Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Marriage Simulation © Haruno Aoi
Rated: T – M
Setting: AU
Warning: mungkin sangat OOC, mungkin masih ada TYPO atau MISSTYPO
Kurs yang saya gunakan: ¥ 1 = Rp. 100
Langsung saja…
Silahkan membaca…
.
.
.
Yo, teman-teman, saya kembali dengan fic yang hampir jadi fosil ini *lebay* karena masih ada yang minta dilanjutin. Sebenarnya saya juga tidak mau kalau fic ini discontinued sih, hehe. Kaget sendiri lihat tanggal apdetan terakhir fic ini—setahun yang lalu! Mungkin sudah banyak yang lupa sama fic ini, ya? Meski saya sempat malas melanjutkan fic ini karena menemukan banyak sekali kesalahan di chapter-chapter lalu—juga sempat hilang rasa (?) sama SasuHina—saya tetap mencintai fic yang sebenarnya ringan ini, haha. Terima kasih banyak untuk pembaca dan pereview sampai chapter sebelumnya…
.
.
.
Sebelumnya di Marriage Simulation…
Langkah Sasuke dan Hinata terhenti seketika tatkala ratusan selebaran berjatuhan di sekitar mereka. Keduanya sama-sama terbelalak seusai membaca baris pertama dari kumpulan kata yang tercetak pada kertas putih tersebut. Sejenak, mereka seolah tak berpijak pada bumi dan setelahnya jantung mereka berpacu cepat, diikuti napas yang terasa berat dan tangan yang gemetaran. Rasa takut dan cemas menyergap mereka karena hampir semua individu yang berada di ruangan itu telah memegang lembaran kertas yang sama.
Hening untuk beberapa saat hingga suara bisikan yang bersahutan memenuhi udara. Kini semua pandangan menusuk mengarah pada Sasuke dan Hinata yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Jadi, waktu itu kau bilang tidak siap menjadi ayah karena kau akan segera bercerai?"
Suara Naruto mengembalikan Hinata dan Sasuke pada alam nyatanya.
"Setelah semua harta kakekmu berpindah ke tanganmu, kau akan menceraikan istrimu yang sedang hamil? Berarti benar kalau kau menikah karena warisan? Karena kakekmu mensyaratkannya?"
Dengan mata memerah Sasuke hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanpa berani melihat ke arah Hinata yang masih bungkam.
.
.
.
*[ Marriage Simulation ]*
.
.
.
Naruto terhuyung begitu wajahnya dihujam bogem Sasuke. Refleks ia mengusap pipi kirinya yang terasa berdenyut. Ia beruntung jika rahangnya tidak bergeser.
Sakura mendekat untuk membantunya mengembalikan keseimbangan. Namun ia tahu kalau Sakura tengah sekuat tenaga menahan kekesalan padanya. Karena itu Sakura tidak turut serta menghajarnya. Keadaan sudah sangat keruh dengan turunnya selebaran yang merupakan kopian surat perjanjian kerja sama antara Sasuke dan Hinata. Dan ia malah memperkeruh situasi yang berlaku.
Naruto hanya tak ingin percaya bahwa sahabatnya menggunakan perjanjian dalam pernikahan.
Sasuke masih menatap Naruto dengan nyalang. Kedua tangannya terkepal erat. Ia pun berusaha keras untuk tidak meluapkan amarahnya lagi. Ia merasa kecewa. Sebagai sahabat, seharusnya Naruto bisa menjaga perasaannya, terlebih Hinata. Ia sudah tidak peduli dengan pelaku penyebaran surat yang semestinya sudah ia lenyapkan itu, maupun tanggapan orang lain setelah mengetahuinya. Yang kini ia cemaskan adalah perasaan Hinata. Ia bahkan belum berani untuk sekadar melirik ekspresi Hinata yang masih terpaku di sampingnya.
"Ternyata dia bukan cuma seorang anak yang tidak sah, tapi juga tidak bermoral."
"Justru karena dia anak haram, jadi tidak aneh kalau moralnya bejat."
Ruangan makin dipenuhi desas-desus hadirin. Ingin sekali Sasuke menutup kedua telinga Hinata agar tidak ada suara miring para kerabat yang terdengar. Bahkan ia nyaris jadi pengecut yang hendak berbalik pergi begitu cibiran tertangkap indra pendengarnya sejak ia mengajak Hinata memasuki aula. Ia tidak akan menghiraukan bila ia datang seorang diri. Ia teramat sering mendengarnya. Jadi ia sudah kebal dengan semua itu.
"Mungkin wanita murahan itu pura-pura hamil supaya tidak jadi diceraikan."
"Memang sayang kan kalau menyia-nyiakan seorang ahli waris tunggal dari seluruh kekayaan Tuan Izuna…"
"Sungguh menggiurkan gaji bulanan yang didapatkannya."
"Aku tidak heran dia bisa membayar sebanyak itu, atau bahkan melebihinya. Lihat saja betapa menjamurnya Tobi's Market."
"Ya, pasti tidak sulit untuk menyelewengkan sedikit dari laba perusahaan ritel milik kakeknya."
"… Atau jangan-jangan istri sementaranya itu malah mengandung bayi pria lain, lantas—"
"TUTUP MULUT SAMPAH KALIAN!" Sasuke geram. Mendengar Hinata dilibatkan, tanpa sadar ia mengeraskan suaranya di hadapan mereka yang katanya berasal dari kalangan terhormat. Suatu perbuatan yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
"Aku pasti sudah memecat Sasuke kalau dia terbukti korupsi dan membiarkannya mati kelaparan!" timpal Tuan Izuna. "Kalian pikir gampang menjadi tikus di perusahaanku?!" Tatapan tajamnya mengarah pada suara sumbang berasal. Mereka yang merasa bersalah tampak mengkeret dan menundukkan pandangan. "Biadab!"
Suasana mendadak sunyi. Sebelah tangan Sasuke meraih tangan Hinata. Ia menggenggam lembut jemari kurus yang saat itu terasa dingin dan sedikit gemetar.
"Maaf, Sai…" ucapnya lirih. Lebih baik ia memang tidak datang jika ternyata hanya merusak pernikahan Sai dan Yakumo. Kakak angkatnya itu masih bungkam. Entah apa yang dipikirkan Sai dan semua teman Hinata setelah mengetahui segalanya. Seharusnya Hinata memang tidak pernah terlibat. Ia pun menuntun Hinata menuju pintu keluar.
Kedua mempelai terlihat akan menahan langkah mereka, namun dihalangi oleh para kerabat.
Dalam perjalanannya, Sasuke sempat bertemu pandang dengan Itachi di kejauhan. Pria itu tetap minim ekspresi seperti biasanya. Mengapa tidak ada senyum mengejek di wajah Itachi? Padahal dengan begitu semakin lengkap rasa sakit yang mencabik hatinya.
Sekelebat warna merah juga tertangkap penglihatannya di tengah para tamu yang kebanyakan berambut gelap. Dari awal ia sudah menduganya. Memangnya siapa lagi yang pernah masuk kamarnya di apartemen selain Hinata dan wanita itu?
"Otousama…!"
Sasuke terhenti begitu mendengar jeritan ibunya. Ia berbalik dan seketika melepaskan tautan tangannya dengan Hinata saat melihat kakeknya ambruk. Suara berbisik-bisik makin kerap terdengar. Tanpa banyak pertimbangan ia menghampiri kakeknya dan menggendong beliau di punggungnya untuk dibawa ke rumah sakit. Ia sangat takut. Ia tidak mau kehilangan seseorang yang bisa menerima kehadirannya dengan sepenuh hati—selain ayah dan ibunya sendiri—di saat semua orang memandangnya dengan sebelah mata, atau malah tidak sudi melihatnya.
Selama Sasuke menggendong kakeknya ke mobil, Mikoto menggandeng Hinata, diikuti oleh Fugaku yang turut merasa khawatir. Sai hampir putus asa akan pernikahannya, sampai Mikoto meminta Fugaku untuk kembali. Malahan ia sempat berpikir untuk membatalkan upacara hari ini.
"Mungkin lebih baik kalau kita mengundur pernikahan kita," ujar Yakumo.
Sai membalas senyum calon istrinya. Ia memang tidak bisa terpaksa berbahagia di atas duka saudaranya. Ia lalu meminta ayahnya untuk membantunya memberikan pengertian kepada keluarga Kurama sekaligus para kerabatnya.
.
.
.
Hinata terus menggenggam telapak lebar Sasuke selama duduk di kursi tunggu rumah sakit. Mereka belum diperbolehkan melihat keadaan sang kakek. Sementara Mikoto masih berada di ruangan dokter untuk membicarakan kondisi Tuan Tobi—yang sebenarnya terlahir dengan nama Uchiha Izuna.
Sasuke tersenyum sedikit pada Hinata. Ia tidak mau Hinata makin mencemaskan dirinya yang sedari tadi belum bisa merasa tenang. Ia pun tidak ingin hal itu menambah beban pikiran Hinata. Ia tahu kalau Hinata menahan tangis sejak mendengar cemoohan orang-orang berperangai buruk itu. Sebab, menangis di depan mereka bisa diartikan sebagai kekalahan. Dan sampai kapanpun ia tidak akan memaafkan mereka andaikata setetes saja air mata Hinata turun karenanya. Kecuali jika mereka mengaku menyesal dan memohon maaf secara langsung kepada Hinata.
Melihat balasan senyum untuknya, ia merangkul pundak Hinata dan mendekap tubuh mungil itu. Tidak ketinggalan kecupan singkat di pucuk kepala Hinata.
"Jangan pedulikan omong kosong mereka," bisik Sasuke.
Semenjak tadi Hinata memang menunggu suara Sasuke. Sekarang ia mulai merasa lega karena Sasuke tidak membisu lagi. Ia mengangguk mantap dan menyunggingkan senyum lainnya.
"Aku tahu Sasuppyon percaya padaku," guraunya diikuti tawa pelan. Kali ini Sasuke tidak marah dipanggilnya demikian, hanya memberinya cubitan pelan di hidungnya.
"Ah!" Tiba-tiba Sasuke memekik sembari mengelus sebelah pahanya yang terasa panas akibat cubitan. Agaknya perbuatan ibunya yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatnya. "Aku kira Okaan akan menamparku," katanya yang lumayan gentar melihat tampang dingin sang ibu.
Mikoto menghempaskan tubuhnya di sebelah Sasuke. "Akan ku lakukan saat kau benar-benar menceraikan Hinata," ujarnya serius. "Jika hal itu sampai terjadi, aku tidak sudi kau panggil ibu. Aku melahirkan dan membesarkanmu bukan untuk melihatmu mempermainkan perasaan perempuan."
"Aku mengerti, Okaan," balas Sasuke dengan penuh kesopanan, "karena ibuku juga seorang perempuan."
Mikoto tersenyum lembut. Tetapi, sepasang matanya yang berembun tidak bisa disembunyikannya.
"Apa yang dikatakan dokter?"
"Kakekmu akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap biasa." Bahkan suara Mikoto terdengar bergetar. "Jadi, jangan khawatir. Setelah ini, pulanglah. Istrimu juga harus beristirahat…"
"Baiklah," ujar Sasuke, "tapi aku akan kembali ke sini untuk menemani Okaan setelah mandi dan ganti pakaian." Ia memang tidak tahan bila berlama-lama mengenakan pakaian tradisional. "Mungkin Okaan mau dibawakan pakaian ganti?"
"Tidak perlu. Aku sudah minta housekeeper untuk mengantarkannya kemari…"
Sasuke hanya menggumam paham sebagai balasan.
Tanpa peringatan, Mikoto beringsut memeluk Sasuke. Ia bisa merasakan kalau Sasuke sempat terkejut. Namun setelah itu lengan kekar melingkari punggungnya saat air matanya mengucur deras.
"Sakit sekali mendengar mereka berkata buruk mengenai kalian…" isaknya, "—terlebih saat mereka mencibirmu…"
Hinata menyembunyikan wajahnya di balik pundak Sasuke tatkala air matanya turut mengalir. Dibandingkan omongan jahat tentangnya, ia lebih sakit hati dikarenakan cemoohan yang ditujukan kepada suaminya.
"Kenapa bukan aku?"
Sangat tidak adil jika hanya Sasuke yang selalu menerima sindiran dan tatapan sinis kerabatnya. Bahkan, sejak belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk, Sasuke sudah dihadapkan dengan penolakan dari klan Uchiha. Sasuke harus sembunyi-sembunyi bila ingin memanggil ayahnya sebagaimana mestinya. Pun Sasuke yang senantiasa disalahkan dan dibenci oleh kakak sedarahnya; Itachi. Sasuke pula yang dihujat oleh kakek dan nenek dari pihak ayahnya.
"Kenapa selalu putraku? Padahal aku yang salah—aku yang berdosa…"
"Sudahlah, Mom," lirih Sasuke di telinga Mikoto. "Aku tidak apa-apa."
Mikoto jadi terisak bercampur tawa di dada Sasuke. "Sudah lama aku tidak mendengarmu memanggilku seperti itu. Aneh rasanya…"
"Sepertinya belum terlalu lama," sahut Sasuke. "Aku kan berhenti memanggil begitu sejak pulang ke sini."
"Hampir separuh usiamu sekarang, lho…"
Sekali lagi Sasuke mendekap Mikoto dengan begitu erat sebelum meraih Hinata dalam rangkulannya.
"Lihatlah, Okaan membuat Hinata menangis juga," kelakarnya seraya meraih kedua telapak tangan yang menutupi wajah Hinata. Ia harus menahan tawa melihat wajah basah Hinata yang memberengut karenanya, bercampur malu lantaran Mikoto juga tertawa pelan.
"Aku minta maaf pada kalian…" ucap Mikoto sesaat setelah mendapati wajah Hinata yang memerah gara-gara digoda oleh Sasuke.
"Aku malah berterimakasih pada Okaan karena bersedia melahirkanku," lirih Sasuke tanpa sanggup menoleh ke arah Mikoto yang mungkin meneteskan air mata lagi meski kini menampilkan senyum. Ibunya bukanlah wanita yang mudah menangis di depannya. Pasti Mikoto sudah tidak mampu berpura-pura kuat ketika hatinya sangat terluka.
"Saya juga sangat berterimakasih pada Okaasan karena mengizinkan Sasuke-kun hadir dalam hidup saya," ungkap Hinata malu-malu. Sesekali ia beranikan untuk menatap kedua mata Sasuke yang memandangnya lurus. "Dan saya jadi punya ibu dan kakek lagi…"
Mikoto berpindah ke sisi Hinata kala tangisan menantunya itu kembali pecah. Ia lalu memeluk Hinata untuk menyalurkan ketenangan.
Dan Sasuke harus bersabar menyaksikan kedua wanita itu bertangisan selama ia belum boleh memasuki ruangan kakeknya. Bukan berarti ibu dan istrinya itu ingin terlihat lemah dengan menangis di hadapannya. Ia tahu hal itu mengindikasikan bahwa setelah ini semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
Sasuke meninggalkan Hinata di kediaman Hyuuga selama ia harus bolak-balik ke rumah sakit. Saat ia memutuskan kembali ke rumah sakit seusai makan siang, hanya ada ayah mertuanya yang akan menemani Hinata. Neji memang bekerja di rumah sakit semenjak kondisi kesehatan Hiashi membaik. Dan seorang Hiashi yang sehat sudah lebih dari cukup untuk menjadi bodyguard Hinata serta calon bayi kembarnya semasa ia jarang pulang. Terlebih jika ditambah dengan Neji yang pernah menjadi anggota klub judo semasih SMA dulu.
Hinata terbangun di sore hari setelah tidur siang yang panjang. Sasuke memang menyuruhnya untuk beristirahat. Dan terbukti kalau badan dan pikirannya membutuhkan pelepasan lelah.
Hinata membawa langkahnya menuju kamar mandi sebelum menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Ia membersihkan dirinya terlebih dulu agar merasa lebih segar. Setelah itu ia mengirimkan pesan kepada Sasuke sebagai pengingat makan.
Dalam perjalanannya ke dapur, ia terhenti di depan pintu ruang tengah yang terbuka sedikit lantaran mendengar suara perempuan. Dari celah pintu, ia melihat ada Tenten di tengah acara minum teh sore yang kerap dilakukan oleh ayah dan kakak laki-lakinya dalam keadaan senggang. Berarti Neji juga pulang lebih cepat hari ini. Pelan-pelan ia menggeser pintu itu dan menyunggingkan senyum. Sambutan untuknya tidak kalah hangat.
"Kau terlihat sangat segar," kata Tenten disertai senyum. Calon kakak ipar Hinata itu menepuk tempat di sebelahnya.
Dengan mengulum senyum Hinata duduk bersimpuh di samping Tenten dan larut dalam perbincangan mereka. Ia jadi terlupa akan rencana memasaknya.
"Wah, sayang sekali…" sahut Hinata yang tampak kurang setuju setelah Tenten menjawab ingin bekerja dulu sebelum meresmikan hubungan dengan Neji. "Aku kan ingin segera punya keponakan juga…"
"Yang ada di perutmu saja belum lahir, Nyonya Pyonpyon…" timpal Neji setengah bercanda.
Serta merta Hinata bermuka masam. Hiashi menyikut Neji untuk mengingatkan si sulung Hyuuga itu agar lebih menjaga bicaranya di saat Hinata sedang mengalami mood swing.
"Sadako…" desis Hinata.
Yang dikhawatirkan Hiashi terjadi. Pria paruh baya itu hanya menggeleng pelan sebelum membawa cangkir tehnya meninggalkan ruangan yang mendadak diselimuti rasa tegang itu.
"Sadako? Maksudmu… Neji?"
Ternyata Tenten belum tahu. Hinata tersenyum penuh arti. Inilah kesempatan baginya untuk balas dendam pada kakaknya yang mendadak jail itu. Ia lalu mengangguk yakin. Neji yang terlihat hendak mendahului jawaban Hinata, langsung bungkam begitu mendapati delikan mata Tenten.
"Niisan pernah jadi Sadako waktu festival budaya di SMA."
Neji hanya gelagapan tanpa sebutir kata pun yang terlontar dari mulutnya. Tenten menyeringai penuh kemenangan. Kalau dulu Tenten satu SMA dengan Neji, pasti ia sudah mengabadikan foto 'Sadako' sebanyak-banyaknya.
"Kata Sasuke-kun, waktu itu kelas mereka membuka haunted house karena bunkasai tahun sebelumnya sudah pernah mencoba buka kedai. Kebetulan tahun itu juga belum ada kelas yang berencana membuka rumah hantu. Terus, Niisan terpilih sebagai Sadako karena rambut—"
"Sepertinya si bunny itu lupa menceritakan padamu kalau dia-menggunakan-alasan-hemat-kas-untuk-tidak-membeli-wig," sela Neji yang mendongkol. "Uh—oke, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Sasuke memang selalu menjadi mimpi burukku," gerutunya.
Tenten dan Hinata malah cekikikan melihat tampang bersungut Neji. Mendengar dering telepon, Hinata beranjak ke meja telepon di koridor. Sementara Tenten masih terus menjaili Neji.
"Hai'—Hyuuga desu," jawab Hinata.
"Kau masih berasa jadi gadis?"
Entah mengapa pipi tembam Hinata langsung bersemu merah. "A-ah—Sasuke-kun… a-ano—sekarang kan aku sedang berada di rumah Otousan…"
Terdengar dengusan sebelum suara berat itu kembali membelai telinganya, "Aku baru membaca pesanmu, dan sebentar lagi aku akan makan."
Hinata tersenyum simpul dengan rona di pipi yang lebih kentara. Sasuke meneleponnya hanya untuk mengatakan itu. Berarti Sasuke juga menyimak betul perkataan dokter kandungannya yang menyarankannya untuk menggunakan telepon rumah dibandingkan ponsel selama masa kehamilannya.
"Bagaimana kondisi Ojiisama?" tanyanya.
"Sudah membaik, tapi belum sadar," jawab Sasuke tenang, "—mungkin besok. Dan nanti aku tidak pulang karena Okaan belum mau pulang sebelum Ojiisama sadar. Aku harus menemani Okaan."
"Aku mengerti," balas Hinata, "dan sebenarnya aku juga ingin menemani Ojiisama…"
"Kau pasti ku ajak ke sini kalau Ojiisama sudah sadar."
Hinata tersenyum. "Hai'."
"Kau masak apa?" Agaknya Sasuke belum ingin mengakhiri percakapannya dengan Hinata. Ia pun jadi ingin makan masakan Hinata setelah membaca menu di kantin rumah sakit.
"… Masak… ah—sampai lupa…" desah Hinata sembari melihat jam digital di sebelah pesawat telepon.
"Kenapa?"
"Gara-gara nimbrung di acara minum teh Otousan, aku jadi lupa menyiapkan makan malam…" gumamnya.
"Baka," ledek Sasuke tanpa maksud jahat. "Neji sudah pulang?"
"Sudah, ada Tenten-nee juga." Selang beberapa detik ia tampak lebih sumringah. "Oh ya, 'Sadako' marah…"
Terdengar tawa pelan Sasuke. "Kau apakan dia?"
"Aku cerita ke Tenten-nee tentang Sadako—"
"Bisakah kau berhenti menyebut kata keramat itu?" potong Neji yang tahu-tahu sudah bersedekap di dekatnya. Dahinya makin mengerut melihat Hinata tersenyum lebar. Apalagi saat suara menyebalkan Sasuke terdengar samar-samar.
Neji masih menunjukkan wajah tidak ramah setelah Sasuke menutup sambungan. Dengan senyum mengembang Hinata meletakkan gagang telepon di tempatnya. Ia bergegas ke dapur tanpa memedulikan Neji yang tiba-tiba menjadi lebih sensitif.
"Sudahlah, jangan marah lagi," bisik Tenten yang beringsut memeluk Neji dari belakang. Ia terkekeh melihat ekspresi Neji yang melunak. Itu berarti ia sudah berhasil menaklukkan Neji untuk kesekian kalinya. Ia pun mengecup pundak Neji sebelum menyusul Hinata ke dapur. Tidak lupa kedipan matanya yang menggoda.
Neji hanya bisa menggigit bibir karena entah kapan Tenten baru bersedia melangsungkan pernikahan dengannya.
.
.
.
Seusai sarapan Hinata ikut Tenten ke asrama untuk membereskan barang-barangnya. Tenten yang semalam menginap di rumahnya, bersedia menggantikannya membawakan benda yang berat. Itu sebabnya Sasuke mengizinkannya melakukannya. Meski sejatinya Sasuke ingin membantunya.
Ia memutuskan segera keluar dari asrama mengingat ia sudah menetapkan untuk terminal selama dua semester. Apalagi Tenten dan Temari juga akan mengemasi barang-barang mereka hari ini karena keduanya sudah lulus. Lagipula, kamar asrama mereka akan dibutuhkan oleh para mahasiswa baru.
"Aku sependapat dengan Hinata," timpal Temari selepas Hinata mengatakan bahwa sangat disayangkan keputusan Tenten yang menunda pernikahan dengan Neji. "Bagaimana kalau calon suamimu itu berpaling darimu karena tiba-tiba muncul wanita lain yang bisa menggeser posisimu?"
"Neji-nii setia, kok." Hinata tampak tak terima.
"Kemungkinan itu selalu ada…" sahut Temari tanpa mengalihkan perhatian dari tas kopernya yang mulai ia tutup.
"Jangan samakan Neji dengan mantan kekasihmu." Tenten menjulurkan lidahnya main-main. Melihat Temari melotot, ia mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. Namun, ia tidak tampak menyesal. "Oke, oke—ku doakan ada pangeran berkuncir yang dijatuhkan dari langit untukmu." Ia pun tergelak, seperti suatu virus yang menulari Hinata untuk tertawa juga.
Mendengar pangeran berkuncir, Hinata jadi teringat seorang pria yang batal menjadi suaminya.
Tawa Tenten semakin keras sampai bantal melayang ke wajahnya. Ia masih bisa terkekeh-kekeh setelah itu.
Kegiatan mereka pun terus diselingi senda gurau. Setiap kali keadaan menjadi hening karena kehabisan topik, mereka pasti tergelak bersama sesaat kemudian. Selalu seperti itu, hingga ketiganya duduk berselonjor di lantai dengan saling memunggungi. Namun, tawa Hinata sedikit berbeda dari kedua perempuan yang lebih dewasa itu. Sebab, pikirannya terbagi dengan kondisi kesehatan kakeknya. Untuk saat ini ia hanya bisa mendoakan keselamatan sang kakek.
Selang beberapa menit, belum ada yang mendahului untuk beranjak dari posisi nyaman mereka. Melihat tumpukan kardus-kardus dan koper besar yang siap diangkut, membuat mereka merasa pusing. Mereka masih mengatur napas yang memburu sebelum bangkit dan membawa pulang barang mereka masing-masing. Mereka tidak menggunakan jasa pindah rumah karena Temari menyuruh salah seorang adiknya yang mempunyai mobil besar untuk memberikan tumpangan pada ketiganya.
Tenten dan Temari pindah ke apartemen dekat tempat kerja mereka, sementara Hinata akan menyimpan barang-barang lamanya di kediaman Hyuuga. Mereka pasti akan sangat merindukan kamar sempit mereka, kebersamaan, serta segala kenangan yang terjadi selama menghuni asrama itu.
Temari yang tidak bisa diam, mengangkat topik baru dengan riang, "Adikku yang bungsu bilang kalau istrinya hamil. Berarti keponakanku bertambah…"
"Wah, selamat ya, Nee…" ucap Hinata yang turut merasa senang. Ia mengelus perutnya sendiri. Sepertinya anak kembarnya akan sebaya dengan calon keponakan Temari. Mungkin saja mereka bisa berteman suatu hari nanti.
"Kau sendiri masih jomblo," sahut Tenten yang kembali menabuh genderang perang.
"I'm single and very happy~" balas Temari tanpa beban.
Mereka tidak bisa bersantai lagi setelah adik Temari menggedor pintu depan.
.
.
.
Naruto yang berniat membesuk kakek Izuna, tergopoh-gopoh menghampiri Sasuke dan Hinata yang tengah berbincang di koridor depan ruangan yang ditujunya. Ia meminta Sakura untuk memasuki ruang rawat inap itu terlebih dulu. Sedangkan ia membungkukkan badannya dalam-dalam ke arah Sasuke dan Hinata.
"Gomennasai—hontou ni gomennasai…" ucapnya penuh penyesalan. "Kau boleh meninjuku lagi," ujarnya yang mulai menegakkan badannya. "Rasanya tidak lebih sakit dari bogem Sakura. Lihat saja, aku sampai babak belur begini karena Sakura menghajarku habis-habisan sepulang dari vila keluarga kalian."
"Sekali dobe tetap saja dobe," desis Sasuke.
"Aku sangat menyesal. Tidakkah kalian memaafkanku?"
Hinata yang menggandeng lengan Sasuke hanya tersenyum ramah. Sementara Sasuke mendengus.
"Belum dimaafkan?" Naruto tampak kelabakan. "Hinata? Sasuke?"
"Padahal aku sudah lupa," kata Sasuke datar.
Naruto yang kegirangan spontan memeluk Sasuke. "Kau memang sahabat terbaikku…"
"Oi!" Sasuke harus berusaha keras untuk melepaskan pelukan erat Naruto. Hinata malah tertawa kecil melihat tingkah konyol dua pria itu.
"Kau tahu, pelukan dapat menurunkan tekanan darah, tingkat stres, dan risiko serangan jantung," ungkap Naruto tanpa melepaskan pelukannya, "Sekarang aku sedang stres, makanya aku butuh pelukan. Tidak mungkin kan aku memeluk istrimu…"
Sasuke yang gondok langsung menginjak kaki Naruto. Alhasil Naruto memisahkan dirinya lantaran kesakitan. Tetapi, sesaat kemudian ia menunjukkan ekspresi yang jauh dari jenaka.
"Aku serius, Sasuke," ujar Naruto tanpa senyum cerianya. "Aku butuh teman bicara."
Sasuke tahu kalau Naruto memang tidak bercanda jika sudah memanggil namanya. Hinata yang mengerti langsung memasuki ruangan sang kakek. Sasuke lalu menduduki salah satu kursi tunggu.
Sementara Naruto mengambil tempat di seberang Sasuke. Ia menunggu koridor sepi dari para petugas medis sebelum mengeluarkan suaranya dengan pelan, "Sakura hamil."
Alis Sasuke yang sedikit naik menjadi respon bagi pernyataan Naruto.
"Sekarang aku paham bagaimana perasaanmu saat tahu kalau istrimu hamil," lanjut Naruto. "Awalnya aku mengaku siap—dan memang siap, sih. Tapi, ternyata ada suatu rasa yang membuatku hampir stres…"
Suatu rasa? Sasuke memandang Naruto dengan keheranan.
"Aku tidak bisa menjelaskan secara pasti bagaimana rasanya. Seperti rasa cemas atau takut—takut kalau aku tidak bisa menjadi ayah yang baik. Tapi, dalam waktu yang sama aku juga merasa sangat senang." Ia lalu mengerang sambil meremas rambutnya. "—Entahlah…"
"Aku juga merasakannya di awal-awal." Sasuke menimpali, "Tapi lihatlah sekarang, aku sudah terbiasa…"
"Karena itu, aku merasa sangat bersalah pada kalian. Aku benar-benar lepas kontrol saat itu—karena ku kira kau serius akan menceraikan Hinata. Ku pikir, tega sekali kau jika hal itu sampai terjadi, padahal Hinata sedang mengandung anakmu—"
"Sudahlah, jangan diingat lagi." Sasuke menghela napas melihat Naruto mulai menunjukkan senyum lebarnya. "Jadi, kapan kalian akan menikah?"
Naruto terkekeh. "Untuk apa menikah lagi?"
Sasuke mengernyit. "Lagi?"
"Memangnya kau pikir aku mau kalah darimu? Aku dan Sakura sudah menikah tidak lama setelah kau memberitahuku kalau istrimu hamil. Jadi, kami sudah sah secara hukum dan agama. Gampanglah kalau untuk resepsi. Lagipula orang tua kami sudah tahu."
Kening Sasuke terasa berkedut. "Lantas, untuk apa kau membicarakan ini denganku?" desisnya tajam.
"Tadi kan aku sudah bilang kalau aku ingin melepas stres." Naruto nyengir. "Yah, mungkin bisa dibilang sebagai obrolan sesama calon ayah—"
Naruto langsung tutup mulut sembari menunjukkan gesture memohon ampun saat Sasuke hendak melepas sepatu pantofelnya dibarengi tatapan galak ke arahnya.
.
.
.
Itachi berhasil menemukan pengganda dan penyebar surat perjanjian tempo hari yang memuat nama Sasuke. Ia tidak peduli apakah surat itu asli atau tidak. Yang jelas pelakunya telah mencemarkan nama baik Sasuke.
Ia memang sempat membenci Sasuke yang pernah ia anggap sebagai penyebab kematian ibunya. Namun, semakin dewasa ia paham bahwa perihal mati adalah takdir yang tidak dapat diubah.
Entah mengapa ia dendam mendengar cibiran para kerabatnya terhadap Sasuke. Lebih baik Sasuke memang tidak pernah muncul di tengah agenda keluarga Uchiha daripada terdengar suara minor tentangnya. Itulah salah satu alasan yang membuatnya ingin dibenci oleh Sasuke. Agar Sasuke merasa tidak sudi bertemu dengannya, yang berarti tidak akan datang dalam setiap acara yang diadakan oleh keluarga Uchiha.
Bagaimanapun Sasuke adalah adik laki-laki sedarahnya. Ia dan Sasuke memiliki ayah yang sama. Ia tak sedikit pun merasa senang saat Sasuke mendapatkan penghinaan. Ia pun sakit hati mendengar Sasuke direndahkan sedemikian keji.
Yang membuatnya tidak habis pikir, neneknya yang mendalangi segalanya. Dari menyuruh seorang wanita menyelinap ke apartemen Sasuke, membayar pria tak beradab untuk melakukan pemerkosaan terhadap Hinata, sampai mempermalukan pasangan itu di depan para kerabat. Beruntung Sasuke bisa mengatasi semua itu walaupun sempat termakan sandiwara mereka. Ia sampai tidak mengerti mengapa neneknya begitu membenci Sasuke.
Itu sebabnya ia sekarang menuju ruang pribadi neneknya. Selain menanyakan motif kejahatan wanita tua itu terhadap cucunya sendiri, ia harus menyelesaikan masalah pribadinya. Belakangan ini neneknya juga mulai mencampuri urusan rumah tangganya. Dan ia merasa sangat terganggu akan hal itu.
Begitu membuka pintu berdaun dua itu, segala yang ingin diungkapkannya malah buyar dalam sekejap. Bagaimana bisa istrinya itu ada di sini?! Sedangkan tadi ia meninggalkan istrinya yang tengah terlelap.
"Beraninya kau menggoda cucuku! Dasar wanita jalang!"
Itachi tidak bisa tinggal diam melihat istrinya menerima kekerasan fisik dari neneknya. Ia mendekap tubuh ringkih itu dan berusaha melepaskan jambakan neneknya pada rambut istrinya.
"Aku sudah bilang jangan pernah melibatkannya!"
Tamparan keras mendarat di pipi Itachi. Namun ia sama sekali tak terlihat gentar. Ia melindungi istrinya di belakang punggungnya selama berhadapan dengan neneknya.
"Beraninya kau meninggikan suara di depan wajahku! Kau pikir adikmu yang tidak beradab itu patut dicontoh, hah?!"
Sekali lagi tamparan dilayangkan wanita tua itu. Kali ini mengenai kepala Itachi hingga membuat penglihatan pria itu berkunang-kunang.
"Lagipula aku sudah menyuruhmu untuk memutuskan hubungan dengan wanita itu kalau kau tidak ingin dia terlibat!" sentak sang nenek sambil menunjuk wanita berambut panjang yang masih berlindung di balik Itachi. "Tapi kau malah menikahinya secara diam-diam! Kau pikir kau bisa membodohiku?!"
"Obaasama sendiri yang mengatakan padaku kalau aku harus punya alasan kuat untuk menolak perjodohan itu, dan sekarang aku sudah memilikinya."
Ia adalah pria dua puluh dua tahun yang dipaksa menikahi remaja berusia lima belas tahunan. Seorang gadis belia yang lebih muda tujuh tahun darinya. Sungguh menggelikan.
Wanita berkacamata tebal itu malah menyeringai. "Perjanjian tetaplah perjanjian. Ceraikan dia secepatnya. Kau harus tetap menikahi Konan—kalau kau tidak ingin calon anakmu mati sekarang juga."
Itachi membelalak. Takut-takut ia berbalik setelah melihat suatu isyarat mata neneknya yang sepertinya ditujukan ke arah belakangnya. Ia bahkan tidak sadar kapan orang-orang suruhan neneknya itu menawan istrinya. Ia pun tidak tahu sejak kapan neneknya mengetahui kehamilan istrinya.
Mendekat pun sulit. Semakin ia mencoba mengambil langkah, dua pria itu kian berusaha menjejalkan suatu cairan melalui celah telapak tangan yang membungkam mulut istrinya.
"Munafik!"
Itachi sempat menangkap gerakan tangan neneknya saat meraih stik golf dan diayunkan ke arahnya. Namun sejenak tubuhnya seolah mati rasa. Hingga saat tersadar ia telah terjerembap di lantai. Ia pun terkekeh-kekeh pelan, tak peduli dengan darah yang mengalir di salah satu pelipisnya.
"Apa-apaan ini?!"
Itachi hampir kehilangan kesadaran ketika mendengar suara ayahnya. Kemudian istrinya menghampirinya di saat penglihatannya mulai memburam. Tetapi, suara isakan masih mampu tertanggap pendengarannya.
"Apa Okaasama berusaha membunuh Itachi?!"
Fugaku kalap melihat ibunya yang tampak tak merasa berdosa. Wanita itu pula yang dulu berujar lebih baik mati berdiri daripada melihatnya melangsungkan pernikahan dengan Mikoto yang saat itu tengah mengandung darah dagingnya. Ia memang sudah memiliki seorang istri kala itu. Ia pun sudah dikaruniai Itachi. Namun, ia tidak bisa membohongi perasaannya.
Ia tak jauh berbeda dengan Itachi. Ia pun menikah karena perjodohan konyol yang dibuat kedua orang tuanya dengan sahabat mereka. Ia tak lantas dibiarkan menjalani kehidupan dengan sesuka hatinya. Ia yang merupakan anak tunggal, dipaksa untuk memberikan penerus keluarga tanpa memedulikan perasaannya. Dari dulu ia hidup layaknya robot. Dan ia tak kuasa melakukan pemberontakan jika ibunya sudah mengancamnya dengan kematian.
"Jangan pikir kalian bisa menang dariku."
Fugaku lebih memilih bungkam daripada membuat ibunya semakin menjadi. Ia harus segera menolong Itachi yang ia khawatirkan mengalami gegar otak gara-gara pukulan ibunya. Untung saja stik golf yang sudah teronggok di lantai itu bukan milik mendiang ayahnya yang lebih berbobot.
.
.
.
Hinata menemani kakek mertuanya yang terlelap selama Sasuke membelikan makan malam. Mikoto pulang sebentar untuk menukar pakaian kotor dengan yang bersih karena mulai merasa tenang semenjak dokter mengatakan bahwa kondisi kesehatan ayahnya makin baik. Bahkan beberapa kali Hinata turut hanyut dalam obrolan ringan dengan sang kakek. Walaupun kakeknya belum bisa bicara banyak seperti biasanya.
Ruangan serba putih itu begitu sepi dari suara manusia. Hanya terdengar bunyi monoton dari alat yang menunjukkan bahwa jantung pasien masih bekerja, meski sangat lemah. Hinata duduk di kursi samping ranjang sambil membaca buku tentang kehamilan kembar yang baru dibelikan oleh Sasuke. Ia ingin selalu berada di dekat kakeknya, yang berarti dalam keadaan siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Hi—nata…"
Hinata menegakkan wajahnya karena suara pelan itu. Ternyata kakeknya memang terbangun. Ia tersenyum lembut sembari bangkit dari duduknya.
"Ojiisama membutuhkan sesuatu?"
"… ti-tip… Sasu—ke…"
Perasaan Hinata menjadi tidak keruan dalam waktu singkat. Buku yang dipegangnya terjatuh tanpa pertahanan. Ia menekan tombol pemanggil perawat dengan tangannya yang gemetaran begitu napas kakeknya memendek. Suara alat pendeteksi detak jantung sama sekali tak membantunya untuk tenang. Ia yang gugup pun cepat-cepat mengirimkan pesan pada Sasuke yang mungkin masih berada di kantin.
Jika ia perhatikan, wajah kakeknya memang lebih pucat. Ia meraih telapak tangan kakeknya—terasa dingin yang tak biasanya. Seketika itu pula tangisnya pecah. Padahal dokter menuturkan bahwa kakeknya akan segera diperbolehkan pulang.
"—Kurang dari enam bulan cicit Ojiisama lahir…" isaknya. "Ojiisama harus bertahan…"
Ia hanya bisa melihat senyum lemah kakeknya sebelum perawat datang bersama dokter dan menyarankannya untuk menunggu di luar. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu tanpa henti-hentinya memanjatkan doa. Wajah cemasnya diselimuti air mata. Pikiran-pikiran mengenai kemungkinan terburuk terus membayang di benaknya.
.
.
.
*[ To Be Continued ]*
.
.
.
Kalau ada yang bilang fic Our series (entah siapa yang pertama kali menyebutnya begitu, hihi) tidak nyambung sama fic ini karena pertemuan SasuHina di fic Our Twins, saya akan meluruskannya di sini. Banyak hintsnya kok di fic ini. Misalnya saja yang ada di chapter 2 saat Sasuke membatin; "Memangnya di kota ini ada berapa keluarga yang bermarga Hyuuga?" Selain karena Sasuke teringat Hyuuga Neji, ia juga terpikir akan seorang siswi yang pernah ditemuinya di kereta yang ia ketahui sebagai "Hyuuga…"
Terus di chapter 8, saat Sasuke melakukan 'pembicaraan antar pria' dengan Sai; "Ehm… sepertinya aku sudah pernah melihatnya… sebelum bertemu di depan ruangan Otousan." Tapi karena pertemuan pertama mereka sudah empat tahunan sebelumnya, maka kemungkinan lupa itu besar. Apalagi mereka tidak pernah bertemu lagi sampai yang ada di awal fic ini. Saya juga akan mengingatkan kalian akan perkataan Sasuke di fic Our Twins; "Jika saat itu tiba, aku pasti bisa mengenalimu lebih dulu…"
Pada chapter 3 juga ada deskripsi "Sasuke memeragakan tangan kanannya yang seolah menggorok lehernya." Tidakkah familier dengan isyarat 'potong leher' di Our series? Hehe, jadi begitulah, saya tidak terlalu ngawur kok (tapi fantasinya ngawur banget) dan hintsnya masih banyak.
Maaf atas kemolorannya untuk para pembaca yang masih setia, dan terima kasih banyak untuk reviewers di chapter sebelumnya:
Akinari Yamawaki, arigatou, Lia ojou-sama (namanya sama (?) ^^v), SasyaTazkiya Lawliet (apdet yang sekarang malah lebih dari setahun X3), Cactus. Mo (onsen sudah ganti judul, kalau niji masih belum :D), Saqee-chan (maaf, karena ternyata chapter ini malah molor), Zocchan, ulva-chan, Kimidori Hana, chibi tsukiko chan, Pledis, Miya-hime Nakashinki, Demikooo, Aiiko Aiiyhumi, Ritard. S. Quint (cerita dengan tema ini kan memang sudah pasaran banget XD), minatsuki heartnet, Haruka Hime (belum lama ini kekkon sagi sudah diapdet ya… ^^), uchihyuu nagisa, Yamanaka Emo (makasih doanya ^^), Nerazzuri, harunaru chan muach, icha22madhen, keiKo-buu89, Saruwatari Yumi (iya, roknya terlalu pendek ^^v), Ma Simba, Hyou Hyouichiffer, Ayuzawa Shia, Luce stellare of Hyuzura, kuronekomaru, uchan, Rozu Aiiru, Thi3x ZamBetJalKecTuDuKanBer (penemnya lucu :D), Ryu Uchiha (emang nyinetron abis XD), suka snsd (untuk tulisan 'flashback' itu cuma nyamain sama yang di depan-depan, maaf kalau merasa terganggu, tapi biasanya saya sudah tidak menggunakannya kalau di fic lain, berhubung ini fic lama jadi ya begitulah… (?) gak apa-apa, malah seneng kalau reviewnya panjang ^^), Noella Marsha, Tana no cherimoya, Fujisawa Yukito, ReeMashiba, Hanaeri Delia, Mei Anna AiHina, LaVeNder yng MerIndukan azure, Yura Shirabuki, Kagura Nara, EL ryouzaqhy, Mayurima Umeka, AyuCM, umami, litte Un-chan, Animea Lover Ya-Ha, nia nyuga, Yrlic, silvery vermouth, uzumaki sari-chan (makasih doanya ^^), Oshino Namie, Fullmoon, nia hinata, aikurumyunarotario, Ren QueenUchiha, Guest, Rara-uchihahyuga, malaijahhat, ore, Hasegawa Nanaho (too damn late-nya udah kan yak… ^^v), ck mendokusei, Yamato Nadeshiko, mayu chan, ai chan, HanYessie3424, Regita Strauss 'vip
Saya minta maaf karena tidak membalas satu-satu. Tapi kayaknya mayoritas pertanyaan sudah terjawab di chapter ini.
Di sini Tobi bukan Obito, Kagami, Shisui, atau siapapun itu yang menurut saya masih belum terlalu jelas di manganya, meski wajahnya sudah kelihatan dan mengarah pada Obito. Pasti sudah pada tahu kalau Uchiha Izuna adalah adik dari Uchiha Madara. Yah, di sini pun juga demikian karena menurut saya Izuna mirip Sasuke, sekaligus mirip Sai.
Oh ya, mulai Senin besok saya sudah sibuk KKN-P dan skripsi. Entah kapan bisa apdet lagi. Jadi jangan nyari ya kalau saya menghilang (?) dalam waktu yang lama… :) *emang gak ada yang sudi, kok* Jadi, puas-puaskanlah reviewnya, hoho. Bagi yang sudah tahu nomor hape saya, SMS saja. #lah Tapi tidak menutup kemungkinan kalau tiba-tiba saya muncul di tengah hiatus, hihi… :D
Chapter ini membosankan dan sinetron banget, ya? Wkwk. Hamil semua (?) lagi, haha, memang harus begitu sih (?). Tapi jangan bosan untuk mampir ya, hehe. Maaf untuk segala kesalahan dan terima kasih banyak semuanya. Sampai jumpa… \n.n
Minggu, 2 September 2012
.
.
.
*[ Arigatou Gozaimashita ]*
.
.
.
R
E
V
I
E
W
