CHAPTER XIII

FIREWORKS

Sekumpulan orang di lereng itu berdiam diri. Sunyi senyap. Hanya terdengar bunyi angin malam yang bertiup sepoi-sepoi. Juga isak tangis dari Peter. Dia tersedu-sedu, memeluk dirinya sendiri.

Memang benar Peter adalah musuh mereka, tetapi mendengar bunyi tangisan yang memedihkan itu tetap saja membuat hati mereka menjadi pilu. Khususnya bagi Jack yang telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh Peter. Jack hanya dapat berdiri membisu di dekat Peter, memandang prihatin kepadanya.

North berjongkok di hadapan Peter. Dalam keheningan, North memeluk Peter, mengusap-usap punggung anak angkatnya. Peter merasa sangat hangat dalam dekapan itu. Bukan karena jubah tebal yang dikenakan North, melainkan dari sentuhan sang ayah yang sudah lama sekali tidak dirasakannya. Mereka berpelukan lama, mencairkan apa yang telah membeku di antara mereka selama tiga ratus tahun.

"Aku tahu bahwa kamu sangat menyesali perbuatanmu. Yang telah berlalu biarkan berlalu. Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Sudah lama sekali aku memaafkanmu," kata North pelan.

North membantu Peter berdiri, lalu dia menatap Peter dalam-dalam. "Yang terpenting sekarang adalah kamu telah menyadari kesalahanmu. Mari kita hidup bersama lagi sebagai sebuah keluarga di Santoff Claussen," lanjut North sambil mengulurkan tangan kanannya.

Peter ragu untuk menerima sambutan dari North. Namun sejujurnya Peter tidak dapat menahan diri untuk membayangkan segala bentuk kebahagiaan yang akan segera dijalaninya bersama North. Dia membiarkan pikirannya melayang bebas ke masa depan yang tampak cerah. Begitu rindunya dia hidup bersama North. Menikmati waktu canda tawa, merakit mainan, membagikan kado, dan bertemu dengan anak-anak untuk memberi tahu bahwa perayaan Natal akan segera tiba setiap tahunnya sebagai Zwarte Piet.

Peter menyeka jejak tangisan di pelupuknya, lalu mengangkat satu tangannya dengan perlahan.

Mendadak tubuh Peter berguncang. Sesuatu di dalam dirinya mengalir kencang ke balik punggungnya, memberontak seakan-akan ingin keluar dari tubuhnya. Jantungnya berdegup tidak beraturan. Dia merasakan panas menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia sangat mengenal sensasi tidak menyenangkan ini. Ya, sama persis dengan saat Pitch menusuk jantungnya.

Begitu dia menoleh ke belakang, dia mendapati pria berjubah hitam telah berdiri tegap di sana, tersenyum licik. Satu tangannya menusuk jantung Peter dengan sebilah pedang hitam.

Semua orang di sana benar-benar tidak menyadari kehadiran Pitch. Tanpa suara, tanpa aura. Sama sekali nihil. Seperti keberadaan sesosok bayangan yang tidak dipedulikan banyak orang. Dan begitulah cara Pitch menyerang targetnya tiba-tiba.

North meneriakkan nama Peter dan segera mengambil pedangnya untuk menyerang Pitch.

Jack tidak menyangka bahwa Pitch akan muncul kembali di hadapannya setelah dia melarikan diri ketika di dalam kapel tua.

Bunnymund, Tooth, dan Sandy melesat cepat menuju Nightmare King. Langkah mereka langsung terhenti ketika pasukan Nightmare muncul begitu saja dari permukaan tanah yang tandus. Dalam hitungan detik, mereka bersama anak-anak telah dikepung oleh pasukan Nightmare.

"Kuharap aku belum terlambat untuk mengikuti pesta kemenangan kalian. Walaupun aku tidak menerima undangan, tetapi semakin banyak orang akan lebih meriah, bukankah begitu?" ucap Pitch.

"Pitch, lepaskan Peter!" ancam North, menghunuskan pedangnya kepada Pitch.

"Aw, aku begitu tersentuh melihat dirimu yang begitu menyayangi anak ini, North. Tetapi tahukah kamu bahwa dengan memiliki sesuatu yang sangat berharga bagi seseorang, maka hal itu dapat menjadi kelemahan terbesarnya?" kata Pitch. Dia memandang rendah kepada North. Tidak lama kemudian, dia teringat sesuatu. "Oh ya, hal yang sama telah berlaku padamu, Jack. Bagaimana rasanya dimanfaatkan hanya karena Peter menyimpan jiwa adikmu tersayang?"

Jack terkesiap. "Kau mengenal Jill?"

"Tentu saja aku mengenalnya. Aku telah membantu bocah pengkhianat ini untuk mencuri tabung kenangan adikmu."

"Jadi, kau?" Jack memekik tertahan. "Bukan Peter, tetapi kau yang mencuri tabung kenangan adikku?"

"Secara tidak langsung memang begitu. Sangat mudah bagiku untuk mencurinya dari Istana Tooth tanpa diketahui para penghuni di sana," desah Pitch. "Kusarankan kau memberitahu teman perimu untuk memperketat penjagaan."

Jack menggertakkan gigi sambil mengepal tongkat sihirnya dengan keras, mengacungkannya kepada Pitch. "Apa maumu sekarang, Pitch? Belum jera setelah anak-anak mengalahkanmu?"

"Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali kemari. Peter telah melanggar perjanjian denganku, dan dia harus menerima sanksinya," jawab Pitch enteng.

"Peter tidak akan sudi membuat perjanjian dengan penjahat sepertimu, Pitch!" seru North.

"North, aku terkejut mengetahui kamu benar-benar tidak mengenal anak angkatmu sendiri. Malah aku yang lebih memahaminya. Apa kau sadar bahwa terdapat ketakutan yang tersembunyi di hati Peter? Aku hanya berbisik kepada rasa takut itu, mengembangkannya menjadi lebih besar melalui mimpi buruk, dan Peter menerimaku dengan lapang dada."

"Kau telah menghasut dan memperalat Peter dengan seenaknya!" geram North. Dia sangat marah kepada Pitch karena telah memanipulasi perasaan Peter yang menyebabkan sifat Peter menjadi berubah.

Tawa Pitch menambah kekelaman langit malam di lereng itu. "Kaupikir siapa lagi yang bisa melakukan semua itu? Hanya aku, Boogeyman, yang mengerti ketakutan terbesar setiap orang! Dan sekarang adalah waktunya aku memberikan dunia yang hitam pekat untuk semua anak-anak!"

Pitch menarik pedangnya dari tubuh Peter. Aura kegelapan keluar dari jantung Peter yang tertusuk pedang, mengalir deras ke tubuh pedang itu. Peter berteriak kesakitan.

"Peranmu telah berakhir sekarang, pengkhianat!" teriak Pitch. Dia membanting Peter seperti seekor kecoak, lalu meluncurkan kabur hitam kepada anak itu. Dengan sigap Jack melindungi Peter dengan sihir esnya, menimbulkan asap putih di sekeliling mereka berdua. North membawa pergi Peter yang terbaring lemas dari jangkauan Pitch dengan menggendongnya.

"Peter, apa kamu baik-baik saja?" Tanya North khawatir.

Peter memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. "Yeah, aku baik-baik saja. Bahkan aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya," jawabnya.

North tidak percaya dengan jawaban itu. Dia memeriksa bagian punggung Peter yang barusan ditusuk oleh Pitch. Sungguh aneh melihat luka tusukan di sana menutup dengan cepat dan tidak meninggalkan bekas sama sekali.

Pitch menyapu kepulan asap dengan pasir hitam yang mengelilingi tubuhnya. Dia berteriak kencang ketika mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi ke udara. Pancaran energi kegelapan yang begitu hebatnya meluncur ke langit, membuat bulu kuduk Jack berdiri. Tembakan sihir itu membuat lubang di langit, menyingkirkan awan kelam. Detik berikutnya, sihir itu menghilang. Terdengar bunyi gemuruh seperti akan turun hujan badai. Awan-awan hitam mulai membentuk sesosok monster raksasa yang sangat menyeramkan. Tubuh monster itu tidak dapat dibedakan, kaki dan tangannya tampak menyatu, terbalut oleh gumpalan awan hitam pekat. Di bagian ujung tubuhnya terurai banyak tentakel. Di tiap sekatnya terdapat rongga-rongga berwarna putih seperti tulang rusuk pada manusia. Proses pembentukan selesai ketika bagian terbesar yang sepertinya adalah kepalanya mulai terlihat. Dia membuka matanya dengan berat seperti baru saja bangun dari tidurnya yang lelap. Sangat mengerikan mengetahui bahwa monster itu memiliki sepuluh bola mata yang bersinar merah darah. Langit malam pun dengan cepatnya berubah warna menjadi merah.

Para pelindung dan anak-anak menatap penuh kengerian kepada monster raksasa yang melayang di langit itu. Mereka merinding dari ujung kaki ke ujung rambut. Seketika pasukan Nightmare yang mengepung mereka memecah diri menjadi pasir hitam. Pitch menarik pasir hitam itu ke pijakannya, lalu dia terangkat ke udara dengan kecepatan yang tinggi, dan mendarat di atas kepala monster itu.

"Waktu bersenang-senang telah dimulai! Kuharap kalian semua menikmatinya. Terima kasih," seru Pitch kegirangan.

Monster itu membuka mulutnya. Dia mengaum keras, memecah udara di sekitarnya, dan memekakkan telinga orang-orang di lereng itu.

"Teman-teman! Ada… ada yang tidak beres dengan bola-bola kristal ini!" seru Jamie, suaranya melengking ketakutan.

Mendengar teriakan Jamie, mereka semua menoleh ke bola-bola kristal yang mereka jaga. Bola-bola kristal di tangan mereka berguncang dengan kuat dan langsung terbang cepat ke langit seakan-akan ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat. Dalam perjalanan menuju si monster, bola-bola itu pecah dan keluarlah jiwa anak-anak yang terperangkap di dalamnya. Si monster menghisap jiwa anak-anak itu ke dalam mulutnya. Semakin banyak jiwa yang dimakannya, tubuh monster itu semakin membesar.

"Monster itu… memakan jiwa anak-anak?" tanya Bunnymund tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Apa sebenarnya monster itu?" tanya Tooth. Dia menoleh kepada Sandy. Sandy yang tidak tahu, menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

"Itu adalah sosok asli Krampus. Fearling terkuat kepunyaan Pitch. Pitch telah menarik roh jahat itu dari tubuhku," jawab Peter.

"Jelaskan semua ini kepada kami, Peter!" seru Jack tidak sabar.

"Tiga ratus tahun lalu, ketika Pitch menusukkan pedangnya ke jantungku, dia menanamkan roh Krampus dalam tubuhku. Saat itu Krampus sangat lemah, dia tidak mampu melakukan apa-apa. Dia membutuhkan tubuh untuk bertahan hidup. Maka dari itu, Pitch memilih aku untuk menjadi cangkang Krampus. Monster itu sangat liar dan ganas. Selama dia di dalam tubuhku, dia terus mencoba untuk mengambil alih kesadaranku. Aku terus berjuang untuk melawan dia, dan itu benar-benar menyakitkan," jawab Peter menjelaskan.

"Tunggu, tunggu. Lalu kenapa sekarang dia bisa berkeliaran dengan bebas?" tanya Jack.

"Dia telah bertambah kuat, jauh melampaui aku. Dia telah memakan jiwa anak-anak di desamu, Jack. Dan dia tidak akan pernah puas melakukan itu."

"Kenapa kau tidak menghalanginya untuk memakan jiwa mereka? Jangan bilang bahwa jiwa Jill telah dimakan olehnya!" kata Jack ketus.

"Aku sudah melakukannya, oke! Kaupikir apa alasanku terus menyimpan jiwa adikmu selama ratusan tahun? Walaupun aku menculik jiwa anak-anak nakal, tetapi tidak ada sedikit pun niat dalam diriku untuk memakan mereka. Hanya Krampus yang berani melakukan hal menjijikkan seperti itu! Aku tidak bisa membiarkan Krampus bertambah kuat. Aku tidak ingin menyerahkan tubuhku begitu saja kepada monster itu!" balas Peter penuh emosi.

"Jack, kendalikan dirimu! Jika Krampus telah memakan jiwa anak-anak, kita hanya perlu merebutnya kembali," kata North, menghentikan Jack yang hendak memukul Peter.

"Teman-teman, lihat itu!" sahut Tooth, menyita perhatian Jack, North, dan Peter. Mereka semua menengadah ke arah langit. Krampus bersama Pitch mulai bergerak meninggalkan lereng menuju kota yang terletak tidak begitu jauh dari lereng itu.

"Holy MiM! Mereka akan menyerang Kota Burgess. Kita harus segera menghentikannya sebelum mereka memakan jiwa anak-anak di sana!" seru Bunnymund. "North, panggil rusa-rusamu!"

North menjepit jempol dan telunjuk kanannya untuk bersiul-yang terdengar seperti sebuah melodi. Tidak lama kemudian, keenam rusa North mendatangi mereka dengan berlari kencang.

"Tungganganmu sudah tiba, Bunny. Tooth, Sandy, Jack, kalian mau ikut menunggang?" tanya North.

"Tidak, terima kasih. Aku bisa terbang sendiri," tolak Jack.

"Aku juga," sambung Tooth.

Sandy mengeluarkan pasir ajaibnya dan membentuk pesawat kecil. Dia mengenakan sebuah google untuk melindungi matanya.

"Oke, aku lupa hanya aku dan Bunny yang tidak dapat terbang," keluh North sambil menepuk jidatnya.

Jamie dan kawan-kawan berlari menghampiri para pelindung. Jamie yang memimpin kelompok itu bertanya, "bagaimana dengan kami? Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu kalian?"

Jack menjawab cepat, "ini terlalu berbahaya, Jamie. Kita tidak tahu kemampuan macam apa yang dimiliki Krampus. Kamu sudah banyak membantu kami. Lebih baik jika kalian berlindung di tempat yang aman, oke?"

Para pelindung setuju dengan keputusan Jack. North segera menginstruksikan empat rusanya untuk membawa pergi anak-anak. Tanpa berpikir panjang, anak-anak, kecuali Jamie, naik ke punggung rusa yang lebar.

"Jamie, tunggu apa lagi kamu? Ayo kita pergi! Apa kamu mau jiwamu dimakan oleh monster itu?" sahut Babcock.

"Jamie, bukankah kamu sudah percaya kepadaku bahwa aku dapat mengalahkan Krampus?" tanya Jack. Dia meletakkan telunjuknya di hati Jamie.

Hening sejenak. Jamie menatap ragu kepada Jack, lalu dia menyentuh hatinya sendiri. "Yeah, kurasa kamu benar. Bodoh sekali aku sampai melupakan apa yang kukatakan sendiri." Dengan berat hati dia pun memutuskan untuk mengikuti temannya menaiki salah satu rusa.

Setelah anak-anak pergi menjauh dari mereka, tinggallah para pelindung di sana. Mereka mempersiapkan segala senjata dan kemampuan mereka untuk bertarung melawan Krampus dan Pitch. Mereka tahu bahwa pertempuran ini akan mengakhiri segala kekacauan yang telah terjadi selama empat hari terakhir.

"Aku mau ikut bersama kalian," kata Peter tiba-tiba. Dia berdiri menghalangi rusa yang ditunggangi North.

"Aku yang telah lama sekali mengenal Krampus memiliki pengetahuan yang lebih unggul dari kalian semua. Aku tidak akan menghambat kalian," tambah Peter bersikeras. Bola mata emasnya terbakar oleh keyakinan yang kuat, menghancurkan keraguan North.

North menghela napas pendek. "Baiklah, aku mengalah," sahutnya.

Mereka semua menengadah ke langit merah, fokus pada sesuatu berukuran raksasa yang berjalan perlahan menarik setiap lapisan awan hitam di dekatnya. Sesekali terdengar bunyi gemuruh dan cahaya putih yang menyilaukan dari balik awan itu.

"Apa kalian sudah siap, teman-teman?" tanya Jack.

North, Tooth, Sandy, dan Bunnymund mengangguk mantap, sedangkan Peter tidak memberi respon apa-apa. Kedua rusa itu menendang udara dengan kakinya, berlari lurus, dan tidak lama kemudian kaki mereka terlepas dari tanah, melayang di udara. Mereka yang dapat terbang mengikuti rusa itu.

Tidak mengulur waktu, Bunnymund langsung melempar tiga butir telur Paskah-nya ke hadapan Krampus. Telur itu meledak, menimbulkan asap berwarna-warni. Pitch terkejut. Langkah Krampus terhenti seketika. Mereka berdua menoleh kepada para pelindung yang telah menghadang di belakang mereka.

Tanpa berkata-kata, Pitch menarik tangan kanannya seolah ada sebuah busur yang di sana. Pasir hitam membentuk sebuah panah. Ketika panah itu terlepas dari tangannya, panah itu melipatgandakan dirinya menjadi ribuan panah, melesat kencang ke arah para pelindung.

Sandy membentuk banyak ikan terbang untuk melindungi teman-temannya. Ikan terbang itu menghancurkan tiap panah dengan kibasan ekornya. Mereka meniupkan gelombang udara, memanggil angin untuk membelokkan arah panah itu, berbalik kepada Pitch dan Krampus. Tetapi terdapat dinding pasir yang melindungi mereka berdua. Beberapa ikan terbang tumbang tertusuk puluhan panah yang menancap di tubuhnya yang berwarna emas berkilau. Sandy mencambuk ratusan panah dengan ayunan cemetinya, namun rasanya serangan itu tidak ada ujungnya.

Langit meledak ke dalam kekacauan.

Pitch tidak menyerah begitu saja. Seperti dugaan para pelindung, Pitch bukanlah Pitch tanpa pasukan Nightmare kebanggaannya. Dinding pasir hitam yang melindungi Pitch menembakkan pasukan kuda hitam. Kuda-kuda hitam itu mengingik keras, mengangkat tinggi kedua kaki depannya, menendang udara secara serempak.

"Serahkan pasukan itu kepadaku!" sahut Bunnymund. Dia menyuruh rusanya untuk melaju ke depan. Rusa itu menjulurkan tanduknya yang tajam ke beberapa kuda di depannya, merobek tubuh si kuda dengan brutal. Bunnymund membantunya dengan melempar bumerang. Bumerang itu berputar-putar tanpa henti dan menebas semua kuda yang bersentuhan dengannya.

"Aku akan membantu Bunny. Kuserahkan Pitch dan Krampus kepada kalian," kata Tooth kepada North, Jack, dan Peter yang berdiri di dekatnya. Dia pun terbang bagaikan pesawat, membelah setiap kuda yang menghalangi lajunya.

Bunnymund dan Tooth membuka jalan untuk dilalui North, Jack, dan Peter. Begitu terdapat celah, mereka bertiga dengan kecepatan tinggi melaluinya dengan bebas.

Jack mengacungkan tongkat sihirnya, menembakkan banyak petir biru pada dinding pelindung Pitch dan Krampus. Pertahanan dinding itu sungguh tebal. Tidak mudah bagi Jack untuk menghancurkannya hanya dengan beberapa serangan. Peter memperkuat serangan Jack dengan melemparkan bola-bola api dari tangan kosongnya. Jack tidak tahu bahwa ternyata Peter dapat menggunakan sihir apinya tanpa trisulanya.

Terdengar bunyi ledakan keras ketika semburan api dan es bertabrakan dengan dinding pasir hitam. Timbul lubang-lubang kecil di sana. Tampaknya serangan kombinasi itu cukup berhasil menembus pertahanan dinding Pitch.

"Kalian tidak akan mampu mengalahkanku!" teriak Pitch dari balik dinding.

"Oh yeah? Akan kubuktikan kalau kau terlalu percaya diri, Pitch!" sahut Jack. Jack berteriak sambil mengerahkan kekuatan terbesarnya. Semburan sinar es dari tongkatnya membesar. Bunga-bunga es melapisi dinding itu, semakin lama semakin menyebar, dan beberapa menit kemudian seluruh permukaan dinding telah dikuasai oleh es yang mengilat.

Cukup bagi Peter untuk melempar sebuah bola api ke arah dinding es itu. Dan hancurlah dinding yang melindungi Pitch dan Krampus menjadi serpihan-serpihan es.

Kembali Jack meluncurkan sihirnya kepada Pitch. Petir menyambar-nyambar, gerakannya begitu liar saat keluar dari ujung tongkat sihir Jack. Pasir hitam berputar di bawah jubah Pitch. Dengan bantuan pasir hitamnya, Pitch meluncur bagaikan seseorang yang menenggelamkan diri ke dalam kolam yang dipenuhi air. Dan begitu mudahnya bagi Pitch untuk menahan kilatan petir itu dengan kedua telapak tangannya.

Mereka saling beradu daya tahan, tetapi sayangnya Pitch yang telah bertambah kuat dapat mengungguli Jack. "Terlalu percaya diri katamu? Kau sendiri yang terlalu angkuh, Frost!" Dia menembakkan misil pasir hitam kepada Jack.

Jack terpental, tongkat sihirnya terlepas dari genggamannya. Dia berusaha keras untuk menangkap tongkatnya saat terjatuh ke udara, tetapi benda itu menghilang dari jangkauannya entah ke mana. Peter segera menarik tudung jaket Jack sebelum tubuh Jack terembas ke daratan.

North melaju mendekati Pitch dengan rusanya. Dia menggunakan kedua pedang di tangannya. Pitch memunculkan sabit besar dari balik kegelapan. Dari bentuknya saja, sudah sangat jelas bahwa senjata itu digunakan untuk mematikan siapa saja yang tertusuk olehnya. Jarak di antara North dan Pitch menyempit. Suasana menegang, seakan-akan udara di sekeliling mereka memberi tekanan besar pada hasrat untuk membunuh lawan bertarungnya.

North mengayunkan pedang kanannya secara horisontal ke leher Pitch. Pitch memblokirnya dengan tameng pasir hitamnya. Terdapat percikan saat keduanya berbenturan dan wajah mereka menyala untuk sesaat.

Kedua pedang metal North bergesekan dengan sabit Pitch, menimbulkan bunyi dentang yang nyaring. Jeda antar serangan mereka berdua semakin berkurang, mereka saling menyerang dan memblokir dalam kecepatan yang menakjubkan.

Sudah sangat lama sejak mereka berdua bertarung sengit seperti ini. Oleh karena itu, mereka mengenal setiap trik dan gerakan yang akan digunakan oleh pihak lawan. North mengerahkan serangan combo: tebasan pedang sebanyak tujuh belas kali ke setiap area vital pada Pitch. Pitch telah mengantisipasi serangan terbaik North itu, dia kembali memblokirnya satu per satu dengan tingkat keakuratan yang tinggi.

Tetapi Pitch tidak tahu bahwa pola serangan seseorang dapat berubah seiring berlalunya waktu. Dia tidak mengira bahwa North akan meluncurkan serangan kedelapan belas. Sabitnya terpental ketika pedang North menggores tangannya. North tidak membuang kesempatan emas ketika terdapat celah yang terbuka pada Pitch. Dia pun segera menebas kedua pedangnya dengan cepat.

Tiba-tiba sesuatu yang panjang menampar rusa tunggangannya, membuat North terlepas darinya. Pada detik berikutnya, North mendapati dirinya telah terlilit oleh tentakel berbulu hitam lebat, yang tidak lain adalah milik Krampus. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari ikatan itu, tetapi usahanya malah menyebabkan Krampus semakin erat melilitnya.

"Sedih bagiku untuk memberi tahu ini kepadamu, tetapi aku harus mengatakan bahwa kalian telah gagal menjalankan kewajiban kalian untuk melindungi anak-anak," kata Pitch sambil tersenyum sinis.

"Tidak," sanggah North. "Apa kau lupa bahwa masih ada teman-temanku yang dapat menolongku?"

"Jangan berharap terlalu tinggi, North, atau kau akan kecewa." Dia mengangkat tangannya, memberi aba-aba kepada Krampus untuk mengangkat beberapa tentakelnya. North terkejut melihat Jack, Peter, Tooth, Bunnymund, dan Sandy yang telah terikat oleh tentakel Krampus sama seperti dirinya. Mereka berlima meronta-ronta, berusaha untuk membebaskan diri.

"Maafkan aku, North. Aku tertangkap karena lengah," kata Tooth.

"Yuck. Tentakel ini menjijikkan sekali. Lendirnya menempel di bulu-buluku!" kata Bunnymund, membersihkan cairan lengket di tangannya.

Pitch kembali mendarat di kepala sang monster. Dia memandang rendah kepada para pelindung yang tertangkap seraya berkata, "akhirnya! Aku telah menanti saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana Big Four tidak berdaya di hadapanku!" Dia tertawa sangat puas, tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya saat mengetahui bahwa kemenangan telah berhasil diraihnya.

"Yang benar adalah Big Five, bukan Big Four," celetuk Jack, menghentikan tawa sang Nightmare King.

Dia melirik kepada sang roh musim dingin. "Oops, maafkan kebiasaan lamaku, Frost. Tetapi sungguh, bagiku kau tidak cocok untuk termasuk di dalam kelompok pecundang itu," katanya dengan nada persuasif. Jari-jemarinya yang panjang saling bertautan di depan dadanya. "Apa kau masih meragukan kemampuanku, Jack? Aku telah membuktikan kepadamu bahwa aku jauh lebih kuat daripada teman-temanmu ini. Bodoh sekali kau menolak tawaranku yang sangat menjanjikan."

Jack tidak berkomentar apa-apa. Dia terlalu lelah untuk berargumen dengan Pitch. Dia memberikan tatapan tajam kepada Pitch. Pitch membalasnya dengan menyeringai.

"Jadi, sebelum aku membunuh kalian, izinkan aku untuk memberi tahu apa rencana terbesarku kepada kalian semua," sambung Pitch. "Akan jauh lebih menyenangkan bagiku untuk melihat kalian semua mati dalam penyesalan karena telah gagal menjalankan tugas kalian sebagai pelindung."

Dia menjentikkan jarinya. Sepuluh mata Krampus membesar, seakan-akan bola mata itu akan keluar dari tempatnya. Gumpalan awan hitam yang membentuk tubuhnya mulai berputar. Muncul lubang besar pada bagian pusat tubuh monster itu. Di sana terdapat jiwa anak-anak yang telah dimakannya. Jiwa-jiwa itu begitu pucat dan muram seperti bulan di langit siang. Mereka menggeliat seperti seekor belatung sambil berteriak nyaring melengking.

"Kalian lihat jiwa-jiwa malang ini? Aku akan menenggelamkan mereka ke dalam mimpi buruk yang tiada akhir. Lambat laun tapi pasti, mereka akan berubah menjadi Fearling."

Dia menoleh kepada Peter yang terletak paling dekat dengannya. Tentakel Krampus yang mengikat anak itu tertarik mendekati Pitch. Sekarang Pitch dan Peter saling beradu pandang dalam jarak yang sempit.

"Peter, oh Peter. Kalau saja sejak dulu kau menyerahkan dirimu kepada Krampus, kau tidak akan terlihat begitu menyedihkan seperti saat ini. Kau akan terlahir menjadi Fearling-ku yang terkuat. Sayang sekali kau sangat keras kepala. Tetapi biarlah, toh aku sudah tidak memerlukan kau lagi," kata Pitch dingin.

Krampus melempar Peter jauh-jauh. Tubuh anak itu berputar lemas di udara. Dia tidak dapat mengelak ketika Krampus menusuk perutnya dengan duri-duri yang dimunculkannya di satu tentakelnya itu.

"PETER!" North berteriak spontan. "PETER!"

Tetapi duri yang tajam itu ternyata menembus tubuh Peter dengan mudah seperti menembus udara.

Jack dan North terbelalak mendapati tubuh Peter yang menjadi tembus pandang. Sang empunya tubuh transparan itu memperhatikan kedua telapak tangannya yang mulai menipis.

"Jadi, efeknya sudah mulai timbul," ucap Pitch santai.

Jack menganga lebar. "Peter, tubuhmu-"

"Aku tahu. Ini adalah konsekuensi yang harus aku terima jika tidak ada lagi roh Krampus di dalam tubuhku," potong Peter. Dia memasang wajah pasrah.

"Apa maksudmu?" tanya North. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya.

Hening sejenak.

"Aku… sudah lama… mati," jawab Peter terbata-bata. "Dad melihat sendiri bagaimana aku mati, bukan?"

Sekejap otak North memutar balik memori yang tidak menyenangkan itu. Tepatnya saat malam perayaan Natal di mana North menemukan Peter membakar kado-kado yang telah dibagikan kepada anak-anak. Itu adalah sebuah kejadian yang memisahkan dia dengan Peter. Pitch membunuh Peter di depan mata North. Tetapi dia sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu Peter sebenarnya telah tiada. Lalu siapa yang ada di hadapannya sekarang jika itu bukanlah Peter?

"Tidak, tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Bagaimana dengan janji kita berdua untuk kembali berkumpul sebagai sebuah keluarga?" tolak North. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kurasa… aku tidak dapat menepatinya, Dad, walaupun aku benar-benar menginginkannya," jawab Peter sedih.

"Akhirnya sadar juga kau, Peter. Kenyataannya memang kau yang membutuhkan Krampus, bukan sebaliknya. Tanpa Krampus, kau tidaklah lebih dari sekedar roh yang menunggu kematian datang menjemputmu," cemooh Pitch.

Kematian? tanya Peter dalam hati. Dia sudah mati, lantas apa artinya kematian baginya sekarang? Dia tidak takut dengan kematian. Dia telah merasakan hal yang lebih menakutkan dari kematian. Dia telah jatuh ke dalam kegelapan akibat terhasut oleh Pitch, dia telah menghancurkan perayaan Natal, dia telah mengkhianati ayahnya, dia telah memperalat Jack, dan terlebih dari itu, dia telah menculik jiwa anak-anak yang tidak bersalah dan sekarang mereka semua telah dimakan oleh Krampus. Dia lebih takut apabila dia tidak mampu memperbaiki semua kebodohan yang telah diperbuatnya. Apapun rela dia berikan demi menebus kesalahan-kesalahannya, meskipun berarti dia harus mengorbankan nyawanya.

"Jack Frost," panggil Peter. "Kau ingat dengan pohon Natal di desamu dulu? Temuilah adikmu di sana."

"Eh?" tanya Jack keheranan.

Tidak menunggu respon Jack selanjutnya, Peter segera memanggil North. North mengangkat wajahnya dengan berat. Dia memperhatikan Peter yang melayang beberapa meter darinya.

"Terima kasih banyak atas semua kasih sayang yang telah Dad berikan untukku. Maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi seorang anak yang baik," katanya parau. Lalu dia memberikan senyuman paling tulus kepada North.

Jantung North seakan terasa berhenti beberapa saat ketika dia melihat senyuman itu. Seolah-olah itu adalah senyuman terakhir yang Peter berikan untukknya. "Apa yang akan kamu lakukan, Peter?" tanya North.

"Selamat tinggal, Dad."

Peter meluncur cepat menuju pusat Krampus sebelum North sempat mengatakan apa-apa lagi. Dia berteriak kencang dan sekejap tubuhnya bersinar merah terang menyilaukan. Api yang berkobar membungkus sekujur tubuhnya.

"BERHENTI, PETER!" teriak North.

Pitch terkejut melihat Peter terbang dengan kecepatan tinggi mendekatinya. Dia menembakkan kabut hitam secara beruntun kepada Peter. Kumpulan kabut hitam itu hancur begitu bertabrakan dengan lapisan api di sekeliling tubuh Peter. Krampus menebas Peter dengan tentakel-tentakelnya, namun semua serangan itu menembus tubuh Peter dengan bebas.

Dan tidak lama kemudian, Peter telah berada di ujung pusat Krampus. Dia berkata dengan lantang, "Krampus, kita sudah hidup bersama selama lebih dari tiga ratus tahun. Dan ini adalah saatnya kita juga mati bersama-sama!"

"TIDAAAKKK!" jerit Pitch.

Peter memejamkan mata, membiarkan tubuhnya meluncur menembus pusaran jiwa anak-anak yang terperangkap di dalam tubuh Krampus. Seberkas cahaya lembut keemasan meledak di dalam jantung si monster. Nyala api panjang, tipis, merambat ke setiap bagian tubuh Krampus, tali api itu membelit si monster. Krampus mengaum kesakitan, dia berusaha untuk membuang Peter dari dalam jantungnya. Dia tidak dapat berhenti menggeliat, tidak sengaja dia melepaskan para pelindung dari ikatan tentakelnya. Dia menusukkan puluhan tentakelnya ke dalam jantungnya, dan dalam waktu bersamaan tentakel itu terbakar, begitu juga dengan bagian kepalanya. Sepuluh bola matanya bergerak ke berbagai penjuru dengan berantakan. Kemudian, tubuh monster itu menggelembung seolah-olah ingin memuntahkan segala di dalamnya. Bunyi ledakan yang dahsyat seperti suara meriam mengiringi hancurnya si monster menjadi ribuan bola cahaya yang menghiasi langit malam bagaikan kembang api.

Para pelindung terpental karena ledakan itu. Angin kencang menyapu mereka. Sandy bergerak cepat untuk menangkap teman-temannya dengan pasir ajaibnya. Dia membentuk bola pasir besar seperti sebuah cangkang untuk melindungi mereka semua dari tiupan angin.

Beberapa menit kemudian, hiruk pikuk pertempuran padam. Segalanya sunyi senyap. Sandy membuka lapisan cangkang pasirnya dengan perlahan dan mendaratkan teman-temannya di tanah.

Tidak menunggu lama, Jack berlari untuk mencari lokasi di mana dia dapat melihat langit dengan lebih jelas. Langit malam telah kembali menjadi kelam, tidak lagi berwarna merah. Ratusan jiwa anak-anak meluncur di langit seperti komet. Mereka kembali ke tubuh mereka masing-masing. Sebuah kelompok jiwa yang besar tampak terbang secara serempak menuju Kota Burgess. Tidak lama kemudian, jiwa-jiwa itu menghilang dari pandangannya. Dia tidak dapat menemukan tanda-tanda kehidupan Peter maupun Pitch di sana. Turunlah hujan di lereng itu, bukan hujan air, melainkan hujan bola-bola cahaya remang seperti kunang-kunang. Begitu indah dan entah mengapa terasa menyedihkan.

Sebuah bola cahaya jatuh di telapak tangan Jack, melayang berkelap-kelip untuk beberapa detik. Dia memandanginya dalam-dalam ketika secara berangsur cahaya padanya memudar dan akhirnya padam untuk selamanya.