TITTLE : вещие (Veschiye)

ALTERNATIVE TITLE : Precognitive Dream

PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN slight KANGINxLEETEUK


The Red Thread of Fate (simplified Chinese: 姻缘红线; traditional Chinese: 姻緣紅線; pinyin: Yīnyuán hóngxiàn), also referred to as the Red Thread of Marriage, and other variants, is an East Asian belief originating from Chinese legend. According to this myth, the gods tie an invisible red cord around the ankles of those that are destined to meet one another in a certain situation or help each other in a certain way. Often, in Japanese and Korean culture, it is thought to be tied around the little finger. According to Chinese legend, the deity in charge of "the red thread" is believed to be Yuè Xià Lǎorén (月下老人), often abbreviated to Yuè Lǎo (月老), the old lunar matchmaker god, who is in charge of marriages.

The two people connected by the red thread are destined lovers, regardless of place, time, or circumstances. This magical cord may stretch or tangle, but never break. This myth is similar to the Western concept of soulmate or a destined flame.


Busan bukanlah tempat yang nyaman untuknya.

Ayah dan Ibunya lebih memilih menitipkannya pada neneknya dibanding merawatnya.

Faktor ekonomi katanya.

Di Busan ada pantai dekat pelabuhan tempatnya bermain. Tapi baginya ini adalah tempat yang pas untuk bersembunyi.

Bersembunyi dari kenyataan.

Baginya, semangkuk nasi dengan lauk telur dadar merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Selama ia hidup hanya bermodalkan makan ubi, singkong, jagung, atau bahkan kadang tidak makan sama sekali.

Begitu kerasnya hidup hingga membuatnya benci anak – anak orang yang berkecukupan.

Seragam mereka selalu baru, kotak bekal yang selalu disiapkan oleh ibu tercinta, diantar oleh ayah, topik perbincangan mereka hanya seputar,

"Ayahku habis membeliku mainan!"

"Ibuku hari ini memasak makanan kesukaanku!"

Disaat dirinya hanya berkutat dengan buku gambar dan pensil warna.

Dirinya ingin dibeli mainan juga. Menurutnya mobil – mobilan itu keren.

Dirinya juga ingin dibuatkan bekal makanan kesukaannya. Nasi dan telur dadar buatan neneknya sepertinya enak.

Tapi sesampai dirumah.

Disebuah rumah yang tak layak lagi disebut rumah.

Sang nenek yang mulai renta jatuh sakit.

Saat itu.

Dirinya menyadari bahwa,

Uanglah yang membuat mereka bahagia.

Uanglah sesuatu yang harus ia dapatkan apapun caranya.

Namun keesokkan harinya ketika ia pulang dari sekolah kembali kini sang nenek menyambutnya dengan sumringah dan berbagai macam makanan.

"Halmoeni…igeo..mwoya…?"

"Aku tidak salah membesarkanmu" ujar sang nenek menangis haru.

Ah,

Dirinya akhirnya kemudian tahu.

Bahwa ini semua dari sepotong 'ice cream'.

/

"Jin-ah…" ujar Dongsoon memanggil Jin yang tengah menggergaji triplek untuk set drama terbaru.

"Nde? Waeyo?" ujar Jin melepas helm pengamannya.

"Ini sudah waktunya istirahat ayo ke kantin!" ujar Dongsoon berbunga – bunga.

"Tapi hari ini tidak ada bulgogi kan?" ujar Jin mencoba mengingat – ingat menu kantin kantor mereka hari ini.

"Tapi hari ini ada Red Velvet dan ada Twice" ujar Eunkyung mencebik kesal entah datang darimana.

"Ey~ artis – artis macam mereka jarang – jarang ke kantin tahu! Harus diapresiasi!" ujar Dongsoon lalu menggaet Junwoo dan dengan semangat menggebu – gebu menuju kantin.

"Lihat Jin, jangan mau jadi pria mata keranjang seperti mereka" ujar Eunkyung mencebik kesal.

Jin hanya bisa tersenyum lucu merasa bahwa ini pernah terjadi sebelumnya.

Junwoo dan Dongsoon tetap melakukan hal yang sama duduk disebelah dua artis papan atas tersebut dan berfoto bersama.

"Ck! Jika aku makin cantik akan kutolak mereka berdua!" ujar Eunkyung kesal sambil mengaduk – ngaduk supnya. Jin hanya bisa terkekeh lucu.

"Oh! Jin!" ujar seorang wanita berkacamata culun yang nampak familiar dimata Jin.

"Oh! Chanmi-shi!"

"Ey~ jangan formal begitu. Boleh aku duduk disini?"

"Tentu saja, Eunkyung noona kenalkan ini PD Heo dia coordi noonanya KBS. Chanmi-ah ini PD Jung dia staff Set and Propertynya KBS"

Setelah perkenalan singkat tadi, dua perempuan itu tampak semakin akrab serta bersenda gurau dengan Jin juga. Ketiga makan dengan bahagia dan Jin pun ikut tersenyum.

Sebuah senyum lega yang belum pernah Jin tampakkan sebelumnya. Sekarang tengah memasuki akhir November dimana cuaca dan suhu mulai mendingin, anehnya kini sudah dua bulan Jin tidak bermimpi 'buruk' kembali. Sepertinya semenjak kepuangannya dari panti asuhan, Jin tampak lebih 'hidup'.

Berbicara mengenai panti membuatnya merindukan anak – anak disana.

Sampai sebuah notifikasi chat masuk kedalam ponselnya.

From : PD Song

Jin, kau ada waktu? Ada hal yang ingin aku bicarakan kita bertemu di kafe tempat kita bertemu dahulu setelah waktu istirahat.

To : PD Song

Ya, aku akan segera kesana

/

"Ada apa PD-nim?" tanya Jin melihat wajah serius PD Song tiba – tiba melontarkan sebuah amplop panjang berwarna coklat.

"Bukalah, aku tahu ini nampak konyol, namun diriku juga kesal dengan isinya

Jin tampak kaget dengan isinya.

"Ini kan…"

"Kau diikuti Jin. Ini tidak baik untuk citra kita, kau tahu itu kan?"

Jin kembali pulang ke 'markas kecilnya'. Raut cemas dan panik nampak disana. Jin memandang nanar amplop tersebut dan membuka kembali isinya.

'BTS mempunyai Sex Slave'

Kertas dengan headline tersebut membuat tangannya gemetar dengan fotonya ada didalam bersama Taehyung yang tengah menyelimutinya dengan jaket milik Taehyung sendiri.

Jin luar biasa kaget bukan main.

Bukan hanya itu didalam amplop tersebut banyak sekali foto – foto dirinya dengan member BTS lainnya seperti saat dirinya keluar dari rumah noonanya Hoseok, ketika dirinya berbelanja dengan Jimin di pasar tradisional, fotonya saat Namjoon menciumnya di parkiran, dan yang mengagetkan ketika melihat Yoongi yang basah kuyup menggendongnya ke ambulan.

Jadi selama ini, bukan Sunghoon yang menolongnya…?

"Aku bisa gila…tolong jangan terluka lagi…"

Jadi Jin tidak berhalusinasi saat itu…?

Mengapa Yoongi berbohong saat itu?

1 Desember 2017

Akhir tahun yang buruk untuk mereka semua.

Jin mencoba memfokuskan diri untuk banyak hal mengingat sudah menjelang akhir tahun dan acara tahunan KBS seperti KBS Song Festival, KBS Entertainment Awards, dan KBS Drama Awards.

Belum lagi ditambah isu internal mengenai Jin dan PD Lee Yoo Ri membuat kacau balau dunia massa. Presdir utama KBS Ko Dae Young dituntut untuk mengundurkan dirinya setelah terlibat dalam KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di stasiun televisi mereka juga terlibat dalam skandal mantan presiden Korea Selatan Park Geun Hye. Bukan hanya KBS namun Presdir utama MBC juga ikut dalam rentetan kasus ini.

Aksi mogok kerja yang dilakuin para pekerja KBS dan MBC ternyata udah pernah dilakuin juga lima tahun lalu. Ribuan pekerja ini concern sama revolusi news industry dan menginginkan pemimpin dari stasiun TV mereka untuk resign. Nah masalah berawal saat stasiun televisi JTBC membuat breaking report soal penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Park Geun Hye saat dia masih menjabat sebagai Presiden. Sebelumnya, demonstrasi tahun 2016 lalu disebabkan karena Presiden perempuan pertama korea, Park Geun Hye ini diduga melakukan KKN. Hampir satu juta orang turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi pada waktu itu. Makanya, saat siaran JTBC itu tayang, warga Korea udah berekspektasi bahwa stasiun televisi besar sekelas SBS, KBS, dan MBC akan turut membuat siaran mengenai hal itu, bahkan lebih dalam. Tapi sayangnya tidak sama sekali.

Jin paham benar mengenai hal ini meski baru bekerja kurang lebih hampir satu tahun di KBS.

Setelah diusut, ternyata tiga stasiun televisi SBS, KBS, dan MBC berada di bawah pengawasan pemerintah. Yang mana artinya, semua berita yang mengandung unsur negatif soal Park Geun Hye sudah disensor. Bahkan reporter yang berani memberitakan katanya diancam akan dipecat atau di-blacklist. Karena hal itu, akhirnya pekerja MBC membuat aksi mogok kerja yang disetujui sebanyak 93,2% karyawannya lewat voting. Dan dari KBS sendiri jumlah pekerja yang mengikuti aksi mogok kerja ini ada sebanyak lebih dari 1130 orang dan masih bertambah.

Sebanyak 400 reporter, produser TV, jurnalis kamera, dan penyiar berita telah melakukan boikot pada produksi berita dan menuntut CEO MBC dan KBS untuk turun dari jabatannya. Kim Jang Gyeon sendiri mendapat kecaman karena menggunakan pengaruhnya untuk membuat pemberitaan yang menguntungkan pemerintahan mantan presiden Park Geun Hye.

Karena aksi mogok kerja ini, mau nggak mau program-program di KBS dan MBC harus ditunda penayangannya karena para pekerjanya nggak ada yang bertugas. seperti news, entertainment, variety programs, sampai drama akan break tayang dulu setidaknya sampai masalahnya mereda. Artinya, untuk sementara para pemirsa langganan acara seperti Infinite Challenge, Music Core, ISAC 2017, Happy Together, Music Bank dan acara lainnya. Meskipun hal ini Jin sayangkan karena mereka jadi nggak bisa nonton seperti biasanya, Jin berharap semoga permasalahan ini menemukan jalan keluarnya.

Seluruh PD, Writer, Cameraman, dan staff KBS lainnya dikumpulkan segera untuk melakukan rapat dadakan. Kakaknya juga dan PD Yoo tampak stress mengingat acaranya juga gagal tayang karena banyak staffnya yang juga ikut mogok kerja noonanya sebagai Chief PD untuk variety show juga nampak stress. Hal itu juga dirasakan oleh PD Song selaku Chief PD untuk drama. Head PD Entertainment Choi Chun Sang yang menaungi PD Song, noonanya serta Junwoo hyung juga nampak lelah tak berkutik.

Ahn Hee Soo selaku Head PD untuk News juga sudah datang bersamaan dengan Kwak Jae Ho, Head PD untuk Variety Program juga datang dengan muka suntuk. Chief Director, Ryu Min Goo datang kemudian selaku orang yang bertanggung jawab untuk seluruh acara di KBS langsung terhadap presdir juga sebagai 'presdir lapangan'.

Semua orang terdiam kemudian. Suasana yang dingin semakin dingin. Vice Chief Director, Oh In Rang datang lima menit kemudian dengan membawa setumpuk berkas. Inrang memang ditugasi oleh Mingoo untuk mengurus hal – hal yang berhubungan dengan hal – hal administratif. Tak sampai sedetik, Baek Seung Chan, Head Team di Internal Service juga ikut datang dengan muka suntuk membawa segelas kopi dan setumpuk kertas.

Mingoo menghela nafas pasrah sebelum memulai rapat mereka.

"Ada laporan apa pagi ini?"

"Buruk" ujar Inrang kemudian menambah tensi diruangan ini.

"Buruk kenapa?"

"KCC tidak melolos sensorkan drama serta acara kita lainnya selain news section. Aku sudah mencoba membujuk tapi tidak bisa" Semua orang menghela nafas kemudian. Mereka juga paham KCC atau Korea Communications Commission tidak melolos sensorkan acara mereka.

"Kami banyak menerima petisi dari berbagai staff, paling utama staff dari PD Ahn dan Chief PD Kim. Orang yang turun kejalan dan mogok kerja juga kebanyakan dari staff kalian" sahut Seungchan membuat noonanya serta Heesoo pun turut ikut memijat kening mereka pusing.

Soeun pun paham mengapa ini bisa terjadi. Dia tidak bisa banyak mengekang staffnya mengingat semua orang tahu statusnya sebagai seorang anak perdana menteri. Apabila, ia menentang keinginan staffnya ia akan dianggap pro-pemerintah yang dalam hal ini sedang bertindak laku KKN.

"Orang – orang juga banyak mempertanyakan kredibilitas KBS mengingat ada kau Soohyun. Banyak petisi dilayangkan kepadamu dan juga Presdir Ko agar turun dari jabatanmu" lanjut Inrang kemudian, memberi sinyal kepada Seungchan untuk mendorong setumpuk kertas tadi ketengah – tengah meja.

"Situs online kita penuh dengan ujaran kebencian terhadapmu dan Presdir Koo. Bukan hanya itu seluruh aplikasi sosial media kita mulai dari Twitter dan Youtube kita penuh dengan hal – hal demikian."

"Kalian tahu bahwa aku dan seluruh keluargaku tidak terlibat dengan urusan hal seperti ini. Aku menjamin kebebasan para staf ku. Juga aku bukan dari Filtering Team yang menguri konten – konten apa saja yang tampil di KBS termasuk pemberitaan apa saja yang akan tampil"

"Kami tahu tapi masyarakat luar serta netizen tidak" ujar Seungchan mengasihani Soeun.

Semua orang tahu Soeun benar – benar memulai karirnya dari nol, dia sama sekali tidak menggunakan latar belakang keluarganya sebagai faktor kelebihannya melainkan skill dan tentunya otaknya. Jin juga nampak sedih dengan hal ini.

"Kita tidak bisa begini. Kita harus melakukan sweeping untuk semua pegawai yang memang terbukti menerima uang suap tersebut termasuk memberi petisi kepada Presdir Ko" ujar Mingoo memutuskan bahwa mereka tidak bisa stuck begini.

"PD Lee bagaimana progresif kesiapan acara tahunan kita?" tanya Mingoo kepada Junwoo.

"Gweanchanayo daepyonim, tapi…sepertinya tim kami tidak sanggup untuk menghandlle tiga acara sekaligus dalam rentetan waktu yang berurutan dengan persiapan hanya sebulan. Ditambah lagi sebagai anggota ku juga ada yang ikut mogok kerja" ujar Junwoo hati – hati. Eunkyung, Dongsoon, Jin serta dua puluh lima kru lainnya yang tersisa.

"Kita harus batalkan Entertainment Awards tahun ini" ujar Jaeho kemudian sadar diri bahwa mereka tak bisa pasif begini.

"Saya juga setuju untuk itu" ujar Head PD Choi mengimbuhi perkataan Jaeho.

"Tapi Head PD-nim, itu adalah acara penghargaan untuk staf dan Director PD kita yang sudah susah payah membuat berbagai acara juga para entertainer yang menyumbangkan performa mereka diacara – acara kita" ujar Soeun tak terima.

"Karna mereka juga harus ditampar Soeun-ah. Supaya mereka sadar bahwa kita yang tidak ikut mogok kerja juga sebenarnya juga punya perasaan dan nasib yang sama. Yang membedakan adalah kita sedang mencoba untuk tidak self-centered disini. Kau juga harus sadar bahwa Junwoo adalah anak buahmu satu – satunya yang bertahan disini dan mereka juga harus berpikir beban apa yang diterima Junwoo karena ulah mereka" jelas Jaeho.

"Ini juga membuktikan dirimu bahwa kau 'bersih' Soeun. Bahwa dirimu 'tidak bebal' hukum, bahwa dirimu juga layaknya mereka 'terkena efeknya'. Ini juga membuat para fans acara tersebut berfikir dua kali dan kita bisa mendapatkan atensi penonton kita kembali. Tetap laksanakan Song Festival juga Drama Awards bagaimanapun idol dan para aktor menyumbang banyak rating ditahun ini. Kita sudahi rapat hari ini"

/

14 Desember 2017

Tim Jin mengalami kelelahan.

Staf serta kru yang tidak banyak membuat persiapan semakin 'ngaret' dari jadwal yang ditentukan. Jin dan Dongsoon yang kerja dibagian panggung dan set design untuk red carpet, after party, dan lain – lainnya dituntut untuk bekerja lebih ekstra agar bisa membantu dibagian sektor lainnya. Beruntungnya, Hyunwoo yang menjadi pen-supply furniturenya Woo Darks untuk KBS mau menyalurkan para pegawainya untuk membantu Jin dan Dongsoon.

KBS memang tengah krisis sumber daya manusia sekarang.

"Kamu kelelahan Jin" ujar Hyunwoo membawa sebotol minuman isotonik dan selembar handuk. Jin melihat sekeliling menyadari bahwa semua orang sudah tepar dengan handuk dan botol minuman tersebut di kepala mereka. Jin sendiri menyadari bahwa kaus putih miliknya pun sudah basah oleh keringat.

Jin pun akhirnya duduk menyandar di dinding panggung selonjoran sambil meminum dan mengelap keringatnya dengan handuk yang dibawa oleh Hyunwoo tadi. Hyunwoo pun duduk disamping Jin sambil meminum minumannya juga.

"Kudengar dirimu sehabis kecelakaan"

Jin terkesiap.

"Ah, nde…hanya kecelakaan kecil"

"Pantas dirimu jarang terlihat selama enam bulan kemarin"

"Ah iya…"

"Melegakan rasanya bisa melihat wajahmu lagi"

Jin tersedak minumannya sendiri menatap Hyunwoo tak percaya, Hyunwoo tersenyum melihatnya.

"Aneh ya melihatmu tidak menggunakan kacamata lagi. Dulu sewaktu kuliah dan waktu bertemu denganmu, kamu masih sering memakai kacamatamu. Sekarang aku jarang melihatmu memakai kacamata atau penutup kepala lainnya"

"Ah…nde, Eunkyung noona menyarankanku menggunakan kotak lens atau melakukan konsultasi dengan dokter mengenai mataku berhubung minusnya belum banyak. Siapa tahu masih bisa diobati, lagipula agak ribet juga setiap hari harus lepas dan pasang kacamata tiap kali bekerja" ujar Jin canggung mengusap tengkuk lehernya.

"Aku ingin minta maaf karena dahulu mencuri design meja milikmu" ujar Hyunwoo kemudian.

Jin terdiam.

"Aku berfikir setelah aku pergi kamu akan memberitahu hal tersebut ke orang lain, tapi tak ada satupun orang yang mengetahui itu sampai aku lulus dan bisa mengembangkan Woo Darks. Aku yakin kau masih membenciku-"

"Aku tidak membeci sunbaenim" ujar Jin tersenyum menatap lurus mata Hyunwoo.

Sunbaenim.

Panggilan itu membawanya pada kenangan masa lalu.

"Didalam design itu, ada ide sunbaenim juga disana. Itu tugas kelompok berarti hasil pemikiran orang – orang dari kelompok tersebut. Aku sama sekali tidak membenci sunbaenim…"

"Lalu kenapa waktu itu kau menangis"

"Menangis…?" tanya Jin kebingungan.

"Aku mendengar bahwa kau menangis saat aku mengklain designmu…"

"Ahh…waktu itu aku bukan menangis karna sunbaenim. Haraboejiku terkena serangan jantung saat itu dan dilarikan kerumah sakit"

"Tapi kenapa kamu selalu menghindariku?"

Jin terdiam.

"Jujur setelah insiden itu, aku sedikit trauma untuk bekerja sama dengan orang lain. Sunbaenim juga tahu sendiri aku dari dulu tidak pandai berosialisasi dengan orang banyak. Semenjak saat itu aku lebih suka sendiri…namun sekarang aku sedang berusaha untuk memperbaiki diri. Jadi sunbaenim tenang saja, hal yang selama ini sunbaenim takutkan tidak pernah terjadi" ujar Jin tulus.

Entah mengapa Hyunwoo merasa lega.

"Kalau begitu...maukah kamu memulai dari awal lagi?"

"Maksud sunbaenim..?"

"Tidak usah formal begitu Jin-ah, panggil aku Hyunwoo saja. Nanti boleh kuantar pulang?"

Entah mengapa Jin jadi deg-degan begini.

Namun pada akhirnya Jin mengiyakan.

/

"HYUNG! AKU TIDAK SAKIT JIWA! AKU TIDAK SAKIT JIWA!"

"Wookie-ah…"

"HYUNG KAU JUGA TIDAK GILA HYUNG! KENAPA KITA HARUS DIRAWAT LAYAKNYA ORANG GILA! HYUNG SURUH APPA KEMARI!"

"Wookie-ah…"

"HYUNG HIKS…JINNIE…JINNIEKU HYUNG! DIMANA JINNIEKU!"

15 Desember 2017

"Wookie-ah…" ujar pemuda itu terbangun mendapati 'Wookie' tengah berdiri didepan kasurnya tersenyum senang.

"Hi Minam hyung! Pagimu buruk sepertinya karena sedari tadi kau berkeringat dingin" pemuda yang akrab dipanggil Minam tadi pun tersenyum lelah.

"Keluarlah, biarkan aku mandi terlebih dahulu sebelum kau mengacaukan kantorku" ujar Minam.

Minam mandi dengan tenang sambil me-refresh otaknya. Ia harus sabar dan tegar didepan 'Wookie' dan nanti 'mantan sajangnimnya'. Ia tak boleh kelihatan lemah. Bisnis gelap ini mengajarkannya untuk tetap tenang dalam berbagai situasi apapun agar gerak – geriknya tak bisa dibaca oleh musuh.

Minam hari ini memilih menggunakan kemeja putih dengan dasi berwarna merah marun polos dipadu dengan celana bahan berwarna hitam. Mengingat musim salju sudah datang ia menggunakan plaid coat berwarna senada dengan dasinya. Menggunakan dress boot berwarna hitam dipadu kaus kaki abu – abuuntuk bagian kakinya. Minam turun ke ruang makan mendapati Wookie menggunakan kaus turtle neck lengan panjang berwarna hitam dengan sweater rajut berkerah v-neck berwarna abu – abu sedangkan bawahannya ia memilih black jeans dipadu Emu Australia platinum stinger high,yaitu sepatu jenis ugg boots khas Australia berwarna hitam. Dibanding Minam yang terlihat 'formal' style milik Wookie lebih 'kasual'.

Wookie sendiri nampaknya tengah menghabiskan sarapannya dengan tenang sambil menghafal sebuah naskah.

"Drama baru?" ujar Minam.

"Hm bukan, naskah film, dalam beberapa minggu kedepan aku mencoba ikut casting film ini" dan Minam hanya mengangguk.

"Bagaimana denganmu hyung? Kau tidak berminat untuk terjun ke dunia akting lagi? Atau ada hal yang menganggumu"

"Ada. Yaitu kau. Kapan dirimu hidup dengan tenang di apartemenmu dan tidak mengacau lagi dirumahku?"

"Ck, jahat sekali kau! Kau kan tahu sendiri aku tidak suka tinggal sendirian"

"Maksudmu, kau tidak suka mantan partner one night standmu mengejarmu hingga keapartemenmu begitu?"

Wookie hanya nyengir tak berdosa.

"Segeralah mencari pasangan hidup kalau begitu"

"Tidak akan sebelum aku mendapatkan Jinnieku kembali"

Minam seketika terdiam memotong roti bakar miliknya. Sebelum berupaya kembali normal.

"Lupakan dia wookie, kita tak ada kesempatan untuk bertemunya lagi"

"Jangan berdusta hyung, aku tahu kau masih memikirkannya bukan?" ujar Wookie main – main.

"Aku tahu kau juga punya 'hasrat' itu" ujar Wookie.

Minam seketika menaruh utensil miliknya dengan keras membuat bunyi dentingan diantara garpu dan pisau dengan mejanya.

Aura diruang makan kembali pekat.

Para pelayan disana hanya bisa mendesah pasrah, mereka sudah terlalu paham hal ini pasti akan terjadi jika tuan muda mereka menyebut – nyebut soal 'Jinnie'.

"Kau tahu mengapa aku jarang berakting lagi?"

"Waeyo?"

"Karna aku harus mengurusi urusan hoejang-nim yang tak bisa diselesaikan olehnya dan olehmu. Sejauh apapun aku menyukai seni peran tersebut. Dan kau tahu benar sumber penyebab masalah terbesar kita, tak lain dan tak bukan adalah jinnie-mu itu. Jadi kumohon kubur dalam – dalam semua kenangan kita Wookie-ah, dan jangan berharap untuk bersamanya lagi. Kita tidak tahu apa yang akan keluarganya lakukan nanti"

"Tapi hyung perdana menteri Kim telah turun jabatan beberapa tahun lalu dan appa sudah bebas dari penjara jadi-"

"Kau tahu berapa banyak usaha dan upaya yang kita berdua lakukan selagi hoejang-nimdipenjara dan kita dimasukkan kedalam pusat rehabilitasi Wook-ah? Aku harap kamu jangan lupa bahwa keluarga Kim masih berbelas kasih saat itu dan apa yang hoejang-nim katakan waktu itu"

Wook terdiam dan Minam menyeruput kopinya hingga habis.

"Hoejang-nim akan kemari besok. Aku harap dirimu tak menyebutkan soal Jinnie lagi Wook-ah, mengingat seberapa besar appamu membenci nama itu" ujar Minam dingin lalu pergi meninggalkan Wook yang berteriak marah menghentakkan meja makan dan memecahkan semua yang ada dimeja makan.

Minam menghela nafas sambil berjalan keluar. Iya tahu bahwa Wook sudah sembuh dari fetish-nya yang aneh itu semenjadi direhabilitasi tadi obsesinya terhadap Jinnie masih besar. Sesampai dikantor ia segera memanggil sekretarisnya.

"Ada yang bisa dibantu sajang-nim?"

"Tolong panggilkan Tuan Heo"

"Nde sajangnim"

Tak lama kemudian tangan kanannya pun datang.

"Hyungeun-ah" sapa Minam dengan muka serius. Tanpa basa – basi Hyungeun segera memberikan sebuah amplop berwarna coklat.

EUN AE ORPHANAGE DONATION FORM

Name of Donor : Kim Seok Jin

Mailing address: Aquaria Residence Blok B No. 9, Yongsang-gu,

City : Seoul

State : South Korea

Telephone : +82 1306 1311 0670

Email : seokjinkimintl .kr.

Designation of donation : Orphanage, Cathedral, Guesthouse, Farming, Animal Husbandry, and Main Office

Donor's estimate of value : ₩ 159.053.000

Minam tertegun melihat selembar kertas berisi formulir donasi tersebut dimana terdapat nama Kim Seok Jin disana.

"Pada saat itu panti tidak mempunyai data yang lebih signifikan mengenai donaturnya selain selembar kertas itu dan bukti transaksi serta pentransferan dari bank. Saya mencoba mencari pemilik akun bank tersebut tapi dari pihak panti tidak mau memberikan karena terlalu jauh, jadi saya hanya minta tolong agar itu formulir itu difotocopykan. Saya menyadari bahwa alamat email yang disertakan merupakan milik KBS jadi saya kesana untuk memastikannya dan memang ada" ujar Hyungeun memberikan amplop cokelat satunya berisi selembar kertas dan beberapa foto dengan ukuran 5R

KBS EMPLOYEE PROFILE

Personal Details

Full Name : Kim Seok Jin

Date of Birth : December, 4th 1992

Address : Aquaria Residence Blok B No. 9, Yongsang-gu, South Korea

Phone : +82 1306 1311 0670

Email : seokjinkimintl .kr.

Gender : Male

Marital Status : Single

Ethnicity : Korean

Education

Highest Education Level : University

Highess degree and Major : Bachelor / Interior Design & Manufacturing

Data Acquired : June, 13th 2013

Institution Name : Pohang University of Science and Technology (POSTECH)

Current Role

Position Title : Staff Producer

Division : Property and Design

Branch : KBS, KB2, KBS World

Head Division : Lee Jun Woo

Status : Intern

ID Staff : 1710411204

Minam bergetar melihat selembar kertas berisi biodata karyawan tersebut dimana di ujung kanannya terdapat foto berukuran 4x6 menampilkan seorang pemuda memakai kemeja putih tersenyum hangat dengan background warna putih.

Foto – foto yang disertakan disana menampilkan Jin dari berbagai pose mulai darinya yang tengah sibuk mendesign panggung, yang tengah berdiri didepan meja receiptionist sambil membalas pesan, tengah makan bersama bersama koleganya disebuah rumah makan hingga berdiri didepan rumahnya sambil tersenyum pada seseorang didalam mobil.

"Aku rasa dia Jinnie yang kau cari Minam-ah" ujar Hyungeun menambah sesak didadanya.

Mencoba berfikir bahwa orang yang ia lihat didalam foto ini bukan Jinnie-nya

"Kita harus memastikan dulu apakah dia memang Jin yang kucari atau bukan selain itu selidiki orang – orang yang ada di foto ini" ujar Minam menarik nafas panjang mencoba mengatur pernafasannya akibat sesak didada.

"Nyatanya kau tahu sendiri Minam, tidak ada satupun di Korea Selatan ini yang memiliki nama yang sama dengannya"

"Mungkin dia orang luar-"

"Tidakkah kau lihat di profilnya bahwa dia warga negara Korea?"

"Siapa tahu ada nama yang sama dengannya setelah dirinya lahir-"

"Kau sudah lihat jelas tanggal lahirnya Minam. Fakta membuktikan bahwa dia adalah Kim Seok Jin putra bungsu perdana menteri Kim Kangin"

Dan akhirnya air mata yang ia tahan sedari tadi keluar juga.

Itu memang Jinnienya.

Jinnie-nya telah tumbuh dengan baik.

/

"Mati kau!"

"Anak kurang ajar!"

"Kau bukan appaku!"

"Anak bajingan appamu hanya membesarkan hyungmu! Akulah yang membesarkanmu! Bajingan tengik!"

Sebuah pisau menancap terakhir dipemuda yang babak belur itu.

"Pergi kau ke neraka!" ujar pria tua lainnya menancapkan pisau itu berkali – kali.

Jasad pemuda itu tergeletak lemas ditemani hujan deras.

"ANDWAE!" Jin terbangun dengan histeris, tubuhnya bergetar hebat.

20 Desember 2017

Mimpi buruknya kembali lagi.

Jin terlihat lesu saat ke kantor, set panggung telah mencapai tahap finishing. Lighting dan set-up untuk masing – masing juga sudah dipasang. Persiapan yang paling rumit ialah untuk Song Festival mengingat banyak artis yang punya special stage seperti BTS dan EXO.

"Jin ada beberapa undangan harus dikirim kau bisa mengirimkannya?"

"Loh bukankah kita sudah memasukkannya kedalam guestlist dan pengisi acara?"

"Iya tapi tetap saja kita harus melakukan 'formalitas' ini. Nah, berikan kepada BTS, SEVENTEEN, EXO, Wanna One, Red Velvet, MAMAMOO, GFRIEND, dan TWICE" ujar Eunkyung.

"Dan juga kau Dongsoon tolong sebarkan undangan ke 'The Unit', termasuk Hwang Chi Yeol, HyunA, dan Taemin" ujar Eunkyung juga kepada Dongsoon yang baru saja ikut nimbrung.

"Kita bisa berangkat bersama Jin. Kita kan ke SM"

"Ah aku rasa tidak usah Dongsoon, karna selebihnya kita berbeda. Bagaimana kalau kamu sekalian yang memberikan ke EXO dan Red Velvet?"

"Baiklah kalau begitu, tapi kenapa tahun ini sedikit sekali guest star nya? Ini mah seperti Music Bank end-of-year episode. Music Bank World Tour aja masih lebih besar skalanya" keluh Dongsoon dihadiahi jitakan oleh Eunkyung.

"Yak! Masih untung kita bisa menyelenggarakannya tahun ini! Cepat pergi sebelum kutendang lagi bokongmu!" amuk Eunkyung membuat Jin ditarik oleh Dongsoon keluar dari ruangan.

Eunkyung yang mengamuk memang menyeramkan.

"Yak Jin apakah Eunkyung lagi datang bulan?" dihadiahi sikut oleh Jin.

"Psst! Kalau Eunkyung dengar dirimu bisa habis dicincang olehnya" ujar Jin menuai kekehan dari Dongsoon.

Jin menaikki taksi memintanya untuk diantar ke CJ E&M untuk mengarahkannya ke kantor Stone Entertainment untuk mengantar undangan ke Wanna One. Jin sesekali sibuk melihat ponselnya untuk mengecek perkiraan cuaca saat ini.

Hari ini sampai malam nanti cuacanya hanyalah cerah bersalju.

Namun Jin masih tetap tidak tenang. Jin membayar taksinya memperhatikan banyak fans – fans selain Wanna One tapi juga fans dari grup atau artis lainnya. Jin diperbolehkan masuk kedalam setelah mem-verifikasi identitasnya sebagai utusan dari KBS.

"Wanna One sedang tidak disini, maaf hanya kami yang bisa menyambut" ujar salah satu staf disana menawarkan Jin segelas kopi.

"Terima kasih atas sambutannya, saya tidak akan lama. Saya kemari menyampaikan undangan untuk Wanna One agar datang ke KBS Song Festival. Meeting pertama kita tanggal 24 bulan ini dan first rehearseal di tanggal 25 tolong sampaikan kepada Wanna One dan Managernya untuk menyesuaikan jadwalnya" ujar Jin sopan.

"Nde nanti saya akan sampaikan. Terima Kasih banyak atas undangannya"

"Nde, sama – sama. Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih atas hidangannya"

"Eh kopinya bahkan belum diminum"

"Gweanchanashimika, masih ada undangan lagi yang harus saya sebarkan"

"Ah, baiklah kalau begitu. Hati – hati selama diperjalanan hari ini katanya diperkirakan ada badai salju"

"Nde, khamsahamnida" ujar Jin membungkuk hormat lalu berlalu pergi sambil menaikki bus menuju RBW Entertainment tempat Mamamoo bernaung. Jin masih sempat mengecek aplikasi cuaca yang memang masih sama.

Tidak ada hujan malam ini namun Jin tetap tidak tenang.

Setelah dari RBW Entertainment, Jin langsung menuju Source Music Entertainment untuk memberi undangan kepada Gfriend dan terakhir singgah di JYP Entertainment lalu ke Bighit Entertaonment.

"Trainee?" ujar seseorang membuat Jin membalikkan badannya.

Junho 2PM.

Jin membungkukkan badannya memberi hormat.

"Annimida, saya staf dari KBS ingin memberikan undangan kepada TWICE" ujar Jin

"Ah staf KBS? Saya belum pernah liat kamu sebelumnya"

"Nde saya baru bergabung di KBS setahun ini belakangan ini" ujar Jin.

"Aneh ya, makin kesini KBS semakin merekrut para wajah – wajah staf KBS sudah setara idol sekarang" ujar Jinho basa – basi sebelum dia dipanggil kembali oleh manejemen.

"Kuharap kita bisa bertemu kembali" ujar Jinho main – main sebelum Jin dipanggil oleh staf JYP lainnya untuk masuk mengantarkan undangannya. Setelah Jin selesai dengan urusannya ia pun segera pergi menuju Bighit Entertainment.

Disana ia tak sengaja bertemu Yoongi.

Jin kemudian teringat foto yang diberikan oleh Song Jae Rim.

Foto dimana Yoongi yang basah kuyup menggendongnya ke ambulan.

"Kau rupanya tidak menghiraukan peringatan-"

"Dimana Jungkook?" potong Jin panik.

"Dia ada diluar, waeyo? Kau juga ingin 'segera tidur' dengan member yang lain-"

"Dia dalam bahaya, pastikan malam ini dia tidak apa – apa. Kau tahu benar mengenai 'mimpiku' bukan. Dan satu lagi, aku kemari bukan untuk 'menjual diri' tapi ingin memberi undangan mengenai KBS Song Festival. Meeting pertama kita tanggal 24 bulan ini dan first rehearseal di tanggal 25 tolong sampaikan kepada member dan manajermu" ujar Jin segera pergi namun tertahan dan balik kembali kehadapan Yoongi sambil memberikan sebuah foto.

Foto dimana Yoongi menolongnya.

"Terima kasih untuk pertolongannya waktu itu" ujar Jin sedih lalu pergi dengan perasaan terluka.

Jika Yoongi sebegitu membecinya mengapa ia menolongnya waktu itu.

Namun itu tidak menjadi pikiran utamanya sekarang melainkan keadaan Jungkook.

Ya. Pemuda yang tertusuk dimimpinya adalah Jungkook.

Tes.

Setetes air menyentuh ujung hidungnya.

Jin segera menadah kelangit.

Tak lama kemudian hujan membasahi tubuhnya.

"Keluarlah dari sini, dan tolong berikan ini kepada keluargaku…"

Tubuh Jin tersentak, dadanya kembali merasakan sesak dimana saat dia tidak bisa menyelamatkan supir bus waktu itu.

Jin menarik nafas panjang sambil berkonsentrasi, dimimpinya dia melihat sebuah gang dan tong sampah besar mungkinkah terjadi disebuah kafe…? Atau hotel…?

"Kumohon Jin berfikirlah dengan cepat…." Ujar Jin menutup matanya erat – erat.

Jin mengingat banyak orang lalu lalang didaerah itu dan beberapa lagu bersahut – sahutan.

Gangnam.

Club gangnam.

Jin segera menyetop taksi dan menginstruksikan untuk segera menuju sebuah club didaerah gangnam. Club itu satu – satunya yang mempunyai gang kecil dibelakang clubnya yang biasa dijadikan tempat pembuangan sampah. Mengingat banyak orang lalu lalang dan lagu memungkinkan bahwa itu didaerah sana dikarenakan gangnam memang terkenal akan busking-nya.

"Ahjussi bisakah lebih cepat?"

"Maaf ahggassi, diluar tengah hujan disertai badai salju saya tidak berani membawa mobil diatas 60 KM/jam ditambah akan macet nanti diperempatan jalan"

Dan kenyataan terjadi.

Macet parah terjadi diperempatan jalan dan Jin memlih berhenti disini dan lari sekitar dua kilometer menuju club itu.

Dugaannya benar Jungkook dan seorang pria tua tak dikenal.

"Berikan aku uang"

"Aku tak punya uang"

"Bodoh! Kupikir aku tak tahu apa yang kau punya! Kau sudah menjadi artis besar sekarang"

"Aku tak punya uang untuk itu"

"Anak sialan!" ujar pria itu lalu mulai menghujani Jungkook dengan tinju yang sama sekali tidak Jungkook tangkis.

"Mati kau!" ujar pria itu barbar dan Jungkook tertawa hambar tak peduli sudah berapa darah yang keluar dari mulutnya.

Jin terjatuh membisu menyaksikannya.

"Aku memang ingin mati, appa"

"Anak kurang ajar!"

"Kau bukan appaku!"

"Anak bajingan appamu hanya membesarkan hyungmu! Akulah yang membesarkanmu! Bajingan tengik!"

"Hentikan!" ujar Jin panik membuat pria tua itu tadi yang ingin menusuk Jungkook panik melarikan diri. Dibawah hujan kaki Jin bergetar hebat berjalan menuju Jungkook.

"Jungkook-ah…neo…gweanchana…?" ujar Jin tangannya bergetar melihat betapa parahnya kondisi Jungkook.

"Jin…!"

"Haein-ah…hiks…" ujar Jin akhirnya menumpahkan tangisannya mendapati Haein disini.

/

Haein memang sedang ditugaskan berpatroli didaerah gangnam dikarenakan keadaan macet total diperempatan jalan. Namun saat ingin menuju kesana, ia mendengar suara teriakan disebuah gang kecil padahal sedang turun hujan dan badai salju disana ia mendapati Jin bersimbah darah dengan seorang pemuda disampingnya terbaring tak berdaya.

Sesuai dengan keinginan Jin, ia membawa Jin dan pemuda yang diketahui merupakan maknae BTS itu ke rumah Jin di Yongsang. Haein membantu Jin membaringkan Jungkook dan melepaskan pakaiannya dan mengobati seluruh di tubuh Jungkook. Haein paham mengapa Jin tak setuju ketika Haein menawarkan membawa Jungkook ke rumah sakit karena akan membawa kerusuhan dimedia massa khususnya untuk para fansnya Jungkook maupun BTS.

Jin duduk diruang tamu menyediakan teh untuk Haein serta baju ganti.

"Kau juga kehujanan, segeralah mandi" ujar Jin namun Haein menggenggam tangan Jin yang bergetar sedari tadi.

"Kau ketakutan Jin, tenanglah ada aku disini" ujar Haein menenangkan membuat Jin menumpahkan tangisannya.

"Hiks…aku takut aku tak bisa menyelamatkannya Haein-ah…hiks…aku sangat takut…"

Keesokkan paginya Jin terbangun dengan selimut disofanya, sepertinya Haein meninggalkannya saat tertidur mengingat baju yang disiapkan Jin masih terletak diatas meja tanpa tersentuh apapun.

Jin masuk kedalam kekamarnya dan melihat Jungkook sudah bangun sedari tadi.

"Dirimu…sudah sadar…?"

"Siapa dirimu…?" tanya Jungkook.

"Jin imnida…" tanya Jin belum berani mendekat kearah Jungkook.

"Mengapa kau menyelamatkanku?" tanya Jungkook dingin.

"Bukankah dirimu orang yang sama yang waktu itu melakukan busking untuk dua anak kecil, kau mengingatkanku bukan?" membuat Jungkook tersentak.

"Untuk apa menyelamatkanku…seharusnya dirimu membiarkanku mati-"

"Aku adalah…salah satu orang yang ingin…hidupmu dan hidup teman segrupmu berakhir bahagia…" ujar Jin tulus.

'Sehingga kalian tidak perlu lagi hadir di mimpiku sebagai mimpi buruk'

"Kamu mau dirimu diantar ke agensimu?"

"Anniyeo, biarkan aku disini dahulu"

"Ah nde…"

"Apa kamu lapar…? Mau kubuatkan makanan…?"

"Sup iga? Aku ingat waktu itu kau sedang membeli bahan untuk membuat sup iga"

Jin tersenyum,

21 Desember 2017,

Aku tidur dengan nyenyak malam ini.


Halo guyseu~~~

First of all i want to say HAPPY NEW YEAR~

Bagaimana akhirnya, ada yang bisa menebak chapter ini? Sudah bisa menemukan hint dan beberapa clue lagi yang belum ditemukan/? hehehe

A New Year is like a blank book, and the pen is in your hands. It is your chance to write a beautiful story for yourself. The New Year has brought another chance for us to set things right and to open up a new chapter in our lives.

Secara personal, aku berterima kasih kepada para reader sekalian yang sabar dan setia menunggu cerita ini, maaf banget buat semuanya author baru bisa update sekarang dan gak bisa update sesering mungkin. Terima kasih juga buat kalian semua karna kini tangan author sudah membaik.

Author juga mau mem-posting cerita author lainnya monggo dilihat because it was another Jin Harem too!

Dan seperti biasa,

DONT FORGET TO RnR ALSO FAV&FOLLOW

BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK YA TEMAN -TEMAN~~

p.s : Karena percayalah komen - komen kalian penambah semangat author buat update heheh

BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK YA TEMAN -TEMAN~~