"Appa! Apa yang sebenarnya appa bicarakan?"

"Kyungie, masuk ke kamarmu!" perintah Donghae

"Appa! Kenapa?! Jongin, aku tidak mau masuk kamar!" Kyungsoo kini malah memeluk Jongin yang berdiri membeku disana. Ia sungguh tak mau berpisah dengan Jonginnya

"Security, bawa Kyungsoo ke kamarnya!" perintah Donghae pada security yang baru saja dipanggilnya

"Appa! Andwaeyo! Lepaskan aku! Aku ingin bersama Jongin! Jongin.. Hiks.. Tolong aku… Hiks.." Kyungsoo mulai menangis

Jongin tak sanggup lagi. Ia tak sanggup mendengar tangis Kyungsoo yang meminta tolong padanya, namun di sisi lain ia sadar bahwa Donghae bukanlah orang sembarangan dan cukup berbahaya untuknya. Ia tidak mungkin melakukan tindakan bodoh yang justru akan menyakiti dirinya dan juga Kyungsoo. Ia sadar bahwa Donghae adalah namja yang cukup licik.

"JONGIN… HIKS!" jerit Kyungsoo

Tak lama kemudian, suara Kyungsoo tak terdengar lagi. Tanpa terasa, Jongin airmata Jongin menetes. Ia tak kuat berpisah dengan Kyungsoonya. Namun apa dayanya? Nihil.

"Kau bisa pergi sebelum kuusir dengan tidak hormat dari rumahku. Dan mulai saat ini, aku melarangmu dengan sangat keras untuk tidak menemui Kyungsoo. Pembalasan dari sebuah pengkhianatan akan jauh lebih menyakitkan, bukan?" ucap Donghae sambil berjalan keluar ruangan kerjanya, meninggalkan Jongin berada di sana sendirian

Jongin jatuh berlutut dengan airmata menggenang. Jongin ingat sekali akan perbuatannya yang membuat Donghae membencinya. Perusahaan mereka merupakan rival yang bersaing dengan sangat ketat. Jongin pun sengaja menghasut para klien yang mereka perebutkan dengan cara kotor, yakni dengan menjatuhkan reputasi Donghae sejatuh-jatuhnya hingga klien-klien tersebut benar-benar kehilangan kepercayaan pada perusahaan Donghae sehingga mereka berbondong-bondong menandatangani kontrak di perusahan Jongin.

Sekali lagi Jongin benar-benar tak mampu berpikir dan melakukan apapun. Ia masih tak percaya bahwa ia harus berurusan dengan Donghae dalam posisi yang terbalik, jika dulu Donghae yang terpojok, kini dirinyalah yang merasakannya.

.

.

.

.

"ANDWAE! KELUARKAN AKU DARI SINI! AKU MAU JONGIN! APPA, AKU MAU JONGIN! HIKS…" Kyungsoo mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dari dalam

Donghae terpaksa mengurung Kyungsoo di dalam kamarnya karena berkali-kali Kyungsoo mencoba kabur untuk menemui Jongin dan memiliki rencana untuk tidak kembali ke rumah. Donghae sesungguhnya tidak ingin memperlakukan Kyungsoo seperti ini, namun Kyungsoo begitu bersemangat untuk menemui Jongin, sehingga Donghae memutuskan untuk mengurung Kyungsoo agar ia tidak bisa menemui Jongin.

"Kyungie-ya… Mianhae... Appa tidak merestui hubunganmu dengan Jongin. Kau boleh memilih semua namja dan yeoja di dunia ini, tapi tidak untuk Kim Jongin." Ucap Donghae dari balik pintu kamar Kyungsoo

"Andwae… Hiks… Aku mau Jongin! Hiks.." suara Kyungsoo melemah

Tubuh Kyungsoo merosot ke bawah. Ia duduk sambil menyandar di pintu kamarnya. Sambil mengusap kasar wajahnya, Kyungsoo menangis. Ia benar-benar tak pernah menyangka bahwa Donghae akan melarangnya berhubungan dengan Jongin. Kyungsoo sangat sedih. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia semakin yakin bahwa hidupnya memang hanya akan berisi kesedihan dan kesepian.

.

.

.

.

Sudah beberapa minggu ini Jongin dan Kyungsoo tidak bisa bertemu. Handphone Kyungsoo yang disita Donghae juga membuat keduanya benar-benar tak bisa berhubungan sama sekali. Jongin sesungguhnya sudah mencoba segala cara untuk bisa menemui Kyungsoo dan—kalau bisa—ia ingin membawa Kyungsoo kabur. Sayangnya, tidak ada satupun usahanya yang berhasil. Pengamanan di rumah Donghae benar-benar ketat dan sangat sukar ditembus olehnya. Jongin menyerah.

Jongin berjalan pelan memasuki pekarangan rumah Donghae yang luas. Beberapa security sudah mencegahnya masuk, namun Jongin memberontak dan memaksa untuk masuk. Para security akhirnya hanya membiarkan Jongin berjalan seperti mayat hidup menuju ke depan pintu masuk. Jongin menatap sejenak pintu itu, lalu mengambil posisi berlutut tepat di depan sana. Ia tak peduli dengan seruan dari para maid dan security yang mengusirnya. Tujuannya hanya satu. Mendapatkan Kyungsoo kembali.

"Chagiya.. Gidarilke.." gumam Jongin lirih

.

.

.

.

Tanpa terasa, sudah hampir 8 jam Jongin tetap pada posisi berlututnya. Para maid sesungguhnya iba melihat apa yang Jongin lakukan di depan sana. Mereka juga kasihan pada Kyungsoo yang kini semakin kurus karena tidak mau makan. Kyungsoo hanya meminum susu dan jus yang diberikan. Ia sama sekali tidak mau memakan nasi sebagai bentuk protes pada Donghae. Para maid ingin sekali mempertemukan sepasang kekasih ini, namun mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka, sehingga mereka urung melakukannya.

Jongin sudah tidak dapat merasakan kakinya. Kakinya mati rasa. Namun ia masih tetap bertahan agar ia bisa segera bertemu dengan Kyungsoo. Tak lama kemudian, seorang maid datang dan menyuruh Jongin untuk segera berdiri dan pulang karena Donghae sama sekali tidak akan menemuinya.

"Tuan, pulanglah. Tuan Donghae menyuruh anda untuk pulang." Ucap maid itu dengan hati-hati

"…" Jongin tak menjawab dan berlagak seolah ia tak mendengar apapun

"Tuan.."

"…"

Maid itu tahu bahwa tak akan ada gunanya membujuk Jongin untuk segera pulang. Ia masuk lagi ke dalam. Ia pikir, ketika lelah Jongin akan menyerah dan benar-benar pergi.

.

.

.

.

"Mwoya? Anak itu masih di sana?" pekik Donghae karena tak percaya

"Ne. Ia terlihat sangat lemah dan lelah, tuan."

"Arasseo. Aku akan menemuinya."

Donghae sungguh tak menyangka bahwa Jongin benar-benar namja dengan keinginan yang sangat kuat. Ini sudah hampir 16 jam ia berlutut dan ia tidak menyerah sama sekali. Bahkan makanan dan minuman yang disediakan oleh maid Donghae tidak disentuhnya sama sekali.

Donghae kini berdiri menatap Jongin yang tampak begitu menyedihkan di hadapannya. Wajahnya benar-benar menunjukan gurat-gurat kelelahan. Bahkan Jongin sudah tidak sanggup meluruskan pandangannya dan hanya mampu menunduk.

"Katakan apa yang kau inginkan, Jongin-ah. Aku akan mengabulkannya." Ucap Donghae pada akhirnya

Jongin tersentak karena sejak tadi ia tak menyadari kehadiran Donghae di hadapannya. Dengan gemetar ia menengadahkan kepalanya untuk menatap Donghae. Tangannya yang gemetaran karena terlalu lelah perlahan terulur ke depan untuk memegang ujung celana Donghae.

"I—ijinkan a—aku.. Me—menikahi K—kyungsoo.." bisik Jongin lirih

"Apa imbalan yang akan kuterima setelah aku menyerahkan anakku padamu?" tanya Donghae lagi

"Se—semuanya.. Semuanya untukmu…"

Dan pandangan Jongin menggelap.

.

.

.

.

Kyungsoo segera makan dengan lahap ketika salah seorang maid mengatakan padanya bahwa ia sudah diperbolehkan menemui Jongin dengan syarat ia harus makan yang banyak terlebih dahulu. Kyungsoo berkali-kali ingin menyudahi acara makannya karena ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu Jongin.

"Aku sudah kenyang. Aku tidak mau makan lagi. Aku mau Jongin." Kyungsoo menggeleng keras

"Tapi tuan muda, makanan anda belum habis." Bujuk maid bernama Victoria tersebut

"Aniya… Shireo!" tolak Kyungsoo dengan mengerutkan wajahnya

"Kalau anda tidak menghabiskan makanannya, tuan besar tidak akan mengijinkan anda bertemu dengan tuan Jongin." Kata Victoria penuh harap

"Geurae?"

"Tentu saja."

"Arasseo. Aku akan menghabiskan makanan ini. Tapi setelah itu, kau harus mengantarkanku pada Jongin!" ucap Kyungsoo mantap

"Algeseumnida." Victoria tersenyum karena bujukannya berhasil

Setelah Kyungsoo menghabiskan makanannya, Ia diantarkan oleh Victoria menuju ruangan tempat Jongin berada. Kyungsoo berlari mendekati Jongin yang terbaring dengan mata tertutup di sana.

"Jongin… Museun iriseyo? Kenapa Jongin tidur di sini?" Kyungsoo merangkak naik ke tempat tidur dan langsung mengecup pipi Jongin

"Tuan Jongin berlutut di depan rumah selama 18 jam hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri dan taun besar menyuruh kami untuk membawanya ke sini." Ujar Victoria

"M—mworago? Jongin berlutut…? Mengapa tidak ada yang memberitahuku?" pandangan Kyungsoo berubah sendu ketika menatap wajah Jongin yang terlihat sangat kelelahan

"Jwiseonghamnida. Tuan besar tidak mengijinkannya. Tuan besar berpesan untuk membawa anda bertemu dengan tuan Jongin setelah anda menghabiskan makanan anda."

"Baiklah.. Kau boleh pergi, noona. Kamsahamnida.." ucap Kyungsoo pelan

"Algeseumnida. Sebentar lagi aka nada dokter Park yang akan memeriksa tuan Jongin. Saya permisi." Victoria berjalan meninggalkan Kyungsoo dan juga Jongin

Kyungsoo mengelus pipi Jongin yang terlihat semakin tirus. Tulang rahangnya terlihat semakin menonjol. Sekali lagi Kyungsoo mengecup pipi Jongin. Ia sangat rindu pada tubuh Jongin yang selalu memberinya pelukan hangat. Kyungsoo memeluk Jongin sambil menutup matanya hingga ia jatuh tertidur di samping Jongin.

.

.

.

.

"Jongin…" gumam Kyungsoo sambil membuka matanya perlahan

Ia menatap sekelilingnya, namun tak menemukan Jongin. Kyungsoo mulai panik. Ia mulai mengumpulkan kesadarannya secara penuh, lalu segera berlari keluar dari kamar itu untuk mencari Jongin. Pandangan matanya tertuju pada pintu ruang kerja Donghae yang terbuka lebar. Kyungsoo segera melongokan kepalanya ke dalam. Dilihatnya Jongin sedang duduk di kursi, sedangkan Donghae sedang berdiri membelakangi Jongin.

"Aku tak menyangka bahwa kau adalah lelaki yang tangguh, Jongin-ah. Aku pikir kau akan segera menyerah setelah aku melarangmu berhubungan dengan Kyungsoo dan mencari yeoja lain untuk kau nikahi." Kata Donghae dengan posisi yang masih membelakangi Jongin

"Mendapatkan cinta Kyungsoo bukanlah hal yang mudah. Aku harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Melepaskannya begitu saja adalah sebuah kegagalan terbesar dalam hidupku, Donghae-ssi."

"Aku akan merestui hubunganmu dengan Kyungsoo. Semua yang kulakukan padamu kemarin hanya untuk mengujimu, apa kau benar-benar pantas untuk Kyungsoo-ku atau tidak. Sebagai ayah, aku hanya ingin anakku mendapatkan yang terbaik. Dan kuharap kau melupakan semua persoalan tentang pekerjaan, karena sejujurnya aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Semuanya tinggal masa lalu." Ucap Donghae masih tanpa membalik tubuhnya untuk menatap Jongin—maupun Kyungsoo yang sudah ikut bergabung bersama Jongin di sana, namun Jongin tidak menyadarinya.

"Appa…" tanpa sadar Kyungsoo menggumam pelan. Donghae dan Jongin segera memalingkan pandangan pada Kyungsoo

"Kyungie.."

"Appa... Gomawo!" Kyungsoo langsung memeluk Donghae dengan sangat erat setelah mendengar restu dari Donghae untuknya dan Jongin

Kyungsoo hampir menangis karena terlalu bahagia. Ia tak menyangka bahwa Donghae akan berubah pikiran seperti ini. Kyungsoo semakin mengencangkan pelukannya. Tiba-tiba suara Jongin menginterupsi.

"Bolehkah aku ikut bergabung?" tanya Jongin hati-hati

"Tentu saja, nak." Donghae memberi senyum yang sangat tulus pada Jongin

Akhirnya ketiganya malah berpelukan seperti teletubies. Hati Jongin menghangat dan matanya memanas. Inilah yang ia inginkan sejak dulu. Pelukan hangat dari seorang ayah yang nyaris tak pernah ia dapatkan dari Jongwoon, ayah kandungnya.

.

.

.

.

#SKIP

Hari pernikahan Jongin dan Kyungsoo telah tiba. Mereka menyesuaikan tanggal dengan pemulihan kesehatan Baekhyun setelah melahirkan bayi laki-lakinya dengan Chanyeol yang diberi nama Park Chanhyun. Karena Baekhyun sudah pulih, Kyungsoo dan Jongin segera menetapkan tanggal pernikahan mereka. Dan hari pilihan mereka jatuh pada hari ini. Chanyeol dan Baekhyun sendiri sudah lebih dulu mengikat hubungan mereka dalam ikatan perkawinan suci beberapa bulan sebelum Chanhyun lahir.

Kyungsoo dan Jongin terlihat sangat bersinar dan bahagia hari ini. Mereka sangat-sangat bersyukur atas segala pengalaman yang telah mengantarkan mereka pada hari membahagiakan ini. Terlebih Jongin. Ia sungguh tak menyangka bahwa akhirnya Donghae akan merestui hubungannya dengan Kyungsoo, mengingat segala perbuatannya di masa lalu yang sangat merugikan Donghae. Jongin sangat bersyukur karena Donghae dengan hangat mau menerimanya sebagai menantu, meski ia harus berjuang sekuat tenaga untuk membuktikan cintanya pada Kyungsoo. Donghae bahkan tak segan menjadi sosok ayah yang penuh kehangatan untuknya.

Perusahaan mereka kini juga telah melakukan kerjasama permanen dan seluruh perusahaan Donghae kini berada di bawah naungan Jongin sebagai pemilik dan pemegang saham terbesarnya. Donghae sendiri memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan seluruhnya pada Jongin.

"Jongin-ah… Kenapa melamun?" Kyungsoo mengelus pipi Jongin untuk menyadarkan Jongin dari lamunannya

"Neomu haengbokhaeyo, chagi.." Jongin mengecup telapak tangan Kyungsoo yang berada di pipinya

"Naddo haengbokhaesseo.." balas Kyungsoo sambil tersenyum

Jongin merasa hidupnya begitu sempurna. Ia memeluk tubuh mungil Kyungsoo dan membisikan sebuah kata di telinga Kyungsoo.

"Saranghae…"

Jongin tahu, ini bukan akhir dari cerita cinta mereka, tapi ini awal mula kebahagiaan mereka. Kyungsoo memejamkan matanya menyesap aroma tubuh Jongin. Ia berdoa agar ia bisa terus seperti ini. Dicintai dan menjadi prioritas utama dari seorang namja bernama Kim Jongin.

"Naddo saranghae…"

.

.

.

.

.

.

.

Terkadang kita memang akan merasa sendirian. Namun ingatlah, jangan pernah merasa jika kesepian itu akan berlangsung selamanya, karena sesungguhnya ada kebahagiaan yang menanti, tepat diujung sana, di ujung titik kesepian dengan wujud cinta dan perhatian dari orang tak terduga.

Anonymous

.

.

.

.

.

.

THE END!

Akhirnya END juga… Maaf ya kalo kepanjangan.

Aku Cuma bisa berterimakasih sama semua dukungan buat FF ini.

Makasih banget buat yang udah READ, FAVORITE, FOLLOW, & REVIEW ff ini.

Nggak ada lagi yang bisa kuucapin selain ucapan terima kasih banyak buat kalian semua.

Maaf kalau endingnya mengecewakan.

Maaf kalau endingnya gaje.

Maaf gak bisa nyebutin semua reviewer satu-satu.

SAMPAI JUMPA LAGI YAA DI FF LAINNYA…

Semoga dalam waktu dekat aku bisa bikin FF lagi.

Sekali lagi, MAKASIH BANGET SAMA SEMUA SUPPORTNYA!

LOVE YAAA!

너무 감사하십시요…

정말 사랑한다..

XOXO