Hai kamu!
Iyaaa~ Kamuu~
Sori lama update, kebiasaan dah :'D
Ga banyak cing cong, cuma mau bilang terimakasih buat kalian semua yang sudah mendukung saya, meriew, atau hanya sekedar membaca sampai saat ini.
Mungkin besok chapter terkahir, well, perhaps hahaha
Sori kalo pendek emang sengaja soalnya mau selesai :') Sori typo, sory cheesy.
Enjoy!
"Mmh—hh!" Hinata mengerang ketika Sasuke membanting tubuhnya pelan ke atas sofa putih di ruang tengah. Punggungnya bergerak semakin mundur karena Sasuke terus meringseknya maju.
Sasuke menjilat bibir Hinata untuk kesekian kalinya, sebelum akhirnya dia melepaskan ciuman panjang mereka. Terdengar suara decapaan keras saat Sasuke melepaskan bibirnya sebentar, hanya sekedar mengamati bagaimana keadaan Hinata. Wajah Hinata merona, ia merasa sangat kelelahan untuk mengimbangi permainan bibir Sasuke. Jantungnya tak bisa berhenti untuk berdebar hingga Hinata merasa tubuhnya menjadi lungai.
Sasuke menindih tubuhnya menyebabkan seragamnya yang basah karena air hujan ikut membasahi kaos serta rok panjang yang Hinata pakai. Sasuke memandangnya cukup lama, matanya menelusuri secara intens wajah Hinata.
"Kau... cantik," pujinya lalu berbisik tepat di telinga Hinata. "Dari dulu aku tidak pernah berani mengatakannya. Tapi aku bersumpah kalau kau sangat cantik, Hinata." Katanya dengan suara berat. Wajah Hinata merah padam, Sasuke tak pernah memujinya selama bertahun-tahun.
"Tatap aku ketika sedang bicara," tegas Sasuke melihat Hinata yang tak berani memandangnya. Bukan apa-apa, bagaimana mungkin Hinata bisa melihat wajah Sasuke yang basah oleh air hujan. Demi Tuhan, apa dia tahu dilema yang tengah melanda Hinata untuk menahan diri tidak memikirkan hal-hal liar karena wajah Sasuke begitu...
"Hinata," panggil Sasuke tak sabar. Hinata memejamkan matanya lebih erat, ia takut jika benar-benar terhanyut oleh permainan Sasuke.
Sasuke rupanya memang tidak suka dibuat menunggu. Pemuda itu mengecup bibir Hinata sekilas sampai membuat Hinata terperanjat kaget. Hinata mengerling mata Sasuke tanda protes, dan Sasuke tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Hinata melihatnya.
"Kenapa kau jadi pemalu lagi? Padahal kau tadi sudah sangat antusias," kata Sasuke di depan wajahnya.
Wajah Hinata merah padam. "L-lebih baik Sasuke-kun ganti baju. Kau basah kuyup. K-kau bisa kena flu," dalih Hinata.
Sasuke menyunggingkan senyumnya. "Lalu kenapa kau tidak mencoba membuatku tetap hangat?"
"Uhhh..."
Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Tangannya menyentuh pipi Hinata. "Kau sangat manis." Kemudian kilatan di matanya berubah menjadi lebih tenang. "Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi Hinata. Sudah lebih dari tiga tahun aku menahan diri."
"M-menahan diri dari apa?"
"Entahlah. Bisa apa saja."
Hinata menatapnya dengan wajah merah, tapi Sasuke tahu Hinata tidak—belum menginginkannya. Mereka terdiam agak lama, lalu akhirnya Sasuke tersenyum tipis. Pemuda itu bangkit dan melepaskan cengkeramannya pada Hinata. Kemudian dia hanya duduk sambil menutupi wajahnya dengn kedua telapak tangannya. Hinata merapihkan kaosnya yang dibuat lusuh oleh perbuatan Sasuke, ia kemudian ikut duduk di samping Sasuke. Sedikit rasa bersalah menghantamnya, ia merasa baru saja menolak Sasuke.
"Sasuke..." Hinata mencoba menepuk bahu Sasuke. Sasuke terperanjat heboh ketika Hinata menyentuhnya. Tangannya mencoba menyingkirkan tangan Hinata dari bahunya, saat itulah Hinata bisa melihat wajah Sasuke yang merah padam.
Hal itu sama sekali tak membantu selain membuat Hinata menjadi lebih merah lagi.
"J-just give me a break," katanya kemudian memijit matanya frustasi. Sasuke merengut memandang Hinata dengan wajah merona. "Aku... tidak ingin menyakitimu lagi. Aku masih bisa menahan diri."
Hinata menggigit bibirnya, kata-kata Sasuke bahkan sepuluh kali lebih manis daripada semua ciuman yang ia dapatkan. Entah kenapa kalimat Sasuke sangat membuatnya bahagia. Hinata merasa Sasuke sudah menerima Hinata ke dalam kehidupannya lagi. Tak ada kebencian. Tak ada sakit hati.
Hinata memeluk Sasuke erat, ia sangat menyukai berada di pelukan Sasuke. Sasuke hanya gelagapan sebentar lalu dia bisa mengontrol diri. Sasuke mengelus puncak kepala Hinata lembut, lalu menyentuh pipi Hinata dan membimbingnya untuk menatap ke atas. Sasuke tersenyum tipis khas miliknya yang membuat Hinata semakin menyukainya. Sekali lagi Sasuke mencium bibirnya.
Sasuke terbangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Ia duduk terdiam di atas kasur yang sepreinya berantakan. Tidurnya luar biasa nikmat tadi malam, rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali ia merasa benar-benar bisa tidur tanpa mimpi buruk. Well, ia masih memimpikan Itachi tadi malam. Tapi sepertinya itu adalah terakhir kalinya Sasuke memimpikan kakaknya. Itachi sudah mati, dan Sasuke sudah bisa menerima itu tanpa harus menyalahkan siapapun yang masih hidup.
Langit berwarna biru gelap mengintip dari seleret celah gorden tipis. Awan menggantung di ujung langit menantikan matahari yang sebentar lagi terbit. Sasuke beranjak turun dari tempat tidur kemudian menggeser jendela yang tinggi itu dan seketika hawa dingin pagi menyerangnya, mungkin karena Sasuke tidur telanjang dada. Tanah lembab dan rumput yang berembun di bawah sana akibat hujan deras semalam masih beraroma segar.
Rasanya seluruh beban yang selama ini menekan dadanya memudar perlahan, bahkan Sasuke tidak ingat mengapa ia menyimpan perasaan benci itu begitu lama. Kehilangan seseorang dengan mendadak memang menyakitan, begitu tak dapat diterima. Tapi kini Sasuke belajar bahwa pandangannya tidak selalu benar. Ia harus melihat satu cerita dari berbagai sisi, yang mungkin kebenaran ada di sisi lain perspektifnya.
Suara kelontangan membuatnya menoleh, ia lalu berjalan gontai sambil menggosok kedua matanya ke arah ruang tengah. Hatinya terasa melebur menjadi satu dengan aliran darahnya yang semakin kencang melihat pemandangan di depannya. Di balik meja pantry, Hinata tampak sedang berkutat dengan tempat cucian piring, berdiri membelakanginya.
Hinata mengikat rambutnya asal kebawah, entah mengapa dia mengingatkan Sasuke akan Makoto di masa lalu, ketika Sasuke kecil begitu senang ibunya sudah bangun untuk menyiapkan sarapan Uchiha.
Astaga, gadis itu begitu indah. Sasuke berjalan ke arahnya tanpa ia sadari. Hanya saja, gadis itu terlalu spesial. Dia terlalu berharga untuk Sasuke memperlakukannya seenak jidatnya. Ia senang bahwa keputusannya untuk tidak bertindak diluar kontrol terhadap Hinata semalam adalah hal yang tepat. Gadis itu terlalu berharga.
"S-sasuke-kun!" Hinata tersentak saat Sasuke melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Hinata dari belakang. "Kau sudah bangun?" tanyanya dengan wajah merah.
"Hn," sahutnya singkat.
Hinata menatapnya jengkel. "Jadi sekarang kau bisa memelukku seenaknya?"
Sasuke mengerling padanya. "Kau tidak mau? Bukankah kau yang semalam bilang kalau kau mencintaiku dengan berlinangan air mata?"
Hinata memukul kepalanya keras sekali tanpa dia sadari kekuatannya bisa membuat Sasuke nyaris jatuh.
"Kau...!" serunya sambil menarik pipi Hinata jengkel. "Hmph," gumamnya saat melihat wajah Hinata, Sasuke tak bisa mencegah wajahnya ikut memerah. Sasuke mencoba mendekatkan wajahnya, namun Hinata segera mendorong dagu Sasuke menjauh. Gadis itu begitu gugup, mungkin dulu Sasuke akan merasa menang karena berhasil membuat dia gugup, tapi kali ini Sasuke malah ikut gugup. Menyedihkan.
"Ayolah," pintah Sasuke pada akhirnya. Hinata melirikkan matanya ke samping gugup, tapi kemudian dia memejamkan matanya. Sasuke tersenyum.
Cup!
Angin berhembus kencang membawa kelopak bunga Sakura berguguran dengan pelan. Suzuran tampak begitu indah meski musim sudah hampir berganti. Hinata berjalan menyeret kaki melewati pohon-pohon yang daunnya bergerak pelan tertiup angin, lalu berhenti di pohon terbesar yang ada di halaman belakang. Rasanya sudah begitu lama sejak ia menginjakkan kaki di tempat terkutuk ini untuk pertama kalinya. Hinata meyentuh kulit pohon yang kasar, membangkitkan memori kalau dulu punggungnya pernah membentur keras di pohon ini ketika berkelahi dengan Juugo. Semuanya berubah menjadi lebih baik sedikit demi sedikt sejak kejadian itu. Hinata tersenyum.
Sebuah lengan terjulur di sampingnya secara tiba-tiba, kemudian tangan orang itu menggenggam tangan Hinata yang masih berada di pohon.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Sasuke tepat di sampingnya.
Hinata membalikkan tubuhnya dengan cepat dan menemukan dirinya sudah di himpit oleh Sasuke. Hinata berusaha menahan wajahnya yang memerah. Sasuke tidak memakai almamaternya, mungkin karena musim panas hampir tiba.
"T-tidak ada," jawab Hinata seadanya.
Sasuke memandanganya tanpa ekspresi. "Kau tampak sedih. Ada yang menganggumu?"
"Hei! Kau itu yang menganggu Hinata, Sasuke!" seru seseorang menghampiri mereka. Naruto dan rombongannya berjalan dengan santai. Mereka duduk di sofa usang favorit Juugo sambil menikmati kelopak Sakura yang terbang tertiup angin.
Shikamaru menyalakan pematik api di tangannya kemudian mengarahkannya pada ujung rokok di mulutnya. "Hinata kau belum mengambil hadiah uang lomba itu," katanya memberitahu.
Hinata melempar bokongnya ke atas sofa di samping Shikamaru, menghela napas. "Aku sudah memberitahu Kakashi-sensei agar menggunkan uang itu untuk mengecat seluruh tembok Suzuran."
"Apa!?" seru mereka bebarengan.
Naruto meremas-remas udara kosong di depannya dengan jengkel. "Hinataa! Kenapa kau menyia-nyiakan uang itu! Seharusnya kau gunakan untuk menaktir kami semua!" protesnya diiringi gumamam setuju dari Kiba, Suigetsu, Chouji, dan Sai yang hanya mengangguk setuju. Juugo juga hanya mengangguk samar.
Hinata menjadi sedikit menyesal karena ia memang ingin berterimakasih pada teman-temannya. "Tapi ini untuk masa depan Suzuran juga. Apa kalian tidak bosan memandang tembok abu-abu berlumut setiap hari. Aku heran kenapa kalian bisa betah bau pesing dimana-mana."
Naruto mengeluarkan suara desahan dongkol, dia memilih mengais tanah sebagai bentuk kekecewaanya. "Shikamaru, kau tidak ingin mengambil uangmu?"
Shikamaru meniup asap rokok dari dalam mulutnya kalem. "Well, lomba itu adalah ide Hinata. Kupikir dia berhak memutuskannya. Lagipula aku sedang tidak butuh uang."
"Ya ampun. Kau akan mengambil bagianmu 'kan, Sasuke?" tanya Naruto dengan penuh harap pada orang terakhir.
Sasuke berdiri di belakang Hinata, dia menyentuh bahu Hinata pelan. "Hinata menginginkan uang itu untuk merombak Suzuran."
Naruto memutar bola matanya. "Yang benar saja. Sejak kapan kau menuruti keinginan Hinata?"
"Keinginan Hinata adalah keinginanku juga, selama itu hal yang benar."
Mereka tertawa mendengarnya. Sedangkan Hinata tak bisa menahan rona merah yang menjalari pipinya. Kata-kata Sasuke selalu membuatnya senang, dan lebih bahagia lagi karena Hinata tahu Sasuke memang bermaksud demikian.
Kiba menghapus sedikit air di ujung matanya karena tertawa terlalu banyak. "Kau suka Hinata apa bagaimana? Memang kau pacarnya?"
"Memang. Hinata adalah pacarku."
Chouji sampe menyemburkan air minumnya tepat mengenai wajah Suigetsu. Kalimat Sasuke seakan menggantung di udara, melayang-layang membuat semua orang berpikir apa mereka salah dengar. Naruto tertawa canggung. "Kau bercanda?"
"P-p-pacar?" Hinata mengulangi kata itu untuk mengkonfirmasi kalau ia juga tidak salah dengar. Ia hanya takut kalau bekhayal mendengar kata itu saking ia ingin mendengarnya.
Sasuke menunduk untuk melihat Hinata. "Kau tak ingin dipanggil seperti itu?"
Hinata menundukkan wajahnya yang merah padam.
Sorakkan teman-teman mereka memenuhi halaman belakang. Pekikkan heboh dari Kiba yang tidak terima semakin menjadi-jadi. "Bagaimana bisa? Hinata kenapa kau mau dengan Sasuke?! Tidak masuk akal!"
Protes juga datang dari Naruto yang tampak lebih heran. "Waah, apa ini benar? Maksudku... well, bukankah Sasuke membencimu...?"
Atmosfir berubah menjadi agak dingin, tapi kemudian Sasuke menepuk bahu Hinata sekali lagi. "Itu adalah sebuah kesalahan. Yah, kesalahanku."
"Waaahh, apa dunia mau kiamat? Sasuke mau mengakui kesalahannya?" tanya Shikamaru takjub.
Sudut bibir Sasuke tertarik sedikit. "Hm, dan ini karena Hinata yang menyadarkanku."
"Astaga aku merinding mendengarnya! Lihat bulu kudukku naik semua," katanya sambil memamerkan lengannya pada Kiba. "Aku juga tidak betah mendengar ini!" Kiba kemudian menyeret Naruto agar pergi bersamanya, diikuti oleh mereka semua yang masih belum terbiasa dengan pernyataan Sasuke beruasan.
Shikamaru menoleh sebentar ke arah belakang. "Just try to be gentle towards her, eh. Sasuke."
"Fuck off," balas Sasuke.
Mereka meninggalkan Sasuke dan Hinata yang tangannya masih terjulur untuk menghentikan mereka semua pergi. Hinata menunduk sambil duduk lungai di sofa. "Mereka pergi," desah Hinata.
Sasuke membungkuk untuk memeluk leher Hinata dari belakang. "Aku tidak peduli dengan mereka."
"S-sasuke-kun," Hinata masih saja kaget atas tindakan Sasuke yang selalu tiba-tiba.
Sasuke menoleh ke arahnya, wajah mereka begitu dekat. Hinata menatap mata gelap Sasuke, dan ia menyadari bahwa mata Sasuke entah bagaimana tampak lebih hitam cemerlang, bukan hitam kosong seperti dulu.
"Apa aku setampan itu?" goda Sasuke.
Hinata galgapan di dalam lingkaran lengan Sasuke. Tapi ia tak bisa menyangkal akan fakta itu.
Sasuke tersenyum kecil. "Kau juga cantik."
Kata-katanya semakin hari semakin memebuat Hinata tak berdaya. Hinata memberanikan diri menatap mata Sasuke. "A-apa tidak masalah jika kugunakan uang hadiah lomba itu untuk Suzuran?"
"Jika kau mau, aku akan menyuruh orang untuk merombak total Suzuran. Menjadi lebih baik tentu saja."
Senyum Hinata melebar mendengarnya. "Benarkah? Terimakasih, Sasuke-kun!"
Sasuke memandangnya. "Kau sudah bekerja keras untuk memperbaiki Suzuran dari dalam. Serahkan padaku untuk soal merubah fisik Suzuran."
Hinata menganggu bersemangat, ia begitu senang kini ada orang yang mendukungnya untu memperbaiki Suzuran.
"Aku masih belum mengerti, kenapa kau sebodoh itu." ucap Sasuke pelan. "Kenapa kau sangat menginginkan merubah sekolah ini? Suzuran bahkan tidak layak mendapat perhatian sebesar itu."
Hinata menggembunggkan pipinya jengkel. "Aku tidak bodoh. Kau lihat sendiri, mengejutkan bukan bahwa sekarang Suzuran ternyata pantas mendapat perhatian. Nilai Suzuran di mata dunia kini sudah menjadi lebih baik." Hinata menghela napas, ia memandang lurus ke depan.
"Awalnya, aku membenci tempat ini. Tempat ini sampah, ditambah ketika aku tahu kalau ada kau di sini. Lalu, kalian menunjukkanku sisi lain tiap individu di sini yang sebenarnya sangat menakjubkan. Naruto, Shikamaru dan semuanya... aku tidak ingin mereka menyia-nyiakan hidup dan masa depan mereka. Aku tahu mereka bisa melakukan lebih. Juga, Kakashi-sensei selalu mendukungku. Aku hanya merasa kalian semua adalah satu-satunya temanku di Tokyo. Dan aku tidak pernah menyesal."
Hinata menoleh pada Sasuke. "Bukan aku yang merubah Suzuran. Tapi kalian sendiri yang membuatnya mungkin."
Mata Sasuke melebar mendengarnya. "Jawaban yang menggelikan," ucapnya dan Hinata memandangnya marah.
Tapi kemudian Sasuke tersenyum. "Maafkan aku membuatmu seperti di neraka selama ini. Aku selalu menyusahkanmu."
Hinata tak bisa lebih senang lagi selain mendengar Sasuke meminta maaf dan belajar.
Sasuke kemudian menyunggingkan seringai khas miliknya. "Tapi setelah kupikir, kau tidak pernah mengalahkan pemimpin Suzuran yang sebenarnya, dalam kurung, aku."
Hinata membuka mulut ingin protes. "T-tapi...!"
"Bagaimana? Kau ingin berkelahi denganku sekarang?" tanya Sasuke. "Jika kau bisa membuatku jatuh, kau akan kuakui sebagai pemimpin Suzuran."
Hinata menggigit bibir. "H-hanya itu?"
Sasuke tertawa mencemooh. "Kau sepertinya terlalu meremehkanku Hinata. Tentu saja kau bisa menang jika—"
Cup!
Hinata baru saja menciup pipi Sasuke dengan sungguh-sungguh. Sasuke yang menerimanya tanpa persiapan apapun hanya terbelalak menatap Hinata, dan Hinata harus membuat wajah termanis yang ia bisa untuk meluluhkan Sasuke.
Sasuke merosot jatuh karena lututunya bergetar.
"Damn it. I didn't see that coming," Sasuke berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Hinata mengintip Sasuke yang duduk bersila di tanah dari balik sofa. "Are you okay?" tanya Hinata dengan nada mengejek, berusaha menahan tawa. "Kau harus mengakuiku sebagai pemimpin Suzuran yang resmi—mmh!"
Sasuke begitu cepat menyambar bibir Hinata, menciumnya penuh penekanan. Sasuke menyentuh pipi Hinata sembari menajuhkan wajahnya. "Bagaimana kalau akhir minggu ini kita kencan. Hm?"
Hinata masih terlalu terkejut dan tak bisa menjawab.
"Kau mau 'kan?" tanya Sasuke sekali lagi.
Hinata hanya bisa mengangguk dengan wajah merah padam.
Suara seperti orang mutah terdengar dari balik pohon di belakang sana. Rupanya Naruto, Kiba dan semuanya tidak benar-benar pergi tadi.
Hinata menatap refleksi dirinya di cermin besar yang ada di sudut kamarnya. Ia mengenakan dress biru gelap dan membiarkan rambut panjangnya terurai sampai ke pinggang. Hinata mengoleskan sedikit lipgloss merah cerah ke atas bibirnya, lalu mencoba tersenyum. Wajahnya memerah hanya dalam hitungan detik membayangkan ia akan kencan sungguhan dengan Sasuke. Padahal ia sudah mengubur dalam-dalam harapannya memiliki pengalaman normal anak SMA seperti berkencan sejak ia tiba di tanah Suzuran.
Suara klakson mobil terdengar dari luar jendela membuat Hinata naris terlonjak. Ia segera menuruni tangga dan mengunci rumah.
"Jadi..." kata Hinata membuka topik setelah Sasuke mengemudikan mobilnya beberapa meter. "Kenapa kau berpakaian serba hitam? Apa kencan kita sesuram itu?"
Sasuke mengenakan kemeja hitam dan celana yang senada. Pemuda itu mengerling Hinata yang duduk dismapingnya. "Hm, aku ingin kau ikut ke suatu tempat. Tapi sebelum itu terserah kau mau kemana."
Hinata mengerutkan alisnya, tapi bagian dimana Sasuke akan menuruti keinginan Hinata terdengar sangat menggiyurkan.
"Benarkah? Terimakasih," ucap Hinata.
Sasuke tersenyum. "Kau ingin ke restoran super mewah ayng baru saja selesai dibangun minggu lalu itu? Aku kenal pemilik gedungnya."
Hinata menggeleng. "Berhentilah menghamburkan uangmu sebelum tidak ada yang tersisa untuk dihamburkan."
Sasuke mendengus. "Itu uangku sendiri, anyway. Aku sudah bekerja menjadi broker untuk Uchiha, memang melelahkan, tapi menghasilkan banyak uang."
"Sejak kapan?" tanya Hinata menoleh keheranan.
"Kurasa sejak liburan terkahir. Tapi kurasa aku tidak cocok dengan hal itu."
"Kenapa?"
Sasuke memiringkan kepalanya sedikit. "Well, aku hobi lepas kendali jika sedang bernegosisasi. Kau tahu," Sasuke kemudian mengangkat tinjunya sebagai simbol.
Hinata hanya bisa mengangguk pasrah.
"Jadi, kau mau kemana?"
.
Suara desahan bosan Sasuke mengganggu telinga Hinata setelah mereka melewati gerbang besar bertuliskan kebun binatang Tokyo. Hinata mendengus, "Bisakah kau berhenti menunjukkan ketidaksenanganmu itu?" sindir Hinata. Ia memang benar-benar menginginkan ke kebun binatang bersama pacarnya. Well, itu impiannya sejak dahulu.
Hembusan angin membuat bunga sakura semakin jatuh berguguran dari tangkainya dan melayang-layang di udara. Kebun binatang lumayan ramai dan agak sesak, namun kebanyakan berisi keluarga besar atau rombongan anak TK. Hinata melangkahkan kakinya melewati jalan setapak buatan dari batu-batu sungai.
"Kau tahu," ujar Sasuke kemudian menyamakan langkahnya di samping Hinata. "Aku bisa menyewakanmu seluruh tempat ini agar dipindah ke halaman belakang rumahmu."
"Oh, hentikan," Hinata memutar bola mata. Kemudian mereka berdua tertawa geli.
Sasuke tersenyum, dia menyentuh tangan Hinata dan menggandengnya.
Sasuke tampak sangat menikmati ekspresi pucat Hinata ketika melewati kandang ular. Pegangan tangan mereka sampai terlepas beberapa kali karena keringat dari Hinata. Namun keadaan berbalik saat Hinata tertawa puas melihat Sasuke nyaris berlari meninggalkannya ketika melewati bagian serangga dan reptil. Sisanya, mereka sangat menikmati siang itu.
Mereka membeli minuman dan duduk di bawah pohon yang daunnya sangat menyejukkan setelah lelah berjalan mengelilingi kebun binatang. Ternyata di taman kecil ini ada beberapa burung besar yang dibiarkan berkeliaran dan berinteraksi dengan pengunjung langsung.
Berdiam di bawah pohon ini sangat menyejukkan dengan angin kecil yang berhembus. Lalu Sasuke nyaris terjatuh dar kursinya ketika seekor merak besar melewati meja mereka, meminta sedikit camilan.
Hinata tertawa kecil melihatnya, ia lalu membagikan remah roti yang dimilikinya pada burung berwarna biru hijau menakjubkan itu.
"Astaga makhluk apa itu?" tanya Sasuke jengkel.
"Oh, ini merak Asia. Kau tahu, dia bisa hidup di lebih dari dua benua dan burung yang jantan akan menggunakan ekornya yang sangat indah untuk menarik perhatian—"
"Damn, aku salah bertanya padamu," potong Sasuke lelah.
Hinata menatapnya tajam.
Sasuke kemudian mengerlingnya. "Hinata," panggilnya kemudian melanjutkan. "Kau... apa kau mau ikut ke tempat ini...hm, aku benar-benar ingin ke sana bersamamu setelah ini."
Hatinya serasa jatuh dari tubuhnya ketika mendengar Sasuke dengan wajah yang merona memintanya untuk pergi ke sebuah tempat, ia tak bisa mencegah pikirannya melayang ke mana-mana. Maksud Hinata, Sasuke memintanya dengan bersungguh-sungguh. Ia hanya ingat perkataan Ino di telepon yang langsung meminta Hinata mengenakan baju yang seksi untuk kencan pertamanya dengan Sasuke.
"A-a-apa maksudmu... a-aku..."
Sasuke meraih tangan Hinata yang ada di atas meja, kemudian menggenggamnya pelan. "Please. Aku sudah membeli bunga dalam perjalanan menjemutmu tadi."
Hinata tak bisa menjawab selain menunjukkan wajahnya yang semakin memerah.
Langit berubah warna menjadi orange lembut dan sedikit ungu, matahari menggantung lelah di ujung langit menyisakan langit kosong tanpa awan dengan sedikit bintang yang mulai tampak. Angin malam berhembus kencang, menggerakan samar rumput di bawah kakinya. Aroma rumput yanng baru dipotong dan udara malam bercambur jadi satu, menenangkannya. Setelah berjalan menanjak cukup lama, akhirnya Sasuke berhenti tepat di sebuah bukit kecil terselimuti rumput hijau di atasnya. Nama Uchiha Itachi terukir jelas di nisan besar itu.
Hinata menundukkan wajahnya, ia tak berani berdiri di samping Sasuke. Ia masih merasa tidak pantas. Bagaimanapun ia tetap merasa bersalah atas kejadian malam itu, jika saja ia bisa berusaha lebih keras meyakinkan Itachi dan menenangkan Fugaku dari pada melarikan diri.
"Hinata," Sasuke menolehkan kepalanya ke belakang. "Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya heran. Kemudian dia menyadari air muka Hinata, Sasuke mengulurkan tangannya. "Kemarilah. Aku ingin kau ada di sampingku saat melepaskan Itachi."
Hinata menggigit bibir terharu. Ia melangkahkan kakinya dan meraih tangan Sasuke, ia menghela napas dan dengan adanya Sasuke di sisinya ia merasa bisa menghadapi Itachi dengan kepala tegak.
Sasuke meletakkan buket bunga putih di atas batu nisan lalu menghela napas.
"Hm, sudah lama ya, Itachi."
Hinata meneteskan air mata tanpa ia sadari.
"Aku di sini untuk kesekian kalinya," Sasuke menghela napas lalu mempererat genggamannya pada tangan Hinata. "Tapi kali ini tidak sendiri. Yah, aku tidak kesepian lagi sejak kau ada di enam meter di bawah tanah ini."
"Itachi-kun," Hinata menggumamkan namanya. "M-maafkan aku," berusaha keras tidak menangis sesenggukan.
"Cih," Sasuke berwajah seperti akan muntah menahan air mata. Tapi akhirnya pemuda itu meneteskan air mata. "Kurasa ini saatnya aku benar-benar melepasmu, brother."
Angin berhembus luar biasa kencang, beberapa daun di sekitar mereka jatuh berguguran ke atas rumput yang baru dipotong. Hinata mengenadahkan wajahnya ke atas, melihat langit yang berwarna orange tanpa ujung di atas sana. Begitu indah.
"Aku..." Sasuke tak bisa melanjutkan kalimatnya, alisnya berkerut keras menahan tangis.
Hinata mengelus lengan Sasuke lembut kemudian tersenyum pada nama Itachi yang terukir di batu nisan.
"Kami mencintaimu, Itachi-kun."
.
Langit sudah hampir gelap, tapi mereka tak kunjung beranjak dari makam Itachi. Hinata terduduk di atas rumput dengan Sasuke yang terbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Hinata. Keadaan begitu tenang dengan udara berganti menjadi malam, lampu jalan berdiri kesepian di dekat mereka.
"Ngomong-ngomong, kenapa wajahmu memerah tadi ketika akan ku ajak kemari?"tanya Sasuke mendongak menatap wajah Hinata langsung.
Hinata memalingkan wajahnya sedikit dengan malu. "T-tidak apa-apa."
Sasuke tersenyum mendengarnya, kemudian tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Hinata. "Apa kau memikirkan hal lain?"
Hinata menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan wajah nyaris berasap.
Sasuke tersenyum tipis. "Hei, lihat aku." Perintahnya. Hinata menunduk untuk memandang Sasuke yang tidur di pangkuannya. "Berikan aku ciuman."
Hinata memerah sekali lagi, tapi perasaannya pada Sasuke hari ini begitu meluap-luap, ia begitu menyukai lelaki brengsek ini. Ia tak pernah mendapatkan ide jika menyukai seseorang akan sangat menyenangkan.
Hinata menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sebelum akhirnya menundukkan wajahnya lebih rendah untuk mencapai wajah Sasuke. Sasuke menarik pipi Hinata agar lebih turun lagi. Bibir mereka bertemu, dan Sasuke menciumnya dalam, begitu lebut namun sangat intens.
Hinata menjauhkan wajahnya setelah napasnya hampir habis, wajahnya merah. Begitu juga dengan Sasuke yang merona gengsi.
"Biarkan aku tidur sebentar," pinta Sasuke kemudian memejamkan mata.
Hinata memainkan rambut Sasuke yang turun menutupi dahi pemuda itu dengan penuh perhatian. Lalu mendadak ponselnya bergetar dari dalam tas, Hinata mengambilnya keluar.
Matanya membulat melihat pesan yang baru saja masuk. Entah bagaimana, dalam sekejap ia merasa begitu dekat dengan Sasuke sekaligus begitu jauh.
Hinata, aku sudah mendaftarkanmu ke salah satu universitas di Inggris. Itu universitas yang bagus. Kau sudah memenuhi semua syaratnya, hanya tinggal ujian nasional saja yang perlu kau pikirkan. Berusalah."
Ayah.
TBC
See ya!
