Title : Love Confession

Author : BaekYeoleuuu

Main casts :

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

Oh Sehun

Xi Luhan

Genre : Yaoi, Comedy (maybe) Romance, fluff

Rated : T

Length : Chapter

A/N : kali ini biarin saya ngebacot dulu ya ouo rasanya udah lama gitu nggak ngebacot. Sekalian jawab pertanyaan-pertanyaan kalian juga hehehehe. Kemana aja saya selama ini? Kalo saya bilang saya lagi bertapa nyari ide pasti nggak ada yang percaya hahahaha sebenernya tuh saya nggak pernah ada niat buat nelantarin ff-ff yang udah saya tulis. Niat menulis itu selalu ada, dan bahkan kalo saya lagi nggak ada kerjaan saya tuh suka mikirin kira-kira begimane lanjutan buat ff-ff saya. Masalahnya adalah rasa malas yang rasanya tuh nempel kayak hama dan gak mau pergi jadi ujung-ujungnya baru nulis beberapa paragraf, udah berenti deh hahaha dan saya nggak nyangka setelah ditinggal hampir 9 bulan ini ff makin tenar aja, seneng banget rasanya! Nanti saya mau tinggalin 9 bulan lagi biar makin membludak #plak Tapi yang disayangkan tuh nama-nama orang dulu komen udah banyak yang gak keliatan :( pada kemana sih tuh orang-orang duh.. dan baekyeon gak ada pengaruhnya ya sama chanbaek feels saya tcch baekyeon is the biggest bullshit ever, tuh kan Cuma akal-akalan SM doang sampe ngorbanin baekhyun -_- intinya jangan bahas baekyeon sama saya ya wkwkwkwk saya nggak bakal ladenin, mending juga kita bahas chanbaek ehuehuehue trus ada lagi yang nanya ini bakalan sampe end atau chapter nya bakalan gak jelas sampe 50 tapi gak tamat-tamat. Errrr.. well.. nope. Saya mau namatin ni ff secepatnya dan beralih ke ff lain karena ide-ide dengan nakalnya mulai menghantui malam-malam saya yang damai ahahahaha udah ah, kebanyakan banget author's note nya, tapi yang terakhir sorry ya saya nggak bisa bales review atau nulis thanks to dll. Tapi saya cinta banget sama komen kalian, gila saya makin semangat buat lanjutin ini sampe end! Oh ya satu lagi soal naik rate dsb jawabannya no no no wkwkwk biarkan ini T selamanya ya tapi semi-semi ehm ehm bolehlah XDDD o/

.

.

.

.

Chanyeol bersandar lebih dekat hingga Baekhyun harus menahan nafasnya karena dia berani bersumpah Chanyeol terlalu dekat. Matanya menatap mata Baekhyun, senyum yang terlihat berbahanya tapi tampan di saat yang bersamaan—tidak idiot seperti biasanya—membuat Baekhyun menelan ludahnya bulat-bulat. Ia tak pernah sadar kapan tangan Chanyeol menyelinap di pinggulnya apalagi kapan Chanyeol menyatukan bibirnya dengan bibir Baekhyun. Belum sempat Baekhyun berpikir, Chanyeol sudah berada di atasnya dan ia sendiri melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Chanyeol, menarik laki-laki itu lebih dalam ke dalam ciuman mereka yang lembut namun intens.

Chanyeol menyusupkan tangan kanannya di bawah boxer Baekhyun, mengelus kulit paha putih mulus laki-laki yang sedang diciumnya itu. Baekhyun meremas rambut Chanyeol dan menggeliat geli tapi membuka kakinya lebih lebar agar tangan Chanyeol bisa menjamah lebih jauh. Bibirnya juga dibukanya untuk lidah Chanyeol yang sekarang menjilati setiap sudut mulut Baekhyun membuat laki-laki kecil itu mengeluh tak tahan.

Lidahnya dililit oleh lidah Chanyeol sebelum dihisap kuat hingga salivanya tumpah dari sudut bibirnya belum lagi tangan Chanyeol yang sudah sampai di paha dalamnya—hampir dekat dengan selangkangan Baekhyun.

Saat Chanyeol melepaskan ciuman mereka, Baekhyun mengerang keras. Wajahnya berantakan, bibirnya basah dan bengkak, pipinya merah, matanya sayu. Ia mengangkat pinggulnya tinggi saat Chanyeol beralih menciumi lehernya, memberikan gigitan dan jilatan lembut di area-area tertentu yang bisa membuat Baekhyun mendesah sejadi-jadinya.

"C..Chanyeol.."

Chanyeol mengangkat kaus Baekhyun ke atas kemudian menunduk dan menciumi dada laki-laki itu, memberikan tanda-tanda cinta di berbagai tempat bahkan menghisapi putting Baekhyun yang tegang dan kemerahan. Nafas laki-laki kecil itu berubah menjadi sangat berat dan yang bisa ia lakukan hanyalah mendesah tak tentu, menggeliat dan meremas rambut Chanyeol.

Chanyeol menaikkan boxer Baekhyun ke atas sehingga kedua pahanya yang putih mulus terekspos dengan bebas di depan Chanyeol. Laki-laki tinggi itu menunduk sambil berkata, "berhentilah mendesah Baekhyun, aku tak mau kehilangan kontrol."

Wajah Baekhyun memanas mendengar perkataan Chanyeol. Rasa malu merasuk ke dalam dirinya hingga ia menggigit bibirnya kuat, tak ingin suara-suara aneh dan memalukan itu keluar lagi. Ia memperhatikan Chanyeol yang membuka lebar kedua pahanya dan mulai menciumi paha dalamnya. Jari-jari Baekhyun tergulung menahan geli, ia ingin sekali menutup kedua kakinya tapi tangan Chanyeol terlalu kuat untuk menahannya agar tetap di tempat.

Laki-laki itu mulai menggigit pelan paha dalam Baekhyun meninggalkan tanda merah yang basah di beberapa tempat. Baekhyun menutup mulutnya dengan tangan rapat-rapat, rasanya dia ingin menangis karena tak sanggup menahan desahannya sendiri.

Chanyeol mendongak dan terkekeh melihat Baekhyun. Ia duduk dan menarik kekasihnya itu untuk duduk juga, ia memeluknya erat sedangkan Baekhyun dengan cepat memperbaiki pakaiannya yang berantakan.

Chanyeol mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya dan memberikannya pada Baekhyun. "Liburan ke pulau jeju tanggal 7 Mei?"

Masih dengan wajah memerah Baekhyun meraih selembar tiket itu dari tangan Chanyeol dan tersenyum tipis. Ia menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol sementara laki-laki tinggi itu mulai mengelusi kepalanya.

"Kau..kemana saja seharian ini?"

Chanyeol tersenyum lebar. "Kenapa? Kau merindukanku ya?"

"Apa? Enak saja! Bukan begitu, aku hanya penasaran, itu saja!"

Chanyeol terkekeh lalu melepaskan pelukannya dari Baekhyun. Ia menangkup pipi kekasihnya itu di telapak tangannya. "Aku hanya ada urusan kecil."

Baekhyun menyingkirkan tangan Chanyeol dari pipinya dan cemberut. Ia sebenarnya ingin berteriak keras pada Chanyeol bahwa ia sudah menunggu kedatangan laki-laki itu sejak berjam-jam yang lalu tapi lagi-lagi ia ditelan gengsi yang mengurungkan niatnya tersebut.

Entah dia sadar atau tidak, bibirnya maju beberapa senti dengan kening sedikit mengerut membuat Chanyeol yang sedang menatapinya tertawa geli, ia menarik bibir bawah Baekhyun dengan telunjuk dan jempolnya membuat Baekhyun mendongak dengan wajah memerah sambil menahan senyumnya. Ia menyingkirkan tangan Chanyeol lalu bangkit berdiri.

Mumpung Chanyeol ada di sini, dia tidak boleh pulang begitu saja. Ia perlu melakukan sesuatu untuk menahan laki-laki itu agar tinggal sedikit lebih lama.

Baekhyun berdeham. "Kau mau minum apa?"

Chanyeol yang masih duduk di sofa itu mengangkat sebelah alisnya. Tidak biasanya Baekhyun menawarkannya minuman seperti ini. "Apa saja sebenarnya tak masalah untukku."

"Benarkah? Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar." Baekhyun pun melenggang menuju dapur setelah meletakkan tiket pesawat yang diberikan Chanyeol di bawah buku yang ia letakkan di meja. Ia kemudian berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan sekotak jus jambu biji dan menuangnya ke dalam gelas. Gelas itu ia taruh di nampan dan ia juga mengeluarkan berapa cemilan dari kulkas sebelum kembali ke ruang tengah.

Chanyeol sedang mengotak-atik chanel saat Baekhyun meletakkan nampannya di atas meja. Laki-laki berpostur tinggi itu melirik segelas cairan merah muda yang dibawa Baekhyun sebelum mengembalikan pandangannya ke arah layar tv. "Jus strawberry?"

"Bukan, ini jus jambu biji." Ucap Baekhyun dan duduk di sebelah Chanyeol.

"Benarkah?" Chanyeol meletakkan remote di tangannya dan meraih segelas minuman dari atas nampan. Ia menyeruput cairan merah muda itu dan Baekhyun memandanginya.

"Bagaimana?"

"Segar!" Chanyeol tersenyum lebar.

"Tentu saja." Ucap Baekhyun.

"Hyung hyung hyung hyung astaga hyung!"

Mereka berdua menoleh ke pintu dan mendapati Sehun yang sedang memakai piyama menerobos masuk pintu rumah Baekhyun begitu saja sambil berteriak heboh dengan muka panik membuat Chanyeol dan Baekhyun menoleh penasaran dan begitu mereka menemukan wajah Sehun, ekspresi keduanya berubah datar.

Laki-laki heboh yang sama duduk di sebelah Chanyeol dan mulai mencomoti cemilan di atas meja tanpa berkata apa-apa pada dua makhluk yang sedang menatapinya itu bahkan setelah ia menelan makanan di mulutnya, ia menenggak jus jambu biji Chanyeol hingga habis membuat si pemilik dan si pembuat membulatkan mata mereka. Yang satu kaget dan yang satu lagi kaget bercampur murka.

"Jadi ada apa?"

"Biarkan aku tidur di sini malam ini!"

"Apa katamu?! Tidur di sini?" Chanyeol melebarkan matanya yang sudah lebar seolah-olah ingin memaksa kedua biji matanya untuk melompat keluar. Suaranya yang berat ditinggi-tinggikan seolah ingin menyaingi suara cempreng Baekhyun.

"Iya, memangnya ada yang salah?" Sehun berkedip berkali-kali. "Ini kan bukan yang pertama kali. Iya kan Baek hyung?" Sehun mengedip-ngedipkan matanya ke arah Baekhyun dan terkekeh digenit-genitkan membuat Baekhyun ingin muntah dan Chanyeol ingin mencabik-cabik Sehun.

Chanyeol meraih ponselnya dan berdiri. "Halo Luhan hyung, kau tau sekarang Sehun ada di rumah Baekhyun dan ia ingin tidur dengan Baekhyun, kurasa kau harus datang kemari untuk menjinakkan dia."

Sehun menganga kaget sementara Baekhyun hanya memijat dahinya pusing sementara Chanyeol menjauhkan ponsel dari telinganya. Sepertinya Luhan sedang menjerit.

Saat Chanyeol memutus sambungan telepon, ia menyeringai pada Sehun. "Mati kau, Luhan hyung ada dalam perjalanan ke sini."

Dan benar, Sehun benar-benar merasa dirinya akan mati sebentar lagi. Luhan akan segera datang, ya tuhan Luhan akan segera datang.

Tidak.

Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak.

Hanya butuh waktu sepuluh menit lebih, yang ditunggu-tunggu sudah hadir dengan dua tanduk amarah di atas kepalanya membuat Sehun merinding. Ia tersenyum canggung dan melambaikan tangannya. "Hai Luhoney, kami ingin mengadakan pesta piyama, apa kau tertarik untuk bergabung?"

Si rusa yang penuh amarah menerjang Sehun. Kakinya ia lingkarkan di pinggang Sehun sementara tangannya ia lingkarkan di leher laki-laki itu membuat Sehun terkekeh geli. Ia balas melingkarkan tangannya di punggung Luhan. "Lu, kau ini rusa bukan koala."

"Aku tidak peduli. Pokoknya aku mau tidur denganmu malam ini."

"Benarkah? Aku tentu saja tak masalah!"

Chanyeol dan Baekhyun menatap dua orang yang sedang berpelukan itu datar.

"Sebaiknya yang punya rumah tidur di rumah masing-masing saja." Ucap Baekhyun masih mempertahankan wajah datarnya.

"Hyung, malam ini aku tidak bisa tidur di rumah!" ucap Sehun.

"Kenapa?" tanya Baekhyun menaikkan salah satu alisnya.

"Ibuku sedang pergi ke luar kota!"

Baekhyun mendengus. Si penakut ini, pikirnya.

Chanyeol kemudian menggenggam kedua tangan Baekhyun dan menunjukkan senyum idiotnya pada laki-laki pendek itu. "Biarkan kami bertiga tidur di sini ya?"

Baekhyun diam beberapa saat. "Tapi kamar yang lain berdebu karena tidak pernah dipakai jadi aku hanya punya satu kamar kosong dan kurasa kita berempat tak akan muat. Terlalu sempit, bisa-bisa Sehun menendang kita semua hingga terjatuh dari tempat tidur."

"Kita bisa tidur di ruang tengah bersama-sama dengan alas selimut tebalmu itu hyung!" sambar Sehun.

"Iya, itu lebih baik daripada kau dan Sehun tidur berdua di kamarmu." Tambah Luhan masih memeluk Sehun.

Baekhyun mendesah kalah. "Baiklah terserah kalian saja."

Dan begitulah mereka berakhir. Berbaring di lantai beralaskan selimut putih tebal dengan selimut lain melapisi tubuh mereka. Baekhyun, kemudian Chanyeol di sebelahnya, di sebelahnya lagi ada Sehun dan di ujung ada Luhan. Chanyeol dan Sehun saling memunggungi dan memeluk kekasih masing-masing seolah-olah ingin melindungi mereka dari apa saja yang bisa membahayakan atau mengganggu.

"Panas sekali sebenarnya." Keluh Sehun.

"Apanya yang panas?" Luhan berkedip.

Tiba-tiba Baekhyun menyambar. "Sehun biasa tidur tak memakai baju." Membuat Sehun terkekeh malu dan Luhan membulatkan matanya. Bukan karena kaget, melainkan karena marah.

"Berarti kau tidur tak memakai baju dengan Baekhyun?!" teriaknya sambil memukuli dada Sehun membabi buta.

"Iya tapi kami tidak melakukan apa pun!"

Luhan cemberut.

"Hey kalian berdua diamlah, aku tidak bisa tidur." Ucap Chanyeol.

.

.

.

.

Kyungsoo berjalan memasuki sebuah studio dance tempat Sehun biasa berlatih. Hari ini dia berjanji untuk menemui anak itu untuk beberapa urusan.

Hari masih menunjukkan pukul 9 di minggu pagi, Kyungsoo membuka pintu studio yang ia yakini tempat Sehun berlatih saat tiba-tiba makhluk yang kurang jelas warna kulitnya menabrak Kyungsoo hingga segelas kopi yang dibawa orang itu tumpah ke baju Kyungsoo.

Kyungsoo memekik antara kaget dan panas. Ia mendongak dengan tatapan mematikan pada orang ceroboh di depannya.

"Astaga tuhan ya tuhan astaga aku minta maaf." Laki-laki yang telah dicap Kyungsoo sebagai tersangka itu segera membersihkan pakaiannya yang ternoda hitam oleh kopi dengan sebuah sapu tangan berwarna biru. "Sebaiknya kau buka dulu pakaianmu, pasti kulitmu sudah memerah."

"APA?!"

"Tenang saja, aku tak akan melakukan apa-apa."

Kyungsoo mengedipkan matanya berkali-kali, menatap laki-laki itu bingung sebelum menuruti juga sarannya. Ia mengangkat kausnya ke atas dan benar. Kulitnya yang putih mulus sudah memerah. Laki-laki itu menarik Kyungsoo masuk ke dalam studionya dan mendudukkan Kyungsoo di kursi yang ada di sana. Saat ia memajukan wajahnya Kyungsoo makin melebarkan matanya dan segera mundur teratur.

Laki-laki itu meniup dada Kyungsoo yang kemerahan membuat Kyungsoo semakin bingung saja.

"Maaf tapi ada urusan apa kau kemari? Kau bukan anggota dancer di sini kan?" laki-laki itu tersenyum mendongak pada Kyungsoo yang sepertinya gelagapan.

"Well, aku sebenarnya ingin menemui Sehun tapi sepertinya dia tidak ada di sini?"

Laki-laki itu mengangguk. "Benar. Seharusnya Sehun memang latihan jam segini tapi sepertinya dia belum datang. Apa kau akan menunggunya?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Mungkin aku akan menemuinya besok saja di sekolah."

Laki-laki itu mengangguk lagi sebelum menjauhkan kepalanya. Ia mengulurkan tangan ke depan Kyungsoo. "Aku Kai."

"Kyungsoo." Ia menjabat tangan si penumpah kopi dan anehnya senyum laki-laki bernama Kai itu tak pernah luntur dan lama kelamaan dilihat senyumnya mirip senyum seorang laki-laki mesum tak bertanggung jawab.

Kyungsoo segera menarik tangannya membuat Kai berkedip dan menarik tangannya juga. "Jadi kau akan pulang sekarang?"

"Ya tentu saja, Sehun tidak ada di sini."

"Mmmm rumahmu dimana?" Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya. "Maksudku, kau tau aku juga mau pulang, mungkin aku bisa memberimu tumpangan. Lagipula aku sudah menumpahkan kopi ke bajumu. Oh ya, ngomong-ngomong soal itu, biar kuambilkan pakaian bersih, pakaianmu yang tertumpah kopi biar kucuci dulu."

Belum sempat Kyungsoo menjawab, Kai sudah bangkit dan berjalan ke sudut studio dimana terdapat sebuah ransel berwarna abu-abu. Hanya beberapa menit Kai sudah kembali lagi dengan selembar kaus berwarna merah . "Ini pakailah."

Dengan ragu-ragu Kyungsoo menerima kaus yang diberikan orang yang cukup asing baginya itu dan tersenyum, menggumamkan terima kasih sebelum memakai kaus merah tersebut. Kyungsoo menahan tawanya melihat kaus merah itu sedikit kebesaran di tubuhnya yang kecil dan minimalis.

"Ayo kuantar pulang."

"Terima kasih tapi kurasa kau tak perlu mencucikan bajuku, aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Kyungsoo sungkan namun Kai tampaknya bersikeras.

"Sudah, tak apa. Aku akan mencucikannya untukmu."

"Tapi bagaimana aku mengambilnya lagi?"

"Datang ke sini besok sore." Kai tersenyum sangat lebar membuat laki-laki bermata bulat itu berkedip sebelum mengangguk pelan.

Kai menarik tangan Kyungsoo keluar dari studio itu dan menuntunnya ke motor hitam yang terparkir di parkiran. "Katakan saja aku harus ke arah mana." Ucap Kai dan menyodorkan sebuah helm pada Kyungsoo. Ia menaiki motornya disusul oleh Kyungsoo di belakangnya.

Kyungsoo terus memerintahkannya berbelok sana, belok sini, lurus, ke sini, ke sana, hingga mereka sampai di depan rumah Kyungsoo yang sebenarnya jika Kyungsoo menyebut alamatnya langsung, Kai bisa memotong jalan yang lebih cepat daripada yang diucapkan Kyungsoo.

Kyungsoo turun dari motor Kai dan membuka helmnya. "Terima kasih atas tumpangan dan kausnya."

"Sama-sama, dan jangan lupa mengobati luka di dadamu. Sebenarnya aku merasa bersalah sekali dan ingin membawamu ke rumah sakit untuk diobati."

Mata Kyungsoo melebar lagi mendengar ucapan laki-laki yang baru ia sadari berkulit agak hitam itu. Ia segera melambaikan kedua tangannya di depan dada menidakkan ucapan Kai. "Tidak, kau tidak perlu serepot itu. Aku bisa mengobatinya sendiri. Kalau begitu aku masuk dulu, sekali lagi terima kasih."

"Tidak masalah. Jangan lupa untuk mengambil pakaianmu besok. Kalau begitu aku pergi dulu." Kai tersenyum sekali lagi sebelum menghidupkan kembali motornya dan melaju meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri di depan rumahnya.

Selepas laki-laki bermotor itu hilang dari jangkau pandang, Kyungsoo menatap kaus merah yang melekat di tubuhnya dan terkekeh pelan sambil menggeleng. "Benar-benar kejadian tak terduga."

TBC

Huhuhu jangan lupa review ya!