyuck menghela nafas lega.

Ia menyisir rambut Jisung dan rambutnya sambil bertanya pada Jisung. "Jisungnie ingin makan apa? Biar hyung buatkan." Jisung menunjuk sebuah mangkuk di atas meja nakas. "Aku ingin cream soup itu saja...lagi pula aku hanya makan tiga sendok tadi malam...tinggal hyung panaskan lagi saja." Jawab Jisung, sepertinya nafsu makannya mulai membaik.

"Sepertinya Jeno dan Jaemin benar-benar mengurusmu semalam." Ujar Donghyuck sambil tersenyum senang. Jisung membalasnya dengan senyuman lirih. "Baiklah...aku akan memanaskan soup mu sebentar." Donghyuck mengambil mangkuk itu dan menuju dapur.

Mark keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Ia tersenyum pada Jisung, "Sudah merasa baikan?" tanya Mark. Jisung mengangguk lirih, "Gomawoyo hyungdeul..." ucapnya. "Cheonmaneyo... itu sudah jadi kewajiban kami." Jawab Mark.

"Jisungie, jja sarapan habis itu minum obat pencegah demammu ok." Ujar Donghyuck sambil membawa mangkuk Jisung. "Ne, biarkan aku sendiri hyung." Ujar Jisung dan mengambil alih soupnya. Donghyuck mengangguk dan duduk disamping Mark. Ia mengecek ponselnya dan terdapat nontifikasi dari Taeil di group.

"Hyung, kita akan chek-up hotel jam setengah lima. Apa semuanya sudah siap?" tanya Donghyuck pada Mark. "Semuanya sudah siap, kita suruh Jeno dan Jaemin mandi dulu saja." Ujar Mark dan mereka pun membangunkan Jeno dan Jaemin.

Jeno dan Jaemin menurut, mereka mandi bersama agar tidak memakan waktu lama. "Jadi kita sarapannya gimana?" tanya Donghyuck pada Mark. "Kita akan sarapan di restoran bandara seperti biasa." Jawab Mark acuh.

Donghyuck mengangguk dan beralih pada Jisung yang sudah menghabiskan sarapannya juga obatnya. "Kau tidur lagi saja Jisung, nanti saat akan berangkat kami bangunkan." Ujar Donghyuck. Jisung mengangguk dan merebahkan dirinya lagi di ranjang.

Jeno dan Jaemin keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. "Jadi, Jisung sudah baik-baik saja?" tanya Jaemin. Mark dan Donghyuck mengangguk, "Syukurlah kalau begitu." Jawab Jeno dan Jaemin.

"Ini ada empat roti untuk mengganjal perut dulu." Tawar Jaemin pada ketiganya. Mark, Donghyuck, dan Jeno mengambil tiga roti di tangan Jaemin dan memakannya. "Sebentar, aku buatkan teh hijau dulu." Ujar Donghyuck dan kembali berjalan menuju dapur.

Tak lama Donghyuck membawa empat cangkir teh hijau untuk mereka. "Masih ada waktu sepulu menit sebelum chek up." Ujar Mark dan ia menyeruput tehnya dengan pelan. "Perutku terasa hangat." Jaemin tersenyum kecil. Mereka menghabiskan sarapan kecil mereka sambil menunggu waktu chek up.

Setelah menghabiskan roti dan teh hijaunya, mereka semua sudah bersiap dengan koper masing-masing, terkecuali dengan Mark yang membawa koper Jisung. "Jisung kita harus chek up, ayo bangun." Ujar Jaemin.

Jisung bangun dan berjalan sambil memegang lengan Jisung. Mereka keluar dari kamar hotel sambil mengeratkan jaket di tubuh mereka karena suhu udara yang begitu dingin. "Hai, anak-anak." Sapa Yumin yang juga keluar dari kamarnya.

"Hai Yumin noona." Sapa balik minirookies pada Yumin. "Jisung kenapa?" tanyanya saat melihat wajah Jisung yang masih pucat. "Dia sakit, noona. Tapi sekarang sudah membaik." Jawab Mark. "Ya Tuhan...kalau begitu biar Jisung bersamaku saja." Ujar Yumin mengambil alih Jisung.

"Baiklah." Jawab Jaemin dan membiarkan Jisung bersama manager mereka itu. "Jja, kita ke lobby hotel, yang lain sudah menunggu di sana." Yumin berjalan lebih dulu bersama Jisung dan diikuti yang lainnya.

Mereka berkumpul bersama member lain yang sudah siap dengan barang masing-masing. "Mark, Yumin noona mana kunci kamar kalian? Sini aku akan menyerahkannya pada resepsionis." Ujar Taeil menghampiri mereka.

"Ini hyung." Ujar Mark menyerahkan kunci kamarnya dan diikuti oleh Yumin. "Jja, kalian masuk lah ke dalam mobil. Kita akan segera ke bandara." Ujar Taeil dan berlalu pergi dari hadapan mereka. Rombongan Mark berjalan menuju mobil Van nomor dua yang sudah di tempati oleh Jaehyun dan Taeyong di dalam.

"Annyeong dongsaengdeul." Sapa Jaehyun yang duduk di posisi tengah bersama Taeyong yang sepertinya tertidur di bahu Jaehyun. "Annyeong Jaehyun hyung." Ujar Jeno dan yang lainnya. Kini posisi mereka menjadi Jaehyun, Taeyong, Mark, Dan Donghyuck yang berada di posisi tengah. Jeno, Jaemin, Jisung dan Yumin di bangku belakang.

Sedangkan di mobil Van nomor satu ada Taeil, Doyoung, Hansol, Yuta, Johnny dan Ten. 5 mobil Van yang membawa rombongan keluarga Kim dan Moon itu melaju menuju bandara. Mereka yang memang masih mengantuk pun kembali tertidur. Beruntung jarak bandara tidak terlalu jauh dari posisi mereka, hingga mereka hanya menempuh perjalanan selama 10 menit untuk sampai di bandara.

Masih ada waktu sepuluh menit sebelum masuk ke pesawat, dua keluarga yang sudah bersatu itu pun memilih sarapan bersama. Sarapan di watu subuh itu pun terasa sangat hikmat dan hangat karena suasana bahagia yang masih melingkupi mereka.

Sesudah sarapan pun mereka naik ke pesawat karena lima menit lagi pesawat akan berangkat menuju Seoul. Mereka duduk di bangku masing-masing bersama pasangan mereka. Senyum menghiasi wajah mereka selama perjalanan dan mereka juga saling bercanda bagi yang tidak mengantuk. Sungguh hari yang di awali dengan suasana suka cita, bukan?

.

.

.

TBC

Anneyong, aku bawa chaper 13. maaf kalo terlalu flat ya... :( menurut kalian ini ngebosenin gk sih? kalo iya mungkin aku bakal cepetin pas Yuta sama Doyoung melahirkan. aku harap kalian tetap suka sama ff ini. makasih sama yang tetep mau baca ff ini sama review(Aku selalu baca kok), yg follow, sama

fav, atau pun sider. jeongmal gomawo. buat A Baby, aku lagi ngetik sekalian ngisi waktu luang. hehe... jadi tenag aja yang nunggu ff itu bakal di lanjut kok. maaf kalau ada typo dan aku kurang mendetail dalam mendeskripsiin ceritanya. karena aku juga gk bisa mengungkapkan perasaan sebenarnya, ya seperti Taeil lah.. hehehe.. ok sampai jumpa di chapter depan

salam Johntenny :)